PROGRAM INOVATIF SEKOLAH

PROGRAM INOVATIF SEKOLAH Oleh Suparlan *) Mereka yang berfikiran hebat membicarakan ide-ide. Mereka yang berfikiran sedang membicarakan peristiwa-peristiwa. Mereka yang berfikiran sempit membicarakan orang lain (Eleanor Roosevelt, 1884 – 1962, mantan first lady AS) Inovasi membedakan antara pemimpin dan pengekor (Steve Jobs, pendiri Apple Computer) Innovation is change that creates a new dimension of performance (Peter Drucker: Hesselbein, 2003) Innovation is the creation of the new or the re-arranging of the old in a new way (Michael Vance)

Kita sekarang akan mencoba menjadi orang yang berfikiran hebat. Siapa takut? Kita sedang membicarakan ide-ide atau gagasangagasan, bukan membicarakan fakta-fakta saja, apalagi membicarakan orang lain. Gagasan apa saja itu? Tentang program inovatif sekolah. Benar sekali. Tapi, gagasan-gagasan yang akan ditulis ini mungkin saja memang bukan benar-benar baru bagi sekolah tertentu. Namun sekolah yang lain mungkin dapat menjadi sesuatu yang sangat berharga. Memang, gagasan baru juga harus semua komponennya harus baru. Gagasan baru itu bisa jadi dari gagasan yang sudah lama, yang kemudian diperbaiki, disempurnakan dengan memperbaiki satu atau beberapa elemennya, sehingga menjadi lebih baik dan bermanfaat. Itu pun sudah dapat disebut sebagai apa yang dikenal dengan inovasi. Innovation is the creation of the new or the re-arranging of the old in a new way (Michael Vance) Tulisan ini akan mencoba membahas tentang program sekolah yang dapat dinilai inovatif. Peter Drucker menjelaskan kepada kita bahwa inovasi sesungguhnya adalah perubahan yang menciptakan satu dimensi baru kinerja organisasi. Dalam hal ini, kinerja lembaga pendidikan sekolah. Pemberdayaan Kelompok Kerja Guru (KKG) dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sungguh, kita harus malu dengan peringkat ke empat di Pesta Olahraga Asia Tenggara. Kita telah jauh ketinggalan dari negara Thailand. Bahkan juga ketinggalan dari Vietnam. Kondisi ini juga tampak dari Human Development Index (HDI) Indonesia yang berada di bawah Vietnam. Padalah dahulu, dalam acara olahraga yang bergengsi ini kita selalu unggul. Boleh dikatakan bahwa negara yang lain berebut pada urutan kedua. Boleh jadi semua itu terjadi memang karena dampak negatif dari krisis multidimensional yang masih belum sepenuhnya usai. Namun, banyak orang yang meneropongnya dari faktor kemunduran dunia pendidikan kita. Dengan demikian, maka sumber masalahnya adalah lembaga pendidikan sekolah. Program peningkatan kompetensi SDM secara terencana dan berkelanjutan memang harus dimulai di lembaga pendidikan sekolah. Setelah lembaga pendidikan keluarga, maka lembaga pendidikan sekolah harus menjadi tempat yang strategis untuk dapat meningkatkan kompetensi SDM yang handal. Untuk dapat membangun SDM yang handal, kita tidak bisa hanya melakukan yang biasa-biasa saja. Juga tidak hanya dengan program-program yang biasa. Kita harus melakukan hal yang luar biasa. Dengan kata lain, kita harus melakukan hal-hal yang inovatif. Lembaga pendidikan sekolah harus merancang berbagai program yang inovatif. Pemberdayaan KKG dan MGMP harus dapat digunakan sebagai wahana yang efektif untuk dapat meningkatkan kompetensi guru di sekolah. Program Pemberian Susu dan Makanan Tambahan Di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur, Malaysia, sebagai ilustrasi, sebagaimana juga di sekolah-sekolah lain di tanah air, para siswa harus mengikuti upacara bendera di sekolah. Dalam beberapa kali upacara bendera, ketika pembina upacara menyampaikan

pidatonya, atau ketika bendera merah putih dinaikkan beberapa anak jatuh pingsan. Selidik punya selidik, masalah ini terjadi karena banyak anak-anak yang tidak sarapan pagi. Bukan hanya itu, ada kemungkinan mereka juga mengalami kekurangan gizi dan dehidrasi. Penemuan tentang rendahnya kebugaran jasmani, kesehatan, dan gizi anak-anak kita perlu mendapatkan perhatian kita semua. Hal ini sama sekali berbanding terbalik dengan keadaan peserta didik di Negeri Cina. Para siswa di sekolah yang cukup luas di negeri tirai bambu itu diwajibkan selalu melakukan olahraga dalam cabang olahraga yang mereka suka. Semua fasilitas olahraga telah disediakan, dan setiap harinya mereka harus melakukan olahraga sesuai dengan hobinya. Hasilnya? Stamina olahragawan dari negeri tirai bambu itu sangat luar biasa. Mereka yang suka berolahraga memiliki kecerdasan fisikal atau kecerdasan ragawi atau kecerdasan yang dikenal dengan bodily kinestetics yang tinggi. Termasuk di dalamnya adalah senam dan menari dengan olah tubuh yang penuh dengan rima dan irama itu. Kalau pun negeri kita pada saaat ini masih mengalami kesulitan untuk mencari sebelas pemain sebak bola, karena selalu keok dalam arena pertandingan olah raga yang bergengsi ini, maka masalahnya tidak lain dan tidak bukan adalah karena kecerdasan fisikal generasi muda kita yang masih rendah. Selain itu, asupan gizi generasi muda kita masih di bawah rata-rata anak-anak di dunia. Jika negeri ini masih juga mengalami masalah mahalnya susu untuk tumbuh kembang anak-anak kita, negeri adidaya Amerika Serikat telah jauh memikirkan pentingnya makan siang anak-anak sekolah melalui program makan siang anak-anak usia sekolah melalui National School Lunch Program Act yang telah ditandatangani oleh Presiden Truman pada tahun 1946. Bahkan pada tanggal 14 Oktober 1940, pemerintah Amerika Serikat juga telah mengeluarkan program susu sekolah ( school milk program). Rupanya, DPR kita masih sibuk dengan urusan politik ketimbang dengan urusan makan siang anak-anak. Nah apa yang harus diprogramkan oleh sekolah untuk mengatasi itu semua? Pemberian bubur kacang hijau, susu, dan makanan bergizi lainnya secara rutin sudah tentu menjadi kegiatan yang sangat berguna bagi anak-anak kita. Jangan biarkan anak-anak kita membiasakan jajan di tepi-tepi pagar sekolah, yang dari aspek kesehatan dan gizinya tidak dapat kita pertanggungjawabkan. Penciptaan Lingkungan Sekolah Yang Sehat Program ini sangat terkait dengan program sebelumnya. Pertama, program yang harus dibenahi adalah kantin sekolah. Ciptakan kantin sekolah yang hiegenis dengan jenis makanan yang bergizi. Kedua, citakan lingkungan sekolah yang bersih, rindang, dan indah. Program 7K perlu digalakkan lagi, bukan hanya secara seremonial belaka, tetapi harus menyentuh perubahan kebiasaan para penghuninya. Memasang papan bertuliskan ”LINGKUNGAN BEBAS ROKOK” merupakan satu gebrakan yang dapat dilakukan. Tulisan-tulisan lain, seperti ”TARUH SAMPAH PADA TEMPATNYA”, atau ”CUCI TANGAN SEBELUM MAKAN”, atau ”KESEHATAN SEBAGIAN DARI IMAN” dapat diharapkan dapat mengisi nurani anak-anak kita yang masih putih itu. Lomba kebersihan dan keindahan kelas dapat diadakan pada saat momen-momen tertentu, misalnya peringatan hari besar nasional dan agama, atau peringatan hari lahir sekolah. Talent Scouting Bibit Olahraga dan Seni Pembinaan olahraga memang menjadi tugas utama guru olahraga dan keshatan. Tetapi, program pembinaan olahraga secara teroganisasi di sekolah sudah barang tentu menjadi tanggung jawab semua komponen sekolah. Di samping olahgara rekreasi, pencatatan secara rutin rekor olahraga prestasi harus tersedia di sekolah. Sekolah harus memiliki catatan, nama-nama siswa dengan rekor tertingginya dalam cabang olahraga tertentu. Dengan catatan ini, jika ada kegiatan pertandingan olahraga, maka sekolah tinggal memilih mereka untuk dapat mengikuti ajang pertandingan olahraga yang akan diikuti. Pencatatan prestasi olahraga ini dapat dilakukan pada awal tahun pelajaran atau pada saat usai ulangan semester pertama menjelang libur sekolah. Dengan demikian, sekolah dapat menjadi tempat pembibitan olahraga dan seni yang pertama dan utama. Science-Tech Club Sama dengan talent scouting dalam bidang olahraga, sekolah juga harus melakukannya untuk bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebenarnya para guru telah memiliki pengetahuan dan keterampilan praktis dalam penelitian sederhana. Namun banyak di antaranya kurang begitu yakin bahwa anak-anak mampu melakukannya. Padahal obyek penelitian sederhana bagi anak-anak terbentang luas di sekolah dan lingkungannya. Sayur apakah yang menjadi kegemaran siswa, sebagai contoh, adalah pertanyaan penelitian sederhara yang dapat dilakukan bukan di SMP, tetapi sudah bisa dilakukan di SD. Topik-topik lainnya misalnya: (1) rata-

rata jumlah anak dalam satu keluarga, (2) rata-rata tinggi dan berat badan anak-anak kelas 5 SD, (3) jarak tempuh anak-anak ke sekolah, dan masih banyak yang lain. Kebun Sekolah dan Penanaman Sejuta Pohon Jika secara internasional isu pemanasan global telah melahirkan Bali Roadmap untuk memecahkan isu tersebut, maka apa yang dapat dilakukan di tingkat sekolah? Tentu saja pendidikan lingkungan hidup harus menjadi tanggung jawab sekolah. Untuk sekolah yang tidak memiliki lahan yang luas, setiap kelas dapat diminta untuk membikin taman di depan kelasnya masing-masing. Atau dapat meminta kepada para siswa untuk masing-masing dapat memiliki tanaman kesayangan yang harus dipelihara setiap hari dengan sepenuh hati. Disiram, dipupuk, dan disiangi kalau ada rumput yang menggangunya. Jika ada sedikit lahan di depan sekolah, maka sekolah juga dapat membuat taman sederhana untuk menanam tanaman hias atau tanaman bunga, agar sekolah tidak terasa gersang. Jika di lingkungan sekolah ada lahan tidur yang tidak dimanfaatkan oleh yang empunya, sekolah dapat meminjamnya untuk dijadikan kebun sekolah tempat praktik anak-anak menanam berbagai jenis tanaman. Selain itu, sekolah juga dapat membantu pemerintah daerah dalam melaksanakan program penanaman satu juta pohon. The First Day Festival Ide ini diusulkan oleh seorang guru di suatu sekolah di Amerika Serikat. Pada waktu itu, pelibatan peran serta orangtua dalam penyelenggaraan pendidikan masih menjadi sesuatu yang langka. Setelah program ini dilaksanakan, antusiasme orangtua dan masyarakat tiba-tiba meningkat secara drastis. Sejak adanya festival hari pertama sekolah itu, orangtua siswa dan masyarakat merasakan adanya peningkatan keakraban dan kekeluargaan antara sekolah dan orangtua siswa secara luar biasa. Orangtua dan masyarakat tidak lagi merasa sebagai klien, tetapi sebagai pemangku kepentingan yang memiliki tanggung jawab yang sama besar dengan pihak kepala sekolah dan para guru di sekolah. Program seperti ini dapat berupa program lain yang tidak kalah inovatifnya. Acara tutup tahun sekolah, sebagai contoh, dapat menjadi media untuk menyatupadukan sekolah dengan orangtua dan masyarakat. Dalam acara tersebut, para siswa dapat menunjukkan kebolehannya, baik dalam bidang akademis maupun nonakademis, di hadapan orangtua dan masyarakat. Dampaknya, orangtua dan masyarakat menjadi lebih memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap upaya sekolah dalam meningkatkan kompetensi siswa. Dampak pengiringnya, orangtua dan masyarakat menjadi lebih antusias dalam ikut serta memberikan dukungan dan bantuan terhadap pelaksanaan program-program inovatif sekolah. Akhir Kata Masih sangat banyak program inovatif lain yang dapat dilaksanakan oleh sekolah. Tentu saja berdasarkan kondisi sekolahnya masing-masing. Sebagai contoh, program sekolah berwawasan imtaq, program sekolah yang aman dan nyaman, program sekolah ramah anak, kegiatan outbond, dan masih banyak yang lainnya. Penerapan pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM) dan contextual teaching and learning (CTL) kini menjadi program inovatif di sekolah yang menjadi primadona. Pendek kata, dengan program inovatif, semua warga sekolah dan pemangku kepentingan ingin mencoba sesuatu yang tidak biasa. Ingin mencoba sesuatu yang baru, yang kalau bisa yang luar biasa. Itu semua dapat dimulai dengan program inovatif yang sederhana, dan sudah barang tentu yang tidak memberatkan keuangan orangtua siswa. Yang penting, semua warga sekolah ingin melakukan sesuatu yang baru, atau sesuatu yang sebelumnya kurang mendapatkan perhatian. Tentu saja, semua itu harus dirancang adalam rencana yang matang, yang dikenal dengan Rencana Pengembangan Sekolah (RPS), yang disusun oleh sekolah bersama dengan pemangku kepentingan. Dengan kata lain, RPS yang disusun hendaknya memuat program-program inovatif, baik yang terkait dengan aspek akademis maupun nonakademis di sekolah. Sulitkah semua itu kita lakukan? Semua itu memang sulit untuk pertama kalinya. All beginning is difficult. Semua permulaan itu memang sulit. Tetapi, yakinlah bahwa semua itu dapat dilakukan jika kita memiliki kemauan. Dimana ada kemauan di situ ada jalan. Mudah-mudahan.

MATERI UJI KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH : MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH
08:04 Nurul Amaliah No comments Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

A. 1.

KONSEP MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

Pengantar Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah masih rendahnya mutu pendidikan dari sebagian sekolah khususnya sekolah dasar dan menengah di pedesaan, misalnya di pedalaman dan di perbatasan. Berbagai upaya telah dan sedang dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, misalnya pengembangan delapan (8) standar nasional pendidikan, alokasi dana pendidikan minimal 20% APBN dan APBD, sertifikasi pendidik beserta tunjangan profesinya, penerapan ujian nasional, peningkatan partisipasi masyarakat dalam pendidikan, dan sejumlah terobosan baru berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Namun demikian, mutu pendidikan nasional belum merata di seluruh tanah air. Sebagian sekolah, terutama di kota-kota, secara umum, menunjukkan peningkatan mutu pendidikan yang cukup menggembirakan, sebaliknya sebagian lainnya khususnya di pedesaan, masih memprihatinkan. Jadi, kesenjangan mutu pendidikan nasional masih cukup lebar. Berdasarkan kenyataan ini, berbagai pihak mempertanyakan: apa penyebab kesenjangan mutu pendidikan nasional yang masih lebar ini? Tentu saja jawabannya adalah banyak faktor yang menyebabkan lebarnya kesenjangan mutu pendidikan nasional, tiga diantaranya adalah: (1) penerapan pendekatan sistem secara parsial, (2) belum maksimalnya penerapan MBS, dan (3) rendahnya partisipasi warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan sekolah. Faktor pertama, penerapan pendekatan sistem dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah sering dilaksanakan secara parsial. Sekolah sebagai sistem terdiri dari konteks, input, proses, output, dan outcome. Dalam kenyataannya, pengembangan sekolah sering difokuskan pada input saja (guru, kurikulum, sarana dan prasarana, dana, dsb.), proses saja (proses belajar mengajar, penilaian hasil belajar, kepemimpinan sekolah, dsb.), atau output saja (nilai ujian nasional, perlombaan karya ilmiah, dsb.). Padahal, penyelenggaraan sekolah sebagai sistem harus dilakukan secara utuh, tidak parsial, apalagi parosial. Artinya, pengembangan sekolah secara sistem harus mencakup seluruh komponen sekolah secara utuh mulai dari konteks, input, proses, output, hingga sampai outcome. Faktor kedua, penyelenggaraan pendidikan nasional yang dilakukan secara birokratik-sentralistik telah menempatkan sekolah sebagai subordinasi yang sangat tergantung pada keputusan birokrasi diatasnya yang mempunyai jalur yang sangat panjang dan kadang-kadang kebijakan yang diberlakukan kurang sesuai dengan kondisi sekolah setempat. Karena sekolah lebih merupakan subordinasi dari birokrasi di atasnya, maka mereka kehilangan kemandiriannya, terpasung kreatifitasnya/inisiatifnya, rendah keluwesannya, rendah motivasinya, dan rendah keberanian moralnya untuk melakukan hal-hal baru yang diperlukan untuk memajukan sekolahnya. Faktor ketiga, peranserta warga sekolah khususnya guru, karyawan dan siswa serta peranserta masyarakat khususnya orangtua siswa dalam penyelenggaraan sekolah selama ini belum optimal. Partisipasi guru dalam pengambilan keputusan sering diabaikan, padahal terjadi atau tidaknya perubahan di sekolah sangat tergantung pada guru. Dikenalkan pembaruan apapun jika guru tidak berubah, maka tidak akan terjadi perubahan di sekolah tersebut. Partisipasi masyarakat selama ini pada umumnya sebatas pada dukungan dana, sedang dukungan-dukungan lain seperti pemikiran, moral, pisik, dan material belum optimal. Padahal, kesuksesan sekolah sangat memerlukan teamwork yang kompak, cerdas, dinamis, harmonis, dan lincah. Hal ini hanya akan terjadi apabila pertisipasi warga sekolah dan masyarakat maksimal. Partisipasi maksimal akan mampu meningkatkan rasa kepemilikan terhadap sekolah dan rasa kepemilikan akan meningkatkan dedikasi warga sekolah dan masyarakat terhadap sekolah. Berdasarkan ketiga faktor tersebut, tentu saja perlu dilakukan upaya-upaya penyampurnaan, salah satunya adalah mempertegas konsep dasar MBS dan memperkuat pelaksanaannya. Oleh karena itu, pembahasan MBS selanjutnya akan difokuskan pada: (1) landasan yuridis, (2) asumsi-asumsi diterapkannya MBS, (3) prakondisi yang diperlukan dalam penyelenggaraan MBS, (4) konsep dasar MBS yang meliputi: pola baru manajemen pendidikan masa depan, arti, tujuan,

sekolah lebih mengetahui kekuatan. kelemahan. akuntabilitas. 8. Ayat (1). transparansi. 7. Pasal 3). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (khususnya yang terkait dengan MBS adalah Bab VIII. Kelima bahasan tersebut akan diuraikan seperlunya pada bab-bab berikut. Asumsi-asumsi Diterapkannya MBS MBS diterapkan dengan asumsi-asumsi sebagai berikut: 1. dengan pemberian otonomi yang lebih besar kepada sekolah. dan (5) pelaksanaan MBS. yaitu: 1. dan urusan-urusan yang didesentralisasikan ke sekolah. dedikasi. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (khususnya yang terkait dengan MBS adalah Bab XIV. maka sekolah akan lebih kreatif. inisiatif. 5. 3. dan kepercayaan publik terhadap sekolah. dan inovatif dalam meningkatkan kinerja sekolah. 3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan (khususnya yang terkait dengan MBS adalah Bab II. 3. orangtua peserta didik. dengan pemberian fleksibilitas/keluwesan-keluwesan yang lebih besar kepada sekolah untuk mengelola sumberdayanya. peluang. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 78 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Sekolah Bertaraf Internasional pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. 5. Landasan Yuridis Penerapan MBS dilandasi oleh peraturan perundang-undangan pendidikan nasional yang berlaku di Indonesia. keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan akan mampu meningkatkan rasa kepemilikan. Pasal 49. pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan sekolah karena pihak sekolahlah yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi sekolahnya. khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran dan tingkat perkembangan serta kebutuhan peserta didik. 2. 6. 4. Ayat (1). Pasal 51. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah. 2. dan 6. sekolah lebih bertanggungjawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada pemerintah dan pemerintah daerah.karakteristik MBS. dan ancaman bagi dirinya sehingga dia dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya yang tersedia untuk memajukan sekolah. maka sekolah akan lebih luwes dan lincah dalam mengadakan dan memanfaatkan sumberdaya secara optimal untuk meningkatkan mutu sekolah. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan. sekolah lebih mengetahui kebutuhannya. 4. penggunaan sumberdaya pendidikan lebih efektif dan efisien jika dikontrol oleh warga sekolah dan masyarakat setempat. dan masyarakat pada umumnya sehingga . 2.

Keempat. sekolah memiliki sistem tata kelola yang baik untuk mempromosikan partisipasi dan transparansi kepada warga sekolah dan masyarakat sekitar serta akuntabilitas sekolah terhadap publik sehingga sekolah akan merupakan bagian dari (milik) masyarakat dan bukannya sekolah yang berada di masyarakat. Artinya. misalnya penghargaan terhadap perbedaan pendapat. Sekolah juga harus memiliki sumberdaya yang memadai. Ketiga. Sekolah yang hanya mampu memenuhi sebagian persyaratan. perbekalan. pola hatinya (heart set). baik pola pikirnya (mind set). Oleh karena itu. musyawarah-mufakat dapat dilaksanakan. menjunjung tinggi hak asasi manusia. dan masyarakat sekitar melalui komite sekolah dapat digerakkan untuk mendukung MBS. bukan prokemapanan. misalnya perencanaannya. Adapun prakondisi yang diperlukan untuk melaksanakan MBS adalah sebagai berikut. Prakondisi yang Diperlukan untuk Menyelenggarakan MBS Sekolah yang akan menerapkan MBS perlu menyiapkan persyaratan berikut. Kelima. pelaksanaannya. dan lingkungan yang berubah dengan cepat. sekolah sebagai institusi pendidikan juga harus siap untuk menerapkan MBS sebagaipola baru. sekolah akan mampu bersaing secara sehat dengan sekolah-sekolah lainnya dalam peningkatan mutu pendidikan melalui upaya-upaya kreatif dan inovatif yang didukung oleh orangtua siswa. Ini semua dilakukan secara partisipatif oleh warga sekolah. demokrasi/egaliterisme pendidikan dapat ditumbuh kembangkan. dan 10. Kedua. dan program yang jelas untuk menyelenggarakan MBS. sekolah dapat secara cepat menanggapi perubahan. sekolah harus mau melakukan restrukturisasi (perubahan) terhadap manajemen dan organisasinya agar akomodatif terhadap penerapan MBS. dan pemerintah daerah setempat. warga sekolah (sumberdaya manusianya) harus siap diajak untuk melakukan perubahan pada dirinya. Persyaratan ini bukan dimaksudkan untuk menghambat sekolah yang tidak memenuhinya untuk melaksanakan MBS. peralatan. perlengkapan. maupun pola tindakannya (action set). educable/trainable (mau diajak belajar/dilatih). dan pengontrolannya. baik sumberdaya manusianya maupun sumberdaya selebihnya yaitu dana. tetap bisa menerapkan MBS sambil melengkapi persyaratan yang belum dapat dipenuhi. dan material/bahan. sekolah memiliki kemampuan mengarahkan dan membimbing warganya melalui penyusunan kebijakan. Artinya. masyarakat sekitar dapat disadarkan akan pentingnya pendidikan. rencana. Pertama. 4. aspirasi masyarakat. .sekolah akan berupaya semaksimal mungkin untuk melaksanakan dan mencapai sasaran mutu pendidikan yang telah direncanakan. tetapi lebih merupakan petunjuk penyiapan bagi sekolah-sekolah yang akan menerapkan MBS. persyaratan berikut bukan merupakan harga mati. warga sekolah harus pro-perubahan. pengkoordinasiannya. masyarakat sekitar. akan tetapi lebih merupakan saran yang masih terbuka untuk dimodifikasi. pengorganisasiannya. kultur sekolah juga harus siap dan kondusif untuk menghadapi tuntutan baru MBS. 9. dikurangi atau ditambah sesuai dengan karakteristik sekolah dan masyarakat sekitarnya.

Pola Baru Manajemen Pendidikan Masa Depan Bukti-bukti empirik lemahnya pola lama manajemen pendidikan nasional dan digulirkannya otonomi daerah telah mendorong dilakukannya penyesuaian diri dari pola lama manajemen pendidikan menuju pola baru manajemen pendidikan masa depan yang lebih bernuansa otonomi dan yang lebih demokratis. yang ditunjukkan oleh pemberian arah.Keenam. Tabel 1 berikut menunjukkan dimensi-dimensi perubahan pola manajemen. dari yang lama menuju ke yang baru. Tabel 1: Dimensi-Dimensi Perubahan Pola Manajemen Pendidikan Pola Lama Subordinasi Pengambilan keputusan terpusat Ruang gerak kaku Pendekatan birokratik Sentralistik Diatur Overregulasi Mengontrol Mengarahkan Menghindari resiko Gunakan uang semuanya Individual yang cerdas Menuju ⇒⇒ ⇒⇒ Pola Baru Otonomi Pengambilan keputusan partisipatif Ruang gerak luwes Pendekatan professional Desentralistik Motivasi diri Deregulasi Mempengaruhi Memfasilitasi Mengelola resiko Gunakan uang seefisien mungkin Teamwork yang cerdas ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ . pengaturan. dan monitoring serta evaluasi yang diperlukan untuk kelancaran penyelenggaraan MBS. Lebih dari itu. sekolah diberi kewenangan dan tanggungjawab yang lebih besar (otonomi) untuk menyelenggarakan sekolahnya. 5. bimbingan. dukungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk menerapkan MBS cukup kuat.

Otonomi dapat diartikan sebagai kemandirian yaitu kemandirian dalam mengatur dan mengurus dirinya sendiri. regulasi pendidikan lebih sederhana. Pada gilirannya. karyawan) dan masyarakat (orangtua siswa. misalnya swasembada. kemandirian dalam program dan pendanaan merupakan tolok ukur utama kemandirian sekolah. swadana. sekolah diberikan kewenangan dan tanggungjawab untuk mengambil keputusan-keputusan sesuai dengan kebutuhan. Pada dasarnya. konsep dasar dan karakteristik MBS dapat diuraikan sebagai berikut. tokoh masyarakat. peranan pusat bergeser dari mengontrol menjadi mempengaruhi dan dari mengarahkan ke memfasilitasi. manajemen berbasis sekolah (MBS) dapat diartikan sebagai model pengelolaan yang memberikan otonomi (kewenangan dan tanggungjawab)lebih besar kepada sekolah. dan sebagainya. sekolah lebih luwes dalam mengelola lembaganya.). dan mendorong partisipasi secara langsung warga sekolah (guru. lebih mengutamakan teamwork. (Catatan: MBS tidak dibenarkan menyimpang dari peraturan perundang-undangan yang berlaku). perubahan sekolah lebih didorong oleh motivasi-diri sekolah dari pada diatur dari luar sekolah. pengelolaan sekolah lebih desentralistik. lebih mengutamakan pemberdayaan. Pada Pola Lama. . kepala sekolah. memberikan fleksibilitas/keluwesan-keluwesan kepada sekolah. ilmuwan. sekolah memiliki wewenang lebih besar dalam pengelolaan lembaganya. Dengan otonomi tersebut. Sedang pada Pola Baru. MBS dijiwai oleh pola baru manajemen pendidikan masa depan sebagaimana diilustrasikan pada Tabel 1. kemampuan dan tuntutan sekolah serta masyarakat atau stakeholder yang ada. Istilah otonomi juga sama dengan istilah “swa”. Arti MBS Secara umum. kemandirian yang berlangsung secara terus menerus akan menjamin kelangsungan hidup dan perkembangan sekolah (sustainabilitas). dan struktur organisasi lebih datar sehingga lebih efisien. pengambilan keputusan dilakukan secara partisipatif dan partsisipasi masyarakat makin besar. 6. pengusaha. untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional serta peraturan perundang-undangan yang berlaku.Pola Lama Informasi terpribadi Pendelegasian Organisasi herarkis Menuju ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ Pola Baru Informasi terbagi Pemberdayaan Organisasi datar Berikut dijelaskan secara singkat Tabel 1. tugas dan fungsi sekolah lebih pada melaksanakan program dari pada mengambil inisiatif merumuskan dan melaksanakan program peningkatan mutu yang dibuat sendiri oleh sekolah. penggunaan uang lebih efisien karena sisa anggaran tahun ini dapat digunakan untuk anggaran tahun depan (efficiency-based budgeting). Lebih rincinya. siswa.informasi terbagi ke semua warga sekolah. pendekatan profesionalisme lebih diutamakan dari pada pendekatan birokrasi. swakelola. dari menghindari resiko menjadi mengolah resiko.

Sedang demokrasi pendidikan adalah kebebasan yang terlembagakan melalui musyawarah dan mufakat dengan menghargai perbedaan.swakarya. Dengan otonomi yang lebih besar. Dengan kemandiriannya. sehingga yang bersangkutan juga akan bertanggungjawab dan berdedikasi sepenuhnya untuk mencapai tujuan sekolah.) didorong untuk terlibat secara langsung dalam penyelenggaraan pendidikan. Hal ini dilandasi oleh keyakinan bahwa jika seseorang dilibatkan (berpartisipasi) dalam penyelenggaraan pendidikan. Komite Sekolah menganut prinsip transparansi. kemampuan adaptif dan antisipatif. Secara resmi keberadaan Komite Sekolah ditunjukkan melalui Surat Keputusan Mendiknas Nomor 044/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Partisipasi masyarakat terhadap penyelenggaraan sekolah telah diatur dalam suatu kelembagaan yang disebut dengan Komite Sekolah. makin besar rasa memiliki. sehingga sekolah lebih mandiri. siswa. maka yang bersangkutan akan mempunyai “rasa memiliki” terhadap sekolah. yaitu kemampuan mengambil keputusan yang terbaik. Keterbukaan yang dimaksud adalah keterbukaan dalam program dan keuangan. dan demokrasi. dan kemampuan memenuhi kebutuhannya sendiri. kemampuan memilih cara pelaksanaan yang terbaik. akuntabilitas. dan evaluasi pendidikan yang diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan. dan demokrasi pendidikan. sekolah lebih berdaya dalam mengembangkan program-program yang. Dengan fleksibilitas/keluwesan-keluwesannya. lebih sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan/potensi yang dimiliki. dan sebagainya. akuntabilitas. ilmuwan. Peningkatan partisipasi warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan sekolah akan mampu menciptakan keterbukaan. mulai dari pengambilan keputusan. Jadi otonomi sekolah adalah kewenangan sekolah untuk mengatur dan mengurus kepentingan warga sekolah menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi warga sekolah sesuai dengan peraturan perundang-undangan pendidikan nasional yang berlaku. Kerjasama yang dimaksud adalah adanya sikap dan perbuatan lahiriyah kebersamaan/kolektif untuk meningkatkan mutu sekolah. sekolah akan lebih lincah dalam mengelola dan memanfaatkan sumberdaya sekolah secara optimal. Kerjasama sekolah yang baik ditunjukkan oleh hubungan antar warga sekolah yang erat. Dalam hal pembentukannya. dan makin besar rasa tanggungjawab. batas kewenangan. Komite Sekolah diharapkan menjadi mitra sekolah yang dapat mewadahi dan menyalurkan aspirasi serta prakarsa masyarakat dalam melahirkan kebijakan operasional dan program pendidikan di sekolah. karyawan) dan masyarakat (orang tua siswa. hubungan sekolah dan masyarakat erat. Tugas dan fungsi Komite Sekolah antara lain mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap . makin besar pula rasa memiliki. dan swalayan. tentu saja. kemampuan memobilisasi sumberdaya. dan relevansinya dengan tujuan partisipasi. Tentu saja pelibatan warga sekolah dalam penyelenggaraan sekolah harus mempertimbangkan keahlian. kemampuan memecahkan persoalan-persoalan sekolah. Tentu saja kemandirian yang dimaksud harus didukung oleh sejumlah kemampuan. sekolah memiliki kewenangan dan tanggungjawab yang lebih besar dalam mengelola sekolahnya. makin besar pula rasa tanggungjawab. Akuntabilitas sekolah adalah pertanggungjawaban sekolah kepada warga sekolahnya. masyarakat dan pemerintah melalui pelaporan dan pertemuan yang dilakukan secara terbuka. Singkatnya: makin besar tingkat partisipasi. di mana warga sekolah (guru. kerjasama yang kuat. cerdas dan dinamis. pelaksanaan. tokoh masyarakat. makin besar pula dedikasinya. Peningkatan partisipasi yang dimaksud adalah penciptaan lingkungan yang terbuka dan demokratik. dan adanya kesadaran bersama bahwaoutput sekolah merupakan hasil kolektif teamwork yang kompak. kemampuan bersinergi dan berkolaborasi. usahawan. kemampuan berdemokrasi/menghargai perbedaan pendapat. hak asasi manusia serta kewajibannya dalam rangka untuk meningkatkan mutu pendidikan. kemampuan berkomunikasi dengan cara yang efektif.

pemecahan masalah sekolah secara teamwork. memiliki kontrol yang kuat terhadap input manajemen dan sumberdayanya. Dengan kepemilikan ketiga hal ini. Tujuan MBS . memiliki jiwa kewirausahaan tinggi (inovatif. memiliki fleksibilitas pengelolaan sumberdaya sekolah. kreatif dan inisiatf. dan memiliki partisipasi yang lebih besar dari kelompok-kelompok yang berkepentingan dengan sekolah. dan menggalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan. komunikasi yang efektif. dia memiliki kontrol terhadap pekerjaannya. dukungan. sumberdaya yang dibutuhkan ada. dan melakukan evaluasi pelaksanaan peningkatan mutu). memanfaatkan dan memberdayakan sumberdayanya. mediator dan pengontrol penyelenggaraan pendidikan di sekolah. rencana anggaran pendidikan dan belanja sekolah. Komite Sekolah diharapkan berperan sebagai pendukung. Dengan keluwesan-keluwesan yang lebih besar diberikan kepada sekolah. pekerjaan yang bermakna. Pendeknya. sekolah akan lebih responsif dan lebih cepat dalam menanggapi segala tantangan yang dihadapi. maka sekolah akan merupakan unit utama pengelolaan proses pendidikan. Dengan pengertian di atas. dan pekerjaannya merupakan bagian hidupnya. memanfaatkan dan memberdayakan sumberdaya sekolah seoptimal mungkin untuk meningkatkan mutu sekolah. melaksanakan rencana peningkatan mutu. 7. Fleksibilitas dapat diartikan sebagai keluwesan-keluwesan yang diberikan kepada sekolah untuk mengelola. Dengan cara ini. mendorong orangtua dan masyarakat berpartisipasi dalam pendidikan guna mendukung peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan. pekerjaannya memiliki kontribusi. ada pujian. Sekolah yang mandiri memiliki ciri-ciri sebagai berikut: sifat ketergantungan rendah. maka sekolah akan lebih lincah dan tidak harus menunggu arahan dari atasannya untuk mengelola. Komite Sekolah juga dapat memberikan masukan dan pertimbangan kepada sekolah tentang kebijakan dan program pendidikan. maka sekolah memiliki kemandirian lebih besar dalam mengelola sekolahnya (menetapkan sasaran peningkatan mutu. Selanjutnya. memiliki kontrol yang kuat terhadap kondisi kerja. didengar. pemberian tanggungjawab. menyusun rencana peningkatan mutu. adaptif dan antisipatif/proaktif terhadap perubahan. Selain itu. berani mengambil resiko. dan warga sekolah diberlakukan sebagai manusia ciptaan-Nya yang memiliki martabat tertinggi. kemampuan untuk mengukur kinerjanya sendiri. variasi tugas. dan sebagainya). keluwesan-keluwesan yang dimaksud harus tetap dalam koridor kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang ada. khususnya dalam pengelolaan peningkatan mutu. umpan balik bagus. ulet. mengetahui bahwa dia adalah bagian penting dari sekolah. kontrol yang luwes. gigih. sedang unit-unit di atasnya (Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. pada umumnya. hasil kerja yang terukur. memiliki ciri-ciri: pekerjaan adalah miliknya. menghargai ideide. bagi sumberdaya manusia sekolah yang berdaya. Dinas Pendidikan Provinsi. pemberi pertimbangan. komitmen yang tinggi pada dirinya. dia bertanggungjawab. dan prestasi merupakan acuan bagi penilaiannya. tantangan. kepercayaan. dia tahu posisinya di mana. dan Departemen Pendidikan Nasional) akan merupakan unit pendukung dan pelayan sekolah.penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. Namun demikian. bertanggungjawab terhadap kinerja sekolah. Contoh tentang hal-hal yang dapat memandirikan/memberdayakan warga sekolah adalah: pemberian kewenangan.

8. solidaritas yang tinggi. Oleh karena itu. dan kepramukaan. output dapat diklasifikasikan menjadi dua. Pada umumnya. lomba (Bahasa Inggris. sedang proses memiliki tingkat kepentingan satu tingkat lebih rendah dari output. sekolah diharapkan makin mampu dan berdaya dalam mengurus dan mengatur sekolahnya dengan tetap berpegang pada koridor-koridor kebijakan pendidikan nasional. Peningkatan kinerja sekolah yang dimaksud meliputi peningkatan kualitas. dan sebagainya) . jika sekolah ingin sukses dalam menerapkan MBS. Selanjutnya. Output sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan oleh proses pembelajaran dan manajemen di sekolah.bukan sekadar penekanan pada penguasaan pengetahuan tentang apa yang diajarkan (logos). transparansi. PBM bukan sekadar memorisasi dan recall. Matematika. mengingat output memiliki tingkat kepentingan tertinggi. harga diri. dan inovasi pendidikan. rasional. kerajinan. proses. pendekatan sistem yaitu input-prosesoutput digunakan untuk memandunya. Fisika). maka sejumlah karakteristik MBS berikut perlu dimiliki. rasa kasih sayang yang tinggi terhadap sesama. deduktif. kerjasama yang baik. proses. efisiensi. dan input memiliki tingkat kepentingan dua tingkat lebih rendah dari output. Dengan kata lain. yang dikategorikan menjadi input. Hal ini didasari oleh pengertian bahwa sekolah merupakan sistem sehingga penguraian karakteristik MBS (yang juga karakteristik sekolah efektif) mendasarkan pada input. lomba karya ilmiah remaja. yaitu output berupa prestasi akademik (academic achievement) dan output berupa prestasi non-akademik (non-academic achievement). kesenian. Output yang Diharapkan Sekolah memiliki output yang diharapkan. nalar. prestasi olahraga. akhlak/budipekerti. Proses Sekolah yang efektif pada umumnya memiliki sejumlah karakteristik proses sebagai berikut: 1) Proses Belajar Mengajar yang Efektivitasnya Tinggi Sekolah yang menerapkan MBS memiliki efektivitas proses belajar mengajar (PBM) yang tinggi. dan output. b. akan tetapi lebih menekankan pada internalisasi tentang apayang diajarkan sehingga tertanam dan berfungsi sebagai muatan nurani dan dihayati (ethos) serta dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari oleh peserta didik . dan akuntabilitas.MBS bertujuan untuk meningkatkan kinerja sekolah melalui pemberian kewenangan dan tanggungjawab yang lebih besar kepada sekolah yang dilaksanakan berdasarkan prinsipprinsip tata kelola sekolah yang baik yaitu partisipasi. misalnya keingintahuan yang tinggi. cara-cara berpikir (kritis. produktivitas. toleransi. efektivitas. Berbicara karakteristik MBS tidak dapat dipisahkan dengan karakteristik sekolah efektif. Output non-akademik. Jika MBS merupakan wadah/kerangkanya. akuntabilitas. perilaku sosial yang baik seperti misalnya bebas narkoba. Karakteristik MBS Manajemen Berbasis Sekolah memiliki karakteristik yang perlu dipahami oleh sekolah yang akan menerapkannya. dan output. karakteristik MBS berikut memuat secara inklusif elemen-elemen sekolah efektif. induktif. Dalam menguraikan karakteristik MBS. maka sekolah efektif merupakan isinya. Ini ditunjukkan oleh sifat PBM yang menekankan pada pemberdayaan peserta didik. Perlu digarisbawahi bahwa pencapaian tujuan MBS harus dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip tata kelola yang baik (partisipasi. NUN/NUS. kedisiplinan. transparansi. kejujuran. dan ilmiah). uraian berikut dimulai dari output dan diakhiri input. kreatif/ divergen. a. Output prestasi akademik misalnya. Dengan MBS.

mulai dari analisis kebutuhan. Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah untuk dapat mewujudkan visi. hingga sampai pada imbal jasa. terutama sumberdaya manusia. dan (h) warga sekolah merasa memiliki sekolah. hubungan kerja. belajar hidup bersama(learning to live together). kepala sekolah tangguh memiliki kemampuan memobilisasi sumberdaya sekolah. Budaya mutu memiliki elemen-elemen sebagai berikut: (a) informasi kualitas harus digunakan untuk perbaikan. sekolah yang efektif selalu menciptakan iklim sekolah yang aman. evaluasi kinerja. 3) Lingkungan Sekolah yang Aman dan Tertib Sekolah memiliki lingkungan (iklim) belajar yang aman. peranan kepala sekolah sangat penting sekali. (b) kewenangan harus sebatas tanggungjawab. bukan untuk mengadili/mengontrol orang. dan sasaran sekolahnya melalui programprogram yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap. Sekolah yang menerapkan MBS menyadari tentang hal ini. pengelolaan tenaga kependidikan. (c) hasil harus diikuti penghargaan (rewards) atau sanksi (punishment). selalu mampu dan sanggup menjalankan tugasnya dengan baik. tertib melalui pengupayaan faktor-faktor yang dapat menumbuhkan iklim tersebut. tertib. 4) Pengelolaan Tenaga Kependidikan yang Efektif Tenaga Kependidikan. perencanaan. dan Dinamis . untuk mencapai tujuan sekolah. bukan kompetisi. merupakan garapan penting bagi seorang kepala sekolah. (e) warga sekolah merasa aman terhadap pekerjaannya. dan nyaman sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan nyaman (enjoyable learning). tenaga kependidikan yang diperlukan untuk menyukseskan MBS adalah tenaga kependidikan yang mempunyai komitmen tinggi. belajar bekerja (learning to do). dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be). kepala sekolah dituntut memiliki kemampuan manajemen dan kepemimpinan yang tangguh agar mampu mengambil keputusan dan inisiatif/prakarsa untuk meningkatkan mutu sekolah. PBM yang efektif juga lebih menekankan pada belajar mengetahui(learning to know). Secara umum. 5) Sekolah Memiliki Budaya Mutu Budaya mutu tertanam di sanubari semua warga sekolah. merupakan jiwa dari sekolah. 6) Sekolah Memiliki “Teamwork” yang Kompak. Cerdas. dan menyerasikan semua sumberdaya pendidikan yang tersedia. Dalam hal ini. sehingga setiap perilaku selalu didasari oleh profesionalisme. (f) atmosfir keadilan (fairness) harus ditanamkan. (g) imbal jasa harus sepadan dengan nilai pekerjaannya. Pendeknya. harus merupakan basis untuk kerjasama. pengembangan. Terlebih-lebih pada pengembangan tenaga kependidikan. terutama guru. Sekolah hanyalah merupakan wadah. kepala sekolah memiliki peran yang kuat dalam mengkoordinasikan. Oleh karena itu. (d) kolaborasi dan sinergi. nyaman. misi. ini harus dilakukan secara terusmenerus mengingat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedemikian pesat. Oleh karena itu. menggerakkan.(pathos). tujuan. Karena itu. 2) Kepemimpinan Sekolah yang Kuat Pada sekolah yang menerapkan MBS.

prosedur. Hal ini dilandasi oleh keyakinan bahwa makin tinggi tingkat partisipasi. dan makin besar rasa tanggungjawab. Tiada hari tanpa perbaikan. Sistem mutu yang dimaksud harus mencakup struktur organisasi. perlengkapan. 7) Sekolah Memiliki Kewenangan Sekolah memiliki kewenangan untuk melakukan yang terbaik bagi sekolahnya sehingga dituntut untuk memiliki kemampuan dan kesanggupan kerja yang tidak selalu menggantungkan pada atasan. Tentu saja yang dimaksud perubahan adalah peningkatan. 10) Sekolah Memiliki Kemauan untuk Berubah (psikologis dan pisik) Perubahan harus merupakan sesuatu yang menyenangkan bagi semua warga sekolah. Karena itu. makin besar pula tingkat dedikasinya. sistem mutu yang baku sebagai acuan bagi perbaikan harus ada. Sebaliknya. 11) Sekolah Melakukan Evaluasi dan Perbaikan Secara Berkelanjutan Evaluasi belajar secara teratur bukan hanya ditujukan untuk mengetahui tingkat daya serap dan kemampuan peserta didik. sekolah tidak hanya mampu menyesuaikan terhadap . makin besar rasa memiliki. tanggungjawab. hasilnya diharapkan lebih baik dari sebelumnya (ada peningkatan) terutama mutu peserta didik. Untuk menjadi mandiri. perbekalan. 8) Partisipasi yang Tinggi dari Warga Sekolah dan Masyarakat Sekolah yang menerapkan MBS memiliki karakteristik bahwa partisipasi warga sekolah dan masyarakat merupakan bagian kehidupannya. sekolah harus memiliki sumberdaya yang cukup untuk menjalankan tugas dan fungsinya. 12) Sekolah Responsif dan Antisipatif terhadap Kebutuhan Sekolah selalu tanggap/responsif terhadap berbagai aspirasi yang muncul bagi peningkatan mutu. makin besar pula rasa tanggungjawab. setiap dilakukan perubahan. Karena itu. dana. Keterbukaan/transparansi ini ditunjukkan dalam pengambilan keputusan. antar individu dalam sekolah. yang selalu melibatkan pihak-pihak terkait sebagai alat kontrol. Oleh karena itu. dan bahan/material. dan sebagainya. fungsi evaluasi menjadi sangat penting dalam rangka meningkatkan mutu peserta didik dan mutu sekolah secara keseluruhan dan secara terus menerus. karena output pendidikan merupakan hasil kolektif warga sekolah. baik bersifat fisik maupun psikologis. 9) Sekolah Memiliki Keterbukaan (Transparansi) Manajemen Keterbukaan/transparansi dalam pengelolaan sekolah merupakan karakteristik sekolah yang menerapkan MBS. penggunaan uang. bukan hasil individual. makin besar rasa memiliki. baik sumberdaya manusia maupun sumberdaya selebihnya yaitu peralatan. Bahkan. budaya kerjasama antar fungsi dalam sekolah. kemapanan merupakan musuh sekolah. Karena itu. tetapi yang terpenting adalah bagaimana memanfaatkan hasil evaluasi belajar tersebut untuk memperbaiki dan menyempurnakan proses belajar mengajar di sekolah. harus merupakan kebiasaan hidup sehari-hari warga sekolah. perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. sekolah selalu membaca lingkungan dan menanggapinya secara cepat dan tepat. Artinya. Perbaikan secara terus-menerus harus merupakan kebiasaan warga sekolah.Kebersamaan (teamwork) merupakan karakteristik yang dituntut oleh MBS. proses dan sumberdaya untuk menerapkan manajemen mutu.

maka pemerintah perlu memberikan penghargaan kepada sekolah yang bersangkutan. pengorganisasian. akan tetapi juga mampu mengantisipasi hal-hal yang mungkin bakal terjadi. dan pengevaluasian pendidikan kecakapan hidup (program adiwiyata) yang dikembangkan secara terus menerus dari waktu ke waktu. komunikasi yang baik juga akan membentuk teamwork yang kuat. orangtua siswa. kompak. maka keterpaduan semua kegiatan sekolah dapat diupayakan untuk mencapai tujuan dan sasaran sekolah yang telah dipatok. 14) Sekolah Memiliki Akuntabilitas Akuntabilitas adalah bentuk pertanggungjawaban yang harus dilakukan sekolah terhadap keberhasilan program yang telah dilaksanakan. para orangtua siswa dan anggota masyarakat dapat memberikan penilaian apakah program ini dapat meningkatkan prestasi anak-anaknya secara individual dan kinerja sekolah secara keseluruhan. Jika kurang berhasil. pemerintah dapat menilai apakah program MBS telah mencapai tujuan yang dikendaki atau tidak. Selain itu. sehingga berbagai kegiatan sekolah dapat dilakukan secara merata oleh warga sekolah. 13) Memiliki Komunikasi yang Baik Sekolah yang efektif umumnya memiliki komunikasi yang baik. Sekolah . 16) Sekolah memiliki Kemampuan Menjaga Sustainabilitas Sekolah yang efektif juga memiliki kemampuan untuk menjaga kelangsungan hidupnya (sustainabilitasnya) baik dalam program maupun pendanaannya. dan juga sekolah-masyarakat. dan masyarakat. Demikian pula. sehingga menjadi faktor pendorong untuk terus meningkatkan kinerjanya di masa yang akan datang. Sebaliknya jika program tidak berhasil. maka orangtua siswa dan masyarakat berhak meminta pertanggungjawaban dan penjelasan sekolah atas kegagalan program MBS yang telah dilakukan. Sustainabilitas pendanaan dapat ditunjukkan oleh kemampuan sekolah dalam mempertahankan besarnya dana yang dimiliki dan bahkan makin besar jumlahnya. keterampilan dan kesadaran warga sekolah tentang nilai-nilai lingkungan hidup dan mampu mengubah perilaku dan sikap warga sekolah untuk menuju lingkungan hidup yang sehat. dan cerdas. Sekolah melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan pengetahuan. maka orangtua peserta didik perlu memberikan semangat dan dorongan untuk peningkatan program yang akan datang. maka sekolah tidak akan main-main dalam melaksanakan program pada tahun-tahun yang akan datang. Jika berhasil. maka pemerintah perlu memberikan teguran sebagai hukuman atas kinerjanya yang dianggap tidak memenuhi syarat. Jika berhasil. Menjemput bola. terutama antar warga sekolah. Dengan cara ini. 15) Manajemen Lingkungan Hidup Sekolah Bagus Sekolah efektif melaksanakan manajemen lingkungan hidup sekolah secara efektif. Berdasarkan laporan hasil program ini. adalah padanan kata yang tepat bagi istilah antisipatif. Sustainabilitas program dapat dilihat dari keberlanjutan program-program yang telah dirintis sebelumnya dan bahkan berkembang menjadi program-program baru yang belum pernah ada sebelumnya.perubahan/tuntutan. Dengan cara ini. Sekolah memiliki perencanaan. pengkoordinasian. Akuntabilitas ini berbentuk laporan prestasi yang dicapai dan dilaporkan kepada pemerintah. pelaksanaan. sehingga kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh masing-masing warga sekolah dapat diketahui.

dan Sasaran Mutu yang Jelas Secara formal. bahan. hingga sampai pada kepemilikan karakter mutu oleh warga sekolah. Kepala sekolah memiliki komitmen dan motivasi yang kuat untuk meningkatkan mutu sekolah secara optimal. walaupun dengan segala keterbatasan sumberdaya pendidikan yang ada di sekolah. Guru memiliki komitmen dan harapan yang tinggi bahwa anak didiknya dapat mencapai tingkat prestasi yang maksimal. tujuan. Input Pendidikan an. bagi sekolah yang ingin efektivitasnya tinggi. akan tetapi sekolah yang bersangkutan dapat memanfaatkan keberadaan sumberdaya yang ada dilingkungan sekolahnya. sedia dan Siap Sumberdaya merupakan input penting yang diperlukan untuk berlangsungnya proses pendidikan di sekolah. maka kepemilikan staf yang kompeten dan berdedikasi tinggi merupakan keharusan. Artinya. nggan (Khususnya Siswa) . yaitu. sekolah menyatakan dengan jelas tentang keseluruhan kebijakan. Secara umum. proses pendidikan di sekolah tidak akan berlangsung secara memadai. Tanpa sumberdaya yang memadai. dan sasaran mutu tersebut dinyatakan oleh kepala sekolah. segala sumberdaya yang diperlukan untuk menjalankan proses pendidikan harus tersedia dan dalam keadaan siap. dan sebagainya) dengan penegasan bahwa sumberdaya lainnya tidak mempunyai arti apapun bagi perwujudan sasaran sekolah. diperlukan kepala sekolah yang mampu memobilisasi sumberdaya yang ada di sekitarnya. tindakan. tujuan. tujuan. dan pada gilirannya sasaran sekolah tidak akan tercapai. tanpa campur tangan sumberdaya manusia. dan sasaran mutu tersebut disosialisasikan kepada semua warga sekolah. sehingga tertanam pemikiran. Ini bukan berarti bahwa sumberdaya yang ada harus mahal. dan sasaran sekolah yang berkaitan dengan mutu. Kebijakan. Tujuan. kebiasaan. peralatan. Kebijakan. c. dan tidak sepenuhnya menggantungkan subsidi dari pemerintah bagi sekolah-sekolah negeri. Sekolah yang efektif pada umumnya memiliki staf yang mampu (kompeten) dan berdedikasi tinggi terhadap sekolahnya. Harapan tinggi dari ketiga unsur sekolah ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan sekolah selalu dinamis untuk selalu menjadi lebih baik dari keadaan sebelumnya. namun pada butir ini perlu ditekankan lagi karena staf merupakan jiwa sekolah. perlengkapan. Sedang peserta didik juga mempunyai motivasi untuk selalu meningkatkan diri untuk berprestasi sesuai dengan bakat dan kemampuannya. 3) Staf yang Kompeten dan Berdedikasi Tinggi Meskipun pada butir (b) telah disinggung tentang ketersediaan dan kesiapan sumberdaya manusia (staf). Sumberdaya dapat dikelompokkan menjadi dua. Karena itu. 4) Memiliki Harapan Prestasi yang Tinggi Sekolah yang menerapkan MBS mempunyai dorongan dan harapan yang tinggi untuk meningkatkan prestasi peserta didik dan sekolahnya. Implikasinya jelas. sekolah yang menerapkan MBS harus memiliki tingkat kesiapan sumberdaya yang memadai untuk menjalankan proses pendidikan.memiliki kemampuan menggali sumberdana dari masyarakat. yaitu sumberdaya manusia dan lainnya (uang.

n Sekolah yang menerapkan MBS memiliki input manajemen yang memadai untuk menjalankan roda sekolah. metode.Pelanggan. (d) pengelolaan ketenagaan. Perlu dicatat bahwa desentralisasi bukan berarti semua urusan di limpahkan ke sekolah. Kepala sekolah dalam mengatur dan mengurus sekolahnya menggunakan sejumlah input manajemen. dan Pemerintahan Daerah kabupaten/Kota harus digunakan sebagai acuan dalam penyelenggaraan pendidikan. Artinya.Dengan demikian. harus merupakan fokus dari semua kegiatan sekolah. adalah contoh-contoh yang dimaksud dengan pembelajaran yang pro-perubahan. strategi/metode/teknik pembelajaran dan pengajaran yang dipilih harus pro-perubahan yaitu yang mampu menumbuhkan dan mengembangkan daya kreasi. Berikut adalah urusan-urusan pendidikan yang sebagian menjadi kewenangan dan tanggungjawab sekolah. pemerintah propinsi. dan (i) pengelolaan kultur sekolah. Urusan-urusan yang Menjadi Kewenangan dan Tanggungjawab Sekolah Secara umum. Secara lebih spesifik. ketentuan-ketentuan (aturan main) yang jelas sebagai panduan bagi warga sekolahnya untuk bertindak. pertanyaannya adalah: “Urusan-urusan apa sajakah yang perlu menjadi kewenangan dan tanggungjawab sekolah”? Pada dasarnya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urutan Pemerintahan antara Pemerintah. pembelajaran kuantum. dan kondisi nyata sumberdaya yang tersedia di sekolah. sesuai dengan karakteristik mata pelajaran. pemerintah kabupaten/kota. desentralisasi urusan-urusan pendidikan harus dalam koridor peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan sebagian urusan lainnya diserahkan ke sekolah. Pemerintahan Daerah Provinsi. a. program yang mendukung bagi pelaksanaan rencana. Sekolah diberi kebebasan memilih strategi. Artinya. Perencanaan dan Evaluasi . (b) perencanaan dan evaluasi program sekolah. karakteristik guru. (g) pelayanan siswa. b. Input manajemen yang dimaksud meliputi: tugas yang jelas. inovasi dan eksperimentasi peserta didik untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan baru. (e) pengelolaan peralatan dan perlengkapan. (f) pengelolaan keuangan. pergeseran dimensi-dimensi pendidikan dari manajemen berbasis pusat menjadi manajemen berbasis sekolah telah diuraikan pada Butir A. yaitu: (a) proses belajar mengajar. rencana yang rinci dan sistematis. Kelengkapan dan kejelasan input manajemen akan membantu kepala sekolah mengelola sekolahnya dengan efektif. Pengelolaan Proses Belajar Mengajar Proses belajar mengajar merupakan kegiatan utama sekolah. semua input dan proses yang dikerahkan di sekolah tertuju utamanya untuk meningkatkan mutu dan kepuasan peserta didik. dan teknikteknik pembelajaran dan pengajaran yang paling efektif. Konsekuensi logis dari ini semua adalah bahwa penyiapan input dan proses belajar mengajar harus benar-benar mewujudkan sosok utuh mutu dan kepuasan yang diharapkan dari siswa. (h) hubungan sekolah-masyarakat. tidak semua urusan di desentralisasikan sepenuhnya ke sekolah. Pembelajaran dan pengajaran kontekstual. (c) pengelolaan kurikulum. karakteristik siswa. pembelajaran kooperatif. Secara umum. terutama siswa. sebagian urusan masih merupakan kewenangan dan tanggungjawab Pemerintah. dan adanya sistem pengendalian mutu yang efektif dan efisien untuk meyakinkan agar sasaran yang telah disepakati dapat dicapai. 1.

Selanjutnya sekolah berhak mengembangkan KTSP ke dalam silabus. memperluas. sekolah juga diberi kebebasan untuk mengembangkan muatan local dan pengembangan diri. Oleh karena itu.Sekolah diberi kewenangan untuk menyusun rencana pengembangan sekolah (RPS) atau school-based plan sesuai dengan kebutuhannya. 23/2006. laboran. f. Pelayanan Siswa . kesesuaian. Sekolah juga harus diberi kebebasan untuk melakukan “kegiatan-kegiatan yang mendatangkan penghasilan” (income generating activities). Sekolah dibolehkan memperkaya mata pelajaran yang diajarkan. artinya. relevansi dan efisiensi sekolah. Pengelolaan Fasilitas (Peralatan dan Perlengkapan) Pengelolaan fasilitas sudah seharusnya dilakukan oleh sekolah. perencanaan. Dalam kondisi seperti ini. terutama pengalokasian/penggunaan uang sudah sepantasnya dilakukan oleh sekolah. maupun kemutakhirannya. apa yang diajarkan boleh diperluas dari yang harus. baik kecukupan. sehingga desentralisasi pengalokasian/penggunaan uang sudah seharusnya dilimpahkan ke sekolah. sehingga sumber keuangan tidak semata-mata tergantung pada pemerintah. materi pokok pembelajaran. Selain itu. dan 24/2006. Untuk itu. dan efisiensi sekolah. h. hingga pengembangan. hadiah dan sangsi (reward and punishment). hubungan kerja. mulai dari analisis kebutuhan. sekolah dibolehkan mendiversifikasi kurikulum. yang seharusnya. Demikian juga. pengembangan. dan yang dapat diajarkan. c. kebutuhan untuk meningkatkan pemerataan. Pengelolaan kurikulum yang dimaksud dinamakan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). apa yang diajarkan boleh dikembangkan agar lebih kontekstual dan selaras dengan karakteristik peserta didik. relevansi. sampai evaluasi kinerja tenaga kerja sekolah (guru. khususnya evaluasi yang dilakukan secara internal. pemeliharaan dan perbaikan. memperkuat. terutama fasilitas yang sangat erat kaitannya secara langsung dengan proses belajar mengajar. mulai dari pengadaan. mutu. mendiversifikasi) kurikulum. Pengelolaan Kurikulum Saat ini telah terjadi desentralisasi sebagian pengelolaan kurikulum dari pemerintah pusat ke sekolah melalui Permendiknas 22/2006. misalnya. dan sebagainya. proses pembelajaran. Berdasarkan hasil analisis kebutuhan tersebut. memperkaya. mutu. kecuali yang menyangkut pengupahan/imbal jasa dan rekrutmen guru pegawai negeri. Hal ini juga didasari oleh kenyataan bahwa sekolahlah yang paling memahami kebutuhannya. rekrutmen. mutu. relevansi dan efisiensi sekolah. tenaga administrasi. Evaluasi internal dilakukan oleh warga sekolah untuk memantau proses pelaksanaan dan untuk mengevaluasi hasil program-program yang telah dilaksanakan. Evaluasi diri harus jujur dan transparan agar benar-benar dapat mengungkap informasi yang sebenarnya. e. sekolah harus melakukan evaluasi. indikator kunci kinerja. Pengelolaan Keuangan Pengelolaan keuangan. Pengelolaan Ketenagaan (Pendidik dan Tenaga Kependidikan) Pengelolaan ketenagaan. Sekolah dapat mengembangkan (memperdalam. Padahal kondisi sekolah pada umumnya sangat beragam. d.) dapat dilakukan oleh sekolah. Pemerintah Pusat hanya menetapkan standar dan sekolah diharapkan mengoperasionalkan standar yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. kemudian sekolah membuat rencana peningkatan pemerataan. sistem penilaian. Hal ini didasari oleh kenyataan bahwa sekolahlah yang paling mengetahui kebutuhan fasilitas. Kebutuhan yang dimaksud. sekolah harus melakukan analisis kebutuhan pemerataan. namun tidak boleh mengurangi standar isi yang telah tertuang dalam Permendiknas 22/2006. dan rencana pelaksanaan pembelajaran. Evaluasi semacam ini sering disebut evaluasi diri. sekolah dipersilakan memilih cara-cara yang paling sesuai dengan kondisi masing-masing. yang sampai saat ini masih ditangani oleh birokrasi di atasnya. artinya.

kriteria kinerja sekolah. Pengelolaan Kultur Sekolah Kultur sekolah (pisik dan nir-pisik) yang kondusif-akademik merupakan prasyarat bagi terselenggaranya proses belajar mengajar yang aktif. tuntutan. Oleh karena itu. proses menuju MBS memerlukan perubahan empat hal pokok berikut: . hubungan sekolah-masyarakat dari dahulu sudah didesentralisasikan. Pengantar Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya. kriteria pendidik dan tenaga kependidikan. pertimbangan. dan menyenangkan. kepemilikan. mulai dari penerimaan siswa baru. ide. kesehatan sekolah. dan menampung dan menganalisis aspirasi. kepedulian. optimisme dan harapan/ekspektasi yang tinggi dari warga sekolah. Dalam arti yang sebenarnya. mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu tinggi.Pelayanan siswa. inovatif. melakukan kerjasama dengan masyarakat. Hubungan Sekolah-Masyarakat Esensi hubungan sekolah-masyarakat adalah untuk meningkatkan keterlibatan. sekali lagi. dan hal-hal lain yang terkait dengan pendidikan. sebenarnya dari dahulu memang sudah didesentralisasikan. dan dukungan dari masyarakat terutama dukungan moral dan finansial. Oleh karena itu. menggalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan pendidikan. Lingkungan sekolah yang aman dan tertib. kriteria fasilitas pendidikan. (2) mendorong orangtua siswa dan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pendidikan. RAPBS. PELAKSANAAN MBS A. tidak ada satu resep pelaksanaan MBS yang sama untuk diberlakukan ke semua sekolah. esensi MBS adalah peningkatan otonomi sekolah. Tugas dan fungsi komite sekolah dalam pelaksanaan MBS adalah: (1) memberi masukan. dan berbagai kebutuhan pendidikan yang diajukan oleh masyarakat. dan kegiatan-kegiatan yang terpusat pada siswa (studentcentered activities) adalah contoh-contoh kultur sekolah yang dapat menumbuhkan semangat belajar siswa. yang dibutuhkan adalah peningkatan intensitas dan ekstensitas hubungan sekolahmasyarakat. Kultur sekolah sudah merupakan kewenangan dan tanggungjawab sekolah sehingga yang diperlukan adalah upaya-upaya yang lebih intensif dan ekstentif. hingga sampai pada pengurusan alumni. melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap kebijakan/program/ penyelenggaraan dan keluaran pendidikan. j. dalam arti yang sebenarnya. dan rekomendasi kepada sekolah mengenai kebijakan dan program pendidikan. akan tetapi merupakan proses yang berlangsung secara terus menerus dan melibatkan semua pihak yang berwenang dan bertanggungjawab dalam penyelenggaraan sekolah. efektif. dan peningkatan fleksibilitas pengelolaan sumberdaya sekolah. pengembangan/ pembinaan/pembimbingan. Konsep ini membawa konsekuensi bahwa pelaksanaan MBS sudah sepantasnya menerapkan pendekatan “idiograpik” (membolehkan adanya keberbagaian cara melaksanakan MBS) dan bukan lagi menggunakan pendekatan “nomotetik” (cara melaksanakan MBS yang cenderung seragam/konformitas untuk semua sekolah). Karena itu. penempatan untuk melanjutkan sekolah atau untuk memasuki dunia kerja. Dalam MBS. sekolah memiliki mitra yang mewakili masyarakat sekitarnya yang disebut komite sekolah. yang diperlukan adalah peningkatan intensitas dan ekstensitasnya. B. Tetapi satu hal yang perlu diperhatikan bahwa mengubah pendekatan manajemen berbasis pusat menjadi manajemen berbasis sekolah bukanlah merupakan proses sekali jadi dan bagus hasilnya (one-shot and quick-fix). i. kreatif. Paling tidak. peningkatan partisipasi warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan.

budaya. Dalam melakukan sosialisasi MBS. orangtua siswa. sinergis. dan kenalkan sistem. dan sumberdaya baru yang diharapkan dapat mendukung penyelenggaraan MBS. Secara umum. Baca dan pahamilah sistem. proaktif. Ketiga. wakil kepala sekolah. siswa. dan sebagainya. antara sekolah dengan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan Dinas Pendidikan Provinsi perlu diperbaiki atas dasar jiwa otonomi. mengapa. garisgaris besar kegiatan sosialisasi/pembudayaan MBS dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: a. budaya. peran sekolah yang selama ini biasa diatur (mengikuti apa yang diputuskan oleh birokrat diatasnya) perlu disesuaikan menjadi sekolah yang bermotivasi-diri tinggi (selfmotivator). rapat kerja. dan professional. Oleh karena itu. koordinatif/kooperatif. dan bagaimana). Dengan cara berpikir semacam ini. pengawas. b. ketentuan-ketentuan. maka semua unsur sekolah harus memahami konsep MBS (apa. Buatlah komitmen secara rinci yang diketahui oleh semua unsur yang bertanggungjawab. budaya. dan sumberdaya yang perlu diperkuat dan yang perlu diubah. perlu penyempurnaan peraturan-peraturan. simposium. budaya. jika terjadi perubahan sistem. dan sumberdaya yang ada di sekolah secara cermat dan refleksikan kecocokannya dengan sistem. karyawan. forum ilmiah. . luwes. kreatif. lokakarya. B. dan media masa. Karena itu struktur organisasi pendidikan yang ada saat ini perlu ditata kembali dan kemudian dianalisis hubungan antar unsur/pihak untuk menentukan sifat hubungan (direktif. c. Tahap-tahap Pelaksanaan 1. Identifikasikan sistem. pejabat Dinas Pendidikan Provinsi. budaya. guru BK. integratif. dan sumberdaya yang cukup mendasar. koordinatif atau fasilitatif).Pertama. pejabat Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Kedua. baik undang-undang. menjadi sekolah yang bersifat otonom dan mendudukkannya sebagai unit utama. langkah pertama yang harus dilakukan oleh sekolah adalah mensosialiasikan konsep MBS kepada semua warga/unsur sekolah (guru. hubungan antar warga (unsur-unsur) dalam sekolah. peraturan pemerintah. peraturan presiden.) melalui berbagai mekanisme. diskusi. misalnya seminar. dan sumberdaya baru yang diperlukan untuk menyelenggarakan MBS. pelatihan. dan kebijakankebijakan bidang pendidikan yang ada di daerah saat ini yang masih mendudukkan sekolah sebagai subordinasi birokrasi dinas pendidikan dan kedudukan sekolah bersifat marginal. Perubahan peran ini merupakan konsekuensi dari perubahan peraturan perundangundangan bidang pendidikan.dan peraturan menteri. Melakukan Sosialisasi MBS Sekolah merupakan sistem yang terdiri dari unsur-unsur yang saling terkait dankarenanya hasil kegiatan pendidikan di sekolah merupakan hasil kolektif dari semua unsur sekolah. kebiasaan (routines) berperilaku warga (unsur-unsur) sekolah perlu disesuaikan karena MBS menuntut kebiasaan-kebiasaan berperilaku baru yang mandiri. yang penting diupayakan oleh kepala sekolah adalah “membaca” dan “membentuk” budaya MBS di sekolah masing-masing. sinkron. Keempat.

misi. Kemitraan penting untuk dilakukan karena disadari sepenuhnya bahwa hasil pendidikan sekolah merupakan hasil kolektif dari unsur-unsur terkait atau para pemangku kepentingan (stakeholders). Kemitraan yang dapat menghasilkan teamwork yang kompak. pemberdaya. Bekerjalah dengan semua unsur sekolah untuk mengklarifikasikan visi. Ini berarti bahwa peran-peran yang semula lebih bersifat otoriter perlu diubah agar menjadi egaliter. upaya-upaya untuk meningkatkan kemitraan perlu ditempuh melalui: (1) pembuatan pedoman mengenai tatacara kemitraan. dan hubungan antar unsur-unsur sekolah. guru dengan siswa. dst. 2. Kemitraan dalam sekolah meliputi. fleksibilitas. dan dinamis merupakan kartu trup bagi keberhasilan MBS. Memperbanyak Mitra Sekolah Seperti dikemukakan sebelumnya. dan transparansi terhadap pemangku kepentingan. fleksibilitas dan peningkatan partisipasi dalam penyelenggaraan sekolah. dst. e. antara lain. guru dengan guru. dan program-program penyelenggaraan MBS dan doronglah sistem. peran unsur-unsur sekolah. rencana. Garisbawahi prioritas sistem. Istilah-istilah peran yang bersifat egaliter misalnya kepala sekolah dan guru sebagai fasilitator. (2) melakukan advokasi. budaya. esensi MBS adalah peningkatan otonomi sekolah. dan partisipasi. f. sasaran. rencana. Aturan sekolah perlu dirumuskan kembali agar sesuai dengan tuntutan MBS yaitu otonomi. publikasi. dan istilah-istilah lain yang sederajad dengan bahasa demokrasi. Ini berarti bahwa jika MBS ingin sukses. dan (3) melibatkan pemangku kepentingan sesuai dengan prinsip relevansi. jangan menghindar dan jangan menarik darinya serta jelaskan mengapa diperlukan perubahan dari manajemen berbasis pusat menjadi MBS. rencana. siswa dengan siswa. pemberi pertimbangan. guru dengan orangtua siswa. misi. sasaran. kebiasaan bertindak. tujuan. Demikian juga. Peran Unsur-unsur Sekolah. pendukung. penyediaan sarana kemitraan dan saluran komunikasi. baik dari dalam maupun dari luar sekolah. peran masing-masing unsur sekolah perlu ditinjau kembali sesuai dengan tuntutan MBS yaitu demokratisasi sekolah. kebiasaan-kebiasaan perilaku tergantung atasan dan menunggu perlu diubah menjadi berani mengambil prakarsa dan inisiatif. tujuan. Demikian juga. kepala sekolah dengan guru. dan sumberdaya manusia yang mendukung penerapan MBS serta hargailah mereka (unsur-unsur) yang telah memberi contoh dalam penerapan MBS. sekolah harus memperbanyak mitra. tujuan. cerdas. Hadapilah “status quo” (resistensi) terhadap perubahan. mediator. Oleh karena itu. Kebiasaan dan Hubungan antar Unsur-unsur Sekolah Pergeseran dari manajemen berbasis pusat (sentralistik) menuju manajemen berbasis sekolah memerlukan peninjauan kembali terhadap aturan sekolah. 3. dan program-program MBS yang telah disepakati. kepala sekolah dengan kepala dinas pendidikan kabupaten/kota. Kemitraan sekolah dengan masyarakat sekitarnya meliputi. dan sumberdaya yang belum ada sekarang. Kebiasaan . sasaran. budaya. mentor. antara lain: kepala sekolah dengan komite sekolah.d. akan tetapi sangat diperlukan untuk mendukung visi. Pantaulah dan arahkan proses perubahan agar sesuai dengan visi. dan program-program penyelenggaraan MBS. misi. dan kompetensi serta kompatibilitas tujuan yang akan dicapai. Merumuskan Kembali Aturan Sekolah. tutor. pembimbing. yurisdiksi. baik partisipasi dari warga sekolah maupun masyarakat di sekitarnya melalui perwakilan komite sekolah. dan g.

konflik dan benturan antara sekolah dan dinas pendidikan. hubungan interaktif. karakteristik dan kemampuan sekolah masing-masing. penilaian. transparansi. komite sekolah dan dewan pendidikan. bukan mengunggulkan kewenangan atasan terhadap bawahan. pemberdayaan. pelaksanaan. Hubungan antar unsur juga perlu disesuaikan dengan tuntutan MBS. (2) pelatihan. pelaksanaan. dan bukannya hubungan yang semata-mata struktural (atasan dan bawahan). saling komplemen. lokakarya. seminar tentang praktek-praktek yang baik dan pelajaran yang dapat . dan sebagainya. keuangan. komite sekolah. prediktibilitas. penanggulangan narkoba. kesiswaan. dan pengawasan/pengontrolan. dan terhindar dari duplikasi. Urusan-urusan sekolah meliputi: kurikulum. misalnya: (1) pemberian panduan-panduan tentang konsep MBS. pendidik dan tenaga kependidikan. penegakan hukum. efisiensi. keadilan. demokrasi. Berikut dipaparkan visualisasi matrik MBS (Tabel 3) untuk memudahkan sekolah dan dinas pendidikan dalam membagi urusan-urusan manajemen pendidikan yang menjadi kewenangan sekolah dan dinas pendidikan kabupaten/kota. Mengklarifikasi Fungsi dan Aspek Manajemen Sekolah Manajemen pendidikan umumnya dan manajemen sekolah khususnya merupakan pengelolaan institusi (sekolah) yang dilakukan dengan dan melalui pendidik dan tenaga kependidikan untuk mencapai tujuan sekolah secara efektif dan efisien. pendidikan lingkungan hidup (program adiwiyata). profesionalisme. Penerapan tata kelola yang baik harus diupayakan oleh sekolah melalui berbagai cara seperti misalnya: pembuatan aturan main sekolah/pedoman tentang tatacara pelaksanaan prinsip-prinsip tata kelola yang baik. penyediaan sarana untuk memfasilitasi pelaksanaan prinsip-prinsip tata kelola yang baik. diskusi kelompok terfokus. dan dewan pendidikan. Meningkatkan Kapasitas Sekolah MBS merupakan model baru bagi sekolah maupun dinas pendidikan kabupaten/kota. 4. efektivitas. Untuk itu. MBS menuntut hubungan simbiosis. pengembangan kapasitas (kemampuan dan kesanggupan) mereka perlu dilakukan melalui berbagai upaya. relasi dengan para pemangku kepentingan. evaluasi. kebiasaan melayani sistem sekolah diubah menjadi kebiasaan melayani siswa.yang disesuaikan dengan konteks kebutuhan. 6. Fungsi-fungsi manajemen meliputi perencanaan. dan kepastian jaminan hukum. pengkoordinasian. Prinsip-prinsip tata kelola yang baik meliputi: partisipasi. tanggung jawab. dan sebagainya. hubungan sekolah-masyarakat. koheren. termasuk komite sekolah dan dewan pendidikan. Menerapkan Prinsip-prinsip Tata Kelola yang Baik MBS akan berhasil dengan baik jika sekolah menerapkan prinsip-prinsip tata kelola yang baik sebagaimana disebut sebelumnya. publikasi. dst. dan pemfasilitasian terhadap bawahan merupakan harus diunggulkan. akuntabilitas. Fungsi-fungsi manajemen dan urusan-urusan sekolah (digabung menjadi manajemen sekolah) tersebut perlu diklarifikasi secara bersamasama antara sekolah dan dinas pendidikan kabupaten/kota melalui pertemuan/forum untuk menemukan pembagian urusan-urusan tentang fungsi-fungsi manajemen dan urusan-urusan pendidikan yang menjadi kewenangan dan tanggungjawab sekolah dan dinas pendidikan kabupaten/kota. sarana dan prasarana. pengorganisasian.mengunggulkan kewenangan diubah menjadi kebiasaan melayani. wawasan kedepan. 5. Pelayanan. Dua hal yang merupakan inti manajemen sekolah yaitu fungsi manajemen dan urusan sekolah. Dengan cara ini akan terbentuk pembagian manajemen pendidikan yang jelas. kepekaan. hubungan fungsional. melakukan advokasi. proses belajar mengajar.

kekuatan di sekolah tidak lagi semata-mata di satu pundak kepala sekolah. dan sinergi. cerdas. Menyusun Rencana Pengembangan Sekolah (RPS/RKAS). efektif. dan sebagainya. keluarga. dan pengawasan. baik antar pelaku sekolah. Jadi. dan Memonitor serta Mengevaluasinya Sekolah pelaksana MBS diharapkan menyusun desain. dan antar waktu. makin tinggi pula tingkat keberhasilan MBS di sekolah yang bersangkutan. kewenangan dan tanggung jawab dalam mengurus sekolah menumpuk pada kepala sekolah (one man show). sekolah dapat mengembangkan jenis-jenis RPS/RKAS untuk meningkatkan mutu (input. (5) mengoptimalkan partisipasi warga sekolah dan masyarakat. kekuatan bergeser dari satu orang (kepala sekolah) menuju ke kekuatan kolektif. tetapi disebar/didistribusikan kepada para pemangku kepentingan pendidikan sekolah. dan dinamis. masyarakat. Semuanya tergantung kepala sekolah. seperti dikemukakan sebelumnya. demokrasi merupakan jiwanya. Perencanaan sekolah adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan sekolah yang tepat. sangat penting bagi sekolah memilikiteamwork yang kompak. Karena itu. (4) menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. melaksanakan dan melakukan evaluasi RPS/RKAS secara berkelanjutan setiap 5 tahun (renstra) dan rencana tahunan seperti Gambar 3 berikut. antar sekolah dan dinas pendidikan kabupaten/kota. Hasil dari perencanaan sekolah adalah RPS/RKAS. Tergantung dari kepentingan/kebutuhan. (3) studi banding ke sekolah yang sukses melaksanakan MBS. Dengan cara ini. . dan sektor-sektor pembangunan). dan (6) menjamin tercapainya penggunaan sumberdaya secara efisien. a.dipetik oleh sekolah-sekolah yang melaksanakan MBS. Melaksanakan. melalui urutan pilihan. tetapi disebar ke seluruh pemegang kepentingan sekolah. (2) mendukung koordinasi antar pelaku sekolah. output). 8. RPS/RKAS adalah dokumen tentang gambaran kegiatan sekolah dimasa depan dalam rangka untuk mencapai tujuan sekolah yang telah ditetapkan. dengan memperhitungkan sumberdaya yang tersedia. Hasil evaluasi harus digunakan sebagai bahan masukan dalam rangka perbaikan desain RPS/RKAS maupun implementasinya. sinkronisasi. meningkatkan efisiensi (internal dan eksternal). Menyusun Desain RPS/RKAS Sekolah yang melaksanakan MBS harus melakukan perencanaan sekolah dan menghasilkan RPS/RKAS. pelaksanaan. untuk tidak disebut satu persatu. Keberhasilan MBS sangat tergantung pada kesiapan kapasitas (kemampuan dan kesanggupan) sekolah. meningkatkan relevansi pendidikan (relevansinya dengan kebutuhan peserta didik. RPS/RKAS disusun dengan tujuan untuk: (1) menjamin agar perubahan/tujuan sekolah yang telah ditetapkan dapat dicapai dengan tingkat kepastian yang tinggi dan resiko yang kecil. kewenangan dan tanggung jawab tidak lagi semata-mata terpusat pada kepala sekolah. proses. dan berkeadilan dan berkelanjutan. 7. Makin tinggi tingkat kesiapan kapasitas sekolah dalam melaksanakan MBS. RPS/RKAS penting dimiliki oleh sekolah untuk memberi arah dan bimbingan para pelaku sekolah dalam rangka untuk mencapai tujuan sekolah dengan resiko yang kecil dan mengurangi ketidakpastian masa depan. seolah-olah kepala sekolah seperti raja. Dalam MBS. (3) menjamin terciptanya integrasi. Karena itu. Meredistribusi Kewenangan dan Tanggung jawab Dalam era sentralistik. penganggaran.

Untuk menghindari berbagai penyimpangan. Konsep ini menekankan pentingnya siswa menguasai materi pelajaran secara utuh dan bertahap sebelum melanjutkan ke pembelajaran topik-topik yang lain. strategi pelaksanaan. menggunakan pengalaman-pengalaman masa lalu yang dianggap efektif. Kepala sekolah dan guru hendaknya mendayagunakan sumberdaya pendidikan yang tersedia semaksimal mungkin. sekolah harus dapat membebaskan diri dari keterikatan-keterikatan birokratis yang biasanya banyak menghambat penyelenggaraan pendidikan. orangtua siswa. dukungan. rencana pelaksanaan. misi. b. dan teguran kepada guru dan tenaga lainnya jika ada kegiatan yang tidak sesuai dengan jalur-jalur yang telah ditetapkan. analisis SWOT. untuk mengetahui seberapa jauh program peningkatan mutu telah mencapai sasaran-sasaran mutu yang telah ditetapkan . rencana pemantauan dan evaluasi. sekolah perlu mengadakan evaluasi pelaksanaan program. Bilamana pada satu semester dinilai adanya faktor-faktor yang tidak mendukung. c. pemilihan urusan-urusan sekolah yang perlu dilibatkan untuk mencapai sasaran yang telah dirumuskan. perumusan tujuan/sasaran satu tahun ke depan berdasarkan tantangan nyata yang dihadapi (tujuan situasional sekolah). tujuan strategis sekolah. bimbingan dan arahan jangan sampai membuat guru dan tenaga lainnya menjadi amat terkekang dalam melaksanakan kegiatan. program-program untuk mencapai tujuan satu tahun ke depan. Rencana tahunan (alternatif 2) meliputi: identifikasi tantangan nyata yang dihadapi oleh sekolah. sekolah hendaknya menerapkan konsep belajar tuntas (mastery learning). langkah-langkah pemecahan persoalan. Dalam melaksanakan proses pembelajaran. maka sekolah perlu mengambil langkah proaktif untuk mewujudkan sasaran-sasaran yang telah ditetapkan. monitoring dan evaluasi. Melakukan Monitoring dan Evaluasi RPS/RKAS Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program.Sekolah harus membuat rencana pengembangan sekolah strategis (RPS/RKAS Strategis/Renstra) untuk jangka waktu 5 tahun ke depan dan rencana operasional/rencana tahunan sekolah (RPS/RKAS Tahunan) yang merupakan jabaran dari Renstra. Namun demikian. Sedangkan rencana tahunan sekolah pada umumnya (alternatif 1): meliputi tujuan yang akan dicapai satu tahun ke depan. dan tonggak-tonggak kunci keberhasilan satu tahun ke depan. Evaluasi jangka pendek dilakukan setiap akhir catur wulan untuk mengetahui keberhasilan program secara bertahap. Melaksanakan RPS/RKAS Dalam melaksanakan rencana peningkatan mutu pendidikan yang telah disetujui bersama antara sekolah. sehingga kegiatan tidak mencapai sasaran. Rencana strategis sekolah pada umumnya mencakup perumusan visi. dan menggunakan teori-teori yang terbukti mampu meningkatkan kualitas pembelajaran. dan penyusunan rencana dan program kerja tahunan sekolah. Kepala sekolah dan guru bebas mengambil inisiatif dan kreatif dalam menjalankan program-program yang diproyeksikan dapat mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkan. Kepala sekolah sebagai manajer dan pemimpin pendidikan di sekolahnya berhak dan perlu memberikan arahan. maka sekolah harus dapat memperbaiki pelaksanaan program peningkatan mutu pada semester berikutnya. baik jangka pendek maupun jangka panjang. dan masyarakat. program-program strategis. dan tonggak-tonggak kunci keberhasilan. rencana biaya. Karena itu. Dengan demikian siswa dapat menguasai suatu materi pelajaran secara tuntas sebagai prasyarat dan dasar yang kuat untuk mempelajari tahapan pelajaran berikutnya yang lebih luas dan mendalam. kepala sekolah perlu melakukan supervisi dan monitoring terhadap kegiatan-kegiatan peningkatan mutu yang dilakukan di sekolah. rencana biaya. Evaluasi jangka menengah dilakukan pada setiap akhir tahun. bimbingan.

Demikian pula. Yang perlu disepakati adalah indikator apa saja yang perlu ditetapkan sebelum penilaian dilakukan. d. (2) pada tataran implementasi kebijakan. Direktorat Pembinaan Sekolah (SD. khususnya guru dan tenaga lainnya agar mereka dapat menjiwai setiap penilaian yang dilakukan dan memberikan alternatif pemecahan. komite sekolah. walaupun pihak sekolah menganggapnya cukup berhasil. maka tugas dan fungsi masing-masing jajaran birokrasi pendidikan dalam penyelenggaraan MBS dapat dituliskan sebagai berikut. Dalam melaksanakan evaluasi. motivasi-diri. prosedur. orangtua siswa dan yayasan (bagi sekolah swasta). kriteria. Suatu hal yang bisa terjadi bahwa orang tua peserta didik dan masyarakat menilai suatu program gagal atau kurang berhasil. Ini memiliki arti bahwa sekolah merupakan unit utama kegiatan pendidikan. maka laporan harus dikirim kepada pengawas. implementasi. dinas pendidikan kabupaten/kota. Dari uraian konsep MBS disebutkan bahwa pola manajemen baru lebih menekankan pada pemandirian dan pemberdayaan sekolah. dan oneman-show dalam pengambilan keputusan.sebelumnya. SMA. Sebagai bentuk pertanggungjawaban (akuntabilitas). dan Pemerintah Kabupaten/Kota (selanjutnya disingkat PP 38/2007). dan kebijakan. pengontrolan. Laporan teknis menyangkut program pelaksanaan dan hasil MBS. sedang birokrasi dan unsurunsur lainnya merupakan unit pelayanan pendukung. SMP. selanjutnya disingkat Direktorat Pembinaan) mempunyai tugas dan fungsi menyusun norma-norma (peraturan perundang-undangan). Dengan demikian. baik pada tataran formulasi/penetapan. standar. kepala sekolah harus mengikutsertakan setiap unsur yang terlibat dalam program. Dengan evaluasi ini akan diketahui kekuatan dan kelemahan program untuk diperbaiki pada tahun-tahun berikutnya. yaitu dari pola manajemen lama (sentralistik) menuju ke pola manajemen baru (desentralistik) memerlukan perumusan kembali tugas dan fungsi jajaran birokrasi. Direktorat Pembinaan mempunyai tugas dan fungsi memformulasikan/menetapkan kebijakan dan strategi pengelolaan MBS melalui penyusunan dan penerbitan buku panduan MBS. SMK) Secara umum. Pemerintah Propinsi. rinciannya sebagai berikut: (1) pada tataran formulasi dan penetapan kebijakan. (3) memfasilitasi . pengarahan. SMK. Khusus untuk kebijakan. Jika sekolah melakukan upaya-upaya penambahan pendapatan (income generating activities). orangtua peserta didik dan masyarakat sebagai pihak eksternal harus dilibatkan untuk menilai keberhasilan program yang telah dilaksanakan. bantuan. dan menetapkan standar MBS sebagai patokan yang berlaku secara nasional. maupun evaluasinya pada tingkat nasional. sekolah mengetahui bagaimana sudut pandang pihak luar bila dibandingkan dengan hasil penilaian internal. pengaturan. SMA. fasilitasi. sedang laporan keuangan meliputi penggunaan uang serta pertanggungjawabannya. Tugas dan Fungsi Jajaran Birokrasi Konsekuensi logis dari perubahan penyelenggaraan pendidikan. SMP. maka pendapatan tambahan tersebut harus juga dilaporkan. Seiring dengan diberlakukannya Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan (Bidang Pendidikan) antara Pemerintah. Direktorat Pembinaan mempunyai tugas dan fungsi mensosialisasikan MBS ke seluruh daerah melalui Dinas Pendidikan Propinsi/Kabupaten/Kota. Karena itu pola pikir manajemen lama yang lebih menekankan pada subordinasi. sudah harus dikurangi dan dikembangkan menjadi pola pikir manajemen baru yang lebih menekankan pada otonomi. dan pengambilan keputusan partisipatif. 1). Direktorat Pembinaan Sekolah (SD. Hasil evaluasi pelaksanaan MBS perlu dibuat laporan yang terdiri dari laporan teknis dan keuangan.

d) Memfasilitasi pengimbasan praktek-praktek MBS yang baik (best practices)dari sekolah tertentu ke sekolah-sekolah lain untuk dijadikan lessons learned. c) Menyusun pembagian urusan pendidikan yang menjadi kewenangan dan tanggungjawab Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan Sekolah. dan pertemuan-pertemuan yang memfasilitasi pelaksanaan MBS. dan h) Melaksanakan monitoring dan evaluasi penyelenggaraan MBS untuk perbaikan. Lebih spesifiknya. 2). antara lain: (1) menyusun petunjuk teknis pelaksanaan dan petunjuk teknis monitoring dan evaluasi berdasarkan pedoman yang ditetapkan pemerintah pusat. Direktorat Pembinaan mempunyai tugas dan fungsi melakukan monitoring dan evaluasi penyelenggaraan MBS secara nasional dan menerbitkan informasi secara berkala. 3). dana pendidikan. Sekolah . 4). Dinas Pendidikan Provinsi Secara umum. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota menjalankan tugas dan fungsi utamanyamemberikan pelayanan dalam pengelolaan satuan pendidikan di Kabupaten/Kota masing-masing yang menjalankan MBS. f) Memberikan pelayanan terhadap sekolah dalam mengelola aset/sumberdaya pendidikan yang meliputi tenaga guru. dan (4) mengkoordinasikan dan menyerasikan pelaksanaan MBS lintas kabupaten/kota untuk menghindari penyimpangan MBS dan menghindari kesenjangan mutu pendidikan lintas kabupaten/kota. pemberian pedoman/petunjuk pelaksanaan MBS. dan (3) pada tataran evaluasi kebijakan. (3) melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan MBS serta pengembangannya di Provinsi masing-masing. e) Memberikan pelayanan pengelolaan atas satuan pendidikan negeri dan swasta di Kabupaten/Kota masing-masing berkaitan dengan pelaksanaan MBS. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota menjalankan tugas dan fungsinya sebagai berikut: a) Menyusun kebijakan yang mendukung pelaksanaan MBS. dan sebagainya. (2) memberi pelatihan kepada para pengembang MBS di tingkat kabupaten. baik secara elektronik dan/atau non-elektronik tentang perkembangan konsep dan hasil pelaksanaan MBS secara nasional dan praktek-praktek yang baik yang dapat dipetik untuk memperbaiki konsep maupun pelaksanaan MBS. yaitu yang mampu menjaga harmonisme antara prinsip-prinsip MBS dan kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah daerah khususnya pendanaan dari masyarakat sehingga tidak terjadi konflik apalagi benturan.dan mengembangkan kapasitas daerah agar mampu dan sanggup melaksanakan MBS. prasarana dan sarana pendidikan. b) Membimbing sekolah dalam menerapkan MBS melalui berbagai cara seperti pelatihan. g) Melaksanakan pembinaan dan pengurusan atas tenaga pendidik yang bertugas pada satuan pendidikan di Kabupaten/Kota berkaitan dengan pelaksanaan MBS. tugas dan fungsi Dinas Pendidikan Provinsi adalah menjabarkan kebijakan dan strategi MBS yang telah digariskan oleh Direktorat Pembinaan untuk diberlakukan di Provinsi masing-masing. buku pelajaran.

5). e) Pada setiap akhir tahun ajaran melakukan evaluasi untuk menilai tingkat ketercapaian sasaran program MBS yang telah ditetapkan. dan (7) menampung dan menganalisis aspirasi. d) Melaksanakan pengawasan dan pembimbingan dalam pelaksanaan MBS sehingga kejituan implementasi dapat dijamin untuk mencapai sasaran MBS. wakil kepala sekolah. (2) mendorong orangtua siswa dan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pendidikan. guru. pertimbangan. wakil organisasi profesi. dan keterlibatan total warga sekolah dalam meningkatkan mutu sekolah) dan berpikir sistem (berpikir holistik/tidak parsial.Tugas dan fungsi utama sekolah adalah mengelola penyelenggaraan MBS di sekolah masing-masing. dan Yayasan (bagi sekolah swasta). dan rekomendasi kepada sekolah mengenai kebijakan dan program pendidikan. Komite Sekolah. kriteria kinerja sekolah. dan terpadu). wakil pemerintah. perbaikan secara terus-menerus. RAPBS. antara lain: wakil sekolah (kepala sekolah. (5) melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap kebijakan/program/penyelenggaraan dan keluaran pendidikan. TATA KELOLA YANG BAIK A. c) Melaksanakan MBS secara efektif dan efisien dengan menerapkan prinsip-prinsip total quality management (fokus pada pelanggan. b) Mengkoordinasikan dan menyerasikan segala sumber daya yang ada di sekolah dan di luar sekolah untuk mencapai sasaran MBS yang telah ditetapkan. C. dan Yayasan (bagi sekolah swasta). Komite Sekolah. ide. dan g) Mempertanggung jawabkan hasil penyelenggaraan MBS kepada pihak-pihak yang berkepentingan dengan sekolah yaitu Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. (3) menggalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan pendidikan. maka sekolah menjalankan tugas dan fungsinya sebagai berikut: a) Menyusun rencana dan program pelaksanaan MBS dengan melibatkan kelompok-kelompok kepentingan. saling terkait. tuntutan. wakil orangtua siswa. kriteria pendidik dan tenaga kependidikan. wakil siswa (OSIS). tata usaha). Komite Sekolah Tugas dan fungsi utama Komite Sekolah dalam pelaksanaan MBS di sekolah adalah: (1) memberi masukan. Mengingat sekolah merupakan unit utama dan terdepan dalam penyelenggaraan MBS. Pengawas Sekolah. dan berbagai kebutuhan pendidikan yang diajukan oleh masyarakat. (4) mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu tinggi. (6) melakukan kerjasama dengan masyarakat.tahun berikutnya. Hasil evaluasi ini kemudian digunakan untuk menentukan sasaran baru program MBS tahun. Pengantar . dan tokoh masyarakat. dan hal-hal lain yang terkait dengan pendidikan. f) Menyusun laporan penyelenggaraan MBS beserta hasilnya secara lengkap untuk disampaikan kepada pihak-pihak terkait yaitu Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. kriteria fasilitas pendidikan.

transparansi. B. makin besar rasa memiliki. Peningkatan partisipasi dilandasi oleh keyakinan bahwa makin tinggi tingkat partisipasi. secara langsung maupun tidak langsung. efisiensi. Tata kelola yang lainnya tidak akan diuraikan dalam materi pelatihan ini karena terbatasnya waktu pelatihan. Namun. perencanaan. dan tenaga-tenaga kependidikan lainnya. Dalam materi pelatihan ini tidak semua prinsip-prinsip tata kelola ditulis dan disampaikan. makin besar pula tingkat dedikasi/kontribusinya terhadap sekolah. tetapi hanya tiga tata kelola pertama yang diuraikan yaitu partisipasi. akademisi. pelaksanaan. pembuatan kebijakan. partisipasi dapat mendorong warga sekolah dan masyarakat sekitar untuk menggunakan haknya dalam menyampaikan pendapat dalam proses pengambilan keputusan. pembuatan kebijakan. Uraian 1. demokrasi/egaliterisme. dan pengawasan/ pengevaluasian pendidikan lebih partisipatif dan benar-benar mengabdi kepada kepentingan publik dan bukan pada kepentingan elite birokrasi dan politik. Pergeseran lokus kebijakan dari pemerintah pusat dan dari dinas pendidikan ke sekolah diharapkan proses pengambilan keputusan. pelaksanaan. b. dalam MBS. sekolah diberi otonomi (kewenangan dan tanggung jawab) yang lebih besar untuk mengelola sekolahnya. peka terhadap aspirasi stakeholders. Komite Sekolah merupakan wadah formal bagi stakeholders untuk berpartisipasi secara langsung maupun tidak langsung dalam penyelenggaraan sekolah. Untuk itu. dan makin besar rasa tanggungjawab. siswa. efektivitas. berwawasan ke depan. makin besar pula rasa tanggungjawab. Dengan partisipasi aktif diharapkan mampu menjadikan aspirasi stakeholders sebagai panglima karena dengan MBS diharapkan mampu mengalirkan kekuasaan dari pemerintah pusat dan dinas . kewenangan dan tanggung jawab yang lebih besar hanya dapat dilaksanakan dengan baik apabila sekolah menerapkan prinsip-prinsip tata kelola yang baik yaitu partisipasi. kepala sekolah. prediktif. tokoh masyarakat. Latar Belakang Salah satu alasan penerapan MBS adalah untuk membuat kebijakan/keputusan sekolah lebih dekat dengan stakeholders sehingga hasilnya benar-benar mencerminkan aspirasi stakeholders. makin besar rasa memiliki. maupun warga di luar sekolah seperti orang tua siswa. hukum dilaksanakan dengan baik. akuntabilitas. Arti Partisipasi Partisipasi adalah proses di mana stakeholders (warga sekolah dan masyarakat) terlibat aktif baik secara individual maupun kolektif. baik secara individual maupun kolektif. Partisipasi a. Inilah pentingnya partisipasi bagi sekolah. Diharapkan. secara langsung maupun tidak langsung. pengawasan/ pengevaluasian pendidikan sekolah. pelaksanaan. pengawasan/pengevaluasian yang menyangkut kepentingan sekolah. Saat ini. dan pihak-pihak lain yang mewakili masyarakat yang diwadahi melalui komite sekolah. Para pembaca dipersilahkan mempelajari prinsip-prinsip tata kelola yang tidak dibahas dalam materi pelatihan ini dari sumber-sumber lain. baik warga sekolah seperti guru. dan pasti dalam penjaminan mutu. transparansi. pembuatan kebijakan. MBS mensyaratkan adanya partisipasi aktif dari semua pihak yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan di sekolah (stakeholders). dalam pengambilan keputusan. keadilan. perencanaan. dan akuntabilitas. perencanaan.Seperti disebut sebelumnya.

dan (4) menjamin agar setiap keputusan dan kebijakan yang diambil benar-benar mencerminkan aspirasi stakeholders dan menjadikan aspirasi stakeholderssebagai panglima bagi penyelenggaraan pendidikan di sekolah. dan material/barang. komunikasi. supporter. terutama menyangkut kewibawaan dan kebersihan. dan pengawasan/pengevaluasian pendidikan di sekolah. moral. Melakukan advokasi. keterampilan). (3) Meningkatnya tanggungjawab stakeholders terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah. (1) Membuat peraturan dan pedoman sekolah yang dapat menjamin hak stakeholders untuk menyampaikan pendapat dalam segala proses pengambilan keputusan.pendidikan ke tangan para pengelola sekolah. dan material/barang. Upaya-Upaya Peningkatan Partisipasi Untuk mencapai tujuan tersebut. (3) meningkatkan peranstakeholders dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. yang sebenarnya sangat strategis karena pada level inilah keputusan dapat memperbaiki mutu pendidikan. (5) Meningkatnya kepedulian stakeholders terhadap setiap langkah yang dilakukan oleh sekolah untuk meningkatkan mutu. mediator. publikasi. baik sebagai advisor. (2) (3) (4) e. Menyediakan sarana partisipasi atau saluran komunikasi agar stakeholdersdapat mengutarakan pendapatnya atau dapat mengekspresikan keinginan dan aspirasinya melalui pertemuan umum. Meningkatnya kepercayaan stakeholders kepada sekolah. upaya-upaya yang perlu dilakukan oleh sekolah dalam rangka meningkatkan partisipasi stakeholders adalah sebagai berikut. dan transparansi kepadastakeholders. penyampaian pendapat secara tertulis. finansial. pelaksanaan. pembuatan kebijakan. perencanaan. and education provider. c. (4) Meningkatnya kualitas dan kuantitas masukan (kritik dan saran) untuk peningkatan mutu pendidikan. Tujuan Partisipasi Tujuan utama peningkatan partisipasi adalah untuk: (1) meningkatkan dedikasi/ kontribusi stakeholders terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah. batas-batas yurisdiksinya. controller. . pembuatan kebijakan. resource linker. (2) memberdayakan kemampuan yang ada pada stakeholders bagi pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Indikator Keberhasilan Partisipasi Keberhasilan peningkatan partisipasi stakeholders dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah dapat diukur dengan beberapa indikator berikut: (1) (2) Kontribusi/dedikasi stakeholders meningkat dalam hal jasa (pemikiran. konsultasi. keterampilan). Melibatkan stakeholders secara proporsional dengan mempertimbangkan relevansi pelibatannya. dan kompatibilitas tujuan yang akan dicapainya. partisipasi secara aktif dalam proses pengambilan keputusan. d. baik dalam bentuk jasa (pemikiran/intelektualitas. dan pengawasan/ pengevaluasian pendidikan di sekolah. kompetensinya. moral. finansial. pelaksanaan. temu wicara. perencanaan.

Tujuan Transparansi Pengembangan transparansi ditujukan untuk membangun kepercayaan dan keyakinan publik kepada sekolah bahwa sekolah adalah organisasi pelayanan pendidikan yang bersih dan berwibawa. Jika terdapat perubahan pada status data dalam laporan suatu sekolah. transparansi penuh menyaratkan bahwa perubahan itu harus diungkapkan secara sebenarnya dan dengan segera kepada semua pihak yang terkait (stakeholders). istilah transparansi sangatlah jelas yaitu kepolosan. Hak publik atas informasi yang harus diberikan oleh sekolah antara lain: hak untuk mengetahui. Kebebasan memperoleh informasi sekolah dapat dicapai jika dokumentasi informasi sekolah tersedia secara mutakhir. baik kualitas maupun kuantitas Pengembangan transparansi sangat diperlukan untuk membangun keyakinan dan kepercayaan publik kepada sekolah. Upaya-Upaya Peningkatan Transparansi . c. jujur. . hak untuk menghadiri pertemuan sekolah. Latar Belakang Sekolah adalah organisasi pelayanan yang diberi mandat oleh publik untuk menyelenggarakan pendidikan sebaik-baiknya. Transparansi dicapai melalui kemudahan dan kebebasan publik untuk memperoleh informasi dari sekolah. dan terbuka terhadap publik tentang apa yang dikerjakan oleh sekolah. hak untuk diinformasikan tanpa harus ada permintaan. publik tidak lagi curiga terhadap sekolah dan karenanya keyakinan dan kepercayaan publik terhadap sekolah juga tinggi. b. maka sekolah harus transparan kepada publik mengenai proses dan hasil pendidikan yang dicapai. Dengan transparansi yang tinggi. dan hak untuk menyebarluaskan informasi. tidak curang. Ini berarti bahwa sekolah harus memberikan informasi yang benar kepada publik. Dalam konteks pendidikan. Mengingat sekolah adalah organisasi pelayanan publik.(6) Keputusan-keputusan yang dibuat oleh sekolah benar-benar mengekspresikan aspirasi dan pendapat stakeholders dan mampu meningkatkan kualitas pendidikan. Transparansi a. Bagi publik. Transparansi bertujuan untuk menciptakan kepercayaan timbal balik antara sekolah dan publik melalui penyediaan informasi yang memadai dan menjamin kemudahan dalam memperoleh informasi yang akurat. apa adanya. Arti Transparansi Transparansi sekolah adalah keadaan di mana setiap orang yang terkait dengan kepentingan pendidikan dapat mengetahui proses dan hasil pengambilan keputusan dan kebijakan sekolah. sekolah harus memberikan jaminan kepada publik terhadap akses informasi sekolah atau kebebasan memperoleh informasi sekolah. Oleh karena itu. Transparansi menjamin bahwa data sekolah yang dilaporkan mencerminkan realitas. hak untuk mendapatkan salinan informasi. transparansi bukan lagi merupakan kebutuhan tetapi hak yang harus diberikan oleh sekolah sebagai organisasi pelayanan pendidikan. d. 2. tidak bohong. Bersih dalam arti tidak KKN dan berwibawa dalam arti profesional.

bagaimana cara mendapatkan informasi. akuntabilitas publik akan menyangkut hak publik untuk memperoleh pertanggungjawaban penyelenggara sekolah. memimpin. Untuk itu. publik mempunyai hak untuk memberikan masukan. maka sekolah harus bertanggungjawab terhadap apa yang dikerjakan. baik secara langsung melalui temu wicara. Akuntabilitas kinerja sekolah adalah perwujudan kewajiban sekolah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan/kegagalan pelaksanaan rencana sekolah dalam . newsletter. Dalam kaitannya dengan akuntabilitas.Transparansi sekolah perlu ditingkatkan agar publik memahami situasi sekolah dan dengan demikian mempermudah publik untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. leaflet. Upaya-upaya yang perlu dilakukan dalam kerangka meningkatkan transparansi sekolah kepada publik antara lain melalui pendayagunaan berbagai jalur komunikasi. maupun secara tidak langsung melalui jalur media tertulis (brosur. Pertanggung jawaban penyelenggara sekolah merupakan akumulasi dari keseluruhan pelaksanaan tugas-tugas pokok dan fungsi sekolah yang perlu disampaikan kepada publik/stakeholders. 3. Akuntabilitas a. Ini berarti. Upaya lain yang perlu dilakukan oleh sekolah dalam meningkatkan transparansi adalah menyiapkan kebijakan yang jelas tentang cara mendapatkan informasi. dan petunjuk penyebarluasan produk-produk dan informasi yang ada di sekolah maupun prosedur pengaduan. pengumuman melalui surat kabar) maupun media elektronik (radio dan televisi lokal). sarana informasi dan komunikasi. Arti Akuntabilitas Akuntabilitas adalah kewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban atau untuk menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan penyelenggara organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau berkewenangan untuk meminta keterangan atau pertanggjawaban. Indikator Keberhasilan Transparansi Keberhasilan transparansi sekolah ditunjukkan oleh beberapa indikator berikut: (a) meningkatnya keyakinan dan kepercayaan publik kepada sekolah bahwa sekolah adalah bersih dan wibawa. durasi waktu untuk mendapatkan informasi. hak untuk komplain. dan hak untuk menilai kinerja sekolah. fasilitas database. e. (2) meningkatnya partisipasi publik terhadap penyelenggaraan sekolah. hak diinformasikan. mengelola. dan prosedur pengaduan apabila informasi tidak sampai kepada publik. (3) bertambahnya wawasan dan pengetahuan publik terhadap penyelenggaraan sekolah. mengambil keputusan. Agar penyelenggara sekolah tidak sewenang-wenang dalam menyelenggarakan sekolah. b. Publik sebagai pemberi mandat dapat memberi penilaian terhadap penyelenggara sekolah apakah pelaksanaan mandat dilakukan secara memuaskan atau tidak. dan mengontrol sekolah. sekolah berkewajiban mempertanggungjawabkan kepada publik tentang apa yang dikerjakan sebagai konsekwensi dari mandat yang diberikan oleh publik/ masyarakat. Sekolah perlu mengupayakan peraturan yang menjamin hak publik untuk mendapatkan informasi sekolah. bentuk informasi yang dapat diakses oleh publik ataupun bentuk informasi yang bersifat rahasia. dan (4) berkurangnya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku di sekolah. Latar Belakang MBS memberi kewenangan yang lebih besar kepada penyelenggara sekolah yaitu kewenangan untuk mengatur dan mengurus sekolah.

Upaya-Upaya Peningkatan Akuntabilitas Agar sekolah memiliki akuntabilitas yang tinggi. sekolah dan menyampaikan kepada d) Menyusun indikator yang jelas tentang pengukuran kinerja sekolah dan disampaikan kepada stakeholders. Untuk mengukur kinerja mereka secara obyektif perlu adanya indikator yang jelas. yaitu akuntabilitas yang berhubungan dengan pendapatan dan pengeluaran uang (cash in and cash out). (c) pengelolaan sumberdaya pendidikan di sekolah. c) Sekolah menyusun rencana pengembangan publik/stakeholders di awal setiap tahun anggaran. dan (4) akuntabilitas keuangan (kejujuran) atau sering disebut (financial accountability). tujuan akuntabilitas adalah untuk menilai kinerja sekolah dan kepuasan publik terhadap pelayanan pendidikan yang diselenggarakan oleh sekolah. untuk mengikutsertakan publik dalam pengawasan pelayanan pendidikan. c. yaitu akuntabilitas yang berhubungan dengan pencapaian tujuan sekolah. akuntabilitas dapat dikategorikan menjadi 4: (1) akuntabilitas kebijakan. b) Sekolah perlu menyusun pedoman tingkah laku dan sistem pemantauan kinerja penyelenggara sekolah dan sistem pengawasan dengan sanksi yang jelas dan tegas. Penyelenggara sekolah harus memahami bahwa mereka harus mempertanggungjawabkan hasil kerja kepada publik. Akuntabilitas meliputi pertanggungjawaban penyelenggara sekolah yang diwujudkan melalui transparansi dengan cara menyebarluaskan informasi dalam hal: (a) pembuatan dan pelaksanaan kebijakan serta perencanaan. Tujuan Akuntabilitas Tujuan utama akuntabilitas adalah untuk mendorong terciptanya akuntabilitas kinerja sekolah sebagai salah satu prasyarat untuk terciptanya sekolah yang baik dan terpercaya. aturan main. dan (d) keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan rencana sekolah dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Menurut jenisnya.. Sistem pengawasan perlu diperkuat dan hasil evaluasi harus dipublikasikan dan apabila terdapat kesalahan harus diberi sanksi. prosedur. dan untuk mempertanggungjawabkan komitmen pelayanan pendidikan kepada publik. . Sekolah dikatakan memiliki akuntabilitas tinggi jika proses dan hasil kinerja sekolah dianggap benar dan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. (b) anggaran pendapatan dan belanja sekolah. Ini perlu diupayakan untuk menjaga kepastian tentang pentingnya akuntabilitas. dan sebagainya. yaitu akuntabilitas pilihan atas kebijakan yang akan dilaksanakan. pedoman. d. maka perlu diupayakan hal-hal sebagai berikut. (2) akuntabilitas kinerja (product/quality accountability). ketentuan. yaitu akuntabilitas yang berhubungan dengan proses. a) Sekolah harus menyusun aturan main tentang sistem akuntabilitas termasuk mekanisme pertanggungjawaban. Selain itu. (3) akuntabilitas proses. Sering kali istilah cost accountability juga digunakan untuk kategori akuntabilitas ini.mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan melalui alat pertanggungjawaban secara periodik.

fokus evaluasi adalah pada hasil MBS. (b) tumbuhnya kesadaran publik tentang hak untuk menilai terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah. bukan pada hasilnya. Tepatnya. f) Memberikan tanggapan terhadap pertanyaan atau pengaduan publik. Jika hasil sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan. Jadi. Oleh karena itu. berarti MBS efektif. maka MBS dianggap tidak efektif (gagal). Karena itu. Informasi hasil ini kemudian dibandingkan dengan sasaran yang telah ditetapkan. g) Menyediakan informasi kegiatan sekolah kepada publik yang akan memperoleh pelayanan pendidikan. pengelolaan kelembagaan. Monitoring adalah suatu proses pemantauan untuk mendapatkan informasi tentang pelaksanaan MBS. dan (d) meningkatnya kesesuaian kegiatankegiatan sekolah dengan nilai dan norma yang berkembang di masyarakat. dengan monitoring dan evaluasi. Sedang evaluasi merupakan suatu proses untuk mendapatkan informasi tentang hasil MBS. baik di tingkat mikro (sekolah). Istilah monitoring dan evaluasi memiliki makna sebagai berikut. Indikator Keberhasilan Akuntabilitas Keberhasilan akuntabilitas dapat diukur dengan beberapa indikator berikut. dinas pendidikan provinsi). Tanpa pengukuran. sebaiknya setiap sekolah yang melaksanakan MBS diharapkan memiliki data-data tentang prestasi siswa sebelum dan sesudah MBS. dinas pendidikan provinsi. Pengantar Monitoring dan evaluasi merupakan bagian integral dari pengelolaan pendidikan. fokus monitoring adalah pada komponen proses MBS. fokus monitoring adalah pemantauan pada pelaksanaan MBS. Hal ini didasari oleh pemikiran bahwa dengan monitoring dan evaluasi. meso (dinas pendidikan kabupaten/kota. Sebaliknya jika hasil tidak sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan. Monitoring dan evaluasi. baik menyangkut proses pengambilan keputusan. pada umumnya. maupun makro (kementerian). h) Memperbarui rencana kinerja yang baru sebagai kesepakatan komitmen baru. kita juga dapat memperbaiki konsep dan pelaksanaan MBS. kita dapat menilai apakah MBS benarbenar mampu meningkatkan mutu pendidikan. tepat. menghasilkan informasi yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan. e. Dengan monitoring dan evaluasi. Jika MBS kurang berhasil. (c) berkurangnya kasus-kasus KKN di sekolah. Penerapan MBS juga memerlukan monitoring dan evaluasi secara intensif dan dilakukan secara terus-menerus. C. maupun pengelolaan proses belajar mengajar. pengelolaan program. dinas pendidikan kabupaten/kota. yaitu: (a) meningkatnya kepercayaan dan kepuasan publik terhadap sekolah. apanya yang salah? Konsepnya atau pelaksanaannya? Karena itu. monitoring dan evaluasi yang bermanfaat adalah monitoring dan evaluasi yang menghasilkan informasi yang cepat. MONOTORING DAN EVALUASI MBS A. kita dapat mengukur tingkat kemajuan pendidikan pada tingkat sekolah.e) Melakukan pengukuran pencapaian kinerja pelayanan pendidikan dan menyampaikan hasilnya kepada publik/stakeholders di akhir tahun. tidak ada alasan untuk mengatakan apakah suatu sekolah mengalami kemajuan atau tidak. Hal ini penting untuk dilakukan agar sekolah dengan mudah untuk . dan cukup untuk pengambilan keputusan. Jadi. dan departemen.

Sumberdaya dibagi menjadi dua yaitu sumberdaya manusia dan sumberdaya selebihnya (uang. Alat yang tepat untuk melakukan evaluasi konteks adalah penilaian kebutuhan (needs assessment). peralatan.membandingkan prestasi siswa sebelum dan sesudah MBS. dan sebagainya). maupun prestasi non-akademik (non-academic achievement). Hasil nyata yang dimaksud dapat berupa prestasi akademik (academic achievement). Output adalah hasil nyata dari pelaksanaan MBS. proses terdiri dari: proses pengambilan keputusan. IMTAQ. proses belajar mengajar. sasaran. Input adalah segala “sesuatu” yang harus tersedia dan siap karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses. nilai NUN. misalnya. segera dapat dilakukan koreksi/pelurusan terhadap pelaksanaan. proses pengelolaan program. rencana. fokus evaluasi pada proses adalah pemantauan (monitoring) implementasi MBS. Proses adalah berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain. input dapat diklasifikasikan menjadi tiga. Masukanmasukan dari hasil monitoring dan evaluasi akan digunakan untuk pengambilan keputusan. Dalam MBS sebagai sistem. proses. lihat uraian input pada BAB II. maka hal ini dapat diduga bahwa MBS cukup berhasil. proses pengelolaan kelembagaan. Hasil monitoring dapat digunakan untuk memberi masukan (umpan balik) bagi perbaikan pelaksanaan MBS. tetapi juga dapat berupa perangkat-perangkat lunak dan harapan-harapan sebagai pemandu bagi berlangsungnya proses. Monitoring dan evaluasi MBS bertujuan untuk mendapatkan informasi yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan. limitasi. proses. bahan). Dalam istilah lain. sehingga dapat ditemukan informasi tentang konsistensi atau inkonsistensi antara rancangan/disain MBS semula dengan proses implementasi yang sebenarnya. program. sedang inkonsistensi akan menjurus kepada kegagalan MBS. Uraian 1. sumberdaya. Secara garis besar. kedisiplinan. tujuan. Dengan didapatkan informasi inkonsistensi tersebut. dan peringkat lomba karya tulis. dan pengendalian atau tindakan turun tangan. kejujuran. regulasi (ketentuan-ketentuan. prosedur kerja. input. Konteks adalah eksternalitas sekolah berupa demand and support (permintaan dan dukungan) yang berpengaruh pada input sekolah. Dengan demikian. evaluasi konteks berarti evaluasi tentang kebutuhan. Input manajemen terdiri dari tugas. maupun outcome nya. Komponen-Komponen MBS yang Dimonitor dan Dievaluasi MBS sebagai sistem. dan proses akuntabilitas. misalnya. Jika setelah MBS ada peningkatan prestasi yang signifikan dibanding sebelum MBS. input. Konsistensi antara rancangan dan proses pelaksanaan akan mendukung tercapainya sasaran. dan outcome. Fokus evaluasi pada output adalah mengevaluasi sejauhmana sasaran (immediate objectives) yang diharapkan . misi. yaitu harapan. Dengan demikian. Untuk lebih rincinya. memiliki komponen-komponen yang saling terkait secara sistematis satu sama lain. proses evaluasi sekolah. perlengkapan. Sesuatu yang dimaksud tidak harus berupa barang. Esensi evaluasi pada input adalah untuk mendapatkan informasi tentang “ketersediaan dan kesiapan” input sebagai prasyarat untuk berlangsungnya proses. kesenian. output. baik pada konteks. Harapan-harapan terdiri dari visi. yaitu konteks. dan kerajinan. output. dan input manajemen. B. Sedang hasil evaluasi dapat memberikan informasi yang dapat digunakan untuk memberi masukan terhadap keseluruhan komponen MBS. dan prestasi olahraga. konteks sama artinya dengan istilah kebutuhan.

output. Karena itu. transparansi. kepekaan. yang tidak kalah penting untuk dimonitor dan dievaluasi adalah pelaksanaan prinsip-prinsip MBS yang baik (tata pengelolaan yang baik. dan sosial (masyarakat). atau gabungan dari ketiganya. Dengan bahasa non-statistik. Outcome adalah hasil MBS jangka panjang. Yang dimaksud monitoring dan evaluasi internal adalah monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh sekolah sendiri. input. fokus evaluasi outcome adalah pada dampak MBS jangka panjang. wawasan ke depan. Untuk melakukan evaluasi ini. kepentingan akuntabilitas publik. dan warga sekolah lainnya. Setiap tata pengelolaan harus dievaluasi apakah sebelum dan sesudah MBS ada perubahan tata pengelolaan sekolah. Target-target tersebut bersumber dari pemerataan pendidikan (kesamaan kesempatan antara siswa-siswa desa-kota. . proses. 2. baik dampak individual (siswa). orangtua siswa. guru. akuntabilitas. profesionalisme. Pada umumnya. waktu) telah dicapai oleh MBS. dan Perguruan tinggi. demokrasi. Pengawas. efektivitas dan efisiensi. 3. Berikut adalah visualisasi monitoring dan evaluasi pada saat sebelum dan pada saat sesudah melaksanakan MBS (Lihat Gambar 4: Monitoring dan Evaluasi MBS). pelaksana monitoring dan evaluasi internal adalah warga sekolah sendiri yaitu kepala sekolah. proses. Selain memonitor dan mengevaluasi komponen-komponen konteks. penegakan hukum. Sedang yang dimaksud monitoring dan evaluasi eksternal adalah monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh pihak eksternal sekolah (external institution). Besar kecilnya perubahan komponen-komponen tersebut (dari dan sesudah melaksanakan MBS) merupakan ukuran tingkat keberhasilan MBS. kaya-miskin. kuantitas. makin besar pula kesuksesan MBS.(kualitas. guru bimbingan dan penyuluhan. Jenis Monitoring dan Evaluasi: Internal dan Eksternal Ada dua jenis monitoring dan evaluasi sekolah. dan outcome sekolah. Tonggak-tonggak Kunci Keberhasilan MBS Untuk mengevaluasi keberhasilan MBS. dan membantu sekolah dalam mengembangkan dirinya. Tonggak-tonggak kunci keberhasilan MBS merupakan target-target hasil MBS yang akan dicapai dalam jangka menengah (5 tahun) dan jangka pendek (1 tahun). siswa. keadilan. sejauhmana “hasil nyata sesaat” sesuai dengan “hasil/sasaran yang diharapkan”. yang berbeda dengan output yang hanya mengukur hasil MBS sesaat/jangka pendek. dan outcome pada waktu sebelum dan sesudah melaksanakan MBS. sekolah-sekolah yang melaksanakan MBS harus membuat tonggak-tonggak kunci keberhasilan untuk kurun waktu tertentu. misalnya Dinas Pendidikan. yaitu internal dan eksternal. meningkatkan iklim kompetisi antar sekolah. institusional (sekolah). makin besar perubahan (peningkatan/pengembangan) komponen-komponen tersebut dari sebelum dan sesudah melaksanakan MBS. tanggungjawab. Hasil monitoring dan evaluasi eksternal dapat digunakan untuk: rewards system terhadap individu sekolah. Monitoring dan evaluasi dilakukan untuk mengetahui apakah ada perubahan konteks. prediktif. Dengan kata lain. input. pada umumnya digunakan analisis biaya-manfaat (cost-benefit analysis). output. memperbaiki sistem yang ada secara keseluruhan. seperti disebut sebelumnya yaitu meliputi: partisipasi. dan kepastian jaminan hukum. Tujuan utama monitoring dan evaluasi internal sekolah adalah untuk mengetahui tingkat kemajuan dirinya sendiri (sekolah) sehubungan dengan sasaran-sasaran yang telah ditetapkan. Tentunya makin besar kesesuaiannya. berarti makin besar pula keberhasilan MBS.

angka putus sekolah. penegakan hukum.1994. 2004. rata-rata NUN sebuah SMP adalah 6. akuntabilitas. olimpiade. School-Based Management (Manajemen Berbasis Sekolah) (terjemahan: Noryamin Aini. Reynold. rata-rata NUN yang diharapkan dapat dicapai oleh SMP tersebut sebesar 7. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama. Pada tahun 2014. dan tata kelola sekolah yang baik (good governance) yang meliputi: partisipasi. tanggungjawab.90 pada tahun 2013.80 pada tahun 2012.). Jika target ini dirinci setiap tahun. Dornseif. kesenian. School-Based Management Organizing for High Performance. efektivitas dan efisiensi.laki-perempuan. Misalnya. fasilitas. efektivitas dan efisiensi pendidikan (angka kenaikan kelas.) dan kualitas proses (proses belajar mengajar. Alexandria: Association for Supervision and Curriculum Development. dan sebagainya. transparansi. NUN hanyalah salah satu tolok ukur kualitas sekolah dan masih banyak tolok ukur kualitas lainnya yang perlu dipertimbangkan. angka kelulusan. Jakarta: Logos. contoh tonggak-tonggak kunci keberhasilan dapat diberikan sebagai berikut. demokrasi.00. 1997. Larry. dan sebagainya.Mulyasa. maka rata-rata NUN yang akan dicapai oleh sekolah adalah 6. 6. San Francisco: JosseyBass Publishers. dan 6. Pada tahun 2009. Ditjen Mandikdasmen. tonggak-tonggak kunci keberhasilan dibuat tabuler yang terdiri dari program-program strategis dan tonggak-tonggak kunci keberhasilan dari setiap program strategis. Bandung: PT. 2007. cacat-tdak cacat. 60 pada tahun 2010. dan karya ilmiah remaja di samping kualitas input (guru. Suparto & Abas AlJauhari). kualitas pendidikan (input. prediktif.A. dan sebagainya). keadilan.Remaja Rosda. dan sebagainya. DAFTAR PUSTAKA Anonim.). dan 7. 2002. prestasi olah raga.00 pada tahun 2014. Sebaiknya. 6. profesionalisme. 1996. misalnya budi pekerti. kepemimpinan. Thousand . E. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Pocket Guide to School-Based Management. Ibtisam Abu & Duhou.50. Depdiknas (rujukan utama dari materi pelatihan ini). output).70 pada tahun 2011. A. Manajemen Berbasis Sekolah. Odden. Successful Site-Based Management. kepekaan. proses. dan kepastian jaminan hukum. wawasan kedepan.

clinical supervision. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. A. No. . Effective principals are expected to be effective instructional leaders . Mereka menyimpulkan bahwa: If our schools are to improve.Oaks. Zuldan K.. P.. MATERI UJI KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH : KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN 09:12 Nurul Amaliah No comments Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook 1. Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep dan Kemungkinan Strategi Pelaksanaannya di Indonesia. Juni Th.017. 2003..1992).179206. Pengantar Pengaruh kepemimpinan pembelajaran (instructional leadership) terhadap peningkatan hasil belajar siswa sudah tidak diragukan lagi. 1987). Kirk. Rutmini & Jiyono. California: Corwin Press. and teacher evaluation (Hanny.N.77-107. it will be because of the instructional leadership of the principal …. the principal’s role If a school is to be an effective one.J. Cakrawala pendidikan. we must redefine and move instructional leadership to the forefront (Buffie.V. Manajemen Berbasis Sekolah dalam Mengembangkan dan Mewujudkan Budaya Mutu dalam Pendidikan. Wohlstetter. P.No. Juni Tahun Ke-5. h.. the principal must be knowledgable about curriculum development. Succesful School-Based Management.. h. Inc.Prasetyo & Slamet.XXII. & Mohrman (1997). Alexandria: Association for Supervision and Curriculum Development. 1999. staff development. Robertson. Sejumlah ahli pendidikan telah melakukan penelitian tentang pengaruh kepemimpinan pembelajaran terhadap peningkatan hasil belajar. (Findley.. teachers and instructional effectiveness.. 1989).

asesmen (penilaian hasil belajar). yang pada gilirannya dapat memperbaiki prestasi belajar siswanya. e. pertanyaannya adalah apa tujuan yang akan dicapai oleh kepemimpinan pembelajaran? Berikut akan diuraikan seperlunya tentang tujuan yang akan dicapai oleh penerapan kepemimpinan pembelajaran. . berikut disampaikan arti kepemimpinan pembelajaran. mendefinikan kepemimpinan pembelajaran yang efektif sebagai berikut: a. layanan prima dalam pembelajaran. berikut dibahas tentang arti. Berdasarkan pengertian kepemimpinan pembelajaran tersebut.Dari kutipan-kutipan tersebut diatas dapat disarikan bahwa peningkatan hasil belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kepemimpinan pembelajaran. tujuan. Definisi inipun masih parsial karena pembelajaran mencakup banyak hal yang sebagian belum tercakup didalamnya. c. Definisi ini kurang komprehensif. Kepala sekolah memberikan dukungan terhadap pembelajaran. b. tetapi fokus dan ketajamannya masih berbeda-beda. misalnya dia mendukung bahwa pengajaran yang memfokuskan pada kepentingan belajar siswa harus menjadi prioritas. dan pembangunan komunitas belajar di sekolah. Petterson (1993). Untuk lebih jelasnya. Artinya. Kepala sekolah melibatkan para pemangku kepentingan dalam pengelolaan sekolah (manajemen partisipatif). Kepala sekolah berperan sebagai fasilitator sehingga dengan berbagai cara dia dapat mengetahui kesulitan pembelajaran dan dapat membantu guru dalam mengatasi kesulitan belajar tersebut. Kepala sekolah melibatkan para pemangku kepentingan dalam pengambilan keputusan dan dalam kegiatan operasional sekolah sesuai dengan kemampuan dan batas-batas yuridiksi yang berlaku. d. pentingnya kepemimpinan pembelajaran. Melengkapi definisi-definisi tersebut diatas. Kepala sekolah mensosialisasikan dan menamkan isi dan makna visi sekolahnya dengan baik. penilaian serta pengembangan guru. butir-butir penting kepemimpinan pembelajaran. dan kontribusi kepemimpinan pembelajaran terhadap hasil belajar. Kepemimpinan pembelajaran atau kepemimpinan instruksional adalah kepemimpinan yang memfokuskan/menekankan pada pembelajaran yang komponenkomponennya meliputi kurikulum. Dia juga mampu membangun kebiasaan-kebiasaan berbagi pendapat atau urun rembug dalam merumuskan visi dan misi sekolahnya. Kepala sekolah melakukan pemantauan terhadap proses belajar mengajar sehingga memahami lebih mendalam dan menyadari apa yang sedang berlangsung didalam sekolah. Ahli lain. proses belajar mengajar. karena hanya memfokuskan pada guru. Misalnya. jika hasil belajar siswa ingin dinaikkan. Arti Kepemimpinan Pembelajaran Walaupun telah banyak rumusan tentang arti kepemimpinan pembelajaran. 2. maka kepemimpinan yang menekankan pada pembelajaran harus diterapkan. Daresh dan Playco (1995) mendefinikan kepemimpinan pembelajaran sebagai upaya memimpin para guru agar mengajar lebih baik. dan dia selalu menjaga agar visi dan misi sekolah yang telah disepakati oleh warga sekolah hidup subur dalam implementasinya.

Upayaupaya ini memerlukan dukungan sumberdaya pendidikan. dan tujuan sekolah. daya hati. Daya pikir meliputi cara-cara berpikir induktif. kerendahan hati. politik. pemilihan buku pelajaran. dan yang sejenis). Tujuan Kepemimpinan Pembelajaran Tujuan utama kepemimpinan pembelajaran adalah memberikan layanan prima kepadasemua siswa agar mereka mampu mengembangkan potensi kualitas dasar dan kualitas instrumentalnya untuk menghadapi masa depan yang belum diketahui dan sarat dengan tantangan-tantangan yang sangat turbulen. inovatif. Teknologi meliputi teknologi konstruksi. telekomunikasi. perlengkapan. Proses belajar mengajar meliputi penyusunan silabus. dan tidak kalah penting. dan astronomi. tanggungjawab. Penilaian kinerja guru dan pengembangan profesinyajuga merupakan prioritas kepemimpinan pembelajaran. jiwa kewirausahaannya. meningkat motivasi belajarnya. dan keterampilan. misi. dan uang. empati. pemilihan metode mengajar dan metode belajar. pendidikan. dan meningkat kesadarannya untuk belajar secara terus-menerus sepanjang hayat karena ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni berkembang dengan pesat. Kepemimpinan pembelajaran mampu memberikan dorongan dan arahan terhadap warga sekolah untuk meningkatkan prestasi belajar siswanya. ekonomi. demokrasi. bahan. inovasinya. kreatif. Daya pisik meliputi kesehatan. Ilmu pengetahuan keras meliputi metematika. baik sumberdaya manusia maupun sumberdaya selebihnya yaitu peralatan. dan berpikir sistem. pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran. pengembangan bahan ajar. ketahanan. kestaminaan. meningkat kepuasan belajarnya. kerjasama. misi. meningkat keingintahuannya. Kepemimpinan pembelajaran penting diterapkan di sekolah karena kemampuannya dalam membangun komunitas belajar warganya dan bahkan mampu menjadikan sekolahnya sebagai sekolah belajar (learning school). pengembangan struktur dan muatan kurikulum. bio. kedisiplinan. dan tujuan sekolah. kejujuran. 2. tujuan kepemimpinan pembelajaran adalah untuk memfasilitasi pembelajaran agar siswanya meningkat prestasi belajarnya. repek kepada orang lain. kepemimpinan pembelajaran mengutamakan layanan prima terhadap pembelajaran siswa sertamembangun warga sekolahnya menjadi komunitas pembelajaran. pengelolaan kelas. Seni terdiri dari seni suara. Dengan kata-kata lain. dan daya pisik/raga. Menurut Slamet PH (2001). 3. . metode evaluasi. manufaktur. perbekalan.Kurikulum (apa yang diajarkan) mencakup pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang meliputi kegiatan perumusan visi. dan kesatuan serta persatuan (terlalu banyak untuk disebut semuanya). dan bahan. transportasi. dan pemotivasian siswa. integritas. kritis. kreativitasnya. kimia. fisika. dan pembuatan kalender. toleransi. antroplogi. Daya hati (qolbu) meliputi kasih sayang. energi. kualitas dasar meliputi kualitas daya pikir. Pentingnya Kepemimpinan Pembelajaran Kepemimpinan pembelajaran sangat penting untuk diterapkan disekolah karena seperti disebut sebelumnya bahwa kepemimpinan pembelajaran berkontribusi sangat signifikan terhadap peningkatan prestasi belajar siswa. dan pelaporan. Ilmu pengetahuan dapat digolongkan menjadi ilmu pengetahuan lunak (sosiologi. deduktif. dan rupa. kriya. perdamaian. kesopan santunan. Kepemimpinan pembelajaran juga mampu memfokuskan kegiatan-kegiatan warganya untuk menuju pencapaian visi. penggunaan media pembelajaran dan fasilitas belajar lainnya. Asesmen (evaluasi hasil belajar) meliputi aspek yang di evaluasi. ilmiah. Kualitas instrumental meliputi penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni. lateral. biologi. musik. tari.

supervisor. 4. 4) membantu siswa agar sukses dalam belajarnya. 2) mendorong tanggung jawab seluruh mitra kerja atau pemangku kepentingan. Untuk itu. mengajak warga sekolahnya untuk komitmen terhadap keunggulan mutu. kurang memperoleh porsi yang selayaknya. dan lincah/cepat tanggap terhadap pelanggan utama yaitu siswa). Padahal. dan menghindari gaya kepemimpinan yang kaku. berpikir dan berperilaku positif untuk maju. Memahami peran kepala sekolah yang perlu dikembangkan: 1). dan penilaian hasil belajar siswa kurang mendapatkanperhatian. dan 3) mengembangkan gaya kepemimpinan yang luwes dan gaya bicara yang enak. pertemuan-pertemuan. Kepala sekolah disibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan rutin yang bersifat administratif. proses belajar mengajar. memberi kewenangan dan tanggungjawab kepada warga sekolahnya. sudah selayaknya peran kepemimpinan pembelajaran memperoleh porsi waktu yang lebih besar dibanding dengan peran-peran yang lain. Butir-butir Penting Kepemimpinan Pembelajaran Butir-butir penting kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran dapat dituliskan sebagai berikut: a. 2). Peran-peran yang yang lain bukan tidak penting. motivator. 3) menggalang sumber daya masyarakat untuk kepentingan siswa. yang pada gilirannya. mengajak warga sekolahnya untuk berpikir sistem. mendorong teamwork yang (kompak. Kepala sekolah mempunyai sejumlah peran yang harus dimainkan secara bersama. mengelola adalah sebagian dari kepemimpinan. cerdas. mutu proses belajar mengajar sangat berpengaruh terhadap peningkatan kualitas siswa dan kualitas sekolah secara keseluruhan. enterpreneur. . dan kegiatan-kegiatan lain yang bersifat non-akademis sehingga waktu untuk mempelajari pembaruan/inovasi kurikulum. Peran kepala sekolah sebagai leader (pemimpin) dan spesifiknya sebagaiinstructional leader. mendorong warga sekolah untuk akuntabilitas terhadap proses dan hasil kerjanya. harmonis. membangun komunitas belajar di sekolah untuk kesuksesan siswa. dan leader. mengajak warga sekolahnya untuk siap dan akrab menghadapi perubahan. b. manager. memfasilitasi warga sekolah untuk belajar terus dan belajar ulang.Sekolah belajar (learning school) memiliki perilaku-perilaku sebagai berikut: memberdayakan warga sekolah seoptimal mungkin. administrator. akan tetapi peran kepemimpinan pembelajaran harus yang terpenting. Melaksanakan tanggung jawab secara akuntabel: 1). dinamis. dan 5) menghindari mencari kambing hitam atas ketidaksuksesan. dan mengajak warga sekolahnya untuk melakukan perbaikan secara terus-menerus. mengajak warga sekolahnya untuk menjadikan sekolahnya berfokus pada layanan siswa. antara lain mencakup educator. menerapkan peran kepemimpinan sekolah lebih cenderung sebagai pelayan dari pada sebagai penguasa/bos. ketiga hal yang terakhir sangat erat kaitannya dengan peningkatan mutu proses belajar mengajar. mendorong kemandirian setiap warga sekolahnya.

selalu membaca diri dan melakukan refleksi. 8) menerjemahkan visi sekolah ke dalam kegiatan harian. Pengukuran tingkat keberhasilan visi kepemimpinan pembelajaran sangat diperlukan. Jika sekolah ingin menjadi sekolah yang efektif pembelajarannya.c. bagaimana caranya siswa itu belajar. para pembaca sangat disarankan untuk melakukan refleksi dan bahkan menjawab sejumlah pertanyaan berikut untuk mengetahui tingkat kesiapan anda sebagai pemimpin pembelajaran. Dengan menjawab sejumlah pertanyaan berikut. dan 9) memfasilitasi kelompok kerja berdasarkan kepemimpinan pembelajaran. Pertanyaan-pertanyaan berikut juga akan membantu anda dalam mengembangkan visi pembelajaran yang lebih baik agar kepemimpinan pembelajaran yang anda terapkan benar-benar berdampak positif terhadap pembelajaran. d. mawas diri dan berkembang. anda akan terbantu dalam memfokuskan pikiran dan pengambilan keputusan tentang pembelajaran yang seharusnya anda dukung. Berikut adalah sejumlah pertanyaan yang seyogyanya anda pikirkan sebagai pemimpin pembelajaran. seharusnya. menjadi pengarah terhadap tercapainya tujuan sekolah. 3) memandang kesalahan sebagai kesempatan untuk belajar. Untuk itu. 2) mencari cara-cara untuk mengembangkan diri sendiri. Selalu mempertahankan: 1). 4) menjadi orang nomor satu sebagai model pembelajar sepanjang hayat dengan membangun masyarakat pembelajar disekolah. 5) selalu mengasah peran anda sebagai kepemimimpinan pembelajaran 6) menyediakan waktu untuk rajin mengunjungi kelas. dan 4) gembira dalam bekerja. . 3) merangkul perubahan sebagai teman. maka sejumlah pertanyaan berikut harus dijawab dengan tepat: a. Mengerjakan sesuatu dengan professional: 1). 7) mengkomunikasikan keinginan kuat anda untuk berhasil kepada guru dan siswa dalam bentuk kata-kata dan tindakan. dia akan membuat anda tetap aktif. 2) menjadi pendukung yang jelas. membimbing orang lain dan memberi kontribusi terhadap orang lain berdasarkan profesi yang dimiliki. apa yang harus. b. dan dapat dipelajari oleh siswa.

apa proses yang digunakan untuk menentukan jadwal dan organisai sekolah. Untuk menjawab 22 pertanyaan tersebut di atas. i. r. kriteria penilaian guru ditentukan oleh siapa. bagaimana caranya kinerja guru dievaluasi dan apa saja yang dinilai. g. atau memperbaharui dan merevisi program tersebut. dimana kepala sekolah menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah dan apa yang dilakukannya di tempat itu. dimana wakil kepala sekolah menghabiskan sebagian besar waktunya dan apa yang dilakukannya. bagaimana cara menyelenggarakn rapat yang berhubungan dengan pembelajaran. untuk siapa dan bagaimana cara menilainya. dengan apa mengajarnya. l. siapa yang melakukan penilaian keberhasilan siswa dan bagaimana caranya. h. q. melaksanakannya. maka tentukan apa kebutuhan siswa. bagaimana iklim sekolah merefleksikan pentingnya proses pembelajaran. seperti apa proses pembelajaran berjalan (diskripsikan sesuatu yang anda impikan dalam sebuah sekolah dimana proses belajar mengajar terjadi secara ideal). e. bagaimana pendapat anda. t. bagaimana bentuk jadwal dan organisasi sekolah agar merefleksikan optimalisasi belajar siswa. apa tujuan utama penelaian guru tersebut. p. n. dan v. d. dan apakah tujuan pengajaran sudah tercapai atau belum (Elaine Mc Evan (2001). bagaimana cara mengajarnya. gunakanlah indikator kunci dari keefektifan kepala sekolah dalam membangun dan menerapkan tujuan-tujuan pembelajaran sebagai berikut: a. jika tujuan utama sekolah adalah menciptakan pembelajaran yang efektif. apa keyakinan guru-guru tentang peserta didik dan kegiatan belajar.c. siapa penyelenggara evaluasi guru. siapa yang memutuskan penerapan program baru. apa saja agenda utama rapat sekolah yang berhubungan dengan pembelajaran. m. k. bagaimana partisipasi orangtua dalam kegiatan belajar siswa. lakukanlah komunikasi dengan staf sehubungan dengan pencapaian standar dan peningkatan tujuan sekolah . kapan seharusnya diajarkan. bagaimana menentukan isi dan hakekat pengembangan staf oleh siapa. s. apa yang harus diajarkan. j. bagaimana dan siapa yang membuat keputusan tentang kurikulum dan pengajaran. u. keberhasilan peserta didik sangat erat hubungannya dengan evaluasi terhadap guru. f. o.

dan e. d. d. materi. penekanan-penekanan apakah yang dituntut oleh kurikulum? c. guru dan siswa diyakinkan dapat mencapainya. dan sumber-sumber apa saja yang harus diterapkan pada pembelajaran tersebut? d. mencegah sekolah terhadap tekanan beban yang tidak perlu. ada keyakinan bersama untuk mencapai tujuan. rujuklah standar isi yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat dan daerah untuk melaksanakan program-program pengajaran di sekolah c. menilai moral dan komitmen warga sekolah. b. peningkatan sekolah dicapai melalui proses pemecahan masalah. dan . c. maka prestasi belajar siswa akan meningkat secara signifikan. mengkomunikasikan kepada staf tentang harapan yang tinggi terhadap pencapaian hasil belajar siswa. pembelajaran merupakan prioritas utama. Kegiatan semacam ini harus dibudayakan di sekolah. b. berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengajarkan standar kompetensi yang dimaksud? Pembelajaran dan pencapaian keberhasilan siswa hendaknya selalu dianalisis secara berkelanjutan dan direfleksikan serta dikembangakan secara berkelanjutan sebagai bagian dari kehidupan sekolah. mengenal secara pribadi tentang tingkat profesionalisme masing-masing guru sebagai dasar untuk mencapai tujuan utama sekolah. Hal ini dapat dilakukan secara pribadi oleh masingmasing guru melalui jawaban-jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan berikut: a. apakah standar kompetensi dapat dicapai dengan baik oleh siswa. sekolah sebagai komunitas kolaboratif dan komunitas belajar. ditemukan lima hal yang dianggap penting dalam membentuk budaya sekolah yang dapat melatih siswa dalam mencapai keberhasilan belajar dan juga iklim sekolah yang sehat. Sehubungan dengan fungsi iklim sekolah. seluruh warga sekolah apakah itu kepala sekolah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Glathhorn (1993). strategi. untuk itu bagaimana cara mengajarkannya dan bagaimana pula mengurutkan materinya secara hirarkis? b. Lima hal penting yang dimaksud meliputi: a. c. yakinkanlah kegiatan-kegiatan kelas secara individu dan sekolah selalu konsisten dengan standar yang telah ditetapkan oleh pusat dan daerah d. gunakan bermacam-macam sumber data baik kualitatif maupun kuantitatif untuk mengevaluasi kemajuandan merencakan peningkatan lebih lanjut Jika pembelajaran dirancang sesuai dengan kebutuhan siswa. dan menjadikan pembelajaran sebagai fokus utama kegiatan sekolah. perilaku kepala sekolah berikut paling banyak diidentifikasi oleh guru-guru dari sekolah yang mempunyai pencapaian prestasi akademik tinggi: a.b.

dan disiplin. yang meliputi halhal berikut: a. membangun lingkungan sekolah yang aman. milikilah harapan yang tinggi terhadap seluruh guru untuk melaksanakan pembelajaran dengan standar yang tinggi melalui kesepakatan model yang dibuat bersama oleh guru. dan publikasikan kepada para guru agar mereka dapat melihat kesenjangan antara standar yang telah ditetapkan dengan kinerja yang dicapai oleh siswa. dan persiapkan serta monitor kegiatan-kegiatan pengembangan guru. g. 1995). dan libatkan staf untuk berpartisipasi dalam mengadopsi dam mengadaptasi program tersebut. dan . termasuk penekanan terhadap penting dan berharganya pencapaian yang tinggi terhadap kemampuan berbicara dan menulis. memiliki pemahaman yang jelas terhadap visi dan misi sekolah dan mampu menyatakannya secara langsung. Penelitian tersebut menghasilkan daftar perilaku kepala sekolah yang terbaik dalam mengarahkan dan membimbing program pembelajaran di sekolah (Cotton. c. tetapkan kegiatan kurikulum yang diprioritaskan. laboratorium pendidikan wilayah North West USA memperbaharui keefektifan pelaksanaan pembelajaran di sekolah yang akhirnya menjadi rujukan luas dari hasil penelitian tersebut. i. menyebarluaskan praktik-praktik proses belajar mengajar yang efektif terhadap guru-guru lain. f. mencari program-program yang inovatif. lakukan kunjungan kelas untuk mengamati pembelajaran. b. dan tindakan warga sekolah. membangun dan memfokuskan pembelajaran sebagai sumber penyatuan berpikir. j. guru. h. menekankan pentingnya penelitian bagi perbaikan sekolah. meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa semua siswa dapat belajar dan sekolah membuat perbedaan antara yang berhasil dan yang gagal. 5. dan staf memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap peningkatan efektivitas pembelajaran di sekolah. mencari. dan menerapkannya dalam pemecahan masalah. cek kemajuan siswa secara berkala berdasarkan data kinerja yang ada. e. mengetahui tentang penelitian pendidikan. melalui penelitiannya. tertib. merekrut. tetapkan harapan atau target kualitas kurikulum melalui penggunaan standar dan petunjukpetunjuk yang diberikan. cek secara berkala kesesuaian. amati. menegaskan bahwa belajar sebagai alasan utama terhadap keberadaan seseorang disekolah. Menurut sintesis penelitian yang dilakukan diperoleh hasil bahwa perilaku kepala sekolah (pemimpin pembelajaran). fokuskan kegiatan supervisi untuk meningkatkan pembelajaran.e. kurikulum dengan pembelajaran dan penilaian. dan menggaji anggota staf yang mendukung visi dan misi sekolah dan berkontribusi terhadap keefektifannya. k. Kontribusi Kepemimpinan Pembelajaran terhadap Hasil Belajar Pada tahun 1995. urun rembuk. dalam ungkapan yang konkrit. d. dan monitor pelaksanaan kurikulum. sikap. mengetahui dan mampu menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran yang baik.

l. B. 1. sehingga dapat mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan setiap kelas. dan pendekatan-pendekatan baru. . dan bertindak sebagai pemimpin pembelajaran. (b) kultur 2. proses belajar mengajar. Sehingga dapat dilihat bahwa dinding kantor Beth seperti pusat startegi komando yang penuh dengan data pencapaian murid dan data performa guru dan grafik kurikulum. Beliau melakukan observasi kelas secara reguler untuk mengetahui proses belajar mengajar. Studi Kasus Beth memulai profesi pendidik sebagai guru ilmu pengetahuan alam di sebuah SMP. Beliau berdiskusi bersama murid. 3. 4. asesmen (penilaian hasil belajar). Butir-butir penting kepemimpinan pembelajaran menyarankan bahwa kepemimpinan pembelajaran akan berjalan dengan baik apabila didukung oleh: (a) figur (kepala sekolah) yang mampu berpikir. Rangkuman Kepemimpinan pembelajaran adalah kepemimpinan yang memfokuskan/menekankan pada pembelajaran yang unsur-unsurnya meliputi kurikulum. A. harus dilaksanakan dengan baik. Dimana dalam perencanaan Beth melakukan penilaian terhadap kondisi sekolah yang dihadapi pada saat itu. Tujuan utama kepemimpinan pembelajaran adalah memberikan layanan prima kepadasemua siswa agar mereka mampu mengembangkan potensi kualitas dasar dan kualitas instrumentalnya untuk menghadapi masa depan yang belum diketahui dan sarat dengan tantangan-tantangan yang sangat turbulen. layanan prima dalam pembelajaran. maka Beth mendesain posisi kepala sekolah yang diembannya berdasarkan kekuatan yang dimiliki. Beth dipercaya menjadi seorang kepala sekolah. Rencana dalam penerapan konsep instruksional leadership melibatkan diri sendiri terlebih dahulu. Sebagai patokan dalam penerapan instructional leadership. Setelah mengajar selama beberapa tahun. prioritas kegiatan yang jelas. Kepemimpinan pembelajaran sangat penting untuk diterapkan disekolah karena kepemimpinan pembelajaran berkontribusi sangat signifikan terhadap peningkatan prestasi belajar siswa. strategi peningkatan yang sistematis. komunikasikan harapan anda bahwa program pembelajaran yang telah disepakati sesuai dengan rencana. Berkolaborasi secara regular dengan wakil kepala sekolah dan koordinator guru untuk memonitor kebutuhan murid dan menentukan strategi dan bahan ajar yang tepat dalam rangka mengoptimalkan potensi guru dan murid. dan pembangunan komunitas belajar di sekolah. Berawal dari seorang guru yang kompeten. Beth juga aktif dalam KKG dan juga kuliah di sebuah universitas dalam pasca sarjana pendidikan pada malam hari untuk meningkatkan kompentensinya sebagai pendidik. penilaian serta pengembangan guru. Keahlian dalam bidang instruksional dan pengetahuan dalam bidang kurikulum adalah pondasi yang kuat dalam melakukan penerapan instructional leadership dalam sekolahnya. Tujuan yang hendak dicapai adalah setiap murid dan guru mendapatkan pengalaman pendidikan yang positif dan optimal di sekolah. Perencanaan dilakukan secara detail berdasarkan format dan ceklist yang sudah ada. bersikap.murid dan guru tentang tujuan belajar.

E.R. & Steffy. guru. F:\Mary Jo\Education Leadership Redesign Commission\Tennessee Standards for Instructional Leaders Packet. Marshal A. Deal. K. 1995. F. dan (c) sistem (struktur) yang utuh dan benar. OBE Reform and the Curriculum Process.W.. VA. J. dan karyawan berkontribusi yang sangat signifikan terhadap peningkatan efektivitas pembelajaran di sekolah. Supervision as a Proactive Process. B. DAFTAR PUSTAKA Daresh. 354-363 Hoyle. interpersonal dan teknikal (Glickman. California: Sage Publication. Lauren (2003).UNDEFINED TEKNIK-TEKNIK SUPERVISI AKADEMIK Satu di antara tugas kepala sekolah adalah melaksanakan supervisi akademik. English. San Fransisco. Oleh sebab itu. Developing Principals as Instructional Leaders. TEKNIK-TEKNIK SUPERVISI AKADEMIK POSTED BY EATHEWIN ON SEPTEMBER . 8. CA. Sandra Lee. Resnicl. Skills for Successful Leaders (2nd Edition). pp.D.10 . 2007). Arlington. at al. John C. The Instructional Leadership toolbox: A Handbook for Improving Practice.A. 199. T.. American association of School Administrators. Glatthorn. and Peterson.pembelajaran yang dikembangkan melalui pembangunan komunitas belajar di sekolah. Untuk melaksanakan supervisi akademik secara efektif diperlukan keterampilan konseptual.E.Playko.doc vlb 3/21/07 Fink. Waveland press. Journal of Curriculum and Supervision. 5. Guston. Jossey Bass Publishers. 2002.1993. 1998. 4.. setiap Kepala sekolah harus . Elaine and B. Shaping School Culture: The Heart of Leadership. Perilaku kepala sekolah (pemimpin pembelajaran). A.

( Classroom Visitation ) Kepala sekolah atau supervisor datang ke kelas untuk mengobservasi guru mengajar. Teknik Supervisi 1. 1961). Pada tahap ini.memiliki keterampilan teknikal berupa kemampuan menerapkan teknik-teknik supervisi yang tepat dalam melaksanakan supervisi akademik. Supervisor di sini hanya berhadapan dengan seorang guru. Tahap-tahap kunjungan kelas terdiri dari empat tahap yaitu: (1) tahap persiapan. Teknik-teknik supervisi akademik meliputi dua macam. Teknik supervisi individual ada lima macam adalah sebagai berikut. a. Pada tahap ini. Dengan kata lain. yaitu: individual dan kelompok (Gwyn. Dari hasil supervisi ini dapat diketahui kualitas pembelajaran guru bersangkutan. supervisor mengamati jalannya proses pembelajaran berlangsung. untuk melihat apa kekurangan atau kelemahan yang sekirannya perlu diperbaiki. Teknik Supervisi Individual Teknik supervisi individual adalah pelaksanaan supervisi perseorangan terhadap guru. Gambar 5. Kunjungan Kelas. . sasaran. supervisor merencanakan waktu. (2) tahap pengamatan selama kunjungan. Teknik supervisi akademik ada dua yaitu: individual dan kelompok seperti gambar berikut. dan cara mengobservasi selama kunjungan kelas.

Pada tahap ini. (2) meningkatkan kemampuan guru dalam pembelajaran. . (5) ketepatan penggunaan metode dengan materi. di mana sudah dilengkapi dengan alat-alat bantu yang dapat digunakan untuk memberikan penjelasan pada guru. Secara umum. seorang supervisor hendaknya telah mempersiapkan instrumen observasi. Pertemuan Individual Pertemuan individual adalah satu pertemuan. penutupan. dan (4) tahap terakhir adalah tahap tindak lanjut. dan (3) memperbaiki segala kelemahan dan kekurangan pada diri guru Swearingen (1961) mengklasifikasi empat jenis pertemuan (percakapan) individual sebagai berikut. (4) ketepatan penggunaan media dengan materi. menguasai masalah dan tujuan supervisi. supervisor bersama guru mengadakan perjanjian untuk membicarakan hasil-hasil observasi. (3) variasi metode. (1) Classroom-conference. yaitu percakapan individual yang dilaksanakan di ruang kepala sekolah atau ruang guru. Pelaksanaan observasi melalui tahap: persiapan. dan (6)reaksi mental para siswa dalam proses belajar mengajar. dan tukar pikiran antara supervisor dan guru. pelaksanaan. Kunjungan Observasi ( Observation Visits ) Guru-guru ditugaskan untuk mengamati seorang guru lain yang sedang mendemonstrasikan cara-cara mengajar suatu mata pelajaran tertentu.(3) tahap akhir kunjungan. Tujuannya adalah: (1) mengembangkan perangkat pembelajaran yang lebih baik. Dalam rangka melakukan observasi. aspekaspek yang diobservasi adalah: (1) usaha-usaha dan aktivitas guru-siswa dalam proses pembelajaran. dialog.dan tindak lanjut. percakapan. (2) Office-conference. Kunjungan observasi dapat dilakukan di sekolah sendiri atau dengan mengadakan kunjungan ke sekolah lain. (2) cara menggunakan media pengajaran. b.penilaian hasil observasi. c. yaitu percakapan individual yang dilaksanakan di dalam kelas ketika murid-murid sedang meninggalkan kelas (istirahat).

Tujuannya adalah untuk berbagi pengalaman dalam pembelajaran. Cara-cara melaksanakan kunjungan antar kelas adalah sebagai berikut.(3) Causal-conference. yaitu percakapan individual yang bersifat informal. (5) Supervisor hendaknya mengikuti acara ini dengan pengamatan yang cermat. penegasan. dengan menyesuaikan pada situasi dan kondisi yang dihadapi. (1) Jadwal kunjungan harus direncanakan. yang dilaksanakan secara kebetulan bertemu dengan guru (4) Observational visitation. Supervisi Kelompok Teknik supervisi kelompok adalah satu cara melaksanakan program supervisi yang ditujukan pada dua orang atau lebih. Hal yang dilakukan Supervisor dalam pertemuan individu :  berusaha mengembangkan segi-segi positif guru.  memberikan pengarahan. kemudian dikelompokan berdasarkan kebutuhan guru. d. Kunjungan Antar Kelas Kunjungan antar kelas adalah guru yang satu berkunjung ke kelas yang lain di sekolah itu sendiri. dan analisis kemampuan kinerja guru. 2. Kemudian guru diberikan layanan supervisi sesuai dengan . dan pemberian tugas-tugas tertentu.  mendorong guru mengatasi kesulitan-kesulitannya. Guru-guru yang yang akan disupervisi berdasarkan hasil analisis kebutuhan. (7) Segera aplikasikan ke sekolah atau ke kelas guru bersangkutan. (6) Adakah tindak lanjut setelah kunjungan antar kelas selesai? misalnya dalam bentuk percakapan pribadi. (2) Guru-guru yang akan dikunjungi harus diseleksi. (8) Adakan perjanjian-perjanjian untuk mengadakan kunjungan antar kelas berikutnya. yaitu percakapan individual yang dilaksanakan setelah supervisor melakukan kunjungan kelas atau observasi kelas. (3) Tentukan guru-guru yang akan mengunjungi (4) Sediakan segala fasilitas yang diperlukan. dan  menyepakati berbagai solusi permasalahan dan menindaklanjutinya.

dan rapat dengan pihak luar sekolah. Diskusi kelompok dapat diadakan dengan membentuk kelompok-kelompok guru bidang studi sejenis. bimbingan. Di dalam setiap diskusi. dalam hal ini rapat-rapat yang diadakan dalam rangka kegiatan supervisi. misalnya penataran untuk guru bidang studi tertentu.permasalahan atau kebutuhan yang diperlukan. nasihat-nasihat dan saran-saran yang diperlukan. Rapat tersebut antara lain melibatkan KKG. Dalam teknik supervisi kelompok. Mengingat bahwa penataran pada umumnya diselenggarakan oleh pusat atau wilayah. (1) Mengadakan pertemuan atau rapat (meeting). supervisor atau kepala sekolah memberikan pengarahan. maka tugas kepala sekolah adalah mengelola dan membimbing pelaksanaan tindak lanjut (follow-up) dari hasil penataran. (3) Mengadakan penataran-penataran (inservice-training). Sumber : Materi Pelatihan Penguatan Kemampuan Kepala Sekolah modul SUPERVISI AKADEMIK PUSAT PENGEMBANGAN TENAGA KEPENDIDIKAN BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN DAN PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL 2011 . Seorang kepala sekolah menjalankan tugasnya berdasarkan rencana yang telah disusun. Termsuk mengadakan rapat-rapat secara periodik dengan guru-guru. MGMP. Teknik ini dilakukan melalui penataranpenataran. (2) Mengadakan diskusi kelompok (group discussions). terdapat beberapa kegiatan yang dapat dilakukan antara lain adalah sebagai berikut.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful