P. 1
afasia

afasia

|Views: 25|Likes:
Publicado porZam Azwar Annas
ddd
ddd

More info:

Published by: Zam Azwar Annas on Sep 03, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/08/2014

pdf

text

original

BAB 5 ASUHAN KEPERAWATAN PADA GANGGUAN SISTEM WICARA 5.1 Afasia 5.1.

1 Konsep Dasar Penyakit Afasia adalah gangguan berbahasa akibat gangguan serebrovaskuler hemisfer dominan, trauma kepala, atau proses penyakit. Terdapat beberapa tipe afasia, biasanya digolongkan sesuai lokasi lesi. Semua penderita afasia memperlihatkan keterbatasan dalam pemahaman, membaca, ekspresi verbal, dan menulis dalam derajat berbeda-beda. Afasia biasanya berarti hilangnya kemampuan berbahasa setelah kerusakan otak. Dalam hal ini pasien menunjukkan gangguan dalam memproduksi dan / atau memahami bahasa Afasia adalah gangguan fungsi bahasa yang disebapkan cedera atau penyakit pusat otak. Ini termasuk gangguan kemapuan membaca dan menulis dengan baik, demikian juga bercakap-cakap, mendengar berhitung, menyimpulkan dan pemahaman terhadap sikap tubuh. Akhirnya digunakan gambaran afasia yang diprsentasikan. Kira-kira 11,5 juta orang dewasa diamerika mengalami kecacatan kronik afasia. (Brunner & Suddart) .2 Etiologi Afasia biasanya berarti hilangnya kemampuan berbahasa setelah kerusakan otak. Kata afasia perkembangan (sering disebut sebagai disfasia) digunakan bila anak mempunyai keterlambatan spesifik dalam memperoleh kemampuan berbahasa. Dalam hal ini, perkembangan kemampuan berbahasa yang tidak sebanding dengan perkembangan kognitif umumnya. Stroke, tumor otak, cedera otak, demensi dan penyakit lainnya dapat mengakibatkan gangguan berbahasa. .1 Definisi

1

.3 Patofisiologi Afasia dapat terjadi sekunder terhadap cedera otak atau degenerasi dan melibatkan belahan otak kiri ke tingkat yang lebih besar dari kanan.. Fungsi Bahasa lateralizes ke kiri di belahan 96-99% orang kidal dan 60% dari orang kidal. Orang kidal yang tersisa, sekitar satu setengah belahan bumi memiliki dominasi bahasa campuran, dan sekitar satu setengah memiliki belahan kanan dominasi individu Waktu-tangan. Dapat mengembangkan afasia setelah lesi baik dari belahan bumi, tetapi gejala dari cedera otak kiri mungkin lebih ringan atau lebih selektif daripada yang terlihat pada orang kidal. Kebanyakan aphasias dan gangguan terkait akibat stroke, cedera kepala, tumor otak, atau penyakit degeneratif. Substrat neuroanatomic pemahaman bahasa dan produksi yang kompleks, termasuk input auditori dan bahasa decoding dalam lobus temporal superior, analisis pada lobus parietal, dan ekspresi dalam lobus frontal, turun melalui saluran corticobulbar ke kapsul internal dan otak, dengan modulatory efek dari ganglia basal dan serebelum. .4 Tanda Dan Gejala a. Gangguan tonus otot, terjadi kelemahan umum. b. Gangguan penglihatan. c. Gangguan tingkat kesadaran. d. Disritmia/gangguan irama jantung. e. Emosi yang labil. f. Kesulitan menelan. g. Gangguan rasa pengecapan dan penciuman. h. Afasia (gangguan fungsi bahasa), mungkin afasia motorik (kesulitan untuk mengungkapkan. .5 Pemeriksaan Fisik Dan Penunjang a. Pemeriksaan kelancaran berbicara. Seseorang disebut berbicara , lancar bila bicara spontannya lancar, tanpa tertegun-tegun untuk mencari Kata yang diinginkan. b. Kelancaran berbicara verbal merupakan refleksi dari efisiensi menemukan kata. Bila kemampuan ini diperiksa secara khusus ilnpat

2

dideteksi masalah berbahasa yang ringan pada lesi otak yang ringan iiImii pada demensia dini. Defek yang ringan dapat dideteksi melalui tes knlnncaran, menemukan kata yaitu jumlah kata tertentu yang dapat dlproduksi selama jangka waktu yang terbatas. Misalnya menyebutkan sebanyak-banyaknya nama jenis hewan selama jangka waktu satu menit, ulnu menyebutkan kata-kata yang mulai dengan huruf tertentu, misalnya huruf S atau huruf B dalam satu menit. Menyebutkan nama hewan : Pasien disuruh menyebutkan sebanyak mungkin nama hewan dalam waktu 60 detik. Kita catat jumlahnya serta kesalahan yang ada, misalnya parafasia. Skor : Orang normal umumnya mampu menyebutkan 18 - 20 nama hewan selama 60 detik, dengan variasi I 5 - 7. Usia merupakan faktor yang berpengaruh secara bermakna dalam tugas ini. Orang normal yang berusia di bawah 69 tahun akan mampu menyebutkan 20 nama hewan dengan simpang baku 4,5. Kemampuan ini menurun menjadi 17 (+ 2,8) pada usia 70-an, dan menjadi 15,5 (± 4,8) pada usia 80-an. Bila skor kurang dari 13 pada orang normal di bawah usia 70 tahun, perlu dicurigai adanya gangguan dalam kelancaran berbicara verbal. Skor yang dibawah 10 pada usia dibawah 80 tahun, sugestif bagi masalah penemuan kata. Pada usia 85 tahun skor 10 mungkin merupakan batas normal bawah. Menyebutkan kata yang mulai dengan huruf tertentu: Kepada pasien dapat juga diberikan tugas menyebutkan kata yang mulai dengan huruf tertentu, misalnya huruf S, A atau P. Tidak termasuk nama orang atau nama kota. Skor: Orang normal umumnya dapat menyebutkan sebanyak 36 - 60 kata, tergantung pada usia, inteligensi dan tingkat pendidikan. Kemampuan yang hanya sampai 12 kata atau kurang untuk tiap huruf di atas merupakan petunjuk adanya penurunan kelancaran berbicara verbal. Namun kita harus hati-hati pendidikan monginterpretasi tes ini pada pasien dengan tingkat tidak melebihi tingkat Sekolah Menengah Pertama.

3

jumlah pertanyaan harus pertanyaan yang dijawab dengan "ya" atau "tidak". yaitu dengan cara konversasi. Konversasi. kemudian tingkatkan kesulitannya. dan menunjuk. misalnya kunci. geretan. duit. paling sedikit 6 pertanyaan. Suruh pasien menunjukkan salah sntu benda tersebut. walaupun pemahamannya baik. Kemudian suruhan dapat dlpermilit. Pemeriksa dapat pula mengeluarkan beberapa benda. misalnya: mengambil pinsil. Pemeriksaan Pemahaman (Komprehensi) Bahasa Lisan Kemampuan pasien yang afasia untuk memahami sering sulit dlnllal Pemeriksaan klinis disisi-ranjang dan tes yang baku cenderung kurang cukup dan dapat memberikan hasil yang menyesatkan. mulai dari yang sederhana (Satu langkah) sampai pada yang sulit (banyak langkah) dapat digunakan untuk menilai kemampuan pasien memahami.c. misalnya: tunjukkan jendela. kemudian vulpen. Serentetan suruhan. Suruhan. Dengan mengajak pasien bercakap-cakap dapat dinilai kemampuannya memahami pertanyaan dan suruhan yang diberikan oleh pemeriksa. Mula-mula suruh pasien bertepuk tangan. Ya atau tidak. hal ini harus diperhatikan oleh pemeriksa). Pasien dengan Afasia mungkin hanya mampu menunjuk sampai 1 atau 2 objek saja. pada pemeriksaan ini pemeriksa (dokter) menambah jumlah objek yang hams ditunjuk. misalnya arloji. Langkah terakhir dapat digunakan untuk mengevaluasi pemahaman (komprehensi) secara klinis. pilihan (ya atau tidak). Kepada pasien dapat juga diberikan tugas berbentuk ialah 50%. suruhan. Pasion tanpa afasia dengan tingkat inteligensi yang rata-rata mampu menunjukkan 4 atau lebih objek pada suruhan yang beruntun. misalnya : 4 . Mengingat kemungkinan salah banyak. arloji. letakkan di kotak dan taruh kotak di atas kursi (suruhan ini dapat gagal pada pasien dengan apraksia dan gangguan motorik. vulpen. Jadi. setelah itu arloji. sampai jumlah berapa pasien selalu gagal.

 Rumah Sakit. Pemeriksaan Repetisi (Mengulang) Kemampuan mengulang dinilai dengan menyuruh pasien mengulang.  Sungai Barito. kemudian ditingkatkan menjadi banyak (satu kalimat). d. Misalnya: "tunjukkan lampu".  Kereta api malam. Contoh :  Map. kurang mampu menilai kemampuan pemahaman dengan baik sekali. yang dapat dilakukan di sisi-ranjang.  Sukur anak itu naik kelas. kemudian "tunjukkan gelas yang ada disamping televisi". Korelasi anatomis dengan komprehensi adalah kompleks. kita ucapkan kata atau angka.  Seandainya si Amat tidak kena influensa. mula-mula kata yang sederhana (satu patah kata). Pemeriksaan sederhana ini. namun dapat memberikan gambaran kasar mengenai gangguan serta beratnya.  Besok aku pergi dinas. Cara Pemeriksaan Pasien disuruh mengulang apa yang diucapkan oleh pemeriksa.  Lapangan Latihan. 5 .  Rumah ini selalu rapi. dan kemudian pasien disuruh mengulanginya.  Bola."Andakah yang bernama Santoso?" "Apakah AC dalam ruangan ini mati ?" "Apakah ruangan ini kamar di hotel ?" "Apakah diluar sedang hujan?" "Apakah saat ini malam hari?" Menunjuk.  Kereta. Mulamula sederhana kemudian lebih sulit. Jadi. Kita mulai dengan suruhan yang mudah difahami dan kemudian meningkat pada yang lebih sulit.

simbol matematik atau nama suatu tindakan. Umumnya dapat dikatakan bahwa pasien afasia dengan gangguan kemampuan melibatkan mengulang daerah mempunyai Bila kelainan patologis yang peri-sylvian. dan sering lebih baik daripada berbicara spontan. Hal ini sedikit-banyak terganggu pada semua penderita afasia. Banyak pasien afasia yang mengalami kesulitan dalam mengulang (repetisi). ia dapat dibantu dengan memberikan suku kata pemula atau dengan menggunakan kalimat penuntun. Dengan demikian. warna. namun ada juga yang menunjukkan kemampuan yang baik dalam hal mengulang. namun lamban dan tertegun. salah tatabahasa. bagian dari objek. dengan sirkumlokusi (misalnya. dan bila perlu gambar geometrik. Bila pasien tidak mampu atau sulit menamai. Banyak penderita afasia yang masih mampu menamai objek yang sering ditemui atau digunakan dengan cepat dan tepat. kelupaan dan penambahan. e. kemampuan mengulang terpelihara. Misalnya: pisau. Orang normal umumnya mampu mengulang kalimat yang mengandung 19 suku-kata. Pemeriksaan Menamai Dan Menemukan Kata Kemampuan menamai objek merupakan salah satu dasar fungsi berbahasa. maka daerah -sylvian bebas dari kelainan patologis. perlu digunakan aitem yang sering digunakan (misalnya sisir.Pemeriksa harus memperhatikan apakah pada tes repetisi ini didapatkan parafasia. arloji) dan yang jarang ditemui atau digunakan (misalnya pedang). Kita dapat membantu dengan suku 6 . Umumnya daerah ekstra-sylvian yang terlibat dalam kasus afasia tanpa defek repetisi terletak di daerah perbatasan vaskuler (area water-shed). melukiskan kegunaannya) atau parafasia pada objek yang jarang dijumpainya. Penilaian harus mencakup kemampuan pasien menyebutkan nama objek. bagian tubuh. Dalam hal ini. semua tes yang digunakan untuk menilai afasia mencakup penilaian terhadap kemampuan ini. Kesulitan menemukan kata erat kaitannya dengan kemampuan menyebut nama (menamai) dan hal ini disebut anomia.

hijau. digunakan: jendela. pintu. Disamping menggunakan objek.kita putar". kemudian bagian dari arloji (jarum menit. menyokong spesialisasi regional tugas ini. biru. Misalnya bila ditunjukkan kunci ia mengatakan : "Anu . hidung. Area bahasa bagian frontal berfungsi untuk produksi bahasa. kaca mata. sol sepatu.Gunakanlah sekitar 20 objek sebelum menentukan bahwa tidak didapatkan gangguan.. gigi. Bagian dari objek: lensa kaca mata. kelabu.. dapat pula digunakan gambar objek. kepala ikat pinggang. lutut Warna: merah. Ada pula pasien yang mengenal objek dan mampu melukiskan kegunaannya (sirkumlokusi) namun tidak dapat menamainya. kemampuannya (memberi nama objek). Objek atau gambar objek berikut dapat Objek yang ada di ruangan: meja. itu. jarum jam. detik). Penelitian dengan PET (positron emission tomography) tentang metabolisme glukosa pada penderita afasia. tidak 7 . Cara pemeriksaan. Yang penting kita nilai ialah sampainya pasien pada kata yang dibutuhkan. ibu jari.kata pi Atau dengan kalimat : "kita memotong daging dengan ". kursi. lensa kaca mata. Terangkan kepada pasien bahwa ia akan disuruh menyebutkan nama beberapa objek juga warna dan bagian dari objek tersebut. Perhatikanlah apakah pasien dapat menyebutkan nama objek dengan cepat atau lamban atau tertegun atau menggunakan sirkumlokusi. neologisme dan apakah ada perseverasi.. Namun demikian. pada hampir semua bentuk afasia.. Kita dapat menilai dengan memperlihatkan misalnya arloji. kuning. parafasia.. Bagian dari tubuh: mata. Area Brodmann 44 merupakan area Broca. bolpoin.. mengenai batasnya belum ada kesepakatan. dapatkah ia memilih nama objek tersebut dari antara beberapa nama objek. Area ini biasa disebut area Wernicke.untuk masuk rumah. Bila pasien tidak mampu menyebutkan nama objek. bingkai kaca mata. lampu. Area bahasa di posterior ialah area kortikal yang terutama bertugas memahami bahasa lisan.

Mula-mula tanyakan kepadn p irsion apakah ia kandal (right handed) atau kidal. dengan demikian pengetesan membaca dan menulis dapat dipersingkat. dengan melihat penggunaan tangan (kidal atau kandal). komprehensi (pemahaman). karena aleksa atau agrafia atau keduanya dapat terjadi terpisah (tanpa afasia). Tanyakan pula apakah ada juga kecenderungannya menggunakan tangan yang lainnya. repetisi (mengulang) dan menamai (naming). Banyak orang kidal telah illnjarkan sejak kecil untuk menulis dengan tangan kanan. Spektrum penggunaan tangan bervariasi dari kandal yang kuat. dengan melihat penggunaan tangan. Perlu diperhatikan bagaimana pasien berbicara spontan. perlu pula diperiksa sisi otak mana yang dominan. f. pemeriksaan membaca dan menulis harus dilakukan sepenuhnya. dsb. Selain itu. pada pasien yang tidak afasia. Penelitian ini memberi kesan bahwa sistem bahasa sangat kompleks secara anatomi-fisiologi. Pasien yang afasia selalu agrafia dan sering aleksia. melempar bola. didapat pula bukti adanya hipometabolisme di daerah temporal kiri. dan bukan merupakan kumpulan dari pusat-pusat kortikal dengan tugas-tugas terbatas atau terpisah-pisah atau sendiri-sendiri. g. Membaca dan menulis harus dinilai pula setelah evaluasi bahasa lisan. mengobservasi cara menulis saja tidak cukup untuk menentukan npakah seseorang kandal atau kidal. Suruh pasien memperagakan tangan mana yang digunakannya untuk memegang pisau. Dengan ilcmikian. Pemeriksaan Penggunaan Tangan (Kidal Atau Kandal) Penggunaan tangan dan sisi otak yang dominan mempunyai kaitan yang erat Sebelum menilai bahasa perlu ditentukan sisi otak mana yang dominan. Pemeriksaan Sistem Bahasa Evaluasi sistem bahasa harus dilakukan secara sistematis. Namun demikian.tergantung pada jenisnya. kiri sedikit lebih 8 . kanan sedikit lebih kuat dari kiri.Dengan melakukan penilaian yang sistematis biasanya dalam waktu yang singkat dapat diidentifikasi adanya afasia serta jenisnya.

misalnya bir kesalahan sintaks.Spontan Langkah pertama dalam menilai berbahasa ialah mendengarkan bagaimana pasien berbicara spontan atau bercerita. disprosodik (irama. Dengan mendengnrknn pasien berbicara spontan atau bercerita. perhatikan : 1) Apakah bicaranya pelo. salah menggunakan kata (parafasia. kita dapat memperoleh data yang sangat berharga mengenai kemampuan pasien berbahasa. cadel. Bila mendengarkan pasien berbicara spontan atau bercerita. dengan kir. Ada individu yang kecenderungan kandal dan kidalnya hampir sama (ambi-dextrous) h. ritme. Parafasia. balon dengan galon. ayaa. Parafasia ialah men-substitusi kata. tertegun-tegun. dijumpai pada afasia. ialah mensubstitusi suatu bunyi dengan bunyi yang lain. Pasien berbicaranya sangat terbatas atau hampir tidak ada. Coba ceritakan mengenai pekerjaan anda serta hobi anda. Perseverasi sering 9 . Sesekali ditemukan kasus dimana pasien sangat terbatas kemampuan bicaranya. Kita dapat mengajak pasien berbicara spontan atau berceritera melalui pertanyaan berikut : Coba ceriterakan kenapa anda sampai dirawat di rumah sakit. Parafasia fonemik. Cara Ini tidak kalah pentingnya dari tes-tes bahasa yang formal. mungkin ia hanya mengucapkan: "ayaa. aaai. beremosi tinggi. dan perseverasi. namun bila ia marah.kuat dan kanan dan kidal yang kuat. Pemeriksaan Berbicara . Hi". Parafasia semantik ialah mensubstitusi satu kata dengan kata yang lain misalnya: "kucing" dengan "anjing". intonasi bicara terganggu). neologisme). Pada afasia sering ada gangguan ritme dan irama (disprosodi). Afasia motorik yang berat biasanya mudah dideteksi. 2) Apakah ada afasia. yaitu parafasia semantik (verbal) dan parafasia fonomik (literal). keluar ucapan makian yang cara mengucapkannya cukup baik. Kita mengenai 2 jenis parafasia.

Afasia jenis yang disebutkan pertama disebut afasia Broca. mem-formulasi dan menamai sehingga kalimat yang diucapkan tidak mempunyai arti. Pemahaman terhadap bahasa lisan dan tulisan kurang terganggu dibandingkan dengan kemampuan mengemukakan isi pikiran. penyakit) yang melibatkan hemisfer otak. pemahaman bahasa. Bahasa fisan dan tulisan tidak atau kurang difahami. Pasien sadar akan kekurangan atau kelemahannya. dan mengalami kesulitan atau memerlukan banyak upaya dalam berbicara. yaitu bicara spontan. masing-masing mempunyai pola abnormalitas yang dapat dikenali. Pada lesi di temporo-parietal pasien justru bicara terlalu banyak. namai (naming). Afasia jenis ke dua disebut jenis Wernicke atau sensorik atau reseptif. Didapatkan berbagai jenis afasia. i. namun isi tulisan tak menentu. Pasien tidak begitu sadar akan kekurangannya. mengulang (repetisi).Afasia ialah kesulitan dalam memahami dan/atau memproduksi bahasa yang disebabkan oleh gangguan (kelainan. Pada lesi di frontal. namun didapat gangguan berat pada. serta terdapat perseverasi. atau afasia motorik atau afasia ekspresif. bila kita berbincang dengan pasien serta melakukan beberapa tes sederhana. baik motorik menulis maupun isi tulisan. Pada Semua Pasien Dengan Afasia Didapatkan Juga Gangguan Membaca Dan Menulis (Aleksia Dan Agrafia) Pada afasia semua modalitas berbahasa sedikit-banyak terganggu. Menulis sering tidak mungkin atau sangat terganggu. Selain itu gramatikanya miskin (sedikit) dan menyisipkan atau mengimbuh huruf atau bunyi yang salah. pasien tidak bicara atau sangat sedikit bicara. 10 . yang selalu diulang-ulang. membaca dan menulis. Pasien sama sekali tidak bicara atau hanya bicara sepatah kata atau frasa. cara mengucapkan baik dan irama kalimat juga baik. dan menulis secara motorik terpelihara. Kadang dijumpai pasien dengan gangguan yang berat pada semua modalitas bahasa.

ataupun melakukan tugas-tugas tertentu bias digunakan untuk mengetahui terjadinya kerusakan otak. dan keinginan untuk menyediakan waktu. 11 . frustasi.dengan bermakna. hanya bidang tertentu lebih menonjol atau lebih berat. sedangkan modalitas lainnya relatif utuh. Individu afasia mengalami defresi akibat ketidak mampuan bercakapcakap dengan orang lain. Dan pasien diperlakukan sebagai orang dewasa. Pada pasien demikian kita dengar ungkapan seperti : "anu. membaca.6 Penatalaksanaan Meningkatkan harga diri positif. menulis. Pasien afasia harus diberi banyak pengaman pisikologis bila memungkikan. artikulasi (pengucapan) dan irama yang buruk dan tidak Hal ini disebut afasia global. namun dapat juga dijumpai pada berbagai gangguan otak yang difus. Afasia amnestik ini sering merupakan sisa afasia yang hampir pulih. dan perasaan hilangnya harapan. Pembelajaran ulang wicara dan keterampilan bahasa memerlukan waktu beberapa tahun. Pasien mengalami kesulitan menamai sesuatu benda. menggambar. dikombinasi dengan dorongan. itu. kau. Tidak dapat berbicara melalui telpon atau menjawab pertanyaan. Pemeriksaan ini sangat penting untuk terapi dan rehabilitasi pasien. . ya anu itu". Kadang afasia ditandai oleh kesulitan menemukan nama. kesabaran. Berbagai tes wawabcara. karena di klinik semua jenis afasia adalah campuran. Suatu tindakan dengan cara yang tidak terburuburu. atau mengungkapkan diri melalui percakapan menyebapkan marah. Sebetulnya kata ini kurang tepat. Kesabaran dan pengertian dibutuhkan sekali pada saat pasien belajar. dan tinggal dicocokkan dengan pemeriksaan CT-Scan pada otak. kau tahu kan. Lesi biasanya melibatkan semua daerah bahasa di sekitar fisura sylvii. Adakalanya digunakan kata afasia campuran. Afasia amnestik mempunyai nilai lokalisasi yang kecil. pada afasia yang tersebut terdahulu. takut tentang masa depan.

Pasien harus dianjurkan untuk mengungkapkan kebutuhan pribadi dan menggunakan papan tulis kebutuhan. Individu afasia sering mengalami gangguan dalam berpikir dengan nyata. yang menampilkan gambar-gambar. dan penekanannya adalah berfikir. Meningkatkan upaya mereka Kemampuan untuk Komunikasi. sehingga perawat dan anggota keluarga harus mengembalikan alat-alat diruangan pada tempat yang seharusnya. Papan ini dapat menerjemahkan kedalam bahasa yang luas. mengurangi keadaan yang memalukan dan memberi dukungan serta menjamin bahwa tidak ada yang salah dengan integrensi mereka. pasien afasia perlu dipimpin dalam upayameningkatkan keterampilan Keterampilan mendengar dan juga berbicara ditekankan pada program rehabilitas. dan pasien harus dianjurkan untuk bersosialisasi dengan keluarga dan teman-teman. Biasanya kesukaran bagi perawat dan anggota tim pelayanan kesehatan lainnya adalah melengkapi pikiran dan kalimat pasien. namun pasien berjuang melawan kebosanan dan membutuhkan waktu untuk mengatur jawaban. Mendengar membutuhkan upaya mental. Meningkatkan Stimulasi Pendengaran. Untuk meningkatkan komunikasi. kemampuan komunikasi. dan dapat menunda upaya-upaya untuk latihan yang juga menggunakan pikiran dan menunda upaya membuat kalimat lengkap. sesuai kebutuhan yang diminta dan diungkapkan. Hal ini harus dihindari bila menyebapkan pasien merasa lebih frustasi pada saat tidak dapat mengikuti pembicaraan.Perawat harus menerima tingkah laku pasien dan perasaannya. bila tidak mampu mengekspresiakan 12 . Berbicara adalah berpikir keras. Pasien juga dapat dibantu dengan papan komunikasi. Pertama pasien dianjurka untuk mendengar. Lingkungan harus tenang dan serba membolehkan. Pasien harus berpikir dan menyusun pesan-pesan yang masuk dan merumuskan suatu respons.

diselesaikan dengan membicarakannya tentang stroke atau cedera kepala. Membantu Koping Keluarga. anggota keluarga harus juga berkonsultasi terus-menerus tentang kehidupan mereka sendiri dan cari bantuan dari pekerja sosial. Ketegangan penyesuaian konstan terhadap penyakit. Sikap keluarga merupakan faktor yang penting dalam menolong pasien menyelesaikan penurunan ini. tuntutan. rohaniawan. kebutuhan. Bina wicara (speech therapy) pada afasia didasarkan pada : 13 . serta aliran dana dan perubahan gaya hidup.Dalam bekerjasama dengan pasien afasia. perubahan yang diperlukan dapat terjadi. jika mereka membutuhkan bantuan tambahan dalam hubungannya dengan keadaan frustasi dan tekanan. Kelompok pendukung seperti pengumpulan stroke dan kelompok terapi pasien afasia. yang berpokus pada kemampuan pasien. Menolong keluarga melakukan koping terhadap perubahan gaya hidup yang tidak dapat dicegah. Anggota keluarga didukung untuk melakukan secara alamiah dan menyenagkan pasien dalam cara yang sama seperti sebelum sakit. dan menginformasika mereka mengenai system pendukung yang diberikan. Mereka harus sadar bahwa pasien dapat mogo bicara bila kontrolemosi menurun. Mereka harus sadar bahwa kemampuan bicara pasien bervariasi dari hari kehari dan menjadi lelah setelah bicara. dapat menimbulkan tegangan ekstrem dan distres dalam keluarga. Menangis dan tertawa dapat terjadi tampa penyebap yang jelas dan biasanya perasaan hati berubah. dapat membantu dalam sosialisai dan motivasi pasien yang sama baiknya dalam menurunkan kecemasan dan ketegangan. Berikan konta sosial tehadap pasien. Selain untuk mempelajari beberapa kemungkinan tentang cara mendukung pasien afasia. perawat harus ingin untuk berbicara pada pasien sambil memperhatikan pada pasien tersebut. Anggota keluarga sering menjalani kedukaan periode ini. Dasar-Dasar Rehabil1tasi. ahli psikologi.

Program terapi berlandaskan pada penurnbuhan motivasi pasien untuk mau belajar (re-learning) bahasanya yang hilang.2 1. 5. c. Materi yang teiah dikuasai pasien perlu diulang-ulang(repetisi). Hindarkan penggunaan komunikasi non-linguistik (seperti isyarat). f. Terapi dapat diberikan secara pribadi dan diseling dengan terapi kelompok dengan pasien afasi yang lain. b. d. Program terapi yang dibuat oieh terapis sangat individual dan tergantung dari latar belakang pendidikan. e. .a Mayor  Ketidakmampuan untuk mengucapkan kata-kata tetapi dapat dimengerti orang lain  Mengungkapkan kurang pengetahuan atau keterampilanketerampilan/permintaan informasi  Mengekspresikan suatu ketidakuratan persepsi status kesehatan melakukan dengan tidak tepat perilaku kesehatan yang dianjurkan atau yang diinginkan  Jangka panjang atau kronik:  Pengungkapan diri yang negative  Ekspresi rasa bersalah/malu  Evaluasi diri karena tidak dapat menangani kejadian  Menjauhi rasionalisasi/menolak umpan balik positif dan membesarkan umpan balik negative mengenai diri 14 Konsep Dasar Asuhan Penyakit Pengkajian . Stimuli dapat berupa verbal. Penyertaan keluarga dalam terapi sangat mutlak. Segera diberikan bila keadaan umum pasien sudah memungkinkan pada fase akut penyakitnya. Memberikan stimulasi supaya pasien metnberikan tanggapan verbal. Dimulai seawal mungkin. tulisan atau pun taktil.a. g. Dikatakan bahwa bina wicara yang diberikan pada bulan pertama sejak mula sakit mempunyai hasil yang paling baik.1. status sosial dan kebiasaan pasien.

bergantung pada pendapat orang lain  (Kontak mata.  kerja atau kejadian hidup lainnya  Penyelesaian diri berlebihan. Ragu untuk mencoba hal-hal/situasi baru  Melaporkan ketidakmampuan untuk menetapkan dan/atau mempertahankan hubungan suportif yang stabil  Ketidakpuasan dengan jaringan social . gerakan)    berlebihan    masalah-masalah interpersonal   tempat kerja  pola interaksi yang bermasalah  dimengerti  Perasaan tentang penolakan 15 Perasaan teng\tang tidak Orang lain melaporkan tentang Menghindari orang lain Kesulitan Interpersonal di Isolasi sosial Hubungan superficial Menyalahi orang lain untuk Tidak asertif/pasif Keragu-raguan Mencari jaminan secara Buruknya penampilan tubuh Sering kurang berhasil dalam atau mengekspresikan perubahan psikologi (mis.b Minor   Napas Pendek Memperlihatkan mengakibatkan informasi atau kurang informasi. depresi) . postur.ansietas.

Klien tampak sulit menelan 5.a Pengelompokan data Data subjektif  Klien mengatakan sulit menelan. Gangguan tingkat kesadaran 2.2 Diagnosa .      Data Objektif Klien tampak sulit menelan Gangguan tonus otot Disritmia/gangguan irama jantung Gangguan tingkat kesadaran Emosi yang labil . cedera otak. dan penyakit lainnya Symptom DS: 1 Klien mengatakan sulit menelan 2 3 Klien merasakan gangguan rasa pengecapan klien mengeluh lemas . Tujuan/Kriteria hasil  Memperlihatkan  Intervensi Identifikasi Rasional Sebagai data 16 .3 Intervensi DX 1. DO: 1. tumor otak. Disritmia/gangguan irama jantung 4. Gangguan tonus otot 3..b Analisa data Problem Etiologi Hilangnya kerusakan otak kemampuan berbahasa stroke. Emosi yang labil mengakibatkan gangguan berbahasa / Hilangnya kemampuan berbahasa 1) 2) 3) 4) Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan lesi area bicara otak (Afasia) Kurang pengetahuan berhubungan dengan dasar-dasar terapi rehabilitasi Harga diri rendah berhubungan dengan perubahan penampilan sekunder akibat kehilangan fungsi bicara Kerusakan interaksi sosial berhubungan dengan gangguan bicara atau penurunan fungsi .  Klien merasakan gangguan rasa pengecapan  klien mengeluh lemas .

 Klien pengetahuan dasar-dasar rehabilitatif klien Beri tahu mendapat tentang penatalaksanaan terapi terapi/rehabilitasi tentang Untuk mempermudah proses terapi dan menciptakan kerja sama yang 3.kemajuan mengenai kesehatan klien Untuk mempermudah dalam berkomunikasi dikehidupan sehari-hari Pada usia yang sama biasanya masalah-masalah dalam berkomunikasi  Klarifik digunakan di rumah asi bahasa apa yang klien  an Upayak untuk klien akan lebih ilitatifhabmengguna mengerti kan jender dan usia yang sama dengan 2.  Memodifikasi harapan  individu Bantu baik dengan klien Dengan diri yang berlebihan dan untuk menjelaskan pada 17 .  Anjurkan Keluarga membagi perasaan Dukungan keluarga dari sangat dengan komunikasi untuk diperlukan untuk perasaan.kemampuan meningkat  Mengungkapkan penurunan yang untuk metoda yang digunakan tersebut alternatif dasar dapat melakukan orang intervensi untuk selanjutnya untuk mengekspresikan diri frustsi mengkomunikasikan kebutuhan-kebutuhan dasar.

tidak realistis  Mengungkapkan penerimaan keterbatasan  diri Mengident ifikasi aspek positif dari mengurangi tahapan klien ansietas yang ada harapkan dapat keadaan tentang di klien dan penyakitnya menerima mengurangi kecemasan Membantu klien  Tidak membiarkan individu mengisolasi diri untuk berkomunikasi untuk dengan sekitar untuk membangkitkan 4.5 Evaluasi 18 . dengan memperhatikan respon hasil serta waktu yang ditetapkan.  Menyatakan masalah  Berikan harga diri individu Dengan memberikan suport diharapkan dapat meningkatkan harga diri pasien Untuk informasi cara Bermain stres perasaan merasa legak klien klien mengatasi dengan sosialisasi  Mengidentifikas i perilaku baru untuk meningkatkan sosilaisasi efektif  atau Melaporkan bermain peran terhadap perilaku kontstruktif penggunaan  pengganti hubungan suportif peran bermasalah. .4 Implementasi Implementasi dilakukan sesuai dengan intervensi tiap-tiap masalah.sehingga . perasaan situasi Menyalurkan Diskusikan perasaan.

Melaporkan atau 4. 1. Kerusakan (Afasia) Diagnosa keperawatan komunikasi verbal yang S : Evaluasi Mengungkapkan berhubungan dengan lesi area bicara otak penurunan frustsi dengan komunikasi O : Memperlihatkan yang untuk kemampuan meningkat mengekspresikan A : Masalah teratasi 2. Mengidentifikasi perilaku baru untuk meningkatkan sosilaisasi efektif 3. Kerusakan interaksi sosial yang berhubungan dengan gangguan bicara atau penurunan fungsi 19 . Harga diri rendah kronik yang berhubungan dengan perubahan penampilan sekunder akibat kehilangan fungsi bicara P:S : O : Mengungkapkan Mengidentifikasi penerimaan keterbatasan aspek positif dari diri  Memodifikasi harapan diri yang berlebihan dan tidak realistis A : Masalah teratasi P:S : Menyatakan masalah dengan sosialisasi 2. Kurang pengetahuan P:yang berhubungan S : Klien mendapat tentang terapi dengan dasar-dasar terapi rehabilitasi pengetahuan dasar-dasar rehabilitatif O : Klien tampak mengerti A : Masalah teratasi 3.No.

bermain perilaku kontstruktif peran pengganti terhadap penggunaan O : Mengidentifikasi baru untuk perilaku efektif meningkatkan sosilaisasi A : Masalah teratasi 20 .

polip jinak. nodul pita suara. ataupun peradangan kronis sekunder karena asap rokok (voice abuse  Penggunaan suara berlebih (voice overuse) Profesi seperti guru atau penyanyi  Penuaan (Presbylaryngis) dan perdarahan .5.Suara parau atau dysphonic adalah setiap perubahan kwalitas suara yang menyangkut nada maupun intensitasnya yang ditera secara obyektif atau subyektif yang disebapkan oleh gangguan fungsional ataupun organik lesinya terletak di sentral maupun perifer . defisit neurologis.2 Parau 5.1 Definisi 21 . Suara parau ini digambarkan oleh pasien sebagai suara yang kasar.2. papilomatosis laring.1 Konsep Dasar Penyakit Parau adalah suatu peradangan kronik setempat dengan pembentukan suatu massa jaringan peradangan yang letaknya pada perbatasan sepertiga depan dan sepertiga tengah pita suara.2 Etiologi Penyebab suara parau dapat bermacam-macam yaitu : a. Peradangan local pada laring (laringitis akut) bisa disebabkan oleh infeksi viral. tetapi merupakan gejala penyakit. atau suara yang susah keluar atau suara dengan nada lebih rendah dari suara yang biasa/normal. atau Radang dari saluran napas baik akut maupun kronik b. tumor.( Bambang Hermani dan Soejardi Kartosoediro) Suara parau adalah suatu istilah umum untuk setaip gangguan yang menyebabkan perubahan suara. infeksi sekunder bakterial atau bisa terjadi karena bahanbahan kimia atau iritan dari lingkungan.(Arif Mansjoer) Suara parau bukan merupakan suara penyakit. Keluhan suara parau tidak jarang kita temukan dalam klinik. Faktor resiko terjadinya masalah pada suara adalah :  Merokok (factor karsinoma laring)  Kosumsi alkohol berlebihan  Refluks gasroesofageal.

nodul pita suara. Suara parau dapat terjadi secara akut atau kronik. infeksi sekunder bakterial. ataupun peradangan kronis sekunder karena asap rokok atau voice abuse. Inflamasi menyebabkan pembengkakan jaringan-jaringan laring. orator. Onset kronis (laringitis kronis). papilomatosis laring. Tekanan positif di intrapleural selama ekspirasi menyebabkan penekanan dan penyempitan. Laringitis akut bisa disebabkan oleh infeksi viral.Pembengkakan korda vokalis terjadi pada infeksi saluran napas atas(commonCold) atau pemakaian suara berlebihan. tumor. seperti hipofaring pada dasar lidah dan pada pita suara di laring. dsb. atau akibat penggunaan suara berlebih (voiceoveruse) pada penyanyi. Penyebab radang ini adalah bakteri. pengajar. Onset akut lebih sering terjadi dan biasanya karena peradangan lokal pada laring (laringitis akut). Juga bisa dibagi menjadi bagian intra thorak dan ekstrathorak yang berbeda selama inspirasi dan ekspirasi.a Infeksi Laringitis merupakan penyebab tersering suara parau yang dapat diakibatkan infeksi virus atau bakteri dan biasanya terjadi bersamaan dengan common cold.3 Patofisiologi Obstruksi sering terjadi pada daerah yang secara anatomis menyempit. . Radang laring dapat akut atau kronik. polip jinak.b Laringitis akut Laringitis akut merupakan radang mukosa pita suara dan laring kurang dari tiga minggu.Apabila tidak ada bukti adanya infeksi. 22 . dapat disebabkan refluks faringeal. laringitis akut bisa terjadi karena bahan kimia atau iritan dari lingkungan. Saluran nafas intra thorak melebar selama inspirasi dan karena tekanan negatif dari intrapleural.. defisit neurologis. Suara parau memiliki banyak penyebab yang prinsipnya menimpa laring dan sekitarnya mulai dari yang sederhana infeksi saluran pernafasan atas hingga dengan patologi serius seperti kanker leher dan kepala seperti yang dijelaskan dibawah ini : . Tempat obstruksi jalan nafas dapat di supraglotis intraglotis dan infraglotis.

Nodulus jinak dapat terjadi unilateral dan timbul akibat penggunaan korda vokalis yang tidak tepat dan berlangsung lama.sehingga selaput lendir itu tampak hiperemis.c Laringitis kronik Penyakit ini ditemukan pada orang dewasa.d Lesi jinak pita suara Lesi jinak pita suara sering terjadi karena penyalahgunaan suara (voice misuse atau overuse) yang menimbulkan trauma bagi pita suara. polip dan kista. terutama selaput lendir pita suaraTerdapat juga kelainan vaskular.f Polip Polip laring ditemukan pada orang dewasa. Pada tempat keratosis ini perlu diperhatikan dengan baik. singer’s node. Kadang-kadang terjadi keratinisasi dari epitel. Bila peradangan sudah sangat kronis. Beberapa jenis lesi yang timbul seperti nodul. lebih banyak pada pria dari pada wanita. .e Nodul pita suara (vocal cord nodule) Nodul pita suara terbanyak ditemukan pada orang dewasa. Terdapat berbagai sinonim klinis untuk nodul vocal termasuk screamer’s nodule. radang saluran napas dan penyalahgunaan suara (vocal abuse). disebut laringitis kronis hiperplastik. . sebab mungkin di bawahnya terdapat tumor yang jinak atau yang ganas .. sehingga tampak penebalan pita suara yang di suatu tempat berwarna keputihan seperti tanduk. terbentuklah jaringan fibrotik sehingga pita suara tampak kaku dan tebal.g Kista 23 . atau teacher’s node. Sebagai faktor yang mempermudah terjadinya radang kronis ini ialah intoksikasi alkohol atau tembakau. inhalasi uap atau debu yang toksik. lebih banyak pada wanita dari pria. yaitu dilatasi dan proliferasi. Pada laringitis kronis terdapat perubahan pada selaput lendir. . dan sangat jarang didapatkan pada anak.

siringomielia. .h Neoplasma 1) Keratosis laring Pada keratosis laring sebagian mukosa laring terjadi pertandukan.k Penuaan (Presbylaryngis) Presbilaringis (vocal cord concavity) merupakan suau keadaan yang disebabkan penipisan dari otot dan jaringan-jaringan pita suara akibat penuaan. aneurisma aorta Paralisis pita suara merupakan kelainan otot intrinsik laring. dan biasanya paralisis motorik bersamaan dengan paralisis sensorik. dan akibatnya pasien mengeluh suara menjadi parau. dekat ligament.j Gangguan Neurologi pada laring Suara parau dapat terjadi berhubungan dengan masalah pada persarafan dan otot baik dari pita suara atau laring. Pita suara pada prebilaringis tidak sebesar daripada laring normal sehingga tidak dapat bertemu pada pertengahan. tabes dorsalis. Kejadiannya dapat unilateral atau bilateral. limfadenopati leher. . Penyebab perifer misalnya struma.Penyebab sentral misalnya paralisis bulbar. multiple sklerosis. .Karsinoma sel squamosa merupakan keganasan laring yang paling sering terjadi. pasca tiroidektomi.Tempat tersering yang mengalami pertandukan ialah pita suara dan di fosa interaritenoid. tumor eofagus dan mediastinum.i Karsinoma laring Suara parau yang persisten atau perubahan suara yang lebih dari dua hingga 4 minggu pada perokok perlu dilakukan pemeriksaan untuk mengenali apakah terdapat kanker laring. ukuran dan lokasi mengganggu getaran dari pita suara dan menyebabkan suara parau. trauma leher.Kista pita suara merupakan massa yang terdiri dari membran (sakus) Kista dapat berlokasi dekat permukaan pita suara atau lebih dalam. . lemah dan berat. sehingga tampak daerah yang keputihan yang disebut leukoplakia.l Perdarahan 24 . Paralisis otot laring dapat disebabkan gangguan persarafan baik sentral maupun perifer. . Sama seperti nodul dan polip.

. . penyakit granulomatosa. mukosa saluran napas atas. arthritis rematoid. dimana asam lambung naik ke esofagus dan mengiritasi pita suara. menunjukkan telah terjadi perdarahan dari pita suara. Adanya rasa yang mengganjal di tenggorok Timbul nyeri. d. dispnea. malaise. dan gejala local seperti suara parau sampai tidak bersuara sama sekali (afoni). mobilitas lidah dan fungsi saraf cranial).5 Pemeriksaan Fisik Dan Pemeriksaan Penunjang . Peradangan mukosa pita suara dan jaringan-jaringan 25 . trauma laring. . meliputi penilaian pendengaran. Perdarahan pita suara terjadi karena ruptur dari salah satu pembuluh darah permukaan pita suara dan jaringan lunak terisi dengan darah. e.n Penyebab lain Penyebab lain dapat berasal dari sistemik seperti kelainan endokrin (hippotiroid). dan alergi. Biasanya. nyeri menelan atau berbicara serta gejala sumbatan laring. cairan yang menusuk tenggorokan. .4 Tanda Dan Gejala a. Pasien mungkin akan merasakan sensasi gumpalan pada tenggorokannya. dan akhirnya disfagia Rasa terbakar di lambung (heartburn).a Pemeriksaan fisik (Pemeriksaan kepala dan leher secara keseluruhan. Gejala radang umum seperti demam.m Refluks gastroesofageal Hal yang sering juga merupakan penyebab suara serak adalah refluks gastroesofageal. laring c. suara mulai memburuk di pagi hari dan meningkat sepanjang hari.Jika terdapat keluhan kehilangan suara mendadak yang sebelumnya didahului dengan berteriak atau penggunaan suara yang kuat. b. atau adanya keinginan yang kuat untuk membersihkan tenggorokannya.

Polip dengan vaskularisasi yang banyak akan berwarna merah. pembengkakan serta hipertrofi selaput lender pita suara atau sekitarnya Terdapat juga kelainan vaskular. Pada mikrolaringoskopi tampak bermacam-macam bentuk.. sehingga tampak penebalan pita suara yang di suatu tempat berwarna keputihan seperti tanduk.sehingga selaput lendir itu tampak hiperemis. abduksi ringan dan posisi abduksi penuh. membengkak.c Pemeriksaan yang dapat dilakukan sebagai berikut : 1) Pemeriksaan laringoskopi Untuk mengidentifikasi setiap lesi dari pita suara seperti kanker. terbentuklah jaringan fibrotik sehingga pita suara tampak kaku dan tebal. tetapi umumnya yang kelihatan ialah edema. Selain itu dapat menilai adanya paralysis pita suara. berwarna pucat. polip paling sering ditemukan di sekitar komisura anterior. 26 .Kadang-kadang terjadi keratinisasi dari epitel. dan tampak kapiler darah sangat sedikit polip ini ditemukan di subglotik. singer’s node. intermedian. Bila peradangan sudah sangat kronis. 1) Pada pemeriksaan tampak mukosa laring hiperemis. tampak bulat. kadang-kadang terjadifibrotik. aneurisma aorta dan lain-lain. paramedian. Epitel di sekitar polip tidak berubah. yaitu dilatasi dan proliferasi. terutama di atas dan bawah pita suara 2) Pada pemeriksaan terdapat nodul di pita suara sebesar kacang hijau atau lebih kecil. mengkilat dengan dasarnya yang lebar di pita suara. tidak ada tanda radang. sehingga tidak tampak mengkilat lagi .b Secara umum ada lima posisi dari pita suara yaitu : posisi median. berwarna keputihan 3) Pada pemeriksaan. yang berhubungan dengan kanker paru. disebut laringitis kronis hiperplastik. polip tuberkulosis atau sifilis. kadang kadang berlobul.

dapat diterapi dengan istirahat suara dan penggunaan suara yang tepat. 5) CT scan dada. Meliputi hitung jenis dan LED. sindrom Guillain-Barre. 6) CT scan dan MRI jika ditemukan kelainan pada pemeriksaan neurologist. . Penanganannya mencakup :  Penilaian klinis suara untuk diagnosis yang akurat. 3) Pemeriksaan darah. 7) USG tiroid untuk mendeteksi kanker tiroid yang menyebabkan paralisis pita suara .6 Penatalaksanaan Medis Suara parau dialami lebih dari 3 minggu memerlukan rujukan ke spesialistelinga hidung dan tenggorok untuk menilai pita suara dan menyingkirkan ke arah keganasan. pitch dan efisiensi aerodinamik. range. tumor otak atau penyakit serebrovaskuler.d Pemeriksaan Penunjang Lainnya 1) Laringoskopi fibreoptik. 2) Stroboskopi (videolaryngostroboscopy) Pemeriksaan ini dapat memperlihatkan gambaran dari pergerakan laring. fungsi tiroid. 4) Kultur hidung dan sputumFoto torak x ray jika ditemukan paralisis pita suara pada pemeriksaan laringoskopi. Penatalaksanaan suara parau tergantung dari penyebab.2) Pemeriksaan kelenjar getah bening Jika terdapat kelainan dapat menunjukkan neuropati perifer. serta pemeriksaan reseptor asetilkolin untuk suara parau yang diduga disebabkan miastenia gravis. Pada banyak kasus.Pemeriksaan untuk mengukur produksi suara seperti amplitudo. 27 . nilai C1 esterase inhibitor untuk pembengkakan pita suara dan diduga angio edema.

Jika tidak demikian.  Antibiotika diberikan jika peradangan berasal dari paru. polip.2.Mungkin terjadi kekambuhan jaringan polipoid yang tebal sepanjang kordavokalis. pembedahan endoskopik pada Vocal nodul. kista memerlukan tindakan kombinasi bedah dan terapi suara. 5. Pengkajian 28 . Mayor  Ketidak mampuan untuk mengucapkan kata-kata tetapi dapat mengerti orang lain atau  Mengungkapkan kurang pengetahuan atau keterampilanketerampilan/permintaan informasi  Mengekspresikan suatu ketidakuratan persepsi status kesehatan melakukan dengan tidak tepat perilaku kesehatan yang dianjurkan atau yang diinginkan  Jangka panjang atau kronik:  Pengungkapan diri yang negative  Ekspresi rasa bersalah/malu  Evaluasi diri karena tidak dapat menangani kejadian  Menjauhi rasionalisasi/menolak umpan balik positif dan membesarkan umpan balik negative mengenai diri  Ragu untuk mencoba hal-hal/situasi baru 1. menghindari iritasi pada laring dan faring.  Terapi pembedahan meliputi bedah mikrolaring. menghirup udara lembab. Pembedahan harus diikuti menghentikan merokok dan reedukasi vokal.  Terapi suara dapat dilatih pada pasien untuk memodifikasi perilaku dan mengeliminasi gangguan suara. Penatalaksanaan multidisiplin meliputi voice therapists dalam satu team.2 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan a. Terapi yang diberikan berupa istirahat berbicara dan bersuara selama 2-3 hari.

 kerja atau kejadian hidup lainnya  Penyelesaian diri berlebihan.ansietas. Melaporkan ketidakmampuan untuk menetapkan dan/atau mempertahankan hubungan suportif yang stabil  Ketidakpuasan dengan jaringan sosial b. gerakan)    berlebihan    masalah-masalah interpersonal   tempat kerja  pola interaksi yang bermasalah  dimengerti  c. Minor   Napas Pendek Memperlihatkan mengakibatkan informasi atau kurang informasi. postur. depresi) . Pengelompokan data 29 Perasaan tentang penolakan Perasaan teng\tang tidak Orang lain melaporkan tentang Menghindari orang lain Kesulitan Interpersonal di Isolasi sosial Hubungan superficial Menyalahi orang lain untuk Tidak asertif/pasif Keragu-raguan Mencari jaminan secara Buruknya penampilan tubuh Sering kurang berhasil dalam atau mengekspresikan perubahan psikologi (mis. bergantung pada pendapat orang lain  (Kontak mata.

lemas dan suara parau sampai tidak 4. bahan2 kimia.1 Klien mengatakan adanya rasa yang ditenggorokan.3 klien mengeluh demam. Analisa data Symptom DS : a) yang ditenggorokan b) lien c) mengatakan menelan atau berbicara k lien mengeluh demam. lemas dan suara parau sampai tidak bersuara sama sekali . i yang labil menelan atau berbicara. Gangguan harga diri. Kurang pengetahuan. 4. .2 Klien mengatakan nyeri 3. DO : a) lien tampak sulit menelan b) isritmia/gangguan jantung c) mosi yang labil E D irama K o o o o K nyeri K lien mengatakan adanya rasa mengganjal mengganjal 2. 2. . bersuara sama sekali . Data Objektif Klien tampak sulit menelan Disrit mia/gangguan irama jantung Emos Suhu tubuh meningkat Etiologi infeksi (bakteri.Data Subjektif . lingkungan) Peradangan saluran nafas (akut/kronik) Problem 1. Kerusakan komunikasi verbal. 3. 1. Kerusakan Suara parau penurunan kwalitas suara hospitalisasi suara lemah dan serak terapi yang dilaksanakan yang interaksi sosial 30 . d.

Diagnosa a.5-37.d) uhu tubuh S meningkat 2. • • Klien mengatakan suaranya • Berikan terapi berupa istirahat bicara dan bersuara selama 2-3 hari sudah kembali normal Klien terlihat dapat berkomunikasi dengan keluarganya • • Klien tidak tampak canggung dan menutup diri • Menghirup udara lembab Antibiotika diberikan jika • .5 C) nyeri menelan agak berkurang terlihat sudah dapat menelan Suhu tubuh klien kembali normal 3. Gangguan harga diri b/d suara yang lemah dan serak c. • rasa • Intervensi Tujuan/Kriteria hasil Tidak ada mengganjal Klien di Intervensi • Berikan terapi berupa istirahat bicara dan bersuara selama 2-3 hari Klien • Menghirup udara lembab • Antibiotika diberikan jika peradangan berasal dari paru • Mengurangi • peradangan Mengembalikan fungsi pita suara • Menghilangi iritasi pada laring dan faring Mengurangi 31 • Menghilangi iritasi pada laring dan faring • Mengembalikan fungsi pita suara Rasional tenggorokan mengatakan • • (36. Kerusakan komunikasi verbal b/d penurunan kualitas suara. b. DX 1. Kerusakan interaksi sosial b/d terapi yang dilaksanakan 3.

dan dpt merasa sedikit tenang Agar dapat beristirahat dengan tenang klien 4. 5. Evaluasi a. Tidak ada rasa mengganjal di tenggorokan b.peradangan 4. Implementasi Implementasi dilakukan sesuai dengan intervensi tiap-tiap masalah. dan therapi yg dilakukan • Menciptakan suasana nyaman klien • Mengurangi pengunjung agar klien beristirahat dengan tenang dpat yg bagi • peradangan Agar mengerti penyakit klien ttg nya. Klien mengatakan nyeri menelan agak berkurang 32 . • • Klien tampak tidak malu dalam • berkomunikasi Klien dapat berinteraksi dengan keluarga dan pengunjung yg datang berasal dari paru Menjelas kepada • klien ttg penyakit yg dideritanya. dengan memperhatikan respon hasil serta waktu yang ditetapkan.

Klien tampak tidak malu dalam berkomunikasi k.5-37. Cemas berkurang g. Klien mengerti sedikit tentang penyakitnya h. Klien terlihat dapat berkomunikasi dengan keluarganya i. Klien tidak tampak canggung dan menutup diri j. Klien terlihat sudah dapat menelan d. Emosi klien tampak terkontrol f.c. Klien dapat berinteraksi dengan keluarga dan pengunjung yg datang 33 . Suhu tubuh klien kembali normal (36.5 C) e.

You're Reading a Free Preview

Descarga
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->