PENDAHULUAN Elemen Mesin Metode dan proses perencanaan serta perancangan bagian-bagian permesinan untuk memenuhi kebutuhan

tertentu. Suatu rangkaian mesin yang terdiri dari beberapa kombinasi yang dirancang dengan konsep yang tepat, sehingga dapat bekerja dengan baik sebagai satu kesatuan.

Tujuan perencanaan dan perancangan : Untuk mengetahui jenis sambungan dalam teknologi permesinan, memahami mekanisme kerja dan mendeteksi bagian-bagian mesin, serta menguasai metode perhitungan kekuatan.

Beberapa pertimbangan perencanaan dan perancangan elemen mesin : 1. Pembebanan 2. Jenis elemen yang bergerak 3. Sifat material bahan 4. Kelayakan pemakaian yang ekonomis 5. Faktor keamanan

Pembebanan (Loading) Gaya yang bekerja pada suatu bidang. Sumber beban mencakup energi transmisi, berat elemen, hambatan gesek dan momen inersia.
Jenis-jenis pembebanan : a. Beban tetap beban terpusat, beban merata, beban teratur dan beban tidak teratur. b. Beban tidak tetap c. Beban kejut

Tegangan (Stress) Beban gaya setiap satuan luas bidang yang menahan beban. Jenis-jenis tegangan : a. Tegangan normal - Tegangan tarik (tensile)

- Tegangan tekan (compressive)

Tegangan lentur (bend) M σ= Z M = Momen inersia Z = Modulus luas .b. Tegangan geser (shear) c.

d. Tegangan puntir Gθr τ = = Tr ℓ I G = Modulus rigiditas θ = Sudut puntir r = Jari-jari ℓ = Panjang I = Momen inersia polar .

Regangan linier b.Regangan (Strain) Pertambahan panjang (deformasi) sebuah benda/logam menjadi lebih panjang dari bentuk semula Jenis-jenis regangan : a. Regangan lateral c. Regangan volumetrik d. Regangan geser .

σ E = ℓ E = Modulus elastisitas σ = Tegangan ℓ = Regangan .Modulus Elastisitas (Modulus Young) Adalah hubungan antara tegangan dan regangan.

Diagram tegangan-regangan σ D Keterangan : OA = Daerah elastis AB = Daerah plastis BC = Daerah luluh D = Titik ultimate E = Patah (failure) B C E A 0 ℓ .

SAMBUNGAN PAKU KELING (RIVET) Merupakan jenis sambungan tetap.Pekerjaan kilang minyak.Pekerjaan konstruksi ringan atau berat .Pekerjaan bangunan kapal dan pesawat terbang . Pemakaian sambungan paku keling : . turbin dan ketel .

2. . 3.Beberapa kegagalan dalam sambungan paku keling : 1. Pelat tergunting Terjadi karena adanya tegangan geser. sehingga pelat akan tergunting. Pelat sobek Terjadi karena jarak antar paku keling terlalu rapat atau berdekatan. dan tegangan atau gaya F paku keling lebih besar dari pelatnya. sehingga pelat menjadi sobek. Pelat melengkung Terjadi karena tegangan atau gaya F paku keling lebih besar dari pelatnya. dan tegangan atau gaya F paku keling lebih besar dari pelatnya.

Pelat melumer Terjadi karena adanya tekanan bidang permukaan yang lebih kecil. Tepi pelat tergunting Terjadi karena adanya tekanan bidang permukaan yang lebih kecil. 5. sehingga tepi pelat akan sobek. . Catatan : Kegagalan sambungan paku keling di atas merupakan dasar perhitungan kekuatan sambungan. Tepi pelat sobek Terjadi karena adanya tekanan bidang permukaan yang lebih kecil. sehingga pelat akan melumer.4. sehingga tepi pelat akan tergunting dan paku keling menjadi remuk. 6.

1. Sambungan Paku Keling Berhimpit Tunggal s d s Besarnya gaya F pada setiap kegagalan sambungan a. Pelat sobek F = (s – d) t σt b. Pelat tergunting F = π/4 d2 τp .

c. Pelat melumer F = d t σe d. Tepi pelat tergunting F = 2 d t τt Keterangan : t = Tebal pelat (mm) d = Diameter paku keling (mm) s = Jarak antar paku keling (mm) .

Untuk menentukan efisiensi sambungan : Kekuatan sambungan η = x 100 % Kekuatan pelat utuh Gaya F terkecil diantara kegagalan sambungan η = t s σt .

Pelat tergunting F = 2 π/4 d2 τp . Sambungan Paku Keling Berhimpit Ganda s d s Besarnya gaya F pada setiap kegagalan sambungan a.2. Pelat sobek F = (s – d) t σt b.

Pelat melumer F = 2 d t σe Untuk menentukan efisiensi sambungan : Kekuatan sambungan η = x 100 % Kekuatan pelat utuh Gaya F terkecil diantara kegagalan sambungan η = t s σt .c.

SAMBUNGAN PAKU KELING DENGAN BEBAN EKSENTRIK y ℓ F x Pusat gravitasi Jika seluruh ukuran paku keling dianggap sama maka pembebanan pusat gravitasi adalah : x1 + x2 + x3 + … + xn x = z .

y1 + y2 + y3 + … + yn z = Jumlah paku keling y = z Pembebanan F Fn = z F1 ℓ1 ℓ2F2 Beban akibat momen puntir F1 F2 F3 F4 = = = ℓ1 ℓ2 ℓ3 ℓ4 F4 ℓ3 ℓ4 F3 .

Sehingga : ℓ2 F2 = ℓ3 F1 F3 = ℓ4 F1 F4 = ℓ1 ℓ1 ℓ1 F1 Persamaan momen F ℓ = F1 ℓ1 + F2 ℓ2 + F3 ℓ3 + F4 ℓ4 F ℓ = F1 / ℓ1 (ℓ22 + ℓ32 + ℓ42) Beban resultan Ri = √ Fn2 + Fi2 + 2 Fn Fi cos θ dimana : Ri = Resultan beban pada paku keling ke-i Fi = Beban terbesar yang dialami pada paku keling ke-i .

sambungan mur baut memiliki bagian ulir yang berfungsi sebagai ikatan sambungan. Keterangan : D = Diameter luar (mm) D1 = Diameter inti (mm) D2 = Diameter kisar (mm) Dm = Diameter rata-rata (mm) = (D + D1)/4 p = Pitch/kisar (mm) t = Tinggi ulir (mm) . Berbeda dengan sambungan paku keling. karena ikatan sambungan dapat dilepas/dibuka.SAMBUNGAN MUR BAUT Merupakan jenis sambungan tidak tetap.

Keuntungan yang dimiliki sambungan mur baut : 1. Bila tekanan sambungan lebih kecil. Mudah terjadi pemusatan tegangan pada bagian ulir 2. Memenuhi segala syarat pengoperasian 4. Mudah dalam proses penyambungan 2. Dapat dipasang atau dibongkar sesuai dengan kebutuhan 3. Memiliki efisiensi yang baik Kekurangan sambungan mur baut : 1. akan mudah lepas .

Ulir putar kanan .Ulir sayap kupu-kupu 2.Ada beberapa jenis ulir. Berdasarkan bentuk profil . Berdasarkan arah putar .Ulir putar kiri . yaitu : 1.Ulir bulat .Ulir persegi/trapesium .

Tegangan tarik pada batang baut Beban awal Fi = 2840 D σ = Fi/A dimana A = π/4 [(Dm + D1)/2]2 .58 f D2) dimana f = koefisien gesek ulir .Perhitungan Kekuatan Sambungan 1. Tegangan permulaan karena kekuatan ikatan .16 p + 0.Tegangan geser akibat gesekan ulir Momen puntir awal M = Fi (0.

2.Tegangan geser τ = Fg/A dimana A = π/4 D12 A = π/4 D12 . Beban gabungan Fg = Fi + [a/(1+a)] F dimana a = Perbandingan elastisitas antara komponen dengan baut .Tegangan kombinasi σmax = σ/2 + 1/2 √σ2 + 4 τ2 τmax = 1/2 √σ2 + 4 τ2 3.Tegangan tarik σ = F/A dimana . Tegangan karena beban luar .

.SAMBUNGAN LAS Merupakan jenis sambungan pengikat dan penyatuan suatu logam dengan proses metalurgi yang dilakukan dalam keadaan lumer. Alat yang digunakan untuk proses penyambungan adalah fluks yang dipakai untuk memperlancar perpindahan butiran metalurgi. Fluks merupakan sumber terak yang berfungsi sebagai pelindung terhadap pengaruh luar (penetrasi unsur lain).

tebal efektif las te t = Tebal kaki las te= Tebal efektif las = ½ √2 t t .Panjang efektif las . Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah : .Perhitungan Kekuatan Sambungan Tergantung pada jenis kampuh dan pembebanannya.Luas penampang efektif . sehingga menimbulkan tegangan tarik (σ) dan tegangan geser (τ).

3 te 1.ℓ ℓe = Panjang efektif las = ℓ . Sambungan las penampang asimetris beban aksial ℓa F= a b ℓb ℓ = ℓa + ℓb ℓa t τ a = ℓb t τ b ℓ a a = ℓb b ………… (1) ………… (2) √2 tℓτ .

Dari (1) dan (2) didapat : ℓa ℓb ℓa = ℓb = a+b a+b 2. Sambungan las dengan beban eksentrik Beban eksentrik = beban langsung + beban momen = F + Fe = (2 t ℓ τ)/√2 + σ z = (2 t ℓ τ)/√2 + (σ 2 t ℓ2)/6√2 σmax = σ/2 + ½ √σ2 + 4 τ2 τmax = ½ √σ2 + 4 τ2 .

SAMBUNGAN POROS Merupakan jenis elemen mesin yang berputar. Sedangkan gandar merupakan jenis elemen mesin yang bersifat statis (diam). yang berfungsi sebagai pembawa momen . yang berfungsi sebagai transmisi daya atau pembawa daya dari ujung poros ke ujung poros yang lain.

Beban puntir (torsi) D T T = (π/16) τ D3 2. .Pembebanan yang terjadi pada poros : 1. Beban momen D M M = (π/32) τ D3 Catatan : Untuk diameter berlubang perbandingan diameter luar (D0) dan diameter dalam (D1) adalah K = D0/D1.

sehingga : P=ωT dimana : P = Poros (Watt) ω = Putaran poros (rad/det) T = Torsi (N.m) . Beban kombinasi Torsi ekivalen Momen ekivalen Te = √M2 + T2 Me = ½ (M + √M2 + T2) Sebuah poros yang mentransmisikan daya sebesar P pada putaran ω memberikan torsi T pada poros.3.

maka hubungan putaran antara ω dan n adalah : ω = (2 π n)/60 Sehingga : P = (2 π n T)/60 dimana : n = putaran per menit (1/menit) .Dalam satuan SI.

Memberi pengukur beban pada timbangan pegas .Menyimpan energi pada pegas jam . Fungsi pegas : .Sebagai peredam kejut dan getaran pada pegas roda kendaraan bermotor atau sambungan kereta api .Memberi beban pada rem atau kopling .PEGAS Merupakan bagian elemen mesin yang berfungsi sebagai penahan beban yang maksimum dan akan kembali ke ukuran semula jika beban tersebut dihilangkan.

Pegas daun .Pegas ulir .Beban gaya yang terjadi pada pegas : .Beban tekan .Beban kejut/getaran Jenis-jenis pegas : .Beban tarik .Beban torsi .

Panjang Tetap Panjang pegas ulir pada pembebanan maksimum 4. Panjang Terbeban Panjang pegas ulir selama pembebanan 3. Indeks Pegas Rasio antara diameter pegas dengan kawat pegas C = D/d .Pegas Ulir 1. Panjang Bebas Panjang normal pegas ulir tanpa ada pembebanan 2.

Tegangan yang timbul akibat pembebanan a. Konstanta Pegas Besarnya beban setiap satuan defleksi pegas k = F/δ 6. Kisar (Pitch) Jarak aksial antara dua kawat berurutan pada keadaan normal (tidak ada pembebanan) Perhitungan Kekuatan 1. Tegangan geser τmax = τm + τd .5.

615 K = + 4C – 4 4 τmax = K {8 W D / (π/d3)} . Efek kelengkungan kawat 4C – 1 0.Dimana : τm = Tegangan geser akibat momen = 8 W D / (π/d3) τd = Tegangan geser langsung = 4 W / (π/d2) b.

Panjang kawat efektif ℓ=πDn b. Beban energi yang tersimpan E=½Wδ . Defleksi angular akibat torsi θ = 16 W D2 n / (d4 G) c. Defleksi aksial δ = 8 W C3 n / (d G) d. Defleksi pegas ulir yang terjadi akibat pembebanan a.2.

Defleksi angular θ = 64 M D n / (E d2) .3. Tegangan yang timbul akibat momen σ = 32 M K / (π/d3) Dimana : 4 C2 – C – 1 K = 4 C2 – 4 C b. Pembebanan pegas ulir dengan beban torsi a.

Penahan beban .Peredam getaran atau kejut .Pegas Daun Terbuat dari bahan pelat datar dengan bentuk konstruksi tunggal maupun majemuk. Pegas daun berfungsi sebagai : .

σ = M / Z Defleksi max. δ = F ℓ3 / 3 E ℓ t ℓ b 2. Z = 1/6 b t2 Tegangan lentur. σ = M / Z Defleksi max. t ℓi = 2ℓ ℓ b Momen lengkung max. M = F ℓ Modulus luas. M = F ℓ Modulus luas. δ = F ℓ3 / 3 E ℓ . Pegas daun beban terpusat pelat tunggal ℓ1 F1 Kantilever ganda. Pegas daun kantilever pelat tunggal Momen lengkung max. Fi = 2F. Z = 1/6 b t2 Tegangan lentur.Beberapa konstruksi dasar pegas daun : 1.

Pegas daun majemuk tak seragam F b ℓ F t . maka : Tegangan lentur. Pegas daun majemuk seragam t ℓ b Jika pegas daun terdiri dari n daun seragam.3. σ = M / n Z Defleksi max. δ = 4 F ℓ3 / n E b t2 4.

ng = Jumlah daun bertingkat nf = Jumlah daun seragam n = ng + nf Tegangan lentur pada daun seragam : σf = 18 F ℓ / (2 ng + 3 nf) b t2 Tegangan lentur pada daun bertingkat : σg = 12 F ℓ / (2 ng + 3 nf) b t2 Defleksi total : δ = 12 F ℓ3 / (2 ng + 3 nf) E b t3 .

dimana kedua poros tersebut terletak pada satu garis lurus. Konstruksi kopling tetap selalu dalam keadaan tersambung. .KOPLING TETAP Merupakan elemen mesin yang berfungsi sebagai penerus putaran dan daya dari poros penggerak ke poros yang digerakkan secara kontinu (tanpa terjadi slip). sehingga setiap elemen menjadi satu kesatuan gerak.

Jenis-jenis kopling tetap adalah : 1. Kopling luwes Kopling karet. Kopling kaku Kopling bus dan kopling flens 2. Kopling universal Kopling Hook dan kopling universal tetap . kopling gigi dan kopling rantai 3.

Aman pada putaran tinggi dan tahan getaran 4.Ada beberapa pertimbangan dalam perencanaan kopling tetap : 1. Kemungkinan gerakan aksial pada porosnya sangat kecil . Pemasangan yang mudah dan cepat 2. Konstruksi ringan dan fleksibel 3. Mencegah pembebanan yang berlebih 5.

74 x 105 (Pd / n1) Tegangan tarik.σb = 100 h + 20 n1 = Putaran (rpm) h = Konstanta kadar karbon pada bahan baja (0.2 – 2) Torsi. Pd = P ƒc P = Daya (kW) ƒc = Faktor koreksi untuk daya rata-rata yang diperlukan (1.2% .τa = σb / (Sf1 Sf2) Sf1 = Konstanta faktor keamanan (5 – 6) Sf2 = Konstanta faktor keamanan (1.5 – 2) . T = 9.0.3%) Tegangan geser.Perencanaan Perhitungan Daya rencana.

1 1/3 d = Kt Cb T τa Kt = Konstanta koreksi tumbukan (1 – 2) Cb = Konstanta lenturan (0.5 – 1) Dari perhitungan diameter didapat beberapa variabel d 25 28 35 45 50 56 63 71 80 90 100 A 112 125 140 160 180 200 224 250 280 315 355 B 75 85 100 112 132 140 160 180 200 236 260 C 45 50 63 80 90 100 112 125 140 160 180 L 40 45 50 56 63 71 80 90 100 112 125 n 4 4 4 4 6 6 6 6 6 6 6 F 18 18 18 20 20 22.4 22.4 28 28 35.5 db 10 10 10 14 14 16 16 20 20 25 25 .5 35.Diameter poros kopling 5.

Keterangan : A = Diameter luar B = Diameter pusat C = Diameter naf L = Panjang naf n = Jumlah baut F = Tebal flens db = Diameter baut Jumlah baut efektif. τb = є = Nilai efektif baut (0.5 – 1) π db ne B . ne = є n 8T Tegangan geser.

5 – 3) Apabila τb < τba.Tegangan geser baut yang diizinkan dengan bahan SS41B τba = σba / (Sfb Kb) σb = Tegangan tarik baut yang diizinkan (40 kg/ 2 kg 2 mm – 50 /mm ) Sfb = Faktor keamanan baut (5 – 6) Kb = Faktor koreksi baut (2. . maka perencanaan perhitungan dapat dinyatakan layak dan baik.

τf = π C2 F Apabila τf < τfa. .Tegangan geser flens yang diizinkan dengan bahan FC20 τfa = σb / (Sf Kf) σb = Tegangan tarik flens yang diizinkan (15 kg/ 2 kg 2 mm – 20 /mm ) Sf = Faktor keamanan flens (5 – 6) Kf = Faktor koreksi flens (2. maka perencanaan perhitungan dapat dinyatakan layak dan baik.5 – 3) 2T Tegangan geser.

dengan putaran yang konstan dalam meneruskan daya. . serta dapat melepas hubungan kedua poros tersebut baik dalam keadaan diam ataupun berputar.KOPLING TIDAK TETAP Merupakan elemen mesin yang menghubungkan poros penggerak ke poros yang digerakkan.

Jenis-jenis kopling tidak tetap adalah : 1. Kopling kerucut 4. Kopling cakar Kopling persegi dan kopling spiral 2. Kopling gesek (pelat) Kopling pelat tunggal-ganda dan kopling pelat manual-hidrolik 3. Kopling friwil .

T = 2πn Momen percepatan kopling ρ π r1 r22 h ω Mpk = tgesekan P = Daya n = Putaran ρ = Massa jenis kopling r1 = Jari-jari D1 r2 = Jari-jari D2 h = Tinggi ω = 2 π n / 60 tgesekan = Waktu gesekan .Perencanaan Perhitungan Diameter. D1= Dm – b D2= Dm + b 60 P D1 = Diameter dalam D2 = Diameter luar Dm = Diameter rata-rata b = Lebar Torsi.

Apm = Angka percepatan μ = Koefisien gesek p = Tekanan gesekan .Momen percepatan mesin Mpm = 2 Apm / ω tgesekan Momen gesek Mg = T + Mpk + Mpm Mg = Fgesek r = μ p A (Dm/2) = μ p π Dm b (Dm/2) Dipilih Mg yang terkecil.

Wg = Mg ω (tgesekan/2) Daya gesekan. Pg = (Wg z)/3600 z = Frekuensi pemakaian kopling Temperatur kopling tk = (847 Pg) / Ad α 2 π (D2/2) Ad = [h + (D2/2)] α = 2.Kerja gesekan.13 x 105 Watt/m2 0c .

L = a A ak / Pg a = Ketebalan pelat ak = Angka kerusakan (kWh/m3) Efisiensi kopling 2 π n Mg Pmaks = 60 (Pmaks tgesekan z) + (3600 P – P tgesekan z) Pm = 3600 Pm – Pg Pef = Pm x 100% .Umur kopling.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful