P. 1
Tugas RekTan 3 1 Makalah Kel 7. Pemanfaatan Mandul Jantan dalam Hibrida Jagung

Tugas RekTan 3 1 Makalah Kel 7. Pemanfaatan Mandul Jantan dalam Hibrida Jagung

|Views: 341|Likes:
Publicado porBondan Eddyana

More info:

Published by: Bondan Eddyana on Aug 28, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial
Precio de venta:$0.99 Comprar ahora

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

09/08/2015

$0.99

USD

MAKALAH PEMANFAATAN MANDUL JANTAN DALAM HIBRIDA JAGUNG

Disusun untuk memenuhi mata kuliah Rekayasa Tanaman III Semester genap tahun 2010 Kelompok 7 Putri Eka Risti Amalia Purdianty Raden Bondan E B Herdian Satrya (150110080080) (150110080122) (150110080162) (150110080205)

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI F FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN JATINANGOR

Bab 1 Pendahuluan Kebutuhan akan pangan karbohidrat yang semakin meningkat akibat pertumbuhan penduduk sulit dipenuhi dengan hanya mengandalkan produksi padi. Varietas jagung hibrida telah terbukti memberikan hasil yang lebih baik varietas jagung bersari bebas. Secara umum, varietas hibrida lebih seragam dan mampu berproduksi lebih tinggi 15 - 20% dari varietas bersari bebas (Morris, 1995). Selain itu, varietas hibrida menghasilkan biji yang lebih besar dibandingkan varietas bersari bebas (Wong, 1991). Jagung hibrida merupakan generasi F1 hasil persilangan dua atau lebih galur murni (Singh, 1987) dan memiliki perbedaan keragaman antar varietas, tergantung dari tipe hibridisasi dan stabilitas galur murni (Agrawal, 1997). Komersialisasi jagung hibrida sudah dimulai sejak tahun 1930, namun penanaman. Jagung hibrida secara luas (ekstensif) di Asia baru dimulai pada tahun 1950-1960. Di sebagian besar negara berkembang, 61% dari lahan pertananaman jagung masih ditanami varietas bersari bebas (CIMMYT, 1990). Hal ini dimungkinkan, karena varietas bersari bebas lebih mampu beradaptasi pada kondisi lahan marginal (Pallival dan Sprague, 1981). Varietas hibrida memiliki keunggulan dibandingkan dengan varietas bersari bebas, diantaranya mampu berproduksi lebih tinggi 15 - 20% dan memiliki karakteristik baru yang diinginkan seperti ketahanan terhadap penyakit. Selain itu, penampilan varietas hibrida lebih seragam (Morris, 1995), dimana varietas bersari bebas pada umumnya memiliki keragaman yang tinggi pada karakteristik tongkol dan biji (Agrawal, 1997). Mandul Jantan merupakan suatu keadaan dimana pollen tidak ada atau tidak berfungsi (tidak mempunyai pati atau rudimenter) dalam pembungaan suatu tanaman. Mandul Jantan terdiri dari tiga jenis yaitu Genic Male Sterility (GMS), Cytoplasmic Male Sterility(CMS), Cytoplasmicgenetic. 1. Genetic Male Sterility (GMS) atau mandul jantan genetik adalah mandul jantan yang dikontrol oleh gen, ditentukan oleh 1 gen resesif, contoh ms. Gen dominan Ms menghasilkan normal pollen. Proses terjadinya mandul jantan dapat secara spontan (alami) dan diinduksi (buatan). Gen tunggal resesif mandul jantan ditemukan pada tanaman jagung, padi, sorghum ,kapas, kedelai, tembakau, mentimun, melon dan terong.

2

2. Cytoplasmic Male Sterility (CMS) atau mandul jantan sitoplasmic adalah mandul jantan yang dikontrol oleh gen yang berada di sitoplasmid. Dikendalikan hanya oleh sitoplasma maternal, sehingga sterilitas ini hanya ditemukan pada zuriat tanaman dari induk yang mandul jantan saja. Keturunannya selalu mandul karena sitoplasmanya berasal dari sel telur. Contoh : Jagung hibrida

3. Cytoplasmicgenetic adalah gabungan, merupakan mandul jantan sitoplasmid dimana terdapat gen inti yang berfungsi untuk memulihkan kesuburan pada mandul jantan. Gen pemulih kesuburan (R) adalah dominan dan ditemukan pada beberapa species tanaman tertentu. Contoh pada gandum.

Mandul Jantan terjadi pada tanaman yang gagal menghasilkan benang sari (stamen),meiosis dalam anther, kematangan butir pollen abnormal, degenerasi anther yang mengakibatkan gugurnya tepungsari dan layu setelah bunga membuka, memiliki tepungsari normal tetapi kepala sari tidak dapat membuka akibat kerusakan mekanis dari anther (Fungsional Male Steril) hal ini terdapat pada beberapa tanaman hermaprodit atau bunga jantan dan betina terpisah (tanaman berumah satu) seperti jagung, dimana benangsari sering tidak berfungsi. Tingkat kemandulan jantan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan temperature dingin

3

dimana dapat menyebabkan polen dalam anther tanaman mandul jantan fungsional dilepaskan. Individu pp dapat dipertahankan dengan menyerbuk sendiri dengan menggunakan kepalasari yang dibuka secara mekanis. 4 . kemandulan tersebut disebabkan oleh gen tunggal (p) sehingga individu bergenotip pp adalah mandul jantan. sedangkan individu PP dan Pp adalah fertile. Mandul jantan fungsional /mandul posisional /mandul struktur sering terdapat pada tomat.

Satu system telah digunakan berdasarkan penggunaan kromosom yang dimodifikasi disebut duplicate deficient. System ini tidak diwariskan melalui pollen. Galur mandul jantan dipelihara melalui penyerbukan dari galur murni A yang mempunyai sitoplasma normal. Mandul Jantan Sitoplasmic Prosedur penggunaan sistem CMS dan pemulih kesuburan dalam produksi benih hibrida akan berbeda berdasarkan tipe persilangan yang diterapkan. Hasil persilangan AB-cms bersifat fertile. memiliki gen pemulih heterozigot Rfrf dan akan menghasilkan pollen normal.Bab 2 Pembahasan a. Mandul Jantan Genetik Aplikasi GMS pada jagung masih dihalangi oleh ketidakmampuan memelihara galur mandul jantan sebagai tetua betina. Dibawah ini dimisalkan galur murni yang digunakan memiliki cms. untuk membuat stok msms murni (Poelman. Galur yang menghasilkan benih bersifat mandul jantan ditandai rfrf.1983). b. Galur murni yang menghasilkan pollen B memiliki sitoplasma normal dan gen pemulih kesuburan Rf. Rf sebagai gen pemulih kesuburan. 5 . Aplikasi Mandul Jantan pada Hibrida Jagung a.

Galur murni A_cm bersifat mandul jantan. Hasil persilangan menghasilkan 50% tanaman bersifat fertile jantan dan 50% mandul jantan. Tiap masing – masing menyumbangkan gen pemulih kesuburan. Tanaman dengan inti rf rf dan sitoplasmanya Ms merupakan jagung fertile tetapi dapat melestarikan jantan fertile sehingga disebut pelestari. Galur murni A_memiliki sitoplasma normal dan gen yang tidak memulihkan (rfrf). Rf = membiarkan gen steril sitoplasmik terekspresi jika gen inti rf rf. 6 . Dikarenakan dari hasil persilangan A_ xB_ bersifat mandul jantan(rfrf). Hasil dari persilangan tiga menghasilkan tanaman yang fertile jantan (Rfrf). sehingga hasilnya (Rfrf). kemudian disilangkan kembali dengan C_xD_ yang merupakan fertile jantan(Rfrf). Hasil dari persilangan tunggal menghasilkan mandul jantan (rfrf). Hasil ini bersifat fertile karena memiliki gen pemulih dominan yaitu Rf dalam sitoplasmidnya. Galur murni B memiliki gen pemulih (RfRf) memiliki sitoplasma normal. sehingga gen inti mempunyai pasangan. Gen inti dan sitoplasma secara bersama-sama menghasilkan penampilan fenotipik jagung steril atau fertile. Gen pemulih kesuburan (restorer genes) pada inti adalah : Rf = memulihkan fertilitas walaupun sitoplasma ms. Pada inti terdapat gen pemulih kesuburan. Gen inti terdapat pada kromosom yang mempunyai homolog.

1997). Pada jagung terdapat gen pengendali jantan steril yang terdapat pada sitoplasma (mitokondria) dan sekaligus secara bersama-sama terdapat pada kromosom di inti sel. Pada jantan steril sitoplasmik terdapat alel Ms atau ms di mitokondria yang mengendalikan jantan steril.Bab 3 Kesimpulan Jagung hibrida merupakan generasi F1 hasil persilangan dua atau lebih galur murni (Singh. Varietas hibrida memiliki keunggulan dibandingkan dengan varietas bersari bebas. diantaranya mampu berproduksi lebih tinggi 15 . tergantung dari tipe hibridisasi dan stabilitas galur murni (Agrawal.20% dan memiliki karakteristik baru yang diinginkan seperti ketahanan terhadap penyakit. Metode mandul jantan yang digunakan untuk memproduksi benih hibrida seperti halnya jagung adalah Cytoplasmid Male Sterility. sedangkan Genetic Male Sterillity masih dihalangi oleh ketidakmampuan memelihara galur mandul jantan sebagai tetua betina. 1987) dan memiliki perbedaan keragaman antar varietas. Gen Ms menghasilkan jagung fertile dan gen ms menghasilkan jagung steril. 7 .

R. J.Fakultas Pertanian. Allard.DAFTAR PUSTAKA Dr. 1960. The Avi Publishing Company. Principles of Plant Breeding. 1983. Breeding Field Crops. Universitas Padjadjaran. 485p. Inc.Bandung. John Willey and Sons. Nani Hermiati. 486p. Poehlman. M.2004. New York.Dasar Pemuliaan Tanaman.W. Second ed. Westport. 8 .

Gen Fase reproduktif adalah masa ketika tanaman telah mampu membentuk organ-organ reproduksi dan melangsungkan proses reproduksi untuk membentuk biji.FAKTOR YANG BERPENGARUHI DALAM PEMBUNGAAN DAN PERSILANGAN BUATAN Bab 1 Pembungaan dipengaruhi oleh factor internal dan eksternal Faktor Internal terdiri dari a. disintesis oleh daun dan ditransfer ke tunas lateral lalu memulai proses induksi bunga. ujung akar.  Gibberellin. Fitohormon  Auxin merupakan respon terhadap cahaya. disintesis di jaringan meristematik apical (ujung). disintesis pada primordia akar dan batang. dibanding pohon yang tidak berbunga (Bonnett-Massimbert dan Zaerr. Fase ini 9 . 1987). Berfungsi untuk meningkatkan energi metabolism kemudian ditransfer untuk membentuk kuncup-kuncup bunga  Mengendalikan proses translokasi untuk menjamin ketersediaan energi untuk pembungaan  Memacu inisiasi bunga (Ramirez dan Hoad.  Cytokinin. 1987) dan dijumpai pada level lebih tinggi pada akar Douglas-fir yang sedang berbunga. disintesis pada jaringan endosperm. dan menstimulir proses perpanjangan internodia dan buku-buku pada batang b. ditransfer ke daun melalui jaringan xylem. dan xylem. serta merangsang terjadinya pembelahan dan berpengaruh proses perpanjangan ujung tanaman  Ethylene. Oslund dan Davenport. 1978. ditranslokasikan ke xylem dan floem.

yang mengindikasikan bahwa pembungaan merupakan pengaruh dari hari-pendek (short-day) (Durzan dkk. Matthews. Factor eksternal meliputi a. suhu yang relatif tinggi pada musim panas dan awal musim gugur tampaknya dapat merangsang inisiasi bunga. 1971. 1979). 1978). Intensitas cahaya mempunyai pengaruh yang lebih besar dan efeknya lebih konsisten dari pada panjang hari. 1961. Intensitas Cahaya. Tromp. Pengurangan intensitas cahaya akan mengurangi inisiasi bunga pada banyak spesies pohon (Matthews. 1977. yang ditandai dengan pola pembelahan berubah untuk mulai membentuk meristem lateral. 1972. dan pengaruh serupa telah teramati pada sejumlah spesies Pinus (Longman. Panjang Hari merupakan perbandingan antara lamanya waktu siang dan malam hari. Suhu Pada spesies temperate dingin. berkaitan dengan fotosintesis yang merupakan sumber energi bagi proses pembungaan. Cahaya mempengaruhi pembungaan melalui dua cara. Puritch dan Vyse. 1972. Jackson dan Sweet. 1985a). Sedgley. Slee. Greenwood. 1984. Fungsi suhu di sini adalah mematahkan dormansi kuncup. Cahaya. Tanaman memasuki fase reproduktif setelah tercapainya suatu karakter genetik yang disebut size effect dan endogenous timing. 1963. 1972. 1. b. yaitu intensitas cahaya dan fotoperiodisitas (panjang hari). suplai dan alokasi makanan. pematahan sinar infra merah pada malam hari akan menghambat pembentukan kon betina. 1963. Endogenous timing adalah umur tertentu yang secara genetis berhubungan dengan kesiapannya untuk berbunga. Cain.terjadi setelah pertambahan jumlah dan volume sel memadai (tanaman mencapai jumlah primordia tertentu yang memungkinkan tanaman untuk mulai berbunga). Puritch dan Vyse. 10 . 2. Contoh Pada Picea glauca. Size effect adalah ukuran tertentu yang berhubungan dengan kemampuan tanaman mengatur penyerapan.

Pembungaan melimpah pada tanaman kayu tropis genus Shorea juga telah dihubungkan dengan terjadinya kekeringan pada periode sebelumnya (Burgess. Sedangkan pada spesies iklim-sedang seperti pinus. Pada musim hujan kelompok tanaman aktivitas maksimal untuk menyerap hara dan air. 1983. 11 . Pembungaan di daerah tropis merupakan respon terhadap turunnya status air dalam tanah. Southwick dan Davenport. 1986). a. (Menzel. apel dan zaitun. b. Beberapa spesies tanaman dapat meningkat inisiasi pembungaan saat keadaaan stress air. Transisi menuju kemarau berhubungan dengan meningkatnya intensitas cahaya. 1972). Kandungan air menurun menyebabkan suhu dalam tanah meningkat sehingga aktivitas meristem apikal menurun dan terjadi mobilisasi energi serta cadangan makanan untuk membentuk meristem lateral. Contoh tanaman pohon tropis dan subtropics leci serta jeruk (Menzel. 1986).c. c. lama penyinaran dan suhu udara untuk meningkatnya aktivitas metabolik pada tanaman. Air dan nitrogen melimpah menyebabkan titik tumbuh apikal aktif sehingga pertumbuhan vegetatif dominan. 1983. Southwick dan Davenport. yang berfungsi mengakumulasikan cadangan makanan dan menyimpan energi untuk pertumbuhan vegetatif lebih dominan. Kelembapan.

Faktor yang harus diperhatikan dalam melakukan persilangan buatan antara lain a. Nitrogen memiliki dampak positif berupa ekspansi percabangan. Weinbaum dkk. 1972. Waktu emaskulasi dan penyerbukan Pada tetua betina waktu emaskulasi diperhatikan . Matthews. Bab 2 Contoh Kasus Bunga Krisan 12 . Secara umum. 1980. Persilangan Buatan Metode untuk menghasilkan varietas tanaman baru dari dua atau lebih tanaman yang mempunyai susunan genetic yang berbeda.d. contoh bunga kacang tanah. dan dampak negatif: berupa memacu pertumbuhan vegetative. aplikasi pupuk terutama nitrogen meningkatkan pembungaan pada sebagian besar tanaman pohon (Sarvas. padi harus pagi hati. Juga waktu penyerbukan harus tepat ketika stigma reseptif. 1963. Penyesuaian waktu bunga Waktu tanam tetua jantan dan betina harus diperhatikan supaya saat berbungadan masaknya terjadi bersamaan. b. 1962. 1986). Edwards. 1976. Pederick dan Brown. Puritch dan Vyse. bila lewat waktu tersebut polen telah jatuh ke stigma. Unsur hara Konsentrasi carbon yang tinggi menentukan ketersediaan energi dan akumulasi makanan untuk pembentukan bunga.

Permasalahan atau hambatan antara lain tingkat budidaya yang kurang optimum dari tanaman induk persilangan. Penambahan cahaya dapat meningkatkan hasil fotosintesis. dan Mitchell (1992) tanaman hari pendek memerlukan panjang hari lebih pendek dari periode kritisnya untuk berbunga. 1995. Pearce. Menurut Gardner. sehingga penambahan cahaya pada tanaman krisan berfungsi untuk memanipulasi fotoperiodisitas dan meningkatkan laju fotosintesis yang berpengaruh terhadap laju pertumbuhan generatif yaitu fase pembungaan Pada budidaya krisan untuk pembungaan membutuhkan suhu 16 – 18oC dengan kelembaban udara 70 .80% (Cassel. 1995. b. teknik persilangan yang kurang baik dan faktor lingkungan yang kurang optimum serta adanya faktor self incompatibility a. Cockshull. sehingga akan segera berbunga apabila panjang hari atau jumlah jam terang kurang dari suatu batasan tertentu. 13 . dan Kofranek. Tanaman krisan (Chrysanthemum morifolium) merupakan tanaman hari pendek (short day plant) yang alamiah di daerah asalnya akan mengalami pertumbuhan vegetatif pada hari panjang (long day) pada musim panas dan akan mengalami perkembangan generatif pada hari pendek pada musim gugur. Factor Lingkungan yang kurang yaitu penambahan cahaya. Faktor Tanaman Induk pada Persilangan Buatan Bunga Krisan Dimulai dengan pemilihan tetua didasarkan pada variasi bunga baik warna. 1980). bentuk maupun tipe bunga.

Pada bunga krisan bentuk lainnya (pompon. Faktor self incompability 14 .Gambar 1. kuas kecil. Pemotongan yang tidak hati-hati akan menyebabkan ray floret terlepas dari dasar bunga. dekoratif dan besar) tepung sari baru terlihat jika dilakukan pemotongan ray floretnya. Tahap selanjutnya adalah pemotongan ray floret. pemotongan ray floret dimaksudkan agar kepala putik yang ada di dalam ray floret dapat ikut diserbuki dengan menggunakan kuas kecil dan memudahan pelaksanaan penyerbukan buatan. karena jika matahari bersinar cerah. Silet yang tidak steril akan menyebabkan bunga terserang jamur. Alat yang diperlukan dalam persilangan buatan krisan adalah alkohol 70%. contoh pada krisan bentuk tunggal.5 bulan dan terlihat masak persilangan dengan munculnyanya tepung sari yang berwarna kuning pada disk floret. Pada krisan bentuk tunggal. pemotongan ray floret dimaksudkan agar kepala putik yang terdapat didalam ray floret tampak dan mudah dijangkau dengan kuas. cawan petri. ganda dan anemon. 1964) (Morfology of Chrysanthemum flower). silet. c. tahap pengumpulan tepung sari dari tetua jantan dengan menggunakan kuas kecil lalu ditampung pada cawan petri. ganda dan anemon. Pada krisan bentuk pompon atau dekoratif. Karakteristik tanaman tetua antara lain yaitu Bunga krisan mekar penuh setelah 1 sampai 1. Tahap selanjutnya. kantong dari kertas koran. dilakukan pembersihan permukaan kepala putik dibersihkan dari tepung sari yang menyelimutinya dengan menggunakan kuas. Pemotongan ray floret harus dilakukan dengan silet yang steril dan dilakukan dengan hati-hati. Morfologi Bunga Krisan (Cumming. kotak sari pecah dan tepung sari yang keluar tidak menggumpal. pensil 2B. Penyerbukan buatan diusahakan dilakukan sekitar pukul 7 sampai pukul 10. label. Sebagai tetua betina dipilih bunga krisan yang kepala putiknya telah nampak walau agak terselimuti tepung sari.

coklat sampai putih.. d. Hal ini disebabkan masa anthesis kepala putik-kepala putik pada disk floret tidak serentak. Di dalam disk floret terdapat banyak biji krisan yang berwarna hitam kecoklatan. bunga betina segera dibungkus dengan kantong kertas dan diberi label.Setelah kepala putik dibersihkan dari sisasisa tepung sarinya lalu dengan menggunakan kuas. itulah sebabnya mengapa dilakukan penyapuan tepung sari berulang-ulang pada hari-hari berikutnya.Krisan mempunyai self incompability yang tinggi sehingga peluang untuk menyerbuk sendiri pada bunga yang sama sangat kecil sekali dan tepung sari lebih dahulu masak baru kemudian kepala putik timbul keluar. umumnya dimulai dari pinggir kemudian ke pusat dan ini dapat terjadi 3 sampai 7 hari. tepung sari dari tetua jantan disapusapukan pada bunga betina. Biji-biji yang bernas dikumpulkan dan dihitung jumlahnya. Faktor tingkat budidaya Krisan Panen biji krisan dilakukan setelah 1 sampai 1. lalu dimasukkan ke dalam kantong kertas. Teknik Menyilangkan krisan dengan menggunakan kuas kecil Untuk menghindari kontaminasi dengan serbuk sari dari jenis tetua lainnya kuas dicelupkan ke dalam alkohol 70% beberapa saat pada setiap kali penggunaan. Jika hendak disimpan dalam waktu lama sebaiknya disimpan dalam lemari pendingin (suhu 0o.5 bulan sejak persilangan.4oC). Gambar 2. Setelah diserbuki. untuk menjaga viabilitas biji krisan. 15 . Biji krisan yang baik akan kelihatan bernas berwarna hitam.

16 .

You're Reading a Free Preview

Descarga
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->