A.

PENDAHULUAN Di dalam mengkaji kebenaran suatu perkara dan kesahihannya, atau di dalam menentukan bahwa sesuatu itu benar, dapat dipercayai dan diyakini, atau ketika kita ingin menetapkan dasar pijakan suatu perkara yang kita ucapkan dan kerjakan, kita memerlukan adanya bukti-bukti, tanda-tanda atau petunjuk-petunjuk yang sah dan akurat, sehingga kebenaran, kesahihan dan keyakinan itu dapat ditunjukan dan dibuktikan, dan sekaligus kita dapat memberantas keragu-raguan dan rasa was-was yang mungkin tertanam di dalam hati kita, juga dapat dijadikan pijakan yang kokoh di dalam mengerjakan suatu perkara tersebut. Di dalam hal ini, para ulama Islam telah menentukan dua landasan pokok yang harus di pegang oleh setiap Muslim di dalam hal-hal tersebut diatas, yaitu Naqli dan 'aqli. Dimana kedua landasan tersebut merupakan pijakan yang dipakai oleh mereka, khususnya, ketika mengungkap dan membuktikan kebenaran-kebenaran dan memantapkan keteguhan dalam berkeyakinan yang ada di dalam ruang lingkup disiplin ilmu Tauhid atau akidah, dan ketika mengistinbath (mengambil dalil-dalil) dan menetapkan hukum-hukum perkara-perkara yang ada di dalam ruang lingkup disiplin ilmu fikih, serta ketika menafsirkan al-Qur'an. Untuk itu, pemakalah akan mencoba membahas kedua landasan pokok tersebut agar kita selaku umat islam dapat mengetahui dan memahami naqli dan 'aqli, serta dapat mempergunakannya di dalam keber-agama-an kita sehari-hari, baik yang ada kaitannya dengan keimanan maupun amal perbuatan.

B.

PEMBAHASAN

1. Definisi, maksud dan keutamaan naqli dan 'aqli di dalam syari'at Islam a. Naqli Naqli menurut bahasa adalah dari (‫ )َقم انشًء‬yakni mengambil sesuatu dari satu tempat ke tempat lain, dan (‫ )ََقَهَت انحدٌث‬yakni mereka yang menuliskan hadist-hadist dan menyalinkannya dan menyandarkannya kepada sumber-sumbernya. Dikatakan pada dalil-dalil dari Al-qur'an dan hadist: dalil naqli. Oleh karena itu naqli secara istilah identik dengan dalil-dalil yang di nukil atau di ambil dari Kitab Allah yang Maha Mulya dan dari sunnah yang suci atau dalil-dalil yang diriwayatkan kepada kita oleh naqalah al-hadist dan perawi-perawi[1]. Diantara landasan utama ditetapkannya al-Qur'an dan sunnah sebagai dalil naqli oleh para ulama adalah sebuah hadist Rasulullah saw: [2]ٍّ‫تسكت فٍكى أيسٌٍ نٍ تضهٕا يب تًسكتى بًٓب: كتبة هللا ٔسُت َب‬ Artinya: "Telah aku tinggalkan dua perkara, yang apabila kalian berpegang kepada keduanya maka kalian tidak akan tersesat: Kitab Allah (al-Qur'an) dan Sunnah Nabi-Nya". Namun ketika naqli dihubungkan dengan ilmu tafsir maka disebut tafsir bi al-manqul atau bi al-ma'tsur, yaitu penafsiran al-Qur'an yang disandarkan kepada riwayat-riwayat yang sahih secara tertib, atau dengan cara menafsirkan al-Qur'an dengan al-Qur'an atau menafsirkannya dengan as-Sunnah atau menafsirkannya dengan riwayat-riwayat yang di terima dari para sahabat atau para tabi'in[3], seperti penafsirannya At-Thabari dan Ibnu Katsir. Al-qur'an (ٌ‫ )انقسآ‬adalah kitab suci umat Islam yang secara bahasa merupakan masdar (kata benda) dari kata kerja (‫ ,)قسآَب – قساءة - قسأ‬yang berwazan [4]ٌ‫ .فُؼْال‬Allah swt berfirman: ْ [5]ََُّ‫إٌ ػهٍََُب جًؼُّ ٔقَسُآََُّ. فَئِذا قَس ْأََبِ ُ فَبتَّبِغ قُسْ آ‬ َ َ َ ْ َ ْ َ َّ

Sedangkan sunnah (‫ )انسُت‬secara bahasa bermakna (‫ :)انسٍسة انحسُت أٔ انقبٍحت‬jalan hidup yang baik atau jelek. jelaslah bahawa sunnah tidak dapat dipisahkan penggunaannya di dalam segala hal yang berkaitan dengan Islam. Oleh karena itu al-Quran merupakan Kitab Suci umat Islam yang keotentikannya tidak diragukan lagi. dan disebutkan juga ketaatan terhadap Rasulullah saw setelah ketaataan kepada Allah swt. Penguat dan penyokong hukum-hukum yang terdapat di dalam al-Quran seperti dalam perkara pensyariatan shalat. yang diturunkan kepada Muhammad saw. ayat-ayatnya. bermula dari surah al-Fatihah dan berakhir dengan surah an-Naas[7]. Dan firman-Nya:“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah. Sehingga fungsi sunnah di dalam Islam. Sunnah menurut ulama usul adalah perkataan-perkataan Rasulullah saw dan perbuatanperbuatannya serta pengakuan-pengakuannya yang diriwayatkan kepada kita dengan periwayatan yang sahih[9]. menunaikan zakat dan haji dan sebagainya yang mana perkara-perkara tersebut hanya disebutkan secara umum oleh al-Quran. memahami. dst. dimana kedudukannya dalam Islam adalah sesuatu yang tidak dapat diragukan kerana terdapat penegasan yang banyak di dalam al Quran tentang sunnah tersebut. dan menjalankan ajaran (syariat) Islam juga dalam mengambil dalil-dalil mengenai perkaraperkara atau permasalahan-permasalahan yang ada kaitannya dengan keimanan dan amal ibadah mereka. Adapun secara istilah adalah kalam Allah. dan apa yang dilarangnya bagimu. juga bermakna (‫ :)انطسٌقت‬jalan. Sunnah menurut muhadditsun (ahli hadits) adalah apa yang disandarkan kepada Rasulullah saw dari segi perkataan atau perbuatan atau pengakuan atau sifat akhlak (peribadi) dari permulaan diutusnya sampai wafatnya[8]. diantaranya: 1. jika kamu adalah orang-orang yang beriman”[10]. diturunkan kepada Nabi Muhammad saw melalui perantaraan Malaikat Jibril dalam bahasa Arab. Di dalam al-Quran hanya . maka tinggalkanlah”[12]. Menjadi keterangan tasyri’ yaitu menentukan sesuatu hukum yang tidak disebutkan di dalam al-Quran seperti dalam hal memakan haiwan yang ditangkap oleh hewan pemburu terlatih seperti anjing yang mana buruan tersebut terdapat kesan dimakan oleh hewan pemburu terlatih tadi dan kesan tersebut menunjukkan bahwa hewan pemburu tadi menangkap buruan untuk dirinya sendiri.Artinya: "Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. diriwayatkan secara mutawatir dan membaca setiap hurufnya adalah ibadah. 3. bahkan di dalam beberapa tempat sunnah disebutkan bersamaan dengan al Kitab ataupun al Quran. yang membaca setiap hurufnya adalah ibadah[6]. Juga firman-Nya:“Apa yang diberikan Rasul kepada kamu. maka ambillah ia. Sunnah Rasul saw adalah sumber rujukan umat Islam kedua setelah al-Qur'an. diantaranya: 1. kaedah jual beli. sehingga umat Islam menjadikanya sebagai sumber utama dalam mempelajari. apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan. riwayatnya. Atau secara lengkapnya adalah kalam Allah yang bermukjizat. Hal ini sebagaimana yang ditegaskan di dalam firman-Nya seperti:“Dan taatilah Allah dan RasulNya. akan ada bagi mereka pilihan yang lain bagi urusan mereka”[11]. Dengan penegasan al Quran di atas. puasa dan haji. baik dari segi asal-usulnya. Adapun secara istilah sunnah memiliki beberapa definisi. 2. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu". 2. Penghurai dan pentafsir ayat-ayat al-Quran yang umum seperti memperjelaskan mengenai tata cara perlaksanaan shalat. turunnya.

. ‫أفال‬ ٌٕ‫(تؼقه‬apakah kamu tidak berakal) dan ٌ‫( أفال ٌتدبسٌٔ انقسآ‬apakah mereka tidak mentadabburi/merenungi isi kandungan al-Qur'an). Maka dalam hal ini. syari’at Islam telah memberikan nilai dan urgensi yang amat tinggi terhadap akal manusia. 'Aqli Kata 'aqli secara bahasa berasal dari kata bahasa Arab (‫ :)ػقم‬akal yang mempunyai beberapa makna. dan lainnya[25]. Kesiapan bawaan yang bersifat instinktif dan kemampuan yang matang. sebagian ulama berpandangan bahawa hadith yang dapat menasakhkan hukum al Quran itu mestilah sekurangkurangnya bertaraf Mutawatîr. yakni bisa ada dan bisa hilang. 5. Menerangkan mengenai ayat yang telah dinasakh dan ayat mana yang telah dimansukhkan. Dan akal merupakan indera yang diciptakan oleh oleh Allah swt dengan kelebihan diberikannya muatan tertentu berupa kesiapan dan kemampuan yang dapat melahirkan sejumlah aktivitas pemikiran yang berguna bagi kehidupan manusia yang telah dimuliakan Allah swt[17]. Diantaranya seperti kalimat: ٌٔ‫( نؼهكى تتفكس‬mudah-mudahan kamu berfikir). 2. sebagaimana dapat dilihat pada beberapa point berikut ini: Allah mengkhususkan penyampain kalam-Nya hanya kepada orang yang berakal. Aksioma-aksioma rasional dan pengetahuan-pengetahuan dasar yang ada pada setiap manusia. Rasulullah saw bersabda: "Pena (catatan pahala dan dosa) diangkat (dibebaskan) dari tiga golongan. karena hanya mereka yang dapat memahami agama dan syariat-Nya[19]. (‫ :)انحكًت‬kebijakan. 3. 2. Allah swt berfirman: "Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni Neraka yang menyala-nyala"[24]. seperti: tadabbur. Allah swt mencela orang yang tidak menggunakan akalnya.dan termasuk orang gila sampai ia kembali berakal"[16]. Oleh karena itu ketika ia kehilangan akalnya dikarenakan gila misalnya. di antaranya: (‫ :)اندٌت‬denda. hadith menerangkan bahawa buruan yang mempunyai kesan dimakan oleh hewan pemburu adalah haram dimakan. 1. Oleh karena itu. orang gila sampai ia kembali sadar (berakal)"[22]. maka ia tidak tidak menerima taklif itu[21]. tafakkur.dibenarkan memakan buruan yang ditangkap oleh hewan pemburu terlatih. . Secara istilah akal memiliki beberapa definisi diantaranya: Cahaya nurani. 4. 4. Kami angkat mereka di daratan dan di lautan"[18]. Masyhûr ataupun Mustafhîdh. yang dengannya jiwa bisa mengetahui perkara-perkara yang penting dan fitrah[15]. 1.[13] b. orang yang tidur sampai bangun. Banyak disebutkan di dalam al-Qur-an mengenai anjuran-anjuran Allah kepada manusia agar mempergunakan akalnya untuk berfikir. dan (‫ :)حسٍ انتصسف‬tindakan yang baik atau tepat[14]. sebagaimana dalam firman-Nya: "Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam. Akal merupakan bagian dari indera dan insting yang ada dalam diri manusia yang memiliki sifat berubah-rubah. Menasakhkan hukum yang terdapat di dalam al Quran. Allah swt berfirman: "…dan merupakan peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal"[20]. 3. ta-aqqul dan lainnya. Syarat utama yang harus ada dalam diri manusia untuk dapat menerima taklif (beban kewajiban) dari Allah swt yang berkenaan dengan hukum-hukum syari’at Islam adalah akal. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah saw dalam salah satu sabdanya: ". anak kecil sampai bermimpi. Misalnya celaan Allah terhadap ahli Neraka yang tidak menggunakan akalnya[23]..

Hadits Nabi saw: )ِ‫فأخبسًَ ػٍ اإلًٌبٌ. ushul fikih dan ilmu-ilmu lain untuk menerangkan maksud ayat dan mengembangkannya dengan bantuan perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan yang ada. Kata 'Aqli ketika dihubungkan dengan kajian ilmu-ilmu agama identik dengan dalildalil yang berdasarkan akal fikiran manusia yang sehat dan obyektif. hadits dan ilmu hadits. yang ada kaitannya dengan iman kepada kitab-kitab Allah swt[28] a. maka disebut tafsir bi al-ma'qul atau bi ar-ra'yi. إِالَّ ػهى أَشٔاجٓى أَْٔ يب يهَكت أًٌَبَُُٓى‬ ْ َْ ْ َ َ َ ِْ ِ َ ْ َ ِْ ِ ْ . 2. sehingga tersusunlah bentuk tafsir yang sesuai dengan masa dimana mufassir tersebut hidup. seperti taqlid buta yang hanya menerima pendapat orang lain tanpa dilandasi oleh dalil[26]. ambisi atau kebencian dari emosi. rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk"[30]. Contoh-contoh penggunaan naqli dan 'aqli a. Islam mencela hal-hal yang dapat membatasi dan melumpuhkan fungsi dan kerja akal. Tafsir Ar-Razi. قبل:(أٌ تؤيٍ ببهلل ٔيالئكتّ ٔكتبّ ٔزسهّ ٔانٍٕو اَخس ٔتؤيٍ ببنقدز خٍسِ ٔشس‬ Artinya: "Beritahukan aku tentang Iman.2 Dalil 'Aqli: Allah swt 'Alimun (Maha Tahu) bahwa manusia adalah makhluk yang dha‟if (lemah). ilmu qiraah. Tafsir Al-Baidhawi. yang ada kaitannya dengan larangan nikah mut'ah[31] a. Atas hal itulah Allah swt berkehendak memberikan bimbingan kepada manusia agar tetap menjadi makhluk paling mulia di sisi-Nya dengan memberikan pedoman berupa kitab suci lengkap dengan uswah hasanah (contoh tauladan) yang berupa seorang Nabi dan Rasul. dll[27]. tidak dipengaruhi oleh keinginan. ilmuilmu Al-Qur'an. a.5.1 Dalil Naqli: Al-Qur’an: ‫ٔانرٌٍ ُْى نِفُسُٔجٓى حبفِظٌَُٕ . malaikat-malaikat-Nya. Dan ketika 'Aqli dihubungkan secara khusus dengan disiplin ilmu tafsir.1 Dalil Naqli: Al-Qur’an: ٌَُُِٕ‫ٔانَّرٌٍَ ٌُؤيٌَُُٕ بًِب أَُصل إِنٍَك ٔيب أَُصل يٍ قَبهِك ٔبِبَخسة ُْى ٌُٕق‬ ْ َِ ِ ْ َ َ ْ ْ ِ َ ِ ْ َ َ َ ْ َ ِ ْ َ ِ ْ ِ َ Artinya: "Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu. Contoh penggunaan naqli dan 'aqli dalam bidang fikih. yaitu penafsiran al-Qur'an yang lebih dititikberatkan kepada kemampuan akal fikiran yang sehat dan obyektif (ijtihad) daripada disandarkan kepada periwayatan-periwayatan. Contoh penggunaan naqli dan 'aqli dalam bidang tauhid. Lalu beliau bersabda: "Engkau beriman kepada Allah. Dalam hal ini seorang mufassir akan menggunakan kemampuan akalnya (ijtihadnya) dengan bantuan ilmu-ilmu bahasa Arab. b. Beberapa tafsir yang terkenal dalam bentuk ini antara lain: Tafsir Al-Jalalain. kitab-kitab-Nya. Sedangkan Allah SWT adalah Tuhan yang Rahman (Maha Pengasih) dan Rahim (Maha Penyayang). serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat"[29].

seperti yang di riwayatkan Ibnu Abas. sebagaimana ia sebutkan di dalam tafsirnya. Sehingga munculah di langit awan dan kabut yang . dan Ibnu Hatim telah meriwayatkan dari Ali karramallahu wajhah bahwasanya langit terlepas dari galaksi. tidak pula dimaksudkan untuk beranak cucu.2 Dalil 'Aqli: Sesungguhnya nikah mut'ah itu tidak dimaksudkan untul apa-apa kecuali hanya untuk memenuhi syahwat. dan didalam atsar (riwayat sahabat) disebutkan bahwa hal itu (langit terbelah itu) menunjukan terbukanya pintu langit. dan dikatakan bahwa langit itu terbelah karena kedahsyatan hari kiamat."[35]. Contoh penggunaan naqli dan 'aqli dalam bidang tafsir. yang ada kaitannya dengan ْ َ ْ ُ َ َّ َ penafsiran ayat pertama dari surat Al-Insyiqaaq (terbelah). maka mut'ah itu mirip dengan zina dari segi maksud untuk memenuhi syahwat saja dan mengeluarkan air mani. a. Maka ia memandang bahwa insyiqaaq as-samaa maknanya bisa berupa satu kejadian besar dari sekian kejadian-kejadian yang berhubungan dengan tata surya. ‫يب زٔاِ يبنك ػٍ انصْسي بسُدِ ػٍ ػهً كسو هللا ٔجّٓ أٌ زسٕل هللا صهى هللا ػهٍّ ٔسهى َٓى ػٍ يتؼت انُسبء‬ Artinya: "Diriwayatkan oleh Malik dari Az-Zahri dengan sanadnya dari Ali karramallahu wajhah bahwasanya Rasulullah saw telah melarang menikahi wanita secara mut'ah". karena pada hari itu langit menjadi lemah"[34]. Karena benturan tersebut. yang diikuti oleh Al-Farra da Az-Zujaj di dalam "Alُ Bahr" dan ia menguatkannya dengan firman Allah: (‫" :)ٌٕٔو تشقّق انسًبء ببنغًبو‬Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut putih"[33]. Hadits Nabi saw: ‫يب زٔاِ ابٍ يبجت أٌ زسٕل هللا صهى هللا ػهٍّ ٔسهى حسّ و انًتؼت فقبل : «ٌب أٌٓب انُبض إًَ كُت أذَت نكى فً االستًتبع، أال‬ »‫ٔإٌ هللا قد حسيٓب إنى ٌٕو انقٍبيت‬ Artinya: "Diriwayatkan oleh Ibnu Majah bahwasanya Rasulullah saw telah mengharamkan mut'ah.1 Tafsir bi al-manqul (bi al-ma'tsur): Al-Alusi menafsirkan ayat ini dengan ayat lain dan dengan menyandarkan kepada pwriwayatan-periwayatan. memelihara anak-anak yang semua itu merupakan maksud dari pernikahan. maka al-Qur'an sebagiannya menafsirkan sebagian yang lain. maka tata surya mengalami goncangan yang kuat. yaitu: "(‫" :)إذا انسًبء اَشقت‬Apabila langit terbelah" yakni (‫ :)ببنغًبو‬berawan (berkabut putih).. sebagaiman firman Allah: (‫" :)ٔاَشقت انسًبء فًٓ ٌٕيئر ٔاٍْت‬Dan terbelahlah langit. yaitu berbunyi: ‫إِذا انسًبء اَشقَّت‬ (Apabila langit terbelah) a.. a. c.Artinya: "Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. (tetapi mulai sekarang) tidaklah begitu sesungguhnya Allah swt mengharamkannya sampai hari kiamat".2 Tafsir bi al-ma'qul (bi ar-ra'yi): Muhammad Abduh menafsirkan ayat ini dengan argumen akal yang didasarkan pada pengetahuan dan penelitian ilmiah. maka ia bersabda: "Wahai manusia sesungguhnya dulu aku telah mengizinkan kalian bermut'ah. kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki"[32]. seperti kejadian lewatnya sebuah bintang dekat dengan bintang lainnya yang menimbulkan gaya tarik menarik dan menyebabkan terjadinya benturan antara keduanya..

Masalah pertentangan antara naqli dan 'aqli dalam bidang tauhid Ketika kita menelusuri sejarah ilmu kalam atau ilmu Tauhid. Secara ringkas pandangan jumhur ulama tentang pertentangan antara naqli dan 'aqli dalam bidang tauhid adalah sebagai berikut[40]: . Ibnu Taimiyah melihat bahwa apabila dikatakan bahwa dua dalil saling bertentangan. baik dalil itu naqli ataupun 'aqli[38]. baik kedua-duanya itu naqli atau kedua-duanya 'aqli atau salah satunya naqli dan yang lainnya 'aqli. atau salah satunya qath'i dan yang lainnya dzanni. Maka langitpun terbelah oleh awan dan kabut tersebut. maka yang harus dikatakan (ditetapkan) adalah bahwa hal tersebut tidak terlepas dari tiga pilihan.datang dari berbagai arah. dan dalalahnya (tanda penunjuknya) tidak mungkin bathil. begitu juga mencukupkan akal saja tanpa memerlukan sinar wahyu Ilahi dan sunnah nabi adalah suatu tipuan belaka. 3. Maka menurutnya jauhilah model seperti ini dan hendaklah mempergunakan atau menggabungkan kedua dasar pokok ini (naqli dan 'aqli). atau mena’wilkan wahyu dengan memperhatikan kaedah-kaedah bahasa sehingga ada persesuian antara maknanya dengan apa yang telah ditetapkan oleh akal[39]. Apabila kedua-duanya itu qath'i. bahkan setiap dalil yang diyakini bertentangan dengan dalil yang diyakini qath'i maka kedua dalil tersebut atau salah satunya haruslah bukan qath'i atau kedua madlulnya saling bertentangan. baik dalil itu naqli ataupun 'aqli. Dimana kelompok salaf dan qaramatiyah. Ini merupakan kesepakatan para ulama. sehingga tampak dihadapannya dua jalan: tunduk kepada kebenaran wahyu dengan mengakui ketidakmampuan dalam memahaminya dan menyerahkan perkara tersebut kepada Allah swt. Hal ini kemudian mengakibatkan rusaknya peredaran tata surya[36]. karena yang dzanni tidak sampai kepada tahapan yakin. karena sesungguhnya "ilmu logika dan filsafat itu seperti makanan. atau kedua-duanya dzanni (relatif atau dugaan). yaitu: kedua-duanya qath'i (pasti atau absolut). salah seorang ulama yang termasuk pembaharu agama dan sosial di Mesir pada zaman modern. sangat mengutamakan dalil naqli dan meremehkan dalil 'aqli. Dalam hal ini apabila kedua dalil qath'i saling bertentangan dan salah satunya menentang madlul yang lainnya. kedua dalil itu di kumpulkan olehnya dengan secara paralel atau saling menguatkan. Dalam hal ini Imam al-Ghazali menegaskan bahwa akal memerlukan dalil naqli dan dalil naqli memerlukan akal. maka hal ini harus di bawa ke ranah tarjih. dan ilmu-ilmu syara' itu adalah obat"[37]. sebagaimana kesepakatan para ulama. karena dalil qath'i adalah dalil atau petunjuk yang mengharuskan adanya ketetapan pada madlulnya (yang ditunjukannya). disatu sisi berpandangan seperti pandangannya Ibnu Taimiyah. sedangkan kelompok Mu’tazilah yang dipelopori oleh Wasil bin Atha’ sangat mengutamakan dalil 'aqli dari pada dalil naqli. Adapun apabila kedua-duanya dzanni. Namun ketika didapat ada pertentangan antara keduanya. sebelum munculnya faham Asy’ari sangat kontradiktif. baik keduaduanya itu 'aqli atau kedua-duanya naqli atau salah satunya 'aqli dan yang lainnya naqli. dan ini tidaklah mungkin. bahwa antara naqli dan 'aqli tidak mungkin bertentangan. maka yang qath'i haruslah di dahulukan. mana dari keduanya yang paling rajih maka didahulukan. Dan apabila salah satu dari kedua dalil yang saling bertentangan itu qath'i tanpa yang lainnya. Kemudian setelah imam Asy'ari muncul. begitu juga kelompok Al-Maturidiyah memandang bahwa akal dapat mengetahui baik buruknya perkara dan bahwa mengetahui Allah itu dengan akal atau dengan kata lain bahwa akal itu merupakan alat untuk mengetahui Allah. Oleh karena itu ia memandang bahwa bertaqlid atau menerima kepada pendapat orang tanpa mempergunakan akal sama sekali adalah suatu kebodohan. maka kedua-duanya mesti bersatu. Abduh memilih yang benar menurut 'Aqli. Sedangkan Muhammad Abduh. maka kita akan menemukan bahwa penggunaan dalil naqli dan dalil 'aqli. maka tidak boleh ada pertentangan.

5. keyakinan dan kepercayaan yang kuat. Naqli didahulukan atas 'aqli. Keidentikan ini selaras dengan kebutuhan ilmu Tauhid terhadap dalil-dalil yang bisa memberantas dan mengikis segala keragu-raguan atau kepercayaan yang lemah. seperti dalam bidang fikih dan tafsir. Penentuan hukum-hukum tafshiliyah (terinci seperti wajib. justru setiap kajian-kajian ilmu agama Islam tidak terlepas dari naqli. Naqli secara istilah identik dengan dalil-dalil yang di nukil atau di ambil dari Kitab Allah yang Maha Mulya dan dari sunnah yang suci atau dalil-dalil yang diriwayatkan kepada kita oleh naqalah al-hadist dan perawi-perawi. begitu juga mufassir ketika ingin menafsirkan ayat-ayat al-Qur'an ia memerlukan bantuan naqli. 7. atau ketika menafsirkan al-Qur'an. Namun keidentikan ini tidak menutup bidang ilmu lain untuk berpegang kepada naqli. Namun ketika diyakini antara keduanya ada pertentangan. Balasan atas pahala dan dosa ditentukan oleh naqli. sehingga muncul keteguhan. tetapi saling menguatkan. tidak bersifat detail. 3. atau ketika mengistinbath (mengambil dalil-dalil) dan menetapkan hukum-hukum perkara-perkara yang ada di dalam ruang lingkup disiplin ilmu fikih. Akal mempunyai kemampuan mengenal dan memahami yang bersifat global. Sedangkan 'aqli identik dengan dalil-dalil yang berdasarkan akal fikiran manusia yang sehat dan obyektif. DAFTAR PUSTAKA . 6. maka para ulama berbeda pendapat antara mendahulukan naqli atau 'aqli. 4. Dan akal merupakan bagian dari indera dan insting yang ada dalam diri manusia diciptakan oleh oleh Allah swt dengan kelebihan diberikannya muatan tertentu berupa kesiapan dan kemampuan yang dapat melahirkan sejumlah aktivitas pemikiran yang berguna bagi kehidupan manusia yang telah dimuliakan Allah swt. dimana seorang fakih ketika ingin menetapkan hukum suatu perkara ia membutuhkan naqli. C. karena naqli itu ma’shum sedang 'aqli tidak ma’shum. 9. Janji Surga dan ancaman Neraka sepenuhnya ditentukan oleh naqli. walaupun secara umum ia dapat mengenal dan memahami yang baik dan buruk. ambisi atau kebencian dari emosi. dan jumhur memilih naqli. 8. haram dan seterusnya) adalah hak prerogatif syari'at (naqli). Jumhur ulama memandang bahwa antara naqli dan 'aqli tidak bertentangan. Allah swt berfirman: "Kami tidak akan meng„adzab sehingga Kami mengutus seorang Rasul"[41]. Akal tidak dapat menentukan hukum tertentu atas sesuatu sebelum datangnya wahyu. karena Allah swt mengatakan tentang diri-Nya: "Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendakiNya"[42]. tidak dipengaruhi oleh keinginan. sehingga muncullah istilah tafsir bi al-manqul atau bi al-ma'tsur. PENUTUP Naqli dan 'Aqli merupakan dua landasan pokok yang harus di pegang oleh setiap Muslim di ketika mengungkap dan membuktikan kebenaran-kebenaran dan memantapkan keteguhan dalam berkeyakinan yang ada di dalam ruang lingkup disiplin ilmu Tauhid atau akidah. Tidak ada kewajiban tertentu terhadap Allah swt yang ditentukan oleh akal kita kepada-Nya.1. tidak mudah goyah atau mendangkal. Apa yang salah dari pemikiran akal adalah apa yang bertentangan dengan naqli. Apa yang benar dari hukum-hukum akal pasti tidak bertentangan dengan naqli. 2.

2000. Drs. Al-Anfāl: 1. 'Amman: Dar Al-Furqan. Ibrahim bin Muhammad. Jawas. Al-Manhaj. Rawaai' Al-Bayan Tafsir Ayat Al-Ahkam. M. 1323. [13] http//id.wikipedia/wiki/Al-Qur'an. Ibnu. http//nyimpanilmu. Mabahits Fi Ululm Al-Qur'an. hal.com. [5] QS. Muhammad. 17 September 2011. 1985. Mochammad Asrukin. Maktabah Al-Ma'aarif. 1414 H. Al-Maktabah AsySyaamilah. hal. At-Tamhid Fi Usul Al-Hadist. Mahmud Bin Abdullah Al-Husaini. [9] Fatih Muhammad Az-Zaqlam. Al-Qiyaamah: 17. Almaktabah Asy-Syamilah. Ash-Shobuniy. Al-Muwaththa. jil. Muhammad Amaan Bin Ali. M. Daarus Sunnah. hal. At-Tibyan fi Ulum al-Qur’an. 17. cet.. 10. http//id. hal. Muassasah Zaaid bin Sulthan Aal nahyaan. [15] Muhammad Amaan Bin Ali Al-Jaamii. [8] Dr. Asrukin. [12] QS. 3. M.blogspot. Tafsir al-Qur'an: Sebuah Tinjauan Pustaka.wikipedia/wiki/Al-Qur'an. [3] Drs. 2004. Al-Madkhal li Diraasatil ‘Aqiidatil Islamiyyah ‘ala Madzhab Ahlis Sunnah wal Jama’ah.Abdurrahim Said. 5. Dr. 2000. Mochammad. Himam Abdurrahim Said.. Maktabah Al-Ma'aarif. M. 1391 H. Al-Madkhal li Diraasatil ‘Aqiidatil Islamiyyah ‘ala Madzhab Ahlis Sunnah wal Jama’ah. Mabahits Fi Ululm Al-Qur'an. Al-Alusi. Al-Maktabah Asy-Syamilah. Al-Islam Wa An-Nashraniah. Al-'aqlu Wa An-Naqlu 'Inda Ibni Rusydi. Taimiyah. Tafsir Al-Qur'an Al-Karim: Juz Amma.. op. At-Tamhid Fi Usul Al-Hadist. hal.or. Anas. hal. [1] Muhammad Amaan Bin Ali Al-Jaamii. 16 Oktober 2011. Al-Ahzāb: 36. Az-Zaqlam. Dr. Al-'aqlu Wa An-Naqlu 'Inda Ibni Rusydi. Tripoli: Dar Al-Fasifsa. cit.wikipedia/wiki. Usul Al-Ahkam. 136. Muassasah Zaaid bin Sulthan Aal nahyaan. Makalah. Muhammad. 5. Dalil ‘Aqli Yang Benar Akan Sesuai Dengan Dalil Naqli Yang Shahih (terj). Al-Muwaththa. Al-Buraikan. 2006. Abduh. cet 3. 'Amman: Dar Al-Furqan. Ash-Shobuniy. II. hal.Si. Ibrahim bin Muhammad al-Buraikan.wordpress. 2006. [2] Malik Bin Anas. Ali. Manaa'. Ruh Al-Ma'aani Fi Tafsir Al-Qur'an Al'Adzim Wa As-Sab'u Al-Matsaani. Daru Wa Mathabi' Al-Sya'b. Al-Hasyr: 7. 1414 H. [10] QS. http//latifabdullah. Ar-Riyadh: Dar Al-Kunuz AlAdabiyah. 2004. Tripoli: Dar Al-Fasifsa. Almaktabah Asy-Syamilah. Himam. Mabahits Fi Ululm Al-Qur'an. 40. 1992. [4] Manaa' Al-Qathaan. Dar'u Ta'aarudh Al-'Aql Wa An-Naql. [7] http//id. hal. Ali. Tafsir al-Qur'an: Sebuah Tinjauan Pustaka. Al-Qathaan. op. Fatih Muhammad.id. 1992. Abduh.files.com/2011/01/dalil-naqli-dalil-aqli. Malik Bin. [6] Manaa' Al-Qathaan.. 18. hal. Al-'aqlu Wa An-Naqlu 'Inda Ibni Rusydi. Al-Jaamii. cit. 15. [11] QS. Beirut: Alam al-Kutub. . Usul Al-Ahkam. [14] Dr. Makalah. Daarus Sunnah. 3.Si. Yazid bin Abdul Qadir.

Tafsir Al-Qur'an Al-Karim. 49. Al-Madkhal li Diraasatil ‘Aqiidatil Islamiyyah ‘ala Madzhab Ahlis Sunnah wal Jama’ah. op.or. Abu Dawud (no. Ibrahim bin Muhammad al-Buraikan. 40. hal. cit. Al-Madkhal li Diraasatil ‘Aqiidatil Islamiyyah ‘ala Madzhab Ahlis Sunnah wal Jama’ah. cit. Ruh Al-Ma'aani Fi Tafsir Al-Qur'an Al'Adzim Wa As-Sab'u Al-Matsaani. [38] Ibnu Taimiyah. Al-Israa': 15. op.[16] HR. [20] QS. [35] Mahmud Bin Abdullah Al-Husaini Al-Alusi. Al-Buruuj: 16. 209. Al-Manhaj.or. Ibrahim bin Muhammad al-Buraikan.. op. Al-Israa’: 70. Al-Maktabah Asy-Syamilah. hal. 40. [34] QS. Al-Mu'minuun: 5.. hal. Ibrahim bin Muhammad al-Buraikan. op. Al-Baqarah: 4. Shahiih Sunan Abi Dawud (III/832 no. [32] QS.blogspot.com. op. [40] Dr. [25] Dr.. hal.id. hal. [37] http//nyimpanilmu. [18] QS. [21] Dr. [36] Muhammad Abduh. Al-Haaqqah: 16. hal. 41. [28] http//latifabdullah. [39] Muhammad Abduh. Abu Dawud (no.cit. 45. [33] QS. 4403). I. hal. 22. [17] Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Rawaai' Al-Bayan Tafsir Ayat Al-Ahkam. Daru Wa Mathabi' AlSya'b. cit. (Dikutip dari himpunan hadits Arba'in karya Imam An-Nawawi). 291. . 41. h. 4403). Shaad: 43. 6 Januari 2011. cit. Aly Ash-Shobuniy. Ibrahim bin Muhammad al-Buraikan. [41] QS.id. [29] QS. 52-53.. 3703) dan Irwaa-ul Ghaliil (II/5-6). Muslim. hal. jil. hal. [31] Muhammad Ali Shabuni.files. 6. 49. [24] QS. Al-Manhaj. Shahiih Sunan Abi Dawud (no. Juz Amma. Beirut: Alam al-Kutub. 67. [26] Yazid bin Abdul Qadir Jawas. [27] M. Ibrahim bin Muhammad al-Buraikan.wordpress. At-Tibyan fi Ulum al-Qur’an. ji. hal. op. Ar-Riyadh: Dar Al-Kunuz AlAdabiyah. Al-Furqaan: 25. [23] Dr. [22] HR. Al-Islam Wa An-Nashraniah. 3703). cit.. [30] HR. [42] QS. Dar'u Ta'aarudh Al-'Aql Wa An-Naql. Al-Mulk: 10.com/2011/01/dalil-naqli-dalil-aqli. Al-Maktabah AsySyaamilah. Dalil ‘Aqli Yang Benar Akan Sesuai Dengan Dalil Naqli Yang Shahih (terj). 1391 H.. 1985. [19] Dr.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.