Pengertian Guillain Bare’ Syndrom ( SGB/GBS) Adalah syndrom klinis yang ditunjukkan oleh awitan akut dari

gejala gejala yang mengenai saraf perifer dan kranial. Proses penyakit mencakup demielinasi dan degenasi selaput myelin dari saraf perifer dan kranial yang Etiologinya tidak diketahui. ( Hudak & Gallo: 287) Guillain Bare’ Syndrom adalah Gangguan degeneratif terkomplikasi yang sifatnya dapat akut atau kronis. Etiologi belum jelas, meskipun gangguan ini mempunyai kaitan dengan mekanisme autoimun sel dan humoral beberapa hari sampai 3 minggu setelah infeksi saluaran pernapasan atas ringan. (Lynda Juall C: 298) Guillain Bare’ Syndrom adalah ganguan kelemahan neuro-muskular akut yang memburuk secara progresif yang dapat mengarah pada kelumpuhan total, tatapi biasanya paralisis sementara. ( Doenges:369) Etiologi Etiologi / Penyebab Guillain Bare’ Syndrom tidak jelas/ tidak diketahui. Sebagian besar pasien-pasien dengan Sindroma Guillain-Barre (SGB) ini ditimbulkan oleh adanya infeksi (pernapasan atau gastrointestinal) 1-4 minggu sebelum terjadi serangan neurologik. Pada beberapa keadaan dapat terjadi setelah vaksinasi atau pembedahan. Hal ini diakibatkan oleh infeksi virus primer, reaksi imun, dan bebeparapa proses lain atau sebuah kombinasi suatu proses. Beberapa peneliti berkeyakinan bahwa syindrom tersebut menpunyai asal virus, tetapi tidak ada virus yang dapat diisolasi sampai sejauh ini. Patofisiologi Pada GBS, Selaput myelin yang mengelilingi akson hilang. Selaput myelin cukup rentan terhadap cidera karena banyak agen dan kondisi, termasik trauma fisik, hipoksemia, toksik kimia, insufisiensi vascular, dan reaksi imunologi. Demielinasi adalah respon umum dari jaringan saraf terhadap banyak kondisi yang merudikan ini. Akson bermielin mengkonduksi impuls saraf lebih cepat di banding akson tak bermielin. Sepanjang perjalanan serabut bermielin terganggu dalam selaput ( Nodus Ranvier ) tempat kontaklangsung antara membran sel akson dengan cairan eksraseluler.Membran sangat permiabel pada nodus tersebut, sehingga konduksi menjadi baik. Gerakan-gerakan masuk dan keluar akson dapat terjadi dengan cepat hanya pada nodus ranvier ( Gbr. 31-9) sehingga impuls saraf sepanjang serabut bermielin dapat melompat dari satu nodus ke nodus lain (konduksi saltatori) dengan cukup kuat. Kehilangan selaput mielin pada GBS membuat konduksi saltatori tidak mungkin terjadi, dan trasnmisi impuls saraf dibatalkan.

atau fugsi serebral. simetris.. seperti atelektasis. demielinasi dari saraf perifer. Anamnesa : . Pada Lumbal Pungsi : . Darah Lengkap .didapatkan kenaikan protein tanpa diikuti kenaikan sel (dissosiasi sitoalbumin)  pada minggu II 4. ras.1993) Insiden Sindrom ini menyerang semua kelompok umur . tetapi kecepatan remielinasi sekitar 1 sampai 2 mm perhari. dan degenarasi membaran basalis sel Swhann. mengakibatkan paralisis flaksid simetrik asenden dan kehilangan funsi saraf kranial. Gejala-gajala parastesia termasuk semutan ” jarum dan peniti ” dan kebas dapat terjadi secra sementara. Fugsi motorik kembali dalam gaya desending. 6. Pemeriksaan fungsi paru .penurunan kecepatan hantar saraf /lambatnya laju konduksi saraf 5.adanya faktor pencetus . Gejala-gejala biasanya memuncak dalam satu minngu. GBS tidak mengenai LOC ( tingkat kesadaran ).Terlihat adanya leukositosis pada fase awal. Statistik menujukkan bahwa 5% pasien akan meninggal karena komplikasi pernapasan-kardiovaskuler. simetris. Demielinasi terjadi dengan cepat.Dapat menunjukkan adanya penurunan kapasitas vital. dan kedua jenis kelamin.Dapat memperlihatkan berkembangnya tanda-tanda dari gangguan pernapasan . Otot pernapasan dapat saja terkena. tatapi dapat berkembnag selama beberapa minggu. volume tidal. atau cemberut. jika saraf kranial terkena. 7. paralisis asending dengan cepat berkembang.gejala motorik lebih nyata daripada sensorik 3.Temuan patofisiologis pada gangguan ini multipel dan bervariasi meliputi imflamasi. dan dianggap sindrom-bukan musiman.perjalanan penyakitnya (nyeri radikuler kemudian diikuti kelumpuhan progresif. Manifestasi Klinis Flasid.kelumpuhan tipe flacid terutama otot proksimal . > 1 tungkai. Pemeriksaan EMNG (Elekto Myo Neuro Grafi) : .simetris . Tingkat paralisis dapat saja terhenti setiap saat. dan kemampuan inspirasi Diagnosa Banding . Pemeriksaan Neurologis : . mengakibatkan insufisiensi pernapasan. Biasanya tidak terjadi kehilangan massa otot karena paralisis yang flasid terjadi dengan cepat. 20% akan menderita parastesia distal takdapat pulih ( anastesia tangan dan kaki ) dan 75% akan membaik tanpa defisit residual. Tanda dan gejala disfungsi saraf fasial termasuk ketidak mampuan dalam tersenyum . pneumonia. Gangguan otonomi seperti retensi urine dan hipotensi postural kadang terjadi. tanda –tanda pupil. ( Murray. Pemeriksaan dan Diagnostik 1. menjalar ke lengan (asenderen) 2. maka maka saraf fasial ( VII) lebih sering terserang. Foto ronsen . kehilangan badan granular. bersiul. Rekleks-refleks superfisial dan tendon dalam dapat hilang. telah terjadi pada semua negara. Ada pasien yang mengalami nyeri tekan dan nyeri pada tekanan dalam atau gerakan beberapa otot.

Hipokalemi Komplikasi Gagal pernapasan Penyimpangan Kardiovaskuler 3. karena tidak jelas sejauh apa paralisis akan terjadi. dan perubahan posisi. Dukungan Kardiovaskuler Jika sistem saraf otonom yang terkena. Plasmafaresis Untuk menyingkirkan antibidi yang membahayakan dari plasma. Gagal pernapasan harus di antisipasi sampai kemajuan gangguan merata. maka mngkin di butuhkan ventilasi mekanik. Polineuropathy karena defisiensi 2. dan memberikan dukungan psikologis untuk pasien dan keluarga.1. batuk. sucsioning. Plasma pasien dipisahkan secara selektif dari darah lengkap. maka akan terjadi perubahan drastis dalam tekanan darah ( hipotensi dan hipertensi ) serta frekwensi jantung akan terjadi dan pasien harus dipantau dengan ketat.4 mg/kg BB / hari selama 5-7 hari CSFF = Cerebro Spinal Fluid Filtration - - - . Myasthenia Gravis Penatalaksanaan Medis Tujuan utama dalam merawat pasien dengn GBS adalah untuk memberikan pemeliharaan fungsi system tubuh. Gangguan saraf otonom dapat dipicu oleh valsava manuver. dan bhan-bahan abnormal dibersihkan atau plasma digantikan dengan yang normal atau dengan pengantri koloidal. Identifikasi adanya disritmia dan diobati dengan cepat. dengan cepat mengatasi krisis-krisis yang mengancam jiwa. Dukungan Pernapasan Jika vaskulatur pernapasan terkena. IVIg = Intra Venous Immunoglobulin dosis tinggi (0. mencegah infeksi dan komplikasi imobilitas. sehingga aktivitas-aktivitas ini harus dilakukan secara hati-hati. Mungkin Perlu dilakukan trakeostomi jika pasien tidak dapat di sapih dari ventilator dalam beberapa minngu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful