Está en la página 1de 4

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Dialisis merupakan suatu terapi pengganti ginjal yang dilakukan apabila ginjal pasien sudah tak bisa berfungsi optimal untuk mempertahankan cairan, elektrolit, dan membuang sisa-sisa metabolisme dari tubuhnya. Menurut data yang dikumpulkan the National Health and Nutrition Examination Survey, terdapat sekitar 11,5% dari keseluruhan penduduk yang berusia 20 tahun keatas di Amerika Serikat yang membutuhkan terapi ini. Ironisnya, hanya sebagian kecil dari nilai estimasi tersebut yang benar-benar menjalani terapi hemodialisis dikarenakan berbagai alasan. Pada tahun 2006, pemerintah Amerika mengestimasi sekitar $33.61 miliar yang telah dikeluarkan untuk menjalankan program ini. Pasien-pasien dialisis kebanyakan menjalankan terapi ini di rumah sakit. Tetapi, tidak sedikit dari pasien tersebut yang menjalankan terapi ini di rumah. Terdapat sekitar 354,754 pasien di Amerika yang menjalani terapi dialisis, 325,229 diantaranya menjalankan terapi hemodialisis di rumah sakit, 2,455 menjalankan terapi hemodialisis di rumah mereka, dan 26,114 sisanya menjalankan terapi peritoneal dialisis (NKUDIC, 2009). Pada dekade terakhir, dialisis sebagai terapi pengganti ginjal mendapat sambutan hangat di berbagai negara karena dapat meningkatkan harapan hidup pasien. Namun, ternyata dialisis tidak sepenuhnya mengembalikan kualitas hidup penderita seperti semula. Menurut United States Renal Data System (2009) dalam Mailloux dan Henrich (2009) walaupun dialisis berkala mencegah kematian akibat uremia, rendahnya harapan hidup pasien masih menjadi suatu permasalahan, bahkan di negara maju sekalipun. Saat terapi pengganti ginjal sudah dimulai, rentang harapan hidup pasien yang dilaporkan adalah sekitar 8 tahun (tergantung ras) untuk pasien dialisis berumur 40 sampai 44 tahun, dan sekitar 4,5 tahun untuk pasien yang berumur 60 sampai 64 tahun. Angka ini hanya

Universitas Sumatera Utara

sedikit lebih baik dari angka kematian akibat kanker paru dan jauh lebih buruk dibanding populasi umum yang memiliki harapan hidup 30 sampai 40 tahun untuk umur 40 sampai 44, dan 17 sampai 22 tahun untuk umur 60 sampai 64. Di Indonesia sendiri, ada dua pilihan untuk menjalani terapi pengganti ginjal, yaitu hemodialisis (HD) dan dialisis peritoneal (DP). Namun kendala pada program DP di Indonesia seperti (1) biaya DP per bulan masih lebih mahal daripada HD dan (2) sanitasi lingkungan dan tingkat pendidikan untuk sebagian besar pasien merupakan faktor yang tidak menunjang program ini, membuat HD sebagai program pilihan terapi pengganti ginjal utama. Pasien hemodialisis mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah karena kebanyakan dari pasien hemodialisis adalah pasien produktif yang berusia antara 20-60 tahun. Dengan adanya penurunan pada fungsi ginjal, atau bahkan mengalami kegagalan, tidak hanya kualitas hidup menurun, pengobatan seumur hidup juga memakan biaya yang tidak sedikit. Penurunan dari kualitas hidup ini dapat mengakibatkan penurunan devisa negara. Meskipun pasien bisa bertahan hidup dengan bantuan mesin hemodialisis, namun masih menyisakan sejumlah persoalan penting sebagai dampak dari penyakit dan hemodialisis. Diperkirakan 50%-70% penderita dialisis

menunjukkan tanda dan gejala malnutrisi. Gejala malnutrisi tergantung pada petanda nutrisi yang digunakan dan faktor-faktor yang mempengaruhi (kurangnya asupan nutrisi, peningkatan nutrisi yang hilang, dan katabolisme yang meningkat). Dibutuhkan kerjasama antara dokter, perawat, dan ahli gizi dalam edukasi perubahan pola diet antara masa sebelum dan sesudah menjalani dialisis, penatalaksanaan kebutuhan nutrisi, serta mengatasi faktor-faktor yang ikut berperan dalam terjadinya malnutrisi. Adanya status nutrisi yang buruk akan menyebabkan penderita malaise, fatigue, rehabilitasi jelek, penyembuhan luka terganggu, kepekaan terhadap infeksi meningkat, dan angka rawat tinggal serta mortalitas meningkat (Nerscomite, 2010).

Universitas Sumatera Utara

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui gambaran status nutrisi pada pasien yang menjalani hemodialisis berkala di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2010.

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas maka diperlukan penelitian untuk menjawab pertanyaan bagaimana gambaran status nutrisi pada pasien yang menjalani hemodialisis berkala di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2010.

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan umum Mengetahui gambaran status nutrisi pada pasien yang menjalani hemodialisis berkala di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2010.

1.3.2 Tujuan khusus a. Mengetahui gambaran karakteristik pasien yang menjalani hemodialisis berkala berdasarkan jenis kelamin di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2010. b. Mengetahui gambaran karakteristik pasien yang menjalani hemodialisis berkala berdasarkan umur di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2010. c. Mengetahui rentang berat badan, tinggi badan, serta indeks massa tubuh pasien yang menjalani hemodialisis berkala di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2010. d. Menilai secara subjektif status nutrisi pasien yang menjalani hemodialisis berkala di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2010 dengan menggunakan kuesioner SGA.

Universitas Sumatera Utara

1.4 Manfaat Penelitian 1. Bagi peneliti, hasil penelitian ini diharapkan untuk mengetahui gambaran status nutrisi pada pasien yang menjalani hemodialisis berkala di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2010. 2. Bagi dokter, hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa pada pasien yang menjalani hemodialisis berkala berhubungan dengan malnutrisi yang harus diperhatikan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. 3. Bagi masyarakat, hasil penelitian ini memberi informasi pada masyarakat bahwa malnurisi merupakan aspek yang penting pada pasien yang menjalani hemodialisis berkala dan merupakan masalah kesehatan yang perlu dikonsultasikan dengan tenaga medis agar mendapat penanganan yang tepat. 4. Bagi pemerintah, hasil penelitian ini sebagai gambaran prevalensi malnutrisi pada pasien yang menjalani hemodialisis berkala untuk penelitian selanjutnya.

Universitas Sumatera Utara