P. 1
Keluarga Bahagia Menurut Alkitab

Keluarga Bahagia Menurut Alkitab

|Views: 25|Likes:
Publicado porHami Sibagariang
Keluarga Bahagia Menurut Alkitab

 Banyak keluarga yang hancur—hidup tidak, matipun enggan—karena masing-masing yang berperan dalam keluarga itu mementingkan diri sendiri dan mengembangkan rasa tidak bertanggung jawab.
 Mementingkan diri yang dimaksud: “Bagaimana pasangan saya memuaskan saya?” “Bagaimana pasangan saya melakukan segala sesuatu dengan cara saya?” “Bagaimana pasangan saya sesuai dengan standar saya?” dll
 Suami isteri tinggal serumah tetapi tidak lagi sungguh-sungguh sebagai keluarga dan dalam ikatan pernikahan karena masing-masing menyimpan kepahitan dan kekecewaan terhadap pasangannya. Akibatnya: Suami, isteri, dan anak-anak menderita.
 Pelajari dan terapkan 7 konsep dasar ini untuk membantu pasangan suami isteri membangun keluarga yang stabil.

I. Ikuti Apa yang Diperintahkan Allah dalam Alkitab (2Tim. 3:16-17)
1. Allah menginstitusikan pernikahan (Kej. 2:24). Karena itu, pernikahan akan gagal jika pasangan suami-isteri hidup bersama dengan menggunakan aturannya sendiri dan bukan aturan Allah.
2. Akibatnya: (1) Keluarga berantakan (Kej. 27:1-46); (2) Kesetiaan anak-anak akan terpecah-pecah (1Raj. 1:6); (3) Anak-anak menyimpan kepahitan seumur hidupnya (2Sam. 18).
3. Prinsipnya:
a) Semua harus sudah lahir baru (Yoh. 3:3, 7)
b) Dibaptiskan, bersaksi bahwa hidup lama Anda sudah mati bersama Kristus dan dibangkitkan kembali dalam hidup yang baru untuk melakukan kehendak Allah (Rm. 6:3-5)
c) Serahkanlah diri Anda masing-masing untuk berlaku yang benar (Rm. 12:1-2)
d) Baca Alkitab dan berdoalah tiap hari dengan pasangan dan keluarga (Ul. 6:6-7)
e) Aktiflah dan hadirlah bersama-sama dalam setiap kebaktian dalam jemaat Tuhan yang alkitabiah (Ibr. 10:25)
f) Carilah kesempatan untuk melayani Tuhan bersama-sama (Rm. 12:11)

II. Peneguhan Kembali bahwa Pernikahan Itu Komitmen Permanen dan Persatuan yang Tidak Dapat Dipisahkan (Mat. 19:6)
1. Ingat “Dalam keadaan suka ataupun duka, kaya atau miskin, sehat atau sakit … sampai kematian memisahkan kita.”
2. Peganglah janji ini benar-benar bersama pasangan Anda.

III. Pernikahan itu Bukan Pembagian 50/50
1. Pembagian 50/50 ini berarti: “Jika kamu melakukan bagianmu, maka aku akan melakukan bagianku.” Bila tidak dilakukan, jadilah pertengkaran!!
2. Setiap pasangan harus memenuhi tanggung jawabnya 100%: Suami 100% dan isteri 100%, meskipun seandainya salah satu pasangan tidak dapat memenuhinya. Maksudnya, dengan memberikan 100% tadi, yang kuat akan menguatkan yang lemah,
3. Perintah Allah dalam pernikahan 100%-100% ini ada dalam Ef. 5:18-33:
a. Isteri: (1) tunduk pada suami, seperti kepada Tuhan (ingat bahwa ini bukan hanya jika suami melakukan tanggung jawabnya); (2) Isteri hendaknya tidak menggurui suaminya.Dia dapat memenangkan suaminya dengan perilakunya (1Ptr. 3:1)
b. Suami: (1) kepala keluarga—bukan dalam hal superior-inferior tetapi dalam hal otoritas dan tanggung jawab; (2) Mengasihi isteri, bahkan hingga rela mengorbankan nyawanya (Rm. 5:8); (3) dipenuhi dengan Roh Kudus (Ef. 5:18)
4. Bagaimana jika kita belum memberikan 100% ini?
a. Akui dosa dan kegagalan di hadapan Tuhan secara rinci (1Yoh. 1:9-10)
b. Minta pengampunan pada pasangan karena gagal menjadi pasangan yang dikehendaki Allah.
c. Belajarlah untuk taat.
IV. Kenali Bahwa Masing-masing Memiliki Kebutuhan Pribadi yang Berbeda-beda
1. Suami dan isteri masing-masing memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi oleh pasangannya (Ef. 5:33)
2. Apa yang dibutuhkan isteri?—(a) kasih; (b) mendengar bahwa dia dikasihi; (c) menerima bukti kasih suaminya; (d) rasa aman, perlindungan, dll
3. Apa yang dibutuhkan suami?—(a) dihormati dan dihargai; (b) mengetahui bahwa isterinya tetap menghargainya, khususnya pada saat ada kegagalan; (c) mengetahui bahwa isterinya bergantung padanya, sama seperti jemaat bergantung pada Kristus.
4. Jika tidak dipenuhi akan timbul konflik yang mengarah usaha pencarian pemenuhan kebutuhan itu pada orang lain.

V. Usahakanlah Untuk Memenuhi Kebutuhan Pasanga
Keluarga Bahagia Menurut Alkitab

 Banyak keluarga yang hancur—hidup tidak, matipun enggan—karena masing-masing yang berperan dalam keluarga itu mementingkan diri sendiri dan mengembangkan rasa tidak bertanggung jawab.
 Mementingkan diri yang dimaksud: “Bagaimana pasangan saya memuaskan saya?” “Bagaimana pasangan saya melakukan segala sesuatu dengan cara saya?” “Bagaimana pasangan saya sesuai dengan standar saya?” dll
 Suami isteri tinggal serumah tetapi tidak lagi sungguh-sungguh sebagai keluarga dan dalam ikatan pernikahan karena masing-masing menyimpan kepahitan dan kekecewaan terhadap pasangannya. Akibatnya: Suami, isteri, dan anak-anak menderita.
 Pelajari dan terapkan 7 konsep dasar ini untuk membantu pasangan suami isteri membangun keluarga yang stabil.

I. Ikuti Apa yang Diperintahkan Allah dalam Alkitab (2Tim. 3:16-17)
1. Allah menginstitusikan pernikahan (Kej. 2:24). Karena itu, pernikahan akan gagal jika pasangan suami-isteri hidup bersama dengan menggunakan aturannya sendiri dan bukan aturan Allah.
2. Akibatnya: (1) Keluarga berantakan (Kej. 27:1-46); (2) Kesetiaan anak-anak akan terpecah-pecah (1Raj. 1:6); (3) Anak-anak menyimpan kepahitan seumur hidupnya (2Sam. 18).
3. Prinsipnya:
a) Semua harus sudah lahir baru (Yoh. 3:3, 7)
b) Dibaptiskan, bersaksi bahwa hidup lama Anda sudah mati bersama Kristus dan dibangkitkan kembali dalam hidup yang baru untuk melakukan kehendak Allah (Rm. 6:3-5)
c) Serahkanlah diri Anda masing-masing untuk berlaku yang benar (Rm. 12:1-2)
d) Baca Alkitab dan berdoalah tiap hari dengan pasangan dan keluarga (Ul. 6:6-7)
e) Aktiflah dan hadirlah bersama-sama dalam setiap kebaktian dalam jemaat Tuhan yang alkitabiah (Ibr. 10:25)
f) Carilah kesempatan untuk melayani Tuhan bersama-sama (Rm. 12:11)

II. Peneguhan Kembali bahwa Pernikahan Itu Komitmen Permanen dan Persatuan yang Tidak Dapat Dipisahkan (Mat. 19:6)
1. Ingat “Dalam keadaan suka ataupun duka, kaya atau miskin, sehat atau sakit … sampai kematian memisahkan kita.”
2. Peganglah janji ini benar-benar bersama pasangan Anda.

III. Pernikahan itu Bukan Pembagian 50/50
1. Pembagian 50/50 ini berarti: “Jika kamu melakukan bagianmu, maka aku akan melakukan bagianku.” Bila tidak dilakukan, jadilah pertengkaran!!
2. Setiap pasangan harus memenuhi tanggung jawabnya 100%: Suami 100% dan isteri 100%, meskipun seandainya salah satu pasangan tidak dapat memenuhinya. Maksudnya, dengan memberikan 100% tadi, yang kuat akan menguatkan yang lemah,
3. Perintah Allah dalam pernikahan 100%-100% ini ada dalam Ef. 5:18-33:
a. Isteri: (1) tunduk pada suami, seperti kepada Tuhan (ingat bahwa ini bukan hanya jika suami melakukan tanggung jawabnya); (2) Isteri hendaknya tidak menggurui suaminya.Dia dapat memenangkan suaminya dengan perilakunya (1Ptr. 3:1)
b. Suami: (1) kepala keluarga—bukan dalam hal superior-inferior tetapi dalam hal otoritas dan tanggung jawab; (2) Mengasihi isteri, bahkan hingga rela mengorbankan nyawanya (Rm. 5:8); (3) dipenuhi dengan Roh Kudus (Ef. 5:18)
4. Bagaimana jika kita belum memberikan 100% ini?
a. Akui dosa dan kegagalan di hadapan Tuhan secara rinci (1Yoh. 1:9-10)
b. Minta pengampunan pada pasangan karena gagal menjadi pasangan yang dikehendaki Allah.
c. Belajarlah untuk taat.
IV. Kenali Bahwa Masing-masing Memiliki Kebutuhan Pribadi yang Berbeda-beda
1. Suami dan isteri masing-masing memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi oleh pasangannya (Ef. 5:33)
2. Apa yang dibutuhkan isteri?—(a) kasih; (b) mendengar bahwa dia dikasihi; (c) menerima bukti kasih suaminya; (d) rasa aman, perlindungan, dll
3. Apa yang dibutuhkan suami?—(a) dihormati dan dihargai; (b) mengetahui bahwa isterinya tetap menghargainya, khususnya pada saat ada kegagalan; (c) mengetahui bahwa isterinya bergantung padanya, sama seperti jemaat bergantung pada Kristus.
4. Jika tidak dipenuhi akan timbul konflik yang mengarah usaha pencarian pemenuhan kebutuhan itu pada orang lain.

V. Usahakanlah Untuk Memenuhi Kebutuhan Pasanga

More info:

Categories:Topics, Art & Design
Published by: Hami Sibagariang on May 14, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/04/2013

pdf

text

original

Keluarga Bahagia Menurut Alkitab  Banyak keluarga yang hancur—hidup tidak, matipun enggan—karena masingmasing yang berperan dalam

keluarga itu mementingkan diri sendiri dan mengembangkan rasa tidak bertanggung jawab.  Mementingkan diri yang dimaksud: “Bagaimana pasangan saya memuaskan saya?” “Bagaimana pasangan saya melakukan segala sesuatu dengan cara saya?” “Bagaimana pasangan saya sesuai dengan standar saya?” dll  Suami isteri tinggal serumah tetapi tidak lagi sungguh-sungguh sebagai keluarga dan dalam ikatan pernikahan karena masing-masing menyimpan kepahitan dan kekecewaan terhadap pasangannya. Akibatnya: Suami, isteri, dan anak-anak menderita.  Pelajari dan terapkan 7 konsep dasar ini untuk membantu pasangan suami isteri membangun keluarga yang stabil. I. Ikuti Apa yang Diperintahkan Allah dalam Alkitab (2Tim. 3:16-17) 1. Allah menginstitusikan pernikahan (Kej. 2:24). Karena itu, pernikahan akan gagal jika pasangan suami-isteri hidup bersama dengan menggunakan aturannya sendiri dan bukan aturan Allah. 2. Akibatnya: (1) Keluarga berantakan (Kej. 27:1-46); (2) Kesetiaan anak-anak akan terpecah-pecah (1Raj. 1:6); (3) Anak-anak menyimpan kepahitan seumur hidupnya (2Sam. 18). 3. Prinsipnya: a) Semua harus sudah lahir baru (Yoh. 3:3, 7) b) Dibaptiskan, bersaksi bahwa hidup lama Anda sudah mati bersama Kristus dan dibangkitkan kembali dalam hidup yang baru untuk melakukan kehendak Allah (Rm. 6:3-5) c) Serahkanlah diri Anda masing-masing untuk berlaku yang benar (Rm. 12:1-2) d) Baca Alkitab dan berdoalah tiap hari dengan pasangan dan keluarga (Ul. 6:6-7)

bahkan hingga rela mengorbankan nyawanya (Rm. sehat atau sakit … sampai kematian memisahkan kita. 10:25) f)Carilah kesempatan untuk melayani Tuhan bersama-sama (Rm. Peneguhan Kembali bahwa Pernikahan Itu Komitmen Permanen dan Persatuan yang Tidak Dapat Dipisahkan (Mat.Dia dapat memenangkan suaminya dengan perilakunya (1Ptr. (2) Isteri hendaknya tidak menggurui suaminya. 3. 5:18) 4. Minta pengampunan pada pasangan karena gagal menjadi pasangan yang dikehendaki Allah. Perintah Allah dalam pernikahan 100%-100% ini ada dalam Ef.” Bila tidak dilakukan. c. Akui dosa dan kegagalan di hadapan Tuhan secara rinci (1Yoh. 19:6) 1. seperti kepada Tuhan (ingat bahwa ini bukan hanya jika suami melakukan tanggung jawabnya). Maksudnya. 5:18-33: a. dengan memberikan 100% tadi. Peganglah janji ini benar-benar bersama pasangan Anda. yang kuat akan menguatkan yang lemah. 5:8). Belajarlah untuk taat. 12:11) II. Suami: (1) kepala keluarga—bukan dalam hal superior-inferior tetapi dalam hal otoritas dan tanggung jawab.” 2. Bagaimana jika kita belum memberikan 100% ini? a. jadilah pertengkaran!! 2. Pernikahan itu Bukan Pembagian 50/50 1. Setiap pasangan harus memenuhi tanggung jawabnya 100%: Suami 100% dan isteri 100%. (2) Mengasihi isteri.e) Aktiflah dan hadirlah bersama-sama dalam setiap kebaktian dalam jemaat Tuhan yang alkitabiah (Ibr. kaya atau miskin. . (3) dipenuhi dengan Roh Kudus (Ef. Isteri: (1) tunduk pada suami. meskipun seandainya salah satu pasangan tidak dapat memenuhinya. maka aku akan melakukan bagianku. 1:9-10) b. 3:1) b. Ingat “Dalam keadaan suka ataupun duka. III. Pembagian 50/50 ini berarti: “Jika kamu melakukan bagianmu.

5:33) 2. Sering kali hal ini karena sedikit . Jika tidak dipenuhi akan timbul konflik yang mengarah usaha pencarian pemenuhan kebutuhan itu pada orang lain. Apa yang dibutuhkan suami?—(a) dihormati dan dihargai. hormat pada yang lain selain pasangan mereka—itulah perzinaan. 7:3) 1. Suami dan isteri masing-masing memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi oleh pasangannya (Ef. dll 3. komunikasi. Jadi. 17:7) demikian juga minta pertolongan kepada mereka (Im. Hilangnya persekutuan yang hangat. Usahakanlah Untuk Memenuhi Kebutuhan Pasangan Anda (1Kor. perzinaan itu bukan hanya hubungan seks di luar pernikahan. VI. Jika kita memberi kebencian. Jika kita memberi senyum. 4. Pandanglah Perbedaan dengan Cara Allah (1Kor. Delapan Langkah Penurunan Hubungan (mengarah pada penceraian): a. Apa yang dibutuhkan isteri?—(a) kasih. (c) mengetahui bahwa isterinya bergantung padanya. (c) menerima bukti kasih suaminya. (d) rasa aman. Perangkap perzinaan—saat pasangan mencari pemenuhan kebutuhan untuk kehangatan. kita akan mendapat kebencian pula. Kenali Bahwa Masing-masing Memiliki Kebutuhan Pribadi yang Berbeda-beda 1.IV. dan kesatuan. komunikasi yang bermakna. sama seperti jemaat bergantung pada Kristus. Bandingkan bahwa Allah menyatakan bahwa penyembahan berhala adalah zina (Im. khususnya pada saat ada kegagalan. Mulailah dari diri Anda untuk memberi lebih dahulu (Luk. perlindungan. Jika kita memberi pertolongan. 6:38a): Jika kita memberi kasih … kita akan mendapatkan kasih. (b) mengetahui bahwa isterinya tetap menghargainya. V. kesatuan. 20:6). kita akan menerima pertolongan. kita akan menerima senyumam. (b) mendengar bahwa dia dikasihi. Apakah kebutuhan Anda itu sudah cukup terpenuhi oleh pasangan Anda? 2. 7:4-5) 1. b.

Pasangan tidak lagi memenuhi kebutuhan pasangannya. jangan pernah mengabaikannya. g. kesalahan. b. Kristus tidak berdosa. f. Bagaimana solusi terhadap penurunan hubungan itu? a. Bila pengampunan itu diberikan. Luk. dan penghukuman kita (Rm. 18:15) b. d. tanpa makna. 11:25. Tetapi persekutuan yang hangat itu telah berakhir. . 5:8). malu. Itulah jalan rekonsiliasi yang dilakukan Allah (Ef. Itu jugalah yang harus kita lakukan pada orang lain … terlebih pasangan kita (Mat.perbedaan yang terjadi antara suami isteri. biasanya anak-anak atau kerabat terdekat yang bersama mereka. 4:32) 3. 17:3-4) c. dasar pemulihan komunikasi dan keterbukaan dalam pernikahan pun akan kembali terbangun c. kasih. Sikap yang perlu dikembangkan adalah pengampunan (Mrk. 5:39). luka hati yang tidak terobati. Pernikahan menjadi dingin. tersenyum. h. dan komunikasi yang bermakna. e. berhubungan fisik. Orang yang terluka itu mencari kambing hitam dengan menyakiti orang lain. formalitas. Bagaimana Tuhan mengampuni? a. tetpai Dia menanggung dosa. 2. Selesaikan perbedaan itu dengan cara Allah. c. Benteng perlindungan pun akan juga dibangun. pasangan yang terluka itu menarik diri dan membangun benteng perlindungan. kita harus menempatkan diri kita di tempat di mana kita bisa kembali disakiti. Memang pasangan itu masih ada seatap. Gesekan-gesekan oleh karena perbedaan itu harus diselesaikan segera (Mat. dan juga kesalahan yang tidak dimaafkan. Untuk menghindari luka yang lebih parah. Perceraian. Saat kita benar-benar mengampuni.

Kesimpulan Bangunlah keluarga dengan prinsip Alkitab! . 5:22) jika dia percaya suaminya.VII. 3. Isteri dapat taat pada firman Allah (Ef. Percaya Sepenuhnya Satu Sama Lain 1. (b) curiga. Tanda-tanda ketidakpercayaan: (a) cemburu. Kita dapat memberikan kepada pasangan kita kepercayaan tanpa syarat hanya jika kita percaya bahwa Tuhan akan menjaganya benar dan menguatkannya bila dia gagal. (c) tembok perlindungan—batasan-batasan yang tidak masuk akal. Suami harus dapat mempercayai isterinya (Ams. Pernikahan akan kokoh bila didasari oleh saling percaya—termasuk kepercayaan untuk pasangan dapat memulai lagi dari awal meskipun dia telah gagal 2. 31:10-11) 5. 4.

You're Reading a Free Preview

Descarga
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->