Está en la página 1de 14

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Banyak penelitian tentang autisme selama puluhan tahun yang lalu.

Barulah pada tahun 1960 dimulai penelitian neurologis yang membuktikan bahwa autisme disebabkan oleh abnormalitas pada otak (Minshew, dalam Schopler dan Mesibov, 1992 Waterhouse, dalam Heubner dan Lane 2001: Firth 2003). Pada awal tahun 1970 penelitian tentang anak anak autis berhasil. Menentukan criteria diagnosis yang selanjutnya austiktik didefinisikan sebagai gangguan perkembangan dengan tiga cirri utama, yaitu gangguan pada interaksi social , gangguan pada komunikasi, dan keterbatasan minat serta kemampuan imajinasi Meskipun banyak penelitian tentang autisme dalam berbagai bidang sejumlah ahli yang melakukan penelitian mendalam terhadap autisme berkesimpulan bahwa autisme bukanlah fenomena yang sederhana Frith (2003) menyimpulkan bahwa usahanya untuk menjelaskan autisme secara sederhana justru mengarahkankannya pada fakta fakta yang lebih kompleks The enigma of autism will continue to resist explanation . Buten (2004) menemukan begitu beragamnya karakteristik anak autistik sehingga hanya satu kesamaan yang dilihatnya yaitu air of aloness. Sementara Zelan (2004) berpendapat bahwa individu autistik berbeda dengan sehingga perlu didekati dengan pendekatan humanistik yang memandang mereka sebagai individu yang utuh dan unik. Di Indonesia, autisme juga mendapat perhatian luas dari masyarakat maupun profesional karena jumlah anak autistik yang meningkat dengan cepat. Sampai saat ini belum ada data resmi mengenai jumlah anak autistik di Indonesia, namun lembaga sensus Amerika Serikat melaporkan bahwa pada tahun 2004 jumlah anak dengan ciri-ciri autistic atau GSA di Indonesia mencapai 475.000 orang (Kompas, 20 Juli 2005). Dengan semakin berkembangnya penelitian-penelitian tentang autisme maka akan semakin disadari bahwa gangguan autistik merupakan suatu spektrum yang luas.

Saat ini semakin banyak anak penderita autis di sekitar kita. Kejadian Autisme seolah olah menjadi wabah akhir akhir ini. Peningkatan jumlah anak penderita autisme menjadi suatu kekhawatiran bagi masyarakat. Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya berkembang dengan sempurna. Tetapi selalu saja terjadi keadaan dimana anak memperlihatkan gejala masalah perkembangan sejak usia dini. Banyak hal yang bisa dilakukan oleh orang tua individu autis. Selain memastikan diagnosanya terlebih dahulu, kemudian komunikasikan dengan dokter atau juga para ahli dan juga orang tua anak autis harus memiliki lebih banyak pengetahuan tentang terapi apa yang tepat dan sesuai untuk anak autis. Hal ini sangat penting untuk kesembuhan anak autis karena tenaga ahli yang di butuhkan masih kurang. Maka dari itu orang tua atau lingkungan sangat berperan aktif dalam penyembuhan autisme pada anak. Menurut para ahli peran orang tua atau lingkungan akan memperoleh hasil yang lebih maksimal.

1.2

Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan masalah

sebagai berikut apakah seberapa besar pengaruh lingkungan terhadap individu autisme

1.3

Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum Mengetahui hubungan peran kaluarga dengan kesembuhan individu autis 1.3.2 Tujuan Khusus . 1) Mengidentifikasi jumlah dan usia anak yang menderita autisme 2) Mengidentifikasi seberapa besar pengaruh lingkungan terhadap individu autisme

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1

Untuk bagi peneliti Memberikan informasi serta pengetahuan kepada masyarakat tentang kebenaran bahwa peran keluarga sangat berpengaruh terhadap kesembuhan pribadi autisme

1.4.2 Untuk bagi Orang tua Melalui penelitian ini diharapkan orang tua bisa mengetahui bahwa peran orang tua sangat penting bagi kesembuhan anak autis. 1.4.3 Untuk bagi peneliti lain Dapat menjadi pertimbangan untuk penelitian selanjutnya tentang Hubungan Peran keluarga terhadap kesembuhan anak autis

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Autisme 2.1.1 Konsep autisme 1. Pengertian Autisme Leo kanner , seorang dokter kesehatan jiwa anak , menulis makalah pada 1943. Ia menjabarkan dengan sangat rinci gejala gejala aneh yang ditemukannya pada 11 orang pasien kecilnya. Ia melihat banyak persamaan gejala pada anak- anak ini , namun yang sangat menonjol adalah anak anak ini sangat asik dengan dirinya sendiri dan menolak berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya. Oleh karena itu kanner menggunakan istilah autisme yang artinya hidup dalam dunianya sendiri. (Danuatmaja : 2003) 2. Penyebab Autis Gangguan pada susunan saraf Pada tahun 1964 , Bernard Rimland seorang psikologi berkebangsaan Amerika yang mempunyai anak autis menulis buku berjudul Infantile Autism . melihat demikian banyaknya persamaan gejala pada anak anak autis , Rimland mengemukakan kecurigaan pada kelainan susunan saraf pusat yang mungkin melandasi gejala autism. Awal tahun 1990, Margaret Bauman ( Department of Neorology, Harvard Medical School ) dan Eric Courchesne(Department of Neorosciences, School of Medicane, University of California, San Diego) menemukan kelainan neuro anatomi (anantomi susunan saraf pusat) pada beberapa tempat pada

otak para penyandang autism. Dengan melakukan pemeriksaan lewat metode Magnetic Resonance Imaging (MRI), Eric Courchesne menemukan pengecilan otak kecil pada banyak penyandang autism , terutama pada lobus VI-VII . lobus VI dan VII dari cerebellum banyak sel sel purkinje, yang memproduksi neurotransmitter serotonin. Dari otosi (pemeriksaaan organ langsung pada pembedahan mayat ) yang dilakukan Dr. Margareth Bauman ditemukan bahwa jumlah sel purkinje sangat kurang. Dampaknya tentu saja produksi serotonin berkurang sehingga penyaluran rangsang/informasi antar sel otak menjadi kacau. Margareth Bauman juga menemukan adanya kelainanstruktur pada pusat emosidalam otak yang bisa menerangkan mengapa emosi anak autis sering terganggu. Penemuan ini sangat membantu para dokter untuk menemukan obat yang lebih tepat. Obat obatan yang banyak dipakai adalah dari jenis psikotropika, obat yang bekerja pada susunan sarap pusat (SSP)dan mampu memperbaiki emosi, proses berfikir dan berperilaku seperti respiredon dan fluoxetin HCL Karen obat obat ini dapat menyeimbangkan neurotransmitter di otak. Hasilnya ternyata cukup menggembirakan Karen adengan mengkonsumsi obat obatan ini , pelaksanaan jenis terapi yang lain (misalnya terapi perilaku, wicara, dll.) menjadi lebih mudah dan anak anak mudah diajak bekerja sama. (Ariani : 2002) Factor genetic Ditemukan 20 gen yang berkaitan dengan autisme. Namun gejala autisme baru bisa muncul, jika terjadi kombinasi banyak gen. bisa saja autisme tidak muncul , meski anak membawa gen autisme. Jadi perlu factor pemicu lain. ( Danuatmaja : 2003) Keracunan logam berat Berdasarkan tes laboratorium yang dilakukan pada rambut dan darah ditemukan kandungan logam berat dan beracun pada

banyak anak autis. Diduga kemampuan sekresi logam berat dari tubuh terganggu secara genetic. Penelitian selanjutnya menemukan logam berat seperti arsenic (As), antimoni (Sb), cadmium (cd), Air Raksa (Hg), dan timbale (Pb) adalah racun otak yang sangat kuat. Tahun 2000 Sallie Bernard, ibu dari anak autistic, menunjukkan penelitiannya , gejala yang diperlihatkan anak anak autis sma dengan keracunan mercury. Dugaan ini diperkuat dengan membaiknya gejala autis setelah anak anak melakukan terapi kelasi (mercury dikeluarkan dari otak dan tubuh mereka). (Danuatmaja : 2003) Gangguan system pencernaan Ada hubungan antara gangguan pencernaan dengan dengan gejala autis. Tahun 1997, seorang pasien autis, Parker Beck, mengeluhkan gangguan pencernaan yang sangat buruk. Ternyata , ia kekurangan enzim secretin, Beck sembuh dan mengalmi kemajuan luar biasa. Kasus ini memicu penelitian penelitian yang mengarah pada gangguan metabolism pencernaan. ( Danuatmaja : 2003) Peradangan dinding Usus Bedasarkan pemeriksaan endoskopi atau peneropongan usus pada sejumlah anak autis yang memiliki pencernaan buruk ditemukan adanya peradangan usus pada sebagian besar anak. Dr. Andrew Wakefield ahli pencernaan (gastro entrolog) asal Inggris , menduga peradangan tersebut disebabkan oleh virus, mungkin virus campak. Itu sebabnya , banyak orang tua yang kemudian menolak imunisasi (measles, mumps, rubella) karena di duga menjadi biang keladi autis pada anak. (Danuatmaja : 2003) Dr. Timothy Buie, seorang ahli pencernaan anak dari Harvard / Massa chusets General Hospital , melakukan riset terhadap 400 anak autistic dengan metode yang sama dengan Wakefield. Dr. Buie menemukan bahwa banyak anak- anak mengalami peradangan di usus, persis seperti laporan Wakefield.

Penemuannya itu kemudian dilanjutkan dengan riset mengenai terapi ndietpada anak austik termasuk Gluten Free- Casein Free (GCFC) diet. Dr. Karoly Horvath dan kawan kawan dari University of Maryland juga melakukan riset yang sama dan mendapatkan hasil yang tidak berbeda dengan Wakefield dan Buie. (Ariani : 2002)

3. Deteksi Dini Autism Menurut Mardiyono (2010), deteksi dini pada anak dengan autim melalui beberapa tahapan, antara lain : 1. Deteksi Dini Sejak dalam Kandungan Sampai sejauh ini dengan kemajuan tehnologi kesehatan di dunia masih juga belum mampu mendeteksi resiko autism sejak dalam kandungan. Terdapat beberapa pemeriksaan biomolekular pada janin bayi untuk mendeteksi autism sejak dini, namun pemeriksaan ini masih dalam batas kebutuhan untuk penelitian. 2. Deteksi Dini Sejak Lahir hingga Usia 5 tahun Autisma agak sulit di diagnosis pada usia bayi, tetapi penting untuk mengetahui gejala dan tanda penyakit ini sejak dini karena penanganan yang lebih cepat akan memberikan hasil yang lebih baik. Ada beberapa gejala yang harus diwaspadai terlihat sejak bayi atau anak menurut usia : a. Usia 0-6 bulan Bayi tampak terlalu tenang ( jarang menangis) Terlalu sensitif, cepat terganggu/terusik Gerakan tangan dan kaki berlebihan terutama bila mandi Tidak babbling

b.

Tidak ditemukan senyum sosial diatas 10 minggu Tidak ada kontak mata diatas umur 3 bulan Perkembangan motor kasar/halus sering tampak normal Usia 6 12 Bulan

Kaku bila digendong Tidak mau bermain permainan sederhana (ciluk ba, da-da) Tidak mengeluarkan kata Tidak tertarik pada boneka Memperhatikan tangannya sendiri Terdapat keterlambatan dalam perkembangan motor kasar/halus Mungkin tidak dapat menerima makanan cair c. Usia 2 3 tahun Tidak tertarik untuk bersosialisasi dengan anak lain Melihat orang sebagai benda Kontak mata terbatas Tertarik pada benda tertentu Kaku bila digendong d. Usia 4 5 Tahun Sering didapatkan ekolalia (membeo) Mengeluarkan suara yang aneh (nada tinggi atau datar) Marah bila rutinitas yang seharusnya berubah Menyakiti diri sendiri (membenturkan kepala) Temperamen tantrum atau agresif

4. Peran orang tua bagi anak autis Orangtua, sebagai orang yang paling bertanggung jawab terhadap

perkembangan anak, perlu mempersiapkan diri untuk memberikan pelayanan yang optimal kepada anaknya. Orangtua juga harus memperkaya pengetahuannya mengenai autisme, terutama pengetahuan mengenai terapi yang tepat dan sesuai dengan anak. Hal ini sangat penting, karena fasilitas terapi di Indonesia masih sangat terbatas dan ahlinyapun masih langka. Selain itu, orangtua juga juga perlu menguasai terapi, karena orangtua selalu bersama anak, sedangkan pengajar atau terapis hanya sesaat dan saling bergantian. Banyak hal yang bisa dan harus dilakukan orangtua anak autis. Pertama, memastikan diagnosis, sekaligus mengetahui ada atau tidaknya gangguan lain pada anak untuk ikut di obati. Pilihlah dokter yang kompeten. Umumnya , adalah dokter yang menangani autisme, dokter saraf anak, dan dokter rehabilitasi medic. Idealnya , orang tua harus membina komunikasi dengan dokter. Hal ini dikarenakan kerjasama orang tua dengan dokter, keterbukaan orangtua tentang kondisi anak, dan kesediaan mengikuti aneka pengobatan atau treatment yang disarankan akan mempengaruhi kemajuan anaknya dan merupakan syarat mutlak. Komunikasi yang baik antara dokter dengan orang tua terlihat dari kemampuan orangtua memperoleh informasi mengenai kondisi anak. Jadi , pada saat berobat bukan hanya datang, anak diperiksa, diberi resep obat, lalu pulang. Jika itu yang terjadi maka waktu dan biaya yang dikeluarkan akan sia- sia Orang tua juga harus memperkaya pengetahuannya mengenai autisme, terutama pengetahuan mengenai terapi yang tepat dan sesuai dengan anak. Hal ini sangat penting karena fasilitas terapi di indonesia masih sangat terbatas dan tenaga ahlinya pun masih langka. Selain itu orang tua perlu mengetahui terapi Karena orang tua selalu bersama anak sedangkan pengajar hanya sesaat atau terkadang bergantian. Lingkungan rumah tangga juga dapat menjadi suatu lingkungan terapi yang ideal bagi anak autis (Danuatmaja : 2003)

5. Penanganan anak autis di lingkungan keluarga

10

Berdasarkan pengalaman beberapa ahli Autis di Jakarta (Bonny Danuatmojo, 2003) orangtua yang ikut melaksanakan terapi secara intensif terhadap anaknya, akan memperoleh hasil yang memuaskan, anak menunjukkan kemajuan sangat pesat. Sebelum terapi dimulai, perlu dinformasikan bahwa orangtua juga terlibat dan tidak ada program terapi yang dilakukan tanpa persetujuan orangtua. Minimal ada lima tahap dalam penanganan terhadap anak autisma, yaitu: a. Tahap diagnosis, b. Tahap observasi, c. Tahap penyusunan program, d. Tahap pelaksanaan program, dan e. Tahap evaluasi dan follow-up. Dari masing masing tahap tersebut, peran orangtua berbeda. Pada tahap diagnosis, peran orang tua yang utama adalah memberikan informasi yang paling akurat tentang perkembangan anak sejak konsepsi sampai anak diduga menderita autisma. Informasi tersebut berkaitan dengan jalur genogramnya, peristiwa peristiwa yang terjadi selama proses mengandung. Apakah selama janin berada di dalam kandung terjadi benturan, ibu jatuh, keracunan, atau kemungkinan ibu mengkonsumsi obat di luar pengawasan dokter, kondisi gizi dan nutrisi yang dikonsumsi ibu waktu hamil, gerak janin selama dalam kandungan, dan sebagainya. Informasi lain berkaitan dengan proses kelahiran serta peristiwaperstiwa lain berkait dengan masa pertumbuhan anak pada masa bayi sampai munculnya diagnosis oleh ahli tersebut. Ketetapan informasi yang diberikan oleh orang tua dalam proses diagnosis ini akan membantu dalam menegakkan diagnosis yang dibuat oleh ahli terkait. Pada tahap observasi, peran orangtua membantu memberikan informasi tentang perilaku keseharian yang menjadi objek observasi. Hal ini penting untuk menentukan base-line sebagai awal dari penyusunan program pelayanan anak autisma. Informasi yang diperlukan pada tahap ini adalah tentang kemampuan menolong diri sendiri (MDS), kemampuan psikomotor, kognitif, kontak mata, bahasa (baik reseptif maupun ekspresif), reaksi-reaksi anak bila diajak berbicara dan kemampuan bersosialisasi. Pengamatan yang akurat terhadap

11

perilaku yang muncul akan mempermudah dalam membuat base line sebagai titik awal dalam pelaksanaan terapi. Tahap penyusunan program keterlibatan orangtua justru sangat penting. Program pada anak autisma seyogyanya disusun bersama oleh guru, ahli terkait dan orangtua. Bagaimanapun juga orangtua adalah penanggung jawab penuh dalam pelaksanaan layanan pada anak autisma. Pada tahap ini orang tua dapat mengusulkan (1) program yang akan disusun dalam terapi, (2) tim terapis yang dibentuk, dan (3) jadwal kegiatan dan kunjungan. Tahap pelaksanaan keterlibatan orangtua tidak berarti berkurang. Pada tahap ini yang perlu diperhatikan oleh orang tua adalah konsep konsisten dan kesinambungan. Maksudnya, bahwa apa yang dilakukan oleh guru, orangtua seyogyanya juga melakukannya di rumah. Waktu anak dengan orangtua lebih panjang bila dibanding dengan waktu anak dengan tim terapisnya. Bila ini terjadi, maka proses layanan atau terapi menjadi semakin cepat, karena anak memperolah perlakuan yang relatif sama. Selain itu, orangtua perlu bertemu dan saling berbicara dengan sesama orangtua anak autis. Usahakan bergabung dalam parents support group (Ika Widayati, 2002). Dalam proses ini akan terjadi proses berbagi rasa, berbagi pengalaman, informasi, dan pengetahuan. Tahap akhir dari pelaksanaan terapi pada anak autisma adalah evaluasi dan follow-up. Pada tahap ini orangtua dapat terlibat dalam evaluasi hasil maupun proses. Pada evaluasi proses, orangtua dapat melaporkan perubahan perubahan yang terjadi selama proses terapi. Laporan ini akan digunakan oleh guru dalam memantapkan hasil yang dicapai oleh anak selama proses terapi. Hasil ini akan digunakan oleh tim terapi untuk memberikan layanan berikutnya. Peran orangtua lain yang tidak kalah pentingnya adalah dukungan fasilitas
dan dana dalam pelaksanaan terapi pada anak autism.

12

2.4 Kerangka Konsep


Autis

Kelainan pada otak

lingkungan

Pola asuh

Rendahnya imunitas

Mrnanggulangi gangguan autisme

terapi

Dengan memperbaiiki metabolism e

Peran keluarga

13

2.5 Hipotesa Hipotesa adalah dugaan atau jawaban sementara dari rumusan masalah atau pertanyaan penelitian (Nursalam ,2008) Ada dua jenis hipotesis, yaitu: 2.5.1 Hipotesis Kerja Adalah rumusan hipotesis yang bertujuan untuk membuat ramalan tentang peristiwa yang terjadi apabila suatu gejala muncul. 2.5.2 Hipotesis Nol Biasanya dibuat untuk menyatakan sesuatu kesamaan atau tidak adanya hubungan antara 2 variabel.

Ada Hubungan peran keluarga dalam kesembuhan individu autis di TK Permata kota Probolinggo

14

III PENUTUP Daftar pustaka Budhiman ,melly.,dkk.Langkah awal menanggulangi autisme.2002. Jakarta : majalah nirmala Danuatmaja, bobby.Terapi anak autis dirumah.2003.jakarta : puspa swara
http://puterakembara.org/rm/peran_ortu.htm diakses 22.09.2012 http://puterakembara.org/rm/adriana_sg_dst.pdf diakses 22.09.2012