HANDOUT

MATA KULIAH
Hidrologi dan Drainase
Dirangkum oleh:
I Nyoman Norken
Ketut Suputra
I Putu Gustave Suryantara Pariartha
Mawiti Infantri Yekti
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Udayana
2012
1
DAFTAR ISI
I. Hidrologi
1. Pendahuluan
2. Presipitasi
3. Evaporasi dan Evapotranspirasi
4. Infiltrasi dan Perkolasi
5. Hidrometri
6. Hidrograf
7. Hubungan antara Hujan dan Hidrograf
8. Konversi Hidrograf
9. Hidrograf Sintetis
10. Statistik untuk Hidrologi
11. Penelusuran Banjir
II. Drainase
1. Definisi Drainase
2. Sistem Drainase
3. Aspek Hidrologi
4. Aspek Hidraulika
2
I. HIDROLOGI
1. Pendahuluan
Hidrologi merupakan cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari keberadaan dan
pergerakan air di bumi.
Pada abad ke 15 sudah dikenal siklus / daur hidrologi yaitu sebagian air di bumi
beredar dan berubah.Pada tahun 1959 (Federal Council For Science and
Tecnology) merekomendasikan Hidrologi adalah ilmu pengetahuan tentang seluk
beluk air di bumi, kejadian, peredaran dan distribusinya, sifat alam dan sifat
kimia, serta reaksinya terhadap lingkungan dan hubungannya dengan kehidupan
manusia.
Pengetahuan lain yang berhubungan dengan hidrologi:
1. Fisika
2. Meteorologi
3. Oceanografi
4. Geografi
5. Geologi
6. Geomorfologi
7. Geohidrologi
8. Hidrolika
9. Dll.
Jumlah air di bumi :
+ 1,38 x 10
9
km
3
terdiri atas :
1. + 97 % terdiri dari air laut
2. + 3 % merupakan air tawar, terdiri dari :
3. + 75 % es
4. + 24 % air tanah
5. + 0,3 % air danau
6. + 0,03 % air sungai
Diperkirakan 0,26 % air tawar dapat dipebaharui (renewable)
3
Sebagian air di bumi beredar dan berubah mengikuti proses daur atau siklus
hidrologi. Prinsip siklus hidrologi adalah :
Keterangan :
P : Presipitasi
SR : Surface Run Off
I : Infiltrasi
PR : Perkolasi
IF : Inter Flow
GWF : Ground Water Flow
E : Evaporasi
T : Transpirasi
4
PR
Evaporasi Presipitas
i
Run Off
Laut
PR
I
GWF
IF
SR
E
E
E
T
P
Depression Storage
Sungai
5
Evaporasi
Presipitasi Surface Run Off
Sub Surface Run
Off
5. Langsung
6. Muka Tanah
7. Muka Air
4. Overland Flow
1. Infiltrasi
2. Interflow
3. Ground Water Flow
Komposisi Air Dalam Tanah
6
Zone
Aerasi
Air dalam
tekanan
hidrostatik
Capillary Zone
Intermediate
Belt
Soil Water
Zone
Zone
Jenuh
(Aquifer)
LAPISAN AQUIFER
Keterangan : M.A.T. = Muka air tanah
Aquifer terkekang
Aquifer Bebas
Lapisan Kedap Air
Lapisan Kedap Air
M.A.
T.
Garis
Piezometrik
Recharge Area
7
Beberapa istilah lapisan tanah pada zone jenuh / saturation zone :
 Aquifer : lapisan permeabel / lulusan yang menampung maupun melepaskan
air dalam jumlah yang cukup.
 Aquifer bebas (unconfined aquifer), bagian atasnya adalah muka air
sedangkan bagian bawahnya kedap air.
 Aquifer terkekang (confined aquifer), bagian atas dan bawahnya dibatasi
oleh lapisan kedap air.
 Aquiclude : lapisan impermeabel (kedap) yang dapat mengandung air tapi
tidak dapat melepaskan air dalam jumlah yang cukup.
 Aquifuge : lapisan impermeabel (kedap) yang tidak dapat mengandung
maupun melepaskan air dalam jumlah yang cukup.
Persamaan Neraca Air
I = Inflow
O = Outflow
∆S = Perubahan tampungan
I = O + ∆S
8
Water Balance :
Daratan : P = E +SR + ∆S + GWF
Laut : P = E – SR – GWF + ∆S + SP
WADUK
Water Balance :
∆S > 0
SR + P + GWF = E + SUP + SEP + ∆S
∆S < 0
SR + P + GWF + ∆S = E + SUP + SEP
E
P
SR
GW
F
SP
Laut
∆S
E
S
R
P
GWF
SUP
SEP
9
2. Presipitasi
Proses Terjadinya Hujan
Presipitasi termasuk di dalamnya adalah hujan, hujan salju, kabut, embun, dan
hujan es. Di daerah tropis termasuk Indonesia yang memberikan sumbangan
paling besar adalah hujan. Syarat-syarat terjadinya hujan adalah adanya kenaikan
udara yang mengandung uap air dan kemudian menjadi dingin dan terjadi
kondensasi. Air berkondensasi dari gas (vapor) menjadi cair (liquid). Bila suhu
mencapai di bawah titik beku maka akan terbentuk kristal es. Kondensasi
memerlukan suatu ruang atau tempat yang dinamakan inti kondensasi
(condentation nucleus) dimana molekul air menyatu dengan sendirinya. Partikel
debu yang mengambang di udara dapat berfungsi sebagai inti kondensasi, partikel
ini mengandung ion yang merupakan inti yang efektif karena secara elektrostatis
dapat menarik molekul air. Ion yang berada di atmosfer terdiri dari partikel garam
(evaporasi dari laut), ulfur, dan nitrogen. Diameter dari partikel ini berkisar antara
10
-3
– 10 µm dan nama dari partikel ini adalah aerosol.
Butir-butir air yang kecil makin membesar karena kondensasi dan karena saling
menyatu dengan sesamanya selama terbawa oleh udara yang turbulen, sampai
cukup besar sehingga gaya gravitasi mengakibatkan butir-butir air ini jatuh
sebagai hujan. Pada waktu jatuhnya butir-butir air ini terjadi proses evaporasi
sehingga ukuran butiran air mengecil dan terbawa kembali menjadi aerosol
melalui aliran udara turbulen. Kekuatan arus udara + 0,5 cm/s cukup untuk
membawa 10µm butir air. Kristal es dengan berat yang sama dapat terbawa
dengan kecepatan yang lebih rendah karena memiliki ukuran yang lebih besar.
Siklus kondensasi dari jatuhnya butir air, evaporasi dan naiknya butir air ke udara
terjadi rata-rata 10 kali sebelum mencapai ukuran kritis + 0,1 mm, dimana cukup
besar untuk jatuh sebagai hujan.
10
Sumber : Chow, Maidment, May, Larry, Applied Hydrologi, 1988
Udara
lembab
Butir air
terbentuk
akibat
kondensa
si
Ukuran
butiran air
bertamba
h besar
Butir air
cukup berat
untuk jatuh
(~ 0,1
mm )
Beberapa
butir air
mengecil
karena
evaporasi
Beberapa
butir air
bertambah
besar
karena
saling
beradu dan
melekat
satu sama
lain
Butir air dengan
ukuran 3 – 5 mm
pecah
Hujan jatuh
(0,1 – 3 mm)
11
Dengan kata lain,
Presipitasi : air yang jatuh ke bumi, dapat berupa
• Hujan
• Embun
• Kabut
• Salju
Di Indonesia khussnya yang banyak berkaitan dengan hidrologi adalah hujan,
hujan di Indonesia sangat bervariasintergantung dari faktor klimatologi :
Contoh : Bali + 2000 mm/tahun
India utara + 10000 mm / tahun
Singapura + 2300 mm/tahun
Beberapa istilah yang digunakan antara lain :
i : intensitas (tinggi/waktu, mm/jam, mm/menit)
d
R
t : lama hujan (durasi), menit, jam
frekuensi :
Tidak diperhitungkan dalam hidrologi teknik
Tinggi (tebal hujan) (mm)
12
Tipe Hujan Dibedakan Berdasarkan Cara Naiknya Udara Ke Atas
• Hujan Konvektif, Terjadi di daerah tropis pada musim kemarau dimana
udara yang berada dekat dengan permukaan tanah mengalami pemanasan
yang intensif. Pemanasan menyebabkan rapat massa berkurang, sehingga
udara basah naik ke atas dan mengalami pendinginan sehingga terjadi
pendinginan dan kondensasi. Lihat gambar 1.
Hujan Konvektif
Awan
Udara
panas
13
• Hujan Siklonik, Terjadi jika massa udara yang relatif ringan bertemu dengan
massa udara yang relatif berat, maka udara panas yang lembab dan ringan
akan bergerak ke atas udara yang dingin dan berat sehingga terjadilah
kondensasi dan terjadilah hujan. Hujan siklonik mempunyai sifat terjadi dalam
waktu pendek dan penyebaran terbatas. Lihat gambar 2
Gambar 2
Hujan Siklonik
• Hujan Orografik, Jika massa udara lembab terangkat ke atas oleh angin yang
terangkat karena adanya gunung, pegunungan, daratan tinggi sehingga
Udara
panas
Awan
Udara
dingin
14
terbentuk awan dan hujan. Sisi gunung yang dilalui oleh udara tersebut
banyak mendapat hujan yang disebut lereng hujan sedangkan sisi belakangnya
yang dilalui udara keringdisebut lereng bayangan hujan. Lihat gambar 3.
Gambar 3
Hujan Orografik
Pengukuran Curah Hujan
Awan
Daerah
bayangan
hujan
15
Ada 2 alat yaitu :
• Penakar hujan
• Pencatat hujan
Penakar Hujan
1. Penakar biasa
2. Penakar rata tanah
3. Penakar hujan Inggris
H = 1 m (WHO)
H = 0,4 m
(Inggris)
V
h > 1,5
m
h < 0,4
m
Corong dengan luas permukaan
datar (A)
Kisi-kisi agar rumput tidak
tumbuh
Pasir, untuk mencegah
cipratan air
A
Perisai
3 m
16
Pencatat Hujan
1. Tipping Bucket
Pada tipe ini bejana pengumpul merupakan bejana tandom berbentuk segitiga
dengan kapasitas bervariasi antara 1 – 3 mm. Bejana itu akan jatuh dan
menumpahkan isinya ke bejana pengumpul akhir. Bejana yang lain kemudian
menggantikan posisinya. Gerakan ini mengaktifkan suatu sirkuit listrik dan
mengakibatkan bergeraknya pena pada lembaran kertas grafik yang dipasang pada
suatu silinder dan berputar sesuai dengan perputaran jarum jam.
Air Hujan
17
2. Pelampung (Float)
Air hujan yang masuk ke corong akan ditampung oleh tangki penimbang. Berat
air alam tangki akan menggerakkan sebuah pena yang dicantumkan pada rakitan
pengikat. Gerakan pena ini sebanding dengan berat total curah hujan yang
diterima, dicatat pada kertas grafik yang digulung pada silinder yang berputar,
sehingga dapat digambarkan grafik curah hujan.
Hasil pencatatan
 Manual  tiap hari misal : 0900
 Automatic  dari hasil kertas pencatat
Pencatat hujan
otomatis, dapat
berputar
t1 t2 t3 t4
t5
50
40
30
20
10
0
18
Rainfall Record
Frekuensi Pengukuran
1 x 24 jam  untuk penakar biasa
1 x 1 minggu atau 1 bulan  untuk penakar otomatis dimana kertas atau baterai
harus diganti
Analisis Hujan DAS
Untuk menentukan hujan rata-rata pada suatu DAS dari beberapa stasiun hujan
(from point precipitation to area precipitation) dapat digunakan beberapa cara
yaitu :
a. Rata-rata Aljabar
Cara ini merupakan cara yang paling tidak teliti apalagi dengan variabilitas
hujan yang ada di Indonesia. Persamaan yang digunakan untuk
menghitung adalah :
d1 d2
dn
19
b. Polygon Thiessen
Cara ini sudah cukup teliti karena sudah memperhitungkan bobot stasiun
hujan berdasar jarak antar stasiun. Langkah-langkah untuk membuat
polygon thiessen adalah :
• Stasiun hujan diplot pada peta
• Antar stasiun hujan dihubungkan dengan garis putus-putus yang
membentuk segitiga.
• Ditarik garis sumbu pada segitiga-segitiga tersebut.
• Dihitung luasan yang dibatasi oleh poligon.
• Luasan masing-masing poligon dikalikan dengan hujan pada stasiun
hujan dan kemudian dibagi dengan luas total area maka didapatkan
hujan rata-rata area tersebut.
A
1
A2
A
3
20
A = A1 + A2 + A3 + …..+ An
Dimana d1 sampai dn adalah hujan tiap stasiun hujan
Jika  maka
c. Metode Isohyet
Metode ini merupakan metode yang paling baik dibandingkan metode
sebelumnya. Metode ini menghubungkan curah hujan yang memiliki
kedalaman yang sama dan memperhitungkan efek pegunungan (orografik).
Langkah-langkah dalam pembuatan garis isohyet yaitu :
1. Titik-titik stasiun hujan diplot pada peta.
2. Dibuat garis kontur yang menghubungkan hujan dengan kedalaman sama.
3. Dihitung luasan area yang dibatasi oleh dua isohyet.
4. Luas antara 2 isohyet dikalikan kedalaman hujan rata-rata antara 2 isohyet
kemudian dibagi dengan luas total DAS maka akan didapat kedalaman
hujan rata-rata DAS.
0
10
0
20
0
30
0
40
0
Garis kontur tinggi
hujan
21
Persamaan untuk isohyets :
Jaringan Pengukuran Hujan
Daerah Kerapatan jaringan
minimum (km
2
/sta)
Daerah datar beriklim sedang, laut tengah dan tropis
Kondisi normal
Daerah pegunungan
600-900
100-250
Pulau-pulau kecil bergunung (<20.000 km
2
) 25
Daerah kering dan kutub 1500-10.000
22
Perkiraan Data Hujan yang Hilang
Data kemungkinan bisa saja rusak atau hilang karena data tersebut dikumpulkan
oleh petugas. Hal ini tentu saja merugikan. Cara yang biasa digunakan untuk
analisis adalah dengan cara ekstrapolasi dengan data hujan dari stasiun di
sekitarnya (Sri Harto,2000). Cara- cara tersebut antara lain :
a. Normal Rational Method

dengan :
P
i
= hujan di stasiun i yang diperkirakan (mm),
N
i
= hujan rata-rata tahunan di stasiun i (mm),
P
A
= hujan di stasiun A (mm),
N
A
= hujan rata-rata tahunan di stasiun A (mm).
b. Reciprocal Method
Memiliki hasil yang lebih baik karena memasukkan jarak antar stasiun
sebagai faktor pembobot.
(2.14)
Dengan, D
XA
= jarak antara stasiun A dan stasiun X, dalam km
Variabilitas hujan yang cukup besar menyebakan andaian yang melandasi
kedua cara tersebut terlalu jauh dari kenyataan. Oleh sebab itu maka disarankan
lebih baik untuk tidak memperkirakan kembali data yang hilang tersebut, sebelum
ditemukan cara terbaik yang sesuai dengan kondisi yang terjadi di Indonesia yang
1
]
1

¸

+ + + ·
Nn
P N
.... ..........
N
P N
N
P N

n
P
n i
B
B i
A
A i
i
1
2
xn
2
xn
n
2
XB
2
xA
2
XB
B
2
xA
A
d
1
d
P
........
N
1
d
1
N
P
d
P
Px + +
+
+
·
23
mempunyai kesalahan yang sekecil mungkin. Data yang hilang hendaknya
dibiarkan saja dan dianggap pada hari itu stasiun tersebut tidak ada (Sri Harto,
2000).
Uji Konsistensi Data Hujan
Ketidakkonsistenan data dapat terjadi karena berbagai sebab antara lain :
• Alat ukur yang diganti dengan spesifikasi berbeda atau alat dipasang dengan
patokan yang berbeda.
• Alat ukur dipindahkan dari tempat semula, akan tetapi secara administratif
nama stasiun tidak diubah.
• Perubahan lingkungan misalnya dulu waktu dipasang stasiun pengukur hujan
adalah tempat yang ideal akan tetapi sekarang sudah berubah menjadi sekolah.
Satu seri data hujan untuk satu stasiun tertentu, dimungkinkan sifatnya tidak
panggah (inconsistent). Data semacam ini tidak dapat langsung dianalisis, karena
sebenarnya data di dalamnya berasal dari populasi data yang berbeda (Sri Harto,
2000). Cara koreksi yang sudah lama digunakan dan paling mudah adalah analisis
kurva ganda (double mass analysis). Cara ini dikembangkan oleh Searcy dan
Hardison. Metode ini menggunakan acuan hujan rata-rata stasiun-stasiun hujan di
sekitarnya (Gupta, 1989).
24
Kurva massa ganda untuk data yang panggah

Kurva massa ganda untuk data yang tidak panggah
Akumulasi hujan rata-rata tahunan pada stasiun
acuan (mm)
Hujan
tahunan
kumulatif
Stasiun
yang
ditinjau
(mm)
1
a
1
b
Hujan
tahunan
kumulatif
stasiun
yang ditinjau
(mm)
Akumulasi hujan rata-rata tahunan pada stasiun
acuan (mm)
25
Untuk data yang tidak panggah, sebelum digunakan untuk analisis lebih lanjut
data tersebut perlu dikoreksi terlebih dahulu dengan mengalikan faktor koreksi
sebesar :
2
1
S
S
· α
dengan :
S
1
= landai sesudah perubahan,
S
2
= landai sebelum perubahan.
Contoh tabel hitungan untuk Double Mass Analysis
Hujan Tahunan Rata-Rata Untuk Stasiun (in.) Rata-rata Hujan Hujan
Tahun Stasiun Akumulasi Akumulasi
A B C D E B, C, D,E Sta. A B,C,D,E
1970 26.28 29.89 24.55 36.56 31.8 30.7 26.28 30.7
1971 22.46 24.7 32.79 30.82 31.66 29.99 48.74 60.69
1972 26.81 33.6 32.35 38.61 33.61 34.54 75.55 95.23
1973 23.66 31.94 25.99 27.71 33.11 29.69 99.21 124.92
1974 19 29.06 29.38 36.1 25.24 29.95 118.21 154.87
1975 46.71 29.29 49.88 42.62 44.43 41.95 164.21 196.43
Sumber : Gupta, 1989
Intensitas Hujan (i)
Tapi, semakin lama hujan (t) maka t (waktu) semakin besar maka i (intensitas)
semakin kecil.
Contoh : hujan lebat terjadi dalam waktu singkat i >>  t<<
Persamaan-persamaan intensitas hujan :
1. Talbot

2. Sherman
t dalam menit
26
 baik untuk t > 2 jam
3. Ishiguro

4. Mononobe
 t dalam jam
Dengan,
i = intensitas hujan
t = waktu (lama) hujan
a, b, m,n = konstanta
d
24
= tinggi hujan maksimal dalam 24 jam
a dan b dicari dengan kuadrat terkecil
i
t
27
Menghitung a, b, n
1. Talbot
2. Sherman
3. Ishiguro
28
4. Mononobe.
Dimana :
I = Intensitas hujan (mm/jam)
t = lamanya hujan (jam)
R
24
= curah hujan maksimum harian (selama 24 jam) (mm).
Contoh :
Misalkan ada data seperti di bawah ini :
Lama hujan t (menit) t
1
t
2
………… t8
Intensitas hujan mm/jam I
1
I
2
………… I8
n = 8
maka :
No. t I I
2
It Dst
1. t
1
I
1
I
1
2
2. t
2
I
2
I
2
2
3. t
3
I
3
I
3
2
Jumlah
Masing-masing harga dimasukkan dalam rumus sehingga didapat kurva I
i
t
29
i dapat disajikan dalam beberapa bentuk :
IDF
Hyetograph
i
mm/ja
m
T10
0
T50
T10
t (durasi) jam
i
mm/ja
m
t (durasi) jam
30
T10
0
T50
T10
t (jam)
Ting
gi
huja
n
(mm
)
31
3. Evaporasi dan Evapotranspirasi
Evaporasi adalah perubahan molekul-molekul air yang terjadi secara terus
menerus dari dan ke atmosfer. Tapi dalam ilmu hidrologi, penguapan (evaporasi)
dibatasi oleh nilai perubahan atau pertukaran dari uap yang dibawa ke atmosfir.
Perubahan wujud ini memerlukan pertukaran + 600 kalori/gram air yang
diuapkan.
Evaporasi adalah perubahan dari muka air bebas. Transpirasi, air yang diserap
dari akar tumbuh-tumbuhan kemudian ditranspirasikan lewat daun.
Sangat sulit untuk membedakan evaporasi dan transpirasi dalam kondisi lapangan
yang tertutup oleh tumbuh-tumbuhan sehingga evaporasi dan transpirasi digabung
menjadi evapotranspirasi.
Kehilangan air (water losses) sangat diperhatikan dalam suatu siklus hidrologi
dimana kehilangan air dapat berasal dari evaporasi air, permukaan tanah,
tumbuh-tumbuhan dan juga berasal dari transpirasi tanaman. Evaporasi dari air,
permukaan tanah, dan transpirasi dari tanaman, dan juga evaporasi pada waktu
presipitasi disebut evaporasi total (total evaporation) atau dapat disebut juga
evapotranspirasi. Di beberapa daerah kering di Indonesia, kehilangan tersebut
terhadap hujan yang jatuh dapat mencapai 60 % (Triatmodjo, 2001). Sebagai
gambaran , hujan yang jatuh dengan kedalaman 5 mm/hari tidak efektif
membentuk aliran karena seluruhnya akan menguap. Untuk beberapa analisis
memang faktor penguapan tidak terlalu penting seperti analisis untuk banjir tapi
untuk beberapa hal analisis evaporasi sangat diperlukan seperti analisi untuk
neraca air waduk dan irigasi (Sri Harto, 2000).
Faktor-faktor yang mempengaruhi evaporasi
1. Radiasi Matahari
Perubahan air (cair) menjadi uap (gas) memerlukan energy berupa panas laten
untuk evaporasi. Panas laten untuk penguapan berasal dari radiasi matahari dan
tanah. Radiasi matahari merupakan sumber utama panas dan mempengaruhi
jumlah evaporasi diatas permukaan bumi , yang tergantung letak garis lintang dan
32
musim. Proses ini akan sangat efektif jika ada penyinaran secara langsung. Awan
merupakan penghalang radiasi matahari dan menghadap proses evaporasi.
2. Angin
Jika air menguap ke atas maka udara akan penuh dengan uap air. Angin dapat
mengganti udara jenuh dengan udara kering sehingga dapat mempercepat
evaporasi.
3. Kelembaban Relatif (Relative Humidity)
Kelembaban udara sangat tergantung dari suhu, sehingga pengaruh kelembaban
sangat berkaitan dengan suhu yang mempengaruhi penguapan. Apabila suhu naik
maka kelembaban akan turun dan sebaliknya. Jika kelembaban relatif naik maka
kemampuan udara untuk menyerap uap-uap air akan menurun sehingga
kemampuan evaporasi menjadi turun.
4. Suhu
Jika suhu udara dari tanah naik maka proses evaporasi berjalan lebih cepat
dibandingkan dengan suhu rendah, karena adanya panas.
5. Perbedaan tekanan udara
Keluarnya molekul air dari air tergantung dari tekanan air. Evaporasi dapat terjadi
apabila terjadi perubahan tekanan pada air (e
w
) dan tekanan pada udara di atasnya
(e
a
). Dengan kata lain tergantung dari perbedaan kejenuhan tekanan udara antara
temperatur air dan temperatur udara. Bila udara lebih panas dibandingkan dengan
air maka tekanan jenuh udara akan lebih besar dibandingkan dengan permukaan
air (e
a
> e
w
) maka evaporasi akan berlangsung sampai e
a
= e
w
dan begitu juga
sebaliknya.
Sedangkan evapotranspirasi dipengaruhi oleh :
• Persediaan air yang cukup
• Faktor iklim
• Jenis tanaman
33
Pengukuran Evaporasi :
1. Pengukuran langsung
Atmometer (piche, livingstone, black bellani)
a. Piche
Seperti panci penguapan terbuka, alat ini digunakan sebagai pengukur
penguapan secara relatif. Maksudnya, alat ini tidak dapat mengukur secara
langsung evaporasi ataupun evapotranspirasi yang sesungguhnya terjadi.
Hasil pembacaannya sangat tergantung terhadap angin, iklim dan debu.
Pada prinsipnya Piche evaporimeter terdiri dari:
1. Pipa gelas yang panjangnya + 20 Cm dan garis tengahnya + 1,5
Cm. Pada pipa gelas terdapat skala, yang menyatakan volume air
dalam Cm
3
atau persepuluhnya. Ujung bawah pipa gelas terbuka
dan ujung atasnya tertutup dan dilengkapi dengan tempat
menggantungkan alat tersebut.
2. Piringan kertas filter berbentuk bulat. Kertas ini berpori-pori
banyak sehingga mudah menyerap air. Kertas filter dipasang pada
mulut pipa terbuka.
3. Penjepit logam, yang berbentuk lengkungan seperti lembaran per.
Per ujung yang melekat disekeliling pipa dan ujung lainnya
berbentuk sama dengan diameter pipa.
gelas
kerta
s
air
34
b. Living stone
c. Black bellani
Dengan evaporation pan
a. Class A Pan (pan coefficient 0,6-0,8)
B. Colorado Sunken Pan
6 “
10 “
Bola porselein
berpori
Porselein
berpori datar
Ф 4 ft
35
c. Floating Pan
2. Water Balance
Persamaan yang digunakan
E = I – O + ∆S
Dengan,
E = evaporasi
I = Inflow
O = Outflow
∆S = perubahan storage
Atau
Muka air
36
E = P + I + U – O + ∆S
Dengan,
P = Presipitasi
U = aliran bawah tanah yang masuk maupun yang keluar
Pengukuran dengan Lysimeter
Evapotranspirasi = I – O + ∆S
Dimana ∆S disini merupakan perubahan kadar air pada tanah.
Evaporasi + transpirasi + perkolasi
Transpirasi = B – A
Evaporasi = C
Perkolasi = A – C
C A B
37
3. Empirik
Rumus-rumus empirik biasanya didasarkan antara evaporasi dan evapotranspirasi
yang dikaitkan dengan faktor meteorology.
a. Blaney-Cridlle
U
c
= k F
Dengan
U
c
= evaporasi rentang tanaman
k = crop faktor (tergantung jenis tanaman)
t = temperatur rata-rata per bulan
0
F
p = % jam penyinaran per tahun
faktor k juga tergantung pada musim dan tingkat pertumbuhan
b. Turc, Langbein, Wund
Dengan,
= Evapotranspirasi rata-rata tahunan (mm/tahun)
= Hujan rata-rata tahunan (mm/tahun)
L
(+)
= 300 + 25t + 0,05t
3
t = suhu rata-rata tahun (
0
C)
jika :
38
c. Penman
Merupakan persamaan yang cukup kompleks, dengan persamaannya :
Dimana,
E
p
= evaporasi potensial
f = faktor
E
0
= evaporasi muka air bebas
Dimana,
= konstanta psikhrometer = 0,66 jika t dalam
0
C dan e dalam mbar
es’ = tekanan uap jenuh pada lapisan batas ts’
e = tekanan udara aktual dari udara pada temperatur t
Persamaan diatas dapat dilihat pada tabel
)
T
a
= suhu dalam Kelvin (T
a
+ 273 + t
0
C)
e
a
= tekanan sebenarnya udara (mmhg)
r = faktor pantulan dari permukaan bumi
39
R
A
= Nilai angot dari radiasi matahari yang tiba di atmosfer
R
C
= Radiasi gelombang pendek yang diterima matahari
n/d = radiasi keawanan
n = jumlah jam dalam 1 hari matahari bersinar terang
d = jumlah jam yang dimungkinkan dalam 1 hari matahari bersinar
a & b = konstanta yang tergantung tempat di bumi, misalnya Canberra a =0,25
b=0,54
d. Thornthwaite
Untuk menghitung besarnya evapotranspirasi pada bulan 30 hari dan jumlah
jam terang 12 jam/hari
E
p
= evapotranspirasi (cm/hari) untuk bulan 30 hari dan jumlah jam terang 12
jam/hari
S = jumlah hari dalam bulan tertentu
T
x
= Jumlah jam rata-rata sehari antara matahari terbit dan matahari terbenam
dalam bulan tertentu.
Sedangkan untuk menghitung E
p
*
 E
p
(cm/hari) dalam bulan yang
diperhitungkan dengan 30 hari dan jumlah jam bersinar perhari 12 jam.
t = suhu rata-rata bulan
0
C

J = indeks panas tahunan
40
j = indeks panas bulanan

n = 1, 2, 3, ……., 12
a = (675.10
-9
)J
3
– (771.10
-7
)J
2
+ (179.10
-4
)J + 0,492
kemudian oleh Serra rumus J dan a disederhanakan menjadi
j = 0,09 t
n
3/2
a = (1,6.10
-2
)J + 0,5
Contoh soal Thornthwaite
Hitunglah evapotranspirasi potensial (E
p
) aktual pada bulan Juni 1997 dengan t
rata-
rata
bulanan 30
0
C, dari pengamatan diperoleh suhu rata-rata bulanan seperti di
bawah ini.
Bulan Suhu (
0
C) Indeks panas j
Januari -5 0,00
Pebruari 0 0,00
Maret 5 1,00
April 9 2,43
Mei 13 4,25
Juni 17 6,38
Juli 19 7,55
Agustus 17 6,38
September 13 4,25
Oktober 9 2,43
November 5 1,00
Desember 0 0,00
J = 35,67
a = (1,6.10
-2
)J + 0,5 = 1,07  serra
cm/hari atau 154,6 mm/hari
Bulan juli = 31 hari dan rata-rata terang = 14 jam/hari (Belanda)
41
e. Hargreaves
Evapotranspiration = α E0
Eo= Evaporasi nilai air bebas
α = dihitung berdasarkan % growing season dari tanaman
Misal α tanaman padi
% dari growing season tanaman
Tanaman 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
padi 0,80 0,95 1,05 1,15 1,20 1,30 1,30 1,20 1,10 0,9
0
0,80
Tanaman
air koef
α
berbeda
Masih banyak cara empirik yang dapat digunakan untuk menghitung
evapotranspirasi !!
42
4. Infiltrasi Dan Perkolasi
Infiltrasi adalah perpindahan air dari atas ke bawah permukaan tanah
Perkolasi adalah gerakan air ke bawah dari zona tidak jenuh, yang terletak di
antara permukaan tanah sampai ke permukaan air tanah (zona jenuh)
Rate of infiltration tergantung dari :
1. Sifat permukaan tanah
2. Kepadatan permukaan tanah
3. Sifat dan jenis tanaman
Infiltrasi
Perkolas
i
Muka air tanah
Zona
tak
jenuh
Zona
jenuh
Presipita
si
Surface
Detention
43
4. Cara bercocok tanam
5. Surface dentention (genangan permukaan)
6. Kadar air tanah
7. Air tanah
Sifat transmisi lapisan tanah
Infiltrasi rendah sedangkan perkolasi tinggi
Infiltrasi tinggi sedangkan perkolasi rendah
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan :
a. Infiltration rate  sesuai dengan kondisi alam
Tanah relatif padat
Tanah relatif
porous
Tanah relatif
porous
Tanah relatif padat
44
b. Infiltration capacity  kemampuan maximum permukaan tanah untuk
meloloskan air
c. Field capacity  kapasitas lapangan, kemampuan maksimal butiran tanah
Manahan air akibat adanya gaya gravitasi.
Laju infiltrasi f
Laju perkolasi p
Soil Moisture profile
45
46
Akibat hujan infiltrasi hujan dari t
0
t
1
, Kadar air naik dari w
0
menjadi w
1.
Bila
hujan berhenti pada t1 maka air akan bergerak ke bawah, dengan profil kadar air
akan bergerak ke bawah, dengan profil kadar air tanah pada t
2
, t
3
, t
4
dan t
5
pada
t
6
kadar air mencapai field capasity sekunder kedalam m.a. naik, zone kapiler
juga ikut naik.
Rate of Infiltration
Fp = infiltration capasity
fc =Infiltration rate
47
Persamaan Horton :
Untuk
Pada saat: t = t
1
fp
1
-fc = k.Fp
t = t
2
fp2-fc = k.Fp2
Jika disubtitusikan :
Jika i < f
p
 maka gantikan f
p
dengan i
( ) ( )


− ·

·
~
c
dt
kt
e fc fo
~
t
dt fp - fc Fp
k
fo - fc

-kt
e
k
fo - fc
· ·
( )
2 1 1 2
- Fp Fp - k fp fp ·
( )

·
2
1
1 2
t
t
dt fp - fc - k fp fp
( )

·
2
1
1 2
t
t
dt i - fc - k fp fp
48
Untuk berlaku lama :
f = nilai terkecil antara f
p
dan i
Persamaan Holtan
Untuk hujan yang terputus-putus (intermitten)
( )

·
2
1
1 2
t
t
dt f - fc - k fp fp
( )Δt
t
t
f - fc - k fp fp ∑ ·
2
1
1 2
49
Pengukuran Infiltrasi
1. Infiltrometer (ring)
Berupa tabung baja yang ditancapkan ke dalam tanah
Infiltration rate adalah jumlah air yang ditambahkan agar permukaan air
konstan tiap satuan waktu (mm/menit atau mm/jam)
2. Test Plot
Sama dengan infiltrometer  test plat adalah infiltrometer besar
3. Lysimeter
50
I =D + E ± ΔS
I bagian air yang ditambang atau dapat juga keadaan yang sebenarnya,
sehingga dapat dilengkapi dengan alat penangkar hujan Reservoir
4. Rain Simulator
Hujan buatan pada area tertentu
g, I dan f
p
digambarkan  I dan q diukur
51
Hujan dikendalikan saat g mulai konstan  f
c
dan q
c
didapat  q diukur
Untuk menggambarkan f
p
 storage harus daoat ditentukan
Saat :
Setelah hujan berhenti :
q akan terus mengalir yang merupakan q
s
atau tampungan pada
simulator
Atau diukur volumenya setelah itu baru diperbaharui f
p
5. Dengan analisa endapan
(hubungan hujan dengan lumpur)
Untuk DAS yang kecil
5. Pilih hujan rata-rata pada bagian
6. Pilih hidrograf  pisahkan baseflow
7. Gambar kurva massanya
P – Q = I + F
( ) dt
te
tc
qr fr D vol qr

+ · ·
Initial abstraction + 20 % (P-Q)
52
5. Hidrometri dan Unsur-Unsur Aliran Sungai
Hidrometri
53
Hidrometri dimaksudkan pengukuran terhadap elemen-elemen aliran sungai,
untuk tugas mengumpulkan informasi tentang karakteristik aliran suatu sungai.
Pertimbangan :
- Kebutuhan data
- Tujuan pengumpulan data
- Biaya yang tersedia
- Sifat daerah aliran
Stasiun Pengukuran
• Basic Network
• Secondary Network
• Project Network
Pengukuran tinggi muka air, stasiun gauging harus pada :
- Bagian sungai yang lurus
- Arus yang sejajar
- Penampang sungai yang stabil
- Kepekaan yang cukup / internal pengukuran
- Accesible
- Bebas dari pengaruh backwater curve
54
Cara Penempatan
55
Pengukuran debit sungai :
Indirect measurement :
• Velocity Head Rod
• Trupp’s Ripple meter
• Pitat Meter
• Area-Velocity Method
Direct Measurement
1. Volumetric method
2. Pengukuran langsung
AWLR (Automatic Water Level
Recording)
56
Gambar Velocity Head Rod
Trupp’s Ripple Meter
D2-D1 = H
D1
D2
57
Pitot Meter
Area Velocity Method
58
V diukur dengan menggunakan current meter
Tergantung dari jumlah titik pengukuran
1. 1 titik maka pada 0,6 H
2. 2 titik maka 
3. 3 titik maka 
4. Dst.
Diukur pada
• Mid Section
0,2 H
0,8 H
0,6 H
b
V H
59
• Mean Section
Pengukuran langsung
Volumetric method
Mengukur volume air yang mengalir dalam satuan waktu  hanya untuk debit
yang kecil misalnya di lab.
Alat / bangunan pengukur debit
• Thompson
• Cypoletti
• Rehbock
Q = C B H
1,5
B = Panjang ambang
H = Tinggi air di atas ambang + tinggi kecepatan awal
C = Koefisien
H
n+1
H
n
V
n
V
n+1
60
Pembuatan lengkung debit (Rating curve)
Rating curve adalah hubungan antara tinggi muka air (H) dengan debit yang
mengalir di tempat itu (Q)  dapat dipakai / membantu membuat hidrograf.
Q
Scattered
diagram
Garis regresi
H
61
Diukur sesuai dengan yang dibacakan di depan  biasanya dihitung dengan area-
velocity method
Persamaan regresi
Q = a + b H  garis lurus
Q = a + b H + c H
2
 parabola
Q = a H
b
 Exponential
62
6. Hidrograf
Hubungan antara Q dan t
Beberapa tipe sungai :
• Sungai Ephemeral
63
• Sungai Intermitten
• Sungai Perennial
64
Pemisalan Aliran Dasar (base flow) Pada Hidrograf
• Aliran dasar adalah aliran pada musim kemarau
• Aliran dasar dalam banyak kasus dianggap konstan
Straight Line Method
Fixed Based Length
Aliran terjadi sepanjang tahun
65
T = A
0,2
A = Luas
T = Hari
Variable Slope Method
66
7. Pendekatan Teoritik Hubungan antara Hujan dan Hidrograf
Dimana :
P = hujan
Pe = Hujan efektif yang menyebabkan limpasan permukaan dan interflow
R = Recharge
Qs = Q permukaan (surface)
Qg = Qair tanah (groundwater)
Qg
Qs
P-Pe
Pe
Input (P)
Lap. Permukaan
dan Lapisan
Dangkal
Zone tak jenuh
R
Zone
jenu
h
Q
67
A. Coseptual Model
1. Konsep Translasi
Perjalanan air pada sistem  seperti sabuk berjalan (belt conveyor)
Hujan sesaat
Hujan Sesaat (instaneous rain)
68
Hidrograf Hujan terus menerus dengan konsep translasi
c
t
c t
t
At i
Q
t A d i Q
0
0
/
·
·

τ
apabila t > t
c
, maka Q
t
= i
0
A
69
Hujan dengan durasi tertentu
2. Tampungan (Storage)
 h = hujan, A = luas, S=V= Volume tampungan
A dan Q Sebanding
Seakan-akan
A = B-c
Inflow
outflow
70
Pada t = 0  h = h  dengan persamaan kontinuitas
menjadi
Syarat batas : t = 0, h=h
0
maka C = h
0
sehingga persamaan menjadi
71
τ
τ
τ α d
t
iAd Q e
) ( − −
·
dengan integrasi diperoleh :

− −
·
t
d
t
Ai Q e
0
) (
τ
τ α
α


·
t
d
t
t
Ai Q e e
0
τ
α
α
α
) 1 (
t
Ai Q e
α −
− ·
untuk t ∞ Q
t
= iA
72
73
t i1 i2 i3 Total
1
.
i1A1 i1A1
2
.
i1A2 i2A1 i1A2+i2A1
3
.
i1A3 i2A2 i3A1 i3A3+I2A2+i3A1
4
.
i1A4 i2A3 i3A2 i1A4+i2A3+I3A2
5
.
i2A4 i3A3 i2A4+i3A3
6
.
i3A4 i3A4
B. Black Box Model  dengan hidrograf satuan (unit hidrograf)
74
Atau
t
c
= t
1
+ t
2
+ t
3
+ t
4
Bila hujan yang terjadi pada catchment sbb :
75
Maka hidrograf yang terjadi adalah (super posisi) :
t i1 i2 i3 Total
1
.
i1A1 i1A1
2
.
i1A2 i2A1 i1A2+i2A1
3
.
i1A3 i2A2 i3A1 i3A3+I2A2+i3A1
4
.
i1A4 i2A3 i3A2 i1A4+i2A3+I3A2
5
.
i2A4 i3A3 i2A4+i3A3
6
.
i3A4 i3A4
Sehingga bila ada hujan
76
Maka
77
Metode Rasional umum yang di pakai untuk memperkirakan laju aliran
permukaan puncak adalah metode Rasional USSCS (1973). Metode ini sangat
simple dan mudah penggunaanya, namun penggunaanya terbatas untuk DAS-
DAS ukuran kecil yaitu kurang dari 300 ha. Karena model ini merupakan
model kotak hitam, maka tidak dapat menerangkan hubungan curah hujan
dan aliran permukaan dalam bentuk hidrograf. Persamaan matematik metode
rasional dinyatakan dalam bentuk :
Qp = 0,2778 C I A
Dimana
Qp = laju aliran permukaan (debit) puncak (m
3
/detik)
C = koefisien aliran permukaan (0 ≤ C ≤ 1)
I = intensitas hujan (mm/jam)
A = luas DAS (km
2
)
Koefisien Aliran Permukaan untuk Metode Rasional sbb:
78
Business
Perkotaan 0,70 - 0,95
Pinggiran 0,50 - 0,70
Perumahan
Rumah tunggal 0,30 - 0,50
Multiunit, terpisah 0,40 - 0,60
Multiunit, tergabung 0,60 - 0,75
Perkampungan 0,25 - 0,40
Apartemen 0,50 - 0,70
Industri
Ringan 0,50 - 0,80
Berat 0,60 - 0,90
Perkerasan
Aspal dan beton 0,70 - 0,95
Batu bata, paving 0,50 - 0,70
Atap 0,75 - 0,95
Halaman, tanah berpasir
Datar 2% 0,05 - 0,10
Rata-rata, 2-7% 0,10 - 0,15
Curam, 7% 0,15 - 0,20
Halaman, tanah berat
Datar 2% 0,13 - 0,17
Rata-rata, 2-7% 0,18 - 0,22
Curam, 7% 0,25 - 0,35
Halaman kereta api 0,10 - 0,35
Taman tempat bermain 0,20 - 0,35
Taman, perkuburan 0,10 - 0,25
Hutan
Datar, 0-5% 0,10 - 0,40
Bergelombang, 5-10% 0,25 - 0,50
Berbukit, 10-30% 0,30 - 0,60
Deskripsi lahan/karakter permukaan Koefisien aliran (C)
Sumber : Suripin, 2004
79
80
Super posisi dan Kurva S (S curve) dari hujan terus menerus
81
8. Konversi Hidrograp Satuan
Unit hidrograf sesaat (IUH)  hujan efektif
d = it T = d/i
Bila T 0 maka didapat U (t,0) IUH
U (t,r) tinggi d = s
t
– s
t
– r
U (t,0) tinggi d =
82
Kurva S (S Curve)
Misal : hujan dengan intensitas 20 mm/jam, selama 1 jam, menghasilkan limpasan
langsung sbb :
waktu
(jam)
Q (m
3
/dt) Waktu
(jam)
Q (m
3
/dt)
0
1
2
3
4
5
6
0
5
19
33
36
30
24
7
8
9
10
11
12
13
18
14
10
8
4
2
0
Tabel untuk membuat kurva S
Jam hasil
limpasan permukaan pada waktu ke
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
1 u (t,1) 0 5 19 33 36 30 24 18 14 10 8 4 2 0
2 u (t-1,1) 0 5 19 33 36 30 24 18 14 10 8 4 2
3 u (t-2,1) 0 5 19 33 36 30 24 18 14 10 8 4
4 u (t-3,1) 0 5 19 33 36 30 24 18 14 10 8
5 u (t-4,1) 0 5 19 33 36 30 24 18 14 10
6 u (t-5,1) 0 5 19 33 36 30 24 18 14
7 u (t-6,1) 0 5 19 33 36 30 24 18
8 u (t-7,1) 0 5 19 33 36 30 24
9 u (t-8,1) 0 5 19 33 36 30
10 u (t-9-1) 0 5 19 33 36
11 u (t-10,1) 0 5 19 33
12 u (t-11,1) 0 5 19
13 u (t-12,1) 0 5
Jumlah B (t,20) 0 5 24 57 93 123 147 165 179 189 197 201 203 203
83
Hasil
Limpasan Permukaan untuk waktu ke-
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
u (t,20) 0 5 24 57 93 123 147 165 179 189 197 201 203 203 203 203
u (t-1,20) - - 0 5 24 57 93 123 147 165 179 189 197 201 203 203
u40 (t,2) 0 5 24 52 69 66 54 42 32 24 18 12 6 2 0 0
u20 (t,2) 0 25 12 26 345 33 27 21 16 12 9 6 3 1 0 0
Contoh di atas, turunkan hidrograf satuan dengan lama 2 jam
S
t
= kurva s untuk hujan menerus I dan S
t
-T sesudah digeser T jam
U
(iT)
(t,T) = S
t
– S
t
-1
Untuk hidrograf dengan kedalaman d
U
d
(t,T) =
Kurva S  hidrograf satuan sesaat (IUH) (Instaneous Unit Hidrograf)
Bila maka
84
8. Hidrograf Satuan Sintetis
Hidrograf SCS (Soil Conservation Service)
Hidrograf SCS adalah hidrograf satuan sintetis , dimana debit dinyatakan
sebagai nisbah debit q terhadap titik puncak q
p
dan waktu dalam nisbah waktu
t terhadap waktu naik hidrograf satuan T
p
. Jika debit puncak dan waktu
kelambatan dari suatu durasi hujan efektif diketahui, maka hidrograf satuan
dapat diestimasi dari hidrograf sintetis SCS. Harga q
p
dan T
p
dapat
diperkirakan dari model sederhana hidrograf satuan segitiga. Persamaan yang
digunakan adalah sebagai berikut :
(2.34)
(2.35)
(2.36)
(2.37)
(2.38)
Keterangan :
t
p
= kelambatan DAS (jam)
T
c
= waktu konsentrasi (jam)
T
p
= waktu puncak (jam)
t
r
= durasi hujan efektif (jam)
q
p
= debit puncak per satuan luas (m
3
/dt.cm)
Q
p
= debit maksimum (m
3
/dt)
85
tr
Tp 1,67 Tp
qp
1
2 tr
tp
t (jam)
q (m /dt.cm)
Hidrograf Segitiga SCS
Hidrograf Satuan Sintetik Snyder
Tinggi hujan d = 1 cm
m
3
/det
86
A = km
2
Dengan :
L = panjang DAS
Lc = Panjang titik berat DAS ke Outlet
Ct = 0,75 s/d 3,00
Cp = 0,90 s/d 1,40
Untuk aplikasi di Indonesia
Tp ditulis t
p

t
t
r
t
Q
P
t
b
t
p
87
Bila : t
e
> t
r
 t
p
dipakai t
p

Bila : t
e
< t
p
maka T
p
= t
p
+ 0,5
Juga sering ditulis :
hujan = 1 mm/jam
t
p
= Waktu dari titik puncak hujan ke puncak hidrograf
T
p
= Waktu dari permukaan hujan hingga puncak hidrograf
Hidrograf Satuan Sintetis Nakayasu
Nakayasu dari Jepang, telah menyelidiki hidrograf satuan pada beberapa sungai di
Jepang. Ia membuat rumus hidrograf satuan sintetik dari hasil penyelidikannya.
Rumus tersebut adalah sebagai berikut (Soemarto, 1987) :
0,3 P
P
T 3,6(0,3T
CARo
Q
+
·
Dimana :
Q
P
= debit puncak banjir (m
3
/detik)
R
0
=hujan satuan (mm)
T
P
= tenggang waktu dari permulaan hujan sampai puncak banjir (jam)
T
0,3
= waktu yang diperlukan oleh penurunan debit puncak sampai menjadi
30 % dari debit puncak (jam)
Bagian lengkung naik (rising limb) hidrograf satuan mempunyai persamaan :
88
2,4
P
P
T
t
Q Qa

,
_

¸
¸
·
Dimana Q
a
= limpasan sebelum mencapai debit puncak (m
3
/detik) dan t adalah
waktu (jam).
Bagian lengkung turun (decreasing limb) :
Q
d
> 0,3 Q
P
: 0,3
P
T
T t
P d
.0,3 Q Q

·
0,3 Q
P
> Q
d
> 0,3
2
Q
P
: 0,3
0,3 P
1,5T
0,5T T t
P d
.0,3 Q Q
+ −
·
0,3
2
Q
P
> Q
d
: 0,3
0,3 P
2T
1,5T T t
P d
.0,3 Q Q
+ −
·
Tenggang waktu T
P
= t
g
+ 0,8 t
r
dimana untuk :
L < 15 km tg = 0,21 L
0,7
L> 15 k tg = 0,4 + 0,058 L
L = panjang alur sungai (km)
tg = waktu konsentrasi (jam)
t
r
= 0,5 t
g
sampai t
g
(jam)
T
0,3
=
α
t
g
(jam)
Dimana :
• untuk daerah pengaliran biasa
α
=2
• untuk bagian naik hidrograf yang lambat dan bagian menurun yang cepat
α
= 1,5
89
• untuk bagian naik hidrograf yang cepat dan bagian menurun yang lambat
α
= 3
Hidrograf Satuan Sintetik NAKAYASU
Sumber : Soemarto, 1987
Hidrograf Satuan Sintetik Gama I
Hidrograf Satuan Sintetik Gama I pertama kali dikembangkan di Pulau Jawa, dan
kemudian berlaku juga untuk beberapa daerah di Indonesia. Dalam metode HSS
Gama I dibutuhkan parameter-parameter DAS sebagai data masukan yang dapat
diukur dari peta topografi. Parameter-parameter tersebut adalah :
• Faktor sumber (SF), yaitu perbandingan antara jumlah panjang sungai-
sungai tingkat satu dengan panjang sungai semua tingkat.
T
P
T
0,3

1,5T
0,3

0,3
2

Q
P
0,3Q
Q
P
lengkung
turun
lengkung naik
t
r
t
t
g
0,8
t
r
90
• Frekuensi sumber (SN), yaitu perbandingan antara jumlah pangsa sungai
tingkat satu dengan jumlah pangsa sungai semua tingkat.
• Faktor lebar (WF), yaitu perbandingan antara lebar DAS yang diukur di
titik di sungai yang berjarak 0.75 L dan di titik di sungai yang berjarak
0.25 L dari titik kontrol, dengan L adalah panjang sungai utama.
Cara penetapan faktor lebar.
• Luas DAS sebelah hulu (RUA), yaitu perbandingan antara luas DAS
sebelah hulu dan luas DAS. Luas DAS sebelah hulu dibatasi oleh batas
DAS dan garis tegak lurus terhadap garis yang ditarik dari titik kontrol
dengan titik di sungai terdekat dengan titik berat DAS.
91
Cara penetapan RUA.
• Faktor simetri (SIM), perkalian antara faktor lebar (WF) dan RUA. Faktor
ini mendeskripsikan bentuk DAS. Apabila SIM = 0.5, maka secara umum
lebar DAS sebelah hulu sama dengan sebelah hilir. Apabila SIM > 0.5,
maka umumnya lebar DAS sebelah hulu cenderung lebih besar dan
mengecil ke arah hilir dan sebaliknya.
• Jumlah pertemuan sungai (JN), yaitu jumlah semua pertemuan sungai
dalam DAS. Jumlah ini selalu sama dengan jumlah pangsa sungai-sungai
tingkat satu dikurangi satu.
• Kerapatan jaringan kuras (D), yaitu jumlah panjang sungai semua tingkat
tiap satuan luas DAS.
HSS Gama I terdiri dari empat variabel pokok, yaitu waktu naik (time of
rise, TR), debit puncak (QP), waktu dasar (TB), dan sisi resesi yang ditentukan
oleh nilai koefisien tampungan (storage coefficient, K)
92
Tipikal bentuk Hidrograf Satuan Sintetik Gama I.
Sisi resesi yang ditentukan oleh koefisien tampungan mengikuti
persamaan eksponensial sebagai berikut :
k t
t
e Q Q
/
0

·
2775 , 1 0665 , 1
100
43 , 0
3
+ +

,
_

¸
¸
· SIM
SF
L
TR
2381 , 0 4008 , 0 5886 , 0
1836 , 0 JN TR A QP

·
2574 , 0 7344 , 0 0986 , 0 1457 , 0
4132 , 27 RUA SN S TR TB

·

0452 , 0 0897 , 1 1446 , 0 1798 , 0
5617 , 0 D SF S A K
− −
·
4
13 2 6
10 6985 , 1 10 859 , 3 4903 , 10

,
_

¸
¸
⋅ ⋅ + ⋅ ⋅ − · Φ
− −
SN
A
A
dengan
Qp = debit puncak (m
3
/s),
TR = waktu naik (jam),
93
L = panjang sungai utama (km),
SF = faktor sumber,
SIM = faktor simetri,
A = luas DAS (km
2
),
JN = jumlah pertemuan sungai,
SN = frekuensi sumber,
RUA = luas DAS sebelah hulu (km
2
),
K = koefisien tampungan,
S = kemiringan dasar sungai (m/m),
D = kerapatan jaringan kuras,
Ф = indeks phi (mm/jam).
94
10. Statistik untuk Hidrologi
95
Parameter statistik digunakan sebagai dasar dalam menentukan distribusi
probabilitas teoritik yang cocok terhadap data yang ada.
• Rerata :
• Simpangan baku :

• Koefisien asimetri (skewness)
• Koefisien variasi
• Koefisien kurtosis
96
dengan :
x = rerata,
S = simpangan baku,
Cs = koefisien asimetri,
Cv = koefisien variasi,
Ck = koefisien kurtosis,
n = jumlah data.
• Distribusi probabilitas
Salah satu hal penting dalam analisis hidrologi adalah menafsirkan
probabilitas suatu kejadian yang akan datang berdasarkan data hidrologi yang
diperoleh pada pencatatan yang telah lampau. Untuk maksud tersebut
digunakan konsep probabilitas dalam analisis data hidrologi (Bambang
Triatmodjo, 2006). Distribusi probabilitas yang sering dipakai dalam analisis
hidrologi yaitu distribusi Normal, Log Normal, Gumbel dan Log Pearsson III.
Fungsi kerapatan kemungkinan (probability density function) keempat
distribusi tersebut dijelaskan seperti berikut ini (Sri Harto,2000).
• Distribusi Normal
Distribusi normal mempunyai dua parameter, yaitu location parameter
(-∞ < < ∞ ) dan scale parameter , sedangkan probability
density function :
97
Fungsi distribusinya (distribution function) :
rata-rata (mean) :
variance :
skewness :
kurtosis :
• Distribusi Log Normal
Distribusi log normal dua parameter dengan dua parameter masing-masing
-∞ < < ∞ dan mempunyai probability density function sebagai
berikut :
dengan fungsi distribusi :
rata-rata (mean) :
variance :
98
skewness :
kurtosis :

Selain itu apabila koefisien variasi dinyatakan sebagai :
Maka koefisien skewness dihubungkan dengan koefisien variasi dengan
hubungan :

• Distribusi Log-Pearson III
Berikut ini langkah – langkah penggunaan distribusi Log Person
Tipe III (Suripin,2004):
s K X X
T
. log log + ·
Keterangan :
Harga rata – rata :

·
·
n
i
n
Xi
X
1
log
log
Simpangan Baku :
( )
5 , 0
1
2
1
log log
1
]
1

¸



·

·
n
i
n
X Xi
s
Koefisien Kemencengan :
99
( )
( )( )

·
− −

·
n
i
s n n
X Xi
G
1
3
3
2 1
log log

100
Tabel Nilai K untuk Distribusi Log-Person III
Interval kejadian (Recurrence interval), tahun (periode ulang)
1,0101 1,2500 2 5 10 25 50 100
koef, G Persentase peluang terlampaui (Percent chance of being exceeded)
99 80 50 20 10 4 2 1
3 -0.667 -0.636 -0.396 0.42 1.18 2.278 3.152 4.051
2.8 -0.714 -0.666 -0.384 0.46 1.21 2.275 3.114 3.973
2.6 -0.769 -0.696 -0.368 0.499 1.238 2.267 3.071 2.889
2.4 -0.832 -0.725 -0.351 0.537 1.262 2.256 3 3.8
2.2 -0.905 -0.752 -0.33 0.574 1.284 2.24 2.97 3.705
2 -0.99 -0.777 -0.307 0.609 1.302 2.219 2.192 3.605
1.8 -1.087 -0.799 -0.282 0.643 1.318 2.193 2.848 3.499
1.6 -1.197 -0.817 -0.254 0.675 1.329 2.163 2.78 3.388
1.4 -1.318 -0.832 -0.225 0.705 1.337 2.128 2.706 3.271
1.2 -1.449 -0.844 -0.195 0.732 1.34 2.087 2.626 3.149
1 -1.588 -0.852 -0.164 0.758 1.34 2.043 2.542 3.022
0.8 -1.733 -0.856 -0.132 0.78 1.336 1.993 2.453 2.891
0.6 -1.88 -0.857 -0.099 0.8 1.328 1.939 2.359 2.755
0.4 -2.029 -0.855 -0.066 0.816 1.317 1.88 2.261 2.615
0.2 -2.178 -0.85 -0.033 0.83 1.301 1.818 2.159 2.472
0 -2.326 -0.842 0 0.842 1.282 1.751 2.051 2.326
-0.2 -2.472 -0.83 0.033 0.85 1.258 1.68 1.945 2.178
-0.4 -2.615 -0.816 0.066 0.855 1.231 1.606 1.834 2.029
-0.6 -2.755 -0.8 0.099 0.857 1.2 1.528 1.72 1.88
-0.8 -2.891 -0.78 0.132 0.856 1.166 1.448 1.606 1.733
-1 -3.022 -0.758 0.164 0.852 1.128 1.366 1.492 1.588
-1.2 -2.149 -0.732 0.195 0.844 1.086 1.282 1.379 1.449
-1.4 -2.271 -0.705 0.225 0.832 1.041 1.198 1.27 1.318
-1.6 -2.388 -0.675 0.254 0.817 0.994 1.116 1.166 1.197
-1.8 -3.499 -0.643 0.282 0.799 0.945 1.035 1.069 1.087
101
-2 -3.605 -0.609 0.307 0.777 0.895 0.959 0.98 0.99
-2.2 -3.705 -0.574 0.33 0.752 0.844 0.888 0.9 0.905
-2.4 -3.8 -0.537 0.351 0.725 0.795 0.823 0.83 0.832
-2.6 -3.889 -0.49 0.368 0.696 0.747 0.764 0.768 0.769
-2.8 -3.973 -0.469 0.384 0.666 0.702 0.712 0.714 0.714
-3 -7.051 -0.42 0.396 0.636 0.66 0.666 0.666 0.667
• Distribusi Gumbel
( ) 45 , 0 78 , 0 − + · y S X X
x
Tr
( )
( ) 1
2

− Σ
·
n
X X
S
i
X

,
_

¸
¸

,
_

¸
¸ −
− − ·
T
T
Y
Tr
1
ln ln

Keterangan :
X
= x rata – rata tahunan
S
X
= simpangan baku
Y = perubahan reduksi
n = jumlah data
Bentuk lain dari persamaan Gumbel (Suripin,2004) :
x t
S K X X . + ·

Keterangan :
X
t
= x yang terjadi dalam kala ulang t
102
X = rata – rata dari segi data Xi
X
i
= seri data maksimum tiap tahun
S
x
= Simpangan baku
K = konstanta yang dapat dibaca dari tabel 2.1
n = jumlah data
atau
x
n
n t
t
S
S
Y Y
X X .

+ ·

Keterangan :
X
t
= x yang terjadi dengan kala ulang T
X = rata – rata x maksimum dari segi data Xi
S
x
= simpangan baku
Y
n
dan S
n
= besaran yang merupakan fungsi dari jumlah pengamatan (n)
Y
t
= reduksi sebagai fungsi dari probabilitas
Untuk besaran K, S
n,
Y
n,
Y
t
(Dapat dilihat pada tabel 2.1 sampai dengan tabel 2.4)
Tabel Faktor Frekuensi untuk Nilai Ekstrim (K)
n
KALA ULANG (tahun)
10 20 25 50 75 100 1000
103
15 1,703 2,410 2,632 3,321 3,721 4,005 6,265
20 1,625 2,302 2,517 3,179 3,563 3,836 6,006
25 1,575 2,235 2,444 3,088 3,463 3,729 5,842
30 1,541 2,188 2,393 3,026 3,393 3,653 5,727
40 1,495 2,126 2,326 2,943 3,301 3,554 5,476
50 1,466 2,086 2,283 2,889 3,241 3,491 5,478
60 1,466 2,059 2,253 2,852 3,200 3,446
70 1,430 2,038 2,230 2,824 3,169 3,413 5,359
75 1,423 2,029 2,220 2,812 3,155 3,400
100 1,401 1,998 2,187 2,770 3,109 3,349 5,261
Sumber : Buku Sistem Drainase Perkotaan yang berkelanjutan,2004
104
Tabel Simpangan Baku Tereduksi (Sn)
n 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
10 0,94 0,96 0,98 0,99 1,00 1,02 1,03 1,04 1,04 1,05
20 1,06 1,06 1,07 1,08 1,08 1,09 1,09 1,10 1,10 1,10
30 1,11 1,11 1,11 1,12 1,12 1,12 1,13 1,13 1,13 1,13
40 1,14 1,14 1,14 1,14 1,14 1,15 1,15 1,15 1,15 1,15
50 1,16 1,16 1,16 1,16 1,16 1,16 1,16 1,17 1,17 1,17
60 1,17 1,17 1,17 1,17 1,18 1,18 1,18 1,18 1,18 1,18
70 1,18 1,18 1,18 1,18 1,18 1,18 1,19 1,19 1,19 1,19
80 1,19 1,19 1,19 1,19 1,19 1,19 1,19 1,19 1,19 1,20
90 1,20 1,20 1,20 1,20 1,20 1,20 1,20 1,20 1,20 1,20
100 1,20
Sumber : Buku Sistem Drainase Perkotaan yang berkelanjutan,2004
105
Tabel Rata – Rata Tereduksi (Y
n
)
n 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
10 ,495 ,499 ,503 ,507 ,510 ,512 ,515 ,518 ,520 ,522
20 ,523 ,525 ,526 ,528 5,29 ,530 ,532 ,533 ,534 ,535
30 ,536 ,537 ,538 ,538 ,539 ,540 ,541 ,541 ,542 ,543
40 ,543 ,544 ,544 ,545 ,545 ,546 ,546 ,547 ,547 ,548
50 ,548 ,549 ,549 ,549 ,550 ,550 ,550 ,551 ,551 ,551
60 ,552 ,552 ,552 ,553 ,553 ,553 ,553 ,554 ,554 ,554
70 ,554 ,555 ,555 ,555 ,555 ,555 ,556 ,556 ,556 ,556
80 ,556 ,557 ,557 ,557 ,557 ,558 ,558 ,558 ,558 ,558
90 ,558 ,558 ,558 ,559 ,559 ,559 ,559 ,559 ,559 ,559
100 ,560
Sumber : Buku Sistem Drainase Perkotaan yang berkelanjutan,2004
Tabel Hubungan antara Kala Ulang Dengan Faktor Reduksi (Y
t
)
KALA ULANG (TAHUN) FAKTOR REDUKSI (Yt)
2 0,3665
5 1,4999
10 2,2502
25 3,1985
50 3,9019
100 4,6001
Sumber : Buku Sistem Drainase Perkotaan yang berkelanjutan,2004
Cara Menentukan Jenis Distribusi
1. Distribusi Normal
106
Sifat khusus distribusi normal adalah harga asimetri mendekati nol (Cs ≈
0) dan nilai kurtosis mendekati tiga (Ck ≈ 3). sifat-sifat yang lain adalah :
• Probabilitas ( )
X X S ≤ −
= 15,87 %
• Probabilitas
X X ≤
= 50,00 %
• Probabilitas ( )
X X S ≤ +
= 84,14 %
2. Distribusi Log Normal
Sifat dari distribusi log normal adalah nilai asimetris yang mendekati tiga
kali koefisien variansi (Cs ≈ 3 Cv) dan Cs yang selalu positif.
3. Distribusi Gumbel
Sifat dari distribusi Gumbel adalah koefisien asimetri (Cs) ≈ 1.1396 dan
koefisien kurtosis (Ck) ≈ 5.4002.
4. Distribusi Log Pearson III
107
Tabel Persyaratan Pemilihan Jenis Distribusi / Sebaran Frekuensi
No Sebaran Syarat
1. Normal Cs = 0
2. Log Normal Cs = 3 Cv
3. Gumbel
Cs = 1,1396
Ck = 5,4002
4. Bila tidak ada yang memenuhi syarat digunakan sebaran Log Person Type III

• Uji kesesuaian distribusi
Uji kesesuaian distribusi dilakukan untuk menetapkan apakah distribusi
yang dipilih sesuai dengan sebaran data. Terdapat dua jenis pengujian
yaitu :
o Uji Chi-Kuadrat
Pada dasarnya uji ini merupakan pengecekan terhadap penyimpangan
rerata dari data yang dianalisis berdasarkan distribusi terpilih.
Penyimpangan tersebut diukur dari perbedaan antara nilai probabilitas
setiap varian
χ
menurut hitungan dengan pendekatan empiris. Rumus
yang digunakan sebagai berikut (Rachmad Jayadi, 2000) :
108
( )
2
2
1
k
i
i
Ef Of
Ef
χ
·
1

· 1
1
¸ ]


dengan :
2
χ
: harga Chi-Kuadrat,
Ef
: frekuensi yang diharapkan untuk kelas i,
Of
: frekuensi terbaca pada kelas i,
K : banyaknya kelas.
Syarat dari uji Chi-Kuadrat adalah harga
2
χ harus lebih kecil dari pada
2
χ
cr
(Chi-Kuadrat kritik) yang besarnya tergantung pada derajat
kebebasan (DK) dan derajat nyata (α). Pada analisis frekuensi sering
diambil derajat nyata 5%. Derajat kebebasan dihitung dengan
persamaan :
DK = K – (P+1)
dengan :
DK = derajat kebebasan,
K = banyaknya kelas,
P = jumlah parameter.
o Uji Smirnov Kolmogorov
Pengujian dilakukan dengan mencari nilai selisih probabilitas tiap
varian
χ
menurut distribusi teoritik yaitu Δ
i
. Harga Δ
i
maksimum harus
109
lebih kecil dari Δ kritik yang besarnya ditetapkan berdasarkan
banyaknya data dan derajat nyata (α). Akan lebih jelas bila distribusi
ditampilkan dalam bentuk gambar (probability paper)
110
Nilai kritis untuk uji Smirnov-Kolmogorov.
0,2 0,1 0,05 0,01
5 0,45 0,51 0,56 0,67
10 0,32 0,37 0,41 0,19
15 0,27 0,3 0,34 0,4
20 0,23 0,26 0,29 0,36
25 0,21 0,24 0,27 0,32
30 0,19 0,22 0,24 0,29
35 0,18 0,2 0,23 0,27
40 0,17 0,19 0,21 0,25
45 0,16 0,18 0,2 0,24
50 0,15 0,17 0,19 0,23
1,07 1,22 1,36 1,63
N
0,5
N
0,5
N
0,5
N
0,5
N
Derajat Kepercayaan, α
N > 50
111
112
113
114
115
116
11. Penelusuran Banjir
Konsep Penelusuran
Penelusuran aliran (stream routing) adalah cara (prosedur, analisis) matematik
yang digunakan untuk melacak aliran melewati sistem hidrologi (Chow, 1988
dalam Sri Harto, 2000). Definisi lain yang agak lebih luas menyebutkan bahwa
penelusuran aliran adalah cara (prosedur) yang digunakan untuk memperkirakan
perubahan besaran, kecepatan, bentuk gelombang aliran (flood wave) sebagai
fungsi waktu (hydrograph) di satu atau beberapa titik di sungai (Fread, 1993
dalam Sri Harto, 2000). Jika alirannya adalah banjir, maka penelusuran tersebut
secara spesifik dikenal sebagai penelusuran banjir.
Dalam praktek dikenal terdapat dua jenis penelusuran aliran, yaitu penelusuran
hidrologis (hydrologic routing / lumped routing) dan penelusuran hidraulik
(hydraulic routing / distributed routing). Perbedaan antara lumped dan distributed
routing adalah pada lumped routing , aliran dinyatakan sebagai fungsi waktu pada
suatu titik disepanjang aliran, sedangkan pada distributed routing aliran
dinyatakan sebagai fungsi ruang dan waktu serentak untuk banyak titik sepanjang
aliran / sistem (Chow, 1988. Fread 1993 dalam Sri Harto, 2000)
Sedemikan jauh telah dikembangkan banyak model penelusuran ini, sehingga
pemilihannya harus diperhatikan betul dengan berbagai pertimbangan,
diantaranya :
1. Struktur model, kemampuan, kekuatan dan kelemahan batas-batas
toleransi hasil, ketelitian serta kesesuaiannya dengan tujuan pemakaian
model
2. Ketersediaan data yang diperlukan
3. Kemampuan dan penguasaan terhadap pemakaian model
Penelusuran saluran / sungai
Cara penelusuran saluran yang paling banyak digunakan adalah cara Muskingum
yang dikembangkan oleh Mc Carthy, 1938 dalam studi di DAS Muskingum
(Lawler 1964, Fread 1993 daam Sr Harto, 2000). Cara ini kurang teliti apabila
117
digunakan untuk hidrograf dengan waktu- capai- puncak pendek (rapidly rising
hydrograph) dan landai dasar sedang sampai kecil, atau untuk reservoir yang
memanjang. Cara ini mendasarkan pada persamaan tampungan sebagai fungsi
masukan dan keluaran.
I – O = dS / dt ( 1 )
Dalam penelusuran ini terjadi dua proses bersamaan, yaitu proses translasi dan
proses tampungan. Apabila dalam penelusuran ini hanya terdapat proses translasi
saja, maka hidrograf masukan akan diteruskan ke hilir tapa mengalami perubahan
(gambar 1). Apabila terjadi penelusuran hanya dengan proses tampungan
(reservoir routing), maka hidrograf akan mengalami pemipihan (flattening),
dengan puncak hidrograf keluaran tepat berada di sisi resesi hidrograf masukan
(gambar 2). Apabila sebuah hidrograf masuk kedalam satu penggal sungai, dapat
terjadi translasi dan pemipihan bersama-sama (gambar 3). Kejadian yang
diperlukan terakhir ini sangat diperlukan dalam analisis.
118
Gambar Penelusuran hidrograf
1. Translasi murni
2. Tampungan / pemipihan murni
Gambar
1
Gambar
2
Gambar
3
119
3. Translasi dan tampungan / pemipihan
Bila diperhatikan sifat penelusuran ini, waktu gerakan hidrograf (hydrograph time
movement) terdiri dari dua unsur, yaitu waktu translasi (translation time) dan
waktu pemipihan (time of flattening).
Linsley (1949) mengatakan bahwa gelombang banjir alami dapat dibangkitkan
antara translasi murni (pure translatory) dimana
1 / · gD υ
ke tipe tampungan
(storage)
0 mendekati / gD υ
. Perbedaan dasar lain antara banjir alami dan
teoritik dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Banjir alami tidak pernah dibangkitkan secara tiba-tiba, untuk kebutuhan air
tidak dapat dipenuhi secara tiba-tiba.
2. Banjir alami tidak pernah dibangkitkan pada suatu titik tapi merupakan
akumulasi dari limpasan air hujan yang masuk ke dalam saluran air dari jarak
tertentu, bahkan semua panjang dari system itu. Ini memperlihatkan pengaruh
yang sangat kompleks untuk inflow menjadi aliran dalam perjalanannya
menuju penggal sungai.
3. Banjir alami tidak monoklinal tetapi naik menuju puncak, tertahan dalam
waktu yang lama selama waktu menuju puncak lalu kemudian akan menurun.
Laju resesi biasanya lambat, dan dalam banyak kasus gelombang banjir ini
dapat didekati dengan bentuk monoklinal.
4. Gelombang banjir memiliki bentuk yang sangat kompleks, yang dibangkitkan
oleh hujan, dimana yang sangat bervariasi dalam intensitas dengan waktu dan
area.
Bentuk dari gelombang banjir dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu
seperti disebutkan di bawah ini :
1. Rate Of Rise. Laju yang cepat dari kenaikan akibat kecepatan yang tinggi pada
tinggi pertama pada banjir.
2. Height Of Rise. Tampungan lembah per satuan tinggi menngkat dengan tinggi,
dan puncak yang tinggi akan terkurangi lebih banyak dari puncak yang
rendah.
120
3. Slope Of Channel. Slope yang lebih curam akan menghasilkan kecepatan yang
lebih tinggi dibandingkan slope yang lebih landai, sehingga tampungan
lembah akan lebih kecil dan terjadi reduksi puncak.
4. Stages Downstream. Jika tinggi hilir sangat curam, maka bagian dari banjir
yang semakin naik diperlukan untuk mempertahankan aliran mantap.
5. Channel Sections Downstream. Seiring dengan naiknya bagian saluran,
tampungan lembah juga meningkat.
6. Length Of Reach. Semakin lama bagian sungai, semakin besar pula
tampungan lembah.
7. Length Of Crest. Semakin pipih crest makan akan semakin sedikit direduksi
oleh tampungan lembah.
Apabila ke dalam sebuah penggal sungai masuk sebuah hidrograf (flood wave),
maka terbentuk dua macam tampungan, yaitu tampungan prisma (prism storage)
dan tampungan baji (wedge storage). Tampungan prisma berada antara dasar
sungai dan bidang yang sejajar dengan dasar sungai. Tampungan baji berada
diatas tampungan prisma sampai dengan bidang muka air saluran.
Dalam cara Muskingum tampungan dinyatakan sebagai fungsi linear dari
masukan dan tampungan, yang terdiri dari tampungan baji S
b
= KX(I-O), dan
tampungan prisma S
p
= KO
S=S
b
+ S
p
=KX(I-O) + KO
=K[XI + (1-X)O]
Dengan : S =tampungan
K =koefisien tampungan
X =faktor pemberat (weighting factor), antara 0-0,5
I =masukan (inflow)
O =keluaran (outflow)
Dengan demikian maka tampungan untuk waktu tertentu (I) dapat dituliskan :
S
i
= K[XI
i
+ (1-X)O
i
]
Persamaan diatas dapat diubah bentuk menjadi :
121
t
S S O O I I


·
+

+
1 2 2 1 2 1
2 2
Penyelesaian persamaan untuk O2 menjadi
O
2
= C
0
I
2
+ C
1
I
1
+ C
2
O
1
Dengan :
( )
( ) ( )
) / ( ) 1 ( 2
) / ( ) 1 ( 2
) / ( ) 1 ( 2
2 ) / (
/ 1 2
2 /
2
1
0
K t X
K t X
C
K t X
X K t
C
K t X
X K t
C
∆ + −
∆ − −
·
∆ + −
+ ∆
·
∆ + −
− ∆
·
C
0
+ C
1
+C
2
= 1
Persamaan dapat ditulis secara umum sebagai :
( ) ( ) [ ]
) )( 1 ( ) (
5 , 0
1 1
1 1
2 1 1 0 1
j j j j
j j j j
j j j j
O O X I I X
O O I I t
K
O C I C I C O
− − + −
+ − + ∆
·
+ + ·
+ +
+ +
+ +

Dengan persamaan tersebut, apabila hidrograf masukan dan keluaran dalam
penggal sungai yang ditinjau diketahui, nilai K dan X dapat diperoleh dengan
coba-coba (trial and error). Apabila pembilang digambarkan dalam sumbu tegak,
dan penyebut dalam sumbu mendatar, dan ditetapkan nilai Δt,maka dengan
berbagai nilai X dapat digambarkan grafik yang pada umumnya berbentuk loop.
Nilai X dicoba-coba antara 0-0,5 dan nilai X yang paling betul adalah nilai X
yang menghasilkan loop yang paling dekat dengan garis lurus. Ponce (1989)
dalam Sri Harto (2000) lebih lanjut menjelaskan bahwa tetapan K merupakan
fungsi panjang penggal sungai dan kecepatan penjalaran hidrograf. Atau dapat
diartikan merupakan waktu penjalaran debit puncak hidrograf sepanjang penggal
saluran (Chow, 1988 dalam Sri Harto 2000), mewakili karakter translasi. Tetapan
X merupakan fungsi aliran dan sifat saluran yang terkait dengan karakter
tampungan saluran (channel storage)yang menghasilkan pemipihan debit puncak.
Nilai X berkisar antara 0 dan 0,5. Nilai X sebesar 0,5 akan menghasilkan
penelusuran yang berupa translasi, yaitu tidak terjadi perubahan terhadap
122
hidrograf masukan. Apabila nilai X sama dengan 0, maka yang terjadi adalah
penelusuran untuk reservoir (reservoir routing). Dengan demikian cara
Muskingum mencoba mengakomodasi translasi dan pemipihan dalam
penelusuran. Penetapan kedua tetapan K dan X tersebut sangat krusial, karena
keduanya cenderung berubah sesuai dengan besaran debit. Apabila keduanya
dapat dikaitkan sebagai fungsi sifat aliran dan karakter saluran, maka langkah-
langkah coba ulang tersebut tidak perlu dilakukan. Hal ini merupakan dasar bagi
cara Muskingum-Cunge (Ponce, 1989 dalam Sri Harto 2000). Kalau untuk
mendapatkan garis lurus tersebut dilakukan secara analitis, maka sambil
meberikan berbagai harga x (sebaiknya dimulai dari 0,2) diperiksa pula koefisien
korelasi r antara s dengan x I + (1-x)O, samapi didapatkan r yang terbesar. Bila r
yang terbesar mempunyaiu harga yang lebih kecil 0,7 berarti tidak ada korelaso
antara kedua faktor tersebut diatas, sehingga tidak mungkin diketemukan garis
lurus (Soemarto, 1987). Rumus untuk mendapatkan koefisien korelasi r tersebut
adalah sebagai berikut :
) ) ( ) ( )( ) ( ) ( (
) (
2 2 2 2
x x n y y n
x y xy n
r
Σ − Σ Σ − Σ
Σ Σ − Σ
·
dimana :
x = S
y = x I + (1-x)O
n = banyaknya titik untuk dihitung harga S dan x I + (1-x)O
Penelusuran Reservoir
Pada sebuah reservoir (waduk, danau, embung) terdapat hubungan yang
khas antara aliran masuk (hidrograf-masukan, inflow hydrograph), karakter
reservoir, cara pengoperasian dan hidrograf-keluaran (outflow hydrograph)
 Hidrograf-masukan
Yaitu berupa gelombang banjir (flood wave) yang terjadi disebelah hulu
reservoir, yang umumnya secara alami merupakan hidrograf yang terjadi
akibat hujan yang terjadi di DAS sebelah hulu reservoir. Dalam
pemakaian untuk perancangan bangunan pelimpah (spill way),
123
hidrograf-masukan yang digunakan biasanya merupakan hidrograf-rancangan
(design hydrograph) yang diperoleh dengan berbagai pertimbangan.
 Karakter reservoir
Secara fisik reservoir memiliki cirri yang khas, yang umumnya dinyatakan
dalam keterkaitan antara bentuk geografis cekungan-tampungan, jumlah
tampungan (volume) dan tinggi muka-air.
 Hidrograf-keluaran
Merupakan hidrograf yang keluar dari reservoir melewati bangunan
pelimpah. Sifat hidrgraf ini sangat bergantung pada sifat hidrograf-masukan,
kondisi awal reservoir (tinggi muka air pada saat terjadi masukan), sifat
reservoir, cara pengoperasian reservoir, dan bentuk dan dimensi bangunan
pelimpah. Dalam prakteknya, terdapat banyak cara pengoperasian reservoir
yang sangat bergantung pada berbagai tingkat kebutuhan air dari
reservoir, sesuai dengan waktunya. Biasanya cara-cara pengoperasian ini
sudah ditetapkan dalam rule curves tertentu, yang digunakan sebagai
pegangan oleh operator. Untuk bangunan pelmpah, terdapat dua macam
yaitu bangunan-pelimpah bebas (uncntrolled spillway) dan bangunan.-
pelimpah terkendali (controlled spillway).
Misalnya di ketahui tinggi ambang bangunan pelimpah adalah
0
H
. Pada saat
terjadi hidrograf-masukan, misalnya pada jam pertama volume hidrograf
sebesar
1
X
m³. Berarti reservoir mendapatkan tambahan volume
1
X
m³.
Jumlah ini disebarkan ke seluruh reservoir yang akan mengakibatkan
tambahan tinggi muka air reservoir setinggi
1
h ∆
(tergantung dari hubungan
antara volume dan tinggi muka air reservoir). Apabila tinggi muka air yang
terjadi masih lebih rendah dari pada
0
H
, maka tidak akan terjadi aliran
keluaran dari reservoir. Misalkan pada jam ke 2 volume hidrograf-masukan
sebesar
2
X
m³ dan menyebabkan muka air di atas muka ambang
0
H
, maka
akan terjadi aliran keluar melewati bangunan pelimpah yang besarnya
tergantung dari nilai
0
h ∆
, dan tergantung dari bentuk dan ukuran bangunan
pelimpah. Dari contoh tersebut dapat diketahui. bahwa hidrograf-masukan ke
124
dalam resrvoir akan mengalami pemipihan pada saat keluar dari bangunan
pelimpah. Maka apabila besaran maksimal hidrograf-keluaran dapat
ditetapkan, hidrograf-rancangan juga dapat diketahui, maka rancangan jenis,
bentuk dan ukuran bangunan pelimpah dapat ditetapkan pula.
Dari pemahaman tersebut, dapat dipahami pula apabila penelusuran saluran,
tampungan diketahui merupakan fungsi masukan dan keluaran, maka dalam
sebuah reservoir, tampungan hanya merupakan fungsi keluaran saja, sehingga
untuk sebuah linear reservoir dapat disajikan dalam persamaan :
S = KO
Memperhatikan pula persamaan keseimbangan air :
I = O + S ∆ , atau
I - O = S ∆
dapat disajikan dalam bentuk persamaan :
Δt
S S
2
O O
2
I I
1 2 2 1 2 1

·
+

+
memadukan menjadi persamaan :

1 C C C
) / ( 2
K) t / ( - 2
C
C C
K) t / ( 2
K t \
C
: dengan
O C I C I C O
2 1 0
2
0 1
0
1 2 1 1 2 0 2
· + +
∆ +

·
·
∆ +

·
+ + ·
K t
Memperhatikan persamaan-persamaan tersebut nampak bahwa penelusuran-
reservoir adalah kasus khusus dari penelusuran-saluran dengan nilai X = 0
Penelusuran Kolam Datar
Persamaan dapat diatur kembali menjadi :
( ) ( ) [ ] ) S 2(S O O I I Δt
1 2 2 1 2 1
− · + − +
atau :
125
( )
,
_

¸
¸
− + + ·
,
_

¸
¸
+
1
1
2 1
2
O
Δt
2S
I I O
Δt
2S
2
untuk menggunakan persamaan dapat dilakukan sebagai berikut :
1. Menetapkan hubungan antara elevasi dan tampungan
2. Menetapkan hubungan antara elevasi dan outflow (memeperhatikan
karakter bangunan pelimpah)
3. Berdasar 1 dan 2 , maka hubungan antara outflow dan tampungan
ditambah outflow dapat ditetapkan.
Sri Harto (2000) menyebutkan cara ini sebagai penelusuran ’kolam datar’
(level pool routing)
126
II. DRAINASE
1. Definisi Drainase
Drainase merupakan salah satu fasilitas dasar yang direncanakan sebagai sistem
guna memenuhi kebutuhan masyarakat dan merupakan komponen penting dalam
perencanaan kota, khususnya perencanaan infrastruktur. Menurut Suripin (2004)
drainase mempunyai arti mengalirkan, menguras, membuang, atau mengalihkan
air.Secara umum, drainase didefinisikan sebagai serangkaian bangunan air yang
berfungsi untuk mengurangi atau membuang kelebihan air dari suatu kawasan
atau lahan sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal.
Dari sudut pandang lain, drainase adalah salah sau unsur dari prasarana umum
yang dibutuhkan masyarakat kota dalam rangka menuju kehidupan kota yang
aman, nyaman, bersih dan sehat. Prasarana drainase ini berfungsi untuk
mengalirkan air permukaan ke badan air (sumber air permukaan dan bawah
permukaan tanah) atau bangunan resapan. Selain itu juga berfungsi sebagai
pengendali kebutuhan air permukaan dengan tindakan untuk memperbaiki
daerah becek, genangan air dan banjir.
Kegunaan dari saluran drainase adalah sebagai berikut :
1. Mengeringkan daerah becek dan genangan air sehingga tidak ada akumulasi
air tanah
2. Menurunkan permukaan air tanah pada tingkat yang ideal
3. Mengendalikan erosi tanah, kerusakan jalan dan bangunan yang ada
4. Mengendalikan air hujan yang berlebihan senhingga tidak terjadi banjir
Saat ini sistem drainase sudah menjadi salah satu infrastruktur perkotaan yang
sangat penting. Kualitas manajemen suatu kota dilihat dari kualitas sistem
drainase yang ada. Sistem drainase yang baik dapat membebaskan kota dari
genangan air. Genangan air menyebabkan lingkungan menjadi kotor dan jorok,
menjadi sarang nyamuk, dan sumber penyakit lainnya, sehingga dapat
menurunkan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat.
2. Pembagian Sistem Drainase
Sistem jaringan drainase perkotaan umunya dibagi atas 2 bagian, yaitu:
a. Sistem Drainase Makro
127
Sistem drainase makro yaitu sistem saluran/badan air yang menampung dan
mengalirkan air dari suatu daerah tangkapan air hujan (Catchment
Area).Pada umumnya sistem drainase mayor ini disebut juga sebagai sistem
saluran pembuangan utama (mayor sistem) atau drainase primer.Sistem
jaringan ini menampung aliran yang berskala besar dan luas seperti saluran
drainase primer, kanal-kanal atau sungai-sungai.Perencanaan drainase makro
ini umumnya dipakai dengan periode ulang antara 5 sampai 10 tahun dan
pengukuran topografi yang detail mutlak diperlukan dalam perencanaan
sistem drainase ini.
b. Sistem Drainase Mikro
Sistem drainase mikro yaitu sistem saluran dan bangunan pelengkap drainase
yang menampung dan mengalirkan air dari daerah tangkapan hujan. Secara
keseluruhan yang termasuk dalam sistem drainase mikro adalah saluran di
sepanjang sisi jalan, saluran/selokan air hujan di sekitar bangunan, gorong-
gorong, saluran drainase kota, dan lain sebagainya dimana debit air yang
dapat ditampungnya tidak terlalu besar. Pada umumnya drainase mikro ini
direncanakan untuk hujan dengan masa ulang 2, 5 atau 10 tahun tergantung
pada tata lahan yang ada.Sistem drainase untuk lingkungan pemukiman lebih
cenderung sebagai sistem drainase mikro.
Selanjutnya Subarkah (1990) juga membagi saluran drainase menjadi 3 kategori,
yaitu :
a. Saluran Drainase Utama/Primer
Saluran yang berfungsi sebagai pembuangan utama/primer sebagai
sungai/tukad yang ada di wilayah perencanaan yang cukup berpotensi untuk
menampung dan mengalirkan air buangan dari saluran sekunder serta
limpasan permukaan yang ada pada daerah tangkapan sungai tersebut.
Sungai-sungai yang berfungsi sebagai pembuangan utama yang ada di
wilayah studi perlu untuk diketahui jumlahnya dan masing-masing sungai
akan terbentuk sistem drainase dan pola aliran tertentu, dengan batas-batas
yang sesuai dengan topografi.
b. Saluran Drainase Sekunder
Fungsi dari saluran sekunder adalah untuk menampung air drainase tersier
serta limpasan air permukaan yang ada untuk diteruskan ke drainase utama
128
(sungai). Berdasarkan konstruksi saluran drainase dibedakan menjadi 2
macam, yaitu :
a. Saluran terbuka, dibuat pada daerah dimana masih cukup tersedia
pola lahan serta bukan merupakan daerah yang sibuk (pertokoan,
pasar, dan sebagainya).
b. Saluran tertutup, dapat dipertimbangkan pemakaiannya ditempat-
tempat yang produksi sampahnya melebihi rata-rata, seperti : pasar,
terminal, pertokoan, dan pada daerah yang lalu lintasnya padat.
c. Saluran Drainase Tersier
Fungsi saluran tersier adalah untuk meneruskan pengaliran air buangan
maupun air limpasan permukaan menuju ke pembuangan sekunder.Data
mengenai kondisi saluran tersier tidak begitu banyak diperlukan dalam
perencanaan sistem pembuangan air hujan. Banjir yang terjadi pada saluran
tersier bersifat setempat, sedangkan banjir pada saluran sekunder dan saluran
pembuangan utama akan membawa dampak yang luas bagi kehidupan
masyarakat yang menyangkut sosial, ekonomi, maupun kesehatan.
3. Aspek Hidrologi
Perencanaan drainase, culvert maupun jembatan yang melintasi sungai atau saluran
memerlukan analisis hidrologi.
Analisis hidrologi merupakan bidang yang sangat rumit dan kompleks. Hal ini
disebabkan oleh ketidakpastian dalam hidrologi, keterbatasan teori dan rekaman
data serta keterbatasan ekonomi. Hujan adalah kejadian yang tidak dapat diprediksi
dimana tidak ada prediksi secara pasti seberapa hujan yang akan terjadi pada suatu
periode waktu (Suripin, 2004).
Salah satu bentuk presipitasi yang terpenting di Indonesia adalah hujan
(rainfall).Air laut yang menguap karena adanya radiasi matahari dan awan yang
terjadi oleh uap air, bergerak di atas daratan akibat adanya gerakan angin.Presipitasi
yang terjadi karena adanya tabarakan antara butir-butir uap air akibat desakan
angin, dapat berbentuk hujan atau salju yang jatuh ke tanah yang berbentuk
limpasan (runoff) yang mengalir kembali ke laut.
Dalam kaitannya dengan siklus hidrologi, hujan yang jatuh di atas permukaan tanah
akan berubah dalam bentuk evapotranspirasi, limpasan permukaan (surface runoff),
129
infiltrasi, perkolasi, dan aliran air tanah. Untuk di tingkat DAS parameter-parameter
ini akhirnya manjadi aliran sungai.
Analisis curah hujan
Selanjutnya dalam kaitannya dengan analisis hujan, maka ada 5 besaran pokok
yang perlu dikaji dan dipelajari (Soemarto, 1955),yaitu :
a. Intensitas (i), adalah laju curah hujan yaitu tinggi air per satuan waktu, misalnya
mm/menit, mm/jam, mm/hari.
b. Lama waktu atau durasi (t), adalah lamanya curah hujan terjadi dalam menit atau
jam.
c. Tinggi hujan (d), adalah banyaknya atau jumlah hujan yang dinyatakan dalam
ketebalan air diatas permukaan datar, dalam mm.
d. Frekuensi, adalah frekuensi kejadian terjadinya hujan, biasanya dinyatakan
dengan waktu ulang (return period) (T), misalnya sekali dalam T tahun.
e. Luas (A), adalah daerah tangkapan curah hujan, dalam km
2
.
Analisis debit rencana
Ada beberapa metode untuk memperkirakan laju aliran puncak (debit
banjir).Metode yang dipakai di suatu lokasi lebih banyak ditentukan oleh
ketersediaan data.Metode yang digunakan adalah Metode Hidrograf dan Non
Hidrograf.
Metode Hidrograf dapat dibagi menjadi dua yaitu Hidrograf Satuan dan Hidrograf
Satuan Sintetis. Untuk Hidrograf Satuan memerlukan rekaman data limpasan dan
data hujan. Padahal sering dijumpai beberapa DAS tidak memiliki sama sekali
catatan limpasan. Dalam kondisi seperti itu, Hidrograf Satuan Sintetis dapat
digunakan. Penurunan Hidrograf Satuan Sintetis berdasarkan pada karakteristik
fisik dari DAS. Untuk non hidrograp biasanya digunakan metoda Raional seperti
diterangkan di depan.
d. Aspek Hidraulika
Aliran air dalam suatu saluran dapat berupa aliran saluran terbuka maupun aliran
pipa. Kedua jenis aliran tersebut sama dalam banyak hal, namun berbeda dalam
satu hal penting. Menurut Chow (1989), aliran saluran terbuka harus memiliki
permukaan bebas (free surface), sedangkan aliran pipa tidak demikian karena air
130
harus mengisi seluruh saluran. Meskipun kedua jenis aliran ini hampir sama,
penyelesaian masalah aliran dalam saluran terbuka jauh lebih sulit dibandingkan
dengan aliran pipa tekan. Kondisi saluran terbuka yang rumit berdasarkan
kenyataan bahwa kedudukan permukaan cenderung berubah sesuai waktu dan
ruang, dan juga bahwa kedalaman aliran, debit, kemiringan dasar saluran dan
permukaan bebas adalah tergantung satu sama lain.
Penampang Saluran
Penampang hidrolik terbaik adalah penampang yang mempunyai keliling basah
terkecil pada luas penampang tertentu yang akan memberikan aliran yang
maksimum atau penampang saluran memberikan luas penampang aliran
(penampang basah) terkecil pada debit aliran tertentu dimana bentuk penampang
saluran akan dapat berpengaruh terhadap besarnya debit aliran yang dapat
diangkut/dialirkan oleh saluran (Suripin, 2004).
Disamping untuk meningkatkan kapasitas saluran, bentuk penampang saluran juga
dapat disesuaikan dengan fungsi saluran tersebut dibuat. Adapun bentuk-bentuk
saluran yang dikaitkan dengan fungsi saluran adalah sebagai berikut :
a. Bentuk penampang persegi panjang apabila dilihat pada bagian dinding saluran
dapat digunakan sebagai dinding penahan serta ruang untuk saluran sangat
terbatas.
b. Bentuk penampang lingkaran atau parabola. Walaupun pembuatannya relatif
agak sulit tetapi apabila dilihat dari fungsi saluran cukup efektif untuk
menalirkan bahan endapan, serta adanya fluktuasi debit aliran atau untuk
mengalirkan air limbah.
c. Bentuk penampang tersusun dibuat apabila lahan terbatas untuk saluran atau
fungsi saluran mengalirkan air limbah dan air hujan (tercampur). Penampang
tersusun dapat dibuat kombinasi antara empat persegi panjang dengan setengah
lingkaran atau persegi panjang dengan setengah lingkaran atau persegi panjang
dengan segitiga dibagian bawah dan sebagainya.
Pemilihan bentuk penampang saluran dalam praktek harus dilakukan sedemikian
rupa sehingga sedapat mungkin dipenuhi aspek ekonomis penampang saluran
dalam arti kata dengan luas penampang tertentu mampu mengalirkan debit
sebanyak-banyaknya (maksimum), selain juga melihat fungsi saluran, misalnya
apabila saluran untuk mengalirkan endapan (Chow, 1959).
131
h
B
Bentuk-bentuk saluran yang ekonomis adalah sebagai berikut :
1. Penampang Berbentuk Persegi paling Ekonomis
Pada penampang melintang saluran berbentuk persegi dengan lebar dasar B dan
kedalaman air h, luas penampang basah A dan keliling basah P dapat dituliskan
sebagai berikut :
A = B .h
atau
P = B + 2h
Penampang melintang saluran berbentuk persegi panjang
Substitusi persamaan, maka diperoleh persamaan :
Dengan asumsi luas penampang, A, adalah konstan, maka persamaan dapat
dideferensialkan terhadap h dan dibuat sama dengan nol untuk memperoleh
harga P minimum.
Jari-jari hidraulik

