P. 1
Kajian Parameter dalam Beberapa Prosedur Desain Metoda Berbasis Displasemen untuk Struktur Beton Bertulang(Parametric Study on Displacement-Based Design Method Procedures for RC Structures)

Kajian Parameter dalam Beberapa Prosedur Desain Metoda Berbasis Displasemen untuk Struktur Beton Bertulang(Parametric Study on Displacement-Based Design Method Procedures for RC Structures)

|Views: 31|Likes:
Publicado porYoppy Soleman
Ringkasan tulisan bagian I (not translated)
Ringkasan tulisan bagian I (not translated)

More info:

Categories:Types, Presentations
Published by: Yoppy Soleman on Aug 27, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/14/2014

pdf

text

original

Parametric Study on Displacement-Based Design Method

Procedures for RC Structures
Yoppy Soleman*
* Lecturer in Sintuwu Maroso University Poso, Engineering Staff of Civil Works Agency of Poso Regency,
Earthquake/Structural Engineering Independent Consultant
Key Words: displacement-based design, earthquake resistant design, inelastic analysis,
ductile moment resistant frame, direct displacement-based design,
capacity spectrum method
ABSTRACT
The study is based on the facts reported by some researchers in USA
and New Zealand that the conceptual incompatibilty in force/strength-based
method have produced analytical inconsistency in the practice of earthquake
resistant design and have implicated on lateral deformation excess. It is the
displacement-based method, the new conceptual design that determines the
structural performance based on deformation or displacement. The literature
study covers four displacement based methods, i.e. DDBD (=Direct
Displacement-Based Design), PM (=Proportioning Method for RC Structures),
IDS (=Inelastic Design Spectra), CSM (=Capacity Spectrum Method), and two
case implementations, which are a) an eight-storey symmetrical concrete
ductile moment resistant frame, and b) an eight-storey vertically
unsymmetrical concrete ductile moment resistant frame. The analysis is
focused on two aspects of displacement based methods:
1. The base parameter problems (etiology)
2. The significance of the specific assumption or base parameter used from
each procedures in relation to analysis and design results.
I. INTRODUCTION
Metoda displasemen didefinisikan sebagai suatu
prosedur analisis yang didasarkan atas parameter
deformasi elastik dan inelastik yang tertentu (uy,
Ay, u
maks
, A
maks
) ataupun spektra perpindahan (S
D
)
sebagai dasar analisis
1
. Pendekatan sedemikian
ini bertitik tolak dari fakta yang diobservasi
bahwa kerusakan-kerusakan (baik struktural
maupun non-struktural) selama terjadinya gempa
bumi terutama berhubungan dengan
terlampauinya limit operasional deformasi lateral.
Karakteristik lainnya yang penting dari metoda
berbasis displasemen (dan yang membedakannya
dengan metoda berbasis gaya) adalah penggunaan
sifat-sifat inelastik respons struktur (kekakuan
dan redaman) di bawah pembebanan gempa,
terutama yang dinyatakan secara eksplisit dalam
prosedur DDBD.
1
ATC 40. “Seismic Evaluation and Retrofit of Concrete Buildings,
Volume 1”. Applied Technology Council, California Seismic
Safety Commission, November 1996.
Digunakannya parameter deformasi maksimum
(secara realistik dan aktual) sebagai landasan
untuk kelompok metoda-metoda berbasis
perpindahan (Displacement-Based Design)
dipandang sebagai sesuatu yang lebih rasional,
relevan dan mengandung level akurasi yang lebih
baik dalam pendesainan struktur tahan gempa
dibanding metoda tradisional desain berdasarkan
kekuatan (strength-based design method). Akan
tetapi, meskipun semua prosedur menggunakan
konsep paramater desain yang sama terdapat
variasi signifikan dalam hasil desain diantara
prosedur/metoda yang dikembangkan para
peneliti. Karena itu akan dikaji perbedaan
fundamental apa atau perbedaan konseptual apa
yang menyebabkannya.
II. CONCEPTUAL EVALUATION OF
DBD PROCEDURES
Parametric Study on Displacement-Based Design Method Procedures for RC Structures 2
Untuk menentukan apa perbedaan fundamental
dari masing-masing keempat metoda maka perlu
dikaji etiologi masalah yang terdiri dari idea,
konsep kunci dan parameter dasar. Evaluasi
konseptual prosedur-prosedur yang sedemikian
diberikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Evaluasi dasar-dasar dari prosedur-prosedur yang diteliti.
Metoda Idea Konsep Kunci Parameter Dasar
(Spesifik)
DDBD
(MJN Priestley)
Menangani problem-
problem
inkompatibilitas dan
inkonsistensi analisis
pada metoda berbasis
gaya-kekuatan (SFBD)
dengan perspektif baru
yang berbeda. Dalam
DDBD, kinerja
struktur akan
ditentukan berdasar
geometri dan
karakteristik luluh
material, dan dengan
menetapkan suatu
limit (operasional)
deformasi maksimum.
Kurvatur luluh konstan
atau independen
terhadap kekuatan
(strength)
Perhitungan rotasi pusat
pertemuan (join) balok-
kolom:
0 . 5
y b
y
b
l
h
c
u =
atau,
y e y
h u A =
y e y
h u A =
dan, batas deformasi plastik:
0.030
c y
rad u µu = s
Basisdata penelitian:
4 6 µ s s
PM
(J.P. Browning)
Simplifikasi analisis
dan desain untuk
memproporsikan
kekuatan dan kekakuan
struktur beton
bertulang (low-
medium rise RCF,
regular) terhadap limit
deformasi lateral
tertentu. Metoda
dikembangkan atas
karakteristik yang
menghubungkan
spektra displasemen
dengan spektra
percepatan dan perioda
getar struktur.
Spektra displasemen
maksimum
merepresentasikan
respons nonlinear
struktur di bawah
pembebanan gempa
tertentu.
Perioda getar target yang
dihitung berdasar Metoda
Rayleigh (tipikal utuh):
¿
¿
A
A
=
2
2
Ti i
Ti i
m
F
T
t
harus lebih kecil atau sama
(≤) dengan perioda getar
fundamental yang dihitung
berdasar spektra displa-
semen:
maks
S DS
i
T S
H
T o
·
s
7
8
IDS
(A.K. Chopra)
Untuk meningkatkan
akurasi desain, karena
prosedur sebelumnya
(EDS= elastic design
spectra) menghasilkan
suatu inkonsistensi
perhitungan deformasi
dan juga pelampauan
batas rotasi plastik
maksimum.
Pseudo-accelleration
spectra (dan inelastic
deformation spectra)
merepresentasikan
respons maksimum
sistem struktur.
Tidak ada parameter dasar
spesifik kecuali yang
diperoleh berdasar
konvergensi perhitungan
iterasi untuk displasemen
luluh. Selanjutnya parameter
simpangan luluh harus
memenuhi deformasi
maksimum:
0.030
c y
rad u µu = s
Parametric Study on Displacement-Based Design Method Procedures for RC Structures 3
CSM
(S.A. Freeman)
Evaluasi kapasitas
struktur. Suatu
prosedur verifikasi
desain konstruksi
bangunan baru atau
bangunan yang telah
berdiri (dalam rangka
mengidentifikasi
potensi kerusakan
akibat gempa bumi).
Prosedur terutama
diberikan untuk tujuan
evaluasi.
Menemukan titik
kinerja struktur sebagai
respons pembebanan
gempa tertentu
berdasarkan
perpotongan (inter-
section) diagram
kapasitas (pushover)
dan spektra
kapasitas ADRS (accel.
displacement response
spectrum)
Tidak ada parameter dasar
spesifik dan metoda
diberikan sebagai suatu
konsep desain (macro
procedures). Parameter
non-spesifik makro tetap
ada, yaitu: tipe struktur.
Tipe struktur merupakan
suatu penilaian (assessment)
terhadap kualitas sistem
penahan lateral bangunan.
Dengan evaluasi konseptual kita sudah dapat
menilai bahwa terdapat variasi signifikan dalam
mana konsep kunci dan parameter dasar dari
masing-masing prosedur dibentuk dan
dirumuskan. Sekarang, kita perlu
mendeskripsikan dengan lebih rinci
pembentukan parameter dasar (formula)
masing-masing prosedur.
Dalam metoda yang dikembangkan MJN
Priestley, formula:
0.5
y b
y
b
l
h
c
u =
(eq. 5)
dihitung dari deformasi pada suatu segmen
hubungan balok-kolom yang khas, seperti yang
ditunjukkan dalam (Gbr. 1).
Besaran-besaran deformasi :
2 2
c s
y by jy
c c
l l
u u u
A A
= + + + (1)
y
u = rotasi luluh pusat join
by
u = rotasi luluh pusat join akibat lenturan
balok
cy
u = rotasi luluh pusat join akibat gaya geser
c
A = deformasi lentur relatif puncak kolom
terhadap rotasi pusat join
s
A = deformasi tambahan puncak kolom akibat
deformasi geser balok dan
kolom
Gambar 1. Suatu segmen balok-kolom tipikal
Rotasi luluh di pusat join balok-kolom adalah
jumlah komponen-komponen deformasi (lentur
dan geser):
2 2
c s
y by jy
c c
l l
u u u
A A
= + + + (2)
Parametric Study on Displacement-Based Design Method Procedures for RC Structures 4
1
1.08
i maks
DS S
H
T
S T
o
| |
s
|
·
\ .
Sudut rotasi luluh karena pelenturan balok (u
y
)
didasarkan atas distribusi kurvatur luluh balok
(eq. 3):
1.70
y
y
b
h
c
| = (3)
dan kurvatur luluh kolom ditentukan sebesar
40% dari harga kurvatur luluh portal (eq. 4).
Berdasar analisis dan basis eksperimental dari
MJN Priestley, harga komponen-komponen
deformasi lainnya dapat ditentukan dari rotasi
lentur balok, yaitu deformasi geser sebesar 0.25
dan deformasi lentur sebesar 0.10, sehingga:
( ) 1.0 0.25 0.40 0.10 0.283
b
y y
b
l
h
u c
(
= + + + ×
(
¸ ¸
(4)
0.5
b
y y
b
l
h
u c
(
=
(
¸ ¸
(5)
Simpangan luluh (yield displacement) struktur
substitutif diberikan sebagai:
1
1
0.5
n
i i i
b i
y e y y n
b
i i
i
m h
l
h
h
m
u c
=
=
A
(
A = = ·
(
¸ ¸
A
¿
¿
(6)
dimana:
h
e
= tinggi efektif struktur SDOF pengganti
Berdasar deskripsi ini bisa disimpulkan bahwa
pembentukan parameter dasar prosedur DDBD
benar-benar obyektif dan ada validitas terhadap
data eksperimental.
Obyektivitas dan validitas metoda berikutnya
(Proportioning Method for Reinforced Concrete
Structures, PM) akan ditentukan berdasarkan
kajian atas dua karakteristik masalah yang
terkandung. Yang pertama bersifat teknis
(perhitungan) dan problem kedua bersifat
konseptual.
Dengan metoda pemroporsian, J.P. Browning
menentukan besaran perioda getar fundamental
(Ti) sebagai karakteristik terpenting dari
struktur di bawah pembebanan gempa.
Displasemen maksimum struktur beton
bertulang diestimasi dengan suatu formula yang
sederhana sebagai :
2
i
SD K T = (7)
dimana:
SD = spektra displasemen (cm, m)
Ti = perioda getar natural (detik)
2 Ti = perioda getar efektif (detik)
K = konstanta yang ditentukan dari karak-
teristik spektra displasemen (cm/s, m/s)
Bila persamaan (7) diimplementasikan pada
spektra deformasi inelastik dengan PBA=0.4g
(Gbr. 2.a) maka diperoleh konstanta sebesar K
= 12.7 cm/s untuk selang perioda getar sebesar
T
b
= 0.125 s dan T
c
= 0.667 s. Tetapi bila
diterapkan pada spektra dengan PBA=1.0g
(Gbr. 2.b) maka konstanta adalah K = 31.9
cm/s. Hal ini menyatakan bahwa implementasi
metoda PM adalah bergantung lokasi (site
dependent-method).
Problem kedua yang lebih fundamental berasal
dari hakekat (esensi) parameter kunci metoda
pemroporsian. Parameter kunci metoda
pemroporsian yang diturunkan dari hubungan
empirik (eq. 7) adalah menentukan perioda
target Ti :
8
7
i maks
ds S
H
T
S T
o s ·
·
(8)
atau portal non simetrik,
(9)
Spektra Respons Deformasi (DRS) Inelastik,
ç = 5%, PBA = 0.40g
0.0
1.0
2.0
3.0
4.0
5.0
6.0
7.0
8.0
9.0
10.0
11.0
12.0
13.0
14.0
15.0
0.0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7
Perioda Ti (detik)
D
is
p
la
s
e
m
e
n
,
c
m
µ = 1.0
µ = 1.5
µ = 2.0
µ = 4.0
µ = 6.0
µ = 8.0
(a)
Parametric Study on Displacement-Based Design Method Procedures for RC Structures 5
Spektra Respons Deformasi (DRS) Inelastik,
ç = 5%, PBA = 1.00g
0.0
5.0
10.0
15.0
20.0
25.0
30.0
35.0
40.0
0.0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7
Perioda Ti (detik)
D
is
p
l
a
s
e
m
e
n
,
c
m
µ = 1.0
µ = 1.5
µ = 2.0
µ = 4.0
µ = 6.0
µ = 8.0
(b)
Gambar 2. Spektra displasemen inelastik; (a)
PBA = 0.4g; (b) PBA = 1.0 g
Persamaan (8) dan persamaan (9) dibentuk
melalui beberapa hubungan dinamik dan
perhitungan dua karakteristik dinamik respons
struktur yaitu: (1) faktor partisipasi modal (I),
dan (2) faktor pembesaran dinamik (+).
Formulasi dengan parameter-parameter dinamik
yang telah ditentukan harganya (menjadi
konstanta-konstanta) kemungkinan akan
menyebabkan bias perhitungan karena adanya
galat numerik harga pendekatan. Akan tetapi,
walaupun secara matematik formulasi tersebut
valid (obyektif), formulasi justru mengandung
kontradiksi terhadap konsep dasar metoda-
metoda berbasis displasemen {karena metoda
pemroporsian justru menggunakan perioda getar
sebagai parameter kunci (parameter kontrol) dan
bukan displasemen atau deformasi}. Jadi, esensi
metoda pemroporsian masih sama dengan
metoda-metoda berbasis gaya (force-based
design) yang memandang perioda getar sebagai
karakteristik terpenting dalam analisis dan
desain.
Dengan demikian, kesimpulan pemeriksaan
parameter dasar metoda pemroporsian sbb:
1. Metoda tidak mengerjakan kontrol
deformasi {karena tidak menentukan
simpangan luluh (A
y
)}.
2. Metoda ditekankan untuk penyederhanaan
komprehensibilitas (integrasi) proses
analisis dan desain (terutama akan terlihat
dalam implementasi kasus dimana
menggunakan banyak asumsi empirik).
3. Metoda tidak menentukan parameter kunci
dari suatu parameter yang berhubungan
langsung dengan deformasi struktural, dan
karena itu merupakan kontradiksi.
4. Karena metoda menentukan parameter
dasar atas suatu respons spektra, maka sifat
parameter dasarnya adalah bergantung
lokasi (site-dependent method).
Metoda ketiga adalah Spektra Desain Inelastik
(IDS). Dengan IDS, A.K. Chopra tidak
menciptakan suatu prosedur yang eksklusif
(terpisah), melainkan pengadaptasian dari
beberapa konsep yang sudah ada sebelumnya,
sbb:
1. Newmark-Hall; Rancangan Spektra
Inelastik Duktilitas Konstan
2. Jennings, Iwan dan Gates; Kekakuan Secant
3. MJN Priestley dan G.M. Calvi; Simpangan
Luluh dan Batas Rotasi Plastik.
Itulah sebabnya metoda Spektra Desain
Inelastik tidak menentukan parameter dasar dari
dirinya sendiri, tetapi merekomendasikan
penggunaan prosedur awal metoda DDBD
menjadi parameter dasar dalam metoda yang
dikembangkannya. Adapun parameter batas
displasemen elastik (Ay, uc) yang menjadi
kontrol dan target prosedur adalah :
0.5%
y
u =
atau,
0.5
y b
y
b
l
h
c
u =
1
1
0.5
n
i i i
b i
y e y y n
b
i i
i
m h
l
h
h
m
u c
=
=
A
(
A = = ·
(
¸ ¸
A
¿
¿
(pers.
2.42)
p y p
H u A = A + · (pers.
2.134)
Dengan ketidakeksklusifan parameter dasar
metoda IDS (karena mengikuti DDBD) maka
disparitas (perbedaan) dalam hasil analisis
(Tabel 1.2., hal. 4) harus disebabkan oleh
pemilihan metoda aproksimasi sistem nonlinear,
dimana IDS menggunakan Spektra Deformasi
Inelastik Duktilitas-Konstan untuk menentukan
perioda getar T
n
(perioda getar fundamental),
sementara DDBD menggunakan Metoda
Struktur Substitutif (pengganti) untuk
menghitung Te (perioda getar ekivalen).
Parametric Study on Displacement-Based Design Method Procedures for RC Structures 6
Berdasar pemeriksaan parameter dasar metoda
spektra desain inelastik, dapat disimpulkan
bahwa:
1. Metoda ada mengerjakan suatu
pengendalian duktilitas {karena
menentukan simpangan luluh (
y
)}
2. Sifat parameter dasar adalah tidak
bergantung lokasi (site-independent
method) karena ditentukan dari
deformasi luluh struktur
Dari deskripsi di atas, dapat dikatakan bahwa
metoda IDS hanya merupakan suatu varian
(variasi) dari DDBD (Direct Displacement-
Based Design) dan menggambarkan suatu
tingkat kepercayaan kepada basisdata
eksperimental MJN Priestley.
Dalam metoda keempat yaitu Kapasitas Spektra
(CSM), penyusun metoda (S.A. Freeman) tidak
memberikan parameter dasar spesifik tertentu
dan hanya konseptual desain. Mengapa
demikian? Yaitu oleh karena prosedur tidak
diturunkan dari suatu ide tunggal, tetapi
gabungan konsep-konsep analisis (yang
berfungsi sebagai mikro prosedur-mikro
prosedur pada metoda CSM). Dengan CSM,
S.A. Freeman tidak menciptakan suatu metoda
yang unik (ekslusif), tetapi menggabungkan
seperangkat teknik, prosedur dan analisis yang
sudah ada sebelumnya, sbb:
1. Rancangan Spektra Inelastik Duktilitas
Konstan (Newmark-Hall). Dalam
pembuatan spektra kapasitas (ADRS)
untuk berbagai harga redaman efektif
(
eff
), terdapat suatu parameter dasar
non-spesifik makro yaitu tipe struktur.
2. Analisis karakteristik dinamik struktur:
perioda, modus getar, faktor partisipasi
modal dan faktor massa modal efektif.
3. Analisis kapasitas struktur (pushover
capacity analysis): teknik analisis
modern yang tidak berdasarkan
formulasi eksak tertentu.
Setelah evaluasi konseptual prosedur-prosedur,
berikut ini diberikan kesimpulan umum untuk
pembahasan pasal (4.1.), sbb:
1. Semua metoda bertitik tolak dari idea
dan konsep kunci yang berbeda, dengan
demikian sangat mungkin untuk
terjadinya variasi signifikan dalam hasil
analisis.
2. Hanya dua metoda, masing-masing
DDBD (JMN Priestley) dan PM (J.P.
Browning) yang menentukan
parameter dasar spesifik.
3. Ada tiga metoda, masing-masing
DDBD (JMN Priestley), PM (J.P.
Browning) dan IDS (A.K. Chopra)
yang dikembangkan sebagai prosedur
yang secara esensial berasal dari ide
tunggal (eksklusif). Sementara metoda
CSM (S.A. Freeman) merupakan
kombinasi beberapa teknik analisis atau
mikro-prosedur-mikro prosedur.
4. Satu metoda yaitu PM (J.P. Browning)
yang mengandung kontradiksi
fundamental terhadap konsep dasar
desain berbasis perpindahan
(displacement-based design).
III. CASE IMPLEMENTATIONS
meter 0 . 4
meter 0 . 8
meter 0 . 8
meter 0 . 8
meter 0 . 8
meter 0 . 8
meter 0 . 8
meter 6 . 3 @ 7
Parametric Study on Displacement-Based Design Method Procedures for RC Structures 7
Kajian parameter pasca-desain harus dibuat
sesudah mengimplementasikan kasus-kasus
yang sama pada keempat prosedur yang
berbeda untuk melihat seberapa besar disparitas
(perbedaan) yang dihasilkan dari penggunaan
asumsi atau parameter tertentu.
5.1.1. Momen Kurvatur Luluh
Harga momen – kurvatur luluh adalah parameter
terpenting dalam menentukan kinerja struktur
sebab kapasitas deformasi inelastik diukur
berdasarkan duktilitas elemen balok (dan
kolom-kolom dasar). Dari keempat prosedur
yang diteliti, tiga prosedur (DDBD - JMN
Priestley, IDS - A.K. Chopra dan CSM – S.A.
Freeman) memerlukan perhitungan kurvatur
luluh untuk balok dan kolom lantai dasar, tetapi
hanya DDBD yang memberikan formulasi
untuk menghitung kurvatur luluh balok dan
kolom, yaitu:
1.70
10%
y
y
b
h
c
| = ±
(pers. 2.34.a)
2.12
10%
y
y
c
h
c
| = ±
(pers. 2.34.b)
dan, harga rotasi luluh struktur portal beton
bertulang:
0.5
y b
y
b
l
h
c
u = (pers.
2.35)
Parameter batas rotasi elastik (luluh) yang
sedemikian akan memberikan kemudahan
kepada analis struktur guna menghasilkan solusi
analisis dalam waktu singkat. Pada dua prosedur
lainnya (kecuali PM yang memang tidak
mengerjakan pengendalian batas luluh),
hubungan momen – kurvatur luluh didapatkan
melalui satu dari dua cara berikut:
1. Secara langsung meminjam formula
Priestley (cara ini direkomendasikan
oleh A.K. Chopra dengan CSM)
2. Menentukan hubungan momen –
kurvatur secara obyektif dengan
analisis penampang.
Setiap cara yang dipilih untuk menentukan
kapasitas deformasi (yang diukur berdasar
kurvatur luluh) mengandung suatu
ketidaktepatan tertentu (karena nilai-nilai
pendekatan) dan tentu saja menghasilkan variasi
hasil analisis. Di bawah ini dibandingkan suatu
variasi dalam analisis penampang karena
penggunaan parameter yang berbeda.
5.1.2. Degradasi Kekakuan Komponen
Kekakuan elemen dari struktur-struktur beton
bertulang dalam kondisi dibebani secara lateral
akibat gempa bumi kuat (strong motion
earthquake) harus didasarkan atas suatu harga
yang realistik. Para peneliti struktur sebelumnya
mengobservasi bahwa retak lentur (flexural
cracking) yang umumnya berlokasi pada ujung-
ujung elemen balok dan kolom akan
menyebabkan variasi kekakuan di sepanjang
arah longitudinal elemen. Tetapi untuk
mengevaluasi variasi karakteristik kekakuan di
sepanjang suatu elemen tertentu merupakan
pekerjaan yang terlalu rumit. Untuk tujuan
praktis semua prosedur desain tahan gempa
direkomendasikan menggunakan harga rata-rata
(idealisasi) karakteristik kekakuan. Akan tetapi
harga rata-rata (idealisasi) karakteristik
kekakuan hanya merepresentasikan nilai di
dekat batas luluh elemen-elemen dan tidak
membawa implikasi dari kinerja maksimum
yang hendak dicapai dalam desain tahan gempa
berdasarkan kinerja. Maka solusi untuk
Parametric Study on Displacement-Based Design Method Procedures for RC Structures 8
keadaan ini diperoleh dari rekomendasi JMN
Priestley dengan merekomendasikan dua tipe
degradasi kekakuan berikut, yaitu:
1. Degradasi kekakuan awal (initial
stiffness degrading)
Degradasi kekakuan awal adalah harga
rata-rata kekakuan lentur (EI) dan
kekakuan geser (EA) pada kondisi
sebelum tercapainya momen luluh M
y
pada suatu elemen dan penampang
elemen dalam situasi ini disebut
tampang retak elastik (merujuk ATC-
40 faktor reduksi diberikan dalam Tabel
4.35, dan harga reduksi yang sama
diberikan oleh T. Paulay – MJN
Priestley).
2. Degradasi kekakuan efektif (effective
stiffness degrading)
Degradasi kekakuan efektif
merefleksikan kekakuan elemen-elemen
pada kondisi respons maksimum
(inelastik) struktur. Harga kekakuan
efektif (hanya berlaku untuk balok-
balok) diberikan oleh JMN Priestley
sebagai:
cr
eff
EIb
EIb
µ
= (per. 4.169)
A.K. Chopra (IDS) juga merekomendasikan
rumus kekakuan efektif lentur berikut (ACI 318-
95) dimana harga yang dihasilkan kira-kira
setara dengan rekomendasi ATC-40:
2
0.2 2
s
eff c g t
c
E
EI E I
E
µ ¸
| |
= +
|
\ .
Sementara itu, dua metoda lainnya (PM dan
CSM) tidak menyediakan rekomendasi
degradasi kekakuan efektif pada respons
maksimum. Dengan demikian faktor degradasi
kekakuan komponen dua jenis seperti
disebutkan hanya diperoleh dari rekomendasi
JMN Priestley.
5.1.3. Gaya Geser Desain
Gaya geser desain adalah harga gaya geser dasar
yang diperlukan dalam menentukan kuat perlu
(required strength) relatif elemen-elemen
struktur atau pendetailan tulangan (pasal 5.2.2).
Dari empat metoda yang diteliti, dua
diantaranya (DDBD - JMN Priestley dan PM –
J.P. Browning) merekomendasikan parameter
gaya geser desain yang boleh diproporsikan
langsung dari gaya geser dasar Vb, sementara
metoda IDS (A.K. Chopra) merekomendasikan
gaya geser desain berdasarkan kekuatan luluh
struktur (yang merupakan suatu variabel
terikat). Akan tetapi rekomendasi A.K. Chopra
tidak diikuti oleh penulis, dengan demikian
gaya geser desain untuk metoda IDS ditentukan
sebagai variabel bebas. Untuk prosedur CSM
(S.A. Freeman), karena tidak secara eksplisit
merekomendasikan harga tertentu maka
ditentukan berdasar gaya geser dasar dari modus
getar fundamental (modus 1).

You're Reading a Free Preview

Descarga
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->