A.

PENDAHULUAN Di dalam mengkaji kebenaran suatu perkara dan kesahihannya, atau di dalam menentukan bahwa sesuatu itu benar, dapat dipercayai dan diyakini, atau ketika kita ingin menetapkan dasar pijakan suatu perkara yang kita ucapkan dan kerjakan, kita memerlukan adanya bukti-bukti, tanda-tanda atau petunjuk-petunjuk yang sah dan akurat, sehingga kebenaran, kesahihan dan keyakinan itu dapat ditunjukan dan dibuktikan, dan sekaligus kita dapat memberantas keragu-raguan dan rasa was-was yang mungkin tertanam di dalam hati kita, juga dapat dijadikan pijakan yang kokoh di dalam mengerjakan suatu perkara tersebut. Di dalam hal ini, para ulama Islam telah menentukan dua landasan pokok yang harus di pegang oleh setiap Muslim di dalam hal-hal tersebut diatas, yaitu Naqli dan 'aqli. Dimana kedua landasan tersebut merupakan pijakan yang dipakai oleh mereka, khususnya, ketika mengungkap dan membuktikan kebenaran-kebenaran dan memantapkan keteguhan dalam berkeyakinan yang ada di dalam ruang lingkup disiplin ilmu Tauhid atau akidah, dan ketika mengistinbath (mengambil dalil-dalil) dan menetapkan hukum-hukum perkara-perkara yang ada di dalam ruang lingkup disiplin ilmu fikih, serta ketika menafsirkan al-Qur'an. Untuk itu, pemakalah akan mencoba membahas kedua landasan pokok tersebut agar kita selaku umat islam dapat mengetahui dan memahami naqli dan 'aqli, serta dapat mempergunakannya di dalam keber-agama-an kita sehari-hari, baik yang ada kaitannya dengan keimanan maupun amal perbuatan.

B.

PEMBAHASAN

1. Definisi, maksud dan keutamaan naqli dan 'aqli di dalam syari'at Islam a. Naqli Naqli menurut bahasa adalah dari (‫ )َقم انشًء‬yakni mengambil sesuatu dari satu tempat ke tempat lain, dan (‫ )ََقَهَت انحدٌث‬yakni mereka yang menuliskan hadist-hadist dan menyalinkannya dan menyandarkannya kepada sumber-sumbernya. Dikatakan pada dalil-dalil dari Al-qur'an dan hadist: dalil naqli. Oleh karena itu naqli secara istilah identik dengan dalil-dalil yang di nukil atau di ambil dari Kitab Allah yang Maha Mulya dan dari sunnah yang suci atau dalil-dalil yang diriwayatkan kepada kita oleh naqalah al-hadist dan perawi-perawi[1]. Diantara landasan utama ditetapkannya al-Qur'an dan sunnah sebagai dalil naqli oleh para ulama adalah sebuah hadist Rasulullah saw: [2]ٍّ‫تسكت فٍكى أيسٌٍ نٍ تضهٕا يب تًسكتى بًٓب: كتبة هللا ٔسُت َب‬ Artinya: "Telah aku tinggalkan dua perkara, yang apabila kalian berpegang kepada keduanya maka kalian tidak akan tersesat: Kitab Allah (al-Qur'an) dan Sunnah Nabi-Nya". Namun ketika naqli dihubungkan dengan ilmu tafsir maka disebut tafsir bi al-manqul atau bi al-ma'tsur, yaitu penafsiran al-Qur'an yang disandarkan kepada riwayat-riwayat yang sahih secara tertib, atau dengan cara menafsirkan al-Qur'an dengan al-Qur'an atau menafsirkannya dengan as-Sunnah atau menafsirkannya dengan riwayat-riwayat yang di terima dari para sahabat atau para tabi'in[3], seperti penafsirannya At-Thabari dan Ibnu Katsir. Al-qur'an (ٌ‫ )انقسآ‬adalah kitab suci umat Islam yang secara bahasa merupakan masdar (kata benda) dari kata kerja (‫ ,)قسآَب – قساءة - قسأ‬yang berwazan [4]ٌ‫ .فُؼْال‬Allah swt berfirman: ْ [5]ََُّ‫إٌ ػهٍََُب جًؼُّ ٔقَسُآََُّ. فَئِذا قَس ْأََبِ ُ فَبتَّبِغ قُسْ آ‬ َ َ َ ْ َ ْ َ َّ

memahami. 3. diriwayatkan secara mutawatir dan membaca setiap hurufnya adalah ibadah. Hal ini sebagaimana yang ditegaskan di dalam firman-Nya seperti:“Dan taatilah Allah dan RasulNya. maka tinggalkanlah”[12]. puasa dan haji. juga bermakna (‫ :)انطسٌقت‬jalan. diantaranya: 1. Dengan penegasan al Quran di atas. 2. Dan firman-Nya:“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah. dan menjalankan ajaran (syariat) Islam juga dalam mengambil dalil-dalil mengenai perkaraperkara atau permasalahan-permasalahan yang ada kaitannya dengan keimanan dan amal ibadah mereka. apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan. dan disebutkan juga ketaatan terhadap Rasulullah saw setelah ketaataan kepada Allah swt. Adapun secara istilah adalah kalam Allah. 2. Adapun secara istilah sunnah memiliki beberapa definisi. Penghurai dan pentafsir ayat-ayat al-Quran yang umum seperti memperjelaskan mengenai tata cara perlaksanaan shalat. Oleh karena itu al-Quran merupakan Kitab Suci umat Islam yang keotentikannya tidak diragukan lagi. jelaslah bahawa sunnah tidak dapat dipisahkan penggunaannya di dalam segala hal yang berkaitan dengan Islam. dan apa yang dilarangnya bagimu. Sunnah menurut muhadditsun (ahli hadits) adalah apa yang disandarkan kepada Rasulullah saw dari segi perkataan atau perbuatan atau pengakuan atau sifat akhlak (peribadi) dari permulaan diutusnya sampai wafatnya[8]. sehingga umat Islam menjadikanya sebagai sumber utama dalam mempelajari. baik dari segi asal-usulnya. Sunnah menurut ulama usul adalah perkataan-perkataan Rasulullah saw dan perbuatanperbuatannya serta pengakuan-pengakuannya yang diriwayatkan kepada kita dengan periwayatan yang sahih[9]. ayat-ayatnya. Juga firman-Nya:“Apa yang diberikan Rasul kepada kamu. Sehingga fungsi sunnah di dalam Islam. menunaikan zakat dan haji dan sebagainya yang mana perkara-perkara tersebut hanya disebutkan secara umum oleh al-Quran. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu". turunnya. maka ambillah ia. kaedah jual beli. dst. akan ada bagi mereka pilihan yang lain bagi urusan mereka”[11]. diturunkan kepada Nabi Muhammad saw melalui perantaraan Malaikat Jibril dalam bahasa Arab. dimana kedudukannya dalam Islam adalah sesuatu yang tidak dapat diragukan kerana terdapat penegasan yang banyak di dalam al Quran tentang sunnah tersebut. Di dalam al-Quran hanya . Sedangkan sunnah (‫ )انسُت‬secara bahasa bermakna (‫ :)انسٍسة انحسُت أٔ انقبٍحت‬jalan hidup yang baik atau jelek. Penguat dan penyokong hukum-hukum yang terdapat di dalam al-Quran seperti dalam perkara pensyariatan shalat. Atau secara lengkapnya adalah kalam Allah yang bermukjizat. bermula dari surah al-Fatihah dan berakhir dengan surah an-Naas[7]. riwayatnya.Artinya: "Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Sunnah Rasul saw adalah sumber rujukan umat Islam kedua setelah al-Qur'an. yang diturunkan kepada Muhammad saw. diantaranya: 1. yang membaca setiap hurufnya adalah ibadah[6]. jika kamu adalah orang-orang yang beriman”[10]. bahkan di dalam beberapa tempat sunnah disebutkan bersamaan dengan al Kitab ataupun al Quran. Menjadi keterangan tasyri’ yaitu menentukan sesuatu hukum yang tidak disebutkan di dalam al-Quran seperti dalam hal memakan haiwan yang ditangkap oleh hewan pemburu terlatih seperti anjing yang mana buruan tersebut terdapat kesan dimakan oleh hewan pemburu terlatih tadi dan kesan tersebut menunjukkan bahwa hewan pemburu tadi menangkap buruan untuk dirinya sendiri.

Secara istilah akal memiliki beberapa definisi diantaranya: Cahaya nurani. Allah swt mencela orang yang tidak menggunakan akalnya. Diantaranya seperti kalimat: ٌٔ‫( نؼهكى تتفكس‬mudah-mudahan kamu berfikir). ‫أفال‬ ٌٕ‫(تؼقه‬apakah kamu tidak berakal) dan ٌ‫( أفال ٌتدبسٌٔ انقسآ‬apakah mereka tidak mentadabburi/merenungi isi kandungan al-Qur'an). Menasakhkan hukum yang terdapat di dalam al Quran. Akal merupakan bagian dari indera dan insting yang ada dalam diri manusia yang memiliki sifat berubah-rubah. 3. 3. anak kecil sampai bermimpi. syari’at Islam telah memberikan nilai dan urgensi yang amat tinggi terhadap akal manusia. Allah swt berfirman: "Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni Neraka yang menyala-nyala"[24]. Rasulullah saw bersabda: "Pena (catatan pahala dan dosa) diangkat (dibebaskan) dari tiga golongan. 1.dan termasuk orang gila sampai ia kembali berakal"[16]. orang gila sampai ia kembali sadar (berakal)"[22]. 5. . Dan akal merupakan indera yang diciptakan oleh oleh Allah swt dengan kelebihan diberikannya muatan tertentu berupa kesiapan dan kemampuan yang dapat melahirkan sejumlah aktivitas pemikiran yang berguna bagi kehidupan manusia yang telah dimuliakan Allah swt[17].dibenarkan memakan buruan yang ditangkap oleh hewan pemburu terlatih. tafakkur. Masyhûr ataupun Mustafhîdh. Syarat utama yang harus ada dalam diri manusia untuk dapat menerima taklif (beban kewajiban) dari Allah swt yang berkenaan dengan hukum-hukum syari’at Islam adalah akal. Banyak disebutkan di dalam al-Qur-an mengenai anjuran-anjuran Allah kepada manusia agar mempergunakan akalnya untuk berfikir. Aksioma-aksioma rasional dan pengetahuan-pengetahuan dasar yang ada pada setiap manusia. hadith menerangkan bahawa buruan yang mempunyai kesan dimakan oleh hewan pemburu adalah haram dimakan. 2. orang yang tidur sampai bangun. 4. Maka dalam hal ini. Kesiapan bawaan yang bersifat instinktif dan kemampuan yang matang. Oleh karena itu. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah saw dalam salah satu sabdanya: ". sebagaimana dalam firman-Nya: "Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam.. 4. Allah swt berfirman: "…dan merupakan peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal"[20]. 2. Menerangkan mengenai ayat yang telah dinasakh dan ayat mana yang telah dimansukhkan. Misalnya celaan Allah terhadap ahli Neraka yang tidak menggunakan akalnya[23].. di antaranya: (‫ :)اندٌت‬denda. 1. yang dengannya jiwa bisa mengetahui perkara-perkara yang penting dan fitrah[15]. Kami angkat mereka di daratan dan di lautan"[18]. Oleh karena itu ketika ia kehilangan akalnya dikarenakan gila misalnya. dan lainnya[25]. (‫ :)انحكًت‬kebijakan.[13] b. 'Aqli Kata 'aqli secara bahasa berasal dari kata bahasa Arab (‫ :)ػقم‬akal yang mempunyai beberapa makna. ta-aqqul dan lainnya. dan (‫ :)حسٍ انتصسف‬tindakan yang baik atau tepat[14]. yakni bisa ada dan bisa hilang. sebagian ulama berpandangan bahawa hadith yang dapat menasakhkan hukum al Quran itu mestilah sekurangkurangnya bertaraf Mutawatîr. maka ia tidak tidak menerima taklif itu[21]. sebagaimana dapat dilihat pada beberapa point berikut ini: Allah mengkhususkan penyampain kalam-Nya hanya kepada orang yang berakal. seperti: tadabbur. karena hanya mereka yang dapat memahami agama dan syariat-Nya[19].

Tafsir Ar-Razi. kitab-kitab-Nya.5. yaitu penafsiran al-Qur'an yang lebih dititikberatkan kepada kemampuan akal fikiran yang sehat dan obyektif (ijtihad) daripada disandarkan kepada periwayatan-periwayatan. ilmu qiraah. maka disebut tafsir bi al-ma'qul atau bi ar-ra'yi. a. Atas hal itulah Allah swt berkehendak memberikan bimbingan kepada manusia agar tetap menjadi makhluk paling mulia di sisi-Nya dengan memberikan pedoman berupa kitab suci lengkap dengan uswah hasanah (contoh tauladan) yang berupa seorang Nabi dan Rasul.2 Dalil 'Aqli: Allah swt 'Alimun (Maha Tahu) bahwa manusia adalah makhluk yang dha‟if (lemah). Lalu beliau bersabda: "Engkau beriman kepada Allah. ambisi atau kebencian dari emosi. yang ada kaitannya dengan larangan nikah mut'ah[31] a. Dan ketika 'Aqli dihubungkan secara khusus dengan disiplin ilmu tafsir. hadits dan ilmu hadits. Contoh penggunaan naqli dan 'aqli dalam bidang fikih. 2. ushul fikih dan ilmu-ilmu lain untuk menerangkan maksud ayat dan mengembangkannya dengan bantuan perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan yang ada. dll[27]. yang ada kaitannya dengan iman kepada kitab-kitab Allah swt[28] a. Hadits Nabi saw: )ِ‫فأخبسًَ ػٍ اإلًٌبٌ.1 Dalil Naqli: Al-Qur’an: ‫ٔانرٌٍ ُْى نِفُسُٔجٓى حبفِظٌَُٕ .1 Dalil Naqli: Al-Qur’an: ٌَُُِٕ‫ٔانَّرٌٍَ ٌُؤيٌَُُٕ بًِب أَُصل إِنٍَك ٔيب أَُصل يٍ قَبهِك ٔبِبَخسة ُْى ٌُٕق‬ ْ َِ ِ ْ َ َ ْ ْ ِ َ ِ ْ َ َ َ ْ َ ِ ْ َ ِ ْ ِ َ Artinya: "Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu. seperti taqlid buta yang hanya menerima pendapat orang lain tanpa dilandasi oleh dalil[26]. Tafsir Al-Baidhawi. Sedangkan Allah SWT adalah Tuhan yang Rahman (Maha Pengasih) dan Rahim (Maha Penyayang). قبل:(أٌ تؤيٍ ببهلل ٔيالئكتّ ٔكتبّ ٔزسهّ ٔانٍٕو اَخس ٔتؤيٍ ببنقدز خٍسِ ٔشس‬ Artinya: "Beritahukan aku tentang Iman. serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat"[29]. Dalam hal ini seorang mufassir akan menggunakan kemampuan akalnya (ijtihadnya) dengan bantuan ilmu-ilmu bahasa Arab. sehingga tersusunlah bentuk tafsir yang sesuai dengan masa dimana mufassir tersebut hidup. Contoh-contoh penggunaan naqli dan 'aqli a. Kata 'Aqli ketika dihubungkan dengan kajian ilmu-ilmu agama identik dengan dalildalil yang berdasarkan akal fikiran manusia yang sehat dan obyektif. tidak dipengaruhi oleh keinginan. Islam mencela hal-hal yang dapat membatasi dan melumpuhkan fungsi dan kerja akal. Contoh penggunaan naqli dan 'aqli dalam bidang tauhid. malaikat-malaikat-Nya. Beberapa tafsir yang terkenal dalam bentuk ini antara lain: Tafsir Al-Jalalain. rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk"[30]. إِالَّ ػهى أَشٔاجٓى أَْٔ يب يهَكت أًٌَبَُُٓى‬ ْ َْ ْ َ َ َ ِْ ِ َ ْ َ ِْ ِ ْ . ilmuilmu Al-Qur'an. b.

. (tetapi mulai sekarang) tidaklah begitu sesungguhnya Allah swt mengharamkannya sampai hari kiamat".Artinya: "Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. a. maka ia bersabda: "Wahai manusia sesungguhnya dulu aku telah mengizinkan kalian bermut'ah. dan Ibnu Hatim telah meriwayatkan dari Ali karramallahu wajhah bahwasanya langit terlepas dari galaksi."[35]. Sehingga munculah di langit awan dan kabut yang . c. sebagaiman firman Allah: (‫" :)ٔاَشقت انسًبء فًٓ ٌٕيئر ٔاٍْت‬Dan terbelahlah langit. yaitu berbunyi: ‫إِذا انسًبء اَشقَّت‬ (Apabila langit terbelah) a. maka tata surya mengalami goncangan yang kuat.. maka mut'ah itu mirip dengan zina dari segi maksud untuk memenuhi syahwat saja dan mengeluarkan air mani. maka al-Qur'an sebagiannya menafsirkan sebagian yang lain. kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki"[32]. karena pada hari itu langit menjadi lemah"[34]. sebagaimana ia sebutkan di dalam tafsirnya. memelihara anak-anak yang semua itu merupakan maksud dari pernikahan. Hadits Nabi saw: ‫يب زٔاِ ابٍ يبجت أٌ زسٕل هللا صهى هللا ػهٍّ ٔسهى حسّ و انًتؼت فقبل : «ٌب أٌٓب انُبض إًَ كُت أذَت نكى فً االستًتبع، أال‬ »‫ٔإٌ هللا قد حسيٓب إنى ٌٕو انقٍبيت‬ Artinya: "Diriwayatkan oleh Ibnu Majah bahwasanya Rasulullah saw telah mengharamkan mut'ah.2 Tafsir bi al-ma'qul (bi ar-ra'yi): Muhammad Abduh menafsirkan ayat ini dengan argumen akal yang didasarkan pada pengetahuan dan penelitian ilmiah. Maka ia memandang bahwa insyiqaaq as-samaa maknanya bisa berupa satu kejadian besar dari sekian kejadian-kejadian yang berhubungan dengan tata surya. dan didalam atsar (riwayat sahabat) disebutkan bahwa hal itu (langit terbelah itu) menunjukan terbukanya pintu langit. yang diikuti oleh Al-Farra da Az-Zujaj di dalam "Alُ Bahr" dan ia menguatkannya dengan firman Allah: (‫" :)ٌٕٔو تشقّق انسًبء ببنغًبو‬Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut putih"[33]. a. yang ada kaitannya dengan ْ َ ْ ُ َ َّ َ penafsiran ayat pertama dari surat Al-Insyiqaaq (terbelah). Karena benturan tersebut. tidak pula dimaksudkan untuk beranak cucu.. seperti yang di riwayatkan Ibnu Abas. yaitu: "(‫" :)إذا انسًبء اَشقت‬Apabila langit terbelah" yakni (‫ :)ببنغًبو‬berawan (berkabut putih). seperti kejadian lewatnya sebuah bintang dekat dengan bintang lainnya yang menimbulkan gaya tarik menarik dan menyebabkan terjadinya benturan antara keduanya. Contoh penggunaan naqli dan 'aqli dalam bidang tafsir.2 Dalil 'Aqli: Sesungguhnya nikah mut'ah itu tidak dimaksudkan untul apa-apa kecuali hanya untuk memenuhi syahwat. ‫يب زٔاِ يبنك ػٍ انصْسي بسُدِ ػٍ ػهً كسو هللا ٔجّٓ أٌ زسٕل هللا صهى هللا ػهٍّ ٔسهى َٓى ػٍ يتؼت انُسبء‬ Artinya: "Diriwayatkan oleh Malik dari Az-Zahri dengan sanadnya dari Ali karramallahu wajhah bahwasanya Rasulullah saw telah melarang menikahi wanita secara mut'ah".1 Tafsir bi al-manqul (bi al-ma'tsur): Al-Alusi menafsirkan ayat ini dengan ayat lain dan dengan menyandarkan kepada pwriwayatan-periwayatan. dan dikatakan bahwa langit itu terbelah karena kedahsyatan hari kiamat.

Dalam hal ini apabila kedua dalil qath'i saling bertentangan dan salah satunya menentang madlul yang lainnya. dan ilmu-ilmu syara' itu adalah obat"[37]. Maka menurutnya jauhilah model seperti ini dan hendaklah mempergunakan atau menggabungkan kedua dasar pokok ini (naqli dan 'aqli). karena sesungguhnya "ilmu logika dan filsafat itu seperti makanan. sedangkan kelompok Mu’tazilah yang dipelopori oleh Wasil bin Atha’ sangat mengutamakan dalil 'aqli dari pada dalil naqli. sebelum munculnya faham Asy’ari sangat kontradiktif. baik dalil itu naqli ataupun 'aqli[38]. Oleh karena itu ia memandang bahwa bertaqlid atau menerima kepada pendapat orang tanpa mempergunakan akal sama sekali adalah suatu kebodohan. Apabila kedua-duanya itu qath'i. karena yang dzanni tidak sampai kepada tahapan yakin. salah seorang ulama yang termasuk pembaharu agama dan sosial di Mesir pada zaman modern. Kemudian setelah imam Asy'ari muncul. maka tidak boleh ada pertentangan. maka hal ini harus di bawa ke ranah tarjih. karena dalil qath'i adalah dalil atau petunjuk yang mengharuskan adanya ketetapan pada madlulnya (yang ditunjukannya). sangat mengutamakan dalil naqli dan meremehkan dalil 'aqli. dan dalalahnya (tanda penunjuknya) tidak mungkin bathil. begitu juga mencukupkan akal saja tanpa memerlukan sinar wahyu Ilahi dan sunnah nabi adalah suatu tipuan belaka. Dalam hal ini Imam al-Ghazali menegaskan bahwa akal memerlukan dalil naqli dan dalil naqli memerlukan akal. mana dari keduanya yang paling rajih maka didahulukan. atau kedua-duanya dzanni (relatif atau dugaan). maka yang harus dikatakan (ditetapkan) adalah bahwa hal tersebut tidak terlepas dari tiga pilihan. baik keduaduanya itu 'aqli atau kedua-duanya naqli atau salah satunya 'aqli dan yang lainnya naqli. Abduh memilih yang benar menurut 'Aqli. Adapun apabila kedua-duanya dzanni. Namun ketika didapat ada pertentangan antara keduanya. atau mena’wilkan wahyu dengan memperhatikan kaedah-kaedah bahasa sehingga ada persesuian antara maknanya dengan apa yang telah ditetapkan oleh akal[39]. yaitu: kedua-duanya qath'i (pasti atau absolut). 3. atau salah satunya qath'i dan yang lainnya dzanni. Dimana kelompok salaf dan qaramatiyah. begitu juga kelompok Al-Maturidiyah memandang bahwa akal dapat mengetahui baik buruknya perkara dan bahwa mengetahui Allah itu dengan akal atau dengan kata lain bahwa akal itu merupakan alat untuk mengetahui Allah. maka kedua-duanya mesti bersatu. Secara ringkas pandangan jumhur ulama tentang pertentangan antara naqli dan 'aqli dalam bidang tauhid adalah sebagai berikut[40]: . baik kedua-duanya itu naqli atau kedua-duanya 'aqli atau salah satunya naqli dan yang lainnya 'aqli. Maka langitpun terbelah oleh awan dan kabut tersebut. maka kita akan menemukan bahwa penggunaan dalil naqli dan dalil 'aqli. Sedangkan Muhammad Abduh. Dan apabila salah satu dari kedua dalil yang saling bertentangan itu qath'i tanpa yang lainnya. kedua dalil itu di kumpulkan olehnya dengan secara paralel atau saling menguatkan. bahwa antara naqli dan 'aqli tidak mungkin bertentangan. disatu sisi berpandangan seperti pandangannya Ibnu Taimiyah. Ibnu Taimiyah melihat bahwa apabila dikatakan bahwa dua dalil saling bertentangan. maka yang qath'i haruslah di dahulukan. sebagaimana kesepakatan para ulama. baik dalil itu naqli ataupun 'aqli. dan ini tidaklah mungkin. Ini merupakan kesepakatan para ulama. Hal ini kemudian mengakibatkan rusaknya peredaran tata surya[36]. Masalah pertentangan antara naqli dan 'aqli dalam bidang tauhid Ketika kita menelusuri sejarah ilmu kalam atau ilmu Tauhid.datang dari berbagai arah. sehingga tampak dihadapannya dua jalan: tunduk kepada kebenaran wahyu dengan mengakui ketidakmampuan dalam memahaminya dan menyerahkan perkara tersebut kepada Allah swt. bahkan setiap dalil yang diyakini bertentangan dengan dalil yang diyakini qath'i maka kedua dalil tersebut atau salah satunya haruslah bukan qath'i atau kedua madlulnya saling bertentangan.

DAFTAR PUSTAKA . ambisi atau kebencian dari emosi. Jumhur ulama memandang bahwa antara naqli dan 'aqli tidak bertentangan. tidak bersifat detail. 7. tidak dipengaruhi oleh keinginan. dan jumhur memilih naqli. karena Allah swt mengatakan tentang diri-Nya: "Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendakiNya"[42]. Tidak ada kewajiban tertentu terhadap Allah swt yang ditentukan oleh akal kita kepada-Nya. C. Allah swt berfirman: "Kami tidak akan meng„adzab sehingga Kami mengutus seorang Rasul"[41]. PENUTUP Naqli dan 'Aqli merupakan dua landasan pokok yang harus di pegang oleh setiap Muslim di ketika mengungkap dan membuktikan kebenaran-kebenaran dan memantapkan keteguhan dalam berkeyakinan yang ada di dalam ruang lingkup disiplin ilmu Tauhid atau akidah. Akal mempunyai kemampuan mengenal dan memahami yang bersifat global. atau ketika mengistinbath (mengambil dalil-dalil) dan menetapkan hukum-hukum perkara-perkara yang ada di dalam ruang lingkup disiplin ilmu fikih. keyakinan dan kepercayaan yang kuat. sehingga muncullah istilah tafsir bi al-manqul atau bi al-ma'tsur. atau ketika menafsirkan al-Qur'an. seperti dalam bidang fikih dan tafsir. Keidentikan ini selaras dengan kebutuhan ilmu Tauhid terhadap dalil-dalil yang bisa memberantas dan mengikis segala keragu-raguan atau kepercayaan yang lemah. Apa yang salah dari pemikiran akal adalah apa yang bertentangan dengan naqli. Naqli secara istilah identik dengan dalil-dalil yang di nukil atau di ambil dari Kitab Allah yang Maha Mulya dan dari sunnah yang suci atau dalil-dalil yang diriwayatkan kepada kita oleh naqalah al-hadist dan perawi-perawi.1. 3. dimana seorang fakih ketika ingin menetapkan hukum suatu perkara ia membutuhkan naqli. justru setiap kajian-kajian ilmu agama Islam tidak terlepas dari naqli. tidak mudah goyah atau mendangkal. Janji Surga dan ancaman Neraka sepenuhnya ditentukan oleh naqli. tetapi saling menguatkan. haram dan seterusnya) adalah hak prerogatif syari'at (naqli). sehingga muncul keteguhan. 4. Penentuan hukum-hukum tafshiliyah (terinci seperti wajib. Sedangkan 'aqli identik dengan dalil-dalil yang berdasarkan akal fikiran manusia yang sehat dan obyektif. maka para ulama berbeda pendapat antara mendahulukan naqli atau 'aqli. Balasan atas pahala dan dosa ditentukan oleh naqli. 8. 2. walaupun secara umum ia dapat mengenal dan memahami yang baik dan buruk. Akal tidak dapat menentukan hukum tertentu atas sesuatu sebelum datangnya wahyu. 9. Dan akal merupakan bagian dari indera dan insting yang ada dalam diri manusia diciptakan oleh oleh Allah swt dengan kelebihan diberikannya muatan tertentu berupa kesiapan dan kemampuan yang dapat melahirkan sejumlah aktivitas pemikiran yang berguna bagi kehidupan manusia yang telah dimuliakan Allah swt. Naqli didahulukan atas 'aqli. Namun keidentikan ini tidak menutup bidang ilmu lain untuk berpegang kepada naqli. begitu juga mufassir ketika ingin menafsirkan ayat-ayat al-Qur'an ia memerlukan bantuan naqli. karena naqli itu ma’shum sedang 'aqli tidak ma’shum. 6. Namun ketika diyakini antara keduanya ada pertentangan. 5. Apa yang benar dari hukum-hukum akal pasti tidak bertentangan dengan naqli.

[6] Manaa' Al-Qathaan. Muhammad Amaan Bin Ali. Abduh. Himam Abdurrahim Said. Al-Qiyaamah: 17. Usul Al-Ahkam. [3] Drs. Al-Alusi. Tafsir Al-Qur'an Al-Karim: Juz Amma. 17. Muhammad.. Muassasah Zaaid bin Sulthan Aal nahyaan.files. [13] http//id. Al-'aqlu Wa An-Naqlu 'Inda Ibni Rusydi.id. 2004.Abdurrahim Said. Asrukin. Al-Madkhal li Diraasatil ‘Aqiidatil Islamiyyah ‘ala Madzhab Ahlis Sunnah wal Jama’ah.wordpress. Almaktabah Asy-Syamilah. Mabahits Fi Ululm Al-Qur'an. [7] http//id. hal. Al-Ahzāb: 36. [8] Dr. jil. Daru Wa Mathabi' Al-Sya'b. hal. Tafsir al-Qur'an: Sebuah Tinjauan Pustaka. Jawas. Makalah. http//id.wikipedia/wiki/Al-Qur'an. [11] QS. M.. 1323. 3. Fatih Muhammad. [12] QS.. M. hal. 1992. Al-Muwaththa. Yazid bin Abdul Qadir. Ash-Shobuniy. [15] Muhammad Amaan Bin Ali Al-Jaamii. 1414 H. Az-Zaqlam. Usul Al-Ahkam. Beirut: Alam al-Kutub. [14] Dr. Al-Hasyr: 7. 3. hal. hal. 1391 H. Mahmud Bin Abdullah Al-Husaini. Ibnu. Ibrahim bin Muhammad al-Buraikan. hal. Al-Islam Wa An-Nashraniah. . M. 5. 2000. Daarus Sunnah. Malik Bin. 1414 H. Anas. 17 September 2011. Mochammad. M. 136. Ruh Al-Ma'aani Fi Tafsir Al-Qur'an Al'Adzim Wa As-Sab'u Al-Matsaani. Al-Buraikan. 'Amman: Dar Al-Furqan. Al-Jaamii.com/2011/01/dalil-naqli-dalil-aqli.com. II. Al-Manhaj.Si. op.wikipedia/wiki. Al-Maktabah AsySyaamilah. Makalah. cit. Muhammad. 16 Oktober 2011. 2006. http//latifabdullah. Tafsir al-Qur'an: Sebuah Tinjauan Pustaka. Abduh. Almaktabah Asy-Syamilah. Dar'u Ta'aarudh Al-'Aql Wa An-Naql. 18. Himam. Drs. Al-Anfāl: 1. Ali. Al-'aqlu Wa An-Naqlu 'Inda Ibni Rusydi. At-Tamhid Fi Usul Al-Hadist. Mochammad Asrukin. Maktabah Al-Ma'aarif. 2000. Ash-Shobuniy. http//nyimpanilmu. Taimiyah. Maktabah Al-Ma'aarif. [9] Fatih Muhammad Az-Zaqlam. 2006. At-Tibyan fi Ulum al-Qur’an. Muassasah Zaaid bin Sulthan Aal nahyaan. Dr. [2] Malik Bin Anas. Mabahits Fi Ululm Al-Qur'an. Ali. 1992. cet 3. Dr. [1] Muhammad Amaan Bin Ali Al-Jaamii. Mabahits Fi Ululm Al-Qur'an.Si. Al-Muwaththa. [4] Manaa' Al-Qathaan. At-Tamhid Fi Usul Al-Hadist. 2004. cit. 40. cet. Al-'aqlu Wa An-Naqlu 'Inda Ibni Rusydi. 'Amman: Dar Al-Furqan. Dalil ‘Aqli Yang Benar Akan Sesuai Dengan Dalil Naqli Yang Shahih (terj). hal. Manaa'. 15.wikipedia/wiki/Al-Qur'an. hal. Ibrahim bin Muhammad.. Tripoli: Dar Al-Fasifsa. Rawaai' Al-Bayan Tafsir Ayat Al-Ahkam.blogspot. op. 10. Al-Madkhal li Diraasatil ‘Aqiidatil Islamiyyah ‘ala Madzhab Ahlis Sunnah wal Jama’ah. Al-Qathaan. Al-Maktabah Asy-Syamilah. [5] QS. [10] QS. hal. 5. 1985. Ar-Riyadh: Dar Al-Kunuz AlAdabiyah. Tripoli: Dar Al-Fasifsa. Daarus Sunnah.or.

45. Al-Furqaan: 25. 49. cit. 67. [36] Muhammad Abduh. [38] Ibnu Taimiyah. cit. jil. Ar-Riyadh: Dar Al-Kunuz AlAdabiyah.. [22] HR. op. 3703) dan Irwaa-ul Ghaliil (II/5-6). Ibrahim bin Muhammad al-Buraikan.[16] HR.cit. Abu Dawud (no. 40. [19] Dr. h. Al-Maktabah Asy-Syamilah. [28] http//latifabdullah. Daru Wa Mathabi' AlSya'b. Juz Amma. op. hal. 52-53. [31] Muhammad Ali Shabuni. Dalil ‘Aqli Yang Benar Akan Sesuai Dengan Dalil Naqli Yang Shahih (terj). Ibrahim bin Muhammad al-Buraikan. Ibrahim bin Muhammad al-Buraikan.com/2011/01/dalil-naqli-dalil-aqli.wordpress. [23] Dr.blogspot. [30] HR. Al-Manhaj. [39] Muhammad Abduh.com. Al-Baqarah: 4.. 6.. Al-Haaqqah: 16. [41] QS. Tafsir Al-Qur'an Al-Karim. (Dikutip dari himpunan hadits Arba'in karya Imam An-Nawawi).id. 1985. op. ji. Ibrahim bin Muhammad al-Buraikan. Ibrahim bin Muhammad al-Buraikan.. Al-Madkhal li Diraasatil ‘Aqiidatil Islamiyyah ‘ala Madzhab Ahlis Sunnah wal Jama’ah. [34] QS. 3703). Abu Dawud (no.. hal. Ruh Al-Ma'aani Fi Tafsir Al-Qur'an Al'Adzim Wa As-Sab'u Al-Matsaani. hal. [24] QS. Al-Israa': 15. Al-Maktabah AsySyaamilah. Shahiih Sunan Abi Dawud (III/832 no. cit. Beirut: Alam al-Kutub. 41. 22. hal. [26] Yazid bin Abdul Qadir Jawas. 291. 1391 H. Shahiih Sunan Abi Dawud (no. op. hal. 4403). .or. [27] M. Al-Islam Wa An-Nashraniah. hal. [20] QS. cit. Al-Madkhal li Diraasatil ‘Aqiidatil Islamiyyah ‘ala Madzhab Ahlis Sunnah wal Jama’ah. Al-Mu'minuun: 5. [40] Dr. hal. [25] Dr.files. hal. hal. 209. Al-Mulk: 10. Al-Manhaj. 4403). 49.or. [17] Yazid bin Abdul Qadir Jawas. cit. Al-Israa’: 70. 41. Muslim. At-Tibyan fi Ulum al-Qur’an. Dar'u Ta'aarudh Al-'Aql Wa An-Naql. op. [21] Dr. op. [35] Mahmud Bin Abdullah Al-Husaini Al-Alusi. [32] QS. [37] http//nyimpanilmu. Al-Buruuj: 16. Aly Ash-Shobuniy.id. hal. Rawaai' Al-Bayan Tafsir Ayat Al-Ahkam. [18] QS. 6 Januari 2011. [42] QS. [29] QS. I. 40.. Shaad: 43. [33] QS.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful