A.

PENDAHULUAN Di dalam mengkaji kebenaran suatu perkara dan kesahihannya, atau di dalam menentukan bahwa sesuatu itu benar, dapat dipercayai dan diyakini, atau ketika kita ingin menetapkan dasar pijakan suatu perkara yang kita ucapkan dan kerjakan, kita memerlukan adanya bukti-bukti, tanda-tanda atau petunjuk-petunjuk yang sah dan akurat, sehingga kebenaran, kesahihan dan keyakinan itu dapat ditunjukan dan dibuktikan, dan sekaligus kita dapat memberantas keragu-raguan dan rasa was-was yang mungkin tertanam di dalam hati kita, juga dapat dijadikan pijakan yang kokoh di dalam mengerjakan suatu perkara tersebut. Di dalam hal ini, para ulama Islam telah menentukan dua landasan pokok yang harus di pegang oleh setiap Muslim di dalam hal-hal tersebut diatas, yaitu Naqli dan 'aqli. Dimana kedua landasan tersebut merupakan pijakan yang dipakai oleh mereka, khususnya, ketika mengungkap dan membuktikan kebenaran-kebenaran dan memantapkan keteguhan dalam berkeyakinan yang ada di dalam ruang lingkup disiplin ilmu Tauhid atau akidah, dan ketika mengistinbath (mengambil dalil-dalil) dan menetapkan hukum-hukum perkara-perkara yang ada di dalam ruang lingkup disiplin ilmu fikih, serta ketika menafsirkan al-Qur'an. Untuk itu, pemakalah akan mencoba membahas kedua landasan pokok tersebut agar kita selaku umat islam dapat mengetahui dan memahami naqli dan 'aqli, serta dapat mempergunakannya di dalam keber-agama-an kita sehari-hari, baik yang ada kaitannya dengan keimanan maupun amal perbuatan.

B.

PEMBAHASAN

1. Definisi, maksud dan keutamaan naqli dan 'aqli di dalam syari'at Islam a. Naqli Naqli menurut bahasa adalah dari (‫ )َقم انشًء‬yakni mengambil sesuatu dari satu tempat ke tempat lain, dan (‫ )ََقَهَت انحدٌث‬yakni mereka yang menuliskan hadist-hadist dan menyalinkannya dan menyandarkannya kepada sumber-sumbernya. Dikatakan pada dalil-dalil dari Al-qur'an dan hadist: dalil naqli. Oleh karena itu naqli secara istilah identik dengan dalil-dalil yang di nukil atau di ambil dari Kitab Allah yang Maha Mulya dan dari sunnah yang suci atau dalil-dalil yang diriwayatkan kepada kita oleh naqalah al-hadist dan perawi-perawi[1]. Diantara landasan utama ditetapkannya al-Qur'an dan sunnah sebagai dalil naqli oleh para ulama adalah sebuah hadist Rasulullah saw: [2]ٍّ‫تسكت فٍكى أيسٌٍ نٍ تضهٕا يب تًسكتى بًٓب: كتبة هللا ٔسُت َب‬ Artinya: "Telah aku tinggalkan dua perkara, yang apabila kalian berpegang kepada keduanya maka kalian tidak akan tersesat: Kitab Allah (al-Qur'an) dan Sunnah Nabi-Nya". Namun ketika naqli dihubungkan dengan ilmu tafsir maka disebut tafsir bi al-manqul atau bi al-ma'tsur, yaitu penafsiran al-Qur'an yang disandarkan kepada riwayat-riwayat yang sahih secara tertib, atau dengan cara menafsirkan al-Qur'an dengan al-Qur'an atau menafsirkannya dengan as-Sunnah atau menafsirkannya dengan riwayat-riwayat yang di terima dari para sahabat atau para tabi'in[3], seperti penafsirannya At-Thabari dan Ibnu Katsir. Al-qur'an (ٌ‫ )انقسآ‬adalah kitab suci umat Islam yang secara bahasa merupakan masdar (kata benda) dari kata kerja (‫ ,)قسآَب – قساءة - قسأ‬yang berwazan [4]ٌ‫ .فُؼْال‬Allah swt berfirman: ْ [5]ََُّ‫إٌ ػهٍََُب جًؼُّ ٔقَسُآََُّ. فَئِذا قَس ْأََبِ ُ فَبتَّبِغ قُسْ آ‬ َ َ َ ْ َ ْ َ َّ

diantaranya: 1. Sedangkan sunnah (‫ )انسُت‬secara bahasa bermakna (‫ :)انسٍسة انحسُت أٔ انقبٍحت‬jalan hidup yang baik atau jelek. jika kamu adalah orang-orang yang beriman”[10]. menunaikan zakat dan haji dan sebagainya yang mana perkara-perkara tersebut hanya disebutkan secara umum oleh al-Quran. Adapun secara istilah adalah kalam Allah. Adapun secara istilah sunnah memiliki beberapa definisi. jelaslah bahawa sunnah tidak dapat dipisahkan penggunaannya di dalam segala hal yang berkaitan dengan Islam. diturunkan kepada Nabi Muhammad saw melalui perantaraan Malaikat Jibril dalam bahasa Arab. dst. 3. Sunnah Rasul saw adalah sumber rujukan umat Islam kedua setelah al-Qur'an. Sunnah menurut muhadditsun (ahli hadits) adalah apa yang disandarkan kepada Rasulullah saw dari segi perkataan atau perbuatan atau pengakuan atau sifat akhlak (peribadi) dari permulaan diutusnya sampai wafatnya[8]. yang membaca setiap hurufnya adalah ibadah[6]. Atau secara lengkapnya adalah kalam Allah yang bermukjizat. kaedah jual beli. ayat-ayatnya. Hal ini sebagaimana yang ditegaskan di dalam firman-Nya seperti:“Dan taatilah Allah dan RasulNya. baik dari segi asal-usulnya. 2. dan apa yang dilarangnya bagimu. Dengan penegasan al Quran di atas. diriwayatkan secara mutawatir dan membaca setiap hurufnya adalah ibadah. Juga firman-Nya:“Apa yang diberikan Rasul kepada kamu. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu". 2. Sehingga fungsi sunnah di dalam Islam. Sunnah menurut ulama usul adalah perkataan-perkataan Rasulullah saw dan perbuatanperbuatannya serta pengakuan-pengakuannya yang diriwayatkan kepada kita dengan periwayatan yang sahih[9]. Dan firman-Nya:“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah. Menjadi keterangan tasyri’ yaitu menentukan sesuatu hukum yang tidak disebutkan di dalam al-Quran seperti dalam hal memakan haiwan yang ditangkap oleh hewan pemburu terlatih seperti anjing yang mana buruan tersebut terdapat kesan dimakan oleh hewan pemburu terlatih tadi dan kesan tersebut menunjukkan bahwa hewan pemburu tadi menangkap buruan untuk dirinya sendiri. dan disebutkan juga ketaatan terhadap Rasulullah saw setelah ketaataan kepada Allah swt. dan menjalankan ajaran (syariat) Islam juga dalam mengambil dalil-dalil mengenai perkaraperkara atau permasalahan-permasalahan yang ada kaitannya dengan keimanan dan amal ibadah mereka. puasa dan haji. maka ambillah ia. bermula dari surah al-Fatihah dan berakhir dengan surah an-Naas[7]. Penguat dan penyokong hukum-hukum yang terdapat di dalam al-Quran seperti dalam perkara pensyariatan shalat. memahami. turunnya. juga bermakna (‫ :)انطسٌقت‬jalan. sehingga umat Islam menjadikanya sebagai sumber utama dalam mempelajari. riwayatnya. Di dalam al-Quran hanya . Penghurai dan pentafsir ayat-ayat al-Quran yang umum seperti memperjelaskan mengenai tata cara perlaksanaan shalat. bahkan di dalam beberapa tempat sunnah disebutkan bersamaan dengan al Kitab ataupun al Quran. diantaranya: 1. apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan.Artinya: "Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. akan ada bagi mereka pilihan yang lain bagi urusan mereka”[11]. yang diturunkan kepada Muhammad saw. dimana kedudukannya dalam Islam adalah sesuatu yang tidak dapat diragukan kerana terdapat penegasan yang banyak di dalam al Quran tentang sunnah tersebut. maka tinggalkanlah”[12]. Oleh karena itu al-Quran merupakan Kitab Suci umat Islam yang keotentikannya tidak diragukan lagi.

ta-aqqul dan lainnya. tafakkur. Secara istilah akal memiliki beberapa definisi diantaranya: Cahaya nurani. Diantaranya seperti kalimat: ٌٔ‫( نؼهكى تتفكس‬mudah-mudahan kamu berfikir). Rasulullah saw bersabda: "Pena (catatan pahala dan dosa) diangkat (dibebaskan) dari tiga golongan. orang gila sampai ia kembali sadar (berakal)"[22]. 4. Allah swt berfirman: "Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni Neraka yang menyala-nyala"[24]. Aksioma-aksioma rasional dan pengetahuan-pengetahuan dasar yang ada pada setiap manusia. maka ia tidak tidak menerima taklif itu[21]. 3. 2. syari’at Islam telah memberikan nilai dan urgensi yang amat tinggi terhadap akal manusia. orang yang tidur sampai bangun. sebagaimana dapat dilihat pada beberapa point berikut ini: Allah mengkhususkan penyampain kalam-Nya hanya kepada orang yang berakal. karena hanya mereka yang dapat memahami agama dan syariat-Nya[19]. 2. Oleh karena itu ketika ia kehilangan akalnya dikarenakan gila misalnya.[13] b. Masyhûr ataupun Mustafhîdh. Allah swt mencela orang yang tidak menggunakan akalnya. hadith menerangkan bahawa buruan yang mempunyai kesan dimakan oleh hewan pemburu adalah haram dimakan.dibenarkan memakan buruan yang ditangkap oleh hewan pemburu terlatih. 5. dan lainnya[25]. . Kami angkat mereka di daratan dan di lautan"[18]. Maka dalam hal ini. dan (‫ :)حسٍ انتصسف‬tindakan yang baik atau tepat[14]. ‫أفال‬ ٌٕ‫(تؼقه‬apakah kamu tidak berakal) dan ٌ‫( أفال ٌتدبسٌٔ انقسآ‬apakah mereka tidak mentadabburi/merenungi isi kandungan al-Qur'an). Dan akal merupakan indera yang diciptakan oleh oleh Allah swt dengan kelebihan diberikannya muatan tertentu berupa kesiapan dan kemampuan yang dapat melahirkan sejumlah aktivitas pemikiran yang berguna bagi kehidupan manusia yang telah dimuliakan Allah swt[17]. Syarat utama yang harus ada dalam diri manusia untuk dapat menerima taklif (beban kewajiban) dari Allah swt yang berkenaan dengan hukum-hukum syari’at Islam adalah akal. seperti: tadabbur. Banyak disebutkan di dalam al-Qur-an mengenai anjuran-anjuran Allah kepada manusia agar mempergunakan akalnya untuk berfikir. 1. Misalnya celaan Allah terhadap ahli Neraka yang tidak menggunakan akalnya[23]. Oleh karena itu. 3. (‫ :)انحكًت‬kebijakan. yakni bisa ada dan bisa hilang. di antaranya: (‫ :)اندٌت‬denda. Menerangkan mengenai ayat yang telah dinasakh dan ayat mana yang telah dimansukhkan. sebagaimana dalam firman-Nya: "Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam. Menasakhkan hukum yang terdapat di dalam al Quran. 'Aqli Kata 'aqli secara bahasa berasal dari kata bahasa Arab (‫ :)ػقم‬akal yang mempunyai beberapa makna. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah saw dalam salah satu sabdanya: ". Kesiapan bawaan yang bersifat instinktif dan kemampuan yang matang. 1. Akal merupakan bagian dari indera dan insting yang ada dalam diri manusia yang memiliki sifat berubah-rubah. anak kecil sampai bermimpi.. Allah swt berfirman: "…dan merupakan peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal"[20].dan termasuk orang gila sampai ia kembali berakal"[16]. 4.. sebagian ulama berpandangan bahawa hadith yang dapat menasakhkan hukum al Quran itu mestilah sekurangkurangnya bertaraf Mutawatîr. yang dengannya jiwa bisa mengetahui perkara-perkara yang penting dan fitrah[15].

yaitu penafsiran al-Qur'an yang lebih dititikberatkan kepada kemampuan akal fikiran yang sehat dan obyektif (ijtihad) daripada disandarkan kepada periwayatan-periwayatan. ilmu qiraah. kitab-kitab-Nya. tidak dipengaruhi oleh keinginan. ambisi atau kebencian dari emosi. Dan ketika 'Aqli dihubungkan secara khusus dengan disiplin ilmu tafsir. Tafsir Al-Baidhawi. malaikat-malaikat-Nya. Lalu beliau bersabda: "Engkau beriman kepada Allah. Beberapa tafsir yang terkenal dalam bentuk ini antara lain: Tafsir Al-Jalalain. serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat"[29]. maka disebut tafsir bi al-ma'qul atau bi ar-ra'yi.1 Dalil Naqli: Al-Qur’an: ‫ٔانرٌٍ ُْى نِفُسُٔجٓى حبفِظٌَُٕ . 2.2 Dalil 'Aqli: Allah swt 'Alimun (Maha Tahu) bahwa manusia adalah makhluk yang dha‟if (lemah).5. Contoh-contoh penggunaan naqli dan 'aqli a. b. sehingga tersusunlah bentuk tafsir yang sesuai dengan masa dimana mufassir tersebut hidup. Tafsir Ar-Razi. ilmuilmu Al-Qur'an. Sedangkan Allah SWT adalah Tuhan yang Rahman (Maha Pengasih) dan Rahim (Maha Penyayang).1 Dalil Naqli: Al-Qur’an: ٌَُُِٕ‫ٔانَّرٌٍَ ٌُؤيٌَُُٕ بًِب أَُصل إِنٍَك ٔيب أَُصل يٍ قَبهِك ٔبِبَخسة ُْى ٌُٕق‬ ْ َِ ِ ْ َ َ ْ ْ ِ َ ِ ْ َ َ َ ْ َ ِ ْ َ ِ ْ ِ َ Artinya: "Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu. rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk"[30]. Kata 'Aqli ketika dihubungkan dengan kajian ilmu-ilmu agama identik dengan dalildalil yang berdasarkan akal fikiran manusia yang sehat dan obyektif. Atas hal itulah Allah swt berkehendak memberikan bimbingan kepada manusia agar tetap menjadi makhluk paling mulia di sisi-Nya dengan memberikan pedoman berupa kitab suci lengkap dengan uswah hasanah (contoh tauladan) yang berupa seorang Nabi dan Rasul. Islam mencela hal-hal yang dapat membatasi dan melumpuhkan fungsi dan kerja akal. dll[27]. yang ada kaitannya dengan iman kepada kitab-kitab Allah swt[28] a. Dalam hal ini seorang mufassir akan menggunakan kemampuan akalnya (ijtihadnya) dengan bantuan ilmu-ilmu bahasa Arab. Contoh penggunaan naqli dan 'aqli dalam bidang fikih. seperti taqlid buta yang hanya menerima pendapat orang lain tanpa dilandasi oleh dalil[26]. قبل:(أٌ تؤيٍ ببهلل ٔيالئكتّ ٔكتبّ ٔزسهّ ٔانٍٕو اَخس ٔتؤيٍ ببنقدز خٍسِ ٔشس‬ Artinya: "Beritahukan aku tentang Iman. Contoh penggunaan naqli dan 'aqli dalam bidang tauhid. yang ada kaitannya dengan larangan nikah mut'ah[31] a. Hadits Nabi saw: )ِ‫فأخبسًَ ػٍ اإلًٌبٌ. إِالَّ ػهى أَشٔاجٓى أَْٔ يب يهَكت أًٌَبَُُٓى‬ ْ َْ ْ َ َ َ ِْ ِ َ ْ َ ِْ ِ ْ . ushul fikih dan ilmu-ilmu lain untuk menerangkan maksud ayat dan mengembangkannya dengan bantuan perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan yang ada. hadits dan ilmu hadits. a.

sebagaiman firman Allah: (‫" :)ٔاَشقت انسًبء فًٓ ٌٕيئر ٔاٍْت‬Dan terbelahlah langit. yaitu: "(‫" :)إذا انسًبء اَشقت‬Apabila langit terbelah" yakni (‫ :)ببنغًبو‬berawan (berkabut putih). a. dan dikatakan bahwa langit itu terbelah karena kedahsyatan hari kiamat. ‫يب زٔاِ يبنك ػٍ انصْسي بسُدِ ػٍ ػهً كسو هللا ٔجّٓ أٌ زسٕل هللا صهى هللا ػهٍّ ٔسهى َٓى ػٍ يتؼت انُسبء‬ Artinya: "Diriwayatkan oleh Malik dari Az-Zahri dengan sanadnya dari Ali karramallahu wajhah bahwasanya Rasulullah saw telah melarang menikahi wanita secara mut'ah". Karena benturan tersebut. Maka ia memandang bahwa insyiqaaq as-samaa maknanya bisa berupa satu kejadian besar dari sekian kejadian-kejadian yang berhubungan dengan tata surya. maka al-Qur'an sebagiannya menafsirkan sebagian yang lain.. memelihara anak-anak yang semua itu merupakan maksud dari pernikahan. Sehingga munculah di langit awan dan kabut yang . tidak pula dimaksudkan untuk beranak cucu. yang ada kaitannya dengan ْ َ ْ ُ َ َّ َ penafsiran ayat pertama dari surat Al-Insyiqaaq (terbelah). Contoh penggunaan naqli dan 'aqli dalam bidang tafsir. maka ia bersabda: "Wahai manusia sesungguhnya dulu aku telah mengizinkan kalian bermut'ah. dan Ibnu Hatim telah meriwayatkan dari Ali karramallahu wajhah bahwasanya langit terlepas dari galaksi.Artinya: "Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki"[32].. (tetapi mulai sekarang) tidaklah begitu sesungguhnya Allah swt mengharamkannya sampai hari kiamat". dan didalam atsar (riwayat sahabat) disebutkan bahwa hal itu (langit terbelah itu) menunjukan terbukanya pintu langit. a. c."[35].2 Dalil 'Aqli: Sesungguhnya nikah mut'ah itu tidak dimaksudkan untul apa-apa kecuali hanya untuk memenuhi syahwat. maka tata surya mengalami goncangan yang kuat. karena pada hari itu langit menjadi lemah"[34]. yaitu berbunyi: ‫إِذا انسًبء اَشقَّت‬ (Apabila langit terbelah) a. seperti kejadian lewatnya sebuah bintang dekat dengan bintang lainnya yang menimbulkan gaya tarik menarik dan menyebabkan terjadinya benturan antara keduanya.. sebagaimana ia sebutkan di dalam tafsirnya. seperti yang di riwayatkan Ibnu Abas.1 Tafsir bi al-manqul (bi al-ma'tsur): Al-Alusi menafsirkan ayat ini dengan ayat lain dan dengan menyandarkan kepada pwriwayatan-periwayatan. Hadits Nabi saw: ‫يب زٔاِ ابٍ يبجت أٌ زسٕل هللا صهى هللا ػهٍّ ٔسهى حسّ و انًتؼت فقبل : «ٌب أٌٓب انُبض إًَ كُت أذَت نكى فً االستًتبع، أال‬ »‫ٔإٌ هللا قد حسيٓب إنى ٌٕو انقٍبيت‬ Artinya: "Diriwayatkan oleh Ibnu Majah bahwasanya Rasulullah saw telah mengharamkan mut'ah. maka mut'ah itu mirip dengan zina dari segi maksud untuk memenuhi syahwat saja dan mengeluarkan air mani.2 Tafsir bi al-ma'qul (bi ar-ra'yi): Muhammad Abduh menafsirkan ayat ini dengan argumen akal yang didasarkan pada pengetahuan dan penelitian ilmiah. yang diikuti oleh Al-Farra da Az-Zujaj di dalam "Alُ Bahr" dan ia menguatkannya dengan firman Allah: (‫" :)ٌٕٔو تشقّق انسًبء ببنغًبو‬Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut putih"[33].

bahkan setiap dalil yang diyakini bertentangan dengan dalil yang diyakini qath'i maka kedua dalil tersebut atau salah satunya haruslah bukan qath'i atau kedua madlulnya saling bertentangan. karena sesungguhnya "ilmu logika dan filsafat itu seperti makanan. baik keduaduanya itu 'aqli atau kedua-duanya naqli atau salah satunya 'aqli dan yang lainnya naqli. sangat mengutamakan dalil naqli dan meremehkan dalil 'aqli. disatu sisi berpandangan seperti pandangannya Ibnu Taimiyah. salah seorang ulama yang termasuk pembaharu agama dan sosial di Mesir pada zaman modern. bahwa antara naqli dan 'aqli tidak mungkin bertentangan. Maka menurutnya jauhilah model seperti ini dan hendaklah mempergunakan atau menggabungkan kedua dasar pokok ini (naqli dan 'aqli). Masalah pertentangan antara naqli dan 'aqli dalam bidang tauhid Ketika kita menelusuri sejarah ilmu kalam atau ilmu Tauhid. sebelum munculnya faham Asy’ari sangat kontradiktif. maka hal ini harus di bawa ke ranah tarjih. baik dalil itu naqli ataupun 'aqli. Hal ini kemudian mengakibatkan rusaknya peredaran tata surya[36]. sedangkan kelompok Mu’tazilah yang dipelopori oleh Wasil bin Atha’ sangat mengutamakan dalil 'aqli dari pada dalil naqli. maka yang harus dikatakan (ditetapkan) adalah bahwa hal tersebut tidak terlepas dari tiga pilihan. Dalam hal ini apabila kedua dalil qath'i saling bertentangan dan salah satunya menentang madlul yang lainnya. maka kedua-duanya mesti bersatu. Dimana kelompok salaf dan qaramatiyah. sehingga tampak dihadapannya dua jalan: tunduk kepada kebenaran wahyu dengan mengakui ketidakmampuan dalam memahaminya dan menyerahkan perkara tersebut kepada Allah swt. karena dalil qath'i adalah dalil atau petunjuk yang mengharuskan adanya ketetapan pada madlulnya (yang ditunjukannya). maka kita akan menemukan bahwa penggunaan dalil naqli dan dalil 'aqli. atau kedua-duanya dzanni (relatif atau dugaan). mana dari keduanya yang paling rajih maka didahulukan. begitu juga kelompok Al-Maturidiyah memandang bahwa akal dapat mengetahui baik buruknya perkara dan bahwa mengetahui Allah itu dengan akal atau dengan kata lain bahwa akal itu merupakan alat untuk mengetahui Allah. atau salah satunya qath'i dan yang lainnya dzanni. Abduh memilih yang benar menurut 'Aqli. maka tidak boleh ada pertentangan. Dan apabila salah satu dari kedua dalil yang saling bertentangan itu qath'i tanpa yang lainnya. Kemudian setelah imam Asy'ari muncul. begitu juga mencukupkan akal saja tanpa memerlukan sinar wahyu Ilahi dan sunnah nabi adalah suatu tipuan belaka. Apabila kedua-duanya itu qath'i. dan ilmu-ilmu syara' itu adalah obat"[37]. karena yang dzanni tidak sampai kepada tahapan yakin. Adapun apabila kedua-duanya dzanni. Secara ringkas pandangan jumhur ulama tentang pertentangan antara naqli dan 'aqli dalam bidang tauhid adalah sebagai berikut[40]: . atau mena’wilkan wahyu dengan memperhatikan kaedah-kaedah bahasa sehingga ada persesuian antara maknanya dengan apa yang telah ditetapkan oleh akal[39]. maka yang qath'i haruslah di dahulukan. Ini merupakan kesepakatan para ulama. Dalam hal ini Imam al-Ghazali menegaskan bahwa akal memerlukan dalil naqli dan dalil naqli memerlukan akal. sebagaimana kesepakatan para ulama. baik dalil itu naqli ataupun 'aqli[38]. Ibnu Taimiyah melihat bahwa apabila dikatakan bahwa dua dalil saling bertentangan. kedua dalil itu di kumpulkan olehnya dengan secara paralel atau saling menguatkan. Maka langitpun terbelah oleh awan dan kabut tersebut. 3. dan dalalahnya (tanda penunjuknya) tidak mungkin bathil. yaitu: kedua-duanya qath'i (pasti atau absolut). Oleh karena itu ia memandang bahwa bertaqlid atau menerima kepada pendapat orang tanpa mempergunakan akal sama sekali adalah suatu kebodohan. Namun ketika didapat ada pertentangan antara keduanya.datang dari berbagai arah. baik kedua-duanya itu naqli atau kedua-duanya 'aqli atau salah satunya naqli dan yang lainnya 'aqli. dan ini tidaklah mungkin. Sedangkan Muhammad Abduh.

maka para ulama berbeda pendapat antara mendahulukan naqli atau 'aqli. PENUTUP Naqli dan 'Aqli merupakan dua landasan pokok yang harus di pegang oleh setiap Muslim di ketika mengungkap dan membuktikan kebenaran-kebenaran dan memantapkan keteguhan dalam berkeyakinan yang ada di dalam ruang lingkup disiplin ilmu Tauhid atau akidah. Namun keidentikan ini tidak menutup bidang ilmu lain untuk berpegang kepada naqli. 5. keyakinan dan kepercayaan yang kuat. sehingga muncullah istilah tafsir bi al-manqul atau bi al-ma'tsur. 3. Balasan atas pahala dan dosa ditentukan oleh naqli. dan jumhur memilih naqli. Akal mempunyai kemampuan mengenal dan memahami yang bersifat global. begitu juga mufassir ketika ingin menafsirkan ayat-ayat al-Qur'an ia memerlukan bantuan naqli. justru setiap kajian-kajian ilmu agama Islam tidak terlepas dari naqli. dimana seorang fakih ketika ingin menetapkan hukum suatu perkara ia membutuhkan naqli. atau ketika mengistinbath (mengambil dalil-dalil) dan menetapkan hukum-hukum perkara-perkara yang ada di dalam ruang lingkup disiplin ilmu fikih. 6. tidak mudah goyah atau mendangkal. atau ketika menafsirkan al-Qur'an. Jumhur ulama memandang bahwa antara naqli dan 'aqli tidak bertentangan. Naqli didahulukan atas 'aqli. Janji Surga dan ancaman Neraka sepenuhnya ditentukan oleh naqli. Keidentikan ini selaras dengan kebutuhan ilmu Tauhid terhadap dalil-dalil yang bisa memberantas dan mengikis segala keragu-raguan atau kepercayaan yang lemah. Penentuan hukum-hukum tafshiliyah (terinci seperti wajib. tidak dipengaruhi oleh keinginan. haram dan seterusnya) adalah hak prerogatif syari'at (naqli). karena Allah swt mengatakan tentang diri-Nya: "Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendakiNya"[42]. DAFTAR PUSTAKA . 8. seperti dalam bidang fikih dan tafsir. Naqli secara istilah identik dengan dalil-dalil yang di nukil atau di ambil dari Kitab Allah yang Maha Mulya dan dari sunnah yang suci atau dalil-dalil yang diriwayatkan kepada kita oleh naqalah al-hadist dan perawi-perawi. Akal tidak dapat menentukan hukum tertentu atas sesuatu sebelum datangnya wahyu. Apa yang salah dari pemikiran akal adalah apa yang bertentangan dengan naqli. tidak bersifat detail. Apa yang benar dari hukum-hukum akal pasti tidak bertentangan dengan naqli. 7.1. C. ambisi atau kebencian dari emosi. tetapi saling menguatkan. Tidak ada kewajiban tertentu terhadap Allah swt yang ditentukan oleh akal kita kepada-Nya. 9. Namun ketika diyakini antara keduanya ada pertentangan. Allah swt berfirman: "Kami tidak akan meng„adzab sehingga Kami mengutus seorang Rasul"[41]. sehingga muncul keteguhan. Sedangkan 'aqli identik dengan dalil-dalil yang berdasarkan akal fikiran manusia yang sehat dan obyektif. karena naqli itu ma’shum sedang 'aqli tidak ma’shum. walaupun secara umum ia dapat mengenal dan memahami yang baik dan buruk. 4. 2. Dan akal merupakan bagian dari indera dan insting yang ada dalam diri manusia diciptakan oleh oleh Allah swt dengan kelebihan diberikannya muatan tertentu berupa kesiapan dan kemampuan yang dapat melahirkan sejumlah aktivitas pemikiran yang berguna bagi kehidupan manusia yang telah dimuliakan Allah swt.

1391 H. Yazid bin Abdul Qadir. Ali. Muhammad Amaan Bin Ali. [5] QS. Daarus Sunnah. Al-Islam Wa An-Nashraniah. Mochammad Asrukin. Drs.. 1323. Dr. Al-Muwaththa. Muassasah Zaaid bin Sulthan Aal nahyaan. Manaa'. Dar'u Ta'aarudh Al-'Aql Wa An-Naql.id. hal. Al-Hasyr: 7. jil. . Fatih Muhammad. cet 3. Asrukin. cit.blogspot. Abduh. 17 September 2011. Tafsir al-Qur'an: Sebuah Tinjauan Pustaka. M. cet. hal.. [13] http//id. 40.files. Almaktabah Asy-Syamilah. [3] Drs. Ruh Al-Ma'aani Fi Tafsir Al-Qur'an Al'Adzim Wa As-Sab'u Al-Matsaani.Si. Al-Buraikan. hal. 136. 17. 18.. 2004. 1414 H. Maktabah Al-Ma'aarif. [11] QS. 5. 2004. Muhammad.. Ibrahim bin Muhammad al-Buraikan.or. 10. http//latifabdullah. Al-Maktabah AsySyaamilah. Al-Qathaan. 15. Al-Anfāl: 1. Ash-Shobuniy. Al-'aqlu Wa An-Naqlu 'Inda Ibni Rusydi.wordpress. II. Usul Al-Ahkam.Si. cit. 1414 H. [4] Manaa' Al-Qathaan. 'Amman: Dar Al-Furqan.Abdurrahim Said. Al-Jaamii. Beirut: Alam al-Kutub. Al-Muwaththa. Al-'aqlu Wa An-Naqlu 'Inda Ibni Rusydi. [2] Malik Bin Anas. Al-Madkhal li Diraasatil ‘Aqiidatil Islamiyyah ‘ala Madzhab Ahlis Sunnah wal Jama’ah. Taimiyah. 1992. Al-Alusi. Mabahits Fi Ululm Al-Qur'an. Himam. 2000.wikipedia/wiki/Al-Qur'an. Al-Qiyaamah: 17.com. At-Tibyan fi Ulum al-Qur’an. 3. hal. M. Ibnu. [8] Dr. Al-Manhaj. [15] Muhammad Amaan Bin Ali Al-Jaamii. 3. Al-Maktabah Asy-Syamilah. Tripoli: Dar Al-Fasifsa. Tafsir Al-Qur'an Al-Karim: Juz Amma. Tafsir al-Qur'an: Sebuah Tinjauan Pustaka. Makalah. 16 Oktober 2011. Mabahits Fi Ululm Al-Qur'an. 'Amman: Dar Al-Furqan. hal.wikipedia/wiki/Al-Qur'an. 2006. Anas. [9] Fatih Muhammad Az-Zaqlam. Rawaai' Al-Bayan Tafsir Ayat Al-Ahkam. op. Ash-Shobuniy. Dr. Mochammad. Makalah. 2000. op. Almaktabah Asy-Syamilah. Jawas. Al-Ahzāb: 36. Mahmud Bin Abdullah Al-Husaini. Ibrahim bin Muhammad. 5. Muassasah Zaaid bin Sulthan Aal nahyaan. Tripoli: Dar Al-Fasifsa. Ali. Mabahits Fi Ululm Al-Qur'an. Dalil ‘Aqli Yang Benar Akan Sesuai Dengan Dalil Naqli Yang Shahih (terj). 2006. hal. Muhammad. Maktabah Al-Ma'aarif. Al-'aqlu Wa An-Naqlu 'Inda Ibni Rusydi. Daarus Sunnah. hal.wikipedia/wiki. Az-Zaqlam. At-Tamhid Fi Usul Al-Hadist. http//nyimpanilmu. [10] QS. M. Abduh. Usul Al-Ahkam. [7] http//id. hal. [1] Muhammad Amaan Bin Ali Al-Jaamii.com/2011/01/dalil-naqli-dalil-aqli. [12] QS. Malik Bin. M. 1992. http//id. 1985. hal. [6] Manaa' Al-Qathaan. Al-Madkhal li Diraasatil ‘Aqiidatil Islamiyyah ‘ala Madzhab Ahlis Sunnah wal Jama’ah. Himam Abdurrahim Said. Ar-Riyadh: Dar Al-Kunuz AlAdabiyah. [14] Dr. At-Tamhid Fi Usul Al-Hadist. Daru Wa Mathabi' Al-Sya'b.

or. (Dikutip dari himpunan hadits Arba'in karya Imam An-Nawawi). 41. 40. hal. Rawaai' Al-Bayan Tafsir Ayat Al-Ahkam. Al-Madkhal li Diraasatil ‘Aqiidatil Islamiyyah ‘ala Madzhab Ahlis Sunnah wal Jama’ah. hal. [32] QS. Shahiih Sunan Abi Dawud (no. op. 3703). [36] Muhammad Abduh. Al-Manhaj..cit. Ibrahim bin Muhammad al-Buraikan. 22. op. [38] Ibnu Taimiyah.id. 291. 4403).com/2011/01/dalil-naqli-dalil-aqli. Shahiih Sunan Abi Dawud (III/832 no. Dar'u Ta'aarudh Al-'Aql Wa An-Naql. hal. [39] Muhammad Abduh. Ar-Riyadh: Dar Al-Kunuz AlAdabiyah..or. hal. Daru Wa Mathabi' AlSya'b. hal. Al-Israa': 15. Ibrahim bin Muhammad al-Buraikan. 209. op. cit. Al-Maktabah Asy-Syamilah. Al-Madkhal li Diraasatil ‘Aqiidatil Islamiyyah ‘ala Madzhab Ahlis Sunnah wal Jama’ah. hal. 6 Januari 2011. [30] HR. 52-53. 45. Dalil ‘Aqli Yang Benar Akan Sesuai Dengan Dalil Naqli Yang Shahih (terj). Aly Ash-Shobuniy. Al-Islam Wa An-Nashraniah. cit. Juz Amma. Al-Buruuj: 16. 1985. Ruh Al-Ma'aani Fi Tafsir Al-Qur'an Al'Adzim Wa As-Sab'u Al-Matsaani. Tafsir Al-Qur'an Al-Karim. Ibrahim bin Muhammad al-Buraikan. 41. 1391 H. [42] QS. [41] QS. jil. Al-Maktabah AsySyaamilah. 6. [40] Dr. cit. [35] Mahmud Bin Abdullah Al-Husaini Al-Alusi.. Ibrahim bin Muhammad al-Buraikan.files. [31] Muhammad Ali Shabuni. Al-Israa’: 70. hal. [18] QS. op. 49. Al-Mulk: 10. Al-Mu'minuun: 5.. hal. [22] HR. [19] Dr. op. At-Tibyan fi Ulum al-Qur’an. cit. 4403). Beirut: Alam al-Kutub. 40. [28] http//latifabdullah. [34] QS. 49. [27] M. Al-Baqarah: 4. cit. [24] QS. Ibrahim bin Muhammad al-Buraikan. Abu Dawud (no. Al-Manhaj.[16] HR. Al-Furqaan: 25. h.blogspot. Shaad: 43. Abu Dawud (no..wordpress. Al-Haaqqah: 16.id. I. [17] Yazid bin Abdul Qadir Jawas. ji. [37] http//nyimpanilmu. hal. [25] Dr. op. . hal. [29] QS. [23] Dr. [33] QS. [26] Yazid bin Abdul Qadir Jawas. [20] QS.com. [21] Dr. 3703) dan Irwaa-ul Ghaliil (II/5-6). 67. Muslim..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful