DAMPAK KONVERGENSI IFRS TERHADAP PERPAJAKAN

Dalam rangka pengharmonisasian standar akuntansi, Indonesia perlu mengadopsi standar akuntansi international untuk memudahkan perusahaan asing yang akan menjual saham di negara ini atau sebaliknya. Namun demikian untuk mengadopsi standar international itu bukan perkara mudah karena memerlukan pemahaman dan biaya sosialisasi yang mahal. Indonesia sudah melakukannya namun sifatnya baru harmonisasi internasional dan selanjutnya Adopsi akan dilakukan full akuntansi adoption atas standar tersebut. standar

international tersebut terutama untuk perusahaan publik. Hal ini dikarenakan perusahaan publik merupakan perusahaan yang melakukan transaksi bukan hanya nasional tetapi juga secara internasional. Jika terjadi jual beli saham di Indonesia atau sebaliknya, tidak akan lagi dipersoalkan perbedaan standar akuntansi yang dipergunakan dalam penyusunan laporan. Ada beberapa pilihan untuk melakukan adopsi, menggunakan IAS apa adanya atau harmonisasi. Harmonisasi adalah kita yang menentukan mana saja yang harus diadopsi sesuai dengan kebutuhan. Bapepam telah memberikan sinyal kepada semua perusahaan go public tentang kerugian apa yang akan kita hadapi bila kita tidak melakukan harmonisasi. Dalam pernyataannya Bapepam menjelaskan bahwa kerugian yang berkaitan dengan pasar modal yang masuk ke Indonesia, maupun perusahaan Indonesia yang listing di bursa efek di negara lain. Perusahaan asing akan kesulitan untuk menterjemahkan laporan keuangannya dulu sesuai standar nasional kita, sebaliknya perusahaan Indonesia yang listing di negara lain juga cukup kesulitan untuk membandingkan laporan keuangan sesuai standar di negara tersebut. Hal ini akan menghambat perekonomian dunia, dan aliran modal akan berkurang dan tidak mengglobal. Adanya harmonisasi ini dibutuhkan konvergensi IFRS, hal ini akan menyebabkan implikasi PSAK terbaru terhadap pelaporan pajak di Indonesia.

1

Masalah kewajiban perpajakan yang timbul atas revaluasi aset tetap adalah sebagai berikut: a. 16 (Revisi 2007) perusahaan diperbolehkan memilih metode biaya atau metode revaluasi. hanya jika sesuai dengan definisi dari properti investasi dan lessee 2 . Kapan perusahaan akan melakukan revaluasi aset tetap. Berdasarkan peraturan perpajakan. metode penyustan aset tetap menggunakan biaya perolehan sesuai Pasal 10 ayat (1) UU PPh Menteri Keuangan.Dampak Konvergensi IFRS Terhadap Perpajakan Oleh karena itu Konvergensi IFRS tidak hanya berpengaruh terhadap dunia bisnis saja. yaitu Peraturan Menteri Keuangan No. Aset tetap (PSAK No. properti yang digunakan pada operating lease diklasifikasikan dan dicatat sebagai properti investasi. revaluasi tidak dapat dilakukan setiap saat. Perbedaan IFRS dengan perpajakan antara lain: 1.03/2008. Sehingga atas hasil revaluasi ini akan muncul selisih revaluasi aset tetap dari perolehan yang lama. Berdasarkan SAK Umum. tetapi juga dalam dunia perpajakan. PMK No. Hal ini disebabkan penilaian aset tetap dilakukan berdasarkan nilai pasar/nilai wajar tersebut yang yang ditetapkan disahkan oleh jasa penilai/appraisal independen oleh Menkeu.79/PMK. Hasil revaluasi dikenakan PPh bersifat final sebesar 10% sesuai dengan ketentuan dimaksud pada pasal 5 PMK 79/PMK. c.79/PMK.03/2008 tentang penilaian kembali aktiva tetap perusahaan untuk tujuan perpajakan. 16). d. b. Berdasarkan PSAK No. Pada PSAK No. revaluasi merupakan pilihan dan tidak perlu seizin regulator dan perusahaan dapat melakukan revaluasi setiap tahun jika aset tetap mengalami perubahan nilai wajar secara signifikan dan fluktuatif. Nilai hasil revaluasi akan lebih tinggi dari nilai perolehan awal. sedangkan Peraturan Perpajakan. 13. Sedangkan berdasarkan SAK ETAP revaluasi harus seizin regulator.03/2008.

Entitas boleh Namun. pengaturan aset takberwujud untuk SAK ETAP dan SAK Umum berbeda. Dalam peraturan perpajakan. Pada PSAK No. Aset Tak berwujud. 2. Padahal. 1. e. Pengalihan tanah dan/bangunan dikenakan pajak penghasilan final. dll). maka menggunakan valuation technique. Sedangkan pada perpajakan Tidak membedakan properti investasi dari aktiva tetap. Fair Value Accounting. hak cipta. memilih patut akan dicermati bahwa penerapan FVA atau penggunaan model revaluasi pilihan. aset tak berwujud dapat dihasilkan secara internal (dari proses pengembangan/development) maupun eksternal (membeli lisensi. Penggunaan FVA yang wajib hanya di kategori instrumen fair value through profit or loss (FVTPL). Untuk SAK ETAP. contoh item yang tidak diatur dalam peraturan pajak dan oleh karena itu menggunakan SAK sebagai dasar adalah aset tak berwujud. seringkali yang ditakutkan dari dampak konvergensi IFRS terhadap peraturan perpajakan adalah mengenai diterapkannya Fair merupakan sebuah Value Accounting (FVA). sedangkan berdasar SAK Umum dapat berumur terbatas atau takterbatas. menggunakan model biaya (historical cost model) atau model revaluasi (menggunakan FVA). Selain itu. dan berdasarkan SAK ETAP umurnya terbatas. jika tidak ada marketnya. pos pos dalam laporan laba rugi komprehensif. f. aset takberwujud hanya yang dihasilkan secara eksternal saja. Perlakuan untuk amortisasi aset takberwujud berdasar UU KUP adalah 20 tahun atau mengikuti klasifikasi UU No. keuntungan atau kerugian dari operasi yang dihentikan diakui secara keseluruhan sedangkan pada perpajakan dilakukan koreksi 3 . aset tak berwujud mengacu ke SAK (dalam hal batasan dan pengakuan) sesuai dengan Pasal 28 UU KUP. Untuk SAK Umum.Dampak Konvergensi IFRS Terhadap Perpajakan menggunakan fair value model. yaitu: beban keuangan.11 mengenai aset.

secara rasional bisnis akan cenderung bertahan di historical cost. 3. pengaruh perubahan nilai tukar valuta asing. Pada PSAK No. atau melakukan revaluasi sehingga nilai asetnya naik. PSAK 7. Sedangkan pada perpajakan harus menggunakan Rupiah atau US Dollar. nama entitas induk berikutnya yang paling pertama melakukannya juga harus diungkapkan. entitas cukup dirugikan. klasifikasi pengungkapan atas pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa. Pada nama entitas induk. Berdasarkan SAK Umum. Dalam kondisi sekarang ini. 10. jika berbeda dengan entitas anak dan pihak yang mengendalikan. Hal ini dikarenakan peningkatan aset atau laba tersebut terjadi bukan 4 . goodwill tidak diamortisasi namun diuji penurunan nilainya. pengungkapan pihak pihak yang memiliki hubungan istimewa adalah pihak istimewa yang terkait dengan pihak dalam transaksi yang wajar. goodwill diamortisasi. Pada No. pengakuan beban selama periode berjalan. Hal ini diakibatkan oleh penggunaan SAK IFRS akan menyebabkan banyak entitas yang tiba-tiba memiliki aset dalam jumlah besar. 4. rule based.Dampak Konvergensi IFRS Terhadap Perpajakan fiskal atas perbedaan antara akuntansi dan Undang-Undang Pajak Penghasilan. Namun. Selain itu. Goodwill. dan ‘jadul‘. Jika entitas induk maupun pihak pengendali utama menghasilkan laporan keuangan yang tersedia untuk keperluan umum. permasalahan FVA di Indonesia tidak sebesar kelihatannya. Untuk kombinasi bisnis. Pada laporan keuangan mata uang yang digunakan adalah mata uang fungsional digunakan sebagai mata uang pengukuran dan penyajian bisa berlainan dengan mata uang fungsional. berdasarkan peraturan perpajakan. 5. Dari sisi perpajakan semua pihak istimewa harus diungkapkan dengan pengisian lampiran 3A atau 3B pada SPT PPh badan dan membuat TP Documentation sesuai Per 43/PJ/2010. SAK Umum sudah tidak mengizinkan pooling of interest method – sesuai perlakuan dalam IFRS (kecuali untuk perlakuan transaksi entitas sepengendali). yang mana peraturan pajak dan petugas pajak masih ‘saklek‘.

Setelah dicanangkannya konvergensi IFRS. kredibilitas. namun hanya karena pengaruh perubahan kebijakan akuntansi baru (berbasis IFRS) yang cukup ekstrim. Oleh karena itu. SAK Umum (berbasis IFRS). dan kegunaan laporan keuangan yang tentunya dapat memudahkan pemahaman atas laporan keuangan. Laporan keuangan dapat dimengerti oleh pembaca laporan dari negara manapun karena keseragamannya. kecuali Peraturan Perpajakan menyatakan lain.Dampak Konvergensi IFRS Terhadap Perpajakan secara nyata. Diantaranya meningkatkan kualitas. Indonesia saat ini memiliki 3 SAK yaitu. Sebagai negara yang memiliki ekonomi terbesar di dunia yang terbesar di dunia yang tergabung dalam G20. Pada kenyataannya. namun lebih karena permasalahan pajak dalam masa transisi ini. dan pada akhirnya akan menciptakan efisiensi dalam penyusunan laporan keuangan dan meningkatkan arus investasi kedalam dan keluar melalui pelaporan yang diterima secara internasional. dalam peraturan perpajakan. cukup banyak entitas yang mengeluh untuk menerapkan SAK Umum atau untuk mengadopsi IFRS (sebagai contoh akan diadopsinya IAS 41: Agriculture). bukan karena rumitnya standar tersebut. dasar pengenaan pajak adalah atas peningkatan penghasilan. Dampak terdapatnya 3 SAK bagi peraturan perpajakan adalah. dinyatakan bahwa pembukuan (untuk tujuan pajak) menggunakan Standar Akuntansi Keuangan. dan keikutsertaan Ikatan Akuntan Indonesia dalam International Federation Accounting Committee(IFAC). sehingga entitasentitas dapat melakukan transisi ke SAK Umum yang berbasis IFRS dengan tenang. Padahal. regulator perpajakan perlu menyikapi secara cepat untuk hal-hal terkait dengan transisi regulasi ini. dan SAK Syariah (bernafaskan prinsip-prinsip syariah di Indonesia). Indonesia dinilai perlu untuk melakukan konvergensi Standar Akuntansi Keuangan yang selama ini berkiblat ke United States Generally Accepted Accounting Standards ke International Financial Reporting Standards (IFRS). Hal ini 5 . SAK ETAP (berjiwa IFRS for SME). Konvergensi IFRS banyak memberikan manfaat bagi penggunanya.

maka hal ini perlu dicermati oleh regulator perpajakan. kecuali jika tidak diatur dalam peraturan perpajakan. Oleh karena itu. yang mana 2 SAK mengatur entitas (SAK Umum dan SAK ETAP) dan 1 SAK mengatur transaksi (SAK Syariah). 6 .Dampak Konvergensi IFRS Terhadap Perpajakan berarti. digunakan perlakuan akuntansi sesuai dengan peraturan pajak. Para petugas pajak harus memiliki pemahaman atas SAK ETAP dan SAK Umum. konvergensi IFRS merupakan kesepakatan pemerintah dalam forum G-20. maka pengaturan akuntansinya menggunakan SAK (KUP 28/2007). jika wajib pajak merupakan entitas tanpa akuntabilitas publik. dan asosiasi-asosiasi industri telah menyelaraskan regulasi mereka dengan SAK Umum. maka wajib pajak tersebut akan menggunakan SAK Umum. Oleh karena itu. Regulator-regulator seperti Bank Indonesia. atau hal-hal lain terkait transaksi/laporan keuangan) tertentu. untuk tujuan pajak. pemeriksa pajak harus memahami SAK ETAP untuk perlakuan akuntansi atas hal-hal yang tidak diatur dalam peraturan pajak. sebagai bukti dukungan mereka terhadap komitmen pemerintah. pemeriksa pajak harus memahami SAK Umum untuk pelakuan akuntansi atas hal-hal yang tidak diatur dalam peraturan pajak. Jika wajib pajak merupakan entitas berakuntabilitas publik. Sehingga. unsur. Namun. Konvergensi ini bukan merupakan pekerjaan DSAK-IAI saja. pemeriksa pajak yang satu dan yang lain tidak akan memiliki penafsiran yang berbeda cukup signifikan atas suatu hal/ item (item bisa digunakan dalam standar untuk menggantikan pos. Satu hal yang perlu diingat. maka wajib pajak tersebut akan menggunakan SAK ETAP (kecuali jika regulator menyatakan lain). Bapepam. Oleh karena adanya kemungkinan terjadi perbedaan pengaturan antara SAK ETAP – SAK Umum – Peraturan Perpajakan. maka regulator pajak perlu mengatasi perbedaan penafsiran yang sangat mungkin terjadi di lapangan. Dalam kondisi terdapatnya 3 SAK.

hingga saat ini. Menurut Dirjen Pajak. sedangkan Peraturan Perpajakan sangat tertinggal jauh dalam hal penggunaan dasar akuntansinya. Hampir tidak ada peraturan akuntansi yang sama dengan peraturan perpajakan. Alasannya sangat mendasar. regulator perpajakan merupakan regulator yang dinilai paling lambat dalam menyikapi konvergensi IFRS ini. Walaupun perbedaan antara SAK dan Peraturan Perpajakan tidak akan pernah bisa dihilangkan. yang mana jika ingin mengubah undang-undang proses birokrasinya sangat lama dan berbelit di DPR). konvergensi IFRS tidak harus membuat peraturan perpajakan juga ikut konvergen (apalagi peraturan perpajakan induknya adalah undang-undang. sebaiknya regulator perpajakan tetap melakukan tindakan untuk meminimalkan bentang perbedaan antara SAK yang ada saat ini (SAK Umum & ETAP) dengan Peraturan Perpajakan. Hal ini dikarenakan SAK sudah berkembang sangat pesat.Dampak Konvergensi IFRS Terhadap Perpajakan Sayangnya. Pengaturan dalam standar akuntansi berdasarkan prinsip-prinsip akuntansi dan digunakan untuk pelaporan keuangan bertujuan umum (general purpose financial statement). karena muncul kekhawatiran bila IFRS diberlakukan di sektor perpajakan maka pendapatan dari sektor ini akan menurun. hampir seluruh negara melakukan tindakan serupa dan belum siap menerapkan IFRS di bidang perpajakan. sedangkan pengaturan dalam peraturan perpajakan berdasarkan aturan (rule based) dan bertujuan khusus (untuk penarikan pajak – kepentingan si penarik pajak/pemerintah). 7 . pengaturan akuntansi selalu berbeda dengan peraturan perpajakan. Oleh karena itu. prinsip-prinsip dari standar akuntansi dan peraturan perpajakan juga berbeda. Hal ini dikarenakan tujuan dari akuntansi dan tujuan perpajakan berbeda. Di belahan dunia manapun. tidak hanya di Indonesia. Direktorat Jendral Pajak sendiri belum menetapkan waktu penerapan IFRS. Selain itu.