PROGRAM INOVATIF SEKOLAH

PROGRAM INOVATIF SEKOLAH Oleh Suparlan *) Mereka yang berfikiran hebat membicarakan ide-ide. Mereka yang berfikiran sedang membicarakan peristiwa-peristiwa. Mereka yang berfikiran sempit membicarakan orang lain (Eleanor Roosevelt, 1884 – 1962, mantan first lady AS) Inovasi membedakan antara pemimpin dan pengekor (Steve Jobs, pendiri Apple Computer) Innovation is change that creates a new dimension of performance (Peter Drucker: Hesselbein, 2003) Innovation is the creation of the new or the re-arranging of the old in a new way (Michael Vance)

Kita sekarang akan mencoba menjadi orang yang berfikiran hebat. Siapa takut? Kita sedang membicarakan ide-ide atau gagasangagasan, bukan membicarakan fakta-fakta saja, apalagi membicarakan orang lain. Gagasan apa saja itu? Tentang program inovatif sekolah. Benar sekali. Tapi, gagasan-gagasan yang akan ditulis ini mungkin saja memang bukan benar-benar baru bagi sekolah tertentu. Namun sekolah yang lain mungkin dapat menjadi sesuatu yang sangat berharga. Memang, gagasan baru juga harus semua komponennya harus baru. Gagasan baru itu bisa jadi dari gagasan yang sudah lama, yang kemudian diperbaiki, disempurnakan dengan memperbaiki satu atau beberapa elemennya, sehingga menjadi lebih baik dan bermanfaat. Itu pun sudah dapat disebut sebagai apa yang dikenal dengan inovasi. Innovation is the creation of the new or the re-arranging of the old in a new way (Michael Vance) Tulisan ini akan mencoba membahas tentang program sekolah yang dapat dinilai inovatif. Peter Drucker menjelaskan kepada kita bahwa inovasi sesungguhnya adalah perubahan yang menciptakan satu dimensi baru kinerja organisasi. Dalam hal ini, kinerja lembaga pendidikan sekolah. Pemberdayaan Kelompok Kerja Guru (KKG) dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sungguh, kita harus malu dengan peringkat ke empat di Pesta Olahraga Asia Tenggara. Kita telah jauh ketinggalan dari negara Thailand. Bahkan juga ketinggalan dari Vietnam. Kondisi ini juga tampak dari Human Development Index (HDI) Indonesia yang berada di bawah Vietnam. Padalah dahulu, dalam acara olahraga yang bergengsi ini kita selalu unggul. Boleh dikatakan bahwa negara yang lain berebut pada urutan kedua. Boleh jadi semua itu terjadi memang karena dampak negatif dari krisis multidimensional yang masih belum sepenuhnya usai. Namun, banyak orang yang meneropongnya dari faktor kemunduran dunia pendidikan kita. Dengan demikian, maka sumber masalahnya adalah lembaga pendidikan sekolah. Program peningkatan kompetensi SDM secara terencana dan berkelanjutan memang harus dimulai di lembaga pendidikan sekolah. Setelah lembaga pendidikan keluarga, maka lembaga pendidikan sekolah harus menjadi tempat yang strategis untuk dapat meningkatkan kompetensi SDM yang handal. Untuk dapat membangun SDM yang handal, kita tidak bisa hanya melakukan yang biasa-biasa saja. Juga tidak hanya dengan program-program yang biasa. Kita harus melakukan hal yang luar biasa. Dengan kata lain, kita harus melakukan hal-hal yang inovatif. Lembaga pendidikan sekolah harus merancang berbagai program yang inovatif. Pemberdayaan KKG dan MGMP harus dapat digunakan sebagai wahana yang efektif untuk dapat meningkatkan kompetensi guru di sekolah. Program Pemberian Susu dan Makanan Tambahan Di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur, Malaysia, sebagai ilustrasi, sebagaimana juga di sekolah-sekolah lain di tanah air, para siswa harus mengikuti upacara bendera di sekolah. Dalam beberapa kali upacara bendera, ketika pembina upacara menyampaikan

pidatonya, atau ketika bendera merah putih dinaikkan beberapa anak jatuh pingsan. Selidik punya selidik, masalah ini terjadi karena banyak anak-anak yang tidak sarapan pagi. Bukan hanya itu, ada kemungkinan mereka juga mengalami kekurangan gizi dan dehidrasi. Penemuan tentang rendahnya kebugaran jasmani, kesehatan, dan gizi anak-anak kita perlu mendapatkan perhatian kita semua. Hal ini sama sekali berbanding terbalik dengan keadaan peserta didik di Negeri Cina. Para siswa di sekolah yang cukup luas di negeri tirai bambu itu diwajibkan selalu melakukan olahraga dalam cabang olahraga yang mereka suka. Semua fasilitas olahraga telah disediakan, dan setiap harinya mereka harus melakukan olahraga sesuai dengan hobinya. Hasilnya? Stamina olahragawan dari negeri tirai bambu itu sangat luar biasa. Mereka yang suka berolahraga memiliki kecerdasan fisikal atau kecerdasan ragawi atau kecerdasan yang dikenal dengan bodily kinestetics yang tinggi. Termasuk di dalamnya adalah senam dan menari dengan olah tubuh yang penuh dengan rima dan irama itu. Kalau pun negeri kita pada saaat ini masih mengalami kesulitan untuk mencari sebelas pemain sebak bola, karena selalu keok dalam arena pertandingan olah raga yang bergengsi ini, maka masalahnya tidak lain dan tidak bukan adalah karena kecerdasan fisikal generasi muda kita yang masih rendah. Selain itu, asupan gizi generasi muda kita masih di bawah rata-rata anak-anak di dunia. Jika negeri ini masih juga mengalami masalah mahalnya susu untuk tumbuh kembang anak-anak kita, negeri adidaya Amerika Serikat telah jauh memikirkan pentingnya makan siang anak-anak sekolah melalui program makan siang anak-anak usia sekolah melalui National School Lunch Program Act yang telah ditandatangani oleh Presiden Truman pada tahun 1946. Bahkan pada tanggal 14 Oktober 1940, pemerintah Amerika Serikat juga telah mengeluarkan program susu sekolah ( school milk program). Rupanya, DPR kita masih sibuk dengan urusan politik ketimbang dengan urusan makan siang anak-anak. Nah apa yang harus diprogramkan oleh sekolah untuk mengatasi itu semua? Pemberian bubur kacang hijau, susu, dan makanan bergizi lainnya secara rutin sudah tentu menjadi kegiatan yang sangat berguna bagi anak-anak kita. Jangan biarkan anak-anak kita membiasakan jajan di tepi-tepi pagar sekolah, yang dari aspek kesehatan dan gizinya tidak dapat kita pertanggungjawabkan. Penciptaan Lingkungan Sekolah Yang Sehat Program ini sangat terkait dengan program sebelumnya. Pertama, program yang harus dibenahi adalah kantin sekolah. Ciptakan kantin sekolah yang hiegenis dengan jenis makanan yang bergizi. Kedua, citakan lingkungan sekolah yang bersih, rindang, dan indah. Program 7K perlu digalakkan lagi, bukan hanya secara seremonial belaka, tetapi harus menyentuh perubahan kebiasaan para penghuninya. Memasang papan bertuliskan ”LINGKUNGAN BEBAS ROKOK” merupakan satu gebrakan yang dapat dilakukan. Tulisan-tulisan lain, seperti ”TARUH SAMPAH PADA TEMPATNYA”, atau ”CUCI TANGAN SEBELUM MAKAN”, atau ”KESEHATAN SEBAGIAN DARI IMAN” dapat diharapkan dapat mengisi nurani anak-anak kita yang masih putih itu. Lomba kebersihan dan keindahan kelas dapat diadakan pada saat momen-momen tertentu, misalnya peringatan hari besar nasional dan agama, atau peringatan hari lahir sekolah. Talent Scouting Bibit Olahraga dan Seni Pembinaan olahraga memang menjadi tugas utama guru olahraga dan keshatan. Tetapi, program pembinaan olahraga secara teroganisasi di sekolah sudah barang tentu menjadi tanggung jawab semua komponen sekolah. Di samping olahgara rekreasi, pencatatan secara rutin rekor olahraga prestasi harus tersedia di sekolah. Sekolah harus memiliki catatan, nama-nama siswa dengan rekor tertingginya dalam cabang olahraga tertentu. Dengan catatan ini, jika ada kegiatan pertandingan olahraga, maka sekolah tinggal memilih mereka untuk dapat mengikuti ajang pertandingan olahraga yang akan diikuti. Pencatatan prestasi olahraga ini dapat dilakukan pada awal tahun pelajaran atau pada saat usai ulangan semester pertama menjelang libur sekolah. Dengan demikian, sekolah dapat menjadi tempat pembibitan olahraga dan seni yang pertama dan utama. Science-Tech Club Sama dengan talent scouting dalam bidang olahraga, sekolah juga harus melakukannya untuk bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebenarnya para guru telah memiliki pengetahuan dan keterampilan praktis dalam penelitian sederhana. Namun banyak di antaranya kurang begitu yakin bahwa anak-anak mampu melakukannya. Padahal obyek penelitian sederhana bagi anak-anak terbentang luas di sekolah dan lingkungannya. Sayur apakah yang menjadi kegemaran siswa, sebagai contoh, adalah pertanyaan penelitian sederhara yang dapat dilakukan bukan di SMP, tetapi sudah bisa dilakukan di SD. Topik-topik lainnya misalnya: (1) rata-

rata jumlah anak dalam satu keluarga, (2) rata-rata tinggi dan berat badan anak-anak kelas 5 SD, (3) jarak tempuh anak-anak ke sekolah, dan masih banyak yang lain. Kebun Sekolah dan Penanaman Sejuta Pohon Jika secara internasional isu pemanasan global telah melahirkan Bali Roadmap untuk memecahkan isu tersebut, maka apa yang dapat dilakukan di tingkat sekolah? Tentu saja pendidikan lingkungan hidup harus menjadi tanggung jawab sekolah. Untuk sekolah yang tidak memiliki lahan yang luas, setiap kelas dapat diminta untuk membikin taman di depan kelasnya masing-masing. Atau dapat meminta kepada para siswa untuk masing-masing dapat memiliki tanaman kesayangan yang harus dipelihara setiap hari dengan sepenuh hati. Disiram, dipupuk, dan disiangi kalau ada rumput yang menggangunya. Jika ada sedikit lahan di depan sekolah, maka sekolah juga dapat membuat taman sederhana untuk menanam tanaman hias atau tanaman bunga, agar sekolah tidak terasa gersang. Jika di lingkungan sekolah ada lahan tidur yang tidak dimanfaatkan oleh yang empunya, sekolah dapat meminjamnya untuk dijadikan kebun sekolah tempat praktik anak-anak menanam berbagai jenis tanaman. Selain itu, sekolah juga dapat membantu pemerintah daerah dalam melaksanakan program penanaman satu juta pohon. The First Day Festival Ide ini diusulkan oleh seorang guru di suatu sekolah di Amerika Serikat. Pada waktu itu, pelibatan peran serta orangtua dalam penyelenggaraan pendidikan masih menjadi sesuatu yang langka. Setelah program ini dilaksanakan, antusiasme orangtua dan masyarakat tiba-tiba meningkat secara drastis. Sejak adanya festival hari pertama sekolah itu, orangtua siswa dan masyarakat merasakan adanya peningkatan keakraban dan kekeluargaan antara sekolah dan orangtua siswa secara luar biasa. Orangtua dan masyarakat tidak lagi merasa sebagai klien, tetapi sebagai pemangku kepentingan yang memiliki tanggung jawab yang sama besar dengan pihak kepala sekolah dan para guru di sekolah. Program seperti ini dapat berupa program lain yang tidak kalah inovatifnya. Acara tutup tahun sekolah, sebagai contoh, dapat menjadi media untuk menyatupadukan sekolah dengan orangtua dan masyarakat. Dalam acara tersebut, para siswa dapat menunjukkan kebolehannya, baik dalam bidang akademis maupun nonakademis, di hadapan orangtua dan masyarakat. Dampaknya, orangtua dan masyarakat menjadi lebih memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap upaya sekolah dalam meningkatkan kompetensi siswa. Dampak pengiringnya, orangtua dan masyarakat menjadi lebih antusias dalam ikut serta memberikan dukungan dan bantuan terhadap pelaksanaan program-program inovatif sekolah. Akhir Kata Masih sangat banyak program inovatif lain yang dapat dilaksanakan oleh sekolah. Tentu saja berdasarkan kondisi sekolahnya masing-masing. Sebagai contoh, program sekolah berwawasan imtaq, program sekolah yang aman dan nyaman, program sekolah ramah anak, kegiatan outbond, dan masih banyak yang lainnya. Penerapan pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM) dan contextual teaching and learning (CTL) kini menjadi program inovatif di sekolah yang menjadi primadona. Pendek kata, dengan program inovatif, semua warga sekolah dan pemangku kepentingan ingin mencoba sesuatu yang tidak biasa. Ingin mencoba sesuatu yang baru, yang kalau bisa yang luar biasa. Itu semua dapat dimulai dengan program inovatif yang sederhana, dan sudah barang tentu yang tidak memberatkan keuangan orangtua siswa. Yang penting, semua warga sekolah ingin melakukan sesuatu yang baru, atau sesuatu yang sebelumnya kurang mendapatkan perhatian. Tentu saja, semua itu harus dirancang adalam rencana yang matang, yang dikenal dengan Rencana Pengembangan Sekolah (RPS), yang disusun oleh sekolah bersama dengan pemangku kepentingan. Dengan kata lain, RPS yang disusun hendaknya memuat program-program inovatif, baik yang terkait dengan aspek akademis maupun nonakademis di sekolah. Sulitkah semua itu kita lakukan? Semua itu memang sulit untuk pertama kalinya. All beginning is difficult. Semua permulaan itu memang sulit. Tetapi, yakinlah bahwa semua itu dapat dilakukan jika kita memiliki kemauan. Dimana ada kemauan di situ ada jalan. Mudah-mudahan.

MATERI UJI KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH : MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH
08:04 Nurul Amaliah No comments Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

A. 1.

KONSEP MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

Pengantar Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah masih rendahnya mutu pendidikan dari sebagian sekolah khususnya sekolah dasar dan menengah di pedesaan, misalnya di pedalaman dan di perbatasan. Berbagai upaya telah dan sedang dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, misalnya pengembangan delapan (8) standar nasional pendidikan, alokasi dana pendidikan minimal 20% APBN dan APBD, sertifikasi pendidik beserta tunjangan profesinya, penerapan ujian nasional, peningkatan partisipasi masyarakat dalam pendidikan, dan sejumlah terobosan baru berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Namun demikian, mutu pendidikan nasional belum merata di seluruh tanah air. Sebagian sekolah, terutama di kota-kota, secara umum, menunjukkan peningkatan mutu pendidikan yang cukup menggembirakan, sebaliknya sebagian lainnya khususnya di pedesaan, masih memprihatinkan. Jadi, kesenjangan mutu pendidikan nasional masih cukup lebar. Berdasarkan kenyataan ini, berbagai pihak mempertanyakan: apa penyebab kesenjangan mutu pendidikan nasional yang masih lebar ini? Tentu saja jawabannya adalah banyak faktor yang menyebabkan lebarnya kesenjangan mutu pendidikan nasional, tiga diantaranya adalah: (1) penerapan pendekatan sistem secara parsial, (2) belum maksimalnya penerapan MBS, dan (3) rendahnya partisipasi warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan sekolah. Faktor pertama, penerapan pendekatan sistem dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah sering dilaksanakan secara parsial. Sekolah sebagai sistem terdiri dari konteks, input, proses, output, dan outcome. Dalam kenyataannya, pengembangan sekolah sering difokuskan pada input saja (guru, kurikulum, sarana dan prasarana, dana, dsb.), proses saja (proses belajar mengajar, penilaian hasil belajar, kepemimpinan sekolah, dsb.), atau output saja (nilai ujian nasional, perlombaan karya ilmiah, dsb.). Padahal, penyelenggaraan sekolah sebagai sistem harus dilakukan secara utuh, tidak parsial, apalagi parosial. Artinya, pengembangan sekolah secara sistem harus mencakup seluruh komponen sekolah secara utuh mulai dari konteks, input, proses, output, hingga sampai outcome. Faktor kedua, penyelenggaraan pendidikan nasional yang dilakukan secara birokratik-sentralistik telah menempatkan sekolah sebagai subordinasi yang sangat tergantung pada keputusan birokrasi diatasnya yang mempunyai jalur yang sangat panjang dan kadang-kadang kebijakan yang diberlakukan kurang sesuai dengan kondisi sekolah setempat. Karena sekolah lebih merupakan subordinasi dari birokrasi di atasnya, maka mereka kehilangan kemandiriannya, terpasung kreatifitasnya/inisiatifnya, rendah keluwesannya, rendah motivasinya, dan rendah keberanian moralnya untuk melakukan hal-hal baru yang diperlukan untuk memajukan sekolahnya. Faktor ketiga, peranserta warga sekolah khususnya guru, karyawan dan siswa serta peranserta masyarakat khususnya orangtua siswa dalam penyelenggaraan sekolah selama ini belum optimal. Partisipasi guru dalam pengambilan keputusan sering diabaikan, padahal terjadi atau tidaknya perubahan di sekolah sangat tergantung pada guru. Dikenalkan pembaruan apapun jika guru tidak berubah, maka tidak akan terjadi perubahan di sekolah tersebut. Partisipasi masyarakat selama ini pada umumnya sebatas pada dukungan dana, sedang dukungan-dukungan lain seperti pemikiran, moral, pisik, dan material belum optimal. Padahal, kesuksesan sekolah sangat memerlukan teamwork yang kompak, cerdas, dinamis, harmonis, dan lincah. Hal ini hanya akan terjadi apabila pertisipasi warga sekolah dan masyarakat maksimal. Partisipasi maksimal akan mampu meningkatkan rasa kepemilikan terhadap sekolah dan rasa kepemilikan akan meningkatkan dedikasi warga sekolah dan masyarakat terhadap sekolah. Berdasarkan ketiga faktor tersebut, tentu saja perlu dilakukan upaya-upaya penyampurnaan, salah satunya adalah mempertegas konsep dasar MBS dan memperkuat pelaksanaannya. Oleh karena itu, pembahasan MBS selanjutnya akan difokuskan pada: (1) landasan yuridis, (2) asumsi-asumsi diterapkannya MBS, (3) prakondisi yang diperlukan dalam penyelenggaraan MBS, (4) konsep dasar MBS yang meliputi: pola baru manajemen pendidikan masa depan, arti, tujuan,

maka sekolah akan lebih kreatif. Asumsi-asumsi Diterapkannya MBS MBS diterapkan dengan asumsi-asumsi sebagai berikut: 1. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah. 8. sekolah lebih mengetahui kekuatan. kelemahan. orangtua peserta didik. 4. Pasal 51. khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran dan tingkat perkembangan serta kebutuhan peserta didik.karakteristik MBS. 3. inisiatif. 3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan (khususnya yang terkait dengan MBS adalah Bab II. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan. dan 6. dan kepercayaan publik terhadap sekolah. pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan sekolah karena pihak sekolahlah yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi sekolahnya. 6. penggunaan sumberdaya pendidikan lebih efektif dan efisien jika dikontrol oleh warga sekolah dan masyarakat setempat. dengan pemberian otonomi yang lebih besar kepada sekolah. 3. sekolah lebih bertanggungjawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada pemerintah dan pemerintah daerah. akuntabilitas. 7. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (khususnya yang terkait dengan MBS adalah Bab VIII. peluang. Ayat (1). Pasal 49. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (khususnya yang terkait dengan MBS adalah Bab XIV. dan ancaman bagi dirinya sehingga dia dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya yang tersedia untuk memajukan sekolah. Ayat (1). dan urusan-urusan yang didesentralisasikan ke sekolah. transparansi. Pasal 3). maka sekolah akan lebih luwes dan lincah dalam mengadakan dan memanfaatkan sumberdaya secara optimal untuk meningkatkan mutu sekolah. 2. 2. 2. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 78 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Sekolah Bertaraf Internasional pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. 5. dan (5) pelaksanaan MBS. dan inovatif dalam meningkatkan kinerja sekolah. dan masyarakat pada umumnya sehingga . 5. dengan pemberian fleksibilitas/keluwesan-keluwesan yang lebih besar kepada sekolah untuk mengelola sumberdayanya. dedikasi. sekolah lebih mengetahui kebutuhannya. Landasan Yuridis Penerapan MBS dilandasi oleh peraturan perundang-undangan pendidikan nasional yang berlaku di Indonesia. yaitu: 1. Kelima bahasan tersebut akan diuraikan seperlunya pada bab-bab berikut. 4. keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan akan mampu meningkatkan rasa kepemilikan.

dikurangi atau ditambah sesuai dengan karakteristik sekolah dan masyarakat sekitarnya. Adapun prakondisi yang diperlukan untuk melaksanakan MBS adalah sebagai berikut. kultur sekolah juga harus siap dan kondusif untuk menghadapi tuntutan baru MBS. Prakondisi yang Diperlukan untuk Menyelenggarakan MBS Sekolah yang akan menerapkan MBS perlu menyiapkan persyaratan berikut. Oleh karena itu. Artinya. aspirasi masyarakat.sekolah akan berupaya semaksimal mungkin untuk melaksanakan dan mencapai sasaran mutu pendidikan yang telah direncanakan. demokrasi/egaliterisme pendidikan dapat ditumbuh kembangkan. Ketiga. 9. pengorganisasiannya. dan pemerintah daerah setempat. perlengkapan. dan 10. peralatan. Keempat. masyarakat sekitar dapat disadarkan akan pentingnya pendidikan. dan program yang jelas untuk menyelenggarakan MBS. Sekolah juga harus memiliki sumberdaya yang memadai. bukan prokemapanan. Pertama. pola hatinya (heart set). sekolah dapat secara cepat menanggapi perubahan. masyarakat sekitar. perbekalan. misalnya perencanaannya. dan lingkungan yang berubah dengan cepat. maupun pola tindakannya (action set). rencana. dan material/bahan. sekolah memiliki kemampuan mengarahkan dan membimbing warganya melalui penyusunan kebijakan. dan masyarakat sekitar melalui komite sekolah dapat digerakkan untuk mendukung MBS. 4. Sekolah yang hanya mampu memenuhi sebagian persyaratan. warga sekolah harus pro-perubahan. Persyaratan ini bukan dimaksudkan untuk menghambat sekolah yang tidak memenuhinya untuk melaksanakan MBS. Artinya. pelaksanaannya. persyaratan berikut bukan merupakan harga mati. akan tetapi lebih merupakan saran yang masih terbuka untuk dimodifikasi. sekolah harus mau melakukan restrukturisasi (perubahan) terhadap manajemen dan organisasinya agar akomodatif terhadap penerapan MBS. Ini semua dilakukan secara partisipatif oleh warga sekolah. sekolah sebagai institusi pendidikan juga harus siap untuk menerapkan MBS sebagaipola baru. Kedua. tetap bisa menerapkan MBS sambil melengkapi persyaratan yang belum dapat dipenuhi. musyawarah-mufakat dapat dilaksanakan. menjunjung tinggi hak asasi manusia. misalnya penghargaan terhadap perbedaan pendapat. pengkoordinasiannya. sekolah memiliki sistem tata kelola yang baik untuk mempromosikan partisipasi dan transparansi kepada warga sekolah dan masyarakat sekitar serta akuntabilitas sekolah terhadap publik sehingga sekolah akan merupakan bagian dari (milik) masyarakat dan bukannya sekolah yang berada di masyarakat. baik sumberdaya manusianya maupun sumberdaya selebihnya yaitu dana. Kelima. educable/trainable (mau diajak belajar/dilatih). baik pola pikirnya (mind set). . warga sekolah (sumberdaya manusianya) harus siap diajak untuk melakukan perubahan pada dirinya. tetapi lebih merupakan petunjuk penyiapan bagi sekolah-sekolah yang akan menerapkan MBS. dan pengontrolannya. sekolah akan mampu bersaing secara sehat dengan sekolah-sekolah lainnya dalam peningkatan mutu pendidikan melalui upaya-upaya kreatif dan inovatif yang didukung oleh orangtua siswa.

yang ditunjukkan oleh pemberian arah. Tabel 1 berikut menunjukkan dimensi-dimensi perubahan pola manajemen. pengaturan. Pola Baru Manajemen Pendidikan Masa Depan Bukti-bukti empirik lemahnya pola lama manajemen pendidikan nasional dan digulirkannya otonomi daerah telah mendorong dilakukannya penyesuaian diri dari pola lama manajemen pendidikan menuju pola baru manajemen pendidikan masa depan yang lebih bernuansa otonomi dan yang lebih demokratis. bimbingan. dari yang lama menuju ke yang baru. dukungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk menerapkan MBS cukup kuat. sekolah diberi kewenangan dan tanggungjawab yang lebih besar (otonomi) untuk menyelenggarakan sekolahnya. dan monitoring serta evaluasi yang diperlukan untuk kelancaran penyelenggaraan MBS. Lebih dari itu. Tabel 1: Dimensi-Dimensi Perubahan Pola Manajemen Pendidikan Pola Lama Subordinasi Pengambilan keputusan terpusat Ruang gerak kaku Pendekatan birokratik Sentralistik Diatur Overregulasi Mengontrol Mengarahkan Menghindari resiko Gunakan uang semuanya Individual yang cerdas Menuju ⇒⇒ ⇒⇒ Pola Baru Otonomi Pengambilan keputusan partisipatif Ruang gerak luwes Pendekatan professional Desentralistik Motivasi diri Deregulasi Mempengaruhi Memfasilitasi Mengelola resiko Gunakan uang seefisien mungkin Teamwork yang cerdas ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ . 5.Keenam.

ilmuwan. dari menghindari resiko menjadi mengolah resiko. Otonomi dapat diartikan sebagai kemandirian yaitu kemandirian dalam mengatur dan mengurus dirinya sendiri. Pada gilirannya. dan mendorong partisipasi secara langsung warga sekolah (guru.Pola Lama Informasi terpribadi Pendelegasian Organisasi herarkis Menuju ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ Pola Baru Informasi terbagi Pemberdayaan Organisasi datar Berikut dijelaskan secara singkat Tabel 1. pendekatan profesionalisme lebih diutamakan dari pada pendekatan birokrasi. perubahan sekolah lebih didorong oleh motivasi-diri sekolah dari pada diatur dari luar sekolah. pengambilan keputusan dilakukan secara partisipatif dan partsisipasi masyarakat makin besar. sekolah memiliki wewenang lebih besar dalam pengelolaan lembaganya. Arti MBS Secara umum. swakelola. Pada dasarnya. tokoh masyarakat. sekolah diberikan kewenangan dan tanggungjawab untuk mengambil keputusan-keputusan sesuai dengan kebutuhan. (Catatan: MBS tidak dibenarkan menyimpang dari peraturan perundang-undangan yang berlaku). Lebih rincinya. peranan pusat bergeser dari mengontrol menjadi mempengaruhi dan dari mengarahkan ke memfasilitasi. 6. misalnya swasembada. kemandirian yang berlangsung secara terus menerus akan menjamin kelangsungan hidup dan perkembangan sekolah (sustainabilitas). lebih mengutamakan pemberdayaan. pengelolaan sekolah lebih desentralistik.). Istilah otonomi juga sama dengan istilah “swa”. karyawan) dan masyarakat (orangtua siswa. manajemen berbasis sekolah (MBS) dapat diartikan sebagai model pengelolaan yang memberikan otonomi (kewenangan dan tanggungjawab)lebih besar kepada sekolah. kemandirian dalam program dan pendanaan merupakan tolok ukur utama kemandirian sekolah. untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional serta peraturan perundang-undangan yang berlaku. lebih mengutamakan teamwork. Pada Pola Lama. dan struktur organisasi lebih datar sehingga lebih efisien. pengusaha. tugas dan fungsi sekolah lebih pada melaksanakan program dari pada mengambil inisiatif merumuskan dan melaksanakan program peningkatan mutu yang dibuat sendiri oleh sekolah. sekolah lebih luwes dalam mengelola lembaganya. siswa. penggunaan uang lebih efisien karena sisa anggaran tahun ini dapat digunakan untuk anggaran tahun depan (efficiency-based budgeting). kemampuan dan tuntutan sekolah serta masyarakat atau stakeholder yang ada. dan sebagainya.informasi terbagi ke semua warga sekolah. . konsep dasar dan karakteristik MBS dapat diuraikan sebagai berikut. MBS dijiwai oleh pola baru manajemen pendidikan masa depan sebagaimana diilustrasikan pada Tabel 1. Dengan otonomi tersebut. swadana. Sedang pada Pola Baru. kepala sekolah. memberikan fleksibilitas/keluwesan-keluwesan kepada sekolah. regulasi pendidikan lebih sederhana.

cerdas dan dinamis. kemampuan berdemokrasi/menghargai perbedaan pendapat. makin besar pula dedikasinya. dan makin besar rasa tanggungjawab. kemampuan berkomunikasi dengan cara yang efektif. usahawan. dan demokrasi pendidikan. Tentu saja kemandirian yang dimaksud harus didukung oleh sejumlah kemampuan. Dengan kemandiriannya. Keterbukaan yang dimaksud adalah keterbukaan dalam program dan keuangan.swakarya. masyarakat dan pemerintah melalui pelaporan dan pertemuan yang dilakukan secara terbuka. dan kemampuan memenuhi kebutuhannya sendiri. akuntabilitas. kemampuan memecahkan persoalan-persoalan sekolah. Kerjasama yang dimaksud adalah adanya sikap dan perbuatan lahiriyah kebersamaan/kolektif untuk meningkatkan mutu sekolah. makin besar rasa memiliki. batas kewenangan. dan adanya kesadaran bersama bahwaoutput sekolah merupakan hasil kolektif teamwork yang kompak. makin besar pula rasa memiliki. dan evaluasi pendidikan yang diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan. Peningkatan partisipasi yang dimaksud adalah penciptaan lingkungan yang terbuka dan demokratik. lebih sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan/potensi yang dimiliki. hubungan sekolah dan masyarakat erat. dan demokrasi. dan swalayan. maka yang bersangkutan akan mempunyai “rasa memiliki” terhadap sekolah. dan relevansinya dengan tujuan partisipasi. yaitu kemampuan mengambil keputusan yang terbaik. kemampuan adaptif dan antisipatif. Partisipasi masyarakat terhadap penyelenggaraan sekolah telah diatur dalam suatu kelembagaan yang disebut dengan Komite Sekolah. Peningkatan partisipasi warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan sekolah akan mampu menciptakan keterbukaan. sekolah lebih berdaya dalam mengembangkan program-program yang. ilmuwan.) didorong untuk terlibat secara langsung dalam penyelenggaraan pendidikan. mulai dari pengambilan keputusan. kerjasama yang kuat. dan sebagainya. Kerjasama sekolah yang baik ditunjukkan oleh hubungan antar warga sekolah yang erat. di mana warga sekolah (guru. sekolah memiliki kewenangan dan tanggungjawab yang lebih besar dalam mengelola sekolahnya. Tentu saja pelibatan warga sekolah dalam penyelenggaraan sekolah harus mempertimbangkan keahlian. Komite Sekolah diharapkan menjadi mitra sekolah yang dapat mewadahi dan menyalurkan aspirasi serta prakarsa masyarakat dalam melahirkan kebijakan operasional dan program pendidikan di sekolah. pelaksanaan. makin besar pula rasa tanggungjawab. tokoh masyarakat. sekolah akan lebih lincah dalam mengelola dan memanfaatkan sumberdaya sekolah secara optimal. kemampuan memilih cara pelaksanaan yang terbaik. sehingga sekolah lebih mandiri. akuntabilitas. hak asasi manusia serta kewajibannya dalam rangka untuk meningkatkan mutu pendidikan. karyawan) dan masyarakat (orang tua siswa. Singkatnya: makin besar tingkat partisipasi. Dengan fleksibilitas/keluwesan-keluwesannya. Jadi otonomi sekolah adalah kewenangan sekolah untuk mengatur dan mengurus kepentingan warga sekolah menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi warga sekolah sesuai dengan peraturan perundang-undangan pendidikan nasional yang berlaku. kemampuan memobilisasi sumberdaya. Dengan otonomi yang lebih besar. Tugas dan fungsi Komite Sekolah antara lain mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap . Akuntabilitas sekolah adalah pertanggungjawaban sekolah kepada warga sekolahnya. Hal ini dilandasi oleh keyakinan bahwa jika seseorang dilibatkan (berpartisipasi) dalam penyelenggaraan pendidikan. Secara resmi keberadaan Komite Sekolah ditunjukkan melalui Surat Keputusan Mendiknas Nomor 044/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Dalam hal pembentukannya. siswa. Komite Sekolah menganut prinsip transparansi. Sedang demokrasi pendidikan adalah kebebasan yang terlembagakan melalui musyawarah dan mufakat dengan menghargai perbedaan. tentu saja. sehingga yang bersangkutan juga akan bertanggungjawab dan berdedikasi sepenuhnya untuk mencapai tujuan sekolah. kemampuan bersinergi dan berkolaborasi.

Dinas Pendidikan Provinsi. pemecahan masalah sekolah secara teamwork.penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. maka sekolah memiliki kemandirian lebih besar dalam mengelola sekolahnya (menetapkan sasaran peningkatan mutu. menghargai ideide. kontrol yang luwes. ulet. didengar. dan melakukan evaluasi pelaksanaan peningkatan mutu). kreatif dan inisiatf. dan warga sekolah diberlakukan sebagai manusia ciptaan-Nya yang memiliki martabat tertinggi. memiliki jiwa kewirausahaan tinggi (inovatif. dan Departemen Pendidikan Nasional) akan merupakan unit pendukung dan pelayan sekolah. pemberian tanggungjawab. Dengan kepemilikan ketiga hal ini. dan menggalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan. menyusun rencana peningkatan mutu. bagi sumberdaya manusia sekolah yang berdaya. dan pekerjaannya merupakan bagian hidupnya. sekolah akan lebih responsif dan lebih cepat dalam menanggapi segala tantangan yang dihadapi. sumberdaya yang dibutuhkan ada. pekerjaan yang bermakna. variasi tugas. pada umumnya. Selanjutnya. sedang unit-unit di atasnya (Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Fleksibilitas dapat diartikan sebagai keluwesan-keluwesan yang diberikan kepada sekolah untuk mengelola. komunikasi yang efektif. memiliki kontrol yang kuat terhadap input manajemen dan sumberdayanya. Dengan cara ini. memanfaatkan dan memberdayakan sumberdayanya. Namun demikian. Contoh tentang hal-hal yang dapat memandirikan/memberdayakan warga sekolah adalah: pemberian kewenangan. dan prestasi merupakan acuan bagi penilaiannya. keluwesan-keluwesan yang dimaksud harus tetap dalam koridor kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang ada. maka sekolah akan lebih lincah dan tidak harus menunggu arahan dari atasannya untuk mengelola. memiliki ciri-ciri: pekerjaan adalah miliknya. berani mengambil resiko. khususnya dalam pengelolaan peningkatan mutu. adaptif dan antisipatif/proaktif terhadap perubahan. ada pujian. memiliki fleksibilitas pengelolaan sumberdaya sekolah. dan sebagainya). kemampuan untuk mengukur kinerjanya sendiri. mediator dan pengontrol penyelenggaraan pendidikan di sekolah. mengetahui bahwa dia adalah bagian penting dari sekolah. memanfaatkan dan memberdayakan sumberdaya sekolah seoptimal mungkin untuk meningkatkan mutu sekolah. dia tahu posisinya di mana. Pendeknya. Selain itu. mendorong orangtua dan masyarakat berpartisipasi dalam pendidikan guna mendukung peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan. Sekolah yang mandiri memiliki ciri-ciri sebagai berikut: sifat ketergantungan rendah. Dengan keluwesan-keluwesan yang lebih besar diberikan kepada sekolah. pemberi pertimbangan. Tujuan MBS . dia bertanggungjawab. gigih. Dengan pengertian di atas. dan memiliki partisipasi yang lebih besar dari kelompok-kelompok yang berkepentingan dengan sekolah. Komite Sekolah diharapkan berperan sebagai pendukung. dukungan. memiliki kontrol yang kuat terhadap kondisi kerja. maka sekolah akan merupakan unit utama pengelolaan proses pendidikan. kepercayaan. melaksanakan rencana peningkatan mutu. Komite Sekolah juga dapat memberikan masukan dan pertimbangan kepada sekolah tentang kebijakan dan program pendidikan. 7. bertanggungjawab terhadap kinerja sekolah. tantangan. komitmen yang tinggi pada dirinya. pekerjaannya memiliki kontribusi. dia memiliki kontrol terhadap pekerjaannya. umpan balik bagus. hasil kerja yang terukur. rencana anggaran pendidikan dan belanja sekolah.

misalnya keingintahuan yang tinggi.MBS bertujuan untuk meningkatkan kinerja sekolah melalui pemberian kewenangan dan tanggungjawab yang lebih besar kepada sekolah yang dilaksanakan berdasarkan prinsipprinsip tata kelola sekolah yang baik yaitu partisipasi. prestasi olahraga. Fisika). mengingat output memiliki tingkat kepentingan tertinggi. Dalam menguraikan karakteristik MBS. Oleh karena itu. kedisiplinan. akhlak/budipekerti. Output prestasi akademik misalnya. output dapat diklasifikasikan menjadi dua. dan kepramukaan. uraian berikut dimulai dari output dan diakhiri input. cara-cara berpikir (kritis. lomba karya ilmiah remaja. dan ilmiah). kerjasama yang baik. dan inovasi pendidikan. dan output. maka sejumlah karakteristik MBS berikut perlu dimiliki. NUN/NUS. Jika MBS merupakan wadah/kerangkanya. efektivitas. akan tetapi lebih menekankan pada internalisasi tentang apayang diajarkan sehingga tertanam dan berfungsi sebagai muatan nurani dan dihayati (ethos) serta dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari oleh peserta didik . nalar. yang dikategorikan menjadi input. deduktif. 8. transparansi. sedang proses memiliki tingkat kepentingan satu tingkat lebih rendah dari output. sekolah diharapkan makin mampu dan berdaya dalam mengurus dan mengatur sekolahnya dengan tetap berpegang pada koridor-koridor kebijakan pendidikan nasional. a. harga diri.bukan sekadar penekanan pada penguasaan pengetahuan tentang apa yang diajarkan (logos). karakteristik MBS berikut memuat secara inklusif elemen-elemen sekolah efektif. Karakteristik MBS Manajemen Berbasis Sekolah memiliki karakteristik yang perlu dipahami oleh sekolah yang akan menerapkannya. proses. produktivitas. Dengan kata lain. kerajinan. dan sebagainya) . kesenian. PBM bukan sekadar memorisasi dan recall. Hal ini didasari oleh pengertian bahwa sekolah merupakan sistem sehingga penguraian karakteristik MBS (yang juga karakteristik sekolah efektif) mendasarkan pada input. Peningkatan kinerja sekolah yang dimaksud meliputi peningkatan kualitas. Berbicara karakteristik MBS tidak dapat dipisahkan dengan karakteristik sekolah efektif. perilaku sosial yang baik seperti misalnya bebas narkoba. Output yang Diharapkan Sekolah memiliki output yang diharapkan. kreatif/ divergen. yaitu output berupa prestasi akademik (academic achievement) dan output berupa prestasi non-akademik (non-academic achievement). dan akuntabilitas. Matematika. akuntabilitas. kejujuran. Pada umumnya. toleransi. maka sekolah efektif merupakan isinya. induktif. jika sekolah ingin sukses dalam menerapkan MBS. Dengan MBS. rasa kasih sayang yang tinggi terhadap sesama. solidaritas yang tinggi. Selanjutnya. pendekatan sistem yaitu input-prosesoutput digunakan untuk memandunya. Proses Sekolah yang efektif pada umumnya memiliki sejumlah karakteristik proses sebagai berikut: 1) Proses Belajar Mengajar yang Efektivitasnya Tinggi Sekolah yang menerapkan MBS memiliki efektivitas proses belajar mengajar (PBM) yang tinggi. Output sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan oleh proses pembelajaran dan manajemen di sekolah. lomba (Bahasa Inggris. b. transparansi. efisiensi. rasional. Output non-akademik. dan output. Ini ditunjukkan oleh sifat PBM yang menekankan pada pemberdayaan peserta didik. proses. dan input memiliki tingkat kepentingan dua tingkat lebih rendah dari output. Perlu digarisbawahi bahwa pencapaian tujuan MBS harus dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip tata kelola yang baik (partisipasi.

2) Kepemimpinan Sekolah yang Kuat Pada sekolah yang menerapkan MBS. belajar hidup bersama(learning to live together). pengelolaan tenaga kependidikan. dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be). tertib melalui pengupayaan faktor-faktor yang dapat menumbuhkan iklim tersebut. kepala sekolah memiliki peran yang kuat dalam mengkoordinasikan. kepala sekolah tangguh memiliki kemampuan memobilisasi sumberdaya sekolah. dan sasaran sekolahnya melalui programprogram yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap. terutama sumberdaya manusia. (f) atmosfir keadilan (fairness) harus ditanamkan. Karena itu. bukan untuk mengadili/mengontrol orang. pengembangan. tertib. (e) warga sekolah merasa aman terhadap pekerjaannya. Oleh karena itu. mulai dari analisis kebutuhan. Pendeknya. harus merupakan basis untuk kerjasama. dan menyerasikan semua sumberdaya pendidikan yang tersedia. 5) Sekolah Memiliki Budaya Mutu Budaya mutu tertanam di sanubari semua warga sekolah. sekolah yang efektif selalu menciptakan iklim sekolah yang aman. (g) imbal jasa harus sepadan dengan nilai pekerjaannya. nyaman. Budaya mutu memiliki elemen-elemen sebagai berikut: (a) informasi kualitas harus digunakan untuk perbaikan. misi. Terlebih-lebih pada pengembangan tenaga kependidikan. 6) Sekolah Memiliki “Teamwork” yang Kompak. (b) kewenangan harus sebatas tanggungjawab. dan Dinamis . hingga sampai pada imbal jasa. tujuan. tenaga kependidikan yang diperlukan untuk menyukseskan MBS adalah tenaga kependidikan yang mempunyai komitmen tinggi. belajar bekerja (learning to do). bukan kompetisi. dan nyaman sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan nyaman (enjoyable learning). 3) Lingkungan Sekolah yang Aman dan Tertib Sekolah memiliki lingkungan (iklim) belajar yang aman. ini harus dilakukan secara terusmenerus mengingat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedemikian pesat. perencanaan. peranan kepala sekolah sangat penting sekali. Oleh karena itu. untuk mencapai tujuan sekolah. PBM yang efektif juga lebih menekankan pada belajar mengetahui(learning to know). merupakan garapan penting bagi seorang kepala sekolah. terutama guru. merupakan jiwa dari sekolah. Dalam hal ini. kepala sekolah dituntut memiliki kemampuan manajemen dan kepemimpinan yang tangguh agar mampu mengambil keputusan dan inisiatif/prakarsa untuk meningkatkan mutu sekolah. Secara umum. Sekolah yang menerapkan MBS menyadari tentang hal ini. (c) hasil harus diikuti penghargaan (rewards) atau sanksi (punishment). selalu mampu dan sanggup menjalankan tugasnya dengan baik. evaluasi kinerja. Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah untuk dapat mewujudkan visi. Cerdas. Sekolah hanyalah merupakan wadah. hubungan kerja. menggerakkan. (d) kolaborasi dan sinergi. 4) Pengelolaan Tenaga Kependidikan yang Efektif Tenaga Kependidikan.(pathos). sehingga setiap perilaku selalu didasari oleh profesionalisme. dan (h) warga sekolah merasa memiliki sekolah.

kemapanan merupakan musuh sekolah. Tiada hari tanpa perbaikan. Perbaikan secara terus-menerus harus merupakan kebiasaan warga sekolah. Karena itu. 7) Sekolah Memiliki Kewenangan Sekolah memiliki kewenangan untuk melakukan yang terbaik bagi sekolahnya sehingga dituntut untuk memiliki kemampuan dan kesanggupan kerja yang tidak selalu menggantungkan pada atasan. Sistem mutu yang dimaksud harus mencakup struktur organisasi. 9) Sekolah Memiliki Keterbukaan (Transparansi) Manajemen Keterbukaan/transparansi dalam pengelolaan sekolah merupakan karakteristik sekolah yang menerapkan MBS. sistem mutu yang baku sebagai acuan bagi perbaikan harus ada. Oleh karena itu. Karena itu. perlengkapan. penggunaan uang. sekolah selalu membaca lingkungan dan menanggapinya secara cepat dan tepat. Tentu saja yang dimaksud perubahan adalah peningkatan. antar individu dalam sekolah. bukan hasil individual. Karena itu. baik sumberdaya manusia maupun sumberdaya selebihnya yaitu peralatan. 10) Sekolah Memiliki Kemauan untuk Berubah (psikologis dan pisik) Perubahan harus merupakan sesuatu yang menyenangkan bagi semua warga sekolah. setiap dilakukan perubahan. Untuk menjadi mandiri. budaya kerjasama antar fungsi dalam sekolah.Kebersamaan (teamwork) merupakan karakteristik yang dituntut oleh MBS. prosedur. sekolah tidak hanya mampu menyesuaikan terhadap . Sebaliknya. baik bersifat fisik maupun psikologis. fungsi evaluasi menjadi sangat penting dalam rangka meningkatkan mutu peserta didik dan mutu sekolah secara keseluruhan dan secara terus menerus. 8) Partisipasi yang Tinggi dari Warga Sekolah dan Masyarakat Sekolah yang menerapkan MBS memiliki karakteristik bahwa partisipasi warga sekolah dan masyarakat merupakan bagian kehidupannya. Artinya. 11) Sekolah Melakukan Evaluasi dan Perbaikan Secara Berkelanjutan Evaluasi belajar secara teratur bukan hanya ditujukan untuk mengetahui tingkat daya serap dan kemampuan peserta didik. dan sebagainya. Bahkan. tanggungjawab. perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. dan makin besar rasa tanggungjawab. Hal ini dilandasi oleh keyakinan bahwa makin tinggi tingkat partisipasi. proses dan sumberdaya untuk menerapkan manajemen mutu. dan bahan/material. perbekalan. tetapi yang terpenting adalah bagaimana memanfaatkan hasil evaluasi belajar tersebut untuk memperbaiki dan menyempurnakan proses belajar mengajar di sekolah. Keterbukaan/transparansi ini ditunjukkan dalam pengambilan keputusan. yang selalu melibatkan pihak-pihak terkait sebagai alat kontrol. makin besar rasa memiliki. harus merupakan kebiasaan hidup sehari-hari warga sekolah. 12) Sekolah Responsif dan Antisipatif terhadap Kebutuhan Sekolah selalu tanggap/responsif terhadap berbagai aspirasi yang muncul bagi peningkatan mutu. dana. karena output pendidikan merupakan hasil kolektif warga sekolah. makin besar rasa memiliki. makin besar pula rasa tanggungjawab. hasilnya diharapkan lebih baik dari sebelumnya (ada peningkatan) terutama mutu peserta didik. sekolah harus memiliki sumberdaya yang cukup untuk menjalankan tugas dan fungsinya. makin besar pula tingkat dedikasinya.

Jika berhasil. para orangtua siswa dan anggota masyarakat dapat memberikan penilaian apakah program ini dapat meningkatkan prestasi anak-anaknya secara individual dan kinerja sekolah secara keseluruhan. pelaksanaan. terutama antar warga sekolah. sehingga berbagai kegiatan sekolah dapat dilakukan secara merata oleh warga sekolah. Dengan cara ini. orangtua siswa. Jika kurang berhasil. pengkoordinasian. akan tetapi juga mampu mengantisipasi hal-hal yang mungkin bakal terjadi. sehingga menjadi faktor pendorong untuk terus meningkatkan kinerjanya di masa yang akan datang. adalah padanan kata yang tepat bagi istilah antisipatif. 15) Manajemen Lingkungan Hidup Sekolah Bagus Sekolah efektif melaksanakan manajemen lingkungan hidup sekolah secara efektif. Menjemput bola. dan masyarakat. 13) Memiliki Komunikasi yang Baik Sekolah yang efektif umumnya memiliki komunikasi yang baik. Jika berhasil. kompak. 16) Sekolah memiliki Kemampuan Menjaga Sustainabilitas Sekolah yang efektif juga memiliki kemampuan untuk menjaga kelangsungan hidupnya (sustainabilitasnya) baik dalam program maupun pendanaannya. dan pengevaluasian pendidikan kecakapan hidup (program adiwiyata) yang dikembangkan secara terus menerus dari waktu ke waktu. Demikian pula. Akuntabilitas ini berbentuk laporan prestasi yang dicapai dan dilaporkan kepada pemerintah. Sebaliknya jika program tidak berhasil. Dengan cara ini. pemerintah dapat menilai apakah program MBS telah mencapai tujuan yang dikendaki atau tidak. Sekolah . keterampilan dan kesadaran warga sekolah tentang nilai-nilai lingkungan hidup dan mampu mengubah perilaku dan sikap warga sekolah untuk menuju lingkungan hidup yang sehat. dan juga sekolah-masyarakat.perubahan/tuntutan. Sustainabilitas program dapat dilihat dari keberlanjutan program-program yang telah dirintis sebelumnya dan bahkan berkembang menjadi program-program baru yang belum pernah ada sebelumnya. Sekolah melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan pengetahuan. pengorganisasian. Sekolah memiliki perencanaan. maka orangtua peserta didik perlu memberikan semangat dan dorongan untuk peningkatan program yang akan datang. maka orangtua siswa dan masyarakat berhak meminta pertanggungjawaban dan penjelasan sekolah atas kegagalan program MBS yang telah dilakukan. maka sekolah tidak akan main-main dalam melaksanakan program pada tahun-tahun yang akan datang. maka pemerintah perlu memberikan teguran sebagai hukuman atas kinerjanya yang dianggap tidak memenuhi syarat. maka pemerintah perlu memberikan penghargaan kepada sekolah yang bersangkutan. komunikasi yang baik juga akan membentuk teamwork yang kuat. Selain itu. Sustainabilitas pendanaan dapat ditunjukkan oleh kemampuan sekolah dalam mempertahankan besarnya dana yang dimiliki dan bahkan makin besar jumlahnya. dan cerdas. maka keterpaduan semua kegiatan sekolah dapat diupayakan untuk mencapai tujuan dan sasaran sekolah yang telah dipatok. Berdasarkan laporan hasil program ini. sehingga kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh masing-masing warga sekolah dapat diketahui. 14) Sekolah Memiliki Akuntabilitas Akuntabilitas adalah bentuk pertanggungjawaban yang harus dilakukan sekolah terhadap keberhasilan program yang telah dilaksanakan.

akan tetapi sekolah yang bersangkutan dapat memanfaatkan keberadaan sumberdaya yang ada dilingkungan sekolahnya. c. sekolah yang menerapkan MBS harus memiliki tingkat kesiapan sumberdaya yang memadai untuk menjalankan proses pendidikan. Kebijakan. diperlukan kepala sekolah yang mampu memobilisasi sumberdaya yang ada di sekitarnya. dan pada gilirannya sasaran sekolah tidak akan tercapai. Secara umum. walaupun dengan segala keterbatasan sumberdaya pendidikan yang ada di sekolah. Tujuan. nggan (Khususnya Siswa) . segala sumberdaya yang diperlukan untuk menjalankan proses pendidikan harus tersedia dan dalam keadaan siap. tujuan. proses pendidikan di sekolah tidak akan berlangsung secara memadai. maka kepemilikan staf yang kompeten dan berdedikasi tinggi merupakan keharusan. tindakan. bahan.memiliki kemampuan menggali sumberdana dari masyarakat. 3) Staf yang Kompeten dan Berdedikasi Tinggi Meskipun pada butir (b) telah disinggung tentang ketersediaan dan kesiapan sumberdaya manusia (staf). dan sasaran mutu tersebut disosialisasikan kepada semua warga sekolah. namun pada butir ini perlu ditekankan lagi karena staf merupakan jiwa sekolah. kebiasaan. sehingga tertanam pemikiran. Karena itu. Kebijakan. dan sasaran sekolah yang berkaitan dengan mutu. dan Sasaran Mutu yang Jelas Secara formal. Sumberdaya dapat dikelompokkan menjadi dua. dan sebagainya) dengan penegasan bahwa sumberdaya lainnya tidak mempunyai arti apapun bagi perwujudan sasaran sekolah. hingga sampai pada kepemilikan karakter mutu oleh warga sekolah. peralatan. sedia dan Siap Sumberdaya merupakan input penting yang diperlukan untuk berlangsungnya proses pendidikan di sekolah. Ini bukan berarti bahwa sumberdaya yang ada harus mahal. yaitu sumberdaya manusia dan lainnya (uang. tanpa campur tangan sumberdaya manusia. bagi sekolah yang ingin efektivitasnya tinggi. Tanpa sumberdaya yang memadai. Harapan tinggi dari ketiga unsur sekolah ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan sekolah selalu dinamis untuk selalu menjadi lebih baik dari keadaan sebelumnya. tujuan. 4) Memiliki Harapan Prestasi yang Tinggi Sekolah yang menerapkan MBS mempunyai dorongan dan harapan yang tinggi untuk meningkatkan prestasi peserta didik dan sekolahnya. perlengkapan. sekolah menyatakan dengan jelas tentang keseluruhan kebijakan. dan sasaran mutu tersebut dinyatakan oleh kepala sekolah. Sedang peserta didik juga mempunyai motivasi untuk selalu meningkatkan diri untuk berprestasi sesuai dengan bakat dan kemampuannya. tujuan. Kepala sekolah memiliki komitmen dan motivasi yang kuat untuk meningkatkan mutu sekolah secara optimal. yaitu. Guru memiliki komitmen dan harapan yang tinggi bahwa anak didiknya dapat mencapai tingkat prestasi yang maksimal. Artinya. dan tidak sepenuhnya menggantungkan subsidi dari pemerintah bagi sekolah-sekolah negeri. Sekolah yang efektif pada umumnya memiliki staf yang mampu (kompeten) dan berdedikasi tinggi terhadap sekolahnya. Implikasinya jelas. Input Pendidikan an.

pembelajaran kooperatif. Artinya. Kelengkapan dan kejelasan input manajemen akan membantu kepala sekolah mengelola sekolahnya dengan efektif. semua input dan proses yang dikerahkan di sekolah tertuju utamanya untuk meningkatkan mutu dan kepuasan peserta didik. desentralisasi urusan-urusan pendidikan harus dalam koridor peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan sebagian urusan lainnya diserahkan ke sekolah. (d) pengelolaan ketenagaan. (e) pengelolaan peralatan dan perlengkapan.Dengan demikian. pembelajaran kuantum. program yang mendukung bagi pelaksanaan rencana. ketentuan-ketentuan (aturan main) yang jelas sebagai panduan bagi warga sekolahnya untuk bertindak. Berikut adalah urusan-urusan pendidikan yang sebagian menjadi kewenangan dan tanggungjawab sekolah. (g) pelayanan siswa. Secara lebih spesifik. strategi/metode/teknik pembelajaran dan pengajaran yang dipilih harus pro-perubahan yaitu yang mampu menumbuhkan dan mengembangkan daya kreasi. metode. (b) perencanaan dan evaluasi program sekolah. pemerintah propinsi. tidak semua urusan di desentralisasikan sepenuhnya ke sekolah. karakteristik guru. terutama siswa. Pengelolaan Proses Belajar Mengajar Proses belajar mengajar merupakan kegiatan utama sekolah. (c) pengelolaan kurikulum. sebagian urusan masih merupakan kewenangan dan tanggungjawab Pemerintah. (h) hubungan sekolah-masyarakat. Urusan-urusan yang Menjadi Kewenangan dan Tanggungjawab Sekolah Secara umum. dan teknikteknik pembelajaran dan pengajaran yang paling efektif. adalah contoh-contoh yang dimaksud dengan pembelajaran yang pro-perubahan. a. Perencanaan dan Evaluasi . Sekolah diberi kebebasan memilih strategi. harus merupakan fokus dari semua kegiatan sekolah. inovasi dan eksperimentasi peserta didik untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan baru. Kepala sekolah dalam mengatur dan mengurus sekolahnya menggunakan sejumlah input manajemen. Pembelajaran dan pengajaran kontekstual. Pemerintahan Daerah Provinsi. rencana yang rinci dan sistematis. pertanyaannya adalah: “Urusan-urusan apa sajakah yang perlu menjadi kewenangan dan tanggungjawab sekolah”? Pada dasarnya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urutan Pemerintahan antara Pemerintah. 1. Artinya. (f) pengelolaan keuangan. Perlu dicatat bahwa desentralisasi bukan berarti semua urusan di limpahkan ke sekolah. dan Pemerintahan Daerah kabupaten/Kota harus digunakan sebagai acuan dalam penyelenggaraan pendidikan. yaitu: (a) proses belajar mengajar. dan (i) pengelolaan kultur sekolah. pergeseran dimensi-dimensi pendidikan dari manajemen berbasis pusat menjadi manajemen berbasis sekolah telah diuraikan pada Butir A. n Sekolah yang menerapkan MBS memiliki input manajemen yang memadai untuk menjalankan roda sekolah. b. Secara umum. dan adanya sistem pengendalian mutu yang efektif dan efisien untuk meyakinkan agar sasaran yang telah disepakati dapat dicapai.Pelanggan. Konsekuensi logis dari ini semua adalah bahwa penyiapan input dan proses belajar mengajar harus benar-benar mewujudkan sosok utuh mutu dan kepuasan yang diharapkan dari siswa. Input manajemen yang dimaksud meliputi: tugas yang jelas. sesuai dengan karakteristik mata pelajaran. dan kondisi nyata sumberdaya yang tersedia di sekolah. karakteristik siswa. pemerintah kabupaten/kota.

) dapat dilakukan oleh sekolah. mulai dari pengadaan. baik kecukupan. mulai dari analisis kebutuhan. perencanaan. Hal ini didasari oleh kenyataan bahwa sekolahlah yang paling mengetahui kebutuhan fasilitas. apa yang diajarkan boleh dikembangkan agar lebih kontekstual dan selaras dengan karakteristik peserta didik. sekolah dibolehkan mendiversifikasi kurikulum. mutu. sampai evaluasi kinerja tenaga kerja sekolah (guru. Sekolah dapat mengembangkan (memperdalam. hadiah dan sangsi (reward and punishment). Berdasarkan hasil analisis kebutuhan tersebut. 23/2006. mutu. yang sampai saat ini masih ditangani oleh birokrasi di atasnya. yang seharusnya. sekolah juga diberi kebebasan untuk mengembangkan muatan local dan pengembangan diri. sehingga sumber keuangan tidak semata-mata tergantung pada pemerintah. dan sebagainya. relevansi. kebutuhan untuk meningkatkan pemerataan. dan efisiensi sekolah. sistem penilaian. f. Pengelolaan kurikulum yang dimaksud dinamakan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). namun tidak boleh mengurangi standar isi yang telah tertuang dalam Permendiknas 22/2006. dan 24/2006. c. pemeliharaan dan perbaikan. sekolah dipersilakan memilih cara-cara yang paling sesuai dengan kondisi masing-masing. sehingga desentralisasi pengalokasian/penggunaan uang sudah seharusnya dilimpahkan ke sekolah. Padahal kondisi sekolah pada umumnya sangat beragam. Pemerintah Pusat hanya menetapkan standar dan sekolah diharapkan mengoperasionalkan standar yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. Pengelolaan Fasilitas (Peralatan dan Perlengkapan) Pengelolaan fasilitas sudah seharusnya dilakukan oleh sekolah. terutama fasilitas yang sangat erat kaitannya secara langsung dengan proses belajar mengajar. h. terutama pengalokasian/penggunaan uang sudah sepantasnya dilakukan oleh sekolah. misalnya. Selanjutnya sekolah berhak mengembangkan KTSP ke dalam silabus. Hal ini juga didasari oleh kenyataan bahwa sekolahlah yang paling memahami kebutuhannya. Kebutuhan yang dimaksud. sekolah harus melakukan analisis kebutuhan pemerataan. laboran. e. proses pembelajaran. sekolah harus melakukan evaluasi. Dalam kondisi seperti ini. kesesuaian. Pengelolaan Keuangan Pengelolaan keuangan. mutu. Pelayanan Siswa . mendiversifikasi) kurikulum. Evaluasi diri harus jujur dan transparan agar benar-benar dapat mengungkap informasi yang sebenarnya. tenaga administrasi. memperluas. kemudian sekolah membuat rencana peningkatan pemerataan. rekrutmen. materi pokok pembelajaran. artinya. dan rencana pelaksanaan pembelajaran. Untuk itu. Oleh karena itu. memperkuat. maupun kemutakhirannya. hubungan kerja.Sekolah diberi kewenangan untuk menyusun rencana pengembangan sekolah (RPS) atau school-based plan sesuai dengan kebutuhannya. relevansi dan efisiensi sekolah. memperkaya. relevansi dan efisiensi sekolah. indikator kunci kinerja. Pengelolaan Ketenagaan (Pendidik dan Tenaga Kependidikan) Pengelolaan ketenagaan. Sekolah dibolehkan memperkaya mata pelajaran yang diajarkan. Evaluasi semacam ini sering disebut evaluasi diri. Evaluasi internal dilakukan oleh warga sekolah untuk memantau proses pelaksanaan dan untuk mengevaluasi hasil program-program yang telah dilaksanakan. Pengelolaan Kurikulum Saat ini telah terjadi desentralisasi sebagian pengelolaan kurikulum dari pemerintah pusat ke sekolah melalui Permendiknas 22/2006. d. hingga pengembangan. Demikian juga. apa yang diajarkan boleh diperluas dari yang harus. kecuali yang menyangkut pengupahan/imbal jasa dan rekrutmen guru pegawai negeri. dan yang dapat diajarkan. Sekolah juga harus diberi kebebasan untuk melakukan “kegiatan-kegiatan yang mendatangkan penghasilan” (income generating activities). khususnya evaluasi yang dilakukan secara internal. Selain itu. pengembangan. artinya.

tidak ada satu resep pelaksanaan MBS yang sama untuk diberlakukan ke semua sekolah.Pelayanan siswa. dan dukungan dari masyarakat terutama dukungan moral dan finansial. kriteria fasilitas pendidikan. pertimbangan. Tetapi satu hal yang perlu diperhatikan bahwa mengubah pendekatan manajemen berbasis pusat menjadi manajemen berbasis sekolah bukanlah merupakan proses sekali jadi dan bagus hasilnya (one-shot and quick-fix). Dalam MBS. melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap kebijakan/program/ penyelenggaraan dan keluaran pendidikan. sekali lagi. optimisme dan harapan/ekspektasi yang tinggi dari warga sekolah. peningkatan partisipasi warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. Oleh karena itu. Paling tidak. dalam arti yang sebenarnya. dan rekomendasi kepada sekolah mengenai kebijakan dan program pendidikan. yang diperlukan adalah peningkatan intensitas dan ekstensitasnya. hubungan sekolah-masyarakat dari dahulu sudah didesentralisasikan. mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu tinggi. Tugas dan fungsi komite sekolah dalam pelaksanaan MBS adalah: (1) memberi masukan. penempatan untuk melanjutkan sekolah atau untuk memasuki dunia kerja. i. B. Hubungan Sekolah-Masyarakat Esensi hubungan sekolah-masyarakat adalah untuk meningkatkan keterlibatan. Oleh karena itu. esensi MBS adalah peningkatan otonomi sekolah. RAPBS. Dalam arti yang sebenarnya. pengembangan/ pembinaan/pembimbingan. hingga sampai pada pengurusan alumni. Pengelolaan Kultur Sekolah Kultur sekolah (pisik dan nir-pisik) yang kondusif-akademik merupakan prasyarat bagi terselenggaranya proses belajar mengajar yang aktif. tuntutan. kepemilikan. ide. mulai dari penerimaan siswa baru. (2) mendorong orangtua siswa dan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pendidikan. Kultur sekolah sudah merupakan kewenangan dan tanggungjawab sekolah sehingga yang diperlukan adalah upaya-upaya yang lebih intensif dan ekstentif. kepedulian. Karena itu. PELAKSANAAN MBS A. dan kegiatan-kegiatan yang terpusat pada siswa (studentcentered activities) adalah contoh-contoh kultur sekolah yang dapat menumbuhkan semangat belajar siswa. dan berbagai kebutuhan pendidikan yang diajukan oleh masyarakat. Pengantar Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya. kesehatan sekolah. dan hal-hal lain yang terkait dengan pendidikan. sebenarnya dari dahulu memang sudah didesentralisasikan. efektif. dan peningkatan fleksibilitas pengelolaan sumberdaya sekolah. dan menampung dan menganalisis aspirasi. menggalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan pendidikan. kreatif. kriteria kinerja sekolah. akan tetapi merupakan proses yang berlangsung secara terus menerus dan melibatkan semua pihak yang berwenang dan bertanggungjawab dalam penyelenggaraan sekolah. Lingkungan sekolah yang aman dan tertib. kriteria pendidik dan tenaga kependidikan. Konsep ini membawa konsekuensi bahwa pelaksanaan MBS sudah sepantasnya menerapkan pendekatan “idiograpik” (membolehkan adanya keberbagaian cara melaksanakan MBS) dan bukan lagi menggunakan pendekatan “nomotetik” (cara melaksanakan MBS yang cenderung seragam/konformitas untuk semua sekolah). proses menuju MBS memerlukan perubahan empat hal pokok berikut: . inovatif. sekolah memiliki mitra yang mewakili masyarakat sekitarnya yang disebut komite sekolah. melakukan kerjasama dengan masyarakat. j. dan menyenangkan. yang dibutuhkan adalah peningkatan intensitas dan ekstensitas hubungan sekolahmasyarakat.

forum ilmiah. guru BK. wakil kepala sekolah. pejabat Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota.) melalui berbagai mekanisme. proaktif. sinergis. peraturan pemerintah. B. karyawan. siswa. budaya. pengawas. langkah pertama yang harus dilakukan oleh sekolah adalah mensosialiasikan konsep MBS kepada semua warga/unsur sekolah (guru. Karena itu struktur organisasi pendidikan yang ada saat ini perlu ditata kembali dan kemudian dianalisis hubungan antar unsur/pihak untuk menentukan sifat hubungan (direktif. baik undang-undang. budaya. dan sumberdaya baru yang diperlukan untuk menyelenggarakan MBS. Identifikasikan sistem. dan kenalkan sistem. budaya. garisgaris besar kegiatan sosialisasi/pembudayaan MBS dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: a. Tahap-tahap Pelaksanaan 1. kebiasaan (routines) berperilaku warga (unsur-unsur) sekolah perlu disesuaikan karena MBS menuntut kebiasaan-kebiasaan berperilaku baru yang mandiri. Baca dan pahamilah sistem. koordinatif/kooperatif. Dengan cara berpikir semacam ini. ketentuan-ketentuan. peraturan presiden. dan bagaimana). orangtua siswa. menjadi sekolah yang bersifat otonom dan mendudukkannya sebagai unit utama. sinkron. luwes. Secara umum. pejabat Dinas Pendidikan Provinsi. mengapa. Perubahan peran ini merupakan konsekuensi dari perubahan peraturan perundangundangan bidang pendidikan. hubungan antar warga (unsur-unsur) dalam sekolah. rapat kerja. dan sebagainya. maka semua unsur sekolah harus memahami konsep MBS (apa. c. perlu penyempurnaan peraturan-peraturan. yang penting diupayakan oleh kepala sekolah adalah “membaca” dan “membentuk” budaya MBS di sekolah masing-masing. Oleh karena itu. dan sumberdaya yang ada di sekolah secara cermat dan refleksikan kecocokannya dengan sistem. dan sumberdaya yang perlu diperkuat dan yang perlu diubah. dan sumberdaya yang cukup mendasar. pelatihan. kreatif. integratif. Buatlah komitmen secara rinci yang diketahui oleh semua unsur yang bertanggungjawab. simposium. dan kebijakankebijakan bidang pendidikan yang ada di daerah saat ini yang masih mendudukkan sekolah sebagai subordinasi birokrasi dinas pendidikan dan kedudukan sekolah bersifat marginal. diskusi. misalnya seminar. dan professional. Dalam melakukan sosialisasi MBS. budaya. Ketiga. jika terjadi perubahan sistem. Keempat.Pertama. antara sekolah dengan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan Dinas Pendidikan Provinsi perlu diperbaiki atas dasar jiwa otonomi. peran sekolah yang selama ini biasa diatur (mengikuti apa yang diputuskan oleh birokrat diatasnya) perlu disesuaikan menjadi sekolah yang bermotivasi-diri tinggi (selfmotivator). Melakukan Sosialisasi MBS Sekolah merupakan sistem yang terdiri dari unsur-unsur yang saling terkait dankarenanya hasil kegiatan pendidikan di sekolah merupakan hasil kolektif dari semua unsur sekolah. . dan media masa. dan sumberdaya baru yang diharapkan dapat mendukung penyelenggaraan MBS. koordinatif atau fasilitatif). b. lokakarya. budaya. Kedua.dan peraturan menteri.

dan program-program penyelenggaraan MBS. Aturan sekolah perlu dirumuskan kembali agar sesuai dengan tuntutan MBS yaitu otonomi. pemberi pertimbangan. tutor. misi. rencana. mediator.d. dst. dan program-program MBS yang telah disepakati. Kemitraan yang dapat menghasilkan teamwork yang kompak. dan program-program penyelenggaraan MBS dan doronglah sistem. yurisdiksi. Kemitraan penting untuk dilakukan karena disadari sepenuhnya bahwa hasil pendidikan sekolah merupakan hasil kolektif dari unsur-unsur terkait atau para pemangku kepentingan (stakeholders). pembimbing. f. Bekerjalah dengan semua unsur sekolah untuk mengklarifikasikan visi. dan kompetensi serta kompatibilitas tujuan yang akan dicapai. esensi MBS adalah peningkatan otonomi sekolah. Merumuskan Kembali Aturan Sekolah. dan partisipasi. kepala sekolah dengan kepala dinas pendidikan kabupaten/kota. tujuan. kepala sekolah dengan guru. Demikian juga. dan sumberdaya yang belum ada sekarang. pemberdaya. baik dari dalam maupun dari luar sekolah. sasaran. peran unsur-unsur sekolah. Pantaulah dan arahkan proses perubahan agar sesuai dengan visi. Kemitraan sekolah dengan masyarakat sekitarnya meliputi. Kemitraan dalam sekolah meliputi. Demikian juga. tujuan. sasaran. dan dinamis merupakan kartu trup bagi keberhasilan MBS. antara lain: kepala sekolah dengan komite sekolah. Garisbawahi prioritas sistem. Oleh karena itu. baik partisipasi dari warga sekolah maupun masyarakat di sekitarnya melalui perwakilan komite sekolah. 2. e. dan sumberdaya manusia yang mendukung penerapan MBS serta hargailah mereka (unsur-unsur) yang telah memberi contoh dalam penerapan MBS. Hadapilah “status quo” (resistensi) terhadap perubahan. sasaran. rencana. cerdas. upaya-upaya untuk meningkatkan kemitraan perlu ditempuh melalui: (1) pembuatan pedoman mengenai tatacara kemitraan. dan istilah-istilah lain yang sederajad dengan bahasa demokrasi. Istilah-istilah peran yang bersifat egaliter misalnya kepala sekolah dan guru sebagai fasilitator. mentor. pendukung. Memperbanyak Mitra Sekolah Seperti dikemukakan sebelumnya. siswa dengan siswa. Ini berarti bahwa jika MBS ingin sukses. budaya. budaya. misi. guru dengan guru. guru dengan siswa. publikasi. dst. peran masing-masing unsur sekolah perlu ditinjau kembali sesuai dengan tuntutan MBS yaitu demokratisasi sekolah. (2) melakukan advokasi. dan transparansi terhadap pemangku kepentingan. kebiasaan bertindak. fleksibilitas. Kebiasaan dan Hubungan antar Unsur-unsur Sekolah Pergeseran dari manajemen berbasis pusat (sentralistik) menuju manajemen berbasis sekolah memerlukan peninjauan kembali terhadap aturan sekolah. rencana. akan tetapi sangat diperlukan untuk mendukung visi. dan (3) melibatkan pemangku kepentingan sesuai dengan prinsip relevansi. Kebiasaan . guru dengan orangtua siswa. fleksibilitas dan peningkatan partisipasi dalam penyelenggaraan sekolah. Ini berarti bahwa peran-peran yang semula lebih bersifat otoriter perlu diubah agar menjadi egaliter. tujuan. 3. dan g. antara lain. dan hubungan antar unsur-unsur sekolah. kebiasaan-kebiasaan perilaku tergantung atasan dan menunggu perlu diubah menjadi berani mengambil prakarsa dan inisiatif. penyediaan sarana kemitraan dan saluran komunikasi. jangan menghindar dan jangan menarik darinya serta jelaskan mengapa diperlukan perubahan dari manajemen berbasis pusat menjadi MBS. Peran Unsur-unsur Sekolah. misi. sekolah harus memperbanyak mitra.

pengkoordinasian. pelaksanaan. hubungan fungsional. dan sebagainya. keadilan. lokakarya. pemberdayaan. 5. hubungan interaktif. pendidikan lingkungan hidup (program adiwiyata). Untuk itu. Penerapan tata kelola yang baik harus diupayakan oleh sekolah melalui berbagai cara seperti misalnya: pembuatan aturan main sekolah/pedoman tentang tatacara pelaksanaan prinsip-prinsip tata kelola yang baik. proses belajar mengajar.mengunggulkan kewenangan diubah menjadi kebiasaan melayani. penegakan hukum. kebiasaan melayani sistem sekolah diubah menjadi kebiasaan melayani siswa. penilaian. pendidik dan tenaga kependidikan. 4. publikasi. wawasan kedepan. efektivitas. penyediaan sarana untuk memfasilitasi pelaksanaan prinsip-prinsip tata kelola yang baik. Mengklarifikasi Fungsi dan Aspek Manajemen Sekolah Manajemen pendidikan umumnya dan manajemen sekolah khususnya merupakan pengelolaan institusi (sekolah) yang dilakukan dengan dan melalui pendidik dan tenaga kependidikan untuk mencapai tujuan sekolah secara efektif dan efisien. pengorganisasian. dan kepastian jaminan hukum. sarana dan prasarana. Fungsi-fungsi manajemen meliputi perencanaan. diskusi kelompok terfokus. pelaksanaan. termasuk komite sekolah dan dewan pendidikan. efisiensi. komite sekolah dan dewan pendidikan. koheren. akuntabilitas. pengembangan kapasitas (kemampuan dan kesanggupan) mereka perlu dilakukan melalui berbagai upaya. melakukan advokasi. dan terhindar dari duplikasi. seminar tentang praktek-praktek yang baik dan pelajaran yang dapat . dan sebagainya. hubungan sekolah-masyarakat. dan pengawasan/pengontrolan. tanggung jawab. dan bukannya hubungan yang semata-mata struktural (atasan dan bawahan). dan pemfasilitasian terhadap bawahan merupakan harus diunggulkan. Meningkatkan Kapasitas Sekolah MBS merupakan model baru bagi sekolah maupun dinas pendidikan kabupaten/kota. evaluasi.yang disesuaikan dengan konteks kebutuhan. 6. penanggulangan narkoba. demokrasi. Fungsi-fungsi manajemen dan urusan-urusan sekolah (digabung menjadi manajemen sekolah) tersebut perlu diklarifikasi secara bersamasama antara sekolah dan dinas pendidikan kabupaten/kota melalui pertemuan/forum untuk menemukan pembagian urusan-urusan tentang fungsi-fungsi manajemen dan urusan-urusan pendidikan yang menjadi kewenangan dan tanggungjawab sekolah dan dinas pendidikan kabupaten/kota. transparansi. kepekaan. konflik dan benturan antara sekolah dan dinas pendidikan. Menerapkan Prinsip-prinsip Tata Kelola yang Baik MBS akan berhasil dengan baik jika sekolah menerapkan prinsip-prinsip tata kelola yang baik sebagaimana disebut sebelumnya. prediktibilitas. MBS menuntut hubungan simbiosis. Dengan cara ini akan terbentuk pembagian manajemen pendidikan yang jelas. Berikut dipaparkan visualisasi matrik MBS (Tabel 3) untuk memudahkan sekolah dan dinas pendidikan dalam membagi urusan-urusan manajemen pendidikan yang menjadi kewenangan sekolah dan dinas pendidikan kabupaten/kota. dst. Urusan-urusan sekolah meliputi: kurikulum. relasi dengan para pemangku kepentingan. karakteristik dan kemampuan sekolah masing-masing. saling komplemen. Dua hal yang merupakan inti manajemen sekolah yaitu fungsi manajemen dan urusan sekolah. kesiswaan. profesionalisme. Pelayanan. Prinsip-prinsip tata kelola yang baik meliputi: partisipasi. komite sekolah. misalnya: (1) pemberian panduan-panduan tentang konsep MBS. keuangan. dan dewan pendidikan. (2) pelatihan. Hubungan antar unsur juga perlu disesuaikan dengan tuntutan MBS. bukan mengunggulkan kewenangan atasan terhadap bawahan.

tetapi disebar ke seluruh pemegang kepentingan sekolah. (3) studi banding ke sekolah yang sukses melaksanakan MBS. (4) menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. sangat penting bagi sekolah memilikiteamwork yang kompak. dan Memonitor serta Mengevaluasinya Sekolah pelaksana MBS diharapkan menyusun desain. dan sebagainya. seolah-olah kepala sekolah seperti raja. Melaksanakan. Semuanya tergantung kepala sekolah. meningkatkan efisiensi (internal dan eksternal). RPS/RKAS adalah dokumen tentang gambaran kegiatan sekolah dimasa depan dalam rangka untuk mencapai tujuan sekolah yang telah ditetapkan. Karena itu. dan berkeadilan dan berkelanjutan. Hasil dari perencanaan sekolah adalah RPS/RKAS. dan (6) menjamin tercapainya penggunaan sumberdaya secara efisien. kewenangan dan tanggung jawab dalam mengurus sekolah menumpuk pada kepala sekolah (one man show). dan pengawasan. makin tinggi pula tingkat keberhasilan MBS di sekolah yang bersangkutan. dan sinergi. Menyusun Rencana Pengembangan Sekolah (RPS/RKAS). untuk tidak disebut satu persatu. melalui urutan pilihan. 7. Tergantung dari kepentingan/kebutuhan. pelaksanaan. Perencanaan sekolah adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan sekolah yang tepat. penganggaran. Hasil evaluasi harus digunakan sebagai bahan masukan dalam rangka perbaikan desain RPS/RKAS maupun implementasinya.dipetik oleh sekolah-sekolah yang melaksanakan MBS. Dalam MBS. dan sektor-sektor pembangunan). melaksanakan dan melakukan evaluasi RPS/RKAS secara berkelanjutan setiap 5 tahun (renstra) dan rencana tahunan seperti Gambar 3 berikut. keluarga. meningkatkan relevansi pendidikan (relevansinya dengan kebutuhan peserta didik. Karena itu. RPS/RKAS disusun dengan tujuan untuk: (1) menjamin agar perubahan/tujuan sekolah yang telah ditetapkan dapat dicapai dengan tingkat kepastian yang tinggi dan resiko yang kecil. dan dinamis. output). seperti dikemukakan sebelumnya. (5) mengoptimalkan partisipasi warga sekolah dan masyarakat. RPS/RKAS penting dimiliki oleh sekolah untuk memberi arah dan bimbingan para pelaku sekolah dalam rangka untuk mencapai tujuan sekolah dengan resiko yang kecil dan mengurangi ketidakpastian masa depan. demokrasi merupakan jiwanya. dengan memperhitungkan sumberdaya yang tersedia. Dengan cara ini. efektif. kekuatan di sekolah tidak lagi semata-mata di satu pundak kepala sekolah. proses. a. cerdas. tetapi disebar/didistribusikan kepada para pemangku kepentingan pendidikan sekolah. baik antar pelaku sekolah. antar sekolah dan dinas pendidikan kabupaten/kota. sinkronisasi. sekolah dapat mengembangkan jenis-jenis RPS/RKAS untuk meningkatkan mutu (input. Meredistribusi Kewenangan dan Tanggung jawab Dalam era sentralistik. dan antar waktu. kekuatan bergeser dari satu orang (kepala sekolah) menuju ke kekuatan kolektif. Keberhasilan MBS sangat tergantung pada kesiapan kapasitas (kemampuan dan kesanggupan) sekolah. 8. (3) menjamin terciptanya integrasi. (2) mendukung koordinasi antar pelaku sekolah. kewenangan dan tanggung jawab tidak lagi semata-mata terpusat pada kepala sekolah. . masyarakat. Jadi. Menyusun Desain RPS/RKAS Sekolah yang melaksanakan MBS harus melakukan perencanaan sekolah dan menghasilkan RPS/RKAS. Makin tinggi tingkat kesiapan kapasitas sekolah dalam melaksanakan MBS.

Bilamana pada satu semester dinilai adanya faktor-faktor yang tidak mendukung. Rencana strategis sekolah pada umumnya mencakup perumusan visi. b. maka sekolah perlu mengambil langkah proaktif untuk mewujudkan sasaran-sasaran yang telah ditetapkan. Dengan demikian siswa dapat menguasai suatu materi pelajaran secara tuntas sebagai prasyarat dan dasar yang kuat untuk mempelajari tahapan pelajaran berikutnya yang lebih luas dan mendalam. c. Melaksanakan RPS/RKAS Dalam melaksanakan rencana peningkatan mutu pendidikan yang telah disetujui bersama antara sekolah. dan tonggak-tonggak kunci keberhasilan. Konsep ini menekankan pentingnya siswa menguasai materi pelajaran secara utuh dan bertahap sebelum melanjutkan ke pembelajaran topik-topik yang lain. rencana biaya. bimbingan. perumusan tujuan/sasaran satu tahun ke depan berdasarkan tantangan nyata yang dihadapi (tujuan situasional sekolah). menggunakan pengalaman-pengalaman masa lalu yang dianggap efektif. untuk mengetahui seberapa jauh program peningkatan mutu telah mencapai sasaran-sasaran mutu yang telah ditetapkan . Namun demikian. langkah-langkah pemecahan persoalan. sehingga kegiatan tidak mencapai sasaran.Sekolah harus membuat rencana pengembangan sekolah strategis (RPS/RKAS Strategis/Renstra) untuk jangka waktu 5 tahun ke depan dan rencana operasional/rencana tahunan sekolah (RPS/RKAS Tahunan) yang merupakan jabaran dari Renstra. dan masyarakat. Melakukan Monitoring dan Evaluasi RPS/RKAS Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program. Kepala sekolah dan guru bebas mengambil inisiatif dan kreatif dalam menjalankan program-program yang diproyeksikan dapat mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkan. dan penyusunan rencana dan program kerja tahunan sekolah. Karena itu. misi. sekolah perlu mengadakan evaluasi pelaksanaan program. program-program untuk mencapai tujuan satu tahun ke depan. sekolah harus dapat membebaskan diri dari keterikatan-keterikatan birokratis yang biasanya banyak menghambat penyelenggaraan pendidikan. maka sekolah harus dapat memperbaiki pelaksanaan program peningkatan mutu pada semester berikutnya. dan menggunakan teori-teori yang terbukti mampu meningkatkan kualitas pembelajaran. Kepala sekolah dan guru hendaknya mendayagunakan sumberdaya pendidikan yang tersedia semaksimal mungkin. rencana pemantauan dan evaluasi. analisis SWOT. dukungan. tujuan strategis sekolah. Evaluasi jangka pendek dilakukan setiap akhir catur wulan untuk mengetahui keberhasilan program secara bertahap. Evaluasi jangka menengah dilakukan pada setiap akhir tahun. sekolah hendaknya menerapkan konsep belajar tuntas (mastery learning). Rencana tahunan (alternatif 2) meliputi: identifikasi tantangan nyata yang dihadapi oleh sekolah. pemilihan urusan-urusan sekolah yang perlu dilibatkan untuk mencapai sasaran yang telah dirumuskan. monitoring dan evaluasi. dan tonggak-tonggak kunci keberhasilan satu tahun ke depan. orangtua siswa. bimbingan dan arahan jangan sampai membuat guru dan tenaga lainnya menjadi amat terkekang dalam melaksanakan kegiatan. Untuk menghindari berbagai penyimpangan. dan teguran kepada guru dan tenaga lainnya jika ada kegiatan yang tidak sesuai dengan jalur-jalur yang telah ditetapkan. rencana biaya. Kepala sekolah sebagai manajer dan pemimpin pendidikan di sekolahnya berhak dan perlu memberikan arahan. strategi pelaksanaan. baik jangka pendek maupun jangka panjang. program-program strategis. Dalam melaksanakan proses pembelajaran. kepala sekolah perlu melakukan supervisi dan monitoring terhadap kegiatan-kegiatan peningkatan mutu yang dilakukan di sekolah. Sedangkan rencana tahunan sekolah pada umumnya (alternatif 1): meliputi tujuan yang akan dicapai satu tahun ke depan. rencana pelaksanaan.

selanjutnya disingkat Direktorat Pembinaan) mempunyai tugas dan fungsi menyusun norma-norma (peraturan perundang-undangan). Yang perlu disepakati adalah indikator apa saja yang perlu ditetapkan sebelum penilaian dilakukan. standar. implementasi. Khusus untuk kebijakan. sedang birokrasi dan unsurunsur lainnya merupakan unit pelayanan pendukung. sudah harus dikurangi dan dikembangkan menjadi pola pikir manajemen baru yang lebih menekankan pada otonomi. Seiring dengan diberlakukannya Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan (Bidang Pendidikan) antara Pemerintah. dan oneman-show dalam pengambilan keputusan. dan pengambilan keputusan partisipatif. Dengan evaluasi ini akan diketahui kekuatan dan kelemahan program untuk diperbaiki pada tahun-tahun berikutnya. rinciannya sebagai berikut: (1) pada tataran formulasi dan penetapan kebijakan. d. walaupun pihak sekolah menganggapnya cukup berhasil. 1). dan Pemerintah Kabupaten/Kota (selanjutnya disingkat PP 38/2007). Direktorat Pembinaan mempunyai tugas dan fungsi mensosialisasikan MBS ke seluruh daerah melalui Dinas Pendidikan Propinsi/Kabupaten/Kota. SMP. sedang laporan keuangan meliputi penggunaan uang serta pertanggungjawabannya. Sebagai bentuk pertanggungjawaban (akuntabilitas). SMP. SMA. dan kebijakan. orangtua siswa dan yayasan (bagi sekolah swasta). SMK) Secara umum. (2) pada tataran implementasi kebijakan. Direktorat Pembinaan Sekolah (SD. Karena itu pola pikir manajemen lama yang lebih menekankan pada subordinasi. yaitu dari pola manajemen lama (sentralistik) menuju ke pola manajemen baru (desentralistik) memerlukan perumusan kembali tugas dan fungsi jajaran birokrasi. motivasi-diri. khususnya guru dan tenaga lainnya agar mereka dapat menjiwai setiap penilaian yang dilakukan dan memberikan alternatif pemecahan.sebelumnya. orangtua peserta didik dan masyarakat sebagai pihak eksternal harus dilibatkan untuk menilai keberhasilan program yang telah dilaksanakan. Dengan demikian. prosedur. baik pada tataran formulasi/penetapan. SMA. Dari uraian konsep MBS disebutkan bahwa pola manajemen baru lebih menekankan pada pemandirian dan pemberdayaan sekolah. dinas pendidikan kabupaten/kota. pengaturan. maka pendapatan tambahan tersebut harus juga dilaporkan. Direktorat Pembinaan Sekolah (SD. maupun evaluasinya pada tingkat nasional. kriteria. Direktorat Pembinaan mempunyai tugas dan fungsi memformulasikan/menetapkan kebijakan dan strategi pengelolaan MBS melalui penyusunan dan penerbitan buku panduan MBS. komite sekolah. pengontrolan. (3) memfasilitasi . kepala sekolah harus mengikutsertakan setiap unsur yang terlibat dalam program. pengarahan. Dalam melaksanakan evaluasi. maka laporan harus dikirim kepada pengawas. dan menetapkan standar MBS sebagai patokan yang berlaku secara nasional. Suatu hal yang bisa terjadi bahwa orang tua peserta didik dan masyarakat menilai suatu program gagal atau kurang berhasil. maka tugas dan fungsi masing-masing jajaran birokrasi pendidikan dalam penyelenggaraan MBS dapat dituliskan sebagai berikut. Laporan teknis menyangkut program pelaksanaan dan hasil MBS. Ini memiliki arti bahwa sekolah merupakan unit utama kegiatan pendidikan. Pemerintah Propinsi. bantuan. Hasil evaluasi pelaksanaan MBS perlu dibuat laporan yang terdiri dari laporan teknis dan keuangan. sekolah mengetahui bagaimana sudut pandang pihak luar bila dibandingkan dengan hasil penilaian internal. fasilitasi. Tugas dan Fungsi Jajaran Birokrasi Konsekuensi logis dari perubahan penyelenggaraan pendidikan. Jika sekolah melakukan upaya-upaya penambahan pendapatan (income generating activities). Demikian pula. SMK.

b) Membimbing sekolah dalam menerapkan MBS melalui berbagai cara seperti pelatihan. 3). antara lain: (1) menyusun petunjuk teknis pelaksanaan dan petunjuk teknis monitoring dan evaluasi berdasarkan pedoman yang ditetapkan pemerintah pusat. (3) melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan MBS serta pengembangannya di Provinsi masing-masing. prasarana dan sarana pendidikan. e) Memberikan pelayanan pengelolaan atas satuan pendidikan negeri dan swasta di Kabupaten/Kota masing-masing berkaitan dengan pelaksanaan MBS. dana pendidikan. Sekolah . yaitu yang mampu menjaga harmonisme antara prinsip-prinsip MBS dan kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah daerah khususnya pendanaan dari masyarakat sehingga tidak terjadi konflik apalagi benturan. d) Memfasilitasi pengimbasan praktek-praktek MBS yang baik (best practices)dari sekolah tertentu ke sekolah-sekolah lain untuk dijadikan lessons learned. (2) memberi pelatihan kepada para pengembang MBS di tingkat kabupaten. g) Melaksanakan pembinaan dan pengurusan atas tenaga pendidik yang bertugas pada satuan pendidikan di Kabupaten/Kota berkaitan dengan pelaksanaan MBS. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota menjalankan tugas dan fungsinya sebagai berikut: a) Menyusun kebijakan yang mendukung pelaksanaan MBS. Direktorat Pembinaan mempunyai tugas dan fungsi melakukan monitoring dan evaluasi penyelenggaraan MBS secara nasional dan menerbitkan informasi secara berkala.dan mengembangkan kapasitas daerah agar mampu dan sanggup melaksanakan MBS. Lebih spesifiknya. buku pelajaran. baik secara elektronik dan/atau non-elektronik tentang perkembangan konsep dan hasil pelaksanaan MBS secara nasional dan praktek-praktek yang baik yang dapat dipetik untuk memperbaiki konsep maupun pelaksanaan MBS. dan (4) mengkoordinasikan dan menyerasikan pelaksanaan MBS lintas kabupaten/kota untuk menghindari penyimpangan MBS dan menghindari kesenjangan mutu pendidikan lintas kabupaten/kota. dan h) Melaksanakan monitoring dan evaluasi penyelenggaraan MBS untuk perbaikan. Dinas Pendidikan Provinsi Secara umum. 4). tugas dan fungsi Dinas Pendidikan Provinsi adalah menjabarkan kebijakan dan strategi MBS yang telah digariskan oleh Direktorat Pembinaan untuk diberlakukan di Provinsi masing-masing. pemberian pedoman/petunjuk pelaksanaan MBS. c) Menyusun pembagian urusan pendidikan yang menjadi kewenangan dan tanggungjawab Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan Sekolah. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota menjalankan tugas dan fungsi utamanyamemberikan pelayanan dalam pengelolaan satuan pendidikan di Kabupaten/Kota masing-masing yang menjalankan MBS. f) Memberikan pelayanan terhadap sekolah dalam mengelola aset/sumberdaya pendidikan yang meliputi tenaga guru. dan sebagainya. 2). dan (3) pada tataran evaluasi kebijakan. dan pertemuan-pertemuan yang memfasilitasi pelaksanaan MBS.

dan Yayasan (bagi sekolah swasta). c) Melaksanakan MBS secara efektif dan efisien dengan menerapkan prinsip-prinsip total quality management (fokus pada pelanggan. f) Menyusun laporan penyelenggaraan MBS beserta hasilnya secara lengkap untuk disampaikan kepada pihak-pihak terkait yaitu Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. dan tokoh masyarakat. (3) menggalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan pendidikan. Komite Sekolah. wakil orangtua siswa. dan (7) menampung dan menganalisis aspirasi. kriteria kinerja sekolah. (5) melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap kebijakan/program/penyelenggaraan dan keluaran pendidikan. Hasil evaluasi ini kemudian digunakan untuk menentukan sasaran baru program MBS tahun. maka sekolah menjalankan tugas dan fungsinya sebagai berikut: a) Menyusun rencana dan program pelaksanaan MBS dengan melibatkan kelompok-kelompok kepentingan. TATA KELOLA YANG BAIK A. saling terkait. e) Pada setiap akhir tahun ajaran melakukan evaluasi untuk menilai tingkat ketercapaian sasaran program MBS yang telah ditetapkan.Tugas dan fungsi utama sekolah adalah mengelola penyelenggaraan MBS di sekolah masing-masing. dan rekomendasi kepada sekolah mengenai kebijakan dan program pendidikan. guru. d) Melaksanakan pengawasan dan pembimbingan dalam pelaksanaan MBS sehingga kejituan implementasi dapat dijamin untuk mencapai sasaran MBS. 5). dan g) Mempertanggung jawabkan hasil penyelenggaraan MBS kepada pihak-pihak yang berkepentingan dengan sekolah yaitu Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. kriteria pendidik dan tenaga kependidikan. tata usaha). Komite Sekolah Tugas dan fungsi utama Komite Sekolah dalam pelaksanaan MBS di sekolah adalah: (1) memberi masukan. RAPBS.tahun berikutnya. wakil pemerintah. wakil siswa (OSIS). dan terpadu). dan berbagai kebutuhan pendidikan yang diajukan oleh masyarakat. dan hal-hal lain yang terkait dengan pendidikan. kriteria fasilitas pendidikan. dan keterlibatan total warga sekolah dalam meningkatkan mutu sekolah) dan berpikir sistem (berpikir holistik/tidak parsial. b) Mengkoordinasikan dan menyerasikan segala sumber daya yang ada di sekolah dan di luar sekolah untuk mencapai sasaran MBS yang telah ditetapkan. ide. pertimbangan. (2) mendorong orangtua siswa dan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pendidikan. antara lain: wakil sekolah (kepala sekolah. Komite Sekolah. perbaikan secara terus-menerus. Pengantar . wakil kepala sekolah. wakil organisasi profesi. Mengingat sekolah merupakan unit utama dan terdepan dalam penyelenggaraan MBS. (4) mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu tinggi. Pengawas Sekolah. C. dan Yayasan (bagi sekolah swasta). (6) melakukan kerjasama dengan masyarakat. tuntutan.

prediktif. efektivitas. perencanaan. dan makin besar rasa tanggungjawab. hukum dilaksanakan dengan baik. Dengan partisipasi aktif diharapkan mampu menjadikan aspirasi stakeholders sebagai panglima karena dengan MBS diharapkan mampu mengalirkan kekuasaan dari pemerintah pusat dan dinas . makin besar rasa memiliki. peka terhadap aspirasi stakeholders. Peningkatan partisipasi dilandasi oleh keyakinan bahwa makin tinggi tingkat partisipasi. dalam pengambilan keputusan. Inilah pentingnya partisipasi bagi sekolah. maupun warga di luar sekolah seperti orang tua siswa. transparansi. Partisipasi a. Diharapkan. Pergeseran lokus kebijakan dari pemerintah pusat dan dari dinas pendidikan ke sekolah diharapkan proses pengambilan keputusan. pengawasan/ pengevaluasian pendidikan sekolah. efisiensi. Untuk itu. Latar Belakang Salah satu alasan penerapan MBS adalah untuk membuat kebijakan/keputusan sekolah lebih dekat dengan stakeholders sehingga hasilnya benar-benar mencerminkan aspirasi stakeholders. perencanaan. Tata kelola yang lainnya tidak akan diuraikan dalam materi pelatihan ini karena terbatasnya waktu pelatihan. Para pembaca dipersilahkan mempelajari prinsip-prinsip tata kelola yang tidak dibahas dalam materi pelatihan ini dari sumber-sumber lain. akuntabilitas. pembuatan kebijakan. berwawasan ke depan. Komite Sekolah merupakan wadah formal bagi stakeholders untuk berpartisipasi secara langsung maupun tidak langsung dalam penyelenggaraan sekolah. tetapi hanya tiga tata kelola pertama yang diuraikan yaitu partisipasi. Uraian 1. dan akuntabilitas. Arti Partisipasi Partisipasi adalah proses di mana stakeholders (warga sekolah dan masyarakat) terlibat aktif baik secara individual maupun kolektif. pelaksanaan. pelaksanaan. transparansi. dalam MBS. pembuatan kebijakan. secara langsung maupun tidak langsung. secara langsung maupun tidak langsung. tokoh masyarakat. B. Saat ini. dan pasti dalam penjaminan mutu. pelaksanaan. dan tenaga-tenaga kependidikan lainnya.Seperti disebut sebelumnya. Namun. akademisi. sekolah diberi otonomi (kewenangan dan tanggung jawab) yang lebih besar untuk mengelola sekolahnya. dan pihak-pihak lain yang mewakili masyarakat yang diwadahi melalui komite sekolah. pembuatan kebijakan. partisipasi dapat mendorong warga sekolah dan masyarakat sekitar untuk menggunakan haknya dalam menyampaikan pendapat dalam proses pengambilan keputusan. MBS mensyaratkan adanya partisipasi aktif dari semua pihak yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan di sekolah (stakeholders). makin besar pula tingkat dedikasi/kontribusinya terhadap sekolah. demokrasi/egaliterisme. Dalam materi pelatihan ini tidak semua prinsip-prinsip tata kelola ditulis dan disampaikan. b. dan pengawasan/ pengevaluasian pendidikan lebih partisipatif dan benar-benar mengabdi kepada kepentingan publik dan bukan pada kepentingan elite birokrasi dan politik. makin besar rasa memiliki. baik warga sekolah seperti guru. siswa. kewenangan dan tanggung jawab yang lebih besar hanya dapat dilaksanakan dengan baik apabila sekolah menerapkan prinsip-prinsip tata kelola yang baik yaitu partisipasi. perencanaan. keadilan. pengawasan/pengevaluasian yang menyangkut kepentingan sekolah. kepala sekolah. makin besar pula rasa tanggungjawab. baik secara individual maupun kolektif.

batas-batas yurisdiksinya. komunikasi. finansial. publikasi. pembuatan kebijakan. . upaya-upaya yang perlu dilakukan oleh sekolah dalam rangka meningkatkan partisipasi stakeholders adalah sebagai berikut. keterampilan). (4) Meningkatnya kualitas dan kuantitas masukan (kritik dan saran) untuk peningkatan mutu pendidikan. perencanaan. Upaya-Upaya Peningkatan Partisipasi Untuk mencapai tujuan tersebut. Indikator Keberhasilan Partisipasi Keberhasilan peningkatan partisipasi stakeholders dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah dapat diukur dengan beberapa indikator berikut: (1) (2) Kontribusi/dedikasi stakeholders meningkat dalam hal jasa (pemikiran. temu wicara. Tujuan Partisipasi Tujuan utama peningkatan partisipasi adalah untuk: (1) meningkatkan dedikasi/ kontribusi stakeholders terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah. (2) (3) (4) e. dan pengawasan/ pengevaluasian pendidikan di sekolah. dan material/barang. moral. (3) Meningkatnya tanggungjawab stakeholders terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah. and education provider. terutama menyangkut kewibawaan dan kebersihan. keterampilan). dan material/barang. kompetensinya. Meningkatnya kepercayaan stakeholders kepada sekolah. pelaksanaan. finansial. yang sebenarnya sangat strategis karena pada level inilah keputusan dapat memperbaiki mutu pendidikan. controller. dan pengawasan/pengevaluasian pendidikan di sekolah. (2) memberdayakan kemampuan yang ada pada stakeholders bagi pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. d. (3) meningkatkan peranstakeholders dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Melakukan advokasi.pendidikan ke tangan para pengelola sekolah. perencanaan. baik sebagai advisor. Menyediakan sarana partisipasi atau saluran komunikasi agar stakeholdersdapat mengutarakan pendapatnya atau dapat mengekspresikan keinginan dan aspirasinya melalui pertemuan umum. partisipasi secara aktif dalam proses pengambilan keputusan. moral. (1) Membuat peraturan dan pedoman sekolah yang dapat menjamin hak stakeholders untuk menyampaikan pendapat dalam segala proses pengambilan keputusan. konsultasi. Melibatkan stakeholders secara proporsional dengan mempertimbangkan relevansi pelibatannya. c. supporter. dan (4) menjamin agar setiap keputusan dan kebijakan yang diambil benar-benar mencerminkan aspirasi stakeholders dan menjadikan aspirasi stakeholderssebagai panglima bagi penyelenggaraan pendidikan di sekolah. pelaksanaan. dan transparansi kepadastakeholders. pembuatan kebijakan. mediator. (5) Meningkatnya kepedulian stakeholders terhadap setiap langkah yang dilakukan oleh sekolah untuk meningkatkan mutu. dan kompatibilitas tujuan yang akan dicapainya. penyampaian pendapat secara tertulis. resource linker. baik dalam bentuk jasa (pemikiran/intelektualitas.

Kebebasan memperoleh informasi sekolah dapat dicapai jika dokumentasi informasi sekolah tersedia secara mutakhir. istilah transparansi sangatlah jelas yaitu kepolosan. Ini berarti bahwa sekolah harus memberikan informasi yang benar kepada publik. transparansi penuh menyaratkan bahwa perubahan itu harus diungkapkan secara sebenarnya dan dengan segera kepada semua pihak yang terkait (stakeholders). Mengingat sekolah adalah organisasi pelayanan publik. tidak bohong. Hak publik atas informasi yang harus diberikan oleh sekolah antara lain: hak untuk mengetahui. d. Transparansi menjamin bahwa data sekolah yang dilaporkan mencerminkan realitas. Arti Transparansi Transparansi sekolah adalah keadaan di mana setiap orang yang terkait dengan kepentingan pendidikan dapat mengetahui proses dan hasil pengambilan keputusan dan kebijakan sekolah. jujur. Transparansi dicapai melalui kemudahan dan kebebasan publik untuk memperoleh informasi dari sekolah. hak untuk menghadiri pertemuan sekolah. Upaya-Upaya Peningkatan Transparansi . Bagi publik. maka sekolah harus transparan kepada publik mengenai proses dan hasil pendidikan yang dicapai. transparansi bukan lagi merupakan kebutuhan tetapi hak yang harus diberikan oleh sekolah sebagai organisasi pelayanan pendidikan. hak untuk diinformasikan tanpa harus ada permintaan. Dengan transparansi yang tinggi. Jika terdapat perubahan pada status data dalam laporan suatu sekolah. Oleh karena itu. dan hak untuk menyebarluaskan informasi. Tujuan Transparansi Pengembangan transparansi ditujukan untuk membangun kepercayaan dan keyakinan publik kepada sekolah bahwa sekolah adalah organisasi pelayanan pendidikan yang bersih dan berwibawa. b. apa adanya. dan terbuka terhadap publik tentang apa yang dikerjakan oleh sekolah. c. . Transparansi a. 2. hak untuk mendapatkan salinan informasi.(6) Keputusan-keputusan yang dibuat oleh sekolah benar-benar mengekspresikan aspirasi dan pendapat stakeholders dan mampu meningkatkan kualitas pendidikan. baik kualitas maupun kuantitas Pengembangan transparansi sangat diperlukan untuk membangun keyakinan dan kepercayaan publik kepada sekolah. publik tidak lagi curiga terhadap sekolah dan karenanya keyakinan dan kepercayaan publik terhadap sekolah juga tinggi. tidak curang. Latar Belakang Sekolah adalah organisasi pelayanan yang diberi mandat oleh publik untuk menyelenggarakan pendidikan sebaik-baiknya. Transparansi bertujuan untuk menciptakan kepercayaan timbal balik antara sekolah dan publik melalui penyediaan informasi yang memadai dan menjamin kemudahan dalam memperoleh informasi yang akurat. Dalam konteks pendidikan. sekolah harus memberikan jaminan kepada publik terhadap akses informasi sekolah atau kebebasan memperoleh informasi sekolah. Bersih dalam arti tidak KKN dan berwibawa dalam arti profesional.

fasilitas database. (3) bertambahnya wawasan dan pengetahuan publik terhadap penyelenggaraan sekolah. mengelola. Akuntabilitas kinerja sekolah adalah perwujudan kewajiban sekolah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan/kegagalan pelaksanaan rencana sekolah dalam . Untuk itu. b. hak diinformasikan. newsletter. Sekolah perlu mengupayakan peraturan yang menjamin hak publik untuk mendapatkan informasi sekolah. pengumuman melalui surat kabar) maupun media elektronik (radio dan televisi lokal). e. dan (4) berkurangnya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku di sekolah. publik mempunyai hak untuk memberikan masukan. Ini berarti. Akuntabilitas a. Dalam kaitannya dengan akuntabilitas. dan petunjuk penyebarluasan produk-produk dan informasi yang ada di sekolah maupun prosedur pengaduan. durasi waktu untuk mendapatkan informasi. baik secara langsung melalui temu wicara. Latar Belakang MBS memberi kewenangan yang lebih besar kepada penyelenggara sekolah yaitu kewenangan untuk mengatur dan mengurus sekolah. Publik sebagai pemberi mandat dapat memberi penilaian terhadap penyelenggara sekolah apakah pelaksanaan mandat dilakukan secara memuaskan atau tidak. memimpin. bagaimana cara mendapatkan informasi. (2) meningkatnya partisipasi publik terhadap penyelenggaraan sekolah. mengambil keputusan. Agar penyelenggara sekolah tidak sewenang-wenang dalam menyelenggarakan sekolah. maka sekolah harus bertanggungjawab terhadap apa yang dikerjakan. leaflet. bentuk informasi yang dapat diakses oleh publik ataupun bentuk informasi yang bersifat rahasia. dan mengontrol sekolah. maupun secara tidak langsung melalui jalur media tertulis (brosur. Indikator Keberhasilan Transparansi Keberhasilan transparansi sekolah ditunjukkan oleh beberapa indikator berikut: (a) meningkatnya keyakinan dan kepercayaan publik kepada sekolah bahwa sekolah adalah bersih dan wibawa. Pertanggung jawaban penyelenggara sekolah merupakan akumulasi dari keseluruhan pelaksanaan tugas-tugas pokok dan fungsi sekolah yang perlu disampaikan kepada publik/stakeholders. sekolah berkewajiban mempertanggungjawabkan kepada publik tentang apa yang dikerjakan sebagai konsekwensi dari mandat yang diberikan oleh publik/ masyarakat. hak untuk komplain. 3. sarana informasi dan komunikasi.Transparansi sekolah perlu ditingkatkan agar publik memahami situasi sekolah dan dengan demikian mempermudah publik untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. dan prosedur pengaduan apabila informasi tidak sampai kepada publik. dan hak untuk menilai kinerja sekolah. Arti Akuntabilitas Akuntabilitas adalah kewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban atau untuk menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan penyelenggara organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau berkewenangan untuk meminta keterangan atau pertanggjawaban. akuntabilitas publik akan menyangkut hak publik untuk memperoleh pertanggungjawaban penyelenggara sekolah. Upaya lain yang perlu dilakukan oleh sekolah dalam meningkatkan transparansi adalah menyiapkan kebijakan yang jelas tentang cara mendapatkan informasi. Upaya-upaya yang perlu dilakukan dalam kerangka meningkatkan transparansi sekolah kepada publik antara lain melalui pendayagunaan berbagai jalur komunikasi.

yaitu akuntabilitas pilihan atas kebijakan yang akan dilaksanakan. sekolah dan menyampaikan kepada d) Menyusun indikator yang jelas tentang pengukuran kinerja sekolah dan disampaikan kepada stakeholders. Upaya-Upaya Peningkatan Akuntabilitas Agar sekolah memiliki akuntabilitas yang tinggi. Akuntabilitas meliputi pertanggungjawaban penyelenggara sekolah yang diwujudkan melalui transparansi dengan cara menyebarluaskan informasi dalam hal: (a) pembuatan dan pelaksanaan kebijakan serta perencanaan. Sering kali istilah cost accountability juga digunakan untuk kategori akuntabilitas ini. dan untuk mempertanggungjawabkan komitmen pelayanan pendidikan kepada publik. Ini perlu diupayakan untuk menjaga kepastian tentang pentingnya akuntabilitas. c) Sekolah menyusun rencana pengembangan publik/stakeholders di awal setiap tahun anggaran. dan (d) keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan rencana sekolah dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. untuk mengikutsertakan publik dalam pengawasan pelayanan pendidikan.. dan (4) akuntabilitas keuangan (kejujuran) atau sering disebut (financial accountability). yaitu akuntabilitas yang berhubungan dengan pencapaian tujuan sekolah. Selain itu. d. dan sebagainya. ketentuan. prosedur. Sekolah dikatakan memiliki akuntabilitas tinggi jika proses dan hasil kinerja sekolah dianggap benar dan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. maka perlu diupayakan hal-hal sebagai berikut. a) Sekolah harus menyusun aturan main tentang sistem akuntabilitas termasuk mekanisme pertanggungjawaban. c. tujuan akuntabilitas adalah untuk menilai kinerja sekolah dan kepuasan publik terhadap pelayanan pendidikan yang diselenggarakan oleh sekolah. aturan main. (c) pengelolaan sumberdaya pendidikan di sekolah. Tujuan Akuntabilitas Tujuan utama akuntabilitas adalah untuk mendorong terciptanya akuntabilitas kinerja sekolah sebagai salah satu prasyarat untuk terciptanya sekolah yang baik dan terpercaya. (2) akuntabilitas kinerja (product/quality accountability). Sistem pengawasan perlu diperkuat dan hasil evaluasi harus dipublikasikan dan apabila terdapat kesalahan harus diberi sanksi. . (b) anggaran pendapatan dan belanja sekolah.mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan melalui alat pertanggungjawaban secara periodik. pedoman. yaitu akuntabilitas yang berhubungan dengan pendapatan dan pengeluaran uang (cash in and cash out). akuntabilitas dapat dikategorikan menjadi 4: (1) akuntabilitas kebijakan. Menurut jenisnya. b) Sekolah perlu menyusun pedoman tingkah laku dan sistem pemantauan kinerja penyelenggara sekolah dan sistem pengawasan dengan sanksi yang jelas dan tegas. (3) akuntabilitas proses. Untuk mengukur kinerja mereka secara obyektif perlu adanya indikator yang jelas. yaitu akuntabilitas yang berhubungan dengan proses. Penyelenggara sekolah harus memahami bahwa mereka harus mempertanggungjawabkan hasil kerja kepada publik.

yaitu: (a) meningkatnya kepercayaan dan kepuasan publik terhadap sekolah. (c) berkurangnya kasus-kasus KKN di sekolah. Indikator Keberhasilan Akuntabilitas Keberhasilan akuntabilitas dapat diukur dengan beberapa indikator berikut. tepat. apanya yang salah? Konsepnya atau pelaksanaannya? Karena itu. Jadi. (b) tumbuhnya kesadaran publik tentang hak untuk menilai terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Oleh karena itu. baik menyangkut proses pengambilan keputusan. Pengantar Monitoring dan evaluasi merupakan bagian integral dari pengelolaan pendidikan. menghasilkan informasi yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan. dinas pendidikan provinsi). Tanpa pengukuran. Monitoring dan evaluasi. Monitoring adalah suatu proses pemantauan untuk mendapatkan informasi tentang pelaksanaan MBS. fokus monitoring adalah pada komponen proses MBS. tidak ada alasan untuk mengatakan apakah suatu sekolah mengalami kemajuan atau tidak. Hal ini penting untuk dilakukan agar sekolah dengan mudah untuk . Jika hasil sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan. maupun makro (kementerian). baik di tingkat mikro (sekolah). Karena itu. kita juga dapat memperbaiki konsep dan pelaksanaan MBS. berarti MBS efektif. monitoring dan evaluasi yang bermanfaat adalah monitoring dan evaluasi yang menghasilkan informasi yang cepat. dan cukup untuk pengambilan keputusan. dan (d) meningkatnya kesesuaian kegiatankegiatan sekolah dengan nilai dan norma yang berkembang di masyarakat. pada umumnya. kita dapat mengukur tingkat kemajuan pendidikan pada tingkat sekolah. Hal ini didasari oleh pemikiran bahwa dengan monitoring dan evaluasi. bukan pada hasilnya. Dengan monitoring dan evaluasi. f) Memberikan tanggapan terhadap pertanyaan atau pengaduan publik. g) Menyediakan informasi kegiatan sekolah kepada publik yang akan memperoleh pelayanan pendidikan. maka MBS dianggap tidak efektif (gagal). fokus monitoring adalah pemantauan pada pelaksanaan MBS.e) Melakukan pengukuran pencapaian kinerja pelayanan pendidikan dan menyampaikan hasilnya kepada publik/stakeholders di akhir tahun. fokus evaluasi adalah pada hasil MBS. Sedang evaluasi merupakan suatu proses untuk mendapatkan informasi tentang hasil MBS. maupun pengelolaan proses belajar mengajar. Penerapan MBS juga memerlukan monitoring dan evaluasi secara intensif dan dilakukan secara terus-menerus. Jadi. Tepatnya. Informasi hasil ini kemudian dibandingkan dengan sasaran yang telah ditetapkan. dan departemen. dinas pendidikan kabupaten/kota. C. meso (dinas pendidikan kabupaten/kota. Istilah monitoring dan evaluasi memiliki makna sebagai berikut. sebaiknya setiap sekolah yang melaksanakan MBS diharapkan memiliki data-data tentang prestasi siswa sebelum dan sesudah MBS. kita dapat menilai apakah MBS benarbenar mampu meningkatkan mutu pendidikan. dinas pendidikan provinsi. h) Memperbarui rencana kinerja yang baru sebagai kesepakatan komitmen baru. pengelolaan program. MONOTORING DAN EVALUASI MBS A. Sebaliknya jika hasil tidak sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan. dengan monitoring dan evaluasi. pengelolaan kelembagaan. Jika MBS kurang berhasil. e.

input dapat diklasifikasikan menjadi tiga. dan prestasi olahraga. maupun outcome nya. nilai NUN. dan outcome. kesenian. Alat yang tepat untuk melakukan evaluasi konteks adalah penilaian kebutuhan (needs assessment). IMTAQ. Konteks adalah eksternalitas sekolah berupa demand and support (permintaan dan dukungan) yang berpengaruh pada input sekolah. Dengan demikian. kedisiplinan. Dalam MBS sebagai sistem. yaitu harapan. dan input manajemen. evaluasi konteks berarti evaluasi tentang kebutuhan. Input adalah segala “sesuatu” yang harus tersedia dan siap karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses. sedang inkonsistensi akan menjurus kepada kegagalan MBS. Uraian 1. dan pengendalian atau tindakan turun tangan. proses. dan proses akuntabilitas. maupun prestasi non-akademik (non-academic achievement). sehingga dapat ditemukan informasi tentang konsistensi atau inkonsistensi antara rancangan/disain MBS semula dengan proses implementasi yang sebenarnya. Sumberdaya dibagi menjadi dua yaitu sumberdaya manusia dan sumberdaya selebihnya (uang. baik pada konteks. dan sebagainya). Proses adalah berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Fokus evaluasi pada output adalah mengevaluasi sejauhmana sasaran (immediate objectives) yang diharapkan . Untuk lebih rincinya. memiliki komponen-komponen yang saling terkait secara sistematis satu sama lain. bahan). lihat uraian input pada BAB II. kejujuran. misi. proses belajar mengajar. tujuan. proses pengelolaan program. output. peralatan. proses. output. proses pengelolaan kelembagaan. Komponen-Komponen MBS yang Dimonitor dan Dievaluasi MBS sebagai sistem. regulasi (ketentuan-ketentuan. perlengkapan. dan kerajinan. Esensi evaluasi pada input adalah untuk mendapatkan informasi tentang “ketersediaan dan kesiapan” input sebagai prasyarat untuk berlangsungnya proses. B. Dengan didapatkan informasi inkonsistensi tersebut. input. tetapi juga dapat berupa perangkat-perangkat lunak dan harapan-harapan sebagai pemandu bagi berlangsungnya proses. Dalam istilah lain. program. Output adalah hasil nyata dari pelaksanaan MBS.membandingkan prestasi siswa sebelum dan sesudah MBS. sumberdaya. fokus evaluasi pada proses adalah pemantauan (monitoring) implementasi MBS. Secara garis besar. prosedur kerja. segera dapat dilakukan koreksi/pelurusan terhadap pelaksanaan. Input manajemen terdiri dari tugas. limitasi. Hasil nyata yang dimaksud dapat berupa prestasi akademik (academic achievement). maka hal ini dapat diduga bahwa MBS cukup berhasil. misalnya. proses terdiri dari: proses pengambilan keputusan. input. konteks sama artinya dengan istilah kebutuhan. Konsistensi antara rancangan dan proses pelaksanaan akan mendukung tercapainya sasaran. Monitoring dan evaluasi MBS bertujuan untuk mendapatkan informasi yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan. proses evaluasi sekolah. yaitu konteks. dan peringkat lomba karya tulis. Sedang hasil evaluasi dapat memberikan informasi yang dapat digunakan untuk memberi masukan terhadap keseluruhan komponen MBS. Sesuatu yang dimaksud tidak harus berupa barang. Dengan demikian. Hasil monitoring dapat digunakan untuk memberi masukan (umpan balik) bagi perbaikan pelaksanaan MBS. Masukanmasukan dari hasil monitoring dan evaluasi akan digunakan untuk pengambilan keputusan. rencana. Jika setelah MBS ada peningkatan prestasi yang signifikan dibanding sebelum MBS. sasaran. misalnya. Harapan-harapan terdiri dari visi.

meningkatkan iklim kompetisi antar sekolah. Selain memonitor dan mengevaluasi komponen-komponen konteks. Dengan bahasa non-statistik. proses. kepekaan. pada umumnya digunakan analisis biaya-manfaat (cost-benefit analysis). dan Perguruan tinggi. dan outcome sekolah. waktu) telah dicapai oleh MBS. misalnya Dinas Pendidikan. Besar kecilnya perubahan komponen-komponen tersebut (dari dan sesudah melaksanakan MBS) merupakan ukuran tingkat keberhasilan MBS. pelaksana monitoring dan evaluasi internal adalah warga sekolah sendiri yaitu kepala sekolah. institusional (sekolah). profesionalisme. memperbaiki sistem yang ada secara keseluruhan. demokrasi. output. kepentingan akuntabilitas publik. dan sosial (masyarakat). kaya-miskin. Yang dimaksud monitoring dan evaluasi internal adalah monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh sekolah sendiri. makin besar perubahan (peningkatan/pengembangan) komponen-komponen tersebut dari sebelum dan sesudah melaksanakan MBS. dan membantu sekolah dalam mengembangkan dirinya. penegakan hukum. Hasil monitoring dan evaluasi eksternal dapat digunakan untuk: rewards system terhadap individu sekolah. Karena itu. baik dampak individual (siswa). Jenis Monitoring dan Evaluasi: Internal dan Eksternal Ada dua jenis monitoring dan evaluasi sekolah. sejauhmana “hasil nyata sesaat” sesuai dengan “hasil/sasaran yang diharapkan”. Target-target tersebut bersumber dari pemerataan pendidikan (kesamaan kesempatan antara siswa-siswa desa-kota. output. Setiap tata pengelolaan harus dievaluasi apakah sebelum dan sesudah MBS ada perubahan tata pengelolaan sekolah. fokus evaluasi outcome adalah pada dampak MBS jangka panjang. input. atau gabungan dari ketiganya. sekolah-sekolah yang melaksanakan MBS harus membuat tonggak-tonggak kunci keberhasilan untuk kurun waktu tertentu. Dengan kata lain. prediktif. Tujuan utama monitoring dan evaluasi internal sekolah adalah untuk mengetahui tingkat kemajuan dirinya sendiri (sekolah) sehubungan dengan sasaran-sasaran yang telah ditetapkan. Outcome adalah hasil MBS jangka panjang. orangtua siswa. dan outcome pada waktu sebelum dan sesudah melaksanakan MBS. tanggungjawab. 2. input. akuntabilitas. guru bimbingan dan penyuluhan. guru.(kualitas. Monitoring dan evaluasi dilakukan untuk mengetahui apakah ada perubahan konteks. keadilan. . seperti disebut sebelumnya yaitu meliputi: partisipasi. Pengawas. 3. dan kepastian jaminan hukum. berarti makin besar pula keberhasilan MBS. proses. Tentunya makin besar kesesuaiannya. yang tidak kalah penting untuk dimonitor dan dievaluasi adalah pelaksanaan prinsip-prinsip MBS yang baik (tata pengelolaan yang baik. efektivitas dan efisiensi. Sedang yang dimaksud monitoring dan evaluasi eksternal adalah monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh pihak eksternal sekolah (external institution). Pada umumnya. siswa. Tonggak-tonggak Kunci Keberhasilan MBS Untuk mengevaluasi keberhasilan MBS. yaitu internal dan eksternal. yang berbeda dengan output yang hanya mengukur hasil MBS sesaat/jangka pendek. Berikut adalah visualisasi monitoring dan evaluasi pada saat sebelum dan pada saat sesudah melaksanakan MBS (Lihat Gambar 4: Monitoring dan Evaluasi MBS). Untuk melakukan evaluasi ini. transparansi. makin besar pula kesuksesan MBS. wawasan ke depan. Tonggak-tonggak kunci keberhasilan MBS merupakan target-target hasil MBS yang akan dicapai dalam jangka menengah (5 tahun) dan jangka pendek (1 tahun). dan warga sekolah lainnya. kuantitas.

tonggak-tonggak kunci keberhasilan dibuat tabuler yang terdiri dari program-program strategis dan tonggak-tonggak kunci keberhasilan dari setiap program strategis. maka rata-rata NUN yang akan dicapai oleh sekolah adalah 6.80 pada tahun 2012. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama.). Successful Site-Based Management. Depdiknas (rujukan utama dari materi pelatihan ini). Jakarta: Logos.) dan kualitas proses (proses belajar mengajar. 60 pada tahun 2010. proses. misalnya budi pekerti. Reynold. prestasi olah raga. rata-rata NUN sebuah SMP adalah 6. dan sebagainya. Manajemen Berbasis Sekolah. dan kepastian jaminan hukum. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).00 pada tahun 2014.laki-perempuan. transparansi. angka kelulusan.70 pada tahun 2011. efektivitas dan efisiensi pendidikan (angka kenaikan kelas. dan sebagainya).50. School-Based Management Organizing for High Performance. Bandung: PT. keadilan. contoh tonggak-tonggak kunci keberhasilan dapat diberikan sebagai berikut. akuntabilitas. dan 7. 6.Mulyasa. penegakan hukum. 2002. San Francisco: JosseyBass Publishers. Ditjen Mandikdasmen. E. Jika target ini dirinci setiap tahun. kesenian. Dornseif. 1997. dan 6.00. rata-rata NUN yang diharapkan dapat dicapai oleh SMP tersebut sebesar 7. kepekaan. NUN hanyalah salah satu tolok ukur kualitas sekolah dan masih banyak tolok ukur kualitas lainnya yang perlu dipertimbangkan. profesionalisme. cacat-tdak cacat. Sebaiknya.). kualitas pendidikan (input. dan sebagainya. Larry. wawasan kedepan. dan karya ilmiah remaja di samping kualitas input (guru. angka putus sekolah.1994. olimpiade. 2007. Pada tahun 2014. DAFTAR PUSTAKA Anonim. tanggungjawab.A. School-Based Management (Manajemen Berbasis Sekolah) (terjemahan: Noryamin Aini. efektivitas dan efisiensi. Pada tahun 2009. Pocket Guide to School-Based Management. 2004. A.Remaja Rosda. output). 6. Suparto & Abas AlJauhari). Thousand .90 pada tahun 2013. demokrasi. Ibtisam Abu & Duhou. prediktif. Alexandria: Association for Supervision and Curriculum Development. dan tata kelola sekolah yang baik (good governance) yang meliputi: partisipasi. Misalnya. kepemimpinan. fasilitas. 1996. dan sebagainya. Odden.

1999. Cakrawala pendidikan. 1987).XXII. Pengantar Pengaruh kepemimpinan pembelajaran (instructional leadership) terhadap peningkatan hasil belajar siswa sudah tidak diragukan lagi. Juni Tahun Ke-5.1992). A. Succesful School-Based Management. the principal must be knowledgable about curriculum development.Oaks. and teacher evaluation (Hanny. & Mohrman (1997). . California: Corwin Press. Alexandria: Association for Supervision and Curriculum Development.77-107. P.. 1989). Zuldan K.N. Mereka menyimpulkan bahwa: If our schools are to improve. Robertson. Wohlstetter.J. teachers and instructional effectiveness.. clinical supervision. (Findley.. it will be because of the instructional leadership of the principal …. the principal’s role If a school is to be an effective one. Kirk. Sejumlah ahli pendidikan telah melakukan penelitian tentang pengaruh kepemimpinan pembelajaran terhadap peningkatan hasil belajar. P.. Inc. MATERI UJI KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH : KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN 09:12 Nurul Amaliah No comments Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook 1. Manajemen Berbasis Sekolah dalam Mengembangkan dan Mewujudkan Budaya Mutu dalam Pendidikan. we must redefine and move instructional leadership to the forefront (Buffie.Prasetyo & Slamet. No.179206.. h.017.V. Juni Th.. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. staff development. Effective principals are expected to be effective instructional leaders . Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep dan Kemungkinan Strategi Pelaksanaannya di Indonesia.No.. 2003. Rutmini & Jiyono. h.

Artinya. misalnya dia mendukung bahwa pengajaran yang memfokuskan pada kepentingan belajar siswa harus menjadi prioritas. berikut disampaikan arti kepemimpinan pembelajaran. Kepala sekolah melibatkan para pemangku kepentingan dalam pengelolaan sekolah (manajemen partisipatif). berikut dibahas tentang arti. Berdasarkan pengertian kepemimpinan pembelajaran tersebut. Daresh dan Playco (1995) mendefinikan kepemimpinan pembelajaran sebagai upaya memimpin para guru agar mengajar lebih baik. maka kepemimpinan yang menekankan pada pembelajaran harus diterapkan. pentingnya kepemimpinan pembelajaran. c. Kepala sekolah melibatkan para pemangku kepentingan dalam pengambilan keputusan dan dalam kegiatan operasional sekolah sesuai dengan kemampuan dan batas-batas yuridiksi yang berlaku. e. Definisi ini kurang komprehensif. mendefinikan kepemimpinan pembelajaran yang efektif sebagai berikut: a. jika hasil belajar siswa ingin dinaikkan. d. yang pada gilirannya dapat memperbaiki prestasi belajar siswanya. Definisi inipun masih parsial karena pembelajaran mencakup banyak hal yang sebagian belum tercakup didalamnya. layanan prima dalam pembelajaran.Dari kutipan-kutipan tersebut diatas dapat disarikan bahwa peningkatan hasil belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kepemimpinan pembelajaran. 2. Kepala sekolah melakukan pemantauan terhadap proses belajar mengajar sehingga memahami lebih mendalam dan menyadari apa yang sedang berlangsung didalam sekolah. dan dia selalu menjaga agar visi dan misi sekolah yang telah disepakati oleh warga sekolah hidup subur dalam implementasinya. Melengkapi definisi-definisi tersebut diatas. b. proses belajar mengajar. Kepemimpinan pembelajaran atau kepemimpinan instruksional adalah kepemimpinan yang memfokuskan/menekankan pada pembelajaran yang komponenkomponennya meliputi kurikulum. Arti Kepemimpinan Pembelajaran Walaupun telah banyak rumusan tentang arti kepemimpinan pembelajaran. tetapi fokus dan ketajamannya masih berbeda-beda. Kepala sekolah memberikan dukungan terhadap pembelajaran. dan kontribusi kepemimpinan pembelajaran terhadap hasil belajar. penilaian serta pengembangan guru. pertanyaannya adalah apa tujuan yang akan dicapai oleh kepemimpinan pembelajaran? Berikut akan diuraikan seperlunya tentang tujuan yang akan dicapai oleh penerapan kepemimpinan pembelajaran. Petterson (1993). dan pembangunan komunitas belajar di sekolah. Misalnya. Untuk lebih jelasnya. Dia juga mampu membangun kebiasaan-kebiasaan berbagi pendapat atau urun rembug dalam merumuskan visi dan misi sekolahnya. Kepala sekolah mensosialisasikan dan menamkan isi dan makna visi sekolahnya dengan baik. . Ahli lain. asesmen (penilaian hasil belajar). butir-butir penting kepemimpinan pembelajaran. Kepala sekolah berperan sebagai fasilitator sehingga dengan berbagai cara dia dapat mengetahui kesulitan pembelajaran dan dapat membantu guru dalam mengatasi kesulitan belajar tersebut. tujuan. karena hanya memfokuskan pada guru.

repek kepada orang lain. kreatif. jiwa kewirausahaannya. empati. dan rupa. Menurut Slamet PH (2001). dan kesatuan serta persatuan (terlalu banyak untuk disebut semuanya). . dan keterampilan. pendidikan. Ilmu pengetahuan dapat digolongkan menjadi ilmu pengetahuan lunak (sosiologi. kepemimpinan pembelajaran mengutamakan layanan prima terhadap pembelajaran siswa sertamembangun warga sekolahnya menjadi komunitas pembelajaran. misi. ketahanan. Teknologi meliputi teknologi konstruksi. kriya. telekomunikasi. Upayaupaya ini memerlukan dukungan sumberdaya pendidikan. Daya pisik meliputi kesehatan. perlengkapan. dan pembuatan kalender. tanggungjawab. Proses belajar mengajar meliputi penyusunan silabus. kestaminaan. penggunaan media pembelajaran dan fasilitas belajar lainnya. demokrasi. meningkat keingintahuannya. pengelolaan kelas. kedisiplinan.Kurikulum (apa yang diajarkan) mencakup pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang meliputi kegiatan perumusan visi. meningkat kepuasan belajarnya. transportasi. baik sumberdaya manusia maupun sumberdaya selebihnya yaitu peralatan. dan astronomi. Ilmu pengetahuan keras meliputi metematika. fisika. dan pelaporan. lateral. tari. Kepemimpinan pembelajaran mampu memberikan dorongan dan arahan terhadap warga sekolah untuk meningkatkan prestasi belajar siswanya. daya hati. inovasinya. tujuan kepemimpinan pembelajaran adalah untuk memfasilitasi pembelajaran agar siswanya meningkat prestasi belajarnya. meningkat motivasi belajarnya. biologi. inovatif. kesopan santunan. Daya pikir meliputi cara-cara berpikir induktif. dan tujuan sekolah. pemilihan metode mengajar dan metode belajar. Tujuan Kepemimpinan Pembelajaran Tujuan utama kepemimpinan pembelajaran adalah memberikan layanan prima kepadasemua siswa agar mereka mampu mengembangkan potensi kualitas dasar dan kualitas instrumentalnya untuk menghadapi masa depan yang belum diketahui dan sarat dengan tantangan-tantangan yang sangat turbulen. kerjasama. perdamaian. Kualitas instrumental meliputi penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni. dan tujuan sekolah. misi. dan uang. dan pemotivasian siswa. Kepemimpinan pembelajaran juga mampu memfokuskan kegiatan-kegiatan warganya untuk menuju pencapaian visi. Seni terdiri dari seni suara. dan tidak kalah penting. kualitas dasar meliputi kualitas daya pikir. Kepemimpinan pembelajaran penting diterapkan di sekolah karena kemampuannya dalam membangun komunitas belajar warganya dan bahkan mampu menjadikan sekolahnya sebagai sekolah belajar (learning school). pemilihan buku pelajaran. integritas. ilmiah. energi. ekonomi. Dengan kata-kata lain. dan bahan. bahan. pengembangan struktur dan muatan kurikulum. antroplogi. kerendahan hati. Daya hati (qolbu) meliputi kasih sayang. deduktif. dan daya pisik/raga. Penilaian kinerja guru dan pengembangan profesinyajuga merupakan prioritas kepemimpinan pembelajaran. Asesmen (evaluasi hasil belajar) meliputi aspek yang di evaluasi. toleransi. kejujuran. bio. dan yang sejenis). Pentingnya Kepemimpinan Pembelajaran Kepemimpinan pembelajaran sangat penting untuk diterapkan disekolah karena seperti disebut sebelumnya bahwa kepemimpinan pembelajaran berkontribusi sangat signifikan terhadap peningkatan prestasi belajar siswa. pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran. politik. pengembangan bahan ajar. dan berpikir sistem. 3. kimia. manufaktur. 2. perbekalan. dan meningkat kesadarannya untuk belajar secara terus-menerus sepanjang hayat karena ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni berkembang dengan pesat. kritis. metode evaluasi. kreativitasnya. musik.

mengelola adalah sebagian dari kepemimpinan. yang pada gilirannya. Melaksanakan tanggung jawab secara akuntabel: 1). dan 3) mengembangkan gaya kepemimpinan yang luwes dan gaya bicara yang enak. dinamis. enterpreneur. menerapkan peran kepemimpinan sekolah lebih cenderung sebagai pelayan dari pada sebagai penguasa/bos.Sekolah belajar (learning school) memiliki perilaku-perilaku sebagai berikut: memberdayakan warga sekolah seoptimal mungkin. harmonis. 2). supervisor. memfasilitasi warga sekolah untuk belajar terus dan belajar ulang. proses belajar mengajar. 4) membantu siswa agar sukses dalam belajarnya. Butir-butir Penting Kepemimpinan Pembelajaran Butir-butir penting kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran dapat dituliskan sebagai berikut: a. Kepala sekolah mempunyai sejumlah peran yang harus dimainkan secara bersama. berpikir dan berperilaku positif untuk maju. Kepala sekolah disibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan rutin yang bersifat administratif. memberi kewenangan dan tanggungjawab kepada warga sekolahnya. administrator. 2) mendorong tanggung jawab seluruh mitra kerja atau pemangku kepentingan. membangun komunitas belajar di sekolah untuk kesuksesan siswa. antara lain mencakup educator. . Untuk itu. mengajak warga sekolahnya untuk menjadikan sekolahnya berfokus pada layanan siswa. Peran-peran yang yang lain bukan tidak penting. mendorong kemandirian setiap warga sekolahnya. dan kegiatan-kegiatan lain yang bersifat non-akademis sehingga waktu untuk mempelajari pembaruan/inovasi kurikulum. mutu proses belajar mengajar sangat berpengaruh terhadap peningkatan kualitas siswa dan kualitas sekolah secara keseluruhan. mendorong warga sekolah untuk akuntabilitas terhadap proses dan hasil kerjanya. dan menghindari gaya kepemimpinan yang kaku. cerdas. Padahal. b. mendorong teamwork yang (kompak. dan 5) menghindari mencari kambing hitam atas ketidaksuksesan. manager. Memahami peran kepala sekolah yang perlu dikembangkan: 1). 3) menggalang sumber daya masyarakat untuk kepentingan siswa. dan penilaian hasil belajar siswa kurang mendapatkanperhatian. ketiga hal yang terakhir sangat erat kaitannya dengan peningkatan mutu proses belajar mengajar. 4. Peran kepala sekolah sebagai leader (pemimpin) dan spesifiknya sebagaiinstructional leader. mengajak warga sekolahnya untuk siap dan akrab menghadapi perubahan. akan tetapi peran kepemimpinan pembelajaran harus yang terpenting. kurang memperoleh porsi yang selayaknya. sudah selayaknya peran kepemimpinan pembelajaran memperoleh porsi waktu yang lebih besar dibanding dengan peran-peran yang lain. motivator. pertemuan-pertemuan. mengajak warga sekolahnya untuk komitmen terhadap keunggulan mutu. dan mengajak warga sekolahnya untuk melakukan perbaikan secara terus-menerus. dan lincah/cepat tanggap terhadap pelanggan utama yaitu siswa). dan leader. mengajak warga sekolahnya untuk berpikir sistem.

5) selalu mengasah peran anda sebagai kepemimimpinan pembelajaran 6) menyediakan waktu untuk rajin mengunjungi kelas. Pengukuran tingkat keberhasilan visi kepemimpinan pembelajaran sangat diperlukan. d. menjadi pengarah terhadap tercapainya tujuan sekolah. mawas diri dan berkembang. Dengan menjawab sejumlah pertanyaan berikut. 7) mengkomunikasikan keinginan kuat anda untuk berhasil kepada guru dan siswa dalam bentuk kata-kata dan tindakan. seharusnya. selalu membaca diri dan melakukan refleksi. 3) memandang kesalahan sebagai kesempatan untuk belajar. 8) menerjemahkan visi sekolah ke dalam kegiatan harian. apa yang harus. dan 9) memfasilitasi kelompok kerja berdasarkan kepemimpinan pembelajaran. anda akan terbantu dalam memfokuskan pikiran dan pengambilan keputusan tentang pembelajaran yang seharusnya anda dukung. para pembaca sangat disarankan untuk melakukan refleksi dan bahkan menjawab sejumlah pertanyaan berikut untuk mengetahui tingkat kesiapan anda sebagai pemimpin pembelajaran. Pertanyaan-pertanyaan berikut juga akan membantu anda dalam mengembangkan visi pembelajaran yang lebih baik agar kepemimpinan pembelajaran yang anda terapkan benar-benar berdampak positif terhadap pembelajaran. 2) mencari cara-cara untuk mengembangkan diri sendiri. . Jika sekolah ingin menjadi sekolah yang efektif pembelajarannya. b. Berikut adalah sejumlah pertanyaan yang seyogyanya anda pikirkan sebagai pemimpin pembelajaran. Untuk itu. 3) merangkul perubahan sebagai teman. maka sejumlah pertanyaan berikut harus dijawab dengan tepat: a. 4) menjadi orang nomor satu sebagai model pembelajar sepanjang hayat dengan membangun masyarakat pembelajar disekolah. 2) menjadi pendukung yang jelas. membimbing orang lain dan memberi kontribusi terhadap orang lain berdasarkan profesi yang dimiliki. Mengerjakan sesuatu dengan professional: 1).c. dia akan membuat anda tetap aktif. dan 4) gembira dalam bekerja. Selalu mempertahankan: 1). bagaimana caranya siswa itu belajar. dan dapat dipelajari oleh siswa.

d. l. h. maka tentukan apa kebutuhan siswa. n. bagaimana iklim sekolah merefleksikan pentingnya proses pembelajaran. bagaimana dan siapa yang membuat keputusan tentang kurikulum dan pengajaran. bagaimana caranya kinerja guru dievaluasi dan apa saja yang dinilai. jika tujuan utama sekolah adalah menciptakan pembelajaran yang efektif. apa tujuan utama penelaian guru tersebut. r. p. bagaimana cara menyelenggarakn rapat yang berhubungan dengan pembelajaran. apa proses yang digunakan untuk menentukan jadwal dan organisai sekolah. siapa yang melakukan penilaian keberhasilan siswa dan bagaimana caranya. bagaimana partisipasi orangtua dalam kegiatan belajar siswa. bagaimana bentuk jadwal dan organisasi sekolah agar merefleksikan optimalisasi belajar siswa. k. q. apa keyakinan guru-guru tentang peserta didik dan kegiatan belajar. bagaimana menentukan isi dan hakekat pengembangan staf oleh siapa. siapa yang memutuskan penerapan program baru. e. g. dan apakah tujuan pengajaran sudah tercapai atau belum (Elaine Mc Evan (2001). kapan seharusnya diajarkan. dimana wakil kepala sekolah menghabiskan sebagian besar waktunya dan apa yang dilakukannya. m. dan v.c. o. f. t. i. kriteria penilaian guru ditentukan oleh siapa. gunakanlah indikator kunci dari keefektifan kepala sekolah dalam membangun dan menerapkan tujuan-tujuan pembelajaran sebagai berikut: a. keberhasilan peserta didik sangat erat hubungannya dengan evaluasi terhadap guru. apa yang harus diajarkan. untuk siapa dan bagaimana cara menilainya. Untuk menjawab 22 pertanyaan tersebut di atas. dengan apa mengajarnya. apa saja agenda utama rapat sekolah yang berhubungan dengan pembelajaran. u. bagaimana pendapat anda. melaksanakannya. j. bagaimana cara mengajarnya. atau memperbaharui dan merevisi program tersebut. s. lakukanlah komunikasi dengan staf sehubungan dengan pencapaian standar dan peningkatan tujuan sekolah . dimana kepala sekolah menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah dan apa yang dilakukannya di tempat itu. seperti apa proses pembelajaran berjalan (diskripsikan sesuatu yang anda impikan dalam sebuah sekolah dimana proses belajar mengajar terjadi secara ideal). siapa penyelenggara evaluasi guru.

b. seluruh warga sekolah apakah itu kepala sekolah. gunakan bermacam-macam sumber data baik kualitatif maupun kuantitatif untuk mengevaluasi kemajuandan merencakan peningkatan lebih lanjut Jika pembelajaran dirancang sesuai dengan kebutuhan siswa. rujuklah standar isi yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat dan daerah untuk melaksanakan program-program pengajaran di sekolah c. mengkomunikasikan kepada staf tentang harapan yang tinggi terhadap pencapaian hasil belajar siswa. d. d. c. guru dan siswa diyakinkan dapat mencapainya. Lima hal penting yang dimaksud meliputi: a. dan sumber-sumber apa saja yang harus diterapkan pada pembelajaran tersebut? d. mencegah sekolah terhadap tekanan beban yang tidak perlu. mengenal secara pribadi tentang tingkat profesionalisme masing-masing guru sebagai dasar untuk mencapai tujuan utama sekolah.b. dan . penekanan-penekanan apakah yang dituntut oleh kurikulum? c. dan e. b. Sehubungan dengan fungsi iklim sekolah. maka prestasi belajar siswa akan meningkat secara signifikan. berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengajarkan standar kompetensi yang dimaksud? Pembelajaran dan pencapaian keberhasilan siswa hendaknya selalu dianalisis secara berkelanjutan dan direfleksikan serta dikembangakan secara berkelanjutan sebagai bagian dari kehidupan sekolah. Kegiatan semacam ini harus dibudayakan di sekolah. c. ditemukan lima hal yang dianggap penting dalam membentuk budaya sekolah yang dapat melatih siswa dalam mencapai keberhasilan belajar dan juga iklim sekolah yang sehat. apakah standar kompetensi dapat dicapai dengan baik oleh siswa. sekolah sebagai komunitas kolaboratif dan komunitas belajar. yakinkanlah kegiatan-kegiatan kelas secara individu dan sekolah selalu konsisten dengan standar yang telah ditetapkan oleh pusat dan daerah d. strategi. menilai moral dan komitmen warga sekolah. peningkatan sekolah dicapai melalui proses pemecahan masalah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Glathhorn (1993). pembelajaran merupakan prioritas utama. ada keyakinan bersama untuk mencapai tujuan. materi. untuk itu bagaimana cara mengajarkannya dan bagaimana pula mengurutkan materinya secara hirarkis? b. dan menjadikan pembelajaran sebagai fokus utama kegiatan sekolah. Hal ini dapat dilakukan secara pribadi oleh masingmasing guru melalui jawaban-jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan berikut: a. perilaku kepala sekolah berikut paling banyak diidentifikasi oleh guru-guru dari sekolah yang mempunyai pencapaian prestasi akademik tinggi: a.

lakukan kunjungan kelas untuk mengamati pembelajaran. milikilah harapan yang tinggi terhadap seluruh guru untuk melaksanakan pembelajaran dengan standar yang tinggi melalui kesepakatan model yang dibuat bersama oleh guru. urun rembuk.e. merekrut. dan . dan libatkan staf untuk berpartisipasi dalam mengadopsi dam mengadaptasi program tersebut. mencari. dan disiplin. membangun dan memfokuskan pembelajaran sebagai sumber penyatuan berpikir. mengetahui tentang penelitian pendidikan. dan staf memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap peningkatan efektivitas pembelajaran di sekolah. melalui penelitiannya. termasuk penekanan terhadap penting dan berharganya pencapaian yang tinggi terhadap kemampuan berbicara dan menulis. dan tindakan warga sekolah. f. i. menyebarluaskan praktik-praktik proses belajar mengajar yang efektif terhadap guru-guru lain. h. dan menggaji anggota staf yang mendukung visi dan misi sekolah dan berkontribusi terhadap keefektifannya. cek secara berkala kesesuaian. memiliki pemahaman yang jelas terhadap visi dan misi sekolah dan mampu menyatakannya secara langsung. membangun lingkungan sekolah yang aman. tetapkan kegiatan kurikulum yang diprioritaskan. 5. tetapkan harapan atau target kualitas kurikulum melalui penggunaan standar dan petunjukpetunjuk yang diberikan. mengetahui dan mampu menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran yang baik. Kontribusi Kepemimpinan Pembelajaran terhadap Hasil Belajar Pada tahun 1995. yang meliputi halhal berikut: a. d. k. Menurut sintesis penelitian yang dilakukan diperoleh hasil bahwa perilaku kepala sekolah (pemimpin pembelajaran). guru. j. amati. 1995). fokuskan kegiatan supervisi untuk meningkatkan pembelajaran. dan publikasikan kepada para guru agar mereka dapat melihat kesenjangan antara standar yang telah ditetapkan dengan kinerja yang dicapai oleh siswa. kurikulum dengan pembelajaran dan penilaian. dan menerapkannya dalam pemecahan masalah. Penelitian tersebut menghasilkan daftar perilaku kepala sekolah yang terbaik dalam mengarahkan dan membimbing program pembelajaran di sekolah (Cotton. dan monitor pelaksanaan kurikulum. cek kemajuan siswa secara berkala berdasarkan data kinerja yang ada. dalam ungkapan yang konkrit. menegaskan bahwa belajar sebagai alasan utama terhadap keberadaan seseorang disekolah. tertib. sikap. mencari program-program yang inovatif. dan persiapkan serta monitor kegiatan-kegiatan pengembangan guru. laboratorium pendidikan wilayah North West USA memperbaharui keefektifan pelaksanaan pembelajaran di sekolah yang akhirnya menjadi rujukan luas dari hasil penelitian tersebut. g. menekankan pentingnya penelitian bagi perbaikan sekolah. c. b. e. meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa semua siswa dapat belajar dan sekolah membuat perbedaan antara yang berhasil dan yang gagal.

l. Kepemimpinan pembelajaran sangat penting untuk diterapkan disekolah karena kepemimpinan pembelajaran berkontribusi sangat signifikan terhadap peningkatan prestasi belajar siswa. 1. Sehingga dapat dilihat bahwa dinding kantor Beth seperti pusat startegi komando yang penuh dengan data pencapaian murid dan data performa guru dan grafik kurikulum. B. Tujuan utama kepemimpinan pembelajaran adalah memberikan layanan prima kepadasemua siswa agar mereka mampu mengembangkan potensi kualitas dasar dan kualitas instrumentalnya untuk menghadapi masa depan yang belum diketahui dan sarat dengan tantangan-tantangan yang sangat turbulen. Beliau berdiskusi bersama murid. sehingga dapat mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan setiap kelas. maka Beth mendesain posisi kepala sekolah yang diembannya berdasarkan kekuatan yang dimiliki. prioritas kegiatan yang jelas. layanan prima dalam pembelajaran. harus dilaksanakan dengan baik. komunikasikan harapan anda bahwa program pembelajaran yang telah disepakati sesuai dengan rencana. Rencana dalam penerapan konsep instruksional leadership melibatkan diri sendiri terlebih dahulu. proses belajar mengajar. Keahlian dalam bidang instruksional dan pengetahuan dalam bidang kurikulum adalah pondasi yang kuat dalam melakukan penerapan instructional leadership dalam sekolahnya. Beth dipercaya menjadi seorang kepala sekolah. Tujuan yang hendak dicapai adalah setiap murid dan guru mendapatkan pengalaman pendidikan yang positif dan optimal di sekolah. Beliau melakukan observasi kelas secara reguler untuk mengetahui proses belajar mengajar. Berkolaborasi secara regular dengan wakil kepala sekolah dan koordinator guru untuk memonitor kebutuhan murid dan menentukan strategi dan bahan ajar yang tepat dalam rangka mengoptimalkan potensi guru dan murid. (b) kultur 2. Berawal dari seorang guru yang kompeten. asesmen (penilaian hasil belajar). Sebagai patokan dalam penerapan instructional leadership. 3. Dimana dalam perencanaan Beth melakukan penilaian terhadap kondisi sekolah yang dihadapi pada saat itu. A. . penilaian serta pengembangan guru. bersikap. 4. Rangkuman Kepemimpinan pembelajaran adalah kepemimpinan yang memfokuskan/menekankan pada pembelajaran yang unsur-unsurnya meliputi kurikulum. Butir-butir penting kepemimpinan pembelajaran menyarankan bahwa kepemimpinan pembelajaran akan berjalan dengan baik apabila didukung oleh: (a) figur (kepala sekolah) yang mampu berpikir. Beth juga aktif dalam KKG dan juga kuliah di sebuah universitas dalam pasca sarjana pendidikan pada malam hari untuk meningkatkan kompentensinya sebagai pendidik. Setelah mengajar selama beberapa tahun. Perencanaan dilakukan secara detail berdasarkan format dan ceklist yang sudah ada. dan pembangunan komunitas belajar di sekolah. dan bertindak sebagai pemimpin pembelajaran. dan pendekatan-pendekatan baru. strategi peningkatan yang sistematis.murid dan guru tentang tujuan belajar. Studi Kasus Beth memulai profesi pendidik sebagai guru ilmu pengetahuan alam di sebuah SMP.

interpersonal dan teknikal (Glickman. CA.UNDEFINED TEKNIK-TEKNIK SUPERVISI AKADEMIK Satu di antara tugas kepala sekolah adalah melaksanakan supervisi akademik. at al. Oleh sebab itu. 199. F. Arlington. Resnicl.1993. K. John C. 4. Journal of Curriculum and Supervision. Jossey Bass Publishers. VA.W. guru. OBE Reform and the Curriculum Process. pp. and Peterson. DAFTAR PUSTAKA Daresh. Glatthorn. B. dan karyawan berkontribusi yang sangat signifikan terhadap peningkatan efektivitas pembelajaran di sekolah. T. Skills for Successful Leaders (2nd Edition). Sandra Lee. Waveland press. Elaine and B. California: Sage Publication.E. American association of School Administrators.R.. 1998. Supervision as a Proactive Process. F:\Mary Jo\Education Leadership Redesign Commission\Tennessee Standards for Instructional Leaders Packet.E.pembelajaran yang dikembangkan melalui pembangunan komunitas belajar di sekolah. 1995.doc vlb 3/21/07 Fink. 5. Deal.. San Fransisco. Shaping School Culture: The Heart of Leadership. 354-363 Hoyle.A. J. Untuk melaksanakan supervisi akademik secara efektif diperlukan keterampilan konseptual. TEKNIK-TEKNIK SUPERVISI AKADEMIK POSTED BY EATHEWIN ON SEPTEMBER . The Instructional Leadership toolbox: A Handbook for Improving Practice. Developing Principals as Instructional Leaders. Guston.10 .D. & Steffy. Lauren (2003). A.. English.Playko. Perilaku kepala sekolah (pemimpin pembelajaran). 8. 2002. 2007). dan (c) sistem (struktur) yang utuh dan benar. Marshal A. setiap Kepala sekolah harus .

. Teknik supervisi individual ada lima macam adalah sebagai berikut. Teknik Supervisi 1. (2) tahap pengamatan selama kunjungan. a. ( Classroom Visitation ) Kepala sekolah atau supervisor datang ke kelas untuk mengobservasi guru mengajar.memiliki keterampilan teknikal berupa kemampuan menerapkan teknik-teknik supervisi yang tepat dalam melaksanakan supervisi akademik. yaitu: individual dan kelompok (Gwyn. supervisor mengamati jalannya proses pembelajaran berlangsung. Teknik supervisi akademik ada dua yaitu: individual dan kelompok seperti gambar berikut. dan cara mengobservasi selama kunjungan kelas. Dari hasil supervisi ini dapat diketahui kualitas pembelajaran guru bersangkutan. Pada tahap ini. untuk melihat apa kekurangan atau kelemahan yang sekirannya perlu diperbaiki. sasaran. Supervisor di sini hanya berhadapan dengan seorang guru. Gambar 5. supervisor merencanakan waktu. Teknik-teknik supervisi akademik meliputi dua macam. Tahap-tahap kunjungan kelas terdiri dari empat tahap yaitu: (1) tahap persiapan. 1961). Pada tahap ini. Teknik Supervisi Individual Teknik supervisi individual adalah pelaksanaan supervisi perseorangan terhadap guru. Kunjungan Kelas. Dengan kata lain.

(3) variasi metode. menguasai masalah dan tujuan supervisi. pelaksanaan. Pada tahap ini. (1) Classroom-conference.dan tindak lanjut.(3) tahap akhir kunjungan. (4) ketepatan penggunaan media dengan materi. Secara umum. c. (2) meningkatkan kemampuan guru dalam pembelajaran. aspekaspek yang diobservasi adalah: (1) usaha-usaha dan aktivitas guru-siswa dalam proses pembelajaran. penutupan. di mana sudah dilengkapi dengan alat-alat bantu yang dapat digunakan untuk memberikan penjelasan pada guru. Pelaksanaan observasi melalui tahap: persiapan.penilaian hasil observasi. Tujuannya adalah: (1) mengembangkan perangkat pembelajaran yang lebih baik. Dalam rangka melakukan observasi. Pertemuan Individual Pertemuan individual adalah satu pertemuan. seorang supervisor hendaknya telah mempersiapkan instrumen observasi. dan (6)reaksi mental para siswa dalam proses belajar mengajar. percakapan. yaitu percakapan individual yang dilaksanakan di ruang kepala sekolah atau ruang guru. . b. dan (4) tahap terakhir adalah tahap tindak lanjut. dialog. dan (3) memperbaiki segala kelemahan dan kekurangan pada diri guru Swearingen (1961) mengklasifikasi empat jenis pertemuan (percakapan) individual sebagai berikut. (5) ketepatan penggunaan metode dengan materi. supervisor bersama guru mengadakan perjanjian untuk membicarakan hasil-hasil observasi. yaitu percakapan individual yang dilaksanakan di dalam kelas ketika murid-murid sedang meninggalkan kelas (istirahat). dan tukar pikiran antara supervisor dan guru. (2) Office-conference. (2) cara menggunakan media pengajaran. Kunjungan Observasi ( Observation Visits ) Guru-guru ditugaskan untuk mengamati seorang guru lain yang sedang mendemonstrasikan cara-cara mengajar suatu mata pelajaran tertentu. Kunjungan observasi dapat dilakukan di sekolah sendiri atau dengan mengadakan kunjungan ke sekolah lain.

dan  menyepakati berbagai solusi permasalahan dan menindaklanjutinya. 2. d. (1) Jadwal kunjungan harus direncanakan. (7) Segera aplikasikan ke sekolah atau ke kelas guru bersangkutan. Kunjungan Antar Kelas Kunjungan antar kelas adalah guru yang satu berkunjung ke kelas yang lain di sekolah itu sendiri.  memberikan pengarahan. dan analisis kemampuan kinerja guru.  mendorong guru mengatasi kesulitan-kesulitannya. Supervisi Kelompok Teknik supervisi kelompok adalah satu cara melaksanakan program supervisi yang ditujukan pada dua orang atau lebih. penegasan. dengan menyesuaikan pada situasi dan kondisi yang dihadapi. Tujuannya adalah untuk berbagi pengalaman dalam pembelajaran. (5) Supervisor hendaknya mengikuti acara ini dengan pengamatan yang cermat. yaitu percakapan individual yang bersifat informal. Guru-guru yang yang akan disupervisi berdasarkan hasil analisis kebutuhan. Kemudian guru diberikan layanan supervisi sesuai dengan . dan pemberian tugas-tugas tertentu.(3) Causal-conference. yaitu percakapan individual yang dilaksanakan setelah supervisor melakukan kunjungan kelas atau observasi kelas. Hal yang dilakukan Supervisor dalam pertemuan individu :  berusaha mengembangkan segi-segi positif guru. yang dilaksanakan secara kebetulan bertemu dengan guru (4) Observational visitation. (8) Adakan perjanjian-perjanjian untuk mengadakan kunjungan antar kelas berikutnya. Cara-cara melaksanakan kunjungan antar kelas adalah sebagai berikut. (6) Adakah tindak lanjut setelah kunjungan antar kelas selesai? misalnya dalam bentuk percakapan pribadi. (2) Guru-guru yang akan dikunjungi harus diseleksi. (3) Tentukan guru-guru yang akan mengunjungi (4) Sediakan segala fasilitas yang diperlukan. kemudian dikelompokan berdasarkan kebutuhan guru.

Dalam teknik supervisi kelompok. Diskusi kelompok dapat diadakan dengan membentuk kelompok-kelompok guru bidang studi sejenis. Seorang kepala sekolah menjalankan tugasnya berdasarkan rencana yang telah disusun. Sumber : Materi Pelatihan Penguatan Kemampuan Kepala Sekolah modul SUPERVISI AKADEMIK PUSAT PENGEMBANGAN TENAGA KEPENDIDIKAN BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN DAN PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL 2011 . Rapat tersebut antara lain melibatkan KKG. (1) Mengadakan pertemuan atau rapat (meeting). dan rapat dengan pihak luar sekolah. Termsuk mengadakan rapat-rapat secara periodik dengan guru-guru. supervisor atau kepala sekolah memberikan pengarahan. MGMP. maka tugas kepala sekolah adalah mengelola dan membimbing pelaksanaan tindak lanjut (follow-up) dari hasil penataran. nasihat-nasihat dan saran-saran yang diperlukan. dalam hal ini rapat-rapat yang diadakan dalam rangka kegiatan supervisi.permasalahan atau kebutuhan yang diperlukan. misalnya penataran untuk guru bidang studi tertentu. bimbingan. (2) Mengadakan diskusi kelompok (group discussions). Teknik ini dilakukan melalui penataranpenataran. terdapat beberapa kegiatan yang dapat dilakukan antara lain adalah sebagai berikut. (3) Mengadakan penataran-penataran (inservice-training). Mengingat bahwa penataran pada umumnya diselenggarakan oleh pusat atau wilayah. Di dalam setiap diskusi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful