Está en la página 1de 8

Evaluasi Program Keluarga Berencana di Puskesmas Nagasari Kabupaten Karawang Periode November 2010 sampai dengan Oktober 2011

Theresia Citra Mila Mesa Kepaniteraan Klinik Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Abstrak
Jumlah penduduk di Indonesia dari tahun ke tahun semakin meningkat. Didasarkan pada sensus penduduk menunjukkan penduduk Indonesia pada tahun 2000 sebesar 206,3 juta jiwa, tahun 2005 sebesar 218,8 juta jiwa dan tahun 2010 mencapai 237,6 juta jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,49%. Hal ini menempatkan Indonesia pada posisi ke empat berdasarkan jumlah penduduk terbanyak di dunia dan menjadi masalah yang sangat besar bagi Indonesia. Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah mencanangkan program Keluarga Berencana (KB). Pada evaluasi ini, metode yang digunakan adalah melalui pendekatan sistem dengan membandingkan cakupan dengan target di UPTD Puskesmas Nagasari Kabupaten Karawang selama periode November 2010 sampai dengan Oktober 2011. Hasil yang diperoleh yaitu cakupan peserta KB Baru sebanyak 1,548 orang, peserta KB Aktif terhadap PUS (86,67%), peserta KB IUD (19,20%), peserta KB MOW (10,33%), peserta KB MOP (0,29%), peserta KB implant (4,53%), peserta KB suntik (42,02%), peserta KB pil (23,62%), pembinaan peserta KB (100%), penanganan efek samping dan komplikasi ringan (0,89%), dan pelayanan rujukan KB (100%). Diperoleh dua masalah, yaitu cakupan peserta KB Implant yang masih kurang, sebesar 4,53% dari target sebesar 10%, serta cakupan peserta KB MOP yang masih kurang sebesar 0,29% dari target sebesar 2%. Penyebabnya adalah kurangnya sarana Implant, serta kurangnya penyuluhan tentang metode KB MOP. Adapun saran yang dapat diberikan melalui evaluasi program ini adalah memberikan penyuluhan kepada masyarakat khususnya Pasangan Usia Subur (PUS) mengenai manfaat penggunaan kontrasepsi, penyediaan media-media promosi KB seperti spanduk, poster, dan pamflet, serta diharapkan petugas kesehatan dapat melakukan peran dan tanggung jawab dalam hal memberikan pelayanan kontrasepsi secara menyeluruh meliputi pencatatan dan pelaporan yang lebih lengkap. Dengan dipenuhinya saran tersebut diatas, diharapkan dapat tercapainya tujuan program KB di UPTD Puskesmas Nagasari.

Kata kunci : Keluarga Berencana, Pasangan Usia Subur

I. Pendahuluan A. Latar Belakang Jumlah penduduk di Indonesia dari tahun ke tahun semakin meningkat. Masalah kepadatan penduduk merupakan masalah yang besar bagi kebanyakan negara di dunia, khususnya pada negara berkembang. Hasil sensus penduduk menunjukkan bahwa penduduk Indonesia pada tahun 2000 sebesar 206,3 juta jiwa, pada tahun 2005 sebesar 218,8 juta jiwa, dan dari data terakhir Badan Pusat Statistik didapatkan pada tahun 2010 jumlah penduduk mencapai 237,6 juta jiwa.1 Hal ini menempatkan Indonesia pada posisi ke empat berdasarkan jumlah penduduk terbanyak di bawah Cina, India dan Amerika Serikat dimana jumlah penduduk di Indonesia sebesar 3,38% dari jumlah penduduk di dunia, dan hal ini menjadi masalah yang sangat besar bagi Indonesia.2 Namun, pertumbuhan jumlah penduduk ini disertai pula dengan cenderung tetapnya laju pertumbuhan penduduk, dalam dekade 19902000 penduduk Indonesia bertambah dengan laju 1,49% pertahun kemudian pada periode 2000-2010 masih sama, yaitu 1,49% pertahunnya.1,3 Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah mencanangkan program Keluarga Berencana yang dinaungi oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana (BKKBN) yang berdiri berdasarkan keputusan presiden RI nomor 8 tahun 1970, menggantikan Lembaga Keluarga Berencana Nasional (LKBN) yang berdiri November 1968. Data BKKBN menunjukkan Angka Fertilitas Total/Total Fertility Rate (TFR) menurun dari 5,6% pada tahun 1971 dengan potensi rata-rata kelahiran wanita pada usia subur 5-6 anak menjadi 2,6% pada tahun 2010, dengan potensi kelahiran wanita pada usia subur 2-3 anak.5 Menurut hasil proyeksi BPS tahun 2005 menunjukkan bahwa CBR (Crude Birth Rate), yaitu sebesar 18,1 dari 236.331.300 jumlah penduduk di Indonesia. Hal ini berarti di Indonesia CBR hanya mengalami penurunan sedikit selama lima tahun terakhir, yaitu pada tahun 2006 CBR sebesar 19,93. Padahal angka ini diproyeksikan turun sehingga 17,3 dari 247.547.400 jumlah penduduk pada tahun 2015. Selain itu, dari data hasil Survei Demografi dan Kependudukan Indonesia (SDKI) tahun 2007 didapatkan Angka Kematian Ibu (AKI) sebesar 228/100.000 kelahiran hidup, dan Angka Kematian Bayi (AKB) sebesar 34/1.000 kelahiran hidup. Angka AKI ini sudah mengalami penurunan dibandingkan tahun 2003 yaitu sebesar 307/100.000 kelahiran hidup. Angka Cakupan KB di Indonesia adalah 61,4%. Masih terdapat 38,6% Pasangan Usia Subur (PUS) yang belum mengikuti program KB. Survey ini juga menyatakan tingkat Pemakai Alat Kontrasepsi/Contraceptive Prevalence rate (CPR) di Indonesia sudah mengalami peningkatan dari 60,3% pada tahun 2007 menjadi 61% dan dari hasil survei tersebut ditemukan sebanyak 39% wanita usia produktif yang tidak menggunakan kontrasepsi dengan sebaran 19% di pedesaan dan 20% di perkotaan.5Adapun distribusi pola pemakaian kontrasepsi yang digunakan adalah berupa KB suntik sebesar 31,6%, pil sebesar 13,2%, Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) 4,8%, Implant 2,8%, Kondom 1,3%, Medis Operatif Wanita (MOW) 0,2%, Pantang Berkala 1,5%, Senggama terputus sebesar 2,2%, dan metode lain 0,4%.6 B. Permasalahan 1. Masih tingginya Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) Indonesia, yakni sebesar 1,49% pertahun. 2. Masih tingginya angka fertilitas total (Total Fertility Rate/TFR), yakni sebesar 2,6%.
2

3. Masih rendahnya angka cakupan peserta KB di Indonesia sebesar 61,4% karena masih terdapat 38,6 % Pasangan Usia Subur (PUS) yang belum mengikuti program KB. 4. Masih rendahnya tingkat pemakaian kontrasepsi atau Contraceptive Prevalence Rate (CPR) sebesar 61 % pada tahun 2007 karena masih ditemukan sebanyak 39 % wanita usia produktif yang tidak menggunakan kontrasepsi. 5. Masih tingginya angka kematian ibu (AKI), yakni sebesar 228/100.000 kelahiran hidup. 6. Belum diketahuinya tingkat keberhasilan program Keluarga Berencana (KB) di UPTD Puskesmas Nagasari periode November 2010 sampai dengan Oktober 2011. C. Tujuan Umum Diketahuinya masalah yang ada pada pelaksanaan program KB di UPTD Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Nagasari, Kabupaten Karawang, periode November 2010 Oktober 2011 sehingga dapat terselesaikannya masalah-masalah program yang ditemukan dengan menggunakan pendekatan sistem, maka diharapkan tercapainya peningkatan kesejahteraan ibu dan anak serta keluarga dalam rangka mewujudkan keluarga berkualitas tahun 2015 melalui pengendalian pertumbuhan penduduk serta menurunnya angka kematian ibu dan bayi. D. Tujuan Khusus Diketahuinya : 1. 2. 3. 4. Cakupan peserta KB aktif Cakupan peserta KB baru Cakupan peserta KB baru berdasarkan alat kontrasepsi Cakupan pengayoman medis dan komplikasi

5.

Cakupan pelayanan rujukan KB di Puskesmas Nagasari periode November 2010 sampai dengan Oktober 2011.

E. Sasaran Pasangan Usia Subur (PUS) di wilayah kerja UPTD Puskemas Nagasari periode November 2010 sampai dengan Oktober 2011. II. Materi dan Metode A. Materi Materi yang dievaluasi dalam program ini terdiri dari laporan hasil kegiatan bulanan Puskesmas mengenai program KB di UPTD Puskesmas Nagasari, Kabupaten Karawang periode November 2010 sampai dengan Oktober 2011, yang berisi kegiatan : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Konseling Pelayanan kontrasepsi Pembinaan peserta KB Pengayoman medis Penanganan efek samping dan komplikasi yang ringan Pelayanan rujukan Pencatatan dan pelaporan

B. Metode Evaluasi dilakukan dengan cara membandingkan cakupan program KB di UPTD Puskesmas Nagasari, Kabupaten Karawang periode November 2010 sampai dengan Oktober 2011 terhadap tolok ukur yang ditetapkan dengan mengadakan pengumpulan data, pengolahan data, analisis data dan interpretasi data dengan menggunakan pendekatan sistem sehingga dapat ditemukan masalah yang ada dari pelaksanaan program KB di UPTD Puskesmas Nagasari kemudian dibuat usulan dan saran sebagai pemecahan masalah tersebut berdasarkan penyebab masalah yang ditemukan dari unsur-unsur sistem.
3

III. Kerangka Teoritis A. Metode Pendekatan Sistem Menurut Ryans, sistem adalah gabungan dari elemen-elemen yang saling dihubungkan oleh suatu proses atau struktur dan berfungsi sebagai salah satu kesatuan organisasi dalam upaya menghasilkan sesuatu yang telah ditetapkan. 1. Masukan (input), adalah kumpulan bagian atau elemen yang terdapat dalam sistem dan yang diperlukan untuk dapat berfungsinya sistem tersebut. 2. Proses (process), adalah kumpulan bagian atau elemen yang terdapat dalam sistem dan yang berfungsi untuk mengubah masukan menjadi keluaran yang direncanakan. 3. Keluaran (output), adalah kumpulan bagian atau elemen yang dihasilkan dari berlangsungnya proses dalam sistem. 4. Lingkungan (environment), adalah dunia di luar sistem yang tidak dikelola oleh sistem tetapi mempunyai pengaruh besar terhadap sistem. 5. Umpan balik (feedback), adalah kumpulan bagian atau elemen yang merupakan keluaran dari sistem dan sekaligus sebagai masukan bagi sistem tersebut. 6. Dampak (impact), adalah akibat yang dihasilkan oleh keluaran suatu sistem. B. Tolok Ukur Keberhasilan Tolok ukur keberhasilan terdiri dari variabel masukan, proses, keluaran, lingkungan, umpan balik, dan dampak. Digunakan sebagai pembanding atau target yang harus dicapai dalam program KB.

Puskesmas Nagasari periode November 2010 sampai dengan Oktober 2011 didapatkan hasil: Tabel 1. Sarana Alat Kontrasepsi Puskesmas Nagasari Periode November 2010 sampai dengan Oktober 2011 Tolok Sarana Persediaan Ukur IUD KB Suntik Implant KB Pil 15 buah 960 buah 15 set 200 strip 100 buah 200 buah 50 set 1200 strip

Didapatkan pula pencapaian dari program KB yang telah berjalan menurut variabel keluaran: Tabel 2. Pencapaian Program KB Puskesmas Nagasari Periode November 2010 sampai dengan Oktober 2011 Variabel Pencapaian Tolok Ukur Cakupan Konseling Peserta KB Baru Persentase terhadap PUS PA 100% 1.548 orang 86,67% 19,20% 10,33% 0,29% 4,53% 42,02% 100% 70% 13% 9% 2% 10% 16%

Cakupan peserta KB IUD Cakupan peserta KB MOW Cakupan peserta KB MOP Cakupan peserta KB Implant

IV. Hasil dan Pembahasan Dari hasil evaluasi program KB yang dilakukan dengan cara pendekatan sistem di

Cakupan peserta KB Suntik

Cakupan peserta KB Pil Cakupan pembinaan peserta KB Cakupan pelayanan efek samping dan komplikasi Cakupan pelayanan rujukan KB

23,62% 100% 0,89%

100% <12,5%

100%

100%

penyediaan sarana alat kontrasepsi Implant dalam jumlah yang memadai. Bidan dan tenaga PLKB meluangkan waktu yang lebih terhadap akseptor maupun calon akseptor KB untuk memberikan penyuluhan yang berkesan mengenai program KB dan alat-alat kontrasepsi khususnya Implant menggunakan gambar dan alat-alat peraga serta disampaikan menggunkan kata-kata yang mudah dipahami dan sesuai dengan tingkat pengetahuan masyarakat. 2. Cakupan peserta KB MOP sebesar 0,29% dari target sebesar 2% (besar masalah 85,50%) Penyebab : Kurangnya penyuluhan terhadap PUS terutama kaum pria mengenai pentingnya KB dan akseptor KB bukan hanya kaum wanita saja Mayoritas penduduk di wilayah puskesmas Nagasari berpendidikan rendah

Dari hasil diatas ditemukan masalah menurut keluaran: 1. Cakupan peserta KB Implant masih kurang 4,53% (54,70%) dari target sebesar 10%. Cakupan peserta KB MOP masih kurang 0,29% (85,50%) dari target sebesar 2%.

2.

V. Penyelesaian Masalah Masalah : 1. Cakupan peserta KB Implant sebesar 4,53 % dari target sebesar 10% (besar masalah 54,70%).

Penyelesaian : Penyebab : Kurangnya sarana alat kontrasepsi Implant untuk melakukan metode pemasangan ini. Mayoritas penduduk di UPTD Puskesmas Nagasari memiliki pendidikan dan keadaan sosial ekonomi yang rendah Penyelesaian : Mengajukan permintaan ke Dinas Kesehatan Kabupaten untuk Para bidan dan petugas PLKB perlu aktif memberikan penyuluhan kepada seluruh masyarakat khususnya Pasangan Usia Subur (PUS) terutama kaum pria mengenai metoda KB MOP. Karena sebagian besar masyarakat umumnya berpikir bahwa program KB hanya ditujukan bagi kaum wanita saja. Perlu juga dijelaskan bahwa metode kontrasepsi MOP tidak akan mempengaruhi fungsi seksual dari akseptor, karena kebanyakan akseptor beranggapan bahwa metode MOP akan mempengaruhi fungsi seksualnya. Namun mengingat mayoritas penduduk di wilayah Puskesmas Nagasari
5

mempunyai tingkat pendidikan yang rendah sehingga penyuluhan yang dilakukan perlu disesuaikan dengan tingkat pendidikan masyarakat setempat seperti dengan simulasi, gambar-gambar yang menarik ataupun poster.

9.

Pelayanan rujukan mencapai 100% dari target sebesar 100%.

Masalah tersebut diatas disebabkan : Kurangnya sarana alat kontrasepsi Implant untuk melakukan metode implant Mayoritas penduduk di UPTD Puskesmas Nagasari memiliki pendidikan dan keadaan sosial ekonomi yang rendah Kurangnya penyuluhan mengenai metode KB MOP yang menyebabkan metode ini kurang diketahui oleh masyarakat luas Penyelesaiannya: Mengajukan permintaan ke Dinas Kesehatan Kabupaten untuk penyediaan sarana alat kontrasepsi Implant dalam jumlah yang memadai. Bidan dan tenaga PLKB meluangkan waktu yang lebih terhadap akseptor maupun calon akseptor KB untuk memberikan penyuluhan yang berkesan mengenai program KB dan alat-alat kontrasepsi khususnya Implant menggunakan gambar dan alat-alat peraga serta disampaikan menggunkan kata-kata yang mudah dipahami dan sesuai dengan tingkat pengetahuan masyarakat. Para bidan dan petugas PLKB perlu aktif memberikan penyuluhan kepada seluruh masyarakat khususnya Pasangan Usia Subur (PUS) terutama kaum pria mengenai metoda KB MOP. Karena sebagian besar masyarakat umumnya berpikir bahwa program KB hanya ditujukan bagi kaum wanita saja. Perlu juga dijelaskan bahwa metode kontrasepsi MOP tidak akan mempengaruhi fungsi seksual dari akseptor, karena kebanyakan akseptor beranggapan bahwa metode MOP akan mempengaruhi fungsi seksualnya. Namun mengingat mayoritas penduduk di wilayah Puskesmas Nagasari mempunyai tingkat pendidikan yang
6

VI. Kesimpulan dan Saran A. Kesimpulan Dari hasil evaluasi program KB yang dilakukan dengan cara pendekatan sistem di UPTD Puskesmas Nagasari, Kabupaten Karawang periode November 2010 sampai dengan Oktober 2011 dapat disimpulkan bahwa program ini belum berhasil karena : 1. Cakupan peserta KB Implant masih kurang 4,53% (54,70%) dari target sebesar 10% Cakupan peserta KB MOP masih kurang 0,29% ( 85,50%) dari target sebesar 2%

2.

Adapun program KB yang sudah sesuai dengan target adalah 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Cakupan konseling mencapai 100% dari target 100% Persentase peserta KB aktif terhadap PUS mencapai 86,67% dari target 70% Persentase peserta KB IUD terhadap KB aktif mencapai 19,20% dari target 13% Persentase peserta KB MOW terhadap KB aktif sebesar 10,33% dari target 9% Persentase peserta KB suntik terhadap KB aktif sebesar 42,02% dari target 16% Persentase peserta KB pil terhadap KB aktif sebesar 23,62% Cakupan penanganan efek samping dan komplikasi ringan sebesar 0,89% dari target sebesar <12,5% Pembinaan peserta KB 100% dari target 100%

8.

rendah sehingga penyuluhan yang dilakukan perlu disesuaikan dengan tingkat pendidikan masyarakat setempat seperti dengan simulasi, gambar-gambar yang menarik ataupun poster. Melalui penyelesaian masalah tersebut diatas, diharapkan dapat memberikan dampak yang positif dimana keberhasilan program KB akan semakin meningkat, dan turunnya angka kelahiran serta turunnya laju pertumbuhan penduduk di wilayah kerja Puskesmas Nagasari di masa yang akan datang.

B. Saran Apabila saran ini dapat dilaksanakan, maka diharapkan kedua masalah ini tidak akan kembali muncul di Puskesmas Nagasari sebagai pokok masalah, yaitu dengan : Sebaiknya mengajukan tambahan Implant dalam jumlah yang memadai ke Dinas Kesehahtan Kabupaten Karawang agar dapat mencukupi jumlah pemakaian di Puskesmas Nagasari. Melakukan pembinaan dan penyuluhan di posyandu dalam rangka meningkatkan peran serta masyarakat untuk berpartisipasi menjadi kader posyandu disamping melatih kader yang sudah ada. Diharapkan petugas kesehatan/ bidan dapat melakukan peran dan tanggungjawab masing-masing dalam hal memberikan pelayanan kontrasepsi secara menyeluruh meliputi pencatatan dan pelaporan yang lengkap. Diharapkan agar Puskesmas Nagasari membuat usulan kepada dinas kesehatan tentang penyediaan sarana alat kontrasepsi terutama Implant dan IUD, media-media promosi KB seperti pamflet, baliho, dan poster di wilayah Nagasari kecamatan Karawang dan dipasang dan disebarkan kepada semua wilayah kerja

puskesmas serta dapat diperbaharui setiap tahun agar senantiasa menarik perhatian warga khususnya sasaran program KB agar ikut berpartisipasi dalam program KB. Sebaiknya melakukan kegiatan penyuluhan perorangan dan kelompok terutama mengenai KB setiap bulannya kepada masyarakat sekitar terutama kepada PUS untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya KB sehingga tumbuh kesadaran dari masyarakat untuk menggunakan KB. Memberikan penyuluhan mengenai manfaat penggunaan kontrasepsi kepada masyarakat, khususnya kepada pasangan usia subur (PUS), sehingga cakupan peserta kontrasepsi di Puskesmas Kecamatan Jatisari dapat lebih meningkat. Khususnya bila dilihat dari cakupan peserta KB di puskesmas Nagasari yang mayoritas menggunakan jenis KB suntik yang mungkin dikarenakan ketidaktahuan masyarakat mengenai pilihan alat-alat kontrasepsi sehingga perlu diberikan penyuluhan baik mengenai jenis-jenis alat kontrasepsi juga keuntungan dan kerugian dari masing-masing alat kontrasepsi tersebut, sebagai contoh IUD karena metode tersebut mempunyai efektivitas yang baik dibandingkan metode kontrasepsi yang lain. Kepada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA) yang ditempatkan di Puskesmas Nagasri agar ikut serta memberikan penyuluhan kelompok terutama mengenai KB. Apabila saran ini dilaksanakan, maka diharapkan masalah tersebut tidak akan terulang kembali pada pelaksanaan program Keluarga Berencana (KB) di Puskesmas Nagasari pada periode mendatang.

Daftar Pustaka

5.

1.

Badan Pusat Statistik: Hasil Sensus Penduduk Indonesia [pdf online]. Diakses pada 20 November 2011. Diunduh dari: http://www.bps.go.id/download_file/SP20 10_agregat_data_perProvinsi.pdf . 2010 World Population. Diakses pada 20 November 2011. Diunduh dari : http://en.wikipedia.org/wiki/World_popul ation. 20 November 2011 Badan Pusat Statistik: Laju Pertumbuhan Penduduk menurut Provinsi [article online]. Diakses pada 20 November 2011. Diunduh dari: http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?ta bel=1&daftar=1&id_subyek=12&notab=2 . 2010 Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Kerja Puskesmas: Keluarga Berencana, Jilid II. Jakarta: Depkes RI; 1991.

Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional: Peningkatan Ketahanan Keluarga Dalam Mewujudkan Keluarga Kecil Berkualitas [doc online] . Diakses pada 23 November 2011. Diunduh dari: www.bkkbn.go.id/Webs/index.php/infopr ogram/download/350. 2010 Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia: Pelaksanaan Program Keluarga Berencana Nasional [article online] . Diakses pada 23 November 2011. Diunduh dari:http://www.datastatistikindonesia.com/sdki/. 2007 Setia Karya A. Laporan Tahunan. Profil Puskesmas Nagasari Tahun 2010. Nagasari : Puskesmas Nagasari; 2010.

6.

2.

3.

7.

4.