P. 1
Pangemanann

Pangemanann

|Views: 3|Likes:

More info:

Published by: Dedy Ahmad Hermansyah on Aug 11, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/04/2014

pdf

text

original

Pangemanann, Sang Penjaga Mata Radar Hindia

Mengaji Tetralogi #9

Mengaji kali ini akan merangkum 14 bab Rumah Kaca, seri keempat sekaligus yang terakhir Tetralogi Buru Bung Pram. 14 bab itu akan dipecah ke dalam empat rangkuman: dari bab 1-4; bab 5-7; 6-9; dan 10-14. Jadi akan ada empat catatan untuk seri Rumah Kaca ini. Di dalam Rumah Kaca, Minke tidak lagi menjadi pusat penceritaan. Melainkan Pangemanann, seorang anggota kepolisian Hindia Belanda. Pangemanann ini sudah muncul pada beberapa bab terakhir seri Jejak Langkah. Rumah Kaca ini pembaca tidak akan bertemu lagi dengan kisah pahit-manisnya percintaan. Bagi beberapa orang mungkin Rumah Kaca ini agak sedikit berat dan agak ‘membosankan’. Karena di dalamnya melulu bicara perihal sejarah, politik, dan sebagainya. Tapi Rumah Kaca ini memiliki keunikan tersendiri dari tiga seri sebelumnya. Minke sendiri dibuang ke Ambon. Pangemanann ikut mengantarnya sampai tujuan. Di Ambon, berbagai ketentuan diberlakukan atas diri Minke. Salah satunya ia mendapat pesangon sama dengan jumlah saat ia sekolah di STOVIA. Cuma sedikit dikurangi, mengingat ia tak lulus. Ia juga hanya boleh menerima surat tanpa bisa membalas. Bisa membaca terbitan-terbitan tanpa boleh menanggapi dalam bentuk tulisan. Ia juga diwajibkan selalu melapor siapa-siapa tamu yang datang ke rumahnya. Frischboten dipulangkan ke Belanda. Ia begitu dicintai oleh kalangan Pribumi, catat Pangemanann. Frischboten-lah yang selalu membuka tangannya membantu Pribumi mendapat keadilan hukum. Prinses dan si Piah rupa-rupanya mematai-matai rumah baru Pangemanann yang awalnya menjadi milik suaminya, Minke. Setelah tersadar bahwa dua wanita yang ia anggap tahu bersetia itu, Pangemanann melapor ke polisi. Dan polisi menyeret mereka berdua, mereka sepanjang jalan dipukuli dan dianiaya. Bagi kami, Rumah Kaca ini adalah cermin untuk melihat soal benih-benih kebangkitan nasionalisme dari sudut pandang colonial. Karena memakai kaca mata colonial, otomatis pembaca juga diajak berjarak dalam melihat dan menilai tokohtokoh yang ada di dalam tiga seri sebelumnya. Dan yang terpenting, tentu saja: Rumah Kaca ini adalah ruang bagi Pram untuk menjelaskan bagaimana usahausaha yang dilakukan pemerintah colonial Belanda dalam membendung dan memberangus aktifitas-aktifitas kaum Pribumi yang dianggap bakal merongrong kekuasaan kolonialisme. Usaha-usaha itu kemudian dijalankan oleh Pangemanann lewat satu metode pencatatan dan pengarsipan yang rapih semua aktifitas Pribumi yang berusaha merongrong kekuasaan colonial. Arsip ini, dalam istilah sinopsis roman, adalah mata radar Hindia. Maka dengan begitu, Pangemanann tak lain adalah penjaga mata radar Hindia. Siapa Pangemanann?

Sebagaimana telah disebutkan, dalam Rumah Kaca pusat penceritaan sepenuhnya ada pada Pangemanann. Kita tak akan mendengar lagi suara Minke secara langsung. Seluruh gambaran tentang Minke kini dihadirkan dari kacamata si Pangemanann. Maka sangat perlu kita tahu siapa Pangemanann ini. Tentu saja sumber yang memberitahu siapa dia kita dapatkan dari kata-kata Pangemanann sendiri. Pangemanann adalah pria Pribumi yang tak pernah mengenal orang-tuanya. Ia yatim piatu sejak kecil. Pamannya, adik dari ayahnya, Frederick Pangemanann, yang kemudian memungutnya. Sepasang suami-istri asal Prancis mengambilnya sebagai anak pungut. Itu saat dia menjelang lulus dari E.L.S.. Ayah angkatnya seorang apoteker di Menado. Ia bernama Tuan De Cagnie. Rupanya sepasang suami-istri sangat berkenan dengan Pangemanann. Kebetulan mereka memang tak punya anak. Maka tak lama kemudian ia dibawa pulang ke Lyon. Di sana mereka punya apotik dan pabrik obat kecil. Ia bertemu dengan istrinya, Paulette, di Lyon. Istrinya adalah anak seorang petani yang, dalam kata-katanya, tak tak tahu apa-apa tentang dunia. Mereka kawin di sebuah gereja desa yang telah tua, dengan tanpa restu dari orang-tua istrinya. Meski begitu, merekalah yang memberikan saksi. Setelah itu, ia membawa serta istrinya ke negeri-negeri asing, ke Nederland, dan akhirnya ke Hindia. Ia punya empat orang anak. Yang pertama bernama Bernardus, kedua Hubertrus, ketiga Mazquis dengan panggilan Mark, dan terakhir Desiree—artinya dia yang dirindukan, nama pacar Napoleon Bonaparte dan dipanggil Dede. Dua yang pertama meneruskan pelajaran di H.B.S. dan Fakultas Geologi di Nederland. Dua terakhir—Mark dan Dede—masih tinggal bersamanya. Pangemanann adalah seorang anggota kepolisisan pemerintah Hindia Belanda. Ia menjabat pangkat tertinggi untuk seorang Pribumi: Inspektur Polisi tingkat-I. Pangemanann sangat loyal dengan pekerjaannya. Ia mencintai pekerjaannya. Ia sudah berikrar untuk mengabdikan seluruh hidupnya untuk kepolisian. Datanglah satu tugas aneh kepadanya yang diberikan oleh komandannya: Komisaris Van Dam tot Dam. Saat itu umurnya sudah empatpuluhan. Tugas ini, akan dibahas tersendiri dalam mengaji kali ini, yang akan mengantarkan Pangemanann kepada perang batin yang tiada berkesudahan. Nuraninya menggugatnya. Sepanjang empat bab pertama Rumah Kaca ini kegalauan batin dan kekacauan psikis menghampar di hampir setiap halaman. Rumah Kaca ini sejatinya adalah catatan yang dibuat Pangemanann untuk dipersembahkan kepada istri dan anak-anaknya. Ia menuliskan Rumah Kaca ini dalam umurnya yang limapuluh. Ia sungguh percaya, dalam umur segitu, orang sudah bisa mantap menilai segala yang telah dilewati. Ia menilai diri sendiri: sejak kecil sampai menjadi Inspektur Polisi ia berada sepenuhnya pada jalan Tuhan. Sisanya ia berjalan di atas lumpur, jauh dari yang dikehendaki Tuhan. Khawatir istri dan anak-anaknya tak mengetahui cerita sebenarnya dari kehidupannya, maka ia pun membuat catatan tentang betapa tak sucinya dia. “Kalianlah anak-anakku, yang menjatuhkan penilaian. Kalian akan tahu tentang diriku dan seluruh tanah Hindia, tempat aku lahir dan bekerja menghamba pada Gubermen demi nafkah dan kesenangan-kesenangan hidup. Barangkali lebih jujur

jika aku katakan tempat aku bergelimang di dalam lumpur….Maka bila aku berhasil dapat menyelmatkan tulisan ini, dan sampai pada tangan kalian, hendaknya kepada catatan-catatanku ini kalian beri judul Rumah Kaca…”
Latar belakang penugasan Pangemanann. Berawal dari si Pitung, zihhh zihhh zihhh…. Tahun 1912 adalah tahun terberat buat Gubernur Jenderal Idenburg. Setahun sebelumnya sudah mulai terasa ada gelumbang perubahan besar yang menggulung di bumi Hindia. Gelumbang itu datang sebagai sambungan dari gelumbang yang datang dari Tiongkok: Dinasti Ching tumbang. Seorang terpelajar berpendidikan dokter telah memimpin negeri itu: Sun Yat Sen. Sukses revolusi yang ia memimpin kini mulai menjalar ke Hindia. Semangat nasionalisme juga merasuk ke orang Tiongkok di Hindia. Gubernur Jenderal tak bisa berbuat apa-apa. Ia tak punya kekuasaan sah untuk memberangus. Bukan wewenangnya. Masalah Tiongkok adalah masalah Kementerian Luar negeri di s’Gravenhange. Yang bisa ia lakukan hanyalah berusaha membendung dalam jangka panjang arus nasionalisme tersebut. Ia ambil inisiatif untuk membelah masyarakat Tionghoa agar ada di kalangan mereka yang memihak kepada pemerintah colonial. Maka dalam lapangan pendidikan ia pun mendirikan sekolah H.C.S., Hollandsch Chineesche School, sekolah dasar berbahasa Belanda. Akan tetapi, satu hal yang tak bisa ia atasi sendiri: pengaruh revolusi Tiongkok itu sendiri terhadap terpelajar Pribumi! Seorang siswa tidak lulus STOVIA jelas-jelas sudah terpengaruh dengan arus revolusi tersebut. Dia bentuk organisasi yang berkiblat kepada kaum nasionalis Tiongkok. Ia punya satu senjata ampuh yang ia sebarkan bernama boycott. Ia sangat ingin membangun nasionalisme di kalangan Pribumi. Ia menuliskan isi pikirannya untuk dibaca bangsanya dalam terbitan yang ia pimpin sendiri bernama Medan.Orang itu bernama Minke. Dan tugas berat yang tak bisa diatasi sendiri oleh Gubernur Jenderal itu kemudian dipikulkan di pundak seorang Jacques Pangemanann. Lalu mengapa harus Pangemanann? Mengapa bukan orang lain? Jawaban atas pertanyaan ini: karena hanya Pangemanann yang paham benar arus gelumbang benih-benih nasionalisme Pribumi ini. Pangemanann paling paham tentang gejalagejala baru yang terjadi di Hindia. Dan tugas ini memang tergolong pekerjaan baru dalam tugas kepolisian Hindia. Mengutip Komandan Pangemanann, Komisaris Besar Donald Nicolson, yang menyerahkan tugas ini kepadanya: “Tugas ini berdasarkan kertas Tuan sendiri, Tuan Pangemanann. Orang lain takkan mengerti seluk beluk perkara. Ini bukan soal pidana, bukan urusan tangkap maling. Ini soal khusus, dan Tuan sendiri juga yang telah merintis arah pekerjaan baru ini.” ‘Kertas’ yang dimaksud komandannya adalah catatan dan laporan ilmiah yang disusun Pangemanann setelah dia berhasil menaklukkan sisa-sisa gerombolan si Pitung. Namun, kertas Pangemanann tak hanya membuka jalan baginya dalam mendapatkan tugas baru itu, juga menjadi awal perang batin yang abadi yang dia rasakan. Dari sana lah ia mengetahui watak kolonialisme yang semakin hari semakin ia benci dan ia kutuk. Tugas itu membuat ia harus bergelut selama lima tahun dengan Koran dan majalah terbitan Hindia, membikin interpiu, mempelajari dokumen, menyusun naskah kerja.

Pangemanann merasa tak senang dengan tugas yang diemban kepadanya. Tugas itu telah membuat ia tercerabut dari kepolisian yang ia cintai. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa, karena menurut atasannya, hanya ia seorang yang bisa melakukan tugas tersebut. Kita beralih ke si Pitung. Pada suatu hari, Pangemanann diserahkan tugas aneh: menumpas sisa-sisa gerombolan si Pitung yang bergerak di selingkaran Cibinong, Cibarusa, dan Cileungsi. Masih dalam kawasan Betawi dan Buitenzorg. Maka berangkatlah Pangemanann bersama sepasukan polisi-lapangan. Pangemanann terus merangsek masuk ke daerah-daerah yang dikuasai sisa-sisa gerombolan si Pitung. Tuan-tuan tanah Inggris, Tionghoa dan Belanda bersama keluarga sudah melarikan diri dan mengungsi. Pasukan Pangemanann berhasil mematahkan perlawanan mereka. Sebelumnya, gerombolan tersebut sudah menumpas alat-alat keamanan tuan-tuan tanah. Akhir dari penumpasan itu: tiga ratus tahanan ditahan dan diinterogasi. Dari proses interogasi inilah Pangemanann perlahan-lahan akan menemukan satu ketidakadilan. Itu terungkap waktu salah seorang istri pemimpin gerombolan itu dimintai keterangan soal orang-tuanya. Memang Pangemanann menaruh curiga, rata-rata perempuan-perempuan yang ditahan memiliki ciri fisik peranakan. Dan benar: sebagian besar mereka adalah peranakan. Dan kesimpulan yang didapat: perempuan-perempuan itu adalah korban dari tuan-tuan Tanah berbangsa Inggris. Fakta lain yang terungkap dari pemeriksaan perempuan-perempuan tadi adalah bahwa orang-orang Eropa dengan centeng-centeng mereka telah melakukan perampasan-perampasan harta benda, menarik pajak yang besar, menganiaya, membunuh tanpa pernah diusut oleh pihak yang berkuasa. Dari sana Pangemanann menyadari, perlawanan si Pitung merupakan perlawanan terhadap kekuasaan sewenang-wenang Tuan Tanah Eropa, Tionghoa dan kaki tangannya. Kenyataan itu telah menerbitkan perasaan bersalah tersendiri dalam diri Pangemanann. Lepas menumpas gerombolan si Pitung, Pangemanann juga memberangus perlawanan Pribumi yang bergaya ala Pitung. Mereka juga rupanya melawan tuantanah Inggris dan TIonghoa. Ia juga menggunakan cara yang sama. Maka semakin bertumpuklah rasa bersalah dalam dirinya, menyesaki ruang batinnya. Kesuksesan Pangemanann menumpas perlawanan-perlawanan pada gilirannya dihadiahkan kenaikan pangkat menjadi Ajung Komisaris. Sebuah pangkat yang bahkan orang Eropa apalagi Pribumi sekali pun jarang dapatkan. Tapi hatinya terus merasa tertindas oleh bayangan Pitung. Ke mana saja ia pergi, bayangan Pitung kerap datang menghadang. Jika sudah begitu, ia akan mengeluarkan serupa dengusan: zihhh zihhh zihh… Setiap kali ia dibayangi rasa bersalah, tiap kali pula si Pitung datang. Pitung datang mengenakan sorban putih dan tersenyum menertawainya. Maka semakin seringlah ia mendenguskan zihhh zihhh. Semakin ia dikejar rasa bersalah. Orang-orang bilang, kebiasaan aneh itu akibat terlampau membunuh orang dengan kekejaman orang Asia dan kebiadaban orang Hindia… Minke di mata seorang Pangemanann

Tugas seorang Pangemanann mengawasi usaha-usaha kaum Pribumi merongrong kekuasaan colonial mau tak mau membuat ia harus mengenal Minke, seorang Pribumi yang kini memimpin kebangkitan ke arah nasionalisme dengan S.D.I.-nya. Pangemanann pun menyusun kertas kerja atas perintah atasannya, menulis, menganalisa, memperbandingkan merentangkan kemungkinan-kemungkinan dan akibat-akibat segala sepak terjangnya terhadap Pribumi. Ia harus sendirian memata-matai aktifitas seorang Minke. Dalam pandangan Pangemanann, Minke adalah seorang manusia dengan banyak kelebihan. Ini ia simpulkan setelah mempelajari fikiran-fikirannya dalam tulisan yang Minke tulis di Medan. Tulisan-tulisan Minke sungguh merepresentasikan pribadi yang gelisah, tidak pasti, meraba-raba, dan agak kacau, tenggelam dalam arus berbagai macam pikiran Eropa yang ia terima secara sepotong-potong. Ini bertentangan dengan penampilan dirinya yang mengesankan orang teguh yang punya pendirian pasti. Pangemanann menilai, bila diukur secara Eropa, pengetahuan Minke tergolong sangat terbatas. Akan tetapi, dalam kehidupan Pribumi saat ini Minke adalah titik bakar perkembangan mendatang. Minke adalah orang yang tak hemat berkata-kata. Ini membuat banyak orang segan berada di sisinya. Mulut Minke lebih berjiwa dagang daripada uangnya. Ia banyak bergaul dengan orang-orang Pribumi. Pengikutnya banyak: mulai dari muslim putih, terutama golongan abangan dari golongan mardika. Meski begitu, Minke bukanlah muslim yang taat. Ia melihat Islam sebagai unsur pemersatu yang tersedia di Hindia. Ia gunakan itu dengan cerdas. Minke adalah seorang liberal. Ia telah bebaskan segala dekorasi feudal dari tubuh dan hatinya. Akan tetapi, gelarnya sebagai Raden Mas masih tetap ia pertahankan. Itu ia lakukan semata-mata demi kepentingan pekerjaannya. Untuk ukuran Pribumi, Minke termasuk gologan yang ganteng, gagah dan menarik. Terutama bagi wanita. Ia, dalam penilaian Pangemanann, jelas punya ‘kelemahan’ terhadap wanita cantik. Tetapi itulah cirri-ciri kejantanan yang dimiliki laki-laki. Kulitnya agak lngsat, kumis terpelihara, hitam dan meruncing ke atas pada ujungnya. Ke mana-mana, Minke biasanya menggunakan pakaian Jawa: destar, baju tutup putih dengan rantai emas arloji tergantung pada saku atas bajunya. Ia memakai kain batik dan berselop kulit. Ia tak pernah berlenggang dengan kedua belah tangannya. Tangan kanannya, sejauh yang diketahui Pangemanann, tak pernah berlenggang. Saat mendapatkan tugas mengawasi gerak-gerik Minke, yang kemudian sangat dihormati dan dihargai oleh Pangemanann, ia menjadi sangat tergoncang. Bagaimana tidak, Minke bukan penjahat, bukan kriminil. “Dia bukan penjahat, bukan pemberontak. Dia seorang terpelajar Pribumi yang hanya terlalu mencintai bangsa dan tanahairnya Hinfia, mencoba memajuka bangsanya di bumi Hindia, untuk segala bangsa di atas bumi manusia ini.” Jadi apa pun yang kini dilakukan Minke tap pernah melanggar hukum. Tidak ada hukum yang dapat melarangnya, hukum mana saja dari hukum Nederland. Akan tetapi gerakan-gerakan Minke jelas akan menjurus pada pemusatan kekuatan, yang nantinya menjurus ke gerakan merongrong kekuasaan Gubermen di Hindia. Selalin

itu, apa yang dilakukan Minke adalah wajar bagi Pribumi di negeri jajahan mana pun, khususnya yang telah bersentuhan dengan ilmu dan pengetahuan Eropa. Tindakan itu adalah anak sah dari ilmu dan pengetahuan Eropa tadi. Jika ada yang bernama nurani ilmu pengetahuan Eropa, maka apa yang dilakukan dan diperjuangkan Minke adalah cermin dari nurani tersebut. Dan di daerah jajahan mana saja, hal tersebut sama menimbulkan kesulitan bagi gubermen-gubermen bersangkutan. Dan sebab itulah, tindakan untuk membendung dan menghambat gerakan-gerakan yang dilancarkan Minke, otomatis harus berada di luar hukum. Tidak dihadapi secara hukum… Dokumen-dokumen yang dipelajari Pangemanann di s’Landscharchief Selama mendapat tugas khusus, Pangemanann akhirnya bergelut dengan dokumendokumen yang ada s’Landscharchief. Surat pengantar langsung dari Algemenee Seceratarie. Ia meminta petugas kantor s’Landscharchief, Tuan L., menyediakan dokumendokumen yang ia butuhkan. Tuan L. bekerja kerjas mengumpulkan dokumendokumen di gedung arsip yang koleksinya tujuh kilometer panjangnya. Memang menurut pengakun Tuan L. pengarsipan belum terlalu rapih. Belum ada sekolahsekolah yang mendidik orang menjadi ahli arsip. Dana untuk mempelajari dan meninjau kantor arsip lain belum juga dikeluarkan. Pertama-tama yang dibutuhkan Pangemanann adalah tentang Filipina. Ia memilih mencari tahu soal ini berdasar pada pengetahuan yang diberikan oleh seorang ahli hukum Belanda, Tuan K.. Tuan K. pernah mengatakan kepadanya, pelajari baik-baik kebangkitan nasionalisme Filipina. Khususnya gerakan yang dibangun oleh kaum terpelajarnya. Maka ia pun meminta Tuan L. menyediakan dokumen-dokumen menyangkut Filipina. Dan ternyata bahan-bahan itu tidak banyak tersedia. Meski pun begitu, bahan-bahan yang seadanya yang diberikan Tuan L. tetap mampu memberikan simpulan dasar untuk memahami persoalan Filipina sangkut pautnya dengan Hindia Belanda. Dari yang telah ia pelajari, ada kesan Filipina adalah wilayah yang terletak jauh di Kutub Utara. Lalu kemudian terbeliak oleh sebuah kertas dari tahun 1898 pada masa pemerintahan Jenderal Van Der Wijk. Ada instruksi yang menyebutkan: semua berita tentang pergolakan Pribumi di Filipina tidak disiarkan di bumi Hindia. Tapi ia tak menemukan bukti kalau instruksi itu dijalankan. Kertas berikutnya berturut-turut dari periode pengganti Van Der Wijk—Gubernur Jenderal Rooseboom. Ada saran dari Rooseboom, menjelang usai Perang Aceh, sebaiknya kemungkinan-kemungkinan Inggris bakal main mata dengan Aceh untuk kemudian mencaploknya segera dicegah. Bangsa-bangsa berbahasa Inggris tak bisa dipercayai. Pengalaman Amerika yang menekan Spanyol dalam persoalan Filipina bisa ditiru oleh Inggris. Inggris memang sudah membantu Aceh dengan persenjataan. Intinya: soal Aceh bisa menjadi percontohan pertama oleh Inggris dengan belajar dari pengalaman Amerika. Bahan-bahan yang seadanya itu membawa Pangemanann ke satu kunci persoalan: rupanya Kolonial Belanda cemburu dengan kekuasaan colonial Inggris dan Amerika.

Belanda juga khawatir, kalau-kalau Inggris dan Amerika bakal membantu dan mengorganisasikan pemberontakan Pribumi HIndia untuk kemudian mencaploknya. Akan tetapi, ada factor utama yang tak memungkinkan kaum terpelajar Pribumi Hindia berontak. Di Hindia belum ada sekolah setingkat akademi. STOVIA pengecualian. Maka Pangemanann bikin catatan tersendiri soal STOVIA ini. Kebetulan juga di Asia kebangkitannya banyak dipelopori oleh dokter-dokter, bukan ahli hukum sebagaimana di Eropa. Di Eropa gerakan-gerakannya memang dipancari oleh ketersinggungan hukum, di Asia oleh perasaan ingin menyembuhkan masyarakatnya yang ‘sakit’. Selain bahaya Inggris dan Amerika, Belanda juga awas dengan kehadiran Jerman di Papua Timur dan Portugis di Tenggara. Dua-duanya ada di Hindia sebelah timur. Portugis adalah pengecualian. Bagaimana pun ia kini mulai terpental keluar dari kompetisi colonial, kehabisan dana, daya kehidupan semangat juang dari tetangganya di utara. Jerman kini jelas satu ancaman buat Belanda. Kini Pangemanann menemukan satu instruksi Gubernur Jenderal Rooseboom yang menyebutkan dengan terang yang ditujukan kepada Gubernur dan perwakilan sindikat-sindikat di Hindia yang memperingatkan agar terbitan-terbitan di bawah kekuasaan mereka tak memuat informasi-informasi terkait pergolakan di Filipina. Semua dokumen-dokumen itu membawa Pangemanann pada pengetahuan lain lagi: Negara-negara colonial Eropa kini berada dalam ketenangan yang merugikan. Kini mereka mulai curiga dengan bertambahnya Negara colonial di luar Eropa seperti Amerika dan Jepang. Semua Negara itu, kecuali Belanda dan Belgia, tak pernah puas dengan jumlah wilayah jajahan yang mereka miliki. Satu-satu Negara jajahan Eropa jatuh ke tangan Negara jajahan lain. Yang paling haus Negara jajahan adalah Jerman. Negara ini tergolong terlambat dalam berebut daerah di luar Eropa. Perlombaan perebutan dan perluasan tanah jajahan ini menjadikan Eropa merasa tak lengkap tanpa daerah jajahan. Mereka merasa baru menjadi satu dunia jika punya daerah jajahan. Sarjana-sarjana Eropa pun bakal disebut tak kenal dunia jika tak mendalami pengetahuan colonial. Kata Pangemanann, “Negara tanpa jajahan adalah seperti seorang duda yang harus kerjakan sendiri pekerjaan rumah tangga dan penghidupannya. Negeri jajahan adalah laksana istri yang menghasilkan, yang patuh dan setia dan penurut.” Pengetahuan-pengetahuan di atas, menyangkut persoalan colonial Belanda hubungannya dengan pemberontakan Pribumi, Pangemanann dapatkan setelah bergelut tiga bulan di kantor s’Landscharchief. Kesimpulan akhir yang ia dapatkan adalah bahwa Negara jajahan yang menarik itu adalah yang padat penduduknya, subur juga kaya. Sebab itulah mengapa Belanda memusatkan kekuasannya di Jawa. Meski begitu, pengetahuan ini juga sekaligus menyimpan pertanyaan tersendiri dalam diri seorang Pangemanann. Ia kini penasaran dengan bangsa Jawa, yang kini jadi kekuasaan colonial Belanda. Dan pencarian jawaban soal Jawa ini akan menghubungkan Pangemanann dengan Tuan L.. Tuan L. rupanya adalah seorang ahli Jawa. Pangemanann diberi penjelasan soal Jawa oleh Tuan L., petugas di s’Landscharchief

Perbincangan pertama yang serius antara Pangemanann dengan Tuan L. adalah saat Pangemanann mendapat undangan makan malam dari Tuan L. Tuan Pangemanann bertanya, apa yang membuat Tuan L. mengambil Jawa sebagai pokok? Tuan L. menjawab: “Ada rahasia yang sampai sekarang belum juga dapat aku pecahkan, Tuan. Membuat hipotesa sederhana pun aku belum mampu. Cobalah temukan jawabannya: Apa sebab dengan kesempatan yang sama, dengan syaratsyarat alam yang sama, jumlah bangsa Jawa jauh lebih tinggi daripada bangsabangsa lain di Hindia? Mengapa Jawa punya latar belakang sejarah lebih panjang dan lebih kaya? Meninggalkan warisan-warisan kebudayaan lebih banyak, pada suatu kurun sejarah tertentu? Malahan dalam suatu jaman yang sama pernah melebihi bangsa-bangsa Eropa tertentu dalam bidang-bidang tertentu?...” Percakapan inilah yang akan mengantarkan Pangemanann mendengarkan penjelasan soal Jawa. Pangemanann sendiri menganggap Tuan L. ini orang seharusnya mendapat perhatian dari pemerintahan Hindia Belanda. Ia orang memilih diri berkubur di gedung yang sunyi dan dingin. Semua dokumen yang dibutuhkan ada dan disediakan olehnya. Pangemanann mencoba menjawab pertanyaan Tuan L. juga dengan sebuah pertanyaan: tidakkah itu disebabkan karena kekuasaan Belanda di Hindia memusat di Jawa sejak semula? Tuan L. membantah jawaban Pangemanann. Justru yang sebaliknya yang terjadi. Sebelum Eropa datang, Jawa sudah punya organisasi sosial yang menyebabkan mungkinnya kesejahteraan sosial-ekonomi dan kebudayaan. Lalu mengapa mereka bisa dengan mudah dapat dikalahkan Eropa? Tanya Pangemanann. Tuan L. menerangkan: bangsa Jawa bisa ditaklukkan Eropa, karena pertama-tama ada watak dalam bangsa ini yang suka mencari-cari kesamaan, keselarasan, lantas melupakan perbedaan. Tujuannya untuk menghindari bentrokan sosial. Walhasil, mereka kerap terjatuh pada kompromi ke kompromi. Kehilangan prinsip. Lebih senang penyesuaian dibanding cekcok urusan prinsip. Dari mana watak ini muncul? Itu disebabkan perang yang tak ada henti-hentinya, sehingga bangsa ini merindukan kedamaian. Jejak-jejak ini nyata tergambar dan terumuskan dalam syair-syair yang ditulis penyair besarnya di masa Hayam Wuruk, abad empat belas. Penyair itu adalah Mpu Tantular. Mpu Tantular menuliskan soal kesamaan kemuliaan antara Shiva dan Buddha. Penyair lain bernama Prapanca juga menulis hal yang sama. Pangemanann berkata, bukankah yang diterangkan Tuan L. adalah persoalan agama? Tuan L. menjawab, pada jamannya, agama adalah juga politik. Semua soal kekuasaan. Bukankah di Eropa juga demikian dalam masanya yang lebih muda? Soal menulis syair ini, Tuan L. menambahkan: bangsa Jawa sudah menulis syair saat bangsa-bangsa Eropa masih buta huruf. Bukit menunjukkan, mereka sudah menulis sejak abad ke depalan. Saat ini, Belanda baru berkenalan dengan agama Nasrani, belum kenal baca tulis. Suka bunuh-bunuhan. Malahan mereka membunuh penyebar Injil golongan awal: Bonifacius. Penjelasan soal Jawa ini dari Tuan L. sungguh memberi penerang kepada pengetahuan Pangemanann. Dari sana ia mulai melengkapi sisa-sisa kertasnya. Ia

bacai terbitan-terbitan tentang studi colonial untuk melengkapinya. Maka hasil dari itu semua: ia bikin naskah tentang kaum terpelajar Pribumi dan kemungkinan hubungan mereka dengan kaum terpelajar di negeri-negeri colonial di sekitar Hindia. Itu adalah naskah terpanjang yang dia buat, dan memakan waktu hampir satu tahun. Pangemanann pindah ke kantor Algemeene Secretarie di Buitenzorg Kertas yang dibuat Pangemanann selama satu tahun mengantarkannya kepada jabatan baru yang lebih gemilang. Ia kini dipekerjakan pada kantor Algemeene Secretarie di Buitenzorg. Otomatis juga ia harus pindah dari Betawi ke Buitenzorg. Ia tentu saja mendapat fasilitas dan gaji yang lebih tinggi daripada waktu ia menjabat sebagai Ajung Komisaris. Hanya saja, rasa bersalahnya semakin menjadijadi saat tahu rumah baru yang ia tempati di Buitenzorg adalah bekas rumah gurunya tercinta: Raden Mas Minke. Di kantor barunya, ia berkenalan dengan sep barunya bernama Tuan R.. Tuan R. rupanya mengenal orang-tua angkat Pangemanann. Tuan R. juga berkata ia sudah lama menunggu orang yang bisa bahasa Melayu dengan baik, berpendidikan tinggi, dan menguasai bahasa-bahasa modern. Dan Pangemanann adalah orang yang tepat. Tugas baru Pangemanann adalah menjawab pertanyaan Tuan R., sebagai tenaga ahli. Pertanyaan-pertanyaan itu berkaitan dengan kegiatan para terpelajar Pribumi yang tidak dikehendaki, yang menyimpang dari acuan yang ditentukan oleh politik etik. Tuan R. juga memperkenalkan Pangemanann dengan teman sejawatnya di kantor itu. Khususnya kepada Tuan Gr. Yang bakal banyak bekerjasama dengannya. Pangemanan bahagia menempati ruangan barunya. Di sana ada lemari besar berisi dokumen-dokumen yang akan ia pelajari. Semuanya tentang pelajar Pribumi. Berkas yang paling besar yang ada di dalam sana adalah berkas tentang Raden Mas Minke. Di sana ada potongan-potongan dari guntingan-guntingan Koran Medan. Koran-koran Eropa yang mengutip Medan juga ada di sana. Laporan wawancaranya bersama Minke juga ada. Tapi ada yang mengganggu Pangemanann saat ia baru menempati ruang kerjanya. Ada kejadian aneh di dalam ruang kerjanya yang membuat bulu kuduknya berdiri. Kejadian itu bermula saat bayang-bayang Pitung datang lagi. Sampai-sampai ia harus membuat salib dengan gerakan tangannya. Ternyata, melalui pengatur rumah tangga kantor itu, Nicholas Knoor, didapatkan cerita, bahwa orang yang digantikan Pangemanann sebelumnya bernama Mr. De Lange bunuh diri tepat di ruangan tersebut. Mr. De Lange masih muda, belum pula beristri. Nama panggilannya Simon De Lange. Penyebab bunuh diri tak diketahui. Tiba-tiba saja mendengar itu Pangemanann menggigil dan kakinya berkeringat. Dokumen-dokumen yang dipelajari Pangemanann. Semua berisi informasi selepas Minke dibuang. Di tempat kerja barunya, Pangemanann diserahkan berkas-berkas untuk segera dipelajari. Berkas-berkas itu berisi hal-hal yang berkaitan dengan kondisi dan situasi selepas penangkapan Minke. Selain mempelajari berkas-berkas, Pangemanann juga membaca dan menganalisa terbitan-terbitan Eropa terkait penangkapan itu.

Pertama-tama, selepas Minke ditangkap dan dibuang ke Ambon, semua harta milik S.D.I. pusat dibekukan. Perumahan penerbitan Medan di Bandung, hotel Medan, benda bergerak dan tak bergerak semua dibekukan. Dalam kesimpulan Pangemanann, tak satu pun dari pembekuan itu dilakukan berdasarkan keputusan pengadilan. Semua di luar hukum. Pembekuan itu dilaksanakan oleh sebuah komisi. Ketua komisi itu, yang terbaca olehnya, adalah De Lange. Pria yang bunuh diri di ruangannya sekarang bekerja. Pangemanann menduga, barangkali kematian De Lange karena tergugat nuraninya sendiri. Ia bisa perhatikan bagaimana tanda tangan De Lange tak mantap, seperti gemetar. Setelah perusahaan impor S.D.I. dibekukan, perusahaan-perusahaan batik kembali ke perusahaan impor milik Belanda. Dan penangkapan Minke ternyata tidak otomatis menyurutkan perlawanan. Pimpinan S.D.I. Sala marah besar dengan tindakan Gubermen. Ia kemudian menghasut massa yang lebih luas. Anggotaanggota S.D.I. di beberapa tempat di Jawa Barat memperlihatkan sikap bermusuhan terhadap pejabat-pejabat negeri. Di beberapa tempat jumlah S.D.I. semakin meningkat. Di Semarang, di daerahdaerah pabrik gula, jumlah anggota juga meningkat tajam, dua kali lipat. Laporan yang paling penting bagi Pangemanann adalah berkas yang yang memberi informasi bahwa hadji Samadi dengan pimpinan S.D.I. cabang Sala kini memimpin sendiri satu organisasi yang mereka beri nama: Sjarikat Islam. Dia sendiri pimpinannya. Kini ia dengn rekan-rekannya menganggap diri tak punya sangkut paut lagi dengan Raden Mas Minke. Selain membaca berkas-berkas, Pangemanann juga membaca terbitan-terbitan yang mengulas tentang pembuangan Minke. Dari semua ulasan yang Pangemanann baca, semua menyalahkan dan menyesalkan Minke. Minke seakan-akan Pribumi yang tak tahu berterima kasih kepada gurunya, Eropa. Minke disebut baru mendapat sejumput pengetahuan dari Eropa, sudah berlagak mampu bertanding dengan Eropa. Ulasan yang menyesalkan Minke ini ada menyatakan keberatannya Pribumi itu diberi pendidikan. Minke, sebagai contoh, sudah berani bikin onar. Bagaimana kalau ada lebih banyak lagi yang mendapat pendidikan? Kata ulasan itu, memberi pengetahuan ke Pribumi sama dengan merenggut kebahagiaan mereka. “Di Hindia. Tak ada orang lebih berbahagia daripada petani, justru karena mereka tak tahu apa-apa tentang dunia dan masalahnya. Memperlus pendidikan pada Pribumi sama artinya dengan merampas kebahagiaan mereka.” Ulasan lain sama juga isinya. Minke dikatakan seharusnya bisa berterimakasih. Tak ada yang seramah Gubermen, kata terbitan itu. Minke tak dijatuhkan hukuman mati. Mana pernah ada bangsawan dihukum mati? Justru raja-raja Pribumi-lah yang melaksanakan hukuman mati bangsanya sendiri. Tak ada yang sebaik Gubermen. Siapa yang menghapuskan rodi? Siapa yang bikin Pribumi bisa baca tulis? Siapa lagi kalau bukan Gubermen. Pangemanann sendiri menganggap terbitan-terbitan itu bersikap tidak adil. Ia bayangkan bagaimana hunjaman-hunjaman menghantam ulu hati gurunya, Raden Mas Minke, bila membaca terbitan-terbitan ini. Pangemanann lagi-lagi dihantui rasa bersalah…

Bantaeng, 13 Juni 2013.

You're Reading a Free Preview

Descarga
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->