PROGRAM INOVATIF SEKOLAH

PROGRAM INOVATIF SEKOLAH Oleh Suparlan *) Mereka yang berfikiran hebat membicarakan ide-ide. Mereka yang berfikiran sedang membicarakan peristiwa-peristiwa. Mereka yang berfikiran sempit membicarakan orang lain (Eleanor Roosevelt, 1884 – 1962, mantan first lady AS) Inovasi membedakan antara pemimpin dan pengekor (Steve Jobs, pendiri Apple Computer) Innovation is change that creates a new dimension of performance (Peter Drucker: Hesselbein, 2003) Innovation is the creation of the new or the re-arranging of the old in a new way (Michael Vance)

Kita sekarang akan mencoba menjadi orang yang berfikiran hebat. Siapa takut? Kita sedang membicarakan ide-ide atau gagasangagasan, bukan membicarakan fakta-fakta saja, apalagi membicarakan orang lain. Gagasan apa saja itu? Tentang program inovatif sekolah. Benar sekali. Tapi, gagasan-gagasan yang akan ditulis ini mungkin saja memang bukan benar-benar baru bagi sekolah tertentu. Namun sekolah yang lain mungkin dapat menjadi sesuatu yang sangat berharga. Memang, gagasan baru juga harus semua komponennya harus baru. Gagasan baru itu bisa jadi dari gagasan yang sudah lama, yang kemudian diperbaiki, disempurnakan dengan memperbaiki satu atau beberapa elemennya, sehingga menjadi lebih baik dan bermanfaat. Itu pun sudah dapat disebut sebagai apa yang dikenal dengan inovasi. Innovation is the creation of the new or the re-arranging of the old in a new way (Michael Vance) Tulisan ini akan mencoba membahas tentang program sekolah yang dapat dinilai inovatif. Peter Drucker menjelaskan kepada kita bahwa inovasi sesungguhnya adalah perubahan yang menciptakan satu dimensi baru kinerja organisasi. Dalam hal ini, kinerja lembaga pendidikan sekolah. Pemberdayaan Kelompok Kerja Guru (KKG) dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sungguh, kita harus malu dengan peringkat ke empat di Pesta Olahraga Asia Tenggara. Kita telah jauh ketinggalan dari negara Thailand. Bahkan juga ketinggalan dari Vietnam. Kondisi ini juga tampak dari Human Development Index (HDI) Indonesia yang berada di bawah Vietnam. Padalah dahulu, dalam acara olahraga yang bergengsi ini kita selalu unggul. Boleh dikatakan bahwa negara yang lain berebut pada urutan kedua. Boleh jadi semua itu terjadi memang karena dampak negatif dari krisis multidimensional yang masih belum sepenuhnya usai. Namun, banyak orang yang meneropongnya dari faktor kemunduran dunia pendidikan kita. Dengan demikian, maka sumber masalahnya adalah lembaga pendidikan sekolah. Program peningkatan kompetensi SDM secara terencana dan berkelanjutan memang harus dimulai di lembaga pendidikan sekolah. Setelah lembaga pendidikan keluarga, maka lembaga pendidikan sekolah harus menjadi tempat yang strategis untuk dapat meningkatkan kompetensi SDM yang handal. Untuk dapat membangun SDM yang handal, kita tidak bisa hanya melakukan yang biasa-biasa saja. Juga tidak hanya dengan program-program yang biasa. Kita harus melakukan hal yang luar biasa. Dengan kata lain, kita harus melakukan hal-hal yang inovatif. Lembaga pendidikan sekolah harus merancang berbagai program yang inovatif. Pemberdayaan KKG dan MGMP harus dapat digunakan sebagai wahana yang efektif untuk dapat meningkatkan kompetensi guru di sekolah. Program Pemberian Susu dan Makanan Tambahan Di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur, Malaysia, sebagai ilustrasi, sebagaimana juga di sekolah-sekolah lain di tanah air, para siswa harus mengikuti upacara bendera di sekolah. Dalam beberapa kali upacara bendera, ketika pembina upacara menyampaikan

pidatonya, atau ketika bendera merah putih dinaikkan beberapa anak jatuh pingsan. Selidik punya selidik, masalah ini terjadi karena banyak anak-anak yang tidak sarapan pagi. Bukan hanya itu, ada kemungkinan mereka juga mengalami kekurangan gizi dan dehidrasi. Penemuan tentang rendahnya kebugaran jasmani, kesehatan, dan gizi anak-anak kita perlu mendapatkan perhatian kita semua. Hal ini sama sekali berbanding terbalik dengan keadaan peserta didik di Negeri Cina. Para siswa di sekolah yang cukup luas di negeri tirai bambu itu diwajibkan selalu melakukan olahraga dalam cabang olahraga yang mereka suka. Semua fasilitas olahraga telah disediakan, dan setiap harinya mereka harus melakukan olahraga sesuai dengan hobinya. Hasilnya? Stamina olahragawan dari negeri tirai bambu itu sangat luar biasa. Mereka yang suka berolahraga memiliki kecerdasan fisikal atau kecerdasan ragawi atau kecerdasan yang dikenal dengan bodily kinestetics yang tinggi. Termasuk di dalamnya adalah senam dan menari dengan olah tubuh yang penuh dengan rima dan irama itu. Kalau pun negeri kita pada saaat ini masih mengalami kesulitan untuk mencari sebelas pemain sebak bola, karena selalu keok dalam arena pertandingan olah raga yang bergengsi ini, maka masalahnya tidak lain dan tidak bukan adalah karena kecerdasan fisikal generasi muda kita yang masih rendah. Selain itu, asupan gizi generasi muda kita masih di bawah rata-rata anak-anak di dunia. Jika negeri ini masih juga mengalami masalah mahalnya susu untuk tumbuh kembang anak-anak kita, negeri adidaya Amerika Serikat telah jauh memikirkan pentingnya makan siang anak-anak sekolah melalui program makan siang anak-anak usia sekolah melalui National School Lunch Program Act yang telah ditandatangani oleh Presiden Truman pada tahun 1946. Bahkan pada tanggal 14 Oktober 1940, pemerintah Amerika Serikat juga telah mengeluarkan program susu sekolah ( school milk program). Rupanya, DPR kita masih sibuk dengan urusan politik ketimbang dengan urusan makan siang anak-anak. Nah apa yang harus diprogramkan oleh sekolah untuk mengatasi itu semua? Pemberian bubur kacang hijau, susu, dan makanan bergizi lainnya secara rutin sudah tentu menjadi kegiatan yang sangat berguna bagi anak-anak kita. Jangan biarkan anak-anak kita membiasakan jajan di tepi-tepi pagar sekolah, yang dari aspek kesehatan dan gizinya tidak dapat kita pertanggungjawabkan. Penciptaan Lingkungan Sekolah Yang Sehat Program ini sangat terkait dengan program sebelumnya. Pertama, program yang harus dibenahi adalah kantin sekolah. Ciptakan kantin sekolah yang hiegenis dengan jenis makanan yang bergizi. Kedua, citakan lingkungan sekolah yang bersih, rindang, dan indah. Program 7K perlu digalakkan lagi, bukan hanya secara seremonial belaka, tetapi harus menyentuh perubahan kebiasaan para penghuninya. Memasang papan bertuliskan ”LINGKUNGAN BEBAS ROKOK” merupakan satu gebrakan yang dapat dilakukan. Tulisan-tulisan lain, seperti ”TARUH SAMPAH PADA TEMPATNYA”, atau ”CUCI TANGAN SEBELUM MAKAN”, atau ”KESEHATAN SEBAGIAN DARI IMAN” dapat diharapkan dapat mengisi nurani anak-anak kita yang masih putih itu. Lomba kebersihan dan keindahan kelas dapat diadakan pada saat momen-momen tertentu, misalnya peringatan hari besar nasional dan agama, atau peringatan hari lahir sekolah. Talent Scouting Bibit Olahraga dan Seni Pembinaan olahraga memang menjadi tugas utama guru olahraga dan keshatan. Tetapi, program pembinaan olahraga secara teroganisasi di sekolah sudah barang tentu menjadi tanggung jawab semua komponen sekolah. Di samping olahgara rekreasi, pencatatan secara rutin rekor olahraga prestasi harus tersedia di sekolah. Sekolah harus memiliki catatan, nama-nama siswa dengan rekor tertingginya dalam cabang olahraga tertentu. Dengan catatan ini, jika ada kegiatan pertandingan olahraga, maka sekolah tinggal memilih mereka untuk dapat mengikuti ajang pertandingan olahraga yang akan diikuti. Pencatatan prestasi olahraga ini dapat dilakukan pada awal tahun pelajaran atau pada saat usai ulangan semester pertama menjelang libur sekolah. Dengan demikian, sekolah dapat menjadi tempat pembibitan olahraga dan seni yang pertama dan utama. Science-Tech Club Sama dengan talent scouting dalam bidang olahraga, sekolah juga harus melakukannya untuk bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebenarnya para guru telah memiliki pengetahuan dan keterampilan praktis dalam penelitian sederhana. Namun banyak di antaranya kurang begitu yakin bahwa anak-anak mampu melakukannya. Padahal obyek penelitian sederhana bagi anak-anak terbentang luas di sekolah dan lingkungannya. Sayur apakah yang menjadi kegemaran siswa, sebagai contoh, adalah pertanyaan penelitian sederhara yang dapat dilakukan bukan di SMP, tetapi sudah bisa dilakukan di SD. Topik-topik lainnya misalnya: (1) rata-

rata jumlah anak dalam satu keluarga, (2) rata-rata tinggi dan berat badan anak-anak kelas 5 SD, (3) jarak tempuh anak-anak ke sekolah, dan masih banyak yang lain. Kebun Sekolah dan Penanaman Sejuta Pohon Jika secara internasional isu pemanasan global telah melahirkan Bali Roadmap untuk memecahkan isu tersebut, maka apa yang dapat dilakukan di tingkat sekolah? Tentu saja pendidikan lingkungan hidup harus menjadi tanggung jawab sekolah. Untuk sekolah yang tidak memiliki lahan yang luas, setiap kelas dapat diminta untuk membikin taman di depan kelasnya masing-masing. Atau dapat meminta kepada para siswa untuk masing-masing dapat memiliki tanaman kesayangan yang harus dipelihara setiap hari dengan sepenuh hati. Disiram, dipupuk, dan disiangi kalau ada rumput yang menggangunya. Jika ada sedikit lahan di depan sekolah, maka sekolah juga dapat membuat taman sederhana untuk menanam tanaman hias atau tanaman bunga, agar sekolah tidak terasa gersang. Jika di lingkungan sekolah ada lahan tidur yang tidak dimanfaatkan oleh yang empunya, sekolah dapat meminjamnya untuk dijadikan kebun sekolah tempat praktik anak-anak menanam berbagai jenis tanaman. Selain itu, sekolah juga dapat membantu pemerintah daerah dalam melaksanakan program penanaman satu juta pohon. The First Day Festival Ide ini diusulkan oleh seorang guru di suatu sekolah di Amerika Serikat. Pada waktu itu, pelibatan peran serta orangtua dalam penyelenggaraan pendidikan masih menjadi sesuatu yang langka. Setelah program ini dilaksanakan, antusiasme orangtua dan masyarakat tiba-tiba meningkat secara drastis. Sejak adanya festival hari pertama sekolah itu, orangtua siswa dan masyarakat merasakan adanya peningkatan keakraban dan kekeluargaan antara sekolah dan orangtua siswa secara luar biasa. Orangtua dan masyarakat tidak lagi merasa sebagai klien, tetapi sebagai pemangku kepentingan yang memiliki tanggung jawab yang sama besar dengan pihak kepala sekolah dan para guru di sekolah. Program seperti ini dapat berupa program lain yang tidak kalah inovatifnya. Acara tutup tahun sekolah, sebagai contoh, dapat menjadi media untuk menyatupadukan sekolah dengan orangtua dan masyarakat. Dalam acara tersebut, para siswa dapat menunjukkan kebolehannya, baik dalam bidang akademis maupun nonakademis, di hadapan orangtua dan masyarakat. Dampaknya, orangtua dan masyarakat menjadi lebih memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap upaya sekolah dalam meningkatkan kompetensi siswa. Dampak pengiringnya, orangtua dan masyarakat menjadi lebih antusias dalam ikut serta memberikan dukungan dan bantuan terhadap pelaksanaan program-program inovatif sekolah. Akhir Kata Masih sangat banyak program inovatif lain yang dapat dilaksanakan oleh sekolah. Tentu saja berdasarkan kondisi sekolahnya masing-masing. Sebagai contoh, program sekolah berwawasan imtaq, program sekolah yang aman dan nyaman, program sekolah ramah anak, kegiatan outbond, dan masih banyak yang lainnya. Penerapan pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM) dan contextual teaching and learning (CTL) kini menjadi program inovatif di sekolah yang menjadi primadona. Pendek kata, dengan program inovatif, semua warga sekolah dan pemangku kepentingan ingin mencoba sesuatu yang tidak biasa. Ingin mencoba sesuatu yang baru, yang kalau bisa yang luar biasa. Itu semua dapat dimulai dengan program inovatif yang sederhana, dan sudah barang tentu yang tidak memberatkan keuangan orangtua siswa. Yang penting, semua warga sekolah ingin melakukan sesuatu yang baru, atau sesuatu yang sebelumnya kurang mendapatkan perhatian. Tentu saja, semua itu harus dirancang adalam rencana yang matang, yang dikenal dengan Rencana Pengembangan Sekolah (RPS), yang disusun oleh sekolah bersama dengan pemangku kepentingan. Dengan kata lain, RPS yang disusun hendaknya memuat program-program inovatif, baik yang terkait dengan aspek akademis maupun nonakademis di sekolah. Sulitkah semua itu kita lakukan? Semua itu memang sulit untuk pertama kalinya. All beginning is difficult. Semua permulaan itu memang sulit. Tetapi, yakinlah bahwa semua itu dapat dilakukan jika kita memiliki kemauan. Dimana ada kemauan di situ ada jalan. Mudah-mudahan.

MATERI UJI KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH : MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH
08:04 Nurul Amaliah No comments Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

A. 1.

KONSEP MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

Pengantar Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah masih rendahnya mutu pendidikan dari sebagian sekolah khususnya sekolah dasar dan menengah di pedesaan, misalnya di pedalaman dan di perbatasan. Berbagai upaya telah dan sedang dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, misalnya pengembangan delapan (8) standar nasional pendidikan, alokasi dana pendidikan minimal 20% APBN dan APBD, sertifikasi pendidik beserta tunjangan profesinya, penerapan ujian nasional, peningkatan partisipasi masyarakat dalam pendidikan, dan sejumlah terobosan baru berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Namun demikian, mutu pendidikan nasional belum merata di seluruh tanah air. Sebagian sekolah, terutama di kota-kota, secara umum, menunjukkan peningkatan mutu pendidikan yang cukup menggembirakan, sebaliknya sebagian lainnya khususnya di pedesaan, masih memprihatinkan. Jadi, kesenjangan mutu pendidikan nasional masih cukup lebar. Berdasarkan kenyataan ini, berbagai pihak mempertanyakan: apa penyebab kesenjangan mutu pendidikan nasional yang masih lebar ini? Tentu saja jawabannya adalah banyak faktor yang menyebabkan lebarnya kesenjangan mutu pendidikan nasional, tiga diantaranya adalah: (1) penerapan pendekatan sistem secara parsial, (2) belum maksimalnya penerapan MBS, dan (3) rendahnya partisipasi warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan sekolah. Faktor pertama, penerapan pendekatan sistem dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah sering dilaksanakan secara parsial. Sekolah sebagai sistem terdiri dari konteks, input, proses, output, dan outcome. Dalam kenyataannya, pengembangan sekolah sering difokuskan pada input saja (guru, kurikulum, sarana dan prasarana, dana, dsb.), proses saja (proses belajar mengajar, penilaian hasil belajar, kepemimpinan sekolah, dsb.), atau output saja (nilai ujian nasional, perlombaan karya ilmiah, dsb.). Padahal, penyelenggaraan sekolah sebagai sistem harus dilakukan secara utuh, tidak parsial, apalagi parosial. Artinya, pengembangan sekolah secara sistem harus mencakup seluruh komponen sekolah secara utuh mulai dari konteks, input, proses, output, hingga sampai outcome. Faktor kedua, penyelenggaraan pendidikan nasional yang dilakukan secara birokratik-sentralistik telah menempatkan sekolah sebagai subordinasi yang sangat tergantung pada keputusan birokrasi diatasnya yang mempunyai jalur yang sangat panjang dan kadang-kadang kebijakan yang diberlakukan kurang sesuai dengan kondisi sekolah setempat. Karena sekolah lebih merupakan subordinasi dari birokrasi di atasnya, maka mereka kehilangan kemandiriannya, terpasung kreatifitasnya/inisiatifnya, rendah keluwesannya, rendah motivasinya, dan rendah keberanian moralnya untuk melakukan hal-hal baru yang diperlukan untuk memajukan sekolahnya. Faktor ketiga, peranserta warga sekolah khususnya guru, karyawan dan siswa serta peranserta masyarakat khususnya orangtua siswa dalam penyelenggaraan sekolah selama ini belum optimal. Partisipasi guru dalam pengambilan keputusan sering diabaikan, padahal terjadi atau tidaknya perubahan di sekolah sangat tergantung pada guru. Dikenalkan pembaruan apapun jika guru tidak berubah, maka tidak akan terjadi perubahan di sekolah tersebut. Partisipasi masyarakat selama ini pada umumnya sebatas pada dukungan dana, sedang dukungan-dukungan lain seperti pemikiran, moral, pisik, dan material belum optimal. Padahal, kesuksesan sekolah sangat memerlukan teamwork yang kompak, cerdas, dinamis, harmonis, dan lincah. Hal ini hanya akan terjadi apabila pertisipasi warga sekolah dan masyarakat maksimal. Partisipasi maksimal akan mampu meningkatkan rasa kepemilikan terhadap sekolah dan rasa kepemilikan akan meningkatkan dedikasi warga sekolah dan masyarakat terhadap sekolah. Berdasarkan ketiga faktor tersebut, tentu saja perlu dilakukan upaya-upaya penyampurnaan, salah satunya adalah mempertegas konsep dasar MBS dan memperkuat pelaksanaannya. Oleh karena itu, pembahasan MBS selanjutnya akan difokuskan pada: (1) landasan yuridis, (2) asumsi-asumsi diterapkannya MBS, (3) prakondisi yang diperlukan dalam penyelenggaraan MBS, (4) konsep dasar MBS yang meliputi: pola baru manajemen pendidikan masa depan, arti, tujuan,

karakteristik MBS. dan kepercayaan publik terhadap sekolah. 3. akuntabilitas. Kelima bahasan tersebut akan diuraikan seperlunya pada bab-bab berikut. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (khususnya yang terkait dengan MBS adalah Bab VIII. dan urusan-urusan yang didesentralisasikan ke sekolah. Pasal 3). sekolah lebih mengetahui kekuatan. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan (khususnya yang terkait dengan MBS adalah Bab II. sekolah lebih bertanggungjawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada pemerintah dan pemerintah daerah. 5. 8. 5. dan ancaman bagi dirinya sehingga dia dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya yang tersedia untuk memajukan sekolah. Ayat (1). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan. dan (5) pelaksanaan MBS. inisiatif. transparansi. 6. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (khususnya yang terkait dengan MBS adalah Bab XIV. 4. dedikasi. sekolah lebih mengetahui kebutuhannya. 2. 4. peluang. kelemahan. pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan sekolah karena pihak sekolahlah yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi sekolahnya. Ayat (1). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah. 2. dengan pemberian otonomi yang lebih besar kepada sekolah. dengan pemberian fleksibilitas/keluwesan-keluwesan yang lebih besar kepada sekolah untuk mengelola sumberdayanya. maka sekolah akan lebih luwes dan lincah dalam mengadakan dan memanfaatkan sumberdaya secara optimal untuk meningkatkan mutu sekolah. 7. dan masyarakat pada umumnya sehingga . maka sekolah akan lebih kreatif. keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan akan mampu meningkatkan rasa kepemilikan. penggunaan sumberdaya pendidikan lebih efektif dan efisien jika dikontrol oleh warga sekolah dan masyarakat setempat. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 78 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Sekolah Bertaraf Internasional pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. 3. Pasal 49. Asumsi-asumsi Diterapkannya MBS MBS diterapkan dengan asumsi-asumsi sebagai berikut: 1. dan inovatif dalam meningkatkan kinerja sekolah. dan 6. khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran dan tingkat perkembangan serta kebutuhan peserta didik. Pasal 51. 3. yaitu: 1. 2. Landasan Yuridis Penerapan MBS dilandasi oleh peraturan perundang-undangan pendidikan nasional yang berlaku di Indonesia. orangtua peserta didik.

baik sumberdaya manusianya maupun sumberdaya selebihnya yaitu dana. persyaratan berikut bukan merupakan harga mati. tetapi lebih merupakan petunjuk penyiapan bagi sekolah-sekolah yang akan menerapkan MBS. dan pengontrolannya. warga sekolah harus pro-perubahan. dan lingkungan yang berubah dengan cepat. sekolah dapat secara cepat menanggapi perubahan. misalnya perencanaannya. kultur sekolah juga harus siap dan kondusif untuk menghadapi tuntutan baru MBS. dan material/bahan. . 9. aspirasi masyarakat. tetap bisa menerapkan MBS sambil melengkapi persyaratan yang belum dapat dipenuhi. warga sekolah (sumberdaya manusianya) harus siap diajak untuk melakukan perubahan pada dirinya. sekolah memiliki kemampuan mengarahkan dan membimbing warganya melalui penyusunan kebijakan. Sekolah yang hanya mampu memenuhi sebagian persyaratan. menjunjung tinggi hak asasi manusia. Adapun prakondisi yang diperlukan untuk melaksanakan MBS adalah sebagai berikut. masyarakat sekitar dapat disadarkan akan pentingnya pendidikan. Kedua. Pertama. Artinya. pengkoordinasiannya. sekolah memiliki sistem tata kelola yang baik untuk mempromosikan partisipasi dan transparansi kepada warga sekolah dan masyarakat sekitar serta akuntabilitas sekolah terhadap publik sehingga sekolah akan merupakan bagian dari (milik) masyarakat dan bukannya sekolah yang berada di masyarakat. Ini semua dilakukan secara partisipatif oleh warga sekolah. Ketiga. Sekolah juga harus memiliki sumberdaya yang memadai. demokrasi/egaliterisme pendidikan dapat ditumbuh kembangkan. rencana. perlengkapan. 4. dan masyarakat sekitar melalui komite sekolah dapat digerakkan untuk mendukung MBS. Keempat. dan pemerintah daerah setempat. Persyaratan ini bukan dimaksudkan untuk menghambat sekolah yang tidak memenuhinya untuk melaksanakan MBS. dikurangi atau ditambah sesuai dengan karakteristik sekolah dan masyarakat sekitarnya. pola hatinya (heart set). sekolah sebagai institusi pendidikan juga harus siap untuk menerapkan MBS sebagaipola baru. Prakondisi yang Diperlukan untuk Menyelenggarakan MBS Sekolah yang akan menerapkan MBS perlu menyiapkan persyaratan berikut. perbekalan. akan tetapi lebih merupakan saran yang masih terbuka untuk dimodifikasi. dan 10. pengorganisasiannya. Kelima.sekolah akan berupaya semaksimal mungkin untuk melaksanakan dan mencapai sasaran mutu pendidikan yang telah direncanakan. masyarakat sekitar. maupun pola tindakannya (action set). sekolah harus mau melakukan restrukturisasi (perubahan) terhadap manajemen dan organisasinya agar akomodatif terhadap penerapan MBS. pelaksanaannya. Artinya. educable/trainable (mau diajak belajar/dilatih). dan program yang jelas untuk menyelenggarakan MBS. musyawarah-mufakat dapat dilaksanakan. Oleh karena itu. peralatan. misalnya penghargaan terhadap perbedaan pendapat. baik pola pikirnya (mind set). sekolah akan mampu bersaing secara sehat dengan sekolah-sekolah lainnya dalam peningkatan mutu pendidikan melalui upaya-upaya kreatif dan inovatif yang didukung oleh orangtua siswa. bukan prokemapanan.

dari yang lama menuju ke yang baru. sekolah diberi kewenangan dan tanggungjawab yang lebih besar (otonomi) untuk menyelenggarakan sekolahnya. pengaturan. dukungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk menerapkan MBS cukup kuat.Keenam. Tabel 1: Dimensi-Dimensi Perubahan Pola Manajemen Pendidikan Pola Lama Subordinasi Pengambilan keputusan terpusat Ruang gerak kaku Pendekatan birokratik Sentralistik Diatur Overregulasi Mengontrol Mengarahkan Menghindari resiko Gunakan uang semuanya Individual yang cerdas Menuju ⇒⇒ ⇒⇒ Pola Baru Otonomi Pengambilan keputusan partisipatif Ruang gerak luwes Pendekatan professional Desentralistik Motivasi diri Deregulasi Mempengaruhi Memfasilitasi Mengelola resiko Gunakan uang seefisien mungkin Teamwork yang cerdas ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ . bimbingan. Pola Baru Manajemen Pendidikan Masa Depan Bukti-bukti empirik lemahnya pola lama manajemen pendidikan nasional dan digulirkannya otonomi daerah telah mendorong dilakukannya penyesuaian diri dari pola lama manajemen pendidikan menuju pola baru manajemen pendidikan masa depan yang lebih bernuansa otonomi dan yang lebih demokratis. dan monitoring serta evaluasi yang diperlukan untuk kelancaran penyelenggaraan MBS. 5. Lebih dari itu. Tabel 1 berikut menunjukkan dimensi-dimensi perubahan pola manajemen. yang ditunjukkan oleh pemberian arah.

(Catatan: MBS tidak dibenarkan menyimpang dari peraturan perundang-undangan yang berlaku). kemandirian yang berlangsung secara terus menerus akan menjamin kelangsungan hidup dan perkembangan sekolah (sustainabilitas). dari menghindari resiko menjadi mengolah resiko. manajemen berbasis sekolah (MBS) dapat diartikan sebagai model pengelolaan yang memberikan otonomi (kewenangan dan tanggungjawab)lebih besar kepada sekolah. ilmuwan. Dengan otonomi tersebut. lebih mengutamakan pemberdayaan. . konsep dasar dan karakteristik MBS dapat diuraikan sebagai berikut. pendekatan profesionalisme lebih diutamakan dari pada pendekatan birokrasi. penggunaan uang lebih efisien karena sisa anggaran tahun ini dapat digunakan untuk anggaran tahun depan (efficiency-based budgeting). misalnya swasembada. kemampuan dan tuntutan sekolah serta masyarakat atau stakeholder yang ada.Pola Lama Informasi terpribadi Pendelegasian Organisasi herarkis Menuju ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ Pola Baru Informasi terbagi Pemberdayaan Organisasi datar Berikut dijelaskan secara singkat Tabel 1. dan sebagainya. MBS dijiwai oleh pola baru manajemen pendidikan masa depan sebagaimana diilustrasikan pada Tabel 1. tugas dan fungsi sekolah lebih pada melaksanakan program dari pada mengambil inisiatif merumuskan dan melaksanakan program peningkatan mutu yang dibuat sendiri oleh sekolah. Pada dasarnya. peranan pusat bergeser dari mengontrol menjadi mempengaruhi dan dari mengarahkan ke memfasilitasi. perubahan sekolah lebih didorong oleh motivasi-diri sekolah dari pada diatur dari luar sekolah. kepala sekolah. Pada Pola Lama. siswa. Pada gilirannya. dan struktur organisasi lebih datar sehingga lebih efisien. Istilah otonomi juga sama dengan istilah “swa”. pengusaha. swakelola. Sedang pada Pola Baru. tokoh masyarakat. pengelolaan sekolah lebih desentralistik. regulasi pendidikan lebih sederhana. sekolah lebih luwes dalam mengelola lembaganya. karyawan) dan masyarakat (orangtua siswa.informasi terbagi ke semua warga sekolah. Otonomi dapat diartikan sebagai kemandirian yaitu kemandirian dalam mengatur dan mengurus dirinya sendiri.). memberikan fleksibilitas/keluwesan-keluwesan kepada sekolah. 6. untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional serta peraturan perundang-undangan yang berlaku. sekolah diberikan kewenangan dan tanggungjawab untuk mengambil keputusan-keputusan sesuai dengan kebutuhan. Lebih rincinya. Arti MBS Secara umum. sekolah memiliki wewenang lebih besar dalam pengelolaan lembaganya. pengambilan keputusan dilakukan secara partisipatif dan partsisipasi masyarakat makin besar. kemandirian dalam program dan pendanaan merupakan tolok ukur utama kemandirian sekolah. lebih mengutamakan teamwork. swadana. dan mendorong partisipasi secara langsung warga sekolah (guru.

Dengan kemandiriannya. Sedang demokrasi pendidikan adalah kebebasan yang terlembagakan melalui musyawarah dan mufakat dengan menghargai perbedaan. makin besar pula rasa memiliki. Tugas dan fungsi Komite Sekolah antara lain mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap . dan swalayan. kemampuan memobilisasi sumberdaya. maka yang bersangkutan akan mempunyai “rasa memiliki” terhadap sekolah. Jadi otonomi sekolah adalah kewenangan sekolah untuk mengatur dan mengurus kepentingan warga sekolah menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi warga sekolah sesuai dengan peraturan perundang-undangan pendidikan nasional yang berlaku. sekolah akan lebih lincah dalam mengelola dan memanfaatkan sumberdaya sekolah secara optimal. Komite Sekolah menganut prinsip transparansi. sehingga yang bersangkutan juga akan bertanggungjawab dan berdedikasi sepenuhnya untuk mencapai tujuan sekolah. hubungan sekolah dan masyarakat erat. siswa. makin besar pula rasa tanggungjawab. akuntabilitas. kemampuan memilih cara pelaksanaan yang terbaik. dan adanya kesadaran bersama bahwaoutput sekolah merupakan hasil kolektif teamwork yang kompak. di mana warga sekolah (guru. kemampuan berdemokrasi/menghargai perbedaan pendapat. dan demokrasi pendidikan. kemampuan memecahkan persoalan-persoalan sekolah. karyawan) dan masyarakat (orang tua siswa. Akuntabilitas sekolah adalah pertanggungjawaban sekolah kepada warga sekolahnya. makin besar rasa memiliki. Dengan otonomi yang lebih besar. dan demokrasi. pelaksanaan.) didorong untuk terlibat secara langsung dalam penyelenggaraan pendidikan. akuntabilitas. kemampuan bersinergi dan berkolaborasi. kemampuan berkomunikasi dengan cara yang efektif.swakarya. makin besar pula dedikasinya. kerjasama yang kuat. Tentu saja pelibatan warga sekolah dalam penyelenggaraan sekolah harus mempertimbangkan keahlian. tokoh masyarakat. Peningkatan partisipasi yang dimaksud adalah penciptaan lingkungan yang terbuka dan demokratik. Singkatnya: makin besar tingkat partisipasi. Dalam hal pembentukannya. dan relevansinya dengan tujuan partisipasi. dan evaluasi pendidikan yang diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan. cerdas dan dinamis. hak asasi manusia serta kewajibannya dalam rangka untuk meningkatkan mutu pendidikan. Tentu saja kemandirian yang dimaksud harus didukung oleh sejumlah kemampuan. mulai dari pengambilan keputusan. Partisipasi masyarakat terhadap penyelenggaraan sekolah telah diatur dalam suatu kelembagaan yang disebut dengan Komite Sekolah. masyarakat dan pemerintah melalui pelaporan dan pertemuan yang dilakukan secara terbuka. Keterbukaan yang dimaksud adalah keterbukaan dalam program dan keuangan. Peningkatan partisipasi warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan sekolah akan mampu menciptakan keterbukaan. lebih sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan/potensi yang dimiliki. yaitu kemampuan mengambil keputusan yang terbaik. dan sebagainya. sekolah lebih berdaya dalam mengembangkan program-program yang. batas kewenangan. sekolah memiliki kewenangan dan tanggungjawab yang lebih besar dalam mengelola sekolahnya. usahawan. kemampuan adaptif dan antisipatif. dan kemampuan memenuhi kebutuhannya sendiri. dan makin besar rasa tanggungjawab. Secara resmi keberadaan Komite Sekolah ditunjukkan melalui Surat Keputusan Mendiknas Nomor 044/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. ilmuwan. tentu saja. Hal ini dilandasi oleh keyakinan bahwa jika seseorang dilibatkan (berpartisipasi) dalam penyelenggaraan pendidikan. Kerjasama yang dimaksud adalah adanya sikap dan perbuatan lahiriyah kebersamaan/kolektif untuk meningkatkan mutu sekolah. sehingga sekolah lebih mandiri. Komite Sekolah diharapkan menjadi mitra sekolah yang dapat mewadahi dan menyalurkan aspirasi serta prakarsa masyarakat dalam melahirkan kebijakan operasional dan program pendidikan di sekolah. Kerjasama sekolah yang baik ditunjukkan oleh hubungan antar warga sekolah yang erat. Dengan fleksibilitas/keluwesan-keluwesannya.

pekerjaan yang bermakna. Selanjutnya. bagi sumberdaya manusia sekolah yang berdaya. pemecahan masalah sekolah secara teamwork. pada umumnya. gigih. kepercayaan. dia memiliki kontrol terhadap pekerjaannya. memiliki jiwa kewirausahaan tinggi (inovatif. sedang unit-unit di atasnya (Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Dengan keluwesan-keluwesan yang lebih besar diberikan kepada sekolah. komitmen yang tinggi pada dirinya. Tujuan MBS . 7. rencana anggaran pendidikan dan belanja sekolah. pemberian tanggungjawab. ada pujian. dan Departemen Pendidikan Nasional) akan merupakan unit pendukung dan pelayan sekolah. pemberi pertimbangan. hasil kerja yang terukur. sekolah akan lebih responsif dan lebih cepat dalam menanggapi segala tantangan yang dihadapi. dan melakukan evaluasi pelaksanaan peningkatan mutu). dan menggalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan. Dinas Pendidikan Provinsi. Komite Sekolah diharapkan berperan sebagai pendukung. Dengan kepemilikan ketiga hal ini. umpan balik bagus. melaksanakan rencana peningkatan mutu. menghargai ideide. kontrol yang luwes. menyusun rencana peningkatan mutu. memiliki ciri-ciri: pekerjaan adalah miliknya. ulet. bertanggungjawab terhadap kinerja sekolah. mengetahui bahwa dia adalah bagian penting dari sekolah. dan pekerjaannya merupakan bagian hidupnya. Dengan cara ini. komunikasi yang efektif. Contoh tentang hal-hal yang dapat memandirikan/memberdayakan warga sekolah adalah: pemberian kewenangan. dan prestasi merupakan acuan bagi penilaiannya. mediator dan pengontrol penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Sekolah yang mandiri memiliki ciri-ciri sebagai berikut: sifat ketergantungan rendah. dan warga sekolah diberlakukan sebagai manusia ciptaan-Nya yang memiliki martabat tertinggi. Namun demikian. memiliki kontrol yang kuat terhadap input manajemen dan sumberdayanya. pekerjaannya memiliki kontribusi. maka sekolah akan merupakan unit utama pengelolaan proses pendidikan. keluwesan-keluwesan yang dimaksud harus tetap dalam koridor kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang ada. berani mengambil resiko. kreatif dan inisiatf. Dengan pengertian di atas. memanfaatkan dan memberdayakan sumberdaya sekolah seoptimal mungkin untuk meningkatkan mutu sekolah. dia bertanggungjawab. mendorong orangtua dan masyarakat berpartisipasi dalam pendidikan guna mendukung peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan. variasi tugas. dia tahu posisinya di mana. dan sebagainya). sumberdaya yang dibutuhkan ada. maka sekolah memiliki kemandirian lebih besar dalam mengelola sekolahnya (menetapkan sasaran peningkatan mutu. memanfaatkan dan memberdayakan sumberdayanya. memiliki kontrol yang kuat terhadap kondisi kerja. dan memiliki partisipasi yang lebih besar dari kelompok-kelompok yang berkepentingan dengan sekolah. didengar. tantangan. maka sekolah akan lebih lincah dan tidak harus menunggu arahan dari atasannya untuk mengelola. Fleksibilitas dapat diartikan sebagai keluwesan-keluwesan yang diberikan kepada sekolah untuk mengelola. adaptif dan antisipatif/proaktif terhadap perubahan. kemampuan untuk mengukur kinerjanya sendiri. khususnya dalam pengelolaan peningkatan mutu. Komite Sekolah juga dapat memberikan masukan dan pertimbangan kepada sekolah tentang kebijakan dan program pendidikan. Selain itu.penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. Pendeknya. memiliki fleksibilitas pengelolaan sumberdaya sekolah. dukungan.

harga diri. Matematika. proses. Output prestasi akademik misalnya. kedisiplinan. transparansi. Peningkatan kinerja sekolah yang dimaksud meliputi peningkatan kualitas. kesenian. kerajinan. Selanjutnya. b. yaitu output berupa prestasi akademik (academic achievement) dan output berupa prestasi non-akademik (non-academic achievement). Output yang Diharapkan Sekolah memiliki output yang diharapkan. PBM bukan sekadar memorisasi dan recall. sedang proses memiliki tingkat kepentingan satu tingkat lebih rendah dari output. solidaritas yang tinggi. kreatif/ divergen. akan tetapi lebih menekankan pada internalisasi tentang apayang diajarkan sehingga tertanam dan berfungsi sebagai muatan nurani dan dihayati (ethos) serta dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari oleh peserta didik . Output non-akademik. deduktif. nalar. dan sebagainya) . dan output. mengingat output memiliki tingkat kepentingan tertinggi.bukan sekadar penekanan pada penguasaan pengetahuan tentang apa yang diajarkan (logos). 8. dan akuntabilitas. cara-cara berpikir (kritis. Fisika). induktif. lomba (Bahasa Inggris. dan ilmiah). Dalam menguraikan karakteristik MBS. output dapat diklasifikasikan menjadi dua. perilaku sosial yang baik seperti misalnya bebas narkoba. Perlu digarisbawahi bahwa pencapaian tujuan MBS harus dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip tata kelola yang baik (partisipasi. akuntabilitas. jika sekolah ingin sukses dalam menerapkan MBS.MBS bertujuan untuk meningkatkan kinerja sekolah melalui pemberian kewenangan dan tanggungjawab yang lebih besar kepada sekolah yang dilaksanakan berdasarkan prinsipprinsip tata kelola sekolah yang baik yaitu partisipasi. Dengan kata lain. kerjasama yang baik. efektivitas. rasional. efisiensi. proses. sekolah diharapkan makin mampu dan berdaya dalam mengurus dan mengatur sekolahnya dengan tetap berpegang pada koridor-koridor kebijakan pendidikan nasional. uraian berikut dimulai dari output dan diakhiri input. dan inovasi pendidikan. kejujuran. Oleh karena itu. dan output. maka sejumlah karakteristik MBS berikut perlu dimiliki. prestasi olahraga. NUN/NUS. Output sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan oleh proses pembelajaran dan manajemen di sekolah. dan input memiliki tingkat kepentingan dua tingkat lebih rendah dari output. akhlak/budipekerti. produktivitas. misalnya keingintahuan yang tinggi. Jika MBS merupakan wadah/kerangkanya. Dengan MBS. Proses Sekolah yang efektif pada umumnya memiliki sejumlah karakteristik proses sebagai berikut: 1) Proses Belajar Mengajar yang Efektivitasnya Tinggi Sekolah yang menerapkan MBS memiliki efektivitas proses belajar mengajar (PBM) yang tinggi. transparansi. pendekatan sistem yaitu input-prosesoutput digunakan untuk memandunya. lomba karya ilmiah remaja. toleransi. yang dikategorikan menjadi input. Pada umumnya. Hal ini didasari oleh pengertian bahwa sekolah merupakan sistem sehingga penguraian karakteristik MBS (yang juga karakteristik sekolah efektif) mendasarkan pada input. maka sekolah efektif merupakan isinya. Berbicara karakteristik MBS tidak dapat dipisahkan dengan karakteristik sekolah efektif. Ini ditunjukkan oleh sifat PBM yang menekankan pada pemberdayaan peserta didik. rasa kasih sayang yang tinggi terhadap sesama. karakteristik MBS berikut memuat secara inklusif elemen-elemen sekolah efektif. Karakteristik MBS Manajemen Berbasis Sekolah memiliki karakteristik yang perlu dipahami oleh sekolah yang akan menerapkannya. dan kepramukaan. a.

harus merupakan basis untuk kerjasama. hingga sampai pada imbal jasa. merupakan jiwa dari sekolah. dan menyerasikan semua sumberdaya pendidikan yang tersedia. pengelolaan tenaga kependidikan. tujuan. mulai dari analisis kebutuhan. Pendeknya. terutama guru. sehingga setiap perilaku selalu didasari oleh profesionalisme. Sekolah hanyalah merupakan wadah.(pathos). 6) Sekolah Memiliki “Teamwork” yang Kompak. (b) kewenangan harus sebatas tanggungjawab. tertib melalui pengupayaan faktor-faktor yang dapat menumbuhkan iklim tersebut. dan nyaman sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan nyaman (enjoyable learning). 2) Kepemimpinan Sekolah yang Kuat Pada sekolah yang menerapkan MBS. terutama sumberdaya manusia. Karena itu. 5) Sekolah Memiliki Budaya Mutu Budaya mutu tertanam di sanubari semua warga sekolah. perencanaan. peranan kepala sekolah sangat penting sekali. (g) imbal jasa harus sepadan dengan nilai pekerjaannya. Sekolah yang menerapkan MBS menyadari tentang hal ini. evaluasi kinerja. 4) Pengelolaan Tenaga Kependidikan yang Efektif Tenaga Kependidikan. PBM yang efektif juga lebih menekankan pada belajar mengetahui(learning to know). ini harus dilakukan secara terusmenerus mengingat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedemikian pesat. nyaman. menggerakkan. hubungan kerja. misi. Oleh karena itu. 3) Lingkungan Sekolah yang Aman dan Tertib Sekolah memiliki lingkungan (iklim) belajar yang aman. kepala sekolah tangguh memiliki kemampuan memobilisasi sumberdaya sekolah. belajar hidup bersama(learning to live together). bukan untuk mengadili/mengontrol orang. dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be). bukan kompetisi. dan sasaran sekolahnya melalui programprogram yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap. dan (h) warga sekolah merasa memiliki sekolah. Cerdas. merupakan garapan penting bagi seorang kepala sekolah. sekolah yang efektif selalu menciptakan iklim sekolah yang aman. Secara umum. belajar bekerja (learning to do). (d) kolaborasi dan sinergi. (e) warga sekolah merasa aman terhadap pekerjaannya. dan Dinamis . untuk mencapai tujuan sekolah. Budaya mutu memiliki elemen-elemen sebagai berikut: (a) informasi kualitas harus digunakan untuk perbaikan. selalu mampu dan sanggup menjalankan tugasnya dengan baik. Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah untuk dapat mewujudkan visi. tertib. Dalam hal ini. kepala sekolah memiliki peran yang kuat dalam mengkoordinasikan. kepala sekolah dituntut memiliki kemampuan manajemen dan kepemimpinan yang tangguh agar mampu mengambil keputusan dan inisiatif/prakarsa untuk meningkatkan mutu sekolah. (f) atmosfir keadilan (fairness) harus ditanamkan. tenaga kependidikan yang diperlukan untuk menyukseskan MBS adalah tenaga kependidikan yang mempunyai komitmen tinggi. Oleh karena itu. (c) hasil harus diikuti penghargaan (rewards) atau sanksi (punishment). pengembangan. Terlebih-lebih pada pengembangan tenaga kependidikan.

Oleh karena itu. sekolah selalu membaca lingkungan dan menanggapinya secara cepat dan tepat. perbekalan. Sebaliknya. fungsi evaluasi menjadi sangat penting dalam rangka meningkatkan mutu peserta didik dan mutu sekolah secara keseluruhan dan secara terus menerus. dan sebagainya. 10) Sekolah Memiliki Kemauan untuk Berubah (psikologis dan pisik) Perubahan harus merupakan sesuatu yang menyenangkan bagi semua warga sekolah. 8) Partisipasi yang Tinggi dari Warga Sekolah dan Masyarakat Sekolah yang menerapkan MBS memiliki karakteristik bahwa partisipasi warga sekolah dan masyarakat merupakan bagian kehidupannya. penggunaan uang. perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. sekolah tidak hanya mampu menyesuaikan terhadap . 11) Sekolah Melakukan Evaluasi dan Perbaikan Secara Berkelanjutan Evaluasi belajar secara teratur bukan hanya ditujukan untuk mengetahui tingkat daya serap dan kemampuan peserta didik.Kebersamaan (teamwork) merupakan karakteristik yang dituntut oleh MBS. kemapanan merupakan musuh sekolah. perlengkapan. proses dan sumberdaya untuk menerapkan manajemen mutu. makin besar rasa memiliki. karena output pendidikan merupakan hasil kolektif warga sekolah. hasilnya diharapkan lebih baik dari sebelumnya (ada peningkatan) terutama mutu peserta didik. tanggungjawab. baik sumberdaya manusia maupun sumberdaya selebihnya yaitu peralatan. 7) Sekolah Memiliki Kewenangan Sekolah memiliki kewenangan untuk melakukan yang terbaik bagi sekolahnya sehingga dituntut untuk memiliki kemampuan dan kesanggupan kerja yang tidak selalu menggantungkan pada atasan. Artinya. 12) Sekolah Responsif dan Antisipatif terhadap Kebutuhan Sekolah selalu tanggap/responsif terhadap berbagai aspirasi yang muncul bagi peningkatan mutu. Sistem mutu yang dimaksud harus mencakup struktur organisasi. Hal ini dilandasi oleh keyakinan bahwa makin tinggi tingkat partisipasi. Karena itu. makin besar pula tingkat dedikasinya. budaya kerjasama antar fungsi dalam sekolah. Bahkan. Untuk menjadi mandiri. antar individu dalam sekolah. baik bersifat fisik maupun psikologis. 9) Sekolah Memiliki Keterbukaan (Transparansi) Manajemen Keterbukaan/transparansi dalam pengelolaan sekolah merupakan karakteristik sekolah yang menerapkan MBS. prosedur. sekolah harus memiliki sumberdaya yang cukup untuk menjalankan tugas dan fungsinya. makin besar pula rasa tanggungjawab. tetapi yang terpenting adalah bagaimana memanfaatkan hasil evaluasi belajar tersebut untuk memperbaiki dan menyempurnakan proses belajar mengajar di sekolah. Tiada hari tanpa perbaikan. makin besar rasa memiliki. Keterbukaan/transparansi ini ditunjukkan dalam pengambilan keputusan. Tentu saja yang dimaksud perubahan adalah peningkatan. dan bahan/material. harus merupakan kebiasaan hidup sehari-hari warga sekolah. dan makin besar rasa tanggungjawab. dana. Perbaikan secara terus-menerus harus merupakan kebiasaan warga sekolah. yang selalu melibatkan pihak-pihak terkait sebagai alat kontrol. sistem mutu yang baku sebagai acuan bagi perbaikan harus ada. Karena itu. bukan hasil individual. Karena itu. setiap dilakukan perubahan.

pengkoordinasian. maka orangtua siswa dan masyarakat berhak meminta pertanggungjawaban dan penjelasan sekolah atas kegagalan program MBS yang telah dilakukan.perubahan/tuntutan. keterampilan dan kesadaran warga sekolah tentang nilai-nilai lingkungan hidup dan mampu mengubah perilaku dan sikap warga sekolah untuk menuju lingkungan hidup yang sehat. akan tetapi juga mampu mengantisipasi hal-hal yang mungkin bakal terjadi. kompak. Sekolah melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan pengetahuan. Sekolah . Sustainabilitas pendanaan dapat ditunjukkan oleh kemampuan sekolah dalam mempertahankan besarnya dana yang dimiliki dan bahkan makin besar jumlahnya. maka keterpaduan semua kegiatan sekolah dapat diupayakan untuk mencapai tujuan dan sasaran sekolah yang telah dipatok. 16) Sekolah memiliki Kemampuan Menjaga Sustainabilitas Sekolah yang efektif juga memiliki kemampuan untuk menjaga kelangsungan hidupnya (sustainabilitasnya) baik dalam program maupun pendanaannya. dan cerdas. dan pengevaluasian pendidikan kecakapan hidup (program adiwiyata) yang dikembangkan secara terus menerus dari waktu ke waktu. Jika berhasil. sehingga kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh masing-masing warga sekolah dapat diketahui. Berdasarkan laporan hasil program ini. Sustainabilitas program dapat dilihat dari keberlanjutan program-program yang telah dirintis sebelumnya dan bahkan berkembang menjadi program-program baru yang belum pernah ada sebelumnya. maka pemerintah perlu memberikan penghargaan kepada sekolah yang bersangkutan. para orangtua siswa dan anggota masyarakat dapat memberikan penilaian apakah program ini dapat meningkatkan prestasi anak-anaknya secara individual dan kinerja sekolah secara keseluruhan. sehingga menjadi faktor pendorong untuk terus meningkatkan kinerjanya di masa yang akan datang. maka orangtua peserta didik perlu memberikan semangat dan dorongan untuk peningkatan program yang akan datang. Sekolah memiliki perencanaan. Akuntabilitas ini berbentuk laporan prestasi yang dicapai dan dilaporkan kepada pemerintah. Sebaliknya jika program tidak berhasil. Jika berhasil. Dengan cara ini. Selain itu. maka sekolah tidak akan main-main dalam melaksanakan program pada tahun-tahun yang akan datang. maka pemerintah perlu memberikan teguran sebagai hukuman atas kinerjanya yang dianggap tidak memenuhi syarat. 13) Memiliki Komunikasi yang Baik Sekolah yang efektif umumnya memiliki komunikasi yang baik. 14) Sekolah Memiliki Akuntabilitas Akuntabilitas adalah bentuk pertanggungjawaban yang harus dilakukan sekolah terhadap keberhasilan program yang telah dilaksanakan. pengorganisasian. dan masyarakat. terutama antar warga sekolah. Menjemput bola. orangtua siswa. Jika kurang berhasil. Dengan cara ini. komunikasi yang baik juga akan membentuk teamwork yang kuat. dan juga sekolah-masyarakat. Demikian pula. pemerintah dapat menilai apakah program MBS telah mencapai tujuan yang dikendaki atau tidak. sehingga berbagai kegiatan sekolah dapat dilakukan secara merata oleh warga sekolah. 15) Manajemen Lingkungan Hidup Sekolah Bagus Sekolah efektif melaksanakan manajemen lingkungan hidup sekolah secara efektif. pelaksanaan. adalah padanan kata yang tepat bagi istilah antisipatif.

yaitu. tujuan. Karena itu. tindakan. Sedang peserta didik juga mempunyai motivasi untuk selalu meningkatkan diri untuk berprestasi sesuai dengan bakat dan kemampuannya. akan tetapi sekolah yang bersangkutan dapat memanfaatkan keberadaan sumberdaya yang ada dilingkungan sekolahnya. namun pada butir ini perlu ditekankan lagi karena staf merupakan jiwa sekolah. dan sebagainya) dengan penegasan bahwa sumberdaya lainnya tidak mempunyai arti apapun bagi perwujudan sasaran sekolah. dan sasaran mutu tersebut dinyatakan oleh kepala sekolah. Secara umum. Kebijakan. tujuan. sehingga tertanam pemikiran. Tujuan. Ini bukan berarti bahwa sumberdaya yang ada harus mahal. Guru memiliki komitmen dan harapan yang tinggi bahwa anak didiknya dapat mencapai tingkat prestasi yang maksimal. dan sasaran sekolah yang berkaitan dengan mutu. tujuan. hingga sampai pada kepemilikan karakter mutu oleh warga sekolah.memiliki kemampuan menggali sumberdana dari masyarakat. dan tidak sepenuhnya menggantungkan subsidi dari pemerintah bagi sekolah-sekolah negeri. 3) Staf yang Kompeten dan Berdedikasi Tinggi Meskipun pada butir (b) telah disinggung tentang ketersediaan dan kesiapan sumberdaya manusia (staf). Sekolah yang efektif pada umumnya memiliki staf yang mampu (kompeten) dan berdedikasi tinggi terhadap sekolahnya. Tanpa sumberdaya yang memadai. dan sasaran mutu tersebut disosialisasikan kepada semua warga sekolah. 4) Memiliki Harapan Prestasi yang Tinggi Sekolah yang menerapkan MBS mempunyai dorongan dan harapan yang tinggi untuk meningkatkan prestasi peserta didik dan sekolahnya. bahan. sekolah yang menerapkan MBS harus memiliki tingkat kesiapan sumberdaya yang memadai untuk menjalankan proses pendidikan. maka kepemilikan staf yang kompeten dan berdedikasi tinggi merupakan keharusan. proses pendidikan di sekolah tidak akan berlangsung secara memadai. segala sumberdaya yang diperlukan untuk menjalankan proses pendidikan harus tersedia dan dalam keadaan siap. yaitu sumberdaya manusia dan lainnya (uang. c. sekolah menyatakan dengan jelas tentang keseluruhan kebijakan. Sumberdaya dapat dikelompokkan menjadi dua. walaupun dengan segala keterbatasan sumberdaya pendidikan yang ada di sekolah. Input Pendidikan an. Kebijakan. tanpa campur tangan sumberdaya manusia. perlengkapan. Implikasinya jelas. Kepala sekolah memiliki komitmen dan motivasi yang kuat untuk meningkatkan mutu sekolah secara optimal. diperlukan kepala sekolah yang mampu memobilisasi sumberdaya yang ada di sekitarnya. dan Sasaran Mutu yang Jelas Secara formal. kebiasaan. sedia dan Siap Sumberdaya merupakan input penting yang diperlukan untuk berlangsungnya proses pendidikan di sekolah. Harapan tinggi dari ketiga unsur sekolah ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan sekolah selalu dinamis untuk selalu menjadi lebih baik dari keadaan sebelumnya. bagi sekolah yang ingin efektivitasnya tinggi. dan pada gilirannya sasaran sekolah tidak akan tercapai. peralatan. Artinya. nggan (Khususnya Siswa) .

pembelajaran kooperatif. adalah contoh-contoh yang dimaksud dengan pembelajaran yang pro-perubahan. Perlu dicatat bahwa desentralisasi bukan berarti semua urusan di limpahkan ke sekolah. harus merupakan fokus dari semua kegiatan sekolah. Kelengkapan dan kejelasan input manajemen akan membantu kepala sekolah mengelola sekolahnya dengan efektif. Sekolah diberi kebebasan memilih strategi. (d) pengelolaan ketenagaan. dan sebagian urusan lainnya diserahkan ke sekolah. (e) pengelolaan peralatan dan perlengkapan. program yang mendukung bagi pelaksanaan rencana. terutama siswa. dan adanya sistem pengendalian mutu yang efektif dan efisien untuk meyakinkan agar sasaran yang telah disepakati dapat dicapai. pertanyaannya adalah: “Urusan-urusan apa sajakah yang perlu menjadi kewenangan dan tanggungjawab sekolah”? Pada dasarnya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urutan Pemerintahan antara Pemerintah. tidak semua urusan di desentralisasikan sepenuhnya ke sekolah. (h) hubungan sekolah-masyarakat. pergeseran dimensi-dimensi pendidikan dari manajemen berbasis pusat menjadi manajemen berbasis sekolah telah diuraikan pada Butir A. karakteristik guru. Konsekuensi logis dari ini semua adalah bahwa penyiapan input dan proses belajar mengajar harus benar-benar mewujudkan sosok utuh mutu dan kepuasan yang diharapkan dari siswa. Secara lebih spesifik. (b) perencanaan dan evaluasi program sekolah. (c) pengelolaan kurikulum. strategi/metode/teknik pembelajaran dan pengajaran yang dipilih harus pro-perubahan yaitu yang mampu menumbuhkan dan mengembangkan daya kreasi. ketentuan-ketentuan (aturan main) yang jelas sebagai panduan bagi warga sekolahnya untuk bertindak. dan kondisi nyata sumberdaya yang tersedia di sekolah. inovasi dan eksperimentasi peserta didik untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan baru. Artinya. Perencanaan dan Evaluasi . (f) pengelolaan keuangan. dan Pemerintahan Daerah kabupaten/Kota harus digunakan sebagai acuan dalam penyelenggaraan pendidikan. dan teknikteknik pembelajaran dan pengajaran yang paling efektif. Kepala sekolah dalam mengatur dan mengurus sekolahnya menggunakan sejumlah input manajemen. desentralisasi urusan-urusan pendidikan harus dalam koridor peraturan perundang-undangan yang berlaku. metode. Secara umum. Pembelajaran dan pengajaran kontekstual. pembelajaran kuantum. sebagian urusan masih merupakan kewenangan dan tanggungjawab Pemerintah. Urusan-urusan yang Menjadi Kewenangan dan Tanggungjawab Sekolah Secara umum. rencana yang rinci dan sistematis. sesuai dengan karakteristik mata pelajaran. dan (i) pengelolaan kultur sekolah. Berikut adalah urusan-urusan pendidikan yang sebagian menjadi kewenangan dan tanggungjawab sekolah. Artinya. b. pemerintah kabupaten/kota. karakteristik siswa. semua input dan proses yang dikerahkan di sekolah tertuju utamanya untuk meningkatkan mutu dan kepuasan peserta didik. a.Pelanggan. yaitu: (a) proses belajar mengajar. 1. (g) pelayanan siswa. Input manajemen yang dimaksud meliputi: tugas yang jelas. n Sekolah yang menerapkan MBS memiliki input manajemen yang memadai untuk menjalankan roda sekolah. pemerintah propinsi.Dengan demikian. Pemerintahan Daerah Provinsi. Pengelolaan Proses Belajar Mengajar Proses belajar mengajar merupakan kegiatan utama sekolah.

misalnya.) dapat dilakukan oleh sekolah. Pemerintah Pusat hanya menetapkan standar dan sekolah diharapkan mengoperasionalkan standar yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. mutu. mendiversifikasi) kurikulum. Pengelolaan Fasilitas (Peralatan dan Perlengkapan) Pengelolaan fasilitas sudah seharusnya dilakukan oleh sekolah. sekolah dibolehkan mendiversifikasi kurikulum. h. artinya. Padahal kondisi sekolah pada umumnya sangat beragam. Selain itu. terutama fasilitas yang sangat erat kaitannya secara langsung dengan proses belajar mengajar. Untuk itu. Evaluasi semacam ini sering disebut evaluasi diri. baik kecukupan. namun tidak boleh mengurangi standar isi yang telah tertuang dalam Permendiknas 22/2006. maupun kemutakhirannya.Sekolah diberi kewenangan untuk menyusun rencana pengembangan sekolah (RPS) atau school-based plan sesuai dengan kebutuhannya. hadiah dan sangsi (reward and punishment). dan efisiensi sekolah. Berdasarkan hasil analisis kebutuhan tersebut. laboran. materi pokok pembelajaran. Sekolah dibolehkan memperkaya mata pelajaran yang diajarkan. relevansi dan efisiensi sekolah. sampai evaluasi kinerja tenaga kerja sekolah (guru. perencanaan. mutu. relevansi dan efisiensi sekolah. mulai dari analisis kebutuhan. Hal ini juga didasari oleh kenyataan bahwa sekolahlah yang paling memahami kebutuhannya. yang sampai saat ini masih ditangani oleh birokrasi di atasnya. sekolah dipersilakan memilih cara-cara yang paling sesuai dengan kondisi masing-masing. Hal ini didasari oleh kenyataan bahwa sekolahlah yang paling mengetahui kebutuhan fasilitas. Evaluasi diri harus jujur dan transparan agar benar-benar dapat mengungkap informasi yang sebenarnya. Oleh karena itu. relevansi. Dalam kondisi seperti ini. mulai dari pengadaan. Selanjutnya sekolah berhak mengembangkan KTSP ke dalam silabus. Kebutuhan yang dimaksud. indikator kunci kinerja. khususnya evaluasi yang dilakukan secara internal. Pengelolaan Kurikulum Saat ini telah terjadi desentralisasi sebagian pengelolaan kurikulum dari pemerintah pusat ke sekolah melalui Permendiknas 22/2006. f. c. kecuali yang menyangkut pengupahan/imbal jasa dan rekrutmen guru pegawai negeri. Pengelolaan kurikulum yang dimaksud dinamakan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). memperluas. e. hingga pengembangan. Sekolah juga harus diberi kebebasan untuk melakukan “kegiatan-kegiatan yang mendatangkan penghasilan” (income generating activities). sekolah harus melakukan evaluasi. sekolah harus melakukan analisis kebutuhan pemerataan. mutu. apa yang diajarkan boleh dikembangkan agar lebih kontekstual dan selaras dengan karakteristik peserta didik. apa yang diajarkan boleh diperluas dari yang harus. sekolah juga diberi kebebasan untuk mengembangkan muatan local dan pengembangan diri. Sekolah dapat mengembangkan (memperdalam. sehingga desentralisasi pengalokasian/penggunaan uang sudah seharusnya dilimpahkan ke sekolah. Pengelolaan Keuangan Pengelolaan keuangan. pemeliharaan dan perbaikan. dan yang dapat diajarkan. dan 24/2006. yang seharusnya. memperkuat. proses pembelajaran. Pengelolaan Ketenagaan (Pendidik dan Tenaga Kependidikan) Pengelolaan ketenagaan. Demikian juga. terutama pengalokasian/penggunaan uang sudah sepantasnya dilakukan oleh sekolah. 23/2006. Evaluasi internal dilakukan oleh warga sekolah untuk memantau proses pelaksanaan dan untuk mengevaluasi hasil program-program yang telah dilaksanakan. dan rencana pelaksanaan pembelajaran. sistem penilaian. rekrutmen. Pelayanan Siswa . artinya. tenaga administrasi. d. kebutuhan untuk meningkatkan pemerataan. dan sebagainya. kesesuaian. kemudian sekolah membuat rencana peningkatan pemerataan. pengembangan. sehingga sumber keuangan tidak semata-mata tergantung pada pemerintah. hubungan kerja. memperkaya.

RAPBS. Pengelolaan Kultur Sekolah Kultur sekolah (pisik dan nir-pisik) yang kondusif-akademik merupakan prasyarat bagi terselenggaranya proses belajar mengajar yang aktif. sebenarnya dari dahulu memang sudah didesentralisasikan. sekali lagi. PELAKSANAAN MBS A. j. Tetapi satu hal yang perlu diperhatikan bahwa mengubah pendekatan manajemen berbasis pusat menjadi manajemen berbasis sekolah bukanlah merupakan proses sekali jadi dan bagus hasilnya (one-shot and quick-fix). Kultur sekolah sudah merupakan kewenangan dan tanggungjawab sekolah sehingga yang diperlukan adalah upaya-upaya yang lebih intensif dan ekstentif. mulai dari penerimaan siswa baru. kreatif. Oleh karena itu. optimisme dan harapan/ekspektasi yang tinggi dari warga sekolah. (2) mendorong orangtua siswa dan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pendidikan. pertimbangan. tuntutan.Pelayanan siswa. mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu tinggi. dan dukungan dari masyarakat terutama dukungan moral dan finansial. Lingkungan sekolah yang aman dan tertib. kesehatan sekolah. Dalam arti yang sebenarnya. Pengantar Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya. yang dibutuhkan adalah peningkatan intensitas dan ekstensitas hubungan sekolahmasyarakat. dalam arti yang sebenarnya. dan kegiatan-kegiatan yang terpusat pada siswa (studentcentered activities) adalah contoh-contoh kultur sekolah yang dapat menumbuhkan semangat belajar siswa. dan menampung dan menganalisis aspirasi. Paling tidak. kepedulian. kriteria kinerja sekolah. akan tetapi merupakan proses yang berlangsung secara terus menerus dan melibatkan semua pihak yang berwenang dan bertanggungjawab dalam penyelenggaraan sekolah. Oleh karena itu. melakukan kerjasama dengan masyarakat. kriteria fasilitas pendidikan. menggalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan pendidikan. efektif. dan berbagai kebutuhan pendidikan yang diajukan oleh masyarakat. yang diperlukan adalah peningkatan intensitas dan ekstensitasnya. esensi MBS adalah peningkatan otonomi sekolah. Konsep ini membawa konsekuensi bahwa pelaksanaan MBS sudah sepantasnya menerapkan pendekatan “idiograpik” (membolehkan adanya keberbagaian cara melaksanakan MBS) dan bukan lagi menggunakan pendekatan “nomotetik” (cara melaksanakan MBS yang cenderung seragam/konformitas untuk semua sekolah). inovatif. kriteria pendidik dan tenaga kependidikan. Karena itu. pengembangan/ pembinaan/pembimbingan. dan hal-hal lain yang terkait dengan pendidikan. dan menyenangkan. hingga sampai pada pengurusan alumni. dan peningkatan fleksibilitas pengelolaan sumberdaya sekolah. tidak ada satu resep pelaksanaan MBS yang sama untuk diberlakukan ke semua sekolah. B. dan rekomendasi kepada sekolah mengenai kebijakan dan program pendidikan. sekolah memiliki mitra yang mewakili masyarakat sekitarnya yang disebut komite sekolah. melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap kebijakan/program/ penyelenggaraan dan keluaran pendidikan. Tugas dan fungsi komite sekolah dalam pelaksanaan MBS adalah: (1) memberi masukan. kepemilikan. Dalam MBS. proses menuju MBS memerlukan perubahan empat hal pokok berikut: . peningkatan partisipasi warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. penempatan untuk melanjutkan sekolah atau untuk memasuki dunia kerja. i. hubungan sekolah-masyarakat dari dahulu sudah didesentralisasikan. Hubungan Sekolah-Masyarakat Esensi hubungan sekolah-masyarakat adalah untuk meningkatkan keterlibatan. ide.

pengawas. Oleh karena itu. peran sekolah yang selama ini biasa diatur (mengikuti apa yang diputuskan oleh birokrat diatasnya) perlu disesuaikan menjadi sekolah yang bermotivasi-diri tinggi (selfmotivator). Baca dan pahamilah sistem. forum ilmiah. karyawan. koordinatif atau fasilitatif).dan peraturan menteri. mengapa. baik undang-undang. simposium. sinergis. dan professional. Dalam melakukan sosialisasi MBS. Buatlah komitmen secara rinci yang diketahui oleh semua unsur yang bertanggungjawab. dan sumberdaya yang cukup mendasar. pejabat Dinas Pendidikan Provinsi. dan media masa. pelatihan. dan sumberdaya yang perlu diperkuat dan yang perlu diubah. wakil kepala sekolah. rapat kerja. jika terjadi perubahan sistem. kreatif. Identifikasikan sistem. orangtua siswa. budaya. koordinatif/kooperatif. Perubahan peran ini merupakan konsekuensi dari perubahan peraturan perundangundangan bidang pendidikan. b. guru BK. c. peraturan presiden. perlu penyempurnaan peraturan-peraturan. budaya. yang penting diupayakan oleh kepala sekolah adalah “membaca” dan “membentuk” budaya MBS di sekolah masing-masing. budaya. langkah pertama yang harus dilakukan oleh sekolah adalah mensosialiasikan konsep MBS kepada semua warga/unsur sekolah (guru. siswa. dan sumberdaya baru yang diperlukan untuk menyelenggarakan MBS. Karena itu struktur organisasi pendidikan yang ada saat ini perlu ditata kembali dan kemudian dianalisis hubungan antar unsur/pihak untuk menentukan sifat hubungan (direktif. maka semua unsur sekolah harus memahami konsep MBS (apa. kebiasaan (routines) berperilaku warga (unsur-unsur) sekolah perlu disesuaikan karena MBS menuntut kebiasaan-kebiasaan berperilaku baru yang mandiri. . sinkron.Pertama. peraturan pemerintah. Secara umum. ketentuan-ketentuan. dan sebagainya.) melalui berbagai mekanisme. budaya. integratif. luwes. lokakarya. dan kenalkan sistem. dan sumberdaya baru yang diharapkan dapat mendukung penyelenggaraan MBS. dan bagaimana). Melakukan Sosialisasi MBS Sekolah merupakan sistem yang terdiri dari unsur-unsur yang saling terkait dankarenanya hasil kegiatan pendidikan di sekolah merupakan hasil kolektif dari semua unsur sekolah. garisgaris besar kegiatan sosialisasi/pembudayaan MBS dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: a. antara sekolah dengan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan Dinas Pendidikan Provinsi perlu diperbaiki atas dasar jiwa otonomi. dan sumberdaya yang ada di sekolah secara cermat dan refleksikan kecocokannya dengan sistem. Ketiga. budaya. Keempat. Tahap-tahap Pelaksanaan 1. Dengan cara berpikir semacam ini. menjadi sekolah yang bersifat otonom dan mendudukkannya sebagai unit utama. dan kebijakankebijakan bidang pendidikan yang ada di daerah saat ini yang masih mendudukkan sekolah sebagai subordinasi birokrasi dinas pendidikan dan kedudukan sekolah bersifat marginal. pejabat Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. B. hubungan antar warga (unsur-unsur) dalam sekolah. misalnya seminar. Kedua. diskusi. proaktif.

kebiasaan-kebiasaan perilaku tergantung atasan dan menunggu perlu diubah menjadi berani mengambil prakarsa dan inisiatif. dan sumberdaya manusia yang mendukung penerapan MBS serta hargailah mereka (unsur-unsur) yang telah memberi contoh dalam penerapan MBS. dan program-program penyelenggaraan MBS dan doronglah sistem. mediator. mentor. Demikian juga. dst. tujuan. Kemitraan yang dapat menghasilkan teamwork yang kompak. fleksibilitas. baik dari dalam maupun dari luar sekolah. siswa dengan siswa. esensi MBS adalah peningkatan otonomi sekolah. dan (3) melibatkan pemangku kepentingan sesuai dengan prinsip relevansi. dan partisipasi. Kemitraan penting untuk dilakukan karena disadari sepenuhnya bahwa hasil pendidikan sekolah merupakan hasil kolektif dari unsur-unsur terkait atau para pemangku kepentingan (stakeholders). dan sumberdaya yang belum ada sekarang. tujuan. dan kompetensi serta kompatibilitas tujuan yang akan dicapai. 3. guru dengan siswa. guru dengan orangtua siswa. dan istilah-istilah lain yang sederajad dengan bahasa demokrasi. kepala sekolah dengan kepala dinas pendidikan kabupaten/kota.d. Memperbanyak Mitra Sekolah Seperti dikemukakan sebelumnya. guru dengan guru. Hadapilah “status quo” (resistensi) terhadap perubahan. Bekerjalah dengan semua unsur sekolah untuk mengklarifikasikan visi. kebiasaan bertindak. dst. budaya. sekolah harus memperbanyak mitra. Kemitraan sekolah dengan masyarakat sekitarnya meliputi. misi. upaya-upaya untuk meningkatkan kemitraan perlu ditempuh melalui: (1) pembuatan pedoman mengenai tatacara kemitraan. fleksibilitas dan peningkatan partisipasi dalam penyelenggaraan sekolah. dan transparansi terhadap pemangku kepentingan. (2) melakukan advokasi. dan g. Pantaulah dan arahkan proses perubahan agar sesuai dengan visi. penyediaan sarana kemitraan dan saluran komunikasi. misi. misi. Garisbawahi prioritas sistem. publikasi. rencana. Kemitraan dalam sekolah meliputi. sasaran. rencana. Istilah-istilah peran yang bersifat egaliter misalnya kepala sekolah dan guru sebagai fasilitator. pembimbing. budaya. dan hubungan antar unsur-unsur sekolah. Peran Unsur-unsur Sekolah. pemberi pertimbangan. Ini berarti bahwa jika MBS ingin sukses. dan program-program MBS yang telah disepakati. yurisdiksi. kepala sekolah dengan guru. Ini berarti bahwa peran-peran yang semula lebih bersifat otoriter perlu diubah agar menjadi egaliter. Merumuskan Kembali Aturan Sekolah. antara lain. f. tutor. peran masing-masing unsur sekolah perlu ditinjau kembali sesuai dengan tuntutan MBS yaitu demokratisasi sekolah. pemberdaya. jangan menghindar dan jangan menarik darinya serta jelaskan mengapa diperlukan perubahan dari manajemen berbasis pusat menjadi MBS. Kebiasaan dan Hubungan antar Unsur-unsur Sekolah Pergeseran dari manajemen berbasis pusat (sentralistik) menuju manajemen berbasis sekolah memerlukan peninjauan kembali terhadap aturan sekolah. 2. dan program-program penyelenggaraan MBS. Oleh karena itu. dan dinamis merupakan kartu trup bagi keberhasilan MBS. peran unsur-unsur sekolah. Aturan sekolah perlu dirumuskan kembali agar sesuai dengan tuntutan MBS yaitu otonomi. cerdas. antara lain: kepala sekolah dengan komite sekolah. Demikian juga. akan tetapi sangat diperlukan untuk mendukung visi. rencana. pendukung. baik partisipasi dari warga sekolah maupun masyarakat di sekitarnya melalui perwakilan komite sekolah. tujuan. e. sasaran. Kebiasaan . sasaran.

hubungan sekolah-masyarakat. transparansi. demokrasi. 5. dan terhindar dari duplikasi. proses belajar mengajar. Penerapan tata kelola yang baik harus diupayakan oleh sekolah melalui berbagai cara seperti misalnya: pembuatan aturan main sekolah/pedoman tentang tatacara pelaksanaan prinsip-prinsip tata kelola yang baik. hubungan fungsional. lokakarya. kepekaan. pelaksanaan. Dua hal yang merupakan inti manajemen sekolah yaitu fungsi manajemen dan urusan sekolah. keadilan. Fungsi-fungsi manajemen dan urusan-urusan sekolah (digabung menjadi manajemen sekolah) tersebut perlu diklarifikasi secara bersamasama antara sekolah dan dinas pendidikan kabupaten/kota melalui pertemuan/forum untuk menemukan pembagian urusan-urusan tentang fungsi-fungsi manajemen dan urusan-urusan pendidikan yang menjadi kewenangan dan tanggungjawab sekolah dan dinas pendidikan kabupaten/kota. diskusi kelompok terfokus. pendidik dan tenaga kependidikan. Urusan-urusan sekolah meliputi: kurikulum. Untuk itu. pendidikan lingkungan hidup (program adiwiyata). dan pemfasilitasian terhadap bawahan merupakan harus diunggulkan. Dengan cara ini akan terbentuk pembagian manajemen pendidikan yang jelas. Pelayanan. Mengklarifikasi Fungsi dan Aspek Manajemen Sekolah Manajemen pendidikan umumnya dan manajemen sekolah khususnya merupakan pengelolaan institusi (sekolah) yang dilakukan dengan dan melalui pendidik dan tenaga kependidikan untuk mencapai tujuan sekolah secara efektif dan efisien. Prinsip-prinsip tata kelola yang baik meliputi: partisipasi. pelaksanaan. komite sekolah. evaluasi. publikasi. dan bukannya hubungan yang semata-mata struktural (atasan dan bawahan). penyediaan sarana untuk memfasilitasi pelaksanaan prinsip-prinsip tata kelola yang baik. kesiswaan. bukan mengunggulkan kewenangan atasan terhadap bawahan. dan sebagainya. 6. saling komplemen. seminar tentang praktek-praktek yang baik dan pelajaran yang dapat . keuangan.mengunggulkan kewenangan diubah menjadi kebiasaan melayani. Fungsi-fungsi manajemen meliputi perencanaan. melakukan advokasi. profesionalisme. relasi dengan para pemangku kepentingan. 4. Meningkatkan Kapasitas Sekolah MBS merupakan model baru bagi sekolah maupun dinas pendidikan kabupaten/kota. pengembangan kapasitas (kemampuan dan kesanggupan) mereka perlu dilakukan melalui berbagai upaya. dan dewan pendidikan. pengorganisasian. Hubungan antar unsur juga perlu disesuaikan dengan tuntutan MBS. dan pengawasan/pengontrolan. konflik dan benturan antara sekolah dan dinas pendidikan. penegakan hukum. penanggulangan narkoba. prediktibilitas. akuntabilitas. karakteristik dan kemampuan sekolah masing-masing. Menerapkan Prinsip-prinsip Tata Kelola yang Baik MBS akan berhasil dengan baik jika sekolah menerapkan prinsip-prinsip tata kelola yang baik sebagaimana disebut sebelumnya. sarana dan prasarana. Berikut dipaparkan visualisasi matrik MBS (Tabel 3) untuk memudahkan sekolah dan dinas pendidikan dalam membagi urusan-urusan manajemen pendidikan yang menjadi kewenangan sekolah dan dinas pendidikan kabupaten/kota. (2) pelatihan. dan kepastian jaminan hukum. dst. hubungan interaktif. pemberdayaan. efisiensi. tanggung jawab. koheren. dan sebagainya.yang disesuaikan dengan konteks kebutuhan. MBS menuntut hubungan simbiosis. wawasan kedepan. penilaian. misalnya: (1) pemberian panduan-panduan tentang konsep MBS. efektivitas. komite sekolah dan dewan pendidikan. pengkoordinasian. termasuk komite sekolah dan dewan pendidikan. kebiasaan melayani sistem sekolah diubah menjadi kebiasaan melayani siswa.

Meredistribusi Kewenangan dan Tanggung jawab Dalam era sentralistik. penganggaran. sinkronisasi. RPS/RKAS adalah dokumen tentang gambaran kegiatan sekolah dimasa depan dalam rangka untuk mencapai tujuan sekolah yang telah ditetapkan. dan antar waktu. Karena itu. (3) menjamin terciptanya integrasi. makin tinggi pula tingkat keberhasilan MBS di sekolah yang bersangkutan. demokrasi merupakan jiwanya. masyarakat. kekuatan di sekolah tidak lagi semata-mata di satu pundak kepala sekolah. (3) studi banding ke sekolah yang sukses melaksanakan MBS. dan (6) menjamin tercapainya penggunaan sumberdaya secara efisien. (5) mengoptimalkan partisipasi warga sekolah dan masyarakat. Hasil dari perencanaan sekolah adalah RPS/RKAS. RPS/RKAS disusun dengan tujuan untuk: (1) menjamin agar perubahan/tujuan sekolah yang telah ditetapkan dapat dicapai dengan tingkat kepastian yang tinggi dan resiko yang kecil. (2) mendukung koordinasi antar pelaku sekolah. . dan berkeadilan dan berkelanjutan. efektif. dan dinamis. keluarga. Dengan cara ini. 8. a. Karena itu. seperti dikemukakan sebelumnya. kekuatan bergeser dari satu orang (kepala sekolah) menuju ke kekuatan kolektif. Tergantung dari kepentingan/kebutuhan. baik antar pelaku sekolah. Semuanya tergantung kepala sekolah. tetapi disebar ke seluruh pemegang kepentingan sekolah. untuk tidak disebut satu persatu. meningkatkan efisiensi (internal dan eksternal). Melaksanakan. dan sektor-sektor pembangunan). Perencanaan sekolah adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan sekolah yang tepat. 7. Keberhasilan MBS sangat tergantung pada kesiapan kapasitas (kemampuan dan kesanggupan) sekolah. Hasil evaluasi harus digunakan sebagai bahan masukan dalam rangka perbaikan desain RPS/RKAS maupun implementasinya. dan sinergi. Makin tinggi tingkat kesiapan kapasitas sekolah dalam melaksanakan MBS. kewenangan dan tanggung jawab dalam mengurus sekolah menumpuk pada kepala sekolah (one man show). dan sebagainya. dan Memonitor serta Mengevaluasinya Sekolah pelaksana MBS diharapkan menyusun desain. Dalam MBS. meningkatkan relevansi pendidikan (relevansinya dengan kebutuhan peserta didik. sangat penting bagi sekolah memilikiteamwork yang kompak. seolah-olah kepala sekolah seperti raja. output). tetapi disebar/didistribusikan kepada para pemangku kepentingan pendidikan sekolah. proses. kewenangan dan tanggung jawab tidak lagi semata-mata terpusat pada kepala sekolah. melaksanakan dan melakukan evaluasi RPS/RKAS secara berkelanjutan setiap 5 tahun (renstra) dan rencana tahunan seperti Gambar 3 berikut. sekolah dapat mengembangkan jenis-jenis RPS/RKAS untuk meningkatkan mutu (input. Menyusun Rencana Pengembangan Sekolah (RPS/RKAS). cerdas.dipetik oleh sekolah-sekolah yang melaksanakan MBS. dengan memperhitungkan sumberdaya yang tersedia. dan pengawasan. pelaksanaan. Menyusun Desain RPS/RKAS Sekolah yang melaksanakan MBS harus melakukan perencanaan sekolah dan menghasilkan RPS/RKAS. melalui urutan pilihan. Jadi. (4) menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. antar sekolah dan dinas pendidikan kabupaten/kota. RPS/RKAS penting dimiliki oleh sekolah untuk memberi arah dan bimbingan para pelaku sekolah dalam rangka untuk mencapai tujuan sekolah dengan resiko yang kecil dan mengurangi ketidakpastian masa depan.

sehingga kegiatan tidak mencapai sasaran. Evaluasi jangka pendek dilakukan setiap akhir catur wulan untuk mengetahui keberhasilan program secara bertahap. b. menggunakan pengalaman-pengalaman masa lalu yang dianggap efektif. dan teguran kepada guru dan tenaga lainnya jika ada kegiatan yang tidak sesuai dengan jalur-jalur yang telah ditetapkan. sekolah harus dapat membebaskan diri dari keterikatan-keterikatan birokratis yang biasanya banyak menghambat penyelenggaraan pendidikan. monitoring dan evaluasi. misi. dan penyusunan rencana dan program kerja tahunan sekolah. c. sekolah hendaknya menerapkan konsep belajar tuntas (mastery learning). bimbingan dan arahan jangan sampai membuat guru dan tenaga lainnya menjadi amat terkekang dalam melaksanakan kegiatan.Sekolah harus membuat rencana pengembangan sekolah strategis (RPS/RKAS Strategis/Renstra) untuk jangka waktu 5 tahun ke depan dan rencana operasional/rencana tahunan sekolah (RPS/RKAS Tahunan) yang merupakan jabaran dari Renstra. untuk mengetahui seberapa jauh program peningkatan mutu telah mencapai sasaran-sasaran mutu yang telah ditetapkan . Melakukan Monitoring dan Evaluasi RPS/RKAS Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program. perumusan tujuan/sasaran satu tahun ke depan berdasarkan tantangan nyata yang dihadapi (tujuan situasional sekolah). dan tonggak-tonggak kunci keberhasilan satu tahun ke depan. strategi pelaksanaan. Kepala sekolah dan guru hendaknya mendayagunakan sumberdaya pendidikan yang tersedia semaksimal mungkin. Kepala sekolah dan guru bebas mengambil inisiatif dan kreatif dalam menjalankan program-program yang diproyeksikan dapat mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkan. dan menggunakan teori-teori yang terbukti mampu meningkatkan kualitas pembelajaran. Namun demikian. Rencana tahunan (alternatif 2) meliputi: identifikasi tantangan nyata yang dihadapi oleh sekolah. program-program strategis. langkah-langkah pemecahan persoalan. Rencana strategis sekolah pada umumnya mencakup perumusan visi. orangtua siswa. Kepala sekolah sebagai manajer dan pemimpin pendidikan di sekolahnya berhak dan perlu memberikan arahan. program-program untuk mencapai tujuan satu tahun ke depan. kepala sekolah perlu melakukan supervisi dan monitoring terhadap kegiatan-kegiatan peningkatan mutu yang dilakukan di sekolah. Dalam melaksanakan proses pembelajaran. Evaluasi jangka menengah dilakukan pada setiap akhir tahun. rencana pelaksanaan. sekolah perlu mengadakan evaluasi pelaksanaan program. rencana biaya. analisis SWOT. Dengan demikian siswa dapat menguasai suatu materi pelajaran secara tuntas sebagai prasyarat dan dasar yang kuat untuk mempelajari tahapan pelajaran berikutnya yang lebih luas dan mendalam. maka sekolah perlu mengambil langkah proaktif untuk mewujudkan sasaran-sasaran yang telah ditetapkan. Sedangkan rencana tahunan sekolah pada umumnya (alternatif 1): meliputi tujuan yang akan dicapai satu tahun ke depan. baik jangka pendek maupun jangka panjang. Karena itu. dukungan. dan tonggak-tonggak kunci keberhasilan. Bilamana pada satu semester dinilai adanya faktor-faktor yang tidak mendukung. dan masyarakat. pemilihan urusan-urusan sekolah yang perlu dilibatkan untuk mencapai sasaran yang telah dirumuskan. tujuan strategis sekolah. Konsep ini menekankan pentingnya siswa menguasai materi pelajaran secara utuh dan bertahap sebelum melanjutkan ke pembelajaran topik-topik yang lain. rencana pemantauan dan evaluasi. rencana biaya. Untuk menghindari berbagai penyimpangan. bimbingan. maka sekolah harus dapat memperbaiki pelaksanaan program peningkatan mutu pada semester berikutnya. Melaksanakan RPS/RKAS Dalam melaksanakan rencana peningkatan mutu pendidikan yang telah disetujui bersama antara sekolah.

kepala sekolah harus mengikutsertakan setiap unsur yang terlibat dalam program. Dengan evaluasi ini akan diketahui kekuatan dan kelemahan program untuk diperbaiki pada tahun-tahun berikutnya. pengontrolan. Dalam melaksanakan evaluasi. pengaturan. sedang birokrasi dan unsurunsur lainnya merupakan unit pelayanan pendukung. standar. (2) pada tataran implementasi kebijakan. motivasi-diri. 1). maupun evaluasinya pada tingkat nasional. sudah harus dikurangi dan dikembangkan menjadi pola pikir manajemen baru yang lebih menekankan pada otonomi.sebelumnya. Hasil evaluasi pelaksanaan MBS perlu dibuat laporan yang terdiri dari laporan teknis dan keuangan. SMK) Secara umum. Karena itu pola pikir manajemen lama yang lebih menekankan pada subordinasi. maka laporan harus dikirim kepada pengawas. Direktorat Pembinaan mempunyai tugas dan fungsi mensosialisasikan MBS ke seluruh daerah melalui Dinas Pendidikan Propinsi/Kabupaten/Kota. selanjutnya disingkat Direktorat Pembinaan) mempunyai tugas dan fungsi menyusun norma-norma (peraturan perundang-undangan). implementasi. SMP. sedang laporan keuangan meliputi penggunaan uang serta pertanggungjawabannya. baik pada tataran formulasi/penetapan. (3) memfasilitasi . Dari uraian konsep MBS disebutkan bahwa pola manajemen baru lebih menekankan pada pemandirian dan pemberdayaan sekolah. Khusus untuk kebijakan. Jika sekolah melakukan upaya-upaya penambahan pendapatan (income generating activities). dan kebijakan. Sebagai bentuk pertanggungjawaban (akuntabilitas). SMA. orangtua peserta didik dan masyarakat sebagai pihak eksternal harus dilibatkan untuk menilai keberhasilan program yang telah dilaksanakan. kriteria. komite sekolah. maka pendapatan tambahan tersebut harus juga dilaporkan. prosedur. Yang perlu disepakati adalah indikator apa saja yang perlu ditetapkan sebelum penilaian dilakukan. dan menetapkan standar MBS sebagai patokan yang berlaku secara nasional. pengarahan. Tugas dan Fungsi Jajaran Birokrasi Konsekuensi logis dari perubahan penyelenggaraan pendidikan. Laporan teknis menyangkut program pelaksanaan dan hasil MBS. SMA. SMK. maka tugas dan fungsi masing-masing jajaran birokrasi pendidikan dalam penyelenggaraan MBS dapat dituliskan sebagai berikut. yaitu dari pola manajemen lama (sentralistik) menuju ke pola manajemen baru (desentralistik) memerlukan perumusan kembali tugas dan fungsi jajaran birokrasi. khususnya guru dan tenaga lainnya agar mereka dapat menjiwai setiap penilaian yang dilakukan dan memberikan alternatif pemecahan. Direktorat Pembinaan mempunyai tugas dan fungsi memformulasikan/menetapkan kebijakan dan strategi pengelolaan MBS melalui penyusunan dan penerbitan buku panduan MBS. Suatu hal yang bisa terjadi bahwa orang tua peserta didik dan masyarakat menilai suatu program gagal atau kurang berhasil. Direktorat Pembinaan Sekolah (SD. orangtua siswa dan yayasan (bagi sekolah swasta). Demikian pula. walaupun pihak sekolah menganggapnya cukup berhasil. dan oneman-show dalam pengambilan keputusan. Seiring dengan diberlakukannya Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan (Bidang Pendidikan) antara Pemerintah. dinas pendidikan kabupaten/kota. bantuan. rinciannya sebagai berikut: (1) pada tataran formulasi dan penetapan kebijakan. Pemerintah Propinsi. dan pengambilan keputusan partisipatif. fasilitasi. Ini memiliki arti bahwa sekolah merupakan unit utama kegiatan pendidikan. sekolah mengetahui bagaimana sudut pandang pihak luar bila dibandingkan dengan hasil penilaian internal. d. Dengan demikian. dan Pemerintah Kabupaten/Kota (selanjutnya disingkat PP 38/2007). SMP. Direktorat Pembinaan Sekolah (SD.

yaitu yang mampu menjaga harmonisme antara prinsip-prinsip MBS dan kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah daerah khususnya pendanaan dari masyarakat sehingga tidak terjadi konflik apalagi benturan. 4). 2). prasarana dan sarana pendidikan. dan (4) mengkoordinasikan dan menyerasikan pelaksanaan MBS lintas kabupaten/kota untuk menghindari penyimpangan MBS dan menghindari kesenjangan mutu pendidikan lintas kabupaten/kota. buku pelajaran. c) Menyusun pembagian urusan pendidikan yang menjadi kewenangan dan tanggungjawab Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan Sekolah. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota menjalankan tugas dan fungsi utamanyamemberikan pelayanan dalam pengelolaan satuan pendidikan di Kabupaten/Kota masing-masing yang menjalankan MBS. pemberian pedoman/petunjuk pelaksanaan MBS. dan sebagainya. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota menjalankan tugas dan fungsinya sebagai berikut: a) Menyusun kebijakan yang mendukung pelaksanaan MBS. dan h) Melaksanakan monitoring dan evaluasi penyelenggaraan MBS untuk perbaikan. d) Memfasilitasi pengimbasan praktek-praktek MBS yang baik (best practices)dari sekolah tertentu ke sekolah-sekolah lain untuk dijadikan lessons learned. b) Membimbing sekolah dalam menerapkan MBS melalui berbagai cara seperti pelatihan. e) Memberikan pelayanan pengelolaan atas satuan pendidikan negeri dan swasta di Kabupaten/Kota masing-masing berkaitan dengan pelaksanaan MBS.dan mengembangkan kapasitas daerah agar mampu dan sanggup melaksanakan MBS. baik secara elektronik dan/atau non-elektronik tentang perkembangan konsep dan hasil pelaksanaan MBS secara nasional dan praktek-praktek yang baik yang dapat dipetik untuk memperbaiki konsep maupun pelaksanaan MBS. (2) memberi pelatihan kepada para pengembang MBS di tingkat kabupaten. 3). dan pertemuan-pertemuan yang memfasilitasi pelaksanaan MBS. f) Memberikan pelayanan terhadap sekolah dalam mengelola aset/sumberdaya pendidikan yang meliputi tenaga guru. Dinas Pendidikan Provinsi Secara umum. antara lain: (1) menyusun petunjuk teknis pelaksanaan dan petunjuk teknis monitoring dan evaluasi berdasarkan pedoman yang ditetapkan pemerintah pusat. (3) melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan MBS serta pengembangannya di Provinsi masing-masing. Sekolah . g) Melaksanakan pembinaan dan pengurusan atas tenaga pendidik yang bertugas pada satuan pendidikan di Kabupaten/Kota berkaitan dengan pelaksanaan MBS. tugas dan fungsi Dinas Pendidikan Provinsi adalah menjabarkan kebijakan dan strategi MBS yang telah digariskan oleh Direktorat Pembinaan untuk diberlakukan di Provinsi masing-masing. dan (3) pada tataran evaluasi kebijakan. dana pendidikan. Lebih spesifiknya. Direktorat Pembinaan mempunyai tugas dan fungsi melakukan monitoring dan evaluasi penyelenggaraan MBS secara nasional dan menerbitkan informasi secara berkala.

Komite Sekolah Tugas dan fungsi utama Komite Sekolah dalam pelaksanaan MBS di sekolah adalah: (1) memberi masukan. (6) melakukan kerjasama dengan masyarakat. d) Melaksanakan pengawasan dan pembimbingan dalam pelaksanaan MBS sehingga kejituan implementasi dapat dijamin untuk mencapai sasaran MBS. maka sekolah menjalankan tugas dan fungsinya sebagai berikut: a) Menyusun rencana dan program pelaksanaan MBS dengan melibatkan kelompok-kelompok kepentingan. Komite Sekolah. (4) mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu tinggi. dan tokoh masyarakat. dan berbagai kebutuhan pendidikan yang diajukan oleh masyarakat. (2) mendorong orangtua siswa dan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pendidikan. wakil pemerintah. RAPBS. dan keterlibatan total warga sekolah dalam meningkatkan mutu sekolah) dan berpikir sistem (berpikir holistik/tidak parsial. dan Yayasan (bagi sekolah swasta). 5). Pengantar . kriteria pendidik dan tenaga kependidikan. pertimbangan. dan (7) menampung dan menganalisis aspirasi. Mengingat sekolah merupakan unit utama dan terdepan dalam penyelenggaraan MBS. Hasil evaluasi ini kemudian digunakan untuk menentukan sasaran baru program MBS tahun. ide. wakil kepala sekolah. f) Menyusun laporan penyelenggaraan MBS beserta hasilnya secara lengkap untuk disampaikan kepada pihak-pihak terkait yaitu Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. wakil organisasi profesi. guru. wakil siswa (OSIS). e) Pada setiap akhir tahun ajaran melakukan evaluasi untuk menilai tingkat ketercapaian sasaran program MBS yang telah ditetapkan. saling terkait. Komite Sekolah. b) Mengkoordinasikan dan menyerasikan segala sumber daya yang ada di sekolah dan di luar sekolah untuk mencapai sasaran MBS yang telah ditetapkan. C. tata usaha). tuntutan. TATA KELOLA YANG BAIK A. dan rekomendasi kepada sekolah mengenai kebijakan dan program pendidikan. dan Yayasan (bagi sekolah swasta). (5) melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap kebijakan/program/penyelenggaraan dan keluaran pendidikan. c) Melaksanakan MBS secara efektif dan efisien dengan menerapkan prinsip-prinsip total quality management (fokus pada pelanggan. dan terpadu). perbaikan secara terus-menerus. antara lain: wakil sekolah (kepala sekolah. kriteria fasilitas pendidikan. kriteria kinerja sekolah. (3) menggalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan pendidikan. Pengawas Sekolah. wakil orangtua siswa. dan hal-hal lain yang terkait dengan pendidikan. dan g) Mempertanggung jawabkan hasil penyelenggaraan MBS kepada pihak-pihak yang berkepentingan dengan sekolah yaitu Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota.Tugas dan fungsi utama sekolah adalah mengelola penyelenggaraan MBS di sekolah masing-masing.tahun berikutnya.

pembuatan kebijakan. perencanaan. efektivitas. makin besar pula tingkat dedikasi/kontribusinya terhadap sekolah. kepala sekolah. pembuatan kebijakan. berwawasan ke depan. perencanaan. dan pasti dalam penjaminan mutu. dan tenaga-tenaga kependidikan lainnya. makin besar rasa memiliki. sekolah diberi otonomi (kewenangan dan tanggung jawab) yang lebih besar untuk mengelola sekolahnya. pembuatan kebijakan. makin besar rasa memiliki. hukum dilaksanakan dengan baik. partisipasi dapat mendorong warga sekolah dan masyarakat sekitar untuk menggunakan haknya dalam menyampaikan pendapat dalam proses pengambilan keputusan. dan makin besar rasa tanggungjawab. siswa. tokoh masyarakat. Inilah pentingnya partisipasi bagi sekolah. Dengan partisipasi aktif diharapkan mampu menjadikan aspirasi stakeholders sebagai panglima karena dengan MBS diharapkan mampu mengalirkan kekuasaan dari pemerintah pusat dan dinas . prediktif.Seperti disebut sebelumnya. Namun. dan akuntabilitas. pelaksanaan. dalam MBS. Tata kelola yang lainnya tidak akan diuraikan dalam materi pelatihan ini karena terbatasnya waktu pelatihan. maupun warga di luar sekolah seperti orang tua siswa. efisiensi. Dalam materi pelatihan ini tidak semua prinsip-prinsip tata kelola ditulis dan disampaikan. Partisipasi a. Latar Belakang Salah satu alasan penerapan MBS adalah untuk membuat kebijakan/keputusan sekolah lebih dekat dengan stakeholders sehingga hasilnya benar-benar mencerminkan aspirasi stakeholders. baik warga sekolah seperti guru. dan pihak-pihak lain yang mewakili masyarakat yang diwadahi melalui komite sekolah. Para pembaca dipersilahkan mempelajari prinsip-prinsip tata kelola yang tidak dibahas dalam materi pelatihan ini dari sumber-sumber lain. B. kewenangan dan tanggung jawab yang lebih besar hanya dapat dilaksanakan dengan baik apabila sekolah menerapkan prinsip-prinsip tata kelola yang baik yaitu partisipasi. MBS mensyaratkan adanya partisipasi aktif dari semua pihak yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan di sekolah (stakeholders). Pergeseran lokus kebijakan dari pemerintah pusat dan dari dinas pendidikan ke sekolah diharapkan proses pengambilan keputusan. Untuk itu. Komite Sekolah merupakan wadah formal bagi stakeholders untuk berpartisipasi secara langsung maupun tidak langsung dalam penyelenggaraan sekolah. perencanaan. demokrasi/egaliterisme. pelaksanaan. Uraian 1. pengawasan/ pengevaluasian pendidikan sekolah. b. peka terhadap aspirasi stakeholders. keadilan. dalam pengambilan keputusan. Peningkatan partisipasi dilandasi oleh keyakinan bahwa makin tinggi tingkat partisipasi. pelaksanaan. transparansi. akademisi. Saat ini. baik secara individual maupun kolektif. pengawasan/pengevaluasian yang menyangkut kepentingan sekolah. tetapi hanya tiga tata kelola pertama yang diuraikan yaitu partisipasi. secara langsung maupun tidak langsung. secara langsung maupun tidak langsung. Arti Partisipasi Partisipasi adalah proses di mana stakeholders (warga sekolah dan masyarakat) terlibat aktif baik secara individual maupun kolektif. akuntabilitas. transparansi. Diharapkan. dan pengawasan/ pengevaluasian pendidikan lebih partisipatif dan benar-benar mengabdi kepada kepentingan publik dan bukan pada kepentingan elite birokrasi dan politik. makin besar pula rasa tanggungjawab.

controller. moral. Indikator Keberhasilan Partisipasi Keberhasilan peningkatan partisipasi stakeholders dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah dapat diukur dengan beberapa indikator berikut: (1) (2) Kontribusi/dedikasi stakeholders meningkat dalam hal jasa (pemikiran. Meningkatnya kepercayaan stakeholders kepada sekolah. (3) meningkatkan peranstakeholders dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. partisipasi secara aktif dalam proses pengambilan keputusan. dan pengawasan/pengevaluasian pendidikan di sekolah. (1) Membuat peraturan dan pedoman sekolah yang dapat menjamin hak stakeholders untuk menyampaikan pendapat dalam segala proses pengambilan keputusan. c. dan pengawasan/ pengevaluasian pendidikan di sekolah. komunikasi. moral. pelaksanaan. baik dalam bentuk jasa (pemikiran/intelektualitas. konsultasi. finansial. . resource linker. d. upaya-upaya yang perlu dilakukan oleh sekolah dalam rangka meningkatkan partisipasi stakeholders adalah sebagai berikut. and education provider. keterampilan). baik sebagai advisor. terutama menyangkut kewibawaan dan kebersihan. dan transparansi kepadastakeholders. (2) memberdayakan kemampuan yang ada pada stakeholders bagi pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. pembuatan kebijakan. penyampaian pendapat secara tertulis. keterampilan). Melakukan advokasi. finansial. dan material/barang. pelaksanaan. publikasi. dan material/barang. pembuatan kebijakan. dan kompatibilitas tujuan yang akan dicapainya. (5) Meningkatnya kepedulian stakeholders terhadap setiap langkah yang dilakukan oleh sekolah untuk meningkatkan mutu. dan (4) menjamin agar setiap keputusan dan kebijakan yang diambil benar-benar mencerminkan aspirasi stakeholders dan menjadikan aspirasi stakeholderssebagai panglima bagi penyelenggaraan pendidikan di sekolah. (4) Meningkatnya kualitas dan kuantitas masukan (kritik dan saran) untuk peningkatan mutu pendidikan. Menyediakan sarana partisipasi atau saluran komunikasi agar stakeholdersdapat mengutarakan pendapatnya atau dapat mengekspresikan keinginan dan aspirasinya melalui pertemuan umum. Melibatkan stakeholders secara proporsional dengan mempertimbangkan relevansi pelibatannya. (3) Meningkatnya tanggungjawab stakeholders terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Tujuan Partisipasi Tujuan utama peningkatan partisipasi adalah untuk: (1) meningkatkan dedikasi/ kontribusi stakeholders terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah. kompetensinya. batas-batas yurisdiksinya. temu wicara. yang sebenarnya sangat strategis karena pada level inilah keputusan dapat memperbaiki mutu pendidikan. perencanaan.pendidikan ke tangan para pengelola sekolah. supporter. (2) (3) (4) e. perencanaan. Upaya-Upaya Peningkatan Partisipasi Untuk mencapai tujuan tersebut. mediator.

Transparansi menjamin bahwa data sekolah yang dilaporkan mencerminkan realitas. Tujuan Transparansi Pengembangan transparansi ditujukan untuk membangun kepercayaan dan keyakinan publik kepada sekolah bahwa sekolah adalah organisasi pelayanan pendidikan yang bersih dan berwibawa. Upaya-Upaya Peningkatan Transparansi . d. Transparansi dicapai melalui kemudahan dan kebebasan publik untuk memperoleh informasi dari sekolah. Jika terdapat perubahan pada status data dalam laporan suatu sekolah. jujur. Transparansi a. 2. c. Ini berarti bahwa sekolah harus memberikan informasi yang benar kepada publik. Mengingat sekolah adalah organisasi pelayanan publik. dan terbuka terhadap publik tentang apa yang dikerjakan oleh sekolah. Arti Transparansi Transparansi sekolah adalah keadaan di mana setiap orang yang terkait dengan kepentingan pendidikan dapat mengetahui proses dan hasil pengambilan keputusan dan kebijakan sekolah. tidak bohong. Oleh karena itu. publik tidak lagi curiga terhadap sekolah dan karenanya keyakinan dan kepercayaan publik terhadap sekolah juga tinggi. sekolah harus memberikan jaminan kepada publik terhadap akses informasi sekolah atau kebebasan memperoleh informasi sekolah. transparansi bukan lagi merupakan kebutuhan tetapi hak yang harus diberikan oleh sekolah sebagai organisasi pelayanan pendidikan. Kebebasan memperoleh informasi sekolah dapat dicapai jika dokumentasi informasi sekolah tersedia secara mutakhir.(6) Keputusan-keputusan yang dibuat oleh sekolah benar-benar mengekspresikan aspirasi dan pendapat stakeholders dan mampu meningkatkan kualitas pendidikan. hak untuk mendapatkan salinan informasi. Transparansi bertujuan untuk menciptakan kepercayaan timbal balik antara sekolah dan publik melalui penyediaan informasi yang memadai dan menjamin kemudahan dalam memperoleh informasi yang akurat. baik kualitas maupun kuantitas Pengembangan transparansi sangat diperlukan untuk membangun keyakinan dan kepercayaan publik kepada sekolah. Bersih dalam arti tidak KKN dan berwibawa dalam arti profesional. Hak publik atas informasi yang harus diberikan oleh sekolah antara lain: hak untuk mengetahui. Dengan transparansi yang tinggi. maka sekolah harus transparan kepada publik mengenai proses dan hasil pendidikan yang dicapai. Dalam konteks pendidikan. . tidak curang. b. hak untuk diinformasikan tanpa harus ada permintaan. istilah transparansi sangatlah jelas yaitu kepolosan. hak untuk menghadiri pertemuan sekolah. Latar Belakang Sekolah adalah organisasi pelayanan yang diberi mandat oleh publik untuk menyelenggarakan pendidikan sebaik-baiknya. Bagi publik. dan hak untuk menyebarluaskan informasi. transparansi penuh menyaratkan bahwa perubahan itu harus diungkapkan secara sebenarnya dan dengan segera kepada semua pihak yang terkait (stakeholders). apa adanya.

bentuk informasi yang dapat diakses oleh publik ataupun bentuk informasi yang bersifat rahasia. fasilitas database. Sekolah perlu mengupayakan peraturan yang menjamin hak publik untuk mendapatkan informasi sekolah. dan petunjuk penyebarluasan produk-produk dan informasi yang ada di sekolah maupun prosedur pengaduan. hak untuk komplain. memimpin. newsletter. Ini berarti. 3. Upaya lain yang perlu dilakukan oleh sekolah dalam meningkatkan transparansi adalah menyiapkan kebijakan yang jelas tentang cara mendapatkan informasi. mengelola. maka sekolah harus bertanggungjawab terhadap apa yang dikerjakan. leaflet. Indikator Keberhasilan Transparansi Keberhasilan transparansi sekolah ditunjukkan oleh beberapa indikator berikut: (a) meningkatnya keyakinan dan kepercayaan publik kepada sekolah bahwa sekolah adalah bersih dan wibawa. durasi waktu untuk mendapatkan informasi. Agar penyelenggara sekolah tidak sewenang-wenang dalam menyelenggarakan sekolah. hak diinformasikan. Arti Akuntabilitas Akuntabilitas adalah kewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban atau untuk menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan penyelenggara organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau berkewenangan untuk meminta keterangan atau pertanggjawaban. Pertanggung jawaban penyelenggara sekolah merupakan akumulasi dari keseluruhan pelaksanaan tugas-tugas pokok dan fungsi sekolah yang perlu disampaikan kepada publik/stakeholders. sarana informasi dan komunikasi. Untuk itu. Latar Belakang MBS memberi kewenangan yang lebih besar kepada penyelenggara sekolah yaitu kewenangan untuk mengatur dan mengurus sekolah. akuntabilitas publik akan menyangkut hak publik untuk memperoleh pertanggungjawaban penyelenggara sekolah. maupun secara tidak langsung melalui jalur media tertulis (brosur. Dalam kaitannya dengan akuntabilitas. Upaya-upaya yang perlu dilakukan dalam kerangka meningkatkan transparansi sekolah kepada publik antara lain melalui pendayagunaan berbagai jalur komunikasi. dan prosedur pengaduan apabila informasi tidak sampai kepada publik. pengumuman melalui surat kabar) maupun media elektronik (radio dan televisi lokal).Transparansi sekolah perlu ditingkatkan agar publik memahami situasi sekolah dan dengan demikian mempermudah publik untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. baik secara langsung melalui temu wicara. publik mempunyai hak untuk memberikan masukan. (2) meningkatnya partisipasi publik terhadap penyelenggaraan sekolah. Akuntabilitas kinerja sekolah adalah perwujudan kewajiban sekolah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan/kegagalan pelaksanaan rencana sekolah dalam . dan mengontrol sekolah. dan (4) berkurangnya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku di sekolah. e. Akuntabilitas a. (3) bertambahnya wawasan dan pengetahuan publik terhadap penyelenggaraan sekolah. bagaimana cara mendapatkan informasi. mengambil keputusan. sekolah berkewajiban mempertanggungjawabkan kepada publik tentang apa yang dikerjakan sebagai konsekwensi dari mandat yang diberikan oleh publik/ masyarakat. Publik sebagai pemberi mandat dapat memberi penilaian terhadap penyelenggara sekolah apakah pelaksanaan mandat dilakukan secara memuaskan atau tidak. dan hak untuk menilai kinerja sekolah. b.

Upaya-Upaya Peningkatan Akuntabilitas Agar sekolah memiliki akuntabilitas yang tinggi. dan sebagainya. Akuntabilitas meliputi pertanggungjawaban penyelenggara sekolah yang diwujudkan melalui transparansi dengan cara menyebarluaskan informasi dalam hal: (a) pembuatan dan pelaksanaan kebijakan serta perencanaan. . a) Sekolah harus menyusun aturan main tentang sistem akuntabilitas termasuk mekanisme pertanggungjawaban. yaitu akuntabilitas pilihan atas kebijakan yang akan dilaksanakan. (3) akuntabilitas proses. c) Sekolah menyusun rencana pengembangan publik/stakeholders di awal setiap tahun anggaran. aturan main. Sekolah dikatakan memiliki akuntabilitas tinggi jika proses dan hasil kinerja sekolah dianggap benar dan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. c. untuk mengikutsertakan publik dalam pengawasan pelayanan pendidikan. Menurut jenisnya. yaitu akuntabilitas yang berhubungan dengan proses. Sering kali istilah cost accountability juga digunakan untuk kategori akuntabilitas ini. akuntabilitas dapat dikategorikan menjadi 4: (1) akuntabilitas kebijakan. Tujuan Akuntabilitas Tujuan utama akuntabilitas adalah untuk mendorong terciptanya akuntabilitas kinerja sekolah sebagai salah satu prasyarat untuk terciptanya sekolah yang baik dan terpercaya. dan (d) keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan rencana sekolah dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Sistem pengawasan perlu diperkuat dan hasil evaluasi harus dipublikasikan dan apabila terdapat kesalahan harus diberi sanksi. Ini perlu diupayakan untuk menjaga kepastian tentang pentingnya akuntabilitas. (c) pengelolaan sumberdaya pendidikan di sekolah. yaitu akuntabilitas yang berhubungan dengan pendapatan dan pengeluaran uang (cash in and cash out). Untuk mengukur kinerja mereka secara obyektif perlu adanya indikator yang jelas. dan (4) akuntabilitas keuangan (kejujuran) atau sering disebut (financial accountability).. (2) akuntabilitas kinerja (product/quality accountability). Selain itu. d. dan untuk mempertanggungjawabkan komitmen pelayanan pendidikan kepada publik. sekolah dan menyampaikan kepada d) Menyusun indikator yang jelas tentang pengukuran kinerja sekolah dan disampaikan kepada stakeholders. (b) anggaran pendapatan dan belanja sekolah. ketentuan.mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan melalui alat pertanggungjawaban secara periodik. pedoman. maka perlu diupayakan hal-hal sebagai berikut. prosedur. b) Sekolah perlu menyusun pedoman tingkah laku dan sistem pemantauan kinerja penyelenggara sekolah dan sistem pengawasan dengan sanksi yang jelas dan tegas. yaitu akuntabilitas yang berhubungan dengan pencapaian tujuan sekolah. tujuan akuntabilitas adalah untuk menilai kinerja sekolah dan kepuasan publik terhadap pelayanan pendidikan yang diselenggarakan oleh sekolah. Penyelenggara sekolah harus memahami bahwa mereka harus mempertanggungjawabkan hasil kerja kepada publik.

kita dapat mengukur tingkat kemajuan pendidikan pada tingkat sekolah. maka MBS dianggap tidak efektif (gagal). pengelolaan program. g) Menyediakan informasi kegiatan sekolah kepada publik yang akan memperoleh pelayanan pendidikan. Tanpa pengukuran. dan departemen. pada umumnya. MONOTORING DAN EVALUASI MBS A. Oleh karena itu. Hal ini penting untuk dilakukan agar sekolah dengan mudah untuk . Dengan monitoring dan evaluasi. Indikator Keberhasilan Akuntabilitas Keberhasilan akuntabilitas dapat diukur dengan beberapa indikator berikut. e. dinas pendidikan provinsi). Jika hasil sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan. kita juga dapat memperbaiki konsep dan pelaksanaan MBS. fokus evaluasi adalah pada hasil MBS. dinas pendidikan kabupaten/kota. (b) tumbuhnya kesadaran publik tentang hak untuk menilai terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah. yaitu: (a) meningkatnya kepercayaan dan kepuasan publik terhadap sekolah. fokus monitoring adalah pemantauan pada pelaksanaan MBS. tidak ada alasan untuk mengatakan apakah suatu sekolah mengalami kemajuan atau tidak. (c) berkurangnya kasus-kasus KKN di sekolah. Karena itu. Pengantar Monitoring dan evaluasi merupakan bagian integral dari pengelolaan pendidikan. f) Memberikan tanggapan terhadap pertanyaan atau pengaduan publik. tepat. Jadi. C. Penerapan MBS juga memerlukan monitoring dan evaluasi secara intensif dan dilakukan secara terus-menerus. Sedang evaluasi merupakan suatu proses untuk mendapatkan informasi tentang hasil MBS. dengan monitoring dan evaluasi.e) Melakukan pengukuran pencapaian kinerja pelayanan pendidikan dan menyampaikan hasilnya kepada publik/stakeholders di akhir tahun. menghasilkan informasi yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan. maupun makro (kementerian). h) Memperbarui rencana kinerja yang baru sebagai kesepakatan komitmen baru. meso (dinas pendidikan kabupaten/kota. dan cukup untuk pengambilan keputusan. berarti MBS efektif. bukan pada hasilnya. Jika MBS kurang berhasil. baik menyangkut proses pengambilan keputusan. Istilah monitoring dan evaluasi memiliki makna sebagai berikut. Monitoring adalah suatu proses pemantauan untuk mendapatkan informasi tentang pelaksanaan MBS. Monitoring dan evaluasi. fokus monitoring adalah pada komponen proses MBS. baik di tingkat mikro (sekolah). dinas pendidikan provinsi. maupun pengelolaan proses belajar mengajar. Tepatnya. Jadi. sebaiknya setiap sekolah yang melaksanakan MBS diharapkan memiliki data-data tentang prestasi siswa sebelum dan sesudah MBS. kita dapat menilai apakah MBS benarbenar mampu meningkatkan mutu pendidikan. monitoring dan evaluasi yang bermanfaat adalah monitoring dan evaluasi yang menghasilkan informasi yang cepat. Sebaliknya jika hasil tidak sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan. dan (d) meningkatnya kesesuaian kegiatankegiatan sekolah dengan nilai dan norma yang berkembang di masyarakat. Informasi hasil ini kemudian dibandingkan dengan sasaran yang telah ditetapkan. apanya yang salah? Konsepnya atau pelaksanaannya? Karena itu. Hal ini didasari oleh pemikiran bahwa dengan monitoring dan evaluasi. pengelolaan kelembagaan.

input dapat diklasifikasikan menjadi tiga. sumberdaya. Konsistensi antara rancangan dan proses pelaksanaan akan mendukung tercapainya sasaran. Output adalah hasil nyata dari pelaksanaan MBS. Dalam istilah lain. Proses adalah berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain. misalnya. Monitoring dan evaluasi MBS bertujuan untuk mendapatkan informasi yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan. prosedur kerja. dan proses akuntabilitas. memiliki komponen-komponen yang saling terkait secara sistematis satu sama lain. perlengkapan. input. evaluasi konteks berarti evaluasi tentang kebutuhan. regulasi (ketentuan-ketentuan. tujuan. lihat uraian input pada BAB II. Harapan-harapan terdiri dari visi. dan input manajemen. limitasi. nilai NUN. maka hal ini dapat diduga bahwa MBS cukup berhasil. Sedang hasil evaluasi dapat memberikan informasi yang dapat digunakan untuk memberi masukan terhadap keseluruhan komponen MBS. yaitu harapan. Dengan didapatkan informasi inkonsistensi tersebut. peralatan. rencana. B. kedisiplinan. output. dan pengendalian atau tindakan turun tangan. Secara garis besar. sedang inkonsistensi akan menjurus kepada kegagalan MBS. dan sebagainya). Hasil nyata yang dimaksud dapat berupa prestasi akademik (academic achievement). misalnya. Esensi evaluasi pada input adalah untuk mendapatkan informasi tentang “ketersediaan dan kesiapan” input sebagai prasyarat untuk berlangsungnya proses. dan outcome. konteks sama artinya dengan istilah kebutuhan. dan kerajinan. tetapi juga dapat berupa perangkat-perangkat lunak dan harapan-harapan sebagai pemandu bagi berlangsungnya proses. Untuk lebih rincinya. Komponen-Komponen MBS yang Dimonitor dan Dievaluasi MBS sebagai sistem. proses pengelolaan kelembagaan. Fokus evaluasi pada output adalah mengevaluasi sejauhmana sasaran (immediate objectives) yang diharapkan . Alat yang tepat untuk melakukan evaluasi konteks adalah penilaian kebutuhan (needs assessment). sehingga dapat ditemukan informasi tentang konsistensi atau inkonsistensi antara rancangan/disain MBS semula dengan proses implementasi yang sebenarnya. proses evaluasi sekolah. maupun prestasi non-akademik (non-academic achievement). Sumberdaya dibagi menjadi dua yaitu sumberdaya manusia dan sumberdaya selebihnya (uang. kejujuran. kesenian. Hasil monitoring dapat digunakan untuk memberi masukan (umpan balik) bagi perbaikan pelaksanaan MBS. segera dapat dilakukan koreksi/pelurusan terhadap pelaksanaan.membandingkan prestasi siswa sebelum dan sesudah MBS. baik pada konteks. dan prestasi olahraga. maupun outcome nya. proses terdiri dari: proses pengambilan keputusan. IMTAQ. program. yaitu konteks. proses. Dengan demikian. dan peringkat lomba karya tulis. fokus evaluasi pada proses adalah pemantauan (monitoring) implementasi MBS. proses belajar mengajar. misi. input. Sesuatu yang dimaksud tidak harus berupa barang. bahan). Jika setelah MBS ada peningkatan prestasi yang signifikan dibanding sebelum MBS. proses. Dalam MBS sebagai sistem. output. proses pengelolaan program. Dengan demikian. sasaran. Input adalah segala “sesuatu” yang harus tersedia dan siap karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses. Konteks adalah eksternalitas sekolah berupa demand and support (permintaan dan dukungan) yang berpengaruh pada input sekolah. Masukanmasukan dari hasil monitoring dan evaluasi akan digunakan untuk pengambilan keputusan. Input manajemen terdiri dari tugas. Uraian 1.

Yang dimaksud monitoring dan evaluasi internal adalah monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh sekolah sendiri. fokus evaluasi outcome adalah pada dampak MBS jangka panjang. yang berbeda dengan output yang hanya mengukur hasil MBS sesaat/jangka pendek. Tentunya makin besar kesesuaiannya. guru. Hasil monitoring dan evaluasi eksternal dapat digunakan untuk: rewards system terhadap individu sekolah. Pada umumnya. dan sosial (masyarakat). misalnya Dinas Pendidikan. Berikut adalah visualisasi monitoring dan evaluasi pada saat sebelum dan pada saat sesudah melaksanakan MBS (Lihat Gambar 4: Monitoring dan Evaluasi MBS). dan outcome pada waktu sebelum dan sesudah melaksanakan MBS. output. prediktif. 3.(kualitas. Jenis Monitoring dan Evaluasi: Internal dan Eksternal Ada dua jenis monitoring dan evaluasi sekolah. Monitoring dan evaluasi dilakukan untuk mengetahui apakah ada perubahan konteks. dan membantu sekolah dalam mengembangkan dirinya. makin besar pula kesuksesan MBS. dan warga sekolah lainnya. Selain memonitor dan mengevaluasi komponen-komponen konteks. profesionalisme. sekolah-sekolah yang melaksanakan MBS harus membuat tonggak-tonggak kunci keberhasilan untuk kurun waktu tertentu. Dengan bahasa non-statistik. efektivitas dan efisiensi. Besar kecilnya perubahan komponen-komponen tersebut (dari dan sesudah melaksanakan MBS) merupakan ukuran tingkat keberhasilan MBS. dan kepastian jaminan hukum. Tonggak-tonggak kunci keberhasilan MBS merupakan target-target hasil MBS yang akan dicapai dalam jangka menengah (5 tahun) dan jangka pendek (1 tahun). kepekaan. dan Perguruan tinggi. akuntabilitas. sejauhmana “hasil nyata sesaat” sesuai dengan “hasil/sasaran yang diharapkan”. output. Dengan kata lain. yaitu internal dan eksternal. siswa. seperti disebut sebelumnya yaitu meliputi: partisipasi. input. Pengawas. keadilan. tanggungjawab. Outcome adalah hasil MBS jangka panjang. atau gabungan dari ketiganya. Tonggak-tonggak Kunci Keberhasilan MBS Untuk mengevaluasi keberhasilan MBS. makin besar perubahan (peningkatan/pengembangan) komponen-komponen tersebut dari sebelum dan sesudah melaksanakan MBS. pada umumnya digunakan analisis biaya-manfaat (cost-benefit analysis). Setiap tata pengelolaan harus dievaluasi apakah sebelum dan sesudah MBS ada perubahan tata pengelolaan sekolah. Tujuan utama monitoring dan evaluasi internal sekolah adalah untuk mengetahui tingkat kemajuan dirinya sendiri (sekolah) sehubungan dengan sasaran-sasaran yang telah ditetapkan. kepentingan akuntabilitas publik. memperbaiki sistem yang ada secara keseluruhan. Sedang yang dimaksud monitoring dan evaluasi eksternal adalah monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh pihak eksternal sekolah (external institution). transparansi. kaya-miskin. Untuk melakukan evaluasi ini. demokrasi. guru bimbingan dan penyuluhan. pelaksana monitoring dan evaluasi internal adalah warga sekolah sendiri yaitu kepala sekolah. Target-target tersebut bersumber dari pemerataan pendidikan (kesamaan kesempatan antara siswa-siswa desa-kota. meningkatkan iklim kompetisi antar sekolah. baik dampak individual (siswa). orangtua siswa. input. . proses. institusional (sekolah). 2. waktu) telah dicapai oleh MBS. kuantitas. proses. penegakan hukum. wawasan ke depan. dan outcome sekolah. Karena itu. berarti makin besar pula keberhasilan MBS. yang tidak kalah penting untuk dimonitor dan dievaluasi adalah pelaksanaan prinsip-prinsip MBS yang baik (tata pengelolaan yang baik.

Reynold. Bandung: PT. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Pada tahun 2014. Thousand . misalnya budi pekerti. rata-rata NUN sebuah SMP adalah 6.). 1996. Ditjen Mandikdasmen.A. dan tata kelola sekolah yang baik (good governance) yang meliputi: partisipasi. efektivitas dan efisiensi. efektivitas dan efisiensi pendidikan (angka kenaikan kelas. kepemimpinan. Jakarta: Logos. akuntabilitas. School-Based Management (Manajemen Berbasis Sekolah) (terjemahan: Noryamin Aini. cacat-tdak cacat. olimpiade. 2007. tonggak-tonggak kunci keberhasilan dibuat tabuler yang terdiri dari program-program strategis dan tonggak-tonggak kunci keberhasilan dari setiap program strategis.00 pada tahun 2014. dan sebagainya. contoh tonggak-tonggak kunci keberhasilan dapat diberikan sebagai berikut. Manajemen Berbasis Sekolah.laki-perempuan.80 pada tahun 2012. Misalnya. wawasan kedepan. Alexandria: Association for Supervision and Curriculum Development. E. Ibtisam Abu & Duhou. kualitas pendidikan (input. 2002. kepekaan. fasilitas. 60 pada tahun 2010. San Francisco: JosseyBass Publishers.70 pada tahun 2011. A. dan sebagainya. keadilan. Pada tahun 2009. 2004.) dan kualitas proses (proses belajar mengajar.50.Remaja Rosda. 6. tanggungjawab. transparansi. 6. Depdiknas (rujukan utama dari materi pelatihan ini). kesenian. proses. Jika target ini dirinci setiap tahun. dan 7. output). School-Based Management Organizing for High Performance. angka kelulusan. dan karya ilmiah remaja di samping kualitas input (guru. profesionalisme. 1997.90 pada tahun 2013. prediktif. Larry. dan kepastian jaminan hukum. angka putus sekolah. Pocket Guide to School-Based Management. Odden.Mulyasa. Sebaiknya. rata-rata NUN yang diharapkan dapat dicapai oleh SMP tersebut sebesar 7. dan 6. penegakan hukum. Dornseif. dan sebagainya. Successful Site-Based Management. dan sebagainya). NUN hanyalah salah satu tolok ukur kualitas sekolah dan masih banyak tolok ukur kualitas lainnya yang perlu dipertimbangkan. DAFTAR PUSTAKA Anonim. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama. prestasi olah raga. Suparto & Abas AlJauhari).).00. maka rata-rata NUN yang akan dicapai oleh sekolah adalah 6.1994. demokrasi.

. .. P. P.J. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. 1987). Robertson. California: Corwin Press... it will be because of the instructional leadership of the principal ….N. MATERI UJI KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH : KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN 09:12 Nurul Amaliah No comments Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook 1. and teacher evaluation (Hanny. Pengantar Pengaruh kepemimpinan pembelajaran (instructional leadership) terhadap peningkatan hasil belajar siswa sudah tidak diragukan lagi. Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep dan Kemungkinan Strategi Pelaksanaannya di Indonesia. h.77-107. 1989). A. Alexandria: Association for Supervision and Curriculum Development. the principal must be knowledgable about curriculum development. Inc. Juni Th. Manajemen Berbasis Sekolah dalam Mengembangkan dan Mewujudkan Budaya Mutu dalam Pendidikan. Cakrawala pendidikan. No. teachers and instructional effectiveness. Juni Tahun Ke-5. clinical supervision. Succesful School-Based Management. Effective principals are expected to be effective instructional leaders .017. Mereka menyimpulkan bahwa: If our schools are to improve. we must redefine and move instructional leadership to the forefront (Buffie..Oaks. Rutmini & Jiyono. 1999. staff development. Sejumlah ahli pendidikan telah melakukan penelitian tentang pengaruh kepemimpinan pembelajaran terhadap peningkatan hasil belajar. & Mohrman (1997). Zuldan K. h.V.XXII.179206..1992).Prasetyo & Slamet. 2003. (Findley. the principal’s role If a school is to be an effective one. Kirk.No.. Wohlstetter.

b. d. . c. layanan prima dalam pembelajaran. Melengkapi definisi-definisi tersebut diatas. asesmen (penilaian hasil belajar). yang pada gilirannya dapat memperbaiki prestasi belajar siswanya. Untuk lebih jelasnya. pertanyaannya adalah apa tujuan yang akan dicapai oleh kepemimpinan pembelajaran? Berikut akan diuraikan seperlunya tentang tujuan yang akan dicapai oleh penerapan kepemimpinan pembelajaran. e. Berdasarkan pengertian kepemimpinan pembelajaran tersebut. butir-butir penting kepemimpinan pembelajaran. penilaian serta pengembangan guru. Kepala sekolah melibatkan para pemangku kepentingan dalam pengambilan keputusan dan dalam kegiatan operasional sekolah sesuai dengan kemampuan dan batas-batas yuridiksi yang berlaku. Kepemimpinan pembelajaran atau kepemimpinan instruksional adalah kepemimpinan yang memfokuskan/menekankan pada pembelajaran yang komponenkomponennya meliputi kurikulum. karena hanya memfokuskan pada guru. Definisi ini kurang komprehensif.Dari kutipan-kutipan tersebut diatas dapat disarikan bahwa peningkatan hasil belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kepemimpinan pembelajaran. Kepala sekolah memberikan dukungan terhadap pembelajaran. misalnya dia mendukung bahwa pengajaran yang memfokuskan pada kepentingan belajar siswa harus menjadi prioritas. tujuan. Ahli lain. tetapi fokus dan ketajamannya masih berbeda-beda. maka kepemimpinan yang menekankan pada pembelajaran harus diterapkan. 2. berikut disampaikan arti kepemimpinan pembelajaran. Daresh dan Playco (1995) mendefinikan kepemimpinan pembelajaran sebagai upaya memimpin para guru agar mengajar lebih baik. berikut dibahas tentang arti. Kepala sekolah melibatkan para pemangku kepentingan dalam pengelolaan sekolah (manajemen partisipatif). Kepala sekolah mensosialisasikan dan menamkan isi dan makna visi sekolahnya dengan baik. Artinya. Petterson (1993). Kepala sekolah berperan sebagai fasilitator sehingga dengan berbagai cara dia dapat mengetahui kesulitan pembelajaran dan dapat membantu guru dalam mengatasi kesulitan belajar tersebut. Misalnya. dan kontribusi kepemimpinan pembelajaran terhadap hasil belajar. mendefinikan kepemimpinan pembelajaran yang efektif sebagai berikut: a. Definisi inipun masih parsial karena pembelajaran mencakup banyak hal yang sebagian belum tercakup didalamnya. jika hasil belajar siswa ingin dinaikkan. Dia juga mampu membangun kebiasaan-kebiasaan berbagi pendapat atau urun rembug dalam merumuskan visi dan misi sekolahnya. proses belajar mengajar. Kepala sekolah melakukan pemantauan terhadap proses belajar mengajar sehingga memahami lebih mendalam dan menyadari apa yang sedang berlangsung didalam sekolah. dan pembangunan komunitas belajar di sekolah. Arti Kepemimpinan Pembelajaran Walaupun telah banyak rumusan tentang arti kepemimpinan pembelajaran. pentingnya kepemimpinan pembelajaran. dan dia selalu menjaga agar visi dan misi sekolah yang telah disepakati oleh warga sekolah hidup subur dalam implementasinya.

integritas. fisika. Dengan kata-kata lain.Kurikulum (apa yang diajarkan) mencakup pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang meliputi kegiatan perumusan visi. perbekalan. musik. penggunaan media pembelajaran dan fasilitas belajar lainnya. energi. Penilaian kinerja guru dan pengembangan profesinyajuga merupakan prioritas kepemimpinan pembelajaran. Daya pisik meliputi kesehatan. transportasi. misi. meningkat motivasi belajarnya. Ilmu pengetahuan keras meliputi metematika. inovasinya. kejujuran. Tujuan Kepemimpinan Pembelajaran Tujuan utama kepemimpinan pembelajaran adalah memberikan layanan prima kepadasemua siswa agar mereka mampu mengembangkan potensi kualitas dasar dan kualitas instrumentalnya untuk menghadapi masa depan yang belum diketahui dan sarat dengan tantangan-tantangan yang sangat turbulen. dan berpikir sistem. kerjasama. pengelolaan kelas. misi. repek kepada orang lain. 3. baik sumberdaya manusia maupun sumberdaya selebihnya yaitu peralatan. kriya. kimia. Pentingnya Kepemimpinan Pembelajaran Kepemimpinan pembelajaran sangat penting untuk diterapkan disekolah karena seperti disebut sebelumnya bahwa kepemimpinan pembelajaran berkontribusi sangat signifikan terhadap peningkatan prestasi belajar siswa. Proses belajar mengajar meliputi penyusunan silabus. dan rupa. kerendahan hati. kreatif. Kualitas instrumental meliputi penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni. perlengkapan. Teknologi meliputi teknologi konstruksi. bio. meningkat kepuasan belajarnya. inovatif. kesopan santunan. manufaktur. dan pelaporan. pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran. dan pemotivasian siswa. Kepemimpinan pembelajaran penting diterapkan di sekolah karena kemampuannya dalam membangun komunitas belajar warganya dan bahkan mampu menjadikan sekolahnya sebagai sekolah belajar (learning school). Ilmu pengetahuan dapat digolongkan menjadi ilmu pengetahuan lunak (sosiologi. lateral. ketahanan. Kepemimpinan pembelajaran mampu memberikan dorongan dan arahan terhadap warga sekolah untuk meningkatkan prestasi belajar siswanya. kualitas dasar meliputi kualitas daya pikir. kestaminaan. Kepemimpinan pembelajaran juga mampu memfokuskan kegiatan-kegiatan warganya untuk menuju pencapaian visi. kreativitasnya. tari. dan yang sejenis). dan kesatuan serta persatuan (terlalu banyak untuk disebut semuanya). tujuan kepemimpinan pembelajaran adalah untuk memfasilitasi pembelajaran agar siswanya meningkat prestasi belajarnya. biologi. metode evaluasi. pendidikan. demokrasi. kedisiplinan. deduktif. ilmiah. ekonomi. dan tujuan sekolah. dan uang. toleransi. Menurut Slamet PH (2001). dan pembuatan kalender. dan tujuan sekolah. pemilihan metode mengajar dan metode belajar. bahan. perdamaian. dan astronomi. dan keterampilan. dan daya pisik/raga. empati. . telekomunikasi. meningkat keingintahuannya. Seni terdiri dari seni suara. Asesmen (evaluasi hasil belajar) meliputi aspek yang di evaluasi. pengembangan struktur dan muatan kurikulum. 2. daya hati. politik. Upayaupaya ini memerlukan dukungan sumberdaya pendidikan. pemilihan buku pelajaran. pengembangan bahan ajar. dan bahan. Daya pikir meliputi cara-cara berpikir induktif. Daya hati (qolbu) meliputi kasih sayang. kepemimpinan pembelajaran mengutamakan layanan prima terhadap pembelajaran siswa sertamembangun warga sekolahnya menjadi komunitas pembelajaran. jiwa kewirausahaannya. dan meningkat kesadarannya untuk belajar secara terus-menerus sepanjang hayat karena ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni berkembang dengan pesat. kritis. dan tidak kalah penting. tanggungjawab. antroplogi.

dan 5) menghindari mencari kambing hitam atas ketidaksuksesan. Butir-butir Penting Kepemimpinan Pembelajaran Butir-butir penting kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran dapat dituliskan sebagai berikut: a. administrator. enterpreneur. dan penilaian hasil belajar siswa kurang mendapatkanperhatian. b. menerapkan peran kepemimpinan sekolah lebih cenderung sebagai pelayan dari pada sebagai penguasa/bos. manager. berpikir dan berperilaku positif untuk maju. mutu proses belajar mengajar sangat berpengaruh terhadap peningkatan kualitas siswa dan kualitas sekolah secara keseluruhan. mengelola adalah sebagian dari kepemimpinan. kurang memperoleh porsi yang selayaknya. mengajak warga sekolahnya untuk menjadikan sekolahnya berfokus pada layanan siswa. mengajak warga sekolahnya untuk berpikir sistem. proses belajar mengajar. dan lincah/cepat tanggap terhadap pelanggan utama yaitu siswa). dan kegiatan-kegiatan lain yang bersifat non-akademis sehingga waktu untuk mempelajari pembaruan/inovasi kurikulum. cerdas. dan leader. 3) menggalang sumber daya masyarakat untuk kepentingan siswa. 2) mendorong tanggung jawab seluruh mitra kerja atau pemangku kepentingan. supervisor. motivator. dinamis. 4. mendorong kemandirian setiap warga sekolahnya. Melaksanakan tanggung jawab secara akuntabel: 1). dan mengajak warga sekolahnya untuk melakukan perbaikan secara terus-menerus. Kepala sekolah mempunyai sejumlah peran yang harus dimainkan secara bersama. pertemuan-pertemuan. Peran-peran yang yang lain bukan tidak penting. Kepala sekolah disibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan rutin yang bersifat administratif. harmonis. akan tetapi peran kepemimpinan pembelajaran harus yang terpenting. Memahami peran kepala sekolah yang perlu dikembangkan: 1). antara lain mencakup educator.Sekolah belajar (learning school) memiliki perilaku-perilaku sebagai berikut: memberdayakan warga sekolah seoptimal mungkin. 2). dan menghindari gaya kepemimpinan yang kaku. mengajak warga sekolahnya untuk siap dan akrab menghadapi perubahan. dan 3) mengembangkan gaya kepemimpinan yang luwes dan gaya bicara yang enak. mengajak warga sekolahnya untuk komitmen terhadap keunggulan mutu. mendorong teamwork yang (kompak. memfasilitasi warga sekolah untuk belajar terus dan belajar ulang. . 4) membantu siswa agar sukses dalam belajarnya. yang pada gilirannya. membangun komunitas belajar di sekolah untuk kesuksesan siswa. memberi kewenangan dan tanggungjawab kepada warga sekolahnya. Untuk itu. mendorong warga sekolah untuk akuntabilitas terhadap proses dan hasil kerjanya. sudah selayaknya peran kepemimpinan pembelajaran memperoleh porsi waktu yang lebih besar dibanding dengan peran-peran yang lain. ketiga hal yang terakhir sangat erat kaitannya dengan peningkatan mutu proses belajar mengajar. Peran kepala sekolah sebagai leader (pemimpin) dan spesifiknya sebagaiinstructional leader. Padahal.

dia akan membuat anda tetap aktif. dan 9) memfasilitasi kelompok kerja berdasarkan kepemimpinan pembelajaran. seharusnya. 4) menjadi orang nomor satu sebagai model pembelajar sepanjang hayat dengan membangun masyarakat pembelajar disekolah. b. d. menjadi pengarah terhadap tercapainya tujuan sekolah. 3) memandang kesalahan sebagai kesempatan untuk belajar. dan dapat dipelajari oleh siswa. 2) menjadi pendukung yang jelas. Selalu mempertahankan: 1). 7) mengkomunikasikan keinginan kuat anda untuk berhasil kepada guru dan siswa dalam bentuk kata-kata dan tindakan. maka sejumlah pertanyaan berikut harus dijawab dengan tepat: a. apa yang harus. mawas diri dan berkembang. . Jika sekolah ingin menjadi sekolah yang efektif pembelajarannya. 3) merangkul perubahan sebagai teman. 8) menerjemahkan visi sekolah ke dalam kegiatan harian.c. membimbing orang lain dan memberi kontribusi terhadap orang lain berdasarkan profesi yang dimiliki. para pembaca sangat disarankan untuk melakukan refleksi dan bahkan menjawab sejumlah pertanyaan berikut untuk mengetahui tingkat kesiapan anda sebagai pemimpin pembelajaran. Berikut adalah sejumlah pertanyaan yang seyogyanya anda pikirkan sebagai pemimpin pembelajaran. 5) selalu mengasah peran anda sebagai kepemimimpinan pembelajaran 6) menyediakan waktu untuk rajin mengunjungi kelas. 2) mencari cara-cara untuk mengembangkan diri sendiri. selalu membaca diri dan melakukan refleksi. dan 4) gembira dalam bekerja. anda akan terbantu dalam memfokuskan pikiran dan pengambilan keputusan tentang pembelajaran yang seharusnya anda dukung. Mengerjakan sesuatu dengan professional: 1). Pertanyaan-pertanyaan berikut juga akan membantu anda dalam mengembangkan visi pembelajaran yang lebih baik agar kepemimpinan pembelajaran yang anda terapkan benar-benar berdampak positif terhadap pembelajaran. Dengan menjawab sejumlah pertanyaan berikut. Pengukuran tingkat keberhasilan visi kepemimpinan pembelajaran sangat diperlukan. Untuk itu. bagaimana caranya siswa itu belajar.

f. atau memperbaharui dan merevisi program tersebut. k. dimana kepala sekolah menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah dan apa yang dilakukannya di tempat itu. apa yang harus diajarkan. siapa yang memutuskan penerapan program baru. t. r. bagaimana cara mengajarnya. dimana wakil kepala sekolah menghabiskan sebagian besar waktunya dan apa yang dilakukannya. s. seperti apa proses pembelajaran berjalan (diskripsikan sesuatu yang anda impikan dalam sebuah sekolah dimana proses belajar mengajar terjadi secara ideal). e. bagaimana partisipasi orangtua dalam kegiatan belajar siswa. bagaimana cara menyelenggarakn rapat yang berhubungan dengan pembelajaran. siapa yang melakukan penilaian keberhasilan siswa dan bagaimana caranya. siapa penyelenggara evaluasi guru. apa keyakinan guru-guru tentang peserta didik dan kegiatan belajar. p. l. m. bagaimana iklim sekolah merefleksikan pentingnya proses pembelajaran. bagaimana pendapat anda. apa proses yang digunakan untuk menentukan jadwal dan organisai sekolah. Untuk menjawab 22 pertanyaan tersebut di atas. apa tujuan utama penelaian guru tersebut. u. g. maka tentukan apa kebutuhan siswa. o. dengan apa mengajarnya. d. j. bagaimana dan siapa yang membuat keputusan tentang kurikulum dan pengajaran. apa saja agenda utama rapat sekolah yang berhubungan dengan pembelajaran.c. bagaimana caranya kinerja guru dievaluasi dan apa saja yang dinilai. q. dan v. untuk siapa dan bagaimana cara menilainya. jika tujuan utama sekolah adalah menciptakan pembelajaran yang efektif. melaksanakannya. kapan seharusnya diajarkan. i. dan apakah tujuan pengajaran sudah tercapai atau belum (Elaine Mc Evan (2001). bagaimana menentukan isi dan hakekat pengembangan staf oleh siapa. keberhasilan peserta didik sangat erat hubungannya dengan evaluasi terhadap guru. h. gunakanlah indikator kunci dari keefektifan kepala sekolah dalam membangun dan menerapkan tujuan-tujuan pembelajaran sebagai berikut: a. bagaimana bentuk jadwal dan organisasi sekolah agar merefleksikan optimalisasi belajar siswa. lakukanlah komunikasi dengan staf sehubungan dengan pencapaian standar dan peningkatan tujuan sekolah . kriteria penilaian guru ditentukan oleh siapa. n.

penekanan-penekanan apakah yang dituntut oleh kurikulum? c. dan menjadikan pembelajaran sebagai fokus utama kegiatan sekolah. untuk itu bagaimana cara mengajarkannya dan bagaimana pula mengurutkan materinya secara hirarkis? b. peningkatan sekolah dicapai melalui proses pemecahan masalah. c. apakah standar kompetensi dapat dicapai dengan baik oleh siswa. mengenal secara pribadi tentang tingkat profesionalisme masing-masing guru sebagai dasar untuk mencapai tujuan utama sekolah. menilai moral dan komitmen warga sekolah. dan sumber-sumber apa saja yang harus diterapkan pada pembelajaran tersebut? d. dan . materi. Lima hal penting yang dimaksud meliputi: a. Sehubungan dengan fungsi iklim sekolah. mencegah sekolah terhadap tekanan beban yang tidak perlu. d. Hal ini dapat dilakukan secara pribadi oleh masingmasing guru melalui jawaban-jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan berikut: a. berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengajarkan standar kompetensi yang dimaksud? Pembelajaran dan pencapaian keberhasilan siswa hendaknya selalu dianalisis secara berkelanjutan dan direfleksikan serta dikembangakan secara berkelanjutan sebagai bagian dari kehidupan sekolah. pembelajaran merupakan prioritas utama. dan e. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Glathhorn (1993). yakinkanlah kegiatan-kegiatan kelas secara individu dan sekolah selalu konsisten dengan standar yang telah ditetapkan oleh pusat dan daerah d. b. ada keyakinan bersama untuk mencapai tujuan. mengkomunikasikan kepada staf tentang harapan yang tinggi terhadap pencapaian hasil belajar siswa. guru dan siswa diyakinkan dapat mencapainya. Kegiatan semacam ini harus dibudayakan di sekolah. sekolah sebagai komunitas kolaboratif dan komunitas belajar. gunakan bermacam-macam sumber data baik kualitatif maupun kuantitatif untuk mengevaluasi kemajuandan merencakan peningkatan lebih lanjut Jika pembelajaran dirancang sesuai dengan kebutuhan siswa. d. strategi.b. rujuklah standar isi yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat dan daerah untuk melaksanakan program-program pengajaran di sekolah c. ditemukan lima hal yang dianggap penting dalam membentuk budaya sekolah yang dapat melatih siswa dalam mencapai keberhasilan belajar dan juga iklim sekolah yang sehat. perilaku kepala sekolah berikut paling banyak diidentifikasi oleh guru-guru dari sekolah yang mempunyai pencapaian prestasi akademik tinggi: a. b. c. seluruh warga sekolah apakah itu kepala sekolah. maka prestasi belajar siswa akan meningkat secara signifikan.

mengetahui tentang penelitian pendidikan. d. mengetahui dan mampu menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran yang baik. cek secara berkala kesesuaian. membangun lingkungan sekolah yang aman. meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa semua siswa dapat belajar dan sekolah membuat perbedaan antara yang berhasil dan yang gagal. menekankan pentingnya penelitian bagi perbaikan sekolah. dan persiapkan serta monitor kegiatan-kegiatan pengembangan guru. j. dan . dan publikasikan kepada para guru agar mereka dapat melihat kesenjangan antara standar yang telah ditetapkan dengan kinerja yang dicapai oleh siswa. k. c. milikilah harapan yang tinggi terhadap seluruh guru untuk melaksanakan pembelajaran dengan standar yang tinggi melalui kesepakatan model yang dibuat bersama oleh guru. e. fokuskan kegiatan supervisi untuk meningkatkan pembelajaran. tertib. b. i. lakukan kunjungan kelas untuk mengamati pembelajaran. tetapkan harapan atau target kualitas kurikulum melalui penggunaan standar dan petunjukpetunjuk yang diberikan. sikap. mencari program-program yang inovatif. amati. menyebarluaskan praktik-praktik proses belajar mengajar yang efektif terhadap guru-guru lain. mencari. f. termasuk penekanan terhadap penting dan berharganya pencapaian yang tinggi terhadap kemampuan berbicara dan menulis. dan menerapkannya dalam pemecahan masalah. memiliki pemahaman yang jelas terhadap visi dan misi sekolah dan mampu menyatakannya secara langsung. laboratorium pendidikan wilayah North West USA memperbaharui keefektifan pelaksanaan pembelajaran di sekolah yang akhirnya menjadi rujukan luas dari hasil penelitian tersebut. g. merekrut. dan disiplin. urun rembuk. Kontribusi Kepemimpinan Pembelajaran terhadap Hasil Belajar Pada tahun 1995. cek kemajuan siswa secara berkala berdasarkan data kinerja yang ada. menegaskan bahwa belajar sebagai alasan utama terhadap keberadaan seseorang disekolah. melalui penelitiannya. dan menggaji anggota staf yang mendukung visi dan misi sekolah dan berkontribusi terhadap keefektifannya. kurikulum dengan pembelajaran dan penilaian. dalam ungkapan yang konkrit. guru. 5. tetapkan kegiatan kurikulum yang diprioritaskan. h. yang meliputi halhal berikut: a.e. 1995). Menurut sintesis penelitian yang dilakukan diperoleh hasil bahwa perilaku kepala sekolah (pemimpin pembelajaran). dan monitor pelaksanaan kurikulum. dan libatkan staf untuk berpartisipasi dalam mengadopsi dam mengadaptasi program tersebut. dan staf memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap peningkatan efektivitas pembelajaran di sekolah. membangun dan memfokuskan pembelajaran sebagai sumber penyatuan berpikir. Penelitian tersebut menghasilkan daftar perilaku kepala sekolah yang terbaik dalam mengarahkan dan membimbing program pembelajaran di sekolah (Cotton. dan tindakan warga sekolah.

dan pendekatan-pendekatan baru. Setelah mengajar selama beberapa tahun. Perencanaan dilakukan secara detail berdasarkan format dan ceklist yang sudah ada. A. proses belajar mengajar. Berkolaborasi secara regular dengan wakil kepala sekolah dan koordinator guru untuk memonitor kebutuhan murid dan menentukan strategi dan bahan ajar yang tepat dalam rangka mengoptimalkan potensi guru dan murid. Beth juga aktif dalam KKG dan juga kuliah di sebuah universitas dalam pasca sarjana pendidikan pada malam hari untuk meningkatkan kompentensinya sebagai pendidik. 1. Tujuan yang hendak dicapai adalah setiap murid dan guru mendapatkan pengalaman pendidikan yang positif dan optimal di sekolah. dan bertindak sebagai pemimpin pembelajaran. harus dilaksanakan dengan baik. Sehingga dapat dilihat bahwa dinding kantor Beth seperti pusat startegi komando yang penuh dengan data pencapaian murid dan data performa guru dan grafik kurikulum. B. bersikap. Studi Kasus Beth memulai profesi pendidik sebagai guru ilmu pengetahuan alam di sebuah SMP. Tujuan utama kepemimpinan pembelajaran adalah memberikan layanan prima kepadasemua siswa agar mereka mampu mengembangkan potensi kualitas dasar dan kualitas instrumentalnya untuk menghadapi masa depan yang belum diketahui dan sarat dengan tantangan-tantangan yang sangat turbulen. . strategi peningkatan yang sistematis.murid dan guru tentang tujuan belajar. Butir-butir penting kepemimpinan pembelajaran menyarankan bahwa kepemimpinan pembelajaran akan berjalan dengan baik apabila didukung oleh: (a) figur (kepala sekolah) yang mampu berpikir. Sebagai patokan dalam penerapan instructional leadership. (b) kultur 2. prioritas kegiatan yang jelas. Rangkuman Kepemimpinan pembelajaran adalah kepemimpinan yang memfokuskan/menekankan pada pembelajaran yang unsur-unsurnya meliputi kurikulum. Keahlian dalam bidang instruksional dan pengetahuan dalam bidang kurikulum adalah pondasi yang kuat dalam melakukan penerapan instructional leadership dalam sekolahnya. dan pembangunan komunitas belajar di sekolah. Beliau melakukan observasi kelas secara reguler untuk mengetahui proses belajar mengajar. Beliau berdiskusi bersama murid. komunikasikan harapan anda bahwa program pembelajaran yang telah disepakati sesuai dengan rencana. Beth dipercaya menjadi seorang kepala sekolah. Dimana dalam perencanaan Beth melakukan penilaian terhadap kondisi sekolah yang dihadapi pada saat itu. layanan prima dalam pembelajaran. Berawal dari seorang guru yang kompeten.l. Kepemimpinan pembelajaran sangat penting untuk diterapkan disekolah karena kepemimpinan pembelajaran berkontribusi sangat signifikan terhadap peningkatan prestasi belajar siswa. 4. penilaian serta pengembangan guru. sehingga dapat mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan setiap kelas. 3. Rencana dalam penerapan konsep instruksional leadership melibatkan diri sendiri terlebih dahulu. maka Beth mendesain posisi kepala sekolah yang diembannya berdasarkan kekuatan yang dimiliki. asesmen (penilaian hasil belajar).

. Elaine and B. Glatthorn. & Steffy. Resnicl.Playko. dan (c) sistem (struktur) yang utuh dan benar. OBE Reform and the Curriculum Process.10 . Shaping School Culture: The Heart of Leadership. B. Supervision as a Proactive Process.pembelajaran yang dikembangkan melalui pembangunan komunitas belajar di sekolah. Perilaku kepala sekolah (pemimpin pembelajaran).UNDEFINED TEKNIK-TEKNIK SUPERVISI AKADEMIK Satu di antara tugas kepala sekolah adalah melaksanakan supervisi akademik. T.W. F. Developing Principals as Instructional Leaders. TEKNIK-TEKNIK SUPERVISI AKADEMIK POSTED BY EATHEWIN ON SEPTEMBER . English. guru.E. VA. dan karyawan berkontribusi yang sangat signifikan terhadap peningkatan efektivitas pembelajaran di sekolah. Untuk melaksanakan supervisi akademik secara efektif diperlukan keterampilan konseptual. interpersonal dan teknikal (Glickman. and Peterson. Deal.doc vlb 3/21/07 Fink.E. DAFTAR PUSTAKA Daresh. at al. California: Sage Publication. 4. Guston. CA. Journal of Curriculum and Supervision. 5.1993. 2002.R. Waveland press. 1998.. K. A.. 8. pp. Arlington. 1995. 354-363 Hoyle. Marshal A. San Fransisco. Sandra Lee.A. Jossey Bass Publishers. F:\Mary Jo\Education Leadership Redesign Commission\Tennessee Standards for Instructional Leaders Packet. Lauren (2003). John C. 199. The Instructional Leadership toolbox: A Handbook for Improving Practice. Oleh sebab itu. setiap Kepala sekolah harus . Skills for Successful Leaders (2nd Edition). American association of School Administrators.D. 2007). J.

1961). sasaran. Teknik supervisi akademik ada dua yaitu: individual dan kelompok seperti gambar berikut. a. Supervisor di sini hanya berhadapan dengan seorang guru. Kunjungan Kelas. supervisor mengamati jalannya proses pembelajaran berlangsung. supervisor merencanakan waktu. Teknik Supervisi Individual Teknik supervisi individual adalah pelaksanaan supervisi perseorangan terhadap guru. Pada tahap ini. Teknik supervisi individual ada lima macam adalah sebagai berikut. (2) tahap pengamatan selama kunjungan. ( Classroom Visitation ) Kepala sekolah atau supervisor datang ke kelas untuk mengobservasi guru mengajar. dan cara mengobservasi selama kunjungan kelas. untuk melihat apa kekurangan atau kelemahan yang sekirannya perlu diperbaiki. Teknik Supervisi 1. Dari hasil supervisi ini dapat diketahui kualitas pembelajaran guru bersangkutan. Tahap-tahap kunjungan kelas terdiri dari empat tahap yaitu: (1) tahap persiapan. .memiliki keterampilan teknikal berupa kemampuan menerapkan teknik-teknik supervisi yang tepat dalam melaksanakan supervisi akademik. Gambar 5. Teknik-teknik supervisi akademik meliputi dua macam. Pada tahap ini. Dengan kata lain. yaitu: individual dan kelompok (Gwyn.

Pelaksanaan observasi melalui tahap: persiapan. Tujuannya adalah: (1) mengembangkan perangkat pembelajaran yang lebih baik. Kunjungan observasi dapat dilakukan di sekolah sendiri atau dengan mengadakan kunjungan ke sekolah lain. menguasai masalah dan tujuan supervisi. aspekaspek yang diobservasi adalah: (1) usaha-usaha dan aktivitas guru-siswa dalam proses pembelajaran. (2) Office-conference. (1) Classroom-conference. supervisor bersama guru mengadakan perjanjian untuk membicarakan hasil-hasil observasi. b. Pada tahap ini. dan (6)reaksi mental para siswa dalam proses belajar mengajar. c. dan (3) memperbaiki segala kelemahan dan kekurangan pada diri guru Swearingen (1961) mengklasifikasi empat jenis pertemuan (percakapan) individual sebagai berikut. pelaksanaan. Pertemuan Individual Pertemuan individual adalah satu pertemuan. (2) cara menggunakan media pengajaran.(3) tahap akhir kunjungan. (3) variasi metode. dialog. Kunjungan Observasi ( Observation Visits ) Guru-guru ditugaskan untuk mengamati seorang guru lain yang sedang mendemonstrasikan cara-cara mengajar suatu mata pelajaran tertentu. Dalam rangka melakukan observasi. Secara umum. di mana sudah dilengkapi dengan alat-alat bantu yang dapat digunakan untuk memberikan penjelasan pada guru. .penilaian hasil observasi. yaitu percakapan individual yang dilaksanakan di dalam kelas ketika murid-murid sedang meninggalkan kelas (istirahat). seorang supervisor hendaknya telah mempersiapkan instrumen observasi. penutupan. (4) ketepatan penggunaan media dengan materi. (5) ketepatan penggunaan metode dengan materi. percakapan. dan (4) tahap terakhir adalah tahap tindak lanjut. (2) meningkatkan kemampuan guru dalam pembelajaran. dan tukar pikiran antara supervisor dan guru.dan tindak lanjut. yaitu percakapan individual yang dilaksanakan di ruang kepala sekolah atau ruang guru.

Hal yang dilakukan Supervisor dalam pertemuan individu :  berusaha mengembangkan segi-segi positif guru. dan analisis kemampuan kinerja guru. Kemudian guru diberikan layanan supervisi sesuai dengan . Tujuannya adalah untuk berbagi pengalaman dalam pembelajaran. Supervisi Kelompok Teknik supervisi kelompok adalah satu cara melaksanakan program supervisi yang ditujukan pada dua orang atau lebih. dan pemberian tugas-tugas tertentu.  mendorong guru mengatasi kesulitan-kesulitannya. dengan menyesuaikan pada situasi dan kondisi yang dihadapi. (5) Supervisor hendaknya mengikuti acara ini dengan pengamatan yang cermat. Guru-guru yang yang akan disupervisi berdasarkan hasil analisis kebutuhan. kemudian dikelompokan berdasarkan kebutuhan guru.(3) Causal-conference. (1) Jadwal kunjungan harus direncanakan. (3) Tentukan guru-guru yang akan mengunjungi (4) Sediakan segala fasilitas yang diperlukan. Kunjungan Antar Kelas Kunjungan antar kelas adalah guru yang satu berkunjung ke kelas yang lain di sekolah itu sendiri. (6) Adakah tindak lanjut setelah kunjungan antar kelas selesai? misalnya dalam bentuk percakapan pribadi. (8) Adakan perjanjian-perjanjian untuk mengadakan kunjungan antar kelas berikutnya. yaitu percakapan individual yang bersifat informal.  memberikan pengarahan. Cara-cara melaksanakan kunjungan antar kelas adalah sebagai berikut. (7) Segera aplikasikan ke sekolah atau ke kelas guru bersangkutan. penegasan. yang dilaksanakan secara kebetulan bertemu dengan guru (4) Observational visitation. 2. d. dan  menyepakati berbagai solusi permasalahan dan menindaklanjutinya. (2) Guru-guru yang akan dikunjungi harus diseleksi. yaitu percakapan individual yang dilaksanakan setelah supervisor melakukan kunjungan kelas atau observasi kelas.

dalam hal ini rapat-rapat yang diadakan dalam rangka kegiatan supervisi. Seorang kepala sekolah menjalankan tugasnya berdasarkan rencana yang telah disusun. supervisor atau kepala sekolah memberikan pengarahan. misalnya penataran untuk guru bidang studi tertentu. (1) Mengadakan pertemuan atau rapat (meeting). dan rapat dengan pihak luar sekolah. bimbingan. Rapat tersebut antara lain melibatkan KKG. Di dalam setiap diskusi. Teknik ini dilakukan melalui penataranpenataran. MGMP. terdapat beberapa kegiatan yang dapat dilakukan antara lain adalah sebagai berikut. Diskusi kelompok dapat diadakan dengan membentuk kelompok-kelompok guru bidang studi sejenis. (3) Mengadakan penataran-penataran (inservice-training). (2) Mengadakan diskusi kelompok (group discussions). Mengingat bahwa penataran pada umumnya diselenggarakan oleh pusat atau wilayah. Dalam teknik supervisi kelompok. Termsuk mengadakan rapat-rapat secara periodik dengan guru-guru. nasihat-nasihat dan saran-saran yang diperlukan. Sumber : Materi Pelatihan Penguatan Kemampuan Kepala Sekolah modul SUPERVISI AKADEMIK PUSAT PENGEMBANGAN TENAGA KEPENDIDIKAN BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN DAN PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL 2011 . maka tugas kepala sekolah adalah mengelola dan membimbing pelaksanaan tindak lanjut (follow-up) dari hasil penataran.permasalahan atau kebutuhan yang diperlukan.