TEKNOLOGI BERSIH PABRIK GULA KEBON AGUNG MALANG

Disusun oleh: Agil Adham Reka Fatma Ridha N Ihsanuddin Niken Lila Widyawati Tri Priyo Utomo Vita Noeravila Putri Widyaningrum 105100200111035 105100200111036 105100213111006 105100201111016 105100201111005 105100200111032 105100204111001

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2012

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang menghasilkan polusi terbanyak didunia. Sumber polusi yang upaling tama adalah dari kendaraan bermotor dan limbah industry. Polusi ini terjadi akibat kurangnya

penanganan limbah-limbah industry sedangkan semakin hari semakin banyak berdiri pabrik industry. Pencemaran yang disebabkan oleh polusi ini

menyebabkan perubahan yang signifikan terhadap lingkungan. Perubahan yang paling bisadirasakan adalah perubahan suhu udara yang semakin panas dan perubahan pada air sungai. Permasalahan tentang pencemaran ini terjadi akibat kurangnya

pengetahuan serta penanganan yang lebih terhadap limbah. Meskipun limah tidak dapat dihilangkan secara total tetapi denga penanganan limbah yang

baik dapat mengurangi seminimal mungkin polutan yang mencemari udara, air maupun tanah. Maka dari itu, dilaksanakan kegiatan studi lapang yang

bertempat di Pabrik Gula Kebon Agung, desa Kebon Agung, Malang, Jawa Timur untuk mengetahui lebih dalam dan melihat secara lngsung proses pembuatan gula Kristal serta pengolahan limbah pabriknya, serta untuk memenuhi tugas mata kuliah Teknologi Bersih.

1.2 Perumusan masalah 1. Bagaimana pengelolaan yang seharusnya dilakukan oleh industri tersebut untuk menuju Teknologi Bersih? 2. Berdasarkan alur bahan dan energy buatlah rancangan bahan yang dapat di Reduse, Reuse, dan Recycle! 3. Berikan arahan proses produksi industri gula untuk menuju Teknologi Bersih!

Mengetahui tatacara pengolahan industri untuk memenuhi prinsip teknologi bersih 2. Reuse. Mengetahui arah industri agar menerapkan teknologi bersih .1. dan Recycle untuk dapat dijadikan bahan baku dan energi 3. Mengklasifikasikan produk sampingan yang dapat di Reduse.3 Tujuan 1.

2003). Pendekatan pengelolaan lingkungan dengan penerapan konsep produksi bersih melalui peningkatan efisiensi merupakan pola pendekatan yang dapat diterapkan untuk meningkatkan daya saing. mencegah terjadinya pencemaran lingkungan dan mengurangi terbentuknya limbah pada sumbernya sehingga dapat meminimisasi resiko terhadap kesehatan dan keselamatan manusia serta kerusakan lingkungan (KLH. idefinisikan sebagai : Strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif. dan pencegahan pencemaran. Menurut UNEP. produk dan jasa untuk meningkatkan efisiensi penggunaan sumberdaya alam. Dari pengertian mengenai Produksi Bersih maka terdapat kata kunci yang dipakai untuk pengelolaan lingkungan yaitu : pencegahan pencemaran. proses produksi. Pengelolaan pencemaran dimulai dengan melihat sumber timbulan limbah mulai dari bahan baku. menurut Kementerian Lingkungan Hidup. Produksi Bersih. 1994). .BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Demikian pula halnya dengan Eco-efficiency yang menekankan pendekatan bisnis yang memberikan peningkatan efisiensi secara ekonomi dan lingkungan. dengan melihat bagaimana suatu proses produksi dijalankan dan bagaimana daur hidup suatu produk. air dan energi. terpadu dan diterapkan secara terus-menerus pada setiap kegiatan mulai dari hulu ke hilir yang terkait dengan proses produksi. produk. Istilah Pencegahan Pencemaran seringkali digunakan untuk maksud yang sama dengan istilah Produksi Bersih.1 Pengertian produksi bersih Produksi Bersih merupakan tindakan efisiensi pemakaian bahan baku. Produksi Bersih adalah strategi pencegahan dampak lingkungan terpadu yang diterapkan secara terus menerus pada proses. Pola pendekatan produksi bersih bersifat preventif atau pencegahan timbulnya pencemar. dengan sasaran peningkatan produktivitas dan minimisasi timbulan limbah. jasa untuk meningkatkan efisiensi secara keseluruhan dan mengurangi resiko terhadap manusia maupun lingkungan (UNEP. proses. produk dan transportasi sampai ke konsumen dan produk menjadi limbah.

pertanian. Penerapan Produksi Bersih sangat luas mulai dari kegiatan pengambilan bahan termasuk pertambangan. Produksi bersih pada sektor jasa adalah memadukan pertimbangan lingkungan ke dalam perancangan dan layanan jasa. energi. peningkatan efisiensi. Rethink (berpikir ulang). 1. 1999). proses produksi sampai produk. Reuse. proses produksi. mulai dari bahan baku. rumah sakit. mengurangi jumlah dan tingkat racun semua emisi dan limbah sebelum meninggalkan proses. manajemen yang bertanggung-jawab pada lingkungan dan evalusi teknologi yang dipilih. masyarakat maupun kalangan usaha . produksi bersih berarti meningkatkan efisiensi pemakaian bahan baku. Reduce. adalah suatu konsep pemikiaran yang harus dimiliki pada saat awal kegiatan akan beroperasi. Pola pendekatan produksi bersih dalam melakukan pencegahan dan pengurangan limbah yaitu dengan strategi 1E4R (Elimination. perikanan. sikap dan tingkah laku dari semua pihak terkait pemerintah.produk. rumah makan. mencegah atau mengganti penggunaan bahanbahan berbahaya dan beracun. sampai pada sistem informasi. Re-use. Recovery and Recycle). Recovery/Reclaim) (UNEP. sehingga harus dipahami betul analisis daur hidup produk  Upaya produksi bersih tidak dapat berhasil dilaksanakan tanpa adanya perubahan dalam pola pikir. konservasi energi. perhotelan.2 Prinsip-prinsip pokok produksi bersih Prinsip-prinsip pokok dalam strategi produksi bersih dalam Kebijakan Nasional Produksi Bersih (KLH. Dengan demikian maka perlu perubahan sikap. 2003) dituangkan dalam 5R (Re-think. Pada produk. dengan implikasi :  Perubahan dalam pola produksi dan konsumsi berlaku baik pada proses maupun produk yang dihasilkan. minimisasi resiko. 2. perhubungan. pariwisata. Elimination (pencegahan) adalah upaya untuk mencegah timbulan limbah langsung dari sumbernya. jasa. produksi bersih bertujuan untuk mengurangi dampak lingkungan selama daur hidup produk. Reduction. mulai dari pengambilan bahan baku sampai ke pembuangan akhir setelah produk tersebut tidak digunakan. Recycle. Pada proses industri.

 Disposal (pembuangan) limbah bagi limbah yang telah diolah. kimia dan biologi. . Meskipun prinsip produksi bersih dengan strategi 1E4R atau 5R. dan recovery) sebagai suatu strategi tingkatan pengelolaan limbah. Tingkatan pengelolaan limbah dapat dilakukan berdasarkan konsep produksi bersih dan pengolahan limbah sampai dengan pembuangan (Weston dan Stuckey. ambil ulang) adalah upaya mengambil bahanbahan yang masih mempunyai nilai ekonomi tinggi dari suatu limbah. 5. recycle. baru kemudian melakukan strategi 3R berikutnya (reuse. Recovery/ Reclaim (pungut ulang. 3. Bila strategi 1E1R atau 2R pertama masih menimbulkan pencemar atau limbah. Tingkatan terakhir dalam pengelolaan lingkungan adalah pengolahan dan pembuangan limbah apabila upaya produksi bersih sudah tidak dapat dilakukan:  Treatment (pengolahan) dilakukan apabila seluruh tingkatan produksi bersih telah dikerjakan. Beberapa limbah yang termasuk dalam ketegori berbahaya dan beracun perlu dilakukan penanganan khusus. sehingga limbah yang masih ditimbulkan perlu untuk dilakukan pengolahan agar buanagn memenuhi baku mutu lingkungan. Reuse (pakai ulang/penggunaan kembali) adalah upaya yang memungkinkan suatu limbah dapat digunakan kembali tanpa perlakuan fisika.2. kimia atau biologi. Recycle (daur ulang) adalah upaya mendaur ulang limbah untuk memanfaatkan limbah dengan memrosesnya kembali ke proses semula melalui perlakuakn fisika. 1994). kemudian dikembalikan ke dalam proses produksi dengan atau tanpa perlakuakn fisika. kimia dan biologi. namun perlu ditekankan bahwa strategi utama perlu ditekankan pada Pencegahan dan Pengurangan (1E1R) atau 2R pertama. Reduce (pengurangan) adalah upaya untuk menurunkan atau mengurangi timbulan limbah pada sumbernya. 4.

BAB III PEMBAHASAN 3.1 Alur produksi pabrik gula Gambar 1. Alur produksi gula pabrik kebon agung .

1 Stasiun gilingan PG KEBON AGUNG MALANG Tebu 100% Air Ambibisi 19-27% STASIUN GILINGAN Nira mentah 87-94% Ampas 32-33% STASIUN KETEL - Penerapan teknologi bersih Limbah pada stasiun gilingan menghasilkan ampas. Kemudian ampas tersebut dapat di recycle menjadi pupuk atau ampas akhir 100% dimanfaatkan sebagai bahan bakar di stasiun ketel untuk menghasilkan uap.1. Karena pemakaian yang terus menerus alat pada pesawat gilingan tentunya akan panas. Umumnya pabrik gula menerapkan sistem imbibisi majemuk yaitu menggunakan air panas dan nira gilingan berikutnya. Dari stasiun gilingan dihasilkan nira mentah yaitu nira yang keluar dari gilingan 1 dan 2. Untuk mendinginkan alat ini agar dapat terus bekerja maka disemprotkan air pendingin. Nira yang masuk ke peti nira mentah adalah nira dari gilingan I dan gilingan II. Air yang digunakan adalah air sungai. . Sebelum masuk ke peti nira mentah nira disaring dengan DSM screen/rotary system untuk menyaring pasir ataupun ampas halus yang ikut dalam nira. Sehingga limbah yang dihasilkan dari stasiun gilingan adalah limbah yang berasal dari proses pendingin tadi dan minyak pelumas yang menetes karena kebocoran alat serta tumpahan nira.3.

Nira mentah ini selanjutnya secara bertahap dimurnikan dari kotoran terlarutnya. Arah teknologi bersih Limbah cair pada stasiun gilingan ini berasal dari proses pendinginan. karena tidak tertutup kemungkinan tercampur dengan kotoran-kotoran mesin. minyak pelumas yang menetes karena kebocoran alat. Recycle) Nira mentah akan diproses kembali untuk menjadi gula. Reuse.- Pemberdayaan 3R (Reduse. Nira pekat selanjutnya dikristalkan di dalam unit kristaliser. Untuk mendapatkan kualitas yang lebih baik (refined sugar) maka gula mentah tersebut diproses ulang. Atau melalui proses pada gambar : . serta tumpahan nira. Gula yang dihasilkan adalah gula mentah (raw sugar). Nira jernih selanjutnya dikirim ke evaporator untuk dikurangi kandungan airnya hingga 60 brix. Air digunakan untuk menyemprot alat-alat yang panas pada stasiun ini supaya dingin dan air bekas penyemprotan mesin ini merupakan limbah cair. Selain untuk pengaturan pH. proses karbonatasi juga dimaksudkan untuk membantu pengendapan suspensi. Sedangkan proses sulfitasi bertujuan untuk pemucatan dan proses klarifikasi dengan bantuan bahan kimia pengendap (coagulant) adalah untuk mengendapkan makromolekul terlarut. kemudian dilakukan proses pemurnian kembali dengan bantuan eceng gondok yang dapat menyerap racun dalam air beserta memurnikan air tersebut. Sehingga limbah cair tersebut sebaiknya dtampung dalam bak limbah cair.

2 Stasiun pemurnian nira Larutan kapur 0. diperlukan adanya bahan pembantu yang digunakan untuk meningkatkan kualitas dan memperlancar jalannya proses produksi gula.18-0. Belerang Belerang dalah bahan pembantu yang digunakan pada unit operasi purifikasi.1.21% Belerang 0. .3.008-0. Dalam memproduksi gula pasir khususnya pada stasiun pemurnian nira.09% STASIUN PEMURNIAN NIRA Nira encer 84-90% Blotong 3-4% STASIUN KETEL Stasiun Pemurnian bertujuan untuk memisahkan beberapa kotoran-kotoran bukan gula yang terkandung dalam nira mentah. Dalam PG Kebon Agung proses pemurnian nira yang digunakan adalah sistem sulfitasi sehingga bahan kimia yang dipakai adalah larutan kapur tohor serta gas SO2 yang berasal dari pembakaran belerang padat. dan membentuk endapan kotoran dalam nira. mencegah terbentuknya inversi gula. sehingga diperoleh nira bersih yang dinamakan nira encer (nira jernih). Bahan pembantu yang digunakan adalah beberapa zat kimia. Susu Kapur (Ca(OH)2) Susu kapur adalah bahan pembantu yang berfungsi untuk menetralkan nira. 2. Belerang digunakan dalam bentuk sulfit yang bertujuan untuk menetralisir kelebihan susu kapur dan menyerap atau menghilangkan zat warna pada nira. yaitu: 1.

dan limbah B3 dihasilkan dari laboratorium pabrik. limbah yang dihasilkan adalah limbah cair. 1. Pada proses produksi. Limbah cair Limbah cair dari pabrik (Effluent) sebelum dialirkan ke sungai terlebih dahulu dilakukan pengolahan pada unit pengolahan limbah (IPAL) agar . Limbah cair yang dihasilkan merupakan air yang digunakan dalam proses produksi yang mengandung banyak padatan tersuspensi dan zat-zat kimia. Limbah udara yang dihasilkan adalah berupa gas-gas pembakaran dari stasiun ketel. mengurangi bahan baku yang beracun dan mengurangi jumlah dan kadar racun dari emisi dan limbah sebelum meninggalkan proses produksi. Penerapan teknologi bersih Produksi bersih merupakan suatu strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif dan terpadu yang diterapkan secara terus-menerus pada proses produksi.Selain produk utama berupa gula kristal. blotong dan tetes. Pada produk. limbah udara. Produk samping ini merupakan bahan baku potensial dari berbagai industri dan belum optimal dikembangkan. limbah padat. dan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). produk dan jasa untuk meningkatkan eco-efficiency dan mengurangi resiko terhadap manusia dan lingkungan. strategi ini menitikberatkan pada pengurangan dampak selama daur hidup produk dari saat bahan baku sampai produk tersebut dibuang atau tidak terpakai lagi Dalam proses produksi juga menghasilkan beberapa limbah. Limbah padat yang merupakan produk samping yang dihasilkan adalah berupa ampas tebu dan blotong. ampas. produksi bersih meliputi konservasi bahan baku dan energi. pengolahan gula dari tebu juga menghasilkan produk samping berupa pucuk tebu. Diperkirakan pengembangan produk samping ini dapat memberikan keuntungan 2-4 kali dari gula yang diperoleh.

timah hitam (Pb) hasil elektrolisa filtrat nira. 2. 3. Pengolahan limbah cair di IPAL secara umum melalui proses anaerobic dan aerobic. Pencemaran gas SO2 dihindari dengan cara pemasukan gas SO2 kedalam Reaktor Sulfitasi dilakukan menggunakan sistem hisapan (Induced draft). Limbah tersebut dihasilkan dari proses bahan pelumas/oli bekas berasal dari penggantian oli kendaraan bermotor dan bekas pendingin rol-rol gilingan. dan Timah hitam (Pb) berasal dari sisa filtrat penyaringan larutan nira. Limbah Udara Gas buang yang berasal dari cerobong boiler akan dilewatkan ke Wet Scrubber terlebih dahulu sebelum akhirnya keluar melalui cerobong. Pb-Acetat berasal dari bahan penjernih penyaringan larutan nira. Selain itu juga mengadakan penanaman pohon di sekitar pabrik dan mengadakan penghijauan sehingga dapat mengurangi pencemaran udara. Selain itu hal tersebut juga akan menyebabkan keadaan sekitar pabrik menjadi segar. . Tahapan dalam pengolahan limbah cair dari pabrik di IPAL. kertas saring dan residu bekas bahan penjernih larutan nira (Pb–Acetat). Hisapan udara dapat diperoleh dengan cara mengalirkan nira melalui ventury dengan menggunakan pompa sirkulasi. yaitu melalui pengolahan secara berkelanjutan dan terkontrol yang dilakukan di kolam-kolam penampungan limbah. Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) Limbah B3 yang dihasilkan antara lain bahan pelumas/oli bekas. Gas CO2 dapat ditangkap oleh pohon hijau sehingga dapat digunakan untuk proses assimilasi dan akhirnya dengan bantuan sinar matahari akan menghasilkan oksigen.memenuhi standar baku mutu yang telah ditetapkan oleh kementrian lingkungan hidup. Sistem seperti ini membuat percampuran (difusi) gas SO2 dalam nira secara relatif berlangsung lebih sempurna dan pencemaran gas SO2 akibat kebocoran perpipaan dapat dikurangi.

PG Kebon Agung sangat menjaga kebersihan mengenai produksinya. Reuse. 3. antara lain: 1. Timah hitam (Pb) hasil dari Elektrolisa Filtrat dikeringkan dan disimpan dalam toples plastik tertutup. 2. PG Kebon Agung telah melakukan beberapa hal dalam bidang ini. Penyaringan asap pabrik dengan sistem pengikatan elektron. Recycle) a. dikeringkan kemudian disimpan dalam drum plastik. Pada kolam limbah terdapat proses pemurnian air limbah untuk membuang limbah cair tersebut ke sungai agar tidak mencemari air sungai. Endapan kotoran dari clarifier dicampur dengan bagacillo untuk kemudian ditapis menggunakan 6 buah vacuum filter menghasilkan limbah padat berupa blotong (filter cake) yang kemudian dikirim kembali ke kebun sebagai pupuk organik. dan lain sebagainya. Recovery and Reuse (Penggunaan dan Daur Ulang Kembali) Penggunaan kembali pada tempatnya (On-site recovery and Re-use) adalah penggunaan kembali limbah yang dihasilkan pada proses yang sama atau pada proses yang lain di industri tersebut. terutama pada ruang pengepakan. Karbon akan terikat oleh alat penyaring dan jatuh ke bawah. 4. Pemberdayaan 3R (Reduse. Adapun upaya teknologi bersih lain yang dilakukan perusahaan. Sebelum masuk didalam ruang pengepakan. Karbon tersebut dapat dibuat sebagai bahan campuran aspal. Limbah B3 tersebut akan dikumpulkan dan dikoordinir dari direksi untuk selanjutnya ditangani oleh PPLI (Prasadha Pamunah Limbah Industri). yaitu: . karyawan harus mencuci tangan terlebih dahulu serta menggunakan masker dan sandal khusus yang disediakan oleh perusahaan.Sejauh ini pengelolaan yang dilakukan oleh pihak pabrik adalah bekas kertas saring dan residunya dikumpulkan.

Tumpahan nira kental di stasiun kristalisasi yang terjadi karena kerusakan peralatan ditarik kembali dengan pompa ke timbangan boulogne di stasiun pemurnian (purifikasi) untuk mengalami proses kembali 9. Penggunaan kembali air hasil akhir pengelolaan limbah 2. Ceceran oli yang telah diserap dengan ampas di stasiun penggilingan digunakan pada ketel sebagai tambahan bahan bakar pada saat terjadi jam berhenti giling yang biasanya dikarenakan kerusakan alat. Abu ketel dan blotong yang . Pengambilan tebu yang tercecer di emplacement untuk dimasukkan ke stasiun gilingan 3. Penggunaan uap nira dari stasiun masakan (kristalisasi) untuk stasiun penguapan (evaporasi) 5. Peleburan kembali gula yang tidak memenuhi kriteria produk (gula kasar dan gula halus) di stasiun sentrifugasi untuk dijadikan bibitan di stasiun kristalisasi 8. Penggunaan ampas tebu dari stasiun gilingan sebagai bahan bakar pada stasiun ketel 4.1. Penggunaan uap nira dari evaporator I untuk pengoperasian evaporator berikutnya. Ampas ini juga direncanakan akan diolah menjadi particle board yang akan ditangani oleh anak perusahaan. nira yang terkandung dalam uap bekas dipisahkan dengan sap vanger sehingga nira kental bisa dikembalikan ke proses 6. b. Peleburan kembali gula hasil yang biasanya pada awal giling masih kotor untuk dijadikan umpan pada stasiun kristalisasi 7. dan gula yang tercecer di sekitar timbangan curah diambil kembali secara manual untuk dilebur kembali di stasiun masakan sehingga jumlah kehilangan produk bisa lebih dikurangi. Recycle (pemanfaatan lain) Ampas tebu dari stasiun gilingan yang selain digunakan sebagai bahan bakar ketel juga dijual kepada perusahaan-perusahaan kertas di sekitar daerah Jawa Timur.

5 %.dihasilkan di stasiun ketel dan pemurnian juga diproses sebagai biokompos. Untuk pembuatan briket blotong dipadatkan lalu dikeringkan. 2. Protein hanya dapat diekstrak menggunakan zat alkali yang kuat seperti sodium dodecyl sulfate. Tangki ini diletakkan di luar pabrik untuk memudahkan perusahaan pengguna dalam pengambilannya. Sumber Protein Kandungan protein dari nira sekitar 0. Produk samping lain yang juga bermanfaat bagi perusahaan adalah abu cerobong yang telah diendapkan dalam kolam pembuangan akhir. Pemanfaatan Blotong pada stasiun pemurnian nira. antara lain: 1. Briket Pada saat ini pemanfaatan blotong antara lain sebagai bahan bakar alternative dalam bentuk briket. Untuk menghindari kerusakan oleh jamur dan bakteri blotong yang dikeringkan harus langsung digunakan dalam bentuk pellet.4 %. Penggunaan biokompos saat ini masih terbatas pada kalangan petani kebun. etanol terlarut 3 % dan protein terlarut 4 %. Dari stasiun sentrifugasi. Dari kandungan tersebut telah dicoba untuk melakukan ekstraksi protein dari blotong dan ditemukan bahwa kandungan protein dari blotong yang dipress sebesar 7. Abu ini dijual kepada masyarakat sekitar yang biasanya akan digunakan sebagai tanah urug. globulin 1 %. Keuntungan menggunakan briket blotong adalah harganya yang . 3. Tetes yang dihasilkan di stasiun sentrifugasi juga merupakan hasil samping yang memberikan keuntungan kepada perusahaan. molasses dialirkan ke tangki yang terdapat di luar pabrik. Pakan Ternak Blotong dapat digunakan sebagai pakan ternak dengan cara dikeringkan dan dipisahkan partikel tanah yang terdapat didalamnya.5 % berat zat padat terlarut. Kandungan dari protein yang dapat diekstrak antara lain albumin 91.

c) Pertimbangan ekonomis perusahaan yang menyatakan bahwa pemakaian asam Phospat lebih hemat daripada TSP. 4. Pemberian ke tanaman tebu sebanyak 100 ton blotong atau komposnya perhektar dapat meningkatkan bobot dan rendemen tebu secara signifikan. Pengendalian Proses yang Baik (Better Process Control) Pengendalian proses dilakukan dengan cara yaitu . c. karena mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanah. 2. Pupuk Blotong dapat digunakan langsung sebagai pupuk.lebih murah daripada kayu bakar dan bahan bakar lain. selain itu juga tergantung dari kondisi cuaca. Akan tetapi untuk membuat briket ini diperlukan waktu cukup lama antara 4 sampai 7 hari pengeringan. Perubahan Bahan Input (Input Material Change) Penggunaan asam phospat cair (P2O5) yang berfungsi untuk membentuk endapan kotoran dalam nira menggantikan peran Tripple Super Phospat (TSP) dengan pertimbangan perusahaan sebagai berikut: a) TSP berharga murah namun keefektifannya kurang bila dibandingkan dengan asam phospat karena kadar yang terkandung dalam TSP hanya ± 36% dan yang dapat bereaksi dengan nira hanya ± 30% dan menimbulkan lebih banyak endapan pospat. Untuk memperkaya unsur N blotong dikompos dengan ampas tebu dan abu ketel (KABAK). b) Asam Phospat berharga mahal namun lebih efektif daripada TSP karena kadar ± 80% dan endapan pospat yang ditimbulkan lebih sedikit sehingga bahan buangan yang harus diolah juga lebih sedikit. Pengurangan pada Sumbernya (Source Reduction) 1.

Pengontrolan ini bertujuan untuk memastikan bahwa hasil dari proses penguapan adalah nira kental yang mempunyai konsentrasi yang sesuai. Pengontrolan ini sangat penting mengingat parameter mutu di stasiun pemurnian adalah derajat keasaman atau pH tersebut. e) Pembacaan pengontrolan tekanan ruang vacuum di stasiun penguapan dan kristalisasi yang dilakukan dengan menggunakan vacuummeter. d) Pengontrolan kualitas nira yang dilakukan di laboratorium yang berguna untuk mengetahui nilai brix dan pol nira. Sample ini kemudian dibawa ke laboratorium untuk dianalisa kandungan brix dan pol-nya. 3. Selama ini diperkirakan suplai udara ke ruang bakar tidak terdistribusi dengan baik sehingga pembakaran berlangsung tidak yang sempurna (ampas tidak habis terbakar/terbuang bersama abu) dan menyebabkan penumpukan ampas. Pengambilan sample nira dilakukan di semua stasiun.a) Penggunaan panel kontrol yang berada di ruang kontrol untuk stasiun penggilingan. Alat ini digunakan di badan penguapan terakhir dan semua vacuum pan pada stasiun kristalisasi. . b) Pengukuran pH di stasiun pemurnian yang dilakukan secara manual dengan penggunaan kertas pH. Modifikasi Peralatan (Equipment Modification) Modifikasi peralatan yang dilakukan oleh perusahaan memperlancar proses antara lain: a) Memperbesar lubang udara primer sehingga suplai udara baru ke ruang bakar bisa optimal. Ruang kontrol ini digunakan untuk mengatur kerja rol gilingan seperti menghentikan atau menjalankan gilingan dan mengatur kecepatan perputaran gilingan. c) Pengontrolan kualitas nira di stasiun penguapan yang dilakukan dengan brix weigher.

Penurunan kadar air pada ampas sebesar 6. - Arah produksi bersih Diharapkan PG Kebon Agung ini dapat mempertahankan sistem produksi bersih yang diterapkan saat ini dan dapat mengembangkan teknologi bersih lainnya. Modifikasi ini ditujukan untuk penumpukan ampas dan menjaga kontinuitas ampas yang masuk ke ketel Takuma. c) Modifikasi peluncur ampas ketel Takuma.52% yang dihasilkan di stasiun penggilingan diduga dapat menghemat pemakaian residu. sehingga diharapkan ampas tidak akan menumpuk dibagian atas. Penghematan ini dilakukan untuk mencegah pemberian air imbibisi yang berlebihan yang dapat meningkatkan biaya pengolahan air dan meningkatkan kadar air ampas yang dihasilkan. penggunaan dolomit sebagai subtitusi penggunaan kapur pada stasiun pemurnian.b) Memperbaiki ruji pickroll yang berguna untuk mengatur jatuhnya ampas dari baggase plug ke baggase feeder yang lebih kontinyu dengan kondisi tercacah halus sehingga pembakaran ampas di ruang bakar dapat optimal. Peluncur ampas ketel Takuma dimodifikasi lebih curam dengan kemiringan mencapai 600 terhadap garis horizontal. produksi beberapa produk samping yang bermanfaat dan good house keeping. Penurunan kadar air ampas Air imbibisi digunakan diawal gilingan akhir yang bisa dilakukan dengan air panas dengan tujuan untuk memperbaiki ekstraksi gula dari ampas. . Pada kondisi kadar air ampas mencapai mencapai 50 %. Rekomendasi produksi bersih yang dapat dilakukan adalah penurunan kadar air ampas. memberikan peluang diterapkannya produksi bersih melalui penghematan air imbibisi. Pemberian air imbibisi yang belum terkontrol dengan baik pada stasiun gilingan. Sistem imbibisi yang baik dapat mengurangi adanya kehilangan gula dalam ampas. dihasilkan energi panas yang sedikit sehingga tambahan energi panas yang dibutuhkan dari residu sedikit pula. 1.

Biaya penghematan yang dapat dihasilkan adalah dengan penghematan air imbibisi pertahunnya. Mutu nira jernih pada pemurnian dengan penggunaan dolomit adalah lebih baik bila dibandingkan dengan mutu nira jernih yang dihasilkan dari proses pemurnian dengan menggunakan 100% CaO. mematikan lampu yang tidak digunakan. Prospek ini tidak hanya didasarkan atas faktor teknis saja. Produksi produk samping yang bermanfaat Produksi produk samping yang dapat dilakukan adalah dengan memanfaatkan limbah produksi gula seperti ampas. tetes.pucuk tebu dan daun tua sebagai pakan ternak. sarung . blotong. 2. sugar bin yang berfungsi untuk menampung gula SHS (produk akhir) sebaiknya ditutup sehingga gula yang dihasilkan tidak tercecer dan membersihkan kerak dan karat pada alat processing. pemakaian helm. Produksi pakan ternak ini diperkirakan dapat memberikan keuntungan per tahunnya. namun juga didukung oleh faktor lain antara lain biaya atau harga dolomit yang lebih rendah dibandingkan dengan kapur dan adanya cadangan dolomit yang besar dan belum dieksplorasi secara intensif. Kebiasaan sederhana karyawan seperti menutup kran air yang telah tidak digunakan. Berdasarkan fakta tersebut. 3. 4. Good house keeping Good house keeping yang dapat dilakukan adalah menerapkan manajemen O&M (Operation and Maintenance) seperti menutup conveyor belt pengangkut ampas menuju boiler. maka penggunaan dolomit pada pemurnian nira direkomendasikan untuk menggantikan penggunaan kapur. Penggunaan dolomit sebagai subtitusi penggunaan kapur pada stasiun pemurnian Penggunaan dolomit sebagai substitusi penggunaan kapur dengan perbandingan 40%MgO : 60%CaO pada stasiun pemurnian dapat memberikan penghematan pada 1 musim giling.

sepatu boot. Penambahan gas belerang ini mengakibatkan perubahan pH nira menjadi 5.7.3 Stasiun penguapan Air kondensat 62-64% STASIUN PENGUAPAN Nira kental 22-26% STASIUN KETEL Nira encer hasil proses pemurnian masih banyak mengandung air sehingga dilakukan proses penguapan air agar diperoleh nira kental dngan kekentalan tertentu. Hasil samping proses penguapan ini adalah air (kondensat) yang dimanfaatkan sebagai air umpan di stasiun ketel Nira kental dari evaporator terakhir akan masuk ke tangki sulfitasi untuk ditambahkan dengan SO2(g).5 – 5. 3.1. Reaksi bleaching ini berdasarkan pada reaksi reduksi dari ikatan Fe3+ ( ferro ) yang berwarna gelap menjadi Fe2+ ( ferri ) yang berwarna cerah. .tangan. masker hidung dan sumbat telinga juga sangat membantu dan berarti dalam peningkatan efisiensi produksi. Penambahan ini berguna untuk pemucatan warna atau bleaching nira kental.

3. Untuk memperkecil . penguapan lebih lanjut menuju fase jenuh akan menyebabkan bergabungnya sub micron-sub micron menjadi rantai-rantai yang saling mengikat membentuk kristal. Di stasiun puteran dilakukan proses pemutaran masecuite yang bertujuan memisahkan kristal gula dari larutan (sirupnya). Pada proses ini akan diperoleh gula produk SHS dan hasil samping tetes. Pembentukan kristal ini disebut pembentukan kristal inti. Terbentuknya kristal dalam proses kristalisasi disebabkan oleh saling tarik-menarik dan terkumpulnya molekul sacharosa dalam bentuk larutan. Selain kristal inti. terbentuk pula kristal-kristal palsu yang terjadi pada fase lewat jenuh yang melebihi super saturasi pada saat pembentukan kristal inti. Dalam prose kristalisasi diperoleh larutan kristal gula yang disebut masecuite serta diperoleh hasil samping berupa air kondensat yang dimanfaatkan sebagai air umpan di stasiun ketel.4 Stasiun Pemasakan dan Stasiun Puteran STASIUN PEMASAKAN Masecuite 40-44% Air kondensat 13-15% STASIUN KETEL Sirup 31-35% STASIUN PUTERAN Gula produk SHS 6-8% Tetes 4-5% - Penerapan teknologi bersih Di stasiun masakan dilakukan proses kristalisasi untuk mengambil dalam nira kental sebanyak mungkin untuk dijadikan kristal dengan ukuran yang diinginkan.1.

Reuse. Recycle) Bahan pemanas yang digunakan pada stasiun masakan adalah uap bekas dari badan penguapan maupun uap bekas dari turbin yang bertekanan 0. Di stasiun pemasakan juga menggunakan kondensor untuk mendinginkan uap yang dihasilkan dari vacum pan. hanya operasionalnya dilakukan secara individual.1. Prinsip kerja vacum pan sama dengan evaporator. Hasil dari proses pengembunan ini menghasilkan air jatuhan. etaanol. 3. C dan D). sedangkan massecuite C dan D digunakan untuk bibit.9 kg/ cm2 dengan temperatur 70oC yang sudah dapat mendidihkan nira karena dalam keadaan vacuum. Gula produksi diperoleh dari massecuite A. spiritus dan lain . Hasil akhir dari proses Arah teknologi bersih Masakan ini selain menghasilkan kristal gula kering dan larutan yang masih dapat diolah menjadi kristal gula kering. untuk tahap C dilakukan bila harga kemumian nira kental rendah dan bila harga kemumian dari nira kental tinggi tidak diperlukan lagi masakan C. Sementara itu. Selanjutnya air jatuhan ini akan ditampung di bak penampung yang akan bergabung dengan air jatuhan yang dihasilkan dari proses penguapan.5 Stasiun pembungkusan Proses pembungkusan bertujuan untuk memberikan perlakuan terakhir pada gula sebelum digudangkan. di vacum pan menghasilkan kristal-kristal gula yang selanjutnya ditampung. Proses kristalisasi dilakukan dalam 3 tahap (A. Di stasiun pembungkusan dilakukan .jumlah kristal palsu maka kondisi lewat jenuh dari larutan harus dikendalikan sehingga yang terjadi adalah pembentukan kristal sekunder yakni pembesaran dari kristal inti. Larutan ini terdiri dari tetes yang merupakan hasil akhir yang tidak dapat diolah lagi menjadi kristal dan dapat digunakan untuk bahan baku alkohol.lain. - Pemberdayaan 3R (Reduse. Sedangkan larutan lain adalah strup yang masih dapat diolah menjadi kristal gula kering.

Selain itu dalam stasiun pembungkusan ini ada beberapa hal yang memang harus sangat di perhatikan oleh para pekerja sendiri.” dimaksudkan agar kebersihannya benar-benar terjaga dan menghasilkan produk yang berkualitas tinggi. Reduce. oleh karenanya hanya perlu menjaga dan . Sebelum masuk didalamnya pegawai harus mencuci tangan dan juga menggunakan masker serta sandal khusus yang disediakan perusahaan. - Pemberdayaan 3R (Reuse. yakni dalam hal penjahitan. karena memang prosesnya harus tetap menjaga kebersihannya.pembungkusan gula dengan karung plastik yang akan mempunyai berat masingmasing 50 kg. Sehingga tidak terdapat bakteri-bakteri maupun yang lainnya yang ikut terbawa dan campur dalam pembungkusan gula ini. Penerapan teknologi bersih Dari salah satu referensi yang kami dapatkan mengatakan bahwa: “pabrik gula kebon agung menjaga kebersihan mengenai produksinya yaitu diruang pengepakan. Begitu juga dengan gula halus hasil dari saringan 28 mesh bisa di recycle lagi dengan proses yang lain. Gula kasar yang didapatkan setelah penyaringan di 8 mesh juga bisa di proses lagi. supaya benar-benar produksi bersihnya terjaga dan tertata dengan bagus. Usaha dan peraturan tersebut diatas sangatlah harus diterapkan dalam perusahaan produksi gula. sebab dalam proses penjahitan biasanya terdapat sisa-sisa hasil jahitan yang luput dari pengawasan maupun pembersihan para pekerja di sebuah perusahan. Reduce dan Recycle) adalah bongkahan gula yang mana terpisah saat di talang goyang. - Arah teknologi bersih Menurut kami produksi bersih di PT. Dimana proses yang dimaksudkan dari ketiga bahan tersebut yakni diangkut ke tangki leburan. KEBON AGUNG yang telah dipakai dan diterapkan sudah maksimal. dimaksud untuk di proses lebih jauh lagi. Dalam proses penjahitan diharapkan untuk selalu menjaga kebersihan. Recycle) Dari data dan alur diatas dapat ditarik gambaran bahwa beberapa hal yang dapat di terapkan 3R (Reuse.

Sehingga nantinya bisa menghasilkan produk yang benar-benar mendapatkan kualitas nomer satu diantara produksi-produksi gula lainnya.7 Stasiun ketel Di stasiun ketel dilakukan proses pemanasan air kondensat sampai mendidih (menguap) yang bertujuan menghasilkan uap pada tekanan tertentu. Bahan bakar dari ketel diambil dari sisa stasiun gilingan yaitu berupa ampas tebu. . Ketel berfungsi untuk menguapkan air dengan tekanan tertentu dan dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik tenaga uap.6 Gudang   Penerapan teknologi bersih Memakai baju dan peralatan steril sebelum masuk gudang Menghindari penyimpanan gula yang terlalu lama agar kwalitas gula tidak rusak  Memperhatikan alas gudang dan pembersihan gudang secara berkala  Arah teknologi bersih Sebaiknya digudang penyimpanan diberi sensor kelembaban dan blower untuk menjaga kelembaban dalam gudang  Gudang sebaiknya tertutup dan kering menghindari hewan dan mikroba masuk kedalmnya  Ventilasi pada gudang diberi filter udara mencegah masuknya asap pabrik serta debu-debu halus masuk kedalamnya 3. 3.1.meningkatkan saja kegiatan-kegiatan produksi bersih yang sekarang ada menjadi lebih baik lagi.1.

2 Saran Diharapkan PG Kebon Agung ini dapat mempertahankan sistem produksi bersih yang diterapkan saat ini dan dapat mengembangkan teknologi untuk menghasilkan emisi yang seminim mungkin. Terdapat tiga jenis limbah yang dihasilkan dalam proses produksi.BAB IV PENUTUP 4. Sehingga hasil limbah PG Kebon Agung tidak berbahaya bagi penduduk sekitar 4. Mengenai limbah yang dihasilkan PG Kebon Agung telah diteliti bahwa hasil limbah berada di bawah standar yang telah ditentukan oleh dinas yang telah bekerja sama dengan PG Kebon Agung sendiri. diantaranya : limbah padat. cair dan gas.1 Kesimpulan Dalam studi lapang yang kami lakukan di Pabrik Gula Kebon Agung dapat disimpulkan bahwa PG Kebon Agung telah menerapkan teknologi bersih semaksimal mungkin dalam produksi gula kristal beserta penangananan limbah – limbah yang dihasilkan. .

Masalah Industri Gula di Indonesia.scribd. Proses Produksi Gula http://id. Pengawasan Kualitas dan Teknologi Pembuatan Gula di Indonesia. Diakses tanggal 10 Desember 2012. Diakses pada 07-122012 pukul 10. Fakultas Pertanian. Sri. Padang.com/doc/98021255/Penda-Hulu-An. N. Pembuatan Gula Pasir. . Penerbit Nuansa. Penerbit BPFE. Penetuan Dosis Kapur dan Belerang pada Proses Pemurnian Nira Tebu di Pabrik Gula Mini Lawang. Yogyakarta.iptek. Pemanfaatan Limbah Tebu Sebagai Bahan Baku Utama Complete Feed Block Untuk Ternak Ruminansia. Diakses pada 07-12-2012 pukul 10. 1986.id/. Institut Pertanian Bogor. 2012. Program Produksi Bersih Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. 1999. A. 20.26 WIB Anonymous. Proses Produksi Gula. Skripsi. Ade.DAFTAR PUSTAKA Anonymous. Bandung Harliyani. Fakultas Teknologi Pertanian. http://id. Universitas Andalas. 2012.net.00 WIB Bapedal. 2012. 1993. Indeswari. Penerbit ITB. Moerdokusumo.15 WIB Anonymous. 1984. http://www. Bandung Mubyarto. 1994.scribd. Laporan Penelitian.com/doc/52242557/BAB-III-PROSES-PRODUKSIGULA.