LAPORAN AKHIR HASIL PENELITIAN BLOCK GRANT TAHUN ANGGARAN 2008

PONDOK PESANTREN TRADISIONAL DAN INDUSTRIALISASI (Eksisensi dan Peran Pondok Pesantren Tradisional dalam Pembangunan Masyarakat Kota Industri Cilegon)

Peneliti : DRA. UMDATUL HASANAH, M.AG.

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI “SULTAN MAULANA HASANUDDIN” BANTEN TAHUN 2008

2

DAFTAR ISI

ABSTRAK.......................................................................................................i KATA PENGANTAR………………………………………………………ii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah…………………………..1 B. Rumusan Masalah…………………………………4 C. Tujuan Penelitian…………………………………..6 D. Signifikansi Penelitian……………………………..7 E. Kajian Pustaka……………………………………..7 F. Kerangka Konseptual……………………………..12 G. Metodelogi………………………………………...17 H. Jadwal Kegiatan…………………………………..19

BAB

II

KONDISI OBYEKTIF KOTA CILEGON A. Lokasi dan Keadaan Geografis…………………….20 B. Penduduk dan Latar Belakang Sejarahnya…………23 C. Kehidupan Sosial dan Keagamaan…………………28 1. Kehidupan Sosial………………………….. 28 2. Kehidupan Keagamaan……………………..31

3

BAB

III

EKSISTENSI PONDOK PESANTREN DI KOTA CILEGON A. Sejarah dan Perkembangan Pondok Pesantren…….38 B. Kondisi dan Tipelogi Pondok Pesantren……………54 C. Tradisi dan Nilai-Nilai Pondok Pesantren…………..67

BAB

IV

PERAN PONDOK PESANTREN TRADISIONAL DALAM PEMBANGUNAN MASYARAKAT A. Peran Pendidikan…………………………………….74 B. Peran Sosial Kemasyarakatan………………………. 87 C. Peran Spiritual Keagamaan dan Dakwah…………… 97

BAB

V

PENUTUP A. Kesimpulan………………………………………….108 B. Saran-Saran………………………………………….111

4

KATA PENGANTAR
Segala Puji bagi Allah Swt, Tuhan yang maha kuasa penentu segala yang ada. Dialah Tuhan yang maha Rahman dan Rahim, dengan kasih sayangnya dia melindungi hamba-hambanya. Dialah Tuhan yang telah memberikan kekuatan lahir dan batin,

kesehatan lahir dan batin, hanya dengan kekuatan dan pertolongan Nyalah sehingga kita dapat melaksanakan berbagai aktifitas dan menjalankan roda kehidupan. Shalawat dan Salam semoga senantiasa tercurah kepada manusia pilihan Tuhan panutan semua insan , Nabi Muhammad Saw, besereta keluarga dan para sahabat. Semoga kita senantiasa menjadi pengikut setianya dan penerus risalahnya sampai akhir zaman. Alhamdulillah dengan izin Allah dan dengan mengharap segala petunjuknya, penulis dapat menyelesaikan penelitian ini tepat pada waktunya, penelitian yang berjudul “ Pondok Pesantren Tradisonal dan Industrialisasi : Eksistensi dan Peran Pondok Pesantren Tradisional dalam Pembangunan Masyarakat Kota Industri

Cilegon” . Penelitian ini dilakukan di Enam Pondok Pesantren Di Kota Cilegon. Untuk itu penulis mengucapkan terimakasih kepada para kiyai dan pengasuh pondok pesantren yang telah membantu penulis memberikan informasi dan data sehubungan dengan

penelitian ini. Demikian juga penulis mengucapkan terimakasih kepada nara sumber, informan dan beberapa pihak terkait.

5

Terimakasih kepada Bapak Rektor IAIN “SMH” Banten dan Ketua Lembaga Penelitian IAIN “SMH” Banten yang telah memberikan kesempatan dan bantuan baik moril maupun materil sehinga dapat terlaksananya penelitian ini. Sudah barang tentu penulis mengharapkan hasil penelitian yang sederhana ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak. penulis mengakui bahwa penelitian ini Dengan kesadaran dan ketulusan hati

jauh dari sempurna dan masih banyak

kelemahan dan kekuarangan yang perlu diperbaiki, oleh karena itu penulis mengharapkan masukan dan kritikan yang bersifat membangun guna dimaksud, dan berharap ada penelitian lanjutan terkait dengan hal tersebut. perbaikan

Serang, Desember 2008 Peneliti

Dra. Umdatul Hasanah, M.Ag.

6

ABSTRAK

Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Nusantara. Dalam sejarah perkembangannya pondok pesantren memiliki peranan yang sangat besar dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Pondok pesantren telah membuktikan eksistensi dan kiprahnya menjadi dinamisator dalam setiap proses perjuangan dan pembangunan bangsa. Kiprahnya tidak hanya sebatas sebagai lembaga pendidikan, namun juga merupakan lembaga perjuangan, lembaga sosial, ekonomi, lembaga spiritual keagaman dan dakwah. Sejarah perjuangan masyarakat Banten khusunya tidak bisa dilepaskan dari peranperan lembaga pondok pesantren. Eksistensi pondok pesantren di Banten menampakan peranannya dalam berbagai peristiwa sejarah sosialisasi Islam bahkan dalam transformasi kekuasaan di Banten. Koinsidensi pondok pesantren dalam berbagai peristiwa tersebut menjadikan Banten menjadi salah satu pusat kekuasaan Islam di Nusantra yang memiliki ciri keislaman yang kuat “fanatik”. Pondok pesantren dengan kiyai sebagai tokohnya menjadi pioneer dalam berbagai aspek kehidupan di Masyarakat, khususnya di daerah Banten dan sekitarnya Seiring dengan terjadinya perubahan sosial dan modernisasi di segala bidang salah satunya modernisasi di bidang pendidikan, sudah barang tentu berpengaruh terhadap keberadaan lembaga pendidikan Islam tradisional seperti pondok pesantren. Di samping itu juga Banten dan Cilegon khusunya dijadikan sebagai kota Industri, di mana mayoritas penduduknya menggantungkan hidup dari keberadaan industri, baik sebagai karyawan, pedagang dan jasa. Dengan kondisi demikian maka secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap eksistensi, dinamika dan peran pondok pesantren tradisional khusunya di Kota Cilegon. Untuk itu penelitian ini bermaksud mengetahui kondisi demikian secara mendalam dan komprehensif tentang bagaimana eksistensi dan peran pondok pesantren tradisional dalam pembangunan masyarakat kota Industri, dengan menggunakan pendekatan sosiologis dan historis. Adapun metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan melakukan pengumpulan data dan analisa data. Dengan meneliti enam pondok pesantren tradisional di Kota Cilegon dapat disimpulkan bahwa pondok pesantren tradisional masih tetap eksis di Kota industri ini dengan jumlah yang berimbang dengan pesantren kombinasi, dengan kiyai sebagai figur sentral pesantren yang tetap menjadi pioneer dan rujukan bagi kehidupan masyarakat sekitarnya khusunya dalam bidang keagamaan dan kemasyarakatan , di samping itu pondok pesantren tetap memiliki peran yang besar bagi pembangunan masyarakat di Kota Industri di antaranya ; peran pendidikan, peran dalam bidang sosial dan keagamaan, peran dalam bidang dakwah dan spiritual.

7

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Keberadaan Pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua Islam Nusantara telah diakui memiliki andil dan peran yang besar dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Pesantren Nusantara telah membuktikan eksistensi dan kiprahnya menjadi dinamisator dalam setiap proses sejarah Nation and character building. Menurut Harry J. Benda,

sejarah Islam Indonesia adalah sejarah perluasan peradaban santri dan pengaruhnya terhadap kehidupan agama, sosial dan politik Indonesia. Bahkan menurut J. Benda para penguasa yang baru dinobatkan bersandar diri kepada para ahli agama, karena hanya merekalah yang dapat mengesahkan pentahbisan1. Oleh karenanya keberadaan pesantren tidak bisa dilepaskan dari sejarah Indonesia, karena sejarah pesantren adalah sejarah Indonesia itu sendiri.2 Sejarah pesantren di Banten sebagai lembaga pendidikan kader ulama dan intelektual telah berlangsung sejak awal islamisasi di Banten. Ia tumbuh berkembang sedemikian rupa menjadi tempat berpijak bagi pengembangan keagamaan masyarakat Banten sehingga berlangsungnya pemerintahan bercorak Islam di Banten, serta

1 2

Harry J Benda, Bulan Sabit dan Matahari Terbit (Jakarta : Pustaka Jaya) 1983, hal. 33 Hasan Muarif Ambari, Peranan Pesantren dalam Menghadapi Perubahan Sosial di Banten, Makalah Simposium Nasional dan Kongres Pemuda Al-Khairiyah se Indonesia , Serang 1992

8

memperkuat pemikiran-pemikiran keislaman dalam berbagai sendi kehidupan sosial di Banten. Eksistensi pesantren di Banten menampakan koinsidensi dengan berbagai peristiwa sejarah sosialisasi Islam bahkan dalam transformasi kekuasaan di Banten. Transformasi juga berlangsung pada pondok-pondok pendidikan pra -Islam (Kawikuan) yang dipimpin oleh seorang resi seperti yang terjadi di Kasunyatan. Pada masa sosialisasi Islam, Kasunyatan lebih berfungsi sebagai lembaga keagamaan yang menjadi pendamping birokrasi tradisional, dari pesantren Kasunyatan ini kemudian tampil raja seperti Maulana Yusuf dan Nadjmuddin. Berkoisedensi dengan eksistensi pesantren dalam satu sisi menjadikan masyarakat Banten dikenal “agamis” tingkat keislamannya yang tinggi. Sebagaimana diungkapkan oleh G.F. Pijper bahwa di pulau Jawa ketaatan beragama hanya dapat dilihat dengan nyata di daerah Banten dan Cirebon. Daerah ini juga merupakan daerah pesantren, kiyaikiyai mempunyai pengaruh di kalangan rakyat hingga sekarang.3 Namun juga pada sisi lain pesantren di Banten selama beberapa dasawarsa telah dianggap menanamkan benihbenih fanatisme dan sikap bermusuhan dan agresif terhadap orang asing ( kolonial Belanda) dan priyayi, setiap pesantren secara potensial dianggap sebagai pusat sentimen anti eropa dan anti priyayi. 4 Dalam Pandangan Snouck Hurgronye, Islam di Banten dipandang memiliki perkembangan histories yang unik, ia telah menjelma menjadi satu agama yang sangat
3

4

Hasan Muarif Ambari, “Peranan Pesantren dalam Pembangunan Islam di Jawa” , Tabloid Jumat, Juli 1990 Sartono Kartodirjo, Pemberontakan Petani Banten 1888, (Jakarta : Pustaka Jaya) 1984, hal. 224-225

9

tinggi semangatnya, jika tidak hendak dikatakan fanatik. Di Banten setiap gerakan kerakyatan dengan sendirinya berwatak religio-politis. Dalam pandangannya penduduk Banten menunjukkan satu kecenderungan yang kronis untuk memberontak. Para Kiyai yang sangat dihormati oleh rakyat, pada umumnya diangap sebagai penghasut-penghasut pemberontakan, bahkan tampil sebagai pemimpin gerakan pemberontakan.5 Salah satu peristiwa besar yang melibatkan kiyai dan pesantren adalah peristiwa geger Cilegon 1888, sebuah peristiwa perjuangan suci yang oleh penjajah dikenal “pemberontakan”. Perististiwa tersebut dipimpin oleh KH. Wasid, salah seorang tokoh agama dari Beji yang dikenal memiliki banyak murid. Dari peristiwa tersebut kemudian menyebabkan dibuangnya para tokoh ke berbagai daerah di luar pulau Jawa. Peristiwa ini terjadi disebabkan oleh banyak hal, salah satunya adalah tersinggungnya perasaan kegamaan masyarakat Banten oleh karena pejabat-pejabat pemerintah di Cilegon mengeluarkan sirkuler kepada bawahannya untuk melarang

pembacaan shalawat Nabi dan do’a-do’a lainnya secara keras di mesjid. Pemerintah juga menghancurkan menara masjid Cilegon dengan alasan telah terlalu tua. Hal-hal yang dianggap sebagai penghinaan ini dijawab oleh rakyat banyak dalam bentuk sebuah pemebrontakan yang mempunyai tujuan yang lebih jauh, yaitu mengusir kekuasaan Belandan dari daerah tersebut.6 Setelah terjadinya peristiwa tersebut pada akhirnya pemerintah menempatkan pesantren di bawah pengawasan yang ketat. Di samping itu kemudian didirikanlah
5 6

Sebagaimana dikutip Sartono Kartodirejo, Op-Cit, hal. 428 Djayadiningrat, Islam in Indonesia, sebagaimana dikutip Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942 ( Jakarta : LP3ES), 1980, hal 25

10

sekolah-sekolah sekuler yang dimaksudkan sebagai perluasan pengaruh pemerintah kolonial dan juga untuk melawan pengaruh pesantren yang sangat besar. Walaupun demikian spirit Islam tetap hidup dan pesantren tetap menunjukan eksistensinya, terutama sebagai pendidikan kader ulama dan intelektual, agar umat semakin tafaqquh fid -din dan memotivasi kader ulama dalam misi dan fungsinya sebagai pewaris para Nabi, di samping itu menjadi benteng sekaligus rujukan bagi kehidupan masyarakat. Sistem Pendidikan pesantren dari waktu ke waktu mengalami perubahan “evolusi”. Sejak awal abad 20 seiring dengan terjadinya pembaharuan Islam di Indonesia salah satunya adalah pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia. Di dan arus modernisasi serta pola

samping itu seiring dengan terjadinya perubahan

pembangunan di Banten dan khususnya Cilegon yang dijadikan sebagai kota industri, maka secara langsung maupun tidak langsung akan memberikan pengaruh terhadap eksistensi, dinamika dan peran pesantren itu sendiri. Dengan kondisi demikian pesantren di kota Cilegon sebagaimana pesantren pada umumnya di tanah air yang mengalami perubahan. Banyak pesantren yang sebelumnya masuk kategori tradisional (salaf) menjadi kombinasi bahkan moderen. Kebanyakan Pesantren telah berubah menjadi sistem sekolah dengan tetap menonjolkan ciri

keislamannya. Perubahan itu terjadi baik dari sisi sistem pendidikan, kurikulum maupun struktur kelembagaan. Namun di sisi lain keberadaan pesantren tradisional di Cilegon masih tetap eksis, bahkan dari sekitar 52 pondok pesantren di Cilegon sekitar 50 % masih tradisional, dengan tetap mempertahankan ciri khasnya, sebagai pesantren salaf. Pondok Pesantren tradisional inilah yang menjadi fokus penelitian ini.

11

B. Rumusan Masalah Perubahan masyarakat dari agraris menuju masyarakat industri akan

mengakibatkan perubahan , baik dari pola hidup, nilai-nilai, norma sosial bahkan juga pada struktur masyarakat. Menurut Kuntowijoyo, Transformasi industrial mempunyai konsekwensi yang amat luas, seperti rasionalisasi intelektual dan sosial, spesialisasi, urbanisasi, ekspansi, lingkungan, tenaga kerja, budaya dan sebagainya. 7 Di sini terlihat bahwa dinamika masyarakat industri sangat berbeda dengan masyarakat agraris. Di samping juga tantangan industrialisasi terhadap pemikiran dan nilai-nilai, serta institusi agama, termasuk institusi pendidikan keagamaan. Dalam satu sisi perubahan tersebut menjadi tantangan sekaligus juga ancaman namun bisa jadi juga menjadi peluang bagi kiprah pesantren ke depan. Sejalan dengan proses perubahan yang terjadi maka pesantren kini dihadapkan pada sejumlah tuntutan, seperti bagaimana pesantren mengembangkan konsep kependidikannya sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi. Bagaimana pesantren menyikapi arus perubahan industrialisasi dan modernisasi sebagai implikasi dari kemajuan zaman dan kehendak mewujudkan kehidupan yang lebih berkualitas tidak bisa dibendung, sehingga bisa jadi pesantren mengalami dilema dalam satu sisi karena menjadikan ia mempertahankan ingin mempertahankan jati diri kekhasannya, sehingga

konservatif dan tradisional, atau menerima perubahan dengan tetap ciri khasnya untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan

lingkungannya yang tentu saja tidak mudah.
7

Kuntowijoyo, Paradigma Islam : Interpretasi Untuk Aksi (Bandung : Mizan) 1991, hal. 173

12

Untuk itu peneliti merasa penting untuk mengetahui bagaimana eksistensi, dan dinamika pondok pesantren tradisional di kota Cilegon. Serta bagaimana peran

pesantren tradisional dalam pembangunan masyarakat di kota Cilegon. Sebab Pesantren tidak saja sebagai institusi pendidikan, namun ia juga menjadi institusi cultural. Pesantren pengaruhnya demikian besar terhadap kehidupan masyarakat dan menjadi rujukan dalam segala aspek kehidupan, tidak saja dalam bidang keilmuan dan moral namun juga dalam aspek sosial, ekonomi bahkan politik (kekuasaan). Oleh karena itu peneliti merasa sangat perlu mengangkat tema “Eksistensi dan Peran Pondok Pesantren tradisional dalam Pembangunan masyarakat Kota Industri Cilegon”.

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan; a. Untuk mengetahui keberadaan pesantren tradisional khususnya , dari sisi

kelembagaan dan sistem pengajarannya , serta kepercayaan dan respon publik.

13

b. Untuk mengetahui peran peran sosial kemasyarakatan

dan terobosan yang

dilakukan pesantren tradisional dalam menghadapi perubahan dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri. c. Untuk mengetahui respon pesantren tradisional terhadap perubahan sosial

kemasyarakatan dan solusi alternatif yang dilakukan terhadap problema dan tuntutan masyarakat. d. Untuk menyumbangkan data tentang eksistensi dan peran pesantren tradisional di kota Cilegon kepada pengguna dan pihak terkait, dalam hal ini pemerintah, pihak industri dan juga masyarakat umumnya untuk menjadikan pesantren

sebagai basis jejaring bagi program pembangunan dan pemberdayaan yang memberikan kontribusi besar pada masyarakat.

D. Signifikansi penelitian a. Hasil penelitian ini bermanfaat dalam rangka menghimpun dan memperluas informasi tentang eksisitensi dan dinamika pesantren yang tetap memberikan warna dalam ranah kehidupan yang beragam pada semua tingkatan masyarakat. b. Hasil penelitian ini juga bemanfaat terutama bagi kalangan pesantren dalam menyiapkan diri lebih terbuka dengan perubahan dan menyiapkan diri menjadi simpul jaringan bagi kebutuhan dan pemberdayaan masyarakat. Di samping juga harus tetap kritis dengan meningkatkan Fungsi kontrol .

14

c.

Penelitian ini bermanfaat bagi pengembangan teori lanjutan dalam mengidentifikasi etos sosial pesantren.

d.

Penelitian ini cukup penting dilakukan karena selama ini penelitian pesantren seringkali identik dengan masyarakat pedesaan. Sementara dalam penelitian ini fokus pada masyarakat kota industri, di mana antara satu dengan yang lain seringkali dipandang berlawanan arah atau seringkali bertentangan.

E.

Kajian Pustaka Penelitian tentang pesantren telah banyak dilakukan oleh para ahli, Clifford

Gerertz misalnya telah memasukan kelompok pesantren (santri) menjadi salah satu kelas masyarakat, di samping, priyayi dan abangan pada masyarakat Jawa. Tentu saja dengan setting masyarakat pesantren pada awal dasawarsa 1950-an, sudah lebih dari 30 tahunan yang sudah barang tentu potret masa itu tidak bisa disamakan dengan potret pesantren masa kini. Pesantren bukan lagi lembaga yang tertutup, esoteris dan ekslusif. Bahkan Zamkhsari Dhofier dalam pengamatannya terlalu menyederhanakan pesantren ke

bentuknya yang paling tradisional, ia menyebutkan ada lima unsur yang membentuk pesantren yaitu pondok, masjid, pengajian kitab klasik, santri dan kiyai.8 Saat ini pesantren dari sisi kelembagaan telah mengalami perkembangan dari yang sederhana sampai yang paling maju, sebagaimana yang dikemukakan Soedjoko Prasojo et al, ia menyebut setidaknya adanya lima macam pola pesantren. Pola 1 ialah pesantren yang terdiri hanya dari masjid dan rumah kiyai. Pola 2 terdiri atas masjid, rumah kiyai
8

Zamakhsari Dhofier, Tradisi Pesantren :Studi Tentang Pandangan Hidup Kiyai (Jakarta : LP3ES), 1985, hal. 5

15

dan pondok. Pola 3 terdiri atas masjid, rumah kiyai, pondok dan madrasah. Pola 4 terdiri atas masjid. Rumah kiyai, pondok, madrasah dan tempat keterampilan. Pola 5 terdiri atas masjid, rumah kiyai, pondok, madrasah, tempat keterampilan, gedung pertemuan,

sarana olah raga, dan sekolah umum. Pesantren yang terakhir inilah yang sering disebut “pesantren moderen”, yang di samping itu juga memiliki fasilitas dan sarana penunjang lainnya.9 Nyatalah bahwa pesantren memang telah melampau batas-batas pengertiannya yang awal. Pesantren dikenal sebagai lembaga yang tidak hanya identik dengan makna keislaman, tetapi juga mengandung makna keaslian Indonesia (indegenous). Sebagai lembaga indegenous , pesantren muncul dan berkembang dari pengalaman sosiologis masyarakat lingkungannya. Dengan kata lain pesantren mempunyai keterkaitan erat yang tidak bisa dipisahkan dengan komunitas lingkungannya. Kenyataan ini dapat dilihat tidak hanya dari latar belakang pendirian pesantren pada satu lingkungan tertentu, tetapi juga dalam pemeliharaan eksistensi pesantren itu sendiri melalui pemberian wakaf, shadaqah, ibadah dan sebagainya. Sebaliknya pesantren pada umumnya melakukakan “membalas jasa” komunitas lingkungannya dengan bermacam cara, tidak hanya dalam bentuk memberikan pelayanan pendidikan dan keagamaan, tetapi juga bimbingan sosial, kultural dan ekonomi bagi masyarakat lingkungannya. Dalam konteks inilah pesantren dan kiyainya memainkan peran yang disebut Clifford Geertz sebagai “ cultural brokers” dalam pengertian luasnya.
9

yang seluas-

Sebagaimana dikutip Kuntowijoyo, Paradigma Islam, hal 173-174

16

Dari penelitian H.M. Yacub

10

diketemukan bahwa pesantren di samping

melakukan tugas utama pendidikannya juga terlibat langsung dalam kegiatan pembangunan dan pemberdayaan khusunya pada masyarakat desa. Pembangunan yang meliputi bidang sosial, ekonomi, teknologi dan ekologi, beberapa pesantren telah turut mengangkat kehidupan masyarakat sekitarnya. Bahkan pesantren dengan ketokohan kiyai dapat mempengaruhi lembaga desa. Bahkan menurut Dawam Raharjo, pesantren senantiasa positif terhadap pembangunan dan sanggup menjadi perantara yang baik

dalam penyebaran gagasan ke masyarakat bawah. Akan tetapi sikap terbuka pesantren terhadap dunia luar lebih tergantung kepada keperibadian pengasuhnya dan dari

pendekatan yang dilakukan pihak luar terhadap pesantren. 11 Keterkaitan erat antara pesantren dengan komunitas lingkungannya yang banyak hal terus bertahan hingga kini, pada sisi lain justru dapat menjadi “beban” bagi

pesantren itu sendiri. Terlepas dari perubahan-perubahan sosio kultural dan keagamaan yang yang terus berlangsung dalam kehidupan kaum muslim di Indonesia dewasa ini, harapan masyarakat kepada pesantren tidak berkurang. Industrialisasi sebagai sebuah keniscayaan, saat ini telah menyebar di hampir pelosok nusantara, khususnya di wilayah Banten dan Cilegon. Industrialisasi berdampak pada segala aspek kehidupan masyarakat, termasuk institusi keagamaan seperti pesantren. Sifat dari masyarakat industri adalah tata hubungan masyarakat yang

didasarkan pada prinsip - prinsip rasional, dinamis dan kompetitif. Industrialisasi juga
10

11

H.M. Yacub, Pesantren dan Pembangunan Masyarakat Desa (Bandung : Angkasa) 1985, hal 12-13 Lihat Dawam Raharjo (ed), Pesantren dan Pembaharuan (Jakarta : LP3ES) 1982

17

sering mendorong timbulnya masyarakat berkelas yang melemahkan solidaritas. Dalam masyarakat agraris hubungan sosial lebih diwarnai oleh hubungan patron-klien yang disadarkan kepada orang sepuh atau kiyai alim yang berkaromah. Sedangkan pada masyarakat industri hubungan sosial lebih bersifat abstrak, imajinatif dan dalam pola produsen-konsumen. Sedangkan pesantren merupakan sub-kultur kharismatik yang relatif homogen. Kiyai dan jamaahnya disatukan dalam pola hidup kesalehan berdasarkan kitab kuning. Budaya pesantren telah melahirkan persekutuan iman atas dasar kesetiaan pada paham yang dibawa oleh guru yang “mu’tabar”. Kesyahduan spiritual yang menyejukkan itu pada masa industrialisasi dihadapkan pada suasana keterasingan, anomie dan kontradiksi. Tradisi mulai dipertanyakan, hubungan sosial disetarakan dan kharisma dicairkan. Perubahan sosial berjalan begitu cepat sehingga perangkat kultural tidak lagi sejalan dengan perubahan struktural. Terdapat beberapa indikator pergeseran nilai yang dialami pesantren, sebagaimana dikemukakan Mastuhu, pertama, kiyai bukan lagi satu-satunya sumber belajar. Dengan beraneka ragam sumber belajar baru, maka semakin tinggi dinamika komunikasi antar sistem pendidikan pesantren dengan sistem yang lain. Namun kondisi obyektif ini tidak berarti menggeser kedudukan kiyai sebagai tokoh kunci yang menentukan corak pesantren. Kedua, seiring dengan pergeseran nilai dimaksud maka kebanyakan santri

18

saat ini membutuhkan ijazah dan penguasaan bidang keahlian dan keterampilan yang jelas agar dapat mengantarkannya memasuki lapangan kehidupan baru.12 Dalam sisi lain pesantren sebagai institusi keagamaan dengan kiyai sebagai tokohnya memiliki legitimasi sebagai penyambung wahyu Tuhan dan pentafsir ajaran agama untuk dapat dipahami oleh masyarakatnya. Ia juga tidak saja memiliki fungsi struktural namun juga kultural dan fungsional. Dalam pandangan fungsionalis yang bermula dari pikiran-pikiran Durkheim, sosiolog menganggap bahwa agama setidaknya memiliki fungsi -fungsi ; 1. Fungsi solidaritas sosial, yaitu agama berfungsi sebagai semen sosial dengan menghimpun para pemeluknya untuk secara teratur melakukan berbagai ritual yang sama dan mempelengkapi mereka dengan cara-cara yang sama yang di atasnya dibangun suatu komunitas yang sama. 2. Fungsi memberi makna hidup, yaitu agama menawarkan suatu theodicy yang mampu memberikan jawaban terhadap persoalan-persoalan ultimate dan eternal yang dihadapi manusia mengenai keberadaannya di dunia ini. 3. Fungsi kontrol sosial, nilai-nilai dan norma-norma penting dalam masyarakat dipandang mempunyai daya paksa yang lebih kuat dan lebih dalam apabila juga disebut dalam kitab suci agama. 4. Fungsi dukungan psikologis, agama memberikan dukungan psikhologis

kepada para pemeluknya ketika ia menghadapi cobaan dan kegoncangan

12

Mastuhu, Dinamika Pendidikan Pesantren : Suatu Kajian Tentang Unsur Nilai Pendidikan (Jakarta : INIS) 1984, hal 20

19

hidup, agama menawarkan sejumlah aturan menstabilkan kegidupan jiwanya.

dan prosedur yang sanggup

5. Fungsi perubahan sosial, agama juga memberikan inspirasi dan memuluskan jalan bagi perubahan sosial. Nilai-nilai agama memberikan standarisasi moral mengenai sejumlah pengaturan masyarakat yang ada harus diukur dan bagaimana yang seharusnya.13

F. Kerangka Konseptual Masalah industrialisasi sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari masalah modernisasi karena industrialisasi merupakan bagian dari modernisasi. Transformasi industrial mempunyai konsekwensi yang amat luas, karena industrialisasi merupakan proses perubahan sosial yaitu perubahan susunan kemasyarakatan dari sistem sosial pra industri (agraris) ke sistem sosial industrial. Terkait dengan hal ini dalam pandangan

teori “ pattern Variables” yang dikembangkan Parsons, Perubahan dari masyarakat tradisional ke masyarakat industri dan moderen juga berarti perubahan dari : a. Affectivity ke affective neutrality, pengaruh langsung bagi perbahan ini bagi proses industrialisasi ialah terbentuknya modal yang diperlukan , juga menandai hubungan-hubungan social dalam masyarakat industrial yang bersifat

contractual, impersonal dan calculating.

13

Elizabeth K Notingham, Agama dan Masyarakat (Jakarta : Rajawali Press), 1992, hal. 38-40

20

b. Dari Particularisme ke Universalisme,

Industrialisasi cenderung mengikis

keekslusivan partikularistis seperti keekslusifan rasial, warna kulit maupun keturunan. c. Dari ascriptions ke achievement, dengan kata lain perubahan karena

industrialisasi adalah perubahan dari system penghargaan prestise ke system penghargaan karena prestasi. d. Dari diffuseness ke specivicity, ialah perubahan dari sistem sosial yang bersifat

berlingkup luas dan membatasi hubungannya pada hubungan yang khusus.14

Jadi Perubahan model pembangunan secara otomatis akan merubah berbagai aspek kehidupan dan sruktur masyarakat, baik dalam bidang ekonomi, sosial budaya, institusi-institusi kemasyarakatan dan agama bahkan keluarga. Beberapa ahli telah memunculkan beberapa pendekatan dalam memotret dan menganalisis perubahan sosial dan pola hubungan masyarakat. Di antaranya yang penulis anggap cukup relevan diterapkan dalam kajian ini, di antaranya teori structural fungsional dan teori

Interactions medium yang diperkenalkan oleh Talcott persons (1937). Dalam teori fungsional struktural memandang masyarakat secara makrroskopis. Ada dua asumsi dasar dalam pendektan ini. Asumsi pertama adalah bahwa masyarakat merupakan suatu sistem yang terbentuk dari sub strutur-sub struktur yang saling

tergantung (interdependen) antara yang satu dengan yang lainnya sedemikian, sehingga

14

Talcot Parsons and American Sosiologi, sebagaimana dikutip Nurkholis Madjid, Islam Kemoderenan dan Ke-Indonesiaan, (Bandung : Mizan) 1987, hal 141-142

21

perubahan pada satu bagian secara otomatis mempengaruhi bagian-bagian lainnya. Upaya analisis sosiologis dengan demikan menemukan apa mempengaruhi apa. Asumsi kedua, adalah bahwa setiap struktur atau aktifitas yang mapan (established) memiliki fungsi untuk mempertahankan aktifitas-aktifitas atau struktur lain dalam suatu sistem social. Beberapa contoh struktur dalam hal ini , keluarga, ekonomi, pendidikan, politik, agama, keluarga dan sebagainya. 15 Pesantren sebagai bagian dari intitusi sosial, keagamaan dan juga pendidikan bahkan sebagai institusi kultural tidak lagi dilihat sebagai sebuha sub kultur dalam artian gejala yang unik dan terpisah dari dunia luar. Bahkan pesantren sebagai institusi kultural yang menggambarkan sebuah budaya yang mempunyai karakteristik sendiri akan tetapi juga membuka diri dari dari pengaruh-pengaruh luar. Sebab pesantren sebagai milik dan bagian dari masyarakat tidak bisa melepaskan diri dari kehidupan sosial dan komunitas kemasyarakatan lainnya. Perubahan sosial, ekonomi, politik secara otomatis turut memberikan warna dan pengaruhnya terhadap eksistensi dan dinamika pesantren itu sendiri. Beberapa

perubahan dalam internal pesantren dan hubungnnya dengan pengaruh luar adalah, perubahan menjadi system kelas, juga muatan pelajaran dan juga sistem dan metode pengajaran yang berfariasi dengan metode-metode moderen . Namun demikian bukan berarti mendudukan pesantren sebagai obyek perubahan yang pasif, sebab pesantren

15

Lihat Soerjono soekanto, Beberapa teori Sosiologi tentang Struktur Masyarakat ( Jakarta : Rajawali) 1983

22

juga merupakan institusi yang independen dan memiliki jati diri dan kekhasannya sendiri.. Pada sisi lain pesantren sebagai lembaga pendidikan dan social dipandang memiliki posisi yang strategis dalam melakukan perubahan dan pembangunan bagi masyarakat sekitarnya, hal itu telah terbukti selama beberapa abad keberadaan

pesantren telah meneguhkan komitemen social kepada masyarakatnya. Pesantren memiliki modal yang kuat dalam melakukan interaksi dengan masyarakatnya. Dalam pandangan teori “Interaksions medium” yang juga dikembangkan oleh Parsons yaitu model “media interaksi” (interactions medium). Media , menurut Parsons adalah kapasitas perubahan sebuah masyarakat (kelompok) ketika berinteraksi dengan kelompok atau sektor masyarakat lain. Walaupun teori ini pada mulanya disusun berdasarkan analisis interaksi antara ego dan alter ego, namun kemudian juga digunakan untuk menganalisis pola interaksi lembaga, kelompok dan masyarakat. Oleh karenanya teori ini penulis pandang relevan untuk mengkaji pola hubungan antara pesantren

tradisional dan sektor moderen. Dalam hal ini ada empat media; pertama, Komitmen atau penyerapan nilai/ gagasan dari luar yang benar dan relevan. Kedua, media

Kekuasaan (power) Ketiga, media pemanfaatan (utility) dan terakhir media pengaruh.16 Keempat media yang dikemukakan Parsons di atas setidaknya telah dimiliki pesantren dalam melakukan hubungan dan kalangan internal pesantren maupun bagi
16

mengukuhkan pengaruhnya masyarakat sekitarnya. Pada

baik di beberapa

Talcott Parsons, On The Theori if Social Interactions Media, sebagaimana dikutip Ivan Alhadar, “Tradisi dan Tantangan Kebudayaan Urban Industri “ dalam Manfred Oepen dan Wolfgang Kacher (ed) Dinamika Pesantren, (Jakarta : P3M), 1987

23

dasawarsa , kiyai yang umumnya pemilik dan pengelola pesantren memiliki power (kekuasaan) yang kadang melebihi kekuasaan pemerintah lokal. Bahkan dalam hal-hal tertentu pemerintah lokal seringkali meminta petunjuk dan restu kiyai melaksanakan tugas dan kebijakannya. Pesantren juga memiliki komitemen yang kuat dalam memperjuangkan dan mempertahankan kebaikan dan kebenaran, di samping kuga memiliki komitemen sosial yang tinggi. Kaidah yang mengakar kuat dalam kultur pesantren adalah “ Aldalam

Muhafazhatu Ala al-Qadim as Shalih, wa Akhdzu bil-jadid al-Shalih ( melestarkan nilainilai lama yang baik dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik). Demikian juga dengan pengaruh pesantren yang dikenal memiliki kemampuan hidup (survive) di tengah berbagai perubahan yang terjadi bahkan dalam keterbatasannya. Pesantren juga dipandang memiliki kemampuan kuat dalam memobilisasi sumber daya lokal baik berupa tenaga maupun dana. Kiyai dipandang sebagai rujukan dalam kehidupan

masyarakatnya, tidak saja sebagai pengayom, tapi juga sebagai pemberi solusi atas problem kehidupan masyarakatnya bahkan di luar masalah-masalah keagamaan. Dengan melihat kedudukannya yang strategis dan pengaruhnya yang luas dan perannya yang penting dalam masyarakat, nampaknya tepat bila menunjuk pesantren sebagi kelompok sasaran dan sekaligus agen dari pembangunan, sebab pesantren adalah unit sosio kultural yang tepat sebagai sistem yang memadai. Di samping itu pesantren yang mengemban misi pewaris para nabi dan

penterjemah wahyu Tuhan terkait dengan peran keagamaan, maka ia juga memiliki pengaruh terhadap lingkungan masyarakatnya. Jadi dengan pendekatan ini pesantren

24

tidak saja menjadi obyek

dari perubahan namun ia juga menjadi subyek untuk

perubahan, tentu saja pada perubahan yang lebih baik. Sebagaimana Firman Allah “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dann mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”‘. (Q.S. Ali Imran : 110). Jadi pesantren sebagai sub sistem pendidikan dan kultur bukanlah merupakan variabel bebas pengaruh, karena masyarakat yang menghidupi dan membutuhkannya merupakan proviniance (wadah) kontekstual dari eksisitensi pesantren. Karena itu pula dapat dinyatakan bahwa antara pesantren dan masyarakat (komunitas lingkungan dan industri) berada pada posisi saling mempengaruhi. Apabila pesantren dapat melakukan peran-peran dan fungsi kontrolnya secara baik, maka akan dapat mengurangi pengaruh nilai-nilai negatif dari industrialisasi. Pada akhirnya nilai-nilai keduanya yaitu antara masyarakat industri dan dunia pesantren secara positif akan dapat melengkapi dan mewarnai untuk dapat mewujudkan masyarakat yang moderen, sejahtera, beradab dan religius.

25

Materialis Hub.Fungsional Modern Kompetitif

KERANGKA KONSEPTUAL

G. Metodelogi Penelitian ini merupakan penelitian sosial keagamaan dengan menggunakan pendekatan sosiologis - historis. Adapun metode yang digunakan adalah deskriptifkualitataif. Deskriptif yaitu suatu metode dalam meneliti satatus kelompok manusia, suatu obyek, suatu seting kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari metode penelitian ini untuk membuat deskripsi,

gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifatsifat serta hubungan antara fenomena yang diselididki (M.Nazir, 1985 : 63). Sedangkan teknik pengumpulan dan analisa data dilakukan dengan cara; pengamatan dan wawancara untuk mendapatkan data primer. Pertama, Observasi

(pengamatan). Pengamatan dilakukan untuk melihat fenomena dan gejala sosial yang terjadi pada kehidupan sehari-hari masyarakat, khususnya di lingkungan pesantren, yang meliputi kiyai, santri dan masyarakat sekitar pesantren. Kedua, wawancara

26

terencana-terbuka yang bertujuan untuk mengumpulkan keterangan yang lebih lengkap untuk menyempurnakan hasil pengamatan. Adapun sasarannya adalah kiyai (pemilik pesantren) sebagai sumber untuk mendapatkan data primer. Wawancara juga dilakukan dengan santri, tokoh agama, dan masyarakat setempat, dan aparat terkait, untuk mendapatkan data sekunder (pendukung). Serta data-data dan sumber informasi yang bisa digunakan untuk menjadi data pendukung dan pelengkap, seperti data dan sumber dari Forum Silaturahmi Pondok Pesantrek Kota Cilegon (FSPP) dan lembaga pemerintah setempat, seperti Departemen Agama dan Humas Pemerintah Kota Cilegon. Adapun lokasi penelitian dilakukan pada pesantren tradisional yang berada di wilayah industri kota Cilegon, sebagai sasaran penelitian terdiri dari 6 Pondok

Pesantren tradisional yang tersebar di lima Kecamatan dari delapan Kecamatan yang berada di Kota Cilegon. Di antaranya adalah Pondok Pesantren As-Shohabah di

Kecamatan Cilegon. Ponpes Al-I’anah Jangkar Kecamatan Ciwandan. PonpesAlNahdiyyin Jerang- Kecamatan Cibebeber, Pondok Pesantren Bani Latif Cibeber, Pondok Pesantren Bani Al-Qamar Karang Tengah-Kecamatan Purwakarta, Pondok Pesantren Al-Munawwaroh Gerem- Kecamatan Gerogol.

27

BAB II KONDISI OBYEKTIF KOTA CILEGON

A.Lokasi dan Keadaan Geografis Kota Cilegon merupakan salah satu dari 7 pemerintahan Kota dan Kabupaten yang ada di wilayah Propinsi Banten. Kota Cilegon dipimpin oleh seorang wali kota yang dipilih langsung oleh rakyat. Kota Cilegon merupakan salah satu kota Industri di Propinsi Banten, ia berada di ujung barat dan merupakan pintu masuk ke pulau Jawa dari arah Sumatera. Kota Cilegon di samping sebagai kota industri juga sebagai daerah pintu gerbang pulau Jawa dari arah Sumatera, telah menjadikan kota ini menjadi pusat

transportasi baik melalui darat maupun laut. Di wilayah ini terdapat beberapa pelabuhan besar, salah satunya adalah pelabuhan penyeberangan Merak-Bakauheni. Daerah ini juga di samping dijadikan tempat singgah juga menjadi tempat tujuan para pencari kerja dari berbagai daerah lainnya. Berdasarkan letak geografisnya, Kota Cilegon berada di bagian ujung sebelah barat Pulau Jawa dan terletak pada posisi : 5 52’24” – 6 04’07” Lintang Selatan (LS), 105 54’05” – 106 05’11” Bujur Timur (BT). Secara Administratif wilayah berdasarkan Undang-Undang No. 15 tahun 1999 tentang terbentuknya Kotamadya Daerah Tingkat II Depok dan Kotamadya Daerah

28

Tingkat II Cilegon pada tanggal 27 April 1999, Kota Cilegon mempunyai batas-batas wilayah sebagai berikut : Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Bojonegara (kabupaten Serang) Sebelah barat berbatasan dengan Selat Sunda Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Anyer dan Kecamatan Mancak (Kabupaten Serang) Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Kramatwatu (Kabupaten Serang)17 Berdasarkan Administrasi Pemerintahan, Kota Cilegon memiliki luas wilayah kurang lebih 17.550 Ha. Pada awalnya terbagi atas 4 (empat) kecamatan, yaitu : 1. Kecamatan Cilegon 2. Kecamatan Ciwandan 3. Kecamatan Pulomerak 4. Kecamatan Cibeber Berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 15 Tahun 2000 tentang pembentukan 4 (empat) Kecamatan baru, Wilayah Kota Cilegon yang semula terdiri dari 4 (empat) kecamatan berubah menjdai 8 (delapan) Kecamatan, yaitu : 1. Kecamatan Cilegon 2. Kecamatan Ciwandan 3. Kecamatan Pulomerak

17

Sumber Buku “ 9 Tahun Membangun Kota Cilegon Tiada Hari Tanpa Perbaikan dan Kebaikan” Tahun 2008

29

4. Kecamatan Cibeber 5. Kecamatan Gerogol 6. Kecamatan Purwakarta 7. Kecamatan Citangkil 8. Kecamatan Jombang Dengan Terbitnya Perda No 12 Tahun 2003 tentang perubahan desa menjadi kelurahan, sehingga 41 desa yang ada di Kota Cilegon berubah statusnya menjadi kelurahan. Dengan demikian wilayah Kota Cilegon terdiri dari 8 (delapan) Kecamatan dan 43 Kelurahan. Secara umum keadaan Morfologi Kota Cilegon terbagi atas tiga kelompok besar, yaitu morfologi mendatar, morfologi perbukitan landai- sedang dan morfologi perbukitan terjal. Kota Cilegon memiliki fisik wilayah yang bervariasi, baik ditinjau dari ketinggian maupun lereng. Morfologi dataran pada umumnya terdapat di wilayah timur Kota dan wilayah panta barat kota. Morfologi perbukitan landai- sedang terdapat di wilayah tengah Kota. Morfologi perbukitan terjal terdapat di sebagian wilayah utara dan sebagian kecil wilayah selatan kota. Wilayah dataran merupakan wilayah yang mempunyai ketinggian kurang dari 500 meter di atas permukaan laut (dpl), sampai wilayah pantai yang mempunyai ketinggian 0 – 1, 0 meter di atas permukaan laut. Wilayah perbukitan memiliki ketinggian minimum 50 meter di atas permukan laut. 18

18

Ibid

30

Di lihat dari pola penggunaan lahannya , secara umum lahan di wilayah kota Cilegon awalnya berorientasi pada kegiatan pertanian. Namun sejalan dengan

perkembangan Kota Cilegon, pembangunan secara fisik berlangsung pesat, sehingga terbentuk kegiatan-kegiatan dengan jenis penggunaan lahan baru dan menggeser jenis penggunaan lahan sebelumnya, sehingga gambaran bercirikan perkotaan dan pedesaan. Dengan adanya kegiatan perindustrian yang cukup dominan di Kota Cilegon, maka berdampak pula pada perubahan penggunaan lahan yang ada, terutama bertambahnya lahan untuk pemukiman. Kota Cilegon pada saat ini

B. Penduduk Dan Latar Belakang Sejarahnya Sejarah kota Cilegon dapat di lihat dalam beberapa fase: 1. Periode Pra Kemerdekaan Cilegon pada masa Sultan Ageng Tirtayasa (tahun 1651 – 1672) merupakan kampong kecil di bawah kekuasaan Kerajaan Banten . Pada masa itu Cilegon masih berupa tanah rawa yang belum banyak didiami orang. Namun sejak masa keemasan Kerajaan Banten di bawah Sultan Ageng Tirtayasa, dilakukan pembukaan daerah di Serang dan Cilegon yang dijadikan persawahan. Sejak saat itu banyak pendatang yang menetap di Cilegon sehingga masyarakat Cilegon sudah menjadi heterogen. Pada Tahun 1816 Cilegon dijadikan daerah kewedanaan, sejak dibentuknya districk Cilegon perkembangan Cilegon sangat pesat, sehingga yang semula merupakan kampung kecil menjadi kewedanaan. Kantor Kewedanan Cilegon hingga

31

saat ini masih berdiri kokoh yang saat ini menjadi Rumah Dinas Wali Kota dengan nama Gedung Negara. Pada Tanggal 9 Juli 1888 terjadi peristiwa besar yaitu puncak perlawanan rakyat Cilegon terhadap kolonial Belanda di bawah pimpinan KH.Wasid yang dikenal dengan peristiwa “Geger Cilegon”. Peristiwa ini mengilhami perjuangan rakyat untuk membebaskan diri dari penindasan penjajah Belanda, dan melepaskan diri dari kelaparan akibat tanam paksa pada masa itu.

2. Masa Kemerdekaan Rakyat Cilegon pada masa kemerdekaan telah menunjukkan semangat juangnya. Hal ini tidak terlepas dari dari semangat juang KH.Wasid pada masa “Geger Cilegon”. Jiwa patriotisme rakyat Cilegon dan Banten pada umumnya pada zaman revolusi fisik mempertahankn Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada Tanggal 17 Agustus 1945 telah ditunjukkan dan terkenal dengan tentara Banten. Cilegon dari waktu ke Waktu terus mengalami perkembangan . Pada tahun 1962 di kota ini berdiri pabrik baja TRIKORA. Pendirian pabrik baja ini merupakan babak baru bagi era industi di wilayah ini. Industri TRIKORA berkembang pesat. Pada Tahun 1970 pabrik TRIKORA berubah menjad Pabrik Baja Krakatau Steel . Dengan adanya perusahaan baja tersebut menjadikan kota Cilegon dikenal dengan sebutan Kota Baja.19

19

Sumber, Ibid, hal. 1-2

32

Seperti efek domino, keberadaan group perusahaan ini kemudian turut memancing berdirinya industri-industri besar lainnya. Selanjutnya perusahaan-perusahaan tersebut memberi warna industri pada Kota Cilegon, di mana tiga perempat dari seluruh

kegiatan ekonomi kota berbasis pada sector sekunder dengan industri pengolahan sebagai penggerak utama. Banyaknya pekerja industri yang terdiri dari penduduk asli dan para komuter (pendatang) dari daerah tetangga dan lainnya menjadikan Cilegon sebagai sebuah kota mandiri. Nilai-nilai metropolis yang biasa dimiliki sebuah kota besarpun memasuki wilayah industri ini. Konsekwensi dari kehadiran industri adalah terjadinya proses migrasi dan urbanisasi. Demikian halnya juga yang terjadi di Kota Cilegon, peningkatan penduduk semakin hari semkin bertambah. Para pendatang umumnya berasal dari berbagai daerah di tanah air, mereka datang ke wilayah ini untuk bekerja baik di sektor industri,

pelabuhan maupun pada sektor-sektor jasa dan lainnya. Dari tahun ke tahun jumlah penduduk kota Cilegon mengalami perambahan yang semakin besar. Adapun jumlah penduduk Kota Cilegon berdasarkan hasil pendataan dan pemutaakhiran data kependudukan tahun 2007 , penduduk Cilegon berjumlah rincian sebanyak 170.909 adalah laki-laki dan 167.118

338.027 jiwa, dengan

perempuan dengan tingkat kepadatan mencapai 1.926 jiwa / km2 ,yang tersebar cukup merata di 8 (delapan) Kecamatan. 20

20

Cilegon dalam Angka, 2007, Bappeda Kota Cilegon, 2007

33

Berdasarkan hasil Survey angkatan kerja Nasional (sakernas) 2007 Persentase angkatan kerja tercatat sebesar 59, 39 persn. Lebih dari separoh penduduk 15 tahun ke atas bekerja di sektor perdagangan, hotel restoran dan sector industri pengolahan. Dari segi usia penduduk kota Cilegon lebih banyak merupakan kategori usia kerja. Maka secara jangka panjang hal ini akan membawa konsekwensi terhadap ketersediaan lapangan kerja bagi penduduk yang saat ini berusia muda. Penduduk Kota Cilegon ditinjau dari status pekerjaan, jumlah terbanyak bekerja di sektor industri dan perdagangan. Sebagaimana terlihat pada table di bawah ini:

Tabel : Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian NO. 1. 2. 3. 4. 5. 6 7. 8. 9. 10 Lapangan Usaha Pertanian Petambangan dan penggalian Industri Listrik,, Gas dan air bersih Bangunan Perdagangan, Hotel & Restoran Angkutan dan Komunikasi Bank & lembaga lainnya Jasa-jasa Lainnya JUMLAH TH. 2004 8.713 254 34.300 1.397 9.011 27.741 11.976 2.352 15.455 381 111.580 TH. 2005 4.223 1.409 29.755 1.866 8.616 33.116 18.740 3.850 18.422 556 120.557
21

21

Sumber, Laporan Akhir Kajian Potensi Pasar dan Komoditas Hasil Pertanian da IKM Tahun 2007, Bappeda Kota Cilegon

34

Melihat tabel di atas, nampak bahwa penduduk yang bekerja di sektor industri dan perdagangan masih dominan. Hal ini mengindikasikan bahwa sektor industri merupakan basis ekonomi penduduk Kota Cilegon. Adapun jenis industri yang banyak didirikan di Kota Cilegon secara umum dapat dikategorikan ke dalam tiga jenis industri, yaitu industri baja, industri non baja, dan industri kecil (home industri). Kelompok industri baja umumnya merupakan kelompok industri-industri yang memanfaatkan material baja kasar untuk diolah menjadi produk atau barang jadi. Kelompok industri non baja yang terdapat di kota Cilegon adalah jenis industri kimia dan pengolahan bahan tambang. Kelompok industri kecil merupakan kelompok jenis industri yang banyak digeluti oleh masyarakat dengan menggunakan teknologi yang masih sederhana. Kegiatan industri ini lokasinya berbaur dengan pemukiman penduduk. Beberapa jenis industri ini di antaranya ; industri genteng, batu bata, kapur, makanan dan lain-lain. Dengan demikian maka persaingan di dunia kerja memacu persaingan sumber daya manusia, terlebih industri yang berkembang di Kota Cilegon umumnya industri berat yang berbasis ilmu pengetahuan tinggi dan keahlian. Untuk menjawab kebutuhan zaman dan kebutuhan dunia kerja maka pembangunan sumber daya manusia melalui dunia pendidikan menjadi prioritas bagi Kota Cilegon. Sebab pembangunan pendidikan merupakan salah satu kunci pembangunan sumber daya manusia secara keseluruhan. Guna meningkatkan keberhasilan tersebut maka pemerintah Kota Cilegon dan

masyarakat berupaya maksimal mewujudkan wajib belajar 12 tahun di Kota Cilegon.

35

Artinya masyarakat Cilegon diupayakan secara maksimal mengenyam pendidikan setingkat SMA atau sederajat. Hal itu lebih tinggi dari program pemerintah pusat dan Propinsi Banten yang hanya menargetkan wajib belajar sembilan ( 9 ) tahun. C. Kehidupan Sosial dan Keagamaan 1. Kehidupan Sosial Tipikal pertama proses industrialisasi di samping berdampingan dengan

urbanisasi, peningkatan mobilitas penduduk juga terjadinya perubahan yang penting dalam adat kebiasaan dan moral masyarakat. Masuknya para pendatang ke wilayah Kota Cilegon telah membawa perubahan nilai dan norma di dalam kehidupan masyarakat. Perubahan ini tidak saja terjadi pada penduduk setempat namun juga pada penduduk pendatang. Nilai-nilai tradisional yang ada terdesak oleh nilai-nilai yang campur baur dari luar. Pergeseran nilai ini sering menimbulkan masalah-masalah sosial, seperti masalah pemukiman, lingkungan hidup, krisis moral dan penyakit masyarakat, dan lain sebagainya. Daerah industri memang seringkali menjadi wadah peleburan budaya dari latar belakang budaya asal pendatang (melting pot), di samping juga tetap berusaha

menunjukkan identitas budayanya. Penduduk asli Cilegon sebagai penduduk mayoritas dan sekaligus juga kelompok budaya dominan masih tetap menunjukkan eksistensi dan pengaruhnya dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Seperti dalam penggunaan bahasa daerah, kesenian dan tradisi daerah maupun khas daerah, walaupun dalam

beberapa hal telah terjadi pergeseran dan juga modifikasi.

36

Sebagaimana diketahui bahwa Kota Cilegon di samping sebagai daerah industri dan pelabuhan juga merupakan daerah wisata, sehingga di samping banyak pendatang dari berbagai daerah di tanah air, juga banyak warga asing baik sebagai turis maupun sebagai tenaga kerja. Mereka umumnya adalah tenaga ahli di perusahaan-perusahaan besar. Maka sudah barang tentu kehadiran fasilitas dan tempat-tempat hiburan menjadi sebuah keniscayaan di wilayah ini. Oleh karenanya di wilayah ini telah banyak berdiri hotel-hotel berbintang, pub, diskotik dan tempat-tempat hiburan malam lainnya. Di

samping itu juga telah berdiri pasar-pasar moderen dan fasilitas lainnya sebagai ciri khas kota Besar. Fasilitas-fasilitas tersebut tidak hanya dikunjungi oleh turis maupun pendatang namun juga oleh penduduk pribumi. Peradaban dan kehidupan budaya moderen begitu terasa di wilayah ini dengan mobilitas masyarakat yang cukup tinggi. Dalam satu sisi perkembangan dan pembangunan fisik yang cukup pesat, memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam akses sosial, ekonomi maupun politik. Namun di samping itu juga kemudahan dalam mengakses hal-hal yang negative juga tidak bisa dihindari, seperti kehidupan malam, minum-minuman keras, narkoba bahkan pergaulan bebas. Salah satu tempat lokalisasi WTS “Sangkanila” di Merak memang telah digusur oleh Pemerintah Kota Cilegon beberapa tahun yang lalu, namun kehadiran wanita penghibur dan PSK (pekerja seks komersial) yang menyewa rumah-rumah penduduk secara terselubung masih tetap beroperasi. Kondisi demikian tentu saja membuat prihatin semua kalangan. 22

22

Hasil wawancara dengan Ketua Forum Silaturahmi Pondok Pesantren Kota Cilegon, KH. M. Hilman Islmail, Cilegon Tanggal 30 September 2008

37

Untuk mengurangi dampak negative dan juga sebagai upaya prefentif dari kehadiran tempat hiburan malam dan fasilitas lainnya, maka pemerintah daerah telah mengeluarkan PERDA NO 5 Tahun 2001, tentang pelanggaran kesusilaan, minuman keras, perjudian, penyalahgunaan narkotik dan zat adiktif lainnya. Di samping juga PERDA NO 2 Tahun 2003 tentang Perizinan penyelenggaraan hiburan. Di samping itu terjadinya persaingan kerja dan usaha seringkali menimbulkan konflik, terutama antara masyarakat yang tidak mendapatkan kesempatan kerja dengan pihak industri. Hal itu seringkali terjadi karena adanya berbagai kepentingan. Pihak industri seringkali membutuhkan tenaga yang belum dapat terpenuhi oleh penduduk setempat, di sisi lain penduduk setempat memiliki keahlian yang dibutuhkan industri. Konflik juga kerap kali terjadi antara masyarakat dengan pihak perusahaan terutama menyangkut pencemaran lingkungan yang dilakukan oleh industri dimana kompensasi yang diberikan kepada masyarakat tidak sebanding dengan penderitaan yang dialami penduduk setempat. Pencemaran berupa polusi udara dan air di samping sangat mengganggu juga seringkali menyebabkan berbagai penyakit, seperti sakit mata, ispa dan gatal-gatal. 23 Kehadiran industri tidak selamanya berdampak negativ, terutama bila di lihat dari segi ekonomi. Kehadiran industri telah membuka lapangan kerja yang luas bagi penduduk, walaupun belum merata, sehingga tingkat pengangguran dapat ditekan dan
23

mengharapkan pekerjaan dengan tidak

Di antaranya terjadinya ketegangan dan protes warga Desa Tegal Ratu Cigading terhadap pencemaran lingkungan yang dilakukan oleh beberapa industri di sekitar desa tersebut. Demikian juga terjadinya protes dan keluhan warga kampung Sumur Wuluh dan Cikuasa akibat polusi dan bau kimia industri.

38

kebutuhan hidup masyarakat dapat terpenuhi serta kesejahteraan masyarakat dapat terwujud walaupun belum merata. Hal itu terlihat bahwa tingkat kehidupan ekonomi masyarakat Cilegon nampak mengalami kemajuan di banding dengan sebelum adanya industri . Namun dalam sisi lain tidak bisa dihindari. budaya hedonistik, materialistis dan konsumeristik

2. Kehidupan Keagamaan Kehidupan sosial budaya dan keagamaan masyarakat Cilegon tidak terlepas dari pengaruh budaya Kesultanan Banten, sebagai salah satu pusat penyebaran Islam di Nusantara pada masa lampau dan juga perjuangan rakyat Cilegon pada masa lalu, yaitu peristiwa Geger Cilegon 1888. Kondisi demikian telah menempa masyarakat Cilegon untuk semakin mendalami dan mengembangkan nilai-nilai agama, di mana pesantren tumbuh dan berkembang demikian juga ulama dan cendekiawan muslim telah banyak lahir. Di Cilegon sendiri telah berdiri dua lembaga pesantren besar yang berkembang pada saat itu hingga kini yaitu perguruan Islam Al-Khairyah Citangkil dan Madrasah Jauharatunnaqiyah Cibeber. Masyarakat Cilegon dahulu umumnya banyak menimba ilmu di kedua pesantren tersebut maupun di pesantren-pesantren lainnya di pulau Jawa. Dengan latar belakang yang demikian telah memberikan warna pada masyarakat

Cilegon sebagai masyarakat yang berpegang teguh dan taat dalam menjalankan agama. Setidaknya penghayatan keagamaan masyarakat dapat diukur dengan beberapa indikator , yaitu meliputi beberapa dimensi;

39

Pertama, dimensi keyakinan. Dimensi ini

berkaitan dengan seperangkat

kepercayan dan keyakinan seseorang terhadap suatu ajaran agama yang bersumber dari realitas yang mutlak. Di dalam Islam misalnya, terdapat penekanan yang demikian kuat agar setiap muslim mempunyai aqidah (sistem kepercayaan dan keimanan) yang kokoh yang tidak mudah dipengaruhi oleh aqidah yang lainnya. Kedua, dimensi praktek agama. Dimensi ini berkaitan dengan ketaatan seseorang pemeluk agama dalam mengajarkan agamanya terutama yang berbentuk ritual, seperti shalat, puasa, zakat, haji dalam Islam. Ketiga, dimensi pengalaman. Pengalaman agama merupakan tanggapan pemeluk agama yang melibatkan akal, perasaan dan kehendak hati terhadap apa yang dihayati sebagai realitas mutlak. Keempat, dimensi pengetahuan atau intelektual. Pada demensi ini mengacu pada harapan bahwa orang-orang yang beragama paling tidak memiliki sejumlah pengetahuan tentang dasar-dasar keyainan dan juga ritus-ritus, kitab suci dan tradisi-tradisi. Kelima, dimensi konsekwensi, yaitu keberagamaan diukur pada akibat yang ditimbulkan dalam kehidupan social. Agama diharapkan memberikan pengaruh secara nyata dalam kehidupan social manusia.24 Secara umum yang dapat diamati corak keberagamaan di wilayah ini cukup beragam dan dinamis. Keberagaman faham keagamaan tercermin dari beragamnya organisasi keagamaan yang terdapat di wilayah ini, seperti Muhamadiyah, Nahdatul

24

R. Stark dan C.Y.Lock dalam Roland Robertson, Agama dalam Analisa dan Interpretasi Sosiologi, 1988

40

Ulama, Persis, bahkan LDII. Dalam pemahaman dan pelaksanaan kehidupan agama sudah barang tentu sedikit beragam dan berbeda dalam hal-hal yang furu’iyah, walaupun berbeda dalam hal-hal kecil yang furu’iyah namun tetap rukun dan harmonis dan saling menghargai perbedaan. Di wilayah ini hampir tidak pernah terjadi ketegangan yang cukup serius terkait dengan faham keagamaan di kalangan internal umat Islam. Demikian juga dalam kehidupan keagamaan antar umat beragama senantiasa tertata dengan baik, senantiasa rukun dan harmonis. Sebagai daerah yang terbuka dan banyak kaum urban (pendatang) sudah barang tentu mengubah wajah keagamaan masyarakat Cilegon lebih heterogen, tidak saja dalam faham keagamaan internal umat Islam, namun juga dengan berbagai agama lainnya., seperti Kristen, Khatolik, Budha, Hindu, Konghucu. Terlebih saat ini telah terbentu Forum Kerukunan Antar Umat

Beragama (FKUB) di Kota Cilegon. Sebagai forum mediasi dan komunikasi antar komunitas agama. Dari sisi keagamaan jumlah penganut agama di Kota Cilegon mayoritas beragama Islam (97, 69 %) dan lainnya hanya 2,4 % saja. Dengan perincian sbb:

Jumlah prosentase pemeluk agama

NO 1. 2. 3. 4. 5.

Agama yang dianut Islam Kristen (Protestan) Khatolik Hindu Budha

Prosentase 97, 69 % 0, 13 % 0, 34 % 0, 47 % 0, 10 %

41

6.

Lainnya

0, 27 %

Kehidupan keagamaan di wilayah ini juga dinilai cukup dinamis dan semarak dengan berbagai aktifitas, baik peribadatan maupun kegiatan sosial keagamaan lainnya Hal ini juga didukung oleh sarana dan prasarana peribadatan dan tempat-tempat

pengajian (majelis ta’lim) yang tersebar di seluruh pelosok wilayah Kota Cilegon. Keberadaan Masjid di samping sebagai tempat ibadah juga sebagai tumbuh kembangnya syiar Islam melalui pengajian, perpustakaan dan aktifitas lainnya. Di wilayah Kota Cilegon terdapat sekitar 393 Masjid yang tersebar di delapan kecamatan. Salah satu Masjid yang menjadi kebanggaan masyarakat Cilegon adalah masjid Agung Nurul Ikhlas yang cukup megah berdiri kokoh di jantung kota. Masjid ini menjadi pusat ibadah dan juga kegiatan keagamaan dan syiar Islam lainnya. Di samping memiliki masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan, di Kota Cilegon juga terdapat banyak majelis taklim baik yang diadakan di masjid-masjid, maupun lembaga pendididkan dan tempat-tempat lainnya. Adapun jumlah majelis taklim yang tersebar di kota Cilegon berjumlah 395, baik majelis taklim khusus kaum ibu, kaum bapak maupun gabungan antar keduanya. Dengan melihat data di atas dapat digambarkan bahwa kehidupan keagamaan di Kota Cilegon cukup semarak dan berkembang pesat, baik yang dilakukan oleh

masyarakat di pedesaan maupun perkotaan bahkan oleh kalangan industri. Walaupun sarana Peribadatan yang ada di Cilegon sampai saat ini adalah sarana peribadatan untuk

42

umat Islam saja, sedangkan untuk agama lain di luar Islam sampi sekarang belum ada dan masih melaksanakan ibadahnya di Kota Serang. Pembangunan dan pemeliharan secara fisik tempat-tempat ibadah dan fasilitas keagaman lainnya, seperti Masjid, Mushalla, Majelis Ta’lim mengalami peningkatan dari tahun ke tahun baik dari sisi jumlah maupun kualitas fisik bangunan. Pembangunan sarana keagamaan pada umumnya dilakukan oleh swadaya masyarakat dengan cara bergotong royong, dan ada pula yang mendapat bantuan pemerintah maupun perusahaan-perusahaan yang ada di sekitarnya. Kehidupan keagamaan lainnya di wilayah ini juga ditandai dengan keberadaan lembaga-lembaga pendidikan agama, seperti TPA (taman pendidikan al-Qur’an), madrasah Ibtidaiyah, dan madrasah Diniyah, Tsanawiyah, Aliyah dan Pondok-pondok pesantren yang tersebar di 8 delapan kecamatan di Kota Cilegon. Terlebih dengan adanya rencana mewujudkan PERDA tentang Wajib Diniyah di Kota Cilegon,

keberadaan madrasah diniyah semakin tersebar luas dan berkembang pesat dari tahun ke tahun, di berbaga peloksok di Kota Cilegon yang mudah dijangkau oleh semua lapisan masyarakat. Dengan demikian masyarakat Cilegon diwajibkan sekolah agama minimal pada tingkat dasar, dan masyarakat Cilegon bebas buta aksara dan bebas dari buta AlQur’an. Seiring dengan kehadiran industri yang berkembang pesat di Kota Cilegon berdampak kepada orientasi pendidikan pada masyarakat, terkait dengan minat menyekolahkan anak yang berorientasi kerja (pabrikan). Terutama dalam melanjutkan sekolah ke lanjutan tingkat atas, seperti melanjutkan ke SMA, SMK/STM. Namun

43

demikian minat masyarakat menyekolahkan anak2-nya ke sekolah agama seperti ke Madrasah Tsanawiyah, Aliyah dan Pondok Pesantren masih cukup tinggi. Hal ini juga didukung oleh sarana dan prasarana pendidikan agama yang tetap eksis dan

berkembang dalam berbagai tingkatan. Jumlah Lembaga Pendidikan Agama yang terdapat di Kota Cilegon sbb:

Tabel Lembaga Pendidikan Agama NO 1. 2. 3. 4. 5. Nama Tingkat Pendidikan Madrasah Diniyah Madrasah Ibtidaiyah Madrasah tsanawiyah Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Jumlah 133 11 35 20 53 Jumlah Murid 20.851 1.768 8.848 3.519 8.909

Kehidupan keagamaan di Kota ini tampak pada umumnya, di samping aktifitas ritual seperti , shalat, puasa,, zakat dan haji, Shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Juga aktifitas sosial keagamaan lainnya seperti pengajian (majlis ta’lim), majelis zikir, atau yasinan pada malam jum’at. Juga peringatan hari-hari besar lainnya seperti, peringatan Maulid Nabi Muhamad SAW, Isro’ Mi’raj dan tahun baru Hijriyah. Di samping

aktifitas yang terkait dengan kemasyarakatan, juga peringatan dalam momen-momen yang bersejarah dalam kehidupan baik suka maupun duka biasanya digelar acara yasinan

44

atau riungan, seperti dalam acara nujuh bulan dan seperti tahlilan, dan haul.

aqiqah. Bahkan juga kematian,

Kemajuan di berbagai bidang , baik dalam teknologi, transportasi maupun komunikasi yang dirasakan oleh masyarakat dalam satu sisi sangat membantu dan memperlancar serta mempermudah dalam melaksanakan aktifitas keagamaan.

BAB III EKSISTENSI PONDOK PESANTREN DI KOTA CILEGON
A. Sejarah dan Perkembangan Pondok Pesantren Pesantren merupakan pendidikan Islam tertua yang telah berfungsi sebagai salah satu benteng pertahanan umat Islam, pusat dakwah dan pusat pengembangan

masyarakat muslim di Indonesia. Kata pesantren atau santri berasal dari bahasa Tamil yang berarti “guru mengaji”. Sumber lain menyebutkan bahwa kata itu berasal dari bahasa India “Shastri” dari akar kata shastra yang berarti “buku-buku suci”, ‘buku-buku agama’, atau “buku-buku tentang ilmu pengetahuan”. Di luar pulau Jawa lembaga pendidikan ini disebut dengan nama lain, seperti surau (Sumatera Barat), dayah ( Aceh) dan pondok (Jawa dan daerah lain). 25 Menurut Nurcholish Madjid, ada dua pendapat yang bisa dipakai sebagai acuan untuk melihat asal-usul perkataan santri. Pertama pendapat yang mengatakan bahwa kata

25

Ensiklopedi Islam, ( Jakarta : PT Ichtiar Baru Van Houve), 2003, jilid 4

45

santri berasal dari kata “sastri’ (Sansekerta) yang artinya melek huruf. Dapat dikatakan bahwa kaum santri adalah kaum yang melek huruf, oleh karena pengetahuan mereka tentang agama melalui kitab-kitab. Atau paling tidak seorang santri dapat membaca AlQur’an. Pendapat kedua, kata “santri berasal dari Bahasa Jawa “Cantrik”, artinya seorang yang mengabdi kepada guru. Cantrik selalu mengikuti kemana saja gurunya menetap, dengan tujuan dapat belajar darinya mengenai satu keahlian. Pola hubungan guru - cantrik melalui proses evolusi berubah menjadi guru - santri. Kata guru lebih dikhususkan lagi menjadi kiyai yang berarti lebih memiliki makna sakral, keramat, sakti. Pada perkembangan selanjutnya dikenal istilah kiyai - santri.26 Sedangkan tentang asal usul dan latar belakang munculnya pesantren di Indonesia terdapat bebepa versi. Pertama, pendapat yang menyebutkan bahwa pesantren berakar pada tradisi Islam sendiri, yaitu tradisi “tarekat”. Pesantren mempunyai kaitan yang erat dengan tempat pendidikan yang khas bagi kaum sufi. Sebab Rasulullah sebelum melakukan dakwah secara terang-terangan, beliau membentuk suatu kelompok pelopor yang melakukan pertemuan-pertemuan di kediaman Al-Arqam Ibn Abi al-Arqam. Barangkali tempat pertemuan pertama untuk bermusyawarah mengenai masalah-masalah agama dalam Islam adalah kediaman al-Arqam ini yang kemudian menjadi sumber inspirasi bagi pembentukan ribath dan halaqah-halaqah yang selanjutnya melembaga dalam tradisi tasawuf. 27
26

27

Nurcholish Madjid, “ Pola Pergaulan dalam Pesantren” dalam Kasnanto (ed ), Bilik-Bilik Pesantren Sebuah Potret Perjalanan (Jakarta : Paramadina) 1997, hal 19 - 20 Alwi Shihab, Islam Sufistik, (Bandung : Mizan ), 2001, hal 221

46

Pendapat pertama ini berdasarkan fakta bahwa penyiaran Islam di Indonesia pada awalnya lebih banyak dikenal dalam bentuk kegiatan tarekat yang melaksanakan amalan amalan zikir dan wirid-wirid tertentu. Pemimpin tarekat ini disebut kiyai yang

mewajibkan pengikut-pengikutnya untuk melaksanakan suluk selama empat puluh hari dalam satu tahun dengan cara tinggal bersama sesama anggota tarekat dalam sebuah

masjid untuk melakukan ibadah-ibadah di bawah bimbingan kiyai. Untuk keperluan suluk ini kiyai menyediakan ruangan-ruangan khusus untuk penginapan dan tempat memasak yang terletak di sekitar masjid. Di samping mengajarkan amalan-amalan tarekat, para pengikut itu juga diajarkan kitab-kitab agama dalam berbagai cabang ilmu pengretahuan agama Islam. Aktifitas yang dilakukan oleh para pengikut tarekat ini kemudian dinamakan pengajian. Dalam perkembangan selanjutnya lembaga pengajian ini tumbuh dan berkembang menjadi lembaga pesantren. 28 Kedua, Pesantren yang kita kenal sekarang ini pada mulanya merupakan pengambil alihan dari sistem pesantren yang diadakan oleh orang-orang Hindu di Nusantara. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa sebelum datangnya Islam ke Indonesia lembaga pesantren sudah ada di negeri ini. Pendirian pesantren dimaksudkan pada masa itu

sebagai tempat mengajarkan ajaran-ajaran agama Hindu dan tempat

membina kader-kader penyebar Hindu. Tradisi penghormatan murid kepada guru yang pola hubungan antar keduanya tidak didasarkan kepada hal-hal yang sifatnya materi juga

28

Ensiklopedi Islam , Tim Penyusun Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam (Jakarta : PT Ichtiar Baru Van Hoeve) 2003, jilid 4

47

bersumber dari tradisi Hindu. Fakta lain yang menunjukkan bahwa pesantren bukan berakar dari tradisi Islam adalah tidak ditemukannya lembaga pesantren di Negaranegara Islam lainnya. Sementara lembaga yang serupa dengan pesantren banyak di dalam masyarakat Hindu dan Budha seperti di India, Myanmar dan

ditemukan Thailand. 29

Islamisasi di Indonesia dalam abad-abad pertama tidak bisa dipisahkan dari hubungannya dengan India, bahkan beberapa sejarawan berpandangan bahwa Islam masuk ke Indonesia melalui Gujarat, walaupun pandangan ini dianggap memiliki

banyak kelemahan.30 Terlepas dari perdebatan asal mula masuknya Islam ke Nusantara, pengaruh tarekat - tarekat seperti Syatariyah dan juga tarekat “Wahdat wujudnya Ibn ‘Arabi menunjukkan besarnya pengaruh India. Salah seorang ulama asal India, Shibghat Allah yang merupakan syaikh terkemuka Tarekat Syatariyah, ia aktif mengajar di Masjid An-Nabawi di mana halaqahnya banyak dihadiri oleh murid-muridnya yang berasal dari berbagai kawasan Islam termasuk para jamaah haji dari Kesultannan Aceh.31 Walaupun pengaruh-pengaruh India ini ke Nusantara pada dasarnya melalui kota-kota suci di Hijaz, tempat berbagai ulama besar India dan para pengikutnya yang non India mengajar. Melalui Haramayn (Mekkah dan Madinah) sebagai pusat peleburan dalam tradisi intelektual dan juga menciptakan hubungan-hubungan yang menyambungkan
29 30

tradisi keilmuan satu sama lainnya.

31

Ibid. Teori ini dikemukakan oleh para sarjana kebanyakan asal Belanda, seperti Pijneppel dan Snouk Horgronye dan juga Moquette yang menyimpulkan bahwa tempat asal Islam di Nusantara adalah Gujarat. Lihat Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII, hal 87

48

Seorang Arab kelahiran India, Nuruddin al-Raniri merupakan salah satu dari beberapa tokoh yang menunjukkan hubungan langsung antara India dan Indonesia.32 Pesantren di Indonesia baru diketahui keberadaan dan perkembangannya setelah abad ke -16. Karya-karya Jawa klasik seperti Serat Cebolek dan Serat Centini mengungkapkan bahwa sejak permulaan abad ke- 16 di Indonesia telah banyak

dijumpai pesantren yang besar yang mengajarkan berbagai kitab Islam klasik dalam bidang Fikih, teologi, dan tasawuf, dan menjadi pusat-pusat penyiaran Islam. Berdasarkan data Departemen Agama tahun 1985/1985, jumlah pesantren di Indonesia pada abad ke-16 sebanyak 613 buah, tetapi tidak diketahui tahun berapa pesantren-pesantren itu didirikan. Demikian pula berdasarkan laporan pemerintah Hindia Belanda tahun 1831 di Indonesia ada sejumlah 1.853 buah lembaga pendidikan Islam tradisisonal dengan jumlah murid 16.556 orang, namun memisahkan laporan tersebut belum Baru setelah ada

antara lembaga pengajian dan lembaga pesantren.

laporan penelitian Van den Berg pada tahun 1885 diketahui bahwa dari sejumlah 14.929 buah lembaga pendidikan Islam yang ada di Indonesia, 300 di antaranya merupakan lembaga pesantren.33 Terlepas dari berbagai perbedaan pandangan tentang asal muasal pesantren, Wali Songo dipandang sebagai pemrakarsa berdirinya pesantren di Indonesia, dalam

menyebarkan Islam dan mendirikan Ribath dan Halaqah-halaqah sebagai sarana pendidikan untuk mengajarkan agama Islam. Sebagaimana tersurat dalam sejarah
32

33

Martin Van Bruinessen, “Pesantren dan Kitab Kuning : Pemeliharaan dan Kesinambungan Tradisi Pesantren”, Jurnal Ulumul Qur’an, Volume III No. 4 tahun 1992 Ensiklopedi Islam, jilid 4, hal 101

49

Indonesia, Wali Songo adalah pelopor dan pemimpin dakwah Islam yang berhasil merekrut murid untuk kemudian menjalankan dakwah di setiap penjuru negeri. Mereka adalah : 1. Maulana Malik Ibrahim ( w. 1419 M) tokoh pertama yang memperkenalkan Islam di Jawa yang yang dikenal pertama kali mendirikan pesantren. Sebuah system pendidikan yang menyiapkan murid-muridnya menjadi ulama syariat dan mubaligh. Beliau dikenal sebagai syeikh dan pembimbing Wali Songo, begitu tiba di Gresik segera membangun masjid yang dikelilingi rumah-rumah kaum Muslim dan melakukan pengajian-pengajian di dalamnya. Kegiatan seperti ini kemudian melembaga dan berkembang menjadi pesantren. Beliau dimakamkan di Gresik Jawa Timur dan sampai kini makamnya masih tetap menjadi tempat ziarah. 2. Sunan Ampel Raden Rahmat, ia berasal dari Kamboja, di samping menyebarkan agama Islam di Jawa ia membuka asrama santri di Ampel Surabaya. Ia juga dianggap sebagai konseptor ‘dar al Islam” pertama di Jawa. Menurut sebagian penulis sejarah dialah sebenarnya Pembina pondok pesantren pertama di Jawa Timur. 3. Sunan Bonang Maulana Makhdam Ibrahim, putra Sunan Ampel dilahirkan pada 1465 dan wafat 1525 M. Dia mendirikan pesantren di tempat tinggalnya, dia juga adalah salah seorang pendiri kerajaan Demak. 4. Sunan Giri Ibn Maulana Ishak (Raden Paku) bergelar Sultan Abdul al-Faqih. Nama aslinya Muhamad ‘Ain al-Yaqin. Dia sempat berguru pada Sunan Ampel.

50

Oleh karena kharisma dan keperibadiannya yang agung dia bergelar Sultan walaupun tidak menjalankan kekuasaan politik. Dia dianggap sebagi pencipta gending asmarandana dan pucung, ia berjiwa sebagai ahli pendidikan, konon kabarnya ia yang memulai mengadakan cara pendidikan untuk anak-anak dengan memakai permainan yang bernuansa / bermuatan agama. 5. Sunan Drajat Maulana Syarifudin, putera Sunan Ampel yang rakyat ia dianggap sebagai pencipta gending pangkur, ia seorang da’I besar yang juga merupakan salah seorang pendiri kerajaan Demak. Ia dikenal sangat berjiwa sosial yang selalu memberi pertolongan dan peduli terhadap anak-anak yatim piatu dan fakir miskin, 6. Sunan Kalijaga Maulana Muhamad Syahid, seorang da’I yang banyak bepergian, penulis nasehat-nasehat yang dituangkan dalam bentuk wayang. Dia mengadopsi seni Jawa sebagai salah satu cara memperkenalkan ajaran tauhid. Sehingga banyak masyarakat dari berbagai kalangan yang tertarik mengikuti tablignya , baik dari kalangan ningrat, proyayi maupun kalangan intelektual. 7. Sunan Kudus Maulana Jakfar Al-Shadiq Ibn Sunan Utsman. Kegiatannya

berpusat di Kudus. Berkat ketinggian ilmu dan kecerdasan pemahamannya, oleh orang-orang Jawa ia dijuluki “walinya llmu”. Ia yang menciptakan gending maskumambang dan mijil, ia juga dianggap sebagai seorang pujangga yang banyak mengarang cerita-cerita yang bersifat agama. Ide pemberian nama Kota Kudus yang diusulkannya dimaksudkan untuk mendapat berkah dari Bait alMuqaddas (Palestina).

51

8. Sunan Muria Maulana Raden Umar Said putra Maulana Jakfar al-Shadiq.Nama aslinya ialah Raden Prawoto. Ia dianggap sebagai pencipta gending sinam dan kinanti. Ia menyiarkan agama dengan mendekati kaum pedagang, nelayan dan pelaut. Ia tetap mempertahankan gamelan sebagai satu-satunya kesenian Jawa yang sangat digemari rakyat. 9. Sunan Gunung Djati Maulana As-Syarif Hidayatullah penyebar Islam terbesar di Jawa Barat. Di samping sebagai penyebar agama Islam di Jawa barat dan Sunda Kelapa, ia juga sebagai seorang pahlawan. Dia wafat dan dimakamkan di Gunung Djati Kota Cirebon. 34 Setelah para wali sukses menyebarkan Islam dari satu wilayah ke wilayah lainnya dengan cara dan methode yang bijaksana sehingga mudah diterima oleh masyarakat banyak, sehingga Islam menjadi agama yang populis dan banyak pengikutnya. Karena beberapa kelebihan yang dmiliki oleh para wali, membuat masyarakat semakin tertarik untuk belajar dan menimba ilmu dengan mendirikan pondok-pondok kecil tempat

mereka belajar dan beristirahat. Dari sini kemudian berkembang lembaga pendidikan yang kemudian disebut pesantren. Tatkala raja muslim pertama naik tahta di Jawa (1478-1546), pesantren berkembang pesat karena didirikan di setiap wilayah yang diasuh oleh masing-masing anggota Wali Songo itu sendiri. Barangkali motifasi yang mendorong kemajuan

tersebut adalah bahwa raja itu sendiri mendapat pendidikan di pesantren. Pada periode

34

,Drs. Marwan Saridjo, dkk, Sejarah Pondok Pesantren di Indonesia, (Jakarta : Dharma Bhakti), 1979, hal. 19 - 21

52

ini Pesantren menjadi marak sebagai pusat pendidikan sehingga pulau Jawa menjadi salah satu pusat pendidikan Islam menyamai pusat-pusat Islam lainnya di Sumatera. 35 Pada masa-masa kerajaan Islam nusantara, pesantren berdiri di pusat-pusat kekuasaan dan ekonomi rakyat serta menjadi satu-satunya lembaga pendidikan bangsa saat itu, dan pesantren juga menjadi pusat kaderisasi putra-putra mahkota di beberapa daerah di nusantara pada masa itu. Bahkan di Banten penguasanya begitu peduli terhadap pendidikan Islam. Mereka sering mendatangkan ulama-ulama dari Mekkah, bahkan banyak ulama dari Negaranegara lain menjadikan istana Banten sebagai pusat kajian dan studi, pada masa ini (sekitar abad ke- 17 M) Banten merupakan salah satu pusat keilmuan di Nusantara yang patut diperhitungkan. Salah satu pesantren yang terkenal adalah Kasunyatan yang terletak di sebelah selatan kota Banten, didirikan oleh Maulana Muhammad pada akhir abad ke 16 –M. Di samping itu banyak warga Banten yang berguru ke Mekkah dan di antaranya termasuk juga sebagai guru Di Al-Haramain, seperti Syeikh Nawawi AlBantani.36 Dengan demikian perkembangan pesantren di Indonesia dan juga di Banten tidak dapat dilepaskan dari pengaruh Mekkah sebagai pusat sentral agama Islam. Termasuk di dalamnya dari sisi methodelogi pengajaran dan kitab-kitab yang dikaji baik yang tebal maupun yang tipis.37 Walaupun asal ususl pondok pesantren itu sendiri merupakan khas
35 36

37

Alwi Shihab, Islam Sufistik, hal 221-222 Lihat Aswab Mahasin, et-al (ed) Ruh Islam dalam Budaya Bangsa Aneka Budaya di Jawa ( Jakarta : Yayasan Festifal Istiqlal, 1996) hal. 121 Abuddin Nata (ed), Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-lembaga Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta : Grasindo), 2000, hal 95

53

asli Indonesia, sebagai artefak peradaban Indonesia yang dibangun sebagai institusi pendidikan keagamaan bercorak tradisional, unik dan indigenous.38 Sebagai sebuah lembaga pendidikan tradisional, pesantren dari tahun ke tahun mengalami perkembangan yang cukup pesat. Pesatnya perkembangan pesantren pada masa ini antara lain disebabkan oleh hal-hal berikut. Pertama, para ulama dan kiyai mempunyai kedudukan yang kokoh di lingkungan kerajaan dan keraton, yaitu sebagai penasehat raja atau sultan. Bahkan beberapa pondok pesantren didirikan atas dukungan keraton, seperti pondok pesantren tegalsari di Jawa Timur yang diprakarsai oleh susuhunan Pakubuwono II. Kedua, kebutuhan umat Islam akan sarana pendidikan yang mempunyai ciri khas keislaman juga semakin meningkat, sementara sekolah-sekolah Belanda waktu itu hanya diperuntukkan bagi kalangan tertentu. Ketiga, hubungan transportasi antara Indonesia dan Makkah semakin lancar, sehingga memudahkan pemuda-pemuda Islam dari Indonesia menuntut ilmu ke Mekkah. Sekembalinya ke tanah air mereka biasanya langsung mendirikan pondok pesantren di daerah asalnya . Pada masa-masa berikutnya lembaga pesantren berkembang terus baik dalam segi jumlah, sistem dan juga materi yang diajarkan. Bahkan pada tahun 1910 beberapa pesantren, seperti pesantren Denanyar Jombang mulai membuka pesantren khusus untuk wanita. Dan pada tahun 1920-an beberapa pesantren di Jawa Timur, seperti pesantren Tebu Ireng (Jombang) dan Singosari (Malang) mulai memasukan pelajaran umum ke

38

Kusnanto (ed) , Bilik-Bilik Pesantren : Sebuah Potret Perjalanan, (Jakarta : Paramadina) 1997, hal. 3

54

dalam kurikulum pesantren, seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Belanda, Berhitung dan sejarah juga ilmu bumi. Seiring dengan terjadinya proses modernisasi di Indonesia, salah satunya adalah pembaharuan di bidang pendidikan. Maka perkembangan penting lainnya yang terjadi dalam kehidupan pesantren adalah ketika dimasukannya system madrasah.
39

Hal ini

dianggap sebagai pengimbang terhadap pesatnya pertumbuhan sekolah-sekolah yang memakai system pendidikan Barat. Di samping juga karena adanya desakan

modernisasi dan tuntutan perubahan, salah satunya adalah terhadap lembaga pendidikan tipikal muslim. Adanya perkembangan baru dari sistem pesantren ke madrasah

merupakan perkembangan dari metode yang tradisional ke pendidikan klasikal. Hal tersebut merupakan perwujudan dari usaha konvergensi dan sintesa di bidang pendidikan, di mana madrasah diberikan kedudukan sebagai lembaga yang memenuhi perimbangan antara pendidkan Timur dan Barat .40 Dengan masuknya sistem madrasah, jenjang-jenjang pendidikan di pesantren juga ikut menyesuaikan diri dengan jenjang, Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan ‘Aliyah. Di samping itu pesantren juga mengalami perubahan dalam segi kurikulum dengan ditambahkannya sejumlah pelajaran umum. Di samping pengajaran kitab-kitab klasik dengan metode sorogan dan wetonan tetap dipertahankan.

39

40

Madrasah sebagai lembaga pendidikan tipikal muslim, istilah ini baru digunakan agak luas sejak abad ke-9, sebelumnya lemabag pendidikan dilaksanakan dalam halaqah, majelis tadris dan kuttab. Lebih jauh lihat Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII, hal 55 - 58 Lebih jauh lihat, A.Karl Stenbrink, Pesantren, Madrasah dan Sekolah, hal 100-101

55

Pesantren di Banten Banten sebagai salah satu pusat kekuasaan Islam di Nusantara memiliki andil besar dalam proses Islamisasi Nusantara. Perkembangan Banten sendiri setidaknya ditandai oleh beberapa hal: Pertama, adanya kecenderungan masyarakat untuk menunaikan ibadah haji semakin tinggi dengan jumlah orang yang menunaikan ibadah haji meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan ini tidak saja menandakan pertumbuhan kaum elit agama, namun juga melalui ibadah haji terjadi jalinan dan interaksi intelektual antara wilayah-wilayah muslim dengan Mekkah sebagai jantung kehidupan agama.41 Kedua, pertumbuhan yang luar biasa dari pesantren-pesantren yang berfungsi sebagai tempat pendidikan dan juga peserta-peserta gerakan yang militan. Ketiga, pertumbuhan Masjid-masjid yang selalu sesak oleh jamaah terutama pada hari jum’at. Keempat, Bangkitnya kembali mistik Islam seperti yang menjelma dalam tarekat-tarekat.42 Sedikit sekali informasi yang diperoleh yang menjelaskan tentang sejarah perkembangan pesantren di Banten. Keberadaan pesantren di Banten dikenal sudah lama seiring dengan adanya proses islamisasi di Banten. Menurut kisah dalam Serat Centini, di Banten telah berdiri sebuah pesantren tua yang dikenal dengan “Pesantren Karang” karena letaknya di sekitar gunung Karang Pandegelang. Dalam kisah ini diceritakan bahwa Danadarma salah seorang tokoh asketis dalam Serat Centini, mengakui bahwa dia belajar selama tiga tahun di Karang di bawah bimbingan Syeh Kadir Jelani seorang
41

dan kebangkitan Islam di

42

Lebih jauh lihat Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad ke- VII & VIII, dan juga Sartono Kartodirdjo, Pemberontakan Petani Banten 1888. Sartono Kartedirdjo, Pemberontakan Petani Banten 1888, hal 214-215

56

tokoh sufi besar. Demikian juga salah seorang tokoh utama lainnya dalam kisah itu Jayengresmi atau Among Raga belajar di paguron Karang di bawah bimbingan guru Arab Syeh Ibrahim bin Abu Bakar yang dikenal dengan “Ki Ageng Karang”. 43 Walaupun dalam kisah Serat Centini memang tidak menyebutkan pesantren, tapi

Paguron atau Padepokan. 44 Pada awal perkembangannya keberadaan pesantren di Banten tidak dapat dipisahkan dari tarekat dan juga politik. Pesantren pada umumnya di samping mengajarkan ilmu-ilmu agama seperti, mengaji (tata cara membaca al-Qur’an), fiqh (tata cara ibadah) tauhid, juga bahasa Arab, juga tidak bisa dilepaskan dari ajaran tasawuf. Perkembangan tarekat cukup mewarnai perkembangan pesantren-pesantren di Banten terutama pada masa- awal sejarah Banten. Pesantren dan tarekat di Banten dipandang telah melahirkan kekuatan-kekuatan militant di samping juga menjadi benteng-benteng kebangkitan kembali Islam, dan kemudian berkembang menjadi kekuasaan politik para kiyai. Kekuasaan politik para kiyai atau haji sebagai guru ngaji maupun guru tarekat dalam hal ini tarekat kadiriyah telah terbukti selama beberapa dekade di Banten. Kedudukan kiyai atau haji lebih dihormati atau ditaati. Dengan demikian tidak mengherankan bahwa kiyai dapat dengan mudah menggerakkan orang. Kiyai sebagai kaum elit agama memiliki pengaruh yang sangat kuat dan dominant tidak hanya pada masyarakat pada lapisan bawah namun juga nampak di kalangan pejabat-pejabat Banten secara keseluruhan baik yang berpangkat tinggi maupun yang
43

44

Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat : Tradisi-Tradisis Islam di Indonesia (Bandung : Mizan) 1999 Martin Van Bruinessen, Ibid.

57

berpangkat rendah. Mereka memberikan hormat dan perlakuan yang istimewa kepada para kiyai. Seringkali para pejabat meminta nasehat dan petunjuk dalam melaksanakan tindakan dan kebijakan yang dijalankan termasuk juga dalam mempengaruhi penduduk. Sudah barang tentu keadaan tersebut menjadi sebuah ancaman bagi penguasa kolonial. Perkembangan pesantren di Banten semakin pesat seiring dengan meningkatnya jumlah ulama yang kembali dari menunaikan ibadah haji dan menuntut ilmu di

Haramain. Hampir semua ulama-ulama Islam Indonesia banyak menghabiskan waktunya di Mekkah dan Madinah dan pusat-pusat pengajaran Islam lainnya di Timur Tengah. Namun bukan hanya para ulama tapi juga para penguasa Islam masa lalu merujuk ke Mekkah untuk mendapatkan legitimasi atau paling tidak mendapatkan ilmu untuk kekuatan spiritual. Salah satunya Abul Al-Mafakhir Mahmud salah seorang penguasa kerajaan Banten yang ke-empat, mengirim utusan ke Mekkah untuk meminta pengakuan sebagai Sultan dari penguasa (Syarif) Mekkah, sebagai salah satu usaha untuk memperkuat kembali legitimasi keagamaannya. Di samping belajar di Mekkah masyarakat Banten terdahulu juga belajar di Pesantren-pesantren terkenal saat itu seperti pesantren Sida Cerma di Surabaya,

Pesantren Lengkong dan Punjul di Cirebon. Setelah mereka selesai berguru, mereka pada umumnya mendirikan pesantren-pesantren di wilayahnya masing-masing. Pesantren-pesantren awal kemudian mencetak ulama dan guru-guru agama sehingga jumlahnya semakin meningkat. Sekembalinya menuntut ilmu di pesantren mereka pada umumnya kembali ke daerah asal dan memberika pelajaran baik dirumahrumah, di masjid-masjid atau bahkan mampu mendirikan pesantren baru. Kemudian

58

banyak dari mereka melanjutkan

pendidikannya dan memperdalam pengetahuan

agamanya ke Mekkah, Madinah maupun Mesir. Sambil menunaikan ibadah haji umumnya mereka mukim dalam waktu yang lama. Mereka juga terlibat aktif dalam kehidupan intelektual dan spiritual di Haramaian. Salah satu ulama ternama asal Banten yaitu, Syekh Nawawi al-Bantani, ia dikenal sebagai ulama besar yang sangat dikenal dan diakui keluasan ilmunya tidak hanya di tanah air, namun juga di dunia Islam, bahkan beliau mendapat gelar “Sayyid Ulama alHijaz (pemimpin para ulama Hijaz). Baliau juga dikenal memiliki banyak murid dan banyak menulis karya dalam berbagai bidang keilmuan, seperti tafsir, fiqih, karyanya – karyanya tersebut menjadi rujukan utama di pesantren-pesantren di tanah air. Menurut hasil survey pemerintah Belanda tahun 1819 tidak diketemukan pesantren besar di Banten, namun demikian mengajarkan membaca dan menulis.45 banyak ulama-ulama besar di Banten yang Meskipun tidak ditemukan pesantren besar,

namun pesantren-pesantren kecil yang banyak jumlahnya di Banten mempunyai peran penting dalam pendidikan dan dakwah di samping juga menjadi benteng perjuangan rakyat dan pembrontakan terhadap pemerintah kolonial. Dengan demikian Banten merupakan salah satu pusat perkembangan penyebaran Islam, ulama dan juga pesantren. Kini di Banten tumbuh dan berkembang berbagai pesantren, dalam jumlah yang banyak yang tersebar di berbagai wilayah, baik yang salafi (tradisional), kombinasi maupun yang Khalaf (moderen). Beberapa di antaranya berkembang di kota Cilegon. Pondok pesantren yang dikenal cukup besar dan terkenal
45

Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning, hal 261

59

di kota Cilegon di antaranya adalah

perguruan Islam Al-Khairiyah Citangkil dan telah

Madrasah Jauharatun-Naqiyah Cibeber. Kedua lembaga pendidikan tersebut berkiprah cukup lama, peran dan

pengaruhnya cukup besar bagi pembangunan

masyarakat kota Cilegon, terutama dalam bidang pendidikan, dan juga dalam kehidupan sosial dan keagamaan. Perguruan Islam Al-Khairiyah didirikan oleh Al-Mukarram K.H. Syam’un bin H. Alwiyan (1894 – 1948) di Desa Citangkil Cilegon, beliau adalah cucu KH. Wasid seorang pejuang dan sekaligus juga pemimpin “Geger Cilegon”. KH. Syamun menyelesaikan pendidikan dasarnya di pesantren Delingseng dan Pesantren Kamasan, kemudian melanjutkan pendidikannya ke Mekkah dan Mesir. Sekembalinya dari

Makkah dan Mesir, ia mendirikan pesantren Al-Khairiyah. Perguruan ini didirikan dalam dua tahap, yaitu tahap pertama pada tahun 1916-1923 dengan sistem pesantren tradisional, dan tahap kedua pada tahun 1925 dengan sistem madrasah (klasikal). Pada tanggal 5 Mei 1925 Pesantren Al-Khairiyah berubah menjadi Madrasah Al-Khairiyah. Madrasah Al-Jauharatun-Naqiyah didirikan oleh KH. Abdul Latif pada Tahun 1931 di Cibeber Cilegon. Beliau bersama isterinya lama bermukim di Mekkah dan berguru kepada beberapa ulama terkemuka. Sekembalinya dari Mekkah beliau berguru ilmu tarekat pada KH. Asnawi Caringin seorang mursyid tarekat Qadiriyah yang terkemuka di Banten. Di samping sebagai pengasuh dan pendidik di Madrasah AlJauharatun-Naqiyah beliau juga banyak memberikan pengajian pada masyarakat di sekitarnya di beberapa majlis ta’lim baik bagi kaum bapak maupun kaum ibu.

60

Kedua Pesantren tersebut kini masih tetap eksis dan berkembang dan memiliki beberapa cabang, baik di sekitar Banten, Jakarta dan juga Sumatera. Di samping kedua pesantren tersebut di Cilegon kini juga berkembang berbagai pondok pesantren baik yang tradisional (salaf) maupun yang kombinasi dan bahkan yang moderen.

B. Kondisi dan Tipelogi Pondok Pesantren Pondok pesantren dan Madrasah yang berkembang di kota Cilegon dahulu umumnya merupakan cabang dari madrasah Al-Khairiyah Citangkil dan Jauharatun Naqiyah Cibeber yang dikembangkan oleh para murid di wilayahnya masing-masing setelah menimba ilmu di kedua pesantren tersebut. Untuk kelangsungan kehidupan madrasah-madrasah tersebut mereka pada umumnya mendirikan yayasan sebagai penyantun dan pengelola. Di bawah naungan yayasan-yayasan tersebut lembaga pendidikan semakin berkembang. Tidak hanya berupa madrasah, namun juga berdiri pondok pesantren, (asrama), masjid, bahkan panti dan juga koperasi dan fasilitas lainnya. Di Kota Cilegon saat ini telah berdiri sekitar 52 pondok pesantren yang tersebar di delapan kecamatan. Dengan perincian sebagai berikut :

Kecamatan Cilegon Ponpes 1. Darul Falah 2. Al-Mubtadiin Kiyai Pendiri KH. Subhi A. Sufiyan Tahun 1999 1995 Jumlah Santri 54 orang 175 orang

61

3. Darul Ikhwan 4. Ashohabah 6. Al-Bustaniyah 7. Hidayatullah 8. Bany Syafii 9. Al-Hidayah

KH.Syabrowi KH. Mastur Hanan KH.Syam’un Abduh, LC. A. Budiono KH.A.Alimudin KH. Suhemi

1984 1969 1999 1994 1998 1991

35 orang 130 orang 30 orang ---------90 orang 140 orang

Kecamatan Ciwandan Ponpes 1. Al-Khaeriyah 2. Al-Hidayah 3. Miftahul Huda 4. Bani Abdillah 5. Al-Ittmam 6. Al-Hasyimiyah 7. Al- I’Anah 8. Hidayatussibyan 9. Nurusa’adah 10 .Al-Hikmah 11. Miftahul ‘Ulum 12. Baiturrahman 13. Bani Kosim Kiyai Pendiri KH. Ali Jaya KH. Abdul Hadi KH.Abdul Hadi KH. Abdullah Ust. Mistal Syamsudin KH. Hasyimi, M.S., LC. KH. Hasun Alihan KH. Sayuti Drs. Rosidi KH. Basyaruddin Drs.H. Alwani Drs.KH. Sulaeman, MA. KH.Abd.Kosim Tahun 1974 1940 1974 1982 1980 1992 1970 1971 2001 1985 2003 1975 1985 Jumlah Santri 140 orang 245 orang 170 orang 75 orang 46 orang 269 orang 190 orang 170 orang 140 orang 105 orang 20 orang 125 orang 145 orang

62

14. Raudhatul ‘Ulum KH.Ali Jaya

1964

55 orang

Kecamatan Purwakarta Ponpes 1. Nasrul Ulum Kiyai Pendiri KH.M.Sholeh Tahun 1955 1996 1998 1983 1987 1978 Jumlah Santri 45 orang 45 orang 175 orang 40 orang 95 orang 30 orang

2. Bani Sholeh An-Nawawi Ust.Nawawi Sholeh 3. Bani al-Qamar 4. Al-Mubaraq Bani Suhud 5. Al-Muttaqien 6. Bani Damin KH.Hasbullah KH.A.Zuhdi S . Ust. Yasin KH.Madamim

Kecamatan Citangkil Ponpes 1. Al-Furqan 2. Al-Khaeriyah Citangkil 3 .Al-‘Araf Kiyai Pendiri KH.Harun A.R. KH.Syam’un A. Tahun 1999 1925 Jumlah santri 31 orang 105 orang ----------

Abdullah Wali ,S.Ag. 1999

Kecamatan Cibeber Ponpes 1. Nurul Huda Ashofwani 2. Annahdliyyin 3. Raudhatul Muta’alimin Kiyai Pendiri KH.Istahari Tahun 1950 Jumlah santri 72 orang 265 orang 296 orang

KH. Chaerudin R. 1985 KH. Baghawi 1975

63

4. Al-Inayah 5. Bani Lathif 6. Tarbiyatul Iffah 7. Darul Ulum 8. Mamba’ul Huda 9. Hidayatul Manan 10 .Raudhatul Mubtadiin 11. Raudhotutholibin

KH. Junaedi Aziz KH. Abdul Lathif

1984 1950

900 orang 154 orang 53 orang 20 orang 100 orang 50 orang 177 orang ----------

Ust.Khaerudin Nasim 2001 HJ.Salhah 1972

Ust.Rafiudin Malik 1980 H.Mursi Qudsi KH.Abdurrahman Ust. Amin Fathoni 1996 1958 2001

Kecamatan Gerogol Ponpes 1 .Bani Hasun 2. Al-Munawwaroh 3. Al-Muta’allimin 4. Al-Jami’atussibyan Kiyai Pendiri KH. Hasun Tahun 1993 Jumlah Santri 140 orang 110 orang 120 orang ------------

KH. Hilman Isma’il 1998 H.M. Romli Ust.H. Jazuli 1985 2003

Kecamatan Jombang Ponpes 1. Nurul A’la 2. Al-Mubaraq 3. Al-Darul Ihsan 4. Al-Muzakarah Kiyai Pendiri KH. Aliyumi Ust. Syafei KH. M. Ru’yat Ust. Sonhaji Tahun 2003 1995 2000 2003 Jumlah Santri 83 orang 95 orang 110 orang -----------

64

5. Darul Mubtadiin

Ust. Subandi

2002

56 orang

Kecamatan Pulomerak Ponpes 1. Annuromaniyah Kiyai Pendiri Ust. Jamhuri Tahun 1985 Jumlah santri 100 orang

Adapun fokus penelitian ini hanya pada beberapa pesantren tradisional dan tradisional-kombinasi yang dipandang representatif, baik dari sisi wilayah, maupun tipelogi, dan juga jumlah santri. Dalam hal ini pesantren yang menjadi fokus penelitian adalah ; Pondok Pesantren Salafiyah An-Nahdiyin di Kecamatan Cibeber, Pondok Pesantren Salafiyah Bani Latif Di Cibeber, Pesantren Salafiyah As-Shohabah di Kecamatan Cilegon, Pondok pesantren Salafiyah Bani al-Qamar Karang Tengah, Pondok Pesantren Al-I’anah Kecamatan Ciwandan, Pondok Pesantren Al-Munawwaroh Kecamatan Gerogol. Empat pesantren yang pertama merupakan pesantren salafiyah (tradisional murni) sedangkan dua pesantren yang terakhir merupakan pesantren tradisional - kombinasi. Pesantren yang menjadi obyek penelitian umumnya terletak di daerah perkotaan, bukan dipelosok pedesaan seperti umumnya pondok pesantren jaman dahulu, dan hanya dua pesantren yang terletak di daerah pedesaan yaitu pesantren al-I’anah yang terletak di kampung Jangkar Wetan dan pesantren Bani al-Qamar yang terletak di Kampung Karang Tengah. Di mana kehidupan masyarakat di sekitar kedua pesantren tersebut mayoritas petani, sedangkan kehidupan masyarakat di keempat pesantren lainnya ,

65

seperti di Ponpes al-Munawwaroh, Ponpes Bani Latif, Ponpes Al-Nahdiyyin dan Ponpes As-Shohabah, kehidupan masyarakatnya merupakan kaum pedagang, karyawan

pabrik, pelabuhan, dan pertokoan, buruh pasar, industri home, pegawai pemerintahan dan petani. Namun demikian latar belakang kehidupan santri yang belajar di pondok pesantren tersebut umumnya anak petani, buruh, dan pedagang antaranya dari anak pegawai pemerintahan. Dari sisi kategori pesantren terdapat kelompok kelas pesantren. Pertama pesantren yang tergolong kecil, yaitu jumlah santrinya di bawah 1000 orang dan pengaruhnya terbatas pada tingkatan kabupaten. Kedua, pesantren menengah biasanya memiliki serta beberapa di

santri antara 1000 – 2000 orang yang berasal dari berbagai kabupaten. Ketiga, pesantren besar biasanya memiliki santri lebih dari 2000 orang yang berasal dari berbagai kabupaten dan propinsi, bahkan dari luar negeri.46 Pondok Pesantren yang berkembang di Cilegon umumnya termasuk kategori pesantren kecil, yaitu pesantren yang memiliki jumlah santrinya di bawah 1000 (seribu) yakni hanya berjumlah ratusan dan ada juga yang hanya puluhan dan pengaruhnya hanya terbatas di tingkat Kabupaten atau Kota, bahkan hanya pada tingkat Kecamatan dan Desa. Walaupun ada beberapa santrinya yang berasal dari luar Kota atau luar daerah, namun hanya dalam jumlah kecil. Secara umum kondisi pondok pesantren di Cilegon dari sisi fisik merupakan bangunan permanent ( gedung) yang umumnya berdiri di tanah wakaf, baik wakaf kiyai dan kelurganya, maupun wakaf dari masyarakat. Umumnya pondok pesantren yang
46

Lihat Zamakhzari Dhofier, Tradisi pesantren, hal. 44

66

berada di Kota Cilegon saat ini merupakan generasi penerus yang mewarisi warisan dari orang tua. Di mana bangunan fisik pondok dibangun dari bagian rumah kiyai dengan mendirikan kamar-kamar yang diperuntukan bagi pemondokan santri. Seperti yang peneliti amati di beberapa pesantren, seperti di pesantren An-Nahdiyyin, pesantren Ashohabah, dan Ponpes Bani Latif. Sedangkan di Pesantren al-I’anah pemondokan santri yang sebelumnya berada di belakang rumah kiyai, oleh karena sudah tidak memadai dan mencukupi maka sebagian di tempatkan pada pemondokan di sekitar madrasah yang terletak beberapa meter dari rumah kiyai. Sedangkan di pesantren AlMunawwaroh santri (putra) ditempatkan di pemondokan milik yayasan di sekitar madrasah dan santri putri karena pondok di madrasah tidak mencukupi maka ditempatkan di kamar-kamar di belakang rumah kiyai. Demikian juga di pesantren Bani al-Qamar santri putri umumnya ditempatkan di sekitar rumah kiyai, dan santri putra di asrama. Pembangunan fisik pesantren dan juga pengelolaan pesantren pada umumnya dilakukan secara swadaya (mandiri) oleh kiyai dan keluarganya, dan tidak melibatkan masyarakat dalam hal pendanaan. Masyarakat yang terlibat hanya sebagai buruh bayaran. Kehidupan pondok pesantren sepenuhnya mengandalkan kemampuan kiyai sebagai pemilik dan juga pewaris atau pengasuh, dan tidak ada pondok pesantren yang memiliki donatur baik yang bersifat sukarela maupun donatur tetap. Walaupun demikian ada beberapa pesantren yang pernah menerima bantuan yang bersifat insidental pada momen-momen tertentu. Seperti Ponpes Al-Munawwaroh pernah menerima bantuan dari perusahaan gas Negara (PGN) setiap bulan Rhamadan.

67

Bantuan berupa peralatan sekolah dan uang yang diperuntukan bagi santri yatim dan yang tidak mampu. Bantuan juga datang dari PT.Telkom berupa 5 set computer dan

jaringan internet. Demikian juga dengan Pondok pesantren An-Nahdiyin yang pernah mendapatkan bantuan berupa uang 5 juta dan paket dari wajar Dikdas, dan seperangkat mesin jahit dan mesin obras dari koperasi. Sedangkan untuk bantuan berupa paket dari wajar Dikdas hampir seluruh pondok pesantren pernah menerimanya, kecuali pondok pesantren Bani Latif Cibeber. Adapun pembiayaan pembangunan, pemeliharaan dan pengelolaan pondok pesantren di sini umumnya hanya bersumber sepenuhnya pada pengurus yayasan maupun pengasuh dalam hal ini kiyai. Pendanaan pendidikan di pondok pesantren kecil sangat berbeda dengan pendanaan di ponpes moderen dan besar. Manajemen di ponpes moderen dan besar umumnya menggabungkan antara manajemen sekolah sekaligus pondok, termasuk dalam pembiayaan. Di mana para santri membayar sekaligus semua kebutuhan sekolah dan pakaian, buku bahkan penginapan dan biaya makan. Di Pesantren-pesantren kecil di Cilegon yang tradisional – kombinasi, umumnya memisahkan manajemen sekolah dengan manajemen pondok. Manajemen sekolah dikelola oleh pihak sekolah yang bukan hanya keluarga kiyai, namun juga dibantu oleh beberapa guru dari berbagai latar belakang bahkan ada yang PNS. Sedangkan

manajemen pondok dikelola oleh kiyai dan keluarganya dan dibantu oleh beberapa alumni, namun wewenang mutlak dan kendali sepenuhnya ada di tangan kiyai. Adapun partisipasi santri bagi pembiayaan pondok-pondok ini hanya berupa

uang listrik dan air yang jumlahnya antara tujuh ribu sampai sepuluh ribu rupiah dengan

68

biaya makan ditanggung dan dikelola oleh santri sendiri. Seperti yang terjadi di Pondok pesantren Al-Munawwwaro, Pesantren Bani al-Qamar, Pesantren Bani Latif, dan di pesantren Al-I’anah. Sedangkan di Pesantren An-Nahdiyin dan Ashohabah biaya yang dikeluarkan santri sekitar 115 ribu sampai 150 ribu, meliputi biaya makan, listrik dan air. Dengan demikian kehidupan pondok – pondok pesantren kecil ini sangat mandiri karena tidak memiliki donatur baik yang sukarela maupun yang tetap. Di samping juga tidak memiliki kegiatan usaha untuk penghidupan pondok. Semua kebutuhan fisik seperti pembangunan dan pengelolaan pondok sepenuhnya bergantung pada kemampuan kiyai. Walaupun kehidupan kiyai sangat sederhana dan tidak semua memiliki materi yang berlimpah, namun pondok-pondok tersebut masih tetap berdiri dan berkembang. Dengan kemandirian dan kesederhanaan pondok-pondok pesantren di sini masih tetap eksis dan melakukan berbagai aktifitas serta terus melakukan pengembangan, baik pada fasilitas dan sarana pendidikan maupun fasilitas penunjang lainnya. Adapun fasilitas, sarana dan prasarana yang dimiliki oleh beberapa pondok pesantren di sini meliputi; Masjid, Madrasah, Asrama, Koperasi, Majelis Taklim, dan sarana olah raga. Dari enam pondok pesantren yang menjadi obyek penelitian, sarana dan fasilitas yang dimiliki beragam. Pondok pesantren Al-Munawwaroh dan Bani Latif memiliki semua sarana dan fasilitas tersebut di atas, di samping masjid, dan juga koperasi yang ada di pondok pesantren Al-Munawwaroh. Sedangkan empat Pondok pesantren lainnya, yaitu An-Nahdiyyin, As-Shohabah, Al-I’anah dan Bani Qamar sudah memiliki sarana dan fasilitas tersebut, hanya belum

69

belum memiliki Masjid dan koperasi yang dikelola oleh pondok pesantren. Untuk beribadah Shalat fardlu umumnya mereka menempati mushalla yang sekaligus majlis taklim, adapun untuk shalat jum’at para santri dan kiyai melaksanakan di masjid kampung dan berbaur dengan masyarakat kampung lainnya. Adapun kegiatan santri

pada umumnya dipustkan di aula atau majelis ta’lim yang sekaligus juga berfungsi sebagai mushalla di dalam pondok. Sedangkan dari sisi tipelogi dan klasifikasi pesantren , dalam peraturan yang dikeluarkan oleh menteri agama nomor 3 tahun pesantren sebagai berikut : 1. Pondok pesantren tipe A, yaitu di mana para santri belajar dan bertempat tinggal di asrama lingkungan pondok pesantren dengan pengajaran yang berlangsung secara tradisional (sistem wetonan atau sorogan). 2. Pondok pesantren tipe B, yaitu yang menyelenggarakan pelajaran secara klasikal dan pengajaran oleh kiyai bersifat aplikasi, diberikan pada waktu-waktu tertentu, santri tinggal di asrama lingkungan pondok pesantren. 3. Tipe C, yaitu pondok pesantren yang merupakan asrama, sedangkan para santrinya belajar di luar (madrasah atau sekolah umum) kiyai hanya mengawasi dan sebagai Pembina para santri tersebut. 4. Pondok pesantren tipe D, yaitu yang menyelenggarakan sistem pondok pesantren dan sekaligus sistem sekolah atau madrasah.47 1979, mengklasifikasikan pondok

47

lihat, H. mahpuddin Noor, Potret Dunia Pesantren , Bandung : Humaniora, 2006, hal. 43-44

70

Dari sekian tipe pondok pesantren dalam menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran bagi para santrinya secara garis besar seringkali dikalsifikasikan dalam dua tipelogi. Pertama, tipe salafiyah, yaitu yang menyelenggarakan pendidikan dan

pengetahuan keislaman, al-Qur’an dan ilmu-ilmu agama lainnya yang merujuk pada kitab-kitab kalsik (kuning) dengan menggunakan cara-cara sebagaimana awal pertumbuhannya. Kedua, Tipe Khalafiyah, yaitu pondok pesantren di samping menyelenggarakan kegiatan-kegiatan kepesantrenan pada umumnya juga

menyelenggarakan kegiatan pendidikan formal. (sekolah atau madrasah). Dengan merujuk pada beberapa kalsifikasi dan tipelogi di atas, pondok pesantren di Cilegon terdiri dari beberapa klasifikasi maupun tipe. Dari sekitar 52 Pondok pesantren di Cilegon, sekitar 25 pondok pesantren bertipe salafiyah (tradisional murni), dalam pengertian pondok pesantren ini tidak memiliki sekolah formal, namun demikian para santri umumnya pelajar yang menuntut ilmu di sekolah atau madrasah di sekitar pesantren. Di antara pondok pesantren tersebut mengajarkan banyak pengetahuan agama Islam dan kajian kitab kuning, juga ada beberapa di antaranya hanya pesantren kecil di mana para santrinya tidak menginap (santri kalong). Pesantren tipe ini umumnya hanya mengajarkan Al-Qur’an (ngaji) dan nahu saraf. Sedangkan 25 pondok pesantren lainnya di antarnya bertipe khalafiyah (tradisisonal- kombinasi ), di samping tetap menggunakan sistem tradisi pondok pada umumnya dengan menggunakan metode tradisional, namun juga menyelengarakan pendidikan formal, seperti madrasah/ sekolah dalam berbagai tingkatan, yaitu madrasah

71

ibtidaiyah, tsanawiyah dan aliyah. Sedangkan 2 pesantren di antaranya merupakan pondok pesantren moderen. Tipe tradisional murni yaitu pondok pesantren yang tidak memiliki sekolah atau madrasah. Namun para santri umumnya belajar pada sekolah formal yang terletak di sekitar pondok pesantren, di samping juga terdapat murni santri pondok. Di pesantren tersebut umumnya mengajarkan kitab-kitab klasik (kuning) dengan menggunakan

berbagai methode tradisional seperti sorogan, bandungan maupun wetonan. Adapun kitab-kitab yang umumnya dikaji di Pondok-pondok pesantren ini hampir sama, seperti : Tafsir Jalalain, Tafsir Munir, Fathul Qarib, Fathul Mu’in, Kifayatul Akhyar, T’alimul Muta’allim, Ikhya’Ulumuddin, Bulughul Maram, Riyadusholihin, Alfiyah, Jurumiyah, matan Bina, Imriti, Syarah Ibn Aqil, Musthalah Hadits, kitab Dalail. Qawaidul Lughah, Tajwid. Tipe pondok pesantren tradisional murni di sini seperti, pondok pesantren AnNahdiyyin, Pesantren Ashohabah, Pesantren Bani Latif, Pesantren Bani al-Qamar.

Walaupun tidak memiliki sekolah namun para santri di keempat pesantren tersebut umumnya sambil sekolah di beberapa madrasah, seperti di madrasah Al-Jauharatun Naqiyah Palas ataupun di al-Inayah Jerang, madrasah al-Jauharatyn Naqiyah Cibeber dan Madarasah al-Khaeriyah Karang Tengah. Di samping juga ada beberapa yang murni santri (tidak sekolah) namun diikut sertakan pada program paket, baik paket A, paket B, maupun paket C. Di samping itu juga ada beberapa santri mahasiswa yang mondok sambil kuliah di beberapa perguruan tinggi. Di pondok pesantren Ashohabah terdapat mahasiswa IAIN SMH Banten, dan juga mahasiswa STIT Al-Khaeriyah.

72

Di pondok pesantren tradisonal ini santri tidak hanya diajarkan kitab kuning atau kitab gundul, namun juga diajarkan muhadharah (latihan pidato) talaqqi, taghanni (melagukan qiraat al-Qur’an), dalail. Terlebih di pondok pesantren As-Shohabah yang memiliki kekhasan sebagai pondok pesantren Al-Qur’an yang mengajarkan santri cara membaca al-Qur’an yang baik dan benar dan juga indah. Di Pondok pesantren ini di samping mendalami ilmu tajwid juga macam-macam qiraat dan juga tahfizd. Di samping juga kitab-kitab seperti tafsir, Hadits, fiqh dan nahu sharaf. Kedua, Tipe pondok pesantren tradisional kombinasi, yaitu pondok pesantren yang memiliki sekolah atau madrasah, di mana santri diajarkan tidak saja ilmu-ilmu agama namun juga ilmu pengetahuan umum di sekolah, namun juga mengajarkan kitabkitab klasik di pondok dengan menggunakan methode tradisional seperti bandungan, sorogan, dan juga wetonan. Sedangkan pendidikan di pondok dilakukan selepas jam sekolah, umumnya ditekankan pada ilmu-ilmu agama Islam yang merujuk pada AlQur’an, hadits dan kitab-kitab kalsik (kuning / gundul). Pondok pesantren yang menjadi objek penelitian dalam tipe ini adalah, Pondok pesantren Al-I’anah yang juga memiliki lembaga pendidikan madrasah Tsanawiyah dan Aliyah al-I’anah Jangkar-Ciwandan. Pondok pesantren Al-Munawwaroh yang juga memiliki Madrasah Tsanawiyah dan SMA Al-Munawwaroh Gerem - Gerogol. Para santri umumnya di samping mondok pada pesantren-pesantren tersebut di atas, juga sambil belajar di sekolah formal. Di pondok pesantren Bani Latif misalnya, di mana para santri umumnya sekolah di MTS dan MA al-Jauharatun Naqiyah dan

beberapa sekolah lainnya, bahkan ada juga santri mahasiswa dan juga murni santri

73

pondok yang hanya mendalami ilmu-ilmu agama. Demikian juga pondok pesantren AlMunawwaroh para santri umumnya sekolah di MTS dan SMA Al-Munawwaroh, di MAN Pulomerak dan juga ada beberapa santri mahasiswa yang kuliah di STIT AlKhaeriyah dan IAIN SMH Banten. Sedangkan di Pondok pesantren al-I’anah para santri umumnya belajar di Mts dan MA Al-I’anah Jangkar . Sedangkan santri pondok pesantren Bani al-Qamar para santri umumnya belajar di MTS dan MA Al-Khaeriyah Karang Tengah Purwakarta. Ketiga, tipe pondok pesantren kombinasi – moderen, adapun tipe ini adalah pondok pesantren yang memiliki lembaga pendidikan agama (sekolah) dan juga umum, di samping tetap mendalami kitab-kitab klasik sebagaimana terdapat pada pesantren tradisional. Di samping itu di pondok pesantren kombinasi – moderen ini pada

umumnya santri diwajibkan menggunakan bahasa asing seperti bahasa Arab dan Inggris di samping bahasa Indonesia. Di samping itu fasilitas sarana dan prasarana pendidikan pada tipe ini cukup lengkap dan memadai, di samping ada pondok, masjid, sekolah, aula, laboratorium, koperasi dan beberapa fasilitas penunjang lainnya. Di Cilegon baru ada dua Pondok pesantren yang termasuk dalam kategori ini, yaitu pondok pesantren AlHasyimiyah di Ciwandan, dan pondok pesantren Al-Inayah di Jerang Kecamatan Cibeber.

C. Tradisi dan Nilai-Nilai Pondok Pesantren Pondok Pesantren pada umumnya terdiri dari beberapa elemen atau unsur, yaitu pondok, masjid, kiyai, santri dan kitab. Pondok atau asrama adalah ciri utama pesantren

74

yang membedakan dengan sistem pendidikan tradisional yang berkembang di beberapa wilayah Islam di berbagai Negara lainnya. Ada beberapa latar belakang dan alasan berdirinya beberapa pondok pesantren di kota Cilegon. Pertama, Kemasyhuran seorang kiyai yang kedalaman pengetahuannya tentang Islam menarik santri-santri dari jauh. Untuk dapat menimba ilmu dari kiyai tersebut seorang santri harus tinggal dalam waktu yang lama dan meninggalkan kampung halaman untuk menetap dekat dengan kiyai.48 Seperti terjadi pada beberapa pesantren seperti madrasah Al-Khaeriyah Citangkil karena figur dan kedalaman ilmu dari pendiri KH. Sam’un Alwiyan yang bertahun-tahun mendalami ilmu di Mekkah, Madinah dan Mesir. Demikian juga dengan Pondok pesantren Al-Jauharatun Naqiyah yang terkenal dan memiliki banyak murid salah satu faktornya karena figur dan kedalaman ilmu kiyai pendiri dan pengasuhnya yaitu KH. Abdul latif yang juga alumni Makkah, Madinah. Dan juga berguru di beberapa pesantren terkenal di tanah air. Di samping ahli dalam ilmu-ilmu agama beliau juga ahli hikmat dan merupakan salah seorang murid KH. Asnawi Caringin seorang mursyid dalam tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah. Namun seiring dengan pergantian generasi, sosok figur kiyai sedikit mulai bergeser. Namun demikian pendalaman ilmu-ilmu keagamaan dan penguasaan kitabkitab klasik serta ciri khas pesantren itu sendiri tetap menjadi daya tarik utama. Beberapa contoh dalam hal ini adalah pondok pesantren Ashohabah yang memiliki kekhasan sebagai pesantren al-Qur’an, ia memiliki kelebihan dalam bidang qiroat al48

Lihat Zamakhsari Dhofier, Tradisi Pesantren, hal 46 – 47*

75

Qur’an dan tahfidz, dan telah meraih segudang prestasi dalam bidang tersebut, baik pada tingkat lokal, Regional maupun Nasional. Sedangkan pesantren Bani Latif

dipandang memiliki kelebihan dalam ilmu Falak, Fiqh, Nahu - Sharaf, dan juga kajian kitab kuning lainnya. Sedangkan pesantren Bani al- Qamar mendalami Jurumiyah, Alfiyah, Nahu Sharaf. Sedangkan Pesantren Al-I’anah Jangkar terkenal dengan kajian kitab kuning juga Nahu-Sharaf. Sedangkan Ponpes Al-Nahdiyyin banyak mengkaji kitab kuning Tafsir, Hadits dan Fiqh, di samping juga ilmu alat seperti Nahu – sharaf. Sedangkan ponpes Al-Munawwaroh di samping mengkaji kitab kuning, tafsir, hadits, fiqh juga kaligrafi, dan muhadarah, di mana telah meraih berbagai macam prestasi dalam dua bidang tersebut baik dalam tingkat lokal, regional maupun nasional. Kedua, Pondok-pondok umumnya berdiri di samping menampung para santri yang berasal dari wilayah sekitarnya juga kebanyakan berasal dari tempat yang jauh. Sehingga membutuhkan tempat singgah tidak hanya untuk menuntut ilmu tapi juga tempat bernaung menjalani kehidupan sebagai santri yang langsung mendapat

pengawasan dari kiyai, baik dalam belajar maupun aktifitas lainnya. Selama 24 jam kehidupan santri berada di lingkungan pondok dan mendapat pengawasan dari kiyai, sehingga perilaku santri dapat terkontrol. Kiyai dan santri terlibat dalam satu tujuan yang sama dan saling membutuhkan. Terdapat kehidupan timbal balik di mana santri butuh ilmu dan bimbingan kiyai, dan kiyai juga butuh santri untuk meneruskan ilmunya dan menyiapkan generasi penerus sebagai sebuah amanat dan tanggung jawab. Hubungan yang demikian dekat menimbulkan ikatan batin dan rasa saling membutuhkan dan saling

76

memiliki. Sehingga muncul sikap dari para santri untuk mengabdi kepada kiyai dengan perasaan tulus ikhlas, termasuk kepada keluarga dan perjuangan kiyai. Ketiga, Seiring dengan terjadinya evolusi pendidikan dan pembaharuan di bidang pendidikan, di mana pondok pesantren mengikuti perkembangan dan kurikulum sekolah dan madrasah dengan standar kurikulum nasional, maka porsi kajian kitab-kitab klasik mulai tergusur oleh mata pelajaran lain di sekolah atau madrasah yang menyesuaikan dengan kurikulum nasional. Secara otomatis penguasaan terhadap ilmu-ilmu keislaman yang didapat di sekolah / madrasah kurang memadai dan mencukupi. Maka kondisi tersebut menjadikan para guru atau kiyai merasa terpanggil untuk memberikan tambahan ilmu agama yang merujuk pada kitab-kitab klasik, maka dibutuhkan waktu dan tempat yang menghususkan dalam kajian kitab-kitab tersebut, di samping para santri sekolah di berbagai madrasah atau sekolah. Itulah sebabnya ada beberapa pondok pesantren yang sebelumnya hanya berupa madrasah, seperti ponpes Al-Munawwaroh dan Bani alQamar kemudian mendirikan pondok, di samping untuk menampung para siswa (santri) yang berdatangan dari tempat jauh juga untuk mendalami ilmu agama , kajian kitab kuning dan ilmu-ilmu lainnya yang (madrasah). Hal yang sama juga dilakukan oleh pesantren An-Nahdiyyin, di mana pendirinya (KH.Khairudin Rais) adalah juga pendiri madrasah al-Jauharatun Naqiyah Palas. Setelah para muridnya / santrinya mulai banyak yang datang dari tempat yang jauh, maka diperlukan pemondokan bagi mereka dan juga perlunya pendalaman akan ilmu-ilmu agama yang dirasa masih kurang didapat dari kurikulum madrasah. Itulah sebabnya para masih kurang didapat dari pelajaran di sekolah

77

keluarga kiyai

umumnya mempunyai pondok-pondok sendiri di sekitar rumahnya pondok-pondok pesantren di sekitar

masing-masing. Hal itu nampak seperti pada

Madrasah al-Jauharatun Naqiyah Cibeber, di mana para kiyai umumnya mengajar di madrasah tersebut juga memiliki pondok-pondok pesantren di rumahnya yang juga dikelola oleh kiai dan keluarganya. Namun secara umum pendirian pondok pesantren dilatar belakangi oleh beberapa faktor, seperti adanya ghirah yang tinggi dan panggilan jiwa dari para kiyai atau ulama untuk melakukan dakwah dan menanamkan nilai-nilai Islam kepada seluruh lapisan masyarakat. Di samping itu juga karena kebutuhan masyarakat dan umat Islam akan sarana pendidikan yang mempunyai ciri khas kislaman. Para santri umumnya tinggal di pondok dengan kehidupan yang sederhana dan fasilitas apa adanya. Seperti tempat tidur di lantai dengan hanya beralaskan kasur tipis, dan lemari pakaian yang sekaligus juga tempat menyimpan buku. Setiap kamar rata-rata diisi sekitar enam sampai sepuluh orang santri. Di semua pondok pesantren yang

diteliti, pada umumnya para santri tidak dibolehkan menonton televisi, mendengarkan kaset atau juga radio, termasuk juga HP. Para santri umumnya hanya dibolehkan

mengakses informasi melalui koran atau majalah langganan pesantren atau langganan kiyai, seperti Koran lokal dan majalah al-Islam, dan bulletin jum’at. Adapun pemutaran video dan kaset yang terkait dengan pelajaran seringkali digunakan, seperti pemutaran CD mata pelajaran dan juga kaset qiraat. Hanya pesantren Al-Munawwaroh salah satu yang sudah dapat mengakses internet dengan pengawasan ustadz atau kiyai.

78

Kesederhanaan bukan hanya dalam fasilitas, namun juga dalam berpakaian. Beberapa Pondok pesantren seperti An-Nahdiyin, Ashohabah, Bani Latif dan juga alI’anah dan Bani al-Qamar melarang para santri wanita memakai celana levis, jin

maupun pakaian yang mirip dengan laki-laki di lingkungan pondok. Umumnya mereka memakai jubah, rok panjang atau sarung. Demikian juga dengan pakaian santri laki-laki yang menggunakan kain sarung di lingkungan pondok terutama dalam mengikuti pelajaran, pengajian, terlebih dalam shalat. Sedangkan di Pondok Pesantren AlMunawwaroh dalam aturan pakaian sedikit fleksibel baik bagi santri laki-laki maupun perempuan, selagi masih menutup aurat dan sopan masih dibolehkan, kecuali pada momen-momen tertentu. Di samping nilai-nilai kesederhanaan, pondok pesantren juga mengajarkan nilainilai solidaritas, kebersamaan dan gotong royong. Para santri umumnya hidup jauh dari orang tua, mereka dapat bertemu dengan orang tua atau wali minimal satu minggu sekali. Selebihnya waktu kehidupan mereka habiskan dengan kiyai dan juga temanteman senasib dan seperjuangan, seperti waktu belajar, istirahatm, aman dan juga dalam aktifitas lainnya. Kondisi demikian melahirkan sikap kebersamaan saling membantu,

dan solider. Para santri umumnya membuat jadwal, secara teratur dan adil, seperi, masak, menyapu, mengepel dan belanja. Demikian juga bagi santri yang disediakan makan oleh pesantren umumnya mencuci piringnya masing-masing. Di samping itu pondok pesantren menanamkan nilai-nilai disiplin, seperti membiasakan bangun subuh jam 4 dan menunaikan shalat subuh berjamaah. Bahkan juga ditanamkan untuk membiasakan diri bangun malam untuk melaksanakan shalat

79

tahajud, terutama bagi santri yang senior. Para santri terbiasa mengatur waktunya sebisa mungkin antara belajar dan melaksanakan kegiatan lainnya yang cukup padat di pondok. Sehingga tidak ada waktu yang terbuang sia-sia, kebiasaan tersebut melahirkan sikap disiplin, mandiri dan juga bertanggung jawab, serta memanfatkan waktu secara optimal untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang positif. Di samping para santri memiliki tingkat disiplin yang tinggi, perilaku dan moralitas santri cukup terpelihara dengan baik, hal itu disebabkan kehidupan di pondok pesantren relatif steril dari pengaruh negativ dunia luar, baik lingkungan pergaulan maupun dunia hiburan dan tontonan maupun permainan yang seringkali menimbulkan dampak negatif. Itulah sebabnya Pondok pesantren dari waktu ke waktu tetap

menjadikan dirinya menjadi dambaan dan harapan masyarakat bagi lahirnya kader-kader umat yang berkualitas baik secara intelektual, mental dan spiritual. Pondok Pesantren menjadi alternatif bagi masyarakat karena biayanya yang relatif lebih murah. Keadaan demikian telah berjalan sejak awal keberadaannya, pesantren dianggap sebagai cikal bakal pendidikan masyarakat pinggiran karena biayanya yang relativ terjangkau, sehingga pondok pesantren menjadi tujuan utama pendidikan terutama pada masyarakat pedesaan. Namun kini pondok pesantren banyak diminati oleh masyarakat perkotaan karena terbukti lebih aman bagi putra putri mereka di dalam membendung pengaruh negatif dari globalisasi. Sementara itu pula sekolah-sekolah moderen saat ini banyak yang mengadopsi sistem pendidikan pesantren dengan membuka sekolah berasrama (Boarding School).

80

Dengan demikian eksistensi dan peran pesantren tidak bisa ditutupi ataupun digeser oleh lembaga lain. Pesantren lebih dari sistem lembaga sekolah atau perguruan tinggi maupun organisasi-organisasi. Di samping sebagai lembaga keilmuan dan kemasyarakatan, pesantren juga sebagai lembaga moral.

81

BAB IV PERAN PONDOK PESANTREN TRADISIONAL DALAM PEMBANGUNAN MASYARAKAT

A. Peran Pendidikan Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di tanah air yang sudah dikenal sejak agama Islam masuk ke nusantara. Sebagai lembaga pendidikan, pondok pesantren memiliki peran yang besar dalam memajukan pendidikan dan mencerdaskan kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia. Dalam sejarah perkembangan pendidikan Islam di Indonesia, pondok pesantren menempati garda terdepan sebagai penyelengara pendidikan. Di dalamnya senantiasa ditemukan interaksi aktif antara kiyai sebagai guru dan santri sebagai murid, khususnya dalam bentuk pengkajian kitab-kitab klasik (kitab kuning) dan bahasan lainnya. Sebagai lembaga pendidikan pondok pesantren memiliki prinsip-prinsip pendidikan yang berbeda dengan lembaga pendidikan pada umumnya. Prinsip-prinsip tersebut di antaranya :

82

Pertama, prinsip kebijaksanaan, di mana pemimpin dalam hal ini kiyai menerapkan pola-pola kebijaksanaan yang tidak kaku tetapi fleksibel dan patut menurut pandangan nilainilai agama, kultural dan pandangan kiyai itu sendiri sebagai figur sentral pemimpin di pondok pesantren. Kedua, bebas mandiri, pondok pesantren pada umumnya berdiri secara independent dan mandiri, baik dalam manajemen , pengelolaan maupun strukturnya, dalamnya dalam hal pendanaan. Ketiga, kebersamaan, pola kehidupan di pondok dibangun dengan nilai-nilai kebersamaan, baik antara kiyai dan santri, kiyai dan wali santri maupun santri dengan sesama santri, dan kiyai, santri dengan masyarakat sekitarnya. Keempat, ilmu pengetahuan diperoleh disamping melalui ketajaman akal fikiran juga dengan kebersihan hati dan berkah kiyai. Oleh karenanya di pondok pesantren ditanamkan etika untuk menutut ilmu dengan membersihkan hati dan meminta doa dan berkah kiyai. Kelima, Kemampuan mengatur diri sendiri , bersikap mandiri dan disiplin dalam memanfaatkan waktu dan kesempatan. Keenam, methode pengajaran yang khas, yaitu dengan menggunakan methode, sorogan, wetonan, bandongan, dan juga ikatan yang kuat antara kiyai dan santri. Disertai dengan loyalitas dan kepatuhan dan penghidmatan yang tinggi dari santri kepada kiyai dan juga keluarganya. Ketujuh , ibadah, pondok pesantren di samping menanamkan kecerdasan intelektual juga kecerdasan spiritual dan sosial. Hal itu ditanamkan dengan penggiatan pelaksanaan ibadah baik yang fardlu maupun yang sunnah. termasuk di

83

Sebagai lembaga pendidikan, pondok pesantren turut bertanggung jawab terhadap proses pencerdasan bangsa secara keseluruhan, sedangkan secara khusus pondok pesantren bertanggung jawab atas kelangsungan tradisi keagamaan (Islam) dalam artian yang seluasluasnya. Dalam pengertian ini pondok pesantren mendukung secara penuh tujuan dan hakekat pendidikan manusia, yaitu dalam membentuk manusia mu’min yang sejati yang memiliki kualitas moral, intelektual dan spiritual. Berdasarkan tujuan tersebut penyelenggaraan pendidikan di pondok pesantren tidak semata-mata untuk memperkaya atau mencerdaskan intelektual santri dengan penjelasanpenjelasan. Tetapi juga untuk meninggikan moral, melatih dan mempertinggi semangat, menghargai nilai-nilai spiritual kemanusiaan, mengajarkan tingkah laku yang jujur dan bermoral dan menyiapkan para santri untuk hidup sederhana, mandiri dan bersih hati. Dengan demikian tujuan pendidikan pesantren bukan semata-mata mengejar kepentingan kekuasaan dan juga pekerjaan yang selalu berkonotasi uang dan keagungan duniawi semata. Tetapi menanamkan kepada santri bahwa belajar pengabdian kepada Tuhan. Oleh karenanya pondok-pondok pesantren tradisional khususnya yang berada di Kota Cilegon telah melakukan peran-peran pendidikannya secara optimal dan menyeluruh meliputi pendidikan intelektual, spiritual dan juga akhlak, serta keterampilan. Hal itu nampak pada program-program dan kegiatan yang telah dilakukan di beberapa pesantren yang menjadi obyek penelitian. Seperti di Pondok pesantren Salafiyah An-Nahdiyyin yang terletak di kampung Jerang Ilir ini merupakan merupakan pondok pesantren Salafiyah di bawah asuhan KH.Khaerudin adalah semata-mata kewajiban dan

84

Rais dan dibantu oleh beberapa guru yang juga merupakan anak-anak dan juga menantu kiyai. Jadwal kegiatan pendidikan bagi santri begitu padat, dimulai dari Subuh untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah yang dilanjutkan dengan pembacaan dalail. Mulai Jam 5.00 - 7.00 di lanjutkan dengan kajian kitab Jurumiyah, Alfiyah, Sarah Ibnu Aqil, Imriti dan nahu sharaf, dan ilmu alat dan tata bahasa lainnya. Untuk siang hari aktifitas di pondok istirahat karena hampir semua santri merupakan pelajar sekolah atau madrasah. Sedangkan bagi santri yang murni mondok melakukan aktfitas menghafal atau membantu pekerjaan di rumah kiyai dan pondok. Kegiatan pondok dimulai ba’da shalat ashar sampai maghrib (jam 16.00 – 18.00) diawali dengan pembacaan dalail dan dilanjutkan dengan mengkaji kitab-kitab, di antaranya Tafsir Jalalain, Riyadhus Shalihin, Fiqh Fathul Qarib, Fathul Mu’in, Kifayatul Akhyar, Sulam Najah, Ta’lim Muta’allim. Sedangkan ba’da maghrib dilanjutkan dengan Qiraat Al-Qur’an. Setelah

Shalat Isya , sekitar jam 20.00 – 22.00 kegiatan dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan santri, seperti muhadharah setiap malam minggu, dan Taghanni setiap malam Kamis. Di samping kegiatan-kegiatan pendidikan tersebut para santri juga diajarkan keterampilan seperti menjahit dan mengobras bagi santri putri, dan pelatihan keterampilan mensablon bagi santri putra. Demikian juga kegiatan pendidikan dan pengajaran di pondok pesantren AsShohabah yang terletak di Kampung Palas Cilegon, pondok pesantren ini memiliki kekhususan dalam mendalami al-Qur’an baik dari segi qiro’at, tilawah maupun pemahaman dan juga hafalan (takhfidz). Pesantren ini diasuh oleh KH. Hidayatullah Humeini yang dibantu oleh saudara-saudaranya yang kesemuanya merupakan putra/putri dari pendiri

85

pesantren KH. Mastur Hanan (alm). Di samping

mendalami al-Qur’an, para santri di

pondok ini juga diajarkan kitab-kitab klasik seperti, Tafsir Jalalain, Fiqh Kifayatul Akhyar, Fathul Qarib, Tajwid, serta ilmu-ilmu alat seperti Nahu Sharaf , Jurumiyah dan Alfiyah. Aktifitas santri di pondok dimulai sejak subuh untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah. Setelah itu dari jam 5.00 – 6.00 dilanjutkan dengan talaqqi dan taghanni. Pada siang hari kegiatan diistirahatkan karena para santri umumnya juga belajar di sekolah atau madrasah di sekita pondok. Sedangkan bagi santri murni pada pagi sampai siang hari di samping menghafal pelajaran juga ada yang membantu mengajar di TK maupun TPA di lingkungan pondok, dan ada beberapa di antaranya membantu pekerjaan di rumah kiyai dan keluarganya yaitu membantu membuat kerajinan. Ba’da Ashar sekitar jam 16.00 – 18.00 pembacaan dalail dilanjutkan dengan kajian kitab-kitab seperti tersebut di atas. Ba’da Maghrib

membaca al-Qur’an, tilawah. Setelah Isya jam 20.00 – 22.00 dilanjutkan dengan talaqi dan taghanni, tahfizd. Di samping itu pada malam-malam tertentu santri melakukan kegiatan seperti muhadharah setiap malam kamis dan pengajian dengan pemuda dan pendududk sekitar di Masjid dekat pondok pada malam Jum’at. Di Pesantren ini para santri juga mendapat pendidikan keterampilan berupa, pembuatan perlengkapan tidur, tanaman hias, ternak bebek, tanaman apotik hidup yang semuanya dibimbing oleh salah satu keluarga kiyai yang membidangi usaha tersebut. Sementara itu kegiatan pendidikan yang dilakukan di pondok pesantren Bani Latif Cibeber. Pondok pesantren warisan KH. Abdul Latif yang sekaligus pendiri Madrasah Al-

Jauharatun Naqiyah ini oleh anak cucunya diberi nama pesantren Bani Latif. Kepemimpinan

86

pondok dan Madrasah dilanjutkan oleh anaknya yaitu KH. Muhaimin. Saat ini kepemimpinan dan manajemen madrasah al-Jauharatun Naqiyah dan pondok terpisah. Kepemimpinan pondok pesantren salafiyah Bani Latif saat ini diasuh oleh KH. Iskandar Syafiq, cucu dari KH. Muhaimin bin Abdul Latif. Pondok pesantren ini berada di komplek madrasah Al-Jauharatun Naqiyah Cibeber yang merupakan salah satu pondok pesantren tertua di Kota Cilegon setelah Al-Khaeriyah. Pondok pesantren Bani Latif tetap

mempertahankan ciri khasnya sebagai pesantren salafiyah. Adapun aktifitas belajar mengajar di pondok ini sejak subuh santri sudah memulai aktifitas, yaitu shalat subuh berjamaah di masjid di dalam lingkungan pondok, dilanjutkan dengan membaca al-Qur’an dan kajian kitab, seperti Tafsir Munir, Tafsir Jalalain, Fathul Qarib, Fathul Muin, Riyadsushalihin, Sarah Hikam, Ikhya ulumuddin, dan Ilmu Mantiq, ilmu Falaq. Kitab-kitab yang diajarkan di pondok pesantren ini lebih berfariasi dan lebih komplit, dan sedikit berbeda dengan pesantren lainnya. Seperti kajian kitab-kitab tasawuf dan Akhlak, ilmu mantiq dan juga ilmu falaq yang tidak diajarkan di pondok-pondok pesantren lainnya yang penulis teliti. Pada siang hari aktifitas pondok beragam, bagi santri yang pelajar mereka meneruskan pelajaran di sekolah atau madrasah yang pada umumnya sekolah di madrsaha Al-Jauharatun Naqiyah dan ada beberapa di antaranya di sekolah lain dan juga di perguruan tinggi. Sedangkan bagi santri pondok murni siang hari diisi dengan menghafal pelajaran di samping juga mengikuti kegiatan keterampilan. Pada sore hari ba’da Asar, kajian kitab dilanjutkan terutama kajian kitab-kitab Nahu, Sharaf, Alfiyah, Sarah Ibnu Aqil, Jurumiyah dan kitab-kitab alat lainnya. Setelah shalat magrib dilanjutkan dengan tadarrus dan setelah

87

isya dilanjutkan dengan kajian kitab kembali. Sedangkan kegiatan lain seperti muhadharah dan latihan-latihan lainnya tidak diajarkan di pondok ini. Namun demikian selain kajian

kitab-kitab klasik, para santri juga diberikan pendidikan keterampilan, seperti pembuatan kaos tangan, kue kering dan juga sepatu olah raga. Namun saat ini kegiatan keterampilan kurang berkembang, hal itu disebabkan oleh kurang berminatnya para santri. Bisa jadi karena waktu santri yang terbatas karena kegiatan yang cukup padat, baik kegiatan di sekolah bagi santri pelajar dan juga kegiatan di pondok. Demikian juga bagi santri mukim kurang berminat pada pendidikan keterampilan karena memang tujuan utamanya belajar di pondok untuk mendalami ilmu-ilmu agama. Sementara itu di pondok pesantren Al-I’anah yang terletak di Kampung Jangkar Wetan Ciwandan, diasuh oleh KH.Junaedi Hasun putra KH. Hasun Alihan pendiri

pesantren Al-Ianah. Pondok ini tetap mempertahankan eksistensinya. Al-I’anah pada mulanya merupakan pondok pesantren salafiyah yang tidak memiliki madrasah. Pada umumnya santri pondok tersebut sekolah di madrasah Al-Khaeriyah Tegal Buntu. Namun sejak tahun 1990 Pondok pesantren Al-I’anah membuka pendidikan Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Al-I’anah Namun demikian eksistensi pondok pesantren masih tetap berlangsung dengan berbagai macam aktifitas dan kegaiatan pendidikan dan pengajaran sebagaimana halnya pesantren, seperti kajian kitab-kitab kuning dengan menggunakan methode tradisonal, seperti sorogan dan bandungan. Adapun kepemimpinan di pondok dirangkap oleh pemimpin yayasan yang juga menaungi madrasah. Namun demikian manajemen dan kepengurusan pondok terpisah dengan manajemen dan kepengurusan di Madrasah. Kepengurusan di

88

pondok tetap berada di bawah kepemimpinan kiyai yang dibantu oleh beberapa keluarganya dan santri senior. Sedangkan kepemimpinan madrasah berada di bawah kepemimpinan kepala sekolah di luar keluarga kiyai dan dibantu oleh beberapa guru dari luar yang juga berstatus PNS. Aktifitas belajar mengajar di pondok pesantren al-Ianah sama halnya dengan di pondok pesantren lainnya. Di mulai sejak shubuh setelah melaksanakan shalat subuh dilanjutkan dengan kajian kitab. Adapun kitab-kitab yang dikaji seperti; Tafsir Jalalain, Kifayatul Akhyar, Fathul Qarib, Fathul Mu’in, Riyadhus Shalihin. Sedangkan pada siang hari aktifitas di pondok istirahat karena para santri umumnya belajar di Madrasah. Kajian kitab di pondok dilanjutkan ba’da Ashar, yaitu mengkaji kitab-kitab Nahu Sharaf, Alfiyah, Matan Bina, Jurumiyah dan Imriti. Ba’da maghrib dilanjutkan dengan tadarrus al-Qur;a, tilawah dan tajwid. Setelah Isya pada malam-malam tertentu santri mengikuti kegiatan seperti Muhadharah setiap malam sabtu, dan juga latihan qiraat setiap malam jum’at. Untuk pendidikan keterampilan santri di pondok ini juga dilatih menjahit, menyulam dan mengobras bagi santri putri. Sedangkan bagi santri putra diajarkan pertukangan, pertanian tegalan. Di samping itu juga para santri dilatih mengoperasikan computer. Sedangkan di pondok pesantren Bani al-Qamar yang terletak di Kampung Karang Tengah Kecamatan Purwakarta merupakan pesantren Salafiyah yang didirikan oleh KH. Qamaruddin. Saat ini Pondok Pesantren Bani Al-Qamar diasuh oleh KH. Hasbullah Qamarudin putra dari pendiri pondok dan dibantu oleh putra putrinya dan beberapa santri senior. Sebagaimana halnya di pondok pesantren lainnya, aktifitas pendidikan dan

pengajaran di pondok ini dimuali sejak shubuh setelah shalat shubuh dilanjutkan dengan

89

kajian kitab-kitab klasik seperti Tafsir Jalalain, Fathul Muin, Fathul Qarib, Kifayatul Akhyar., Riyadhus Shalihin dan Bulughul Maram. Pada siang hari santri pada umumnya sekolah ke madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Al-Khaeriyah Karang Tengah. Kajian di dilanjutkan ba’da Ashar dengan mengkaji kitab-kitab, Nahu, Sharaf, Jurumiyah, Alfiyah, Matan Bina, Imriti, dan Sarah Ibnu Aqil. Ba’da maghrib santri wajib mengaji Al-Qur’an dan tajwid. Sedangkan pada malam-malam tertentu santri juga mengikuti kegiatan muhadarah dan qiraat. Adapun pendidikan keterampilan di pondok ini berupa pertanian, peternakan dan latihan computer. Sementara itu Pondok Pesantren Al-Munawwaroh yang terletak di desa Gerem Kecamatan Gerogol merupakan pondok pesantren kombinasi . Ia berada di bawah naungan yayasan Al-Munawwaroh yang dipimpin oleh KH. M. Hilman Ismail yang sekaligus pendiri pondok pesantren ini, majelis Taklim. semula yayasan ini hanya membina madrasah dan sekolah serta yayasan ini mendirikan pondok yang semula

Sejak tahun 1998

diperuntukkan bagi pelajar yang sekolah di MTS dan SMA Al-Munawwaroh. Namun pada perkembangan selanjutnya para santri yang bermukim di pondok pesantren ini bukan hanya pelajar sekolah Al-Munawwaroh, namun juga yang sekolah diberbagai tempat seperti di MTS Negeri Pulomerak dan MAN Pulomerak serta beberapa mahasiswa yang kuliah di STIT Al-Khaeriyah. Namun demikian kepengurusan dan manajemen pondok terpisah

dengan sekolah. Saat ini sebagai pengasuh pondok adalah H. Muktilah S.Ag yang juga menantu pendiri pondok dan dibantu oleh beberapa ustazd dan juga santri senior. Sebagaimana halnya pondok pesantren lainnya, kegiatan pendidikan dan pengajaran di pondok dikhususkan pada kajian kitab-kitab kalsik. Adapun aktifitas di pondok dimulai

90

sejak shubuh, setelah shalat berjamaah di Masjid Al-Munawwaroh di lanjutkan dengan kajian seperti; Tafsir Jalalain, Kifayatul Akhyar, Fathul Muin, Fathul Qarib, Bulughul Maram, Musthalah Hadits dan Riyadhus Shalihin. Pada siang hari para santri umumnya sekolah, sedangkan bagi santri murni yang sudah tidak sekolah membantu pekerjaan di koperasi dan di sekolah TK dan TPA. Pada siang dan sore hari santri diberikan waktu untuk menghafal pelajaran. Aktifitas pondok baru dimulai ba’da Maghrib dilanjutkan dengan mengaji al-Qur’an, tilawah dan tajwid. Setelah Isya belajar Nahu, Sharaf, Jurumiyah, Alfiyah, Matan Bina dan Imriti. Di samping kajian kitab klasik, para santri juga mengikuti kegiatan muhadharah setiap malam Jum’at, latihan Qasidah setiap jum’at siang dan kaligrafi. Di samping itu santri juga diberikan pelajaran keterampilan berupa; latihan computer dan internet, ternak bebek dan unggas serta latihan pertukangan dan perindustrian di Work Shop, serta perdagangan di koperasi pondok. Pendidikan di dalam pondok pesantren bukan hanya pendidikan yang bersifat pendidikan non formal, namun sekaligus juga sebagai lembaga formal. Sebagai lembaga pendidikan non formal karena eksistensinya berada dalam jalur sistem pendidikan

kemasyarakatan. Ia memiliki program-program pendidikan yang disusun sendiri dan pada umumnya bebas dari ketentuan formal. Harus diakui bahwa pondok pesantren tradisional memiliki peran penting sebagai lembaga pendidikan alternative bagi kelompok masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Bahkan ada beberapa pondok pesantren yang tidak memungut biaya bagi santri yang benar-benar tidak mampu.

91

Bagi kiyai, kemauan santri yang besar dan sungguh-sungguh ingin belajar merupakan anugerah besar yang harus terus dibina dan dibimbing karena itu merupakan perintah agama, dan menjadi bagian amal shaleh dan rasa tanggung jawab. Karena biayanya yang relativ terjangkau dari semua lapisan masyarakat, para orang tua umumnya

menitipkan anak-anaknya di pondok pesantren untuk mendapatkan pendidikan agama, di samping mengharapkan anak-anaknya menjadi shaleh, berakhlak mulia, dapat hidup mandiri dengan ilmu yang diperoleh di pesantren. Sebagai bukti keberhasilan dari peran pendidikan di pondok pesantren, para santri umumnya memiliki peran penting di masyarakat, baik sebagai guru, imam, tokoh masyarakat dan agama, juga banyak alumni yang mampu mendirikan pesantren di tempat asalnya masing-masing, walaupun mereka tidak memiliki ijazah formal. Kondisi demikian banyak ditemukan di mana para santri yang umumnya hanya lulus SD atau Madrasah Ibtidaiyah dan langsung melanjutkan ke pondok pesantren salafiyah. Maka seiring dengan upaya untuk meningkatkan sumber daya manusia melalui program wajar pendidikan dasar sembilan tahun. Maka pemerintah merespon kondisi demikian dengan adanya kesepakatan bersama antara Departemen Agama dan Departemen Pendidikan tentang pedoman pelaksanaan pondok pesantren salafiyah sebagai pola pendidikan dasar, dengan

memasukkan program wajar Dikdas ke Pondok-pondok salafiyah melalui kejar paket A (setingkat tamatan SD), paket B (Setingkat Tamatan SLTP) dan paket C (setingkat tamatan SLTA). Hal itu bertujuan, pertama untuk meningkatkan pelayanan program nasional wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun melalui salah satu jalur alternative, dalam hal ini

92

pondok pesantren. Kedua, meningkatkan peran serta pondok pesantren salafiyah dalam penyelenggaraan program wajib belajar pendidikan sembilan tahun bagi para santri, sehingga dapat memiliki kemampuan setara dan kesempatan yang sama untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Semua itu dilakukan dengan tujuan untuk

meningkatkan kemampuan dan wawasan masyarakat pesantren dalam menghadapi serta menyikapi perkembangan maupun perubahan zaman serta tuntutan yang tidak bisa dihindari. Dari Beberapa pondok pesantren yang penulis teliti hampir semuanya telah menerapkan program kejar paket ABC, hanya di pondok pesantren Bani Latif tidak melakukan hal itu. Menurut Kiyai Iskandar para santri belajar di pesantren ini untuk menuntut ilmu bukan mencarai ijazah. Oleh karenanya bagi santri yang mau mendapatkan ijazah ataupun kejar paket mereka dipersilahkan difasilitasi oleh pihak pondok pesantren. Misi awal yang diemban pondok pesantren adalah membentuk para santri memiliki pengetahuan agama yang luas melalui kajian kitab kuning untuk mencetak ulama, dan ustazd / ustazdah. Namun kini pondok pesantren tengah mengalami perkembangan yang begitu luas. Dengan paradigma baru pondok pesantren hanyut dalam dinamika kehidupan masyarakat yang dituntut dengan berbagai perkembangan dan perubahan yang dialaminya. Kondisi demikian tentu saja menjadi tantangan dan sekaligus juga menjadi tanggung jawab dunia pesantren untuk dapat memberikan masyarakat. solusi dan kontribusinya dalam kehidupan mengikutinya di luar pondok tanpa

93

Seiring dengan terjadinya evolusi di bidang pendidikan, di mana terjadi pembaharuan termasuk dalam lingkup pendidikan Islam terutama pesantren. Saat ini banyak pesantren yang bergabung dan juga membuka jalur pendidikan formal baik yang berbentuk madrasah maupun sekolah. Dengan mengikuti jalur pendidikan formal para santri umumnya

memperoleh ijazah akhir negeri. Para santri di pondok pesantren tidak hanya dibekali dengan ilmu agama namun juga mendapatkan pendidikan perilaku dan juga keterampilan yang semuanya untuk menghantarkan para santri menjadi manusia yang taat beragama, berakhlak, kaya dengan ilmu dan keterampilan agar bisa menjadi mandiri dan bermanfaat di masyarakat. Pendidikan pondok pesantren dapat dijadikan bukti pendukung masyarakat yang cukup kuat yang mampu menggerakan gairah pendidikan. Dengan mengukur pendidikan pondok pesantren, mereka akan memiliki kecerdasan ilmu pengetahuan yang luas. Hal ini merupakan salah satu bukti kongkrit kontribusi pesantren bagi dunia pendidikan secara nasional. Di siis lain, dunia pesantren semakin mendapat tempat dengan keluarnya UndangUndang Sisdiknas No. 20 / 2003 yang memposisikan pesantren setara dengan pendidikan lainnya. Hal itu terjadi karena keterbukaan pondok pesantren untuk menerima perubahan dan persinggungan dengan dunia luar yang dinamis. Keterbukaan itu menjadikan pondok pesantren tidak lagi ekslusif dan pinggiran, tetapi menjadi lembaga yang berada di arus utama pembangunan nasional. Peran-peran yang dilakukan oleh pondok pesantren khususnya pesantren tradisional dalam bidang pendidikan sangat besar. Keberadaan pondok pesantren di Cilegon dipandang memiliki peranan penting dalam proses pencerdasan dan pembebasan dari buta aksara dan

94

juga pendalaman ilmu pengetahuan keagamaan (Islam). Di mana melalui pondok pesantren banyak kader-kader ulama dilahirkan, pendidik dan guru-guru masyarakat bahkan tokohtokoh bangsa banyak yang lahir dari pendidikan pondok pesantren, di samping juga melahirkan berbagai macam profesi lainnya. Di samping itu alumni pesantren umumnya memiliki peran penting di masyarakat yang selalu tampil pada barisan terdepan, baik sebagai imam dan pengurus masjid, menjadi guru ngaji, bahkan menjadi rujukan dan pemimpin dalam kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan. B. Peran Sosial Kemasyarakatan Pondok pesantren di samping memiliki peran penting dalam pendidikan juga memiliki peran penting dalam sosial kemasyarakatan, sehingga pesantren seringkali dikenal sebagai agen kultural atau agen perubahan. Kehidupan pondok pesantren tidak bisa terlepas dari kehidupan masyarakatnya, demikian juga sebaliknya kehidupan masyarakt tidak bisa terlepas dari peran-peran penting pesantren yang ada dan hidup di lingkungannya. Pondok pesantren tumbuh dan berkembang bersama masyarakat selama berabad-abad. Oleh karena itu tidak hanya secara kultural lembaga ini bisa diterima, tetapi bahkan telah ikut serta membentuk dan memberikan corak serta nilai kehidupan kepada masyarakat yang senantiasa tumbuh dan berkembang. Figur kiyai, santri serta seluruh perangkat fisik yang menandai sebuah pesantren dikelilingi oleh sebuah kultur yang bersifat keagamaan. Kultur tersebut mengatur perilaku seseorang, pola hubungan antar warga masyarakat bahkan hubungan antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Oleh karena itu latar belakang pesantren yang paling patut diperhatikan adalah peranannya sebagi alat transformasi kultural yang menyeluruh dalam kehidupan

95

masyarakat. Pesantren berdiri sebagai jawaban terhadap panggilan keagamaan untuk menegakkan ajaran dan nilai-nilai agama melalui pendidikan keagamaan dan pengayoman. Dedikasi pesantren sebagai lembaga pengabdian dan pengembangan masyarakat telah mendorong munculnya kesanggupan untuk mengutamakan kepentingan bersama atas kepentingan perorangan. Sejak berdirinya pesantren memiliki watak pelayanan dan

pengabdian masyarakat dalam berbagai segi kehidupan, khusunya dalam masalah-masalah rohaniyah. Dengan makin luasnya hubungan pesantren dengan lembaga-lembaga lain, maka masalah pelayanan masyarakat secara lebih luas dalam konteks wawasan sosial budaya dan social ekonomi. Betapa keberadaan pesantren sangat dibutuhkan oleh masyarakat karena peran-peran pentingnya bagi kehidupan dan pembangunan masyarakat. Di antara peranperan social kemasyarakatan yang dilakukan oleh beberapa pondok pesantren di Kota Cilegon di antaranya :

1. Peran Pembebasan dan penyadaran Pondok pesantren dan kiyai sebagai figur sentral memiliki peran penting dalam proses penyadaran pola berfikir dan nilai-nilai pada masyarakat. Seperti bagaimana kiyai dan santri mensosialisasikan pentingnya pendidikan, kesehatan kebersihan, dan sebagainya. Melalui pesan dan gerakan kiyai yang senantiasa didengar petuahnya dan diteladani

perilakunya, secara pelan dan pasti dapat merubah dan mempengaruhi sikap dan pola pikir masyarakatnya. Pada lingkungan masyarakat di sekitar pondok pesantren yang diteliti, ratarata penduduk menyekolahkan anak-anaknya di pesantren terdekat, atau di sekolah lain bagi

96

yang memiliki kemampuan. Sebab pada umumnya lahirnya pondok pesantren di Cilegon dilatar belakangi oleh kebutuhan lingkungan masyarakat sekitarnya dan keinginan kiyai untuk mewariskan ilmunya sebagai sebuah tanggung jawab dan juga perintah agama. Dalam proses penyadaran di bidang kesehatan dan kebersihan misalnya, beberapa pesantren melakukan mitra dengan petugas terkait, seperti dinas kesehatan untuk

melakukan sosialisasi tentang kesehatan baik di lingkungan pesantren maupun masyarakat sekitarnya. Dahulu pesantren terlebih pondok pesantren salafiyah seringkali diidentikan dengan kekumuhan, penyakitan, budukan dan streotipe negative lainnya. Namun saat ini pondok pesantren tradisional di Kota Cilegon jauh dari kesan negativ tersebut. Bahkan beberapa di antaranya menjadi mitra pembangunan dalam dalam mensosialisasikan program-program kebersihan. Di Pondok klinik

berbagai bidang, seperti kesehatan dan

pesantren al-Munawwaroh misalnya, bahkan telah digagas untuk berdirinya

kesehatan yang tidak saja diperuntukan untuk melayani para para santri dan guru, namun juga melayani masyarakat di sekitarnya. Demikian juga di pondok pesantren Ah-Shohabah dan al-I’anah di mana isteri dari kiyai dan beberapa anggota keluarganya juga menjadi kader PKK dan Posyandu. Mereka tidak hanya melakukan penyuluhan di lingkungan pondok pesantren namun juga di lingkungan masyarakat sekitarnya. Di antaranya sosialisasi tentang kesehatan lingkungan seperti menjadi kader jentik, mereka berkeliling masuk dari rumah ke rumah penduduk meneliti kolam dan penampungan air. Di samping itu pondok pesantren juga memiliki peran sebagai pembebas masyarakat dan lingkungannya, baik dari kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan dan kerusakan

97

lingkungan baik secara fisik maupun non fisik. Salah satu upaya yang dilakukan oleh pondok pesantren misalnya, dengan memberikan beasiswa dan penyalur beasiswa bagi masyarakat yang tidak mampu. Dari dana yang tidak seberapa yang dimiliki pesantren, pada umumnya pondok pesantren mampu memberikan bantuan baik berupa beasiswa maupun bantuan lainnya sebagai wujud kepedulian dan tanggung jawab social kepada masyarakat. Dana-dana yang digulirkan ke masyarakat biasanya bersumber dari sumbangan dan dana shodaqah, zakat, wakaf yang dititipkan masyarakat kepada pihak pondok pesantren. Semua pondok pesantren di sini memiliki program menyantuni anak yatim dan fakir miskin, baik dalam memberikan dan menyalurkan bantuan yang sifatnya insidental maupun bantuan rutin biaya pendidikan. Di samping peran pembebasan dari kebodohan, pondok pesantren juga memiliki peran dalam menjaga dan melestarikan lingkungan hidup dari bahaya kerusakan. Seperti melakukan kegiatan sosialisasi pentingnya menjaga lingkungan hidup dan larangan penggundulan hutan melalui forum-forum pengajian dam masjid-masjid. Di samping itu sebagai antisipasi dari kerusakan lingkungan misalnya, beberapa pondok pesantren di kota Cilegon melakukan kegiatan penanaman seribu pohon yang bermitra dengan dinas pertanian yang difasilitasi oleh forum silaturahmi pondok pesantren Kota Cilegon. Posisi pondok pesantren dalam hal ini kiyai dan tokoh-tokoh agama sangat strategis dan efektif. Demikian juga pondok pesantren menjadi benteng terdepan masyarakat untuk menjaga lingkungan masyarakatnya dari kerusakan akhlak, moral dan nilai-nilai luhur. Salah satu upayanya adalah dengan menjadi pengawal perda miras, asusila dan juga perdaperda terkait lainnya. Beberapa upaya yang telah dilakukan, salah satu di antarnya dengan

98

menggelar kegiatan bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia Kota Cilegon menggelar tablig Akbar “Anti Pornografi”.

2. Partisispasi dan Swadaya Pondok pesantren tradisisonal di Cilegon pada umumnya memiliki partisipasi yang tinggi terhadap program-program pemerintah yang bertujuan untuk kesejahteraan masyarakat. Seperti pembangunan fasilitas umum, seperti pembangunan jalan,

pembangunan pabrik maupun pembangunan fasilitas lainnya. Bahkan pada hal-hal tertentu pihak pondok pesantren dan masyarakat secara bersama-sama secara swadaya membangun Masjid, Mushalla , MCK umum. Seperti yang terdapat di sekitar pondok pesantren al-I’anah Jangkar, di mana Pondok pesantren bersama-sama masyarakat membangun fasilitas

tersebut, di samping untuk kepentingan santri juga kepentingan masyarakat di sekitarnya. Demikian juga pada pembersihan gorong-gorong dan jalan desa yang dilakukan oleh pondok pesantren Al-Munawwaroh yang bekerjasama dengan masyarakat di RT dan RW di sekitarnya. Di samping peran dalam pembangunan yang bersifat fisik, pondok pesantren meiliki peran dan partisispasi aktif pada kegiatan-kegiatan sosial, seperti para santri menjadi peserta aktif dan pengisi acara di berbagai even baik di tingkat desa maupun tingkat Kecamatan, seperti pada peringatan Ulang Tahun RI, Hari-hari besar Islam, Musabaqah Tilawatil Qur’an dan juga berbagai kegiatan lainnya. Di samping juga para santri dan alumni aktif di lingkungan pesantren, mereka juga banyak yang aktif di kegiatan dan organisasi di masyarakat, seperti Remaja Masjid maupun organisasi pemuda.

99

Demikian juga dengan kiyai, dari beberapa pondok pesantren tersebut di atas, para kiyai umumnya aktif di berbagai organisasi sosial dan keagamaan, bahkan ada salah satu yang aktif di partai politik, yaitu KH. Iskandar pengasuh Pondok pesantren Bani Latif, di samping sebagai pengurus Nahdatul Ulama juga pengurus bahkan pernah menjadi ketua Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Cilegon. Sementara itu para kiyai umumnya aktif di organisasi keagamaan seperti Majelis Ulama Indonesia, dan Forum Silaturahmi Pondok Pesantren., dan organisasi Nahdatul Ulama.

3. Pemberdayaan Sosial Ekonomi. Pondok pesantren juga memiliki peran penting dalam pemberdayaan masyarakat baik dalam aspek sosial, politik dan juga ekonomi. Kiyai dan santri di samping disubkan dengan kegiatan internal pondok pesantren, juga memiliki tanggung jawab social yang tinggi terhadap lingkungannya. Salah satu tangung jawabnya berupa usaha pemberdayaan masyarakat dalam bidang social ekonomi. Walaupun masih dalam tahap sederhana

pondok-pondok pesantren melakukan pemberdayaan yang umumnya bermitra dan difasilitasi oleh pihak-pihak terkait baik pemerintah maupn swasta. Seperti di pondok pesantren Bani Latif misalnya, pendidikan keterampilan berupa pembuatan majun dan keset mendapat pembinaan dari PT. Krakatau Steel di mana di dalamnya juga melibatkan masyarakat sekitarnya di samping para santri. Tujuan kegiatan ini bukan hanya sekedar memberikan pendidikan dan pelatihan saja, namun juga memiliki

100

tujuan ke depan sebagai

pemberdayaan bagi masyarakat untuk dijadikan kegiatan usaha

yang dilakukan secara professional. Demikian juga di pondok pesantren As-Shohabah, di samping mengajarkan pendidikan kepada santrinya juga mendidik dan memberdayakan masyarakt sekitarnya melatih dan menggeluti usaha berupa pembuatan perlengkapan tidur, berupa kasur, bantal, guling, dan kasur santai yang bermitra dan mendapat pembinaan dari pemerintah setempat, dalam hal ini dinas perindustrian , koperasi dan usaha kecil juga dari badan pemberdayaan masyarakat Kota Cilegon. Sedangkan pondok pesantren Al-Munawwaroh melalui usaha koperasi turut

memberdayakan ekonomi masyarakt di sekitarnya dengan cara memfasilitasi penitipan dan pemasaran produk makanan ringan, berupa, keripik, cemilan, dan makanan ringan lainnya. Di samping juga beberapa produk pakaian jadi hasil konfeksi kecil.

4. Penggerak dan Mediator Sejak awal perkembangannya, pondok pesantren memiliki peran dalam melahirkan para pejuang dan tokoh-tokoh pergerakan. Bahkan beberapa pesantren berdiri di garda terdepan dalam pemberontakan terhadap kezhaliman yang dilakukan pemerintahan colonial. Ada bebeberapa bentuk gerakan kaum santri terkait dengan kondisi tersebut. Pertama, mengadakan uzlah, yaitu menyingkir ke desa atau tempat-tempat terpencil yang jauh dari jangkauan suasana colonial dan bersikap masa bodo serta menutup diri erat-erat dari

pengaruh Belanda. Kedua, bersikap non koperatif dan sering mengadakan perlawanan secara diam-diam. Di samping mengajarkan kitab kepada para santri juga menanamkan dan

101

menumbuhkan semangat jihad guna suatu saat akan bangkit persiapan membela agama dan tanah air dari cengkraman penjajah. Ketiga, mengadakan memberontakan dan perlawanan secara terbuka menentang pemerintahan colonial dan antek-anteknya. Salah satu tokoh pergerakan kaum santri di Cilegon yang dikenal dengan peristiwa “ Geger Cilegon” yaitu KH. Wasid, di samping sebagai pejuang sekaligus juga Kiyai yang memiliki banyak murid. Demikian juga tokoh pejuang lainnya adalah KH. Syam’un yang memimpin perang greliya pada agresi Belanda ke II yang juga merupakan cucu dari KH. Wasid, beliau adalah seorang Brigader Jendral yang sekaigus juga pendiri Perguruan Islam Al-Khaeriyah Citangkil. Demikian semangat pergerakan anti kezhaliman dan penjajahan yang dilakukan oleh para tokoh-tokoh pesantren di Cilegon. Semangat demikian tetap menjadi spirit dan

motifasi bagi para kiyai di pondok pesantren. Penjajahan yang dihadapi oleh pondok pesantren saat ini bukan dalam bentuk penjajahan secara fisik dan politik, namun dalam bentuk penjajahan, nilai-nilai, moral serta keperibadian bangsa. Di samping juga penjajahan dalam bentuk mode pakaian, makanan, dan hiburan dan pergaulan. Sebagai upaya antisipasi terhadap upaya penjajahan tersebut, di beberapa pondok pesantren menerapkan larangan kepada para santri menonton TV, menggunakan HP, bahkan menggunakan pakaian levis khususnya bagi para santri baik laki-laki maupun perempuan di lingkungan pondok.

Pakaian yang biasa digunakan adalah kain sarung yang seringkali diidentikan sebagai pakaian kaum santri, dan jubah bagi perempuan. Karena peran-perannya yang strategis dan efektif dalam menggerakan masyarakat, Kiyai dan pondok pesantren seringkali dijadikan sebagai tempat penyambung lidah bagi

102

kepentingan program pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah. Sehingga seringkali pula para pemimpin formal meminta restu dan petunjuk kepada kiyai dalam

melaksanakan tugas-tugasnya untuk mendapat dukungan kiyai dan masyarakat. Bahkan beberapa kelompok yang memiliki kepentingan politik misalnya seringkali memanfaatkan kiyai dan pondok pesantren untuk mendapatkan dukungan dan simpatik rakyat. Terlebih pada saat musim kampanye hampir semua pondok pesantren pernah didatangi oleh

berbagai kelompok dan partai politik, baik dengan kemasan kunjungan silaturahmi maupun dalam bentuk kegiatan bakti social dan sumbangan. Namun demikian secara umum pondok pesantren tradisional di Cilegon menjaga jarak dengan berbagai macam kepentingan

golongan . Para kiyai umumnya berpandangan posisinya sebagai pengayom masyarakat yang harus berdiri dan melindungi semua kelompok golongan. Di samping sebagai penggerak, pondok pesantren dan kiyai juga menjadi mediator bagi masyarakat lingkungannya. Kehidupan masyarakat tidak dapat dilepaskan dari konflik, baik konflik vertikal maupun horizontal. Konflik fertikal misalnya kerap terjadi antara masyarakat dengan pemerintah setempat, seperti konflik dalam pembebasan tanah untuk jalan , perumahan maupun proyek-proyek pemerintah lainnya yang seringkali mendapat perlawanan dari masyarakat yang merasa dirugikan. Untuk meredam ketegangan tersebut, kiyai seringkali diminta menjadi mediator untuk memberikan pengertian kepada masyarakat, dan menjadi penyambung lidah rakyat kepada pemerintah. Di samping itu juga masyarakat juga mengalami konflik dengan pemerintah desa setempat, seperti aparat RT dan RW, contoh dalam hal ini seperti dalam pembagian jatah BLT serta sembako dan raskin, masyarakat seringkali protes karena menilai aparat desa

103

bersikap tidak adil dan mengutamakan keluarga. Di samping itu konflik juga kerap terjadi antara masyarakat/ penduduk dengan pihak perusahaan, baik dalam persoalan lahan dan kesempatan usaha, maupun masalah polusi. Seperti kasus yang terjadi di desa Gerem ketegangan sempat terjadi antara pengusaha limbah pabrik dengan pihak indutri, kiyai tampil menjadi penengah ketika aparat pemerintah desa dan kepolisian tidak mampu meredam suasana. Demikian juga yang terjadi di desa tegal ratu, masyarakat protes dan marah terhadap pohak industri yang dipandang telah mencemari lingkungan desanya. Dalam hal ini kiyai juga tampil untuk meminta pertangung jawaban pihak industri dan meminta masyarakat untuk tidak anarkis. Di samping menjadi mediator pada konflik vertical, kiyai juga menjadi mediataor dalam konflik horizontal, baik antar masyarakat yang satu dengan yang lainnya, suami dengan isteri, tetangga dengan tetangga, anak dengan orang tua dan konflik-konflik yang melibatkan keluarga lainnya. Masalah-masalah yang dihadapi seperti pembagian warisan, harta gono gini, masalah sengketa tanah, kekerasan rumah tangga, masalah lingkungan bahkan dalam masalah persaingan usaha dan bisnis.

C. Peran Spiritual Keagamaan dan Dakwah Seorang kiyai mendapat panggilan kiyai dengan mengalami proses dari lingkungannya, baik sebagai kiyai turunan maupun kiyai karena peran dan pengaruh

peribadinya. Sebutan kiyai seringkali berkonotasi dengan kehidupan spiritual dan ketinggian ilmu serta keluruhan moral dan perilakunya. Munculnya label kiyai merupakan sebutan dan kepercayaan masyarakat yang lahir secara alamiyah.

104

Kepemimpinan

ulama atau kiyai bukan merupakan kepemimpinan formal,

ilmiyah maupun social semata. Akan tetapi merupakan kepemimpinan moral spiritual. Aspek inilah sebenarnya yang lebih dominant dalam kehidupan pesantren dan kiyai yang membuatnya demikian kokoh dalam masyarakat. Kiyai merupakan guru dan pembimbing moral dan keimanan masyarakat. Kuatnya daya tarik pesantren dalam memikat perhatian dan kepercayaan masyarakat terletak pada kharisma Kiyai sebagai figur sentral. Menurut Zamahsari Dhafier, terbentuknya kharisma seorang kiyai didukung oleh beberapa faktor.; 1. Kemampuan pengetahuan ilmu agama yang luas dan memadai, sebagai tempat masyarakat bertanya tentang persoalan atau masalah keagamaan. 2. Memiliki integritas moral, penuh keikhlasan dalam mengabdi dan membina umat dan bisa dijadikan tauladan oleh masyarakat. 3. Sosok kiyai memiliki kemampuan ekonomi yang mandiri tidak bergantung pada bantuan dari siapapun.49 Kharisma seorang kiyai bukan merupakan warisan leluhurnya, namun tumbuh dan berkembang dengan sendirinya karena keluasan dan keluhuran ilmu yang dimilikinya. Penghormatan dan ketaatan masyarakat kepada kiyai, karena memandang kiyai sebagai pewaris para Nabi. Terlebih apabila kiyai lahir dari keluarga yang memiliki status terhormat di masyarakat. Di samping karena ketinggian ilmunya juga karena keluhuran moral dan keperibadiannya yang dikagumi oleh masyarakat.
49

Lihat Zamakhsari Dhafier, Tradisi Pesantren, hal 43

105

Dalam kultur pesantren perasaan hormat dan kepatuhan santri kepada kiyai adalah mutlak, bukan hanya karena kiyai dianggap memiliki otoritas, namun juga

karena keyakinan murid pada kedudukan kiyai (guru) sebagi penyalur kemurahan Tuhan dilimpahkan kepada murid-muridnya, baik di dunia maupun di akherat. Perasaan hormat dan ketatatan kepada kiyai juga karena didasari kepercayaan bahwa kiyai memiliki kesucian dan tingkat spiritualitas yang tinggi karena memegang kunci penyalur pengetahuan dari Allah. Jadi kepatuhan juga didasarkan kepada tingkat keshalehan guru atau kiyai kepada Allah Swt., sifat kasih sayangnya, ketulusannya dalam mendidik, kerendahan hatinya dan kecintaannya dalam mengajar dan mendidik para santri. Oleh karena itu apabila guru atau kiyai melakukan perbuatan yang dilarang oleh agama dan perilaku yang menyimpang, maka akan kehilangan segala pamor dan penghargaan di atas termasuk di dalamnya akan kehilangan tingkat kesuciannya. Kiyai di samping memiliki ilmu pengetahuan agama yang tinggi, juga tingkat spiritualitas dan keshalehan yang tinggi. Oleh karenanya di samping ia mengajar dan memiliki otoritas di pesantren, juga dijadikan rujukan dan sandaran bagi permasalahan keagamaan di lingkungan masyarakatnya. Oleh sebab itu kiyai sekaligus menjadi imam masyarakat dan menjadi panutan dan rujukan spiritual bagi masyarakat sekitarnya.

Peran-peran spiritual keagamaan dan dakwah di antaranya : 1. Sebagai Imam Masjid dan Khatib Hampir semua kiyai pemimpin pondok pesantren merupakan imam masjid di tempat tinggalnya masing-masing. Di samping menjadi imam bagi santrinya juga bagi

106

masyarakat di sekitarnya, seperti dalam pelaksanaan shalat Fardhu dan juga shalat Jum’at serta shalat idul fitri dan idul Adha yang diatur dan diseling secara bergilir dengan warga lainnya. Kiyai juga menjadi khatib yang rutin memberikan khatbah baik pada Khatbah Jum’at maupun khatbah pada hari raya. Di samping menjadi imam dan Khatib di kampungnya, bebrapa kiyai pemimpin pondok pesantren juga tercatat sebagai imam dan Khatib di masjis-masjid beberapa perusahaan yang tersebar di kota Cilegon, terutama bagi para kiyai yang tergabung dalam organisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Cilegon dan Korp Muballigh Cilegon (KMC), seperti KH. M. Hilman Isma’il pemimpin Pondok Pesantren Al-Munawwaroh, KH. Junaedi Hasun Pemimpin Ponpes Al-I’anah, KH. Hasbullah Qamar Pemimpin Pondok pesantren Bani al-Qamar dan KH. Khaerudin Rais pemimpin Pondok Pesantren An-Nahdiyin.

2. Sebagai Dai dan Guru Ngaji Pondok Pesantren sebagai lembaga yang umumnya mengemban misis amar ma’ruf nahi munkar mempunyai tuga yang cukup serius yaitu yang secara partisipatif menjadi lembaga dakwah. Peran-peran tersebut bisa dilakukan secara institusional maupun perorangan untuk menyebarkan ajaran Islam. Secara institusional pondok pesantren juga sekaligus sebagai lembaga dakwah dalam menyebarkan ajaran dan nilai-nilai Islam dan mempraktekannya secara nyata. Kultur pondok pesantren yang khas dengan nilainilai keislaman dan keshalehan merupakan wujud dari dakwah bil hal. Di samping itu pondok-pondok pesantren yang diteliti semuanya memiliki lembaga majelis taklim yang tidak saja digunakan untuk kegiatan para santri, pada hari-

107

hari tertentu juga digunakan

sebagai tempat pengajian untuk masyarakat umum di

lingkungan pesantren dan sekitarnya. Di samping itu pondok pesantren umumnya juga membina dan memiliki tempat pengajian anak-anak atau juga yang berbentuk Taman Kanak-kanak Al-Qur’an (TKA) dan Taman pendidikan Al-Qur’an (TPA). Secara individual para kiyai dan ustazd di pesantren secara umum juga menjadi da’I dan beberapa di antaranya juga menjadi guru ngaji di lingkungan masyarakatnya. Beberapa kiyai memberikan pengajian dan ceramah dari satu tempat ke tempat lainnya. Para kiyai umumnya memiliki jadwal rutin memberikan pengajian di luar pondok. KH. Khaerudin Rais misalnya, memberikan pengajian rutin mingguan bagi kaum bapak dan ibu, seperti di Masjid Tunjung Buti Cilegon setiap malam Minggu, Di Masjid Pecek Bojonegara setiap malam Sabtu dan di Kampung Muju Palas setiap malam Jum’at. Adapun materi yang diajarkan seperti Tafsir Jalalain, Kifayatul Akhyar, Bulughul Maram, Riyadus Shalihin. Apabila Kiyai berhalangan biasanya diwakili oleh putra atau menantunya yang sekaligus juga menjadi ustazd di pondok. Demikian juga KH. Iskandar pemimpin Pondok Pesantren Bani Latif, aktif memberikan pengajian untuk masyarakat umum baik di Masjid yang berada di lingkungan pondok, maupun di Masjid Kampung Cibeber dan sekitarnya. Pengajian rutin bagi masyarakat umum rutin dilakukan di Masjid Pondok pesantren Bani Latif. Pengajian khusus kaum bapak dilaksanakan setiap hari senin dari jam 8.00 – 10.00. Sedangkan untuk kaum ibu setiap hari selasa dan hari Jum’at Jam 9.00 – 11.00, di mana jamaah yang datang tidak hanya dari sekitar Cilegon, namun juga dari Serang, Padarincang dan ada beberapa dari Baros dan Anyer. Adapun kitab-kitab yang diajarkan

108

meliputi, kitab-kitab Tafsir, seperti tafsir munir, tafsir Jalalai. Kitab-kitab Hadis, seperti Bulughul Maram, Riyadus Shalihin, kitab-kitab fikih seperti Kifayatul Akhyar, Fathul Qarib, Fathul Mu’in dan juga kitab-kitab akhlaks seperti Ikhya’ Ulumuddin. Adapun tenaga pengajarnya yang tetap adalah KH. Iskandar, H. Akram. HJ. Maemanah. Sedangkan KH. Hasbullah Qamar saat ini mengurangi memberikan pengajian di di masjid-masjid di sekitar kampung Karanga Tengah dan sekitarnya yang sebelumnya rutin dilakukan, dikarenakan faktor usia. Untuk menggantikan kegiatannya tersebut diteruskan oleh puteranya yang sekaligus juga ustazd di pondok, sedangkan beliau sendiri hanya memberikan pengajian yang diselenggarakan di majelis taklimnya di lingkungan pondok. Demikian juga dengan H. Hidayatullah Khumaeni, di samping sebagai pimpinan pondok pesantren Al-Qur’an, beliau secara pribadi memiliki kegiatan yang padat di luar pondok sebagai guru ngaji dan sebagai Qari yang seringkali berkeliling melayani permintaan masyarakat untuk menjadi qari di berbagai acara, baik di lingkungan Banten dan sekitarnya, Jakarta dan Sumatera. Di samping itu beliau juga turut membina para qari dan qari’ah di wilayah Cilegon dan Banten. Demikian juga dengan KH. Junaedi Hasun, seorang kiyai muda yang aktif memberikan pengajian bukan hanya di majelis taklim pondok pesantren al-I’anah yang dipimpinnya, namun juga di lingkungan penduduk kampung sekitarnya, bahkan ke Mancak dan Anyer. Di samping sering juga memberikan pengajian komplek perumahan dan perusahaan. di komplek-

109

Sedangkan KH.M. Hilman Isma’il di samping memberikan pengajian di majelis taklim di lingkungan pondok pesantren Al-Munawwaroh juga sering memberikan ceramah dan pengajian di Masjid-masjid sekitarnya dan seringkali memberikan pengajian pada acara-acara keagamaan di perusahaan-perusahaan.. Saat ini kegiatan pengajian di luar dbantu oleh anak menantunya yang juga ustadz di pondok. Kegiatan pengajian tidak hanya dilakukan oleh Ustazd namun juga oleh beberapa santri senior. Bahkan secara institusional pondok pesanten ini melakukan dakwah keliling ke masjidmasjid di sekitar Kecamatan Gerogol dan Pulomerak yang dilakukan oleh para santri dengan bimbingan ustadz dan kiyai. Di samping itu secara rutin setiap libur panjang santri pondok pesantren ini melakukan kegiatan berupa Perkemahan Dakwah Pelajar yang dilakukan di wilayah Cilegon dan bahkan beberapa kali melakukan kegiatannya di sekitar Bakauheni dan Kalianda Lampung Selatan. Di samping para kiyai umumnya memberikan pengajian di masjid-masjid sekitar pondok dan perkampungan, beberapa di antaranya juga aktif memberikan pengajian atau ceramah di komplek-komplek karyawan dan perusahaan, seperti komplek Krakatu

Steel, Komplek Chandra Asri, Komplek Statomer , Komplek Suralaya, Komplek Pertamina dan lainnya.

3. Sebagai Amil dan penyalur Zakat Pondok pesantren pada umumnya diberikan kepercayaan oleh masyarakat untuk mengelola dana infak, shadaqah, zakat dan wakaf, oleh karenanya kiyai seringkali merangkap sebagai amil, di mana masyarakat langsung memberikan zakatnya kepada

110

kiyai, dan oleh kiyai dana-dana tersebut dibagikan kepada para mustahik yang berhak menerimanya, di antaranya para santri, guru, fakir miskin dan termasuk untuk pembangunan masjid dan kegiatan keagamaan lainnya. Demikian juga dengan wakaf, banyak pesantren yang hidup dari kepercayaan terhadap pengelolaan dana-dana

masyarakat tersebut. Misalnya ada beberapa pondok yang memiliki wakaf produktif berupa sawah dan kebun yang hasilnya digunakan untuk membayar honor para Ustazd dan untuk membiayai operasional pondok.

4. Sebagai Pembimbing Ibadah Haji Tidak semua pondok pesantren memiliki lembaga Bimbingan Ibadah Haji, hanya satu pondok pesantren yang memiliki KBIH yaitu pesantren As-Shohabah. Namun demikian hampir beberapa kiyai di pondok pesantren lainnya, seperti Al-Munawwaroh, dan Al-I’anah seringkali diminta untuk menjadi pembimbing ibadah haji oleh beberapa KBIH yang ada di Cilegon, seperti KBIH Ummahatul Muslimat, KBIH Yayasan Cilegon Mandiri milik Pemda Kota Cilegon.

5. Konselor dan Tabib Kiyai pada umumnya dipandang memiliki kelebihan, baik dalam penguasan ilmuilmu agama, maupun ilmu-ilmu hikmat dan ilmu laduni. Masyarakat umumnya percaya bahwa kiyai memiliki ilmu-ilmu demikian, sehingga tidak jarang banyak masyarakat yang datang ke kiyai, di samping konsultasi dan menanyakan masalah-masalah keagamaan, juga konsultasi tentang masalah lainnya seputar kehidupan, jodoh, rumah

111

tangga, usaha, bahkan persoalan penyakit dan umumnya penyakit yang sifatnya rohaniyah. Sebagai bentuk pelayanan terhadap masyarakat para kiyai umumnya tidak bisa menolak permintaan-permintaan tersebut. Walaupun sudah memberikan alasan bahwa itu di luar kemampuannya, namun masyarakat umumnya mengharapkan kiyai

memberikan pengobatan walaupun sekedar sekedar tulisan do’a atau air putih yang dibacakan do’a-doa. Dengan dasar keyakinan dan harapan yang kuat ini biasanya mereka merasa tenang setelah diberikan do’a-do’a oleh kiyai, baik melalui air putih maupun lainnya, seperti diberikan kertas yang berisi tulisan-tulisan do’a . Menurut KH. Khaerudin Rais, KH. Hasbullah Qamar dan KH. Junaedi Hasun, di antara beberapa kiyai yang mengakui sering diminta tolong oleh masyarakat untuk membantu berbagai masalah yang dihadapi. Biasanya mereka datang meminta bacaan do’a-doa dan air putih. Menurut para kiyai tersebut, mengatakan air putihnya sebenarnya biasa, hanya dibacakan do’a-doa oleh kiyai yang dipelajari dari Al-Qur’an, Hadits dan ulama terdahulu. Dari beberapa kiyai yang diwawancarai penulis, mengaku seringkali diminta bantuan oleh masyarakat untuk memberikan pengobatan yang sifatnya batiniyah, mental spiritual. Setelah diberikan bacaan do’a-doa maka air tersebut dianggap memiliki hasiat yang bisa menyembuhkan penyakit terutama pada penyakit-penyakit rohaniyah. Pengobatan rohaniyah ini terutama pada kasus-kasus seperti kekosongan jiwa, pikiran hampa, selalu was-was dan tidak memiliki ketenangan, dan perasaan-perasann yang biasanya dihadapi oleh seseorang yang telah kehilangan sesuatu yang dicintai, seperti

112

kematian, musibah, PHK dan kehilangan dan sebagainya. Di samping juga minta do’a dan resep agar anak-anaknya menjadi nurut dan cerdas, meminta do’a untuk melahirkan bahkan meminta do’a dan resep agar dimudahkan mendapat pasangan hidup (jodoh). Dengan demikian peran dan kedudukan pondok pesantren sangat penting yang memiliki peran-peran utama dalam masyarakat, baik sebagai lembaga pendidikan juga sebagai lembaga dakwah dan spiritual serta menjadi pengayom dan lembaga yang dapat memberdayakan kehidupan masyarakat. Peran-peran pendidikan yang dilakukan pondok pesantren melebihi peran lembaga pendiidkan lainnya karena meliputi pendidikan

jasmaniyah dan rohaniyah, fisik dan mental, inteletual dan akhlak serta dunia dan akherat. Sebagai lembaga keagamaan, pondok pesantren tetap konsen mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan (tafaqquh fiddin). Sebagai lembaga sosial dan dakwah, pondok pesantren menjaga harmoni masyarakat, menjaga nilai-nilai luhur, melakukan

perubahan yang terbaik, melakukan kontrol sosial dan rekayasa sosial.

113

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan Dalam bagian penutup ini dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa pondok pesantren tradisional di Banten dan di Cilegon khusunya masih tetap eksis, yang tidak hanya berkembang di daerah pedesaan namun juga di daerah perkotaan. Jumlah pondok

pesantren di kota Cilegon seluruhnya berjumlah 52 buah dengan kategori pesantren kecil, yaitu yang hanya memiliki jumlah murid di bawah 1000 santri, bahkan ada yang hanya memiliki ratusan bahkan puluhan santri saja. Adapun kategori pesantren, 2 buah pesantren merupakan pondok pesantren moderen, 25 buah kombinasi dan 25 buah atau sebagian di antaranya adalah pondok pesantren tradisional. Jumlah pondok pesantren tradisional di kota ini berimbang dengan pondok pesantren kombinasi. Walaupun beberapa pondok pesantren tradisional berkembang di perkotaan, namun tetap pondok pesantren tradisional menjadi tujuan utama santri yang mayoritas berasal dari pedesaan. Di samping itu pondok pesantren tradisional tetap menjadi pilihan alternatif bagi pendidikan masyarakat yang kurang mampu secara ekonomi, namun tetap memiliki semangat belajar yang tinggi.

114

Pondok pesantren tradisional tetap eksis dan memiliki peran yang besar bagi pembangunan masyarakat, khususnya di kota Industri Cilegon ini. Walaupun industrialisasi menjadi primadona bagi kehidupan masyarakat, dan perubahan dalam segala aspek kehidupan tidak bisa dihindari, namun harapan masyarakat kepada pondok pesantren masih tetap tinggi. Hal itu terlihat dengan kepercayaan masyarakat untuk menitipkan putra-putrinya di pondok pesantren tardisional, di samping belajar di sekolah atau madrasah. Sebab lingkungan persantren di pandang lebih aman dan steril dari pengaruh negatif lingkungan, serta mendidik santri untuk mandiri dan berbudi pekerti, di samping untuk mendalami pengetahuan dan ilmu-ilmu keislaman. Kehidupan dan perkembangan pondok pesantren tidak bisa dilepaskan dari kehidupan lingkungan masyarakatnya, demikian juga sebaliknya. Masyarakat dan pondok pesantren senantiasa hidup saling ketergantungan antara yang satu dengan yang lainnya. Pondok pesantren memiliki peran yang besar dalam pembangunan masyarakat sekitarnya. Pondok pesantren tradisional tidak menutup diri dari perubahan sosial yang terjadi di masyarakat. Di samping tetap mempertahankan eksistensi dan identitas diri dan kekhasannya sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional, namun juga memberikan perhatian bagi kebutuhan masyarakatnya. Sebagai lembaga pendidikan pondok pesantren menjadi tujuan utama bagi masyarakat yang ingin mendalami ilmu-ilmu keislaman, di samping juga untuk membentuk kemandirian santri. Beberapa pondok pesantren juga memberikan pendidikan keterampilan dan keahlian. Di samping sebagai lembaga pendidikan kader ulama (ahli agama) saat ini beberapa pondok pesantren tradisioanl di Cilegon juga

115

memberikan fasilitas kejar paket A,B, dan C, di mana santri dibekali pengetahuan setara dengan pendidikan SD, SMP dan SMA , di mana dengan berbekal pengetahuan dan juga ijazah formal, para santri bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan memiliki pilihan profesi dan pekerjaan. Di samping sebagai lembaga pendidikan, pondok pesantren juga berfungsi sebagai lembaga sosial kemasyarakatan dan kegamaan, di mana nilai-nilai kehidupan pondok pesantren dapat terintegrasi dengan nilai-nilai kehidupan masyarakat sekitarnya untuk lebih baik. Kiyai seringkali menjadi rujukan bagi perilaku dan kehidupan masyarakatnya. Pondok pesantren sebagai pondasi pembina keagamaan umat dan

menjadi penjaga moral masyarakatnya. Di samping itu pondok pesantren juga menjadi agen perubahan bagi lingkungannya dengan kiyai sebagai pionernya. Kiyai seringkali tampil di garda depan dalam mensosialisasikan pesan-pesan pembangunan dan program pemerintah. Pesanpesan melalui mulut kiyai dirasa lebih efektif dan berhasil. Bahkan tidak jarang para pemimpin formal seringkali meminta petunjuk dan nasehat kiyai dalam melaksanakan tugas dan kebijakannya. Pondok pesantren dan kiyai juga menjadi pengawal keimanan dan Pembina kehidupan keagamaan masyarakat, maka sudah barang tentu peran kiyai dan pondok pesantren cukup besar dalam pembinaan keagamaan dan dakwah Islamiyah. Seluruh kiyau pengasuh pondok pesantren di Kota Cilegon ini semuanya merupakan guru-guru masyarakat yang mengajarkan ilmu agama dari masjid ke masjid dan dari majelis taklim

116

ke majelis taklim. Bahkan tidak hanya di perkampungan dan perumahan, mereka para kiyai berdakwah di lingkungan pabrik dan industri. Syiar agama yang dilakukan oleh pondok pesantren dan kiyai, tidak hanya melalui dakwah dan tabligh di masjid-masjid, namun juga melalui pembinaan, pemberian nasehat serta konseling bagi masyarakat yang membutuhkan nasehat kiyai. Bahkan tidak jarang problem-problem yang dikonsultasikan tidak hanya pada persoalan keagamaan. Bahkan tidak jarang mereka meminta nasehat kiya dalam persoalan keluarga, bisnis, jodoh, dan persoalan kehidupan lainnya. Bukan hanya nasehat, masyarakat juga

kerapkali memperlakukan kiyai dan menganggap kiyai serba bisa dalam mengatasi segala problem kehidupan. Oleh karena itu tidak jarang masyarakat datang ke kiyai bukan hanya belajar atau menanyakan masalah agama, namun mereka juga kerap minta obat atau air putih untuk menyembuhkan penyakit dan menyelesaikan masalah, terutama penyakit rohaniyah. Karena sikap penghidmatan dan pelanayanan yang tinggi kepada masyarakat, para kiyai umumnya tidak dapat menolak apalagi mengecewakan, dengan tetap memegang

prinsipnya untuk memberikan bantuan dan manfaat bagi kemaslahatan ummat.

B. Saran-Saran Hasil penelitian tentang Eksisitensi dan Peran Pondok pesantren tradisional dalam pembangunan masyarakat di kota Industri Cilegon ini, belum dapat memuaskan

117

pembaca, karena berbagai hal, terutama keterbatasan waktu dan literatur sehingga masih banyak kekurangan dan kelemahan dalam penelitian ini. Namun demikian hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran tentang, kondisi, eksisitensi dan peran

pondok pesantren tradisional dalam pembangunan masyarakat di Kota Industri. Harapan penulis , mudah-mudahan dengan hasil penelitian ini akan ada yang menindak lanjuti sebagai penelitian lanjutan untuk menggali lebih dalam yang terkait dengan pondok pesantren tradisional dan perubahan sosial sehingga dapat memberikan manfaat bagi pesantren dan juga masyarakat lainnya. Harapan penulis kepada pesantren tradisional agar tetap mempertahankan jati dirinya dan menunjukan eksisitensinya dengan peran-peran yang lebih besar dan bermanfaat bagi kemajuan dan kemaslahatan ummat. Hanya dengan mempertahankan jati diri dan penghidmatan yang tinggi semata-mata karena ummat, dengan tidak mengorbankan diri karena kepentingan sesaat dan kepentingan golongan kepentingan materi, niscaya dia akan tetap berjaya dan dipercaya. Demikian juga harapan penulis kepada berbagai pihak, terutama pemerintah, dan pihak-pihak terkait agar lebih meningkatkan perhatian dan kepedulian kepada pondok pesantren tradisional yang berperan besar dalam pembangunan masyarakat terutama dalam pembangunan bidang keagamaan dan akhlak. atau

118

DAFTAR PUSTAKA

A. Steenbrink, Karel, Pesantren, Madrasah, Sekolah, Jakarta : LP3ES, 1986 Ambari, Hasan Muarif, Peranan Pesantren dalam Pembangunan Islam di Jawa Barat, Tabloid Jumat, Jakarata ; Jum’at, Juli 1990 ----------------------------, Peranan Pesantren dalam Menghadapi Perubahan sosial di Banten, Makalah ‘ Simposium Nasional dan Kongres Pemuda pelajar Al-Khairiyah se Indonesia, Serang 29-31 Desember 1992 Azra, Azyumardi, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Bandung : Mizan, 2004 Alfian, Transformasi Sosial Budaya Dalam Pembangunan Nasional, Jakarta : UI-Press, 1986 Bruinesse, Martin Van, Pesantren dan Kitab Kuning : Pemeliharaan dan Kesinambungan tradisis Pesantren, Jurnal Ulumul Qur’an Vol III No. 4 Th 1992 Benda, Harry J., Bulan Sabit dan Matahari Terbit, Jakarta : Pustaka Jaya Dhofier, Zamahsari, Tradisi Pesantren ; : LP3ES, 1985 Studi tentang Pandangan Hidup Kiyai , Jakarta

Geertz, Clofford, Abangan, Santri, Kiyai dalam Masyarakat Jawa, Jakarta : Pustaka jaya, 1981 Madjid, Nurcholis, Islam Kemoderenan dan Keindonesiaan, Bandung : Mizan, 1987 Mastuhu, Dinamika Pendidikan Pesantren ; Suatu Kajian tentang Unsur Nilai Sistem pendidikan Pesantren, Jakarta : INIS, 1984 -----------, “Gaya dan Suksesi Kepemimpinan Pesantren ”, Jurnal Ulumul Qur’an , Vol II, 1990

119

Mihrab, Halwani, Korelasi Al- Khairiyah dengan Sejarah Perjuangan Pahlawan Geger Cilegon 1888, Makalah, Simposium Dan Kongres Pemuda Pelajar Al-Khairiyah Se Indonesia, Serang,Desember 1992 Kartodirejo, Sartono, Pemberontakan Petani Banten 1888, Jakarta ; Pustaka Jaya, 1984 Kuntowijoyo, Paradigma Islam : Interpretasi Untuk Aksi, Bandung ; Mizan, 1991 K Notingham, Elizabeth, Agama dan Masyarakat : Suatu Pengantar Sosiologi Agama , Jakarta : Rajawali, 1992 Oepen, Manfred dan Wolfgang Karcher, Dinamika Pesantren : Dampak Pesantren dalam Pendidikan dan Pengembangan Masyarakat, Jakarta : P3m-FNS, 1987 Raharjo, Dawam, Pergumulan Dunia Pesantren, Jakarta : P3M, 1983 -------------------, (ed) Pesantren dan Pembaharuan, Jakarta : LP3ES, 1982 Soekanto, Sarjono, Beberapa Teori Sosiologi Tentang Struktur Masyarakat, Jakarta : Rajawali, 1983 Yacub, H.M., Pondok Pesantren dan Pembangunan Masyarakat Desa, Bandung : Angkasa, 1985 Wahid, Abdurahman, “Paradigma Pengembangan Masyarakat Melalui Pesantren”, Jurnal Pesantren, NO 3/Vol.V/1988

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful