P. 1
Anatomi Jalan Lahir

Anatomi Jalan Lahir

|Views: 33|Likes:
Publicado porEnniz Wahyu Kartika

More info:

Published by: Enniz Wahyu Kartika on Sep 01, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/29/2013

pdf

text

original

Anatomi Jalan Lahir Jalan lahir dibagi menjadi bagian keras dan bagian lunak.

Bagian keras terdiri dari tulang-tulanng panggul dan sendi. Sedang bagian lunak meliputi otot-otot, jaringan, dan ligamen. Tulang-tulang panggul terdiri atas os coxae (os ilium, os ischium, os pubis), os sacrum, dan os coxygeus. Antara os ilium dengan os sacrum terbentuk persendian articulatio sacroiliacum. Antara os sacrum dengan os coxygeus terbentuk persendian articulatio sacrocoxygeus. Simfisis pubis adalah persendian yang dibentuk oleh dua os pubis yang saling bertemu. Di luar kehamilan pergerakan sendi sangat sedikit. Saat kehamilan terjadi sedikit perenggangan. Pelvis terbagi menjadi 2 bagian, yaitu pelvis mayor dan pelvis minor. Pelvis mayor terletak di sebelah cranial dari aditus pelvis (di atas linea terminalis). Pelvis minor disebut pula sebagai pelvis sejati karena dindingnya dibentuk oleh tulang yang lebih sempurna, terletak di sebelah caudal aditus pelvis (di bawah linea terminalis). Bentuk pelvis minor berupa saluran dengan sumbu melengkung ke depan (sumbu Carus). Bidang atas berbentuk bulat dibatasi pintu atas panggul (pelvic inlet). Bidang bawah dibatasi pintu bawah panggul (pelvic outlet) dan di antara kedua bidang terdapat pelvic cavity. Pintu atas panggul berbentuk bulat oval, dengan dibatasi oleh promontorium, sakrum, linea inominata, ramus superior ossis pubis, dan tepi atas simfisis. Ada 3 ukuran penting yang melibatkan pintu atas panggul, yaitu conjugata vera anatomica, conjugata vera obstretica, diameter transversa, dan diameter obliqua. Conjugata vera anatomica diukur dari promontorium ke tepi atas simfisis ossis pubis, panjang normal rata-rata 11 cm. Conjugata vera obstretica diukur dari promontorium ke tempat yang paling menonjol dari facies posterior simfisis ossis pubis, panjang rata-rata 10,5 cm. Diameter transversa adalah jarak terjauh yang ditarik pada linea terminalis antara dua titik yang sama, panjang rata-rata 13,5 cm. Diameter obliqua diukur dari articulatio sacroiliaca ke pecten ossis pubis sisi yang berlawanan, panjang rata-rata 12,5 cm. Bidang tengah panggul adalah bidang dengan ukuran terkecil, terletak setinggi pinggir bawah simfisis, spina iskiadika kiri-kanan dan memotong sakrum sekitar 1-2 cm di atas ujung sakrum. Sulit pengukuran secara klinik. Kesempitan pintu bawah panggul biasanya disertai kesempitan mid-pelvic. Pintu bawah panggul terdiri atas 2 bidang segitiga dengan dasar garis yang menghubungkan kedua tuber iskiadikum kiri-kanan, dan puncak segitiga: ujung os sakrum, sisi : lig. sakrotuberosum. Segitiga depan : dibatasi oleh arkus pubis. Terdapat 3 ukuran, yaitu : conjugata diagonalis, conjugata recta, dan diameter transversa. Conjugata diagonalis diukur dengan vaginal toucher dari tepi bawah simfisis ke promontorium, panjang rata-rata 12-12,5 cm. Conjugata recta membentang dari tepi bawah simfisis samapai ujung os coxygeus, panjang 911,5 cm. Diameter transversa adalah jarak antara kedua tepi dorsal tuber ischiadicum, panjang rata-rata 11 cm. Bidang hodge adalah bidang khayalan dalam panggul untuk menentukan berapa jauh bagian terendah janin turun ke dalam rongga panggul. Empat bidang Hodge sejajar satu sama lain : H I : sama dengan PAP, H II : melalui pinggir bawah simfisis, H III : melalui spina iskiadika, H IV : melalui ujung os koksigis (dasar panggul). Bagian lunak jalan lahir terdiri dari otot-otot dan ligamenta yang meliputi dinding panggul sebelah dalam dan menutupi panggul sebelah bawah. Yang membentuk dasar panggul : diafragma pelvis,pars muskularis (m. levator ani), dan pars membranacea (Budianto, 2005; .

Sebagian besar persalinan adalah persalinan normal. Konsentrasi oksitosin dan juga aktivitas uterus akan meningkat pada malam hari. tanpa komplikasi baik pada ibu maupun janin. Sekali kekuatan kontraksi menjadi lebih besar dari nilai kritisnya. Impuls neural yang terbentuk dari perangsangan papilla mammae merupakan stimulus primer bagi pelepasan oksitosin sedangkan distensi vagina dan uterus merupakan stimulus sekunder. dan kontraksi ini lebih meregangkan serviks karena dorongan kepala bayi ke arah bawah. Begitu proses persalinan dimulai serviks akan berdilatasi sehinga memulai refleks neural yang menstimulasi pelepasan oksitosin dan kontraksi uterus selanjutnya. dalam beberapa jam. Jumlah estrogen yang meningkat pada kehamilan aterm dapat memperbesar jumlah reseptor oksitosin. Oksitosin adalah suatu hormon yang diproduksi di hipotalamus dan diangkut lewat aliran aksoplasmik ke hipofisis posterior yang jika mendapatkan stimulasi yang tepat hormon ini akan dilepas kedalam darah. Persalinan Normal Persalinan merupakan kejadian fisiologis yang normal. Faktor mekanik seperti jumlah regangan atau gaya yang terjadi pada otot. Regangan serviks juga menyebabkan kelenjar hipofisis mensekresikan oksitosin yang merupakan cara lain untuk meningkatkan kontraksi uterus (Guyton. Selain di hipotalamus. kemudian kontraksi ini berubah secara tiba-tiba. Sebelum bayi lahir pada proses persalinan yang timbul spontan ternyata rahim sangat peka terhadap oksitosin. mungkin merupakan hal penting (Azrianti. Mekanisme kerja dari oksitosin belum diketahui pasti. uterus mengalami episode periodik kontraksi lemah dan lambat yang disebut kontraksi Braxton Hicks. letak memanjang atau sejajar sumbu badan ibu. hormon ini akan menyebabkan kontraksi otot polos uterus sehingga digunakan dalam dosis farmakologik untuk menginduksi persalinan. 2009). Kontraksi ini secara progresif semakin kuat menjelang akhir kehamilan. hanya 12-15% merupakan persalinan patologis (Abkar. Ada dua jenis umpan balik positif yang diketahui meningkatkan kontraksi uterus selama persalinan. dengan presentasi belakang kepala. dengan demikian menyebabkan persalinan. Regangan serviks membuat seluruh korpus uteri berkontraksi. . setiap kontraksi akan menyebabkan kontraksi berikutnya menjadi semakin kuat sampai efek maksimum tercapai. plasenta dan uterus mulai sejak kehamilan 32 minggu dan seterusnya. terdapat keseimbangan antara diameter kepala bayi dan panggul ibu. menjadi kontraksi yang sangat kuat sehingga mulai meregangkan serviks dan selanjutnya mendorong bayi melalui jalan lahir. Didalam uterus terdapat reseptor oksitosin 100 kali lebih banyak pada kehamilan aterm dibandingkan dengan kehamilan awal. Kontraksi persalinan mengikuti semua prinsip umpan balik positif. 2009).Fisiologi Persalinan Pada sebagian besar masa kehamilan. Persalinan normal adalah proses pengeluaran bayi yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-40 minggu). 1997). Estrogen akan merangsang produksi oksitosin sedangkan progesterone sebaliknya akan menghambat produksi oksitosin. Persalinan prematur adalah persalinan saat kehamilan 28-36 minggu dengan berat janin antara 1000-2500 gr. Persalinan imatur adalah persalinan saat kehamilan 20-28 minggu dengan berat janin antara 5001000 gr. oksitosin juga disintesis di kelenjar gonad. lahir spontan dengan tenaga ibu sendiri dan proses kelahiran berlangsung dalam kurang lebih 18 jam.

multipara + 0. 2. dan asupan makan. serta pengeluaran plasenta dari kavum uteri. lebih sering (4-5 kali dalam 10 menit). Fase aktif : pembukaan dari 4 cm sampai lengkap (10 cm). selanjutnya dilahirkan badan dan anggota badan. berlangsung sekitar 6 jam. Hal-hal yang perlu dipantau : kemajuan persalinan. Kala II Dimulai pada saat pembukaan serviks telah lengkap. keadaan ibu. Berakhir pada saat bayi telah lahir lengkap. Kecepatan pembukaan serviks rata-rata 1 cm per jam (nulipara) atau lebih dari 1 cm hingga 2 cm perjam (multipara). lebih lama (40-50 detik). 2. Hasil pemantauan dicatat dalam partograf.Gejala dan Tanda Persalinan 1. Kala I dibagi menjadi fase laten dan fase aktif. Fase-Fase Persalinan Proses persalinan dibagi menjadi 4 kala : 1. dikontrol tiap 4 jam. sangat kuat.5 jam. status kandung kemih. berlangsung sekitar 8 jam. Peristiwa penting : Bagian terbawah janin (pada persalinan normal : kepala) turun sampai dasar panggul (di Hodge III). Keadaan ibu meliputi tanda vital. His menjadi lebih kuat. 2008). His dikontrol tiap 30 menit pada fase aktif. pembukaan 9 cm sampai lengkap (+ 10 cm. Kala III merupakan periode paling kritis untuk mencegah perdarahan postpartum. . dan keadaan janin. fase dilatasi maksimal (sekitar 2 jam). Selaput ketuban mungkin juga baru pecah spontan pada awal kala 2. Keluarnya cairan lendir bercampur darah (bloody show) melalui vagina. dan berlangsung selam 40 detik. pemeriksaan dalam tiap 4 jam. Kelahiran plasenta : lepasnya plasenta dari insersi pada dinding uterus. pembukaan 3 cm sampai 4 cm. Kontraksi uterus yang mengakibatkan perubahan serviks (frekuensi minimal 2 kali dalam 10 menit) 3. pembukaan 4 cm sampai 9 cm fase deselerasi (sekitar 2 jam). Ibu timbul perasaan / refleks ingin mengejan yang makin berat Perineum meregang dan anus membuka (hemoroid fisiologik) Kepala dilahirkan lebih dulu. Kontraksi pada fase aktif dianggap memadai jika terjadi 3 kali atau lebih dalam waktu 10 menit. dengan suboksiput di bawah simfisis (simfisis pubis sebagai sumbu putar / hipomoklion). Berakhir dengan lahirnya plasenta. Selama persalinan berlangsung dilakukan pemantauan kondisi ibu dan janin. Kala I Dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus yang teratur dan meningkat (frekuensi dan kekuatannya) hingga serviks membuka lengkap (10 cm).5 jam 3. Fase aktif terbagi atas : fase akselerasi (sekitar 2 jam). Kemungkinan diperlukan pemotongan jaringan perineum untuk memperbesar jalan lahir (episiotomi). Fase laten berlangsung hingga serviks membuka kurang dari 4 cm. dan pemeriksaan luar tiap 2 jam. Lama kala 2 pada primigravida + 1. Penipisan dan pembukaan serviks. Kala III Dimulai pada saat bayi telah lahir lengkap. Keadaan janin diperiksa dengan memeriksa DJJ tiap 30 menit (Kampono dan Moegni.

plasenta dan selaput ketuban harus sudah lahir lengkap. sehingga pada saat kontraksi mudah lepas dan berdarah. dilakukan observasi. atau mungkin juga serempak sentral dan marginal. harus diperhatikan beberapa hal. 2. bayi dan ibu dalam keadaan baik. yaitu kontraksi uterus harus baik. dan trombosis pembuluh darah kecil. Patofisiologi Penyebab preeklamsia maupun eklamsia belum dapat diketahui dengan pasti. luka-luka perineum terawat dengan baik dan tidak ada hematom. Pelepasan plasenta terjadi karena perlekatan plasenta di dinding uterus adalah bersifat adhesi. 3. Penegakan Diagnosis Kriteria diagnostik pre eklampsia ringan : 1. Kelainan pada Kehamilan dan Persalinan Preeklamsia – Eklamsia Preeklamsia dan eklamsia merupakan suatu rangkain penyakit yang langsung disebabkan oleh kehamilan. Pada keadaan normal. Keadaan ini diyakini akibat adanya vasospasmus arteriola. infark. Plasenta lepas spontan 5-15 menit setelah bayi lahir. Edema Kriteria diagnostik pre eklampsia berat . Pada dasarnya kedua penyakit tersebut adalah sama. mata. tidak dimasukkan dalam kriteria diagnostik pre eklampsia tetapi perlu observasi yang cermat. tubuh dan organ akan mengalami kelainan patologi anatomi. nekrosis. kenaikan darah sistolik 30 mmHg atau lebih dan kenaikan darah diastolik 15 mmHg atau lebih. Desakan darah 140/90 – 160/110 mmHg. Yang dimaksud dengan rangkain penyakit ialah bahwa eklamsia merupakan peningkatan lebih berat dari preeklamsia. tidak ada perdarahan dari vagina atau alat genital lainnya. atau dari tepi / marginal (Matthews-Duncan) jika tidak disertai perdarahan. dan adrenal akan menurun dan akan mengakibatkan morbiditas bahkan mortalitas ibu dan janin meningkat. Pada preeklamsia berat. fungsi organ seperti plasenta. Proteinuria 300 mg/24 jam atau lebih jumlah urin atau dipstick +1 atau lebih. Teori yang sedang dikembangkan saat ini adalah mengenai adanya imunologik maladaptation. Akibat dari perubahan tersebut . Kala IV Sampai dengan 1 jam postpartum. berupa perdarahan. kontraksi uterus bertambah keras. 4. gunjal. otak. hati. kandung kemih harus kosong. paru. fundus setinggi sekitar / di atas pusat. Sebelum meninggalkan wanita postpartum.Lepasnya plasenta dari insersinya : mungkin dari sentral (Schultze) ditandai dengan perdarahan baru.

Sindrom HELLP . Tujuan pengobatan eklamsia : Untuk menghentikan dan mencegah kejang Mencegah dan mengatasi penyulit. Bila desakan darah turun tetapi belum mencapai normotensif selama perawatan maka kehamilannya dapat diakhiri pada umur kehamilan 37 minggu atau lebih. Kriteria diagnostik eklamsia Eklampsia adalah kelainan akut pada wanita hamil. Kelainan pada mata 6.Pre eklampsia berat adalah suatu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan timbulnya hipertensi 160/110 mmHg atau lebih disertai proteinuria dan/atau edema pada kehamilan 20 minggu atau lebih. ditandai dengan warna kulit penderita berwarna kuning. Perawatan konservatif yaitu kehamilan tetap dipertahankan ditambah pengobatan medisinal. persalinan ditunggu sampai aterm. Cara persalinan Persalinan dapat dilakukan secara spontan. lebih sering pada preeklamsia berat. Hipofibrinogenemia 3. dalam persalinan atau masa nifas yang ditandai dengan timbulnya kejang (bukan timbul akibat kelainan neurologik) dan/atau koma dimana sebelumnya sudah menunjukkan gejala-gejala pre eklampsia. Perdarahan otak 5. 2. Penatalaksanaan Perawatan obstetri pasien pre eklampsia ringan : Kehamilan preterm (kurang 37 minggu) Bila desakan darah mencapai normotensif selama perawatan. Edem paru 7. Bila perlu memperpendek kala II. Hemolisis. Ditinjau dari umur kehamilan dan perkembangan gejala-gejala pre eklampsia berat selama perawatan maka perawatan dibagi menjadi : Perawatan aktif yaitu kehamilan segera diakhiri atau diterminasi ditambah pengobatan medisinal. Solutio plasenta. Kehamilan aterm (37 minggu atau lebih) Persalinan ditunggu sampai terjadi onset persalinan atau dipertimbangkan untuk melakukan persalinan pada taksiran tanggal persalinan. 4. khususnya hipertensi krisis Sebagai penunjang untuk mencapai stabilisasi keadaan ibu seoptimal mungkin Mengakhiri kehamilan dengan trauma ibu seminimal mungkin Komplikasi Komplikasi yang sering terjadi baik preeklamsia maupun eklamsia : 1. Nekrosis hati 8.

Arif. 6. 5. kematian janin dalam rahim DAFTAR PUSTAKA 1. Aisyah. http://www. 2008. Asuhan Kebidanan : Persalinan dan Kelahiran. Wisnu. 2006. William F. Ganong. untuk kalangan sendiri) 3. Jakarta : Media Aesculapius FKUI. 17th . 2005. . 1997. Pelvis. 2.html (Diakses 18 Mei 2009) Suka Be the first to like this post. Surakarta : Keluarga Besar Asisten Anatomi FKUNS. Chapman (ed).blogspot. Jakarta : EGC. Mansjoer (et al). 1998. 2007. Budianto. 2009. Ed : 3. dismatur. Ed: ke-9 .html (Diakses 29 Mei 2009) 9. Guyton. 4. 2009. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Suheimi.com/Yosemite/Rapids/1744/cklob15. Eriana. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I. Surakarta : FKUNS.geocities. 8. Fisiologi Proses Persalinan Normal. Surakarta : Laboratorium Anatomi FKUS (tidak dipublikasikan. Pemeriksaan Obstetri dan Pimpinan Persalinan. Prematuritas. Guidance to Anatomy II. Jakarta: EGC. AC dan Hall. Kampono dan Moegni. Anang.9. Fisiologi dan Managemen Persalinan. http://ksuheimi. Kelainan ginjal 10. Jakarta: EGC 7. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.com/2008/06/fisiologi-dan-managemen-persalinan. Abkar. Maryama. 2008.

You're Reading a Free Preview

Descarga
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->