132
h
B
m
1
Dalam hal ini, bentuk penampang melintang persegi yang paling ekonomis
adalah jika kedalaman air setengah dari lebar dasar saluran, atau jari-jari
hidrauliknya setengah dari kedalaman air.
2. Penampang Berbentuk Trapesium yang Ekonomis
Luas penampang melintang, A, dan keliling basah, P, saluran dengan
penampang melintang yang berbentuk trapesium dengan lebar dasar B,
kedalaman air h, dan kemiringan dinding 1 : m , dapat dirumuskan sebagai
berikut :
A = (B + m.h)
atau
Nilai B pada persamaan disubstitusikan ke dalam persamaan maka diperoleh
persamaan berikut :
atau
Diasumsikan bahwa luas penampang, A, dan kemiringan dinding, m, adalah
konstan, maka persamaan dapat dideferensialkan terhadap h dan dibuat sama
dengan nol untuk memperoleh kondisi P minimum.
Atau
133
m
1
?
h
?
Penampang melintang saluran berbentuk trapesium
Penampang trapesium yang paling efisien adalah jika kemiringan dindingnya
atau Ө = 60
o
. Trapesium yang terbentuk berupa setengah segienam
beraturan (heksagonal).
3. Penampang Segitiga yang Ekonomis
Pada potongan melintang saluran yang berbentuk segitiga dengan kemiringan
sisi terhadap garis vertikal, Ө, dan kedalaman air, h, maka penampang basah, A,
keliling basah, P, dapat ditulis sebagai berikut :
Penampang melintang saluran berbentuk segitiga
Saluran berbentuk segitiga yang paling ekonomis adalah jika kemiringan
dindingnya membentuk sudut 45
o
dengan garis vertikal (Ө = 45
o
).
Untuk mendapatkan saluran yang ekonomis juga dapat digunakan penampang
kombinasi yaitu menggabungkan dua jenis penampang.Salah satunya adalah
penampang segiempat (di bagian atas) dan lingkaran (di bagian bawah). Adapun
keunggulan dari penampang ini antara lain :
134
B
t
h1
h2
• Memiliki penampang basah yang besar
• Mengalirkan debit besar dengan kelandaian kecil
• Mampu mengalirkan debit dalam jumlah minimal
• Dapat melewatkan endapan/sedimen dengan mudah
• Saluran air menjadi lancar dan genangan dapat dikurangi
Kombinasi antara segi empat pada bagian atas dan setengah lingkaran pada bagian
bawah (Suripin, 2004)
Gambar 2.8 Kombinasi penampang saluran
Keterangan :
t = tinggi jagaan
h = kedalaman air
b = lebar saluran
Kekasaran Dinding Saluran
Rumus kecepatan menurut Manning (1889) :
135
Keterangan :
R = jari-jari hidrolik (m)
V = kecepatan aliran (m/dt)
I = kemiringan memanjang dasar saluran
n = koefisien kekasaran menurut Manning yang besarnya tergantung dari
bahan dinding saluran yang dipakai. Semakin kecil nilai n, maka
semakin besar kecepatan aliran tersebut.
Apabila bentuk rumus Manning diubah menjadi rumus Chezy maka besarnya C
adalah sebagai berikut :
Keterangan :
C = Koefisien Chezy
R = jari-jari hidrolik (m)
n = koefisien kekasaran menurut Manning yang besarnya tergantung dari
bahan dinding saluran yang dipakai
Menurut Chow (1989), faktor-faktor yang mempengaruhi kekasaran Manning
adalah sebagai berikut :
1) Kekasaran permukaan, yang ditandai dengan ukuran dan bentuk butiran
bahan yang membentuk luas basah dan menimbulkan efek hambatan terhadap
aliran. Secara umum dikatakan bahwa butiran halus menyebabkan nilai n
yang relatif rendah dan butiran kasar memiliki nilai n yang tinggi.
2) Tetumbuhan yang juga memperkecil kapasitas saluran dan menghambat
aliran.
3) Ketidakteraturan saluran, yang mencakup pula ketidakteraturan keliling basah
dan variasi penampang, ukuran dan bentuk di sepanjang saluran. Secara
umum perubahan lambat laun dan teratur dari penampang ukuran dan bentuk
tidak terlalu mempengaruhi nilai n, tetapi perubahan tiba-tiba atau peralihan
dari penampang kecil ke besar memerlukan penggunaan nilai n yang besar.
4) Trase saluran, dimana kelengkungan yang landai dengan garis tengah yang
besar akan mengakibatkan nilai n yang relatif rendah, sedangkan
136
kelengkungan yang tajam dengan belokan-belokan yang patah akan
memperbesar nilai n.
5) Pengendapan dan penggerusan. Secara umum pengendapan dapat mengubah
saluran yang sangat tidak beraturan menjadi cukup beraturan dan
memperkecil n, sedangkan penggerusan dapat berakibat sebaliknya dan
memperbesar n. Namun efek utama dari pengendapan akan tergantung dari
sifat alamiah bahan yang diendapkan.
6) Hambatan, berupa balok sekat, pilar jembatan dan sejenisnya yang cenderung
memperbesar nilai n.
Harga rata-rata n dalam rumus Manning
Bahan n
Besi tulang lapis 0,014
Kaca 0,010
Saluran beton 0,013
Bata dilapis mortar 0,015
Pasangan batu disemen 0,025
Saluran tanah bersih 0,022
Saluran tanah 0,030
Saluran dengan dasar batu dan tebing rumput 0,040
Saluran pada galian batu padas 0,040
Sumber : Triatmodjo, 2003
Nilai yang berupa koefisien atau angka (jari-jari) kekasaran dinding akan
sangat berpengaruh pada besarnya kecepatan aliran dan akan berpengaruh
terhadap besarnya debit aliran. Semakin kasar dinding akan semakin besar
nilai kekasaran dinding dan menghasilkan debit aliran yang semakin kecil dan
juga sebaliknya semakin halus dinding akan menghasilkan debit aliran yang
semakin tinggi.
Kapasitas Saluran
Perhitungan hidraulika digunakan untuk menganalisa dimensi penampang
berdasarkan kapasitas maksimum saluran. Penentuan dimensi saluran baik
137
yang ada (eksisting) atau yang direncanakan, berdasarkan debit maksimum
yang akan dialirkan. Rumus yang digunakan (Suripin, 2004) adalah :
Q = A . V
Dimana :
Q = debit banjir rancangan (m
3
/dt)
A = luas penampang basah (m
2
)
V = kecepatan rata-rata (m/dt)
Dengan :
A = (B + mh) h
P = B + 2h
V =
Dengan :
B = lebar dasar saluran (m)
P = keliling basah saluran (m)
h = tinggi muka air (m)
m = kemiringan talud saluran
Tinggi Jagaan untuk Saluran Pasangan
No Debit (m
3
/dt ) Tinggi Jagaan (m)
1 0,0 - 0,3 0,3
2 0,3 - 0,5 0,4
3 0,5 - 1,5 0,5
4 1,5 - 15,0 0,6
5 15,0 - 25,0 0,75
6 > 25 1
Daftar Pustaka
1. Triatmodjo, Bambang, 2008, Hidrologi Terapan, Beta Offset, Yogyakarta
2. Soemarto, C,D, 1995, Hidrologi Teknik, Penerbit Erlangga, Jakarta
3. Wilson, E, M, 1993, Hidrologi Teknik, Penerbit Erlangga, Jakarta.
4. Harto, Sri, 1981 , Mengenal Dasar-Dasar Hidrologi Terapan, KMTS,
Yogyakarata.
5. Dr. Ir. Suripin, M.Eng, 2004, Sistem Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan,
Penerbit Andi, Yogyakarta.
6. Chow Ven Te, 1988, Appied Hydrology. McGraw-Hill Company, New York
138
7. Subarkah, Imam. 1990. Hidrologi Untuk Perencanaan Bangunan Air, Idea Dharma,
Bandung.
139

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful