PROGRAM INOVATIF SEKOLAH

PROGRAM INOVATIF SEKOLAH Oleh Suparlan *) Mereka yang berfikiran hebat membicarakan ide-ide. Mereka yang berfikiran sedang membicarakan peristiwa-peristiwa. Mereka yang berfikiran sempit membicarakan orang lain (Eleanor Roosevelt, 1884 – 1962, mantan first lady AS) Inovasi membedakan antara pemimpin dan pengekor (Steve Jobs, pendiri Apple Computer) Innovation is change that creates a new dimension of performance (Peter Drucker: Hesselbein, 2003) Innovation is the creation of the new or the re-arranging of the old in a new way (Michael Vance)

Kita sekarang akan mencoba menjadi orang yang berfikiran hebat. Siapa takut? Kita sedang membicarakan ide-ide atau gagasangagasan, bukan membicarakan fakta-fakta saja, apalagi membicarakan orang lain. Gagasan apa saja itu? Tentang program inovatif sekolah. Benar sekali. Tapi, gagasan-gagasan yang akan ditulis ini mungkin saja memang bukan benar-benar baru bagi sekolah tertentu. Namun sekolah yang lain mungkin dapat menjadi sesuatu yang sangat berharga. Memang, gagasan baru juga harus semua komponennya harus baru. Gagasan baru itu bisa jadi dari gagasan yang sudah lama, yang kemudian diperbaiki, disempurnakan dengan memperbaiki satu atau beberapa elemennya, sehingga menjadi lebih baik dan bermanfaat. Itu pun sudah dapat disebut sebagai apa yang dikenal dengan inovasi. Innovation is the creation of the new or the re-arranging of the old in a new way (Michael Vance) Tulisan ini akan mencoba membahas tentang program sekolah yang dapat dinilai inovatif. Peter Drucker menjelaskan kepada kita bahwa inovasi sesungguhnya adalah perubahan yang menciptakan satu dimensi baru kinerja organisasi. Dalam hal ini, kinerja lembaga pendidikan sekolah. Pemberdayaan Kelompok Kerja Guru (KKG) dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sungguh, kita harus malu dengan peringkat ke empat di Pesta Olahraga Asia Tenggara. Kita telah jauh ketinggalan dari negara Thailand. Bahkan juga ketinggalan dari Vietnam. Kondisi ini juga tampak dari Human Development Index (HDI) Indonesia yang berada di bawah Vietnam. Padalah dahulu, dalam acara olahraga yang bergengsi ini kita selalu unggul. Boleh dikatakan bahwa negara yang lain berebut pada urutan kedua. Boleh jadi semua itu terjadi memang karena dampak negatif dari krisis multidimensional yang masih belum sepenuhnya usai. Namun, banyak orang yang meneropongnya dari faktor kemunduran dunia pendidikan kita. Dengan demikian, maka sumber masalahnya adalah lembaga pendidikan sekolah. Program peningkatan kompetensi SDM secara terencana dan berkelanjutan memang harus dimulai di lembaga pendidikan sekolah. Setelah lembaga pendidikan keluarga, maka lembaga pendidikan sekolah harus menjadi tempat yang strategis untuk dapat meningkatkan kompetensi SDM yang handal. Untuk dapat membangun SDM yang handal, kita tidak bisa hanya melakukan yang biasa-biasa saja. Juga tidak hanya dengan program-program yang biasa. Kita harus melakukan hal yang luar biasa. Dengan kata lain, kita harus melakukan hal-hal yang inovatif. Lembaga pendidikan sekolah harus merancang berbagai program yang inovatif. Pemberdayaan KKG dan MGMP harus dapat digunakan sebagai wahana yang efektif untuk dapat meningkatkan kompetensi guru di sekolah. Program Pemberian Susu dan Makanan Tambahan Di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur, Malaysia, sebagai ilustrasi, sebagaimana juga di sekolah-sekolah lain di tanah air, para siswa harus mengikuti upacara bendera di sekolah. Dalam beberapa kali upacara bendera, ketika pembina upacara menyampaikan

pidatonya, atau ketika bendera merah putih dinaikkan beberapa anak jatuh pingsan. Selidik punya selidik, masalah ini terjadi karena banyak anak-anak yang tidak sarapan pagi. Bukan hanya itu, ada kemungkinan mereka juga mengalami kekurangan gizi dan dehidrasi. Penemuan tentang rendahnya kebugaran jasmani, kesehatan, dan gizi anak-anak kita perlu mendapatkan perhatian kita semua. Hal ini sama sekali berbanding terbalik dengan keadaan peserta didik di Negeri Cina. Para siswa di sekolah yang cukup luas di negeri tirai bambu itu diwajibkan selalu melakukan olahraga dalam cabang olahraga yang mereka suka. Semua fasilitas olahraga telah disediakan, dan setiap harinya mereka harus melakukan olahraga sesuai dengan hobinya. Hasilnya? Stamina olahragawan dari negeri tirai bambu itu sangat luar biasa. Mereka yang suka berolahraga memiliki kecerdasan fisikal atau kecerdasan ragawi atau kecerdasan yang dikenal dengan bodily kinestetics yang tinggi. Termasuk di dalamnya adalah senam dan menari dengan olah tubuh yang penuh dengan rima dan irama itu. Kalau pun negeri kita pada saaat ini masih mengalami kesulitan untuk mencari sebelas pemain sebak bola, karena selalu keok dalam arena pertandingan olah raga yang bergengsi ini, maka masalahnya tidak lain dan tidak bukan adalah karena kecerdasan fisikal generasi muda kita yang masih rendah. Selain itu, asupan gizi generasi muda kita masih di bawah rata-rata anak-anak di dunia. Jika negeri ini masih juga mengalami masalah mahalnya susu untuk tumbuh kembang anak-anak kita, negeri adidaya Amerika Serikat telah jauh memikirkan pentingnya makan siang anak-anak sekolah melalui program makan siang anak-anak usia sekolah melalui National School Lunch Program Act yang telah ditandatangani oleh Presiden Truman pada tahun 1946. Bahkan pada tanggal 14 Oktober 1940, pemerintah Amerika Serikat juga telah mengeluarkan program susu sekolah ( school milk program). Rupanya, DPR kita masih sibuk dengan urusan politik ketimbang dengan urusan makan siang anak-anak. Nah apa yang harus diprogramkan oleh sekolah untuk mengatasi itu semua? Pemberian bubur kacang hijau, susu, dan makanan bergizi lainnya secara rutin sudah tentu menjadi kegiatan yang sangat berguna bagi anak-anak kita. Jangan biarkan anak-anak kita membiasakan jajan di tepi-tepi pagar sekolah, yang dari aspek kesehatan dan gizinya tidak dapat kita pertanggungjawabkan. Penciptaan Lingkungan Sekolah Yang Sehat Program ini sangat terkait dengan program sebelumnya. Pertama, program yang harus dibenahi adalah kantin sekolah. Ciptakan kantin sekolah yang hiegenis dengan jenis makanan yang bergizi. Kedua, citakan lingkungan sekolah yang bersih, rindang, dan indah. Program 7K perlu digalakkan lagi, bukan hanya secara seremonial belaka, tetapi harus menyentuh perubahan kebiasaan para penghuninya. Memasang papan bertuliskan ”LINGKUNGAN BEBAS ROKOK” merupakan satu gebrakan yang dapat dilakukan. Tulisan-tulisan lain, seperti ”TARUH SAMPAH PADA TEMPATNYA”, atau ”CUCI TANGAN SEBELUM MAKAN”, atau ”KESEHATAN SEBAGIAN DARI IMAN” dapat diharapkan dapat mengisi nurani anak-anak kita yang masih putih itu. Lomba kebersihan dan keindahan kelas dapat diadakan pada saat momen-momen tertentu, misalnya peringatan hari besar nasional dan agama, atau peringatan hari lahir sekolah. Talent Scouting Bibit Olahraga dan Seni Pembinaan olahraga memang menjadi tugas utama guru olahraga dan keshatan. Tetapi, program pembinaan olahraga secara teroganisasi di sekolah sudah barang tentu menjadi tanggung jawab semua komponen sekolah. Di samping olahgara rekreasi, pencatatan secara rutin rekor olahraga prestasi harus tersedia di sekolah. Sekolah harus memiliki catatan, nama-nama siswa dengan rekor tertingginya dalam cabang olahraga tertentu. Dengan catatan ini, jika ada kegiatan pertandingan olahraga, maka sekolah tinggal memilih mereka untuk dapat mengikuti ajang pertandingan olahraga yang akan diikuti. Pencatatan prestasi olahraga ini dapat dilakukan pada awal tahun pelajaran atau pada saat usai ulangan semester pertama menjelang libur sekolah. Dengan demikian, sekolah dapat menjadi tempat pembibitan olahraga dan seni yang pertama dan utama. Science-Tech Club Sama dengan talent scouting dalam bidang olahraga, sekolah juga harus melakukannya untuk bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebenarnya para guru telah memiliki pengetahuan dan keterampilan praktis dalam penelitian sederhana. Namun banyak di antaranya kurang begitu yakin bahwa anak-anak mampu melakukannya. Padahal obyek penelitian sederhana bagi anak-anak terbentang luas di sekolah dan lingkungannya. Sayur apakah yang menjadi kegemaran siswa, sebagai contoh, adalah pertanyaan penelitian sederhara yang dapat dilakukan bukan di SMP, tetapi sudah bisa dilakukan di SD. Topik-topik lainnya misalnya: (1) rata-

rata jumlah anak dalam satu keluarga, (2) rata-rata tinggi dan berat badan anak-anak kelas 5 SD, (3) jarak tempuh anak-anak ke sekolah, dan masih banyak yang lain. Kebun Sekolah dan Penanaman Sejuta Pohon Jika secara internasional isu pemanasan global telah melahirkan Bali Roadmap untuk memecahkan isu tersebut, maka apa yang dapat dilakukan di tingkat sekolah? Tentu saja pendidikan lingkungan hidup harus menjadi tanggung jawab sekolah. Untuk sekolah yang tidak memiliki lahan yang luas, setiap kelas dapat diminta untuk membikin taman di depan kelasnya masing-masing. Atau dapat meminta kepada para siswa untuk masing-masing dapat memiliki tanaman kesayangan yang harus dipelihara setiap hari dengan sepenuh hati. Disiram, dipupuk, dan disiangi kalau ada rumput yang menggangunya. Jika ada sedikit lahan di depan sekolah, maka sekolah juga dapat membuat taman sederhana untuk menanam tanaman hias atau tanaman bunga, agar sekolah tidak terasa gersang. Jika di lingkungan sekolah ada lahan tidur yang tidak dimanfaatkan oleh yang empunya, sekolah dapat meminjamnya untuk dijadikan kebun sekolah tempat praktik anak-anak menanam berbagai jenis tanaman. Selain itu, sekolah juga dapat membantu pemerintah daerah dalam melaksanakan program penanaman satu juta pohon. The First Day Festival Ide ini diusulkan oleh seorang guru di suatu sekolah di Amerika Serikat. Pada waktu itu, pelibatan peran serta orangtua dalam penyelenggaraan pendidikan masih menjadi sesuatu yang langka. Setelah program ini dilaksanakan, antusiasme orangtua dan masyarakat tiba-tiba meningkat secara drastis. Sejak adanya festival hari pertama sekolah itu, orangtua siswa dan masyarakat merasakan adanya peningkatan keakraban dan kekeluargaan antara sekolah dan orangtua siswa secara luar biasa. Orangtua dan masyarakat tidak lagi merasa sebagai klien, tetapi sebagai pemangku kepentingan yang memiliki tanggung jawab yang sama besar dengan pihak kepala sekolah dan para guru di sekolah. Program seperti ini dapat berupa program lain yang tidak kalah inovatifnya. Acara tutup tahun sekolah, sebagai contoh, dapat menjadi media untuk menyatupadukan sekolah dengan orangtua dan masyarakat. Dalam acara tersebut, para siswa dapat menunjukkan kebolehannya, baik dalam bidang akademis maupun nonakademis, di hadapan orangtua dan masyarakat. Dampaknya, orangtua dan masyarakat menjadi lebih memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap upaya sekolah dalam meningkatkan kompetensi siswa. Dampak pengiringnya, orangtua dan masyarakat menjadi lebih antusias dalam ikut serta memberikan dukungan dan bantuan terhadap pelaksanaan program-program inovatif sekolah. Akhir Kata Masih sangat banyak program inovatif lain yang dapat dilaksanakan oleh sekolah. Tentu saja berdasarkan kondisi sekolahnya masing-masing. Sebagai contoh, program sekolah berwawasan imtaq, program sekolah yang aman dan nyaman, program sekolah ramah anak, kegiatan outbond, dan masih banyak yang lainnya. Penerapan pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM) dan contextual teaching and learning (CTL) kini menjadi program inovatif di sekolah yang menjadi primadona. Pendek kata, dengan program inovatif, semua warga sekolah dan pemangku kepentingan ingin mencoba sesuatu yang tidak biasa. Ingin mencoba sesuatu yang baru, yang kalau bisa yang luar biasa. Itu semua dapat dimulai dengan program inovatif yang sederhana, dan sudah barang tentu yang tidak memberatkan keuangan orangtua siswa. Yang penting, semua warga sekolah ingin melakukan sesuatu yang baru, atau sesuatu yang sebelumnya kurang mendapatkan perhatian. Tentu saja, semua itu harus dirancang adalam rencana yang matang, yang dikenal dengan Rencana Pengembangan Sekolah (RPS), yang disusun oleh sekolah bersama dengan pemangku kepentingan. Dengan kata lain, RPS yang disusun hendaknya memuat program-program inovatif, baik yang terkait dengan aspek akademis maupun nonakademis di sekolah. Sulitkah semua itu kita lakukan? Semua itu memang sulit untuk pertama kalinya. All beginning is difficult. Semua permulaan itu memang sulit. Tetapi, yakinlah bahwa semua itu dapat dilakukan jika kita memiliki kemauan. Dimana ada kemauan di situ ada jalan. Mudah-mudahan.

MATERI UJI KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH : MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH
08:04 Nurul Amaliah No comments Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

A. 1.

KONSEP MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

Pengantar Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah masih rendahnya mutu pendidikan dari sebagian sekolah khususnya sekolah dasar dan menengah di pedesaan, misalnya di pedalaman dan di perbatasan. Berbagai upaya telah dan sedang dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, misalnya pengembangan delapan (8) standar nasional pendidikan, alokasi dana pendidikan minimal 20% APBN dan APBD, sertifikasi pendidik beserta tunjangan profesinya, penerapan ujian nasional, peningkatan partisipasi masyarakat dalam pendidikan, dan sejumlah terobosan baru berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Namun demikian, mutu pendidikan nasional belum merata di seluruh tanah air. Sebagian sekolah, terutama di kota-kota, secara umum, menunjukkan peningkatan mutu pendidikan yang cukup menggembirakan, sebaliknya sebagian lainnya khususnya di pedesaan, masih memprihatinkan. Jadi, kesenjangan mutu pendidikan nasional masih cukup lebar. Berdasarkan kenyataan ini, berbagai pihak mempertanyakan: apa penyebab kesenjangan mutu pendidikan nasional yang masih lebar ini? Tentu saja jawabannya adalah banyak faktor yang menyebabkan lebarnya kesenjangan mutu pendidikan nasional, tiga diantaranya adalah: (1) penerapan pendekatan sistem secara parsial, (2) belum maksimalnya penerapan MBS, dan (3) rendahnya partisipasi warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan sekolah. Faktor pertama, penerapan pendekatan sistem dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah sering dilaksanakan secara parsial. Sekolah sebagai sistem terdiri dari konteks, input, proses, output, dan outcome. Dalam kenyataannya, pengembangan sekolah sering difokuskan pada input saja (guru, kurikulum, sarana dan prasarana, dana, dsb.), proses saja (proses belajar mengajar, penilaian hasil belajar, kepemimpinan sekolah, dsb.), atau output saja (nilai ujian nasional, perlombaan karya ilmiah, dsb.). Padahal, penyelenggaraan sekolah sebagai sistem harus dilakukan secara utuh, tidak parsial, apalagi parosial. Artinya, pengembangan sekolah secara sistem harus mencakup seluruh komponen sekolah secara utuh mulai dari konteks, input, proses, output, hingga sampai outcome. Faktor kedua, penyelenggaraan pendidikan nasional yang dilakukan secara birokratik-sentralistik telah menempatkan sekolah sebagai subordinasi yang sangat tergantung pada keputusan birokrasi diatasnya yang mempunyai jalur yang sangat panjang dan kadang-kadang kebijakan yang diberlakukan kurang sesuai dengan kondisi sekolah setempat. Karena sekolah lebih merupakan subordinasi dari birokrasi di atasnya, maka mereka kehilangan kemandiriannya, terpasung kreatifitasnya/inisiatifnya, rendah keluwesannya, rendah motivasinya, dan rendah keberanian moralnya untuk melakukan hal-hal baru yang diperlukan untuk memajukan sekolahnya. Faktor ketiga, peranserta warga sekolah khususnya guru, karyawan dan siswa serta peranserta masyarakat khususnya orangtua siswa dalam penyelenggaraan sekolah selama ini belum optimal. Partisipasi guru dalam pengambilan keputusan sering diabaikan, padahal terjadi atau tidaknya perubahan di sekolah sangat tergantung pada guru. Dikenalkan pembaruan apapun jika guru tidak berubah, maka tidak akan terjadi perubahan di sekolah tersebut. Partisipasi masyarakat selama ini pada umumnya sebatas pada dukungan dana, sedang dukungan-dukungan lain seperti pemikiran, moral, pisik, dan material belum optimal. Padahal, kesuksesan sekolah sangat memerlukan teamwork yang kompak, cerdas, dinamis, harmonis, dan lincah. Hal ini hanya akan terjadi apabila pertisipasi warga sekolah dan masyarakat maksimal. Partisipasi maksimal akan mampu meningkatkan rasa kepemilikan terhadap sekolah dan rasa kepemilikan akan meningkatkan dedikasi warga sekolah dan masyarakat terhadap sekolah. Berdasarkan ketiga faktor tersebut, tentu saja perlu dilakukan upaya-upaya penyampurnaan, salah satunya adalah mempertegas konsep dasar MBS dan memperkuat pelaksanaannya. Oleh karena itu, pembahasan MBS selanjutnya akan difokuskan pada: (1) landasan yuridis, (2) asumsi-asumsi diterapkannya MBS, (3) prakondisi yang diperlukan dalam penyelenggaraan MBS, (4) konsep dasar MBS yang meliputi: pola baru manajemen pendidikan masa depan, arti, tujuan,

keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan akan mampu meningkatkan rasa kepemilikan. yaitu: 1. 5. penggunaan sumberdaya pendidikan lebih efektif dan efisien jika dikontrol oleh warga sekolah dan masyarakat setempat. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (khususnya yang terkait dengan MBS adalah Bab VIII. 3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (khususnya yang terkait dengan MBS adalah Bab XIV. Asumsi-asumsi Diterapkannya MBS MBS diterapkan dengan asumsi-asumsi sebagai berikut: 1. sekolah lebih bertanggungjawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada pemerintah dan pemerintah daerah. Pasal 3). 4. transparansi. 2. sekolah lebih mengetahui kekuatan. dan 6. Pasal 49. dan inovatif dalam meningkatkan kinerja sekolah. akuntabilitas. dan kepercayaan publik terhadap sekolah. khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran dan tingkat perkembangan serta kebutuhan peserta didik. 7. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah. dan ancaman bagi dirinya sehingga dia dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya yang tersedia untuk memajukan sekolah. orangtua peserta didik. Pasal 51. dan (5) pelaksanaan MBS. peluang. Landasan Yuridis Penerapan MBS dilandasi oleh peraturan perundang-undangan pendidikan nasional yang berlaku di Indonesia. dengan pemberian fleksibilitas/keluwesan-keluwesan yang lebih besar kepada sekolah untuk mengelola sumberdayanya. maka sekolah akan lebih kreatif. Ayat (1). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan. Kelima bahasan tersebut akan diuraikan seperlunya pada bab-bab berikut. sekolah lebih mengetahui kebutuhannya. maka sekolah akan lebih luwes dan lincah dalam mengadakan dan memanfaatkan sumberdaya secara optimal untuk meningkatkan mutu sekolah. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan (khususnya yang terkait dengan MBS adalah Bab II. 3. kelemahan. 2.karakteristik MBS. inisiatif. dan urusan-urusan yang didesentralisasikan ke sekolah. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 78 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Sekolah Bertaraf Internasional pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. 8. dan masyarakat pada umumnya sehingga . pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan sekolah karena pihak sekolahlah yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi sekolahnya. Ayat (1). dedikasi. 3. 6. 5. 2. dengan pemberian otonomi yang lebih besar kepada sekolah. 4.

bukan prokemapanan. dan material/bahan. . sekolah memiliki sistem tata kelola yang baik untuk mempromosikan partisipasi dan transparansi kepada warga sekolah dan masyarakat sekitar serta akuntabilitas sekolah terhadap publik sehingga sekolah akan merupakan bagian dari (milik) masyarakat dan bukannya sekolah yang berada di masyarakat. akan tetapi lebih merupakan saran yang masih terbuka untuk dimodifikasi. menjunjung tinggi hak asasi manusia. Ini semua dilakukan secara partisipatif oleh warga sekolah. peralatan. dan program yang jelas untuk menyelenggarakan MBS. baik pola pikirnya (mind set). rencana. Persyaratan ini bukan dimaksudkan untuk menghambat sekolah yang tidak memenuhinya untuk melaksanakan MBS. Sekolah juga harus memiliki sumberdaya yang memadai. pola hatinya (heart set). pelaksanaannya. perbekalan. Kelima. sekolah memiliki kemampuan mengarahkan dan membimbing warganya melalui penyusunan kebijakan.sekolah akan berupaya semaksimal mungkin untuk melaksanakan dan mencapai sasaran mutu pendidikan yang telah direncanakan. persyaratan berikut bukan merupakan harga mati. baik sumberdaya manusianya maupun sumberdaya selebihnya yaitu dana. dan pemerintah daerah setempat. maupun pola tindakannya (action set). Adapun prakondisi yang diperlukan untuk melaksanakan MBS adalah sebagai berikut. misalnya perencanaannya. dikurangi atau ditambah sesuai dengan karakteristik sekolah dan masyarakat sekitarnya. warga sekolah (sumberdaya manusianya) harus siap diajak untuk melakukan perubahan pada dirinya. pengorganisasiannya. sekolah dapat secara cepat menanggapi perubahan. dan pengontrolannya. Kedua. Oleh karena itu. warga sekolah harus pro-perubahan. tetapi lebih merupakan petunjuk penyiapan bagi sekolah-sekolah yang akan menerapkan MBS. dan lingkungan yang berubah dengan cepat. perlengkapan. 9. masyarakat sekitar. Pertama. musyawarah-mufakat dapat dilaksanakan. Prakondisi yang Diperlukan untuk Menyelenggarakan MBS Sekolah yang akan menerapkan MBS perlu menyiapkan persyaratan berikut. dan 10. misalnya penghargaan terhadap perbedaan pendapat. Ketiga. Artinya. sekolah harus mau melakukan restrukturisasi (perubahan) terhadap manajemen dan organisasinya agar akomodatif terhadap penerapan MBS. aspirasi masyarakat. masyarakat sekitar dapat disadarkan akan pentingnya pendidikan. Keempat. kultur sekolah juga harus siap dan kondusif untuk menghadapi tuntutan baru MBS. sekolah sebagai institusi pendidikan juga harus siap untuk menerapkan MBS sebagaipola baru. 4. Sekolah yang hanya mampu memenuhi sebagian persyaratan. Artinya. tetap bisa menerapkan MBS sambil melengkapi persyaratan yang belum dapat dipenuhi. sekolah akan mampu bersaing secara sehat dengan sekolah-sekolah lainnya dalam peningkatan mutu pendidikan melalui upaya-upaya kreatif dan inovatif yang didukung oleh orangtua siswa. dan masyarakat sekitar melalui komite sekolah dapat digerakkan untuk mendukung MBS. educable/trainable (mau diajak belajar/dilatih). demokrasi/egaliterisme pendidikan dapat ditumbuh kembangkan. pengkoordinasiannya.

pengaturan. Tabel 1 berikut menunjukkan dimensi-dimensi perubahan pola manajemen. bimbingan. dan monitoring serta evaluasi yang diperlukan untuk kelancaran penyelenggaraan MBS. dari yang lama menuju ke yang baru.Keenam. Tabel 1: Dimensi-Dimensi Perubahan Pola Manajemen Pendidikan Pola Lama Subordinasi Pengambilan keputusan terpusat Ruang gerak kaku Pendekatan birokratik Sentralistik Diatur Overregulasi Mengontrol Mengarahkan Menghindari resiko Gunakan uang semuanya Individual yang cerdas Menuju ⇒⇒ ⇒⇒ Pola Baru Otonomi Pengambilan keputusan partisipatif Ruang gerak luwes Pendekatan professional Desentralistik Motivasi diri Deregulasi Mempengaruhi Memfasilitasi Mengelola resiko Gunakan uang seefisien mungkin Teamwork yang cerdas ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ . yang ditunjukkan oleh pemberian arah. dukungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk menerapkan MBS cukup kuat. sekolah diberi kewenangan dan tanggungjawab yang lebih besar (otonomi) untuk menyelenggarakan sekolahnya. Lebih dari itu. Pola Baru Manajemen Pendidikan Masa Depan Bukti-bukti empirik lemahnya pola lama manajemen pendidikan nasional dan digulirkannya otonomi daerah telah mendorong dilakukannya penyesuaian diri dari pola lama manajemen pendidikan menuju pola baru manajemen pendidikan masa depan yang lebih bernuansa otonomi dan yang lebih demokratis. 5.

Pola Lama Informasi terpribadi Pendelegasian Organisasi herarkis Menuju ⇒⇒ ⇒⇒ ⇒⇒ Pola Baru Informasi terbagi Pemberdayaan Organisasi datar Berikut dijelaskan secara singkat Tabel 1.informasi terbagi ke semua warga sekolah. sekolah diberikan kewenangan dan tanggungjawab untuk mengambil keputusan-keputusan sesuai dengan kebutuhan. kepala sekolah. ilmuwan. manajemen berbasis sekolah (MBS) dapat diartikan sebagai model pengelolaan yang memberikan otonomi (kewenangan dan tanggungjawab)lebih besar kepada sekolah. pendekatan profesionalisme lebih diutamakan dari pada pendekatan birokrasi. pengelolaan sekolah lebih desentralistik. kemampuan dan tuntutan sekolah serta masyarakat atau stakeholder yang ada. perubahan sekolah lebih didorong oleh motivasi-diri sekolah dari pada diatur dari luar sekolah. dan sebagainya. Istilah otonomi juga sama dengan istilah “swa”. Arti MBS Secara umum.). Dengan otonomi tersebut. pengambilan keputusan dilakukan secara partisipatif dan partsisipasi masyarakat makin besar. sekolah memiliki wewenang lebih besar dalam pengelolaan lembaganya. karyawan) dan masyarakat (orangtua siswa. lebih mengutamakan pemberdayaan. dan mendorong partisipasi secara langsung warga sekolah (guru. misalnya swasembada. sekolah lebih luwes dalam mengelola lembaganya. swadana. dan struktur organisasi lebih datar sehingga lebih efisien. pengusaha. Lebih rincinya. Otonomi dapat diartikan sebagai kemandirian yaitu kemandirian dalam mengatur dan mengurus dirinya sendiri. memberikan fleksibilitas/keluwesan-keluwesan kepada sekolah. 6. untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional serta peraturan perundang-undangan yang berlaku. swakelola. lebih mengutamakan teamwork. penggunaan uang lebih efisien karena sisa anggaran tahun ini dapat digunakan untuk anggaran tahun depan (efficiency-based budgeting). kemandirian yang berlangsung secara terus menerus akan menjamin kelangsungan hidup dan perkembangan sekolah (sustainabilitas). peranan pusat bergeser dari mengontrol menjadi mempengaruhi dan dari mengarahkan ke memfasilitasi. (Catatan: MBS tidak dibenarkan menyimpang dari peraturan perundang-undangan yang berlaku). regulasi pendidikan lebih sederhana. dari menghindari resiko menjadi mengolah resiko. . Pada Pola Lama. kemandirian dalam program dan pendanaan merupakan tolok ukur utama kemandirian sekolah. MBS dijiwai oleh pola baru manajemen pendidikan masa depan sebagaimana diilustrasikan pada Tabel 1. Sedang pada Pola Baru. tokoh masyarakat. konsep dasar dan karakteristik MBS dapat diuraikan sebagai berikut. siswa. Pada gilirannya. Pada dasarnya. tugas dan fungsi sekolah lebih pada melaksanakan program dari pada mengambil inisiatif merumuskan dan melaksanakan program peningkatan mutu yang dibuat sendiri oleh sekolah.

siswa. dan swalayan. Kerjasama yang dimaksud adalah adanya sikap dan perbuatan lahiriyah kebersamaan/kolektif untuk meningkatkan mutu sekolah. makin besar pula rasa memiliki. Tentu saja pelibatan warga sekolah dalam penyelenggaraan sekolah harus mempertimbangkan keahlian.swakarya. kemampuan bersinergi dan berkolaborasi. Singkatnya: makin besar tingkat partisipasi. sehingga yang bersangkutan juga akan bertanggungjawab dan berdedikasi sepenuhnya untuk mencapai tujuan sekolah. mulai dari pengambilan keputusan. Peningkatan partisipasi yang dimaksud adalah penciptaan lingkungan yang terbuka dan demokratik. masyarakat dan pemerintah melalui pelaporan dan pertemuan yang dilakukan secara terbuka. makin besar rasa memiliki. Jadi otonomi sekolah adalah kewenangan sekolah untuk mengatur dan mengurus kepentingan warga sekolah menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi warga sekolah sesuai dengan peraturan perundang-undangan pendidikan nasional yang berlaku. karyawan) dan masyarakat (orang tua siswa.) didorong untuk terlibat secara langsung dalam penyelenggaraan pendidikan. kemampuan berdemokrasi/menghargai perbedaan pendapat. Tugas dan fungsi Komite Sekolah antara lain mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap . Secara resmi keberadaan Komite Sekolah ditunjukkan melalui Surat Keputusan Mendiknas Nomor 044/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. akuntabilitas. Dengan kemandiriannya. batas kewenangan. ilmuwan. makin besar pula rasa tanggungjawab. Komite Sekolah menganut prinsip transparansi. tokoh masyarakat. sekolah lebih berdaya dalam mengembangkan program-program yang. cerdas dan dinamis. di mana warga sekolah (guru. Sedang demokrasi pendidikan adalah kebebasan yang terlembagakan melalui musyawarah dan mufakat dengan menghargai perbedaan. sehingga sekolah lebih mandiri. dan adanya kesadaran bersama bahwaoutput sekolah merupakan hasil kolektif teamwork yang kompak. sekolah akan lebih lincah dalam mengelola dan memanfaatkan sumberdaya sekolah secara optimal. usahawan. Peningkatan partisipasi warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan sekolah akan mampu menciptakan keterbukaan. kemampuan memobilisasi sumberdaya. kemampuan memecahkan persoalan-persoalan sekolah. Komite Sekolah diharapkan menjadi mitra sekolah yang dapat mewadahi dan menyalurkan aspirasi serta prakarsa masyarakat dalam melahirkan kebijakan operasional dan program pendidikan di sekolah. kerjasama yang kuat. hubungan sekolah dan masyarakat erat. yaitu kemampuan mengambil keputusan yang terbaik. Keterbukaan yang dimaksud adalah keterbukaan dalam program dan keuangan. dan evaluasi pendidikan yang diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan. Dalam hal pembentukannya. kemampuan adaptif dan antisipatif. Akuntabilitas sekolah adalah pertanggungjawaban sekolah kepada warga sekolahnya. hak asasi manusia serta kewajibannya dalam rangka untuk meningkatkan mutu pendidikan. Kerjasama sekolah yang baik ditunjukkan oleh hubungan antar warga sekolah yang erat. Dengan fleksibilitas/keluwesan-keluwesannya. makin besar pula dedikasinya. dan kemampuan memenuhi kebutuhannya sendiri. Tentu saja kemandirian yang dimaksud harus didukung oleh sejumlah kemampuan. sekolah memiliki kewenangan dan tanggungjawab yang lebih besar dalam mengelola sekolahnya. Dengan otonomi yang lebih besar. dan demokrasi pendidikan. kemampuan berkomunikasi dengan cara yang efektif. tentu saja. maka yang bersangkutan akan mempunyai “rasa memiliki” terhadap sekolah. kemampuan memilih cara pelaksanaan yang terbaik. dan demokrasi. dan relevansinya dengan tujuan partisipasi. pelaksanaan. akuntabilitas. lebih sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan/potensi yang dimiliki. dan makin besar rasa tanggungjawab. dan sebagainya. Partisipasi masyarakat terhadap penyelenggaraan sekolah telah diatur dalam suatu kelembagaan yang disebut dengan Komite Sekolah. Hal ini dilandasi oleh keyakinan bahwa jika seseorang dilibatkan (berpartisipasi) dalam penyelenggaraan pendidikan.

dia bertanggungjawab. memiliki ciri-ciri: pekerjaan adalah miliknya. mengetahui bahwa dia adalah bagian penting dari sekolah. dia memiliki kontrol terhadap pekerjaannya. pada umumnya. bagi sumberdaya manusia sekolah yang berdaya. dan warga sekolah diberlakukan sebagai manusia ciptaan-Nya yang memiliki martabat tertinggi. Dengan pengertian di atas. tantangan. komitmen yang tinggi pada dirinya. hasil kerja yang terukur. Dengan cara ini. memiliki jiwa kewirausahaan tinggi (inovatif. kemampuan untuk mengukur kinerjanya sendiri. dan sebagainya). komunikasi yang efektif. khususnya dalam pengelolaan peningkatan mutu. dan melakukan evaluasi pelaksanaan peningkatan mutu). maka sekolah akan merupakan unit utama pengelolaan proses pendidikan. dan memiliki partisipasi yang lebih besar dari kelompok-kelompok yang berkepentingan dengan sekolah. Selanjutnya. pemecahan masalah sekolah secara teamwork. Tujuan MBS . rencana anggaran pendidikan dan belanja sekolah. variasi tugas. kontrol yang luwes. Dinas Pendidikan Provinsi. pekerjaan yang bermakna. dan menggalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan. menghargai ideide. memiliki fleksibilitas pengelolaan sumberdaya sekolah. dia tahu posisinya di mana. menyusun rencana peningkatan mutu. maka sekolah memiliki kemandirian lebih besar dalam mengelola sekolahnya (menetapkan sasaran peningkatan mutu. gigih. umpan balik bagus. ada pujian. kepercayaan. sedang unit-unit di atasnya (Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. adaptif dan antisipatif/proaktif terhadap perubahan. mediator dan pengontrol penyelenggaraan pendidikan di sekolah. maka sekolah akan lebih lincah dan tidak harus menunggu arahan dari atasannya untuk mengelola. keluwesan-keluwesan yang dimaksud harus tetap dalam koridor kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang ada. Selain itu. Dengan keluwesan-keluwesan yang lebih besar diberikan kepada sekolah. dan pekerjaannya merupakan bagian hidupnya. memanfaatkan dan memberdayakan sumberdaya sekolah seoptimal mungkin untuk meningkatkan mutu sekolah. dan prestasi merupakan acuan bagi penilaiannya. sekolah akan lebih responsif dan lebih cepat dalam menanggapi segala tantangan yang dihadapi. Komite Sekolah diharapkan berperan sebagai pendukung. Komite Sekolah juga dapat memberikan masukan dan pertimbangan kepada sekolah tentang kebijakan dan program pendidikan. bertanggungjawab terhadap kinerja sekolah. dan Departemen Pendidikan Nasional) akan merupakan unit pendukung dan pelayan sekolah. mendorong orangtua dan masyarakat berpartisipasi dalam pendidikan guna mendukung peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan. pekerjaannya memiliki kontribusi. dukungan. Namun demikian. Dengan kepemilikan ketiga hal ini. didengar. Fleksibilitas dapat diartikan sebagai keluwesan-keluwesan yang diberikan kepada sekolah untuk mengelola. memiliki kontrol yang kuat terhadap kondisi kerja. sumberdaya yang dibutuhkan ada. 7. berani mengambil resiko. pemberian tanggungjawab. ulet.penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. Contoh tentang hal-hal yang dapat memandirikan/memberdayakan warga sekolah adalah: pemberian kewenangan. memiliki kontrol yang kuat terhadap input manajemen dan sumberdayanya. Sekolah yang mandiri memiliki ciri-ciri sebagai berikut: sifat ketergantungan rendah. kreatif dan inisiatf. melaksanakan rencana peningkatan mutu. Pendeknya. memanfaatkan dan memberdayakan sumberdayanya. pemberi pertimbangan.

cara-cara berpikir (kritis. efisiensi. Ini ditunjukkan oleh sifat PBM yang menekankan pada pemberdayaan peserta didik. NUN/NUS. 8. sekolah diharapkan makin mampu dan berdaya dalam mengurus dan mengatur sekolahnya dengan tetap berpegang pada koridor-koridor kebijakan pendidikan nasional. Output yang Diharapkan Sekolah memiliki output yang diharapkan.MBS bertujuan untuk meningkatkan kinerja sekolah melalui pemberian kewenangan dan tanggungjawab yang lebih besar kepada sekolah yang dilaksanakan berdasarkan prinsipprinsip tata kelola sekolah yang baik yaitu partisipasi. output dapat diklasifikasikan menjadi dua. dan akuntabilitas. kerajinan. Output sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan oleh proses pembelajaran dan manajemen di sekolah. Matematika. Perlu digarisbawahi bahwa pencapaian tujuan MBS harus dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip tata kelola yang baik (partisipasi. Pada umumnya. akan tetapi lebih menekankan pada internalisasi tentang apayang diajarkan sehingga tertanam dan berfungsi sebagai muatan nurani dan dihayati (ethos) serta dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari oleh peserta didik . dan output. kejujuran. Dengan MBS. solidaritas yang tinggi. kesenian. maka sejumlah karakteristik MBS berikut perlu dimiliki. proses. produktivitas. proses. sedang proses memiliki tingkat kepentingan satu tingkat lebih rendah dari output. Hal ini didasari oleh pengertian bahwa sekolah merupakan sistem sehingga penguraian karakteristik MBS (yang juga karakteristik sekolah efektif) mendasarkan pada input. toleransi. yang dikategorikan menjadi input. Selanjutnya. Fisika). efektivitas. Peningkatan kinerja sekolah yang dimaksud meliputi peningkatan kualitas. Berbicara karakteristik MBS tidak dapat dipisahkan dengan karakteristik sekolah efektif. jika sekolah ingin sukses dalam menerapkan MBS. dan kepramukaan. dan input memiliki tingkat kepentingan dua tingkat lebih rendah dari output. Oleh karena itu. dan inovasi pendidikan. induktif. rasa kasih sayang yang tinggi terhadap sesama. Karakteristik MBS Manajemen Berbasis Sekolah memiliki karakteristik yang perlu dipahami oleh sekolah yang akan menerapkannya. PBM bukan sekadar memorisasi dan recall. a. b. maka sekolah efektif merupakan isinya. Jika MBS merupakan wadah/kerangkanya. nalar. transparansi. deduktif. yaitu output berupa prestasi akademik (academic achievement) dan output berupa prestasi non-akademik (non-academic achievement). Output non-akademik. prestasi olahraga. lomba (Bahasa Inggris. kerjasama yang baik. Proses Sekolah yang efektif pada umumnya memiliki sejumlah karakteristik proses sebagai berikut: 1) Proses Belajar Mengajar yang Efektivitasnya Tinggi Sekolah yang menerapkan MBS memiliki efektivitas proses belajar mengajar (PBM) yang tinggi. dan sebagainya) . harga diri. Dengan kata lain. akhlak/budipekerti. uraian berikut dimulai dari output dan diakhiri input. mengingat output memiliki tingkat kepentingan tertinggi. kreatif/ divergen. Output prestasi akademik misalnya. lomba karya ilmiah remaja.bukan sekadar penekanan pada penguasaan pengetahuan tentang apa yang diajarkan (logos). Dalam menguraikan karakteristik MBS. akuntabilitas. dan output. perilaku sosial yang baik seperti misalnya bebas narkoba. pendekatan sistem yaitu input-prosesoutput digunakan untuk memandunya. rasional. misalnya keingintahuan yang tinggi. dan ilmiah). karakteristik MBS berikut memuat secara inklusif elemen-elemen sekolah efektif. kedisiplinan. transparansi.

dan sasaran sekolahnya melalui programprogram yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap. Dalam hal ini. merupakan jiwa dari sekolah. Budaya mutu memiliki elemen-elemen sebagai berikut: (a) informasi kualitas harus digunakan untuk perbaikan. selalu mampu dan sanggup menjalankan tugasnya dengan baik. belajar bekerja (learning to do). hubungan kerja. (b) kewenangan harus sebatas tanggungjawab. terutama guru. tenaga kependidikan yang diperlukan untuk menyukseskan MBS adalah tenaga kependidikan yang mempunyai komitmen tinggi. Terlebih-lebih pada pengembangan tenaga kependidikan. sekolah yang efektif selalu menciptakan iklim sekolah yang aman. 3) Lingkungan Sekolah yang Aman dan Tertib Sekolah memiliki lingkungan (iklim) belajar yang aman. dan nyaman sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan nyaman (enjoyable learning). PBM yang efektif juga lebih menekankan pada belajar mengetahui(learning to know). terutama sumberdaya manusia. bukan untuk mengadili/mengontrol orang. Secara umum. bukan kompetisi. misi. untuk mencapai tujuan sekolah. belajar hidup bersama(learning to live together). tujuan. menggerakkan. Sekolah yang menerapkan MBS menyadari tentang hal ini. harus merupakan basis untuk kerjasama. 4) Pengelolaan Tenaga Kependidikan yang Efektif Tenaga Kependidikan. dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be). dan Dinamis . perencanaan. Karena itu. Cerdas. hingga sampai pada imbal jasa. tertib melalui pengupayaan faktor-faktor yang dapat menumbuhkan iklim tersebut. Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah untuk dapat mewujudkan visi. evaluasi kinerja. (d) kolaborasi dan sinergi. kepala sekolah tangguh memiliki kemampuan memobilisasi sumberdaya sekolah. 5) Sekolah Memiliki Budaya Mutu Budaya mutu tertanam di sanubari semua warga sekolah. merupakan garapan penting bagi seorang kepala sekolah. Sekolah hanyalah merupakan wadah. peranan kepala sekolah sangat penting sekali. dan menyerasikan semua sumberdaya pendidikan yang tersedia. pengelolaan tenaga kependidikan. mulai dari analisis kebutuhan. tertib. 6) Sekolah Memiliki “Teamwork” yang Kompak. kepala sekolah memiliki peran yang kuat dalam mengkoordinasikan. dan (h) warga sekolah merasa memiliki sekolah. nyaman. 2) Kepemimpinan Sekolah yang Kuat Pada sekolah yang menerapkan MBS. ini harus dilakukan secara terusmenerus mengingat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedemikian pesat.(pathos). (e) warga sekolah merasa aman terhadap pekerjaannya. (c) hasil harus diikuti penghargaan (rewards) atau sanksi (punishment). pengembangan. sehingga setiap perilaku selalu didasari oleh profesionalisme. Oleh karena itu. (f) atmosfir keadilan (fairness) harus ditanamkan. Oleh karena itu. (g) imbal jasa harus sepadan dengan nilai pekerjaannya. Pendeknya. kepala sekolah dituntut memiliki kemampuan manajemen dan kepemimpinan yang tangguh agar mampu mengambil keputusan dan inisiatif/prakarsa untuk meningkatkan mutu sekolah.

Karena itu. antar individu dalam sekolah. Artinya. sekolah harus memiliki sumberdaya yang cukup untuk menjalankan tugas dan fungsinya. Tentu saja yang dimaksud perubahan adalah peningkatan. Sistem mutu yang dimaksud harus mencakup struktur organisasi. 7) Sekolah Memiliki Kewenangan Sekolah memiliki kewenangan untuk melakukan yang terbaik bagi sekolahnya sehingga dituntut untuk memiliki kemampuan dan kesanggupan kerja yang tidak selalu menggantungkan pada atasan. dan makin besar rasa tanggungjawab.Kebersamaan (teamwork) merupakan karakteristik yang dituntut oleh MBS. karena output pendidikan merupakan hasil kolektif warga sekolah. baik sumberdaya manusia maupun sumberdaya selebihnya yaitu peralatan. budaya kerjasama antar fungsi dalam sekolah. prosedur. penggunaan uang. harus merupakan kebiasaan hidup sehari-hari warga sekolah. Untuk menjadi mandiri. Sebaliknya. Tiada hari tanpa perbaikan. dana. 9) Sekolah Memiliki Keterbukaan (Transparansi) Manajemen Keterbukaan/transparansi dalam pengelolaan sekolah merupakan karakteristik sekolah yang menerapkan MBS. baik bersifat fisik maupun psikologis. Hal ini dilandasi oleh keyakinan bahwa makin tinggi tingkat partisipasi. Karena itu. tetapi yang terpenting adalah bagaimana memanfaatkan hasil evaluasi belajar tersebut untuk memperbaiki dan menyempurnakan proses belajar mengajar di sekolah. yang selalu melibatkan pihak-pihak terkait sebagai alat kontrol. Karena itu. dan bahan/material. Oleh karena itu. Perbaikan secara terus-menerus harus merupakan kebiasaan warga sekolah. perlengkapan. proses dan sumberdaya untuk menerapkan manajemen mutu. 10) Sekolah Memiliki Kemauan untuk Berubah (psikologis dan pisik) Perubahan harus merupakan sesuatu yang menyenangkan bagi semua warga sekolah. makin besar rasa memiliki. sistem mutu yang baku sebagai acuan bagi perbaikan harus ada. dan sebagainya. Keterbukaan/transparansi ini ditunjukkan dalam pengambilan keputusan. perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. Bahkan. makin besar rasa memiliki. tanggungjawab. bukan hasil individual. sekolah selalu membaca lingkungan dan menanggapinya secara cepat dan tepat. makin besar pula rasa tanggungjawab. kemapanan merupakan musuh sekolah. hasilnya diharapkan lebih baik dari sebelumnya (ada peningkatan) terutama mutu peserta didik. perbekalan. 8) Partisipasi yang Tinggi dari Warga Sekolah dan Masyarakat Sekolah yang menerapkan MBS memiliki karakteristik bahwa partisipasi warga sekolah dan masyarakat merupakan bagian kehidupannya. makin besar pula tingkat dedikasinya. 12) Sekolah Responsif dan Antisipatif terhadap Kebutuhan Sekolah selalu tanggap/responsif terhadap berbagai aspirasi yang muncul bagi peningkatan mutu. 11) Sekolah Melakukan Evaluasi dan Perbaikan Secara Berkelanjutan Evaluasi belajar secara teratur bukan hanya ditujukan untuk mengetahui tingkat daya serap dan kemampuan peserta didik. sekolah tidak hanya mampu menyesuaikan terhadap . fungsi evaluasi menjadi sangat penting dalam rangka meningkatkan mutu peserta didik dan mutu sekolah secara keseluruhan dan secara terus menerus. setiap dilakukan perubahan.

Berdasarkan laporan hasil program ini. Sekolah memiliki perencanaan. akan tetapi juga mampu mengantisipasi hal-hal yang mungkin bakal terjadi. orangtua siswa. adalah padanan kata yang tepat bagi istilah antisipatif. keterampilan dan kesadaran warga sekolah tentang nilai-nilai lingkungan hidup dan mampu mengubah perilaku dan sikap warga sekolah untuk menuju lingkungan hidup yang sehat. Jika berhasil. Selain itu. maka orangtua peserta didik perlu memberikan semangat dan dorongan untuk peningkatan program yang akan datang. pengkoordinasian. dan juga sekolah-masyarakat. Sustainabilitas program dapat dilihat dari keberlanjutan program-program yang telah dirintis sebelumnya dan bahkan berkembang menjadi program-program baru yang belum pernah ada sebelumnya. terutama antar warga sekolah. kompak. Dengan cara ini. Sekolah . Jika berhasil. maka keterpaduan semua kegiatan sekolah dapat diupayakan untuk mencapai tujuan dan sasaran sekolah yang telah dipatok. pemerintah dapat menilai apakah program MBS telah mencapai tujuan yang dikendaki atau tidak. pelaksanaan. maka orangtua siswa dan masyarakat berhak meminta pertanggungjawaban dan penjelasan sekolah atas kegagalan program MBS yang telah dilakukan. 13) Memiliki Komunikasi yang Baik Sekolah yang efektif umumnya memiliki komunikasi yang baik. para orangtua siswa dan anggota masyarakat dapat memberikan penilaian apakah program ini dapat meningkatkan prestasi anak-anaknya secara individual dan kinerja sekolah secara keseluruhan.perubahan/tuntutan. 16) Sekolah memiliki Kemampuan Menjaga Sustainabilitas Sekolah yang efektif juga memiliki kemampuan untuk menjaga kelangsungan hidupnya (sustainabilitasnya) baik dalam program maupun pendanaannya. Menjemput bola. Sekolah melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan pengetahuan. dan cerdas. sehingga kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh masing-masing warga sekolah dapat diketahui. Sustainabilitas pendanaan dapat ditunjukkan oleh kemampuan sekolah dalam mempertahankan besarnya dana yang dimiliki dan bahkan makin besar jumlahnya. sehingga menjadi faktor pendorong untuk terus meningkatkan kinerjanya di masa yang akan datang. Jika kurang berhasil. Dengan cara ini. dan masyarakat. Sebaliknya jika program tidak berhasil. maka pemerintah perlu memberikan teguran sebagai hukuman atas kinerjanya yang dianggap tidak memenuhi syarat. komunikasi yang baik juga akan membentuk teamwork yang kuat. maka pemerintah perlu memberikan penghargaan kepada sekolah yang bersangkutan. maka sekolah tidak akan main-main dalam melaksanakan program pada tahun-tahun yang akan datang. Demikian pula. 14) Sekolah Memiliki Akuntabilitas Akuntabilitas adalah bentuk pertanggungjawaban yang harus dilakukan sekolah terhadap keberhasilan program yang telah dilaksanakan. sehingga berbagai kegiatan sekolah dapat dilakukan secara merata oleh warga sekolah. Akuntabilitas ini berbentuk laporan prestasi yang dicapai dan dilaporkan kepada pemerintah. pengorganisasian. dan pengevaluasian pendidikan kecakapan hidup (program adiwiyata) yang dikembangkan secara terus menerus dari waktu ke waktu. 15) Manajemen Lingkungan Hidup Sekolah Bagus Sekolah efektif melaksanakan manajemen lingkungan hidup sekolah secara efektif.

maka kepemilikan staf yang kompeten dan berdedikasi tinggi merupakan keharusan. Artinya. dan sasaran mutu tersebut dinyatakan oleh kepala sekolah. dan tidak sepenuhnya menggantungkan subsidi dari pemerintah bagi sekolah-sekolah negeri. Sekolah yang efektif pada umumnya memiliki staf yang mampu (kompeten) dan berdedikasi tinggi terhadap sekolahnya. kebiasaan. walaupun dengan segala keterbatasan sumberdaya pendidikan yang ada di sekolah. dan pada gilirannya sasaran sekolah tidak akan tercapai. diperlukan kepala sekolah yang mampu memobilisasi sumberdaya yang ada di sekitarnya. yaitu. sekolah yang menerapkan MBS harus memiliki tingkat kesiapan sumberdaya yang memadai untuk menjalankan proses pendidikan. hingga sampai pada kepemilikan karakter mutu oleh warga sekolah. Sedang peserta didik juga mempunyai motivasi untuk selalu meningkatkan diri untuk berprestasi sesuai dengan bakat dan kemampuannya. tujuan. tanpa campur tangan sumberdaya manusia. tindakan.memiliki kemampuan menggali sumberdana dari masyarakat. Karena itu. Tanpa sumberdaya yang memadai. tujuan. 4) Memiliki Harapan Prestasi yang Tinggi Sekolah yang menerapkan MBS mempunyai dorongan dan harapan yang tinggi untuk meningkatkan prestasi peserta didik dan sekolahnya. Implikasinya jelas. akan tetapi sekolah yang bersangkutan dapat memanfaatkan keberadaan sumberdaya yang ada dilingkungan sekolahnya. c. dan Sasaran Mutu yang Jelas Secara formal. peralatan. 3) Staf yang Kompeten dan Berdedikasi Tinggi Meskipun pada butir (b) telah disinggung tentang ketersediaan dan kesiapan sumberdaya manusia (staf). proses pendidikan di sekolah tidak akan berlangsung secara memadai. bahan. namun pada butir ini perlu ditekankan lagi karena staf merupakan jiwa sekolah. Kepala sekolah memiliki komitmen dan motivasi yang kuat untuk meningkatkan mutu sekolah secara optimal. yaitu sumberdaya manusia dan lainnya (uang. dan sasaran sekolah yang berkaitan dengan mutu. Harapan tinggi dari ketiga unsur sekolah ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan sekolah selalu dinamis untuk selalu menjadi lebih baik dari keadaan sebelumnya. Sumberdaya dapat dikelompokkan menjadi dua. Kebijakan. segala sumberdaya yang diperlukan untuk menjalankan proses pendidikan harus tersedia dan dalam keadaan siap. dan sasaran mutu tersebut disosialisasikan kepada semua warga sekolah. sedia dan Siap Sumberdaya merupakan input penting yang diperlukan untuk berlangsungnya proses pendidikan di sekolah. Ini bukan berarti bahwa sumberdaya yang ada harus mahal. perlengkapan. sehingga tertanam pemikiran. Secara umum. nggan (Khususnya Siswa) . sekolah menyatakan dengan jelas tentang keseluruhan kebijakan. Guru memiliki komitmen dan harapan yang tinggi bahwa anak didiknya dapat mencapai tingkat prestasi yang maksimal. dan sebagainya) dengan penegasan bahwa sumberdaya lainnya tidak mempunyai arti apapun bagi perwujudan sasaran sekolah. Input Pendidikan an. Tujuan. bagi sekolah yang ingin efektivitasnya tinggi. Kebijakan. tujuan.

karakteristik guru. rencana yang rinci dan sistematis. b. inovasi dan eksperimentasi peserta didik untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan baru. Perencanaan dan Evaluasi . pertanyaannya adalah: “Urusan-urusan apa sajakah yang perlu menjadi kewenangan dan tanggungjawab sekolah”? Pada dasarnya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urutan Pemerintahan antara Pemerintah. metode. pergeseran dimensi-dimensi pendidikan dari manajemen berbasis pusat menjadi manajemen berbasis sekolah telah diuraikan pada Butir A.Dengan demikian. 1. dan Pemerintahan Daerah kabupaten/Kota harus digunakan sebagai acuan dalam penyelenggaraan pendidikan. (g) pelayanan siswa. yaitu: (a) proses belajar mengajar. a. strategi/metode/teknik pembelajaran dan pengajaran yang dipilih harus pro-perubahan yaitu yang mampu menumbuhkan dan mengembangkan daya kreasi. dan teknikteknik pembelajaran dan pengajaran yang paling efektif. Artinya. Kelengkapan dan kejelasan input manajemen akan membantu kepala sekolah mengelola sekolahnya dengan efektif. (b) perencanaan dan evaluasi program sekolah. (e) pengelolaan peralatan dan perlengkapan. pemerintah kabupaten/kota. Secara lebih spesifik. tidak semua urusan di desentralisasikan sepenuhnya ke sekolah. sebagian urusan masih merupakan kewenangan dan tanggungjawab Pemerintah. dan adanya sistem pengendalian mutu yang efektif dan efisien untuk meyakinkan agar sasaran yang telah disepakati dapat dicapai. dan (i) pengelolaan kultur sekolah. program yang mendukung bagi pelaksanaan rencana. Artinya. Urusan-urusan yang Menjadi Kewenangan dan Tanggungjawab Sekolah Secara umum. n Sekolah yang menerapkan MBS memiliki input manajemen yang memadai untuk menjalankan roda sekolah. adalah contoh-contoh yang dimaksud dengan pembelajaran yang pro-perubahan. pemerintah propinsi. sesuai dengan karakteristik mata pelajaran. Secara umum. Kepala sekolah dalam mengatur dan mengurus sekolahnya menggunakan sejumlah input manajemen. Sekolah diberi kebebasan memilih strategi. (c) pengelolaan kurikulum. dan kondisi nyata sumberdaya yang tersedia di sekolah. Konsekuensi logis dari ini semua adalah bahwa penyiapan input dan proses belajar mengajar harus benar-benar mewujudkan sosok utuh mutu dan kepuasan yang diharapkan dari siswa. Berikut adalah urusan-urusan pendidikan yang sebagian menjadi kewenangan dan tanggungjawab sekolah. ketentuan-ketentuan (aturan main) yang jelas sebagai panduan bagi warga sekolahnya untuk bertindak. desentralisasi urusan-urusan pendidikan harus dalam koridor peraturan perundang-undangan yang berlaku. (f) pengelolaan keuangan. karakteristik siswa. pembelajaran kuantum. semua input dan proses yang dikerahkan di sekolah tertuju utamanya untuk meningkatkan mutu dan kepuasan peserta didik. Input manajemen yang dimaksud meliputi: tugas yang jelas. Pemerintahan Daerah Provinsi. dan sebagian urusan lainnya diserahkan ke sekolah. pembelajaran kooperatif. Pengelolaan Proses Belajar Mengajar Proses belajar mengajar merupakan kegiatan utama sekolah. Pembelajaran dan pengajaran kontekstual. terutama siswa. (d) pengelolaan ketenagaan. harus merupakan fokus dari semua kegiatan sekolah. (h) hubungan sekolah-masyarakat. Perlu dicatat bahwa desentralisasi bukan berarti semua urusan di limpahkan ke sekolah.Pelanggan.

Berdasarkan hasil analisis kebutuhan tersebut. dan sebagainya. Hal ini didasari oleh kenyataan bahwa sekolahlah yang paling mengetahui kebutuhan fasilitas. indikator kunci kinerja. mulai dari pengadaan. e. sekolah dipersilakan memilih cara-cara yang paling sesuai dengan kondisi masing-masing. laboran. Dalam kondisi seperti ini. relevansi. sekolah dibolehkan mendiversifikasi kurikulum. Pengelolaan Kurikulum Saat ini telah terjadi desentralisasi sebagian pengelolaan kurikulum dari pemerintah pusat ke sekolah melalui Permendiknas 22/2006. Sekolah juga harus diberi kebebasan untuk melakukan “kegiatan-kegiatan yang mendatangkan penghasilan” (income generating activities). sistem penilaian. Evaluasi internal dilakukan oleh warga sekolah untuk memantau proses pelaksanaan dan untuk mengevaluasi hasil program-program yang telah dilaksanakan. memperluas. mutu. kesesuaian. pemeliharaan dan perbaikan. mutu. sekolah harus melakukan analisis kebutuhan pemerataan. hubungan kerja. Demikian juga. maupun kemutakhirannya. mulai dari analisis kebutuhan. dan efisiensi sekolah. Pelayanan Siswa . c. misalnya. mutu. relevansi dan efisiensi sekolah. kecuali yang menyangkut pengupahan/imbal jasa dan rekrutmen guru pegawai negeri. kemudian sekolah membuat rencana peningkatan pemerataan. Pemerintah Pusat hanya menetapkan standar dan sekolah diharapkan mengoperasionalkan standar yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. sehingga sumber keuangan tidak semata-mata tergantung pada pemerintah.Sekolah diberi kewenangan untuk menyusun rencana pengembangan sekolah (RPS) atau school-based plan sesuai dengan kebutuhannya. terutama pengalokasian/penggunaan uang sudah sepantasnya dilakukan oleh sekolah. Padahal kondisi sekolah pada umumnya sangat beragam. perencanaan. sekolah juga diberi kebebasan untuk mengembangkan muatan local dan pengembangan diri. 23/2006. Oleh karena itu. hingga pengembangan. f. baik kecukupan. Selanjutnya sekolah berhak mengembangkan KTSP ke dalam silabus. Kebutuhan yang dimaksud. Pengelolaan Keuangan Pengelolaan keuangan. Evaluasi diri harus jujur dan transparan agar benar-benar dapat mengungkap informasi yang sebenarnya. yang sampai saat ini masih ditangani oleh birokrasi di atasnya. dan yang dapat diajarkan. sehingga desentralisasi pengalokasian/penggunaan uang sudah seharusnya dilimpahkan ke sekolah. Pengelolaan Ketenagaan (Pendidik dan Tenaga Kependidikan) Pengelolaan ketenagaan. d. rekrutmen. dan rencana pelaksanaan pembelajaran. Hal ini juga didasari oleh kenyataan bahwa sekolahlah yang paling memahami kebutuhannya. Evaluasi semacam ini sering disebut evaluasi diri. terutama fasilitas yang sangat erat kaitannya secara langsung dengan proses belajar mengajar. sekolah harus melakukan evaluasi. Untuk itu. artinya. pengembangan. Selain itu. Sekolah dapat mengembangkan (memperdalam. apa yang diajarkan boleh dikembangkan agar lebih kontekstual dan selaras dengan karakteristik peserta didik. Pengelolaan kurikulum yang dimaksud dinamakan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). materi pokok pembelajaran.) dapat dilakukan oleh sekolah. tenaga administrasi. h. dan 24/2006. yang seharusnya. memperkuat. mendiversifikasi) kurikulum. memperkaya. namun tidak boleh mengurangi standar isi yang telah tertuang dalam Permendiknas 22/2006. kebutuhan untuk meningkatkan pemerataan. artinya. Sekolah dibolehkan memperkaya mata pelajaran yang diajarkan. relevansi dan efisiensi sekolah. Pengelolaan Fasilitas (Peralatan dan Perlengkapan) Pengelolaan fasilitas sudah seharusnya dilakukan oleh sekolah. apa yang diajarkan boleh diperluas dari yang harus. khususnya evaluasi yang dilakukan secara internal. sampai evaluasi kinerja tenaga kerja sekolah (guru. hadiah dan sangsi (reward and punishment). proses pembelajaran.

kepemilikan. kepedulian. melakukan kerjasama dengan masyarakat. sekolah memiliki mitra yang mewakili masyarakat sekitarnya yang disebut komite sekolah. efektif. pertimbangan. esensi MBS adalah peningkatan otonomi sekolah. akan tetapi merupakan proses yang berlangsung secara terus menerus dan melibatkan semua pihak yang berwenang dan bertanggungjawab dalam penyelenggaraan sekolah. kesehatan sekolah. optimisme dan harapan/ekspektasi yang tinggi dari warga sekolah. yang diperlukan adalah peningkatan intensitas dan ekstensitasnya. penempatan untuk melanjutkan sekolah atau untuk memasuki dunia kerja. Kultur sekolah sudah merupakan kewenangan dan tanggungjawab sekolah sehingga yang diperlukan adalah upaya-upaya yang lebih intensif dan ekstentif. Pengantar Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya. tuntutan. peningkatan partisipasi warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. sekali lagi. dalam arti yang sebenarnya. (2) mendorong orangtua siswa dan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pendidikan. Hubungan Sekolah-Masyarakat Esensi hubungan sekolah-masyarakat adalah untuk meningkatkan keterlibatan. Oleh karena itu. PELAKSANAAN MBS A. Oleh karena itu. dan menyenangkan. Tetapi satu hal yang perlu diperhatikan bahwa mengubah pendekatan manajemen berbasis pusat menjadi manajemen berbasis sekolah bukanlah merupakan proses sekali jadi dan bagus hasilnya (one-shot and quick-fix). kriteria kinerja sekolah. sebenarnya dari dahulu memang sudah didesentralisasikan. Konsep ini membawa konsekuensi bahwa pelaksanaan MBS sudah sepantasnya menerapkan pendekatan “idiograpik” (membolehkan adanya keberbagaian cara melaksanakan MBS) dan bukan lagi menggunakan pendekatan “nomotetik” (cara melaksanakan MBS yang cenderung seragam/konformitas untuk semua sekolah). Dalam arti yang sebenarnya. tidak ada satu resep pelaksanaan MBS yang sama untuk diberlakukan ke semua sekolah. B. ide. kreatif. Lingkungan sekolah yang aman dan tertib. mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu tinggi. Tugas dan fungsi komite sekolah dalam pelaksanaan MBS adalah: (1) memberi masukan. kriteria pendidik dan tenaga kependidikan. dan hal-hal lain yang terkait dengan pendidikan. yang dibutuhkan adalah peningkatan intensitas dan ekstensitas hubungan sekolahmasyarakat. Karena itu. mulai dari penerimaan siswa baru. hubungan sekolah-masyarakat dari dahulu sudah didesentralisasikan. hingga sampai pada pengurusan alumni. dan menampung dan menganalisis aspirasi. Paling tidak. Dalam MBS. pengembangan/ pembinaan/pembimbingan. dan berbagai kebutuhan pendidikan yang diajukan oleh masyarakat. dan peningkatan fleksibilitas pengelolaan sumberdaya sekolah. dan rekomendasi kepada sekolah mengenai kebijakan dan program pendidikan. kriteria fasilitas pendidikan. inovatif. dan dukungan dari masyarakat terutama dukungan moral dan finansial. menggalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan pendidikan. RAPBS. proses menuju MBS memerlukan perubahan empat hal pokok berikut: . i. j. dan kegiatan-kegiatan yang terpusat pada siswa (studentcentered activities) adalah contoh-contoh kultur sekolah yang dapat menumbuhkan semangat belajar siswa. Pengelolaan Kultur Sekolah Kultur sekolah (pisik dan nir-pisik) yang kondusif-akademik merupakan prasyarat bagi terselenggaranya proses belajar mengajar yang aktif.Pelayanan siswa. melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap kebijakan/program/ penyelenggaraan dan keluaran pendidikan.

hubungan antar warga (unsur-unsur) dalam sekolah. budaya. dan kenalkan sistem.Pertama. Karena itu struktur organisasi pendidikan yang ada saat ini perlu ditata kembali dan kemudian dianalisis hubungan antar unsur/pihak untuk menentukan sifat hubungan (direktif. kebiasaan (routines) berperilaku warga (unsur-unsur) sekolah perlu disesuaikan karena MBS menuntut kebiasaan-kebiasaan berperilaku baru yang mandiri. pejabat Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. dan sumberdaya yang cukup mendasar. dan sebagainya. budaya. Keempat. b. Dengan cara berpikir semacam ini. Kedua. peraturan presiden. integratif.dan peraturan menteri. wakil kepala sekolah. Melakukan Sosialisasi MBS Sekolah merupakan sistem yang terdiri dari unsur-unsur yang saling terkait dankarenanya hasil kegiatan pendidikan di sekolah merupakan hasil kolektif dari semua unsur sekolah. dan professional. forum ilmiah.) melalui berbagai mekanisme. ketentuan-ketentuan. . baik undang-undang. c. dan sumberdaya yang perlu diperkuat dan yang perlu diubah. Dalam melakukan sosialisasi MBS. Secara umum. menjadi sekolah yang bersifat otonom dan mendudukkannya sebagai unit utama. diskusi. budaya. simposium. siswa. luwes. pejabat Dinas Pendidikan Provinsi. garisgaris besar kegiatan sosialisasi/pembudayaan MBS dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: a. Tahap-tahap Pelaksanaan 1. rapat kerja. koordinatif/kooperatif. dan bagaimana). mengapa. budaya. karyawan. maka semua unsur sekolah harus memahami konsep MBS (apa. orangtua siswa. Identifikasikan sistem. dan sumberdaya baru yang diharapkan dapat mendukung penyelenggaraan MBS. Ketiga. antara sekolah dengan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan Dinas Pendidikan Provinsi perlu diperbaiki atas dasar jiwa otonomi. langkah pertama yang harus dilakukan oleh sekolah adalah mensosialiasikan konsep MBS kepada semua warga/unsur sekolah (guru. guru BK. kreatif. koordinatif atau fasilitatif). lokakarya. Buatlah komitmen secara rinci yang diketahui oleh semua unsur yang bertanggungjawab. jika terjadi perubahan sistem. peraturan pemerintah. dan sumberdaya yang ada di sekolah secara cermat dan refleksikan kecocokannya dengan sistem. perlu penyempurnaan peraturan-peraturan. proaktif. B. sinkron. Oleh karena itu. peran sekolah yang selama ini biasa diatur (mengikuti apa yang diputuskan oleh birokrat diatasnya) perlu disesuaikan menjadi sekolah yang bermotivasi-diri tinggi (selfmotivator). misalnya seminar. pengawas. Perubahan peran ini merupakan konsekuensi dari perubahan peraturan perundangundangan bidang pendidikan. yang penting diupayakan oleh kepala sekolah adalah “membaca” dan “membentuk” budaya MBS di sekolah masing-masing. dan kebijakankebijakan bidang pendidikan yang ada di daerah saat ini yang masih mendudukkan sekolah sebagai subordinasi birokrasi dinas pendidikan dan kedudukan sekolah bersifat marginal. Baca dan pahamilah sistem. dan media masa. pelatihan. sinergis. budaya. dan sumberdaya baru yang diperlukan untuk menyelenggarakan MBS.

dan (3) melibatkan pemangku kepentingan sesuai dengan prinsip relevansi. sasaran. Demikian juga. 2. dan partisipasi. dan istilah-istilah lain yang sederajad dengan bahasa demokrasi. Kemitraan penting untuk dilakukan karena disadari sepenuhnya bahwa hasil pendidikan sekolah merupakan hasil kolektif dari unsur-unsur terkait atau para pemangku kepentingan (stakeholders). peran masing-masing unsur sekolah perlu ditinjau kembali sesuai dengan tuntutan MBS yaitu demokratisasi sekolah. akan tetapi sangat diperlukan untuk mendukung visi. rencana. rencana. fleksibilitas dan peningkatan partisipasi dalam penyelenggaraan sekolah. mediator. sasaran. pendukung. guru dengan guru. tujuan. kebiasaan bertindak. misi. 3. Ini berarti bahwa peran-peran yang semula lebih bersifat otoriter perlu diubah agar menjadi egaliter. pemberi pertimbangan. Kemitraan dalam sekolah meliputi. e. dan transparansi terhadap pemangku kepentingan. tujuan. upaya-upaya untuk meningkatkan kemitraan perlu ditempuh melalui: (1) pembuatan pedoman mengenai tatacara kemitraan. Bekerjalah dengan semua unsur sekolah untuk mengklarifikasikan visi. Memperbanyak Mitra Sekolah Seperti dikemukakan sebelumnya. dan hubungan antar unsur-unsur sekolah. guru dengan siswa. Kebiasaan dan Hubungan antar Unsur-unsur Sekolah Pergeseran dari manajemen berbasis pusat (sentralistik) menuju manajemen berbasis sekolah memerlukan peninjauan kembali terhadap aturan sekolah. Garisbawahi prioritas sistem. fleksibilitas. Aturan sekolah perlu dirumuskan kembali agar sesuai dengan tuntutan MBS yaitu otonomi. peran unsur-unsur sekolah. misi. Kemitraan sekolah dengan masyarakat sekitarnya meliputi. dan sumberdaya yang belum ada sekarang. sekolah harus memperbanyak mitra. budaya. yurisdiksi. Pantaulah dan arahkan proses perubahan agar sesuai dengan visi. dan program-program MBS yang telah disepakati. jangan menghindar dan jangan menarik darinya serta jelaskan mengapa diperlukan perubahan dari manajemen berbasis pusat menjadi MBS. tutor. Ini berarti bahwa jika MBS ingin sukses. Peran Unsur-unsur Sekolah. dan program-program penyelenggaraan MBS. Oleh karena itu. cerdas. baik dari dalam maupun dari luar sekolah. Istilah-istilah peran yang bersifat egaliter misalnya kepala sekolah dan guru sebagai fasilitator. mentor. (2) melakukan advokasi. kepala sekolah dengan guru.d. antara lain: kepala sekolah dengan komite sekolah. Kemitraan yang dapat menghasilkan teamwork yang kompak. rencana. baik partisipasi dari warga sekolah maupun masyarakat di sekitarnya melalui perwakilan komite sekolah. penyediaan sarana kemitraan dan saluran komunikasi. tujuan. misi. antara lain. f. kepala sekolah dengan kepala dinas pendidikan kabupaten/kota. dan dinamis merupakan kartu trup bagi keberhasilan MBS. siswa dengan siswa. Kebiasaan . budaya. dan g. Merumuskan Kembali Aturan Sekolah. Hadapilah “status quo” (resistensi) terhadap perubahan. dan sumberdaya manusia yang mendukung penerapan MBS serta hargailah mereka (unsur-unsur) yang telah memberi contoh dalam penerapan MBS. esensi MBS adalah peningkatan otonomi sekolah. dan program-program penyelenggaraan MBS dan doronglah sistem. sasaran. publikasi. pemberdaya. Demikian juga. dst. kebiasaan-kebiasaan perilaku tergantung atasan dan menunggu perlu diubah menjadi berani mengambil prakarsa dan inisiatif. guru dengan orangtua siswa. dst. pembimbing. dan kompetensi serta kompatibilitas tujuan yang akan dicapai.

misalnya: (1) pemberian panduan-panduan tentang konsep MBS. evaluasi. pelaksanaan. Meningkatkan Kapasitas Sekolah MBS merupakan model baru bagi sekolah maupun dinas pendidikan kabupaten/kota. dan terhindar dari duplikasi. tanggung jawab. dan sebagainya. dan kepastian jaminan hukum. lokakarya. bukan mengunggulkan kewenangan atasan terhadap bawahan. 6. Dua hal yang merupakan inti manajemen sekolah yaitu fungsi manajemen dan urusan sekolah. diskusi kelompok terfokus. efektivitas. keadilan. penanggulangan narkoba. Menerapkan Prinsip-prinsip Tata Kelola yang Baik MBS akan berhasil dengan baik jika sekolah menerapkan prinsip-prinsip tata kelola yang baik sebagaimana disebut sebelumnya. keuangan. efisiensi. kebiasaan melayani sistem sekolah diubah menjadi kebiasaan melayani siswa. MBS menuntut hubungan simbiosis. pengorganisasian.yang disesuaikan dengan konteks kebutuhan. dan sebagainya. konflik dan benturan antara sekolah dan dinas pendidikan. hubungan interaktif. pengembangan kapasitas (kemampuan dan kesanggupan) mereka perlu dilakukan melalui berbagai upaya. Fungsi-fungsi manajemen dan urusan-urusan sekolah (digabung menjadi manajemen sekolah) tersebut perlu diklarifikasi secara bersamasama antara sekolah dan dinas pendidikan kabupaten/kota melalui pertemuan/forum untuk menemukan pembagian urusan-urusan tentang fungsi-fungsi manajemen dan urusan-urusan pendidikan yang menjadi kewenangan dan tanggungjawab sekolah dan dinas pendidikan kabupaten/kota. proses belajar mengajar. dan dewan pendidikan. (2) pelatihan. penegakan hukum. dan pemfasilitasian terhadap bawahan merupakan harus diunggulkan. saling komplemen. kesiswaan. Prinsip-prinsip tata kelola yang baik meliputi: partisipasi. dan bukannya hubungan yang semata-mata struktural (atasan dan bawahan). Urusan-urusan sekolah meliputi: kurikulum. komite sekolah. karakteristik dan kemampuan sekolah masing-masing. akuntabilitas. Hubungan antar unsur juga perlu disesuaikan dengan tuntutan MBS. koheren. penyediaan sarana untuk memfasilitasi pelaksanaan prinsip-prinsip tata kelola yang baik. pemberdayaan. penilaian. termasuk komite sekolah dan dewan pendidikan. hubungan sekolah-masyarakat. pelaksanaan. publikasi. komite sekolah dan dewan pendidikan. kepekaan. 5. dan pengawasan/pengontrolan. pendidikan lingkungan hidup (program adiwiyata). pendidik dan tenaga kependidikan. sarana dan prasarana. relasi dengan para pemangku kepentingan. Fungsi-fungsi manajemen meliputi perencanaan. prediktibilitas. profesionalisme. Mengklarifikasi Fungsi dan Aspek Manajemen Sekolah Manajemen pendidikan umumnya dan manajemen sekolah khususnya merupakan pengelolaan institusi (sekolah) yang dilakukan dengan dan melalui pendidik dan tenaga kependidikan untuk mencapai tujuan sekolah secara efektif dan efisien. 4. Penerapan tata kelola yang baik harus diupayakan oleh sekolah melalui berbagai cara seperti misalnya: pembuatan aturan main sekolah/pedoman tentang tatacara pelaksanaan prinsip-prinsip tata kelola yang baik. melakukan advokasi. Dengan cara ini akan terbentuk pembagian manajemen pendidikan yang jelas. demokrasi. dst. wawasan kedepan. Untuk itu. pengkoordinasian. seminar tentang praktek-praktek yang baik dan pelajaran yang dapat . hubungan fungsional. Berikut dipaparkan visualisasi matrik MBS (Tabel 3) untuk memudahkan sekolah dan dinas pendidikan dalam membagi urusan-urusan manajemen pendidikan yang menjadi kewenangan sekolah dan dinas pendidikan kabupaten/kota. transparansi. Pelayanan.mengunggulkan kewenangan diubah menjadi kebiasaan melayani.

demokrasi merupakan jiwanya. sekolah dapat mengembangkan jenis-jenis RPS/RKAS untuk meningkatkan mutu (input. RPS/RKAS penting dimiliki oleh sekolah untuk memberi arah dan bimbingan para pelaku sekolah dalam rangka untuk mencapai tujuan sekolah dengan resiko yang kecil dan mengurangi ketidakpastian masa depan. Hasil dari perencanaan sekolah adalah RPS/RKAS. pelaksanaan. tetapi disebar/didistribusikan kepada para pemangku kepentingan pendidikan sekolah. kekuatan di sekolah tidak lagi semata-mata di satu pundak kepala sekolah. a. RPS/RKAS disusun dengan tujuan untuk: (1) menjamin agar perubahan/tujuan sekolah yang telah ditetapkan dapat dicapai dengan tingkat kepastian yang tinggi dan resiko yang kecil. dan (6) menjamin tercapainya penggunaan sumberdaya secara efisien. dan Memonitor serta Mengevaluasinya Sekolah pelaksana MBS diharapkan menyusun desain. masyarakat. sinkronisasi. kewenangan dan tanggung jawab dalam mengurus sekolah menumpuk pada kepala sekolah (one man show). Jadi. dan antar waktu. 8. Semuanya tergantung kepala sekolah. Keberhasilan MBS sangat tergantung pada kesiapan kapasitas (kemampuan dan kesanggupan) sekolah. (5) mengoptimalkan partisipasi warga sekolah dan masyarakat. Dalam MBS. Tergantung dari kepentingan/kebutuhan. antar sekolah dan dinas pendidikan kabupaten/kota. dan sebagainya. melalui urutan pilihan. baik antar pelaku sekolah. keluarga. tetapi disebar ke seluruh pemegang kepentingan sekolah. makin tinggi pula tingkat keberhasilan MBS di sekolah yang bersangkutan. Karena itu. efektif. kekuatan bergeser dari satu orang (kepala sekolah) menuju ke kekuatan kolektif. (2) mendukung koordinasi antar pelaku sekolah. output). seolah-olah kepala sekolah seperti raja. dengan memperhitungkan sumberdaya yang tersedia. Menyusun Desain RPS/RKAS Sekolah yang melaksanakan MBS harus melakukan perencanaan sekolah dan menghasilkan RPS/RKAS. dan dinamis. (3) studi banding ke sekolah yang sukses melaksanakan MBS. (4) menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. melaksanakan dan melakukan evaluasi RPS/RKAS secara berkelanjutan setiap 5 tahun (renstra) dan rencana tahunan seperti Gambar 3 berikut. dan sinergi.dipetik oleh sekolah-sekolah yang melaksanakan MBS. Dengan cara ini. proses. meningkatkan efisiensi (internal dan eksternal). Melaksanakan. Menyusun Rencana Pengembangan Sekolah (RPS/RKAS). Makin tinggi tingkat kesiapan kapasitas sekolah dalam melaksanakan MBS. sangat penting bagi sekolah memilikiteamwork yang kompak. RPS/RKAS adalah dokumen tentang gambaran kegiatan sekolah dimasa depan dalam rangka untuk mencapai tujuan sekolah yang telah ditetapkan. . Karena itu. 7. Hasil evaluasi harus digunakan sebagai bahan masukan dalam rangka perbaikan desain RPS/RKAS maupun implementasinya. kewenangan dan tanggung jawab tidak lagi semata-mata terpusat pada kepala sekolah. untuk tidak disebut satu persatu. penganggaran. dan berkeadilan dan berkelanjutan. cerdas. meningkatkan relevansi pendidikan (relevansinya dengan kebutuhan peserta didik. (3) menjamin terciptanya integrasi. seperti dikemukakan sebelumnya. Perencanaan sekolah adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan sekolah yang tepat. dan sektor-sektor pembangunan). Meredistribusi Kewenangan dan Tanggung jawab Dalam era sentralistik. dan pengawasan.

sehingga kegiatan tidak mencapai sasaran. dan masyarakat. Dalam melaksanakan proses pembelajaran. untuk mengetahui seberapa jauh program peningkatan mutu telah mencapai sasaran-sasaran mutu yang telah ditetapkan . bimbingan dan arahan jangan sampai membuat guru dan tenaga lainnya menjadi amat terkekang dalam melaksanakan kegiatan. dan tonggak-tonggak kunci keberhasilan. tujuan strategis sekolah. kepala sekolah perlu melakukan supervisi dan monitoring terhadap kegiatan-kegiatan peningkatan mutu yang dilakukan di sekolah. Melakukan Monitoring dan Evaluasi RPS/RKAS Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program. Rencana tahunan (alternatif 2) meliputi: identifikasi tantangan nyata yang dihadapi oleh sekolah. strategi pelaksanaan. sekolah perlu mengadakan evaluasi pelaksanaan program. Kepala sekolah dan guru hendaknya mendayagunakan sumberdaya pendidikan yang tersedia semaksimal mungkin. c. orangtua siswa. misi.Sekolah harus membuat rencana pengembangan sekolah strategis (RPS/RKAS Strategis/Renstra) untuk jangka waktu 5 tahun ke depan dan rencana operasional/rencana tahunan sekolah (RPS/RKAS Tahunan) yang merupakan jabaran dari Renstra. Kepala sekolah sebagai manajer dan pemimpin pendidikan di sekolahnya berhak dan perlu memberikan arahan. dan penyusunan rencana dan program kerja tahunan sekolah. Untuk menghindari berbagai penyimpangan. analisis SWOT. Kepala sekolah dan guru bebas mengambil inisiatif dan kreatif dalam menjalankan program-program yang diproyeksikan dapat mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkan. rencana biaya. b. maka sekolah harus dapat memperbaiki pelaksanaan program peningkatan mutu pada semester berikutnya. maka sekolah perlu mengambil langkah proaktif untuk mewujudkan sasaran-sasaran yang telah ditetapkan. rencana biaya. rencana pelaksanaan. Evaluasi jangka menengah dilakukan pada setiap akhir tahun. dan teguran kepada guru dan tenaga lainnya jika ada kegiatan yang tidak sesuai dengan jalur-jalur yang telah ditetapkan. sekolah harus dapat membebaskan diri dari keterikatan-keterikatan birokratis yang biasanya banyak menghambat penyelenggaraan pendidikan. perumusan tujuan/sasaran satu tahun ke depan berdasarkan tantangan nyata yang dihadapi (tujuan situasional sekolah). program-program strategis. menggunakan pengalaman-pengalaman masa lalu yang dianggap efektif. sekolah hendaknya menerapkan konsep belajar tuntas (mastery learning). Sedangkan rencana tahunan sekolah pada umumnya (alternatif 1): meliputi tujuan yang akan dicapai satu tahun ke depan. Dengan demikian siswa dapat menguasai suatu materi pelajaran secara tuntas sebagai prasyarat dan dasar yang kuat untuk mempelajari tahapan pelajaran berikutnya yang lebih luas dan mendalam. dukungan. Rencana strategis sekolah pada umumnya mencakup perumusan visi. rencana pemantauan dan evaluasi. dan tonggak-tonggak kunci keberhasilan satu tahun ke depan. Namun demikian. Konsep ini menekankan pentingnya siswa menguasai materi pelajaran secara utuh dan bertahap sebelum melanjutkan ke pembelajaran topik-topik yang lain. program-program untuk mencapai tujuan satu tahun ke depan. bimbingan. Melaksanakan RPS/RKAS Dalam melaksanakan rencana peningkatan mutu pendidikan yang telah disetujui bersama antara sekolah. Bilamana pada satu semester dinilai adanya faktor-faktor yang tidak mendukung. dan menggunakan teori-teori yang terbukti mampu meningkatkan kualitas pembelajaran. pemilihan urusan-urusan sekolah yang perlu dilibatkan untuk mencapai sasaran yang telah dirumuskan. Evaluasi jangka pendek dilakukan setiap akhir catur wulan untuk mengetahui keberhasilan program secara bertahap. baik jangka pendek maupun jangka panjang. Karena itu. langkah-langkah pemecahan persoalan. monitoring dan evaluasi.

pengontrolan. orangtua siswa dan yayasan (bagi sekolah swasta). Direktorat Pembinaan Sekolah (SD. SMP. SMK) Secara umum. orangtua peserta didik dan masyarakat sebagai pihak eksternal harus dilibatkan untuk menilai keberhasilan program yang telah dilaksanakan. Yang perlu disepakati adalah indikator apa saja yang perlu ditetapkan sebelum penilaian dilakukan. baik pada tataran formulasi/penetapan. 1). pengarahan. SMA. Ini memiliki arti bahwa sekolah merupakan unit utama kegiatan pendidikan. Jika sekolah melakukan upaya-upaya penambahan pendapatan (income generating activities). pengaturan. Khusus untuk kebijakan. sudah harus dikurangi dan dikembangkan menjadi pola pikir manajemen baru yang lebih menekankan pada otonomi. komite sekolah. d. Karena itu pola pikir manajemen lama yang lebih menekankan pada subordinasi. kriteria. kepala sekolah harus mengikutsertakan setiap unsur yang terlibat dalam program. Seiring dengan diberlakukannya Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan (Bidang Pendidikan) antara Pemerintah. motivasi-diri. yaitu dari pola manajemen lama (sentralistik) menuju ke pola manajemen baru (desentralistik) memerlukan perumusan kembali tugas dan fungsi jajaran birokrasi. dan Pemerintah Kabupaten/Kota (selanjutnya disingkat PP 38/2007). prosedur. dan pengambilan keputusan partisipatif. walaupun pihak sekolah menganggapnya cukup berhasil. implementasi. rinciannya sebagai berikut: (1) pada tataran formulasi dan penetapan kebijakan. sekolah mengetahui bagaimana sudut pandang pihak luar bila dibandingkan dengan hasil penilaian internal. Tugas dan Fungsi Jajaran Birokrasi Konsekuensi logis dari perubahan penyelenggaraan pendidikan. Laporan teknis menyangkut program pelaksanaan dan hasil MBS. dinas pendidikan kabupaten/kota. Direktorat Pembinaan Sekolah (SD. Direktorat Pembinaan mempunyai tugas dan fungsi mensosialisasikan MBS ke seluruh daerah melalui Dinas Pendidikan Propinsi/Kabupaten/Kota. selanjutnya disingkat Direktorat Pembinaan) mempunyai tugas dan fungsi menyusun norma-norma (peraturan perundang-undangan). Demikian pula.sebelumnya. dan kebijakan. Direktorat Pembinaan mempunyai tugas dan fungsi memformulasikan/menetapkan kebijakan dan strategi pengelolaan MBS melalui penyusunan dan penerbitan buku panduan MBS. sedang birokrasi dan unsurunsur lainnya merupakan unit pelayanan pendukung. Dengan demikian. khususnya guru dan tenaga lainnya agar mereka dapat menjiwai setiap penilaian yang dilakukan dan memberikan alternatif pemecahan. Suatu hal yang bisa terjadi bahwa orang tua peserta didik dan masyarakat menilai suatu program gagal atau kurang berhasil. maupun evaluasinya pada tingkat nasional. maka pendapatan tambahan tersebut harus juga dilaporkan. maka laporan harus dikirim kepada pengawas. Pemerintah Propinsi. Dari uraian konsep MBS disebutkan bahwa pola manajemen baru lebih menekankan pada pemandirian dan pemberdayaan sekolah. fasilitasi. Dalam melaksanakan evaluasi. SMK. SMA. dan oneman-show dalam pengambilan keputusan. sedang laporan keuangan meliputi penggunaan uang serta pertanggungjawabannya. (2) pada tataran implementasi kebijakan. bantuan. dan menetapkan standar MBS sebagai patokan yang berlaku secara nasional. SMP. standar. Dengan evaluasi ini akan diketahui kekuatan dan kelemahan program untuk diperbaiki pada tahun-tahun berikutnya. maka tugas dan fungsi masing-masing jajaran birokrasi pendidikan dalam penyelenggaraan MBS dapat dituliskan sebagai berikut. Sebagai bentuk pertanggungjawaban (akuntabilitas). (3) memfasilitasi . Hasil evaluasi pelaksanaan MBS perlu dibuat laporan yang terdiri dari laporan teknis dan keuangan.

e) Memberikan pelayanan pengelolaan atas satuan pendidikan negeri dan swasta di Kabupaten/Kota masing-masing berkaitan dengan pelaksanaan MBS. dan h) Melaksanakan monitoring dan evaluasi penyelenggaraan MBS untuk perbaikan. g) Melaksanakan pembinaan dan pengurusan atas tenaga pendidik yang bertugas pada satuan pendidikan di Kabupaten/Kota berkaitan dengan pelaksanaan MBS. baik secara elektronik dan/atau non-elektronik tentang perkembangan konsep dan hasil pelaksanaan MBS secara nasional dan praktek-praktek yang baik yang dapat dipetik untuk memperbaiki konsep maupun pelaksanaan MBS. d) Memfasilitasi pengimbasan praktek-praktek MBS yang baik (best practices)dari sekolah tertentu ke sekolah-sekolah lain untuk dijadikan lessons learned. dana pendidikan. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota menjalankan tugas dan fungsinya sebagai berikut: a) Menyusun kebijakan yang mendukung pelaksanaan MBS. antara lain: (1) menyusun petunjuk teknis pelaksanaan dan petunjuk teknis monitoring dan evaluasi berdasarkan pedoman yang ditetapkan pemerintah pusat. Lebih spesifiknya. pemberian pedoman/petunjuk pelaksanaan MBS. yaitu yang mampu menjaga harmonisme antara prinsip-prinsip MBS dan kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah daerah khususnya pendanaan dari masyarakat sehingga tidak terjadi konflik apalagi benturan. (3) melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan MBS serta pengembangannya di Provinsi masing-masing. prasarana dan sarana pendidikan. Direktorat Pembinaan mempunyai tugas dan fungsi melakukan monitoring dan evaluasi penyelenggaraan MBS secara nasional dan menerbitkan informasi secara berkala. 3). dan sebagainya. 4). Sekolah . Dinas Pendidikan Provinsi Secara umum. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota menjalankan tugas dan fungsi utamanyamemberikan pelayanan dalam pengelolaan satuan pendidikan di Kabupaten/Kota masing-masing yang menjalankan MBS. f) Memberikan pelayanan terhadap sekolah dalam mengelola aset/sumberdaya pendidikan yang meliputi tenaga guru. 2). b) Membimbing sekolah dalam menerapkan MBS melalui berbagai cara seperti pelatihan. tugas dan fungsi Dinas Pendidikan Provinsi adalah menjabarkan kebijakan dan strategi MBS yang telah digariskan oleh Direktorat Pembinaan untuk diberlakukan di Provinsi masing-masing. (2) memberi pelatihan kepada para pengembang MBS di tingkat kabupaten. dan (4) mengkoordinasikan dan menyerasikan pelaksanaan MBS lintas kabupaten/kota untuk menghindari penyimpangan MBS dan menghindari kesenjangan mutu pendidikan lintas kabupaten/kota. dan (3) pada tataran evaluasi kebijakan. buku pelajaran. c) Menyusun pembagian urusan pendidikan yang menjadi kewenangan dan tanggungjawab Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan Sekolah.dan mengembangkan kapasitas daerah agar mampu dan sanggup melaksanakan MBS. dan pertemuan-pertemuan yang memfasilitasi pelaksanaan MBS.

Tugas dan fungsi utama sekolah adalah mengelola penyelenggaraan MBS di sekolah masing-masing. C. Pengantar . Komite Sekolah Tugas dan fungsi utama Komite Sekolah dalam pelaksanaan MBS di sekolah adalah: (1) memberi masukan. wakil organisasi profesi. tata usaha). saling terkait. dan tokoh masyarakat. d) Melaksanakan pengawasan dan pembimbingan dalam pelaksanaan MBS sehingga kejituan implementasi dapat dijamin untuk mencapai sasaran MBS. (6) melakukan kerjasama dengan masyarakat. kriteria fasilitas pendidikan. maka sekolah menjalankan tugas dan fungsinya sebagai berikut: a) Menyusun rencana dan program pelaksanaan MBS dengan melibatkan kelompok-kelompok kepentingan. (4) mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu tinggi. 5). dan Yayasan (bagi sekolah swasta). (2) mendorong orangtua siswa dan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pendidikan. kriteria kinerja sekolah. dan keterlibatan total warga sekolah dalam meningkatkan mutu sekolah) dan berpikir sistem (berpikir holistik/tidak parsial. dan hal-hal lain yang terkait dengan pendidikan. wakil siswa (OSIS). wakil pemerintah. dan Yayasan (bagi sekolah swasta). (5) melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap kebijakan/program/penyelenggaraan dan keluaran pendidikan. antara lain: wakil sekolah (kepala sekolah. guru. Komite Sekolah. (3) menggalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan pendidikan. dan rekomendasi kepada sekolah mengenai kebijakan dan program pendidikan. wakil orangtua siswa. Pengawas Sekolah. e) Pada setiap akhir tahun ajaran melakukan evaluasi untuk menilai tingkat ketercapaian sasaran program MBS yang telah ditetapkan. Mengingat sekolah merupakan unit utama dan terdepan dalam penyelenggaraan MBS. kriteria pendidik dan tenaga kependidikan. tuntutan. f) Menyusun laporan penyelenggaraan MBS beserta hasilnya secara lengkap untuk disampaikan kepada pihak-pihak terkait yaitu Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Hasil evaluasi ini kemudian digunakan untuk menentukan sasaran baru program MBS tahun. RAPBS. TATA KELOLA YANG BAIK A. c) Melaksanakan MBS secara efektif dan efisien dengan menerapkan prinsip-prinsip total quality management (fokus pada pelanggan. pertimbangan. perbaikan secara terus-menerus. ide. Komite Sekolah. dan terpadu). dan berbagai kebutuhan pendidikan yang diajukan oleh masyarakat.tahun berikutnya. b) Mengkoordinasikan dan menyerasikan segala sumber daya yang ada di sekolah dan di luar sekolah untuk mencapai sasaran MBS yang telah ditetapkan. wakil kepala sekolah. dan g) Mempertanggung jawabkan hasil penyelenggaraan MBS kepada pihak-pihak yang berkepentingan dengan sekolah yaitu Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. dan (7) menampung dan menganalisis aspirasi.

dan pengawasan/ pengevaluasian pendidikan lebih partisipatif dan benar-benar mengabdi kepada kepentingan publik dan bukan pada kepentingan elite birokrasi dan politik. b. Tata kelola yang lainnya tidak akan diuraikan dalam materi pelatihan ini karena terbatasnya waktu pelatihan. partisipasi dapat mendorong warga sekolah dan masyarakat sekitar untuk menggunakan haknya dalam menyampaikan pendapat dalam proses pengambilan keputusan. Para pembaca dipersilahkan mempelajari prinsip-prinsip tata kelola yang tidak dibahas dalam materi pelatihan ini dari sumber-sumber lain. perencanaan. pembuatan kebijakan. Untuk itu. perencanaan. Diharapkan. pengawasan/ pengevaluasian pendidikan sekolah. pembuatan kebijakan. dan pasti dalam penjaminan mutu. maupun warga di luar sekolah seperti orang tua siswa. makin besar rasa memiliki. kepala sekolah. dan tenaga-tenaga kependidikan lainnya. hukum dilaksanakan dengan baik. siswa. baik secara individual maupun kolektif. prediktif. makin besar rasa memiliki. Inilah pentingnya partisipasi bagi sekolah. Pergeseran lokus kebijakan dari pemerintah pusat dan dari dinas pendidikan ke sekolah diharapkan proses pengambilan keputusan. dan makin besar rasa tanggungjawab. akuntabilitas. baik warga sekolah seperti guru. tetapi hanya tiga tata kelola pertama yang diuraikan yaitu partisipasi. sekolah diberi otonomi (kewenangan dan tanggung jawab) yang lebih besar untuk mengelola sekolahnya. demokrasi/egaliterisme. pembuatan kebijakan. Arti Partisipasi Partisipasi adalah proses di mana stakeholders (warga sekolah dan masyarakat) terlibat aktif baik secara individual maupun kolektif. dalam pengambilan keputusan. dan pihak-pihak lain yang mewakili masyarakat yang diwadahi melalui komite sekolah. Dalam materi pelatihan ini tidak semua prinsip-prinsip tata kelola ditulis dan disampaikan. Latar Belakang Salah satu alasan penerapan MBS adalah untuk membuat kebijakan/keputusan sekolah lebih dekat dengan stakeholders sehingga hasilnya benar-benar mencerminkan aspirasi stakeholders. akademisi. Saat ini.Seperti disebut sebelumnya. efektivitas. kewenangan dan tanggung jawab yang lebih besar hanya dapat dilaksanakan dengan baik apabila sekolah menerapkan prinsip-prinsip tata kelola yang baik yaitu partisipasi. Uraian 1. efisiensi. perencanaan. Komite Sekolah merupakan wadah formal bagi stakeholders untuk berpartisipasi secara langsung maupun tidak langsung dalam penyelenggaraan sekolah. transparansi. makin besar pula rasa tanggungjawab. transparansi. MBS mensyaratkan adanya partisipasi aktif dari semua pihak yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan di sekolah (stakeholders). peka terhadap aspirasi stakeholders. dalam MBS. secara langsung maupun tidak langsung. pengawasan/pengevaluasian yang menyangkut kepentingan sekolah. pelaksanaan. B. berwawasan ke depan. Peningkatan partisipasi dilandasi oleh keyakinan bahwa makin tinggi tingkat partisipasi. pelaksanaan. pelaksanaan. keadilan. makin besar pula tingkat dedikasi/kontribusinya terhadap sekolah. dan akuntabilitas. secara langsung maupun tidak langsung. Namun. tokoh masyarakat. Partisipasi a. Dengan partisipasi aktif diharapkan mampu menjadikan aspirasi stakeholders sebagai panglima karena dengan MBS diharapkan mampu mengalirkan kekuasaan dari pemerintah pusat dan dinas .

(3) meningkatkan peranstakeholders dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. finansial. dan kompatibilitas tujuan yang akan dicapainya. (2) memberdayakan kemampuan yang ada pada stakeholders bagi pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Tujuan Partisipasi Tujuan utama peningkatan partisipasi adalah untuk: (1) meningkatkan dedikasi/ kontribusi stakeholders terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah. (4) Meningkatnya kualitas dan kuantitas masukan (kritik dan saran) untuk peningkatan mutu pendidikan. penyampaian pendapat secara tertulis. Upaya-Upaya Peningkatan Partisipasi Untuk mencapai tujuan tersebut. (1) Membuat peraturan dan pedoman sekolah yang dapat menjamin hak stakeholders untuk menyampaikan pendapat dalam segala proses pengambilan keputusan. kompetensinya. controller. Melakukan advokasi. perencanaan. moral. Indikator Keberhasilan Partisipasi Keberhasilan peningkatan partisipasi stakeholders dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah dapat diukur dengan beberapa indikator berikut: (1) (2) Kontribusi/dedikasi stakeholders meningkat dalam hal jasa (pemikiran.pendidikan ke tangan para pengelola sekolah. publikasi. Menyediakan sarana partisipasi atau saluran komunikasi agar stakeholdersdapat mengutarakan pendapatnya atau dapat mengekspresikan keinginan dan aspirasinya melalui pertemuan umum. and education provider. baik sebagai advisor. dan material/barang. pelaksanaan. pembuatan kebijakan. (3) Meningkatnya tanggungjawab stakeholders terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah. yang sebenarnya sangat strategis karena pada level inilah keputusan dapat memperbaiki mutu pendidikan. dan pengawasan/pengevaluasian pendidikan di sekolah. Melibatkan stakeholders secara proporsional dengan mempertimbangkan relevansi pelibatannya. perencanaan. supporter. Meningkatnya kepercayaan stakeholders kepada sekolah. pelaksanaan. pembuatan kebijakan. keterampilan). temu wicara. moral. keterampilan). dan (4) menjamin agar setiap keputusan dan kebijakan yang diambil benar-benar mencerminkan aspirasi stakeholders dan menjadikan aspirasi stakeholderssebagai panglima bagi penyelenggaraan pendidikan di sekolah. terutama menyangkut kewibawaan dan kebersihan. batas-batas yurisdiksinya. (5) Meningkatnya kepedulian stakeholders terhadap setiap langkah yang dilakukan oleh sekolah untuk meningkatkan mutu. mediator. . finansial. dan transparansi kepadastakeholders. c. baik dalam bentuk jasa (pemikiran/intelektualitas. (2) (3) (4) e. upaya-upaya yang perlu dilakukan oleh sekolah dalam rangka meningkatkan partisipasi stakeholders adalah sebagai berikut. d. partisipasi secara aktif dalam proses pengambilan keputusan. konsultasi. komunikasi. dan pengawasan/ pengevaluasian pendidikan di sekolah. dan material/barang. resource linker.

transparansi bukan lagi merupakan kebutuhan tetapi hak yang harus diberikan oleh sekolah sebagai organisasi pelayanan pendidikan. . tidak curang. Hak publik atas informasi yang harus diberikan oleh sekolah antara lain: hak untuk mengetahui. Arti Transparansi Transparansi sekolah adalah keadaan di mana setiap orang yang terkait dengan kepentingan pendidikan dapat mengetahui proses dan hasil pengambilan keputusan dan kebijakan sekolah. istilah transparansi sangatlah jelas yaitu kepolosan. hak untuk menghadiri pertemuan sekolah. Transparansi a. Bagi publik. transparansi penuh menyaratkan bahwa perubahan itu harus diungkapkan secara sebenarnya dan dengan segera kepada semua pihak yang terkait (stakeholders). Transparansi menjamin bahwa data sekolah yang dilaporkan mencerminkan realitas. publik tidak lagi curiga terhadap sekolah dan karenanya keyakinan dan kepercayaan publik terhadap sekolah juga tinggi. Mengingat sekolah adalah organisasi pelayanan publik. Latar Belakang Sekolah adalah organisasi pelayanan yang diberi mandat oleh publik untuk menyelenggarakan pendidikan sebaik-baiknya. Tujuan Transparansi Pengembangan transparansi ditujukan untuk membangun kepercayaan dan keyakinan publik kepada sekolah bahwa sekolah adalah organisasi pelayanan pendidikan yang bersih dan berwibawa. Oleh karena itu. Jika terdapat perubahan pada status data dalam laporan suatu sekolah. hak untuk diinformasikan tanpa harus ada permintaan. Dalam konteks pendidikan. Transparansi dicapai melalui kemudahan dan kebebasan publik untuk memperoleh informasi dari sekolah. Kebebasan memperoleh informasi sekolah dapat dicapai jika dokumentasi informasi sekolah tersedia secara mutakhir. sekolah harus memberikan jaminan kepada publik terhadap akses informasi sekolah atau kebebasan memperoleh informasi sekolah. jujur. Dengan transparansi yang tinggi. dan terbuka terhadap publik tentang apa yang dikerjakan oleh sekolah. d. Bersih dalam arti tidak KKN dan berwibawa dalam arti profesional. maka sekolah harus transparan kepada publik mengenai proses dan hasil pendidikan yang dicapai. c. b.(6) Keputusan-keputusan yang dibuat oleh sekolah benar-benar mengekspresikan aspirasi dan pendapat stakeholders dan mampu meningkatkan kualitas pendidikan. Ini berarti bahwa sekolah harus memberikan informasi yang benar kepada publik. apa adanya. 2. Transparansi bertujuan untuk menciptakan kepercayaan timbal balik antara sekolah dan publik melalui penyediaan informasi yang memadai dan menjamin kemudahan dalam memperoleh informasi yang akurat. Upaya-Upaya Peningkatan Transparansi . dan hak untuk menyebarluaskan informasi. baik kualitas maupun kuantitas Pengembangan transparansi sangat diperlukan untuk membangun keyakinan dan kepercayaan publik kepada sekolah. tidak bohong. hak untuk mendapatkan salinan informasi.

dan prosedur pengaduan apabila informasi tidak sampai kepada publik. mengelola. leaflet. hak diinformasikan. Publik sebagai pemberi mandat dapat memberi penilaian terhadap penyelenggara sekolah apakah pelaksanaan mandat dilakukan secara memuaskan atau tidak. memimpin. Sekolah perlu mengupayakan peraturan yang menjamin hak publik untuk mendapatkan informasi sekolah. b. bentuk informasi yang dapat diakses oleh publik ataupun bentuk informasi yang bersifat rahasia. Agar penyelenggara sekolah tidak sewenang-wenang dalam menyelenggarakan sekolah. Dalam kaitannya dengan akuntabilitas. (3) bertambahnya wawasan dan pengetahuan publik terhadap penyelenggaraan sekolah. Ini berarti. maka sekolah harus bertanggungjawab terhadap apa yang dikerjakan. Untuk itu. dan (4) berkurangnya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku di sekolah. akuntabilitas publik akan menyangkut hak publik untuk memperoleh pertanggungjawaban penyelenggara sekolah. bagaimana cara mendapatkan informasi. Upaya-upaya yang perlu dilakukan dalam kerangka meningkatkan transparansi sekolah kepada publik antara lain melalui pendayagunaan berbagai jalur komunikasi. durasi waktu untuk mendapatkan informasi. Indikator Keberhasilan Transparansi Keberhasilan transparansi sekolah ditunjukkan oleh beberapa indikator berikut: (a) meningkatnya keyakinan dan kepercayaan publik kepada sekolah bahwa sekolah adalah bersih dan wibawa. dan hak untuk menilai kinerja sekolah. mengambil keputusan. maupun secara tidak langsung melalui jalur media tertulis (brosur. hak untuk komplain. newsletter. publik mempunyai hak untuk memberikan masukan. e. 3. Akuntabilitas kinerja sekolah adalah perwujudan kewajiban sekolah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan/kegagalan pelaksanaan rencana sekolah dalam . Akuntabilitas a. sarana informasi dan komunikasi. pengumuman melalui surat kabar) maupun media elektronik (radio dan televisi lokal). Latar Belakang MBS memberi kewenangan yang lebih besar kepada penyelenggara sekolah yaitu kewenangan untuk mengatur dan mengurus sekolah. dan petunjuk penyebarluasan produk-produk dan informasi yang ada di sekolah maupun prosedur pengaduan. sekolah berkewajiban mempertanggungjawabkan kepada publik tentang apa yang dikerjakan sebagai konsekwensi dari mandat yang diberikan oleh publik/ masyarakat. dan mengontrol sekolah. fasilitas database. Upaya lain yang perlu dilakukan oleh sekolah dalam meningkatkan transparansi adalah menyiapkan kebijakan yang jelas tentang cara mendapatkan informasi. (2) meningkatnya partisipasi publik terhadap penyelenggaraan sekolah. Arti Akuntabilitas Akuntabilitas adalah kewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban atau untuk menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan penyelenggara organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau berkewenangan untuk meminta keterangan atau pertanggjawaban.Transparansi sekolah perlu ditingkatkan agar publik memahami situasi sekolah dan dengan demikian mempermudah publik untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Pertanggung jawaban penyelenggara sekolah merupakan akumulasi dari keseluruhan pelaksanaan tugas-tugas pokok dan fungsi sekolah yang perlu disampaikan kepada publik/stakeholders. baik secara langsung melalui temu wicara.

Selain itu. d. dan untuk mempertanggungjawabkan komitmen pelayanan pendidikan kepada publik. yaitu akuntabilitas yang berhubungan dengan pendapatan dan pengeluaran uang (cash in and cash out). Akuntabilitas meliputi pertanggungjawaban penyelenggara sekolah yang diwujudkan melalui transparansi dengan cara menyebarluaskan informasi dalam hal: (a) pembuatan dan pelaksanaan kebijakan serta perencanaan. prosedur. yaitu akuntabilitas yang berhubungan dengan proses. (c) pengelolaan sumberdaya pendidikan di sekolah. yaitu akuntabilitas pilihan atas kebijakan yang akan dilaksanakan. Sering kali istilah cost accountability juga digunakan untuk kategori akuntabilitas ini. dan (4) akuntabilitas keuangan (kejujuran) atau sering disebut (financial accountability). aturan main.mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan melalui alat pertanggungjawaban secara periodik. b) Sekolah perlu menyusun pedoman tingkah laku dan sistem pemantauan kinerja penyelenggara sekolah dan sistem pengawasan dengan sanksi yang jelas dan tegas. tujuan akuntabilitas adalah untuk menilai kinerja sekolah dan kepuasan publik terhadap pelayanan pendidikan yang diselenggarakan oleh sekolah. sekolah dan menyampaikan kepada d) Menyusun indikator yang jelas tentang pengukuran kinerja sekolah dan disampaikan kepada stakeholders. (b) anggaran pendapatan dan belanja sekolah. pedoman. Ini perlu diupayakan untuk menjaga kepastian tentang pentingnya akuntabilitas. c) Sekolah menyusun rencana pengembangan publik/stakeholders di awal setiap tahun anggaran. Penyelenggara sekolah harus memahami bahwa mereka harus mempertanggungjawabkan hasil kerja kepada publik. dan sebagainya. akuntabilitas dapat dikategorikan menjadi 4: (1) akuntabilitas kebijakan. Tujuan Akuntabilitas Tujuan utama akuntabilitas adalah untuk mendorong terciptanya akuntabilitas kinerja sekolah sebagai salah satu prasyarat untuk terciptanya sekolah yang baik dan terpercaya. yaitu akuntabilitas yang berhubungan dengan pencapaian tujuan sekolah. Sekolah dikatakan memiliki akuntabilitas tinggi jika proses dan hasil kinerja sekolah dianggap benar dan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Menurut jenisnya. a) Sekolah harus menyusun aturan main tentang sistem akuntabilitas termasuk mekanisme pertanggungjawaban. dan (d) keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan rencana sekolah dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. c. Untuk mengukur kinerja mereka secara obyektif perlu adanya indikator yang jelas.. (2) akuntabilitas kinerja (product/quality accountability). maka perlu diupayakan hal-hal sebagai berikut. Upaya-Upaya Peningkatan Akuntabilitas Agar sekolah memiliki akuntabilitas yang tinggi. ketentuan. Sistem pengawasan perlu diperkuat dan hasil evaluasi harus dipublikasikan dan apabila terdapat kesalahan harus diberi sanksi. untuk mengikutsertakan publik dalam pengawasan pelayanan pendidikan. . (3) akuntabilitas proses.

Informasi hasil ini kemudian dibandingkan dengan sasaran yang telah ditetapkan. kita dapat mengukur tingkat kemajuan pendidikan pada tingkat sekolah. Jadi. dan departemen. Monitoring dan evaluasi.e) Melakukan pengukuran pencapaian kinerja pelayanan pendidikan dan menyampaikan hasilnya kepada publik/stakeholders di akhir tahun. pengelolaan program. Hal ini penting untuk dilakukan agar sekolah dengan mudah untuk . e. Hal ini didasari oleh pemikiran bahwa dengan monitoring dan evaluasi. Dengan monitoring dan evaluasi. Istilah monitoring dan evaluasi memiliki makna sebagai berikut. dinas pendidikan kabupaten/kota. fokus evaluasi adalah pada hasil MBS. (c) berkurangnya kasus-kasus KKN di sekolah. dan (d) meningkatnya kesesuaian kegiatankegiatan sekolah dengan nilai dan norma yang berkembang di masyarakat. monitoring dan evaluasi yang bermanfaat adalah monitoring dan evaluasi yang menghasilkan informasi yang cepat. berarti MBS efektif. Jika MBS kurang berhasil. Tanpa pengukuran. tepat. maupun makro (kementerian). g) Menyediakan informasi kegiatan sekolah kepada publik yang akan memperoleh pelayanan pendidikan. kita dapat menilai apakah MBS benarbenar mampu meningkatkan mutu pendidikan. MONOTORING DAN EVALUASI MBS A. meso (dinas pendidikan kabupaten/kota. Sebaliknya jika hasil tidak sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan. baik menyangkut proses pengambilan keputusan. Oleh karena itu. h) Memperbarui rencana kinerja yang baru sebagai kesepakatan komitmen baru. f) Memberikan tanggapan terhadap pertanyaan atau pengaduan publik. dinas pendidikan provinsi. sebaiknya setiap sekolah yang melaksanakan MBS diharapkan memiliki data-data tentang prestasi siswa sebelum dan sesudah MBS. fokus monitoring adalah pada komponen proses MBS. baik di tingkat mikro (sekolah). Indikator Keberhasilan Akuntabilitas Keberhasilan akuntabilitas dapat diukur dengan beberapa indikator berikut. dan cukup untuk pengambilan keputusan. dinas pendidikan provinsi). pada umumnya. pengelolaan kelembagaan. menghasilkan informasi yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan. dengan monitoring dan evaluasi. maka MBS dianggap tidak efektif (gagal). Sedang evaluasi merupakan suatu proses untuk mendapatkan informasi tentang hasil MBS. Jadi. tidak ada alasan untuk mengatakan apakah suatu sekolah mengalami kemajuan atau tidak. Karena itu. apanya yang salah? Konsepnya atau pelaksanaannya? Karena itu. Pengantar Monitoring dan evaluasi merupakan bagian integral dari pengelolaan pendidikan. Tepatnya. Penerapan MBS juga memerlukan monitoring dan evaluasi secara intensif dan dilakukan secara terus-menerus. C. Monitoring adalah suatu proses pemantauan untuk mendapatkan informasi tentang pelaksanaan MBS. maupun pengelolaan proses belajar mengajar. yaitu: (a) meningkatnya kepercayaan dan kepuasan publik terhadap sekolah. bukan pada hasilnya. kita juga dapat memperbaiki konsep dan pelaksanaan MBS. (b) tumbuhnya kesadaran publik tentang hak untuk menilai terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Jika hasil sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan. fokus monitoring adalah pemantauan pada pelaksanaan MBS.

dan outcome. Hasil monitoring dapat digunakan untuk memberi masukan (umpan balik) bagi perbaikan pelaksanaan MBS. peralatan. Esensi evaluasi pada input adalah untuk mendapatkan informasi tentang “ketersediaan dan kesiapan” input sebagai prasyarat untuk berlangsungnya proses.membandingkan prestasi siswa sebelum dan sesudah MBS. Masukanmasukan dari hasil monitoring dan evaluasi akan digunakan untuk pengambilan keputusan. Dalam istilah lain. dan input manajemen. kejujuran. proses terdiri dari: proses pengambilan keputusan. Alat yang tepat untuk melakukan evaluasi konteks adalah penilaian kebutuhan (needs assessment). prosedur kerja. Jika setelah MBS ada peningkatan prestasi yang signifikan dibanding sebelum MBS. rencana. dan prestasi olahraga. sasaran. dan peringkat lomba karya tulis. Sesuatu yang dimaksud tidak harus berupa barang. maupun prestasi non-akademik (non-academic achievement). dan pengendalian atau tindakan turun tangan. Output adalah hasil nyata dari pelaksanaan MBS. Secara garis besar. Dengan demikian. tujuan. dan proses akuntabilitas. bahan). kedisiplinan. limitasi. sedang inkonsistensi akan menjurus kepada kegagalan MBS. B. proses. IMTAQ. Hasil nyata yang dimaksud dapat berupa prestasi akademik (academic achievement). misalnya. Untuk lebih rincinya. tetapi juga dapat berupa perangkat-perangkat lunak dan harapan-harapan sebagai pemandu bagi berlangsungnya proses. Proses adalah berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain. misalnya. segera dapat dilakukan koreksi/pelurusan terhadap pelaksanaan. yaitu konteks. regulasi (ketentuan-ketentuan. Sedang hasil evaluasi dapat memberikan informasi yang dapat digunakan untuk memberi masukan terhadap keseluruhan komponen MBS. Dengan didapatkan informasi inkonsistensi tersebut. Dalam MBS sebagai sistem. nilai NUN. konteks sama artinya dengan istilah kebutuhan. yaitu harapan. Dengan demikian. memiliki komponen-komponen yang saling terkait secara sistematis satu sama lain. lihat uraian input pada BAB II. input dapat diklasifikasikan menjadi tiga. Sumberdaya dibagi menjadi dua yaitu sumberdaya manusia dan sumberdaya selebihnya (uang. Uraian 1. sehingga dapat ditemukan informasi tentang konsistensi atau inkonsistensi antara rancangan/disain MBS semula dengan proses implementasi yang sebenarnya. Monitoring dan evaluasi MBS bertujuan untuk mendapatkan informasi yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan. perlengkapan. proses. maupun outcome nya. Input manajemen terdiri dari tugas. baik pada konteks. kesenian. output. maka hal ini dapat diduga bahwa MBS cukup berhasil. proses pengelolaan kelembagaan. dan kerajinan. dan sebagainya). input. proses belajar mengajar. misi. Input adalah segala “sesuatu” yang harus tersedia dan siap karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses. Harapan-harapan terdiri dari visi. evaluasi konteks berarti evaluasi tentang kebutuhan. program. output. Fokus evaluasi pada output adalah mengevaluasi sejauhmana sasaran (immediate objectives) yang diharapkan . proses evaluasi sekolah. fokus evaluasi pada proses adalah pemantauan (monitoring) implementasi MBS. input. Komponen-Komponen MBS yang Dimonitor dan Dievaluasi MBS sebagai sistem. proses pengelolaan program. Konsistensi antara rancangan dan proses pelaksanaan akan mendukung tercapainya sasaran. sumberdaya. Konteks adalah eksternalitas sekolah berupa demand and support (permintaan dan dukungan) yang berpengaruh pada input sekolah.

guru bimbingan dan penyuluhan. Besar kecilnya perubahan komponen-komponen tersebut (dari dan sesudah melaksanakan MBS) merupakan ukuran tingkat keberhasilan MBS. pelaksana monitoring dan evaluasi internal adalah warga sekolah sendiri yaitu kepala sekolah. memperbaiki sistem yang ada secara keseluruhan. kuantitas. siswa. . makin besar perubahan (peningkatan/pengembangan) komponen-komponen tersebut dari sebelum dan sesudah melaksanakan MBS. atau gabungan dari ketiganya. yaitu internal dan eksternal. Tonggak-tonggak Kunci Keberhasilan MBS Untuk mengevaluasi keberhasilan MBS. yang berbeda dengan output yang hanya mengukur hasil MBS sesaat/jangka pendek. tanggungjawab. Dengan kata lain. output. dan sosial (masyarakat). institusional (sekolah). Karena itu. yang tidak kalah penting untuk dimonitor dan dievaluasi adalah pelaksanaan prinsip-prinsip MBS yang baik (tata pengelolaan yang baik. demokrasi. pada umumnya digunakan analisis biaya-manfaat (cost-benefit analysis). Setiap tata pengelolaan harus dievaluasi apakah sebelum dan sesudah MBS ada perubahan tata pengelolaan sekolah. guru. sekolah-sekolah yang melaksanakan MBS harus membuat tonggak-tonggak kunci keberhasilan untuk kurun waktu tertentu. Outcome adalah hasil MBS jangka panjang. dan outcome sekolah. kepentingan akuntabilitas publik. orangtua siswa. Untuk melakukan evaluasi ini. sejauhmana “hasil nyata sesaat” sesuai dengan “hasil/sasaran yang diharapkan”. Hasil monitoring dan evaluasi eksternal dapat digunakan untuk: rewards system terhadap individu sekolah. dan warga sekolah lainnya. Target-target tersebut bersumber dari pemerataan pendidikan (kesamaan kesempatan antara siswa-siswa desa-kota. waktu) telah dicapai oleh MBS. Pada umumnya. dan outcome pada waktu sebelum dan sesudah melaksanakan MBS. prediktif. proses. misalnya Dinas Pendidikan. input. keadilan. output. akuntabilitas. Pengawas.(kualitas. 3. dan Perguruan tinggi. efektivitas dan efisiensi. berarti makin besar pula keberhasilan MBS. kaya-miskin. Dengan bahasa non-statistik. baik dampak individual (siswa). meningkatkan iklim kompetisi antar sekolah. Tonggak-tonggak kunci keberhasilan MBS merupakan target-target hasil MBS yang akan dicapai dalam jangka menengah (5 tahun) dan jangka pendek (1 tahun). dan kepastian jaminan hukum. 2. Tentunya makin besar kesesuaiannya. fokus evaluasi outcome adalah pada dampak MBS jangka panjang. Monitoring dan evaluasi dilakukan untuk mengetahui apakah ada perubahan konteks. proses. kepekaan. wawasan ke depan. Jenis Monitoring dan Evaluasi: Internal dan Eksternal Ada dua jenis monitoring dan evaluasi sekolah. profesionalisme. Yang dimaksud monitoring dan evaluasi internal adalah monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh sekolah sendiri. dan membantu sekolah dalam mengembangkan dirinya. seperti disebut sebelumnya yaitu meliputi: partisipasi. Selain memonitor dan mengevaluasi komponen-komponen konteks. input. Berikut adalah visualisasi monitoring dan evaluasi pada saat sebelum dan pada saat sesudah melaksanakan MBS (Lihat Gambar 4: Monitoring dan Evaluasi MBS). Sedang yang dimaksud monitoring dan evaluasi eksternal adalah monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh pihak eksternal sekolah (external institution). Tujuan utama monitoring dan evaluasi internal sekolah adalah untuk mengetahui tingkat kemajuan dirinya sendiri (sekolah) sehubungan dengan sasaran-sasaran yang telah ditetapkan. penegakan hukum. transparansi. makin besar pula kesuksesan MBS.

dan sebagainya. 2007. tanggungjawab. Pocket Guide to School-Based Management. penegakan hukum. keadilan. kepemimpinan.70 pada tahun 2011. 1997.Remaja Rosda. prediktif. dan tata kelola sekolah yang baik (good governance) yang meliputi: partisipasi. misalnya budi pekerti.laki-perempuan. fasilitas. efektivitas dan efisiensi. San Francisco: JosseyBass Publishers.00 pada tahun 2014. A. cacat-tdak cacat. 6. olimpiade.). dan 7. Ditjen Mandikdasmen. rata-rata NUN sebuah SMP adalah 6. Jika target ini dirinci setiap tahun. Larry. Manajemen Berbasis Sekolah. proses.50. 6. 1996. output). Jakarta: Logos. dan karya ilmiah remaja di samping kualitas input (guru. dan kepastian jaminan hukum. Pada tahun 2009.Mulyasa. demokrasi.) dan kualitas proses (proses belajar mengajar. dan sebagainya. angka putus sekolah. E. maka rata-rata NUN yang akan dicapai oleh sekolah adalah 6. dan 6. Sebaiknya. NUN hanyalah salah satu tolok ukur kualitas sekolah dan masih banyak tolok ukur kualitas lainnya yang perlu dipertimbangkan.). Suparto & Abas AlJauhari). efektivitas dan efisiensi pendidikan (angka kenaikan kelas.00. dan sebagainya). School-Based Management (Manajemen Berbasis Sekolah) (terjemahan: Noryamin Aini. Reynold. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama. Thousand . akuntabilitas. kepekaan. kesenian. Dornseif. Depdiknas (rujukan utama dari materi pelatihan ini). 2004. angka kelulusan. School-Based Management Organizing for High Performance. wawasan kedepan. contoh tonggak-tonggak kunci keberhasilan dapat diberikan sebagai berikut. tonggak-tonggak kunci keberhasilan dibuat tabuler yang terdiri dari program-program strategis dan tonggak-tonggak kunci keberhasilan dari setiap program strategis. 60 pada tahun 2010. Bandung: PT. transparansi. kualitas pendidikan (input. Ibtisam Abu & Duhou.1994. prestasi olah raga.80 pada tahun 2012. dan sebagainya. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Odden.90 pada tahun 2013. 2002.A. rata-rata NUN yang diharapkan dapat dicapai oleh SMP tersebut sebesar 7. profesionalisme. Successful Site-Based Management. DAFTAR PUSTAKA Anonim. Pada tahun 2014. Misalnya. Alexandria: Association for Supervision and Curriculum Development.

1989).XXII. & Mohrman (1997). Effective principals are expected to be effective instructional leaders . Mereka menyimpulkan bahwa: If our schools are to improve.. Cakrawala pendidikan. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. and teacher evaluation (Hanny. 2003..77-107.179206. Kirk. clinical supervision. MATERI UJI KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH : KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN 09:12 Nurul Amaliah No comments Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook 1. P. h. Manajemen Berbasis Sekolah dalam Mengembangkan dan Mewujudkan Budaya Mutu dalam Pendidikan. Wohlstetter. P.1992).017. Robertson. 1999.N. Juni Th.. Rutmini & Jiyono. (Findley. Alexandria: Association for Supervision and Curriculum Development..No.. the principal must be knowledgable about curriculum development. the principal’s role If a school is to be an effective one.Oaks. we must redefine and move instructional leadership to the forefront (Buffie. Zuldan K. h. it will be because of the instructional leadership of the principal ….J. No. California: Corwin Press. A.Prasetyo & Slamet.V. Juni Tahun Ke-5.. Inc.. . Succesful School-Based Management. Sejumlah ahli pendidikan telah melakukan penelitian tentang pengaruh kepemimpinan pembelajaran terhadap peningkatan hasil belajar. Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep dan Kemungkinan Strategi Pelaksanaannya di Indonesia. Pengantar Pengaruh kepemimpinan pembelajaran (instructional leadership) terhadap peningkatan hasil belajar siswa sudah tidak diragukan lagi. 1987). teachers and instructional effectiveness. staff development.

Kepemimpinan pembelajaran atau kepemimpinan instruksional adalah kepemimpinan yang memfokuskan/menekankan pada pembelajaran yang komponenkomponennya meliputi kurikulum. b. layanan prima dalam pembelajaran.Dari kutipan-kutipan tersebut diatas dapat disarikan bahwa peningkatan hasil belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kepemimpinan pembelajaran. Kepala sekolah melakukan pemantauan terhadap proses belajar mengajar sehingga memahami lebih mendalam dan menyadari apa yang sedang berlangsung didalam sekolah. Definisi inipun masih parsial karena pembelajaran mencakup banyak hal yang sebagian belum tercakup didalamnya. misalnya dia mendukung bahwa pengajaran yang memfokuskan pada kepentingan belajar siswa harus menjadi prioritas. Artinya. e. Arti Kepemimpinan Pembelajaran Walaupun telah banyak rumusan tentang arti kepemimpinan pembelajaran. Kepala sekolah mensosialisasikan dan menamkan isi dan makna visi sekolahnya dengan baik. Daresh dan Playco (1995) mendefinikan kepemimpinan pembelajaran sebagai upaya memimpin para guru agar mengajar lebih baik. Definisi ini kurang komprehensif. karena hanya memfokuskan pada guru. asesmen (penilaian hasil belajar). maka kepemimpinan yang menekankan pada pembelajaran harus diterapkan. Misalnya. Melengkapi definisi-definisi tersebut diatas. dan pembangunan komunitas belajar di sekolah. Petterson (1993). pertanyaannya adalah apa tujuan yang akan dicapai oleh kepemimpinan pembelajaran? Berikut akan diuraikan seperlunya tentang tujuan yang akan dicapai oleh penerapan kepemimpinan pembelajaran. Kepala sekolah berperan sebagai fasilitator sehingga dengan berbagai cara dia dapat mengetahui kesulitan pembelajaran dan dapat membantu guru dalam mengatasi kesulitan belajar tersebut. penilaian serta pengembangan guru. berikut dibahas tentang arti. mendefinikan kepemimpinan pembelajaran yang efektif sebagai berikut: a. c. Dia juga mampu membangun kebiasaan-kebiasaan berbagi pendapat atau urun rembug dalam merumuskan visi dan misi sekolahnya. dan kontribusi kepemimpinan pembelajaran terhadap hasil belajar. d. berikut disampaikan arti kepemimpinan pembelajaran. Kepala sekolah melibatkan para pemangku kepentingan dalam pengelolaan sekolah (manajemen partisipatif). proses belajar mengajar. . Ahli lain. Kepala sekolah memberikan dukungan terhadap pembelajaran. yang pada gilirannya dapat memperbaiki prestasi belajar siswanya. Berdasarkan pengertian kepemimpinan pembelajaran tersebut. tujuan. jika hasil belajar siswa ingin dinaikkan. 2. pentingnya kepemimpinan pembelajaran. dan dia selalu menjaga agar visi dan misi sekolah yang telah disepakati oleh warga sekolah hidup subur dalam implementasinya. butir-butir penting kepemimpinan pembelajaran. Untuk lebih jelasnya. tetapi fokus dan ketajamannya masih berbeda-beda. Kepala sekolah melibatkan para pemangku kepentingan dalam pengambilan keputusan dan dalam kegiatan operasional sekolah sesuai dengan kemampuan dan batas-batas yuridiksi yang berlaku.

kerjasama. dan uang. dan meningkat kesadarannya untuk belajar secara terus-menerus sepanjang hayat karena ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni berkembang dengan pesat. dan rupa. deduktif. pengembangan struktur dan muatan kurikulum. kimia. dan keterampilan. ilmiah. daya hati. dan pelaporan. Dengan kata-kata lain. empati. Tujuan Kepemimpinan Pembelajaran Tujuan utama kepemimpinan pembelajaran adalah memberikan layanan prima kepadasemua siswa agar mereka mampu mengembangkan potensi kualitas dasar dan kualitas instrumentalnya untuk menghadapi masa depan yang belum diketahui dan sarat dengan tantangan-tantangan yang sangat turbulen. kreatif. energi. kepemimpinan pembelajaran mengutamakan layanan prima terhadap pembelajaran siswa sertamembangun warga sekolahnya menjadi komunitas pembelajaran. perbekalan. Seni terdiri dari seni suara. Daya pisik meliputi kesehatan. Menurut Slamet PH (2001). inovasinya. bio. transportasi. kreativitasnya. pengelolaan kelas. manufaktur. Kepemimpinan pembelajaran juga mampu memfokuskan kegiatan-kegiatan warganya untuk menuju pencapaian visi. meningkat motivasi belajarnya. toleransi. penggunaan media pembelajaran dan fasilitas belajar lainnya. kejujuran. Kepemimpinan pembelajaran mampu memberikan dorongan dan arahan terhadap warga sekolah untuk meningkatkan prestasi belajar siswanya. kritis. antroplogi. pemilihan buku pelajaran. Pentingnya Kepemimpinan Pembelajaran Kepemimpinan pembelajaran sangat penting untuk diterapkan disekolah karena seperti disebut sebelumnya bahwa kepemimpinan pembelajaran berkontribusi sangat signifikan terhadap peningkatan prestasi belajar siswa. Ilmu pengetahuan keras meliputi metematika.Kurikulum (apa yang diajarkan) mencakup pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang meliputi kegiatan perumusan visi. pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran. dan pemotivasian siswa. Daya pikir meliputi cara-cara berpikir induktif. dan pembuatan kalender. inovatif. perdamaian. jiwa kewirausahaannya. dan tujuan sekolah. dan yang sejenis). Kualitas instrumental meliputi penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni. perlengkapan. kesopan santunan. meningkat kepuasan belajarnya. repek kepada orang lain. kedisiplinan. Upayaupaya ini memerlukan dukungan sumberdaya pendidikan. bahan. misi. tanggungjawab. Teknologi meliputi teknologi konstruksi. biologi. dan daya pisik/raga. tari. dan astronomi. kestaminaan. pemilihan metode mengajar dan metode belajar. kerendahan hati. metode evaluasi. integritas. musik. politik. kualitas dasar meliputi kualitas daya pikir. dan berpikir sistem. demokrasi. dan bahan. pendidikan. Penilaian kinerja guru dan pengembangan profesinyajuga merupakan prioritas kepemimpinan pembelajaran. lateral. dan tujuan sekolah. baik sumberdaya manusia maupun sumberdaya selebihnya yaitu peralatan. dan tidak kalah penting. tujuan kepemimpinan pembelajaran adalah untuk memfasilitasi pembelajaran agar siswanya meningkat prestasi belajarnya. Daya hati (qolbu) meliputi kasih sayang. misi. . Kepemimpinan pembelajaran penting diterapkan di sekolah karena kemampuannya dalam membangun komunitas belajar warganya dan bahkan mampu menjadikan sekolahnya sebagai sekolah belajar (learning school). 3. ekonomi. telekomunikasi. fisika. pengembangan bahan ajar. 2. Proses belajar mengajar meliputi penyusunan silabus. meningkat keingintahuannya. dan kesatuan serta persatuan (terlalu banyak untuk disebut semuanya). ketahanan. kriya. Ilmu pengetahuan dapat digolongkan menjadi ilmu pengetahuan lunak (sosiologi. Asesmen (evaluasi hasil belajar) meliputi aspek yang di evaluasi.

mengelola adalah sebagian dari kepemimpinan. mengajak warga sekolahnya untuk menjadikan sekolahnya berfokus pada layanan siswa.Sekolah belajar (learning school) memiliki perilaku-perilaku sebagai berikut: memberdayakan warga sekolah seoptimal mungkin. Kepala sekolah mempunyai sejumlah peran yang harus dimainkan secara bersama. pertemuan-pertemuan. Peran kepala sekolah sebagai leader (pemimpin) dan spesifiknya sebagaiinstructional leader. 3) menggalang sumber daya masyarakat untuk kepentingan siswa. motivator. menerapkan peran kepemimpinan sekolah lebih cenderung sebagai pelayan dari pada sebagai penguasa/bos. mengajak warga sekolahnya untuk siap dan akrab menghadapi perubahan. Peran-peran yang yang lain bukan tidak penting. akan tetapi peran kepemimpinan pembelajaran harus yang terpenting. supervisor. mengajak warga sekolahnya untuk berpikir sistem. yang pada gilirannya. cerdas. enterpreneur. sudah selayaknya peran kepemimpinan pembelajaran memperoleh porsi waktu yang lebih besar dibanding dengan peran-peran yang lain. memfasilitasi warga sekolah untuk belajar terus dan belajar ulang. berpikir dan berperilaku positif untuk maju. Butir-butir Penting Kepemimpinan Pembelajaran Butir-butir penting kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran dapat dituliskan sebagai berikut: a. proses belajar mengajar. dan lincah/cepat tanggap terhadap pelanggan utama yaitu siswa). Padahal. 2) mendorong tanggung jawab seluruh mitra kerja atau pemangku kepentingan. 2). kurang memperoleh porsi yang selayaknya. mendorong kemandirian setiap warga sekolahnya. dinamis. dan 5) menghindari mencari kambing hitam atas ketidaksuksesan. dan penilaian hasil belajar siswa kurang mendapatkanperhatian. 4) membantu siswa agar sukses dalam belajarnya. dan 3) mengembangkan gaya kepemimpinan yang luwes dan gaya bicara yang enak. b. memberi kewenangan dan tanggungjawab kepada warga sekolahnya. Memahami peran kepala sekolah yang perlu dikembangkan: 1). harmonis. mendorong teamwork yang (kompak. Untuk itu. . antara lain mencakup educator. 4. manager. Kepala sekolah disibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan rutin yang bersifat administratif. ketiga hal yang terakhir sangat erat kaitannya dengan peningkatan mutu proses belajar mengajar. dan kegiatan-kegiatan lain yang bersifat non-akademis sehingga waktu untuk mempelajari pembaruan/inovasi kurikulum. administrator. mendorong warga sekolah untuk akuntabilitas terhadap proses dan hasil kerjanya. dan menghindari gaya kepemimpinan yang kaku. dan leader. Melaksanakan tanggung jawab secara akuntabel: 1). dan mengajak warga sekolahnya untuk melakukan perbaikan secara terus-menerus. mengajak warga sekolahnya untuk komitmen terhadap keunggulan mutu. mutu proses belajar mengajar sangat berpengaruh terhadap peningkatan kualitas siswa dan kualitas sekolah secara keseluruhan. membangun komunitas belajar di sekolah untuk kesuksesan siswa.

d. 2) menjadi pendukung yang jelas. . 8) menerjemahkan visi sekolah ke dalam kegiatan harian. Jika sekolah ingin menjadi sekolah yang efektif pembelajarannya. dia akan membuat anda tetap aktif.c. apa yang harus. 4) menjadi orang nomor satu sebagai model pembelajar sepanjang hayat dengan membangun masyarakat pembelajar disekolah. dan 4) gembira dalam bekerja. selalu membaca diri dan melakukan refleksi. Pertanyaan-pertanyaan berikut juga akan membantu anda dalam mengembangkan visi pembelajaran yang lebih baik agar kepemimpinan pembelajaran yang anda terapkan benar-benar berdampak positif terhadap pembelajaran. 2) mencari cara-cara untuk mengembangkan diri sendiri. Dengan menjawab sejumlah pertanyaan berikut. para pembaca sangat disarankan untuk melakukan refleksi dan bahkan menjawab sejumlah pertanyaan berikut untuk mengetahui tingkat kesiapan anda sebagai pemimpin pembelajaran. b. Selalu mempertahankan: 1). Pengukuran tingkat keberhasilan visi kepemimpinan pembelajaran sangat diperlukan. 5) selalu mengasah peran anda sebagai kepemimimpinan pembelajaran 6) menyediakan waktu untuk rajin mengunjungi kelas. anda akan terbantu dalam memfokuskan pikiran dan pengambilan keputusan tentang pembelajaran yang seharusnya anda dukung. dan 9) memfasilitasi kelompok kerja berdasarkan kepemimpinan pembelajaran. 7) mengkomunikasikan keinginan kuat anda untuk berhasil kepada guru dan siswa dalam bentuk kata-kata dan tindakan. maka sejumlah pertanyaan berikut harus dijawab dengan tepat: a. mawas diri dan berkembang. Mengerjakan sesuatu dengan professional: 1). seharusnya. dan dapat dipelajari oleh siswa. bagaimana caranya siswa itu belajar. Berikut adalah sejumlah pertanyaan yang seyogyanya anda pikirkan sebagai pemimpin pembelajaran. 3) memandang kesalahan sebagai kesempatan untuk belajar. menjadi pengarah terhadap tercapainya tujuan sekolah. Untuk itu. 3) merangkul perubahan sebagai teman. membimbing orang lain dan memberi kontribusi terhadap orang lain berdasarkan profesi yang dimiliki.

p. m. atau memperbaharui dan merevisi program tersebut. siapa yang melakukan penilaian keberhasilan siswa dan bagaimana caranya. dan v. lakukanlah komunikasi dengan staf sehubungan dengan pencapaian standar dan peningkatan tujuan sekolah . h. f. apa saja agenda utama rapat sekolah yang berhubungan dengan pembelajaran. apa keyakinan guru-guru tentang peserta didik dan kegiatan belajar. dimana kepala sekolah menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah dan apa yang dilakukannya di tempat itu. g. u. bagaimana bentuk jadwal dan organisasi sekolah agar merefleksikan optimalisasi belajar siswa. keberhasilan peserta didik sangat erat hubungannya dengan evaluasi terhadap guru. siapa yang memutuskan penerapan program baru. o. q. i. j. e. untuk siapa dan bagaimana cara menilainya. bagaimana caranya kinerja guru dievaluasi dan apa saja yang dinilai. dengan apa mengajarnya. bagaimana partisipasi orangtua dalam kegiatan belajar siswa. bagaimana cara mengajarnya. apa proses yang digunakan untuk menentukan jadwal dan organisai sekolah. Untuk menjawab 22 pertanyaan tersebut di atas. jika tujuan utama sekolah adalah menciptakan pembelajaran yang efektif. siapa penyelenggara evaluasi guru. kriteria penilaian guru ditentukan oleh siapa. dan apakah tujuan pengajaran sudah tercapai atau belum (Elaine Mc Evan (2001). apa tujuan utama penelaian guru tersebut. bagaimana pendapat anda. l. dimana wakil kepala sekolah menghabiskan sebagian besar waktunya dan apa yang dilakukannya. k. d. bagaimana dan siapa yang membuat keputusan tentang kurikulum dan pengajaran. kapan seharusnya diajarkan. seperti apa proses pembelajaran berjalan (diskripsikan sesuatu yang anda impikan dalam sebuah sekolah dimana proses belajar mengajar terjadi secara ideal). s. r. gunakanlah indikator kunci dari keefektifan kepala sekolah dalam membangun dan menerapkan tujuan-tujuan pembelajaran sebagai berikut: a.c. maka tentukan apa kebutuhan siswa. apa yang harus diajarkan. melaksanakannya. t. n. bagaimana menentukan isi dan hakekat pengembangan staf oleh siapa. bagaimana cara menyelenggarakn rapat yang berhubungan dengan pembelajaran. bagaimana iklim sekolah merefleksikan pentingnya proses pembelajaran.

materi.b. c. gunakan bermacam-macam sumber data baik kualitatif maupun kuantitatif untuk mengevaluasi kemajuandan merencakan peningkatan lebih lanjut Jika pembelajaran dirancang sesuai dengan kebutuhan siswa. Lima hal penting yang dimaksud meliputi: a. dan sumber-sumber apa saja yang harus diterapkan pada pembelajaran tersebut? d. mengenal secara pribadi tentang tingkat profesionalisme masing-masing guru sebagai dasar untuk mencapai tujuan utama sekolah. menilai moral dan komitmen warga sekolah. Sehubungan dengan fungsi iklim sekolah. dan . sekolah sebagai komunitas kolaboratif dan komunitas belajar. guru dan siswa diyakinkan dapat mencapainya. penekanan-penekanan apakah yang dituntut oleh kurikulum? c. b. ditemukan lima hal yang dianggap penting dalam membentuk budaya sekolah yang dapat melatih siswa dalam mencapai keberhasilan belajar dan juga iklim sekolah yang sehat. seluruh warga sekolah apakah itu kepala sekolah. strategi. ada keyakinan bersama untuk mencapai tujuan. rujuklah standar isi yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat dan daerah untuk melaksanakan program-program pengajaran di sekolah c. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Glathhorn (1993). peningkatan sekolah dicapai melalui proses pemecahan masalah. maka prestasi belajar siswa akan meningkat secara signifikan. d. yakinkanlah kegiatan-kegiatan kelas secara individu dan sekolah selalu konsisten dengan standar yang telah ditetapkan oleh pusat dan daerah d. dan menjadikan pembelajaran sebagai fokus utama kegiatan sekolah. pembelajaran merupakan prioritas utama. Hal ini dapat dilakukan secara pribadi oleh masingmasing guru melalui jawaban-jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan berikut: a. d. c. apakah standar kompetensi dapat dicapai dengan baik oleh siswa. berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengajarkan standar kompetensi yang dimaksud? Pembelajaran dan pencapaian keberhasilan siswa hendaknya selalu dianalisis secara berkelanjutan dan direfleksikan serta dikembangakan secara berkelanjutan sebagai bagian dari kehidupan sekolah. mengkomunikasikan kepada staf tentang harapan yang tinggi terhadap pencapaian hasil belajar siswa. Kegiatan semacam ini harus dibudayakan di sekolah. dan e. perilaku kepala sekolah berikut paling banyak diidentifikasi oleh guru-guru dari sekolah yang mempunyai pencapaian prestasi akademik tinggi: a. b. mencegah sekolah terhadap tekanan beban yang tidak perlu. untuk itu bagaimana cara mengajarkannya dan bagaimana pula mengurutkan materinya secara hirarkis? b.

dan publikasikan kepada para guru agar mereka dapat melihat kesenjangan antara standar yang telah ditetapkan dengan kinerja yang dicapai oleh siswa. cek secara berkala kesesuaian. laboratorium pendidikan wilayah North West USA memperbaharui keefektifan pelaksanaan pembelajaran di sekolah yang akhirnya menjadi rujukan luas dari hasil penelitian tersebut. mengetahui dan mampu menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran yang baik. tertib. c. melalui penelitiannya. kurikulum dengan pembelajaran dan penilaian. dan menerapkannya dalam pemecahan masalah.e. k. menyebarluaskan praktik-praktik proses belajar mengajar yang efektif terhadap guru-guru lain. menekankan pentingnya penelitian bagi perbaikan sekolah. yang meliputi halhal berikut: a. dan libatkan staf untuk berpartisipasi dalam mengadopsi dam mengadaptasi program tersebut. h. membangun dan memfokuskan pembelajaran sebagai sumber penyatuan berpikir. f. fokuskan kegiatan supervisi untuk meningkatkan pembelajaran. g. urun rembuk. d. sikap. b. mengetahui tentang penelitian pendidikan. menegaskan bahwa belajar sebagai alasan utama terhadap keberadaan seseorang disekolah. termasuk penekanan terhadap penting dan berharganya pencapaian yang tinggi terhadap kemampuan berbicara dan menulis. dan monitor pelaksanaan kurikulum. 1995). meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa semua siswa dapat belajar dan sekolah membuat perbedaan antara yang berhasil dan yang gagal. memiliki pemahaman yang jelas terhadap visi dan misi sekolah dan mampu menyatakannya secara langsung. dan staf memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap peningkatan efektivitas pembelajaran di sekolah. 5. tetapkan harapan atau target kualitas kurikulum melalui penggunaan standar dan petunjukpetunjuk yang diberikan. i. merekrut. Menurut sintesis penelitian yang dilakukan diperoleh hasil bahwa perilaku kepala sekolah (pemimpin pembelajaran). Penelitian tersebut menghasilkan daftar perilaku kepala sekolah yang terbaik dalam mengarahkan dan membimbing program pembelajaran di sekolah (Cotton. dan . j. dan tindakan warga sekolah. e. dan persiapkan serta monitor kegiatan-kegiatan pengembangan guru. guru. mencari program-program yang inovatif. tetapkan kegiatan kurikulum yang diprioritaskan. dalam ungkapan yang konkrit. dan disiplin. Kontribusi Kepemimpinan Pembelajaran terhadap Hasil Belajar Pada tahun 1995. amati. milikilah harapan yang tinggi terhadap seluruh guru untuk melaksanakan pembelajaran dengan standar yang tinggi melalui kesepakatan model yang dibuat bersama oleh guru. dan menggaji anggota staf yang mendukung visi dan misi sekolah dan berkontribusi terhadap keefektifannya. cek kemajuan siswa secara berkala berdasarkan data kinerja yang ada. lakukan kunjungan kelas untuk mengamati pembelajaran. membangun lingkungan sekolah yang aman. mencari.

B. Sehingga dapat dilihat bahwa dinding kantor Beth seperti pusat startegi komando yang penuh dengan data pencapaian murid dan data performa guru dan grafik kurikulum. Beliau melakukan observasi kelas secara reguler untuk mengetahui proses belajar mengajar. Beth juga aktif dalam KKG dan juga kuliah di sebuah universitas dalam pasca sarjana pendidikan pada malam hari untuk meningkatkan kompentensinya sebagai pendidik. Rangkuman Kepemimpinan pembelajaran adalah kepemimpinan yang memfokuskan/menekankan pada pembelajaran yang unsur-unsurnya meliputi kurikulum. Studi Kasus Beth memulai profesi pendidik sebagai guru ilmu pengetahuan alam di sebuah SMP.l. Keahlian dalam bidang instruksional dan pengetahuan dalam bidang kurikulum adalah pondasi yang kuat dalam melakukan penerapan instructional leadership dalam sekolahnya. strategi peningkatan yang sistematis. 3. Setelah mengajar selama beberapa tahun. Dimana dalam perencanaan Beth melakukan penilaian terhadap kondisi sekolah yang dihadapi pada saat itu. 4. sehingga dapat mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan setiap kelas. proses belajar mengajar. bersikap. Tujuan yang hendak dicapai adalah setiap murid dan guru mendapatkan pengalaman pendidikan yang positif dan optimal di sekolah. Berawal dari seorang guru yang kompeten. . (b) kultur 2. Berkolaborasi secara regular dengan wakil kepala sekolah dan koordinator guru untuk memonitor kebutuhan murid dan menentukan strategi dan bahan ajar yang tepat dalam rangka mengoptimalkan potensi guru dan murid. 1.murid dan guru tentang tujuan belajar. Butir-butir penting kepemimpinan pembelajaran menyarankan bahwa kepemimpinan pembelajaran akan berjalan dengan baik apabila didukung oleh: (a) figur (kepala sekolah) yang mampu berpikir. Sebagai patokan dalam penerapan instructional leadership. Beth dipercaya menjadi seorang kepala sekolah. layanan prima dalam pembelajaran. Beliau berdiskusi bersama murid. Kepemimpinan pembelajaran sangat penting untuk diterapkan disekolah karena kepemimpinan pembelajaran berkontribusi sangat signifikan terhadap peningkatan prestasi belajar siswa. A. Rencana dalam penerapan konsep instruksional leadership melibatkan diri sendiri terlebih dahulu. dan pembangunan komunitas belajar di sekolah. maka Beth mendesain posisi kepala sekolah yang diembannya berdasarkan kekuatan yang dimiliki. dan bertindak sebagai pemimpin pembelajaran. asesmen (penilaian hasil belajar). Tujuan utama kepemimpinan pembelajaran adalah memberikan layanan prima kepadasemua siswa agar mereka mampu mengembangkan potensi kualitas dasar dan kualitas instrumentalnya untuk menghadapi masa depan yang belum diketahui dan sarat dengan tantangan-tantangan yang sangat turbulen. harus dilaksanakan dengan baik. prioritas kegiatan yang jelas. dan pendekatan-pendekatan baru. Perencanaan dilakukan secara detail berdasarkan format dan ceklist yang sudah ada. penilaian serta pengembangan guru. komunikasikan harapan anda bahwa program pembelajaran yang telah disepakati sesuai dengan rencana.

D. Sandra Lee. Marshal A.R. 354-363 Hoyle.Playko. Skills for Successful Leaders (2nd Edition). Resnicl. 5. Deal. at al. 2002.. CA. pp. Waveland press. Perilaku kepala sekolah (pemimpin pembelajaran). setiap Kepala sekolah harus .pembelajaran yang dikembangkan melalui pembangunan komunitas belajar di sekolah. Developing Principals as Instructional Leaders.10 . B. 1995. TEKNIK-TEKNIK SUPERVISI AKADEMIK POSTED BY EATHEWIN ON SEPTEMBER . dan karyawan berkontribusi yang sangat signifikan terhadap peningkatan efektivitas pembelajaran di sekolah. 199.W. Journal of Curriculum and Supervision. American association of School Administrators.UNDEFINED TEKNIK-TEKNIK SUPERVISI AKADEMIK Satu di antara tugas kepala sekolah adalah melaksanakan supervisi akademik. and Peterson. Arlington. Jossey Bass Publishers. Glatthorn. DAFTAR PUSTAKA Daresh. Supervision as a Proactive Process.doc vlb 3/21/07 Fink. 2007). dan (c) sistem (struktur) yang utuh dan benar. 4. The Instructional Leadership toolbox: A Handbook for Improving Practice. English. OBE Reform and the Curriculum Process. California: Sage Publication. 8. 1998. interpersonal dan teknikal (Glickman. J.A. John C. & Steffy. T. Lauren (2003).1993.E. A. Oleh sebab itu. F.E.. Elaine and B. F:\Mary Jo\Education Leadership Redesign Commission\Tennessee Standards for Instructional Leaders Packet. Untuk melaksanakan supervisi akademik secara efektif diperlukan keterampilan konseptual. guru. Shaping School Culture: The Heart of Leadership.. Guston. VA. San Fransisco. K.

untuk melihat apa kekurangan atau kelemahan yang sekirannya perlu diperbaiki. (2) tahap pengamatan selama kunjungan. a. Tahap-tahap kunjungan kelas terdiri dari empat tahap yaitu: (1) tahap persiapan.memiliki keterampilan teknikal berupa kemampuan menerapkan teknik-teknik supervisi yang tepat dalam melaksanakan supervisi akademik. Supervisor di sini hanya berhadapan dengan seorang guru. ( Classroom Visitation ) Kepala sekolah atau supervisor datang ke kelas untuk mengobservasi guru mengajar. Pada tahap ini. Dari hasil supervisi ini dapat diketahui kualitas pembelajaran guru bersangkutan. Teknik supervisi akademik ada dua yaitu: individual dan kelompok seperti gambar berikut. . Gambar 5. supervisor merencanakan waktu. Teknik-teknik supervisi akademik meliputi dua macam. 1961). Teknik supervisi individual ada lima macam adalah sebagai berikut. supervisor mengamati jalannya proses pembelajaran berlangsung. Teknik Supervisi Individual Teknik supervisi individual adalah pelaksanaan supervisi perseorangan terhadap guru. Teknik Supervisi 1. sasaran. dan cara mengobservasi selama kunjungan kelas. Kunjungan Kelas. Dengan kata lain. Pada tahap ini. yaitu: individual dan kelompok (Gwyn.

(5) ketepatan penggunaan metode dengan materi. di mana sudah dilengkapi dengan alat-alat bantu yang dapat digunakan untuk memberikan penjelasan pada guru. dan (3) memperbaiki segala kelemahan dan kekurangan pada diri guru Swearingen (1961) mengklasifikasi empat jenis pertemuan (percakapan) individual sebagai berikut. dialog.dan tindak lanjut. penutupan.penilaian hasil observasi. menguasai masalah dan tujuan supervisi. yaitu percakapan individual yang dilaksanakan di ruang kepala sekolah atau ruang guru. dan (4) tahap terakhir adalah tahap tindak lanjut. (3) variasi metode. pelaksanaan. (2) cara menggunakan media pengajaran. Secara umum. Kunjungan Observasi ( Observation Visits ) Guru-guru ditugaskan untuk mengamati seorang guru lain yang sedang mendemonstrasikan cara-cara mengajar suatu mata pelajaran tertentu. Kunjungan observasi dapat dilakukan di sekolah sendiri atau dengan mengadakan kunjungan ke sekolah lain. (4) ketepatan penggunaan media dengan materi. dan tukar pikiran antara supervisor dan guru. Pada tahap ini.(3) tahap akhir kunjungan. c. b. (2) Office-conference. seorang supervisor hendaknya telah mempersiapkan instrumen observasi. (1) Classroom-conference. Tujuannya adalah: (1) mengembangkan perangkat pembelajaran yang lebih baik. yaitu percakapan individual yang dilaksanakan di dalam kelas ketika murid-murid sedang meninggalkan kelas (istirahat). dan (6)reaksi mental para siswa dalam proses belajar mengajar. aspekaspek yang diobservasi adalah: (1) usaha-usaha dan aktivitas guru-siswa dalam proses pembelajaran. percakapan. Pelaksanaan observasi melalui tahap: persiapan. Dalam rangka melakukan observasi. supervisor bersama guru mengadakan perjanjian untuk membicarakan hasil-hasil observasi. (2) meningkatkan kemampuan guru dalam pembelajaran. Pertemuan Individual Pertemuan individual adalah satu pertemuan. .

(3) Causal-conference. Supervisi Kelompok Teknik supervisi kelompok adalah satu cara melaksanakan program supervisi yang ditujukan pada dua orang atau lebih. (1) Jadwal kunjungan harus direncanakan.  mendorong guru mengatasi kesulitan-kesulitannya. kemudian dikelompokan berdasarkan kebutuhan guru. dan analisis kemampuan kinerja guru. dan pemberian tugas-tugas tertentu. (7) Segera aplikasikan ke sekolah atau ke kelas guru bersangkutan. (5) Supervisor hendaknya mengikuti acara ini dengan pengamatan yang cermat. (2) Guru-guru yang akan dikunjungi harus diseleksi. Kemudian guru diberikan layanan supervisi sesuai dengan . (3) Tentukan guru-guru yang akan mengunjungi (4) Sediakan segala fasilitas yang diperlukan. dengan menyesuaikan pada situasi dan kondisi yang dihadapi. Tujuannya adalah untuk berbagi pengalaman dalam pembelajaran. penegasan. (8) Adakan perjanjian-perjanjian untuk mengadakan kunjungan antar kelas berikutnya. Hal yang dilakukan Supervisor dalam pertemuan individu :  berusaha mengembangkan segi-segi positif guru. dan  menyepakati berbagai solusi permasalahan dan menindaklanjutinya. (6) Adakah tindak lanjut setelah kunjungan antar kelas selesai? misalnya dalam bentuk percakapan pribadi. d. yaitu percakapan individual yang dilaksanakan setelah supervisor melakukan kunjungan kelas atau observasi kelas. 2.  memberikan pengarahan. Kunjungan Antar Kelas Kunjungan antar kelas adalah guru yang satu berkunjung ke kelas yang lain di sekolah itu sendiri. Guru-guru yang yang akan disupervisi berdasarkan hasil analisis kebutuhan. Cara-cara melaksanakan kunjungan antar kelas adalah sebagai berikut. yaitu percakapan individual yang bersifat informal. yang dilaksanakan secara kebetulan bertemu dengan guru (4) Observational visitation.

terdapat beberapa kegiatan yang dapat dilakukan antara lain adalah sebagai berikut. Seorang kepala sekolah menjalankan tugasnya berdasarkan rencana yang telah disusun. (3) Mengadakan penataran-penataran (inservice-training). supervisor atau kepala sekolah memberikan pengarahan. misalnya penataran untuk guru bidang studi tertentu. dan rapat dengan pihak luar sekolah. Di dalam setiap diskusi. Diskusi kelompok dapat diadakan dengan membentuk kelompok-kelompok guru bidang studi sejenis. MGMP. Termsuk mengadakan rapat-rapat secara periodik dengan guru-guru. nasihat-nasihat dan saran-saran yang diperlukan. dalam hal ini rapat-rapat yang diadakan dalam rangka kegiatan supervisi. maka tugas kepala sekolah adalah mengelola dan membimbing pelaksanaan tindak lanjut (follow-up) dari hasil penataran. (1) Mengadakan pertemuan atau rapat (meeting). bimbingan.permasalahan atau kebutuhan yang diperlukan. Mengingat bahwa penataran pada umumnya diselenggarakan oleh pusat atau wilayah. Teknik ini dilakukan melalui penataranpenataran. Sumber : Materi Pelatihan Penguatan Kemampuan Kepala Sekolah modul SUPERVISI AKADEMIK PUSAT PENGEMBANGAN TENAGA KEPENDIDIKAN BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN DAN PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL 2011 . Rapat tersebut antara lain melibatkan KKG. Dalam teknik supervisi kelompok. (2) Mengadakan diskusi kelompok (group discussions).