PROGRAM INOVATIF SEKOLAH

PROGRAM INOVATIF SEKOLAH Oleh Suparlan *) Mereka yang berfikiran hebat membicarakan ide-ide. Mereka yang berfikiran sedang membicarakan peristiwa-peristiwa. Mereka yang berfikiran sempit membicarakan orang lain (Eleanor Roosevelt, 1884 – 1962, mantan first lady AS) Inovasi membedakan antara pemimpin dan pengekor (Steve Jobs, pendiri Apple Computer) Innovation is change that creates a new dimension of performance (Peter Drucker: Hesselbein, 2003) Innovation is the creation of the new or the re-arranging of the old in a new way (Michael Vance)

Kita sekarang akan mencoba menjadi orang yang berfikiran hebat. Siapa takut? Kita sedang membicarakan ide-ide atau gagasangagasan, bukan membicarakan fakta-fakta saja, apalagi membicarakan orang lain. Gagasan apa saja itu? Tentang program inovatif sekolah. Benar sekali. Tapi, gagasan-gagasan yang akan ditulis ini mungkin saja memang bukan benar-benar baru bagi sekolah tertentu. Namun sekolah yang lain mungkin dapat menjadi sesuatu yang sangat berharga. Memang, gagasan baru juga harus semua komponennya harus baru. Gagasan baru itu bisa jadi dari gagasan yang sudah lama, yang kemudian diperbaiki, disempurnakan dengan memperbaiki satu atau beberapa elemennya, sehingga menjadi lebih baik dan bermanfaat. Itu pun sudah dapat disebut sebagai apa yang dikenal dengan inovasi. Innovation is the creation of the new or the re-arranging of the old in a new way (Michael Vance) Tulisan ini akan mencoba membahas tentang program sekolah yang dapat dinilai inovatif. Peter Drucker menjelaskan kepada kita bahwa inovasi sesungguhnya adalah perubahan yang menciptakan satu dimensi baru kinerja organisasi. Dalam hal ini, kinerja lembaga pendidikan sekolah. Pemberdayaan Kelompok Kerja Guru (KKG) dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sungguh, kita harus malu dengan peringkat ke empat di Pesta Olahraga Asia Tenggara. Kita telah jauh ketinggalan dari negara Thailand. Bahkan juga ketinggalan dari Vietnam. Kondisi ini juga tampak dari Human Development Index (HDI) Indonesia yang berada di bawah Vietnam. Padalah dahulu, dalam acara olahraga yang bergengsi ini kita selalu unggul. Boleh dikatakan bahwa negara yang lain berebut pada urutan kedua. Boleh jadi semua itu terjadi memang karena dampak negatif dari krisis multidimensional yang masih belum sepenuhnya usai. Namun, banyak orang yang meneropongnya dari faktor kemunduran dunia pendidikan kita. Dengan demikian, maka sumber masalahnya adalah lembaga pendidikan sekolah. Program peningkatan kompetensi SDM secara terencana dan berkelanjutan memang harus dimulai di lembaga pendidikan sekolah. Setelah lembaga pendidikan keluarga, maka lembaga pendidikan sekolah harus menjadi tempat yang strategis untuk dapat meningkatkan kompetensi SDM yang handal. Untuk dapat membangun SDM yang handal, kita tidak bisa hanya melakukan yang biasa-biasa saja. Juga tidak hanya dengan program-program yang biasa. Kita harus melakukan hal yang luar biasa. Dengan kata lain, kita harus melakukan hal-hal yang inovatif. Lembaga pendidikan sekolah harus merancang berbagai program yang inovatif. Pemberdayaan KKG dan MGMP harus dapat digunakan sebagai wahana yang efektif untuk dapat meningkatkan kompetensi guru di sekolah. Program Pemberian Susu dan Makanan Tambahan Di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur, Malaysia, sebagai ilustrasi, sebagaimana juga di sekolah-sekolah lain di tanah air, para siswa harus mengikuti upacara bendera di sekolah. Dalam beberapa kali upacara bendera, ketika pembina upacara menyampaikan

pidatonya, atau ketika bendera merah putih dinaikkan beberapa anak jatuh pingsan. Selidik punya selidik, masalah ini terjadi karena banyak anak-anak yang tidak sarapan pagi. Bukan hanya itu, ada kemungkinan mereka juga mengalami kekurangan gizi dan dehidrasi. Penemuan tentang rendahnya kebugaran jasmani, kesehatan, dan gizi anak-anak kita perlu mendapatkan perhatian kita semua. Hal ini sama sekali berbanding terbalik dengan keadaan peserta didik di Negeri Cina. Para siswa di sekolah yang cukup luas di negeri tirai bambu itu diwajibkan selalu melakukan olahraga dalam cabang olahraga yang mereka suka. Semua fasilitas olahraga telah disediakan, dan setiap harinya mereka harus melakukan olahraga sesuai dengan hobinya. Hasilnya? Stamina olahragawan dari negeri tirai bambu itu sangat luar biasa. Mereka yang suka berolahraga memiliki kecerdasan fisikal atau kecerdasan ragawi atau kecerdasan yang dikenal dengan bodily kinestetics yang tinggi. Termasuk di dalamnya adalah senam dan menari dengan olah tubuh yang penuh dengan rima dan irama itu. Kalau pun negeri kita pada saaat ini masih mengalami kesulitan untuk mencari sebelas pemain sebak bola, karena selalu keok dalam arena pertandingan olah raga yang bergengsi ini, maka masalahnya tidak lain dan tidak bukan adalah karena kecerdasan fisikal generasi muda kita yang masih rendah. Selain itu, asupan gizi generasi muda kita masih di bawah rata-rata anak-anak di dunia. Jika negeri ini masih juga mengalami masalah mahalnya susu untuk tumbuh kembang anak-anak kita, negeri adidaya Amerika Serikat telah jauh memikirkan pentingnya makan siang anak-anak sekolah melalui program makan siang anak-anak usia sekolah melalui National School Lunch Program Act yang telah ditandatangani oleh Presiden Truman pada tahun 1946. Bahkan pada tanggal 14 Oktober 1940, pemerintah Amerika Serikat juga telah mengeluarkan program susu sekolah ( school milk program). Rupanya, DPR kita masih sibuk dengan urusan politik ketimbang dengan urusan makan siang anak-anak. Nah apa yang harus diprogramkan oleh sekolah untuk mengatasi itu semua? Pemberian bubur kacang hijau, susu, dan makanan bergizi lainnya secara rutin sudah tentu menjadi kegiatan yang sangat berguna bagi anak-anak kita. Jangan biarkan anak-anak kita membiasakan jajan di tepi-tepi pagar sekolah, yang dari aspek kesehatan dan gizinya tidak dapat kita pertanggungjawabkan. Penciptaan Lingkungan Sekolah Yang Sehat Program ini sangat terkait dengan program sebelumnya. Pertama, program yang harus dibenahi adalah kantin sekolah. Ciptakan kantin sekolah yang hiegenis dengan jenis makanan yang bergizi. Kedua, citakan lingkungan sekolah yang bersih, rindang, dan indah. Program 7K perlu digalakkan lagi, bukan hanya secara seremonial belaka, tetapi harus menyentuh perubahan kebiasaan para penghuninya. Memasang papan bertuliskan ”LINGKUNGAN BEBAS ROKOK” merupakan satu gebrakan yang dapat dilakukan. Tulisan-tulisan lain, seperti ”TARUH SAMPAH PADA TEMPATNYA”, atau ”CUCI TANGAN SEBELUM MAKAN”, atau ”KESEHATAN SEBAGIAN DARI IMAN” dapat diharapkan dapat mengisi nurani anak-anak kita yang masih putih itu. Lomba kebersihan dan keindahan kelas dapat diadakan pada saat momen-momen tertentu, misalnya peringatan hari besar nasional dan agama, atau peringatan hari lahir sekolah. Talent Scouting Bibit Olahraga dan Seni Pembinaan olahraga memang menjadi tugas utama guru olahraga dan keshatan. Tetapi, program pembinaan olahraga secara teroganisasi di sekolah sudah barang tentu menjadi tanggung jawab semua komponen sekolah. Di samping olahgara rekreasi, pencatatan secara rutin rekor olahraga prestasi harus tersedia di sekolah. Sekolah harus memiliki catatan, nama-nama siswa dengan rekor tertingginya dalam cabang olahraga tertentu. Dengan catatan ini, jika ada kegiatan pertandingan olahraga, maka sekolah tinggal memilih mereka untuk dapat mengikuti ajang pertandingan olahraga yang akan diikuti. Pencatatan prestasi olahraga ini dapat dilakukan pada awal tahun pelajaran atau pada saat usai ulangan semester pertama menjelang libur sekolah. Dengan demikian, sekolah dapat menjadi tempat pembibitan olahraga dan seni yang pertama dan utama. Science-Tech Club Sama dengan talent scouting dalam bidang olahraga, sekolah juga harus melakukannya untuk bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebenarnya para guru telah memiliki pengetahuan dan keterampilan praktis dalam penelitian sederhana. Namun banyak di antaranya kurang begitu yakin bahwa anak-anak mampu melakukannya. Padahal obyek penelitian sederhana bagi anak-anak terbentang luas di sekolah dan lingkungannya. Sayur apakah yang menjadi kegemaran siswa, sebagai contoh, adalah pertanyaan penelitian sederhara yang dapat dilakukan bukan di SMP, tetapi sudah bisa dilakukan di SD. Topik-topik lainnya misalnya: (1) rata-

rata jumlah anak dalam satu keluarga, (2) rata-rata tinggi dan berat badan anak-anak kelas 5 SD, (3) jarak tempuh anak-anak ke sekolah, dan masih banyak yang lain. Kebun Sekolah dan Penanaman Sejuta Pohon Jika secara internasional isu pemanasan global telah melahirkan Bali Roadmap untuk memecahkan isu tersebut, maka apa yang dapat dilakukan di tingkat sekolah? Tentu saja pendidikan lingkungan hidup harus menjadi tanggung jawab sekolah. Untuk sekolah yang tidak memiliki lahan yang luas, setiap kelas dapat diminta untuk membikin taman di depan kelasnya masing-masing. Atau dapat meminta kepada para siswa untuk masing-masing dapat memiliki tanaman kesayangan yang harus dipelihara setiap hari dengan sepenuh hati. Disiram, dipupuk, dan disiangi kalau ada rumput yang menggangunya. Jika ada sedikit lahan di depan sekolah, maka sekolah juga dapat membuat taman sederhana untuk menanam tanaman hias atau tanaman bunga, agar sekolah tidak terasa gersang. Jika di lingkungan sekolah ada lahan tidur yang tidak dimanfaatkan oleh yang empunya, sekolah dapat meminjamnya untuk dijadikan kebun sekolah tempat praktik anak-anak menanam berbagai jenis tanaman. Selain itu, sekolah juga dapat membantu pemerintah daerah dalam melaksanakan program penanaman satu juta pohon. The First Day Festival Ide ini diusulkan oleh seorang guru di suatu sekolah di Amerika Serikat. Pada waktu itu, pelibatan peran serta orangtua dalam penyelenggaraan pendidikan masih menjadi sesuatu yang langka. Setelah program ini dilaksanakan, antusiasme orangtua dan masyarakat tiba-tiba meningkat secara drastis. Sejak adanya festival hari pertama sekolah itu, orangtua siswa dan masyarakat merasakan adanya peningkatan keakraban dan kekeluargaan antara sekolah dan orangtua siswa secara luar biasa. Orangtua dan masyarakat tidak lagi merasa sebagai klien, tetapi sebagai pemangku kepentingan yang memiliki tanggung jawab yang sama besar dengan pihak kepala sekolah dan para guru di sekolah. Program seperti ini dapat berupa program lain yang tidak kalah inovatifnya. Acara tutup tahun sekolah, sebagai contoh, dapat menjadi media untuk menyatupadukan sekolah dengan orangtua dan masyarakat. Dalam acara tersebut, para siswa dapat menunjukkan kebolehannya, baik dalam bidang akademis maupun nonakademis, di hadapan orangtua dan masyarakat. Dampaknya, orangtua dan masyarakat menjadi lebih memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap upaya sekolah dalam meningkatkan kompetensi siswa. Dampak pengiringnya, orangtua dan masyarakat menjadi lebih antusias dalam ikut serta memberikan dukungan dan bantuan terhadap pelaksanaan program-program inovatif sekolah. Akhir Kata Masih sangat banyak program inovatif lain yang dapat dilaksanakan oleh sekolah. Tentu saja berdasarkan kondisi sekolahnya masing-masing. Sebagai contoh, program sekolah berwawasan imtaq, program sekolah yang aman dan nyaman, program sekolah ramah anak, kegiatan outbond, dan masih banyak yang lainnya. Penerapan pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM) dan contextual teaching and learning (CTL) kini menjadi program inovatif di sekolah yang menjadi primadona. Pendek kata, dengan program inovatif, semua warga sekolah dan pemangku kepentingan ingin mencoba sesuatu yang tidak biasa. Ingin mencoba sesuatu yang baru, yang kalau bisa yang luar biasa. Itu semua dapat dimulai dengan program inovatif yang sederhana, dan sudah barang tentu yang tidak memberatkan keuangan orangtua siswa. Yang penting, semua warga sekolah ingin melakukan sesuatu yang baru, atau sesuatu yang sebelumnya kurang mendapatkan perhatian. Tentu saja, semua itu harus dirancang adalam rencana yang matang, yang dikenal dengan Rencana Pengembangan Sekolah (RPS), yang disusun oleh sekolah bersama dengan pemangku kepentingan. Dengan kata lain, RPS yang disusun hendaknya memuat program-program inovatif, baik yang terkait dengan aspek akademis maupun nonakademis di sekolah. Sulitkah semua itu kita lakukan? Semua itu memang sulit untuk pertama kalinya. All beginning is difficult. Semua permulaan itu memang sulit. Tetapi, yakinlah bahwa semua itu dapat dilakukan jika kita memiliki kemauan. Dimana ada kemauan di situ ada jalan. Mudah-mudahan.

MATERI UJI KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH : MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH
08:04 Nurul Amaliah No comments Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

A. 1.

KONSEP MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

Pengantar Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah masih rendahnya mutu pendidikan dari sebagian sekolah khususnya sekolah dasar dan menengah di pedesaan, misalnya di pedalaman dan di perbatasan. Berbagai upaya telah dan sedang dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, misalnya pengembangan delapan (8) standar nasional pendidikan, alokasi dana pendidikan minimal 20% APBN dan APBD, sertifikasi pendidik beserta tunjangan profesinya, penerapan ujian nasional, peningkatan partisipasi masyarakat dalam pendidikan, dan sejumlah terobosan baru berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Namun demikian, mutu pendidikan nasional belum merata di seluruh tanah air. Sebagian sekolah, terutama di kota-kota, secara umum, menunjukkan peningkatan mutu pendidikan yang cukup menggembirakan, sebaliknya sebagian lainnya khususnya di pedesaan, masih memprihatinkan. Jadi, kesenjangan mutu pendidikan nasional masih cukup lebar. Berdasarkan kenyataan ini, berbagai pihak mempertanyakan: apa penyebab kesenjangan mutu pendidikan nasional yang masih lebar ini? Tentu saja jawabannya adalah banyak faktor yang menyebabkan lebarnya kesenjangan mutu pendidikan nasional, tiga diantaranya adalah: (1) penerapan pendekatan sistem secara parsial, (2) belum maksimalnya penerapan MBS, dan (3) rendahnya partisipasi warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan sekolah. Faktor pertama, penerapan pendekatan sistem dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah sering dilaksanakan secara parsial. Sekolah sebagai sistem terdiri dari konteks, input, proses, output, dan outcome. Dalam kenyataannya, pengembangan sekolah sering difokuskan pada input saja (guru, kurikulum, sarana dan prasarana, dana, dsb.), proses saja (proses belajar mengajar, penilaian hasil belajar, kepemimpinan sekolah, dsb.), atau output saja (nilai ujian nasional, perlombaan karya ilmiah, dsb.). Padahal, penyelenggaraan sekolah sebagai sistem harus dilakukan secara utuh, tidak parsial, apalagi parosial. Artinya, pengembangan sekolah secara sistem harus mencakup seluruh komponen sekolah secara utuh mulai dari konteks, input, proses, output, hingga sampai outcome. Faktor kedua, penyelenggaraan pendidikan nasional yang dilakukan secara birokratik-sentralistik telah menempatkan sekolah sebagai subordinasi yang sangat tergantung pada keputusan birokrasi diatasnya yang mempunyai jalur yang sangat panjang dan kadang-kadang kebijakan yang diberlakukan kurang sesuai dengan kondisi sekolah setempat. Karena sekolah lebih merupakan subordinasi dari birokrasi di atasnya, maka mereka kehilangan kemandiriannya, terpasung kreatifitasnya/inisiatifnya, rendah keluwesannya, rendah motivasinya, dan rendah keberanian moralnya untuk melakukan hal-hal baru yang diperlukan untuk memajukan sekolahnya. Faktor ketiga, peranserta warga sekolah khususnya guru, karyawan dan siswa serta peranserta masyarakat khususnya orangtua siswa dalam penyelenggaraan sekolah selama ini belum optimal. Partisipasi guru dalam pengambilan keputusan sering diabaikan, padahal terjadi atau tidaknya perubahan di sekolah sangat tergantung pada guru. Dikenalkan pembaruan apapun jika guru tidak berubah, maka tidak akan terjadi perubahan di sekolah tersebut. Partisipasi masyarakat selama ini pada umumnya sebatas pada dukungan dana, sedang dukungan-dukungan lain seperti pemikiran, moral, pisik, dan material belum optimal. Padahal, kesuksesan sekolah sangat memerlukan teamwork yang kompak, cerdas, dinamis, harmonis, dan lincah. Hal ini hanya akan terjadi apabila pertisipasi warga sekolah dan masyarakat maksimal. Partisipasi maksimal akan mampu meningkatkan rasa kepemilikan terhadap sekolah dan rasa kepemilikan akan meningkatkan dedikasi warga sekolah dan masyarakat terhadap sekolah. Berdasarkan ketiga faktor tersebut, tentu saja perlu dilakukan upaya-upaya penyampurnaan, salah satunya adalah mempertegas konsep dasar MBS dan memperkuat pelaksanaannya. Oleh karena itu, pembahasan MBS selanjutnya akan difokuskan pada: (1) landasan yuridis, (2) asumsi-asumsi diterapkannya MBS, (3) prakondisi yang diperlukan dalam penyelenggaraan MBS, (4) konsep dasar MBS yang meliputi: pola baru manajemen pendidikan masa depan, arti, tujuan,

2. pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan sekolah karena pihak sekolahlah yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi sekolahnya. maka sekolah akan lebih luwes dan lincah dalam mengadakan dan memanfaatkan sumberdaya secara optimal untuk meningkatkan mutu sekolah. 8. 2. 6. dan urusan-urusan yang didesentralisasikan ke sekolah. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan (khususnya yang terkait dengan MBS adalah Bab II. Asumsi-asumsi Diterapkannya MBS MBS diterapkan dengan asumsi-asumsi sebagai berikut: 1. Pasal 51. 4. 2. dan 6. maka sekolah akan lebih kreatif. 3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (khususnya yang terkait dengan MBS adalah Bab XIV. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan. dan masyarakat pada umumnya sehingga . 3. keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan akan mampu meningkatkan rasa kepemilikan. dan inovatif dalam meningkatkan kinerja sekolah. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah. dedikasi. peluang. dengan pemberian fleksibilitas/keluwesan-keluwesan yang lebih besar kepada sekolah untuk mengelola sumberdayanya. dengan pemberian otonomi yang lebih besar kepada sekolah. Pasal 3). Pasal 49. 5.karakteristik MBS. 4. dan (5) pelaksanaan MBS. 7. 3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (khususnya yang terkait dengan MBS adalah Bab VIII. penggunaan sumberdaya pendidikan lebih efektif dan efisien jika dikontrol oleh warga sekolah dan masyarakat setempat. kelemahan. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 78 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Sekolah Bertaraf Internasional pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Ayat (1). sekolah lebih mengetahui kekuatan. sekolah lebih mengetahui kebutuhannya. dan kepercayaan publik terhadap sekolah. transparansi. Landasan Yuridis Penerapan MBS dilandasi oleh peraturan perundang-undangan pendidikan nasional yang berlaku di Indonesia. Ayat (1). sekolah lebih bertanggungjawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada pemerintah dan pemerintah daerah. 5. dan ancaman bagi dirinya sehingga dia dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya yang tersedia untuk memajukan sekolah. inisiatif. orangtua peserta didik. Kelima bahasan tersebut akan diuraikan seperlunya pada bab-bab berikut. akuntabilitas. yaitu: 1. khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran dan tingkat perkembangan serta kebutuhan peserta didik.

demokrasi/egaliterisme pendidikan dapat ditumbuh kembangkan. menjunjung tinggi hak asasi manusia. Ini semua dilakukan secara partisipatif oleh warga sekolah. dan pengontrolannya. Artinya. 9. perlengkapan. . Persyaratan ini bukan dimaksudkan untuk menghambat sekolah yang tidak memenuhinya untuk melaksanakan MBS. pengorganisasiannya. Ketiga. dan material/bahan. kultur sekolah juga harus siap dan kondusif untuk menghadapi tuntutan baru MBS. sekolah sebagai institusi pendidikan juga harus siap untuk menerapkan MBS sebagaipola baru. Sekolah juga harus memiliki sumberdaya yang memadai. tetapi lebih merupakan petunjuk penyiapan bagi sekolah-sekolah yang akan menerapkan MBS. Adapun prakondisi yang diperlukan untuk melaksanakan MBS adalah sebagai berikut. maupun pola tindakannya (action set). Kelima. musyawarah-mufakat dapat dilaksanakan. pengkoordinasiannya. warga sekolah harus pro-perubahan. Oleh karena itu. sekolah memiliki kemampuan mengarahkan dan membimbing warganya melalui penyusunan kebijakan. baik pola pikirnya (mind set). educable/trainable (mau diajak belajar/dilatih). bukan prokemapanan. akan tetapi lebih merupakan saran yang masih terbuka untuk dimodifikasi. Prakondisi yang Diperlukan untuk Menyelenggarakan MBS Sekolah yang akan menerapkan MBS perlu menyiapkan persyaratan berikut. baik sumberdaya manusianya maupun sumberdaya selebihnya yaitu dana. dan masyarakat sekitar melalui komite sekolah dapat digerakkan untuk mendukung MBS. Kedua. perbekalan. masyarakat sekitar dapat disadarkan akan pentingnya pendidikan. warga sekolah (sumberdaya manusianya) harus siap diajak untuk melakukan perubahan pada dirinya.sekolah akan berupaya semaksimal mungkin untuk melaksanakan dan mencapai sasaran mutu pendidikan yang telah direncanakan. tetap bisa menerapkan MBS sambil melengkapi persyaratan yang belum dapat dipenuhi. Keempat. dan program yang jelas untuk menyelenggarakan MBS. pola hatinya (heart set). dikurangi atau ditambah sesuai dengan karakteristik sekolah dan masyarakat sekitarnya. dan pemerintah daerah setempat. dan lingkungan yang berubah dengan cepat. peralatan. pelaksanaannya. masyarakat sekitar. sekolah memiliki sistem tata kelola yang baik untuk mempromosikan partisipasi dan transparansi kepada warga sekolah dan masyarakat sekitar serta akuntabilitas sekolah terhadap publik sehingga sekolah akan merupakan bagian dari (milik) masyarakat dan bukannya sekolah yang berada di masyarakat. sekolah akan mampu bersaing secara sehat dengan sekolah-sekolah lainnya dalam peningkatan mutu pendidikan melalui upaya-upaya kreatif dan inovatif yang didukung oleh orangtua siswa. misalnya penghargaan terhadap perbedaan pendapat. Sekolah yang hanya mampu memenuhi sebagian persyaratan. aspirasi masyarakat. Pertama. 4. rencana. Artinya. sekolah dapat secara cepat menanggapi perubahan. sekolah harus mau melakukan restrukturisasi (perubahan) terhadap manajemen dan organisasinya agar akomodatif terhadap penerapan MBS. persyaratan berikut bukan merupakan harga mati. dan 10. misalnya perencanaannya.

Tabel 1 berikut menunjukkan dimensi-dimensi perubahan pola manajemen. dukungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk menerapkan MBS cukup kuat. Lebih dari itu. bimbingan. Pola Baru Manajemen Pendidikan Masa Depan Bukti-bukti empirik lemahnya pola lama manajemen pendidikan nasional dan digulirkannya otonomi daerah telah mendorong dilakukannya penyesuaian diri dari pola lama manajemen pendidikan menuju pola baru manajemen pendidikan masa depan yang lebih bernuansa otonomi dan yang lebih demokratis. sekolah diberi kewenangan dan tanggungjawab yang lebih besar (otonomi) untuk menyelenggarakan sekolahnya. 5. yang ditunjukkan oleh pemberian arah.Keenam. dan monitoring serta evaluasi yang diperlukan untuk kelancaran penyelenggaraan MBS. pengaturan. Tabel 1: Dimensi-Dimensi Perubahan Pola Manajemen Pendidikan Pola Lama Subordinasi Pengambilan keputusan terpusat Ruang gerak kaku Pendekatan birokratik Sentralistik Diatur Overregulasi Mengontrol Mengarahkan Menghindari resiko Gunakan uang semuanya Individual yang cerdas Menuju ⇒⇒ ⇒⇒ Pola Baru Otonomi Pengambilan keputusan partisipatif Ruang gerak luwes Pendekatan professional Desentralistik Motivasi diri Deregulasi Mempengaruhi Memfasilitasi Mengelola resiko Gunakan uang seefisien mungkin Teamwork yang cerdas ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ . dari yang lama menuju ke yang baru.

kemandirian dalam program dan pendanaan merupakan tolok ukur utama kemandirian sekolah. tugas dan fungsi sekolah lebih pada melaksanakan program dari pada mengambil inisiatif merumuskan dan melaksanakan program peningkatan mutu yang dibuat sendiri oleh sekolah. siswa. manajemen berbasis sekolah (MBS) dapat diartikan sebagai model pengelolaan yang memberikan otonomi (kewenangan dan tanggungjawab)lebih besar kepada sekolah. peranan pusat bergeser dari mengontrol menjadi mempengaruhi dan dari mengarahkan ke memfasilitasi. tokoh masyarakat. Pada gilirannya. dari menghindari resiko menjadi mengolah resiko. misalnya swasembada. Dengan otonomi tersebut. ilmuwan. 6. Otonomi dapat diartikan sebagai kemandirian yaitu kemandirian dalam mengatur dan mengurus dirinya sendiri. regulasi pendidikan lebih sederhana. karyawan) dan masyarakat (orangtua siswa. MBS dijiwai oleh pola baru manajemen pendidikan masa depan sebagaimana diilustrasikan pada Tabel 1. lebih mengutamakan teamwork. untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional serta peraturan perundang-undangan yang berlaku. kemampuan dan tuntutan sekolah serta masyarakat atau stakeholder yang ada. pendekatan profesionalisme lebih diutamakan dari pada pendekatan birokrasi.informasi terbagi ke semua warga sekolah. sekolah memiliki wewenang lebih besar dalam pengelolaan lembaganya. Pada dasarnya. Istilah otonomi juga sama dengan istilah “swa”. lebih mengutamakan pemberdayaan. .). konsep dasar dan karakteristik MBS dapat diuraikan sebagai berikut. sekolah lebih luwes dalam mengelola lembaganya. pengelolaan sekolah lebih desentralistik. kemandirian yang berlangsung secara terus menerus akan menjamin kelangsungan hidup dan perkembangan sekolah (sustainabilitas). Pada Pola Lama. dan sebagainya. pengambilan keputusan dilakukan secara partisipatif dan partsisipasi masyarakat makin besar. memberikan fleksibilitas/keluwesan-keluwesan kepada sekolah. pengusaha. penggunaan uang lebih efisien karena sisa anggaran tahun ini dapat digunakan untuk anggaran tahun depan (efficiency-based budgeting). dan struktur organisasi lebih datar sehingga lebih efisien. perubahan sekolah lebih didorong oleh motivasi-diri sekolah dari pada diatur dari luar sekolah. kepala sekolah. dan mendorong partisipasi secara langsung warga sekolah (guru.Pola Lama Informasi terpribadi Pendelegasian Organisasi herarkis Menuju ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ Pola Baru Informasi terbagi Pemberdayaan Organisasi datar Berikut dijelaskan secara singkat Tabel 1. sekolah diberikan kewenangan dan tanggungjawab untuk mengambil keputusan-keputusan sesuai dengan kebutuhan. swakelola. swadana. Arti MBS Secara umum. (Catatan: MBS tidak dibenarkan menyimpang dari peraturan perundang-undangan yang berlaku). Sedang pada Pola Baru. Lebih rincinya.

Akuntabilitas sekolah adalah pertanggungjawaban sekolah kepada warga sekolahnya. cerdas dan dinamis. makin besar rasa memiliki. Peningkatan partisipasi yang dimaksud adalah penciptaan lingkungan yang terbuka dan demokratik. mulai dari pengambilan keputusan. dan demokrasi pendidikan. Tentu saja kemandirian yang dimaksud harus didukung oleh sejumlah kemampuan. karyawan) dan masyarakat (orang tua siswa. Sedang demokrasi pendidikan adalah kebebasan yang terlembagakan melalui musyawarah dan mufakat dengan menghargai perbedaan. hak asasi manusia serta kewajibannya dalam rangka untuk meningkatkan mutu pendidikan. Secara resmi keberadaan Komite Sekolah ditunjukkan melalui Surat Keputusan Mendiknas Nomor 044/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Kerjasama sekolah yang baik ditunjukkan oleh hubungan antar warga sekolah yang erat. yaitu kemampuan mengambil keputusan yang terbaik. sekolah lebih berdaya dalam mengembangkan program-program yang. ilmuwan. dan relevansinya dengan tujuan partisipasi. di mana warga sekolah (guru. Komite Sekolah diharapkan menjadi mitra sekolah yang dapat mewadahi dan menyalurkan aspirasi serta prakarsa masyarakat dalam melahirkan kebijakan operasional dan program pendidikan di sekolah. sehingga yang bersangkutan juga akan bertanggungjawab dan berdedikasi sepenuhnya untuk mencapai tujuan sekolah. dan kemampuan memenuhi kebutuhannya sendiri. Tugas dan fungsi Komite Sekolah antara lain mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap . kemampuan berdemokrasi/menghargai perbedaan pendapat. sehingga sekolah lebih mandiri. dan evaluasi pendidikan yang diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan. kemampuan memobilisasi sumberdaya. Kerjasama yang dimaksud adalah adanya sikap dan perbuatan lahiriyah kebersamaan/kolektif untuk meningkatkan mutu sekolah. lebih sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan/potensi yang dimiliki. usahawan. dan swalayan. hubungan sekolah dan masyarakat erat. tokoh masyarakat. makin besar pula dedikasinya.) didorong untuk terlibat secara langsung dalam penyelenggaraan pendidikan. Dengan kemandiriannya. dan adanya kesadaran bersama bahwaoutput sekolah merupakan hasil kolektif teamwork yang kompak. Peningkatan partisipasi warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan sekolah akan mampu menciptakan keterbukaan. Dengan fleksibilitas/keluwesan-keluwesannya. Dengan otonomi yang lebih besar. maka yang bersangkutan akan mempunyai “rasa memiliki” terhadap sekolah. Tentu saja pelibatan warga sekolah dalam penyelenggaraan sekolah harus mempertimbangkan keahlian. tentu saja. batas kewenangan. Singkatnya: makin besar tingkat partisipasi. kemampuan memecahkan persoalan-persoalan sekolah. Partisipasi masyarakat terhadap penyelenggaraan sekolah telah diatur dalam suatu kelembagaan yang disebut dengan Komite Sekolah. sekolah memiliki kewenangan dan tanggungjawab yang lebih besar dalam mengelola sekolahnya. akuntabilitas. Keterbukaan yang dimaksud adalah keterbukaan dalam program dan keuangan. Hal ini dilandasi oleh keyakinan bahwa jika seseorang dilibatkan (berpartisipasi) dalam penyelenggaraan pendidikan. kerjasama yang kuat. dan demokrasi. makin besar pula rasa tanggungjawab. sekolah akan lebih lincah dalam mengelola dan memanfaatkan sumberdaya sekolah secara optimal. akuntabilitas.swakarya. Komite Sekolah menganut prinsip transparansi. masyarakat dan pemerintah melalui pelaporan dan pertemuan yang dilakukan secara terbuka. dan makin besar rasa tanggungjawab. kemampuan memilih cara pelaksanaan yang terbaik. kemampuan adaptif dan antisipatif. Jadi otonomi sekolah adalah kewenangan sekolah untuk mengatur dan mengurus kepentingan warga sekolah menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi warga sekolah sesuai dengan peraturan perundang-undangan pendidikan nasional yang berlaku. dan sebagainya. makin besar pula rasa memiliki. pelaksanaan. siswa. Dalam hal pembentukannya. kemampuan berkomunikasi dengan cara yang efektif. kemampuan bersinergi dan berkolaborasi.

pemberi pertimbangan. memanfaatkan dan memberdayakan sumberdaya sekolah seoptimal mungkin untuk meningkatkan mutu sekolah. komunikasi yang efektif. memiliki kontrol yang kuat terhadap kondisi kerja. Pendeknya. dia memiliki kontrol terhadap pekerjaannya. Komite Sekolah juga dapat memberikan masukan dan pertimbangan kepada sekolah tentang kebijakan dan program pendidikan. memiliki ciri-ciri: pekerjaan adalah miliknya. bertanggungjawab terhadap kinerja sekolah. dan sebagainya).penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. tantangan. gigih. dan pekerjaannya merupakan bagian hidupnya. dan memiliki partisipasi yang lebih besar dari kelompok-kelompok yang berkepentingan dengan sekolah. Selain itu. khususnya dalam pengelolaan peningkatan mutu. dan prestasi merupakan acuan bagi penilaiannya. pekerjaan yang bermakna. kreatif dan inisiatf. sedang unit-unit di atasnya (Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. komitmen yang tinggi pada dirinya. berani mengambil resiko. dan warga sekolah diberlakukan sebagai manusia ciptaan-Nya yang memiliki martabat tertinggi. Selanjutnya. Dinas Pendidikan Provinsi. pekerjaannya memiliki kontribusi. Dengan pengertian di atas. memanfaatkan dan memberdayakan sumberdayanya. adaptif dan antisipatif/proaktif terhadap perubahan. memiliki jiwa kewirausahaan tinggi (inovatif. pada umumnya. maka sekolah akan lebih lincah dan tidak harus menunggu arahan dari atasannya untuk mengelola. kepercayaan. pemecahan masalah sekolah secara teamwork. variasi tugas. Dengan cara ini. 7. Dengan keluwesan-keluwesan yang lebih besar diberikan kepada sekolah. dan menggalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan. Fleksibilitas dapat diartikan sebagai keluwesan-keluwesan yang diberikan kepada sekolah untuk mengelola. kontrol yang luwes. dan melakukan evaluasi pelaksanaan peningkatan mutu). kemampuan untuk mengukur kinerjanya sendiri. dia tahu posisinya di mana. mengetahui bahwa dia adalah bagian penting dari sekolah. ulet. Namun demikian. umpan balik bagus. Contoh tentang hal-hal yang dapat memandirikan/memberdayakan warga sekolah adalah: pemberian kewenangan. melaksanakan rencana peningkatan mutu. Komite Sekolah diharapkan berperan sebagai pendukung. ada pujian. mendorong orangtua dan masyarakat berpartisipasi dalam pendidikan guna mendukung peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan. Sekolah yang mandiri memiliki ciri-ciri sebagai berikut: sifat ketergantungan rendah. maka sekolah memiliki kemandirian lebih besar dalam mengelola sekolahnya (menetapkan sasaran peningkatan mutu. dan Departemen Pendidikan Nasional) akan merupakan unit pendukung dan pelayan sekolah. memiliki kontrol yang kuat terhadap input manajemen dan sumberdayanya. keluwesan-keluwesan yang dimaksud harus tetap dalam koridor kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang ada. hasil kerja yang terukur. bagi sumberdaya manusia sekolah yang berdaya. rencana anggaran pendidikan dan belanja sekolah. pemberian tanggungjawab. mediator dan pengontrol penyelenggaraan pendidikan di sekolah. maka sekolah akan merupakan unit utama pengelolaan proses pendidikan. dia bertanggungjawab. memiliki fleksibilitas pengelolaan sumberdaya sekolah. Dengan kepemilikan ketiga hal ini. sumberdaya yang dibutuhkan ada. didengar. sekolah akan lebih responsif dan lebih cepat dalam menanggapi segala tantangan yang dihadapi. menghargai ideide. dukungan. Tujuan MBS . menyusun rencana peningkatan mutu.

a. kreatif/ divergen. dan output. Ini ditunjukkan oleh sifat PBM yang menekankan pada pemberdayaan peserta didik. kesenian. lomba (Bahasa Inggris. akhlak/budipekerti. perilaku sosial yang baik seperti misalnya bebas narkoba. akan tetapi lebih menekankan pada internalisasi tentang apayang diajarkan sehingga tertanam dan berfungsi sebagai muatan nurani dan dihayati (ethos) serta dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari oleh peserta didik . PBM bukan sekadar memorisasi dan recall. efisiensi. solidaritas yang tinggi. pendekatan sistem yaitu input-prosesoutput digunakan untuk memandunya. proses. transparansi. Output yang Diharapkan Sekolah memiliki output yang diharapkan. Dengan kata lain.bukan sekadar penekanan pada penguasaan pengetahuan tentang apa yang diajarkan (logos). Perlu digarisbawahi bahwa pencapaian tujuan MBS harus dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip tata kelola yang baik (partisipasi. karakteristik MBS berikut memuat secara inklusif elemen-elemen sekolah efektif. rasional. prestasi olahraga. dan ilmiah). output dapat diklasifikasikan menjadi dua. nalar. Output non-akademik. Pada umumnya. Output prestasi akademik misalnya. mengingat output memiliki tingkat kepentingan tertinggi. yang dikategorikan menjadi input. Proses Sekolah yang efektif pada umumnya memiliki sejumlah karakteristik proses sebagai berikut: 1) Proses Belajar Mengajar yang Efektivitasnya Tinggi Sekolah yang menerapkan MBS memiliki efektivitas proses belajar mengajar (PBM) yang tinggi. toleransi. produktivitas. kejujuran. Hal ini didasari oleh pengertian bahwa sekolah merupakan sistem sehingga penguraian karakteristik MBS (yang juga karakteristik sekolah efektif) mendasarkan pada input. sedang proses memiliki tingkat kepentingan satu tingkat lebih rendah dari output. maka sekolah efektif merupakan isinya. cara-cara berpikir (kritis. Fisika). deduktif. Jika MBS merupakan wadah/kerangkanya. rasa kasih sayang yang tinggi terhadap sesama. sekolah diharapkan makin mampu dan berdaya dalam mengurus dan mengatur sekolahnya dengan tetap berpegang pada koridor-koridor kebijakan pendidikan nasional. NUN/NUS. akuntabilitas. proses. Dengan MBS. transparansi. misalnya keingintahuan yang tinggi. dan output. kedisiplinan. dan sebagainya) . Dalam menguraikan karakteristik MBS. Oleh karena itu. b. yaitu output berupa prestasi akademik (academic achievement) dan output berupa prestasi non-akademik (non-academic achievement). Berbicara karakteristik MBS tidak dapat dipisahkan dengan karakteristik sekolah efektif. dan akuntabilitas. harga diri. efektivitas. dan kepramukaan. Peningkatan kinerja sekolah yang dimaksud meliputi peningkatan kualitas. Selanjutnya. uraian berikut dimulai dari output dan diakhiri input. 8. dan inovasi pendidikan. Output sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan oleh proses pembelajaran dan manajemen di sekolah. kerajinan. jika sekolah ingin sukses dalam menerapkan MBS.MBS bertujuan untuk meningkatkan kinerja sekolah melalui pemberian kewenangan dan tanggungjawab yang lebih besar kepada sekolah yang dilaksanakan berdasarkan prinsipprinsip tata kelola sekolah yang baik yaitu partisipasi. kerjasama yang baik. maka sejumlah karakteristik MBS berikut perlu dimiliki. lomba karya ilmiah remaja. Matematika. induktif. Karakteristik MBS Manajemen Berbasis Sekolah memiliki karakteristik yang perlu dipahami oleh sekolah yang akan menerapkannya. dan input memiliki tingkat kepentingan dua tingkat lebih rendah dari output.

belajar bekerja (learning to do). 4) Pengelolaan Tenaga Kependidikan yang Efektif Tenaga Kependidikan. dan Dinamis . menggerakkan. pengelolaan tenaga kependidikan. Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah untuk dapat mewujudkan visi. Oleh karena itu. terutama sumberdaya manusia. terutama guru. 5) Sekolah Memiliki Budaya Mutu Budaya mutu tertanam di sanubari semua warga sekolah. hubungan kerja. Dalam hal ini. belajar hidup bersama(learning to live together). mulai dari analisis kebutuhan. (d) kolaborasi dan sinergi. bukan untuk mengadili/mengontrol orang. hingga sampai pada imbal jasa. (b) kewenangan harus sebatas tanggungjawab. dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be). (e) warga sekolah merasa aman terhadap pekerjaannya. perencanaan. Secara umum. Oleh karena itu. bukan kompetisi. merupakan garapan penting bagi seorang kepala sekolah. sehingga setiap perilaku selalu didasari oleh profesionalisme. tertib. 6) Sekolah Memiliki “Teamwork” yang Kompak. Karena itu. dan (h) warga sekolah merasa memiliki sekolah. Terlebih-lebih pada pengembangan tenaga kependidikan. dan menyerasikan semua sumberdaya pendidikan yang tersedia. Sekolah yang menerapkan MBS menyadari tentang hal ini. dan nyaman sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan nyaman (enjoyable learning). (g) imbal jasa harus sepadan dengan nilai pekerjaannya. Budaya mutu memiliki elemen-elemen sebagai berikut: (a) informasi kualitas harus digunakan untuk perbaikan. (c) hasil harus diikuti penghargaan (rewards) atau sanksi (punishment). selalu mampu dan sanggup menjalankan tugasnya dengan baik. kepala sekolah memiliki peran yang kuat dalam mengkoordinasikan. peranan kepala sekolah sangat penting sekali. tenaga kependidikan yang diperlukan untuk menyukseskan MBS adalah tenaga kependidikan yang mempunyai komitmen tinggi. dan sasaran sekolahnya melalui programprogram yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap. pengembangan. tertib melalui pengupayaan faktor-faktor yang dapat menumbuhkan iklim tersebut. Cerdas. PBM yang efektif juga lebih menekankan pada belajar mengetahui(learning to know). kepala sekolah dituntut memiliki kemampuan manajemen dan kepemimpinan yang tangguh agar mampu mengambil keputusan dan inisiatif/prakarsa untuk meningkatkan mutu sekolah. (f) atmosfir keadilan (fairness) harus ditanamkan. nyaman. misi. Sekolah hanyalah merupakan wadah.(pathos). untuk mencapai tujuan sekolah. 2) Kepemimpinan Sekolah yang Kuat Pada sekolah yang menerapkan MBS. tujuan. ini harus dilakukan secara terusmenerus mengingat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedemikian pesat. merupakan jiwa dari sekolah. 3) Lingkungan Sekolah yang Aman dan Tertib Sekolah memiliki lingkungan (iklim) belajar yang aman. evaluasi kinerja. Pendeknya. kepala sekolah tangguh memiliki kemampuan memobilisasi sumberdaya sekolah. harus merupakan basis untuk kerjasama. sekolah yang efektif selalu menciptakan iklim sekolah yang aman.

perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. baik bersifat fisik maupun psikologis. hasilnya diharapkan lebih baik dari sebelumnya (ada peningkatan) terutama mutu peserta didik. Keterbukaan/transparansi ini ditunjukkan dalam pengambilan keputusan. Sistem mutu yang dimaksud harus mencakup struktur organisasi. makin besar pula tingkat dedikasinya. 12) Sekolah Responsif dan Antisipatif terhadap Kebutuhan Sekolah selalu tanggap/responsif terhadap berbagai aspirasi yang muncul bagi peningkatan mutu. antar individu dalam sekolah. Bahkan. tetapi yang terpenting adalah bagaimana memanfaatkan hasil evaluasi belajar tersebut untuk memperbaiki dan menyempurnakan proses belajar mengajar di sekolah. Karena itu. Oleh karena itu. sistem mutu yang baku sebagai acuan bagi perbaikan harus ada. makin besar rasa memiliki. 11) Sekolah Melakukan Evaluasi dan Perbaikan Secara Berkelanjutan Evaluasi belajar secara teratur bukan hanya ditujukan untuk mengetahui tingkat daya serap dan kemampuan peserta didik. tanggungjawab. bukan hasil individual. dan makin besar rasa tanggungjawab. perbekalan. budaya kerjasama antar fungsi dalam sekolah. Sebaliknya. 9) Sekolah Memiliki Keterbukaan (Transparansi) Manajemen Keterbukaan/transparansi dalam pengelolaan sekolah merupakan karakteristik sekolah yang menerapkan MBS.Kebersamaan (teamwork) merupakan karakteristik yang dituntut oleh MBS. prosedur. Untuk menjadi mandiri. harus merupakan kebiasaan hidup sehari-hari warga sekolah. yang selalu melibatkan pihak-pihak terkait sebagai alat kontrol. Karena itu. 8) Partisipasi yang Tinggi dari Warga Sekolah dan Masyarakat Sekolah yang menerapkan MBS memiliki karakteristik bahwa partisipasi warga sekolah dan masyarakat merupakan bagian kehidupannya. sekolah harus memiliki sumberdaya yang cukup untuk menjalankan tugas dan fungsinya. makin besar pula rasa tanggungjawab. 7) Sekolah Memiliki Kewenangan Sekolah memiliki kewenangan untuk melakukan yang terbaik bagi sekolahnya sehingga dituntut untuk memiliki kemampuan dan kesanggupan kerja yang tidak selalu menggantungkan pada atasan. sekolah selalu membaca lingkungan dan menanggapinya secara cepat dan tepat. Tentu saja yang dimaksud perubahan adalah peningkatan. dan sebagainya. fungsi evaluasi menjadi sangat penting dalam rangka meningkatkan mutu peserta didik dan mutu sekolah secara keseluruhan dan secara terus menerus. karena output pendidikan merupakan hasil kolektif warga sekolah. dana. Perbaikan secara terus-menerus harus merupakan kebiasaan warga sekolah. kemapanan merupakan musuh sekolah. penggunaan uang. perlengkapan. proses dan sumberdaya untuk menerapkan manajemen mutu. makin besar rasa memiliki. Karena itu. Artinya. dan bahan/material. 10) Sekolah Memiliki Kemauan untuk Berubah (psikologis dan pisik) Perubahan harus merupakan sesuatu yang menyenangkan bagi semua warga sekolah. baik sumberdaya manusia maupun sumberdaya selebihnya yaitu peralatan. Tiada hari tanpa perbaikan. sekolah tidak hanya mampu menyesuaikan terhadap . Hal ini dilandasi oleh keyakinan bahwa makin tinggi tingkat partisipasi. setiap dilakukan perubahan.

dan pengevaluasian pendidikan kecakapan hidup (program adiwiyata) yang dikembangkan secara terus menerus dari waktu ke waktu. orangtua siswa. Berdasarkan laporan hasil program ini. maka sekolah tidak akan main-main dalam melaksanakan program pada tahun-tahun yang akan datang. Sekolah . kompak. akan tetapi juga mampu mengantisipasi hal-hal yang mungkin bakal terjadi. adalah padanan kata yang tepat bagi istilah antisipatif. maka pemerintah perlu memberikan teguran sebagai hukuman atas kinerjanya yang dianggap tidak memenuhi syarat. Menjemput bola. Sustainabilitas program dapat dilihat dari keberlanjutan program-program yang telah dirintis sebelumnya dan bahkan berkembang menjadi program-program baru yang belum pernah ada sebelumnya. sehingga berbagai kegiatan sekolah dapat dilakukan secara merata oleh warga sekolah. Sekolah memiliki perencanaan. pelaksanaan. Sebaliknya jika program tidak berhasil. maka orangtua peserta didik perlu memberikan semangat dan dorongan untuk peningkatan program yang akan datang. pengkoordinasian. 15) Manajemen Lingkungan Hidup Sekolah Bagus Sekolah efektif melaksanakan manajemen lingkungan hidup sekolah secara efektif. Jika berhasil. maka pemerintah perlu memberikan penghargaan kepada sekolah yang bersangkutan. Demikian pula. Dengan cara ini. sehingga menjadi faktor pendorong untuk terus meningkatkan kinerjanya di masa yang akan datang. keterampilan dan kesadaran warga sekolah tentang nilai-nilai lingkungan hidup dan mampu mengubah perilaku dan sikap warga sekolah untuk menuju lingkungan hidup yang sehat. 14) Sekolah Memiliki Akuntabilitas Akuntabilitas adalah bentuk pertanggungjawaban yang harus dilakukan sekolah terhadap keberhasilan program yang telah dilaksanakan. maka orangtua siswa dan masyarakat berhak meminta pertanggungjawaban dan penjelasan sekolah atas kegagalan program MBS yang telah dilakukan. pemerintah dapat menilai apakah program MBS telah mencapai tujuan yang dikendaki atau tidak. Jika berhasil.perubahan/tuntutan. 13) Memiliki Komunikasi yang Baik Sekolah yang efektif umumnya memiliki komunikasi yang baik. terutama antar warga sekolah. komunikasi yang baik juga akan membentuk teamwork yang kuat. dan cerdas. dan juga sekolah-masyarakat. Akuntabilitas ini berbentuk laporan prestasi yang dicapai dan dilaporkan kepada pemerintah. maka keterpaduan semua kegiatan sekolah dapat diupayakan untuk mencapai tujuan dan sasaran sekolah yang telah dipatok. Dengan cara ini. Selain itu. sehingga kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh masing-masing warga sekolah dapat diketahui. Jika kurang berhasil. 16) Sekolah memiliki Kemampuan Menjaga Sustainabilitas Sekolah yang efektif juga memiliki kemampuan untuk menjaga kelangsungan hidupnya (sustainabilitasnya) baik dalam program maupun pendanaannya. dan masyarakat. Sekolah melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan pengetahuan. Sustainabilitas pendanaan dapat ditunjukkan oleh kemampuan sekolah dalam mempertahankan besarnya dana yang dimiliki dan bahkan makin besar jumlahnya. para orangtua siswa dan anggota masyarakat dapat memberikan penilaian apakah program ini dapat meningkatkan prestasi anak-anaknya secara individual dan kinerja sekolah secara keseluruhan. pengorganisasian.

bahan. perlengkapan. yaitu. sekolah menyatakan dengan jelas tentang keseluruhan kebijakan. Sumberdaya dapat dikelompokkan menjadi dua. Tanpa sumberdaya yang memadai. c. sehingga tertanam pemikiran. Secara umum. akan tetapi sekolah yang bersangkutan dapat memanfaatkan keberadaan sumberdaya yang ada dilingkungan sekolahnya. proses pendidikan di sekolah tidak akan berlangsung secara memadai. Kebijakan. dan tidak sepenuhnya menggantungkan subsidi dari pemerintah bagi sekolah-sekolah negeri. segala sumberdaya yang diperlukan untuk menjalankan proses pendidikan harus tersedia dan dalam keadaan siap. tanpa campur tangan sumberdaya manusia. Karena itu. Sekolah yang efektif pada umumnya memiliki staf yang mampu (kompeten) dan berdedikasi tinggi terhadap sekolahnya. tujuan. Kepala sekolah memiliki komitmen dan motivasi yang kuat untuk meningkatkan mutu sekolah secara optimal. Tujuan. tujuan. Sedang peserta didik juga mempunyai motivasi untuk selalu meningkatkan diri untuk berprestasi sesuai dengan bakat dan kemampuannya. Harapan tinggi dari ketiga unsur sekolah ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan sekolah selalu dinamis untuk selalu menjadi lebih baik dari keadaan sebelumnya.memiliki kemampuan menggali sumberdana dari masyarakat. peralatan. nggan (Khususnya Siswa) . diperlukan kepala sekolah yang mampu memobilisasi sumberdaya yang ada di sekitarnya. sedia dan Siap Sumberdaya merupakan input penting yang diperlukan untuk berlangsungnya proses pendidikan di sekolah. tujuan. 3) Staf yang Kompeten dan Berdedikasi Tinggi Meskipun pada butir (b) telah disinggung tentang ketersediaan dan kesiapan sumberdaya manusia (staf). Implikasinya jelas. Artinya. bagi sekolah yang ingin efektivitasnya tinggi. dan sebagainya) dengan penegasan bahwa sumberdaya lainnya tidak mempunyai arti apapun bagi perwujudan sasaran sekolah. sekolah yang menerapkan MBS harus memiliki tingkat kesiapan sumberdaya yang memadai untuk menjalankan proses pendidikan. dan sasaran mutu tersebut disosialisasikan kepada semua warga sekolah. dan sasaran sekolah yang berkaitan dengan mutu. walaupun dengan segala keterbatasan sumberdaya pendidikan yang ada di sekolah. yaitu sumberdaya manusia dan lainnya (uang. kebiasaan. namun pada butir ini perlu ditekankan lagi karena staf merupakan jiwa sekolah. 4) Memiliki Harapan Prestasi yang Tinggi Sekolah yang menerapkan MBS mempunyai dorongan dan harapan yang tinggi untuk meningkatkan prestasi peserta didik dan sekolahnya. Ini bukan berarti bahwa sumberdaya yang ada harus mahal. Guru memiliki komitmen dan harapan yang tinggi bahwa anak didiknya dapat mencapai tingkat prestasi yang maksimal. Input Pendidikan an. hingga sampai pada kepemilikan karakter mutu oleh warga sekolah. tindakan. maka kepemilikan staf yang kompeten dan berdedikasi tinggi merupakan keharusan. Kebijakan. dan sasaran mutu tersebut dinyatakan oleh kepala sekolah. dan pada gilirannya sasaran sekolah tidak akan tercapai. dan Sasaran Mutu yang Jelas Secara formal.

b. Artinya. Konsekuensi logis dari ini semua adalah bahwa penyiapan input dan proses belajar mengajar harus benar-benar mewujudkan sosok utuh mutu dan kepuasan yang diharapkan dari siswa. (f) pengelolaan keuangan. sesuai dengan karakteristik mata pelajaran. adalah contoh-contoh yang dimaksud dengan pembelajaran yang pro-perubahan. dan adanya sistem pengendalian mutu yang efektif dan efisien untuk meyakinkan agar sasaran yang telah disepakati dapat dicapai. harus merupakan fokus dari semua kegiatan sekolah. Urusan-urusan yang Menjadi Kewenangan dan Tanggungjawab Sekolah Secara umum. dan Pemerintahan Daerah kabupaten/Kota harus digunakan sebagai acuan dalam penyelenggaraan pendidikan. semua input dan proses yang dikerahkan di sekolah tertuju utamanya untuk meningkatkan mutu dan kepuasan peserta didik. Perlu dicatat bahwa desentralisasi bukan berarti semua urusan di limpahkan ke sekolah. dan sebagian urusan lainnya diserahkan ke sekolah. (g) pelayanan siswa. pemerintah propinsi. Secara umum. Berikut adalah urusan-urusan pendidikan yang sebagian menjadi kewenangan dan tanggungjawab sekolah. tidak semua urusan di desentralisasikan sepenuhnya ke sekolah. pembelajaran kuantum. metode. karakteristik siswa. Sekolah diberi kebebasan memilih strategi. pembelajaran kooperatif. (d) pengelolaan ketenagaan. Artinya. Input manajemen yang dimaksud meliputi: tugas yang jelas.Pelanggan. a. dan teknikteknik pembelajaran dan pengajaran yang paling efektif. pergeseran dimensi-dimensi pendidikan dari manajemen berbasis pusat menjadi manajemen berbasis sekolah telah diuraikan pada Butir A. pertanyaannya adalah: “Urusan-urusan apa sajakah yang perlu menjadi kewenangan dan tanggungjawab sekolah”? Pada dasarnya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urutan Pemerintahan antara Pemerintah. dan (i) pengelolaan kultur sekolah. Perencanaan dan Evaluasi . n Sekolah yang menerapkan MBS memiliki input manajemen yang memadai untuk menjalankan roda sekolah. karakteristik guru.Dengan demikian. pemerintah kabupaten/kota. Pembelajaran dan pengajaran kontekstual. Pengelolaan Proses Belajar Mengajar Proses belajar mengajar merupakan kegiatan utama sekolah. (b) perencanaan dan evaluasi program sekolah. Secara lebih spesifik. inovasi dan eksperimentasi peserta didik untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan baru. (h) hubungan sekolah-masyarakat. desentralisasi urusan-urusan pendidikan harus dalam koridor peraturan perundang-undangan yang berlaku. ketentuan-ketentuan (aturan main) yang jelas sebagai panduan bagi warga sekolahnya untuk bertindak. Pemerintahan Daerah Provinsi. rencana yang rinci dan sistematis. program yang mendukung bagi pelaksanaan rencana. sebagian urusan masih merupakan kewenangan dan tanggungjawab Pemerintah. strategi/metode/teknik pembelajaran dan pengajaran yang dipilih harus pro-perubahan yaitu yang mampu menumbuhkan dan mengembangkan daya kreasi. (c) pengelolaan kurikulum. Kelengkapan dan kejelasan input manajemen akan membantu kepala sekolah mengelola sekolahnya dengan efektif. 1. terutama siswa. (e) pengelolaan peralatan dan perlengkapan. dan kondisi nyata sumberdaya yang tersedia di sekolah. Kepala sekolah dalam mengatur dan mengurus sekolahnya menggunakan sejumlah input manajemen. yaitu: (a) proses belajar mengajar.

23/2006. d. dan rencana pelaksanaan pembelajaran. kesesuaian. hadiah dan sangsi (reward and punishment). indikator kunci kinerja. sehingga desentralisasi pengalokasian/penggunaan uang sudah seharusnya dilimpahkan ke sekolah. dan 24/2006. Evaluasi internal dilakukan oleh warga sekolah untuk memantau proses pelaksanaan dan untuk mengevaluasi hasil program-program yang telah dilaksanakan. baik kecukupan. mulai dari pengadaan. Pengelolaan Keuangan Pengelolaan keuangan. Pengelolaan Fasilitas (Peralatan dan Perlengkapan) Pengelolaan fasilitas sudah seharusnya dilakukan oleh sekolah. Demikian juga. Evaluasi semacam ini sering disebut evaluasi diri. Pengelolaan kurikulum yang dimaksud dinamakan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). sampai evaluasi kinerja tenaga kerja sekolah (guru. pemeliharaan dan perbaikan. sekolah juga diberi kebebasan untuk mengembangkan muatan local dan pengembangan diri. f. hubungan kerja. Selain itu. kebutuhan untuk meningkatkan pemerataan. Hal ini didasari oleh kenyataan bahwa sekolahlah yang paling mengetahui kebutuhan fasilitas. e. Pemerintah Pusat hanya menetapkan standar dan sekolah diharapkan mengoperasionalkan standar yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. Kebutuhan yang dimaksud. terutama fasilitas yang sangat erat kaitannya secara langsung dengan proses belajar mengajar. dan efisiensi sekolah. Selanjutnya sekolah berhak mengembangkan KTSP ke dalam silabus. sehingga sumber keuangan tidak semata-mata tergantung pada pemerintah. sekolah dibolehkan mendiversifikasi kurikulum. memperluas. yang sampai saat ini masih ditangani oleh birokrasi di atasnya. artinya. relevansi. Sekolah dapat mengembangkan (memperdalam. maupun kemutakhirannya. artinya. Sekolah juga harus diberi kebebasan untuk melakukan “kegiatan-kegiatan yang mendatangkan penghasilan” (income generating activities). yang seharusnya. h. proses pembelajaran. Pengelolaan Ketenagaan (Pendidik dan Tenaga Kependidikan) Pengelolaan ketenagaan. sistem penilaian. sekolah harus melakukan evaluasi. Berdasarkan hasil analisis kebutuhan tersebut. relevansi dan efisiensi sekolah. laboran. Hal ini juga didasari oleh kenyataan bahwa sekolahlah yang paling memahami kebutuhannya. mutu. rekrutmen. misalnya. mutu. pengembangan. mendiversifikasi) kurikulum. Pengelolaan Kurikulum Saat ini telah terjadi desentralisasi sebagian pengelolaan kurikulum dari pemerintah pusat ke sekolah melalui Permendiknas 22/2006.Sekolah diberi kewenangan untuk menyusun rencana pengembangan sekolah (RPS) atau school-based plan sesuai dengan kebutuhannya. materi pokok pembelajaran. Oleh karena itu. mulai dari analisis kebutuhan. Evaluasi diri harus jujur dan transparan agar benar-benar dapat mengungkap informasi yang sebenarnya. terutama pengalokasian/penggunaan uang sudah sepantasnya dilakukan oleh sekolah. sekolah harus melakukan analisis kebutuhan pemerataan. namun tidak boleh mengurangi standar isi yang telah tertuang dalam Permendiknas 22/2006. perencanaan. hingga pengembangan. Dalam kondisi seperti ini. Pelayanan Siswa . dan yang dapat diajarkan. c. kemudian sekolah membuat rencana peningkatan pemerataan.) dapat dilakukan oleh sekolah. memperkaya. mutu. sekolah dipersilakan memilih cara-cara yang paling sesuai dengan kondisi masing-masing. relevansi dan efisiensi sekolah. Sekolah dibolehkan memperkaya mata pelajaran yang diajarkan. tenaga administrasi. dan sebagainya. apa yang diajarkan boleh diperluas dari yang harus. khususnya evaluasi yang dilakukan secara internal. Padahal kondisi sekolah pada umumnya sangat beragam. Untuk itu. kecuali yang menyangkut pengupahan/imbal jasa dan rekrutmen guru pegawai negeri. apa yang diajarkan boleh dikembangkan agar lebih kontekstual dan selaras dengan karakteristik peserta didik. memperkuat.

i. melakukan kerjasama dengan masyarakat. efektif. Kultur sekolah sudah merupakan kewenangan dan tanggungjawab sekolah sehingga yang diperlukan adalah upaya-upaya yang lebih intensif dan ekstentif. Lingkungan sekolah yang aman dan tertib. hingga sampai pada pengurusan alumni. dan dukungan dari masyarakat terutama dukungan moral dan finansial. penempatan untuk melanjutkan sekolah atau untuk memasuki dunia kerja. kriteria fasilitas pendidikan. pengembangan/ pembinaan/pembimbingan. proses menuju MBS memerlukan perubahan empat hal pokok berikut: . dan kegiatan-kegiatan yang terpusat pada siswa (studentcentered activities) adalah contoh-contoh kultur sekolah yang dapat menumbuhkan semangat belajar siswa. yang diperlukan adalah peningkatan intensitas dan ekstensitasnya. Oleh karena itu. Karena itu. yang dibutuhkan adalah peningkatan intensitas dan ekstensitas hubungan sekolahmasyarakat. ide. dan rekomendasi kepada sekolah mengenai kebijakan dan program pendidikan. Dalam arti yang sebenarnya. kepemilikan. RAPBS. j. kesehatan sekolah. sebenarnya dari dahulu memang sudah didesentralisasikan. akan tetapi merupakan proses yang berlangsung secara terus menerus dan melibatkan semua pihak yang berwenang dan bertanggungjawab dalam penyelenggaraan sekolah. kepedulian. dalam arti yang sebenarnya. Dalam MBS. Paling tidak. peningkatan partisipasi warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. Hubungan Sekolah-Masyarakat Esensi hubungan sekolah-masyarakat adalah untuk meningkatkan keterlibatan. mulai dari penerimaan siswa baru. kriteria pendidik dan tenaga kependidikan.Pelayanan siswa. inovatif. Tetapi satu hal yang perlu diperhatikan bahwa mengubah pendekatan manajemen berbasis pusat menjadi manajemen berbasis sekolah bukanlah merupakan proses sekali jadi dan bagus hasilnya (one-shot and quick-fix). sekolah memiliki mitra yang mewakili masyarakat sekitarnya yang disebut komite sekolah. PELAKSANAAN MBS A. Tugas dan fungsi komite sekolah dalam pelaksanaan MBS adalah: (1) memberi masukan. dan peningkatan fleksibilitas pengelolaan sumberdaya sekolah. dan berbagai kebutuhan pendidikan yang diajukan oleh masyarakat. esensi MBS adalah peningkatan otonomi sekolah. dan menyenangkan. Pengantar Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya. pertimbangan. Oleh karena itu. dan hal-hal lain yang terkait dengan pendidikan. B. optimisme dan harapan/ekspektasi yang tinggi dari warga sekolah. menggalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan pendidikan. (2) mendorong orangtua siswa dan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pendidikan. kreatif. sekali lagi. melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap kebijakan/program/ penyelenggaraan dan keluaran pendidikan. Konsep ini membawa konsekuensi bahwa pelaksanaan MBS sudah sepantasnya menerapkan pendekatan “idiograpik” (membolehkan adanya keberbagaian cara melaksanakan MBS) dan bukan lagi menggunakan pendekatan “nomotetik” (cara melaksanakan MBS yang cenderung seragam/konformitas untuk semua sekolah). tuntutan. tidak ada satu resep pelaksanaan MBS yang sama untuk diberlakukan ke semua sekolah. Pengelolaan Kultur Sekolah Kultur sekolah (pisik dan nir-pisik) yang kondusif-akademik merupakan prasyarat bagi terselenggaranya proses belajar mengajar yang aktif. hubungan sekolah-masyarakat dari dahulu sudah didesentralisasikan. kriteria kinerja sekolah. dan menampung dan menganalisis aspirasi. mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu tinggi.

menjadi sekolah yang bersifat otonom dan mendudukkannya sebagai unit utama. peraturan pemerintah. garisgaris besar kegiatan sosialisasi/pembudayaan MBS dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: a. dan bagaimana). simposium. budaya. kebiasaan (routines) berperilaku warga (unsur-unsur) sekolah perlu disesuaikan karena MBS menuntut kebiasaan-kebiasaan berperilaku baru yang mandiri. Dengan cara berpikir semacam ini. budaya. Oleh karena itu. pengawas. c. sinkron. lokakarya. misalnya seminar. Dalam melakukan sosialisasi MBS. dan sumberdaya baru yang diharapkan dapat mendukung penyelenggaraan MBS. dan sumberdaya yang cukup mendasar. siswa. integratif. Kedua. budaya. peran sekolah yang selama ini biasa diatur (mengikuti apa yang diputuskan oleh birokrat diatasnya) perlu disesuaikan menjadi sekolah yang bermotivasi-diri tinggi (selfmotivator). maka semua unsur sekolah harus memahami konsep MBS (apa. . kreatif. Perubahan peran ini merupakan konsekuensi dari perubahan peraturan perundangundangan bidang pendidikan. yang penting diupayakan oleh kepala sekolah adalah “membaca” dan “membentuk” budaya MBS di sekolah masing-masing. dan media masa. pejabat Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. pejabat Dinas Pendidikan Provinsi. guru BK.Pertama. ketentuan-ketentuan.) melalui berbagai mekanisme. hubungan antar warga (unsur-unsur) dalam sekolah.dan peraturan menteri. luwes. B. Identifikasikan sistem. dan kenalkan sistem. diskusi. koordinatif atau fasilitatif). mengapa. sinergis. Karena itu struktur organisasi pendidikan yang ada saat ini perlu ditata kembali dan kemudian dianalisis hubungan antar unsur/pihak untuk menentukan sifat hubungan (direktif. langkah pertama yang harus dilakukan oleh sekolah adalah mensosialiasikan konsep MBS kepada semua warga/unsur sekolah (guru. rapat kerja. baik undang-undang. Melakukan Sosialisasi MBS Sekolah merupakan sistem yang terdiri dari unsur-unsur yang saling terkait dankarenanya hasil kegiatan pendidikan di sekolah merupakan hasil kolektif dari semua unsur sekolah. Secara umum. peraturan presiden. koordinatif/kooperatif. dan sumberdaya baru yang diperlukan untuk menyelenggarakan MBS. Buatlah komitmen secara rinci yang diketahui oleh semua unsur yang bertanggungjawab. Ketiga. forum ilmiah. dan sumberdaya yang perlu diperkuat dan yang perlu diubah. antara sekolah dengan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan Dinas Pendidikan Provinsi perlu diperbaiki atas dasar jiwa otonomi. jika terjadi perubahan sistem. wakil kepala sekolah. dan sumberdaya yang ada di sekolah secara cermat dan refleksikan kecocokannya dengan sistem. budaya. dan sebagainya. budaya. dan kebijakankebijakan bidang pendidikan yang ada di daerah saat ini yang masih mendudukkan sekolah sebagai subordinasi birokrasi dinas pendidikan dan kedudukan sekolah bersifat marginal. Tahap-tahap Pelaksanaan 1. b. Baca dan pahamilah sistem. orangtua siswa. pelatihan. Keempat. karyawan. perlu penyempurnaan peraturan-peraturan. dan professional. proaktif.

siswa dengan siswa. akan tetapi sangat diperlukan untuk mendukung visi. Hadapilah “status quo” (resistensi) terhadap perubahan. tujuan. Aturan sekolah perlu dirumuskan kembali agar sesuai dengan tuntutan MBS yaitu otonomi. kepala sekolah dengan kepala dinas pendidikan kabupaten/kota. (2) melakukan advokasi. Demikian juga. fleksibilitas. upaya-upaya untuk meningkatkan kemitraan perlu ditempuh melalui: (1) pembuatan pedoman mengenai tatacara kemitraan. rencana. pendukung. Merumuskan Kembali Aturan Sekolah. dan hubungan antar unsur-unsur sekolah. budaya. rencana. sasaran. sasaran. guru dengan siswa. 3. guru dengan orangtua siswa. kebiasaan-kebiasaan perilaku tergantung atasan dan menunggu perlu diubah menjadi berani mengambil prakarsa dan inisiatif. dan kompetensi serta kompatibilitas tujuan yang akan dicapai. Memperbanyak Mitra Sekolah Seperti dikemukakan sebelumnya. dst. Bekerjalah dengan semua unsur sekolah untuk mengklarifikasikan visi. dan g. Istilah-istilah peran yang bersifat egaliter misalnya kepala sekolah dan guru sebagai fasilitator. cerdas. Peran Unsur-unsur Sekolah. Pantaulah dan arahkan proses perubahan agar sesuai dengan visi. mentor. misi. guru dengan guru. tujuan. pembimbing. pemberdaya. Oleh karena itu. Kemitraan sekolah dengan masyarakat sekitarnya meliputi. dan dinamis merupakan kartu trup bagi keberhasilan MBS. f. publikasi. 2.d. mediator. kepala sekolah dengan guru. e. dan sumberdaya yang belum ada sekarang. antara lain: kepala sekolah dengan komite sekolah. Kemitraan yang dapat menghasilkan teamwork yang kompak. dan sumberdaya manusia yang mendukung penerapan MBS serta hargailah mereka (unsur-unsur) yang telah memberi contoh dalam penerapan MBS. budaya. peran masing-masing unsur sekolah perlu ditinjau kembali sesuai dengan tuntutan MBS yaitu demokratisasi sekolah. kebiasaan bertindak. misi. Ini berarti bahwa peran-peran yang semula lebih bersifat otoriter perlu diubah agar menjadi egaliter. pemberi pertimbangan. fleksibilitas dan peningkatan partisipasi dalam penyelenggaraan sekolah. Kebiasaan dan Hubungan antar Unsur-unsur Sekolah Pergeseran dari manajemen berbasis pusat (sentralistik) menuju manajemen berbasis sekolah memerlukan peninjauan kembali terhadap aturan sekolah. dan transparansi terhadap pemangku kepentingan. sekolah harus memperbanyak mitra. rencana. misi. esensi MBS adalah peningkatan otonomi sekolah. antara lain. Kebiasaan . Garisbawahi prioritas sistem. yurisdiksi. peran unsur-unsur sekolah. dan program-program penyelenggaraan MBS. dan program-program penyelenggaraan MBS dan doronglah sistem. jangan menghindar dan jangan menarik darinya serta jelaskan mengapa diperlukan perubahan dari manajemen berbasis pusat menjadi MBS. sasaran. penyediaan sarana kemitraan dan saluran komunikasi. dan program-program MBS yang telah disepakati. dan partisipasi. tutor. dan (3) melibatkan pemangku kepentingan sesuai dengan prinsip relevansi. dst. Kemitraan dalam sekolah meliputi. baik partisipasi dari warga sekolah maupun masyarakat di sekitarnya melalui perwakilan komite sekolah. Kemitraan penting untuk dilakukan karena disadari sepenuhnya bahwa hasil pendidikan sekolah merupakan hasil kolektif dari unsur-unsur terkait atau para pemangku kepentingan (stakeholders). tujuan. Demikian juga. dan istilah-istilah lain yang sederajad dengan bahasa demokrasi. baik dari dalam maupun dari luar sekolah. Ini berarti bahwa jika MBS ingin sukses.

Mengklarifikasi Fungsi dan Aspek Manajemen Sekolah Manajemen pendidikan umumnya dan manajemen sekolah khususnya merupakan pengelolaan institusi (sekolah) yang dilakukan dengan dan melalui pendidik dan tenaga kependidikan untuk mencapai tujuan sekolah secara efektif dan efisien. penilaian. tanggung jawab. kepekaan. Menerapkan Prinsip-prinsip Tata Kelola yang Baik MBS akan berhasil dengan baik jika sekolah menerapkan prinsip-prinsip tata kelola yang baik sebagaimana disebut sebelumnya. dan sebagainya. saling komplemen. penyediaan sarana untuk memfasilitasi pelaksanaan prinsip-prinsip tata kelola yang baik. lokakarya. akuntabilitas. dan pemfasilitasian terhadap bawahan merupakan harus diunggulkan. keuangan. hubungan sekolah-masyarakat. Fungsi-fungsi manajemen dan urusan-urusan sekolah (digabung menjadi manajemen sekolah) tersebut perlu diklarifikasi secara bersamasama antara sekolah dan dinas pendidikan kabupaten/kota melalui pertemuan/forum untuk menemukan pembagian urusan-urusan tentang fungsi-fungsi manajemen dan urusan-urusan pendidikan yang menjadi kewenangan dan tanggungjawab sekolah dan dinas pendidikan kabupaten/kota. penanggulangan narkoba. 5. dan sebagainya. relasi dengan para pemangku kepentingan. keadilan.mengunggulkan kewenangan diubah menjadi kebiasaan melayani. 6. Prinsip-prinsip tata kelola yang baik meliputi: partisipasi. (2) pelatihan. hubungan fungsional. Urusan-urusan sekolah meliputi: kurikulum. bukan mengunggulkan kewenangan atasan terhadap bawahan. misalnya: (1) pemberian panduan-panduan tentang konsep MBS. efisiensi. konflik dan benturan antara sekolah dan dinas pendidikan. pelaksanaan. pengembangan kapasitas (kemampuan dan kesanggupan) mereka perlu dilakukan melalui berbagai upaya. Dua hal yang merupakan inti manajemen sekolah yaitu fungsi manajemen dan urusan sekolah. melakukan advokasi. komite sekolah dan dewan pendidikan. dst.yang disesuaikan dengan konteks kebutuhan. wawasan kedepan. komite sekolah. efektivitas. transparansi. dan dewan pendidikan. seminar tentang praktek-praktek yang baik dan pelajaran yang dapat . pemberdayaan. Meningkatkan Kapasitas Sekolah MBS merupakan model baru bagi sekolah maupun dinas pendidikan kabupaten/kota. prediktibilitas. termasuk komite sekolah dan dewan pendidikan. 4. dan bukannya hubungan yang semata-mata struktural (atasan dan bawahan). Pelayanan. Hubungan antar unsur juga perlu disesuaikan dengan tuntutan MBS. evaluasi. kebiasaan melayani sistem sekolah diubah menjadi kebiasaan melayani siswa. Dengan cara ini akan terbentuk pembagian manajemen pendidikan yang jelas. sarana dan prasarana. dan pengawasan/pengontrolan. pelaksanaan. hubungan interaktif. penegakan hukum. diskusi kelompok terfokus. profesionalisme. pendidik dan tenaga kependidikan. pendidikan lingkungan hidup (program adiwiyata). publikasi. MBS menuntut hubungan simbiosis. Fungsi-fungsi manajemen meliputi perencanaan. pengorganisasian. karakteristik dan kemampuan sekolah masing-masing. koheren. kesiswaan. dan terhindar dari duplikasi. Untuk itu. demokrasi. pengkoordinasian. proses belajar mengajar. Berikut dipaparkan visualisasi matrik MBS (Tabel 3) untuk memudahkan sekolah dan dinas pendidikan dalam membagi urusan-urusan manajemen pendidikan yang menjadi kewenangan sekolah dan dinas pendidikan kabupaten/kota. dan kepastian jaminan hukum. Penerapan tata kelola yang baik harus diupayakan oleh sekolah melalui berbagai cara seperti misalnya: pembuatan aturan main sekolah/pedoman tentang tatacara pelaksanaan prinsip-prinsip tata kelola yang baik.

masyarakat. tetapi disebar ke seluruh pemegang kepentingan sekolah. seolah-olah kepala sekolah seperti raja.dipetik oleh sekolah-sekolah yang melaksanakan MBS. Makin tinggi tingkat kesiapan kapasitas sekolah dalam melaksanakan MBS. kekuatan bergeser dari satu orang (kepala sekolah) menuju ke kekuatan kolektif. untuk tidak disebut satu persatu. Jadi. meningkatkan relevansi pendidikan (relevansinya dengan kebutuhan peserta didik. Melaksanakan. Meredistribusi Kewenangan dan Tanggung jawab Dalam era sentralistik. RPS/RKAS adalah dokumen tentang gambaran kegiatan sekolah dimasa depan dalam rangka untuk mencapai tujuan sekolah yang telah ditetapkan. (4) menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. Hasil evaluasi harus digunakan sebagai bahan masukan dalam rangka perbaikan desain RPS/RKAS maupun implementasinya. Keberhasilan MBS sangat tergantung pada kesiapan kapasitas (kemampuan dan kesanggupan) sekolah. Dengan cara ini. . baik antar pelaku sekolah. kewenangan dan tanggung jawab tidak lagi semata-mata terpusat pada kepala sekolah. Karena itu. dan antar waktu. (2) mendukung koordinasi antar pelaku sekolah. efektif. sekolah dapat mengembangkan jenis-jenis RPS/RKAS untuk meningkatkan mutu (input. RPS/RKAS penting dimiliki oleh sekolah untuk memberi arah dan bimbingan para pelaku sekolah dalam rangka untuk mencapai tujuan sekolah dengan resiko yang kecil dan mengurangi ketidakpastian masa depan. Semuanya tergantung kepala sekolah. proses. sinkronisasi. Karena itu. cerdas. dan (6) menjamin tercapainya penggunaan sumberdaya secara efisien. Hasil dari perencanaan sekolah adalah RPS/RKAS. dengan memperhitungkan sumberdaya yang tersedia. RPS/RKAS disusun dengan tujuan untuk: (1) menjamin agar perubahan/tujuan sekolah yang telah ditetapkan dapat dicapai dengan tingkat kepastian yang tinggi dan resiko yang kecil. seperti dikemukakan sebelumnya. Dalam MBS. (3) menjamin terciptanya integrasi. sangat penting bagi sekolah memilikiteamwork yang kompak. keluarga. melalui urutan pilihan. dan sinergi. demokrasi merupakan jiwanya. makin tinggi pula tingkat keberhasilan MBS di sekolah yang bersangkutan. (5) mengoptimalkan partisipasi warga sekolah dan masyarakat. Menyusun Rencana Pengembangan Sekolah (RPS/RKAS). dan berkeadilan dan berkelanjutan. 7. kekuatan di sekolah tidak lagi semata-mata di satu pundak kepala sekolah. a. dan sebagainya. dan sektor-sektor pembangunan). pelaksanaan. 8. Menyusun Desain RPS/RKAS Sekolah yang melaksanakan MBS harus melakukan perencanaan sekolah dan menghasilkan RPS/RKAS. dan Memonitor serta Mengevaluasinya Sekolah pelaksana MBS diharapkan menyusun desain. kewenangan dan tanggung jawab dalam mengurus sekolah menumpuk pada kepala sekolah (one man show). dan dinamis. penganggaran. dan pengawasan. (3) studi banding ke sekolah yang sukses melaksanakan MBS. output). antar sekolah dan dinas pendidikan kabupaten/kota. meningkatkan efisiensi (internal dan eksternal). tetapi disebar/didistribusikan kepada para pemangku kepentingan pendidikan sekolah. Perencanaan sekolah adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan sekolah yang tepat. melaksanakan dan melakukan evaluasi RPS/RKAS secara berkelanjutan setiap 5 tahun (renstra) dan rencana tahunan seperti Gambar 3 berikut. Tergantung dari kepentingan/kebutuhan.

kepala sekolah perlu melakukan supervisi dan monitoring terhadap kegiatan-kegiatan peningkatan mutu yang dilakukan di sekolah. baik jangka pendek maupun jangka panjang. menggunakan pengalaman-pengalaman masa lalu yang dianggap efektif. Dalam melaksanakan proses pembelajaran. pemilihan urusan-urusan sekolah yang perlu dilibatkan untuk mencapai sasaran yang telah dirumuskan. maka sekolah perlu mengambil langkah proaktif untuk mewujudkan sasaran-sasaran yang telah ditetapkan. dan tonggak-tonggak kunci keberhasilan satu tahun ke depan. rencana pelaksanaan. Kepala sekolah dan guru bebas mengambil inisiatif dan kreatif dalam menjalankan program-program yang diproyeksikan dapat mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkan. program-program untuk mencapai tujuan satu tahun ke depan. monitoring dan evaluasi. maka sekolah harus dapat memperbaiki pelaksanaan program peningkatan mutu pada semester berikutnya. tujuan strategis sekolah. untuk mengetahui seberapa jauh program peningkatan mutu telah mencapai sasaran-sasaran mutu yang telah ditetapkan . Sedangkan rencana tahunan sekolah pada umumnya (alternatif 1): meliputi tujuan yang akan dicapai satu tahun ke depan. program-program strategis. Kepala sekolah dan guru hendaknya mendayagunakan sumberdaya pendidikan yang tersedia semaksimal mungkin. dukungan. Rencana tahunan (alternatif 2) meliputi: identifikasi tantangan nyata yang dihadapi oleh sekolah. bimbingan dan arahan jangan sampai membuat guru dan tenaga lainnya menjadi amat terkekang dalam melaksanakan kegiatan. Untuk menghindari berbagai penyimpangan. dan tonggak-tonggak kunci keberhasilan. orangtua siswa. perumusan tujuan/sasaran satu tahun ke depan berdasarkan tantangan nyata yang dihadapi (tujuan situasional sekolah). Namun demikian. langkah-langkah pemecahan persoalan. bimbingan. dan menggunakan teori-teori yang terbukti mampu meningkatkan kualitas pembelajaran. Karena itu. Bilamana pada satu semester dinilai adanya faktor-faktor yang tidak mendukung. Evaluasi jangka menengah dilakukan pada setiap akhir tahun. dan penyusunan rencana dan program kerja tahunan sekolah. Dengan demikian siswa dapat menguasai suatu materi pelajaran secara tuntas sebagai prasyarat dan dasar yang kuat untuk mempelajari tahapan pelajaran berikutnya yang lebih luas dan mendalam. rencana biaya. dan teguran kepada guru dan tenaga lainnya jika ada kegiatan yang tidak sesuai dengan jalur-jalur yang telah ditetapkan. Melakukan Monitoring dan Evaluasi RPS/RKAS Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program. c. sekolah harus dapat membebaskan diri dari keterikatan-keterikatan birokratis yang biasanya banyak menghambat penyelenggaraan pendidikan. dan masyarakat. sekolah perlu mengadakan evaluasi pelaksanaan program. Konsep ini menekankan pentingnya siswa menguasai materi pelajaran secara utuh dan bertahap sebelum melanjutkan ke pembelajaran topik-topik yang lain. rencana biaya. misi. Evaluasi jangka pendek dilakukan setiap akhir catur wulan untuk mengetahui keberhasilan program secara bertahap. Kepala sekolah sebagai manajer dan pemimpin pendidikan di sekolahnya berhak dan perlu memberikan arahan. rencana pemantauan dan evaluasi. analisis SWOT. sehingga kegiatan tidak mencapai sasaran. strategi pelaksanaan. Melaksanakan RPS/RKAS Dalam melaksanakan rencana peningkatan mutu pendidikan yang telah disetujui bersama antara sekolah.Sekolah harus membuat rencana pengembangan sekolah strategis (RPS/RKAS Strategis/Renstra) untuk jangka waktu 5 tahun ke depan dan rencana operasional/rencana tahunan sekolah (RPS/RKAS Tahunan) yang merupakan jabaran dari Renstra. b. Rencana strategis sekolah pada umumnya mencakup perumusan visi. sekolah hendaknya menerapkan konsep belajar tuntas (mastery learning).

Demikian pula. rinciannya sebagai berikut: (1) pada tataran formulasi dan penetapan kebijakan. Laporan teknis menyangkut program pelaksanaan dan hasil MBS. SMP. orangtua peserta didik dan masyarakat sebagai pihak eksternal harus dilibatkan untuk menilai keberhasilan program yang telah dilaksanakan. Khusus untuk kebijakan. sudah harus dikurangi dan dikembangkan menjadi pola pikir manajemen baru yang lebih menekankan pada otonomi. sedang birokrasi dan unsurunsur lainnya merupakan unit pelayanan pendukung. SMA. Dengan demikian. Direktorat Pembinaan mempunyai tugas dan fungsi mensosialisasikan MBS ke seluruh daerah melalui Dinas Pendidikan Propinsi/Kabupaten/Kota. Direktorat Pembinaan Sekolah (SD. yaitu dari pola manajemen lama (sentralistik) menuju ke pola manajemen baru (desentralistik) memerlukan perumusan kembali tugas dan fungsi jajaran birokrasi. motivasi-diri. dinas pendidikan kabupaten/kota. khususnya guru dan tenaga lainnya agar mereka dapat menjiwai setiap penilaian yang dilakukan dan memberikan alternatif pemecahan. Suatu hal yang bisa terjadi bahwa orang tua peserta didik dan masyarakat menilai suatu program gagal atau kurang berhasil. Pemerintah Propinsi. Yang perlu disepakati adalah indikator apa saja yang perlu ditetapkan sebelum penilaian dilakukan. dan Pemerintah Kabupaten/Kota (selanjutnya disingkat PP 38/2007). pengaturan. SMK) Secara umum. SMP. sedang laporan keuangan meliputi penggunaan uang serta pertanggungjawabannya. Karena itu pola pikir manajemen lama yang lebih menekankan pada subordinasi. pengontrolan. d. Dari uraian konsep MBS disebutkan bahwa pola manajemen baru lebih menekankan pada pemandirian dan pemberdayaan sekolah. Tugas dan Fungsi Jajaran Birokrasi Konsekuensi logis dari perubahan penyelenggaraan pendidikan. Direktorat Pembinaan Sekolah (SD. 1). maka tugas dan fungsi masing-masing jajaran birokrasi pendidikan dalam penyelenggaraan MBS dapat dituliskan sebagai berikut. standar. fasilitasi. SMK. orangtua siswa dan yayasan (bagi sekolah swasta).sebelumnya. Hasil evaluasi pelaksanaan MBS perlu dibuat laporan yang terdiri dari laporan teknis dan keuangan. maupun evaluasinya pada tingkat nasional. selanjutnya disingkat Direktorat Pembinaan) mempunyai tugas dan fungsi menyusun norma-norma (peraturan perundang-undangan). kriteria. SMA. Seiring dengan diberlakukannya Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan (Bidang Pendidikan) antara Pemerintah. dan menetapkan standar MBS sebagai patokan yang berlaku secara nasional. Dengan evaluasi ini akan diketahui kekuatan dan kelemahan program untuk diperbaiki pada tahun-tahun berikutnya. komite sekolah. walaupun pihak sekolah menganggapnya cukup berhasil. prosedur. sekolah mengetahui bagaimana sudut pandang pihak luar bila dibandingkan dengan hasil penilaian internal. Sebagai bentuk pertanggungjawaban (akuntabilitas). maka laporan harus dikirim kepada pengawas. dan pengambilan keputusan partisipatif. Dalam melaksanakan evaluasi. kepala sekolah harus mengikutsertakan setiap unsur yang terlibat dalam program. bantuan. maka pendapatan tambahan tersebut harus juga dilaporkan. dan oneman-show dalam pengambilan keputusan. (2) pada tataran implementasi kebijakan. (3) memfasilitasi . Ini memiliki arti bahwa sekolah merupakan unit utama kegiatan pendidikan. Direktorat Pembinaan mempunyai tugas dan fungsi memformulasikan/menetapkan kebijakan dan strategi pengelolaan MBS melalui penyusunan dan penerbitan buku panduan MBS. pengarahan. Jika sekolah melakukan upaya-upaya penambahan pendapatan (income generating activities). implementasi. dan kebijakan. baik pada tataran formulasi/penetapan.

4). dana pendidikan. tugas dan fungsi Dinas Pendidikan Provinsi adalah menjabarkan kebijakan dan strategi MBS yang telah digariskan oleh Direktorat Pembinaan untuk diberlakukan di Provinsi masing-masing. pemberian pedoman/petunjuk pelaksanaan MBS. dan sebagainya. dan (4) mengkoordinasikan dan menyerasikan pelaksanaan MBS lintas kabupaten/kota untuk menghindari penyimpangan MBS dan menghindari kesenjangan mutu pendidikan lintas kabupaten/kota. g) Melaksanakan pembinaan dan pengurusan atas tenaga pendidik yang bertugas pada satuan pendidikan di Kabupaten/Kota berkaitan dengan pelaksanaan MBS. buku pelajaran. dan pertemuan-pertemuan yang memfasilitasi pelaksanaan MBS. Direktorat Pembinaan mempunyai tugas dan fungsi melakukan monitoring dan evaluasi penyelenggaraan MBS secara nasional dan menerbitkan informasi secara berkala. (2) memberi pelatihan kepada para pengembang MBS di tingkat kabupaten. prasarana dan sarana pendidikan. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota menjalankan tugas dan fungsinya sebagai berikut: a) Menyusun kebijakan yang mendukung pelaksanaan MBS. dan (3) pada tataran evaluasi kebijakan. antara lain: (1) menyusun petunjuk teknis pelaksanaan dan petunjuk teknis monitoring dan evaluasi berdasarkan pedoman yang ditetapkan pemerintah pusat. c) Menyusun pembagian urusan pendidikan yang menjadi kewenangan dan tanggungjawab Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan Sekolah. baik secara elektronik dan/atau non-elektronik tentang perkembangan konsep dan hasil pelaksanaan MBS secara nasional dan praktek-praktek yang baik yang dapat dipetik untuk memperbaiki konsep maupun pelaksanaan MBS. b) Membimbing sekolah dalam menerapkan MBS melalui berbagai cara seperti pelatihan. Dinas Pendidikan Provinsi Secara umum. Lebih spesifiknya.dan mengembangkan kapasitas daerah agar mampu dan sanggup melaksanakan MBS. Sekolah . (3) melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan MBS serta pengembangannya di Provinsi masing-masing. f) Memberikan pelayanan terhadap sekolah dalam mengelola aset/sumberdaya pendidikan yang meliputi tenaga guru. 3). e) Memberikan pelayanan pengelolaan atas satuan pendidikan negeri dan swasta di Kabupaten/Kota masing-masing berkaitan dengan pelaksanaan MBS. d) Memfasilitasi pengimbasan praktek-praktek MBS yang baik (best practices)dari sekolah tertentu ke sekolah-sekolah lain untuk dijadikan lessons learned. yaitu yang mampu menjaga harmonisme antara prinsip-prinsip MBS dan kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah daerah khususnya pendanaan dari masyarakat sehingga tidak terjadi konflik apalagi benturan. dan h) Melaksanakan monitoring dan evaluasi penyelenggaraan MBS untuk perbaikan. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota menjalankan tugas dan fungsi utamanyamemberikan pelayanan dalam pengelolaan satuan pendidikan di Kabupaten/Kota masing-masing yang menjalankan MBS. 2).

dan (7) menampung dan menganalisis aspirasi. wakil organisasi profesi. Komite Sekolah. RAPBS. (5) melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap kebijakan/program/penyelenggaraan dan keluaran pendidikan. maka sekolah menjalankan tugas dan fungsinya sebagai berikut: a) Menyusun rencana dan program pelaksanaan MBS dengan melibatkan kelompok-kelompok kepentingan. d) Melaksanakan pengawasan dan pembimbingan dalam pelaksanaan MBS sehingga kejituan implementasi dapat dijamin untuk mencapai sasaran MBS. TATA KELOLA YANG BAIK A. Komite Sekolah Tugas dan fungsi utama Komite Sekolah dalam pelaksanaan MBS di sekolah adalah: (1) memberi masukan. tuntutan. pertimbangan. 5). dan g) Mempertanggung jawabkan hasil penyelenggaraan MBS kepada pihak-pihak yang berkepentingan dengan sekolah yaitu Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. wakil pemerintah. (4) mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu tinggi. Komite Sekolah. dan Yayasan (bagi sekolah swasta). kriteria kinerja sekolah. wakil kepala sekolah. guru. (3) menggalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan pendidikan. b) Mengkoordinasikan dan menyerasikan segala sumber daya yang ada di sekolah dan di luar sekolah untuk mencapai sasaran MBS yang telah ditetapkan. tata usaha). wakil orangtua siswa.tahun berikutnya. dan tokoh masyarakat. dan keterlibatan total warga sekolah dalam meningkatkan mutu sekolah) dan berpikir sistem (berpikir holistik/tidak parsial. e) Pada setiap akhir tahun ajaran melakukan evaluasi untuk menilai tingkat ketercapaian sasaran program MBS yang telah ditetapkan. C.Tugas dan fungsi utama sekolah adalah mengelola penyelenggaraan MBS di sekolah masing-masing. Pengawas Sekolah. saling terkait. dan berbagai kebutuhan pendidikan yang diajukan oleh masyarakat. dan hal-hal lain yang terkait dengan pendidikan. c) Melaksanakan MBS secara efektif dan efisien dengan menerapkan prinsip-prinsip total quality management (fokus pada pelanggan. dan rekomendasi kepada sekolah mengenai kebijakan dan program pendidikan. dan terpadu). Mengingat sekolah merupakan unit utama dan terdepan dalam penyelenggaraan MBS. Hasil evaluasi ini kemudian digunakan untuk menentukan sasaran baru program MBS tahun. kriteria pendidik dan tenaga kependidikan. antara lain: wakil sekolah (kepala sekolah. kriteria fasilitas pendidikan. dan Yayasan (bagi sekolah swasta). f) Menyusun laporan penyelenggaraan MBS beserta hasilnya secara lengkap untuk disampaikan kepada pihak-pihak terkait yaitu Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. (6) melakukan kerjasama dengan masyarakat. ide. Pengantar . wakil siswa (OSIS). perbaikan secara terus-menerus. (2) mendorong orangtua siswa dan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pendidikan.

dalam MBS.Seperti disebut sebelumnya. Pergeseran lokus kebijakan dari pemerintah pusat dan dari dinas pendidikan ke sekolah diharapkan proses pengambilan keputusan. transparansi. transparansi. Dalam materi pelatihan ini tidak semua prinsip-prinsip tata kelola ditulis dan disampaikan. sekolah diberi otonomi (kewenangan dan tanggung jawab) yang lebih besar untuk mengelola sekolahnya. tokoh masyarakat. dan pihak-pihak lain yang mewakili masyarakat yang diwadahi melalui komite sekolah. perencanaan. Diharapkan. efisiensi. demokrasi/egaliterisme. dan tenaga-tenaga kependidikan lainnya. kepala sekolah. perencanaan. partisipasi dapat mendorong warga sekolah dan masyarakat sekitar untuk menggunakan haknya dalam menyampaikan pendapat dalam proses pengambilan keputusan. Arti Partisipasi Partisipasi adalah proses di mana stakeholders (warga sekolah dan masyarakat) terlibat aktif baik secara individual maupun kolektif. B. makin besar rasa memiliki. kewenangan dan tanggung jawab yang lebih besar hanya dapat dilaksanakan dengan baik apabila sekolah menerapkan prinsip-prinsip tata kelola yang baik yaitu partisipasi. hukum dilaksanakan dengan baik. Saat ini. Partisipasi a. pengawasan/pengevaluasian yang menyangkut kepentingan sekolah. Namun. siswa. Inilah pentingnya partisipasi bagi sekolah. dan akuntabilitas. pengawasan/ pengevaluasian pendidikan sekolah. pembuatan kebijakan. akuntabilitas. secara langsung maupun tidak langsung. tetapi hanya tiga tata kelola pertama yang diuraikan yaitu partisipasi. baik warga sekolah seperti guru. Dengan partisipasi aktif diharapkan mampu menjadikan aspirasi stakeholders sebagai panglima karena dengan MBS diharapkan mampu mengalirkan kekuasaan dari pemerintah pusat dan dinas . akademisi. maupun warga di luar sekolah seperti orang tua siswa. MBS mensyaratkan adanya partisipasi aktif dari semua pihak yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan di sekolah (stakeholders). Komite Sekolah merupakan wadah formal bagi stakeholders untuk berpartisipasi secara langsung maupun tidak langsung dalam penyelenggaraan sekolah. dan makin besar rasa tanggungjawab. Para pembaca dipersilahkan mempelajari prinsip-prinsip tata kelola yang tidak dibahas dalam materi pelatihan ini dari sumber-sumber lain. Latar Belakang Salah satu alasan penerapan MBS adalah untuk membuat kebijakan/keputusan sekolah lebih dekat dengan stakeholders sehingga hasilnya benar-benar mencerminkan aspirasi stakeholders. berwawasan ke depan. dan pengawasan/ pengevaluasian pendidikan lebih partisipatif dan benar-benar mengabdi kepada kepentingan publik dan bukan pada kepentingan elite birokrasi dan politik. pelaksanaan. pembuatan kebijakan. Tata kelola yang lainnya tidak akan diuraikan dalam materi pelatihan ini karena terbatasnya waktu pelatihan. pelaksanaan. perencanaan. dalam pengambilan keputusan. efektivitas. Uraian 1. makin besar pula rasa tanggungjawab. Untuk itu. makin besar rasa memiliki. prediktif. makin besar pula tingkat dedikasi/kontribusinya terhadap sekolah. Peningkatan partisipasi dilandasi oleh keyakinan bahwa makin tinggi tingkat partisipasi. secara langsung maupun tidak langsung. b. dan pasti dalam penjaminan mutu. peka terhadap aspirasi stakeholders. keadilan. pelaksanaan. pembuatan kebijakan. baik secara individual maupun kolektif.

dan kompatibilitas tujuan yang akan dicapainya. dan material/barang. Menyediakan sarana partisipasi atau saluran komunikasi agar stakeholdersdapat mengutarakan pendapatnya atau dapat mengekspresikan keinginan dan aspirasinya melalui pertemuan umum. mediator. batas-batas yurisdiksinya. baik dalam bentuk jasa (pemikiran/intelektualitas. controller. (5) Meningkatnya kepedulian stakeholders terhadap setiap langkah yang dilakukan oleh sekolah untuk meningkatkan mutu. dan material/barang. Melakukan advokasi. pelaksanaan. dan pengawasan/ pengevaluasian pendidikan di sekolah. baik sebagai advisor. pembuatan kebijakan. Tujuan Partisipasi Tujuan utama peningkatan partisipasi adalah untuk: (1) meningkatkan dedikasi/ kontribusi stakeholders terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah. keterampilan). (2) (3) (4) e. upaya-upaya yang perlu dilakukan oleh sekolah dalam rangka meningkatkan partisipasi stakeholders adalah sebagai berikut. dan transparansi kepadastakeholders. moral. terutama menyangkut kewibawaan dan kebersihan. yang sebenarnya sangat strategis karena pada level inilah keputusan dapat memperbaiki mutu pendidikan. c. moral. keterampilan). Indikator Keberhasilan Partisipasi Keberhasilan peningkatan partisipasi stakeholders dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah dapat diukur dengan beberapa indikator berikut: (1) (2) Kontribusi/dedikasi stakeholders meningkat dalam hal jasa (pemikiran. finansial. d. dan (4) menjamin agar setiap keputusan dan kebijakan yang diambil benar-benar mencerminkan aspirasi stakeholders dan menjadikan aspirasi stakeholderssebagai panglima bagi penyelenggaraan pendidikan di sekolah. (4) Meningkatnya kualitas dan kuantitas masukan (kritik dan saran) untuk peningkatan mutu pendidikan. partisipasi secara aktif dalam proses pengambilan keputusan. dan pengawasan/pengevaluasian pendidikan di sekolah. perencanaan. Meningkatnya kepercayaan stakeholders kepada sekolah. perencanaan. . komunikasi. temu wicara. pembuatan kebijakan. (1) Membuat peraturan dan pedoman sekolah yang dapat menjamin hak stakeholders untuk menyampaikan pendapat dalam segala proses pengambilan keputusan. konsultasi. (3) meningkatkan peranstakeholders dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Melibatkan stakeholders secara proporsional dengan mempertimbangkan relevansi pelibatannya. penyampaian pendapat secara tertulis. (2) memberdayakan kemampuan yang ada pada stakeholders bagi pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. pelaksanaan. supporter. (3) Meningkatnya tanggungjawab stakeholders terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah. publikasi. kompetensinya. Upaya-Upaya Peningkatan Partisipasi Untuk mencapai tujuan tersebut. and education provider. finansial.pendidikan ke tangan para pengelola sekolah. resource linker.

apa adanya. d. Dengan transparansi yang tinggi. maka sekolah harus transparan kepada publik mengenai proses dan hasil pendidikan yang dicapai. Upaya-Upaya Peningkatan Transparansi . jujur. Transparansi a. tidak bohong. hak untuk diinformasikan tanpa harus ada permintaan. Ini berarti bahwa sekolah harus memberikan informasi yang benar kepada publik. baik kualitas maupun kuantitas Pengembangan transparansi sangat diperlukan untuk membangun keyakinan dan kepercayaan publik kepada sekolah. Transparansi bertujuan untuk menciptakan kepercayaan timbal balik antara sekolah dan publik melalui penyediaan informasi yang memadai dan menjamin kemudahan dalam memperoleh informasi yang akurat. Hak publik atas informasi yang harus diberikan oleh sekolah antara lain: hak untuk mengetahui. c. dan terbuka terhadap publik tentang apa yang dikerjakan oleh sekolah. dan hak untuk menyebarluaskan informasi. b. tidak curang. Bersih dalam arti tidak KKN dan berwibawa dalam arti profesional. transparansi bukan lagi merupakan kebutuhan tetapi hak yang harus diberikan oleh sekolah sebagai organisasi pelayanan pendidikan. istilah transparansi sangatlah jelas yaitu kepolosan. Kebebasan memperoleh informasi sekolah dapat dicapai jika dokumentasi informasi sekolah tersedia secara mutakhir. sekolah harus memberikan jaminan kepada publik terhadap akses informasi sekolah atau kebebasan memperoleh informasi sekolah. hak untuk menghadiri pertemuan sekolah. Latar Belakang Sekolah adalah organisasi pelayanan yang diberi mandat oleh publik untuk menyelenggarakan pendidikan sebaik-baiknya. Transparansi menjamin bahwa data sekolah yang dilaporkan mencerminkan realitas. . Tujuan Transparansi Pengembangan transparansi ditujukan untuk membangun kepercayaan dan keyakinan publik kepada sekolah bahwa sekolah adalah organisasi pelayanan pendidikan yang bersih dan berwibawa.(6) Keputusan-keputusan yang dibuat oleh sekolah benar-benar mengekspresikan aspirasi dan pendapat stakeholders dan mampu meningkatkan kualitas pendidikan. Bagi publik. 2. publik tidak lagi curiga terhadap sekolah dan karenanya keyakinan dan kepercayaan publik terhadap sekolah juga tinggi. Arti Transparansi Transparansi sekolah adalah keadaan di mana setiap orang yang terkait dengan kepentingan pendidikan dapat mengetahui proses dan hasil pengambilan keputusan dan kebijakan sekolah. Mengingat sekolah adalah organisasi pelayanan publik. Dalam konteks pendidikan. hak untuk mendapatkan salinan informasi. Jika terdapat perubahan pada status data dalam laporan suatu sekolah. Oleh karena itu. Transparansi dicapai melalui kemudahan dan kebebasan publik untuk memperoleh informasi dari sekolah. transparansi penuh menyaratkan bahwa perubahan itu harus diungkapkan secara sebenarnya dan dengan segera kepada semua pihak yang terkait (stakeholders).

durasi waktu untuk mendapatkan informasi. fasilitas database. akuntabilitas publik akan menyangkut hak publik untuk memperoleh pertanggungjawaban penyelenggara sekolah. pengumuman melalui surat kabar) maupun media elektronik (radio dan televisi lokal). bagaimana cara mendapatkan informasi. mengelola. dan petunjuk penyebarluasan produk-produk dan informasi yang ada di sekolah maupun prosedur pengaduan. Pertanggung jawaban penyelenggara sekolah merupakan akumulasi dari keseluruhan pelaksanaan tugas-tugas pokok dan fungsi sekolah yang perlu disampaikan kepada publik/stakeholders. Agar penyelenggara sekolah tidak sewenang-wenang dalam menyelenggarakan sekolah. Untuk itu. mengambil keputusan. newsletter. Indikator Keberhasilan Transparansi Keberhasilan transparansi sekolah ditunjukkan oleh beberapa indikator berikut: (a) meningkatnya keyakinan dan kepercayaan publik kepada sekolah bahwa sekolah adalah bersih dan wibawa. leaflet. hak untuk komplain. dan prosedur pengaduan apabila informasi tidak sampai kepada publik. Akuntabilitas kinerja sekolah adalah perwujudan kewajiban sekolah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan/kegagalan pelaksanaan rencana sekolah dalam . Sekolah perlu mengupayakan peraturan yang menjamin hak publik untuk mendapatkan informasi sekolah. sekolah berkewajiban mempertanggungjawabkan kepada publik tentang apa yang dikerjakan sebagai konsekwensi dari mandat yang diberikan oleh publik/ masyarakat. Latar Belakang MBS memberi kewenangan yang lebih besar kepada penyelenggara sekolah yaitu kewenangan untuk mengatur dan mengurus sekolah. Upaya-upaya yang perlu dilakukan dalam kerangka meningkatkan transparansi sekolah kepada publik antara lain melalui pendayagunaan berbagai jalur komunikasi. dan hak untuk menilai kinerja sekolah. bentuk informasi yang dapat diakses oleh publik ataupun bentuk informasi yang bersifat rahasia. maka sekolah harus bertanggungjawab terhadap apa yang dikerjakan. Arti Akuntabilitas Akuntabilitas adalah kewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban atau untuk menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan penyelenggara organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau berkewenangan untuk meminta keterangan atau pertanggjawaban. hak diinformasikan. dan mengontrol sekolah.Transparansi sekolah perlu ditingkatkan agar publik memahami situasi sekolah dan dengan demikian mempermudah publik untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. dan (4) berkurangnya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku di sekolah. (3) bertambahnya wawasan dan pengetahuan publik terhadap penyelenggaraan sekolah. memimpin. e. Ini berarti. b. baik secara langsung melalui temu wicara. publik mempunyai hak untuk memberikan masukan. Publik sebagai pemberi mandat dapat memberi penilaian terhadap penyelenggara sekolah apakah pelaksanaan mandat dilakukan secara memuaskan atau tidak. (2) meningkatnya partisipasi publik terhadap penyelenggaraan sekolah. Dalam kaitannya dengan akuntabilitas. Akuntabilitas a. maupun secara tidak langsung melalui jalur media tertulis (brosur. sarana informasi dan komunikasi. 3. Upaya lain yang perlu dilakukan oleh sekolah dalam meningkatkan transparansi adalah menyiapkan kebijakan yang jelas tentang cara mendapatkan informasi.

mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan melalui alat pertanggungjawaban secara periodik. tujuan akuntabilitas adalah untuk menilai kinerja sekolah dan kepuasan publik terhadap pelayanan pendidikan yang diselenggarakan oleh sekolah. untuk mengikutsertakan publik dalam pengawasan pelayanan pendidikan. Sering kali istilah cost accountability juga digunakan untuk kategori akuntabilitas ini. maka perlu diupayakan hal-hal sebagai berikut. (b) anggaran pendapatan dan belanja sekolah. Penyelenggara sekolah harus memahami bahwa mereka harus mempertanggungjawabkan hasil kerja kepada publik. yaitu akuntabilitas yang berhubungan dengan proses. (2) akuntabilitas kinerja (product/quality accountability).. Selain itu. dan sebagainya. Akuntabilitas meliputi pertanggungjawaban penyelenggara sekolah yang diwujudkan melalui transparansi dengan cara menyebarluaskan informasi dalam hal: (a) pembuatan dan pelaksanaan kebijakan serta perencanaan. Sekolah dikatakan memiliki akuntabilitas tinggi jika proses dan hasil kinerja sekolah dianggap benar dan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Untuk mengukur kinerja mereka secara obyektif perlu adanya indikator yang jelas. akuntabilitas dapat dikategorikan menjadi 4: (1) akuntabilitas kebijakan. yaitu akuntabilitas yang berhubungan dengan pencapaian tujuan sekolah. ketentuan. pedoman. yaitu akuntabilitas pilihan atas kebijakan yang akan dilaksanakan. prosedur. d. b) Sekolah perlu menyusun pedoman tingkah laku dan sistem pemantauan kinerja penyelenggara sekolah dan sistem pengawasan dengan sanksi yang jelas dan tegas. aturan main. yaitu akuntabilitas yang berhubungan dengan pendapatan dan pengeluaran uang (cash in and cash out). c) Sekolah menyusun rencana pengembangan publik/stakeholders di awal setiap tahun anggaran. sekolah dan menyampaikan kepada d) Menyusun indikator yang jelas tentang pengukuran kinerja sekolah dan disampaikan kepada stakeholders. a) Sekolah harus menyusun aturan main tentang sistem akuntabilitas termasuk mekanisme pertanggungjawaban. . c. dan (d) keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan rencana sekolah dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Upaya-Upaya Peningkatan Akuntabilitas Agar sekolah memiliki akuntabilitas yang tinggi. dan untuk mempertanggungjawabkan komitmen pelayanan pendidikan kepada publik. dan (4) akuntabilitas keuangan (kejujuran) atau sering disebut (financial accountability). Tujuan Akuntabilitas Tujuan utama akuntabilitas adalah untuk mendorong terciptanya akuntabilitas kinerja sekolah sebagai salah satu prasyarat untuk terciptanya sekolah yang baik dan terpercaya. Sistem pengawasan perlu diperkuat dan hasil evaluasi harus dipublikasikan dan apabila terdapat kesalahan harus diberi sanksi. Ini perlu diupayakan untuk menjaga kepastian tentang pentingnya akuntabilitas. (c) pengelolaan sumberdaya pendidikan di sekolah. Menurut jenisnya. (3) akuntabilitas proses.

e) Melakukan pengukuran pencapaian kinerja pelayanan pendidikan dan menyampaikan hasilnya kepada publik/stakeholders di akhir tahun. Oleh karena itu. Jika hasil sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan. dan (d) meningkatnya kesesuaian kegiatankegiatan sekolah dengan nilai dan norma yang berkembang di masyarakat. g) Menyediakan informasi kegiatan sekolah kepada publik yang akan memperoleh pelayanan pendidikan. apanya yang salah? Konsepnya atau pelaksanaannya? Karena itu. e. pengelolaan program. sebaiknya setiap sekolah yang melaksanakan MBS diharapkan memiliki data-data tentang prestasi siswa sebelum dan sesudah MBS. Jika MBS kurang berhasil. f) Memberikan tanggapan terhadap pertanyaan atau pengaduan publik. Sebaliknya jika hasil tidak sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan. maupun pengelolaan proses belajar mengajar. bukan pada hasilnya. Hal ini penting untuk dilakukan agar sekolah dengan mudah untuk . maupun makro (kementerian). Tepatnya. tidak ada alasan untuk mengatakan apakah suatu sekolah mengalami kemajuan atau tidak. maka MBS dianggap tidak efektif (gagal). (b) tumbuhnya kesadaran publik tentang hak untuk menilai terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah. pada umumnya. yaitu: (a) meningkatnya kepercayaan dan kepuasan publik terhadap sekolah. dan departemen. Tanpa pengukuran. Jadi. menghasilkan informasi yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan. MONOTORING DAN EVALUASI MBS A. Monitoring adalah suatu proses pemantauan untuk mendapatkan informasi tentang pelaksanaan MBS. Hal ini didasari oleh pemikiran bahwa dengan monitoring dan evaluasi. Penerapan MBS juga memerlukan monitoring dan evaluasi secara intensif dan dilakukan secara terus-menerus. Pengantar Monitoring dan evaluasi merupakan bagian integral dari pengelolaan pendidikan. Istilah monitoring dan evaluasi memiliki makna sebagai berikut. (c) berkurangnya kasus-kasus KKN di sekolah. Monitoring dan evaluasi. Jadi. dinas pendidikan provinsi. fokus monitoring adalah pemantauan pada pelaksanaan MBS. Sedang evaluasi merupakan suatu proses untuk mendapatkan informasi tentang hasil MBS. h) Memperbarui rencana kinerja yang baru sebagai kesepakatan komitmen baru. Indikator Keberhasilan Akuntabilitas Keberhasilan akuntabilitas dapat diukur dengan beberapa indikator berikut. baik di tingkat mikro (sekolah). dengan monitoring dan evaluasi. fokus monitoring adalah pada komponen proses MBS. pengelolaan kelembagaan. baik menyangkut proses pengambilan keputusan. tepat. berarti MBS efektif. C. kita dapat mengukur tingkat kemajuan pendidikan pada tingkat sekolah. dinas pendidikan kabupaten/kota. Dengan monitoring dan evaluasi. Informasi hasil ini kemudian dibandingkan dengan sasaran yang telah ditetapkan. kita juga dapat memperbaiki konsep dan pelaksanaan MBS. dinas pendidikan provinsi). kita dapat menilai apakah MBS benarbenar mampu meningkatkan mutu pendidikan. fokus evaluasi adalah pada hasil MBS. meso (dinas pendidikan kabupaten/kota. monitoring dan evaluasi yang bermanfaat adalah monitoring dan evaluasi yang menghasilkan informasi yang cepat. dan cukup untuk pengambilan keputusan. Karena itu.

misalnya. misalnya. dan pengendalian atau tindakan turun tangan. konteks sama artinya dengan istilah kebutuhan. bahan). Dengan didapatkan informasi inkonsistensi tersebut. program. Hasil nyata yang dimaksud dapat berupa prestasi akademik (academic achievement). Konteks adalah eksternalitas sekolah berupa demand and support (permintaan dan dukungan) yang berpengaruh pada input sekolah. perlengkapan. Input adalah segala “sesuatu” yang harus tersedia dan siap karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses. limitasi. Sesuatu yang dimaksud tidak harus berupa barang. Dengan demikian. proses belajar mengajar. Sedang hasil evaluasi dapat memberikan informasi yang dapat digunakan untuk memberi masukan terhadap keseluruhan komponen MBS. dan proses akuntabilitas. yaitu konteks. Hasil monitoring dapat digunakan untuk memberi masukan (umpan balik) bagi perbaikan pelaksanaan MBS. regulasi (ketentuan-ketentuan. dan peringkat lomba karya tulis. sumberdaya. Esensi evaluasi pada input adalah untuk mendapatkan informasi tentang “ketersediaan dan kesiapan” input sebagai prasyarat untuk berlangsungnya proses. maka hal ini dapat diduga bahwa MBS cukup berhasil. maupun prestasi non-akademik (non-academic achievement). nilai NUN. Input manajemen terdiri dari tugas. proses. kejujuran. dan kerajinan. Dalam MBS sebagai sistem. Output adalah hasil nyata dari pelaksanaan MBS. proses pengelolaan program. sedang inkonsistensi akan menjurus kepada kegagalan MBS. output. evaluasi konteks berarti evaluasi tentang kebutuhan. Alat yang tepat untuk melakukan evaluasi konteks adalah penilaian kebutuhan (needs assessment). proses terdiri dari: proses pengambilan keputusan. Untuk lebih rincinya. dan sebagainya). baik pada konteks. input. input. Sumberdaya dibagi menjadi dua yaitu sumberdaya manusia dan sumberdaya selebihnya (uang. dan outcome. sehingga dapat ditemukan informasi tentang konsistensi atau inkonsistensi antara rancangan/disain MBS semula dengan proses implementasi yang sebenarnya. memiliki komponen-komponen yang saling terkait secara sistematis satu sama lain. tetapi juga dapat berupa perangkat-perangkat lunak dan harapan-harapan sebagai pemandu bagi berlangsungnya proses. prosedur kerja. segera dapat dilakukan koreksi/pelurusan terhadap pelaksanaan. misi. Harapan-harapan terdiri dari visi. Masukanmasukan dari hasil monitoring dan evaluasi akan digunakan untuk pengambilan keputusan. input dapat diklasifikasikan menjadi tiga. proses. rencana. IMTAQ. peralatan. Jika setelah MBS ada peningkatan prestasi yang signifikan dibanding sebelum MBS. fokus evaluasi pada proses adalah pemantauan (monitoring) implementasi MBS. Konsistensi antara rancangan dan proses pelaksanaan akan mendukung tercapainya sasaran. Dengan demikian. kesenian. tujuan. kedisiplinan. proses evaluasi sekolah. Uraian 1. B. Proses adalah berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain. lihat uraian input pada BAB II.membandingkan prestasi siswa sebelum dan sesudah MBS. Komponen-Komponen MBS yang Dimonitor dan Dievaluasi MBS sebagai sistem. proses pengelolaan kelembagaan. Secara garis besar. sasaran. yaitu harapan. maupun outcome nya. Dalam istilah lain. Monitoring dan evaluasi MBS bertujuan untuk mendapatkan informasi yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan. dan prestasi olahraga. Fokus evaluasi pada output adalah mengevaluasi sejauhmana sasaran (immediate objectives) yang diharapkan . output. dan input manajemen.

input. yang berbeda dengan output yang hanya mengukur hasil MBS sesaat/jangka pendek. . atau gabungan dari ketiganya. Tentunya makin besar kesesuaiannya. makin besar pula kesuksesan MBS. kaya-miskin. berarti makin besar pula keberhasilan MBS. meningkatkan iklim kompetisi antar sekolah. 2. profesionalisme. makin besar perubahan (peningkatan/pengembangan) komponen-komponen tersebut dari sebelum dan sesudah melaksanakan MBS. Tujuan utama monitoring dan evaluasi internal sekolah adalah untuk mengetahui tingkat kemajuan dirinya sendiri (sekolah) sehubungan dengan sasaran-sasaran yang telah ditetapkan. pelaksana monitoring dan evaluasi internal adalah warga sekolah sendiri yaitu kepala sekolah. transparansi. Pengawas. Tonggak-tonggak Kunci Keberhasilan MBS Untuk mengevaluasi keberhasilan MBS. sejauhmana “hasil nyata sesaat” sesuai dengan “hasil/sasaran yang diharapkan”. kepentingan akuntabilitas publik. sekolah-sekolah yang melaksanakan MBS harus membuat tonggak-tonggak kunci keberhasilan untuk kurun waktu tertentu. yaitu internal dan eksternal. Tonggak-tonggak kunci keberhasilan MBS merupakan target-target hasil MBS yang akan dicapai dalam jangka menengah (5 tahun) dan jangka pendek (1 tahun). proses.(kualitas. Berikut adalah visualisasi monitoring dan evaluasi pada saat sebelum dan pada saat sesudah melaksanakan MBS (Lihat Gambar 4: Monitoring dan Evaluasi MBS). Jenis Monitoring dan Evaluasi: Internal dan Eksternal Ada dua jenis monitoring dan evaluasi sekolah. siswa. proses. Yang dimaksud monitoring dan evaluasi internal adalah monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh sekolah sendiri. Setiap tata pengelolaan harus dievaluasi apakah sebelum dan sesudah MBS ada perubahan tata pengelolaan sekolah. Karena itu. pada umumnya digunakan analisis biaya-manfaat (cost-benefit analysis). baik dampak individual (siswa). efektivitas dan efisiensi. akuntabilitas. tanggungjawab. orangtua siswa. yang tidak kalah penting untuk dimonitor dan dievaluasi adalah pelaksanaan prinsip-prinsip MBS yang baik (tata pengelolaan yang baik. Target-target tersebut bersumber dari pemerataan pendidikan (kesamaan kesempatan antara siswa-siswa desa-kota. Dengan bahasa non-statistik. Hasil monitoring dan evaluasi eksternal dapat digunakan untuk: rewards system terhadap individu sekolah. Pada umumnya. dan warga sekolah lainnya. seperti disebut sebelumnya yaitu meliputi: partisipasi. dan membantu sekolah dalam mengembangkan dirinya. output. guru. Dengan kata lain. institusional (sekolah). dan outcome pada waktu sebelum dan sesudah melaksanakan MBS. memperbaiki sistem yang ada secara keseluruhan. dan outcome sekolah. misalnya Dinas Pendidikan. dan sosial (masyarakat). keadilan. Besar kecilnya perubahan komponen-komponen tersebut (dari dan sesudah melaksanakan MBS) merupakan ukuran tingkat keberhasilan MBS. Outcome adalah hasil MBS jangka panjang. Monitoring dan evaluasi dilakukan untuk mengetahui apakah ada perubahan konteks. input. dan Perguruan tinggi. fokus evaluasi outcome adalah pada dampak MBS jangka panjang. Sedang yang dimaksud monitoring dan evaluasi eksternal adalah monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh pihak eksternal sekolah (external institution). guru bimbingan dan penyuluhan. Untuk melakukan evaluasi ini. penegakan hukum. Selain memonitor dan mengevaluasi komponen-komponen konteks. 3. wawasan ke depan. dan kepastian jaminan hukum. kepekaan. prediktif. output. waktu) telah dicapai oleh MBS. kuantitas. demokrasi.

50.). rata-rata NUN sebuah SMP adalah 6. maka rata-rata NUN yang akan dicapai oleh sekolah adalah 6. efektivitas dan efisiensi pendidikan (angka kenaikan kelas.). Reynold. 2007. contoh tonggak-tonggak kunci keberhasilan dapat diberikan sebagai berikut. dan kepastian jaminan hukum. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). kepemimpinan. dan 6. akuntabilitas. Ibtisam Abu & Duhou. 6. Larry. demokrasi. dan tata kelola sekolah yang baik (good governance) yang meliputi: partisipasi. penegakan hukum. Manajemen Berbasis Sekolah. kualitas pendidikan (input. Thousand . Alexandria: Association for Supervision and Curriculum Development.Mulyasa.laki-perempuan. NUN hanyalah salah satu tolok ukur kualitas sekolah dan masih banyak tolok ukur kualitas lainnya yang perlu dipertimbangkan. School-Based Management (Manajemen Berbasis Sekolah) (terjemahan: Noryamin Aini. angka putus sekolah. Ditjen Mandikdasmen. olimpiade. 1997. Jika target ini dirinci setiap tahun. profesionalisme. misalnya budi pekerti. Pocket Guide to School-Based Management. Depdiknas (rujukan utama dari materi pelatihan ini). 2004. E. Odden. DAFTAR PUSTAKA Anonim. Sebaiknya. dan sebagainya.A. 6. Misalnya. dan karya ilmiah remaja di samping kualitas input (guru.90 pada tahun 2013. wawasan kedepan. A.00 pada tahun 2014. prestasi olah raga. 2002. angka kelulusan. 1996. dan sebagainya). dan 7.Remaja Rosda. kepekaan. proses. Pada tahun 2009.00. School-Based Management Organizing for High Performance.80 pada tahun 2012. Suparto & Abas AlJauhari).70 pada tahun 2011. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama.1994.) dan kualitas proses (proses belajar mengajar. fasilitas. prediktif. output). rata-rata NUN yang diharapkan dapat dicapai oleh SMP tersebut sebesar 7. tanggungjawab. efektivitas dan efisiensi. Pada tahun 2014. keadilan. cacat-tdak cacat. San Francisco: JosseyBass Publishers. Successful Site-Based Management. kesenian. tonggak-tonggak kunci keberhasilan dibuat tabuler yang terdiri dari program-program strategis dan tonggak-tonggak kunci keberhasilan dari setiap program strategis. Jakarta: Logos. Bandung: PT. dan sebagainya. Dornseif. dan sebagainya. transparansi. 60 pada tahun 2010.

clinical supervision. (Findley.179206.N. . Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep dan Kemungkinan Strategi Pelaksanaannya di Indonesia. Manajemen Berbasis Sekolah dalam Mengembangkan dan Mewujudkan Budaya Mutu dalam Pendidikan. Alexandria: Association for Supervision and Curriculum Development. Juni Th. teachers and instructional effectiveness.1992).. we must redefine and move instructional leadership to the forefront (Buffie. Robertson.No. P. P.J. 2003. 1987). 1989).. California: Corwin Press. Rutmini & Jiyono. and teacher evaluation (Hanny. the principal’s role If a school is to be an effective one. Pengantar Pengaruh kepemimpinan pembelajaran (instructional leadership) terhadap peningkatan hasil belajar siswa sudah tidak diragukan lagi. A... Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Kirk. h. No.. Wohlstetter. Effective principals are expected to be effective instructional leaders . it will be because of the instructional leadership of the principal …. staff development. Succesful School-Based Management.. Inc. & Mohrman (1997).V.. Juni Tahun Ke-5. h. Sejumlah ahli pendidikan telah melakukan penelitian tentang pengaruh kepemimpinan pembelajaran terhadap peningkatan hasil belajar.Prasetyo & Slamet. Mereka menyimpulkan bahwa: If our schools are to improve.Oaks.77-107. the principal must be knowledgable about curriculum development.017.XXII. Zuldan K. Cakrawala pendidikan. 1999. MATERI UJI KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH : KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN 09:12 Nurul Amaliah No comments Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook 1.

Kepala sekolah memberikan dukungan terhadap pembelajaran. yang pada gilirannya dapat memperbaiki prestasi belajar siswanya. tetapi fokus dan ketajamannya masih berbeda-beda. misalnya dia mendukung bahwa pengajaran yang memfokuskan pada kepentingan belajar siswa harus menjadi prioritas. Daresh dan Playco (1995) mendefinikan kepemimpinan pembelajaran sebagai upaya memimpin para guru agar mengajar lebih baik. tujuan. . penilaian serta pengembangan guru. berikut disampaikan arti kepemimpinan pembelajaran. Melengkapi definisi-definisi tersebut diatas. butir-butir penting kepemimpinan pembelajaran. Dia juga mampu membangun kebiasaan-kebiasaan berbagi pendapat atau urun rembug dalam merumuskan visi dan misi sekolahnya. asesmen (penilaian hasil belajar). Kepala sekolah mensosialisasikan dan menamkan isi dan makna visi sekolahnya dengan baik. Artinya. Untuk lebih jelasnya. berikut dibahas tentang arti. Petterson (1993). karena hanya memfokuskan pada guru. pertanyaannya adalah apa tujuan yang akan dicapai oleh kepemimpinan pembelajaran? Berikut akan diuraikan seperlunya tentang tujuan yang akan dicapai oleh penerapan kepemimpinan pembelajaran. 2. Kepala sekolah melakukan pemantauan terhadap proses belajar mengajar sehingga memahami lebih mendalam dan menyadari apa yang sedang berlangsung didalam sekolah. d. dan kontribusi kepemimpinan pembelajaran terhadap hasil belajar. dan pembangunan komunitas belajar di sekolah.Dari kutipan-kutipan tersebut diatas dapat disarikan bahwa peningkatan hasil belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kepemimpinan pembelajaran. dan dia selalu menjaga agar visi dan misi sekolah yang telah disepakati oleh warga sekolah hidup subur dalam implementasinya. maka kepemimpinan yang menekankan pada pembelajaran harus diterapkan. layanan prima dalam pembelajaran. Berdasarkan pengertian kepemimpinan pembelajaran tersebut. Kepemimpinan pembelajaran atau kepemimpinan instruksional adalah kepemimpinan yang memfokuskan/menekankan pada pembelajaran yang komponenkomponennya meliputi kurikulum. Kepala sekolah melibatkan para pemangku kepentingan dalam pengambilan keputusan dan dalam kegiatan operasional sekolah sesuai dengan kemampuan dan batas-batas yuridiksi yang berlaku. pentingnya kepemimpinan pembelajaran. mendefinikan kepemimpinan pembelajaran yang efektif sebagai berikut: a. Kepala sekolah melibatkan para pemangku kepentingan dalam pengelolaan sekolah (manajemen partisipatif). jika hasil belajar siswa ingin dinaikkan. proses belajar mengajar. b. Definisi ini kurang komprehensif. Kepala sekolah berperan sebagai fasilitator sehingga dengan berbagai cara dia dapat mengetahui kesulitan pembelajaran dan dapat membantu guru dalam mengatasi kesulitan belajar tersebut. Ahli lain. Arti Kepemimpinan Pembelajaran Walaupun telah banyak rumusan tentang arti kepemimpinan pembelajaran. c. e. Definisi inipun masih parsial karena pembelajaran mencakup banyak hal yang sebagian belum tercakup didalamnya. Misalnya.

misi. energi. kualitas dasar meliputi kualitas daya pikir. kepemimpinan pembelajaran mengutamakan layanan prima terhadap pembelajaran siswa sertamembangun warga sekolahnya menjadi komunitas pembelajaran. lateral. kestaminaan. empati. penggunaan media pembelajaran dan fasilitas belajar lainnya. dan pemotivasian siswa. dan tujuan sekolah.Kurikulum (apa yang diajarkan) mencakup pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang meliputi kegiatan perumusan visi. kritis. Daya hati (qolbu) meliputi kasih sayang. Dengan kata-kata lain. Proses belajar mengajar meliputi penyusunan silabus. musik. daya hati. dan tidak kalah penting. misi. dan daya pisik/raga. tari. antroplogi. Tujuan Kepemimpinan Pembelajaran Tujuan utama kepemimpinan pembelajaran adalah memberikan layanan prima kepadasemua siswa agar mereka mampu mengembangkan potensi kualitas dasar dan kualitas instrumentalnya untuk menghadapi masa depan yang belum diketahui dan sarat dengan tantangan-tantangan yang sangat turbulen. deduktif. pendidikan. dan berpikir sistem. biologi. 2. kesopan santunan. fisika. repek kepada orang lain. pemilihan metode mengajar dan metode belajar. Ilmu pengetahuan keras meliputi metematika. perbekalan. Penilaian kinerja guru dan pengembangan profesinyajuga merupakan prioritas kepemimpinan pembelajaran. baik sumberdaya manusia maupun sumberdaya selebihnya yaitu peralatan. dan keterampilan. kimia. manufaktur. metode evaluasi. Menurut Slamet PH (2001). ketahanan. pengelolaan kelas. toleransi. tanggungjawab. 3. dan rupa. Daya pisik meliputi kesehatan. meningkat motivasi belajarnya. pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran. meningkat kepuasan belajarnya. . Pentingnya Kepemimpinan Pembelajaran Kepemimpinan pembelajaran sangat penting untuk diterapkan disekolah karena seperti disebut sebelumnya bahwa kepemimpinan pembelajaran berkontribusi sangat signifikan terhadap peningkatan prestasi belajar siswa. bahan. Upayaupaya ini memerlukan dukungan sumberdaya pendidikan. kejujuran. telekomunikasi. inovasinya. ekonomi. pengembangan bahan ajar. kreativitasnya. Seni terdiri dari seni suara. bio. pemilihan buku pelajaran. dan meningkat kesadarannya untuk belajar secara terus-menerus sepanjang hayat karena ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni berkembang dengan pesat. kreatif. dan pembuatan kalender. meningkat keingintahuannya. dan pelaporan. kerjasama. inovatif. Kepemimpinan pembelajaran mampu memberikan dorongan dan arahan terhadap warga sekolah untuk meningkatkan prestasi belajar siswanya. Kepemimpinan pembelajaran penting diterapkan di sekolah karena kemampuannya dalam membangun komunitas belajar warganya dan bahkan mampu menjadikan sekolahnya sebagai sekolah belajar (learning school). kedisiplinan. Teknologi meliputi teknologi konstruksi. Daya pikir meliputi cara-cara berpikir induktif. kriya. pengembangan struktur dan muatan kurikulum. ilmiah. transportasi. perlengkapan. kerendahan hati. Ilmu pengetahuan dapat digolongkan menjadi ilmu pengetahuan lunak (sosiologi. dan bahan. perdamaian. Asesmen (evaluasi hasil belajar) meliputi aspek yang di evaluasi. dan astronomi. demokrasi. dan kesatuan serta persatuan (terlalu banyak untuk disebut semuanya). dan uang. jiwa kewirausahaannya. integritas. dan tujuan sekolah. dan yang sejenis). Kepemimpinan pembelajaran juga mampu memfokuskan kegiatan-kegiatan warganya untuk menuju pencapaian visi. Kualitas instrumental meliputi penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni. politik. tujuan kepemimpinan pembelajaran adalah untuk memfasilitasi pembelajaran agar siswanya meningkat prestasi belajarnya.

2) mendorong tanggung jawab seluruh mitra kerja atau pemangku kepentingan. dan kegiatan-kegiatan lain yang bersifat non-akademis sehingga waktu untuk mempelajari pembaruan/inovasi kurikulum. mengajak warga sekolahnya untuk komitmen terhadap keunggulan mutu. 4) membantu siswa agar sukses dalam belajarnya. mengelola adalah sebagian dari kepemimpinan. Kepala sekolah disibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan rutin yang bersifat administratif. mendorong teamwork yang (kompak. dan 3) mengembangkan gaya kepemimpinan yang luwes dan gaya bicara yang enak. pertemuan-pertemuan. Memahami peran kepala sekolah yang perlu dikembangkan: 1). mengajak warga sekolahnya untuk siap dan akrab menghadapi perubahan. dan mengajak warga sekolahnya untuk melakukan perbaikan secara terus-menerus. mendorong kemandirian setiap warga sekolahnya. Peran-peran yang yang lain bukan tidak penting. 3) menggalang sumber daya masyarakat untuk kepentingan siswa. mutu proses belajar mengajar sangat berpengaruh terhadap peningkatan kualitas siswa dan kualitas sekolah secara keseluruhan. mengajak warga sekolahnya untuk menjadikan sekolahnya berfokus pada layanan siswa. menerapkan peran kepemimpinan sekolah lebih cenderung sebagai pelayan dari pada sebagai penguasa/bos. dan leader. dan 5) menghindari mencari kambing hitam atas ketidaksuksesan. antara lain mencakup educator. Butir-butir Penting Kepemimpinan Pembelajaran Butir-butir penting kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran dapat dituliskan sebagai berikut: a. dinamis. manager. Kepala sekolah mempunyai sejumlah peran yang harus dimainkan secara bersama. kurang memperoleh porsi yang selayaknya. dan lincah/cepat tanggap terhadap pelanggan utama yaitu siswa). Melaksanakan tanggung jawab secara akuntabel: 1). membangun komunitas belajar di sekolah untuk kesuksesan siswa. supervisor. proses belajar mengajar. harmonis. akan tetapi peran kepemimpinan pembelajaran harus yang terpenting. dan penilaian hasil belajar siswa kurang mendapatkanperhatian. cerdas. . administrator. Untuk itu. enterpreneur. motivator. memberi kewenangan dan tanggungjawab kepada warga sekolahnya. 2). yang pada gilirannya. Peran kepala sekolah sebagai leader (pemimpin) dan spesifiknya sebagaiinstructional leader. 4. dan menghindari gaya kepemimpinan yang kaku.Sekolah belajar (learning school) memiliki perilaku-perilaku sebagai berikut: memberdayakan warga sekolah seoptimal mungkin. Padahal. mengajak warga sekolahnya untuk berpikir sistem. b. berpikir dan berperilaku positif untuk maju. ketiga hal yang terakhir sangat erat kaitannya dengan peningkatan mutu proses belajar mengajar. sudah selayaknya peran kepemimpinan pembelajaran memperoleh porsi waktu yang lebih besar dibanding dengan peran-peran yang lain. mendorong warga sekolah untuk akuntabilitas terhadap proses dan hasil kerjanya. memfasilitasi warga sekolah untuk belajar terus dan belajar ulang.

dan dapat dipelajari oleh siswa. selalu membaca diri dan melakukan refleksi. 3) merangkul perubahan sebagai teman. anda akan terbantu dalam memfokuskan pikiran dan pengambilan keputusan tentang pembelajaran yang seharusnya anda dukung. . Selalu mempertahankan: 1). dia akan membuat anda tetap aktif. Dengan menjawab sejumlah pertanyaan berikut. apa yang harus. 2) menjadi pendukung yang jelas. 4) menjadi orang nomor satu sebagai model pembelajar sepanjang hayat dengan membangun masyarakat pembelajar disekolah. Jika sekolah ingin menjadi sekolah yang efektif pembelajarannya. Pertanyaan-pertanyaan berikut juga akan membantu anda dalam mengembangkan visi pembelajaran yang lebih baik agar kepemimpinan pembelajaran yang anda terapkan benar-benar berdampak positif terhadap pembelajaran. Mengerjakan sesuatu dengan professional: 1). para pembaca sangat disarankan untuk melakukan refleksi dan bahkan menjawab sejumlah pertanyaan berikut untuk mengetahui tingkat kesiapan anda sebagai pemimpin pembelajaran.c. Untuk itu. seharusnya. dan 4) gembira dalam bekerja. 8) menerjemahkan visi sekolah ke dalam kegiatan harian. membimbing orang lain dan memberi kontribusi terhadap orang lain berdasarkan profesi yang dimiliki. d. 3) memandang kesalahan sebagai kesempatan untuk belajar. maka sejumlah pertanyaan berikut harus dijawab dengan tepat: a. 7) mengkomunikasikan keinginan kuat anda untuk berhasil kepada guru dan siswa dalam bentuk kata-kata dan tindakan. 2) mencari cara-cara untuk mengembangkan diri sendiri. Berikut adalah sejumlah pertanyaan yang seyogyanya anda pikirkan sebagai pemimpin pembelajaran. 5) selalu mengasah peran anda sebagai kepemimimpinan pembelajaran 6) menyediakan waktu untuk rajin mengunjungi kelas. Pengukuran tingkat keberhasilan visi kepemimpinan pembelajaran sangat diperlukan. b. dan 9) memfasilitasi kelompok kerja berdasarkan kepemimpinan pembelajaran. menjadi pengarah terhadap tercapainya tujuan sekolah. bagaimana caranya siswa itu belajar. mawas diri dan berkembang.

apa keyakinan guru-guru tentang peserta didik dan kegiatan belajar. bagaimana partisipasi orangtua dalam kegiatan belajar siswa. h. siapa penyelenggara evaluasi guru. s. dimana wakil kepala sekolah menghabiskan sebagian besar waktunya dan apa yang dilakukannya. siapa yang melakukan penilaian keberhasilan siswa dan bagaimana caranya. bagaimana caranya kinerja guru dievaluasi dan apa saja yang dinilai. bagaimana bentuk jadwal dan organisasi sekolah agar merefleksikan optimalisasi belajar siswa. dan apakah tujuan pengajaran sudah tercapai atau belum (Elaine Mc Evan (2001). t.c. lakukanlah komunikasi dengan staf sehubungan dengan pencapaian standar dan peningkatan tujuan sekolah . jika tujuan utama sekolah adalah menciptakan pembelajaran yang efektif. q. l. melaksanakannya. apa tujuan utama penelaian guru tersebut. seperti apa proses pembelajaran berjalan (diskripsikan sesuatu yang anda impikan dalam sebuah sekolah dimana proses belajar mengajar terjadi secara ideal). apa yang harus diajarkan. dengan apa mengajarnya. siapa yang memutuskan penerapan program baru. f. bagaimana pendapat anda. atau memperbaharui dan merevisi program tersebut. n. kapan seharusnya diajarkan. bagaimana iklim sekolah merefleksikan pentingnya proses pembelajaran. apa proses yang digunakan untuk menentukan jadwal dan organisai sekolah. bagaimana menentukan isi dan hakekat pengembangan staf oleh siapa. j. dan v. m. kriteria penilaian guru ditentukan oleh siapa. d. bagaimana cara mengajarnya. g. apa saja agenda utama rapat sekolah yang berhubungan dengan pembelajaran. bagaimana cara menyelenggarakn rapat yang berhubungan dengan pembelajaran. i. e. r. maka tentukan apa kebutuhan siswa. k. o. dimana kepala sekolah menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah dan apa yang dilakukannya di tempat itu. keberhasilan peserta didik sangat erat hubungannya dengan evaluasi terhadap guru. Untuk menjawab 22 pertanyaan tersebut di atas. u. untuk siapa dan bagaimana cara menilainya. gunakanlah indikator kunci dari keefektifan kepala sekolah dalam membangun dan menerapkan tujuan-tujuan pembelajaran sebagai berikut: a. bagaimana dan siapa yang membuat keputusan tentang kurikulum dan pengajaran. p.

d. perilaku kepala sekolah berikut paling banyak diidentifikasi oleh guru-guru dari sekolah yang mempunyai pencapaian prestasi akademik tinggi: a. dan . peningkatan sekolah dicapai melalui proses pemecahan masalah. Kegiatan semacam ini harus dibudayakan di sekolah. dan menjadikan pembelajaran sebagai fokus utama kegiatan sekolah. yakinkanlah kegiatan-kegiatan kelas secara individu dan sekolah selalu konsisten dengan standar yang telah ditetapkan oleh pusat dan daerah d. mengenal secara pribadi tentang tingkat profesionalisme masing-masing guru sebagai dasar untuk mencapai tujuan utama sekolah. c. berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengajarkan standar kompetensi yang dimaksud? Pembelajaran dan pencapaian keberhasilan siswa hendaknya selalu dianalisis secara berkelanjutan dan direfleksikan serta dikembangakan secara berkelanjutan sebagai bagian dari kehidupan sekolah. rujuklah standar isi yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat dan daerah untuk melaksanakan program-program pengajaran di sekolah c. b. mengkomunikasikan kepada staf tentang harapan yang tinggi terhadap pencapaian hasil belajar siswa. dan e. seluruh warga sekolah apakah itu kepala sekolah. d. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Glathhorn (1993). Hal ini dapat dilakukan secara pribadi oleh masingmasing guru melalui jawaban-jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan berikut: a. guru dan siswa diyakinkan dapat mencapainya. c. Sehubungan dengan fungsi iklim sekolah. menilai moral dan komitmen warga sekolah. ada keyakinan bersama untuk mencapai tujuan. Lima hal penting yang dimaksud meliputi: a. mencegah sekolah terhadap tekanan beban yang tidak perlu. ditemukan lima hal yang dianggap penting dalam membentuk budaya sekolah yang dapat melatih siswa dalam mencapai keberhasilan belajar dan juga iklim sekolah yang sehat. penekanan-penekanan apakah yang dituntut oleh kurikulum? c. apakah standar kompetensi dapat dicapai dengan baik oleh siswa. dan sumber-sumber apa saja yang harus diterapkan pada pembelajaran tersebut? d. gunakan bermacam-macam sumber data baik kualitatif maupun kuantitatif untuk mengevaluasi kemajuandan merencakan peningkatan lebih lanjut Jika pembelajaran dirancang sesuai dengan kebutuhan siswa. strategi. pembelajaran merupakan prioritas utama. sekolah sebagai komunitas kolaboratif dan komunitas belajar. b. untuk itu bagaimana cara mengajarkannya dan bagaimana pula mengurutkan materinya secara hirarkis? b.b. maka prestasi belajar siswa akan meningkat secara signifikan. materi.

membangun lingkungan sekolah yang aman. dan staf memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap peningkatan efektivitas pembelajaran di sekolah.e. menyebarluaskan praktik-praktik proses belajar mengajar yang efektif terhadap guru-guru lain. lakukan kunjungan kelas untuk mengamati pembelajaran. Penelitian tersebut menghasilkan daftar perilaku kepala sekolah yang terbaik dalam mengarahkan dan membimbing program pembelajaran di sekolah (Cotton. d. b. 1995). e. dan libatkan staf untuk berpartisipasi dalam mengadopsi dam mengadaptasi program tersebut. k. melalui penelitiannya. mengetahui dan mampu menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran yang baik. urun rembuk. dan . sikap. mencari program-program yang inovatif. dan publikasikan kepada para guru agar mereka dapat melihat kesenjangan antara standar yang telah ditetapkan dengan kinerja yang dicapai oleh siswa. dan disiplin. menegaskan bahwa belajar sebagai alasan utama terhadap keberadaan seseorang disekolah. mengetahui tentang penelitian pendidikan. dan monitor pelaksanaan kurikulum. menekankan pentingnya penelitian bagi perbaikan sekolah. mencari. cek secara berkala kesesuaian. tetapkan kegiatan kurikulum yang diprioritaskan. tetapkan harapan atau target kualitas kurikulum melalui penggunaan standar dan petunjukpetunjuk yang diberikan. f. Kontribusi Kepemimpinan Pembelajaran terhadap Hasil Belajar Pada tahun 1995. Menurut sintesis penelitian yang dilakukan diperoleh hasil bahwa perilaku kepala sekolah (pemimpin pembelajaran). laboratorium pendidikan wilayah North West USA memperbaharui keefektifan pelaksanaan pembelajaran di sekolah yang akhirnya menjadi rujukan luas dari hasil penelitian tersebut. dan menerapkannya dalam pemecahan masalah. membangun dan memfokuskan pembelajaran sebagai sumber penyatuan berpikir. milikilah harapan yang tinggi terhadap seluruh guru untuk melaksanakan pembelajaran dengan standar yang tinggi melalui kesepakatan model yang dibuat bersama oleh guru. termasuk penekanan terhadap penting dan berharganya pencapaian yang tinggi terhadap kemampuan berbicara dan menulis. dalam ungkapan yang konkrit. j. cek kemajuan siswa secara berkala berdasarkan data kinerja yang ada. fokuskan kegiatan supervisi untuk meningkatkan pembelajaran. yang meliputi halhal berikut: a. dan tindakan warga sekolah. 5. h. c. kurikulum dengan pembelajaran dan penilaian. g. guru. i. dan persiapkan serta monitor kegiatan-kegiatan pengembangan guru. merekrut. tertib. memiliki pemahaman yang jelas terhadap visi dan misi sekolah dan mampu menyatakannya secara langsung. dan menggaji anggota staf yang mendukung visi dan misi sekolah dan berkontribusi terhadap keefektifannya. meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa semua siswa dapat belajar dan sekolah membuat perbedaan antara yang berhasil dan yang gagal. amati.

Tujuan utama kepemimpinan pembelajaran adalah memberikan layanan prima kepadasemua siswa agar mereka mampu mengembangkan potensi kualitas dasar dan kualitas instrumentalnya untuk menghadapi masa depan yang belum diketahui dan sarat dengan tantangan-tantangan yang sangat turbulen. maka Beth mendesain posisi kepala sekolah yang diembannya berdasarkan kekuatan yang dimiliki. Studi Kasus Beth memulai profesi pendidik sebagai guru ilmu pengetahuan alam di sebuah SMP. 4. Sehingga dapat dilihat bahwa dinding kantor Beth seperti pusat startegi komando yang penuh dengan data pencapaian murid dan data performa guru dan grafik kurikulum. strategi peningkatan yang sistematis. Berkolaborasi secara regular dengan wakil kepala sekolah dan koordinator guru untuk memonitor kebutuhan murid dan menentukan strategi dan bahan ajar yang tepat dalam rangka mengoptimalkan potensi guru dan murid. B. Beth dipercaya menjadi seorang kepala sekolah. komunikasikan harapan anda bahwa program pembelajaran yang telah disepakati sesuai dengan rencana. sehingga dapat mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan setiap kelas. dan bertindak sebagai pemimpin pembelajaran. layanan prima dalam pembelajaran. Sebagai patokan dalam penerapan instructional leadership. Perencanaan dilakukan secara detail berdasarkan format dan ceklist yang sudah ada. . prioritas kegiatan yang jelas. 3. dan pembangunan komunitas belajar di sekolah. (b) kultur 2. asesmen (penilaian hasil belajar). Setelah mengajar selama beberapa tahun. bersikap. Beth juga aktif dalam KKG dan juga kuliah di sebuah universitas dalam pasca sarjana pendidikan pada malam hari untuk meningkatkan kompentensinya sebagai pendidik. Butir-butir penting kepemimpinan pembelajaran menyarankan bahwa kepemimpinan pembelajaran akan berjalan dengan baik apabila didukung oleh: (a) figur (kepala sekolah) yang mampu berpikir. penilaian serta pengembangan guru. Beliau melakukan observasi kelas secara reguler untuk mengetahui proses belajar mengajar. harus dilaksanakan dengan baik. 1. dan pendekatan-pendekatan baru. Beliau berdiskusi bersama murid. A.l. Keahlian dalam bidang instruksional dan pengetahuan dalam bidang kurikulum adalah pondasi yang kuat dalam melakukan penerapan instructional leadership dalam sekolahnya. Rencana dalam penerapan konsep instruksional leadership melibatkan diri sendiri terlebih dahulu. Tujuan yang hendak dicapai adalah setiap murid dan guru mendapatkan pengalaman pendidikan yang positif dan optimal di sekolah. Dimana dalam perencanaan Beth melakukan penilaian terhadap kondisi sekolah yang dihadapi pada saat itu. Kepemimpinan pembelajaran sangat penting untuk diterapkan disekolah karena kepemimpinan pembelajaran berkontribusi sangat signifikan terhadap peningkatan prestasi belajar siswa. Rangkuman Kepemimpinan pembelajaran adalah kepemimpinan yang memfokuskan/menekankan pada pembelajaran yang unsur-unsurnya meliputi kurikulum. Berawal dari seorang guru yang kompeten. proses belajar mengajar.murid dan guru tentang tujuan belajar.

The Instructional Leadership toolbox: A Handbook for Improving Practice. pp. dan karyawan berkontribusi yang sangat signifikan terhadap peningkatan efektivitas pembelajaran di sekolah. Elaine and B. dan (c) sistem (struktur) yang utuh dan benar. 2007). California: Sage Publication.1993.. Resnicl. & Steffy.R. 1998. OBE Reform and the Curriculum Process.doc vlb 3/21/07 Fink. F:\Mary Jo\Education Leadership Redesign Commission\Tennessee Standards for Instructional Leaders Packet. B. 4. Lauren (2003).W.Playko.. interpersonal dan teknikal (Glickman. Jossey Bass Publishers. CA. Deal.UNDEFINED TEKNIK-TEKNIK SUPERVISI AKADEMIK Satu di antara tugas kepala sekolah adalah melaksanakan supervisi akademik. English. at al. Oleh sebab itu. guru. Journal of Curriculum and Supervision. 2002. Sandra Lee. T. TEKNIK-TEKNIK SUPERVISI AKADEMIK POSTED BY EATHEWIN ON SEPTEMBER . Waveland press.E.E. Supervision as a Proactive Process. VA. Marshal A. Untuk melaksanakan supervisi akademik secara efektif diperlukan keterampilan konseptual. 1995. Arlington.. John C. American association of School Administrators. Developing Principals as Instructional Leaders. Guston. 8. 5. J. Glatthorn. A.10 . Skills for Successful Leaders (2nd Edition). K.A.pembelajaran yang dikembangkan melalui pembangunan komunitas belajar di sekolah. San Fransisco. and Peterson. 199. setiap Kepala sekolah harus . 354-363 Hoyle. DAFTAR PUSTAKA Daresh. F. Shaping School Culture: The Heart of Leadership.D. Perilaku kepala sekolah (pemimpin pembelajaran).

dan cara mengobservasi selama kunjungan kelas. Teknik-teknik supervisi akademik meliputi dua macam. Teknik Supervisi 1. ( Classroom Visitation ) Kepala sekolah atau supervisor datang ke kelas untuk mengobservasi guru mengajar. Dengan kata lain. a. Supervisor di sini hanya berhadapan dengan seorang guru. .memiliki keterampilan teknikal berupa kemampuan menerapkan teknik-teknik supervisi yang tepat dalam melaksanakan supervisi akademik. untuk melihat apa kekurangan atau kelemahan yang sekirannya perlu diperbaiki. yaitu: individual dan kelompok (Gwyn. sasaran. Gambar 5. supervisor merencanakan waktu. Tahap-tahap kunjungan kelas terdiri dari empat tahap yaitu: (1) tahap persiapan. Teknik Supervisi Individual Teknik supervisi individual adalah pelaksanaan supervisi perseorangan terhadap guru. supervisor mengamati jalannya proses pembelajaran berlangsung. Kunjungan Kelas. Dari hasil supervisi ini dapat diketahui kualitas pembelajaran guru bersangkutan. Pada tahap ini. Pada tahap ini. Teknik supervisi individual ada lima macam adalah sebagai berikut. 1961). Teknik supervisi akademik ada dua yaitu: individual dan kelompok seperti gambar berikut. (2) tahap pengamatan selama kunjungan.

. Pelaksanaan observasi melalui tahap: persiapan. Kunjungan observasi dapat dilakukan di sekolah sendiri atau dengan mengadakan kunjungan ke sekolah lain. Pada tahap ini. (5) ketepatan penggunaan metode dengan materi. supervisor bersama guru mengadakan perjanjian untuk membicarakan hasil-hasil observasi. (3) variasi metode. Tujuannya adalah: (1) mengembangkan perangkat pembelajaran yang lebih baik. penutupan. Dalam rangka melakukan observasi. Secara umum. (4) ketepatan penggunaan media dengan materi. dan tukar pikiran antara supervisor dan guru. (2) Office-conference. (2) cara menggunakan media pengajaran. (1) Classroom-conference. dan (3) memperbaiki segala kelemahan dan kekurangan pada diri guru Swearingen (1961) mengklasifikasi empat jenis pertemuan (percakapan) individual sebagai berikut. menguasai masalah dan tujuan supervisi. yaitu percakapan individual yang dilaksanakan di ruang kepala sekolah atau ruang guru.dan tindak lanjut. dan (6)reaksi mental para siswa dalam proses belajar mengajar. percakapan. Kunjungan Observasi ( Observation Visits ) Guru-guru ditugaskan untuk mengamati seorang guru lain yang sedang mendemonstrasikan cara-cara mengajar suatu mata pelajaran tertentu.penilaian hasil observasi. aspekaspek yang diobservasi adalah: (1) usaha-usaha dan aktivitas guru-siswa dalam proses pembelajaran. yaitu percakapan individual yang dilaksanakan di dalam kelas ketika murid-murid sedang meninggalkan kelas (istirahat). dan (4) tahap terakhir adalah tahap tindak lanjut. dialog. c. Pertemuan Individual Pertemuan individual adalah satu pertemuan. di mana sudah dilengkapi dengan alat-alat bantu yang dapat digunakan untuk memberikan penjelasan pada guru.(3) tahap akhir kunjungan. b. (2) meningkatkan kemampuan guru dalam pembelajaran. pelaksanaan. seorang supervisor hendaknya telah mempersiapkan instrumen observasi.

dan analisis kemampuan kinerja guru. yang dilaksanakan secara kebetulan bertemu dengan guru (4) Observational visitation. 2. d. Supervisi Kelompok Teknik supervisi kelompok adalah satu cara melaksanakan program supervisi yang ditujukan pada dua orang atau lebih.(3) Causal-conference. yaitu percakapan individual yang dilaksanakan setelah supervisor melakukan kunjungan kelas atau observasi kelas. dan  menyepakati berbagai solusi permasalahan dan menindaklanjutinya. (8) Adakan perjanjian-perjanjian untuk mengadakan kunjungan antar kelas berikutnya. (6) Adakah tindak lanjut setelah kunjungan antar kelas selesai? misalnya dalam bentuk percakapan pribadi. (1) Jadwal kunjungan harus direncanakan. Kemudian guru diberikan layanan supervisi sesuai dengan . dengan menyesuaikan pada situasi dan kondisi yang dihadapi. (3) Tentukan guru-guru yang akan mengunjungi (4) Sediakan segala fasilitas yang diperlukan. yaitu percakapan individual yang bersifat informal. Cara-cara melaksanakan kunjungan antar kelas adalah sebagai berikut. kemudian dikelompokan berdasarkan kebutuhan guru. Guru-guru yang yang akan disupervisi berdasarkan hasil analisis kebutuhan.  mendorong guru mengatasi kesulitan-kesulitannya.  memberikan pengarahan. (7) Segera aplikasikan ke sekolah atau ke kelas guru bersangkutan. (2) Guru-guru yang akan dikunjungi harus diseleksi. Hal yang dilakukan Supervisor dalam pertemuan individu :  berusaha mengembangkan segi-segi positif guru. (5) Supervisor hendaknya mengikuti acara ini dengan pengamatan yang cermat. Kunjungan Antar Kelas Kunjungan antar kelas adalah guru yang satu berkunjung ke kelas yang lain di sekolah itu sendiri. dan pemberian tugas-tugas tertentu. penegasan. Tujuannya adalah untuk berbagi pengalaman dalam pembelajaran.

(1) Mengadakan pertemuan atau rapat (meeting). Diskusi kelompok dapat diadakan dengan membentuk kelompok-kelompok guru bidang studi sejenis. maka tugas kepala sekolah adalah mengelola dan membimbing pelaksanaan tindak lanjut (follow-up) dari hasil penataran. bimbingan. Rapat tersebut antara lain melibatkan KKG. (2) Mengadakan diskusi kelompok (group discussions). terdapat beberapa kegiatan yang dapat dilakukan antara lain adalah sebagai berikut. Teknik ini dilakukan melalui penataranpenataran. Mengingat bahwa penataran pada umumnya diselenggarakan oleh pusat atau wilayah.permasalahan atau kebutuhan yang diperlukan. supervisor atau kepala sekolah memberikan pengarahan. MGMP. Di dalam setiap diskusi. (3) Mengadakan penataran-penataran (inservice-training). Seorang kepala sekolah menjalankan tugasnya berdasarkan rencana yang telah disusun. dan rapat dengan pihak luar sekolah. Sumber : Materi Pelatihan Penguatan Kemampuan Kepala Sekolah modul SUPERVISI AKADEMIK PUSAT PENGEMBANGAN TENAGA KEPENDIDIKAN BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN DAN PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL 2011 . nasihat-nasihat dan saran-saran yang diperlukan. Dalam teknik supervisi kelompok. Termsuk mengadakan rapat-rapat secara periodik dengan guru-guru. dalam hal ini rapat-rapat yang diadakan dalam rangka kegiatan supervisi. misalnya penataran untuk guru bidang studi tertentu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful