P. 1
Fikih Puasa Praktis Seperti Rasulullah SAW

Fikih Puasa Praktis Seperti Rasulullah SAW

|Views: 18|Likes:
Publicado porreisdaulay
fikih puasa
fikih puasa

More info:

Published by: reisdaulay on Mar 03, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/31/2014

pdf

text

original

Sections

  • Kata Pengantar
  • BAB I - RAMADHAN, MENUJU KESATUAN UMMAT ISLAM
  • Persatuan dan Kesatuan Umat Islam dari Masa ke Masa
  • Wajib Mengembalikan Kesatuan Umat
  • Bersatu dalam Naungan Daulah Khilafah Islamiyyah
  • Dalil Al-Qur’an
  • Dalil As-Sunnah
  • Dalil Ijma’ Shahabat
  • Penerapan Kaidah Syar’iyah
  • Pendapat Para Ulama
  • Metode Mendirikan Khilafah
  • BAB II - RAMADHAN: MOMENTUM MENANGGULANGI
  • Mendorong Ukhuwah Islamiyyah
  • Membelanjakan Harta di Jalan Allah
  • Koreksi Kebijakan Pemerintah
  • BAB III - KHUTHBAH RASULULLAH SAW
  • BAB IV - PERSIAPAN MENYAMBUT BULAN RAMADHAN
  • Persiapan Nafsiyah (Kejiwaan)
  • Persiapan Fikriyah (Ilmu)
  • Persiapan Jasadiyah (Fisik)
  • Persiapan Materi
  • Persiapan Ramadhan Untuk Anak Kita
  • Mengenalkan Ramadhan Lewat Cerita
  • Membangun Suasana yang Kondusif
  • Persiapan Fisik
  • Mengajak Anak Untuk Bersahur Bersama
  • Nilai Plus Puasa Bagi Anak
  • BAB V - TARGHIB PUASA RAMADHAN
  • Pengampunan Dosa
  • Dikabulkannya Do’a dan Pembebasan Api Neraka
  • Orang yang Puasa Termasuk Shidiqin dan Syuhada
  • BAB VI - PENETEPAN AWAL AKHIR RAMADHAN DAN PERSATUAN
  • Islam dan Tradisi Diskusi
  • Melihat Perbedaan
  • Hisab dan Ru’yat
  • Kritik atas Mathla’
  • Bagaimana Bila Ru’yat Bertentangan dengan Hisab?
  • Pendapat yang Rajih
  • BAB VII - HUKUM SEPUTAR PUASA
  • Definisi Puasa
  • Rukun Puasa
  • b. Menahan Diri Dari Hal-Hal yang Membatalkan Puasa
  • Syarat Wajib Puasa
  • b. Baligh
  • c. Berakal
  • d. Suci dari haid dan nifas (bagi wanita)
  • f. Sanggup berpuasa
  • Syarat Sah Puasa
  • Puasa Ramadhan Bagi Wanita Hamil dan Menyusui104
  • Mendiskusikan Dalil-Dalilnya
  • Jawaban atas Beberapa Sanggahan
  • Ancaman Bagi Orang yang Meninggalkan Puasa
  • Cara Mengqadha’ Puasa
  • Waktu Mengqadha’ Puasa
  • Membayar Fidyah
  • Adab Berbuka Puasa
  • a. Menyegerakan Berbuka
  • b. Berbuka Sebelum Sholat Maghrib
  • c. Berbuka dengan Korma dan Air
  • d. Doa yang Diucapkan Ketika Berbuka
  • e. Memberi Makan Orang yang Puasa
  • Hikmah Makan Sahur
  • Keutamaan Makan Sahur
  • Mengakhirkan Sahur
  • Hukum Makan Sahur
  • Zakat Fithrah
  • Waktu Mengeluarkan Zakat Fithrah
  • Kriteria Miskin yang Berhak Mendapatkan Zakat
  • BAB VIII - MENGGAPAI TAQWA DENGAN PUASA
  • BAB IX - RAMADHAN: BULAN MENSUCIKAN DIRI
  • Kekeliruan Memahami Tazkiyatu an-Nafs
  • Makna Tazkiyatu an-Nafs
  • Pangkal Kekeliruan dan Pelurusannya
  • Pengaruh Filsafat
  • Pengaruh Ide Sekularisme
  • Metode Shahih Tazkiyatu an-Nafs
  • Berdasarkan pada Aqliyah Islamiyyah
  • Taubah yang Hakiki dan Ketakwaan yang Total
  • Kehidupan Ramadhan dan Pasca Ramadhan di Masa Rassulullah Saw dan Para
  • BAB X - AL-QUR’AN SEBAGAI PETUNJUK DAN SUMBER HUKUM
  • Al-Qur’an Sebagai Manhajul Hayah (Metode Hidup)
  • Al-Qur’an, Amanah yang Wajib Dipikul
  • BAB XI - JIHAD DI BULAN RAMADHAN
  • Dakwah dan Perang Pemikiran
  • Perang-Perang di Bulan Ramadhan
  • Peristiwa Masjid ad-Dhirar
  • Peperangan Badar
  • Peperangan Wadi al-Qura
  • Pembukaan Kota Makkah dan Pemusnahan Patung Berhala
  • Penaklukan Sepanyol
  • Kemenangan Melawan Tentara Salib
  • Kemenangan Atas Tentara Mongol
  • Umat Islam Saat Ini
  • BAB XII - TUNTUNAN PRAKTIS AMALAN HARIAN DI BULAN
  • BAB XIII - TADARRUS AL-QUR’AN
  • BAB XIV - URGENSI TSAQÂFAH ISLAMIYYAH
  • Ruang Lingkup Ilmu-Ilmu Islam
  • Strategi Tafaqquh Fiddin
  • BAB XV - SHOLAT TARWIH
  • Anjuran Melaksanakan Qiyam dan Tarwih di Bulan Ramadhan
  • Sholat Tarwih Secara Berjamaah
  • Wanita Melaksanakan Tarwih
  • Jumlah Rakaat Tarwih
  • Cara Melaksanakan Sholat Tarwih
  • BAB XVI - I’TIKAF
  • Definisi I’tikaf
  • Disyari’atkannya I’tikaf
  • Syarat-Syarat I’tikaf
  • Perkara-Perkara yang Boleh Dilakukan
  • I’tikafnya Wanita dan Kunjungannya ke Masjid
  • BAB XVII - LAILATUL QADAR
  • Keistimewaan Lailatul Qadar
  • Waktu Datangnya Lailatul Qadar
  • Tanda-Tanda Lailatul Qadar
  • Langkah-Langkah Mengoptimalkan Ibadah di Malam Lailatul Qadar
  • BAB XVIII - IEDUL FITHRI
  • Memaknai Kebahagiaan Iedul Fithri
  • Menjadikan Lebaran Lebih Bermakna
  • Waktu Pelaksanaan Sholat Ied
  • Sahkah Sholat Ied Fithri Dikerjakan Dua Kali dan Tidak Pada Waktunya?
  • Mengerjakan Sholat Dua Kali
  • Hukum Sholat Jum’at pada Hari Raya Iedul Fithri268
  • Keterangan Hukum Pertama
  • Keterangan Hukum Kedua
  • Keterangan Hukum Ketiga
  • Keterangan Hukum Keempat
  • BAB XIX - KUMPULAN KHUTHBAH IEDUL FITHRI
  • Khuthbah 2: Meraih Kemenangan Iedul Fithri Dengan Taubat
  • Khuthbath 3: Kembali Kepada Fitrah, Mencapai Taqwa yang Sebenarnya

Muhammad Ramadhan al-Muhtasib

FIKIH PUASA PRAKTIS
Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wasallam

Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam

Kata Pengantar
“Islam dibangun atas lima perkara; kesaksian tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah, menegakan sholat, menunaikan zakat, dan naik haji ke baitul haram, serta puasa Ramadhan.” 1 Ramadhan memang istimewa bagi kaum Muslim. Pasalnya, Allah SWT telah memenuhi bulan itu dengan keberkahan, rahmat, dan ampunan yang melimpah ruah. Sayangnya, kesempatan emas itu justru disia-siakan oleh sebagian besar kaum Muslim. Mereka melewatkan bulan Ramadhan seperti tahun-tahun sebelumnya; yakni, mengisi bulan Ramadhan dengan kegiatan-kegiatan mubadzir dan sia-sia. Semua ini disebabkan karena, banyak kaum Muslim yang belum memahami makna hakiki dari Ramadhan, bahkan, sebagian besar diantara mereka awam terhadap hukum-hukum seputar puasa dan bulan Ramadhan. Akhirnya, mereka melalui bulan Ramadhan dengan amalan-amalan yang tidak memberikan pengaruh berarti bagi kehidupan mereka. Untuk itu, harus ada buku panduan praktis yang bisa memandu mereka untuk memahami semua hal yang berhubungan dengan ibadah di bulan Ramadhan. Ini ditujukan agar kita bisa melewati bulan Ramadhan dengan amalan-amalan berkualitas, bukan malah mengisi bulan Ramadhan dengan aktivitas-aktivitas yang sia-sia dan tidak memberikan pengaruh apapun bagi kehidupan kita. Betapa Rasulullah Saw telah menyindir orang-orang yang melalaikan ibadah di bulan Ramadhan. Di dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah Saw bersabda, “Alangkah kecewanya orang yang sejak tiba bulan Ramadhan hingga habis bulan tidak diberi ampunan.” Sesungguhnya, orang yang menyia-nyiakan bulan Ramadhan, pasti akan menuai penyesalan. Sebab, ia telah melalaikan ibadah di bulan Ramadhan. Akibatnya, puasanya hampa belaka, dan hanya sekedar memperoleh haus dan dahaga. 2 Ia juga tidak pernah mendapat keberkahan, rahmat dan ampunan dari Allah SWT. Lalu, apa yang mesti kita perbuat untuk menyambut bulan Ramadhan tahun ini? Apakah bulan Ramadhan terus kita lewati dengan permainan-permainan yang melalaikan; dengan begadang setiap malam; ataukah kita malah kesal dan keberatan dengan kedatangannya? Na’udzubillah min dzalik! Seyogyanya, seorang hamba yang shalih harus menyambut bulan Ramadhan dengan taubat nashûhâ, dan disertai tekad yang bulat untuk meraih kebaikan sebanyak-banyaknya di bulan suci ini. Sudah semestinya pula kita mengisi bulan Ramadhan dengan amal-amal shalih; dan tidak lupa selalu memohon kepada Allah SWT agar Dia menolong kita dalam menunaikan ibadah dengan baik. Demikianlah, risalah ini saya sajikan dengan penuh rasa rindu, disertai penghormatan yang tulus, tercurah dari lubuk hati paling dalam, serta sebagai wujud kecintaan penulis kepada seluruh kaum
1 2

HR. Bukhâri 1/47, dan Muslim 16, dari Ibn Umar ra. HR. Ibn Mâjah 1/539; ad-Darimi 2/211; Ahmad 2/441, 373; al-Baihaqi 4/270; dari jalan Said al-Muqbiri dari Abu Hurairah ra. Sanadnya shahih.

~2~

Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam

Muslim karena Allah SWT. Akhirnya, semoga risalah ini bisa menjadi masukan bagi kita semua untuk semakin memantapkan tekad dan semangat untuk beribadah sebanyak-banyaknya selama bulan Ramadhan. Marilah kita membulatkan niat kita untuk menjalankan puasa di bulan Ramadhan ini semaksimal mungkin. Sebab, belum tentu tahun depan kita bisa menjumpai bulan yang penuh berkah ini. Akhirnya, penulis memohon kepada Allah, semoga kita semua dipertemukan olehNya di dalam Surga yang penuh kemuliaan dan rahmat. Penulis juga berharap agar saudara dan saudariku sekalian sudi kiranya menerima risalah ini dengan lapang dada dan ikhlash. Penulis juga mengharapkan nasihat dari ikhwan wa akhwat. Semoga Allah memelihara kita semua, dan memudahkan urusan kita. Wallahu muwaffiq ila aqwamith tharîq. Newcastle, Australia Muhammad Ramadhan al-Muhtasib

~3~

............................................................................................................................................................................................................................................................Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Daftar Isi Kata Pengantar .................................................................................................................................................................9 Wajib Mengembalikan Kesatuan Umat ......................................................................HUKUM SEPUTAR PUASA.........................................................................................2 Daftar Isi ...........................................................................................45 Bagaimana Bila Ru’yat Bertentangan dengan Hisab? .............................................................KHUTHBAH RASULULLAH SAW ......................................................32 Persiapan Fikriyah (Ilmu) .................................................................................22 Mendorong Ukhuwah Islamiyyah..............................................................33 Persiapan Ramadhan Untuk Anak Kita ..................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................13 Dalil As-Sunnah.....................34 Membangun Suasana yang Kondusif...............................................................................................................................................................16 Pendapat Para Ulama ......................16 Penerapan Kaidah Syar’iyah.........................................................35 BAB V .......................37 Dikabulkannya Do’a dan Pembebasan Api Neraka..................................................................................................................................................32 Persiapan Jasadiyah (Fisik).............PERSIAPAN MENYAMBUT BULAN RAMADHAN.......................................................................................RAMADHAN...................................................................................54 Definisi Puasa ..................................................TARGHIB PUASA RAMADHAN.....................................................................................................................................................................4 BAB I ......................................................35 Nilai Plus Puasa Bagi Anak .............................................................................................................................54 ~4~ ...................................................................24 Koreksi Kebijakan Pemerintah ........................17 Metode Mendirikan Khilafah.................................................................................................................................................................37 Pengampunan Dosa.......14 Dalil Ijma’ Shahabat ...................................................................................................PENETEPAN AWAL AKHIR RAMADHAN DAN PERSATUAN UMMAT ISLAM......................................................................................52 BAB VII .......................35 Mengajak Anak Untuk Bersahur Bersama......................................................54 Rukun Puasa.......8 Persatuan dan Kesatuan Umat Islam dari Masa ke Masa .................................................................................................33 Persiapan Materi ...................................................................................... MENUJU KESATUAN UMMAT ISLAM............................................................................................34 Persiapan Fisik .........................................................................50 Pendapat yang Rajih..................................................................................13 Dalil Al-Qur’an ..........................................................................RAMADHAN: MOMENTUM MENANGGULANGI KEMISKINAN ......................................................................................................................................................................................................37 Orang yang Puasa Termasuk Shidiqin dan Syuhada .................................................................................33 Mengenalkan Ramadhan Lewat Cerita ...................19 BAB II ......39 Melihat Perbedaan.......................................................................................................................................................................12 Bersatu dalam Naungan Daulah Khilafah Islamiyyah......................................32 Persiapan Nafsiyah (Kejiwaan)..........................................22 Membelanjakan Harta di Jalan Allah.................................................................................................................................................38 BAB VI ........................................39 Islam dan Tradisi Diskusi .....................................................................................26 BAB III ...............40 Hisab dan Ru’yat..........................28 BAB IV ..........................42 Kritik atas Mathla’ .......................................................................

........... Doa yang Diucapkan Ketika Berbuka....................................................................................................................................................63 Cara Mengqadha’ Puasa....................................................................... Suci dari haid dan nifas (bagi wanita).........................................75 Kriteria Miskin yang Berhak Mendapatkan Zakat........................................................................... Berbuka Sebelum Sholat Maghrib ............68 d................................................85 Kehidupan Ramadhan dan Pasca Ramadhan di Masa Rassulullah Saw dan Para Sahabat ............................58 Puasa Ramadhan Bagi Wanita Hamil dan Menyusui .....................................54 b....................................................................................87 Al-Qur’an Sebagai Manhajul Hayah (Metode Hidup)..............60 Jawaban atas Beberapa Sanggahan ......................................................................................................................................................................................................................86 BAB X .......................65 Adab Berbuka Puasa ............73 Waktu Mengeluarkan Zakat Fithrah ..............................91 ~5~ ....................................................85 Berdasarkan pada Aqliyah Islamiyyah ....................56 b..................... Islam ............57 d...........................56 c................................................................................................................................................64 Waktu Mengqadha’ Puasa ............... Berakal ....................................................................................56 a.................................................58 Pendapat yang Rajih................ Berbuka dengan Korma dan Air..........................................83 Metode Shahih Tazkiyatu an-Nafs.80 Makna Tazkiyatu an-Nafs....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................... Menahan Diri Dari Hal-Hal yang Membatalkan Puasa ........................................................................................................................................................................................................................................AL-QUR’AN SEBAGAI PETUNJUK DAN SUMBER HUKUM .......................................................67 a.................................................81 Pengaruh Ide Sekularisme...................................................................................................................................................................................69 Hikmah Makan Sahur ....81 Pangkal Kekeliruan dan Pelurusannya...........................................................................80 Kekeliruan Memahami Tazkiyatu an-Nafs ................. Menyegerakan Berbuka.............................................................................................................................................................................67 b............. Muqim...................................... Niat ...........................68 c............77 BAB IX ...............................................60 Mendiskusikan Dalil-Dalilnya ...............................................70 Mengakhirkan Sahur ...............................85 Taubah yang Hakiki dan Ketakwaan yang Total ............................................. Baligh ........................................................... dan tidak sedang safar ............................................................................................................................57 Syarat Sah Puasa ........................................................57 e.............81 Pengaruh Filsafat................72 Hukum Makan Sahur ...................................................89 Al-Qur’an...........................................................................................................................72 Zakat Fithrah ..................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................... Memberi Makan Orang yang Puasa ..............................55 Syarat Wajib Puasa ..............................................................................................................................................................................................................................................................................................................70 Keutamaan Makan Sahur .............................................61 Ancaman Bagi Orang yang Meninggalkan Puasa.....................................................................75 BAB VIII .................... Amanah yang Wajib Dipikul.........................................Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam a.............................................................68 e.............................................64 Membayar Fidyah .........................................57 f...... Sanggup berpuasa ......................................................................................................................................................MENGGAPAI TAQWA DENGAN PUASA .............RAMADHAN: BULAN MENSUCIKAN DIRI.........................................................

.................................JIHAD DI BULAN RAMADHAN...................129 Mengerjakan Sholat Dua Kali.....................................................................................................TADARRUS AL-QUR’AN .......................................................................................................................................................118 Keistimewaan Lailatul Qadar....................................................................................132 Keterangan Hukum Kedua......................................................125 Memaknai Kebahagiaan Iedul Fithri.............................................................................................................................113 Disyari’atkannya I’tikaf .........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................105 Strategi Tafaqquh Fiddin ........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................109 Sholat Tarwih Secara Berjamaah..................................................109 Wanita Melaksanakan Tarwih ..................................................133 Keterangan Hukum Ketiga....................................................................................115 Perkara-Perkara yang Boleh Dilakukan..............................................108 Anjuran Melaksanakan Qiyam dan Tarwih di Bulan Ramadhan .......................98 Penaklukan Sepanyol ..........................97 Peperangan Wadi al-Qura .........................115 I’tikafnya Wanita dan Kunjungannya ke Masjid ...120 Tanda-Tanda Lailatul Qadar ...................................96 Peristiwa Masjid ad-Dhirar ..............................................................................................134 ~6~ ..121 Langkah-Langkah Mengoptimalkan Ibadah di Malam Lailatul Qadar .........................................118 Waktu Datangnya Lailatul Qadar ................................111 BAB XVI .....................101 BAB XIV ...TUNTUNAN PRAKTIS AMALAN HARIAN DI BULAN RAMADHAN ......104 Ruang Lingkup Ilmu-Ilmu Islam .......................................116 BAB XVII ..................................................................................................114 Syarat-Syarat I’tikaf..................126 Waktu Pelaksanaan Sholat Ied..........................................94 Dakwah dan Perang Pemikiran ......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................SHOLAT TARWIH................................................................................LAILATUL QADAR.................................URGENSI TSAQÂFAH ISLAMIYYAH .................................................96 Perang-Perang di Bulan Ramadhan ...............................................................................................................132 Keterangan Hukum Pertama .....................................................................................................................................96 Peperangan Badar ........................................................Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam BAB XI .......................................................................................................98 Kemenangan Melawan Tentara Salib ............................................113 Definisi I’tikaf..........129 Hukum Sholat Jum’at pada Hari Raya Iedul Fithri...................100 BAB XIII .........................................................................................................................................................99 BAB XII ......................................................................................................................131 Pendapat yang Rajih.................................................105 BAB XV ..............................................................................134 Keterangan Hukum Keempat.......I’TIKAF...............98 Pembukaan Kota Makkah dan Pemusnahan Patung Berhala..............98 Kemenangan Atas Tentara Mongol ......109 Cara Melaksanakan Sholat Tarwih .......................................................125 Menjadikan Lebaran Lebih Bermakna........................................................................................................122 BAB XVIII ................................................................................................................................................128 Sahkah Sholat Ied Fithri Dikerjakan Dua Kali dan Tidak Pada Waktunya? ..........................................IEDUL FITHRI .....................................................................109 Jumlah Rakaat Tarwih .................................................................................................................................98 Umat Islam Saat Ini..................................................................................................................................................................................................................

......Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam BAB XIX ....................................................141 Khuthbath 3: Kembali Kepada Fitrah..KUMPULAN KHUTHBAH IEDUL FITHRI ..................... Kembali pada Syari’ah Kunci Kemenangan Umat Islam .........145 ~7~ .....135 Khuthbah 1: Kembali pada Fitrah...........135 Khuthbah 2: Meraih Kemenangan Iedul Fithri Dengan Taubat ............................................ Mencapai Taqwa yang Sebenarnya .................

dari ats-Tsauban]. bangsa-bangsa lain akan memperebutkan kalian. meninggikan dan memuliakan dirinya. Keadaan semacam ini telah diuraikan dan disinggung oleh Rasulullah Saw dalam sabdanya. Selanjutnya. sekaligus mengingatkan mereka. Namun.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam BAB I . Ummat wajib mencermati sebab-sebab tersebut hingga mereka dapat melepaskan diri dari kelemahan dan kehinaan mereka. MENUJU KESATUAN UMMAT ISLAM Sesungguhnya. Ramadhan juga bisa dijadikan tonggak untuk mengokohkan kedudukan mereka sebagai ummat wahidah yang berbeda dengan ummat manusia lainnya. Abû Dâwud. bahwa kita tidak boleh hidup tanpa Khilafah yang akan menyatukan mereka serta tidak boleh terus menerus hidup tanpa penerapan syari’at Islam yang menjadikan mereka mulia dan bahagia. ibadah shiyam di bulan Ramadhan merupakan salah satu syiar yang bisa dijadikan momentum untuk menyatukan kaum Muslim. ~8~ . bahwa ummat Islam saat ini terus ditekan dan didzalimi lebih keras lagi dibandingkan dengan waktu sebelumnya. Kaum Muslim juga wajib mengkaji unsur-unsur kemunduran. Benar.RAMADHAN. bahwa tidak ada yang dapat melepaskan dirinya dari keburukan yang menimpa mereka selain Allah SWT. kaum Muslim wajib mengkaji kondisi mereka saat ini. kiblat mereka sama. kita akan mendapatkan kenyataan. harusnya dijadikan ajang bagi kaum Muslim untuk melakukan koreksi (muhasabah) dan pengkajian. Puasa Ramadhan mestinya juga mengingatkan. mereka mesti mengambil semua sebab yang bisa menguatkan. Apa andil yang sudah kita berikan kepada Islam hingga saat ini? Apakah kita telah berupaya menghidupkan hukum-hukum Islam yang telah hilang? Apakah kita juga sudah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mematikan bid’ah dan menghidupkan Sunnah? Apakah kita telah melakukan amar ma’ruf nahi munkar? Apakah kita sudah turut mengemban dakwah Islam serta bergabung dalam aktivitas untuk mengembalikan Khilafah Islamiyah? Ataukah kita malah ridha dengan kondisi sekarang ini dan justru melakukan aktivitas sebaliknya? Dan apakah kita hanya berdiam diri dari aktivitas untuk menerapkan syari’at Islam dan rela hidup dibawah syari’at (hukum) kufur? Bila kita amati dengan seksama. sehingga tercipta suatu keyakinan di dalam dirinya. setelah melakukan muhasabah dan koreksi diri. ummat juga merasa. Lebih dari itu. Ia wajib mengkaji hal-hal yang menguatkan dan yang melemahkan dirinya. bahwasanya pertolongan Allah itu adalah dekat. “Kelak. dan agar mereka dapat melewati hambatan dan rintangan yang menghalangi datangnya pertolongan Allah atas mereka. agama mereka pun satu. memuliakan dan membangkitkan dirinya. bahwa ummat Islam tidak boleh hidup dalam keterpecahbelahan. sebagaimana (mereka) memperebutkan makanan untuk meremukannya. lalu membandingkannya dengan kondisi yang mereka alami pada Ramadhan sebelumnya. semua pihak kini telah mengerumuni dan dengan rakus merobek dan memakan dagingnya. datangnya bulan Ramadhan tahun ini. dimana sekarang ini kaum Muslim terpecah belah menjadi lebih dari lima puluh negara boneka yang sangat lemah dan kerdil. Seperti bulan-bulan Ramadhan sebelumnya. kehinaan dan keterpurukan yang selama ini semakin memperpanjang jalan menuju keberhasilan. Tentunya. Ummat juga merasakan. bahwa Rabb mereka adalah umat yang satu. Puasa Ramadhan seharusnya juga mengingatkan mereka. dan tujuan mereka juga satu. serta mempelajari unsur-unsur yang mampu meninggikan. sebelum dihisab oleh Allah SWT.” [HR. pada saat yang sama. bahkan menjadi penghalang jalan kesuksesan. kita harus mengoreksi diri kita sendiri.

hakim (qadhi). golongan Anshar —terdiri dari qabilah Aus dan Khazraj— dan golongan Muhajirin yang terdiri dari orang-orang Quraisy bersatu dan bersaudara di bawah naungan '‘aqidah Islam.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Persatuan dan Kesatuan Umat Islam dari Masa ke Masa Persatuan umat Islam mulai tampak secara kongkrit sejak berdirinya Daulah Islamiyah di Madinah. Dalam kitab-kitab sirah dan hadits disebutkan antara lain teks piagam tersebut: Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Di kota Madinah Rasulullah Saw membangun persatuan umat atas dasar ukhuwah Islamiyah yang berasaskan ‘aqidah Islamiyah. Dengan perjanjian ini. Setelah wafatnya Rasulullah Saw. dan yang lainnya. Sedangkan pamannya Hamzah bin Abdul Muthalib bersaudara dengan maulanya Zaid. dan Salman alFarisi dari Persia (Iran). Namun tidak berarti bahwa negara Islam hanya akan dihuni oleh warga negara yang beragama Islam saja. 119. setelah para shahabat berkonsensus untuk membai’at seorang Khalifah saja sebagai kepala negara. Pada saat itu. Umar bin Khaththab disaudarakan dengan Uthban bin Malik al-Khazraji. hal. Rasulullah Saw berkedudukan sebagai kepala negara (ra’isu ad-daulah). as-Sirah an-Nabawiyah. Eksistensi persatuan umat Islam semakin ditegaskan di dalam Piagam Madinah (Watsiqah Madinah) yang mengatur interaksi sesama kaum Muslim maupun antar kaum Muslim dengan non-muslim (Yahudi) di Madinah. Mereka semua adalah bersaudara satu sama lain. persatuan dan kesatuan umat tetap terjaga. al-Hujarât [49]: 10). Shuhaib ar-Rumi dari Romawi (Eropa). bertani. Beliau menyaudarakan dirinya dengan Ali bin Abi Thalib. 3 Ukhuwah ini benarbenar terwujud dalam kehidupan sehari-hari tatkala mereka saling memenuhi kebutuhan hidup masing-masing dalam berdagang. Ini adalah kitab (perjanjian) dari Muhammad Nabi Saw antara orang-orang mu’min dan muslim dari golongan Quraisy dan Yatsrib…: “Sesungguhnya mereka adalah umat yang satu (ummah wahidah). ~9~ . 123-126. Ibn Hisyam. Beliau Saw pernah mencanangkan proyek “muakhkha” (penyaudaraan). hal. jld. jld. Orangorang kafir pun dapat menjadi warga negara Daulah Islamiyyah. dan Abdurrahman bin Auf disaudarakan dengan Sa’ad bin ar-Rabi’. seperti Bilal al-Habsyi dari Habasyah (sekarang Ethiopia). karya Ibn Hisyam dan as-Sirah al-Halabiyah. 2. bahwa kewajiban mengangkat seorang Khalifah ini tetap dilaksanakan oleh kaum Muslim 3 4 Lihat as-Sirah an-Nabawiyah. Thalhah bin Ubaidilah disaudarakan dengan Abu Ayyub alAnshori. jld. 2. 292-293. sebagaimana Rasulullah Saw juga telah mempersaudarakan sesama kaum Muslim atas dasar Islam. yaitu ‘aqidah Islamiyah. hal. bahwa umat Islam merupakan satu kesatuan. dan sekaligus panglima angkatan bersenjata (qa’idul jaisy). sesuai firman Allah SWT: “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara…” (Qs. Rasulullah Saw bermaksud membangun masyarakat Islam berdasarkan asas yang tetap dan kokoh. 2. yang berbeda dengan orang-orang lain…” 4 Dari teks di atas terlihat dengan jelas. Abu Bakar ash-Shiddiq disaudarakan dengan Kharijah bin Zaid. DI dalam Piagam Madinah itu juga diatur interaksi golongan Yahudi dengan kaum Muslim. Secara global dapat dikatakan. Bahkan ada beberapa shahabat Rasulullah Saw yang berada di luar golongan-golongan tersebut. Setelah itu.

para Khalifah terdahulu umumnya tidak mengadopsi (mentabanni) hukum-hukum tertentu mengenai sistem pemerintahan. meskipun tidak sampai mempengaruhi keberadaan negara Islam. hal. yakni. di pusat (ibu kota). 100. Saljuqiyyin. muncullah penampakan adanya negara di wilayah-wilayah kekhilafahan Islam. bagaimana pun kuatnya kepemimpinan mereka. dan desa. Tetapi tatkala kepemimpinan para Khalifah lemah dan para Wali membiarkan hal ini. sesungguhnya wilayah ini masih berada di bawah teritorial Khilafah dan menjadi bagian integral darinya. yang sebenarnya tidaklah demikian. ad-Daulah al-Islamiyyah. Dirasah li Suquthi Tsalatsina ad-Daulah al-Islamiyyah. cet 2. Sebab. cet. Kesatuan negara tetap terjaga karena kuatnya kepemimpinan para Khalifah. 7 Adapun peristiwa sejarah yang menunjukkan adanya Khilafah di Andalusia dan munculnya Khilafah golongan Fathimiyin di Mesir. Sementara itu. Idem. hal. sehingga mereka bertindak seperti orang yang terpisah atau tidak memiliki hubungan dengan Khalifah di pusat. Inilah yang dapat menerangkan keberadaan kekuasaan Hamdaniyyin. Dengan demikian. Kenyataan ini menyebabkan wilayah-wilayah ini menjadi seperti negara-negara yang berdiri sendiri. negara Khilafah tetap merupakan satu kesatuan utuh yang dipimpin oleh seorang Khalifah. Mereka tidak berani untuk tidak mengakui kepemimpinan Khalifah. dan hal-hal formalitas lainnya. Hal ini mengakibatkan sebagian Khalifah dan Wali mendapatkan kesempatan untuk menjalankan roda pemerintahan sedemikian rupa sehingga mempengaruhi kesatuan dan kekuatan negara. dalam sejarah Islam ada fenomena yang menunjukkan seolah-olah kaum Muslim pernah tidak bersatu di bawah satu negara. 6 Sesungguhnya. hal. pada saat itu mereka —sebagai seorang wali— tidak berdiri sendiri atau memisahkan diri dari Khalifah sedikit pun. yang terkadang dipahami —secara kurang tepat— oleh sebagian penulis sejarah sebagai negara-negara Islam yang independen. Hal ini pernah terjadi pada shahabat Amr bin al-‘Ash yang memiliki wilayah kekuasaan umum di Mesir. ad-Daulah al-Islamiyyah. Padahal. ~10~ . Meskipun demikian. meskipun mereka mengadopsi hukum-hukum tertentu dalam bidang perekonomian dan bidang lainnya. 103. Dialah yang memegang segala kewenangan kenegaraan di setiap bagian teritori negara. 104. 2. kekuasaan umum (al-wilâyah al-‘âmmah) tidak berpengaruh terhadap kesatuan negara. dimensinya berbeda dengan dimensi menonjolnya kekuatan wilayah 5 6 Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani. kota. di berbagai wilayah. tatkala kaum kafir penjajah berhasil meruntuhkan Khilafah Utsmaniyah dan memenggal-menggal Dunia Islam menjadi negara-negara kerdil yang lemah. mendoakannya di mimbarmimbar masjid pada saat sholat Jum’at atau hari-hari raya. Para Wali itu hanya mencukupkan diri dengan membai’at Khalifah. Dr. Perlu dipahami. mencetak mata uang atas nama Khalifah. Para Wali pada saat itu diberi kekuasaan umum (al-wilâyah al-‘âmmah) dan otoritas yang luas sebagai wakil dari Khalifah. 5 Memang. Negara Khilafah tetap merupakan satu kesatuan dan tidak pernah berubah menjadi semacam “federasi wilayah”. urusan pemerintahan secara riil ada di tangan mereka. Sebenarnya tidak demikian.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam sepanjang sejarah hingga tahun 1342 H (1924 M). atau Mu’awiyah bin Abi Sofyan yang juga memiliki kekuasaan umum di Syam. Abdul Halim ‘Uwais. Hal ini menyebabkan munculnya keinginan dan hasrat memimpin dalam diri mereka. Khalifahlah yang mengangkat dan memberhentikan para Wali. 7 Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani. dan yang lainnya.

Yang terjadi adalah usaha-usaha untuk memperoleh kekuasaan sesuai dengan persepsi Islami tertentu mengenai pemerintahan. sebenarnya tidak dapat dikatakan sebagai Khilafah kedua dalam tubuh umat Islam. di Andalusia sebenarnya tidak muncul Khalifah kedua. Peristiwa ini sangat mirip dengan apa yang dilakukan oleh golongan ‘Abbasiyin tatkala mereka mengambil kekuasaan dari golongan Umawiyin. Wali yang ada di sana tidak dibai’at sebagai Khalifah untuk kaum Muslim. Lebih dari itu. negara Islam (Khilafah) dalam sejarahnya tetap merupakan satu kesatuan. Wilayah Andalusia menganggap dirinya sebagai wilayah yang tidak masuk dalam teritori Khilafah. kemudian usaha ini berakhir. di bawah Khilafah Islamiyah yang satu. tetapi —seperti disebut-sebut kemudian— sebagai Khalifah untuk penduduk Andalusia saja. sementara itu Khilafah yang sah terus eksis dan tetap satu. bahwa Khilafah harus dipegang oleh Ahlul Bait. Sementara itu. hingga akhirnya kaum penjajah kafir berhasil menghancurkan Khilafah Utsmaniyah di Turki tahun 1924 M melalui agennya Musthofa Kamal Attaturk yang murtad. Oleh karena itu.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam seperti telah diterangkan. Sejak itu nasib kaum Muslim menjadi terpuruk hingga taraf yang terendah. Kondisi seperti ini tetap berlangsung di sepanjang sejarah Islam. agar kaum Muslim terus dijajah. Namun demikian. atau dimintai izin pindah dan izin tinggal. Sedangkan munculnya Khilafah golongan Fathimiyin di Mesir. golongan ‘Abbasiyin telah membangun pengaruh mereka di Persia dan Irak. hal. ternista. Dengan demikian. ~11~ . bukan untuk seluruh kaum Muslim. Seperti diketahui. Di antara bukti yang menunjukkan bahwa Khilafah merupakan satu kesatuan. adalah adanya upaya untuk memindahkan kekuasaan Khilafah kepada Ahlul Bait. terlunta-lunta. 8 Jelaslah. 104. mirip dengan kondisi yang ada di Iran pada masa Daulah Utsmaniyah. Ide ini (nasionalisme dan patriotisme) sengaja disebarluaskan oleh imperialis Barat sebagai racun untuk membunuh hasrat bersatu kaum Muslim sebagai umat Islam yang satu. Khilafahan Abbasiyin masih tetap ada dan terus bertahan. Fakta yang terjadi saat itu. lalu membai’at Khalifah dan meruntuhkan Khilafah Umawiyin. Khalifah bagi seluruh kaum Muslim tetap satu dan tetap memegang kekuasaan umum bagi mereka. melainkan hanya upaya untuk memindahkan kekuasaan Khilafah dari satu golongan ke golongan lain. dan terhina dalam belenggu ide nasionalisme dan patriotisme. tak pernah terpecah-belah menjadi beberapa negara. Seorang Muslim yang bepergian melintasi beberapa negeri Islam tak pernah ditanya dari mana asalnya seperti orang asing. ide ini juga dijadikan alat untuk melestarikan perpecahan umat Islam. adalah adanya keleluasaan berpindah dan bepergian bagi kaum Muslim dari satu negeri ke negeri Islam lain. Yang terjadi adalah munculnya satu wilayah yang tidak masuk dalam teritorial Khilafah. Saat itu Andalusia telah dikuasai oleh para Wali yang melepaskan diri dari pusat Khilafah. Demikian pula halnya dengan Khilafah Fathimiyin. 8 Idem. berdirinya kekuasaan pemerintahan Fathimiyin di Mesir bukan merupakan Khilafah kedua di tubuh umat (setelah adanya Khilafah Abbasiyin di Baghdad). Sebab. dan dikendalikan oleh imperialis Barat yang kafir. Mereka membai’at seorang Khalifah untuk memindahkan kekuasaan Khilafah kepada golongan mereka saja (ahlul bait) hingga waktu tertentu saat berakhirnya kekuasaan mereka. Dengan kata lain. sesuai dengan pemahaman Islami yang mereka adopsi. negeri-negeri Islam adalah satu. dieksploitir.

Hal tersebut merupakan suatu kewajiban atas kaum Muslim —sebagaimana kewajiban sholat. hendaklah ia mentaatinya semaksimal mungkin.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Wajib Mengembalikan Kesatuan Umat Sesungguhnya. satu negara. yaitu seorang Khalifah. yakni hidup dalam satu institusi. maka sanksi syar’i baginya adalah jelas dan tegas: hukuman mati! Di samping al-Qur’an dan as-Sunnah. Bahkan sebagian fuqaha menggunakan Qiyas —sumber hukum keempat— untuk menetapkan prinsip kesatuan umat. shaum.” [HR. Ali-‘Imran [3]: 103). dan janganlah kalian bercerai berai…” (Qs.” Perkataan ini didengar oleh para shahabat dan tidak satupun dari mereka yang mengingkari. sebagaimana keharaman wali menikahkan seorang perempuan dengan dua orang lelaki yang akan ~12~ . “Tidak halal kaum Muslim mempunyai dua pemimpin (Imam). umat Islam selalu hidup dalam satu kesatuan. hal ini telah menjadi ijma’ (konsensus) di kalangan mereka.” [HR. Muslim]. dalam lintasan sejarahnya. Dan jika datang orang lain hendak mencabut kekuasaannya. Abu Bakar ash-Shiddiq pernah berkata. maka bunuhlah dia!” [HR. lalu memberikan genggaman tangannya dan menyerahkan buah hatinya. “Para ulama kami (madzhab Syafi’i) tidak membenarkan akad Imamah (Khilafah) untuk dua orang…Kalau terjadi akad Khilafah untuk dua orang. Barangsiapa yang berupaya untuk memecah-belah umat Islam menjadi beberapa negara. Imam al-Juwaini mengqiyaskan keharaman adanya dua Imam bagi kaum Muslim. “Barangsiapa membai’at seorang Imam (Khalifah). dan jihad— sesuai firman Allah SWT: “Dan berpeganglah kalian semuanya dengan tali (agama) Allah. Oleh karena itu. Nash-nash di atas juga mewajibkan kaum Muslim untuk hidup di bawah satu kepemimpinan. di bawah kepemimpinan seorang pemimpin (Khalifah/Imam). “Jika dibai’at dua orang Khalifah. itu sama halnya dengan wali yang menikahkan seorang perempuan dengan dua orang laki-laki!” Artinya. maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya. Muslim]. Rasulullah Saw dalam masalah ini bersabda: “Barangsiapa mendatangi kalian —sedang urusan (kehidupan) kalian ada di bawah kepemimpinan satu orang (Imam/Khalifah)— dan dia hendak memecah belah kesatuan kalian dan menceraiberaikan jamaah kalian. penggallah leher orang itu. Dalildalil di atas juga menegaskan keharaman berpecah-belah dan bercerai-berai. Imam al-Juwaini berkata. Dalil-dalil di atas menegaskan adanya kewajiban bersatu bagi kaum Muslim atas dasar Islam (hablullah). bukan atas dasar kebangsaan atau ikatan palsu lainnya. Muslim]. Ijma’ Shahabat pun menegaskan pula prinsip kesatuan umat di bawah kepemimpinan seorang Khalifah.

Dalil Al-Qur’an Di dalam al-Qur’an memang tidak terdapat istilah Daulah yang berarti negara. baik keduanya sepakat maupun tidak. “Para imam madzhab (Abu Hanifah. Syaikh Abu Bakar alJaziri menyatakan. 416. Bersatu dalam Naungan Daulah Khilafah Islamiyyah Secara ringkas. Nizham al-Hukmi fi al-Islam. 17. 134.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam menjadi suaminya. 9 ~13~ . Allah SWT berfirman: Syaikh Dr. sebagaimana wali hanya boleh menikahkan seorang perempuan dengan satu orang laki-laki. 11 Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani. Rabi’ul Awal 1419 H/Juli 1998 M. bahwa kesatuan umat di bawah kepemimpinan seorang Khalifah adalah satu kewajiban syar’i yang harus segera diwujudkan.” 11 Hukum menegakkan Khilafah itu sendiri adalah wajib. hal. an-Nûr [24]: 55). Muhammad Khair Haekal.” 10 Dengan berjuang secara ikhlas dan bersungguh-sungguh. Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani mendefinisikan Daulah Khilafah dengan. dan Imam Ahmad⎯ bersepakat bulat bahwa kaum Muslim di seluruh dunia hanya boleh mempunyai satu orang Khalifah saja. 6-13. seperti yang pernah terjadi dalam sejarah umat Islam tempo dulu. Imam Malik. mereka akan memikul dosa besar di hadapan Allah kelak di Hari Kiamat nanti. 10 Syaikh Abdurrahman al-Jaziri. al-Fiqh ‘Ala al-Madzahib al-Arba’ah. Kaum Muslim wajib berjuang demi terwujudnya kesatuan umat di bawah naungan negara Khilafah. Oleh karena itu. jld. Imam/Khalifah untuk kaum Muslim wajib hanya satu. dan Ahmad) ⎯rahimahumullah⎯ bersepakat pula bahwa kaum mulimin di seluruh dunia pada saat yang sama tidak dibenarkan mempunyai dua imam. no. 5. sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa…” (Qs. InsyaAllah. Adapun dalil yang menunjukkan kewajiban menegakkan Khilafah adalah sebagai berikut. Malik. tanpa ada perbedaan pendapat di kalangan imam-imam madzhab dan mujtahid-mujtahid besar yang alim dan terpercaya. cita-cita ini akan tercapai. sesuai janji Allah SWT: “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amalamal yang shaleh. 9 Dari sini dapat dipahami. “kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslim di dunia untuk menegakkan hukum-hukum syari’at Islam dan mengemban risalah Islam ke seluruh penjuru dunia. bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi. Dengan kata lain. tidak mengherankan bila para imam-imam madzhab ⎯Imam Abu Hanifah. Imam Syafi’i. hal. Jika mereka lalai mewujudkannya. majalah al-Wa’ie. Syafi’i. Tetapi di dalam alQur’an terdapat ayat yang menunjukkan wajibnya umat memiliki pemerintahan/negara (ulil amri) dan wajibnya menerapkan hukum dengan hukum-hukum yang diturunkan Allah SWT. hal. Wahdatul Muslim fi asy-Syai’ah al-Islamiyyah.

mewujudkan ulil amri adalah suatu perkara yang wajib. Muslim]. secara dalalatul iqtidha’. jika tidak diwujudkan akan menyebabkan terlanggarnya perkara yang haram. Oleh karena itu. Firman Allah SWT: “Maka putuskanlah perkara di antara di antara mereka dengan apa yang diturunkan Allah. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. al-Mâ’idah [5]: 48). Sebab. Dan barangsiapa mati sedangkan di lehernya tak ada bai’ah (kepada Khalifah) maka dia mati dalam keadaan mati jahiliyah’. tidak mungkin Allah memerintahkan kita untuk mentaati pihak yang eksistensinya tidak ada. dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka (dengan) meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. dengan pemerintahan itulah hukum-hukum yang diturunkan Allah dapat diterapkan secara sempurna. yaitu berlaku pula bagi umat Islam. Perintah ini. yaitu al-Hâkim (Penguasa). Sebab. mewujudkan ulil amri itu adalah wajib. adanya ulil amri menyebabkan terlaksananya kewajiban menegakkan hukum syara’. Sebab. Allah SWT telah memerintahkan Rasulullah Saw untuk mengatur urusan kaum Muslim berdasarkan hukum-hukum yang diturunkan Allah SWT. Tatkala Allah memberi perintah untuk mentaati ulil amri. “Aku mendengar Rasulullah mengatakan. ayat-ayat tersebut bersifat umum. Dengan demikian. ~14~ . taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada RasulNya dan ulil amri di antara kalian. Ayat di atas telah memerintahkan kita untuk mentaati Ulil Amri. Dalil As-Sunnah Abdullah bin Umar meriwayatkan. Walhasil.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam “Wahai orang-orang yang beriman. Oleh karena itu. Di samping itu.” (Qs. berarti Allah memerintahkan pula untuk mewujudkannya. Sebab. seandainya Ulil Amri itu tidak ada.” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 49). tidak ada dalil yang mengkhususkan perintah tersebut hanya kepada Rasulullah Saw. perintah (khitab) Allah kepada Rasulullah juga merupakan perintah kepada umat Islam selama tidak ada dalil yang mengkhususkan perintah ini hanya untuk Rasulullah (khitabur rasuli khithabun li ummatihi malam yarid dalil yukhashishuhu bihi). Allah juga tidak mungkin mewajibkan kita untuk mentaati seseorang yang keberadaannya hanya berhukum mandub saja. tidak mempunyai makna lain kecuali kecuali menegakkan hukum dan pemerintahan (as-sulthan). “Dan putuskanlah perkara di antara di antara mereka dengan apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka. an-Nisâ’ [4]: 59). ayat-ayat ini menunjukkan wajibnya keberadaan sebuah negara untuk menjalankan semua hukum Islam. ‘Barangsiapa melepaskan tangannya dari ketaatan kepada Allah. yaitu mengabaikan hukum syara’ (tadhyî’ al-hukm asy-syar’i). Adapun yang dimaksud dengan menegakkan hukum-hukum yang diturunkan Allah. Dalam hal ini. sedangkan mengabaikan terwujudnya ulil amri akan menyebabkan terabaikannya hukum syara’. niscaya dia akan menemui Allah di Hari Kiamat dengan tanpa alasan.” [HR. yaitu negara Khilafah. berarti perintah pula untuk mengadakan atau mengangkat Ulil Amri itu.” (Qs. Dalam kaidah ushul fiqh dinyatakan bahwa.

Hadits pertama dan kedua merupakan pemberitahuan (ikhbar) dari Rasulullah Saw bahwa seorang Khalifah adalah laksana perisai. “Apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Nabi menjawab. penggallah leher orang itu. “Penuhilah bai’at yang pertama dan yang pertama itu saja. Akan ada para Khalifah dan jumlahnya akan banyak. Sebab barangsiapa memisahkan diri dari penguasa (pemerintahan Islam) walau sejengkal saja lalu ia mati. Muslim]. bukan kepada yang lain. maka bersabarlah. maka tuntutan untuk melaksanakan perbuatan itu berarti bersifat pasti (fardhu). Sebab. Padahal bai’at hanya dapat diberikan kepada Khalifah.” [HR. Bila wafat seorang nabi diutuslah nabi berikutnya. Penuhilah hak-hak mereka. Rasulullah Saw bersabda: “Bahwasanya Imam itu bagaikan perisa (tameng). seandainya hal ini tidak wajib. bahwa keberadaan Khilafah adalah wajib. dari belakangnya umat berperang dan dengannya umat berlindung. lalu memberikan genggaman tangannya dan menyerahkan buah hatinya.” [HR. Oleh karena itu. tanpa Khilafah banyak hukum syara’ akan terabaikan. bai’at baru ada di leher kaum Muslim kalau ada Khalifah/Imam yang memimpin Khilafah. apabila mengandung celaan (adz-dzamm) maka yang dimaksud adalah tuntutan untuk meninggalkan (thalab at-tarki).” [HR. Ini juga menunjukkan. yang dengannya dapat terwujud bai’at di leher setiap Muslim. Dan kalau pelaksanaan perbuatan yang dituntut itu menyebabkan tegaknya hukum syara’ atau jika ditinggalkan mengakibatkan terabaikannya hukum syara’. Muslim]. “Dahulu para nabi yang mengurus Bani Israil. Pernyataan Rasulullah Saw bahwa seorang Imam itu laksana perisai menunjukkan pemberitahuan tentang adanya faidah-faidah keberadaan seorang Imam. Dan jika datang orang lain hendak mencabut kekuasaannya. Sebab. tetapi tidak ada lagi nabi setelahku. hadits pertama dan kedua ini menunjukkan wajibnya menegakkan Khilafah. ~15~ . Sebab. Sebab. setiap pemberitahuan yang berasal dari Allah dan RasulNya. Allah akan meminta pertanggungjawaban terhadap apa yang menjadi kewajiban mereka. Rasulullah Saw bersabda pula. hendaklah ia mentaatinya semaksimal mungkin.” Para shahabat bertanya. “Bila seseorang melihat sesuatu yang tidak disukai dari amirnya (pemimpinnya). Nabi Saw tidak mungkin sampai begitu tegas menyatakan bahwa orang yang memisahkan diri dari Khilafah akan mati jahiliyah. maka matinya adalah mati jahiliyah.” [HR. dan bahwa akan ada penguasa-penguasa yang memerintah kaum Muslim. Hadits ketiga menjelaskan keharaman kaum Muslim keluar (memberontak. dan ini merupakan suatu tuntutan (thalab). Muslim]. Jadi hadits ini menunjukkan kewajiban mengangkat seorang Khalifah. “Barangsiapa membai’at seorang Imam (Khalifah). Apabila perintah itu mengandung pujian (al-mad-hu) maka yang dimaksud adalah tuntutan untuk melakukan perbuatan (thalab al-fi’li). membangkang) dari penguasa (as-sulthan).Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Nabi Saw mewajibkan adanya bai’at pada leher setiap muslim dan mensifati orang yang mati dalam keadaan tidak berbai’at seperti matinya orang-orang jahiliyyah. Muslim]. Semua ini menegaskan bahwa mendirikan pemerintahan bagi kaum Muslim hukumnya adalah wajib.

Sejarah juga menunjukkan. dalil-dalil as-Sunnah ini telah menunjukkan wajibnya menegakkan Khalifah bagi kaum Muslim. Walaupun sering muncul perbedaan pendapat mengenai siapa yang tepat untuk dipilih dan diangkat menjadi Khalifah. Dalam ushul fiqh dikenal kaidah syar’iyah yang disepakati para ulama. Umar bin Khaththab. Mâ lâ yatimmu al-wâjibu illâ bihi fa huwa wâjib (Jika sebuah kewajiban tidak sempurna kecuali dengan adanya sesuatu. ridhwanullah ‘alaihim. dan Ali bin Abi Thalib. namun mereka tidak pernah berselisih pendapat sedikit pun mengenai wajibnya mengangkat seorang Khalifah. baik ketika wafatnya Rasulullah Saw maupun ketika pergantian masing-masing Khalifah yang empat. justru lebih mendahulukan upaya-upaya untuk mengangkat Khalifah daripada menguburkan jenazah Rasulullah. Ijma’ Shahabat menunjukkan dengan sangat jelas. Hal itu tak mungkin terjadi kecuali jika status hukum mengangkat seorang Khalifah adalah lebih wajib daripada menguburkan jenazah. Ijma’ Shahabat merupakan dalil yang jelas dan kuat mengenai kewajiban mengangkat Khalifah. Hal ini tampak jelas saat mereka menunda kewajiban menguburkan jenazah Rasulullah Saw dan mendahulukan pengangkatan seorang Khalifah pengganti beliau. yaitu perintah untuk memerangi orang yang akan merebut kekuasaan Khalifah. Penerapan Kaidah Syar’iyah Ditilik dari analisis ushul fiqh. Sebab kalau tidak wajib. Dalil Ijma’ Shahabat Sebagai sumber hukum Islam ketiga. Dengan demikian jelaslah. sebagian di antaranya. mereka mampu mengingkari hal ini dan mampu mengebumikan jenazah Nabi secepatnya. Utsman bin Affan. mengangkat Khalifah juga wajib. Oleh karena itu. Sebagian shahabat lain juga mendiamkan shahabat yang menyibukkan diri untuk mengangkat Khalifah tersebut. Perintah Rasulullah ini berarti perintah untuk mengangkat seorang Khalifah dan memelihara kekhilafahannya dengan cara memerangi orangorang yang merebut kekuasaannya. bahwa mengangkat seorang Khalifah sebagai pemimpin pengganti Rasulullah Saw hukumnya wajib. Padahal menguburkan mayat secepatnya adalah suatu keharusan dan diharamkan atas orang-orang yang wajib menyiapkan pemakaman jenazah melakukan kesibukan lain sebelum jenazah sempurna dikebumikan. bahkan mereka juga menunda kewajiban menguburkan jenazah Nabi Saw sampai dua malam. bahwa seluruh shahabat selama hidup mereka telah bersepakat mengenai wajibnya mengangkat Khalifah.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Dalam hadits ini Rasululah Saw telah memerintahkan kaum Muslim untuk mentaati para Khalifah dan memerangi orang-orang yang merebut kekuasaan mereka. maka sesuatu itu wajib pula hukumnya). Mereka telah sepakat mengangkat Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq. Ijma’ Shahabat yang menekankan pentingnya pengangkatan Khalifah. yaitu Imam atau Khalifah. Padahal. Semua ini merupakan penjelasan tentang wajibnya keberadaan penguasa kaum Muslim. Namun. ~16~ . niscaya tidak mungkin Nabi Saw memberikan perintah yang begitu tegas untuk memelihara eksistensinya. Fakta ini menunjukkan adanya kesepakatan (ijma’) mereka untuk segera melaksanakan kewajiban mengangkat Khalifah daripada menguburkan jenazah. para shahabat yang wajib menyiapkan pemakaman jenazah Rasulullah Saw.

8. 265. hal. jld. “Menurut golongan Syiah. dan Asy A’riyah. Pendapat Para Ulama Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani dalam kitabnya mengatakan. 19. “Para imam madzhab (Abu Hanifah. seluruh Syi’ah. dan seluruh Khawarij. jld. Malik. 16 Al-Ahkâm as-Sulthâniyyah. ~17~ . jld. Al-Fiqh ‘Ala al-Madzahib al-Arba’ah. hal.” 15 Imam Abu Ya’la Muhammad al-Husain al-Firai al-Hanbali menyatakan. “Akan ada fitnah yang sangat besar jika tidak ada imam yang mengurusi urusan masyarakat. Sementara itu. maka pendapatnya itu tidak perlu dianggap. Kalau pun ada segelintir orang yang tidak mewajibkan Khilafah. 14 Nailul Authar. hal. 4. Oleh karena itu.” 14 Ibn Hazm mengatakan. 87.” 17 12 13 Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah. Imam asy-Syaukani menyatakan. dan bahwa ummat Islam wajib mempunyai seorang imam (khalifah. minoritas Mu’tazilah. “Telah sepakat seluruh Ahlus Sunnah. mengenai wajibnya Imamah (Khilafah). dan Ahmad) —rahimahumullah— telah sepakat bahwa Imamah (Khilafah) itu wajib adanya. Jelaslah. hal. 15 Al-Fashl fi al-Milal Wal Ahwa’ Wan Nihal. 2.” 16 Imam Ahmad berkata. “Menegakkan khilafah Islamiyyah berhukum fardlu kifayah atas kaum muslim di seluruh dunia Islam…Menegakkan khilafah tak ubahnya dengan kewajiban-kewajiban lain yang difardlukan oleh Allah SWT…mengabaikan kewajiban ini adalah kemaksiyatan terbesar yang akan diganjar dengan adzab yang sangat pedih…” 12 Seluruh imam madzhab dan para mujtahid besar tanpa kecuali telah bersepakat bulat akan wajibnya Khilafah (atau Imamah) ini. berbagai sumber hukum Islam di atas telah menunjukkan bahwa menegakkan Daulah Khilafah merupakan kewajiban dari Allah SWT atas seluruh kaum Muslim. Syaikh Abdurrahman al-Jaziri menegaskan hal ini dalam kitabnya.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Menerapkan hukum-hukum yang berasal dari Allah SWT dalam segala aspeknya adalah wajib.) yang akan meninggikan syiar-syiar agama serta menolong orang-orang yang tertindas dari yang menindasnya…” 13 Tak hanya kalangan Ahlus Sunnah saja yang mewajibkan Khilafah. “Mengangkat khalifah merupakan kewajiban. hal ini tidak dapat dilaksanakan dengan sempurna tanpa adanya kekuasaan Islam yang dipimpin oleh seorang Khalifah. bahkan seluruh kalangan Ahlus Sunnah dan Syiah ⎯termasuk Khawarij dan Mu’tazilah⎯ tanpa kecuali bersepakat tentang wajibnya mengangkat seorang Khalifah. 5. karena bertentangan dengan nash-nash syara’ yang telah jelas. seluruh Murji’ah. Syafi’i. 15. hal. eksistensi Khilafah hukumnya menjadi wajib. (Khilafah) adalah wajib menurut syara’. jld. 416. berdasarkan kaidah syar’iyah tadi.

24 Tafsîr al-Qurân al-‘Adzim. 137-138. 26 Ibn ‘Abd al-Barr. 248. 38 Al-Islam wa Audha’una as-Siyasiyah. 29 Imam al-Ghazali. hal. hal. hal. 3. 161. jld. 209. 16. al-Mukhtâr al-Islami.34 Imam an-Nawawi. Imam Ibn Mandzur. hal. tahun 1977. hal. 40 Syaikh Muhammad Abduh. 25 Imam ath-Thabari. 26. 30 Al-Iqtishâd fi al-I’tiqad. 17 ~18~ . hal. jld. “Khilafah berkedudukan sebagai wakil nubuwwah…ia juga bertugas menjaga agama dan kehidupan dunia…ia adalah sistem pemerintahan yang harus ditegakkan berdasarkan ijma’…mengangkat seorang khalifah hukumnya adalah wajib atas jama’ah al-Islamiyyah…” 19 Imam al-Ghazali dalam kitabnya Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn berkata. 75. jld. 37 Asy-Syura. 167. 137-138. 23 Tafsîr al-Kasysyâf. 21 Imam al-Qalqasyandi. 33 al-Hâfidz Ibn Hajar al-Asqalâni. 26 Tharikhal-Umam wa al-Muluuk. 29 As-Siyasah Asy-Syar’iyah. 26.32 Ibn Hajar al-Haitsami. hal. 41 dan masih banyak lagi yang lainnya. “Kita tidak mungkin bisa menetapkan sesuatu perkara ketika negara tidak lagi memiliki imam dan peradilan telah rusak…” 20 Bahwa Khilafah adalah sebuah ketentuan hukum Islam yang wajib ⎯bukan haram apalagi bid’ah— dapat kitab temukan dalam khazanah Tsaqafah Islamiyah yang sangat kaya. 264 33 Ash-Shawa’iqul Muhriqah. 97. Keterangan Imam Ahmad ini terdapat di dalam riwayat Muhammad bin ‘Auf bin Sofyan al-Himashi. 21 Lisân al-‘Arab. “Harus dipahami bahwa wilayat an-nâs (mengurus urusan masyarakat –tertegaknya Khilafah Islamiyyah) merupakan kewajiban teragung diantara kewajibankewajiban agama yang lain. jld. Dr. dan Minhâj as-Sunnah an-Nabawiyyah. al-Hukumah al-Islamiyyah. jld. Shahwah al-Rajul al-Maridh. hal. hal. 61. 3.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah berkata. 23 Imam Ibn Katsîr. 40 Al-Imamah al-‘Uzhma. 375. cet-I. Berikut ini sekelumit saja referensi yang menunjukkan kewajiban Khilafah. hal. hal. 36 Al-Islam wa al-Khilafah. hal. 34 Fath al-Bârî. hal. hal. bahkan agama ini tidak akan tegak tanpa adanya khilafah Islamiyyah. hal. hal. 602. Majmu’ al-Fatawa. 1. 25 Anwâr al-Tanzîl wa Asrâr al-Ta’wîl. 31 Imam al-Qurthubi. 39 Syaikh Sulaiman ad-Diji. Mahmud al-Khalidi. Dhiya’uddin ar-Rais. jld. 30 Ibn Khaldun. 13. 39 Qawaid Nizham al-Hukum fi al-Islam. 22 Imam az-Zamakhsyari. 28 Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah. hal. 124. 17. hal. 1. 1. 27 Al-Isti’âb fi Ma’rifat ash-Ashhâb. 22 Mâtsirul al-Inafah fi Ma’âlim al-Khilafah. 277. 519. 41 Al-Islam wa an-Nashraniyah. 12. hal. 176. 70. 1. hal. jld. jld 1. 31 Al-Muqaddimah. 233. 28. 19 Abu al-A’lâ al-Maududi. hal. 99. hal. 35 Prof. diterjemahkan dalam bahasa Arab oleh Ahmad Idris. 2. 205. 38 Syaikh Dr. Imam Abu Ya’la. 28 Al-Ahkam ash-Shulthaniyah. 36 Syaikh Abdurrahman Abdul Khaliq.” 18 Imam al-Mawardi menyatakan. hal. 32 Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân. 5. 62. 18 Mauqif Bani al-Marjah. jld. 20 Lihat juga Syarhnya oleh az-Zabidi. 19. hal. hal. 1150 dan Târikh al-Khulafâ’. jld. jld. 24 Imam al-Baidhawi. 35 Syarh Shahîh Muslim. hal. 37 Syaikh Abdul Qadir Audah. al-Ahkâm as-Sulthâniyyah. hal. 27 Imam al-Mawardi.

Sebab mendirikan Khilafah adalah tugas yang berat yang tidak akan mampu dipikul oleh individu-individu. sebagaimana praktek politik saat ini yang sangat kotor dan tuna susila. Selain itu.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Metode Mendirikan Khilafah Dalam hal ini perlu ditegaskan 2 (dua) prinsip. Rasulullah Saw telah memberi teladan bagaimana cara mengubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat Islam. langkah-langkah untuk mendirikan Khilafah Islam harus bersandar kepada 2 (dua) prinsip di atas. berdirinya jamaah yang menyeru kepada Islam dan melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar adalah wajib pula berdasarkan firman Allah SWT: “(Dan) hendaklah ada di antara kalian segolongan umat (jama’ah) yang menyeru kepada kebaikan (mengajak memilih kebaikan. ~19~ . Pertama.” (Qs. Sebab mendirikan Khilafah adalah masalah politik sehingga metode yang relevan untuk mendirikannya tentunya adalah melalui pendekatan politik. Karena itu. Karena itu. bukan bersandar kepada selainnya. seluruh aktivitas kaum Muslim wajib bersandar kepada hukum syara’. Dan apa saja yang dilarangnya bagi kalian. ikutilah aku. “Apa saja yang dibawa Rasul untuk kalian.” (Qs. dan dia banyak menyebut Allah (dengan membaca dzikir dan mengingat Allah). umat wajib berkelompok (berjama’ah) untuk mendirikan Khilafah. seperti kepentingan sesaat. Kaidah syara’ menetapkan. Ali-‘Imran [3]: 104). tanpa berkelompok tak mungkin kewajiban mulia itu dapat terealisir secara sempurna. Ali-‘Imran [3]: 31). Akan tetapi maksudnya adalah. Sebab. Mâ lâ yatimmu alwâjibu illâ bihi fa huwa wâjib (Jika sebuah kewajiban tidak sempurna kecuali dengan adanya sesuatu. Kedua. (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan Hari Kiamat. al-Hasyr [59]: 7). al-Ahzab [33]: 21). “Katakanlah: ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah. memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang munkar. maka sesuatu itu wajib pula hukumnya).” (Qs. Keterikatan kepada syari’at Islam adalah kewajiban tiap muslim. sebab politik (siyasah) adalah pemeliharaan dan pengaturan segala urusan umat menurut hukum-hukum syara’. maka ambilah. umat Islam wajib mengambil suri teladan (uswah hasanah) dari Nabi Muhammad Saw dalam masalah ini. Adapun langkah-langkah untuk mendirikan Khilafah dapat disarikan sebagai berikut: Pertama. perjuangan yang dilakukan harus selalu mengacu pada aktivitas pemeliharaan urusan umat. tidak boleh didasarkan kepada pertimbangan-pertimbangan yang non-syara’. Kita wajib meneladani manhaj (metode) Rasulullah Saw ini. Merekalah orang-orang yang beruntung. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian. Kedua. yaitu memeluk Islam). atau akal. Sebab. maka tinggalkanlah.” (Qs. perjuangan umat untuk mendirikan Khilafah harus berdasarkan kepada hukum-hukum syara’. perjuangan harus berada di jalur politik (siyasah). niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian’. hawa nafsu. Atas dasar itu. perjuangan harus dilakukan secara jama’i (berkelompok). Penggunaan jalan politik ini bukan berarti menghalalkan segala cara.

anak-anak yatim atau orang-orang jompo dan sebagainya). dan sebagainya. Jihad tetap berlangsung terus hingga hari Kiamat. Tahapan Berinteraksi dengan Umat (marhalah tafa’ul ma’a al-ummah). perjuangan harus menempuh tahap-tahap (marhalah) yang dicontohkan Rasulullah Saw. mendirikan Khilafah paling tepat dilakukan oleh sebuah kelompok politik.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Dengan demikian. sehingga mereka berpola hidup secara Islam. Rasulullah Saw menjawab.” Kekuatan fisik yang dimaksud dalam hal ini tidak ada hubungannya dengan Jihad. Bahkan tatkala tokoh-tokoh Madinah menawarkan kepada beliau pada Bai’atul Aqabah II agar mereka diizinkan memerangi penduduk Mina dengan pedang. Tahap pertama tersebut. Memang. Dari sirah Rasulullah Saw inilah kita mengambil metode dakwah dan tahapan-tahapannya. Bagi orang yang sudah mengimaninya. Sebab. Beliau berdakwah melalui individu dan menyampaikan kepada orang-orang (yang ada di Makkah dan sekitarnya) apa yang telah disampaikan Allah kepadanya. Berdasarkan sirah Rasulullah Saw tersebut. mentakhrij hadits-hadits Nabi Saw. Selain itu ~20~ . hingga umat menjadikan Islam sebagai permasalahan utamanya. kita dapati terdapat 3 (tiga) tahapan (marhalah) berikut: Pertama. perjuangan tidak menggunakan cara kekerasan (fisik). Beliau bertemu dengan mereka secara rahasia dan membina mereka secara rahasia pula di tempat-tempat yang tersembunyi. Ketiga. semua itu adalah amal shalih. Apabila musuh-musuh kafir menyerang salah satu negeri Islam. yang dilaksanakan untuk menerapkan Islam secara menyeluruh dan mengemban risalah Islam ke seluruh dunia. Beliau melakukan kegiatan-kegiatan tertentu yang tampak dengan jelas tujuan-tujuannya. Tahapan Pengambilalihan Kekuasaan (marhalah Istilâm al-hukm). membantu fakir miskin. Tahapan Pembinaan dan Pengkaderan (marhalah at-tatsqif). Jadi. serupa dengan apa yang telah dilakukan Rasulullah Saw pada tahap awal dakwah beliau yang berlangsung selama tiga tahun. atau kelompok yang menerbitkan buku-buku keislaman. “lam nu’mar bi dzalika ba’du (Kami belum diperintahkan [untuk melakukan yang demikian( perang)]). maka diikat dengan kelompoknya (pengikut Rasul) atas dasar Islam secara sembunyi-sembunyi. aktivitas Rasulullah Saw di Makkah terbatas hanya pada dakwah secara lisan dan tidak melakukan kegiatan apapun yang bersifat fisik sampai beliau Hijrah. atau kelompok yang bergerak dalam peribadatan dan amalan-amalan sunnah. Rasulullah Saw berusaha mengajarkan Islam kepada setiap orang baru dan membacakan kepada mereka apa-apa yang telah diturunkan Allah dan ayat-ayat al-Qur’an. Keempat. Dengan mendalami sirah Rasulullah Saw di Makkah hingga beliau berhasil mendirikan suatu Daulah Islam di Madinah. beserta kegiatan-kegiatan yang harus dilakukannya pada seluruh tahapan ini. Tidak tepat bila mendirikan Khilafah ditempuh melalui jalur selain politik. Ketiga. Namun tidak tepat kalau itu dimaksudkan sebagai langkah atau jalur menuju berdirinya Khilafah. agar umat berjuang untuk mewujudkannya dalam realitas kehidupan. misalnya dengan membentuk milisimilisi bersenjata untuk menyerang penguasa. misalnya jalur yang dilakukan kelompok yang mengadakan kegiatan sosial-kemasyarakatan (seperti membangun sekolah dan rumah sakit. bukan amal salah. yang dilaksanakan untuk membentuk kader-kader yang mempercayai pemikiran Islam dalam rangka pembentukan kerangka tubuh jama’ah/kelompok. Kedua. yang dilaksanakan agar umat turut memikul kewajiban dakwah Islam. maka wajib atas kaum Muslim yang menjadi penduduk negeri itu untuk menghadapinya. penegakan Khilafah tidak ditempuh melalui jalur selain politik. akan tampak jelas beliau menjalani dakwahnya dengan beberapa tahapan yang jelas ciri-cirinya.

mengubur anak-anak perempuan (hidup-hidup). beliau mendapatkan nushrah dari kabilah Aus dan Khazraj yang dengan peristiwa Bai’at Aqabah II. untuk menegakkan hukum Allah di dalam negeri dan menyebarluaskan Islam dengan jalan dakwah dan jihad ke luar negeri. ‘aqidah dan pemikiran mereka. Inilah langkah-langkah yang harus ditempuh umat untuk mengembalikan Khilafah Islamiyah. al-Hijr [15]: 94).Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam mereka melaksanakan ibadah secara sembunyi-sembunyi. kerusakan dan kesalahannya. Rasulullah Saw diperintahkan menyampaikan risalahnya secara terang-terangan. yang pada akhirnya secara berangsur-angsur mereka masuk ke dalam Islam.” (Qs. Dalam sirah Rasulullah Saw. Secara nyata kekuasaan ini dilaksanakan dan dijalankan oleh Rasulullah Saw setelah beliau berhijrah ke Madinah dan menjadikan Madinah sebagai Daulah Islamiyah pertama di muka bumi. Kemudian penyebaran Islam makin meluas dan menjadi buah bibir masyarakat (Makkah). ~21~ . Ayat al-Qur’an tersebut turun dan menyerang apa yang dilakukan orang-orang Quraisy. seperti perbuatan memakan riba. Adapun tahap kedua. mencapnya sebagai orang bodoh. termasuk nenek moyang mereka dan mengungkapkan persekongkolan yang mereka rancang untuk menentang Rasul dan sahabat-sahabatnya. Beliau menyeru orang-orang Quraisy di bukit Shafa dan memberitahu bahwasanya beliau adalah seorang nabi yang diutus. Beliau meminta agar mereka beriman kepadanya. mengungkapkan kepalsuan. Beliau menyerang dan mencela setiap ‘aqidah dan pemikiran kufur yang ada pada saat itu. ditempuh dengan cara melakukan thalabun nushrah (mencari pertolongan dan dukungan) untuk menjamin keberlangsungan dakwah secara aman dan memperoleh kekuasaan. Seiring dengan itu ayat al-Qur’an turun mengecam para pemimpin dan tokoh-tokoh Quraisy. sementara ayat al-Qur’an masih turun secara berangsur-angsur. mengurangi timbangan dan perzinahan. Sedangkan tahap ketiga. dilaksanakan Rasulullah Saw setelah turunnya firman Allah SWT: “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpa linglah dari orang-orang yang musyrik. Beliau memulai menyampaikan dakwahnya kepada kelompok-kelompok dan kepada individu-individu. mereka akhirnya menjadikan Rasulullah Saw sebagai pemimpin mereka dan menyerahkan kekuasaan kepada beliau. Beliau menentang orang-orang Quraisy melawan tuhan-tuhan mereka. yakni pengambilalihan kekuasaan.

kolusi antara pengusaha dan pejabat. monopoli. seperti perilaku malas bekerja. melalui momentum Ramadhan yang suci ini. Dalam Islam kepedulian terhadap sesama ini diikat kokoh dengan tali persaudaraan Islam (ukhuwah Islamiyyah). al-Hasyr [59]: 7). pada dasarnya kemiskinan berpangkal pada masalah distribusi kekayaan yang timpang dan tidak adil. Sedangkan kemiskinan natural adalah kemiskinan yang terjadi secara alami. Karena itu. kita harus menghidupkan ukhuwah Islamiyyah di tengah-tengah masyarakat. Kemiskinan dapat digolongkan dalam tiga kategori. kemiskinan struktural. Dari Ibn Umar dituturkan. tidak hanya bagi negara-negara berkembang dan negara-negara miskin. dan mengkoreksi kebijakan pemerintah yang tidak adil. dan lain-lainnya. baik karena kebijakan ekonomi pemerintah. Dari ketiga katagorisasi kemiskinan di atas. Mendorong Ukhuwah Islamiyyah Salah satu cara untuk mengurangi kemiskinan adalah membangun kepedulian antara sesama anggota masyarakat. Islam menekankan pengaturan distribusi ekonomi yang adil agar ketimpangan di dalam masyarakat dapat dihilangkan.RAMADHAN: MOMENTUM MENANGGULANGI KEMISKINAN Kemiskinan merupakan salah satu momok dalam kehidupan umat manusia. ia benar-benar menjadi momok menakutkan. dia tidak menzhaliminya dan tidak menyerahkannya kepada musuh. bahwa Rasulullah Saw bersabda. Siapa saja yang memenuhi kebutuhan ~22~ . penguasaan faktor-faktor produksi oleh segelintir orang. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara …” (Qs. Benar. Kemiskinan struktural disebabkan oleh kondisi struktur perekonomian yang timpang dalam masyarakat. antara lain yang disebabkan oleh faktor rendahnya kualitas sumber daya manusia dan terbatasnya sumber daya alam. mendorong mereka membelanjakan hartanya di jalan Allah. kemiskinan kultural.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam BAB II . Allah SWT berfirman: “… supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu…” (Qs. Adapun kemiskinan kultural muncul karena faktor budaya atau mental masyarakat yang mendorong orang hidup miskin. maka. “Muslim itu saudara seorang muslim. rendahnya kreativitas dan tidak ada keinginan hidup lebih maju. al-Hujarât [49]: 10). dan kemiskinan natural. tetapi juga bagi negara-negara maju. Agar harta tersebut tidak berhenti di tangan orang-orang kaya saja. Intinya kemiskinan struktural ini terjadi karena faktor-faktor buatan manusia.

Allah SWT menganggap orang yang tidak peduli terhadap sesamanya sebagai orang yang tidak beriman. ~23~ . 42 HR. puasa. bersabda. Sementara itu.” [HR. barangbarang mewah tetap mendapatkan pasarannya di Indonesia. Masyarakat Indonesia yang notabene mayoritas Muslim tidak merasakan dirinya sebagai satu tubuh. dan an-Nasâ’i. Mereka tidak mengetahui bahwa hubungan terhadap sesama manusia yang dilandasi ketaqwaan dalam urusan kehidupan sehari-hari seperti masalah kepedulian sosial juga merupakan ibadah bahkan wajib dilaksanakan. mengapa orang-orang yang mengaku beragama Islam tetapi tidak peduli terhadap yang lainnya? Di antara mereka yang tidak peduli tersebut tidak hanya sekedar “Islam KTP” saja. Lantas. Kondisi tersebut mengisyaratkan ada sesuatu yang salah dalam pemikiran dan pola hidup masyarakat. Muslim]. terlebih lagi di kota-kota besar. Allah SWT akan membebaskannya dari suatu kesulitan di hari kiamat…” 42 “Seorang Muslim adalah saudara (akhun) bagi Muslim lainnya. Penderitaan sebagian masyarakat tidak turut dirasakan sebagian masyarakat lainnya yang hidup berkecukupan. pakaian dan sepatu. Kedangkalan pemahaman tersebut menyebabkan seseorang sudah merasa cukup menunaikan ibadah mahdah saja. Permasalahan ini berpangkal pada dangkalnya pemahaman mereka terhadap ‘aqidah Islam. Muslim]. dan siapa saja yang membebaskan seorang muslim dari kesulitan.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam saudaranya. Ketidakpedulian ini diperparah dengan sikap sebagian masyarakat yang menerapkan pola hidup hedonistik dan konsumtif. Hal ini menjadi sekat yang menghalangi kepedulian antar anggota masyarakat. Allah akan memenuhi kebutuhannya. seperti sholat. Muslim. Kekuatan persaudaraan Islam diibaratkan sebagai satu tubuh. Rasulullah Saw bersabda: “Perumpamaan kaum Muslim dalam kasih sayang dan tolong-menolong mereka adalah seperti satu tubuh. maka kitapun turut merasakan penderitaan mereka sehingga mendorong kita untuk menolong mereka. Kepedulian terhadap sesama inilah yang sangat jarang kita temui saat ini. Jika salah satu anggota tubuh menderita sakit maka seluruh tubuh ikut menopang dengan terus berjaga tidak tidur semalaman dan merasakan demam. zakat dan haji. Kehidupan masyarakat disibukkan dengan rutinitas pekerjaan hingga perhatian mereka terhadap sesamanya terabaikan. Nabi Muhammad Saw dalam sebuah hadits qudsi. Abû Dâwud.” [HR. Begitu pula jika ada saudara kita menderita karena tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. “Tidak beriman kepadaKu. Bukan pemandangan aneh di Indonesia bahwa pada saat dampak krisis masih sangat terasa dan sebagian besar masyarakat memikul beban hidup yang sangat berat. Ahmad. Bukhâri. at-Tirmidzi. mobil-mobil mewah tetap berseliweran di jalan raya. banyak pula yang berbelanja di Orchard Road Singapura walau hanya sekedar membeli perhiasan. di mana jika ada satu anggota badan yang sakit maka seluruh badan merasakan sakit pula. tetapi juga mereka yang rajin melaksanakan sholat dan menunaikan ibadah haji.

Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam orang yang tidur dalam keadaan kenyang. memberi makan fakir miskin. berdasarkan firman Allah: 43 44 HR. Sudah seharusnya anggota masyarakat yang berkecukupan peduli terhadap orang-orang miskin.” 44 Menafkahkan harta di jalan Allah berarti mengeluarkan harta dan membelanjakannya pada hal-hal yang diwajibkan dan disunnahkan Allah. ~24~ . Atas dasar itu. dengan landasan bukan saja karena hal tersebut sebagai suatu kewajiban tetapi muncul dari kesadaran bahwa kita sendirilah yang turut memberikan andil atas kemiskinan yang menimpa saudara-saudara kita. Allah berfirman: “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian. mengeluarkan zakat. Kamu tidak akan dicela karena kecukupan. HR.” 43 Karena itu. sesungguhnya jika kamu memberikan kelebihan hartamu maka itu sangat baik bagimu dan jika kamu menahannya.” (Qs. wajar jika Allah menyuruh kita menafkahkannya untuk orang lain. Rasulullah Saw bersabda: “Wahai anak Adam. sementara ia tahu tetangganya kelaparan. niscaya Allah akan memberinya minuman Rahiqul Makhtum. dan tangan yang di atas itu lebih baik daripada tangan yang di bawah. adz-Dzâriyât [51]: 19).” (Qs. Rasulullah Saw bersabda: “Siapa saja di antara orang mukmin yang memberi makan saudaranya sesama mukmin yang lapar. Muslim. Allah SWT berfirman: “Dan nafkahkanlah (harta kalian) di jalan Allah. untuk membuktikan kepada Allah bahwa kita beriman tidak cukup hanya dengan ibadah ritual saja.” Dalam hadits lain. at-Tirmidzi. al-Baqarah [2]: 195). memberikan sedekah bagi orang-orang yang membutuhkan dan memberikan harta untuk kepentingan umum. dari Abu Ummah Shahadi bin ‘Ajlan. dengan sanad hasan. menghidupi anak yatim. seperti menafkahi keluarga. niscaya Allah akan memberinya buah-buahan Surga. tetapi hak orang-orang miskin. Ini karena Islam memandang bahwa seluruh harta yang ada di dunia ini (bahkan seluruh alam semesta ini) sesungguhnya adalah milik Allah. itu sangat jelek bagimu. Siapa saja di antara orang mukmin yang memberi minum saudaranya sesama mukmin yang dahaga. Sebagian harta yang kita miliki sebenarnya ada yang bukan menjadi hak kita. Dahulukan orang yang menjadi tanggunganmu. Membelanjakan Harta di Jalan Allah Implimentasi kepedulian sosial yang dibingkai dalam ukhuwah Islamiyyah adalah dengan membelanjakan harta di jalan Allah.

Akan tetapi. Allah SWT berfirman: “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah. (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Mereka mengamankan dan membungakan uangnya. Rasulullah bersabda. Firman Allah SWT: “Pada hari dipanaskan emas dan perak itu dalam neraka jahannam. Dari ayat ini dapat dipahami. bahwa harta yang dikaruniakan Allah kepada manusia sesungguhnya merupakan pemberian Allah yang dikuasakan kepadanya. Rasulullah mengabarkan kecelakaan bagi mereka. karena mereka menyimpan harta (menimbun) tanpa tujuan yang dibenarkan agama. an-Nûr [24]: 33). penimbunan harta hanya akan membatasi peredaran harta pada segelintir orang saja. al-Hadîd [57]: 7). Semua manusia mempunyai hak pemilikan. kemudian Rasulullah Saw bersabda. at-Taubah [9]: 35). lambung dan punggung mereka. harta mereka menjadi tidak produktif dan tidak bermanfaat bagi orang lain. Allah sangat mencela orang-orang yang kikir mengeluarkan hartanya untuk menolong sesamanya. “Dua kali celaka. Penguasaan (istikhlaf) ini berlaku umum bagi semua manusia. sementara di dalam kain penutup badannya terdapat 1 dinar.” (Qs. Ayat tersebut mengancam orang-orang yang menyimpan uangnya dengan tujuan mengendapkannya meskipun mereka telah mengeluarkan zakat dari harta yang disimpannya itu. lalu dibakar dengannya dahi mereka. melainkan orang miskin yang untuk membayar zakat saja belum sampai nishabnya. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu di lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya (jangan terlalu kikir dan jangan boros) karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. atTaubah [9]: 34). Sebab.” (Qs.” Kemudian ada lagi yang meninggal dan ditemukan 2 dinar. tetapi bukan pemilikan yang sebenarnya.” (Qs.” (Qs. Maksud emas dan perak dalam ayat tersebut adalah harta yang berujud mata uang. Hal itu dipertegas dengan mendasarkan pada firman Allah: “Dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. pada saat masih sebagian besar masyarakat sangat membutuhkan bantuan dari saudara-suadaranya yang berkecukupan. Bahkan dalam suatu riwayat pernah kedapatan seorang ahlu shuffah yang meninggal. maka beritahukanlah kepada mereka.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam “Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakannya kepadamu. Sungguh sangat ironis. Padahal. al-Isrâ’ [17]: 29).” Para ahlu shuffah tersebut bukanlah orang-orang kaya. Allah SWT dengan tegas melarang penimbunan harta.” (Qs. ~25~ . Akibatnya. “Sekali celaka. banyak sekali orang Indonesia yang “mengendapkan” uangnya dalam bentuk tabungan dan deposito di dalam dan di luar negeri. bukan ditujukan untuk mempersiapkan kebutuhan yang dibenarkan agama.

meskipun Orde Baru berhasil menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. pemerintah adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat. kemiskinan yang menimpa masyarakat lebih disebabkan karena kekeliruan sistemnya. Berbagai produk perundang-undangan juga sangat menguntungkan investor asing dan cenderung merugikan rakyat kecil. Bukhâri dan Ahmad. Kepemimpinan adalah amanat untuk mengurus orang-orang atau rakyat yang dipimpin. Keadaan tersebut menggambarkan bahwa para pemimpin kita tidak amanah dan tidak mampu mewujudkan sistem yang bisa menjamin kesejahteraan masyarakat. dimana orang-orang akan berperang di belakangnya dan menjadikannya sebagai pelindung (bagi dirinya). Sementara itu. penegakkan hukum semakin jauh dari harapan. kuantitasnya hendaknya ditingkatkan dengan cara dengan meningkatkan jumlah shadaqah dan infaq. Akibatnya. Pembelanjaan harta di sini hendaknya tidak hanya sebatas membayar zakat yang kuantitasnya dibatasi. aset-aset negara yang produktif dan menguasai hajat hidup orang banyak. Korupsi menggurita dan terang-terangan dilakukan.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Untuk itu. kemiskinan juga harus dituntaskan melalui kebijakan ekonomi pemerintah yang tepat. Pada masa Orde Reformasi sekarang. Koreksi Kebijakan Pemerintah Di samping membangun kepedulian sosial di tengah-tengah masyarakat dengan ukhuwah Islamiyyah. dari sahabat Abdullah bin Umar ra.” 46 45 46 HR. ~26~ . dan dia akan dimintai pertanggungjawaban akan rakyatnya (yang digembalakannya). dijual kepada asing. Muslim. dalam hal ini kebijakan pemerintah. sudah seharusnya kita. apalagi menciptakan pemerataan ekonomi. HR. Para pejabat pemerintah dan elit politik lainnya saling sikut dan sibuk memikirkan kedudukan politiknya daripada memperhatikan secara serius bagaimana memperbaiki kehidupan rakyat. Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Imam itu adalah laksana penggembala. baik yang diberikan secara langsung kepada fakir miskin maupun yang diberikan dalam bentuk modal produktif. Selama Orde Baru. dari Abu Hurairah ra. terutama yang memiliki kelebihan harta agar peduli terhadap sesama dengan cara membelanjakan harta di jalan Allah. Akan tetapi. kebijakan ekonomi pemerintah bertumpu pada pertumbuhan ekonomi bukan pada pemerataan ekonomi. Pada dasarnya. Memang. seperti Indosat dan PT Semen Gresik. Sementara itu. Rasulullah Saw mengumpamakan pemimpin laksana penggembala (ra’in). kondisi Indonesia sekarang ini semakin kacau. dari al-A’raj. pemerintah gagal mengurangi kesenjangan. kebijakan ekonomi pemerintah semakin jauh keberpihakannya pada rakyat. Dalam paradigma Islam.” 45 “Sesungguhnya imam (pemimpin) itu adalah laksana perisai. Berbagai subsidi yang sangat dibutuhkan rakyat satu persatu mulai dikurangi dan dicabut.

Adapun langkah-langkah yang bisa dilakukan pemerintah untuk mewujudkan hal ini adalah sebagai berikut. untuk melakukan koreksi diri dan meningkatkan amal ibadah secara terus menerus meskipun bulan Ramadhan telah berlalu. Sebab. Kedua. Kebijakan ini langsung diarahkan kepada setiap individu. terpilihnya seseorang sebagai pemimpin adalah suatu pertaruhan antara neraka dan surga. ketika seorang terpilih sebagai bupati. Sebab. sehingga dengan memecahkan masalah ini. maka keluarga dekatnya berkewajiban memberikan bantuan. menjadi pemimpin dan penguasa bukan untuk bersenang-senang ataupun untuk mewujudkan tujuan-tujuan yang tidak berfaedah menurut agama. Pemerintah bertanggungjawab terhadap pemenuhan kebutuhan sandang.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Oleh karena itu. termasuk para pejabat pemerintah. kemiskinan tiap individu terpecahkan. seharusnya fungsi pemerintahan adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat. dengan adanya pendidikan bagi semua orang. Ironisnya. Padahal. Sebagaimana yang dicontohkan Nabi Saw dalam sabdanya. Pemerintah juga harus memberikan kesempatan yang sama kepada rakyat untuk mendapatkan pendidikan. agar para pejabat dan staf di bawahnya mengikuti jejak dirinya. pemerintah harus meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan mendorong perekonomian mereka.” Demikianlah. seperti pakaian. makanan. makanan dan perumahan kepada rakyatnya. Adapun mengenai pelayanan pendidikan dan kesehatan. pemerintah harus melakukan kebijakan yang bisa menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok bagi setiap anggota masyarakat. harus memberikan akses yang seluasluasnya kepada masyarakat dalam hal permodalan. Jika keluarga dekatnya juga tidak mampu. mereka beserta para pendukungnya bersuka cita dan mengucapkan selamat. maka kewajiban itu harus dipikul oleh negara. “… sekiranya Fathimah putri Rasulullah mencuri. pasti kopotong tangannya. walikota. maka setiap anggota masyarakat dapat meningkatkan skill dan kecerdasan yang sangat dibutuhkan untuk bekerja. atau untuk bidangbidang profesi lainnya. Ketegasan ini harus dilandasi oleh keteladanan sang pemimpin. ajaran Islam dalam memerangi kemiskinan. Hendaknya bulan Ramadhan ini benarbenar menjadi momentum bagi kita semua. mereka akan memikul amanah yang sangat berat. misalnya pembangunan dan industri negara. pemerintah harus menegakkan hukum dan memberantas korupsi dengan tegas. Ini berarti dalam bidang ekonomi pemerintah harus mengupayakan kesejahteraan bagi setiap rakyatnya dengan mengatur distribusi kekayaan secara adil. perumahan. Apakah dengan kepemimpinannya. Pertama. Bagi rakyat yang tidak mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok tersebut. ia akan mengangkat rakyatnya pada derajat yang lebih tinggi ataukah justru berbuat zalim terhadap mereka. hendaknya diberikan secara gratis oleh negara kepada setiap anggota masyarakat. ~27~ . Ketiga. gubernur. Berdasarkan hadits Nabi Saw di atas. presiden. Pemerintah melalui kebijakan fiskal dan regulasi. pendidikan dan kesehatan. ketua DPR dan MPR. sumber daya dan pemasaran.

(ia diganjar pahala) sama dengan orang yang mengerjakan 70 kali kewajiban tersebut di bulan yang lain. tidak semua dari kami memiliki makanan berbuka untuk orang-orang yang berpuasa. sedangkan sabar itu pahalanya adalah surga (al-jannah).” Khutbah singkat Rasul Saw tersebut berisi sejumlah informasi dan pesan penting yang harus diperhatikan dan dilaksanakan oleh setiap Mukmin. dan akhirnya adalah pembebasan dari neraka. Karena itu perbanyaklah empat perkara di bulan Ramadhan ini. dan ia mendapatkan pahala seperti pahala orang berpuasa yang diberinya makanan berbuka itu tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu. sesungguhnya kalian akan dinaungi oleh suatu bulan yang agung lagi penuh berkah. niscaya Allah mengampuni dosanya dan membebaskannya dari api neraka. yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan.” Rasulullah Saw pun menjawab. dan pada saat yang sama gambaran utuh kehidupan Islam telah hilang dari muka bumi ini. pertengahannya adalah ampunan. (ia diganjar pahala) sama seperti menunaikan kewajiban (fardhu) di bulan yang lain. hal. Siapa saja yang mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan (sunnah) di dalamnya. 217-218).KHUTHBAH RASULULLAH SAW Imam Ibn Khuzaimah dalam kitab at-Targhib (jld. Siapa saja yang memberi minum kepada orang yang berpuasa niscaya Allah akan memberinya minum dari air kolamku dengan suatu minuman yang dia tidak merasa haus lagi sesudahnya hingga ia masuk surga. Dua perkara yang dengannya kalian menyenangkan Tuhan kalian dan dua perkara lainnya sangat kalian butuhkan. Dua perkara yang kalian lakukan untuk menyenangkan Tuhan kalian adalah: mengakui dengan sesungguhnya bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan kalian memohon ampunan kepadaNya. maka perbuatan itu menjadi pengampunan atas dosa-dosanya. Ada tiga belas informasi dan pesan penting dari khutbah singkat Rasul Saw di atas. bahwa Rasul Saw pada hari terakhir bulan Sya’ban berkhutbah di hadapan kaum Muslim. bulan yang Allah telah menjadikan puasaNya suatu kewajiban dan qiyam (sholat) pada malam harinya suatu tahawwu’ (ibadah sunnah yang sangat dianjurkan). Ini didasarkan pada kenyataan. “Allah memberikan pahala tersebut kepada orang yang memberikan sebutir korma sekalipun atau sekedar seteguk air atau sehirup susu. 2. kemerdekaan dirinya dari api neraka. sebagai berikut: “Wahai manusia. Adapun dua perkara yang sangat kalian butuhkan adalah kalian memohon surgaNya dan berlindung dari api neraka.” Para sahabat berkata. Siapa saja yang meringankan beban dari orang yang dikuasainya (hamba sahaya atau bawahannya). Ramadhan adalah bulan sabar.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam BAB III . Bulan Ramadhan ini adalah bulan yang permulaannya adalah rahmat. bahwa sekarang ini kita hidup pada suatu masa yang jauh dari Rasul. yaitu: Pertama. Dan siapa saja yang menunaikan kewajiban di bulan Ramadhan. Ramadhan itu adalah bulan memberikan pertolongan dan bulan Allah menambah rizki para mukmin di dalamnya. Siapa saja yang pada bulan itu memberikan makanan berbuka kepada orang yang puasa. bulan Ramadhan adalah bulan agung (Syahrun ‘Azim) yang penuh berkah (Syahrun Mubarak) yang mempunyai bobot lebih dibanding sebelas bulan lainnya dan disebut sebagai penghulu ~28~ . meriwayatkan sebuah hadits dari sahabat Salman ra yang mengatakan. “Ya Rasululullah.

Sebab. selain mewajibkan ibadah puasa di siang hari. bahwasanya ia berkata. Orang yang mengerjakan amalan fardhu di bulan itu.” (Qs. dan lain-lain diganjar pahala setara dengan sholat fardhu pada bulan lain. Kedua. 4. Walhasil. Lalu Allah SWT menurunkan firmanNya. bahwa ada seorang lelaki Bani Israil yang setiap malam selalu sholat hingga pagi hari. 47 Ketiga. Barangsiapa yang mempuasai dan mendirikannya karena iman dan mengharapkan ridha Allah SWT niscaya ia keluar dari dosa-dosanya seperti pada hari ia dikeluarkan dari ibunya. Hal itu dilakukannya secara terus-menerus selama seribu bulan. delapan kali sebulan penuh selama 29 hari dan sekali selama 30 hari. Orang yang membayar shadaqah dianggap sama dengan membayar zakat pada bulan lain. Sedangkan sholat-sholat sunnah seperti rawatib. Kadang-kadang beliau terus-menerus berbuka sampai-sampai kami mengatakan bahwa beliau tidak berpuasa (sunnah). kemudian pada siang hari ia selalu berjihad melawan musuh-musuh Allah hingga sore hari. Oleh karena itu. beramal shalih pada malam kemuliaan di bulan Ramadhan itu pahalanya lebih baik dan lebih besar daripada pahala amalan orang Bani Israil tersebut. jika ia melaksanakan sholat lima waktu terus menerus selama sebulan.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam segala bulan (Sayidus Syuhur). 173). Keempat. Pada bulan-bulan lain ibadah puasa hukumnya hanyalah sunnah dan bilangan harinya tidak sampai sebulan penuh. Oleh karena itu. al-Baqarah [2]:183) yang tujuannya adalah agar kita meningkatkan keimanan dan ketaqwaan semaksimal mungkin. Imam Bukhâri dalam kitab Fath al-Bârî (jld. Siapa saja yang umrah di bulan Ramadhan akan mendapatkan pahala setara dengan yang pergi haji. al-Qadar [97]: 3). pada bulan ini Allah SWT mewajibkan shaum sebulan penuh (lihat Qs. Imam Ibn Jarir meriwayatkan suatu hadits dari Mujahid yang mengatakan. Sedangkan yang membayar zakat dinilai seperti 70 kali membayar zakat pada bulan lain. Siapa saja melakukan amalan sunnah di bulan Ramadhan akan dinilai sama dengan melakukan amalan wajib di bulan lain. Allah SWT menawarkan pahala luar biasa kepada kaum Muslim yang rajin beribadah di bulan Ramadhan. kaum muslimin harus menyiapkan diri memasuki bulan ini dengan penyambutan yang luar biasa. ~29~ . Saya tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa sebulan penuh selain bulan Ramadhan dan saya tidak pernah melihat beliau banyak berpuasa lebih dari bulan itu pada bulan Sya’ban. “Rasulullah Saw kadang-kadang terus-menerus berpuasa (sunnah) sampai-sampai kami mengatakan bahwa beliau tidak berbuka. Rasul Saw bersabda. 48 Karena 47 48 Lihat Asbabun Nuzul Surat al-Qadar dalam Tafsîr Jalâlain. Terawih malam hari. Lihat kitab Hakadza Nashumu. atau sekitar sekitar 83 tahun 4 bulan). “Sesungguhnya Allah telah memfardhukan shaum di bulan Ramadhan kepada kalian dan aku syari’atkan kepada kalian agar mendirikannya (dengan sholat Terawih). Kelima. meriwayatkan hadits dari ‘Aisyah ra. “Lailatul Qadar (malam kemuliaan) itu lebih baik daripada seribu bulan. tahiyatul masjid. di dalam keagungan bulan Ramadhan terdapat suatu malam yang sangat utama bagi ummat manusia yaitu Lailatul Qadar (malam kemuliaan yang nilainya lebih baik dari 1000 bulan. dilipatgandakan 70 kali pahalanya. akan dinilai oleh Allah SWT seperti mengerjakannya dalam 70 bulan.” Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau Saw ibadah puasa Ramadhan selama hidup sembilan kali. Tidak boleh mereka melewatkannya begitu saja atau menjalaninya biasa-biasa saja. dhuha. di bulan Ramadhan kaum Muslim panen pahala. Allah SWT menganjurkan ibadah sunnah di malam hari berupa qiyamul lail yang kemudian dikenal dengan sholat Terawih. hal.” [HR. an-Nasâ’i dan Ahmad].

bahkan. atau satu hirup susu. rahmat Allah juga diberikan kepada orang-orang miskin yang tidak bekerja atau tidak memiliki pekerjaan. Pada bulan Ramadhan biasanya mereka mendapatkan sedekah dan zakat yang jumlahnya lebih banyak dibandingkan bulan-bulan yang lain. Ramadhan adalah bulan yang hari-hari pertamanya adalah rahmat (kasih sayang) Allah SWT kepada kaum Muslim. dengan rahmat Allah akan ditambah rizkinya. kita dianjurkan untuk memberi makan untuk berbuka bagi orang-orang yang mengerjakan ibadah puasa. atau barangkali untuk sekarang adalah pegawai dan bawahan. ketiga.” Kedelapan. diberi pahala setara dengan orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi pahala yang bersangkutan sedikitpun. pertama. Keenam. Ini sesuai dengan firman Allah SWT. Sebab jihad yang sangat tinggi nilainya disetarakan dengan 70 kali jihad di bulan lain. Mereka pun diingatkan oleh hadits Rasulullah Saw. Ketujuh. Ramadhan adalah bulan memberikan pertolongan (Syarul Muwâsah). adz-Dzâriyât [51]: 19). Ramadhan disebut juga dengan bulan kesabaran (syahrul shabri). Kesebelas. az-Zumar [39]: 10). Namun demikian. Ibadah puasa sendiri tak terhitung pahalanya dan Allah sendiri yang akan membalasnya. misalnya. Kaum Mukmin yang sedang berpuasa dan bekerja mencari nafkah hingga kepayahan. Pada bulan ini kaum Muslim sangat dianjurkan mengulurkan tangan mereka kepada kaum lemah. tidak menutup kemungkinan. membebaskan dirinya dari siksa api neraka. bahwa pada bulan Ramadhan. Dalam pidato di atas Rasulllah Saw menyebutkan ganjaran sabar adalah surga. “Tidaklah beriman kepadaku orang yang tidur nyenyak dan kenyang di malam hari sementara tetangganya kelaparan padahal ia mengetahui hal itu. menggugurkan dosa-dosanya. Allah menurunkan rahmatNya dengan membuka pintupintu surga dan menutup pintu-pintu neraka. “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. berlaku bagi siapapun meski hanya sekedar memberikan satu butir kurma. Ramadhan adalah bulan dimana Allah SWT menambahkan rizkiNya kepada seorang Mukmin. baik yang meminta-minta maupun yang tidak mau mengemis (Qs. yakni para fakir miskin dan orang-orang yang sedang kelaparan.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam begitu besarnya pahala. tidak heran kita membaca sejarah kaum muslimin sejak masa Rasulullah Saw tidak menghentikan ibadah perang jihad fi sabîlillâh yang sangat berat itu di bulan Ramadhan. Kesepuluh. budak untuk jaman dahulu.” (Qs. hari-hari pertengahannya adalah hari pengampunan (maghfirah). dan mereka disadarkan bahwa di dalam harta mereka terdapat hak kaum lemah. Pada bulan inilah sikap kepedulian sosial kaum Muslim ditempa. seteguk air. dan hari-hari terakhirnya adalah pembebasan kaum Muslim dari api neraka. Mereka tetap berjihad dan berpuasa. Kesembilan. Dalam suatu hadits disebutkan. Ketentuan semacam ini tidak hanya berlaku bagi orang-orang kaya yang sanggup memberikan makanan layak untuk berbuka puasa bagi orang berpuasa. kedua. meringankan beban orang yang dikuasainya. ~30~ . Dalam suatu hadits Rasul Saw menggambarkan puasa sebagai separuh kesabaran (nisfu sabri) dan ganjarannya adalah surga. Perbuatan seperti ini adalah perbuatan mulia yang akan dibalas oleh oleh Allah SWT dengan tiga balasan sekaligus. yakni mamluk (orang-orang yang dikuasai).

yakni meyakini dengan sungguhsungguh. 49 Inilah tiga belas perkara penting yang bisa kita pahami dari khuthbah Rasulullah Saw. Oleh karena itu. Astaghfirullah. fisik dan intelektual agar kadar ketaqwaan kita meningkat dengan pesat. peminumnya tentunya habis menjalani pemeriksaan di pos-pos pemberhentian (mauqif) di padang mahsyar yang lamanya 500 tahun.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Keduabelas. al-Hajj [22]: 47. ada empat perkara yang dipesankan Rasul Saw agar diperbanyak kaum muslimin di bulan Ramadhan. tidak ada alasan lagi bagi kita untuk menyia-nyiakan bulan Ramadhan. tidak lain merupakan wahana penggemblengan mental. ~31~ . As’alukal jannata wa a’uzubika minannâr. dan siapa saja yang meminumnya tidak merasa haus lagi sesudahnya hingga ia masuk surga. di bulan Ramadhan. yakni memohon surgaNya dan berlindung dari api neraka. Pada dasarnya. Abû Dâwud yang sesuai dengan keterangan Qs.” Ketigabelas. dianjurkan memperbanyak membaca kalimat “Asyhadu an lâ ilaha illa al-Allah. siapa saja yang memberi minum kepada orang-orang yang berpuasa akan mendapatkan ganjaran yang tak ternilai harganya. bahwa tiada tuhan selain Allah dan istighfar (memohon ampunan) kepadaNya. dan menyempurnakan rukun-rukun dan sunnah-sunnahnya. kita wajib menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan ini dengan selalu memperhatikan. Oleh karena itu. hakikat puasa Ramadhan yang telah diwajibkan kepada kaum Mukmin. yakni akan mendapatkan minuman dari Allah SWT di akhirat nanti. Dua perkara sisanya sangat dibutuhkan kaum Muslim. memenuhi. orang yang mendapatkan minuman itu akan merasakan kesegaran luar biasa. Tentunya. Minuman itu diambil dari telaga (haudh) Rasulullah Saw. Lebih-lebih lagi. atau tidak melaksanakan ibadah semaksimal mungkin. Dua perkara sangat disenangi oleh Allah SWT. sehingga kita benar-benar lolos dari medan ujian kehidupan dunia dengan meraih predikat muttaqin. Jika demikian. 49 Lihat HR. Dan kita jangan sampai terjatuh pada perkara-perkara yang membatalkan puasa maupun yang membuat puasa kita sia-sia.

ada beberapa persiapan yang patut dilakukan. melainkan bulan untuk berlomba-lomba meningkatkan kualitas ubudiyah dan meraih derajat tertinggi di sisi Allah SWT. kita sering melanggar hukum-hukum syari’at yang terkait dengan ibadah shiyam di bulan Ramadhan. ~32~ . bahwa Ramadhan bukanlah bulan penuh beban. dan ampunan dari Allah SWT. benar-benar siap menjalankan ibadah di bulan Ramadhan sesuai dengan tuntunan Allah dan RasulNya. ketika bulan yang istimewa ini tiba.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam BAB IV . kita memperlakukan dan menyambutnya seperti bulan-bulan biasa saja. dia akan memahami dengan benar. Bahkan. Persiapan tersebut dilakukan agar kita berhasil mendapatkan buah Ramadhan yang mahal dan agar kita dapat melakukan amaliyah di bulan Ramadhan secara optimal dan maksimal. Persiapan Fikriyah (Ilmu) Agar kita dapat melakukan aktivitas kebaikan di bulan Ramadhan secara optimal maka diperlukan pemahaman yang mendalam mengenai fiqh ash-shiyâm. Atas dasar itu. Dengan pemahaman fiqh ash-shiyâm yang baik. akan tetapi kita memang sudah siap dengan persiapan yang matang untuk berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan di bulan itu. kita tidak hanya merasa senang dan gembira dengan datangnya Ramadhan. Na’udzubillah min dzalik! Tidak hanya itu saja. berkah. Sehingga. bahwa datangnya bulan istimewa ini justru akan mendatangkan banyak beban. Akhirnya. dan menyadari sepenuhnya bahwa Ramadhan adalah bulan untuk mendekatkan diri pada Allah SWT. Ini ditujukan agar kita secara fikriyyah. Kesiapan jiwa yang sempurna. sehingga secara kejiwaan kita sudah siap menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan hati gembira. Agar kita tidak mengulangi lagi kesalahan-kesalahan sebelumnya. Oleh karena itu. hingga tercipata sebuah persepsi di dalam diri kita. kadang-kadang kita menganggap. persiapan fikriyah tidak kalah pentingnya bagi seorang Mukmin agar ia benar-benar mendapatkan rahmat.PERSIAPAN MENYAMBUT BULAN RAMADHAN Seringkali kita tidak mempersiapkan diri semaksimal mungkin dalam menyambut bulan Ramadhan. seorang Mukmin wajib membekali dirinya dengan pengetahuan yang utuh tentang fiqh ash-shiyâm. mana perbuatan yang dapat merusak nilai shiyamnya dan mana perbuatan yang dapat meningkatkan nilai dan kualitas shiyamnya. Persiapan Nafsiyah (Kejiwaan) Yang dimaksudkan dengan persiapan nafsiyyah adalah persiapan–persiapan yang dilakukan untuk menyiapkan jiwa dan moral kita. kita juga tidak membekali diri dengan pemahaman yang utuh dan menyeluruh tentang hukum-hukum syari’at yang berhubungan dengan bulan Ramadhan. Akibatnya.

sangat dianjurkan untuk memberi santunan kepada orang lain. lebih merata ketimbang sentuhan angin terhadap benda-benda di sekitarnya. baik untuk melaksanakan shiyamnya. Hal ini sebagaimana diceritakan oleh Ibn ‘Abbas ra: “Sungguh. membiasakan diri dengan perilakuperilaku yang baik kepada anak-anak kita merupakan bentuk kepedulian kita terhadap masa depan anak-anak. mengantarkan anak untuk berpuasa dan memahami maknanya. tentunya seseorang akan dapat melakukan ibadah-ibadah tersebut tanpa satupun yang terlewatkan. Sebab. Namun demikian. Santunan dan sikap ini sudah barang tentu tidak dapat dilakukan dengan baik. Akan tetapi.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Persiapan Jasadiyah (Fisik) Tidak dapat dipungkiri bahwa aktifitas Ramadhan banyak memerlukan kekuatan fisik. Keberhasilan kita dalam mengkondisikan anak. betapapun kecilnya. shadaqah dan zakat akan dilipat gandakan sebagaimana kehendak Allah SWT. Di dalam bulan ini. seteguk air. tilawahnya dan aktifitas ibadah lainnya. memerlukan persiapan sejak ~33~ . Persiapan Ramadhan Untuk Anak Kita Dalam menyambut bulan Ramadhan. bahkan dapat terlewatkan begitu saja.”[HR. manakala ia memberi kepada orang lain yang berpuasa. kadangkala kita lupa. atau bahkan tidak pernah mempersiapkan anak-anak kita sejak usia dini untuk "belajar" berpuasa. Rasulullah Saw pada bulan Ramadhan sangat dermawan dan pemurah. Muttafaqun ‘alaih]. bila kondisi fisik tidak prima akan terbuka peluang untuk tidak melaksanakannya amaliyah tersebut dengan maksimal. bukanlah persiapan yang ditujukan untuk membeli pakaian baru. Sebab. mengumpulkan bekal perjalanan pulang kampung atau untuk membeli kue-kue iedul fitri. shadaqah dan zakat. persiapan materi di sini adalah persiapan materi yang ditujukan untuk infaq. Padahal bila ibadah-ibadah itu terlewatkan. Persiapan Materi Persiapan materi di sini. nilai balasan infaq. atau sesendok mentega. Karenanya. Rasulullah Saw saat bertemu dengan malaikat Jibril. tarawihnya. Padahal. Bulan Ramadhan merupakan bulan muwâsah (bulan santunan). nilai amaliyah Ramadhan tidak dapat tergantikan pada bulan yang lain. kecuali jauh sebelum Ramadhan telah ada persiapan-persiapan materi yang memadai. bahwa sentuhan kebaikan dan santunan Rasulullah Saw kepada masyarakat begitu merata. sungguh bukanlah pekerjaan yang mudah. Digambarkan. Pahala yang sangat besar akan didapat oleh orang yang tidak punya. lebih dermawan dari pada angin yang dilepaskan. mempersiapkan materi di sini mesti dilakukan sedini mungkin. sekalipun sekedar sebutir kurma. agar dapat dimenej dengan sebaik-baiknya. Dengan kondisi fisik yang baik.

Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam jauh hari. Mereka terus menerus menjajakan acara-cara religiusnya untuk mengisi bulan Ramadhan. cerita tersebut lebih hidup dan Anda leluasa berimprovisasi. Ibu sebaiknya mempersiapkan bintang-bintang yang siap ditempel untuk setiap rencana yang berhasil dicapai anak. untuk merancang pola pendidikan terbaik bagi putra-putri kita selama bulan Ramadhan. mempersiapkan ruang khusus untuk sholat berjamaah dan tadarus al-Qur’an. berganti dengan buku-buku atau majalah keislaman yang mudah dijangkau. Di antara waktu bercerita tersebut Anda dapat mengajak anak untuk membuat rencana kegiatan selama bulan Ramadhan nanti. Lewat cerita ini. Bisa juga cerita mengenai kisah-kisah menarik seputar Ramadhan. manfaatkan kebiasaan mendongeng atau bercerita yang biasa Anda lakukan. Tempelkan juga target dan jadwal kegiatan yang telah disusun bersama. jauh sebelum Ramadhan tiba. sebab. baik mengenai sahabat atau Rasulullah yang berjuang di bulan Ramadhan. Membangun Suasana yang Kondusif Suasana rumah yang berubah juga akan mempengaruhi semangat anak. tv ataupun buku dan majalah yang bersifat umum. Kamar tidur anak dapat dihias dengan tulisan hadist. Atau Anda dapat mengarang sendiri cerita yang ada hubungannya dengan tema tersebut. Ada beberapa kiat yang bisa kita lakukan sebagai orang tua. plus target yang ingin mereka capai. Kerjakan bersama anak agar ia termotivasi untuk mendapatkan bintang sebanyak mungkin sampai akhir Ramadhan. Demikian pula untuk dekorasi rumah maupun kamar. suasana Ramadhan sudah terbangun dalam alam pikiran anak. jauh sebelum bulan Ramadhan tiba. Misalnya dengan mengubah penataan rumah. Prolog Ramadhan melalui cerita ini dapat dimulai seminggu sebelum datangnya bulan Ramadhan. selain menceritakan pengalaman masa kecil Anda ketika menjalani ibadah puasa. motto ataupun semboyan yang akan membangkitkan semangat mereka di saat nanti mereka menahan lapar dan haus ketika puasa. Mengenalkan Ramadhan Lewat Cerita Stasiun TV biasanya getol mengiklankan tayangan-tayangan favorit guna menyambut Ramadhan. ~34~ . Oleh karena itu. Misalnya dengan mengubah letak play station. Anda pun harus memiliki cara khusus untuk mempersiapkan putra-putri Anda. Ini akan lebih menarik minat anak. Ajak anak-anak menghiasi ruang tersebut dengan tulisan kaligrafi dan gambar islami. Kemukakan juga harapan apa yang Anda harapkan untuk mereka lakukan. ia akan mengharapkan kedatangan bulan ini dengan penuh semangat dan antusias. temanya adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan bulan Ramadhan. bagaimana caranya? Mudah saja. Pilih cerita-cerita Islam yang menggambarkan suasana puasa dan keutamaan bagi yang menjalankannya. mesti didesain agar mampu menciptakan nuansa islami. Lalu. sehingga. Hanya saja.

Selain itu. Mengajak Anak Untuk Bersahur Bersama Bila esok hari mulai berpuasa. Karenanya. Ia akan berbuka pada tengah hari karena masih latihan. Bila dilihat dari pola kebiasaan makan. Dari sisi kesehatan. biarlah mereka berbuka di tengah hari. Dengan cara latihan yang bertahap seperti itu. Selain itu. Biarkan anak makan di akhir waktu sahur. siapkan menu makanan kegemarannya dan buat suasana sahur menyenangkan. dapat dimulai justru sebelum Ramadhan. ibadah puasa memberikan istirahat pada organ-organ pencernaan tubuh. Untuk menarik minat anak. biarkan mereka mencoba dulu puasa hanya setengah hari. yaitu waktu sahur dan waktu berbuka puasa. Di samping membangun mood anggota keluarga. Berdisiplin untuk bangun sahur pada malam hari. yang kemudian akan bekerja kembali dengan lebih sempurna. Latihan ini bukan hanya pada menahan lapar saja. juga agar selama Ramadhan lebih banyak waktu yang dapat digunakan untuk kegiatan ibadah. ~35~ . Bukankah segala sesuatunya berlangsung secara bertahap? Termasuk dalam mendidik si kecil dalam hal puasa. sehingga anak tidak merasa berat bangun tengah malam. Awal puasa.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Kebiasaan Ayah mengecat rumah menjelang lebaran. Nilai Plus Puasa Bagi Anak Banyak sekali nilai plus puasa bagi anak-anak. puasa juga termasuk sebagai latihan untuk taat pada perintah agama. membiasakan puasa pada anak-anak sejak dini merupakan wahana untuk memupuk sikap disiplin pada diri anak. si anak tidak merasa berat lagi untuk melakukan puasa sehari penuh. Kecukupan gizi pada anak akan terpenuhi apabila saat berbuka dan makan sahur mereka mengkonsumsi makanan yang beragam dalam jumlah yang cukup. berpuasa sebetulnya hanya memindahkan jam. Juga mulai melatih pola makan dari 3 kali sehari menjadi 2 kali saja. Persiapan Fisik Ibu dapat mulai menyusun menu dengan gizi yang seimbang untuk anak yang puasa. berarti malam sebelumnya kita disunnahkan melaksanakan sholat taraweh dan sahur. menjadi 2 kali. tetapi lebih penting pada esensi berpuasa itu sendiri. Penyusunan menu ini untuk menghindari terjadinya kekurangan zat gizi pada anak. yang biasanya dilakukan pada saat puasa. bila anak memang belum mampu berpuasa setengah hari penuh. Melatih anak-anak untuk berpuasa dapat dimulai dengan belajar bangun malam untuk makan sahur bersama. Bila biasanya makan 3 kali sehari. termasuk sistem enzim dan hormonal. makan tepat waktu berbuka dan menahan nafsu. atau mengurangi satu kali waktu makan saja.

misalnya mereka tetap berpuasa sekalipun teman-temannya di sekolah tidak.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Pembiasaan puasa juga bisa mendidik anak-anak untuk jujur. bukan berbohong dan malu mengakui kesalahannya. anak juga bisa diajar untuk berterus-terang. Kalaupun karena tidak kuat menahan lapar atau godaan teman ia terpaksa berbuka di luar rumah. ~36~ .

lihat Misbahuh Azzujajah no. Ramadhan ke Ramadhan adalah penghapus dosa yang terjadi di antara senggang waktu tersebut jika menjauhi dosa besar. 50 ~37~ . al-Bazzar 3142. 25-34 karya Ibn Syahin. Jum’at ke Jum’at. maka akupun mengucapkan Amin…” 52 Dikabulkannya Do’a dan Pembebasan Api Neraka Rasullullah Saw juga mendorong kaum Mukmin untuk melaksanakan puasa sebaik mungkin. Ibn Mâjah 1643 darinya secara ringkas dari jalan yang lain. katakan ‘Amin’. asalnya terdapat dalam Shahîh Muslim 4/1978. engkau naik mimbar kemudian mengucapkan Amin. 53 HR. dari Abu Shalih dari Jabir. Hadits ini shahih.” 50 Rasulullah Saw juga bersabda: “Sholat yang lima waktu. dari Abu Hurairah ra. 51 HR. Amin” Ditanyakan kepadanya. dan semua orang muslim yang berdoa akan dikabulkan doanya. Dalam bab ini banyak hadits dari beberapa orang sahabat. Ibn Khuzaimah 3/192. tidak merasa berat dalam mengamalkannya. Nabi Saw bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh iman dan ihtisab maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” 51 Dari Abu Hurairah ra juga dituturkan. “Ya Rasulullah. Doa yang dikabulkan itu ketika berbuka. Salah satunya adalah. hatinya senang dalam mengamalkan. 604 karya al-Bushri. lihatlah dalam Fadhailu Syahri Ramadhan. dia berkata: Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadhan tapi tidak diampuni dosanya maka akan masuk neraka dan akan Allah jauhkan dia. Amin. Amin?” Beliau bersabda. 52 HR.” 53 HR. al-Baihaqi 4/204. 254. Nabi Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari neraka setiap siang dan malam dalam bulan Ramadhan. dengan iming-iming terkabulnya doa dan pembebasan dari api neraka. dari jalan Abu Hurairah ra. Amin. Ahmad 2/254 dari jalan A’mas. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah Saw pernah naik mimbar kemudian berkata. haditsnya shahih. mengharap pahalanya. hal. Makna “Penuh iman dan Ihtisab” yakni membenarkan wajibnya puasa. Bukhâri 4/99 dan Muslim 759. Ahmad 2/246. “Sesungguhnya Jibril as datang kepadaku. “Amin. seandainya orang yang puasa mempunyai dosa seperti buih di lautan niscaya akan diampuni dengan sebab ibadah yang baik dan diberkahi ini. tidak membencinya. Muslim 233.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam BAB V .TARGHIB PUASA RAMADHAN Pengampunan Dosa Allah dan RasulNya telah memberikan targhib (spirit) untuk melakukan puasa Ramadhan dengan menjelaskan keutamaan serta tingginya kedudukan puasa.

“Termasuk dari shidiqin dan syuhada. aku sholat lima waktu.” 55 54 55 Lihat al-Ansab 3/394 karya as-Sam’ani. aku tunaikan zakat. HR. sanadnya shahih. bahwasanya orang-orang yang menunaikan ibadah puasa. akan dimasukkan ke dalam kelompok shiddiqiin dan syuhada. termasuk orang yang manakah aku?” Beliau menjawab. 54 ia berkata. “Ya Rasulullah.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Orang yang Puasa Termasuk Shidiqin dan Syuhada Di dalam riwayat shahih diceritakan. engkau adalah Rasulullah.11 zawaidnya. apa pendapatmu jika aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah. Dari ‘Amr bin Murrah Al-Juhani ra. ~38~ . aku lakukan puasa Ramadhan dan sholat tarawih di malam harinya. Ibn Hibban no. al-Lubap 1/317 karya Ibn al-Atsir. Datang seorang pria kepada Nabi Saw kemudian berkata.

‘Hai Nuh. Begitu pentingnya tradisi ini. Allah SWT berfirman: “Mereka berkata. sesungguhnya kamu telah berbantah (diksusi / jidal) dengan kami. Bahkan. Al-Qur’an telah mendokumentasi tradisi ini hampir pada setiap masa kenabian. kisah diskusi antara Ibrahim dengan Namrudz. Allah SWT berfirman: “Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka).Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam BAB VI . sesungguhnya orang itu telah terjatuh pada hawa nafsu. jika kamu termasuk orang-orang yang benar’. Tradisi muqaranah. misalnya. muhadzarah. Allah SWT berfirman: “Dan tidaklah Kami mengutus rasul-rasul hanyalah sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dalam surat Hûd [11] ayat 32. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab. Hûd [11]: 32). Musa dengan Fir’aun dan nabinabi yang lain. Ia ~39~ . dan mujadalah adalah tradisi ilmiah yang terus dipelihara sampai sekarang. baik yang tercantum dalam sunnah.PENETEPAN AWAL AKHIR RAMADHAN DAN PERSATUAN UMMAT ISLAM Islam dan Tradisi Diskusi Muqaranah dan mujadalah (perbandingan dan diksusi) adalah tradisi ilmiah yang sudah tumbuh sejak masa awal sejarah manusia. agar dengan demikian mereka dapat melenyapkan yang hak…” (Qs. diceritakan diskusi antara Nuh as dengan kaumnya. al-Qashash [28]: 50).” (Qs. sampai-sampai al-Qur’an juga mengatur tata cara dan adab-adab dalam berdebat. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. atsar dan dokumen-dokumen sejarah lainnya. al-Qur’an dengan tegas mencela orang-orang yang tidak mau melakukan mujadalah atau muqaranah tanpa ada alasan yang dibenarkan. maka datangkanlah kepada kami adzab yang kamu ancamkan kepada kami. dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami. Kisah-kisah mujadalah juga termuat dalam dokumen sejarah. tetapi orang-orang yang kafir membantah (mendebat) dengan yang bathil. al-Ankabût [29]: 46). maka tidak ada alasan untuk tidak memenuhi undangan lawan diskusinya. Jika ia menyakini kebenaran dan kekuatan pendapatnya. melainkan dengan cara yang paling baik…” (Qs. Al-Qur’an juga menceritakan dengan detail kisah mujadalah yang dilakukan para nabi di surat-surat yang lain. al-Kahfi [18]: 56). bahwa bila seseorang tidak memenuhi tantangan lawan diskusinya. Ayat ini dengan jelas menyebutkan.” (Qs. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.

al-Anfâl [8]: 46). Orang-orang yang dzalim di sini adalah orang-orang yang setelah diberikan kepadanya penjelasanpenjelasan dan keterangan-keterangan dengan cara yang paling baik. Padahal. Sedangkan diskusi untuk mencari pendapat yang terkuat justru menjadi kewajiban setiap kaum muslim. dan penuh keikhlasan. seorang muslim tidak boleh beramal dengan pendapat yang meragukan. akan diketahui pendapat siapakah yang paling dekat dengan kebenaran. pendapat beliau disanggah oleh Khubab bin Mundzir. Motif utama dari diskusi dan perbandingan adalah mencari kebenaran tertinggi. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab. Di sisi yang lain. Jika ia tidak memenuhi undangan lawan diskusinya tanpa ada alasan yang syar’i. Tatkala Rasulullah Saw menetapkan posisi pertahanan kaum muslim pada saat perang Badar. Akan tetapi. atau lawan diskusi adalah orang-orang yang dzalim—. diskusi yang tidak dilandasi ilmu pengetahuan dan mengarah kepada berbantahbantahan harus dijauhi dan dihindarkan. Dengan diskusi. kita harus merujuk kepada pendapat orang yang memang ahli dan pakar dalam bidangnya.” (Qs. karena pendapat beliau Saw mengenai posisi pertahanan kaum muslim bukan berasal dari wahyu. Perbedaan pendapat bisa ~40~ . mereka tetap membantah dan membangkang dan tetap menyatakan permusuhan. Pertama.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam harus datang dan melayani tantangan diskusi dari pihak lawannya. kita juga dilarang berbantah-bantahan sehingga menyebabkan kelemahan. al-Ankabût [29]: 46). Tidak sepantasnya ia bersikukuh dengan pendapat yang telah terbukti kesalahan dan kelemahannya. dan beliau Saw mengetahui bahwa pendapat Khubab bin Mundzir lebih tepat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Ini menunjukkan bahwa dalam hal-hal yang membutuhkan keahlian dan kepakaran. Al-Qur’an telah menyatakan hal ini dengan sangat jelas: “…Dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Atas dasar itu. pada dasarnya ia telah ragu akan kemampuan dan kekuatan pendapatnya. Namun bila diskusi telah mengarah pada berbantah-bantahan —tidak dilandasi dengan landasan ilmiah. maka diskusi semacam merupakan merupakan perbuatan tercela. kecuali dengan orang-orang yang dzalim diantara mereka. maka pendapat itu harus ditinggalkan dengan sikap lapang dada. maka beliau Saw segera meninggalkan pendapatnya dan mengikuti pendapat Khubab bin Mundzir. sekaligus untuk mengoreksi pendapat-pendapat dan keyakinan-keyakinan yang salah. Bila suatu pendapat telah terbukti lemah dan salah. Melihat Perbedaan Islam telah meletakkan batasan-batasan dalam melihat perbedaan. dalam hal apa mereka boleh berbeda dan dalam hal apa mereka tidak boleh berbeda (ikhtilaf).” (Qs. dan pendapat siapa yang lemah. Diskusi untuk mencari kebenaran dan untuk mengoreksi pendapat diwajibkan dalam Islam. melainkan dengan cara yang paling baik.

Al-Qur’an telah menyatakan hal ini dengan tegas. Dalam kasus-kasus semacam ini kaum muslimin tidak dibenarkan berbeda pendapat (ikhtilaf). semisal rajam. dan hukum-hukum hudud. Keempat. Kata quru’ misalnya. Ia harus memilih salah satu pendapat untuk satu perbuatannya. dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainNya.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam ditolerir selama perbedaan tersebut menyangkut masalah-masalah yang dzanniyyah (dugaan kuat). wacana Islam dalam membangun pendapat adalah al-Qur’an.” (Qs. maka tolok ukur untuk menyatakan suatu pendapat itu layak diadopsi atau tidak adalah al-Qur’an dan Sunnah. tatkala seorang muslim mengerjakan satu perbuatan. dan sesungguhnya orang-orang yang dzalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Al-Qur’an menyatakan hal ini dengan sangat jelas pula: “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah (alQur’an) dan rasulNya (sunnah). dan Qiyas. Bila perbedaan pendapat tersebut telah menyangkut dalil-dalil yang bersifat qath’i. dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertaqwa. Ketiga. larangan riba. Pendapat selemah apapun harus dibangun berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah. Allah SWT berfirman: “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syari’at (peraturan). kaum muslim tidak dibenarkan berbeda pendapat. misalnya untuk mempertahankan status quo kelompoknya. Ijma’ Shahabat.” (Qs. jika terjadi perbedaan pendapat. potong tangan. nash-nash yang menyangkut masalah ‘aqidah. as-Sunnah. “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu (Tuhanmu). merupakan lafadz musytarak yang bisa diartikan suci (thaharah) atau haidh (haid). al-A’râf [7]: 3). atau tendensi-tendensi politis lainnya. Amat sedikitlah kami mengambil pelajaran (daripadanya). maka ikutilah syari’at itu. Dan ada celaan bila mereka mengambil hawa nafsu sebagai parameter penentu kebenaran: “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu (Tuhanmu). maka ia harus mengambil satu hukum saja. apabila pendapat yang diketengahkan tidak dibangun berdasar dalil-dalil syara’ atau syubhat dalil. maka pendapat itu tidak bernilai ilmiah sama sekali. ia harus menggunakan kaidah-kaidah quwwatud dalil ~41~ . Dalam kacamata Islam. maka berbeda pendapat pada perkara semacam ini tidak dibenarkan. Tidak mungkin ia mengerjakan satu perbuatan dengan dua hukum yang berlawanan pada saat yang bersamaan. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari (siksa) Allah. dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainNya.” (Qs. gengsi. dan lain sebagainya. al-Jâtsiyah [45]: 18-19). Namun bila berkaitan dengan ayat-ayat yang muhkam. Kedua. dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Kata lamasa. Ketika ia hendak memilih salah satu hukum.” (Qs. alA’râf [7]: 3). Bukan dikembalikan kepada hawa nafsu maupun alasan-alasan non syar’iah. Perbedaan pendapat pada nash-nash yang dalalahnya tidak qath’i adalah perbedaan yang masih bisa ditolerir. bisa diartikan menyentuh (hakiki) atau bersetubuh. dari urusan agama itu. an-Nisâ’ [4]: 59). Misalnya. kenyataannya. atau mu’amalat yang qath’i.

Mereka menyatakan bahwa. Ayat ini dan ayat-ayat yang senada pengertiannya. Hisab dan Ru’yat Puasa Ramadhan termasuk aktivitas ibadah yang metode atau tatacaranya telah ditetapkan oleh Allah SWT. hingga ia bisa menentukan mana pendapat yang lebih rajih dan kuat. kami merasa perlu untuk menjelaskan perbedaaan pendapat itu. Untuk itu. sekaligus teknik untuk mentarjih. Untuk itu. atau mathla’ lokal? Bila kita meneliti argumentasi hisab dan ru’yat. Yunus [10]: 5). akan tetapi tidak urung muncul pro dan kontra tengah-tengah masyarakat. kita juga bisa menentukan kapan mulai masuk bulan Ramadhan dengan cara perhitungan (hisab). Sedangkan pendapat yang dibangun berdasarkan dalil-dalil yang lemah harus ditinggalkan ketika telah terbukti kelemahannya. bahwa ru’yat adalah pendapat yang paling rajih. mana pendapat yang selayaknya diikuti oleh masyarakat. Perbedaan penetapan awal dan akhir Ramadhan masih menyisakan persoalan di kalangan kaum muslim. Masih banyak lagi ayat yang mempunyai pengertian senada. ia adalah ibadah yang bersifat tauqifi (ditentukan apa adanya oleh Allah). Ia tidak boleh memilih suatu pendapat karena alasan sejalan dengan kehendaknya.”(Qs. termasuk di dalamnya menentukan masuknya bulan Ramadhan dan Syawal. atau sesuai dengan kehendaknya. memudahkan dirinya. dan manzilahmanzilahnya (kedudukan). syara’ telah menentukan cara menetapkan awal dan akhir Ramadhan. ~42~ . dan waktu. Meskipun harusnya tidak menjadi masalah. penganut hisab menyatakan bahwa puasa Ramadhan bisa ditetapkan dengan memperhatikan perjalanan bulan berdasar mafhum ayat ini. dan ditetapkan manzilahmanzilah bagi perjalanan bulan itu. supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu. dan bulan bercahaya. Pertama. Inilah point-point mendasar dalam melihat perbedaan pendapat. bulan. Dengan kata lain. Atas dasar itu. kita akan berkesimpulan. maka pendapat itu layak dan harus diikuti. yakni untuk mengetahui bilangan tahun. metode dan tata cara mana yang paling dekat dengan kebenaran al-Qur’an dan as-Sunnah dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan? Hisab atau ru’yat? Mathla’ universal. Lalu. diciptakannya matahari dan bulan agar kita mengetahui bilangan tahun dan bulan. sama sekali tidak menunjukkan perintah untuk memulai puasa Ramadhan dengan hisab. penganut hisab membangun argumentasi mereka dengan keumuman ayat-ayat al-Qur’an: “Dialah yang menjadikan matahari bersinar. Ayat itu hanya berhubungan dengan kegunaan diciptakannya matahari. Manusia tidak boleh menetapkan sendiri metode maupun tata cara untuk beribadah kepada Allah.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam (kekuatan dalil). Kebenaran suatu pendapat dapat ditentukan berdasarkan kekuatan dalil dan metodologi istinbathnya. Hanya saja. Jika suatu pendapat dibangun berdasarkan dalil yang kuat dan metodologi istinbath yang tangguh.

Abû Dâwud 2327. dari Abu Hurairah ra. 29. mafhum harus dikalahkan bila ada nash sharih yang menentangnya.” 60 “Sesungguhnya bulan itu ada 29 hari. maka janganlah kalian berpuasa hingga melihatnya.” 57 “Janganlah kalian puasa hingga melihat hilal. Atas dasar itu. hal. maka sempurnakanlah bilangan tiga puluh hari kemudian berbukalah (Iedul Fithri) dan satu bulan itu 29 hari. 60 HR. Kedua. Dalam kondisi seperti ini —mafhum bertemu dengan nash sharih—. Bukhâri 4/102 dan Muslim 1080. 318.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Pendapat ini lemah. Muslim]. Tidak menulis dan menghisab. an-Nasâ’i 1/302. Apabila mendung menutupi kalian. Muhammad Husain Abdullah. Jika dua orang saksi mempersaksikan (ru’yat hilal) maka berpuasalah dan berbukalah kalian karenanya. 2/167.” 59 “Puasalah karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya. jangan pula kalian berbuka hingga melihatnya. Dan janganlah kalian berpuasa sampai melihatnya (hilal Syawal). ad-Daruquthni. Walhasil. Ahmad 4/321. selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya). dari Abdullah bin Umar ra. Padahal. Jika awan menghalangi kalian sempurnakanlah tiga puluh hari. ayat ini umum dan berlaku kaidah ushul: al-‘âm yabqa fi ‘umûmihi ma lam yarid dalil at-takhsish (sebuah dalil yang bersifat umum tetap pada kemumumannya. dari Abdurrahman bin Zaid bin al-Khattab dari sahabatsahabat Rasulullah. hal. Jika ia (hilal) terhalang awan. an-Nasâ’i 4/132. keumuman surat Yunus [10] ayat 5 telah dikhususkan oleh hadits riwayat Bukhâri dan Muslim tersebut. dan di-shahih-kan sanadnya oleh alHâkim dan disetujui oleh adz-Dzahabi. 56 Pada kasus penentuan awal Ramadhan. at-Tirmidzi 1/133. sanadnya hasan. Rasulullah Saw bersabda: “Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah kalian karena melihatnya (hilal). “wajib membawa umum menuju khusus bila ditemukan dalil yang lebih khusus”. ada nash sharih yang menyatakan bahwa penentuan awal dan akhir Ramadhan harus berdasarkan ru’yat bukan dengan hisab. penganut hisab juga menyandarkan pendapatnya pada hadits riwayat Imam Bukhâri. mafhum bolehnya hisab yang diambil dari surat Yunus [10] ayat 5 harus ditinggalkan dan harus mengikuti hadits sharih riwayat Bukhâri dan Muslim di atas. Lihat Sifat ash-Shaum Nabi Saw fî Ramadhan. “Sesungguhnya kami ini adalah ummat yang ummi. 57 56 ~43~ . Untuk itu mengamalkan dalil yang lebih khusus adalah kewajiban dan lebih utama. kaidah ushul fiqh menyatakan. Riwayat ini merupakan pentakhshish (menkhususkan) keumuman ayat-ayat di atas. pertama. penganut hisab menetapkan keabsahan hisab bersandar kepada mafhum surat Yunus [10] ayat 5. Kedua. jika kalian terhalangi awan hitunglah bulan Sya’ban. al-Wadhih fi Ushul al-Fiqh. HR. menurut ulama ushul. Demikian keterangan Syaikh Salim al-Hilali serta Syaikh Ali Hasan. al-Hâkim 1/425. Sebab.” 58 “Janganlah kalian mendahului bulan Ramadhan dengan puasa satu atau dua hari kecuali seseorang diantara kalian yang biasa berpuasa padanya.” [HR. Padahal ada nash sharih yang menjelaskan tentang ru’yat.” Berdasar hadits Syaikh Dr. maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya’ban menjadi 30 hari. Bukhâri 4/106 dan Muslim 1081. 59 HR. 58 HR. Apabila pandangan kalian tersamar (terhalang). maka perkirakanlah.

maka mafhum harus dikalahkan. maka janganlah kalian berpuasa hingga melihatnya. “Berpuasalah karena melihat bulan. Abû Dâwud 2327. Dan janganlah kalian berpuasa sampai melihatnya (hilal Syawal). mereka boleh menetapkan Ramadhan dengan hisab. Ditinjau dari arah manapun. dan membandingkan dengan nash-nash hadits lainnya. Padahal mafhum bila bertentangan dengan nash yang sharih. Muslim].Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam ini mereka menyatakan bahwa ‘illat (sebab tasyri’) dilakukan ru’yat adalah karena saat itu kaum muslimin tidak mengetahui ilmu hisab. hadits ini tidak menunjukkan perintah kepada kaum muslimin untuk melakukan hisab. dan berbuka puasalah karena melihat bulan. Jika kita perhatikan nash-nash hadits lain dapat disimpulkan bahwa faqdurûlahu (perkirakan). maka janganlah kalian berpuasa hingga melihatnya. akan tetapi hanya pemberitahuan mengenai kondisi kaum muslim pada saat itu.” [HR. maka kita harus melihat konteks hadits tersebut secara utuh. Apabila mendung menutupi kalian. dari Abu Hurairah ra. Ketiga. anNasâ’i].” 62 “Berpuasalah karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya (hilal). maka apabila mendung (menutupi) kalian maka sempurnakanlah hitungan menjadi tiga puluh hari. penganut hisab juga menyandarkan pendapat mereka dengan hadits riwayat Imam Muslim. an-Nasâ’i 1/302. al-Hâkim 1/425.” 61 62 HR. maka perkirakanlah.” [HR. Atas dasar itu. maka perkirakanlah. Kedua. HR. maka perkirakanlah (faqdurûlah) (bulan Sya’ban) 30 hari. Jika ia (hilal) terhalang awan. Sehingga tidak bisa dikatakan bahwa bila mereka tidak ummi lagi. Sebab. maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya’ban menjadi 30 hari. yakni bolehnya menetapkan awal Ramadhan dengan hisab. ~44~ . Jika mereka telah mengetahui hisab tentunya hisab diperbolehkan untuk mengganti ru’yat.” Sebagaimana riwayat menyebutkan: “Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah kalian karena melihatnya (hilal).” Mereka menyatakan bahwa “perkirakanlah” disini artinya hitunglah. artinya adalah “sempurnakanlah bilangan bulannya. untuk menafsirkan kata “perkirakanlah”.” 61 “Janganlah kalian mendahului bulan Ramadhan dengan puasa satu atau dua hari kecuali seseorang diantara kalian yang biasa berpuasa padanya. Bukhâri 4/106 dan Muslim 1081. yakni hanya menceritakan kondisi kaum muslimin pada saat itu. Pendapat inipun sebenarnya sangat lemah. dan di-shahih-kan sanadnya oleh alHâkim dan disetujui oleh adz-Dzahabi. hadits ini berbentuk akhbariyyah. ummi bukanlah ‘illat (sebab tasyri’) ru’yat. jika mendung. kebolehan hisab yang digali dari hadits inididasarkan pada mafhum hadits ini. Mafhum kebolehan hisab tentu akan bertentangan dengan makna sharih yang ditunjukkan oleh hadits-hadits yang berbicara tentang ru’yat. Apabila pandangan kalian tersamar (terhalang). at-Tirmidzi 1/133. maka sempurnakanlah bilangan tiga puluh hari kemudian berbukalah (Iedul Fithri) dan satu bulan itu 29 hari. Apabila mendung menutupi kalian. Pendapat ini pun juga lemah. Lebih jelas lagi bila kita membaca hadits riwayat Muslim. “Sesungguhnya bulan itu ada 29 hari. Pertama. “Sesungguhnya bulan itu ada 29 hari.

Namun kata ra’a.” Sebab. bisa diartikan dengan memikirkan. Rasul bersabda: “Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah kalian karena melihatnya (hilal). atau bisa diartikan bolehnya menetapkan awal Ramadhan dengan hisab. hisab tidak dipengaruhi ada atau tidaknya mendung. Tidak menulis dan menghisab. bukan hisab. maka sempurnakanlah hitungan menjadi tiga pula hari”. maka apabila mendung (menutupi) kalian maka sempurnakanlah hitungan menjadi tiga puluh hari. dan terjadi pada masa Rasulullah? Dengan hak apa kita menafsirkan ucapan Rasulullah (ra’a) dengan hisab? Kritik atas Mathla’ Persoalan berikutnya adalah mathla’ (tempat lahirnya bulan). Bila kita perhatikan keseluruhan nash hadits sangat jelas. Sebab bila lafadz ra’a diartikan dengan hisab. jika kalian telah meru’yat dan terhalang mendung maka genapkanlah (sempurnakanlah) bilangan Sya’ban menjadi 30 hari. ~45~ . dari Abu Hurairah ra. “Sesungguhnya kami ini adalah ummat yang ummi. “Aku memasuki Syam lalu menyelesaikan urusan Ummul Fadl. Ternyata bulan Ramadhan tiba sedangkan aku masih berada di Syam.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Dengan demikian. bukan hisab. dan tidak harus mengikuti hasil ru’yat daerah lain. Dengan kata lain. Lafadz ini dengan jelas menunjukkan bahwa ru’yat dalam nash tersebut berarti melihat dengan mata telanjang. Pendapat ini juga lemah. Bukhâri]. Selain itu. jika satu kawasan melihat bulan. Hadits ini menceritakan bahwa Rasulullah Saw tidak melakukan hisab. Aku melihat hilal (bulan sabit) pada malam Jum’at. tidak melulu bermakna melihat dengan mata telanjang. tentunya Rasulullah Saw tidak akan menyatakan kalimat. dan bukan menunjukkan bolehnya hisab. “jika terhalang mendung. Bagaimana bisa dikatakan bahwa tafsir liru’yatihi adalah menghitung (bukan melihat dengan mata telanjang)? Sedangkan Rasulullah Saw tidak (bisa) melakukan hisab? Bukankah hadits di atas juga ucapan Rasul. anNasâ’i]. maka apakah mendung (awan) bisa mengganggu perhitungan? Penafsiran itu juga akan bertentangan dengan sabda Rasulullah Saw. mereka menyatakan bahwa riwayat-riwayat yang mencantumkan lafadz ra’a. Setelah itu aku memasuki kota Madinah pada akhir bulan Ramadhan. Mereka menyandarkan alasan mereka dengan riwayat dari Kuraib. Keempat. seandainya makna faqdurûlahu adalah hisab. penganut hisab juga menyatakan bahwa kata liru’yatihi (melihatnya).” [HR. maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya’ban menjadi 30 hari. dapat diartikan berpikir. bahwa ru’yat di sana berarti melihat dengan mata telanjang. maka daerah dengan radius 4 farsakh dari pusat ru’yat bisa mengikuti hasil ru’yat daerah tersebut. Bukhari 4/106 dan Muslim 1081. Kuraib berkata. Ulama Syafi’iyyah berpendapat.” 63 “Berpuasalah karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya (hilal). penafsiran yang tepat terhadap kata faqdurûlahu adalah sempurnakan (fâkmilû) bilangan Sya’ban menjadi 30 hari. Ibn ‘Abbas 63 HR. Diriwayatkan dari Kuraib bahwa Ummul Fadl telah mengutusnya untuk menemui Muawiyyah di Syam.” [HR. “Jika kalian terhalang mendung. Apabila pandangan kalian tersamar (terhalang). Sedangkan daerah di luar radius itu boleh melakukan ru’yat sendiri. Oleh karena itu. Pada hadits itu juga ada kata.

hadits tentang perintah ru’yat bersifat umum. Nailul Authar. 66 Imam asy-Syaukani. Padahal bila kita meneliti lebih lanjut pendapat para penganut mathla’. namun bila kita bandingkan riwayat-riwayat lain yang juga diriwayatkan oleh Ibn ‘Abbas sendiri. 65 HR. Walaupun hadits itu secara lafadziyyah seakan-akan menunjukkan marfu’.” 64 Hadits ini mereka gunakan sandaran keabsahan mathla’. Ijtihad shahabat tidak layak digunakan dalil untuk menetapkan hukum. hal. dari Abu Hurairah ra. sebenarnya dalil yang mereka gunakan adalah ijtihad Ibn ‘Abbas. ‘Kapan kalian melihat hilal?’ Aku menjawab. Pertama. Riwayat Abû Dâwud dan at-Tirmidzi di-shahih-kan oleh Syaikh Nashiruddin al-Albâni dalam Shahîh Sunan at-Tirmidzi 1/213. ‘Tidak cukupkah kita berpedoman pada ru’yat dan puasa Muawiyyah?’ Dia menjawab. ‘Apabila penduduk suatu negeri telah melihat hilal. maka (dianggap) seluruh kaum muslimin telah melihatnya. (sebab) demikianlah Rasulullah Saw telah memerintahkan kepada kami”. maka ru’yat ini berlaku pula untuk seluruh negeri-negeri yang lain.’ Dia bertanya lagi. Apabila pandangan kalian tersamar (terhalang). maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya’ban menjadi 30 hari. ‘Tapi kami (di Madinah) melihatnya pada malam Sabtu. ‘Apakah kamu sendiri melihatnya?’ Aku jawab lagi. Dia bertanya. maka wilayah yang lain harus berpuasa karena hasil ru’yat daerah tersebut.” 67 HR. Artinya. 64 ~46~ . “Sabda beliau ini tidaklah dikhususkan untuk penduduk satu daerah tertentu tanpa menyertakan daerah yang lain. 254-255. Ibn ‘Abbas sendiri banyak meriwayatkan hadits marfu’ yang bertentangan dengan hadits riwayat dari Kuraib di atas. at-Tirmidzi 647 dan Abû Dâwud 1021. Bab Shiyâm. begitu pula Muawiyyah.” 65 Atas dasar itu. bukan hadits yang diriwayatkan secara marfu’. Bahkan sabda beliau ini merupakan khitab (pembicaraan) yang tertuju kepada siapa saja di antara kaum muslimin yang khitab itu telah sampai kepadanya.” Imam asy-Syaukani menyimpulkan.’ Dia berkata lagi. (sebab) demikianlah Rasulullah Saw telah memerintahkan kepada kami’. ‘Tidak. dan orang-orang juga melihatnya. ‘Ya. apabila penduduk suatu negeri telah melihat bulan sabit (ru’yatul hilal).’ Aku lalu bertanya. yakni perkataan Ibn ‘Abbas. maka terlihatlah bahwa perkataan Ibn ‘Abbas itu adalah hasil ijtihad beliau sendiri. Maka kami terus berpuasa hingga kami menyempurnakan bilan-gan tiga puluh hari atau hingga kami melihatnya.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam lalu bertanya kepadaku dan menyebut persoalan hilal. 67 Lihat pula pendapat al-Hâfidz Ibn Hajar al-Asqalâni dalam kitabnya Fath al-Bârî. Semisal riwayat dari Ibn ‘Abbas dari Nabi Saw: “Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah kalian karena melihatnya (hilal). Muslim 1087. Imam asySyaukani menyatakan. bila satu daerah telah melihat bulan. “Tidak. hadits dari Kuraib adalah ijtihad pribadi Ibn ‘Abbas. 66 Kedua. kita akan dapatkan sesungguhnya pendapat mereka adalah lemah. Bukhâri 4/106 dan Muslim 1081. ‘Kami melihatnya pada malam Jum’at. “Pendapat yang layak dijadikan pegangan adalah. Lalu mereka berpuasa. dan khithab (seruannya) berlaku bagi seluruh kaum muslimin. Kata shûmû liru’yatihi adalah lafadz umum. Ru’yat penduduk negeri itu berlaku pula bagi kaum muslimin lainnya’.

jld. Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah. jadilah ru’yat itu untuk semuanya…” 72 Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa. ada yang membatasi dengan perbedaan mathla’ seperti Hijaz dengan Syam.” 71 Shiddiq Hasan Khan berkata. Hal ini menunjukkan bahwa ru’yat pada suatu negeri adalah ru’yat bagi semua penduduk negeri dan hukumnya wajib. Majmu’ al-Fatawa. 368. hal. hal. Demikian juga kalau menyaksikan hilal pada waktu siang menjelang maghrib maka harus imsak (berpuasa) untuk waktu yang tersisa. diantaranya mereka ada yang membatasi dengan jarak qashar sholat. 25.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Oleh karena itu kapan saja penduduk suatu negeri melihat hilal. maka seluruh negeri harus mengikutinya. hal. 146. “Puasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya. 74 Tuhfatul Ikhwan. 69 Imam ash-Shan’ani berkata. 1. 131-132. “Orang-orang yang menyatakan bahwa ru’yat tidak digunakan bagi semuanya (negeri-negeri) seperti kebanyakan pengikut-pengikut madzhab Syafi’i.” Ucapan ini umum mencakup seluruh ummat manusia. hal. Iraq dengan Khurasan. hal. jld. yaitu ‘karena melihat hilal dan berbuka karena hilal’ (Hadits Abu Hurairah dan lain-lain). Haditshadits tersebut berlaku untuk semua ummat. 104-105. penduduk negeri Timur Madinah harus mengikuti ru’yat kaum muslimin yang ada di belahan Barat Madinah apabila ru’yat mereka dapat diterima (sah menurut syara’). sebelum dhuhur atau menjelang dhuhur. dekat maupun jauh. maka Nabi menerimanya padahal ia berasal dari daerah lain dan Nabi juga tidak minta penjelasan apakah mathla’nya berbeda atau tidak. dimana beliau berkata. 2. Demikian pula melihat sabit disiang hari.” 73 Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz tatkala ditanya apakah manusia harus berpuasa jika mathla’-nya berbeda. ~47~ . 70 Subulus Salam. jld. maka wajib atas seluruh negeri berpuasa karena sabda Rasulullah Saw. 1. 163. jld. “Apabila penduduk suatu negeri melihat hilal. “Makna dari ucapan ‘karena melihatnya’ yaitu apabila ru’yat didapati diantara kalian.” 70 Imam al-Mashfaqi menyatakan dalam kitabnya bahwa. yang benar adalah bersandar pada ru’yat dan tidak menganggap adanya perbedaan mathla’ karena Nabi Saw memerintahkan untuk bersandar dengan ru’yat dan tidak merinci pada masalah itu. Jadi siapa saja dari mereka melihat hilal dimanapun tempatnya. Dalam hal tersebut. sama saja baik satu iklim atau banyak iklim. 2. kedua-duanya lemah (dha’if) karena jarak qashar sholat tidak berkaitan dengan hilal…Apabila seseorang menyaksikan pada malam ke 30 bulan Sya’ban di suatu tempat. jld. 310. hal. 103. hal. 71 Ad-Durul Mukhtar wa Raddu Mukhtar. 68 Dikisahkan juga ketika seorang Arab Badui melapor kepada Nabi Saw bahwa ia menyaksikan hilal. Fiqh as-Sunnah. beliau menjawab. Nabi Saw tidak mengisyaratkan kepada perbedaan mathla’ padahal beliau mengetahui hal itu. 73 Majmu’ al-Fatawa. maka ru’yat itu berlaku bagi mereka semuanya. maka barangsiapa diantara mereka melihat hilal dimana saja tempatnya. 74 68 69 Sayyid Sabbiq. “Perbedaan mathla’ tidak dapat dijadikan sebagai pegangan. 25. jld. maka wajib puasa. 72 Ar-Raudhah an-Nadiyah. Hal itu dari segi pengambilan dalil hadits-hadits yang jelas mengenai puasa.

Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam

Syaikh Dr. Muhammad Husain Abdullah dalam kitabnya berkata, “Maka apabila melihat hilal ramadhan atau hilal syawal telah tetap melalui syara’, maka terikatlah kaum muslimin. Ya semua, dengan ru’yat ini dalam puasa dan hari raya mereka, tidak ada perbedaan antara satu negeri dan negeri yang lain…” 75 Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam kitabnya menetapkan keabsahan metode ru’yat dan kelemahan metode hisab karena tidak didukung oleh dalil-dalil syar’i, berdasarkan fatwa-fatwa para fuqoha seperti Imam Hanafi, Maliki dan Hambali. 76 Ketiga, riwayat Kuraib tersebut merupakan ijtihad seorang sahabat. Atas dasar itu, ia tidak bisa digunakan sebagai dalil atau apa pun untuk mentakhsis (mengkhususkan) keumuman lafadz yang terdapat dalam hadist shûmû liru’yatihi. Sebab, yang bisa mentakhsis dalil syara’ harus dalil syara’ pula. Sehingga, hadist-hadist tersebut tetap dalam keumumannya. Sebagaimana kaidah ushul: al-‘âm yabqa fi ‘umûmihi ma lam yarid dalil at-takhsish (sebuah dalil yang bersifat umum tetap pada kemumumannya, selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya). 77 Seandainya riwayat Kuraib tersebut absah digunakan sebagai dalil (hadits marfu’), maka berpegang kepada hadits yang diucapkan oleh Rasulullah Saw secara langsung (qâla Rasulullah Saw) lebih kuat dibandingkan dengan hadits yang dikatakan oleh seorang shahabat (misalnya, qâla Ibn ‘Abbas). Imam al-Amidi mengatakan, “Hadits yang telah disepakati kemarfu’annya lebih dikuatkan daripada hadits yang masih diperselisihkan kemarfu’annya. Hadits yang dituturkan dengan lafadz asli dari Rasulullah Saw lebih dikuatkan daripada hadits yang diriwayatkan bil makna.” 78 Keempat, penolakan Ibn ‘Abbas ra terhadap ru’yatnya Mu’awiyyah bisa dipahami, bahwa arus informasi ru’yat saat itu memang tidak cepat tersiar ke negeri-negeri kaum Muslim yang lain. Ini bisa dimengerti karena, alat-alat transportasi dan telekomunikasi pada saat itu sangat terbatas dan lambat. Akibatnya, informasi ru’yat di satu daerah kadang-kadang baru sampai sehari atau lebih. Melihat kondisi ini, Rasulullah Saw dan para shahabat membiarkan daerah-daerah yang jauh untuk tidak terikat dengan hasil ru’yat penduduk Madinah maupun Makkah, maupun negeri-negeri yang lain, dikarenakan halangan-halangan jarak. Imam asy-Sya’rani menuturkan, “Para shahabat ra tidak memerintahkan suatu negeri untuk mengikuti hasil ru’yat penduduk Madinah, Syam, Mesir, Maghrib, dan sebagainya.” 79 Barangkali pendapat mereka disandarkan pada sebuah riwayat yang menuturkan bahwasanya penduduk Nejed telah memberitahu kepada Rasulullah Saw, bahwa ru’yat mereka lebih awal satu hari dibandingkan dengan ru’yat penduduk Madinah. Lalu, Nabi Saw bersabda: “Setiap penduduk negeri terikat dengan ru’yat mereka sendiri-sendiri.” 80 . Hanya saja, hadits ini sama sekali tidak menunjukkan, bolehnya kaum Muslim bersikukuh dengan ru’yat masing-masing, atau untuk membenarkan mathla’. Hadits ini hanya merupakan solusi
75 76

Mafahim Islamiyah, jld. 2, bab 24. Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, jld. 3, hal. 1649-1662. 77 Syaikh Dr. Muhammad Husain Abdullah, al-Wadhih fi Ushul al-Fiqh, hal. 318. 78 Imam al-Amidi, al-Ihkâm fi Ushûl al-Ahkâm, jld. 2, hal. 364. 79 Imam asy-Sya’rani, Kasyf al-Ghummah ‘An Jamî’ al-Ummah, jld. 1, hal. 250. 80 Musnad Imam Ahmad, 6/18917.

~48~

Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam

(pemecahan) yang diberikan oleh Rasulullah Saw tatkala kaum Muslim menghadapi kendali waktu dan jarak saat itu. Sebab, hadits-hadits yang lain justru menunjukkan, bahwa Rasulullah Saw membatalkan puasanya karena mendengar informasi ru’yat dari negeri lain; misalnya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Lima. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albâni dalam mengomentari ucapan Sayyid Sabbiq yang mendukung pendapat yang mewajibkan ru’yat bagi setiap penduduk suatu negeri dan penentuan jarak dan tanda-tandanya mengatakan, “…Saya —demi Allah— tidak mengetahui apa yang menghalangi Sayyid Sabiq sehingga dia memilih pendapat yang syadz (ganjil) ini dan enggan mengambil keumuman hadits yang shahih dan merupakan pendapat jumhur ulama sebagaimana yang dia sebutkan sendiri. Pendapat ini juga telah dipilih oleh banyak kalangan ulama muhaqiqin seperti Ibn Taimiyyah, di dalam al-Fatawa jilid 25, asy-Syaukani dalam Nailul Authar, Shiddiq Hasan Khan di dalam ar-Raudhah an-Nadiyah 1/224-225 dan selain mereka. Dan inilah yang benar. Pendapat ini tidak bertentangan dengan hadits Ibn ‘Abbas (hadits Kuraib) karena beberapa perkara yang disebutkan As-Syaukani rahimahullah. Kemungkinan yang lebih kuat untuk dikatakan adalah bahwa hadits Ibn ‘Abbas tertuju bagi orang yang berpuasa berdasarkan ru’yat negerinya, kemudian sampai berita kepadanya pada pertengahan Ramadhan bahwa di negeri lain melihat hilal satu hari sebelumnya. Pada keadaan semacam ini beliau (Ibn ‘Abbas) meneruskan puasanya bersama penduduk negerinya sampai sempurna 30 hari atau melihat hilal. Dengan demikian hilanglah kesulitan (pengkompromian dua hadits) tersebut sedangkan hadits Abu Harairah dan lain-lain tetap pada keumumannya, mencakup setiap orang yang sampai kepadanya ru’yat hilal dari negeri mana saja tanpa adanya batasan jarak sama sekali, sebagaimana yang ditegaskan oleh Ibn Taimiyah di dalam al-Fatawa 75/104…” 81 Kelima, selain itu ijtihad Abdullah Ibn ‘Abbas ra di atas bertentangan dengan makna yang sharih (eksplisit) hadits yang diriwayatkan dari sekelompok sahabat Anshor, “Hilal bulan Syawal tertutup oleh mendung bagi kami sehingga kami tetap berpuasa pada keesokan harinya. Menjelang sore hari datanglah beberapa musafir dari Mekkah ke Madinah. Mereka memberikan kesaksian di hadapan Nabi Saw bahwa mereka telah melihat hilal kemarin (sore). Maka Rasulullah Saw memerintahkan mereka (kaum Muslimin) untuk segera berbuka dan melaksanakan sholat Ied pada keesokan harinya.” 82 Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah Saw memerintahkan kaum muslimin untuk membatalkan puasa setelah mendengar informasi ru’yatul hilal bulan Syawal dari beberapa orang yang berada di luar Madinah al-Munawarah. Peristiwa itu terjadi ketika ada serombongan orang dari luar Madinah yang memberitakan bahwa mereka telah melihat hilal Syawal di suatu tempat di luar Madinah alMunawarah sehari sebelum mereka sampai di Madinah. Kebolehan mathla’ juga akan bertentangan dengan riwayat Ibn ‘Abbas sendiri: “Telah datang seorang Arab Badui kepada Nabi Muhammad Saw kemudian berkata, ‘Sungguh saya telah melihat hilal.’ Rasulullah bertanya, ‘Apakah anda bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah?’ Dia menjawab, ‘Ya.’ Rasulullah bertanya lagi, ‘Apakah Anda bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah?’ Orang tersebut menjawab, ‘Ya.’ Lalu Rasulullah bersabda, ‘Wahai
81 82

Tamamul Minnah, hal. 397-398. HR. Ahmad, Abû Dâwud, an-Nasâ’i, dan Ibn Mâjah, di-shahih-kan oleh Ibn Mundir dan Ibn Hazm.

~49~

Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam

Bilal umumkan kepada manusia (masyarakat) agar mereka berpuasa besok’.” 83 Keenam, perbedaan mathla’ secara ‘aqli pun akan sangat janggal. Daerah yang terletak dalam satu bujur harusnya bisa memulai dalam waktu yang sama. Sebab, daerah yang terletak sebujur, sejauh apapun jaraknya tidak akan berbeda atau berselisih waktu. Namun, faktanya dengan adanya negaranegara bangsa, daerah-daerah yang terletak satu bujur memulai puasa tidaklah serentak, padahal secara astronomi harusnya bisa memulai puasa secara bersamaan. Selain itu, daerah yang terletak beda bujur, selisih waktu terjauh tidak sampai sehari. Jika demikian, tidak mungkin ada selisih waktu lebih dari sehari. Adanya mathla’ memungkin suatu daerah berbeda dengan daerah lain, meskipun secara astronomi harusnya tidak terjadi perselisihan dan perbedaan pendapat dalam memulai atau mengakhiri puasa Ramadhan. Kenyataan seperti ini mengharuskan kita meninggalkan mathla’. Ketujuh, dengan memperhatikan persatuan dan kesatuan ummat Islam seluruh dunia, kaum muslimin akan lebih arif memilih pendapat untuk serentak melakukan puasa Ramadhan di seluruh dunia. Harapannya, langkah semacam ini merupakan titik awal menuju persatuan ummat Islam seluruh dunia. Dalam sejarah pernah dituturkan, bahwa para khalifah dari Dinasti ‘Utsmaniyyah telah mengadopsi pendapat madzhab Hanafi yang menyatakan, “Perbedaan mathla’ tidak diakui. Penduduk timur wajib terikat dengan hasil ru’yat penduduk barat, jika ru’yat berhasil mereka tetapkan berdasarkan caracara yang telah ditentukan.” 84

Bagaimana Bila Ru’yat Bertentangan dengan Hisab?
Ketika kita mendengar informasi ru’yat, tidak jarang diantara kaum muslim menolak berita tersebut dengan alasan: secara astronomi bulan tidak mungkin wujud atau muncul di daerah tersebut. Atas dasar itu, mereka menyatakan bahwa hasil ru’yat semacam itu wajib ditolak oleh kaum muslim. Sebab, secara astronomi bulan belum mungkin terlihat atau wujud di daerah tersebut. Pendapat semacam ini harus ditolak, bahkan telah bertentangan dengan nash-nash syara’. Pertama, metode syar’i untuk menetapkan awal dan akhir Ramadhan adalah ru’yat (observasi mata secara langsung), bukan hisab. Di sisi lain, syara’ telah menetapkan bahwa kesaksian dalam masalah ru’yatul hilal cukup dilakukan oleh seorang yang adil. Ini didasarkan pada sebuah riwayat berikut ini: “Telah diriwayatkan dari Ibn ‘Abbas, ia berkata: Ada seorang Arab mendatangi Rasulullah Saw dan berkata, ‘Aku telah melihat bulan (hilal), yakni bulan Ramadhan.’ Kemudian Rasulullah Saw bertanya, ‘Apakah engkau telah bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah?’ Laki-laki itu menjawab, ‘Benar.’ Rasulullah bertanya lagi, ‘Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad itu Rasulullah?’ Laki-laki itu menjawab, ‘Benar.’ Rasulullah Saw bersabda, ‘Wahai Bilal, berdirilah dan kumandangkan azan, dan beritahukanlah agar mereka (kaum Muslim) puasa besok’.”

HR. Imam yang lima, kecuali Ahmad, dishahihkan oleh Ibn Khuzaimah dan Ibn Hibban. Lihat Imam asy-Saukani, Nailul Authar, jld. 4, Kitab ash-Shiyam, bab Mâ Yatsbutu bihish Shaumu wal Fithru minasy Syuhud, hadits no. 2. 84 Al-Darr al-Mukhtâr wa Radd al-Muhtâr, jld. 2, hal. 131-132.

83

~50~

187. Lebihlebih lagi ilmu hisab tidak bisa memprediksi cuaca yang ada di daerah itu. 48. Hanya orang yang menyaksikan secara langsung saja yang boleh memberikan kesaksiannya. Jika awan menghalangi kalian sempurnakanlah tiga puluh hari.” 87 “Manusia mencari-cari hilal. 29. ahli hisab tidak menyandarkan kesaksiannya pada sesuatu yang bersifat pasti. Untuk itu. 2. an-Nasa’i 4/133. Ibn Hibban 871. Fiqh as-Sunnah. lafadz di atas dalam riwayat anNasâ’i. al-Baihaqi 4/212 dari dua jalan dari Yahya bin Abdullah bin Salim dari Abu Bakar bin Nafi’ dari bapaknya dari Ibn Umar sanadnya hasan sebagaimana dikatakan alHâfidz Ibn Hajar al-Asqalâni dalam at-Talkhisul Habir. mereka tidak boleh memberikan kesaksiannya tentang ru’yatul hilal. jld. bila dikaitkan dengan cuaca. ahli hisab tidak menyaksikan bulan secara langsung. al-Hâkim 1/423. an-Nasâ’i 4/132. Sayyid Sabbiq. jika ada dua saksi berpuasalah kalian dan berbukalah. 86 85 ~51~ . maka aku kabarkan kepada Nabi Saw bahwa aku melihatnya. 6. dari Abdurrahman bin Zaid bin al-Khattab dari sahabatsahabat Rasulullah. Rasulullah Saw telah bersabda kepada para saksi: “Jika kalian melihatnya seperti kalian melihat matahari. ad-Daruquthni. Syaikh Ahmad ad-Da’ur. (Namun) jika tidak. (terj). “Jika kalian melihatnya seperti melihat matahari. Demikian keterangan Syaikh Salim al-Hilali serta Syaikh Ali Hasan. Kesaksian tidak sah. Ia hanya menyandarkan pada perhitungan-perhitungan yang bersifat dzanniyyah.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Untuk itu. Sebab. hasil pantuan bulan yang didasarkan pada hisab tidak boleh dijadikan sebagai bukti untuk memberikan kesaksian. hal. Jika dua orang saksi mempersaksikan (ru’yat hilal) maka berpuasalah dan berbukalah kalian karenanya. Untuk itu. 88 HR.” 89 Berdasarkan hadits-hadits di atas kita bisa menyimpulkan bahwa penetapan awal dan akhir Ramadhan harus ditetapkan berdasarkan bukti-bukti syar’i. penetapan awal dan akhir Ramadhan harus ditetapkan berdasarkan kesaksian seorang saksi yang adil.” 86 “Puasalah kalian karena melihat hilal. atau melakukan observasi secara langsung (melihat). ia tidak bisa memastikan bahwa bulan bisa terlihat atau tidak. 85 Sebab. berbukalah karena melihatnya. Untuk itu. meskipun mereka mengklaim perhitungan hisabnya memiliki akurasi yang tinggi. jika kalian tertutup mendung sempurnakanlah tiga puluh hari. Rasulullah Saw pun menyuruh manusia berpuasa. al-Ahkâm al-Bayyinât. hal.” 88 “Puasalah karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya. jika tidak tinggalkanlah. 89 HR. Ahmad 4/321. Sebab.” Benar. sanadnya hasan. hal. maka bersaksilah. maka tinggalkanlah. ad-Darimi 2/4. ad-Daruquthni 2/167 dan dari jalan Husain bin al-Harits al-Jadali dari Abdur Rahman bin Zaid bin al-Khaththab dari para shahabat Rasulullah Saw sanadnya hasan. akan tetapi tetap saja tidak menyakinkan (absolut). dan seseorang tidak boleh memberikan kesaksian kecuali kesaksiannya itu didasarkan pada sesuatu yang menyakinkan. Allah SWT tidak memerintahkan kita untuk mengawali dan mengakhiri Ramadhan dengan bukti-bukti astronomis. berhajilah karena melihatnya. Ahmad 4/321. 2/167. Lihat Sifat ash-Shaum Nabi Saw fî Ramadhan. hal. Imam Ahmad menambahkan: “dua orang muslim”. maka bersaksilah. Ini didasarkan pada sabda Rasulullah Saw. jika dibangun di atas dzan (keraguan). 87 HR. Abû Dâwud 2342.

Sebab. Misalnya. Bahkan institusi inilah yang dapat menyatukan seluruh kaum muslimin. maka kaum muslim tetap harus menyempurnakan bulan sya’ban menjadi 30 hari. Dalam kondisi semacam ini. kesaksiannya bisa gugur. anNasâ’i]. Walhasil.” [HR. Atas dasar itu. perbedaan pendapat ini tidak akan pernah terselesaikan dengan tuntas.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Kesaksian orang yang melihat hilal tidak bisa digugurkan oleh perhitungan ahli hisab. Ini semakin menguatkan. adanya pemimpin seluruh kaum muslimin yang berfungsi untuk menyelesaikan perbedaan pendapat di antara mereka menjadi angat urgen. kesaksian ru’yat yang dibawa oleh seorang yang adil tidak bisa digugurkan dengan perhitungan ahli hisab. maka kita harus menyempurnakan bulan Sya’ban menjadi 30 hari. jika kesaksiannya dilakukan oleh orang-orang yang tidak adil. bahwa hisab tidak bisa membatalkan ru’yat. ~52~ . sebelum ada pihak yang berfungsi sebagai badan itsbat bagi seluruh kaum muslimin. tentunya factor mendung yang menghalangi tidak lagi relevan. bahwa walaupun bulan sudah wujud — memenuhi parameter-parameter astronomi—. Ru’yat hanya akan gugur. Hadits ini dengan sangat jelas memberikan pengertian. namun tidak secara otomatis kaum muslim harus memulai bulan Ramadhan pada hari itu juga. dan meniadakan perselisihan diantara ummat Islam. Namun demikian. Ini menunjukkan bahwa. maka apabila mendung (menutupi) kalian maka sempurnakanlah hitungan menjadi tiga puluh hari. Seandainya hisab bisa dijadikan bayyinah (bukti). Meskipun secara astronomi bulan sudah terlihat. tidak secara otomatis. Kedua. Ketika di daerah itu terhalang mendung. Kesaksian seseorang akan gugur. bisa jadi penglihatannya terhalang oleh mendung. saat itu juga kaum muslim harus sudah memulai melakukan ibadah puasa. maka puasa tetap tidak boleh dilakukan. sekiranya perhitungan astronomi sudah menetapkan bahwa bulan telah wujud dan mungkin dilihat di suatu daerah. Rasulullah Saw sendiri tidak meminta kita untuk memastikan apakah bulan sudah wujud atau tidak pada saat itu —berdasarkan perhitungan astronomi. Badan itsbat itulah yang akan berfungsi sebagai penengah perbedaan pendapat di kalangan kaum muslim. Sebab. Rasulullah Saw bersabda: “Berpuasalah karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya (hilal). yang bersaksi tidak adil dan terkenal ketidakjujurannya. Badan yang berhak menetapkan masalah ini adalah pemimpin seluruh kaum muslim. bisa saja daerah tersebut tertutup mendung tebal yang menghalangi proses ru’yat. Pendapat yang Rajih Pendapat yang rajih (kuat) dan lebih dekat kepada al-Qur’an dan as-Sunnah mengenai penetapan awal adan akhir Ramadhan adalah ru’yat yang berlaku untuk seluruh kaum muslimin di dunia (mathla’ universal). akan tetapi jika terhalang mendung. sesungguhnya bulan sudah wujud dan mungkin untuk dilihat pada saat itu —berdasarkan prinsip astronomi. Rasulullah Saw hanya memerintahkan kaum muslim untuk ru’yatul hilal (memantau bulan). jika syarat-syarat kesaksian tidak terpenuhi. Akan tetapi karena bulan tersebut terhalang mendung. Sebab.

Maka di sini peran penguasa yang “keputusannya mampu menghentikan perbedaan” sangat dinanti-nanti.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Bila kita melongok sejarah ummat Islam. namun juga menjawab ribuan masalah kaum Muslim di dunia saat ini. Namun untuk menuju ke arah itu. yang dalam Fiqh Siyasah disebut Khalifah. misalnya. Nantinya. Kaidah ushul menyatakan. penguasa ini. dan sekaligus memberikan solusi problematika dunia yang adil dan penuh rahmat bagi seluruh alam. solusi untuk masalah zone dalam ru’yat global. salah satu kriteria imkanur. kita akan berkesimpulan bahwa institusi Islami yang bisa menuntaskan perbedaan yang terjadi diantara kaum muslimin adalah Khilafah Islamiyyah. ~53~ . metode penyebaran informasi ru’yat. landasan syar’i ru’yat dan ru’yat global. institusi khilafah sendiri harus diperjuangkan dulu. berkewajiban mengadopsi (tabbani) sejumlah hal. Nantinya institusi ini tidak hanya akan menyeragamkan saat-saat ibadah kaum muslimin. syarat-syarat ru’yat yang dapat diterima. salah satu metode hisab yang terbukti akurat. pemberlakuan hari ibadah dan sanksinya. “Perintah Imam (pemimpin) menghilangkan khilafiyyah (pertentangan)”.

Lihat Nailul Authar. 93 HR. dari bapaknya. puasa secara syar’i adalah.” (Qs. jld. dari Salim bin Abdillah. serta al-Hâfidz Ibn Hajar al-Asqalâni dalam Fath al-Bârî. Rasulullah Saw bersabda: “Amal itu tergantung dari niatnya. 26. 90 Dengan kata lain. Sedangkan menurut pengertian syari’at. 245. 245. Kitab ash-Shiyâm.” 91 Ibadah puasa disyari’atkan sejak bulan Ramadhan tahun ke 2 hijrah. hal. Nailul Authar.” 94 Imam asy-Syaukani. 91 90 ~54~ .HUKUM SEPUTAR PUASA Definisi Puasa Menurut Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahîh Muslim. hal. Bukhâri dan Muslim.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam BAB VII . 92 Rukun Puasa a. Dan dikeluarkan an-Nasâ’i 4/196. karya Imam asy-Syaukani. minum. 255. Niat Niat merupakan rukun puasa. pada waktu. Ibn Mâjah 1933. “Niat di malam hari” dari jalan dirinya sendiri. “Menahan diri dari makan. dari Umar bin Khattab ra. Nailul Authar. Abû Dâwud 2454. puasa secara bahasa mengandung pengertian al-imsak (menahan diri). 1. dan setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya. puasa adalah menahan makan dan minum serta yang membatalkannya. dan sanadnya shahih. Dalam satu lafadz pada riwayat ath-Thahawi dalam Syarh Ma’anil Atsar.” 93 Orang yang berpuasa wajib berniat puasa di malam harinya. al-Bayyinah [98]: 5). dan dengan syarat-syarat yang bersifat khusus. jima’ dan lain-lain yang kita diperintahkan untuk mendahan diri daripadanya sepanjang hari menurut cara yang telah disyari’atkan. 92 Imam asy-Syaukani. 54. sebagaimana firman Allah SWT: “Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan untuk menyembah Allah dengan mengikhlashkan ibadah kepadaNya. 2. 94 HR. Kitab ash-Shiyâm. hal. Subulus Salam. hal. hal. perkataan yang merangsang. Kitab ash-Shiyâm. disertai dengan menahan diri dari perkataan sia-sia. al-Baihaqi 4/202 dari jalan Ibn Wahb dari Ibn Lahi’ah dari Yahya bin Ayub dari Abdullah bin Abu Bakar bin Hazm dari Ibn Syihab. sebagaimana sabda Rasulullah Saw: “Barangsiapa tidak berniat puasa sebelum fajar maka tidak ada puasa baginya. dari Hafshah. jld. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibn Khuzaimah dan Ibn Hibban men-shahih-kannya dan me-marfu’-kan hadits ini. perkataan yang diharamkan dimakruhkan menurut syarat-syarat dan waktu yang telah ditetapkan. at-Tirmidzi 730 dari jalan lain dari Yahya.

hal.” [HR. hal. mengharuskan niat pada malam hari khusus untuk puasa fardhu (Ramadhan). Juga berdasarkan sabda Rasulullah Saw: “Telah diangkat dari ummatku dosa karena mengerjakan sesuatu lantaran lupa. dan al-Hâkim]. Sedangkan Imam Malik. Ishaq. al-Hadi. 3. Jabir bin Yazid dari golongan shahabat. alLaits. mewajibkan niat pada malam hari tanpa membedakan puasa wajib (Ramadhan dan tathawwu’ [Sunnah]). hanya disalahkan kamu terhadap perkara-perkara yang kamu kerjakan dengan sengaja. Lihat al-Muhalla. Kemudian sempurnakanlah puasa hingga malam hari. Sedangkan Imam Syafi’i. 97 Imam asy-Syaukani. Muntah dengan sengaja dapat membatalkan puasa berdasarkan sabda Rasulullah Saw: “Barangsiapa terpaksa muntah sedang dia berpuasa. Menurut Imam asy-Syaukani. Allah SWT berfirman: “Dan makan serta minumlah kamu hingga nyata kepadamu benang putih dan benang hitam. 6. yaitu fajar. 97 Apakah sah puasa diniatkan pada siang hari untuk puasa besok harinya. dan al-Qasim. dan Imam Ahmad berpendapat bahwa niat puasa sah untuk puasa selama satu bulan. Ini didasarkan pada firman Allah SWT: “Dan tidak ada dosa atas kamu mengenai pekerjaan-pekerjaan yang kamu kerjakan karena silap. Nailul Authar. ath-Thabarani. tidak untuk puasa sunnah. dan bersetubuh. 255-256. tetapi barangsiapa muntah dengan sengaja munta maka wajiblah atasnya qadha’. 95 Bila seseorang lupa tidak berniat puasa di malam harinya. 98 Syarh Kabîr. “Sah puasa Ramadhan dan puasa yang ditetapkan dengan berniat pada siang harinya. maka tak ada qadha’ atasnya. Imam Abu Hanifah menyatakan. dan Ibn Abi Dzaib. Menahan Diri Dari Hal-Hal yang Membatalkan Puasa Diwajibkan menahan dari semua hal yang dapat membatalkan ibadah puasa. muntah dengan sengaja. Sebab. al-Nashir. Imam Ahmad bin Hanbal. hal. al-Muayyid Billah. maka ia harus segera menetapkan niatnya tatkala ia ingat. atau mengeluarkan air mani dengan sengaja. hal.” (Qs. pendapat Syafi’i lebih kuat. 257. 105. Mereka menyatakan bahwa puasa tidak sah bila tidak ada niat pada malam hari. alAhzab [33]: 5). jld. jld. Imam Malik. puasa merupakan ibadah khusus yang waktunya dibatasi.” 98 b. Ini adalah pendapat Imam Syafi’i dan Ibn Mundzir.” 99 95 96 Idem.” (Qs. 23. dan janganlah kamu menyetubuhi mereka (isteri-isterimu) sedang kamu lagi beri’tikaf dalam mesjid. ~55~ . 96 Niat harus dilakukan pada setiap malam bulan Ramadhan. Ibn Mâjah. minum. semisal makan. al-Baqarah [2]: 188). karena kelupaan dan karena dipaksa.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Ibn Umar. Kitab ash-Shiyâm.

Dan barangsiapa masuk ke pagi hari dalam keadaan berbuka. Kami pergi ke mesjid dan kami buat untuk anak-anak mainan dari bulu domba. dari Abu Hurairah ra. Ini juga berlaku bagi seseorang yang murtad dari Islam. hingga datang saat Maghrib. dan tidak sedang safar. ‘Jika mereka berhenti. sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Bukhâri dan Muslim: “Rasulullah Saw menyuruh orang-orang pada pagi hari ‘Asyura pergi ke kampung-kampung Anshar untuk menyampakan perintah Nabi. sanadnya shahih sebagaimana yang diucapkan Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah dalam Haqiqtus Shiyam hal. niscaya diampunilah dosanya yang telah lalu. Ini didasarkan pada sabda Rasulullah Saw: “Diangkat kalam dari tiga orang (1) dari anak kecil hingga ia baligh.’ Maka kami para shahabat berpuasa sesudah mendengar perintah itu. (3) Berakal. (1) Islam. (4) Suci dari haid dan nifas (bagi wanita).(3) dari orang tidur hingga ia bangun. at-Tirmidzi 3/79. Dan ia (orang yang murtad tadi) mengqadha’ puasa saat ia murtad.” [HR. ‘Barangsiapa masuk ke pagi hari dalam keadaan berpuasa (belum makan dan minum). dan al-Hâkim]. yaitu. maka mulai saat itu ia imsak (menahan diri untuk tidak mengerjakan perbuatan yang dapat membatalkan puasa).Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Syarat Wajib Puasa Puasa diwajibkan bagi. b. ~56~ .00 wib).” 99 HR. puasa merupakan ibadah yang disyaratkan di dalamnya keIslaman. (2) Baligh.” (Qs. Ibn Mâjah 1/536. Ashhabus Sunan. dan jika mereka kembali lagi maka sungguh berlakulah atas diri mereka sunnah orangorang yang telah lalu’. kemudian ia kembali masuk Islam pada saat bulan Ramadhan. Berdasarkan firman Allah SWT: “Katakanlah kepada orang-orang kafir. Jika ia masuk Islam pada siang hari (semisal jam 13. al-Anfâl [8]: 39). dari Muhammad bin Sirin. (2) dari orang gila sampai ia sembuh. sebab. Ahmad 2/498 dari jalan Hisyam bin Hasan. sehingga sampai waktu berbuka. a. 14. (5) Muqim. dan menyuruh anak-anak kecil berpuasa. Abû Dâwud 2/310. maka ia wajib melaksanakan puasa Ramadhan. Islam Orang kafir tidak diwajibkan berpuasa. kami berikan mainan itu kepadanya. maka hendaklah ia sempurnakannya. Baligh Anak kecil (belum baligh) tidak diwajibkan berpuasa. lebih baik anak kecil diajari untuk melakukan ibadah puasa. maka hendaklah dia berpuasa pada sisa harinya. Bila seorang anas menangis untuk meminta makanan. Meskipun demikian. (6) Sanggup berpuasa. Apabila seorang kafir masuk Islam pada bulan Ramadhan.

alBaqarah [2]: 184). Suci dari haid dan nifas (bagi wanita) Wanita yang sedang haid atau nifas tidak wajib mengerjakan ibadah puasa. dan imsak di sisa harinya. bila ia telah suci dari haid atau nifasnya. Ini didasarkan pada riwayat yang dinyatakan oleh al-Jama’ah dari Mu’adz bahwa ‘Aisyah r. tiada sholat dan tiada berpuasa? Itulah kekurangan agamanya. 15.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam c.” (Qs. Mereka diperbolehkan berpuasa dalam safarnya atau tidak.” 101 e. berkata: “Adalah kami berhaid di masa Rasulullah Saw. Akan tetapi bila ia telah sembuh dari sakitnya maka ia wajib mengganti sebanyak hari yang ia tinggalkan. Bila ia tidak berpuasa dalam safarnya. atau di dalam perjalanan. maka ia wajib mengganti puasa sejumlah hari yang ia tinggalkan. ~57~ . dan tidak sedang safar Orang yang sedang safar (bepergian) tidak diwajibkan berpuasa. di hari-hari yang lain. maka hendaklah ia menjalankan puasa yang ia tinggalkan di dalam sakit atau safar di hari-hari yang lain. Lihat Nailul Authar. maka hendaklah ia mengerjakan puasanya yang ia tinggalkan dalam sakit atau dalam safar itu.” [HR. al-Baqarah [2]: 184). 100 101 Syarh Kabîr. Sanggup berpuasa Puasa tidak diwajibkan bagi orang yang sakit. 3. Muqim.” 100 Imam Bukhâri meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Apakah seseorang kamu (kaum wanita) apabila berhaidl. Namun. Berakal Orang gila tidak wajib berpuasa.” (Qs. jld. jika tidak boleh juga. hal. Jama’ah].a. Rasulullah Saw pernah ditanya oleh salah seorang shahabat —bernama Hamzah Ibn ‘Amr al-Aslami: “Apakah saya berpuasa dalam safar?” Rasulullah Saw menjawab. Allah SWT berfirman: “Barangsiapa sakit di antara kami. Dia tidak wajib mengqadha’ puasanya tatkala ia masih gila. Allah SWT berfirman: “Barangsiapa sakit di antara kamu sakit atau dalam perjalanan. f. maka ia wajib mengqadha’ puasa yang ia tinggalkan selama haid dan nifas. Sedangkan bila ia sembuh di bulan Ramadhan maka ia wajib melaksanakan puasa. karya Imam asy-Syaukani. “Jika engkau mau berpuasalah. d. maka kami diperintahkan supaya mengqadha’ puasa dan kami tidak diperintahkan untuk mengqadha’ sholat.

210.” (Qs. Keempat hal inilah yang dapat menjamin shihahnya puasa. karya Syaikh Yahya Abdurrahman al-Khathib. 103 Hukum ini juga berlaku bagi para pekerja keras. maka ia boleh berbuka puasa. rusak. dan mengqadha’ puasanya di hari yang lain.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Kata “maridh” di sini berfaedah kepada makna umum. lelaki atau perempuan. (4) Berpuasa pada waktunya. dan wiladah. Ibn ‘Abbas berkata. orang terkena penyakit akut (maag) . (1) orang hamil. 105 Muhammad Aqlah. Puasa Ramadhan Bagi Wanita Hamil dan Menyusui 104 Para ulama telah sepakat. Sedangkan standar dharar (bahaya) yang menjadikannya boleh berbuka dapat diketahui dengan ghalabatudz zhan (prasangka yang kuat). Abû Dâwud]. karya Ibn Qudamah. kecuali dengan mengalami kesukaran yang sangat. maka ia harus memberi makan seorang miskin setiap harinya. al-Baqarah [2]: 184). 105 102 103 Lihat al-Mughni. nifas. hal. 104 Lihat Ahkam al-Mar’ah al-Hamil fi Syari’at al-Islamiyyah. Mereka diberi keringanan (rukhshah) untuk tidak melaksanakan ibadah puasa dengan kompensasi membayar fidyah. Lihat Imam asy-Syaukani. atau sakit.” [HR. Bukhâri]. memberi fidyah sehari seorang miskin. (3) Tamyiz. bahwa ketika wanita hamil dan menyusui itu khawatir terhadap dirinya atau terhadap dirinya dan anaknya. tenggelam. atau berdasarkan penjelasan dari seorang dokter. MA. ~58~ . Nailul Authar. (2) orang yang sedang menyusui. 297-8. (1) Islam sepanjang hari. dan tidak disyaratkan sakit keras atau lemah. Bukhâri dan Ibn Sirin. dan lain-lain).” [HR. yakni dapat membedakan antara yang baik dan yang tidak baik. Diriwayatkan dari ‘Ikrimah bahwa Ibn ‘Abbas berkata. hal. “Ayat tersebut diberlakukan bagi wanita hamil dan yang sedang menyusui. Namun. (2) Suci dari haid.. Berdasarkan keduanya bisa ditetapkan sebab kekhawatirannya. maka mereka boleh berbuka. Demikianlah pendapat Atha’ dan Ahlu al-Dzahir. Syarat Sah Puasa Syarat sah puasa ada empat macam. 102 Orang-orang yang digolongkan sebagai orang yang tidak mampu berpuasa adalah. yaitu berdasarkan pada pengalaman sebelumnya. as-Shiyâm Muhdatsâtuhu wa Hawâditsuhu. akan tetapi benar-benar berdasarkan pengalaman dan keterangan dokter. yang bila ia berpuasa akan menyebabkan dlarar bagi dirinya. yang tidak mampu berpuasa . namun hukumnya tetap untuk orang yang sangat tua. yaitu yang bisa berakibat kurangnya akal. “Ayat ini walaupun dimansukhkan. atau orang yang menolong orang dari peristiwa yuang mengerikan (kebakaran. yang dikehendaki dengan kekhawatiran di sini bukan hanya sekadar hasil ilusi dan imajinasi saja. Ini didasarkan pada firman Allah SWT: “Atas mereka yang tak sanggup berpuasa. Kitab ash-Shiyâm. (3) orang yang sudah sangat tua.

” 109 Kedua. 109 Abdur Razzaq. 111 Al-Mawardi. hal. Ini adalah madzhab Ibn Hazm al-Zahiri. Ulaisy. hal. al-Mughni. 313. Kasysyûful Qinû’. 535. hal. 221-222. 447. al-Tâj wal Iklil Li Mukhtashâr Khalîl. Atha’ dan Ikrimah dari Ibn ‘Abbas dengan sejumlah sanad hasan. hal. al-Maqdisi. jld. 20. jld. 217. al-Istidzkâr. hal. al-Mawardi. al-Laits. Dia wajib memberi makan dan tidak wajib mengqadha. beliau menjawab. jld. riwayat ini juga disitir dari Ishaq bin Rahawih. jld. 2. an-Nawawi. 10. “Boleh berbuka dan memberi makan sebagai fidyah. 174. al-Muhallâ. 410. Mujahid meriwayatkan pendapat ini dari Ibn Umar. hal. Ini adalah pendapat rajih dan mu’tamad madzhab Syafi’i. Sebaliknya. 437. Sunan ad-Daruquthni. jika wanita hamil dan menyusui berbuka karena khawatir terhadap anaknya saja. jld. 436. 10. hal. 114 Ibn Hazm. jld. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibn ‘Abbas. Ini adalah pendapat madzhab Maliki. 112 Ibn Abdil Barr. 114 Kelima. hal. Al-Mawardi berkata: Shahih dari Ibn Umar memberi makan. tidak wajib mengqadha’. Mushannaf Abdur Razzaq.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Tapi dalam masalah konsekwensinya (berbuka). 113 Keempat. 6. al-Qurthubi. Jika wanita hamil dan menyusui itu memilih memberi makan. jld. memberi pilihan. 108 Ibn Umar pernah ditanya mengenai wanita hamil yang khawatir terhadap anaknya. Wanita hamil dan menyusui yang berbuka tidak wajib mengqadha’ dan tidak pula membayar fidyah. hal. jld. 3. al-Uddah Syarh Umdah. 110 dan juga merupakan pendapat Imam Syafi’i dalam kitab al-Buwaithi. hal. 113 Idem. 2. juga alQasim bin Muhammad dan sekelompok ulama. al-Hâwi. 1. Ad-Daruquthni berkata: “Ini hadits shahih”. 139. hal. Ibn Umar dan Sa’id bin Jubair. Dalam masalah ini ulama berselisih menjadi enam pendapat: Pertama. 4. Sedangkan wanita yang menyusui wajib mengqadha’ dan membayar fidyah. hal. 107 Al-Bahuti. tidak mengqadha’. jld. al-Mawaq. Ibn ‘Abbas dan Atha’. Mughni al-Muhtâj. Ibn Qudamah. wanita hamil yang berbuka hanya wajib mengqadha’ dan tidak wajib membayar fidyah. hal. jld 10. yakni dengan memberi makan dan tidak mengqadha’. hal.” Ad-Daruquthni berkata: “Hadits ini shahih”. al-Istidzkûr al-Jûmi’ li Madzâhib Fuqahâ’il Amshâr. 106 pendapat madzhab Hanbali. 223. maka terdapat ikhtilaf antara para ulama. jld. Dari Ibn ‘Abbas atau Ibn Umar berkata: “Wanita hamil dan menyusui boleh berbuka. maka Ibn ‘Abbas memerintahkan kepadanya agar berbuka. 3. jld. al-Majmû’. 3. al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân. jld. jika mereka memilih Asy-Syarbini. untuk setiap harinya satu mudd hinthah (gandum) yang diberikan kepada satu orang miskin. hal. jld. maka wajib baginya qadha’ dan membayar fidyah. 4. Taqrîrât Muhammad Ulaisy ma’a Syarhil Kabîr. 223. 110 Idem. wanita hamil dan menyusui yang berbuka hanya berkewajiban membayar fidyah. 288. 111 Ketiga. 2. 222. 106 ~59~ . 107 dan ini juga pendapat Mujahid. bahwa wanita hamil dan menyusui boleh berbuka lalu memberi makan dan ia tidak wajib mengqadha’. jld. 112 Dan telah meriwayatkan Sa’id bin Jubair. Rekomendasi dan takhrij Abdul Mu’thi Amîn al-Qal’aji. adDaruquthni meriwayatkan dari Ibn ‘Abbas bahwa ia memiliki budak menyusui. 108 Ibn Abdil Barr. hal. 150. 2. maka baginya cukup dengan memberi makan dan tidak wajib mengqadha’. al-Hâwi. 267.

118 Al-Auza’i berkata. Sedang menurut para pakar hadits. dan menggugurkan puasa saja dari wanita hamil dan menyusui. hal.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam mengqadha’. hal. Raudhah ath-Thalibin. Dhohhah. jld. hal. Sa’id bin Jubair. jld. yakni setiap harinya memberi makan seorang miskin. Badâi’u ash-Shanâi’.” 119 Pendapat ini diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib. 4/190. Dengan catatan bahwa tidak boleh bagi wanita hamil dan menyusui berbuka kecuali ketika mereka sudah tidak kuat lagi berpuasa karena masyaqoh yang membahayakan dirinya. Namun. maka wanita hamil dan menyusui hanya wajib mengqadha’ dan tidak wajib memberi makan (fidyah). Abu ats-Tsaur. al-Istidzkâr. 4/374. an-Nawawi. an-Nasâ’i di dalam sunanya di dalam kitab Shiyâm bab Wadh’is Shiyâm anil Hubla wal Murdhi’. hal. 6. 449. 6. 3. “Ini adalah hadits hasan. Sedangkan setiap orang yang mampu berpuasa dengan tanpa masyaqoh yang membahayakan dirinya.” 120 Pendapat yang Rajih Tampak jelas bahwa pendapat yang terkuat adalah pendapat yang mewajibkan qadla tanpa harus membayar fidyah bagi wanita hamil dan menyusui. 2. 229. hal. Ibn Abidin. “Menurut kami. al-Laits dan ath-Thabari. 116 115 ~60~ . Dengan demikian ketika wanita hamil dan Al-Baghwai.” 122 Mengenai hadits ini Imam at-Tirmidzi berkata. 222. hal. Atha’. maka baginya cukup dengan mengqadha’ dan tidak wajib memberi makan. 120 Al-Kasani. dan Muzani dari madzhab Syafi’i. 117 Al-Mawardi. 97. Ibn Mundzir. bahwa hadits inilah yang diamalkan. hal. Tsauri. 2. 10. 2. jld. Zuhri. 355. 121 Mendiskusikan Dalil-Dalilnya Hadits Anas bin Malik al-Ka’bi menuturkan. at-Tirmidzi di dalam sunanya kitab Shaum bab Mâ Jâ fîl Rukhshah fîl Iftâr lil Hubla wal Murdhi’. 2. jld. 10. Syarh as-Sunnah. 6. Fath al-Qadîr Ma’a al-Hidâyah. 249. Imam Ahmad. 121 Ibn Abdil Barr. 437. jld. 117 Hasan al-Bashiri. hal. wanita hamil dan menyusui yang berbuka hanya wajib mengqadha’ dan tidak wajib membayar fidyah. al-Istidzkâr. 122 HR. maka berpuasa tetap wajib baginya. al-Hâwi. 217. al-Istidzkâr. Ibn Himmam. Abu Ubaid. jld. jld. Ini dalam kondisi ketika wanita hamil dan menyusui mampu mengqadha’. jika mereka tidak mampu mengqadha’. Ashhaburra’yi. 316. 115 Keenam. Ini adalah madzhab Hanafi. tahqiqi Su’aib Arnauth. jld. Rabi’ah. jld. hal. Hasyiyah Radd al-Mukhtâr. an-Nawawi. Ibrahim Nakha’i. 316. Beliau berkata mengenai wanita hamil dan menyusui. hal. alMajmu’. 118 Ibn Abdil Barr. maka wajib bagi mereka untuk membayar fidyah. al-Baghawi. 116 pendapat Imam Syafi’i. Syarh as-Sunnah. Ini adalah pendapat Ishaq bin Rahawih. 119 Ibn Abdil Barr. “Mereka hanya wajib mengqadha’ dan tidak wajib membayar fidyah. jld. hal. Auza’i. 222. bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menggugurkan puasa dan separoh sholat dari musafir. 10. hamil dan menyusui adalah salah satu penyakit. Lafadz hadits ini at-Tirmidzi. jld. 3/94.

127 At-Tirmidzi.” 123 Zhâhir hadits tersebut menetapkan bahwa wanita hamil dan menyusui yang berbuka wajib baginya mengqadha’. dan setelah mukim barulah ia wajib mengqadha’nya. yang terkenal dengan Ibn al-Arabi al-Maliki. al-Jâmi’ al-Bayan fi Tafsîr al-Qur’âni. maka aktivitas pengkajian itu telah sempurna. niscaya musafir yang berbuka puasa dan masih dalam perjalanan tidak wajib mengqadha’ puasa. dikemukakan. jld. al-Ahkâm al-Qur’ân. Hal ini sama dengan ketika digugurkannya puasa dari musafir yang masih dalam perjalanan. 124 Makna yang dapat dipahami dari hadits tersebut adalah. dengan alasan Nabi Saw benar-benar telah menyatukan hukum musafir dengan hukum wanita hamil dan menyusui. hal. 238. hal. Aridhotul Ahwâdi bi Syarhi Shahîh at-Tirmidzi. 3. 85. ini tidak berarti bahwa mereka diperintah berbuka dan membayar fidyah tanpa wajib mengqadha’. Akan tetapi. puasa telah diringankan dari mereka seperti halnya musafir. “…Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah. Pendapat yang seperti ini jelas-jelas menyalahi zhâhir al-Qur’an dan ijma’ ummat. 126 Muhammad Aqlah. 140. (yaitu): memberi makan seorang miskin…” (Qs. 221. akan tetapi pada batas-batas wajar dan alami. al-Mughni.” Dari penelitian ini ditetapkan bahwa tidak ada bahaya bagi wanita hamil dan menyusui untuk tetap berpuasa di bulan Ramadhan. jld. Dan dalam kajian itu telah ditemukan bahwa kadar gula pada darah tidak berpengaruh secara signifikan bagi wanita hamil atau menyusui dibandingkan dengan wanita biasa (yang tidak hamil dan menyusui). dengan tema “Sebagian perubahan kimia pada wanita hamil dan menyusui akibat berpuasa”. maka mereka diperintahkan berbuka dan wajib mengqadha’nya. Allah menggugurkan puasa dari wanita hamil dan menyusui selama mereka masih belum mampu berpuasa. sebab hadits di atas sama sekali tidak menyinggung kewajiban membayar fidyah. kewajiban membayar fidyah itu membutuhkan dalil sebagaimana kewajiban mengqadha’. 210-211. Sebab. 140. 3.” 126 Jawaban atas Beberapa Sanggahan Pertama. alBaqarah [2]: 184). Sunan at-Tirmidzi. dan cukup membayar fidyah saja. sesungguhnya tidak ada argumentasi bagi orang yang berdalil dengan hadits di atas. 3/95. Ibn al-Arabi. hal. hal. Sebagaimana telah ditemukan bahwa kadar kolestrol meningkat pada wanita hamil. dan setelah mampu. jld. 125 Ath-Thabari. jld. “Dengan memperhatikan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para wanita selama bulan ramadhan mengenai pengaruh puasa bagi wanita hamil dan menyusui.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam menyusui khawatir terhadap anaknya. Sehingga. al-Jashshâsh. barulah mereka wajib mengqadha’. hal. ash-Shiyâm Muhdatsatuhu wa Hawâditsuhu. 3. 1. 124 123 ~61~ . 127 Ibn Qudamah. Kalau saja pada hadits tersebut ada dilalah (petunjuk) yang menunjukkan bahwa Allah SWT telah meringankan puasa dari mereka hanya melalui firmannya. Sedangkan zhâhir alQur’an menetapkan fidyah bagi orang yang berat berpuasa dan tidak perlu berpuasa. 125 Dalam penelitian kedokteran yang diajukan oleh tiga orang spesialis pada Konferensi masalah kedokteran dalam al-Qur’an al-Karim yang diadakan di Kairo Mesir pada bulan Muharram 1406 H.

131 Abdul Karim Zaidan. alBaqarah [2]: 184). maka kewajiban itu hanyalah untuk menambal sesuatu yang hilang. al-Mabsûth. 130 Kedua. jld. jld. Sedang udzurnya tidak ada pada dirinya sendiri. Oleh karena itu syara’ menetapkan sanksi yang menjadi kaffârah (penebus) kesalahannya. hal. sesungguhnya menganalogkan wanita hamil dan menyusui dengan orang sakit itu tidak sah (benar). 130 Idem. Ketika orang yang tidak boleh berbuka itu minum dan Al-Babarti. wanita hamil dan menyusui. Perkara yang demikian itu ada pada wanita hamil dan menyusui. sehingga mereka termasuk di antara orang yang mendapatkan rukhshah (dispensasi) berbuka. 99. 131 Sedangkan wanita hamil dan menyusui itu boleh berbuka disebabkan sesuatu yang berhubungan dengan dua orang. 99. Orang sakit itu boleh berbuka disebabkan dirinya sendiri. padahal berbuka bagi mereka itu dibolehkan oleh hukum syara’. Sedangkan makna (tujuan) menambal itu bisa dihasilkan dengan mengqadha’. jld. 2. Sebagian orang menganalogkan wanita hamil dan menyusui dengan orang sakit. 133 As-Sarkhasi. 2. namun ketika Nabi Saw menyebut puasa dan menggugurkannya dari musafir. Badâ’iu Shanâ’i. sehingga statusnya seperti jima’. Dan telah jelas bahwa musafir itu wajib mengqadha’ puasa. Padahal anak ini tidak diperhitungkan. menyebut kata “sakit” adalah kinayah dari suatu perkara yang ketika berpuasa dapat membahayakan dirinya. 97. Oleh karena itu fidyah tidak wajib bagi orang sakit dan musafir. jld. al-Mabsûth. sebab wanita hamil dan menyusui itu tidak dianggap melakukan tindakan yang melanggar hukum syara’ ketika berbuka. hal. 438. hal.” (Qs.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Memang benar. dan mereka diwajibkan berbuka demi anak yang tidak terpisah darinya. membayar fidyah itu kalau pun wajib. 128 Dalil udzur ini adalah firman Allah SWT: “Maka barangsiapa diantara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka). asSarkhasi. hal. Sebenarnya wanita hamil dan menyusui itu berbuka disebabkan karena udzur. jld. Sebab keadaan orang sakit itu lebih ringan dibandingkan keadaan wanita hamil dan menyusui. sehingga mengqadha’ itu juga wajib bagi wanita hamil dan menyusui. Syarh al-Inâyah alal Hidâyah. Dengan demikian. namun ada pada orang lain. 132 Al-Mawardi. 128 ~62~ . 40. jld. 3. maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-ahri yang lain. Sebab. 99. orang sakit yang berpuasa dan tidak membahayakan dirinya. 3. maka Nabi Saw telah menyamakan di antara mereka. hal. hal. 129 Al-Kasani. tidak boleh berbuka. jld 2. al-Mufashshal fî Ahkâm al-Mar’ah wal Bait al-Muslim. 129 Menurut mereka. namun yang dikehendaki bukanlah sakit yang sebenarnya. 3. 132 Analog atas jima’ adalah bathil dan tidak tepat sama sekali. al-Hâwi. Jelas ini berbeda dengan wanita hamil dan menyusui yang berbuka demi menjaga anaknya. 133 Sedangkan orang yang berjima’ pada siang hari bulan ramadhan adalah orang yang melanggar hukum syara’. hal. 2. dicetak bersama dengan Syarh Fath al-Qadîr. bahwa hadits di atas tidak menyinggung kewajiban membayar fidyah dan mengqadha’. Bagaimana bisa wanita hamil dan menyusui itu diperintahkan membayar kaffârah. 355. yaitu anaknya.

Ketika Allah tidak menetapkan kaffârah untuk selain jima’ kecuali taubat nashuha. yaitu dengan masuk Islam dan bersikap istiqamah. puasa itu tidak akan bisa diganti dengan puasa sepanjang masa meskipun ia melakukannya.” [HR. Kesimpulan ini berdasarkan riwayat adDailami dan dishahihkan oleh adz-Dzahabi dari Ibn ‘Abbas bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda: “Sendi-sendi dan dasar-dasar Islam ada tiga. mengakui bahwasanya tidak ada Tuhan selain Allah. 85. seperti berjima’ dan sejenisnya. Ahkâm ash-Shiyâm wal I’tikâf. 135 Ketiga. maka al-Musyarri’ (Allah) yang Maha Bijaksana telah menetapkan kaffârah atas dosa-dosa yang memang perlu kaffârah. Puasa yang ditinggalkan dengan sengaja tidak akan bisa diganti atau diqadha’ dengan puasa sepanjang umur. Itu dikarenakan makna keduanya berbeda seperti yang telah dijelaskan. sholat fardhu. jld. 436. Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa berbuka sehari dalam bulan Ramadhan dengan tanpa rukhshah (keringanan) yang telah ditetapkan oleh Allah. Ancaman Bagi Orang yang Meninggalkan Puasa Dalam kitab Targhib disebutkan. maka puasa yang ditinggalkannya itu tidak akan bisa diganti dengan berpuasa sepanjang abad. dan at-Tirmidzi. Ibn Mâjah. Bukhâri]. 2.” 136 “Barangsiapa berbuka dalam bulan Ramadhan dengan tanpa udzur dan sakit. fidyah tidak diperlukan lagi. Sebab. yaitu mengqadha’. Abû Dâwud. Sesungguhnya fidyah itu diwajibkan adakalanya sebagai pengganti atau sanksi. maka riddah (murtad) itu dosa yang tidak tertambal dengan selain taubat nashuha. 231. tetapi mengapa terhadap riddah ini tidak ada kaffârah. 136 HR. Dan Islam dibangun di atas tiga sendi ini. Barangsiapa meninggalkan salah satu dari ketiganya. apabila seseorang meninggalkan kewajiban puasa dengan sengaja secara i’tiqadi maka ia telah terjatuh dalam kekufuran. Bukankan memahami bahwa riddah (murtad) pada bulan ramadhan itu lebih besar dosanya daripada berhubungan badan. kaffârah-kaffârah itu tidak diwajibkan karena banyaknya dosa dan maksiat. dan halallah darahnya. walaupun ia melakukannya. Lihat dalam Targhib. Abu Ya’la]. dan puasa Ramadhan. yaitu. orang murtad itu benar-benar telah keluar dari Islam secara keseluruhan. Dengan demikian. akan tetapi hanyalah hikmah yang hanya dipahami oleh Allah SWT. hal. Padahal pengganti itu telah ada. Aqlah. maka kufur. 3.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam makan dengan sengaja di siang hari bulan ramadhan tidak disuruh membayar kaffârah. hal. hal. Sedang di sini tidak ada kemungkinan lain. selain sebagai pengganti dari berbuka. sehingga ia tidak dituntut selain kembali kepada Islam. al-Hâwi. ~63~ . 134 135 Al-Mawardi. 134 maka dengan demikian tidak wajib membayar kaffârah itu lebih utama bagi wanita hamil dan menyusui yang berbuka karena ada udzur. jld. Adapun riddah (murtad) dan sejenisnya.” [HR.

hal. baik karena udzur atau tidak. 139 HR. atau dengan terpisah-pisah. bahwa ia berkata. “Maka sempurnakan puasa kalian pada hari yang lain dengan berturut-turut (harinya).” 138 Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra.” 137 Cara Mengqadha’ Puasa Para ulama berbeda pendapat apakah qadha’ puasa mesti dilakukan dengan berurutan atau tidak. “Tidak mengapa mengqadha’ puasa dengan terpisah-pisah. Imam Bukhâri berkata. jika orang tersebut mempunyai udzur. ad-Daruquthni].Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Adz-Dzahabi berkata. dan mengatakan isnadnya shahih. Oleh karena seseorang.” [HR. Menurut ahli tahqiq pendapat ulama Hanafiyyah lebih bisa dipegang. Nailul Authar.” 139 Para ulama berbeda pendapat dalam berhujjah dengan hadits ini. 231-232. 137 138 Idem. Syafi’i. 299. misalnya memiliki hutang puasa lima hari. maka aku tidak mengqadha’nya sehingga datanglah bulan Sya’ban. sebagaimana firman Allah SWT. namun ia wajib membayar fidyah bila tidak ada udzur. ~64~ . “Aku memiliki tanggungan puasa dari bulan Ramadhan. Ini adalah pendapat al-Hasan. Sebagian ulama menyatakan boleh memilih kedua-duanya (berurutan maupun terpisah-pisah harinya). Sebagian ulama berpendapat bahwa orang tersebut tetap wajib qadha’ namun tidak diwajibkan membayar fidyah. Waktu Mengqadha’ Puasa Batas waktu mengqadha’ puasa adalah hingga menjelang bulan Ramadhan (Sya’ban). Pendapat yang lebih rajih dalam hal ini adalah sebagaimana diungkapkan oleh jumhur ulama. Pendapat ini didasarkan pada hadits riwayat ‘Aisyah ra. “Telah jelas bagi kaum mukminin bahwa orang yang meninggalkan puasa Ramadhan dengan tanpa sakit lebih jahat daripada pezina dan peminum arah. Kitab ash-Shiyâm. yakni boleh mengqadha’ puasa dengan berturut-turut harinya. hal. “Maka sempurnakan puasa kalian pada hari yang lain. Sebab. ad-Daruquthni. Imam asy-Syaukani. riwayat ini adalah ahad yang diklaim sebagai al-Qur’an.” [HR. Rasulullah Saw bersabda: “Qadha’ puasa Ramadhan boleh dilakukan dengan berurutan maupun terpisah-pisah harinya. atau terpisah-pisah yang penting terhitung lima hari. Sedangkan Imam Malik. maka ia boleh mengqadha’ puasanya dengan berturut-turut. dan ulama Hanafiyyah. maka sebagian ulama mewajibkan orang tersebut membayar fidyah selain kewajiban mengqadha’ puasanya. Bila seseorang tidak mengqadha’ puasanya hingga datang bulan Ramadhan berikutnya. turun ayat. Bukhâri]. bahkan diragukan keislamannya. Ahmad dan Ishaq sependapat dengan ulama Hanafiyyah.

(yaitu) memberi makan seorang miskin. karya Imam asy-Syaukani. “Barangsiapa meninggal dunia sedangkan ia memiliki tanggungan puasa yang ditinggalkannya. karena tidak mengerjakan puasa karena ada alasan-alasan syar’i. sekiranya ibumu punya hutang. 140 Ulama yang mengharuskan bagi wali untuk membayar fidyah bagi si mati berpegang kepada haditshadits berikut ini: Rasulullah Saw bersabda. al-Baqarah [2]: 184). Berdasarkan ayat di atas. akan tetapi Imam at-Tirmidzi men-shahih-kan hadits ini. kemudian engkau membayarnya. Allah SWT berfirman: “…Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah. sebab hadits di atas adalah hadits dha’if. “Barangsiapa meninggal dan atasnya ada puasa Ramadhan yang telah ditinggalkan. Hadits ini dha’if. Berpegang dengan kaidah “al-barât al-ashliyyah”. (3) orang yang sudah sangat tua.” (Qs.” [HR. Kitab ash-Shiyâm. Kitab ash-Shiyâm. hal. apakah ibumu masih punya utang?” Lalu ia menjawab. (2) orang yang sedang menyusui. Tidak ada qadla atasnya. Abû Dâwud.” 141 Dari Ibn ‘Abbas ia berkata. “Ya Rasulullah. tapi hadits ini mauquf. “Tidak. “Apabila seseorang sakit dalam bulan Ramadhan kemudian mati. 303-305. Ini didasarkan pada firman Allah SWT: 140 Bila si mati bernadzar maka walinya harus mengerjakan nadzar dari si mati. 143 Imam asy-Syaukani. Oleh karena itu. Lihat Nailul Authar. “Puasalah atas namanya.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Bila seseorang mati dengan menyisakan puasa Ramadhan. Pendapat ini didasarkan pada sabda Rasulullah Saw. (1) orang hamil. ada puasa nadzar atasnya. para pentahqiq berkesimpulan bahwa dua hadits ini tidak bisa digunakan argumentasi untuk membangun pendapat mereka. hal. at-Tirmidzi. “Apa pendapatmu. pendapat ulama Hanafiyyah lebih utama untuk diikuti. Bila si mati bernadzar maka si walinya harus melaksanakan nadzar si mati. dipuasakanlah untuknya oleh walinya. 142 HR. apakah saya mengqadla’nya?” Rasulullah menjawab. ibuku telah meninggal dunia. 141 HR. maka walinya tidak wajib membayar fidyah.” Oleh karena itu jumhur ulama sepakat bahwa wali si mati harus mengganti puasa yang ditinggalkan oleh walinya. Juga diriwayatkan dari Bukhâri dan Muslim. padahal ia tidak berpuasa. orang-orang yang tidak mampu mengerjakan puasa maka ia wajib membayar fidyah yang diberikan kepada orang miskin. 143 Membayar Fidyah Fidyah adalah memberikan makan kepada orang miskin. tidak dikerjakan di masa hidupnya. maka hendaklah diberi makan atas namanya sehari seorang miskin. Mereka diberi keringanan (rukhshah) untuk tidak melaksanakan ibadah puasa dengan kompensasi membayar fidyah. maka walinya harus memberikan fidyah atas nama si mati. Bahwasanya seorang perempuan datang kepada Rasulullah Saw lalu bertanya. 301. ~65~ . Bukhâri dan Muslim]. maka hadits dha’if dan hadits mauquf tidak bisa digunakan hujjah. Orang yang terkategori orang yang tidak mampu adalah. hadits ini adalah mauquf. sementara riwayat dari Ibn ‘Abbas adalah hadits mauquf. akan tetapi jika si mati bernadzar maka walinya harus mengqadha’ puasanya.” Rasulullah Saw bersabda.” 142 Oleh karena itu. Nailul Authar.

Abû Dâwud. Sebagaimana firman Allah SWT: 144 145 HR. “Tidak ada kafarat atas si hamil dan wanita yang menyusui.” (Qs. dan orang sakit menahun dan takut. Zuhri. menahun. maka ia wajib mengqadla’ dan membayar fidyah. atas engkau hanya fidyah dan tidak ada qadha’. 147 Sebagian ulama berpendapat bahwa wanita yang hamil. dan tidak bisa diharapkan sembuh. Sebagian ulama berpendapat bahwa si hamil. namun hukumnya tetap untuk orang yang sangat tua. 297-8. Bukhâri].” 145 Diriwayatkan pula dari al-Bazzar dan dishahihkan oleh ad-Daruquthni dari Ibn ‘Abbas. dan tidak perlu mengqadha’nya. menyusui. 6.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam “…Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah. Atha’. Ibn Umar menjawab. Diriwayatkan oleh Ibn Hazm dari Hammad Ibn Salah dari Ayub dari Nafi’ bahwa seorang perempuan Quraisy yang sedang hamil bertanya kepada Ibn Umar. Namun bila ia berbuka karena takut akan keselamatan janinnya. hal. Sufyan.” 144 Termasuk golongan yang tidak mampu berpuasa adalah orang yang memiliki sakit yang sangat akut. Orang yang sakit wajib mengqadha’ puasanya jika ia telah sembuh dari sakitnya. hal. Kitab ash-Shiyâm. dan tidak usah mengqadha’nya. “Barangsiapa telah sangat tua yang tidak sanggup berpuasa Ramadhan. “Fidyah itu hanya wajib dikeluarkan atas orang yang menyusui saja. Nakha’i dan Abu Hanifah berpendapat. maka ia harus memberi makan seorang miskin setiap harinya. jld. Hakadza Nashumu. Akan tetapi bila ia berniat untuk mengqadla’ puasanya maka ia tidak wajib mengeluarkan fidyah. “Engkau sekedudukan dengan orang yang tak sanggup mengerjakan puasa.” [HR. hal. Ibn ‘Abbas berkata. 147 Fidyah adalah memberikan makanan kepada fakir miskin setiap hari. jika ia berbuka karena takut atas (keselamatan) dirinya. Al-Muhalla. tidak bagi wanita hamil. “Ayat ini walaupun dimansukhkan. Ini adalah pendapat Imam Syafi’i. (yaitu) memberi makan seorang miskin. al-Baqarah [2]: 184). “Berbukalah dan berilah makan seorang miskin setiap harinya. dengan takaran sebanyak 1 mud (lebih dari 6 ons). ia hanya wajib qadla’. 239.” ~66~ . atau menyusui. Ketentuan ini berdasarkan sebuah riwayat dari Ibn ‘Abbas. Ia hanya diwajibkan membayar fidyah itupun jika ia mampu. karya Imam asy-Syaukani. Bukhâri]. 263. Dan inilah pendapat yang paling kuat.” 146 Riwayat di atas meskipun mauquf bisa diikuti. Sedangakan al-Hasan. 146 Taufiq Mahmud. namun cukup membayar fidyah. Riwayat senada dikeluarkan oleh Imam al-Baihaqi dari shahabat Ibn Umar. maka ia wajib mengqadla dan tidak wajib membayar fidyah. Diriwayatkan dari ‘Ikrimah bahwa Ibn ‘Abbas berkata: “Ayat tersebut diberlakukan bagi wanita hamil dan yang sedang menyusui. dan menyusui tidak perlu mengqadla puasanya. harus berbuka. tentang hal puasanya. maka ia memberi fidyah sehari sebanyak 1 mud gandum. Lihat Nailul Authar.” [HR. dan Imam Ahmad. bahwa orang yang hamil.” Sedangkan Imam Malik menyatakan. yang tidak mampu berpuasa. bahwa beliau pernah berkata kepada ibu anaknya (budak yang dijadikan isterinya) yang sedang hamil. lelaki atau perempuan. Sa’id Ibn Jubair.

maka hendaklah ia mengerjakan puasa yang ia tinggalkan dalam sakit atau dalam safar itu. Bukhâri 4/173 dan Muslim 1093.” (Qs. 151 HR.” 151 Dari Abu Hurairah ra. al-Baqarah [2]: 187). Rasulullah Saw bersabda: “Agama ini akan senantiasa menang selama manusia menyegerakan berbuka. Rasulullah Saw bersabda: “Senantiasa manusia di dalam kebaikan selama menyegerakan bebuka. jld. Rasulullah Saw menafsirkan ayat ini dengan arti. Menyegerakan Berbuka Rasulullah Saw telah memerintahkan kepada kita supaya menyegerakan berbuka puasa. serta tersembunyinya bundaran matahari”. “datangnya malam dan perginya siang.” (Qs. Syaikh Abdur Razzaq telah meriwayatkan dalam Mushannaf 7591 dengan sanad yang di-shahih-kan oleh al-Hâfidz Ibn Hajar 148 dan al-Haitsami 149 dari Amr bin Maimun al-Audi: “Para sahabat Muhammad Saw adalah orang-orang yang paling bersegera dalam berbuka dan paling akhir dalam sahur. Abû Dâwud 2/305 dan Ibn Hibban 223. Majma’ az-Zawaid. jld. Dari Sahl bin Sa’ad ra. hal. 3. sanadnya hasan. 154 150 HR. hal.” 152 148 149 Fath al-Bârî. al-Baqarah [2]: 184). 4. bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Ummatku akan senantiasa dalam sunnahku selama mereka tidak menunggu bintang ketika berbuka (puasa). 199.” a.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam “Barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan. ~67~ . Allah SWT berfirman: “Kemudian sempurnakanlah puasa hingga malam. 152 HR. di hari-hari yang lain. ketika matahari telah terbenam. Adab Berbuka Puasa Di dalam al-Quran. Ibn Hibban 891 dengan sanad shahih. dinyatakan. karena orang-orang Yahudi dan Nasrani mengakhirkannya.” 150 Di dalam riwayat lain yang dituturkan dari Sahl bin Sa’ad ra.

920. Berbuka dengan Korma dan Air Pada dasarnya. hal. Berbuka Sebelum Sholat Maghrib Rasulullah Saw berbuka sebelum sholat Maghrib 153 karena menyegerakan berbuka termasuk akhlaknya para nabi. sehingga tubuh kita tidak terkena dehidrasi. ia akan memberikan pengaruh yang baik dan mensucikan hati kita.” 155 d. an-Nasâ’i 1/66 dan dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah.” Syaikh Salim bin Id al-Hilali. Dari Abu Darda’ ra: “Tiga perkara yang merupakan akhlak para nabi: menyegerakan berbuka. Ketahuilah wahai hamba yang taat. haditsnya shahih dengan syarat Bukhâri dan Muslim. jika tidak ada ruthab maka berbuka dengan korma kering (tamr). sesungguhnya korma mengandung berkah dan kekhususan — demikian pula air. Menurut al-Hâkim. Sedangkan ad-Daruquthni 2/185 berkata: “sanadnya hasan”. Bahkan makanan manis. Lebih dari itu.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam b. ad-Daruquthni 3/1401. selepas berpuasa penuh. akan lebih membangkitkan selera dan bermanfaat bagi badan. no. 155 HR. mengucapkan: Nabi Saw jika berbuka “Dzahaba ad-dhâma’u wabtalati al-‘urûqu watsabbati al-ajru insyaAllah (Telah hilang dahaga dan telah basah urat-urat. al-Baihaqi 4/239. Hal ini tidak ada yang mengetahuinya kecuali orang yang mengikuti sunnah Rasulullah. HR. misalnya korma. sesungguhnya. Adapun air. hal. Ibn Sunni 128. Doa yang Diucapkan Ketika Berbuka Doa yang paling afdhal adalah doa ma’tsur dari Rasulullah Saw. Abû Dâwud 2/306. mengakhirkan sahur dan meletakkan tangan di atas tangan kiri dalam shalat. akan menguatkan tubuh dan mengembalikan kesegaran pada tubuh kita. Semuanya diriwayatkan dari jalur Ali bin Hasan. Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Nashiruddin al-Albâni dalam kitab Irwâ al-Ghalîl. jld. Ahmad 3/163. dan telah ditetapkan pahala Insya Allah). ath-Thabrani dalam al-Kabîr sebagaimana dalam al-Majma 2/105 dia berkata: “…marfu’ dan mauquf shahih adapaun yang marfu’ ada perawi yang tidak aku ketahui biografinya. jika tidak ada tamr maka minum dengan satu tegukan air. no. banyak sekali cairan tubuh yang lenyap (dehidrasi).” 154 c. Oleh karena itu. 4. Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid menyatakan mauquf —sebagaimana telah jelas— mempunyai hukum marfu’ (lihat Sifat ash-Shaum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fî Ramadhan). ketika sedang menjalankan ibadah puasa. dan ad-Dzahabi menyepakatinya. 156 HR. at-Tirmidzi 93/70 dengan dua jalan dari Anas. Ibn Khuzaimah 3/277-278. Dari Anas bin Malik ra: “Adalah Rasulullah Saw berbuka dengan korma basah (ruthab). 296. 2247. 154 153 ~68~ . al-Hâkim 1/422. 265. no. 2357. 6. memberi asupan makanan manis pada tubuh. Ahmad 3/164 dan Abû Dâwud 2356.” 156 HR. 39. dari Anas dengan sanad hasan. hal. air sangat diperlukan untuk menormalisasi cairan tubuh. Abû Dâwud 92/306. sanadnya shahih. dan al-Baghawi dalam Syarh as-Sunnah jld.

160 HR. Ahmad 3/118. wa ‘akala ta’âmakumul-‘abrâru. sandnya shahih. perawi-perawinya tsiqat.” 160 Orang yang sedang menjalankan puasa wajib memenuhi undangan (makan) saudaranya. bahwasanya Nabi Saw bersabda: “Tiga orang yang tidak akan ditolak doanya: orang yang puasa ketika berbuka. Uqaili dalam ad-Dhu’afa’ 1/72. mudah-mudahan engkau bisa mengambil kebaikan di dunia dan akhirat. Memberi Makan Orang yang Puasa Siapa saja yang memberi makan kepada orang yang berpuasa niscaya akan mendapatkan pahala besar dan kebaikan yang banyak. Ahmad 4/144. Oleh karena itu. 157 ~69~ .Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Ketahuilah. Ibn Sunni 129. Abu Muslim al-Kajji dalam Juz-nya. an-Nasâ’i dalam Amalul Yaum wal Lailah. ath-Thayalisi 299 dari dua jalan al-Bushiri berkata: 2/81 ini sanad yang shahih. 158 HR. berdoalah kepadaNya dengan doa-doa yang baik. dan orang yang diundang disunnahkan mendoakan pengundangnya setelah selesai makan dengan doa-doa dari Nabi Saw: “ ‘Aftara ‘indakumus-sâ’imûna. dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash. Ibn Mâjah 1/557. Abdur Razzaq 4/311 dari berbagai jalan darinya. at-Tirmidzi 2528.” 159 e.” 158 Dalam riwayat lain. Abi Syaibah 3/100. hal. Ibn Hibban 895. doanya orang yang terdhalimi dan doanya musafir. di-shahih-kan oleh Imam at-Tirmidzi.” 157 Doa orang yang sedang berpuasa pasti tidak akan ditolak. wa sallat ‘alaikumulmalâ’ikatu (Telah makan makanan kalian orang-orang bajik. doa orang yang berpuasa akan dikabulkan oleh Allah SWT. al-Hâkim 1/422. 115. alias dikabulkan oleh Allah SWT. dituturkan. dan dari jalan Ibn Masi dalam Juzul Anshari sanadnya hasan kalau tidak ada ‘an-‘annah Yahya bin Abi Katsir. Ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Dari Abu Hurairah ra dituturkan.” 162 HR.” 161 “Allâhumma ‘atim man ‘at’amanî wasqi man saqânî (Ya Allah. Muslim 2055 dari Miqdad. 161 HR. Ibn Hibban 2407 ada jahalah Abu Mudillah. dan para malaikat bershalawat [mendoakan kebaikan] atas kalian. bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya orang yang puasa ketika berbuka memeliki doa yang tidak akan ditolak. bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Tiga doa yang dikabulkan: doanya orang yang berpuasa. 5/192. 162 HR. Imam yang adil dan doanya orang yang didhalimi. Ibn Mâjah 1746. Ibn Sunni 128. Ibn Mâjah 1752. orang-orang yang berpuasa telah berbuka di sisi kalian). at-Tirmidzi 804. 159 HR. berilah makan orang yang memberiku makan berilah minum orang yang memberiku minum). 268. hadits ini punya syahid yaitu hadits selanjutnya. 116. Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa yang memberi buka orang yang puasa akan mendapatkan pahala seperti pahalanya orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.

adz-Dzahabi berkata: “Tidak dikenal.” Hadits ini mempunyai syahid dalam riwayat Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh alKhatib dalam Munadih Auhumul Sam’i Watafriq 1/203.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Hikmah Makan Sahur Allah mewajibkan puasa kepada kita sebagaimana Ia telah mewajibkannya kepada orang-orang sebelum kita dari kalangan Ahlul Kitab. 1. yakni tidak boleh makan dan minum dan berjima’ setelah tidur. jld. 184 oleh Ibn al-Jauzi. 163 ~70~ . hal. 223. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman. Dari Salman ra dituturkan. 166 HR. jika salah seorang dari mereka tidur. jld. hal. hal. hal. Hadits ini hasan sebagai syawahid dan didukung oleh riwayat sebelumnya. Abu Nu’aim dalam Dzikr al-Akhbar ash-Shbahan 1/57 dari Salman alFarisi al-Haitsami berkata al-Majma 3/151 dalam sanadnya ada Abu Abdullah al-Bashiri. dikisahkan. Aku masuk menemui Nabi Saw ketika itu beliau sedang makan sahur.” (Qs. bahwasanya Rasulullah Saw bersabda: “Keberkahan itu ada pada tiga perkara: al-Jama’ah. diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. 164 HR Muslim 1096. Rasulullah Saw bersabda: “Pembeda antara puasa kita dengan puasanya ahli kitab adalah makan sahur. 1. sanadnya hasan.” 166 Dari Abdullah bin al-Harits dari seorang sahabat Rasulullah Saw diriwayatkan. beliau bersabda: Lihat sebagai tambahan tafsir-tafsir berikut: Zâdul Masir. 163 Rasulullah Saw telah memerintahkan untuk makan sahur sebagai pembeda antara puasa kita dengan puasanya Ahlul Kitab. ath-Thabrani dalam al-Kabîr 5127. makan sahur adalah keberkahan.” 164 Keutamaan Makan Sahur Di antara keutamaan makan sahur bagi seorang Muslim adalah sebagai berikut: Pertama. 165 HR. al-Baqarah [2]: 183). ia tidak boleh makan hingga malam selanjutnya. Waktu dan hukum puasa bagi umat Islam tak ubahnya dengan apa yang diwajibkan kepada Ahlul Kitab. 1. Al-Manawi memutihkannya dalam Fawaid al-Qadir. jld. Tafsîr al-Qur’an al‘Adhim.” 165 Dari Abu Hurairah ra diceritakan. perawi lainnya tsiqat. ats-Tsarid dan makan Sahur. ad-Durul Mantsur. 263 dari Abu Hurairah dengan sanad yang lalu. jld. 213-214 oleh Ibn Katsir. Dari Amr bin ‘Ash ra. 2. 120-121 karya Imam as-Suyuthi. Artinya. bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah menjadikan keberkahan pada makan sahur dan takaran. Ketentuan semacam ini juga berlaku bagi kaum Muslim. asy-Syirazy (al-Alqzb) sebagaimana dalam Jami’ ash-Shagir 1715 dan al-Khatib dalam al-Muwaddih. jld. hal. 1.

Rasulullah Saw bersabda: “Sahur itu makanan yang barakah. an-Nasâ’i 4/146 sanadnya shahih. "Makan sahurlah kalian walau dengan seteguk air. seorang Muslim hendaknya tidak menyia-nyiakan pahala besar yang berasal dari Rabb Yang Maha Pengasih. dan malaikat Allah akan memintakan ampunan bagi mereka. Mawarid dari jalan Amr bin al-Harits dari Abdullah bin Salam dari Risydin bin Sa’ad. Al-Harits majhul (tidak diketahui). dengan makan sahur. Adapun makan sahur yang paling utama adalah buah korma. Hadits ini ada syahidnya dari hadits al-Migdam bin Ma’dikarib.” 168 Kedua. Rasulullah Saw bersabda: “Sebaik-baik sahurnya seorang mukmin adalah korma.” HR. Diriwayatkan oleh Ahmad 4/133. keberkahan sahur yang begitu melimpah tersebut disebabkan karena Allah SWT akan mencurahkan ampunanNya kepada orang-orang yang makan sahur.” Oleh sebab itu. yakni sahur. dan juga karena sabda Rasulullah Saw. Sedangkan hadits Abu Darda diriwayatkan oleh Ibn Hibban 223. 168 167 ~71~ . Risydin dhaif. Ibn Hibban 223. Barangkali. an-Nasâ’i 4/145 dan Ahmad 5/270 sanadnya shahih. puasa menjadi terasa lebih ringan bagi orang yang menjalankannya. hendaknya bersungguh-sungguh untuk bersahur walau hanya dengan meneguk seteguk air. Sebab. Sebab. disebabkan begitu melimpahnya keutamaan makan sahur. 169 HR. Oleh karena itu Rasulullah Saw menamakannya dengan makan pagi yang diberkahi sebagaimana yang telah disebutkan di dalam dua hadits al-Irbath bin Syariyah dan Abu Darda ra: “Marilah menuju makan pagi yang diberkahi. Abû Dâwud 2/303. karena Allah dan malaikatNya bershalawat kepada orang-orang yang sahur. mereka tidak melakukan makan sahur.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam “Sesungguhnya makan sahur adalah keberkahan yang Allah berikan kepada kalian. Allah dan malaikatNya bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur. menguatkan puasa.” 167 Keberadaan makan sahur sebagai sebuah keberkahan sangatlah jelas. al-Baihaqi 4/237 dari jalan Muhammad bin Musa dari Said al-Maqbari dari Abu Hurairah. Adapun hadits al-Irbath diriwayatkan oleh Ahmad 4/126 dan Abû Dâwud 2/303. Dan sanadnya shahih. Dengan makan sahur juga. dan memompa semangat untuk menambah puasa. kita telah menyelisihi Ahlul Kitab.” 169 Barangsiapa yang tidak menemukan korma. dengan makan sahur berarti mengikuti sunnah. Dari Abu Sa’id al-Khudri ra. memenuhi mereka dengan rahmatNya. Sebab. an-Nasâ’i 4/145 dari jalan Yunus bin Saif dari al-Harits bin Ziyad dari Abi Rahm dari al-Irbath. janganlah kalian meninggalkannya walaupun hanya meneguk setengah air. berdoa kepada Allah agar mema’afkan mereka supaya mereka termasuk orang-orang yang dibebaskan dari siksa api neraka oleh Allah di bulan Ramadhan. maka janganlah kalian tinggalkan.

hal. (misal): kira-kira selama memeras kambing. minum. beliau bersabda: 170 HR. kita diperbolehkan makan. “Berapa lama jarak antara adzan dan sahur?” Zaid menjawab. “kira-kira 50 ayat membaca al-Qur’an.” 172 Beliau juga menjelaskan betapa tingginya nilai sahur bagi ummatnya.” 171 Dalam riwayat lain. minum dan jima’. Sesunguhnya kejelasan adalah keyakinan yang tidak ada keraguan lagi.” 170 Ketahuilah wahai hamba Allah. Pasalnya. jima’ selama dalam keadaan ragu. selama belum ada kejelasan. Nabi Saw melarang meninggalkannya. 172 HR. Dalam sebuah riwayat dituturkan. selama menyembelih onta. Nabi Saw dan Zaid bin Tsabit ra melakukan sahur. bahwa waktunya telah masuk Shubuh. Hukum Makan Sahur Rasulullah Saw telah memerintahkan kaum Muslim untuk makan sahur.” Sekian dengan sedikit perubahan. bahwasanya beliau bersabda: “Barangsiapa yang mau berpuasa hendaklah sahur dengan sesuatu. Bukhâri 4/118 dan Muslim 1097.” Aku tanyakan (kata Anas). Anas ra meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit ra: “Kami makan sahur bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian beliau sholat. 4. Abu Ya’la 3/438. beliau juga bersabda: “Makan sahurlah kalian karena dalam sahur ada barakah. ~72~ . apakah fajar telah terbit atau belum. beliau bersabda: “Pembeda antara puasa kami dan Ahlul Kitab adalah makan sahur. minum. Bukhâri 4/120 dan Muslim 1095 dari Anas. sedangkan orang yang masih ragu belum mendapat kejelasan. jld. Di samping itu Allah serta RasulNya telah menerangkan batasan waktu puasa hingga jelas benar. al-Bazzar 1/465 dari jalan Syuraik dari Abdullah bin Muhammad bin Uqail dari Jabir. sehingga ia boleh makan. Oleh karena itu. dan ketika selesai sahur Nabi Saw bangkit untuk shalat subuh. Ahmad 3/367. 171 HR. Fawaqa naqah (waktu antara dua perasan). 238: “Di antara kebiasaan Arab mengukur waktu dengan amalan mereka. Allah SWT memaafkan kesalahan.” Di dalam hadits lain. Ibn Abi Syaibah 3/8. Al-Hâfidz Ibn Hajar al-Asqalâni berkata dalam Fath al-Bârî. dan jima’.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Mengakhirkan Sahur Disunnahkan mengakhirkan sahur sesaat sebelum fajar. kelupaan serta membolehkan makan. Sehingga Zaid pun memakai ukuran lamanya baca mushaf sebagai isyarat dari beliau ra bahwa waktu itu adalah waktu ibadah dan amalan mereka membaca dan mentadhabur al-Qur’an. Sedangkan jarak (selang waktu) antara sahur dan masuknya shalat Shubuh kira-kira sama dengan waktu yang dibutuhkan untuk membaca lima puluh ayat di Kitabullah.

173 ~73~ . 175 Dengan perkataan “haqqun muqaddarun” (hak yang telah ditentukan besarnya). dan tambahannya pada Muslim. 176 HR.” Berikut ini adalah beberapa pandangan para fuqaha yang mu’tabar dalam masalah ini: HR.884 padanya ada ‘an-anah Qatadah. Hadits hasan. dan sebagainya. Adapun menurut pengertian syara’. Dengan perkataan yajibu (yang wajib [dikeluarkan]). Bukhâri 3/291 dan Muslim 984. Abû Dâwud 1622 dan an-Nasâ’i 5/50. Ibn Abi Syaibah 2/8 dan Ahmad 3/12. 174 HR.” 173 Rasulullah Saw bersabda: “Sahurlah kalian walaupun dengan seteguk air. onta. perak. berarti zakat tidak mencakup hak yang sifatnya sunnah atau tathawwu’. melainkan hanya harta-harta tertentu yang telah ditetapkan berdasarkan nash-nash syara’ yang khusus. berarti zakat tidak mencakup hak-hak —berupa pemberian harta— yang besarnya tidak ditentukan.” 174 Zakat Fithrah Zakat menurut bahasa artinya adalah an-namâ’ (berkembang) atau at tath-hîr (pensucian). Terdapat hadits-hadits shahih mengenai zakat fithrah yang hukumnya wajib.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam “Sahur adalah makanan yang barakah. wasiat. ia berkata: “Rasulullah Saw memerintahkan kami dengan shadaqah fithri sebelum diturunkannya (kewajiban) zakat dan tatkala diturunkannya (kewajiban) zakat beliau tidak memerintahkan kami dan tidak pula melarang kami. zakat adalah haqqun muqaddarun yajibu fi amwalin mu’ayyanah (hak yang telah ditentukan besarnya yang wajib dikeluarkan pada harta-harta tertentu). Abu Ya’la 3340 dari Anas. domba.” 177 Sebagian Ahlul Ilmi menyatakan bahwa zakat fithri telah dihapus (mansukh) oleh hadits Qais bin Sa’ad bin Ubadah. hal. ada kelemahan. padanya ada al-Hasan ber-‘an’anah. hadiah. Sebagaimana menguatan yang lain. Dari Ibn Umar ra: “Rasulullah Saw mewajibkan zakat fithri (pada bulan Ramadhan kepada manusia). Dan hadits sebelumnya sebagai syahid. seperti emas. seperti shadaqah tathawwu’ (sedekah sunnah). Sedangkan ungkapan fi amwâlin mu’ayyanah (pada harta-harta tertentu) berarti zakat tidak mencakup segala macam harta secara umum. dan wakaf. al-Amwal fi ad-Daulah al-Khilafah. 147. 175 Syaikh Abdul Qadim Zallum. 177 HR. janganlah kalian tinggalkan walaupun hanya meminum seteguk air karena Allah dan MalaikatNya memberi sahalawat kepada orang-orang yang sahur. misalnya hibah.” 176 Dan berdasarkan hadits Ibn ‘Abbas ra: “Rasulullah Saw mewajibkan zakat fithri. 3/44 dari tiga jalan dari Abu Said al-Khudri. tetapi kami mengerjakan (mengeluarkan zakat fithri). didukung oleh hadits Abdullah bin Amr di Ibn Hibban no.

~74~ . Imam Abu Hanifah membolehkan mengeluarkan zakat fithri dari benda-benda yang telah disebutkan di dalam berbagai hadits. buah-buahan. madzhab Imam Syafi’i membolehkan untuk mengeluarkan zakat fithri dari jenis apa yang bisa dizakatkan. Pendapat ini terdapat di dalam kitab Mughni al-Muhtaj.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Pertama. Keempat.176 gram gandum. Pendapatnya ini terdapat di dalam kitab Balighatu as-Salik. boleh mengeluarkan zakat fithrah dengan benda-benda tersebut diatas. seluruhnya tidak membolehkan zakat fithri dikeluarkan dalam bentuk nilai tertentu dari mata uang. kacang-kacangan dan lain-lain. kecuali pendapat Imam Abu Hanifah. Contohnya adalah hadits dari Abi Sa’id al-Khudri yang berkata: “Kami telah mengeluarkan zakat fithri pada saat Rasulullah (masih) berada di tengah-tengah kami satu sha’ dari makanan. Bukhâri dan Muslim dengan lafadz berdasarkan riwayat Muslim. Dan yang paling utama adalah apa yang biasa menjadi makanan penduduk negerinya atau apa yang biasa menjadi makanannya. maka dibolehkan mengeluarkan zakat fithrah dengan sejenis bahan makanan yang layak. beras… Pendapat ini terdapat di dalam kitab al-Mughni. Ketiga. Boleh juga mengeluarkan zakat fithri dengan benda-benda lain selain benda-benda tersebut diatas. Aku tetap melakukan hal itu (dengan mengeluarkan benda-benda tersebut) sebagaimana aku telah mengeluarkannya selama ini. Berat isi timbangannya berbeda-beda tergantung biji apa yang memenuhi volumenya. berupa biji-bijian jagung/shorgum. atau satu sha’ dari kurma. kemudian dikeluarkan dalam bentuk uang. Atau juga dalam bentuk uang (nuqud) yang nilainya setara dengan nilai (harga) satu sha’ kurma. yaitu ukuran volume tertentu. Aqith atau keju adalah sari pati susu yang dimasak. Satu sha’ gandum setara dengan 2. yaitu dari hasil pertanian. Contohnya beras dan biji adas. Banyaknya beras diukur setara dengan takaran satu sha’ kurma. madzhab Imam Hambali membolehkan mengeluarkan zakat fithri hanya dari benda-benda yang telah disebutkan (di dalam hadits). 178 HR. Beliau tidak membolehkan selain dari benda-benda tersebut. atau satu sha’ dari gandum. Namun demikian. madzhab Imam Malik membolehkan apa yang jadi bahan makanan penduduk negeri sebagaimana yang disebutkan (dalam hadits) tadi atau yang biasa dimakan oleh masyarakat. Di kalangan para mujtahid yang disebutkan di atas.25 kg gandum. Sha’ adalah takaran. kemudian dibiarkan hingga kering. Misalnya beras dan biji adas. atau satu sha’ dari kismis. kemudian dibiarkan hingga kering. Pendapat mereka ini terdapat di dalam kitab Tuhfatu al-Fuqaha. Aqith atau keju adalah sari pati susu yang dimasak. jika tidak dijumpai salah satu jenis dari beberapa jenis benda-benda tersebut. Kedua.” 178 Walhasil. atau lebih detail lagi setara dengan 2. Dengan ukuran (takaran) yang telah dijelaskan di dalam berbagai hadits. atau satu sha’ aqith. kemudian dikeluarkan dalam bentuk beras.

Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam

Waktu Mengeluarkan Zakat Fithrah
Zakat fithrah harus dikeluarkan sebelum sholat Ied. Boleh juga zakat fithri dikeluarkan satu atau dua hari sebelum Ied, dan disalurkan kepada fakir miskin. Zakat fithri dapat di serahkan secara langsung, demi menenteramkan diri kita, kepada orang-orang yang berhak (yaitu fakir miskin), juga boleh mewakilkannya kepada seseorang —yang anda percayai— untuk menyerahkannya kepada orangorang yang berhak.

Kriteria Miskin yang Berhak Mendapatkan Zakat
Para ulama berbeda pendapat dalam menetapkan kriteria miskin. Sebagian ulama menyatakan bahwa miskin itu lebih berat dibandingkan dengan faqir, ini adalah pendapat dari ulama Baghdad, dan Imam Malik. Ada juga yang menyatakan faqir itu lebih berat dibandingkan miskin. Ini adalah pendapat yang dipegang oleh Imam Abu Hanifah, dan Imam Syafi’i dalam sebuah qaulnya. Namun ada sebagian ulama yang menyamakan istilah ini. Ini adalah pendapat Ibn al-Qasim. 179 Namun pendapat yang lebih tepat adalah, faqir itu lebih berat daripada miskin. Sebab Allah SWT telah menyatakan faqir lebih dahulu dibandingkan miskin. Berarti faqir itu lebih berat dibandingkan miskin. 180 Oleh karena itu faqir didefinisikan orang yang tidak memiliki apa-apa (untuk memenuhi kebutuhannya), atau memilikii sesuatu akan tetapi tidak sampai 1/2 dari nishab. Sedangkan miskin adalah orang yang memiliki harta 1/2 nishab atau lebih akan tetapi tidak sampai sempurna senishab. Imam Abu Hanifah menyatakan bahwa yang disebut kaya adalah orang memiliki harta sebanyak senishab. Ini di dasarkan pada sabda Rasulullah Saw kepada Mu’adz ra, “Maka kabarkanlah kepada mereka bahwa allah telah mewajibkan zakat atas mereka yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan diberikan kepada orang-orang fakir mereka.” Mahasiswa ataupun pelajar yang mendapatkan bantuan berupa harta (uang) dari orang tuanya, akan tetapi, selama harta itu belum mencukupi kebutuhannya, atau belum sampai senishab maka dirinya termasuk orang yang miskin (lihat batasan di atasnya). Ukuran untuk menetapkan layak atau tidaknya seseorang menerima zakat, atau miskin, bukan diukur dengan “ia didonasi atau tidak oleh orang tuanya.” Orang tua wajib menafkahi anak perempuannya sampai anak perempuannya menikah dengan laki-laki yang lain. Sebab, kewajiban untuk memberi nafkah adalah tanggungjawab pihak laki-laki (bapak, atau kerabat laki-laki yang dekat). Alasan lain adalah, hukum bekerja hanya wajib bagi laki-laki yang memiliki kemampuan. Sedangkan bekerja bagi perempuan hukumnya mubah. 181 Walhasil, anak perempuan nafkahnya ditanggung oleh orang tua laki-laki. Jika orang tua tidak mampu, maka kerabatnya yang akan menanggung. Jika kerabatnya tidak mampu maka negara. Jika negara tidak mampu maka seluruh kaum muslim wajib untuk membantu nafkahnya. Ini dengan catatan jika wanita itu belum menikah. Jika ia sudah menikah maka kewajiban memberi nafkah jatuh kepada pihak suami.

179 180

Lihat Ibn Rusyd, Bidayat al-Mujtahid, bab Zakat. Al-Sa’di, Taisîr al-Karîm al-Rahmân fi Tafsîr Kalâm al-Manan, jld. 3, hal. 252. 181 Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Muqaddimah Dustur, bab Nidzam al-Iqtishâd, pada pasal, persoalan ekonomi.

~75~

Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam

Nafkah kepada laki-laki hanya diberikan orang tua, hingga dirinya akil baligh. Jika ia sudah mencapai akil baligh maka orang tua tidak berkewajiban memberikan nafkah kepada anak laki-lakinya. Kecuali dalam kondisi anak laki-laki itu tidak mampu bekerja, karena cacat, atau dirinya sudah bekerja akan tetapi penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Gharim (orang berhutang yang tidak mampu bayar) ada dua model: Pertama, Gharim karena mendamaikan dua orang yang bersengketa dengan hartanya.Ini diakibatnya karena, segitu sibuknya ia mengurusi dua orang yang bersengketa itu, sampai akhirnya ia berhutang. Namun, ia tidak mampu membayar hutangnya. Gharim semacam ini lebih berhak untuk mendapat zakat. Kedua, gharim karena dirinya sendiri. Ia berhutang untuk kepentingan dirinya sendiri, bukan untuk kepentingan orang lain. Ia akan diberi zakat sebatas utangnya. 182 Menurut fuqaha’, Ibn Sabil adalah orang yang bepergian jauh dalam urusan ketaatan (bukan dalam urusan maksiyat), kemudian ia kehabisan bekal dan tidak memperoleh nafkah hidup. 183 Ada juga sebagian besar fuqaha’ yang berpendapat bahwa orang yang sedang menuntut ilmu kemudian ia kehabisan bekal, maka orang semacam ini berhak mendapatkan zakat. Sebab, menurut mereka menuntut ilmu termasuk aktivitas di jalan allah (fî sabilillah). Dan ini telah ditetapkan dalam surat at-Taubah [9]: 60. 184

182 183

Al-Sa’di, Taisîr al-Karîm al-Rahmân fi Tafsîr Kalâm al-Manan, jld. 3, hal. 253. Ibn Rusyd, Bidayat al-Mujtahid. 184 Al-Sa’di, Taisîr al-Karîm al-Rahmân fi Tafsîr Kalâm al-Manan, jld. 3, hal. 253.

~76~

Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam

BAB VIII - MENGGAPAI TAQWA DENGAN PUASA
Tujuan puasa Ramadhan adalah membentuk individu-individu yang selalu bertaqwa kepada Allah SWT. Allah SWT telah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan kepada kalian berpuasa sebagaimana puasa itu telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (Qs. al-Baqarah [2]: 183). Seorang mufassir ternama, Imam Ibn al-‘Arabi, menjelaskan makna firman Allah SWT, “la’allakum tattaqûn” sebagai berikut, “Dalam menafsirkan frasa ini, para ulama Tafsîr terbagi menjadi tiga pendapat. Pertama, ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan la’allakum tattaqûn adalah la’allakum tattaqûn mâ hurrima ‘alaikum fi’luhu (agar kalian terjaga dari perbuatan-perbuatan yang diharamkan kepada kalian). Kedua, ada yang berpendapat bahwa, la’allakum tattaqûn bermakna la’allakum tudl’ifûn fa tattaqûn (agar kalian menjadi lemah, sehingga kalian menjadi bertaqwa). Sebab, ketika seseorang itu sedikit makannya maka syahwatnya juga akan lemah, ketika syahwatnya melemah maka makshiyyatnya juga akan sedikit. Ketiga, ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan firman Allah SWT la’allakum tattaqûn, adalah la’allakum tattaqûn ma fa’ala man kâna qablakum (agar kalian terjaga dari perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang sebelum kalian [Yahudi dan Nashrani]).” 185 Makna pertama; terminal akhir dari ibadah puasa adalah agar kita mampu menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan yang diharamkan Allah SWT. Atas dasar itu, puasa harus mampu membentuk karakter untuk selalu membenci dan menjauhi perbuatan-perbuatan dan perkataan-perkataan. Sayangnya, betapa banyak kaum muslim yang sudah melaksanakan ibadah puasa puluhan tahun lamanya, akan tetapi ia tidak pernah bisa terjaga dari perbuatan-perbuatan yang diharamkan Allah. Benar, setiap tahun mereka menjalankan ibadah puasa, namun setiap tahun pula mereka gemar berbuat maksiyat, mendzalimi orang lain, memakan riba dan memangsa hak-hak orang lemah. Puasa yang mereka kerjakan tidak memberikan bekas dan pengaruh apapun, kecuali sekedar haus dan dahaga. Bahkan, betapa banyak para penguasa yang disibukkan dengan kegiatan-kegiatan seremonial untuk menyambut bulan Ramadhan. Mereka juga terlihat serius dan komitmen tatkala menjalankan ibadah puasa. Mereka juga rela bangun di pagi buta untuk mendapatkan berkah makan sahur. Di siang harinya, mereka juga sangat serius dalam menjaga kesempurnaan pahala puasanya dan dari hal-hal yang bisa membatalkan puasanya. Mereka juga sangat disiplin dalam menetapkan waktu berbuka di sore harinya. Mereka selalu memantau sang waktu detik per detik. Mereka sangat takut berbuka tidak pada waktunya. Di malam harinya mereka juga terlihat bangun untuk menjalankan qiyâm al-lail. Namun, keseriusan dan komitmen mereka terlihat hanya ketika menjalankan ibadah puasa belaka. Ibadah-ibadah lainnya, seperti menerapkan hukum-hukum Allah SWT, tidak memberikan loyalitas kepada orang kafir, serta mengganti hukum-hukum kufur tidak dijalankan dengan serius dan komitmen, layaknya ketika mereka menjalankan ibadah puasa. Mereka terus menelantarkan hukumhukum Allah SWT, memberikan loyalitas kepada kaum kafir, bahkan berusaha memerangi para pengemban dakwah yang ikhlash berjuang untuk menegakkan kalimat Allah SWT.
185

Ibn al-‘Arabi, Ahkâm al-Qur’an, jld 1, hal. 108.

~77~

sungguh puasa kita belum mendapatkan hasil yang optimum. memenuhi sunnah-sunnah dan keutamaannya. Kecenderungan hanya ingin berbuat baik. Jika kita mampu menghindarkan sesuatu yang bisa membatalkan puasa kita. Semakin lama kita berpuasa. akan tetapi melemahkan syahwat kita yang buruk. Jika kita masih memuja hawa nafsu dan melemahkan tuntunan agama yang baik. hingga akhirnya kita memiliki muyul (kecenderungan) yang baik. seorang mukmin akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjauhi mereka. Dengan kata lain. hal itu merupakan substansi dasar dari la’allakum tattaqûn. menghormati yang tua dan menyayangi yang lebih muda. Atas dasar itu. Kita semakin mencintai dan hanya memberikan loyalitas kepada kaum mukmin. adat-istiadat dan peradaban kaum kafir yang bertentangan dengan Islam. apakah mereka sudah mendapatkan hakekat dan tujuan dari puasa? Ataukah. dan beribadah kepada RabbNya dengan penuh keikhlasan dan ketawadlu’an. pemaaf. hingga jika mereka masuk ke lubang biawak kalian akan mengikuti ~78~ . lalu mengapa untuk ibadah-ibadah yang lain ia tidak bisa seserius dan sedisiplin seperti tatkala mengerjakan puasa? Makna kedua. puasa juga harus mampu melemahkan syahwat kita. Semakin lama kita semakin menjadi orang yang lemah dan lembut. sehasta demi sehasta. Makna ketiga. Di sisi yang lain. puasa harusnya tidak hanya menjadikan diri kita lemah secara fisik. puasa merupakan wahana untuk melahirkan kaum mukmin yang bisa menghindarkannya dari upaya-upaya meniru-niru pemikiran. harusnya syahwat kita semakin lemah. antekantek orang kafir. puasa yang sudah puluhan tahun kita kerjakan ini belum mampu mengubah akhlaq kita. sabar. lantas mengapa kita tidak bisa meninggalkan larangan-larangan Allah yang lainnya? Jika dalam melakukan puasa ia bisa menjaga dari hal-hal yang membatalkan puasa. Kebencian ini kita refleksikan dengan cara berjuang dan mengingatkan para penguasa dengan cara yang ihsan. Kita semakin membenci aturan-aturan kufur. Sebab. keimanan dan hati kita semakin jernih dan cemerlang. serta penguasa-penguasa yang enggan dan menelantarkan penerapan syari’at Islam. Rasulullah Saw pernah mengingatkan kepada kita semua dengan sabdanya: “Sungguh. Dengan puasa. semakin lama kita berpuasa kita semakin rindu dan cinta kepada terwujudnya penerapan syari’at Islam secara menyeluruh di muka bumi ini. Perbuatan mereka yang suka mengganti-ganti dan mengubah-mengubah aturan-aturan Allah telah memurukkan mereka ke tempat yang sangat hina. Puasa tidak ditujukan untuk melemahkan fisik kita. Lebih jauh dari itu. syahwat (nafsu negatif) harusnya bisa dilemahkan sedangkan keinginan-keinginan baik semakin ditingkatkan. menjadi akhlaq yang lebih baik. bahwa kaum kafir —Yahudi dan Nashrani— adalah sumber keburukan dan kekejian. mereka hanya mendapatkan lapar dan haus belaka? Puasa harusnya menjadikan mereka mampu menghindarkan diri dari perbuatan yang diharamkan oleh Allah SWT. disiplin waktunya. Kaum mukmin harusnya memahami. Sungguh jika syahwat kita sudah lemah —sebagaimana lemahnya fisik kita—.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Kita bisa bertanya. maka setelah mengerjakan puasa kita akan menjadi hamba-hamba Allah yang memiliki pola sikap (nafsiyyah) yang tangguh dan kuat. Puasa harusnya semakin membersihkan qalbu kita untuk selalu bersemangat dalam ibadah dan lemah dalam bermaksiyat. kelak kalian akan mengikuti tingkah laku orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal.

jika tiga hal ini telah kita pahami bersama. 5/218. Puasa yang selama ini kita lakukan harus mampu menjadikan diri kita hanya ridha untuk diatur hanya dengan aturan-aturan Allah SWT. namun perangai mereka tetap saja meniru-niru orang Yahudi dan Nashrani. mereka menerapkan aturan-aturan Yahudi dan Nashrani di tengah-tengah ummatnya. Sungguh. “Apakah mereka itu adalah orang Yahudi dan Nashrani?” Rasulullah Saw menjawab. 4/455. betapa banyak para penguasa muslim yang telah mengerjakan puasa (mungkin) puluhan tahun lamanya. Puasa yang telah mereka lakukan puluhan tahun tidak memberikan bekas apapun. Bahkan. bukan dengan aturan-aturan produk Yahudi dan Nashrani.” Para shahabat bertanya. tentu ibadah puasa kita di bulan Ramadhan. 186 Al-Mustadrak 1/29.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam mereka. Musnad Imam Ahmad bin Hanbal. Selain itu. dan ibadah-ibadah di bulan yang lain akan bermakna dan semakin optimal. ibadah puasa merupakan wahana pembinaan agar kita semakin serius dan disiplin dalam mengerjakan seluruh perintah Allah SWT. Sungguh. puasa merupakan cambuk bagi kita agar kita meninggalkan aturan-aturan kufur yang lahir dari peradaban kapitalisme dan sosialisme dan kembali kepada syari’at Islam. ~79~ . Lebih dari itu. Seluruh tipu daya dan makar mereka kerahkan untuk menghambat para pengemban dakwah yang ingin menegakkan kalimat Allah SWT. Mereka tetap membenci kaum muslim dan syari’at Islam. Tidak jarang diantara mereka bahkan bahumembahu dengan pasukan kafir untuk memerangi kaum muslim. “Siapa lagi kalau bukan mereka.” 186 Betapa ironisnya. bahkan bermuwalah dengan orang-orang kafir. puasa mereka tidak memperoleh apapun kecuali sekedar lapar dan dahaga. Bagi seorang muslim. Mereka menjadi penjaga aturan-aturan kufur dan penabuh genderang peperangan melawan syari’at Islam dan para pengembannya. puasa mereka wahana yang bisa mengantarkan kita menjadi mukmin yang berakhlaqul karimah.

tampaknya ada kekeliruan dalam memahami tazkiyatu an-nafs. kemunafikan. ~80~ . bahkan di kalangan para pejabat dan selebritis pun menampakkan hal yang sama. banyak orang kembali melakukan kemaksiyatan dan kedzaliman. Fenomena seperti ini tidak hanya kita temukan di lingkungan masyarakat secara umum. Kaum Muslim menyadari. ketaatan kepada Allah pun surut dan berpaling menuju ketaatan kepada thagut (na’udzubillah). Kekeliruan Memahami Tazkiyatu an-Nafs Ketika Ramadhan datang. majelis taklim. al-Baqarah [2]: 183).” (Qs.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam BAB IX . Sayangnya. Kalau begitu. banyak orang berlomba-lomba untuk beribadah dan melakukan perbuatan baik. Akibatnya. fenomena ini hanya ada di bulan Ramadhan saja. orang munafik menjadi enggan mempertontonkan kemunafikannya. Orang fasik menjadi malu menampakkan kefasikannya. Mesjid-mesjid. diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. Media massa pun tidak ketinggalan. forum-forum kajian keislaman. dan perasaan yang peka terhadap ajaran-ajaran Islam. tidak takut mendemonstrasikan kefasikan. Namun sayang. dan kezaliman. kembali bergelimang dengan dosa. pasca Ramadhan. Bulan berikutnya. Orang shaleh makin bersemangat menambah amal baiknya daripada bulan-bulan lainnya. kembali suci? Pasca Ramadhan mestinya ketakwaan seorang Muslim akan semakin bertambah. sehingga di bulan ini mampu tercipta atmosfir keimanan. dan sanggup dengan sedemikian rupa pula meninggalkan segala kemaksiatan. Ketaqwaan yang lahir dari ketundukan kita pada perintah Allah dan penghindaran diri kita dari perkara yang diharamkan Allah SWT. pensucian diri hanya pada bulan Ramadhan. suasana kebaikan. dan kekeliruan ini telah berimplikasi pada anggapan-anggapan berikut ini: Pertama. tidak takut kepada murka dan adzab Allah. ketika Ramadhan telah usai. Secara umum. Fenomena tersebut senantiasa berulang dan berulang terus setiap tahun. maka pasca Ramadhan mestinya kita bagaikan terlahir kembali. orang zalim pun mengurangi intensitas kezalimannya. bulan Ramadhan mampu mengubah persepsi dan perilaku seorang muslim sedemikian rupa. Selama bulan Ramadhan kita sanggup menjalankan ketaatan kepada Allah sedemikian rupa. menayangkan acara-acara yang bernuansa bulan Ramadhan. dan sejenisnya penuh sesak dipadati oleh kaum Muslim. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman. bulan Ramadhan tidak berimplikasi pada peningkatan ketakwaan maupun ketundukkan terhadap syari’at Allah pada diri seorang Muslim dan masyarakat umum di bulan-bulan yang lain. mengurangi tayangan-tayangan yang menjurus pada pornografi dan kekerasan. apa pengaruh bulan Ramadhan bagi kita? Bukankah kalau bulan Ramadhan kita jadikan sebagai momentum untuk mensucikan diri. bahwa bulan Ramadhan merupakan momentum yang tepat untuk mensucikan diri (tazkiyatu an-nafs). Ramadhan sebagai bulan mensucikan diri (tazkiyatu an-nafs) hampir kehilangan maknanya. Namun pasca Ramadhan kesanggupan tersebut seakan menguap. terutama televisi.RAMADHAN: BULAN MENSUCIKAN DIRI Pada dasarnya. Sebab.

Sehingga kalau ingin menghilangkan sifat-sifat ~81~ . yaitu Tazkiyah dan an-Nafs. Sehingga “wajar”lah upaya pensucian diri ini baru mengarah pada perbaikan diri sendiri saja. pendidikan. di samping ubudiyah yang sempurna kepada Allah SWT dengan membebaskan diri dari pengakuan rububiyah. dan yang semisalnya. Sebab. Sehingga pensucian diri ini baru berimplikasi pada perbaikan individu (dan ini pun hanya di bulan Ramadhan saja) dan tidak berimplikasi pada terjadinya perubahan mendasar di masyarakat secara keseluruhan. Pemahaman filsafat tadi banyak mempengaruhi kaum Muslim. Pangkal Kekeliruan dan Pelurusannya Pengaruh Filsafat Secara umum telah ada kekeliruan dalam memahami an-nafsu. dia adalah kekuatan syahwat yang merupakan sumber sifat-sifat tercela. baca al-Qur’an. mensucikan. yang berarti jiwa. hati. yang berarti membayar. setelah mengemukakan pandangan berbagai kalangan tentang nafsu. Sedangkan untuk hukum-hukum kemasyarakatan. merealisasikan kesuciannya dengan tauhid dan cabangcabangnya. manusia menjadi buruk sifatnya. Menurut mereka ruh adalah bagian dari Tuhan. dan berpengaruh besar pada cara pandang mereka terhadap pemahaman Islam. dengan miningkatkan ketakwaan yang bersifat individual. yang semuanya terkategori dalam hubungan kita dengan Allah dan hubungan dengan diri kita sendiri. Manakala ruh itu dominan dalam diri seseorang. melatih kesabaran. pensucian diri dilakukan dengan ketakwaan yang bersifat individual dan mengabaikan ketakwaan yang total. tidak berbohong. seperti politik. Termasuk dalam memahami an-nafsu. Sebaliknya manakala yang dominan jasmaninya. misalnya pada upaya tazkiyatu an-nafs. Tazkiyatu an-Nafs sendiri secara istilah adalah mensucikan jiwa (diri) kita dengan Islam. menurut Ibn al-Arabi. dia akan menjadi manusia yang baik karena mendekati sifat-sifat ketuhanan.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Kedua. Makna Tazkiyatu an-Nafs Tazkiyatu an-Nafs secara bahasa terdiri dari dua kata. Sehingga untuk menjadi baik maka aspek ruh harus ditingkatkan dan meminimalisir aspek jasmani. Menurut istilah. tidak menggunjingkan orang. dan menjadikan nama-nama Allah yang baik sebagai akhlaknya. sholat tarawih. berkesimpulan bahwa nafsu merupakan sumber pengetahuan akal. Aktivitas tazkiyatu an-nafs dianggap sebagai aktivitas jiwa yang menenangkan hati. tazkiyatu an-nafs adalah membersihkan jiwa dari kemusyrikan dan cabang-cabangnya. keduanya merupakan unsur pembentuk manusia. Kata tazkiyah berasal dari pecahan kata: zakka–yazukku–tazkiyah. misalnya dengan melaparkan diri (puasa). dan lain-lain tetap diabaikan. misalnya memperbanyak ibadah ritual. bentuk pluralnya al-anfus atau an-nufus. banyak berdzikir. An-Nafs. batasan nafsu selalu dikaitkan dengan ruh dan jasad. Berangkat dari pemahaman filsafat bahwa manusia terdiri dari ruh yang membawa potensi baik. ekonomi. sehingga berimplikasi besar pula pada kekeliruan upaya penanganan an-nafsu. Satu kesalahan besar yang dilakukan oleh filsafat Barat dan Yunani selama beabad-abad adalah uraian mereka bahwa manusia terdiri dari ruh dan jasmani. Sedangkan Ibn Qayyim. dan jasmani yang berpotensi buruk. dan diri seseorang. Menurut Said Hawwa yang disyarah dari kitab Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn karya Imam al-Ghazali. an-nafsu berkaitan dengan jasmani.

” (Qs. ia menyadari sepenuhnya bahwa ini adalah bagian dari tanggung jawab dirinya sebagai seorang muslim yang harus senantiasa menghadirkan ruh (kesadaran hubungan dengan Allah) pada seluruh aspek kehidupannya. tetapi juga yang terkait dengan hubungan kemasyarakatan. Oleh karena itu bagi orang yang memiliki ruh dalam arti kesadaran hubungannya dengan Allah. Allah mengilhamkan pada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaan. yaitu dengan mengeliminir sisi jasmani pada dirinya. setiap saat. maka pasca Ramadhan pun demikian. maka an-nafsu ini harus dihilangkan pula. yaitu dengan melemahkan pengaruh jasmani. yakni dengan cara menegakkan syari’at Allah. Dan ini terjadi bukan hanya pada saat pengaruh jasmani pada diri manusia tersebut melemah.” (Qs. artinya dia mengaitkan nafsu ini dengan kesadaran hubungannya dengan Allah. pendidikan. dan bahkan harus diadakan setiap saat. asy-Syams [91]: 7-10). Sebab. Padahal ruh (bukan ruh sebagai sirul hayah) dalam pembahasan ini bukanlah bagian yang ada dalam diri manusia. dan janganlah kamu mengikuti pemimpinpemimpin selain-Nya. dan meyakini bahwa Allah SWT akan memberikan pahala dan siksa atas seluruh perbuatan. al-A’râf [7]: 3). dan mengurangi hubungan seksual. Sehingga mereka menganggap bahwa bulan Ramadhan adalah ajang meningkatkan sisi ruh agar sisi baiknya menguat. Nafsu adalah fitrah manusia yang bersifat netral.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam tercela pada diri seorang manusia. akan tetapi bisa terjadi kapan saja. demikian pula sebaliknya. Akibatnya. baik di bulan Ramadhan maupun pasca Ramadhan. maka pada hakikatnya nafsunya bahkan seluruh perbuatannya. tetapi merupakan sifat dari luar yang diinginkan manusia agar bisa mempengaruhi perbuatannya. Allah SWT berfirman: “Demi jiwa (nafsu) serta penyempurnaan (ciptaan)-Nya. akan selalu berada dalam daerah hukum Allah SWT. An-Nafs sendiri bukanlah kekuatan syahwat yang merupakan sumber sifat-sifat tercela. ~82~ . Sebab. dan politik. agar aspek ruh menguat. dan jika belum dapat terwujud maka akan berusaha keras mewujudkannya. Ruh ini hanya bisa terwujud manakala manusia menyetir perbuatannya dengan aturan dari Allah SWT. hubungan dengan diri sendiri. bahkan sepanjang hidupnya. kita telah digembleng selama 1 bulan penuh. seperti ekonomi. dan salah satu caranya adalah dengan membuat lapar jasmani (berpuasa). sosial. setiap perbuatan baik yang terkait hubungan dengan Allah. Allah SWT berfirman: “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. bahkan akan lebih meningkat lagi. kita meningkatkan ketakwaan kita. baik besar maupun. Artinya nafsu itu sendiri pada dasarnya fitrah yang bisa baik dan buruk atau taat dan maksiat. sehingga kita telah terlatih untuk senantiasa meningkatkan keimanan dan keterikatan terhadap hukum syara. dan hubungan dengan manusia lain akan selalu diikatkan dengan syari’at Allah dan RasulNya. dengan mengurangi makan dan minum. Sehingga. karena ruh adalah kesadaran hubungan manusia dengan Allah. ia tidak hanya mencukupkan diri dengan beribadah dan beramal sebatas individual dan ritual saja. Ketika berada di bulan Ramadhan. akan dijalankan juga sesuai syari’at Islam. Ia akan menjadi baik apabila dia berupaya menghadirkan ruh di dalamnya. Semua itu senantiasa dilakukan.

tatanan ekonomi kapitalistik. menjadikan hatinya sangat kering dan gersang. termasuk di dunia Islam. dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka (dengan meninggalkan) kebenaran yang telah datang kepadamu. Pemahaman yang Sempit Terhadap Dalil Kekeliruan memahami tazkiyatu an-nafs kemungkinan juga disebabkan karena pemahaman yang sempit terhadap dalil-dalil syara' yang berhubungan dengan tazkiyatu an-nafs. Allah telah memerintahkan kita untuk terikat kepada hukum syara’. apa lagi untuk melakukan upaya perubahan secara utuh. namun dalam perkembangannya telah menyebar di seluruh belahan dunia. Abu Hurairah ra menuturkan. Padahal. ketika kehidupan telah dikepung dengan krisis multidimensional. bukan hanya untuk aktivitas individual dan ritual saja. alMâ’idah [5] :48). budaya hedonistik. sikap sosial egoistik dan individualistik. namun dia merasa cukup dengan hanya mencari kedamaian hati untuk dirinya sendiri saja. kelahiran sekularisme merupakan bagian dari sejarah feodalisme dan dominasi gereja pada abad pertengahan di Eropa. Semua kondisi buruk yang mengepungnya dianggap sebagai suatu “dinamika” kehidupan yang sudah tidak dapat ditawar lagi. Sesungguhnya.” (Qs. Saat ini sekularisme di dunia Islam bukanlah menjadi sesuatu yang asing lagi. namun dalam perkembangannya pula semangat sekularisme tumbuh dan berbiak ke segala lini kehidupan. Rasulullah Saw bersabda: ~83~ . Inti dari paham sekularisme adalah pemisahan agama dari kehidupan. Akibatnya. kebanyakan orang hanya berusaha memperbaiki dirinya sendiri secara individual untuk lebih mendekatkan diri pada Ilahi. Hampir tidak ada sisi kehidupan umat ini yang terlepas dari cengkeramannya. tidak merasa perlu untuk memikirkan orang lain di luar dirinya. Awalnya sekularisme hanya berbicara tentang hubungan antara agama dan negara. perilaku politik yang oportunistik. Lebih dari itu. termasuk hubungan antar manusia dalam masyarakat dan negara.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Pengaruh Ide Sekularisme Meskipun dalam konteks historis. Perkembangan sekularisme sudah seperti gurita yang telah menyebar dan membelit kemana-mana. ia tidak merasa perlu untuk memikirkan kondisi masyarakat yang ada. akan tetapi juga untuk seluruh aspek kehidupan. Agama tidak boleh berperanan aktif dalam kehidupan masyarakat dan kenegaraan. Allah SWT berfirman: “Hukumlah diantara mereka dengan apa saja yang Allah turunkan. Akibatnya umat sudah tidak menyadarinya lagi. dan kisaran aktivitas individual dan ritual saja. maka cara pandang terhadap solusi permasalahannya bukan diarahkan untuk menjadikan agama Islam sebagai way of life di seluruh aspek kehidupan. Agama masih direduksi sedemikian rupa hingga tinggal di relung-relung individu. Allah SWT memerintahkan setiap Muslim untuk membersihkan qalbunya. Sekalipun ketika hal itu telah menjadikan dirinya sulit mendapatkan ketenangan dan ketentraman. Sebab isi qalbu akan dihisab oleh Allah. dan paradigma pendidikan yang materialistik. akan tetapi.

pemahaman. Misalnya: tempat kekhusyuan (Qs. bahwa seorang muslim diperintahkan untuk senantiasa membersihkan qalbunya. negara.” ~84~ . bila qalbu itu baik. Terlebih lagi ketika ternyata anggapan tersebut hanya berlandaskan pada salah satu hadits. disertai dengan ilmu dan penerapan hukum-hukum Allah secara menyeluruh (diri pribadi. al-A’râf [7]: 179). al-Qur’an sendiri menggunakan istilah qalbu dengan makna yang beranekaragam dan tidak keluar dari cakupan makna bahasa tersebut. al-Mujâdilah [58]: 22).” Dari nash di atas. Diantara arti penting qalbu sebagai tempat perasaan: qalbu sebagai tempat iman dan takwa: “Mereka itulah yang dituliskan di dalam qalbu mereka iman. ada kesalahpahaman dalam memberikan makna terhadap qalbu ini. qalbu bermakna tempat perasaan. Qalbu sering diartikan sebagai hati atau jiwa. ekonomi. Kedua.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam “Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk tubuh kalian dan tidak pula rupa kalian. upaya untuk membersihkan qalbu berarti menjaga agar akal pikiran dan perasaannya senantiasa sesuai dengan aturan Allah SWT dan bersih dari aturan thagut. Makna qalbu berdasarkan al-Qur’an. al-Anfâl [6]: 3). Oleh karena itu. namun haruslah diawali dengan keimanan yang shahih lewat proses berfikir yang jernih. Hanya saja.” (Qs. tempat perasaan terguncang (Qs. Di dalam hadits lain juga dituturkan: “Dalam diri manusia ada qalbu. dan sebagainya) sebagai cerminan ketakwaan seseorang. bahwa makna qalbu mencakup akal pikiran dan perasaan. antara lain: Pertama. Allah SWT berfirman: “Mereka mempunyai qalbu (qulub) tetapi tidak dipergunakan untuk memahami ayat-ayat Allah. al-Hadîd [57]: 16). Sebab. telah bersabda Rasulullah Saw: “Siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan keridhaan Allah. Dalam ayat tersebut. bila qalbu rusak maka rusaklah seluruh jasadnya. baik di bulan Ramadhan maupun pasca Ramadhan.Muslim]. akan diampuni dosa-dosanya terdahulu. Dan hal ini senantiasa dilakukan sepanjang masa. tetapi Allah melihat qalbu kalian. dan pemikiran. jelas. politik. Jelaslah. sehingga upaya membersihkan qalbu sering dipahami sebagai upaya membersihkan hati. maka baiklah seluruh jasadnya. dan arahannya sangat individual.” [HR. Dan hal ini tidak cukup dengan hanya melalui dzikir dan ibadah ritual saja. baik tidaknya seseorang bergantung pada baik dan tidak qalbunya. makna qalbu berkaitan dengan akal.” (Qs. qalbu bermakna akal (pemahaman) yang mesti digunakan untuk memahami ayatayat atau tanda-tanda kebesaran Allah. Sehingga jelas kelirulah anggapan bahwa pembersihan qalbu ataupun pensucian diri cukup dilakukan pada bulan Ramadhan saja. Padahal.

Berdasarkan pada Aqliyah Islamiyyah Pada penjelasan sebelumnya telah dijelaskan bahwa nafsu pada dasarnya fitrah yang bisa menjadi baik atau buruk. sekaligus menjadi cahaya yang menunjuki masyarakat kepada hidayah dan risalah agung ini (Islam) hingga Islam diterapkan bukan hanya pada diri sendiri melainkan di tengah-tengah masyarakat secara total. selain akan membersihkan dirinya secara individu dengan meningkatkan ibadah ritual. dan segala dosa. Sebab. Banyak kemaksiatan di sekeliling kita. kemaksiatan. dengan suatu pembelajaran yang menjadikan pikirannya menyatu dengan perasaannya.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Padahal syari’at Allah bukan hanya puasa atau aktifitas individual dan ibadah ritual semata. Karena itu. tidak dibatasi pada hal yang bersifat individual semata. kefasikan. lebih jauh lagi. tetapi ada juga syari’at kemasyarakatan dan kenegaraan. karena kita terlalu sibuk memikirkan diri sendiri. Metode Shahih Tazkiyatu an-Nafs Dari pemaparan di atas jelaslah bahwa makna an-nafs itu sangat luas. secara umum telah ada kekeliruan dalam memahami makna tazkiyatu an-nafs. Taubah yang Hakiki dan Ketakwaan yang Total Keberadaan kaum Muslim di dalam sistem kufur sekarang ini telah membuat mereka sangat sulit melaksanakan syari’at Islam. dan terlebih lagi tidak dibatasi hanya pada saat bulan Ramadhan saja. upaya untuk tazkiyatu an-nafs pun tidak boleh dibatasi pada aktifitas individual atau ibadah ritual saja. bahkan pada diri kita (na’udzubillah). maka kita harus segera bertaubat dengan taubat yang hakiki. bahkan untuk skala individu sekalipun. di dalam dirinya akan terbentuk api yang membakar kezaliman. tidak mustahil kemaksiyatan itu akan menyebar masuk ke dalam rumah-rumah kita. kekufuran. dan perintah untuk terikat pada Syari’atNya bukan hanya untuk di bulan Ramadhan saja. tetapi juga di bulan-bulan selainnya. dan hanya memikirkan upaya membersihkan atau memperbaiki diri pribadi. ketika kemaksiyatan itu sulit untuk dihindari. dan bertekad serta ~85~ . dan tidak merasa bertanggungjawab dengan kondisi masyarakat yang semakin jauh dari penerapan syari’at Islam. yaitu dengan selalu mengikatkannya dengan seluruh syari’at Allah dan RasulNya. dan menghiasi diri dengan akhlaq terpuji. memohon ampunan Allah akan kelemahan dan ketidakberdayaan kita. Atas dasar itu. Oleh karena itu. dan kekeliruan ini telah berimplikasi pada kekurangpedulian terhadap kondisi masyarakat. Dengan demikian sudah seharusnya kita memahami bagaimana metode shahih bagi tazkiyatu an-nafs itu sendiri. Seandainya benteng keimanan kita lemah. nafsu harus dibentuk dan dibimbing agar tetap menjadi baik dan benar. Taubat mesti dilakukan dengan cara memperbanyak istighfar. menyesali perbuatan masa lampau. Setiap Muslim mutlak membimbing pemikiran-pemikirannya dengan tsaqâfah Islam. Hal ini tidak bisa diraih kecuali dengan meningkatkan tsaqâfah Islamiyah. Dengan begitu.

dan lain-lain. pertempuran di ‘Ain Jalut melawan tentara Romawi.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam memohon dikuatkan tekad kita untuk tidak pernah mengulanginya lagi. kita pun akan berjuang keras demi tegaknya institusi yang akan menegakkan syari’at Islam di tengah-tengah masyarakat. pemerintahan. bukan hanya pada bulan Ramadhan saja. dimana target yang kita harapkan adalah bertambahnya ketakwaan. Diharapkan ketakwaan tersebut akan tetap tercermin pula dalam kehidupan pasca Ramadhan. Institusi itu adalah Khilafah Islamiyyah. bahwa aktivitas kemasyarakatan dan kenegaraan pada masa Rasulullah Saw dan pada masa Kekhilafahan Islam berlangsung sebagaimana adanya. kita membutuhkan institusi yang akan senantiasa menjaga masyarakat untuk tetap berada pada koridor syari’atNya. Tidakkah kita mau bercermin pada kehidupan para sahabat Rasulullah Saw sebagai generasi terbaik yang pernah dimiliki umat manusia? Kita bisa menyaksikan bagaimana atmosfir keimanan di tengahtengah mereka pada bulan-bulan selain Ramadhan senantiasa terpelihara seperti halnya pada bulan Ramadhan. dan peperangan selama bulan Ramadhan tidaklah surut. Peristiwa-peristiwa sejarah. mereka tidak seperti itu. Sistem hukum Islam menjadi pilar dasar seluruh interaksi kehidupan masyarakat dan para pemimpinnya. Mereka konsisten untuk melaksanakan aktivitas kemasyarakat dan kenegaraan sesuai dengan hukum Allah. Hanya saja. seperti halnya di bulan-bulan yang lain. semua itu terjadi pada bulan Ramadhan. baik di bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan. negara Khilafah telah menjadikan Islam sebagai asas pemerintahan dan kehidupan masyarakatnya. ini sangatlah sulit. jika kita hanya mengandalkan pada benteng individu saja. baik pada bulan Ramadhan maupun selain Ramadhan. Semua ini bisa terwujud. pembebasan kota Makkah (fathu Makkah). Tidak hanya itu saja. Oleh karena itu. apalagi beristirahat selama bulan Ramadhan untuk memfokuskan diri hanya dengan amalamal ibadah di dalam mesjid belaka. Aktivitas sosial. seperti Perang Badar Kubra. ~86~ . negara Khilafah juga menunjukkan peranan besarnya dalam menjaga ketakwaan masyarakat. Ketaatan mereka pada Allah dan RasulNya pun bersifat kontinyu dan tidak berubah. politik luar negeri. Akibatnya. karena. Ini berarti. Sungguh. Untuk mewujudkan hal ini. dan kenegaraan. Rasulullah dan para sahabatnya atau generasi kaum Muslim terdahulu tidak mengendurkan jihad fi sabîlillâh. Suasana dan atmosfir keimanan ada di sepanjang tahun. Sedangkan akidah Islam menaungi seluruh kehidupan umat. Kehidupan Ramadhan dan Pasca Ramadhan di Masa Rassulullah Saw dan Para Sahabat Ramadhan sebagai bulan untuk mensucikan diri. kita menyadari sepenuhnya. seakan-akan sepanjang tahun adalah Ramadhan.

Ini bisa dimengerti karena bulan Ramadhan telah dipilih Allah SWT untuk menurunkan al-Qur’an al-Adzim. Shafwât at-Tafâsîr. Idem.” (Qs. 170. ad-Dukhân [44]: 3). yaitu Lailatul Qadar. hal. Sedangkan Taurat diturunkan pada malam keenam bulan Ramadhan. bahwa yang dimaksud dengan “Lail Mubârakah” (malam yang diberikahi) adalah malam yang sangat agung dan mulia. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Jabir bin ‘Abdullah disebutkan. jld 16. Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits dari Ibn al-Asqa’ bahwa Rasulullah Saw berkata: “Shuhuf Ibrahim diturunkan pada malam pertama bulan Ramadhan.AL-QUR’AN SEBAGAI PETUNJUK DAN SUMBER HUKUM “Bulan Ramadhan. 189 Imam al-Qurthubi. bahwa Ramadhan adalah bulan dimana Allah SWT menurunkan kitab-kitabNya kepada para Nabi. Ali ash-Shabuni menyatakan. al-Baqarah [2]: 185. Injil diturunkan pada malam ketiga belas. hal. 187 188 Ali ash-Shabuni. al-Baqarah [2]: 185). “Sesungguhnya Zabur diturunkan pada malam kedua belas di bulan Ramadhan. kebaikan dan pahala. bulan yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang haq dengan yang bathil. “…al-Qur’an telah diturunkan pada Lailatul Qadar.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam BAB X . pada malam itu Allah SWT menurunkan kepada hambaNya al-Qur’an al-Karim yang di dalamnya berisi keberkahan.126. Ibn Mardawaih].” 188 Imam al-Qurthubi berkata. Ahmad]. Al-Qur’an telah menyatakan hal ini dengan sangat jelas.” [HR.” (Qs. al-Qadar [97]: 1).170. sebab.” 189 Imam Ibn Katsir menyatakan. jld 3. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi…” (Qs.” 190 Di dalam sunnah juga dituturkan. Qs. Frasa awal ayat ini menjelaskan bahwa. “Allah SWT telah memulyakan bulan Ramadhan diantara bulanbulan yang lain. Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm. “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam kemuliaan (Lailatul Qadar). al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân. 187 Ibn al-Jauzi menyatakan. Sedangkan Injil diturunkan pada malam kedelapan belas Ramadhan. dan al-Qur’an diturunkan pada malam keempat belas bulan Ramadhan.” [HR. ~87~ . malam yang terdapat di bulan yang penuh berkah (bulan Ramadhan). al-Qur’an al-Karim telah diturunkan Allah SWT di bulan Ramadhan pada malam kemuliaan (Lailatul Qadar) dan pada malam yang diberkati (Lailatul Mubârakah). hal. “…Lailatul Qadar disebut sebagai malam yang penuh keberkahan. 190 Imam Ibn Katsir.

Hudâ dibaca nashab karena ia berkedudukan sebagai hâl dari al-Qur’an. yakni hadits yang diriwayatkan oleh al-Hâkim. 192 Al-Hafidz as-Suyuthi. al-Baihaqi.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Yang dimaksud dengan al-Qur’an di sini adalah al-Qur’an yang diturunkan secara lengkap dari Lauh Mahfudz ke langit dunia (Baitul ‘Izzah). “Maksud dari firman Allah SWT. dari Ibn ‘Abbas. al-Qur’an yang dimaksud dalam surat al-Baqarah [2] ayat 185 adalah al-Qur’an yang diturunkan secara lengkap. hal 39. 193 Imam al-Qurthubi. wa bayyinât min al-hudâ wa al-furqân adalah bayyinât min al-halâl wa al-harâm (penjelasan yang menjelaskan halal dan haram). 23 tahun. hudan li an-nâs wa bayyinât min alhudâ wa al-furqân adalah sebagai berikut. baik ayat-ayat muhkâm. al-Qur’an diturunkan dari langit bumi kepada Nabi Muhammad Saw secara berangsur-angsur. an-Nasâ’i dan lain-lain dari jalur Manshuur. Susunan kalimat semacam ini bermakna. Imam al-Qurthubi mengatakan. Sedangkan al-furqân berarti al-fashl bain al-haq wa al-bâthil (pemisah antara kebenaran dan kebathilan). Walhasil. Al-Hafidz as-Suyuthi mengetengahkan hadits-hadits yang mendukung pendapat ini. Adapun makna dari bayyinât min al-hudâ adalah wâdlihât min al-hudâ (petunjuk-petunjuk yang sangat jelas). al-Baqarah [2]: 185. nasehat-nasehat serta hukum-hukum yang penuh hikmah. al-Jâmi’ al-Bayan fi Tafsîr al-Qur’âni. Sedangkan wa bayyinât berkedudukan sebagai ‘athaf ‘alaih”. 191 ~88~ . artinya bagian dari petunjuk yang menjelaskan tentang hudud Allah. Qs. Maknanya adalah. Arti ‘al-hudâ sendiri adalah al-irsyâd wa al-bayân (petunjuk dan penjelasan). bukan permulaan ayat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. 191 Al-Hafidz as-Suyuthi mengatakan. mutasyâbihât. nâsikh dan mansûkh jika dikaji dan diteliti secara mendalam akan menghasilkan hukum halal dan haram. “Tafsîr dari firman Allah SWT. al-Qur’an dengan keseluruhannya. Adapun al-furqân bermakna mâ farraqa bain al-haq wa al-bâthil (semua hal yang bisa memisahkan antara yang haq dengan yang bathil). Makna ini sejalan dengan hadits yang diriwayatkan dari al-Suddi. al-Qur’an diturunkan dari langit dunia kepada ummat manusia secara berangsur-angsur selama 20 tahun. al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân. al-Jâmi’ al-Bayan fi Tafsîr al-Qur’ân. al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân. Peristiwa ini terjadi pada malam Lailatul Qadar (bulan Ramadhan). Imam al-Qurthubi. dari Sa’id bin Jabir. atau 25 tahun sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw setelah beliau diutus oleh Allah SWT…” 192 Ayat ini juga menjelaskan fungsi al-Qur’an sebagai hudan li an-nâs (petunjuk bagi manusia). Mayoritas mufassir memilih pendapat yang menyatakan bahwa al-Qur’an diturunkan secara lengkap dari Lauh Mahfudz ke langit dunia pada Lailatul Qadar di bulan Ramadhan. Dalam Tafsîr Jalâlain disebutkan bahwa. dan al-furqan (pemisah atau pembeda antara yang kebenaran dan kebathilan). dan Tafsîr Jalâlain. bayyinât min al-hudâ (penjelas). farâ’idhNya. al-Itqân fi ‘Ulûm al-Qur’ân. Pendapat pertama —dan ini adalah pendapat yang paling shahih— menyatakan bahwa al-Quran diturunkan dari Lauh al-Mahfudz ke langit dunia secara lengkap. serta halal dan haramNya. 194 Imam ath-Thabari. Setelah itu. hâdiyan lahum (petunjuk kepada mereka). “Berkaitan dengan firman Allah SWT surat al-Baqarah [2]: 185 dan ad-Dukhân [44]: 4. al-Baqarah [2]: 185. Setelah itu diturunkan kepada Muhammad Saw secara berangsur-angsur. ada tiga pendapat berbeda mengenai cara diturunkannya al-Qur’an dari Lauh al-Mahfudz.” 194 Lihat Imam ath-Thabari. Setelah itu. Qs. al-Qur’an telah diturunkan dari Lauh al-Mahfudz ke langit dunia (baitul ‘Izzah) pada Lailatul Qadar di bulan Ramadhan.” 193 Imam ath-Thabari menjelaskan bahwa hudan li an-nâs bermakna rasyâdan li al-nâs ilâ sabîl al-haq wa qashd al-manhaj (petunjuk kepada ummat manusia menuju jalan kebenaran dan metode yang lurus).

Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam

Al-Hafidz as-Suyuthi dalam Tafsîr Jalâlain menjelaskan bahwa al-hudâ bermakna “petunjuk yang dapat menghindarkan seseorang dari kesesatan”. Sedangkan bayyinât min al-hudâ bemakna, “ayatayat yang sangat jelas serta hukum-hukum yang menunjukkan seseorang kepada jalan yang benar.” Al-Furqân sendiri bermakna “pemisah antara kebenaran dan kebathilan.” 195 Menukil pendapat Ibn ‘Abbas, Syaikh Fairuz Abadi menyatakan, “Yang dimaksud dengan firman Allah SWT hudân li al-nâs adalah al-Qur’an itu itu berfungsi memberi petunjuk kepada manusia dari kesesatan. Sedangkan frasa wa bayyinât min al-hudâ bermakna perkara-perkara agama yang sangat jelas dan tidak samar. Adapun frasa al-furqân berarti halal dan haram, hukum-hukum dan hudud, serta semua hal yang menghindarkan seseorang dari syubhat (kesamaran).” 196 Ayat di atas telah menggambarkan betapa Allah SWT telah memulyakan dan mengagungkan bulan Ramadhan di atas bulan-bulan yang lain. Sebab, di bulan itu Allah SWT menurunkan al-Qur’an yang berisikan petunjuk, penjelasan serta pemisah antara yang haq dan bathil. Tidak hanya itu saja, alQur’an adalah sumber segala sumber hukum bagi kaum Muslim yang tidak boleh diingkari dan diacuhkan. Dalam masalah ini Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah berkata, “Barangsiapa tidak mau membaca al-Qur’an berarti ia mengacuhkannya dan barangsiapa membaca al-Qur’an namun tidak menghayati maknanya, maka berarti ia juga mengacuhkannya. Barangsiapa yang membaca alQur’an dan telah menghayati maknanya akan tetapi ia tidak mau mengamalkan isinya, maka ia pun berarti mengacuhkannya.” Selanjutnya Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah menyitir sebuah ayat: “Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku! Sesungguhnya kaumku menjadikan al-Qur’an ini suatu yang diacuhkan.” (Qs. al-Furqân [25]: 30). 197

Al-Qur’an Sebagai Manhajul Hayah (Metode Hidup)
Pada dasarnya, al-Qur’an adalah manhajul hayah bagi kaum Muslim. Pedoman hidup yang menjelaskan seluruh aspek kehidupan, sekaligus sebagai pemisah antara kebenaran dengan kebatilan. Atas dasar itu, setiap Muslim diperintahkan untuk selalu berjalan sesuai dengan al-Qur’an, dan siapa saja yang berjalan sesuai dengan al-Qur’an tentu mereka akan mendapatkan petunjuk, penjelas, sekaligus akan diberi furqân (kemampuan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah). Benar, al-Qur’an wajib dijadikan sebagai pedoman hidup kaum Muslim di seluruh aspek kehidupannya. Sebab, al-Qur’an telah menjelaskan seluruh masalah hidup, baik yang berhubungan dengan ekonomi, politik, kenegaraan, dan lain sebagainya. Allah SWT berfirman: “Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.” (Qs. al-An’âm [6]: 38).

195 196

Al-Hafidz as-Suyuthi, Tafsîr Jalâlain, Qs. al-Baqarah [2]: 185. Syaikh Fairuz Abadi, Tanwîr al-Maqbâs min Tafsîr Ibn ‘Abbas’, hal. 20. 197 Ali ash-Shabuni, at-Tibyân fî ‘Ulûm al-Qur’an.

~89~

Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam

Imam al-Qurthubi, “Yang dimaksud al-Kitab di sini adalah ketetapan Allah yang ada di dalam Lauh al-Mahfudz. Sesungguhnya semua kejadian yang ada di muka bumi ini telah tertulis di Lauh alMahfudz. Ada yang menyatakan, bahwa yang dimaksud ‘al-Kitab’ di atas adalah al-Qur’an. Artinya, tak satupun perkara agama yang kami biarkan kecuali semuanya telah kami jelaskan di dalam alQur’an; kadang-kadang dengan dilalah (petunjuk) yang jelas, kadang-kadang hanya dijelaskan secara global, sedangkan penjelasan rincinya dijelaskan oleh Rasulullah Saw; atau dijelaskan oleh ijma’, atau qiyas yang didasarkan pada nash-nash al-Qur’an. Allah SWT berfirman di ayat yang lain: “Sesungguhnya, kami telah menurunkan al-Qur’an kepada kamu untuk menjelaskan segala sesuatu.” (Qs. an-Nahl [16]: 49). Allah SWT juga berfirman: “Kami telah menurunkan kepadamu al-Dzikr untuk menjelaskan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (Qs. an-Nahl [16]: 44). Allah SWT juga berfirman: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya.” (Qs. al-Hasyr [59]: 7). Oleh karena itu, ayat ini dan surat an-Nahl mencakup juga apa-apa yang tidak disebutkan di dalam alQur’an. Benarlah informasi Allah SWT yang menyatakan, bahwa tidak ada satupun yang dilupakan di dalam al-Quran, kecuali pasti Ia akan menyebutkannya di dalam al-Quran, baik dalam bentuk rinci maupun pokok-pokoknya saja. Allah SWT juga menegaskan: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian, agama kalian.” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 3). Surat al-An’âm [6] di atas, dan masih banyak ayat-ayat yang lain, menunjukkan dengan sangat jelas, bahwa Islam adalah agama yang diturunkan kepada umat manusia untuk menjelaskan dan mengatur seluruh aspek kehidupan masyarakat. Islam bukan sekedar agama ritual, akan tetapi ia adalah agama sempurna yang berisikan aturan-aturan multidimensional untuk mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Islam juga mengatur urusan ekonomi, sosial budaya, negara, kemasyarakatan, politik, dan sebagainya. Seorang Muslim tidak boleh mencukupkan diri hanya mengerjakan dan melaksanakan ibadah-ibadah ritual saja, akan tetapi berdiam diri atau tidak mau melaksanakan perintah-perintah Allah yang lain; misalnya menegakkan muamalat yang Islami, menegakkan peradilan yang Islami, pemerintahan Islami, dan sebagainya. Alasannya, Allah SWT telah memerintahkan kaum Muslim untuk masuk ke dalam Islam secara kâffah. Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman masuklah kamu kepada Islam secara menyeluruh. Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kamu.” (Qs. al-Baqarah [2]: 208).

~90~

Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam

Dalam menafsirkan ayat ini, Imam Ibn Katsir menyatakan, “Allah SWT telah memerintahkan hamba-hambaNya yang mukmin dan mempercayai RasulNya agar mengadopsi system keyakinan Islam (‘‘aqidah) dan syari’at Islam, mengerjakan seluruh perintahNya dan meninggalkan seluruh laranganNya selagi mereka mampu.” 198 Diriwayatkan dari Ikrimah bahwa, ayat ini diturunkan pada kasus Tsa’labah, ‘Abdullah bin Salam, dan beberapa orang Yahudi. Mereka mengajukan permintaan kepada Rasulullah Saw agar diberi ijin merayakan hari Sabtu sebagai hari raya mereka. Selanjutnya, permintaan ini dijawab oleh ayat tersebut di atas. Imam ath-Thabari menyatakan, “Ayat di atas merupakan perintah kepada orang-orang beriman untuk menolak selain hukum Islam; perintah untuk menjalankan syari’at Islam secara menyeluruh; dan larangan mengingkari satupun hukum yang merupakan bagian dari hukum Islam.” 199
Ayat di atas merupakan penjelasan yang sangat gamblang, bahwa kaum mukmin diperintahkan untuk menjalankan perintah Allah secara menyeluruh; baik yang menyangkut ibadah ritual maupun sosial. Dengan

kata lain, al-Qur’an dan as-Sunnah wajib dijadikan sebagai manhaj hidup (way of life) bagi kaum Muslim. Alasannya, al-Qur’an dan as-Sunnah telah menjelaskan segala sesuatu dengan aturan dan solusi yang tuntas, memuaskan akal dan menentramkan hati.

Al-Qur’an, Amanah yang Wajib Dipikul
Tatkala Allah SWT menawarkan amanah kepada langit, bumi dan gunung, ketiganya enggan untuk memikulnya. Namun, manusia memberanikan dirinya untuk memikul amanah tersebut. Padahal, konsekuensi dari amanah tersebut sangatlah berat. Amanah itu adalah hidup sejalan dengan tuntunan Allah SWT, al-Qur’an. Begitu beratnya, gunung akan hancur berkeping-keping karena takut atas konsekuensinya. Allah SWT berfirman: “Kalau sekiranya Kami menurunkan al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (Qs. al-Hasyr [59]: 21). Imam al-Baidhawi, sebagaimana dikutip oleh Ali ash-Shabuni, menafsirkan ayat ini sebagai berikut, “Seandainya Kami (Allah) menciptakan akal dan perasaan pada gunung sebagaimana yang telah Kami ciptakan pada diri manusia, kemudian Kami turunkan al-Qur’an di atasnya, dengan konsekuensi pahala dan siksa, sungguh ia akan tunduk, patuh dan hancur berkeping-keping karena takut kepada Allah SWT. Ayat ini merupakan gambaran betapa besarnya kehebatan dan pengaruh alQur’an. Seandainya gunung yang kuat dan kokoh itu diseru dengan al-Qur’an, sungguh kamu akan menyaksikannya tunduk dan takut kepada Allah SWT. Maksud ayat ini adalah, celaan terhadap manusia disebabkan tidak tunduk ketika dibacakan al-Qur’an kepadanya. Bahkan, mereka menolak keajaiban-keajaiban dan keagungan-keagungan al-Qur’an.” 200
198 199

Imam Ibn Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, jld. 1, hal. 247. Imam ath-Thabari, al-Jâmi’ al-Bayan fi Tafsîr al-Qur’ân, jld. 2, hal. 33. 200 Hasyîyah Zadâh ‘Ala al-Baidhawi, jld. 3, hal. 479.

~91~

memahaminya. Sayangnya. Jika gunung yang tegak dan kokoh saja tunduk dan patuh kepada al-Qur’an tentu manusia harus lebih tunduk kepada al-Qur’an. bagaimana kita bisa memikul amanah yang telah dibebankan Allah kepada kita. maksud ayat ini adalah celaan kepada manusia yang telah keras hatinya. dan tidak terpengaruh hatinya dengan al-Qur’an yang seandainya diturunkan di atas sebuah gunung. apakah kita sudah tunduk dan patuh kepada al-Qur’an dan kandungan isinya? Apakah ketika dibacakan al-Qur’an.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Dalam kitab Bahrul Muhîth disebutkan bahwa. niscaya gunung itu akan tunduk dan terpecah belah karena takut kepada Allah SWT.” [HR. “Sebaik-baik orang di antara kamu adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya. merenungi isinya. dan mengamalkan kandungan isinya. kita sudah menundukkan diri. Rasulullah Saw bersabda: “Orang yang mahir membaca al-Qur’an adalah beserta malaikat-malaikat yang suci dan mulia. jika kita tidak mempelajari dan memahami al-Qur’an? Selain itu. hal. Lantas. membacanya. Tidak hanya itu saja. 8. jld. bahkan acuh terhadap amanahnya. Bagaimana kita bisa hidup sesuai dengan tuntunan al-Qur’an. Mereka mencoba menakwilkan dan mengubah-ubah isi al-Qur’an yang telah jelas maknanya. Tidak sedikit diantara mereka yang mengibarkan peperangan terhadap al-Qur’an al-Karim. ~92~ . Bukhâri]. 201 Lantas. sekiranya kita tidak berusaha dengan serius mempelajari kandungan isi al-Qur’an. Mereka 201 Tafsîr Bahrul Muhîth. dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. maka dengarkanlah baik-baik. sedangkan orang yang membaca al-Qur’an kurang fasih karena lidahnya berat dan sulit membetulkannya maka bagi akan mendapat dua pahala. 251. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang-orangyang selalu membaca Kitabullah dan mendirikan sholat serta menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka. bahkan berusaha mengganti hukum-hukum yang terkandung di dalam al-Qur’an? Bukankah Allah SWT telah berfirman: “Apabila dibacakan al-Qur’an (kepadamu). Allah SWT telah menjanjikan bagi siapa saja yang membaca al-Qur’an dengan pahala yang sangat besar. Akan tetapi. Muhammad [47]: 24). Muslim]. al-Fathir [35]: 29). atas dasar apa kita tidak serius mempelajari al-Qur’an. mengingkari. mereka itu mengharapkan perniagaan yang tiada akan merugi.” (Qs. baik secara diam-diam maupun secara terang-terangan. kebanyakan kaum muslim sekarang ini telah enggan. al-A’râf [7]: 204).” [HR. kemudian berusaha mengamalkannya? Apakah justru kita acuh.” (Qs. kebanyakan manusia tidak terpengaruh dan tunduk di hadapan al-Qur’an. “Apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (Qs.

Mereka lebih mencintai paham demokrasi. akan mendapatkan balasan yang berlipat ganda dari Allah SWT. Tak hentihentinya mereka mendiskreditkan hukum-hukum agung yang lahir dari al-Qur’an al-Karim. Namun. Padahal. namun mereka tidak pernah mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Mereka juga melecehkan al-Qur’an al-Karim sebagai makhluk sejarah yang telah ketinggalan zaman. HAM. tentu. ~93~ . Bahkan tidak sedikit pula yang tidak bisa membaca al-Qur’an. mereka tidak akan peduli terhadap amanah Allah yang telah diberikan kepada mereka. Jika kondisi sebagian besar kaum muslim masih seperti ini. siapa saja yang mencintai al-Qur’an dengan cara suka membacanya. memahaminya. konsekuensi dari amanah ini sangatlah berat. Ia adalah alat politik orang kafir untuk menyebarkan ajaran kebebasan yang sangat rendah.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam berusaha menundukkan al-Qur’an agar sesuai dengan keinginan-keinginan mereka. dan melaksanakannya. bahkan lebih rendah daripada binatang. sebagian besar kaum muslim masih saja cinta dan tertipu oleh propaganda-propaganda busuk mereka. betapa banyak orang yang mahir membaca dan memahami al-Qur’an. Demikian juga HAM. kelak akan mendapatkan siksa yang sangat pedih. Padahal. demokrasi adalah ideologi pra sejarah (sebelum Masehi) yang jelas-jelas bertentangan dengan fitrah manusia. Realitas telah menunjukkan kepada kita. sekularisme dari barat dari pada al-Qur’an al-Karim yang diwahyukan kepada Muhammad Saw. Anehnya. Siapa saja yang tidak konsisten dan acuh terhadap al-Qur’an dan isinya.

Umat Islam. Pembebasan kota Mekkah oleh 10 ribu orang mujahidin yang dipimpin oleh Rasulullah yang mengakhiri peranan politik dan militer kaum jahiliyah juga terjadi pada bulan Ramadhan. mereka mengambil satu saja. dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah…” (Qs. hal 25. Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa ketika Nabi ditanya. ~94~ . Pada saat mereka sedang berpuasa. beternak. atau mati syahid. (Itu telah menjadi) janji yang benar. sekalipun mereka sedang berpuasa? Sebenarnya ini tidak mengherankan. yang awalnya dikejar-kejar dan diusir dari kampung halamannya ternyata berhasil mengalahkan dan memukul mundur tentara Quraisy. ummat yang meninggalkan jihad. Demikian pula penaklukan Andalusia (Spanyol dan Portugis) yang menandai peranan dan peradapan Islam terhadap kebangkitan dan pencerahan (renaissance) bangsa-bangsa Eropa juga terjadi pada bulan Ramadhan. berupa surga bagi orang yang berjihad dan memperoleh mati syahid di medan jihad fisabilillah. bisnis. menyibukkan diri berbisnis. istri. jihad diletakkan setelah kecintaan kepada Allah dan RasulNya (lihat Qs. Oleh karena itu. lalu mereka membunuh atau terbunuh. yaitu memperoleh kemenangan. dan berkuasa. tidak mengherankan Rasulullah Saw dan para sahabat tetap menjalankan kewajiban jihad fi sabîlillâh sekalipun saat itu adalah bulan Ramadhan. mereka rela menyabung nyawa untuk melaksanakan perintah Allah SWT: “Berangkatlahkamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat. setelah itu apa? Beliau menjawab. Lalu ditanya”. harta. Allah SWT berfirman: 202 Lihat Syaikh Fauzie Sanqarith. Tidak hanya itu saja. diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Sebab. lapar dan dahaga. Lebih dari itu. bakal ditimpa kehinaan hingga mereka kembali ke jalan agama Allah SWT dengan cara memuliakan jihad fi sabîlillâh. Mereka berperang di jalan Allah. beliau menjawab. amalan apa yang paling utama. dan sebagainya. Perang Badar al-Kubra yang menjadi the turning point (titik balik) bagi ummat Islam terjadi di bulan Ramadhan. konon bila diberi pilihan untuk mengerjakan sepuluh perbuatan yang mubah. “Iman kepada Allah. at-Taubah [9]: 24). Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin. Taqarrub Ilallah. masuk surga tanpa dihisab.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam BAB XI . Yang sembilan mereka alokasikan untuk perbuatan wajib atau sunnah. Kenapa kaum muslimin di masa lalu mampu melakukan tugas berat itu. anak. mereka tahu bahwa jihad itu termasuk amalan wajib yang paling utama dan puncaknya Islam (dzurwatul Islam). Orang berjihad hanya akan mendapatkan satu di antara dua kebaikan (ihda al-husnayain).JIHAD DI BULAN RAMADHAN Para sahabat dulu. at-Taubah [9]: 111). di tengah panas terik. dan bertani. “Jihad fi sabîlillâh!” Keutamaan jihad juga ditetapkan Allah SWT sebagai amalan yang mesti didahulukan oleh seorang muslim diatas kecintaannya kepada orang tua.” (Qs. keluarga. Allah SWT juga menjanjikan pahala yang besar. at-Taubah [9]: 41). hidup mulia. 202 Di samping itu.

Khalifah mengirim pasukan yang besar sekali. Jika kemuliaan berjihad di bulan Ramadhan demikian besarnya. atTirmidzi bahwa Rasulullah bersabda: “Tidaklah seorang hamba berpuasa dalam satu hari dalam jihad fi sabîlillâh melainkan pada hari itu. Selain itu.” Dalam hadits lain disebutkan bahwa Rasulullah bersabda: “Siapa saja yang shaum satu hari di dalam jihad fisabilillah niscaya Allah menjauhkan antara dia dan neraka dengan satu parit yang luasnya seluas langit dan bumi. al-Hâkim dengan syarat Bukhâri]. al-Anfâl [8]: 72). Kasymir. Allah SWT berfirman: “Jika mereka meminta tolong kepadamu atas dasar agama mereka. Diriwayatkan oleh Imam Bukhâri. ath-Thabrani]. dan terakhir Irak! Juga beruntunglah setiap penguasa yang tergerak hatinya. Allah menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh perjalanan 70 tahun. Rasulullah Saw bersabda: “Maukah kukabarkan kepada kalian tentang suatu malam yang lebih utama dari pada Lailatul Qadar? Dia adalah malamnya seorang pengawal yang sedang mengawal pasukan kaum Muslim yang sedang istirahat di tanah perkemahan yang menakutkan sehinggadia merasa seolah-olah dia tidak akan kembali kepada keluarganya.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam “Katakanlah: ‘Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami. maka kalian wajib menolongnya. Allah SWT akan memberikan kepada mereka ganjaran luar biasa yang tak bakal bisa diberikan oleh siapa pun selain Dia.” [HR. ~95~ . Ya. Bahkan. kecuali salah satu dari dua kebaikan” (Qs. Sebab. atas dasar iman dan kesungguhan mencari ridha Allah (imanan wahtisâban) yang rela mengirimkan tentara-tentara kaum Kaum dari angkatan bersenjata yang mereka miliki untuk membebaskan kaum Muslim dan negeri-negeri mereka dari cengkeraman kaum Kafir. Muslim. dimana ujungnya telah sampai di kota Samaria (daerah Syam) dan pangkalnya di kota Baghdad. sudah menjadi kewajiban penguasa muslim untuk menolong saudara-saudara mereka — sekalipun bukan warga negaranya— dari keganasan kaum Kafir. seperti di Filipina. at-Taubah [9]: 52).” (Qs. beruntunglah saudara-saudara kita yang sedang berjibaku di medan tempur di negeri-negeri mereka yang diserang oleh kaum Kafir. Palestina.” [HR. sebagaimana dulu khalifah al-Mu’tashim Billah telah membebaskan daerah Samaria dari penguasa kafir setelah terjadi pelecehan terhadap seorang wanita muslimah oleh pejabat kota tersebut. kaum Muslim yang bertugas di front terdepan menjaga perbatasan negeri Islam dan senantiasa menghadapi ancaman tentara kafir. Afghanistan. Rasulullah Saw mengabarkan bahwa orang yang berpuasa dalam keadaan jihad fi sabîlillâh pasti dijauhkan dari api neraka sejauh-jauhnya.

bermasyarakat dan bernegara. umat memerlukan pembinaan iman yang benar-benar jernih dari sumbernya yang murni. ummat akan terbebaskan dari pengaruh dan belenggu pemikiran dan kebudayaan kufur. kita serang balik. dan kita tunjukkan kepada ummat dimana letak kepalsuan dan kebatilannya. Namun. para intelektual dan budayawan yang maniak kebudayaan barat. Ia juga membangun sebuah ~96~ . dengan harapan untuk memecahkan kesatuan ummat Islam. tetapi mereka dihalangi oleh Majdy Ibn Umar al-Juhani. Selain itu. dengan pamahaman tsaqafah Islam yang mendasar dan menyeluruh tadi. dan lain-lain harus kita bantah. serta ajaran Islam yang memuat petunjuk sempurna tentang ideologi. Sayyidina Hamzah Ibn Abdul Muttalib bersama tiga puluh sahabat yang lain ke Saif al-Bahr untuk menghadang tiga ratus orang Quraisy yang telah berkemah di kawasan tersebut. sekularisme. setiap pemikiran kufur seperti demokrasi. Perang-Perang di Bulan Ramadhan Setelah hijrah ke Madinah. kebudayaan. maka. Sungguh.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Dakwah dan Perang Pemikiran Begitu pula terhadap perang pemikiran dan kebudayaan yang sekarang ini sedang digelar oleh kaum Kafir di seluruh negeri-negeri Islam melalui berbagai media. mereka akan memiliki antibodi yang mampu menangkis setiap serangan pemikiran asing yang dilancarkan oleh penjajah kapitalis modern baik secara langsung maupun melalui agen-agen mereka yang menyusup di kalangan pemerintahan.” Oleh karena itu. seorang munafiq dari Madinah. pertahanan keamanan. ideologi atau ‘‘aqidah yang memancarkan peraturan. pemahaman ummat terhadap ide-ide Islam harus dikuatkan kembali. racun-racun itu akan ternetralisir. politik. Jika umar Islam memiliki pemikiran Islam yang bersih dan murni. dan lisan kalian. tentunya. keluasan dan kemenyeluruhan syari’at Islam yang mengatur urusan pribadi. jiwa. serta kembali kepada kesucian Islam. prinsip-prinsip syari’at Islam. Rasulullah Saw telah mengutus pamannya. Merekalah para operator yang melakukan peracunan Barat (westoxication) kepada ummat. Bukankah Rasulullah Saw bersabda: “Jihadlah melawan orang-orang musyrik dengan harta. seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw tatkala mendirikan Daulah Islamiyah di kota Madinah. sosial. kaum Muslim wajib menghadapi mereka dengan perang pemikiran dan kebudayaan pula. HAM. Sebab. mereka telah melewati bulan Ramadhan dengan berbagai macam peristiwa yang bisa dijadikan contoh pengorbanan dan penyerahan diri kepada Allah SWT dalam upaya untuk meninggikan kalimahNya. Peristiwa Masjid ad-Dhirar Tahun pertama setelah Hijrah. Islam tidak bisa ditandingi oleh pemikiran racun Barat maupun Timur. ekonomi. Kaum Muslim hampir menyerang kaum kafir tersebut. baik pemahaman yang berhubungan dengan mabda. Dengan demikian. berkeluarga. serta metode penerapan syari’at Islam. Sesungguhnya. Rasulullah Saw dan para sahabat telah melalui sembilan Ramadhan dengan penuh kebersamaan.

sedang kamu berkeadaan lemah (kerana kamu sedikit bilangannya dan kekurangan alat perang). ketika beliau menerima wahyu tersebut. sesungguhnya kemenangan dari Allah sangatlah dekat. Perang Badar merupakan peperangan besar pertama bagi ummat Islam. ~97~ . Peperangan Badar Pada hari ke tujuh belas di bulan Ramadhan. (Ingatlah wahai Muhammad) ketika engkau berkata kepada orang-orang yang beriman (untuk menguatkan semangat mereka): Tidakkah cukup bagi kamu. Allah SWT menganugerahkan kemenangan yang cemerlang kepada kaum Muslim di hari itu. “Wahai Abu Bakar. al-Anfâl [8]: 9). Rasulullah sedang beristirahat sejenak. selepas beliau kembali dari perang Tabuk. melalui sebuah institusi Islam yang agung. Tidak cukup hanya itu saja. Lantas beliau bersabda.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam masjidn yang dikenal dengan Masjid ad-Dhirar. Allah SWT telah menerangkan peristiwa ini di dalam firmanNya: “Dan sesungguhnya Allah telah menolong kamu mencapai kemenangan dalam peperangan Badar. Rasulullah Saw meninggalkan Madinah bersama 313 sahabat. terdapat banyak hadits yang menjelaskan kemenangan kaum Muslim. supaya kamu bersyukur (akan kemenangan itu).” (Qs. yang dilengkapi dengan 100 ekor kuda dan 700 ekor unta yang datang dari Makkah di bawah pimpinan Abu Jahl sendiri. Allah SWT benar-benar telah memisahkan antara kebenaran dan kebathilan di peperangan Badar yang agung. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Aku akan membantu kamu dengan seribu (bala tentera) dari malaikat yang datang berturut-turut. bukan hanya atas orang-orang Yahudi saja. Rasulullah Saw telah memerintahkan para sahabat untuk merobohkan masjid tersebut di bulan Ramadhan.” Adapun bagi umat Islam dewasa ini. beliau mengangkat kepalanya disertai kegembiraan di wajahnya. Ali-‘Imran [3]: 123-124). sesungguhnya.000 orang. akan tetapi juga mengenai dominasi kekuasaan Islam atas seluruh dunia. Sebuah kemenangan yang tidak mungkin diliupakan di sepanjang sejarah umat manusia. tahun kedua Hijrah. kita sebagai umat Islam juga harus melibatkan diri dalam perjuangan kolektif untuk membangun kembali kesatuan ummah (ummatun wahidah). Oleh itu bertakwalah kamu kepada Allah. Dan kita mesti berdoa tanpa pernah berhenti kepada Allah. bahawa Allah membantu kamu dengan tiga ribu tentera dari malaikat yang diturunkan?” (Qs. Khilafah Islamiyyah. Demi Allah! aku melihat malaikat Jibril dan tentaranya telah datang seperti pasir yang bertaburan. Allah SWT telah mengutus para malaikat yang bertugas membantu Rasulullah Saw. Ketika menerima wahyu ini. dua ekor kuda dan tujuh puluh ekor unta menuju ke Badar. sampaikanlah berita gembira. Dalam peperangan Badar. agar Dia menganugerahkan kemenangan tersebut. Pada 17 Ramadhan tahun kedua Hijrah mereka berhasil mengalahkan tentara musyrik yang berjumlah 1. Namun.

Akhirnya.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Sesungguhnya. setelah peristiwa tersebut (Fathu Makkah) Islam berhasil disebarkan ke seluruh Semenanjung Tanah Arab. Dalam bulan dan tahun yang sama. Kemenangan Melawan Tentara Salib Pada tahun 682 Hijrah. sekaligus sebagai penanda kehancuran bagi kekuatan tentera kufur. Sebab. Kemenangan Atas Tentara Mongol Pada abad ketujuh Hijrah. bahwa kekuatan iman yang dimiliki ummat Islam merupakan penentu kemenangan bagi kaum Muslim. dan mengepung kota Makkah di bulan Ramadhan. Ia juga dikenal sebagai seorang wanita yang paling dilindungi di Tanah Arab.000 orang berhasil membebaskan keseluruhan Sepanyol. seorang permaisuri di kawasan tersebut. Fatimah telah menyerang sebuah kafilah yang dipimpin oleh Zaid dan berhasil merampas barang yang dibawanya. salah gubernur Khalifah Umaiyah di Afrika Utara dan jenderal perangnya yang berani. Sicilia dan sebahagian dari Perancis hingga tanah dari al-Andalus. di mana ummat Islam telah berkuasa di sana hampir selama 700 tahun. Akhirnya. Pada tahun itu juga ummat Islam berhasil mendapatkan kemenangan yang gilang gemilang. al-Mamat dan as-Suwa dan beberapa berhala besar berhasil dihancurkan. setelah bertempur melawan tentara Salib hampir satu tahun lamanya. sembilan puluh dua tahun setelah Hijrah. ia terbunuh dalam pertempuran menentang Islam dalam bulan Ramadhan. Zaid bin Haritsah dikirim ke Wadi al-Qura untuk menghadapi Fatimah binti Rabi'ah. Nabi Muhammad Saw pun berniat melakukan mobilisasi umat Islam secara besar-besaran untuk memerangi seluruh kekuatan kufur di Semenanjung Tanah Arab. Peperangan Wadi al-Qura Pada tahun ke enam Hijrah. dan membinasakan pusat kesyirikan di tanah Arab. Pembukaan Kota Makkah dan Pemusnahan Patung Berhala Pada bulan Ramadhan ke delapan Hijrah. Peristiwa ini merupakan peristiwa terpenting dalam sejarah ummat Islam. Musa ibn Nusair. Jenghis Khan menamakan diri sendiri sebagai ~98~ . Thariq ibn Ziyad dengan jumlah tentara yang hanya sekitar 7. berhala al-Lat. tentara Mongol telah menyapu bersih dan menghancurkan seluruh rintangan yang menghadang mereka di seluruh Asia. Ia juga terkenal karena berani memproklamirkan perang terbuka melawan Islam. Salahuddin al-Ayyubi. dan pada saat itu tentara Islam tengah berperang melawan tentera Bizentin di Utara. perang Badar telah menunjukkan kepada kita. kaum Muslim berhasil menghancurkan semua berhala di Makkah. Sebab. akhirnya beliau berhasil mengusir mereka keluar dari Syria dan membebaskan seluruh tanah jajahan di bulan Ramadhan. ia telah menaruh sebanyak lima puluh pedang saudara terdekatnya di rumahnya. Sebelumnya. Penaklukan Sepanyol Pada bulan Ramadhan. perjanjian Hudaibiyah telah dikhianati.

cucu kepada Jenghis Khan meneruskan kebiadaban-kebiadatan tersebut. Keadaan ini tentunya tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. serta pahlawan-pahlawan Islam lain yang rela mengorbankan jiwa dan hartanya untuk menjunjung tinggi kalimat Allah SWT. Akan tetapi. ummat Islam tengah berhadapan dengan kaum penjajah imperialis. Lebih dari itu. Jadikanlah puasa Ramadhan kali ini.000 ummat Islam telah dibunuh dalam pembantaian sadis tersebut. Seluruh dunia menyaksikan dengan penuh takjub dan perasaan lega. sebagai langkah awal untuk menggapai keridloan Allah SWT. tidak lama kemudian. ~99~ . Bahkan. pemimpin besar yang berhasil menyatukan seluruh tentara Islam dan menghadapi tentara Mongol di Ain Jalut pada tanggal 26 Ramadhan 648 Hijrah. terus melancarkan serangan kepada Islam dan kaum Muslim. sedangkan ummat Islam yang masih hidup dipaksa meminum arak. Dan sudah seharusnya. atas kemenangan yang berhasil diraih oleh generasi Islam yang Ikhlas kepada Allah SWT. Dan jangan sampai kita hanya mendapatkan haus dan dahaganya belaka. Bahkan. akan tetapi.800.000 orang. Baghdad sendiri. Saifuddin Qutz.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam “Cemeti Tuhan yang dikirimkan untuk menghukum mereka yang berdosa. berhasil dihancurkan. Salahuddin. arak-arak dicurahkan di dalam masjid dan seruan azan dilarang. Ray dan Hamdan telah terjadi pembunuhan dan penawanan hampir 700. umat Islam wajib bangkit dari tidurnya yang panjang. Qutuz. Pada tahun 656 Hijrah. ummat Islam berhasil menghancurkan dan membinasakan tentara Mongol. atas pertolongan Allah SWT. Allah SWT mengirim kepada umat Islam. Hulagu Khan. apa refleksi sejarah umat Islam terdahulu untuk kebangkitan umat Islam sekarang ini? Umat Islam Saat Ini Saat ini. penyimpangan yang dilakukan oleh para penguasa diktator yang menghambakan dirinya untuk kepentingan imperialis barat. Kaum kafir serta antek-anteknya. Oleh itu. Lantas. Inilah beberapa fragmen sejarah yang mengisahkan kejayaan dan keagungan yang diraih oleh umat Islam terdahulu. Jadikanlah puasa Ramadhan ini sebagai momentum untuk menggelorakan semangat jihad untuk melawan seluruh tindak kekufuran dan kedzaliman. umat Islam mencontoh Tariq ibn Ziyad.” Pada tahun 617 Hijrah. Walaupun mereka mendapatkan tekanan yang begitu hebat. penganut agama Kristen disuruh memakan babi dan meminum arak secara terbuka. Samarkand. Ada yang menyatakan 1. seraya bergerak dan berjuang sesuai dengan langkah-langkah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. pusat pemerintahan negara Islam saat itu.

7. dan lain-lain. 2. Berburulah malam Lailatul Qadar pada 1/3 akhir Ramadhan. Jagalah diri kita dari hal-hal yang bisa membatalkan puasa. Perbanyak membaca dua perkara yang bisa menyenangkan Allah (syahadat dan istighfar) dan dua perkara yang sangat kita butuhkan (memohon surgaNya dan perlindungan dari nerakaNya) 10. Jangan lupa berniat Puasa Ramadhan pada malam sebelumnya dan luruskan niat tersebut semata-mata untuk mencari ridha Allah. dan jagalah diri kita dari hal-hal yang merusak niat dan pahala puasa kita. Perbanyak usaha untuk mengkaji tsaqâfah (pengetahuan) Islam. ghibah. dan lain-lain. ~100~ . ghibah.TUNTUNAN PRAKTIS AMALAN HARIAN DI BULAN RAMADHAN Berikut ini adalah tuntunan praktis amalan harian di bulan Ramadhan: 1. Hidupkan malammu dengan qiyamul lail. minum.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam BAB XII . Jangan lupa mengeluarkan zakat fitrah pada waktunya. Hindari sejauh-jauhnya perbuatan keji. 8. misalnya. Bersegeralah dalam berbuka. bohong. Dirikanlah sholat Terawih dan perbanyak amalan-amalan sunnah nawafil lainnya. berkata dan berbuat keji. gosip. Makanlah sahur dan akhirkanlah. 5. misalnya. dan janganlah berlebihan. berzina. perkataan keji. mencaci maki. 3. makan. 11. misalnya. mencuri. 6. 9. Perbanyak sadaqoh dan infaq 13. 12. 4. dan lain-lain. Perbanyak membaca dan mengkaji al-Qur’an. bertengkar. berdusta. dengan semakin meningkatkan kuantitas dan kualitas amalan kita. Hindari juga aktivitas yang sia-sia. dan lain-lain.

Ahmad no. sedangkan al-Qur’an diturunkan kepadamu?” Rasulullah Saw menjawab. Puasa akan berkata. apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu 206 ). 203 Sebab al-Qur’an adalah kalamullah 204 dan merupakan asas Islam yang diturunkan kepada Rasul termulia. dan Abu Nu’aim 8/161.” Beliau bersabda. “Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti). ‘Saya telah melarangnya dari tidur di malam hari. mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.TADARRUS AL-QUR’AN Menyibukkan diri dengan membaca al-Qur’an al-Karim termasuk ibadah yang paling utama dan merupakan salah satu sarana yang paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Rasulullah Saw bersabda: “Puasa dan al-Qur’an itu akan memberikan syafa’at kepada seorang hamba pada hari kiamat nanti. lalu 203 Silahkan baca kitab Min Muqawimat Nafsiyah Islamiyah. paling mudah. dengan syari’at yang paling utama. ‘Wahai Tuhanku. memperoleh keutamaan dan pahalaNya. bukan rekaan Nabi Saw dan bukan ucapan siapapun selain Allah SWT.” Dari Ibn ‘Abbas ra dituturkan. 204 Kalamullah artinya firman Allah yang diwahyukan kepada Rasulullah untuk disampaikan kepada manusia.” Lalu Ibn Mas’ud pun membacakan surat an-Nisâ’ [4] hingga ayat yang berbunyi. apakah perbuatan itu sesuai dengan perintah dan larangan Allah atau tidak. kata Ibn Mas’ud.” 205 Rasulullah Saw seringkali menyuruh para sahabat untuk membaca al-Qur’an di depan Beliau. dimana pada saat itu Rasulullah sedang di atas mimbar. al-Hâkim 1/554.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam BAB XIII . saat beliau ditemui Jibril untuk membacakan kepadanya al-Qur’an. Jibril menemui setiap malam pada bulan Ramadhan. dan Taqarrub Ilallah: Kunci Meningkatkan Kualitas Keimanan dan Ketaqwaan. al-Khaththath. Imam Bukhâri dan Muslim meriwayatkan. “Cukup…Cukup!” Ketika aku menoleh.’ Beliau bersabda. ‘Maka syafa’at keduanya diperkenankan’. karenanya perkenankan aku untuk memberi syafa’at kepadanya. “Sungguh aku senang mendengarnya dari orang lain.” (Qs. mengharap ridhaNya. 206 Seorang nabi menjadi saksi atas perbuatan tiap-tiap umatnya.’ Dan al-Qur’an berkata. ~101~ . oleh Syaikh Fauzie Sanqarith dan KH. bahwasannya Rasulullah Saw pernah berkata kepada Ibn Mas’ud. Al-Qur’an juga akan memberi syafa’at bagi orang yang membacanya. “Nabi Saw adalah orang yang paling dermawan. serta at-Tibyân fî Âdâbi Hamalatil Qur’an. saya telah menahannya dari makan dan nafsu syahwat. karenanya perkenankanlah aku untuk memberikan syafa’at kepadanya. dari Abdullah bin Umar ra dengan sanad hasan. Fâthir [35]: 29). M. 205 HR. paling luhur dan paling sempurna. dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan. aku melihat air mata beliau bercucuran. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan sholat dan menafkahkan sebahagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan. “Bacakanlah kepadaku al-Qur’an!” Ibn Mas’ud berkata. “Pantaskah aku membacakan untukmu. 6626. untuk umat terbaik yang pernah dilahirkan kepada umat manusia. karya Imam an-Nawawi. bahwasanya ia berkata.

Perumpamaan orang munafik yang membaca al-Qur’an itu seperti bunga yang mana baunya harum tetapi rasanya pahit. naiklah terus dan bacalah dengan perlahan-lahan (tartil) 207 HR. serta tentang segala kebaikan yang sangat banyak kandungannya. 211 HR. Muslim. Sedang orang yang mebaca al-Qur’an dan ia merasa susah di dalam membacanya tetapi ia selalu berusaha maka ia mendapat dua pahala.” 209 “Perumpamaan orang mukmin yang membaca al-Qur’an itu adalah seperti utrujah yang mana baunya harum dan rasanya enak. Sedangkan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipat. al-Muzzammil [73]: 4).” 210 “Tidak ada iri hati itu diperbolehkan kecuali dalam dua hal yaitu: seseorang yang diberi kemampuan oleh Allah untuk membaca dan memahami al-Qur’an kemudian ia membaca dan mengamalkannya baik pada waktu malam maupun siang. 210 HR. ‘Bacalah.” 212 Dalam hal membaca al-Qur’an. Aku tidak mengatkan. Bukhâri dan Muslim. 209 HR. Bukhâri dan Muslim. Rasulullah Saw juga bersabda: “Kelak (di akhirat) akan dikatakan kepada Shahibul Qur’an (orang yang senantiasa bersama-sama dengan al-Qur’an. dan mim satu huruf. ‘Alif lâm mîm’ satu huruf tetapi alif satu huruf. dari Abu Musa al-Asy’ary ra. Rasulullah Saw ketika ditemui Jibril lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus. ~102~ . dari Abu Umamah ra. penj. dan katanya hadits ini hasan shahih. dari Ibn Mas’ud. Rasulullah Saw telah mencontohkan kepada kita untuk membaca dengan tartil.). dalam rangka melaksanakan firman Allah SWT: “Dan bacalah al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan (tartil). lam satu huruf. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca al-Qur’an itu seperti hanzhalah yang mana tidak berbau dan rasanya pahit. Bukhâri dan Muslim. Perumpamaan orang mukmin yang tidak suka membaca al-Qur’an itu seperti buah korma yang mana tidak berbau tapi rasanya manis. Hadits ini diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dengan tambahan: “Dan beliau tidak pernah dimintai sesuatu kecuali memberikannya.” 208 “Orang yang membaca al-Qur’an dan ia mahir maka nanti akan bersama-sama dengan para malaikat yang mulia lagi taat.” 208 HR. dari ‘Aisyah ra. dan seseorang yang dikarunia harta oleh Allah kemudian ia menafkahkannya dalam kebaikan baik pada waktu malam maupun siang. 212 HR. Bukhâri dan Muslim. dari Ibn Umar ra.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam membacakan kepadanya al-Qur’an. at-Tirmidzi. dan tidak terburu-buru.” 207 Marilah kita perhatikan hadits-hadits nabi yang menceritakan tentang keutamaan membaca al-Qur’an. Rasulullah Saw bersada: “Bacalah al-Qur’an karena sesungguhnya al-Qur’an itu nanti pada hari kiamat akan datang untuk memberi syafa’at kepada orang yang membacanya.” 211 “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah (al-Qur’an) maka ia mendapat satu kebaikan.” (Qs.

Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam sebagaimana engkau telah membaca al-Qur’an dengan tartil di dunia. Semakin banyak. maka akan semakin tinggi. Muslim].” [HR. Rasulullah Saw bersabda: “Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah seraya membaca kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka. kecuali turunlah ketenangan atas mereka. serta mereka diliputi rahmat. 214 HR. sehingga dalam hadits itu dikatakan “naiklah”. 2699 dalam kitab Dzikir dan Do’a. ~103~ . rahmat Allah akan meliputi mereka. para malaikat akan melindungi mereka dan Allah menyebut mereka kepada makhluk-makhluk yang ada di sisiNya. dikerumuni para malaikat dan disebut-sebut oleh Allah kepada para malaikat di hadapanNya. Abû Dâwud dan at-Tirmidzi.” 215 213 Maksudnya kelak di akhirat tempatnya tergantung pada sedikit banyaknya bacaan al-Qur’an di Dunia. Sesungguhnya tempatmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca’. dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash ra. dan katanya hasan shahih. 213 ” 214 Tentang keutamaan berkumpul di masjid-masjid untuk mempelajari al-Qur’an al-Karim. 215 Bagian dari hadits yang diriwayatkan oleh Muslim no. “Apabila suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) sambil membaca al-Qur’an dan saling bertadarus bersama-sama. niscaya akan turun ketenangan atas mereka. bab Fadhlul Ijtima ‘Ala Tilawatil Qur’an wa ‘Aladz Dzikir dari hadits Abu Hurairah ra.

~104~ . seperti Imam Syafi’i rahimahullah? Jawabannya tidak lain dan tidak bukan adalah. Setelah itu beliau menyam paikan suatu riwayat hadits: Sufyan bin ‘Uyainah menceritakan kepadaku dari Abdul Malik Ibn Umair dari ar-Rabi’i Ibn Hirasy dari Hudzifah Ibn al-Yaman yang telah mengatakan. bahwa seorang Muslim yang beriman kepada Allah SWT dan Rasulnya mesti berfikir secara Islami. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (Qs. Atas dasar itu. Allah SWT berfirman: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min. Pertanyaan adalah.URGENSI TSAQÂFAH ISLAMIYYAH Berfikir Islami merupakan keharusan bagi seorang Muslim. bahwa beliau (Umar ibn al-Khaththab) menyuruh untuk membunuh lebah. Ini ditujukan agar kita bisa menguasai ilmu-ilmu Islam dan bisa berfikir Islami secara sempurna. Pandangan Islam Tentang Ingkar Sunnah. Pantaslah Imam Syafi’i ketika ditanya tentang apa hukumnya membunuh lebah saat melaksanakan ihram (saat umrah atau haji). wajar saja jika Imam Syafi’i selalu menjawab setiap pertanyaan yang diajukan kepadanya dengan petunjuk al-Qur’an dan asSunnah. dia harus senantiasa mengkaitkan fakta yang dihadapinya dengan syari’at dan ‘aqidah Islam. Sehingga dalam menjawab segala permasalahan yang dia hadapi. Artinya. bahwa hidupnya terikat dengan aturan Allah SWT. 216 Lihat Syaikh Dr. setiap Muslim mesti melakukan tafaqquh fiddin. Abdurrahman al-Baghdadi.” Setelah itu Imam Syafi’i mengatakan bahwa Ibn ‘Uyainah menceritakan pula kepadanya dari Mis’ar ibn Qidam dari Qais Ibn Muslim dari Thariq ibn Syihab dari Umar Ibn al-Khaththab. yakni mengkaji agama Islam secara mendalam. al-Hasyr [59]: 7).Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam BAB XIV . bahwa Rasulullah Saw bersabda. Sebab. 216 Jawaban Imam Syafi’i di atas memberikan gambaran kepada kita. “Ikutilah kedua orang sesudahku. al-Ahzab [33]: 36). seorang Muslim mesti berbuat dalam hidup ini sesuai dengan ketentuan syari’at Islam. apa upaya yang harus kita lakukan agar kita bisa berfikir dan mampu menjawab dengan cerdas setiap pertanyaan. Tidak ada alternatif lain bagi seorang Muslim selain mengikuti apa yang menjadi keputusan Allah maupun RasulNya. ia kembali kepada sebuah ide dasar. apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetap an. beliau menjawabnya dengan terlebih dahulu membaca firman Allah: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan me reka. dalam memahami segala sesuatu.” (Qs. yaitu Abu Bakar dan Umar.

Dari sini. ilmu-ilmu pengetahuan yang dibangun atas dasar ‘aqidah Islamiyyah seperti fiqh. Strategi Tafaqquh Fiddin Sesungguhnya. kedua. Kita tidak boleh hanya berpangku tangan. dan hadits. Kewajiban mengambil hukum dan petunjuk dari al-Kitab (lihat Qs. Bukhâri. Dia buat orang itu faqih dalam ad-dîn. muncullah berbagai disiplin ilmu-ilmu pengetahuan Islam —walaupun integral satu sama lain— seperti ilmu pengetahuan tentang al-Qur’an. al-Hasyr [59]: 7) tidak mungkin dilakukan tanpa memahami dan mempelajarinya terlebih dahulu. ilmu tauhid. bahasa Arab. ilmu tafsir. ilmu nahwu.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Ruang Lingkup Ilmu-Ilmu Islam Ilmu-ilmu Islam atau dikenal dengan Tsaqâfah Islamiyyah adalah ilmu-ilmu yang dasar pembahasannya adalah ‘aqidah Islamiyyah dan pangkal sumbernya adalah al-Qur’an dan as-Sunnah. Namun. seraya berharap ilmu itu langsung masuk ke dalam benak dan hati kita. taqdir Allah SWT itu harus direspon secara positif. dari Utsman bin Affan ra. Sebab. ilmu-ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan ‘aqidah Islam itu sendiri. seperti ilmu bahasa Arab. Sebab. pertama. dan ushul fiqh yang mutlak diperlukan dalam menggali hukum (ijtihad). jika Allah SWT menghendaki suatu kebaikan pada diri hambaNya. dan ilmuilmu lainnya. Ia akan menjadikan hamba itu faqih fiddin. seperti ilmu tauhid. serta ilmu-ilmu yang difokuskan untuk mengkaji masalah-masalah ‘aqidah. Mencukupkan diri dengan teks-teks yang ada dalam al-Qur’an dan as-Sunnah —apalagi sekedar membaca terjemahan tekstual— adalah tindakan gegabah.” 217 217 HR. ilmu itu harus diperoleh dengan belajar. Untuk memahami semua hal yang terkandung di dalam al-Quran dan as-Sunnah mutlak diperlukan semua perangkat ilmu yang bisa mengungkap hukum dan petunjuk dari dua sumber utama syari’at Islam itu. as-Sunnah. mustholah hadits.” [HR. an-Nahl [16]: 44) dan as-Sunnah (lihat Qs. ilmu balaghoh. ilmu ushul fiqh. atau dengan bertapa lalu ilmu itu masuk ke dalam dada kita. Nabi Saw bersabda: “Sebaik-sebaik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya. tafsir. ilmu shorof. faham terhadap seluk-beluk peraturan hidup agama Islam. Islam tidak pernah mengajarkan cara-cara tersebut. Harus dicari dan dituntut. Tidak boleh dipahami seperti itu. Ilmu-ilmu Islam terdiri dari. Bukhâri]. ilmu hadits dan mustholah hadits. dan ketiga. yakni. ~105~ . Ilmu-ilmu ini muncul sejak masa kenabian dan terus berkembang secara sistematis pada masa-masa berikutnya. Rasulullah Saw bersabda: “Siapa yang Allah kehendaki dia mendapatkan kebaikan. ilmu-ilmu pengetahuan yang diperlukan untuk memahami hukumhukum yang terpancar dari ‘aqidah Islamiyyah.

yakni kitab al-Muwatthâ’ sebelum mengikuti kegiatan belajar mengajar di majelisnya. Walhasil. yang di kemudian hari sangat terkenal sebagai Imam para mujtahidin.” (Qs. ~106~ . pakaian. Akal menjadi puas. akhlak. Semua ini disebabkan karena ‘aqidah Islam telah menjadi nyawa dan motivasi hidupnya. proses belajar mengajar pun penuh dengan manfaat karena yang belajar dan mengajar hadir dalam kondisi kesiapan yang prima. Apalagi. keyakinan yang dihadilkan dari perpaduan antara sentuhan terhadap akal dan fitrah. Ia tidak akan merasa lelah mendalami ilmu-ilmu Islam. yang hasil ijtihadnya banyak diikuti hingga hari ini. dan pemerintahan. akan menimbulkan semangat yang menyala-nyala. ibadah. Lalu model belajar seperti apa yang mampu melahirkan pelajar-pelajar (daris) yang begitu energik seperti Syafi’i muda. ‘aqidah Islamiyyah sesuai dengan akal dan fitrah manusia. Akan tetapi. baik ilmu yang menyangkut masalah keyakinan. Selain itu. bukan sekedar teori-teori belaka. Oleh karena itu. Islam adalah petunjuk untuk melaksanakan aktivitas hidup. akan melahirkan suatu keyakinan yang sangat kuat pada diri seorang Muslim.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Oleh karena itu. Oleh karena itu. Idem. Dia tidak ingin menjadi buku-buku yang bergerak. Sebab. ilmu-ilmu Islam (tsaqâfah Islamiyyah) itu ilmu yang memiliki akar pemikiran yang sangat dalam. atau menjadi onta-onta yang mengusung buku. Tatkala kita membahas ilmu tauhid. politik. jld. seorang Muslim harus berfikir mendalam dan cemerlang untuk meraih tsaqafah Islam. (2) ia harus dipelajari dengan sepenuh keyakinan. yakni ‘aqidah Islamiyyah. asy. sebab-sebab untuk mendapatkan ilmu itu harus ditempuh. dan tercatat hafal 300 ribu hadits lengkap dengan matan (teks isi) dan sanadnya (jalur periwayatan). dan makanan. seorang pelajar Muslim tidak akan mempelajari ilmuilmu filsafat yang tidak ada realitasnya. tatkala Imam Syafi’i masih muda dan hendak belajar kepada Imam Malik yang sudah tua dan terkenal. tsaqafah Islam tidak bisa diraih hanya dengan berfikir dangkal. Demikianlah. beliau mensyaratkan agar Syafi’i muda itu membaca terlebih dahulu buku pegangan karya Imam Malik. 218 219 Lihat Syaikh an-Nabhani.Syakhshiyyah al-Islamiyyah. hasilnya adalah keyakinan atas ‘aqidah Islamiyyah. Ini berbeda dengan tsaqafah Islam. mu’amalah. (1) ia memiliki akar pemikiran yang sangat mendalam. Ayat-ayat al-Qur’an yang membahas tentang ‘aqidah bisa menyentuh akal dan perasaan manusia. Namun. kesiapan diri untuk berfikir dan kesiapan mental untuk memeras otak. yakni belajar dan kesiapan diri untuk belajar. Alam Nasyroh [94]: 7). yakni untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. ilmu-ilmu itu bersumber dari keyakinan. seorang pelajar muslim memahami benar. 219 Kenapa tsaqafah mesti dipelajari dengan sepenuh keyakinan? Sebab. serta penemu disiplin ilmu ushul fiqh? Pada dasarnya. Ilmu-ilmu Islam (tsaqâfah Islamiyyah) adalah ilmu yang praktis. kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. 218 Wajar saja. Ia memahami betul firman Allah SWT: “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan). dan (3) dipelajari secara praktis. maupun ilmu yang berhubungan dengan penyelengaraan negara dan penegakan hukum. Imam Syafi’i muda dengan mantap menjawab kepada gurunya bahwa dirinya sudah hafal isi teks-teks yang ada dalam kitab tersebut. tsaqafah Islam memiliki karakter sebagai berikut. bahwa ilmu yang digelutinya tidak ada artinya jika hanya dihafal dan dinikmati seperti halnya buku-buku filsafat. hati menjadi pun mantap. 1. Keyakinan semacam ini.

seorang Muslim akan lebih cepat dalam mencerap ilmu jika ia melakukan aktivitas dakwah dan perbaikan di tengah-tengah umat. yakni mengubah sistem yang tidak Islami menjadi sistem yang Islami. Bahkan. ~107~ . khususnya yang penerapannya memerlukan otoritas negara.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Sayangnya. Keadaan ini justru akan mendorong pelajar itu untuk melakukan aktivitas dakwah di tengah-tengah masyarakat. sebagian besar hukum Islam. belum diterapkan di tengah-tengah masyarakat.

zaman Khalifah Abu Bakar. sholat tahajjud yang dilaksanakan dalam bulan Ramadhan itulah yang akhirnya menjelma menjadi sholat Tarwih sekarang ini. Umar bin Khattab sendiri mengatakan —seperti yang direkam oleh Imam Bukhâri— bahwa perbuatannya itu adalah bid’ah. Pada malam berikutnya. Khalifah Umar mengadakan perubahan. Dengan kata lain. pada zaman Rasulullah. Walaupun demikian. Sayyidina Ali kw. Bukhâri]. perubahan yang dilakukan oleh Khalifah Umar itu diterima dengan baik berdasarkan teladan Rasulullah Saw sendiri yang pernah melaksanakan sholat tahajjud berjamaah selama tiga malam berturut-turut. Pada suatu malam Rasulullah bangun untuk melaksanakan sholat tahajjud. dilengkapi dengan tikar. lalu mereka ikut bersholat. Bukhâri]. Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa bangun malam untuk menjalankan sholat dalam bulan Ramadhan. Dalam sebuah hadits. supaya menjalankan sholat tahajjud bulan Ramadhan. bagi kebanyakan orang. dosanya akan diampuni. Tetapi pada malam keempat. Tetapi kemudian. yang berasal dari kata “raha” yang artinya “mengambil istirahat”. ~108~ . yaitu sholat tahajjud pada bulan Ramadhan dilaksanakan secara berjam’aah setelah melaksanakan sholat Isya. dan zaman permulaan Khalifah Umar. dan suaminya. Siti Fatimah. kalau-kalau kelak dikemudian hari. maka terjadilah sholat Tarwih tersebut berjamaah dan Rasulullah sebagai imamnya. Ada pula hadits yang menerangkan bahwa Rasulullah membangunkan istri-istri beliau untuk menjalankan sholat Tarwih [HR. Demikian besarnya perhatian Rasulullah kepada sholat tahajjud dalam bulan Ramadhan. Dengan demikian. dan pada malam ketiga. disertai iman. Rasulullah Saw sangat menaruh perhatian pada sholat tahajjud yang dilaksanakan pada bulan Ramadhan ini.” [HR. itu lebih baik daripada sholat Tarwih yang dilakukan pada permulaan malam. sampaisampai ada sebuah hadis menerangkan bahwa Rasulullah mempunyai sebuah kamar kecil di Masjid yang dibuat untuk beliau sendiri. orang-orang yang melakukan sholat Tarwih berjamaah itu bertambah besar. sholat Tarwih itu akan dianggap sebagai sholat fardhu. sebab Rasulullah sangat khawatir. sholat tahajjud selama bulan Ramadhan dilakukan sendiri-sendiri di rumah masingmasing [HR Bukhâri]. orang-orang yang ikut sholat Tarwih berjamaah bertambah besar lagi. Oleh karena itu. Kadang-kadang beliau pergi ke rumah putrinya.SHOLAT TARWIH Apakah arti tarawih itu? Kata tarawih adalah bentuk jamak dari kata tarwih. dan karena ingin memperoleh perkenan (ridha) ilahi. Sholat ini disebut sholat Tarwih. sholat Tarwih yang dilakukan di bulan Ramadhan merupakan sholat tahajjud yang dilaksanakan pada bulan-bulan biasa. Rasulullah tidak muncul untuk memimpin sholat Tarwih berjamaah. Pada dasarnya. sebagai tempat menyendiri untuk menjalankan sholat tahajjud selama bulan Ramadhan. tiba-tiba para sahabat yang berada di masjid melihat beliau. Rasulullah Saw menganjurkan kepada ummatnya agar menjalankan sholat Tarwih di rumahnya masing-masing [HR Bukhâri]. dan bahwa sholat yang dilakukan pada larut malam ketika orangorang sedang tidur. karena orang yang menjalankannya mengambil istirahat sejenak setelah selesai salat sunnah ba’da Isya dua rakaat.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam BAB XV .

sekalipun dalam riwayat ‘Aisyah lainnya ditegaskan tidak adanya pembedaan oleh Nabi Saw tentang jumlah rakaat sholat malam baik di dalam maupun di luar Ramadhan. Di dalam hadits yang diriwayatkan ‘Aisyah ra. terbesit dalam diri Umar untuk menyatukannya sehingga terbentuklan sholat Tarwih berjamaah yang dipimpin Ubay bin Kaab. jld. Oleh karenanya para ulama menyatakan konsensus dalam hal tersebut. Namun. Muttafaq ‘alaihi. Jumlah Rakaat Tarwih Dalam riwayat Imam Bukhâri tidak disebutkan berapa rakaat Ubay bin Kaab melaksanakan Tarwih.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Anjuran Melaksanakan Qiyam dan Tarwih di Bulan Ramadhan Salah satu anjuran Nabi Saw untuk umat Islam adalah menghidupkan malam Ramadhan dengan memperbanyak sholat. wajib memperhatikan etika ketika berada diluar rumah. wanita lebih utama mengerjakan sholat. 3. ketika Umar bin Khattab ra. Sebagaimana terekam dalam hadits muttafaq ‘alaihi riwayat ‘Aisyah. 2. “Siapa saja yang mendirikan sholat di malam Ramadhan penuh dengan keimanan dan harapan maka ia diampuni dosa-dosa yang telah lampau. lafadz Imam Muslim dalam shahihnya: 6/40. hal. 605 dan kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab. 221 Dari sini mayoritas ulama menetapkan sunnahnya pelaksanaan sholat Tarwih secara berjama’ah. jld. Fakta adanya pelaksanaan sholat Tarwih secara turun temurun sejak Nabi Saw hingga sekarang merupakan dalil yang tidak dapat dibantah tentang disyari’atkannya sholat Tarwih. termasuk sholat Tarwih di rumahnya sendiri. hal. 222 Imam an-Nawawi. Hal itu terlihat pada kecenderungan para ulama yang meletakkan riwayat ini pada bab sholat malam secara umum. al-Lu’lu’ wal Marjan. wanita yang hendak melaksanakan sholat Tarwih di masjid. tentang Tarwih selama tiga malam yang dilakukan Nabi Saw bersama para sahabat. Salah satu sholat yang dianjurkan adalah sholat Tarwih disepanjang malam Ramadhan. hal 525. juga tidak disebutkan jumlah rakaatnya. Namun. Nabi Saw bersabda. Namun jika ia tidak datang ke masjid dia tidak berkesempatan atau tidak melaksanakan sholat Tarwih. 222 Wanita Melaksanakan Tarwih Pada dasarnya. 6. bahwa Nabi Saw sangat menganjurkan qiyam Ramadhan dengan tidak mewajibkannya. Lihat juga al-Mughni. 39. Syarh Shahîh Muslim. Nabi Saw membiarkan para sahabat melakukan Tarwih secara sendiri-sendiri. misalnya Imam Bukhâri meletakkannya pada bab 220 221 HR. ~109~ . maka kepergiannya ke masjid untuk hal tersebut akan memperoleh kebaikan yang sangat banyak. Hingga di kemudian hari. jld. hal. Hanya saja. riwayat ini berbicara pada konteks yang lebih umum yaitu sholat malam. setelah berjalan tiga malam.” 220 Sholat Tarwih Secara Berjamaah Pada awalnya sholat Tarwih dilaksanakan Nabi Saw secara berjamaah dengan sebagian shahabat di masjid Nabawi. 436. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dituturkan. menyaksikan adanya fenomena sholat Tarwih yang terpencar-pencar dalam masjid Nabawi.

23. jld. Hal ini dikomentari imam Malik bahwa masalah tersebut sudah lama menurutnya. jld. dan di Makkah 33 rakaat. 227 Kelima. hal. hadits ‘Aisyah: “Nabi tidak pernah melakukan sholat malam lebih dari 11 rakaat baik di dalam maupun di luar Ramadhan. Bahkan menurut Imam Malik ra hal itu telah berjalan lebih dari ratusan tahun. 225 Imam Malik. ~110~ .” Selanjutnya beliau juga menyatakan bahwa orang yang menjalankan Tarwih 8 rakaat dengan Witir 3 rakaat dia telah mencontoh Nabi Saw dan yang melaksanakan dengan sholat 23 mereka telah mencontoh Umar ra. hal. 227 Al-Hâfidz Ibn Hajar al-Asqalâni. 195.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam sholat tahajud. 228 Dari riwayat di atas jelas. 250. 223 Al-Hâfidz Ibn Hajar al-Asqalâni. hal. al-Muwathâ’. 250. Fath al-Bârî. 226 Keempat. 228 Idem. jld. sedang yang menjalankan 39 rakaat atau 41 mereka telah mencontoh salafu saleh dari generasi sahabat dan tabîn. Ibn Mubarak dan Imam Syafi’i. bahkan 39 rakaat. Dan jika sholatnya pendek. Imam at-Tirmidzi menyatakan bahwa Umar ra dan Ali ra serta sahabat lainnya menjalankan sholat Tarwih sejumlah 20 rakaat (selain witir). 250. Fath al-Bârî. 225 Ketiga. Imam Syafi’i dari riwayat az-Za’farani mengatakan bahwa ia sempat menyaksikan ummat Islam melaksanakan Tarwih di Madinah dengan 39 rakaat. bab Tanwir Hawalaik. Akar persoalan ini sesungguhnya kembali pada riwayat-riwayat berikut ini: Pertama. Imam Malik dalam al-Muwatha’-nya meriwayatkan bahwa Umar bin Khattab menyuruh Ubay bin Kaab dan Tamim ad-Dari untuk melaksanakan sholat Tarwih 11 rakaat dengan rakaat-rakaat yang sangat panjang. hal. 36. 226 Sayyid Sabbiq. 223 Hal tersebut memunculkan perbedaan dalam jumlah rakaat Tarwih yang berkisar dari 11.” 224 Kedua. jld. Al-Hâfidz Ibn Hajar berpendapat: “Bahwa perbedaan jumlah rakaat dalam rakaat Tarwih muncul dikarenakan panjang dan pendeknya rakaat yang hendak didirikan. hal. Pendapat ini didukung oleh ats-Tsauri. bab Tanwirul Hawalaik. 13. Fiqh as-Sunnah. Imam Malik dalam al-Muwatha’ pada bab sholat Witir Nabi Saw. al-Muwathâ’. Fath al-Bârî. 21. bahwa akar persoalan dalam perbedaan jumlah rakaat sholat Tarwih bukanlah persoalan jumlahnya melainkan kualitas rakaat yang hendak didirikan. 4. “Jika sholatnya panjang dan jumlah rakaatnya sedikit itu baik menurutku.” Hal senada juga diungkapkan oleh Imam Syafi’i. bahkan di masa Umar bin Abdul Aziz kaum muslimin sholat Tarwih hingga 36 rakaat ditambah Witir tiga rakaat. jumlah rakaatnya banyak itu juga baik menurutku.1. 141. 224 Al-Hâfidz Ibn Hajar al-Asqalâni. sekalipun aku lebih senang pada yang pertama. dan menurutnya hal tersebut memang memiliki kelonggaran. Namun dalam riwayat Yazid bin ar-Rumman bahwa jumlah rakaat yang didirikan di masa Umar bin Khattab 23 rakaat. 138. Jika dalam mendirikannya dengan rakaatrakaat yang panjang maka berakibat pada sedikitnya jumlah rakaat dan demikian sebaliknya. hal. 4. Imam Malik. 4.

yakni beliau melakukan sholat Tarwih dengan tiga kali salam. Cara Melaksanakan Sholat Tarwih Imam Bukhâri meriwayatkan sebuah hadits dari ‘Aisyah ra yang menjelaskan tata cara Nabi Saw menjalankan sholat malam. Ini sebagaimana Imam Ahmad berkata. 233 Al-Hâfidz Ibn Hajar al-Asqalâni. ‘Sholat malam setiap 2 rakaat. atau 11 rakaat. pernah ditanya. 4. jld. 231 Al-Lajnah ad-Dâ’imah li’l-Buhooth al-‘Ilmiyyah wa’l-Ifta’. 250. 232 Al-Ikhtiyârât. siapa pula yang sholatnya 20 rakaat atau lebih maka juga tidak salah. “Jika seseorang melakukan sholat Tarawih sebagaimana mazhab Abu Hanifah. Arab Saudi. apalagi menjadi sebab perpecahan ummat Islam. asy-Syafi’i dan Ahmad yaitu 20 rakaat atau sebagaimana Mazhab Malik yaitu 36 rakaat. dan ditambah 3 rakaat sebagai penutup. 229 Imam az-Zarkani mencoba menetralisir persoalan ini dengan menukil pendapat Ibn Hibban bahwa Tarwih pada mulanya 11 rakaat dengan rakaat yang sangat panjang namun bergeser menjadi 20 rakaat (tanpa witir) setelah melihat adanya fenomena keberatan ummat Islam dalam mendirikannya. 64. fatwa nomer 6148. bersolatlah satu rakaat. 7. ~111~ . yang menjadi witir baginya dari solat yang dilakukan. 250. Jika kita perhatikan dengan cermat maka yang menjadi konsens dalam sholat Tarwih adalah kualitas dalam menjalankannya dan bagaimana sholat tersebut benar-benar menjadi media komunikatif antara hamba dan RabbNya lahir dan batin sehingga berimplikasi dalam kehidupan berupa ketenangan dan merasa selalu bersamaNya dimanapun berada. atau 13 rakaat. jld. hal. Riyad: Dar al-Mu’ayyad. Bahkan hingga bergeser menjadi 36 (tanpa witir) dengan alasan yang sama. 1. Cetakan ke 3. jld.’ [HR.” 232 Dengan demikian. Ini karena Nabi Saw bersabda. bahwa tidak ada pembatasan yang signifikan dalam jumlah rakaat Tarwih. jika dikhawatirkan akan Subuh. hal.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Hal yang sama juga diungkapkan Imam Ahmad ra. Lihat hasyiah Fiqh as-Sunnah.” 231 Sedangkan Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah berkata. ‘Karena tidak ada apa yang dinyatakan dengan jumlah. melainkan tergantung panjang dan pendeknya rakaat yang didirikan. hal. 195.” Maka Syaikh bin Baz menjawab: “Sholat Tarawih 11 rakaat atau 13 rakaat. meniru cara Nabi Saw. 230 Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz yang ketika itu menjabat sebagai Ketua al-Lajnah ad-Dâ’imah. dan mereka berkata bahwa Rasulullah Saw tidak melakukan lebih dari 11 rakaat. ditambah 4 rakaat yang panjang pula. Masingmasing terdiri 4 rakaat yang sangat panjang. 198. dan mereka adalah orang yang lebih tahu akan sunnah. hal. Maka tidak dihadkan rakaat sholat dan salamnya karena sesungguhnya Umar ra dan sahabat-sahabat ra melakukan sholat pada beberapa malam dengan 20 rakaat melainkan witir. tidak ada alasan yang mendasar untuk mempertentangkan satu pendapat dengan pendapat lainnya dalam jumlah sholat Tarwih. maka lebih atau kurangnya jumlah rakaat tergantung pada berapa panjang atau pendek qiyamnya’. maka itu yang terbaik. 2000. Fath al-Bârî. Dan. Mutafaq ‘Alaih]. 233 229 230 Idem. “Banyak di kalangan ulama yang menolak sholat Tarawih 20 rakaat. hal. melakukan salam pada setiap 2 rakaat dan 1 rakaat witir adalah afdal.

hal. sholat malam. 432. 234 HR. dapat didirikan dengan dua rakaat dua rakaat dan ditutup dengan satu rakaat. hal. hal. ~112~ .Jika ia khawatir akan tibanya waktu Shubuh maka hendaknya menutup dengan satu rakaat” 234 Berdasarkan riwayat-riwayat di atas. atau empat rakaat empat rakaat dan ditutup dengan tiga rakaat. Mutaffaq ‘alaihi. al-Hâfidz Ibn Hajar menyimpulkan bahwa Nabi Saw kadangkadang melakukan witir (menutup sholatnya) dengan satu rakaat dan terkadang menutupnya dengan tiga rakaat. Hal ini ditegaskan fi’liyah Nabi Saw dalam hadits Muslim dan Imam Malik ra. 6.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Bentuk lain yang mendapatkan penegasan secara qauli dan fi’li juga menunjukkan bahwa sholat malam dapat pula dilakukan dua rakaat-dua rakaat dan ditutup satu rakaat. Ibn Umar ra menceritakan bahwa seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw tentang cara Rasulullah Saw mendirikan sholat malam. termasuk di dalamnya sholat Tarwih. al-Lu’lu’ wal Marjan. beliau menjawab. 46-47. Dengan demikian. (Syarh Shahih Muslim. jld. 143-144). “Sholat malam didirikan dua rakaat dua rakaat. al-Muwatha’ dalam Tanwir.

i’tikaf adalah berdiam (tinggal) di suatu tempat. Lisan al-Arab. selain mengharap ridha Allah dan semua hal yang bisa mendatangkan keridloanNya. 433. khususnya di tengah arus globalisasi. Hal-hal ini tentunya akan memutuskan perjalanan hati menuju Allah atau akan melemahkan. terutama pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. I’tikaf adalah mengurung diri dan membatasi diri untuk hanya berbuat taat dan selalu mengingat Allah. sekaligus untuk meraih malam Lailatul Qadar. terlalu banyak bicara dan tidur. 236 235 ~113~ . Oleh karena itu. 252. jld. materialisasi. hal. 236 Imam Ibn al-Qayyim berkata. Barangkali. hal. jld. 284. dan mengurung hatinya dan jasmaninya hanya untuk Allah dan untuk mendekatkan diri kepadaNya. 3. jld. 3. I’tikaf sangat dianjurkan pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Ibn Mandzur . kusutnya hati tidak akan dapat sembuh kecuali dengan menghadap kepada Allah Ta'ala. yakni orang yang mempersenjatai dirinya dengan niat ikhlas dan tekad yang sungguh-sungguh. Ia memutuskan hubungan dengan segala kesibukan-kesibukannya. Definisi I’tikaf Sayyid Sabbiq. dan kitab lihat anNihâyah fî Gharîbil Hadîts. Sayyid Sabbiq. Sedangkan makan dan minum yang berlebih-lebihan dan berlebih-lebihan dalam bergaul. al-Mishbahul Munir. Setiap muslim disunnatkan untuk beri’tikaf di masjid. “Manakala seseorang ingin berjalan di atas jalan Allah SWT dalam keadaan sehat dan istiqamah (konsisten). 9. orang-orang yang tinggal di masjid dan menegakkan ibadah di dalamnya bisa disebut sebagai mu’takif dan ‘akif (orang yang sedang beri'tikaf). jld. hal. semuanya sangat tergantung pada terkumpulnya unsurunsur yang bisa memperkuat hati. Tak terbetik dalam hatinya keinginan apapun. i’tikaf sangatlah mudah bagi orang yang diberi kemudahan oleh Allah SWT. dan informasi yang sarat dengan pengaruh-pengaruh negatif. 1.I’TIKAF Diantara rangkaian ibadah di dalam bulan suci Ramadhan yang senantiasa dipelihara dan dianjurkan oleh Rasulullah Saw adalah i’tikaf. 424. dalam Fiqh as-Sunnah menyatakan. 235 Dengan kata lain. I’tikaf merupakan sarana meditasi dan kontemplasi yang sangat efektif bagi kaum Muslim untuk memelihara keislamannya. Padahal. kemudian menghadapkan hati tersebut kepada Allah SWT secara menyeluruh. orang yang belum pernah melakukan i’tikaf. Allah pasti akan menolong dan memudahkannya. Al-Fayumi. bahwa i'tikaf adalah luzûm al-syai’ wa habs alnafs ‘alaih (mengikatkan diri pada sesuatu dan menahan diri di atasnya). Fiqh as-Sunnah. termasuk dari unsur-unsur yang menjadikan hati bertambah kusut dan menceraiberaikan hati di setiap tempat. menghalangi dan menghentikannya. membayangkan I'tikaf sebagai ibadah yang sangat berat dan sulit. Sebab. hal.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam BAB XVI .

Sesungguhnya. 241 HR.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Rahmat Allah Yang Maha Perkasa lagi Penyayang. memutuskan segala kesibukan dengan makhluk. sekaligus sebagai media untuk membersihkan kecenderungan syahwat di dalam hati.” 237 Disyari’atkannya I’tikaf I'tikaf disunnahkan pada bulan Ramadhan dan bulan lainnya sepanjang tahun. inilah maksud dari i’tikaf yang agung itu. Dan seluruh keinginan dan betikan-betikan hatinya menjelma menjadi keinginan untuk selalu mengingatNya. Allah SWT juga mensyari’atkan i’tikaf bagi hambaNya agar mereka dapat mengambil manfaat dari amalan tersebut baik di dunia maupun di akhirat. syahwat tersebut dapat merintangi perjalanan hati menuju Allah SWT. Sehingga. di saat sudah tidak ada lagi yang berbuat lembut kepadanya. yang mana. Telah dituturkan dalam riwayat shahih. 86-87. dan manakala tidak ada lagi yang dapat membahagiakan dirinya selain Allah. Bukhâri 4/226 dan Muslim 1173. 240 HR. bahwasanya Rasulullah Saw sering beri’tikaf pada setiap Ramadhan selama sepuluh hari. Bukhâri 4/237 dan Muslim 1656.” Beliau menjawab: “Tunaikanlah nadzarmu. bahwa Umar pernah bertanya kepada Nabi Saw: “Wahai Rasulullah. Bukhâri 4/245. dan hanya menyibukkan diri kepada Allah semata. 238 Dalam sebuah riwayat dituturkan. ~114~ . maksudnya serta ruhnya adalah berdiamnya hati kepada Allah Ta’ala. (yaitu) aku akan beri’tikaf pada malam hari di Masjidil Haram. kecintaan dan menghadapkan diri kepadaNya menjadi pengganti atas kesedihan hatinya dan betikan-betikannya. 241 237 238 Zâdul Ma’ad. hal. HR. sehingga ia mampu mencurahkan hatinya kepadaNya. bertafakur untuk mendapatkan keridhaan Allah dan mendekatkan dirinya kepada Allah. hingga akhirnya ia akan memperoleh kebaikannya di dunia maupun di akhirat kelak. sesungguhnya aku ini pernah bernadzar pada zaman jahiliyah (dahulu). Nabi Saw seringkali beri'tikaf pada sepuluh (hari) terakhir di bulan Ramadhan hingga Allah Yang Maha Perkasa dan Mulia mewafatkan beliau. 2. Hingga akhirnya. ibadah itu juga dimaksudkan agar seorang hamba bisa tetap berjalan di atas jalan Allah dengan lurus dan konsisten. 240 Sedangkan waktu yang lebih utama lagi yaitu pada akhir bulan Ramadhan. jld. menyendiri (berkhalwat) denganNya. Sebab. Sesungguhnya disyari’atkannya i’tikaf bagi umat Islam. kelembutan dirinya kepada Allah pada hari kesedihan di dalam kubur. bermesraan ketika berkhalwat dengan Allah merupakan pengganti kelembutannya terhadap makhluk. Tidak hanya itu saja.” Maka Umar ra pun beri’tikaf pada malam harinya. Bukhâri 4/266 dan Muslim 1173 dari ‘Aisyah. berkumpulnya hati dengan Allah. karena. bahwa Nabi Saw beri’tikaf pada sepuluh (hari) terakhir bulan Syawwal. 239 I'tikaf yang paling utama dilakukan pada bulan Ramadhan berdasarkan hadits Abu Hurairah ra. Sedangkan yang menyebabkan ia berbuat demikian. Selain itu. mengingatNya. menjadikan Dirinya berkehendak untuk mensyari’atkan puasa bagi mereka sebagai wahana untuk mengurangi kelebihan makan dan minum. 239 HR.

mayoritas kaum Muslim berada di luar Mekkah. tentunya banyak kaum Muslim yang tidak bisa menunaikannya. dan Masjid al-Aqsha’. hal. Memang seperti itu kenyataannya.” (Qs. jika ia melaksanakan ibadah di dalam ketiga masjid tersebut. hal. 242 ~115~ . di-shahih-kan oleh para imam serta para ulama. ‘Aisyah ra berkata: “Dan sesungguhnya Rasulullah Saw pernah memasukkan kepalanya kepadaku. Bahkan. sholat kusuf dan tahiyatul masjid. Inilah pahala-pahala yang dapat diraih seseorang. tidak hanya i’tikaf saja.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Syarat-Syarat I’tikaf Dalam sebuah hadits shahih dinyatakan. padahal beliau sedang i’tikaf di masjid (dan aku berada di kamarku) kemudian aku sisir rambutnya (dalam riwayat Hadits tersebut shahih. bahwa sholat di Masjid al-Haram bernilai seratus ribu sholat. Masjid an-Nabawi. dapat dilihat takhrijnya serta pembicaraan hal ini pada kitab Al-Inshaf fi Ahkamil I'tikaf oleh Ali Hasan Abdul Hamid. Sebab. 230-235. 243 Yakni “Janganlah kami mejimai mereka” pendapat tersebut merupakan pendapat jumhur (ulama). Ia juga boleh mengeluarkan kepalanya dari masjid untuk dicuci dan disisir rambutnya. 244 Orang-orang yang beritikaf disunnahkan berpuasa seperti yang tersebut dalam riwayat ‘Aisyah ra yang telah disebutkan sebelumnya. i’tikaf boleh dilakukan di dalam masjid-masjid manapun.” 242 Akan tetapi. bahwa I'tikaf itu disyari’atkan hanya di dalam tiga masjid. nilai sholat di dalam tiga masjid itu mempunyai kelebihan tersendiri. 245 Perkara-Perkara yang Boleh Dilakukan Mu’takif boleh keluar dari masjid jika ada hajat (keperluan). seperti melaksanakan sholat berjama’ah. Sholat di Masjid an-Nabawi lebih baik dari pada seribu sholat kecuali di Masjid al-Haram dan sholat di Masjid al-Aqsha’ bernilai lima ratus sholat. beri’tikaf pada selain ketiga masjid tersebut adalah boleh berdasarkan keumuman firman Allah: “Dan janganlah kamu mencampuri mereka itu 243 sedangkan kamu beritikaf di dalam masjid. yakni Masjid al-Haram. Dengan demikian. jld. karya Syaikh al-Utsaimin. Lihat Zâd al-Masir. 244 Lihat 257 Tanya Jawab Fatwa-Fatwa al-Utsaimin. Ayat tersebut berlaku untuk segenap kaum Muslim. 1. maksudnya adalah tidak ada i’tikaf yang lebih sempurna dan lebih utama kecuali di dalam tiga masjid tersebut. Jika kita nyatakan. Rasul bersabda: “Tidak ada I'tikaf kecuali pada tiga masjid (saja). 193 oleh Ibn al-Jauzi. Di dalam riwayat shahih dinyatakan. Medinah dan al-Quds (Palestina). alBaqarah [2]: 187). 245 Dikeluarkan oleh Abdur Razzaq di dalam al-Mushannaf 8037 dan riwayat 8033 dengan maknanya dari Ibn Umar dan Ibn ‘Abbas. Jika hadits mengatakan bahwa tidak ada i’tikaf kecuali dalam tiga masjid. bahwa yang dimaksud masjid dalam ayat di atas hanya ketiga masjid di atas.

” 247 Orang yang sedang beri'tikaf juga diperbolehkan mendirikan tenda (kemah) kecil pada bagian di belakang masjid sebagai tempat dia beri’tikaf. dan antara aku dan beliau ada sebuah pintu. jld 1. Shafiyyah ra berkata. Ahmad 5/364 dengan sanad yang shahih. Bukhâri 4/240. Ini didasarkan pada riwayat. bahwa Nabi Saw jika i'tikaf. Diperbolehkan bagi orang yang sedang beritikaf.” 250 Bahkan. 247 HR. ‘Sesungguhnya setan mengalir pada seseorag seperti mengalirnya darah Dan sungguh aku khawatir kalau setan membisikkan pada hati kalian berdua kejelekan atau beliau mengucap sesuatu’. Bukhâri 1/342 dan Muslim 297 dan lihat Mukhtashar Shahîh Bukhâri no. hal.” 246 Orang yang sedang i’tikaf diperbolehkan berwudhu di masjid berdasarkan ucapan salah seorang pembantu Nabi Saw: “Nabi Saw berwudhu di dalam masjid dengan wudhu yang ringan. ‘Jangan kau terburu-buru sehingga aku antarkan. Muslim 2157 dan tambahan yang terakhir ada pada Abû Dâwud 7/142-143 di dalam Aunul Ma’bud. bahwa ‘Aisyah ra pernah membuat kemah yang terbuat dari bulu atau wool yang tersusun dengan dua atau tiga tiang. lewat dua orang sahabat Anshar.’ Maka beliaupun berdiri bersamaku untuk mengantarkanku. meletakkan kasur atau ranjangnya di dalam tenda tersebut.’ Lalu keduanya mengatakan. 167 oleh Syaikh al-Albâni dan Jami’ul Ushul.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam lain: aku cuci rambutnya). Dan sanadnya hasan. ‘Subhanallah (Maha Suci Allah)! Wahai Rasulullah. 1173. 249 Dikeluarkan oleh Ibn Mâjah 642-zawaidnya dan al-Baihaqi. telah ditakhrij dalam Shahîh Sunan Abû Dâwud. Maka Nabi Saw berkata. sebagaimana yang dikatakan oleh al-Bushiri dari dua jalan. sebagaimana yang disebutkan di dalam Shahîh Muslim. dan suami diperbolehkan mengantar isteri sampai ke pintu masjid. dihamparkan kasur. apabila beliau beri’tikaf. 249 I’tikafnya Wanita dan Kunjungannya ke Masjid Diperbolehkan bagi seorang isteri untuk mengunjungi suaminya yang berada di tempat i’tikaf. 2144-2134. (dan waktu itu aku sedang haid) dan adalah Rasulullah tidak masuk ke rumah kecuali untuk (menunaikan) hajat (manusia) ketika sedang i’tikaf. “Telah i’tikaf bersama Nabi Saw seorang wanita yang HR. Ini didasarkan pada sebuah hadits yang diriwayatkan Ibn Umar ra. maka aku datang menengoknya di malam hari dan di sisinya isteri-isterinya yang sedang bergembira. “Ketika itu Nabi Saw beri’tikaf dimasjid pada 10 hari terkhir bulan Ramadhan. Tatkala berada di pintu masjid yang dekat dengan rumah Ummu Salamah ra. Ketentuan ini didasarkan pada ucapan ‘Aisyah ra. lalu aku berbicara dengan beliau beberapa saat lalu aku berdiri untuk kembali.’ Maka Nabi Saw mengatakan. 3452 oleh Ibn Asir. dan diletakkan ranjang untuknya di belakang tiang At-Taubah. Ketika mereka melihat Nabi Saw keduanya mempercepat (langkahnya). maka beliau Saw katakan. 250 HR. 248 Dan hal ini atas perintah Nabi Saw. hadits no. 246 ~116~ . dibolehkan bagi wanita untuk i’tikaf bersama suaminya. atau sendirian. 248 Sebagaimana dalam Shahîh Bukhâri 4/226. ‘Pelan-pelan! Sesungguhnya wanita ini adalah Shafiyah binti Huyai (istri Rasulullah sendiri). Shafiyah ra tinggal di kampung Usmah bin Zaid.

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albâni berkata. 4.” 251 ‘Aisyah ra juga menuturkan.” [HR. kemudian isteri-isteri beliau i’tikaf setelah itu. dan tidak diragukan lagi bahwa hal itu dibatasi adanya izin dari wali-wali mereka dan aman dari fitnah. 281.” HR. 251 ~117~ . 2138. jld. Bukhâri telah ditakhrij dalam Shahîh Abû Dâwud no. riwayat yang lain adalah riwayat Said bin Manshur seperti terdapat dalam Fath al-Bârî. bahkan kadang-kadang kami meletakkan bejana di bawahnya dalam keadaan dia tetap shalat. Bukhâri dan Muslim]. berdasarkan dalil-dalil yang banyak mengenai larangan berkhalwat dan kaidah fiqhiyah: Menolak kerusakan lebih didahulukan daripada mengambil manfaat. hal. “Nabi Saw i’tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau. kekuningan.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam isthihadhah (didalam sebuah riwayat dia adalah Ummu Salamah) diantara isteri-isterinya dan dalam keadaan dia masih melihat kemerahan. “Di dalam atsar tersebut ada dalil yang menunjukkan bolehnya wanita i'tikaf. Akan tetapi ad-Darimi menyebutnya “Zaenab” 1/22.

” (Qs.” Kedua. Secara tegas dan jelas Allah SWT menerangkan malam itu dalam firmanNya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam kemuliaan. untuk disampaikan kepada ummat yang tinggi pula. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. sebagaimana firman Allah SWT: “Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Sedangkan al-Qur’an memberikan kehidupan baru bagi ummat manusia. dimana nilai keberkahan malam itu lebih baik daripada seribu bulan. ad-Dukhân [44]: 3). Di samping itu Lailatul Qadar juga disebut oleh Allah SWT sebagai malam keberkahan (lailatul mubârakah). al-Qadar [97]: 1-5). dibawa oleh malaikat yang memiliki derajat yang tinggi. pada malam itu. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. kepada Rasul yang mempunyai derajat yang tinggi. “Malam itu dinamakan lailatul qadar karena pada malam itu turun al-Qur’an yang mempunyai kedudukan yang tinggi. untuk memberikan ucapan keselamatan (tahiyyat) kepada orang-orang yang berpuasa (shaimin) yang ikhlas (mukhlisin) ~118~ . bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam BAB XVII . al-Baqarah [2]: 185). Malam dimana para malaikat dan malaikat Jibril turun ke dunia menebarkan salam hingga terbit fajar. Oleh karena itu.s.” (Qs. Keistimewaan Lailatul Qadar Apa keistimewaan Lailatul Qadar sehingga memperoleh kedudukan yang sangat tinggi? Ada dua sebab penting: pertama. yakni amal ibadah seorang mukmin pada suatu malam yang disebut Lailatul Qadar. turun banyak sekali malaikat yang disertai Jibril a. pada malam itulah al-Qur’an diturunkan. malam tersebut layak sekali dijadikan hari yang mulia. Para sahabat pun berdecak kagum terhadap amalan pemuda bani Israil itu dan membayangkan betapa besar pahala orang itu.” (Qs. Namun Rasulullah Saw menyebutkan adanya pahala yang lebih besar dari itu. Sebab turunnya ayat (sabab nuzul) di atas telah diterangkan dalam sebuah riwayat. sehingga malam itu adalah awal dimulainya kehidupan baru bagi manusia. bahwasanya Rasulullah menceritakan kepada para sahabat bahwa di masa lalu ada pemuda Bani Israil yang berjihad di siang hari dan beribadah qiyamul lail di malam hari selama seribu bulan berturut-turut. Abu Bakar al-Warraq mengatakan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.LAILATUL QADAR Lailatul Qadar atau malam kemuliaan adalah malam yang dikabarkan oleh Allah SWT sebagai malam kemuliaaan.

‘Kembalilah kalian. keistimewaan lailatul qadar ini tak bisa dibayangkan kebesarannya. bertaqdis. (4) Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. para malaikat itu menancapkan panji-panji di empat tempat.’ Kemudian Allah berfirman kepada para hambaNya. para hambaKu. bertahlil. ~119~ . Lalu. ad-Dukhân [44]: 1-6). alAnbiyâ’ [21]: 107). kemulianKu. turunlah Jibril bersama rombongan para malaikat yang jumlahnya besar sekali. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul. (3) sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. ketiga di sisi Masjid al-Aqsha di Bait al-Maqdis. baik lelaki maupun perempuan telah menyelesaikan fardhu yang telah Kuwajibkan atas mereka. Apabila telah datang hari raya. dan keempat di sisi Masjid Tursina.’ Allah berfirman: ‘Wahai malaikatKu. Selain itu. hal.” 252 Prof. keagunganKu. balasannya adalah disempurnakan upahnya. Allah berfirman: ‘Hai malaikatKu! Apakah balasan buat seorang pekerja yang telah menyempurnakan pekerjaannya?’ Para malaikat menjawab. Allah SWT berfirman: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu. Di dalam kitab Syu’abul Iman diriwayatkan suatu hadits oleh Imam al-Baihaqi dari Anas ra. Atas dasar itu.” (Qs. Mereka bershalawat kepada segala hamba yang berdiri maupun yang sedang duduk menyebut nama Allah. ketinggianKu. Pada malam itu dibuka segala pintu langit sejak terbenamnya matahari sampai kembali terbit. Sebab.” (Qs. Demi kebesaranKu. 252 Memang benar. Kemudian mereka keluar ke tanah lapang untuk berdoa. Pedoman Puasa. ‘Ya Rabbana. Juga dinamakan lailatut tajalli. dan orang-orang yang menunaikan ibadah malam. dan ketinggian tempatKu. Allah menerima taubat semua orang yang bertaubat pada malam itu. dan memohon ampunan buat ummat Muhammad Saw. serta untuk menebarkan salam dan rahmat kepada penduduk bumi. Hasbi ash-Shiddiqqie. bahwasanya Rasulullah Saw bersabda. Allah SWT membanggakan diri dengan hambaNya itu di hadapan para malaikat. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. memasuki rumah-rumah orang mukmin sambil bertasbih. (5) (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. 242-243. pertama di sisi Ka’bah. (6) sebagai rahmat dari Tuhanmu. kedua di sisi kubur Rasulullah. dimana Allah SWT melimpahkan cahaya dan hidayahNya untuk para hambaNya. al-Qur’an telah turun di malam itu dan ia adalah seperangkat aturan (syari’at Allah SWT) yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw yang menjelaskan seluruh aspek kehidupan manusia. melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. “Bila datang Lailatul Qadar. sungguh Aku telah gantikan keburukanmu dengan kebaikan’. Aku akan memperkenankan doa mereka. Ada yang menyatakan bahwa bilangan malaikat yang turun ke bumi pada malam itu lebih banyak dari pada pasir. kedatangan beliau Saw sendiri merupakan rahmat Allah bagi seluruh alam. Kemudian mereka bertebaran ke seluruh pelosok bumi. malam itu juga disebut lailatus salam (malam keselamatan) atau lailatus syaraf (malam kemuliaan).Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam dan untuk menyaksikan amal ibadah mereka. orang-orang yang shaum (shaimin). Allah SWT juga berfirman: “(1) Hâ Miim (2) Demi Kitab (al-Qur’an) yang menjelaskan.

bahwa Lailatul Qadar itu jatuh pada malam ke 27 mengingat hadits Nabi Saw yang diriwayatkan oleh Ubai bin Ka’ab yang berkata. atau di malam 29. Berkata Abu Said. hendaklah beri’tikaf pada puluhan yang akhir. “Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda. pada malam keberapa? Inilah yang dirahasiakan oleh Rasulullah Saw.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Waktu Datangnya Lailatul Qadar Jelas.” Imam al-Qurthubi menyatakan. Demi Allah dia mengetahui bahwa lailatul qadar di puluhan akhir dari bulan Ramadhan di malam 27. carilah dia di tiap-tiap malam yang ganjil. Beri’tikaf pada puluhan yang kedua dari bulan Ramadhan. Karena itu carilah dia di puluhan yang akhir. maka janganlah kamu kalah dalam mencari pada tujuh yang terakhir. Kedua mataku melihat Rasulullah kembali dari masjid. Beliau hanya memberikan isyarat untuk mencarinya pada sepuluh malam terakhir. Dan malam qadar itu adalah malam 20. niscaya dia memperoleh lailatul qadar. jumhur ulama berpendapat. atau di malam 28. 25. “Lailatul qadar sekali saja dalam setahun. Imam Ibn Hazm berkata. 27. adakalanya di malam 22. sedangkan pada dahinya nampak bekas air dan tanah.” Diriwayatkan oleh Imam Bukhâri dari ‘Aisyah bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Carilah dengan segala daya upaya malam al-qadar di malam-malam ganjil dari sepuluhan yang akhir dari bulan Ramadhan.” Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ibn Umar bahwa Nabi bersabda: “Carilah lailatul qadar pada puluhan yang akhir. Aku bersujud pada paginya di air dan tanah.” Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Zar bin Hubaisy dituturkan. jika seseorang kamu lemah mencari. yaitu malam 21. ‘Malam al Qadar adalah malam keduapuluh tujuh’. Hanya saja. ‘Saudara anda Abdullah ibn Mas’ud mengatakan bahwa barang siapa mengerjakan Qiyamul Lail sepanjang tahun.” Diriwayatkan oleh Imam Bukhâri dan Imam Muslim dari Ibn Umar bahwa Nabi bersabda: “Maka barang siapa yang hendak mencari malam al-qadar. Jika bulan itu 29 hari. Adalah Rasulullah Saw.’ Maka Ubay menjawab. 23. carilah pada malam tujuh yang akhir.” Kemudian aku dijadikan lupa. tertentu di bulan Ramadhan di puluhan yang akhir dan tertentu di suatu malam yang ganjil. 26. maka permulaan puluhan yang akhir. supaya manusia tidak memudah-mudahkan saja. beliau berkata. “Saya berkata kepada Ubay bin Ka’ab. “Barang siapa turut beri’tikaf bersamaku. ialah malam 20. Lailatul Qadar turun di malam bulan Ramadhan. Maka malam al qadar adakalanya di malam 21. ‘Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa Abu Abdir Rahman. permulaan puluhan yang akhir ialah malam 21. Pada suatu tahun setelah sampai beliau pada malam 21 yang seharusnya beliau keluar dari i’tikaf pada pagi harinya. adakalanya di malam 24. Tetapi dia mengatakan yang de-mikian. Sungguh telah diperlihatkan kepadaku malam al-qadar.” Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Kitab al-Muwattha’ dari Abi Said al-Khudri yang berkata. Jika bulan itu penuh 30 hari. sedangkan masjid diatapi dengan daun korma dan meneteslah air ke lantai.’ Kemudian Ubay ~120~ . “Maka turunlah hujan pada malam itu.

Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam

bersumpah bahwa Lailatul Qadar di malam 27. Berkata Ibn Hubaisy, ‘Apa alasan anda mengatakan demikian.’ Ubay menjawab, ‘Tanda-tandanya yang Rasulullah kabarkan yaitu ‘matahari terbit di pagi hari tanpa sinar’.” Dari uraian-uraian di atas menunjukkan, bahwa Lailatul Qadar tersembunyi pada sepuluh malam terakhir (asyril awakhir). Tentu ini ada hikmahnya. Menurut para ulama salaf, penyembunyian waktu lailatul qadar adalah agar kita menghidupkan semua malam. Ini seperti hikmah Allah menyembunyikan saat ijabah di hari Jum’at supaya kita berdoa sepanjang hari. Atau seperti Allah menyembunyikan sholat wustha’ dalam sholat lima waktu, supaya kita memelihara kesemuanya. Atau Allah menyembunyikan isim a’dham (nama teragung) di antara nama-namaNya supaya kita menyerunya dengan nama-nama itu. Allah menyembunyikan mana ketaatan yang mendapat keridhaanNya supaya kita mengerjakan semua ketaatan dengan sepenuh hati. Atau Allah menyembunyikan mana maksiyat yang sangat dimarahi supaya kita menghentikan semua maksiyat itu. Atau Allah merahasiakan waliyullah (kekasih Allah) diantara para mukmin, supaya kita berbaik sangka terhadap sesama mukmin. Atau Allah menyembunyikan kedatangan kiamat supaya kita selalu siap siaga. Allah menyembunyikan ajal manusia supaya kita selalu dalam persiapan. 253

Tanda-Tanda Lailatul Qadar
Para ulama berselisih pendapat tentang tanda-tanda datangnya Lailatul Qadar. Adapun tanda-tanda orang yang berhasil mendapatkan lailatul qadar adalah sebagai berikuit: Pertama, dirinya akan melihat bahwa segala sesuatu yang ada di bumi dan di langit bersujud kehadirat Allah. Kedua, ia melihat alam begitu terang benderang, walaupun di tempat-tempat yang gelap sekalipun. Ketiga, ia mendengar salam para malaikat dan tutur katanya. Keempat, orang yang mendapati malam itu diperkenankan segala doanya. 254 Dari Ubay ra, ia berkata, Rasulullah Saw bersabda: “Pagi hari malam Lailatul Qadar, matahari terbit tidak menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.” 255 Dari Abu Hurairah, ia berkata: Kami menyebutkan malam Lailatul Qadar di sisi Rasulullah Saw beliau bersabda: “Siapa di antara kalian yang ingat ketika terbit bulan seperti syiqi jafnah.” 256

253 254

Idem, hal. 255-256. Idem, hal. 263. 255 HR. Muslim 762.

~121~

Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam

Dan dari Ibn ‘Abbas ra., ia berkata, Rasulullah Saw bersabda: “(Malam) Lailatul Qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, (dan) keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan.” 257 Adapun pahala ibadah tetap diperoleh meskipun tanda-tanda tersebut tidak dapat dilihatnya. Sedangkan bagi mereka yang melihat tanda-tanda malam al-qadar, hendaklah menyembunyikan dan terus berdo’a dengan sungguh-sungguh, ikhlas dan khusyu’, dengan doa apa saja yang digemarinya, keduniaannya atau keakhiratannya, dan hendaknya ia berdo’a untuk akhiratnya lebih banyak dan lebih kuat dari pada untuk dunianya. Juwaibir pernah bertanya kepada adh-Dhahhak, “Bagaimana pendapat anda tentang perempuan yang sedang nifas, haid, orang yang sedang dalam perjalanan, dan orang yang sedang tidur nyenyak, apakah mereka mendapat bagiannya di malam al qadar itu?” Adh-Dhahhak menjawab, “Mereka semua mendapatkannya, diberikan bagiannya dari malam al qadar itu oleh Allah yang Maha Rahman dan Maha Rahim.”

Langkah-Langkah Mengoptimalkan Ibadah di Malam Lailatul Qadar
Diriwayatkan oleh Ahmad dari Ubadah Ibn Shamid: Rasulullah mengabarkan kepada kami tentang lailatul qadar. Beliau berkata, “Dia berada di dalam bulan Ramadhan, di puluhan yang akhir, malam 21, 23, 25, 27 atau malam 29, atau di akhir malam bulan Ramadhan. Barang siapa mengerjakan qiyam pada malam itu karena imannya kepada Allah dan karena mengharap keridlaanNya, niscaya diampunilah dosanya yang telah lalu dan dosa yang akan datang.” Melihat besarnya pahala pada malam kemuliaan itu, alangkah baiknya seorang Muslim menghidupkan Lailatul Qadar. Lantas, bagaimana caranya? Menghidupkan malam al-qadar ialah dengan cara mengerjakan ketaatan, bertahajjud, beristighfar, berdzikir, membaca al-Qur’an serta beri’tikaf, menambahkan amalan ihsan dan memperbanyak shadaqah. Rasulullah Saw bersabda: “Barang siapa berdiri (sholat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” 258 Amalan-amalan Rasul dan pesan-pesannya merupakan dorongan bagi para Muslim untuk beribadah dan berlomba-lomba menyedekahkan harta di bulan Ramadhan, terlebih di malam al-qadar.
256

HR. Muslim, no. 1170. Perkataan: “Syiqi jafnah” syiq artinya setengah, jafnah artinya bejana. Al-Qadhi ‘Iyadh berkata, “Dalam hadits ini ada isyarat bahwa malam Lailatul Qadar hanya terjadi di akhir bulan, karena bulan tidak akan seperti demikian ketika terbit kecuali di akhir-akhir bulan.” 257 HR. Tahayalisi 349, Ibn Khuzaimah 3/231, al-Bazzar 1/486, sanadnya hasan. 258 HR. Bukhâri 4/217 dan Muslim 759.

~122~

Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam

Para hartawan dahulu mempergunakan bulan Ramadhan untuk berlomba-lomba memenuhi keperluan orang-orang yang membutuhkan bantuan, sebagai suatu usaha memenuhi seruan agama dan meneladani Rasul. Mereka menyembunyikan shadaqah-shadaqah mereka hingga tidak diketahui tangan kiri, apa yang diberikan tangan kanan. Sebagian hartawan dahulu menanti-nanti Lailatul Qadar, malam dimana Allah melipatgandakan pahalaNya. Mereka menyembunyikan dirinya, mencari keluarga-keluarga yang miskin di malam buta. Mereka memberikan segala yang dibawanya kepada keluarga miskin, tanpa dikenal oleh yang menerima pemberian itu. Dia kembali tanpa diketahui siapa dirinya. Ini adalah adab mulia yang mesti kita contoh dan praktekkan, dalam upaya meneladani sikap para ulama kaum Muslim terdahulu. ‘Aisyah diperintahkan berdoa di malam al-Qadar. Sufyan ats-Tsauri berkata, “Berdoa pada malam alqadar, lebih saya sukai daripada sholat.” Sufyan berkata pula, “Apabila seorang membaca al-Qur’an, berdoa serta meningkatkan do'anya kepada Allah, mudah-mudahan dia memperoleh waktu mustajab.” Rasululah Saw bertahajjud di malam-malam bulan Ramadhan, membaca al-Qur’an dengan tertib. Beliau tidak melalui ayat Rahmat, kecuali beliau memohonnya kepada Allah. Beliau tidak melalui ayat azab, kecuali beliau berlindung diri kepadaNya. Beliau mengumpulkan antara sholat, qira’at, doa dan tafakkur. Disunnahkan untuk memperbanyak doa pada malam tersebut. Diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dari ‘Aisyah, bahwa Rasul mengajarkan kepada ‘Aisyah doa yang diucapkan pada malam al-qadar, yaitu: “Wahai Tuhanku, Sesungguhnya Engkau adalah Tuhan Yang Maha Pemaaf, Engkau menyukai kemaafan. Maka maafkanlah aku.” Dalam Hasyiyah al-Jalâlain, as-Sawi berkata, “Doa yang paling baik dido’akan pada malam itu (alqadar) ialah memohonkan kemaafan dan ke’afiatan, sebagaimana yang telah diterima dari Nabi Saw.” Telah diriwayatkan dari ‘Aisyah ra, bahwasanya dia berkata: “Aku bertanya, ‘Ya Rasulullah! Apa pendapatmu jika aku tahu kapan malam Lailatul Qadar (terjadi), apa yang harus aku ucapkan?’ Beliau menjawab, ‘Ucapkanlah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul afwa fa’fu’annî (Ya Allah Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku)’.” 259 Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw bersabda:
259

HR. Tirmidzi, no. 3760; Ibn Mâjah, no. 3850 dari Aisyah, sanadnya shahih. Lihat Syarhnya Bughyatul Insan fi Wadhaifi Ramadhan, hal. 55-57, karya Ibn Rajab al-Hambali.

~123~

pendurhaka kepada ibu-bapak. kecuali empat orang. dan memutus tali silaturahmi. lalu dimaafi mereka dan dirahmatiNya.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam “Sesungguhnya Allah melihat pada malam al-qadar kepada orang-orang mukmin dari ummat Muhammad. yaitu: peminum arak. orang yang selalu bertengkar.” ~124~ .

Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam BAB XVIII . harapan akan bertemu dengan Allah SWT penuh rasa senang. yaitu Hari Raya berbuka (Iedul Fithri) dan Hari Raya Qurban (Iedul Adha). Anas bin Malik berkata. Kata Nabi Saw. Kebahagiaan tersebut lahir dari: Pertama. mereka tidak merasakan puasa Ramadhan sebagai beban memberatkan. Allah ‘Azza wa Jalla telah mewajibkan shaum Ramadhan dan aku telah mensunnahkan sholat malamnya (Terawih). Seusai shaum Ramadhan. Kedua.” [HR.” [HR.” [HR. atau setidaknya. Ketika Nabi Saw datang ke Madinah beliau bersabda: “Dulu kalian memiliki dua hari saat bermain-main pada keduanya. bukan pula karena telah bebas dari kungkungan puasa. kaum Muslim merayakan Hari Raya Iedul Fithri. Kebahagiaan yang ada adalah kebahagiaan karena telah berhasil menunaikan salah satu kewajiban dan kesiapan untuk menunaikan kewajiban-kewajiban berikutnya. Orang Indonesia menyebutnya Lebaran. Kaum Mukmin yang memahami Ramadhan sangat ingin agar sepanjang tahun adalah bulan Ramadhan. Iedul Fithri ini merupakan hari raya ummat Islam. Sebab. bukan kebahagiaan sehari saat Iedul Fithri semata. Wajarlah kaum Mukmin merasa gembira pada saat hari raya tersebut. Bukhâri]. kegembiraannya bukanlah karena pesta dan hiburan. Sesungguhnya. disyari’atkan Hari Raya Iedul Fithri sebagai hari penuh kegembiraan. kebahagian seperti itu merupakan kebahagiaan yang lahir dari keterpaksaan. an-Nasâ’i]. Ramadhan saja terus. bahwa dulu pada zaman Jahiliah bangsa Arab memiliki dua hari dalam setahun saat mereka bermain dan bersuka ria. Rasulullah Saw menegaskan: “Siapa saja yang mendirikan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap (balasan Allah SWT) niscaya diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik daripada kedua hari raya tersebut. bahkan kalau perlu tidak usah lagi ada hari raya. dan bahagia. Puasa yang telah dijalaninya dengan baik akan mengantarkannya untuk memperoleh kebahagiaan tersebut. siapa saja yang shaum Ramadhan dan ~125~ . Bukhâri].IEDUL FITHRI Memaknai Kebahagiaan Iedul Fithri Setiap usai shaum Ramadhan. Allah SWT berjanji untuk memberikan ampunan tersebut. Kebahagiaan demikian dilandasi oleh sabda Rasulullah Saw: “Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan yang membahagiakannya. melainkan kebahagiaan hakiki di akhirat kelak. kebahagiaan karena akan mendapatkan ampunan dari Allah SWT yang diberikan kepadanya. Ketika berbuka (termasuk berbuka pada saat Iedul Fithri) ia bahagia dan ketika ia bertemu dengan RabbNya ia pun bahagia karena puasanya itu. Shaum dan qiyâmul lail yang telah ia lakukan penuh kesungguhan diyakini akan menjadi wasilah diampuninya dosa. bahagia jauh dari kewajiban. Karena itu. Namun. Sebab. gembira.

al-Baqarah [2]: 183). janganlah kalian mendekatinya. Allah mengetahui bahwa kalian tidak dapat menahan nafsu kalian. Ahmad]. Itulah larangan Allah. Allah SWT menegaskan. Ayat ini menegaskan bahwa orang yang menunaikan puasa dengan benar sejatinya menjadi orang yang bertakwa. Karena itu. (tetapi) janganlah kalian campuri mereka itu. dan makan-minumlah hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam. Allah telah menerangkan ayat-ayatNya kepada manusia supaya mereka bertakwa. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada manusia supaya mereka bertakwa (Qs. janganlah kalian mendekatinya.” (Qs. Dengan kata lain. Lantas. Orang yang hari ini lebih buruk daripada hari kemarin merupakan orang yang celaka. lebih taat kepada Allah SWT setelah Ramadhan. produk apa yang dihasilkan dalam proses puasa tersebut? Allah SWT menjelaskan dalam firmanNya: “Hai orang-orang yang beriman. Iedul Fithri atau Lebaran harus dipandang sebagai kelahiran kembali orangorang yang mendapatkan ampunan dari Allah SWT dan menjelma menjadi orang bertakwa. puasa menyebabkan ketakwaan. mereka itu adalah pakaian bagi kalian dan kalian pun adalah pakaian bagi mereka.” Saat menjelaskan beberapa aturan Ramadhan dalam ayat tersebut. Menjadikan Lebaran Lebih Bermakna Seperti diketahui. Satu-satunya orang yang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin. al-Baqarah [2]: 187). ~126~ . Karenanya. Karena itu. Jelaslah. sedangkan kalian beritikaf dalam masjIed.” Demikianlah. Sekarang campurilah mereka. kata Imam al-Qurthubi. orang yang memahami hal ini akan menjadi orang yang lebih taat dengan ketakwaannya yang baru tersebut setelah Ramadhan. Allah SWT menyatakan. Lebih jauh. Lebaran akan bermakna hanya jika setiap Muslim menampakkan ketakwaan tersebut dalam aktivitas sehari-hari. dalam al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân. bulan sekarang lebih baik daripada bulan yang lalu. yakni orang yang memelihara dirinya dari kemaksiatan. carilah apa yang telah ditetapkan Allah untuk kalian. muara puasa adalah mengikuti ayatayat yang diwahyukan Allah SWT dengan cara menjauhi larangan Allah SWT dan melaksanakan perintahNya. Itulah takwa sebenarnya. Karena itu. hari raya tersebut merupakan hari pertama setelah proses puasa selesai. melainkan awal dari ketakwaan baru. Karena itu. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam. diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. “Dihalalkan bagi kalian pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kalian. Allah mengampuni kalian dan memaafkan kalian. puasa itu mematahkan syahwat sebagai pangkal kemaksiatan (lihat Tafsîr Jalâlain). Di antara aktivitas yang lahir dari ketakwaan dan akan menjadikan Iedul Fithri bermakna adalah sebagai berikut: Pertama. “Itulah larangan Allah. Karenanya.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam melaksanakan qiyâm Ramadhan dengan mengharap (ridha Allah SWT) niscaya ia akan keluar dari dosa-dosanya laksana hari ia dilahirkan ibunya [HR. Berdasarkan hal tersebut. Sebab. Lebaran bukanlah akhir dari ketaatan. Iedul Fithri atau Lebaran ada setelah ditunaikan puasa Ramadhan. Orang yang hari ini sama dengan hari kemarin termasuk rugi. yaitu fajar.

Namun. “Siapa saja yang dikehendaki Allah mendapatkan kebaikan niscaya Dia akan memahamkannya dalam perkara agama (dîn). mereka segera mengingat Allah lalu memohon ampunan atas dosa-dosa mereka. Kelima. Semua ini mengisyaratkan nilai hubungan persaudaraan dalam Ramadhan. keikhlasan. kaki) serta akal dan hati. Muslim dan Ahmad]. lebih meningkatkan silaturahmi dan ukhuwah Islamiyah. dengan cara menuntut ilmu. Bulan Ramadhan merupakan bulan diturunkannya al-Qur’an sebagai petunjuk bagi seluruh ummat manusia. keistiqamahan. Sedekah yang paling utama adalah sedekah pada bulan Ramadhan [HR. sedekah. Bila ada orang yang mengajak bertengkar. tangan. kesabaran. Perkataan palsu dan perbuatan palsu menyebabkan Allah tidak mempedulikan puasanya [HR. bangun malam. Nabi Saw didatangi Malaikat Jibril untuk mengajarkan al-Qur’an. Atas dasar inilah dakwah merupakan karakter kaum Mukmin. orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri. Ketiga. Keenam. dan aktivitas lain yang selama ini dilakukan pada bulan Ramadhan dilakukan pula di luar Ramadhan. istighfar.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Dia cepat dalam melakukan ketaatan untuk meraih ampunan dan surgaNya. Sekalipun Allah SWT menjamin mengampuni orang-orang yang benar-benar berpuasa Ramadhan. memelihara amalan-amalan rutin Ramadhan. Karenanya. dan semangat dakwah akan terus menyala bahkan nyalanya lebih besar lagi sejak Lebaran. Bukhâri. dengan menyatakan. Tidak mungkin petunjuk itu sampai bila tidak didakwahkan. memperbanyak amalan sunat.” [HR.” (Qs. sholat berjamaah. lebih giat berdakwah. lisan. at-Tirmidzi. bila seseorang memiliki kesalahan terhadap sesama manusia maka orang tersebut diperintahkan untuk meminta maaf kepadanya.” [HR. Abû Dâwud. siapa lagi yang dapat ~127~ . Mereka tetap bertobat sebagai salah satu karakter orang bertakwa seperti tercantum dalam firman Allah SWT: Ketujuh. lebih meningkatkan upaya mengetahui hukum-hukum Allah SWT. Keempat. Shaum. terus bertobat dengan tobat yang sebenar-benarnya (taubatan nashûhâ). Ahmad. Ali-‘Imran [3]: 133). saat Ramadhan pun hubungan antar sesama Mukmin menjadi penentu kualitas puasa. Bukhâri]. Di sinilah letak pentingnya terus menjalin hubungan silaturahmi dengan famili dan ukhuwah Islamiyah dengan masyarakat secara keseluruhan. ia diperintahkan tidak meladeninya. sholat. Setiap Muslim yang berharap Lebarannya lebih bermakna akan terus meningkatkan pengetahuan dan pemahamannya tentang hukum Allah SWT. Pada sisi lain. zikir. membaca dan mengkaji al-Qur’an. semangat dalam mencegah diri dari perbuatan maksiat anggota tubuh (mata. Kedua. Dia selalu menunaikan firman Allah SWT: “Bersegeralah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. “Aku sedang berpuasa. semangat jihad fi sabîlillâh. kaum Mukmin tidak akan terlena dengan itu. Allah SWT telah menjanjikan akan mengampuni dosa orang-orang yang melakukan shaum dengan penuh keikhlasan. dan Ibn Mâjah]. Semangat untuk taat pada bulan Ramadhan tetap dikobarkan setelah itu. Setiap bulan Ramadhan. at-Tirmidzi]. Kata Nabi Saw. telinga. Besarnya balasan orang yang memberi buka orang yang sedang berpuasa.

” Waktu Pelaksanaan Sholat Ied Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid al-Halabi al-Atsari. 23-24). 457 dan anNihayah. dalam kitab Ahkâmu al’Iidaini fî as-Sunnah al-Muthahharah (hal. menabuh gendang. dan sanadnya shahih. dan yang demikian itu tatkala tasbih. “Sesungguhnya kita telah kehilangan waktu kita ini. sedangkan mereka mengetahui (Qs. hasil dari Ramadhan adalah ketakwaan. dari jalan Sa’id al-Muqbiri dari Abu Hurairah ra. bahkan saling bertemu satu sama lain sehingga orang-orang menempuh jalan pulang berbeda dengan jalan yang dilaluinya ketika berangkat. jld. “Iedul Fithri bukanlah diperuntukkan bagi orang yang mengenakan sesuatu yang serba baru. al-Hâkim 1/295. Imam Ibn al-Qayyim. “Beliau Saw mengakhirkan sholat Iedul Fithri dan menyegerakan sholat Iedul Adha. pada saat itu ada juga wujud kegembiraan berupa lagu.” 261 Ini riwayat yang paling shahih 262 dalam bab ini. Ibn Mâjah 1317. Seusai menjalankan shaum satu bulan penuh. diriwayatkan juga dari selainnya akan tetapi tidak tsabit dari sisi isnadnya. ditunaikan sholat sunnat. 2. 260 ~128~ . Ali-‘Imran [3]: 135). ketika telah lewat waktu diharamkannya sholat. Ahmad 2/446. Lihat Fath al-Bârî. maka ia mengingkari lambatnya imam dan ia berkata. 261 Yakni waktu sholat sunnah. 2. hal. 456 dan Abû Dâwud meriwayatkan secara bersambung 1135. Pasca Ramadhan para sahabat bukannya santai-santai melainkan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui berbagai ketaatan. Di samping itu. Sekali lagi. al-Baihaqi 3/282.” 260 Zaman Nabi Saw merupakan contoh terbaik untuk itu. Iedul Fithri pada zaman Rasul merupakan hari raya yang sarat dengan penghambaan diri kepada Allah SWT. menjelaskan tentang waktu pelaksaan sholat Ied. maka kita patut merenungkan sabda Rasulullah Saw: “Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan dari puasanya selain dari rasa lapar dan dahaga. tetapi dipersembahkan bagi orang yang ketaatannya bertambah. dan al-Baihaqi 4/270. hal.” 263 HR. Sebab. ada sebuah penuturan yang menyatakan. 262 Bukhâri menyebutkan hadits ini secara muallaq dalam shahihnya jld. Walhasil. Tanpa takwa. Abdullah bin Busr sahabat Nabi Saw pernah keluar bersama manusia pada hari Iedul Fithri.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam mengampuni dosa selain daripada Allah? Mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu. Dan adalah Ibn Umar —dengan kuatnya upaya dia untuk mengikuti sunnah Nabi— tidak keluar hingga matahari terbit. orang yang akan mendapatkan makna Lebaran sebenarnya adalah orang yang berhasil meraih ketakwaan dengan puasanya itu. Apabila sikap pasca Ramadhan tidak menunjukkan meningkatan ketakwaan. atau permainan bela diri. 373. Ibn Mâjah 1/539. ad-Darimi 2/21. Pada saat Iedul Fithri juga para sahabat laki dan perempuan banyak mengeluarkan sedekah. berkata. saat Iedul Fithri digemakan takbîr sebagai wujud pengagungan Allah SWT. Lebaran hanyalah sebuah kehampaan. dilangsungkan khutbah.

sholat Iedul Adha dilakukan di awal waktu agar manusia dapat menyembelih hewan-hewan kurban mereka. 442. “Waktu sholat Iedul Fithri dan Iedul Adha adalah dimulai dari naiknya matahari setinggi satu tombak sampai tergelincir. jld. sedangkan sholat Iedul Fithri diakhirkan agar manusia dapat mengeluarkan zakat Fithri mereka. dan seseorang tidak boleh terlambat dari waktu yang telah ditetapkan tersebut. Jika sholat dikerjakan di luar waktunya. kemudian kembali ke kaumnya untuk mengimami sholat Isya’. Minhajul Muslim. Dari Abu Umair bin Anas. 1. 266 Shafwât at-Tafâsîr. seseorang telah usai mengerjakan sholat Isya’. berkata. Misalnya. seseorang telah usai mengerjakan sholat berjama’ah.” (Qs. ada tiga kasus yang membolehkan seseorang mengerjakan sholat kembali dua kali. al-Nisâ’ [4]:103). sholat itu adalah ibadah yang pelaksanaannya dikaitkan dengan waktu. jika tidak diketahui hari Ied kecuali pada akhir waktu maka sholat Ied dikerjakan pada keesokan paginya. dan sholat Iedul Fithri dikerjakan pada tanggal 2 Syawal. maka ia disunnahkan mengerjakan sholat bersama jama’ah yang lain itu. an-Nasâ’i 3/180. seseorang mendapati seseorang 263 264 Zâdul Ma'ad. Al-Qur’an telah menyatakan: “Sesungguhnya sholat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. ~129~ . Akan tetapi. Ketiga. Kedua. dan Ibn Mâjah 1653. Yang paling utama. Ali ash-Shabuni menyatakan.” 265 Sahkah Sholat Ied Fithri Dikerjakan Dua Kali dan Tidak Pada Waktunya? Sholat Ied mesti dikerjakan pada tanggal 1 Syawal. sholat Shubuh dikerjakan di siang hari. atau karena sebab-sebab lain. 302. sholat Isya’ dikerjakan pada pagi hari. 278. Dalam masalah ini. 266 Mengerjakan Sholat Dua Kali Adapun mengenai pengerjaan sholat hingga dua kali untuk keperluan-keperluan tertentu. Pertama. maka hal itu tidaklah bertentangan dengan syari’at. bahwa sholat itu adalah kewajiban yang waktunya telah ditetapkan.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Sedangkan Syaikh Abu Bakar al-Jazairi. Abû Dâwud no. maka Nabi memerintahkan mereka untuk berbuka dan pergi ke mushalla mereka keesokan paginya. Jika seseorang mengerjakan sholat Ied diluar tanggal tersebut. hal. maka ia mesti mengerjakan sholat Iedul Fithri hari itu juga. maka sholatnya tidak sah. kecuali karena terlambat informasi. Jika informasi tersebut sampai kepadanya sebelum Dhuhur. 265 HR. kemudian ia menjumpai jama’ah yang lain. dari paman-pamannya yang termasuk sahabat Nabi Saw: “Mereka bersaksi bahwa mereka melihat hilal (bulan tanggal satu) kemarin. hal. 1. Pada dasarnya. hal.” 264 Tetapi. jld. 1157. jika seseorang baru mendapatkan informasi ru’yatul hilal setelah lewat Dhuhur. dengan sanad yang shahih. maka sholatnya tidak sah. maka ia boleh mengerjakan sholat Iedul Fithri pada besoknya. pada kasus Iedul Fithri.

maka ia disunnahkan untuk sholat bersama orang tersebut agar ia bisa sholat Jama’ah. kemudian ia melihat jama'ah sholat yang lain. Kemudian.” [HR. bahwa hadits ini merupakan dalil bolehnya seseorang sholat bersama dengan seseorang yang sholat sendiri. maka disunnahkan baginya untuk sholat bersama jama'ah tersebut. dan Imam an-Nasâ’i yang menyatakan. bukan dengan niat sholat fardhu. dan at-Tirmidizi]. disunnahkan baginya untuk sholat menemani orang tersebut. Abû Dâwud. Jama’ah]. Adapun riwayat yang dituturkan oleh Imam Ahmad. bahwasanya ia berkata. lalu kembali kepada kaumnya untuk mengimami mereka. dan pada saat itu ada dua orang laki-laki dari kaum lain yang tidak ikut sholat bersama Rasulullah Saw. aku sholat Shubuh bersama beliau Saw di masjid al-Khîf. yakni dengan niat sholat sunnah. Dari Jabir ra diriwayatkan. Imam asy-Syaukani mengatakan. sesungguhnya kami telah sholat di perjalanan kami. hingga gemetarlah sendi-sendi mereka. hendaklah ia sholat bersamanya. Ibn Raf’ah berkata. jika kalian berdua telah sholat di perjalanan kalian. ~130~ . Lalu. walaupun mereka telah sholat di dalam masjid tersebut. Imam at-Tirmidzi berpendapat. Beliau bertanya. 185. Ketika sholat telah usai. Keempat.” [HR. Rasulullah Saw mendatangi keduanya. lalu sholat bersama mereka dengan membaca surat al-Baqarah. Saya pergi untuk menunaikan haji bersama Rasulullah Saw. sedangkan Rasulullah Saw dan para shahabatnya telah usai mengerjakan sholat berjama’ah. seseorang yang telah sholat fardhu secara berjama’ah atau sendirian (munfarid) disunnahkan mengulangi sholatnya (dengan niat sholat sunnah) jika ia menjumpai jama’ah yang lain. Setelah itu. maka ia disunnahkan untuk mengerjakan sholat bersama jama’ah tersebut sebagai ibadah nafilah (tambahan). Rasulullah Saw bersabda. maka sholatlah kalian bersama mereka. kemudian ia menemui sholat jama’ah.” [HR. “Seluruh ulama telah sepakat. seorang telah sholat di dalam perjalanannya. dikarenakan ketinggalan jama’ah. Nailul Authar. Sebagian ulama juga berpendapat. Demikianlah. 267 Imam asy-Syaukani. Sesungguhnya hal itu merupakan nafilah bagi kalian. bahwasanya ia bercerita: “Muadz biasanya bersembahyang Isya’ dengan Rasulullah Saw. Dari Abu Sa’id dituturkan bahwasanya ia berkata: “Ada seorang laki-laki masuk ke dalam masjid. berdirilah seorang laki-laki dan ia sholat bersama laki-laki tersebut’.” 267 Berdasarkan hadits di atas. jika seseorang telah selesai mengerjakan sholat berjama'ah. bahwa suatu kaum dibolehkan sholat berjama’ah di dalam masjid. ‘Barangsiapa yang hendak bersedekah kepada orang itu. kemudian kamu mendatangi sebuah masjid yang di dalamnya ada sholat jama’ah. tetapi Muadz tetap sholat bersama beliau. “Jangan lakukan seperti itu. Pada suatu malam. Nabi Saw mengundurkan sholat Isya. “Apa yang mencegah kalian berdua untuk sholat bersama kami?” Keduanya berkata. bahwa siapa saja yang melihat seseorang sholat sendirian karena tidak mengikuti jama’ah. jld. meskipun ia telah mengerjakan sholat tersebut secara berjama’ah. hal.” Rasulullah Saw menjawab. Muadz kembali kepada kaumnya. “Ya Rasulullah.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam mengerjakan sholat sendirian. beliau segera berpaling. Imam Ahmad. Khamsah kecuali Ibn Mâjah]. 3. Dari Yazid bin al-Aswad dituturkan.

tidak wajib sholat Jum’at baik bagi orang yang datang maupun orang yang ditempati sholat Jum’at. sholat Jum’at tidak gugur dari penduduk kota (ahlul amshâr/ahlul madinah) yang di tempat mereka diselenggarakan sholat Jum’at. Imam ad-Dimasyqi dalam kitab Rahmatul Ummah fi Ikhtilaf al-A’immah. “Jika berkumpul hari raya dan Jum’at. Menurut Imam Ahmad. tanpa mengikuti sholat Jum’at. maka menurut pendapat Imam Syafi’i yang shahih. Muhammad Shiddiq al-Jawi. Jadi. baik oleh penduduk kota yang ditempati sholat Jum’at maupun oleh penduduk yang datang dari kampung. Tetapi mereka wajib sholat zhuhur. gugur Jum’atnya. zhuhur dan Jum’at gugur bersama-sama pada hari itu. Disebutkannya bahwa. maka yang dimaksud dengan hadits ini adalah mengerjakan sholat fardhu dua kali dengan niat sholat fardhu. yang di tempatnya itu tidak dilaksanakan sholat Jum’at. Demikian menurut pendapat Imam Syafi’i yang shahih. Inilah pendapat Imam Syafi’i. Menurut ‘Atha. Imam Malik dan Abu Hanifah berpendapat. bahwa sholat Jum’at tidak gugur dari penduduk kampung yang mengerjakan sholat Jum’at.” Ad-Dimasyqi tidak menampilkan pendapat Imam Malik. Jadi jika mereka —yakni orang yang datang dari kampung— telah sholat hari raya. Ini pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam Malik. Adapun bagi orang yang datang dari kampung lain. bagi penduduk kampung wajib sholat Jum’at. tanpa mengikuti sholat Jum’at. maka mukallaf dituntut untuk melaksanakannya semuanya…” Berdasarkan keterangan di atas.”. Ibn Rusyd dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid menyatakan pendapat Imam Malik sama dengan pendapat Imam Abu Hanifah. ~131~ . Seseorang tidak boleh mengerjakan sholat fardhu dua kali dengan niat sholat fardhu. boleh mereka terus pulang. Kedua. Mereka beralasan dengan hadits-hadits di atas. Maka tidak ada sholat sesudah sholat hari raya selain sholat Ashar. “Apabila hari raya bertepatan dengan hari Jum’at. maka hal ini ada tuntunannya di dalam syari’at. sholat Jum’at tetap wajib ditunaikan. Menurut pendapat Imam Abu Hanifah. menyebutkan bahwa. Kewajiban sholat Jum’at gugur sebab mengerjakan sholat hari raya. sholat Jum’at tetap wajib dan tidak gugur dengan ditunaikannya sholat hari raya. Sedang bagi orang yang datang dari kampung atau padang gurun (ahlul badâwi/ahlul ‘âliyah). oleh KH. 268 Lihat Hukum Sholat Jum’at di Hari Raya. Ini pula pendapat Utsman dan Umar bin Abdul Aziz. sedangkan jika sholat yang kedua diniatkan sholat sunnah. Maka jika mereka telah sholat hari raya. gugur kewajiban sholat Jum’atnya. jelaslah bahwa dalam masalah ini terdapat empat pendapat: Pertama. meskipun hari sebelumnya ia telah mengerjakan sholat Iedul Fithri dengan niat mencari pahala sholat sunnah (nafilah). “Janganlah kamu mengerjakan sholat dalam sehari dua kali.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam bahwasanya Rasulullah Saw bersabda. Sebagian orang membolehkan mengerjakan sholat Iedul Fithri. boleh bagi mereka terus pulang. Hukum Sholat Jum’at pada Hari Raya Iedul Fithri 268 Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum sholat Jum’at yang jatuh bertepatan dengan hari raya Iedul Fithri.

hendaklah dia sholat’. Kemudian Nabi berkata.” 269 Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Dan sesungguhnya kami akan mengerjakan Jum’at. ini juga pendapat Ibn Zubayr dan ‘Ali. tidak dibenarkan baginya untuk meninggalkan sholat Jum’at. bagi mereka yang telah menunaikan sholat hari raya tersebut. Demikian pendapat ‘Atha bin Abi Rabbah. jika seseorang telah menunaikan sholat hari raya —yang jatuh bertepatan dengan hari Jum’at— gugurlah kewajiban atasnya untuk menunaikan sholat Jum’at. Ibn Mâjah dan al-Hâkim juga meriwayatkan hadits ini dari sanad Abu Shalih. Hukum Kedua. Ulama hadits lain menilainya hadits mursal. Tetapi mereka wajib sholat zhuhur. mereka yang pada pagi harinya tidak melaksanakan sholat hari raya. zhuhur dan Jum’at gugur sama-sama gugur kewajibannya pada hari itu. tidak boleh meninggalkan zhuhur.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Ketiga. tak ada lagi sholat sesudahnya selain sholat Ashar. Abû Dâwud. Dikatakan. tidak wajib sholat Jum’at baik bagi orang yang datang maupun bagi orang yang ditempati sholat Jum’at. jika orang yang telah menunaikan sholat hari raya tersebut memilih untuk tidak menunaikan sholat Jum’at. Maka barangsiapa berkehendak (sholat hari raya). 270 269 ~132~ . HR. hadits ini shahih. Jadi setelah sholat hari raya.” 270 HR. dan dalam isnadnya terdapat Baqiyah bin Walid. Hadits ini menurut Ibn Khuzaimah. Dia boleh melaksanakan sholat Jum’at dan boleh juga tidak. wajib melaksanakan sholat zhuhur. Hukum Ketiga. kecuali at-Tirmidzi. tak perlu sholat Jum’at lagi. cukuplah baginya sholat hari raya itu. Imam ad-Daruquthni menilai. bahwa pendapat yang rajih (kuat) adalah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal. dalilnya adalah hadits-hadits Nabi Saw yang shahih. Keterangan Hukum Pertama Mengenai gugurnya kewajiban sholat Jum’at bagi mereka yang sudah melaksanakan sholat hari raya. Rincian hukumnya adalah sebagai berikut: Hukum Pertama. Hukum Keempat. shahih. Pendapat yang Rajih Orang yang meneliti masalah ini akan mendapatkan kesimpulan. wajib atasnya untuk menunaikan sholat Jum’at. al-Khamsah. bahwa Nabi Saw bersabda: “Sungguh telah berkumpul pada hari kalian ini dua hari raya. lebih utama dan disunnahkan tetap melaksanakan sholat Jum’at. yang diperselisihkan ulama. antara lain yang diriwayatkan dari Zayd bin Arqam ra bahwa dia berkata: “Nabi Saw melaksanakan sholat Ied (pada suatu hari Jum’at) kemudian beliau memberikan rukhshah (kemudahan/keringanan) dalam sholat Jum’at. Keempat. Demikian pendapat Imam Ahmad. ‘Barangsiapa yang berkehendak (sholat Jum’at).

apakah gugurnya sholat Jum’at ini hanya untuk penduduk kampung/desa (ahlul badâwi/ ahlul ‘âliyah) —yang di tempat mereka tidak diselenggarakan sholat Jum’at— sedang bagi penduduk kota (ahlul amshâr/ahlul madinah) —yang di tempat mereka diselenggarakan sholat Jum’at— tetap wajib sholat Jum’at? Yang lebih tepat.” Kesimpulannya. Pada hadits Abu Hurairah ra (hadits kedua) terdapat sabda Nabi innâ mujammi’ûn (Dan sesungguhnya kami akan mengerjakan Jum’at). tak ada yang lebih utama daripada yang lain. Dia boleh menunaikan sholat Jum’at dan boleh juga tidak. Dalam hal ini tidak ada dalil yang mengkhususkan (takhsis) keumumannya. disertai tetapnya hukum azimah namun hamba tidak diharuskan mengerjakan rukshshah itu. yakni boleh dikerjakan dan boleh tidak. Mafhum mukhalafah (ungkapan tersirat) dari hadits itu — dalam hal ini berupa mafhum syarat. Hal ini diperkuat dan diperjelas dengan sabda Nabi dalam kelanjutan hadits Zayd bin Arqam di atas man syâa an yushalliya falyushalli (barangsiapa yang berkehendak [sholat Jum’at]. baik untuk penduduk kampung/desa maupun penduduk kota. yaitu dengan adanya lafadz man (barangsiapa/siapa saja) yang mengandung arti umum. hendaklah dia sholat). Namun dalam hal ini terdapat nash yang menunjukkan keutamaan sholat Jum’at daripada meninggalkannya. menjadi rukhshah. Namun karena rukhshah itu tidak menghilangkan azimah sama sekali. Mungkin ada pertanyaan. akan tetapi Nabi ~133~ . Jadi sholat Jum’at pada saat hari raya. Ini menunjukkan bahwa setelah sholat hari raya ditunaikan. menjadi rukhshah. gugurnya kewajiban sholat Jum’at ini berlaku secara umum. rukhshah adalah hukum yang disyari’atkan untuk meringankan hukum azimah (hukum asal) karena adanya suatu udzur (halangan). Ini adalah manthuq (ungkapan tersurat) hadits. maka tetaplah lafadz man dalam hadits-hadits di atas berlaku secara umum. maka sholat Jum’at masih tetap disyari’atkan.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Hadits-hadits ini merupakan dalil bahwa sholat Jum’at setelah sholat hari raya. karena terdapat udzur berupa pelaksanaan sholat hari raya. sehingga boleh dikerjakan dan boleh pula tidak dikerjakan. Ini menunjukkan bahwa meskipun Nabi menjadikan sholat Jum’at sebagai rukhshah. mana yang lebih utama (afdhal). Pada hadits Zayd bin Arqam di atas (hadits pertama) Nabi Saw bersabda tsumma rakhkhasha fi al-jumu’ati (kemudian Nabi memberikan rukhshash dalam [sholat] Jum’at). baik ia penduduk kampung maupun penduduk kota. baik keutamaan azimah maupun rukhshah. orang yang telah menjalankan sholat hari raya. antara azimah (hukum asal) dan rukhshah kedudukannya setara. maksudnya sholat Jum’at boleh dikerjakan dan boleh tidak. gugurlah kewajiban atasnya untuk menunaikan sholat Jum’at. menunaikan sholat Jum’at ataukah meninggalkannya? Pada dasarnya. karena ada lafadz man sebagai syarat— adalah “Barangsiapa yang tidak berkehendak sholat Jum’at. Yang demikian itu karena nash-nash hadits di atas bersifat umum. maka tidak perlu sholat Jum’at. Keterangan Hukum Kedua Bagi mereka yang sudah sholat hari raya. Menurut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani. kecuali terdapat nash yang menjelaskan keutamaan salah satunya. sholat hari raya menjadi rukhshah (kemudahan/keringanan). Yakni. Dan lafadz umum tetap dalam keumumannya selama tidak terdapat dalil yang mengkhususkannya.

Tidak dibenarkan baginya untuk meninggalkan sholat Jum’at.” Jadi. Maka jika hukum pengganti (badal) —yaitu sholat Jum’at— tidak dilaksanakan. Ini adalah manthuq hadits. Wajibnya sholat zhuhur itu. Yang demikian itu adalah mengamalkan Istishhab. Hanya saja perbuatan Nabi ini tidak wajib. orang yang tidak melaksanakan sholat hari raya. sehingga konsekuensinya tetap wajib hukumnya sholat Jum’at. tidak termasuk yang dikecualikan dari keumuman nash yang mewajibkan sholat Jum’at. bagi sholat zhuhur itu. yakni orang yang tak melaksanakan sholat hari raya. tidak mencakup pengguguran kewajiban zhuhur. sebab Nabi sendiri telah membolehkan untuk tidak sholat Jum’at.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Muhammad Saw faktanya tetap mengerjakan sholat Jum’at. Dalilnya adalah hadits Abu Hurairah ra (hadits kedua) dimana Nabi Saw bersabda fa man syâ-a. Boleh dikerjakan dan boleh ditinggalkan. wajib atasnya untuk tetap menunaikan sholat Jum’at. dikarenakan nash-nash hadits yang telah disebut di atas. tidak boleh meninggalkannya. Mafhum mukhalafahnya. yaitu sholat zhuhur. Dengan demikian. kewajiban sholat zhuhur adalah kewajiban asal (al-fadlu al-ashli). maka ia wajib melaksanakan sholat zhuhur. orang yang tidak sholat hari raya. tak perlu sholat Jum’at lagi). tidak mendapat rukhshah. Mereka yang tidak melaksanakan sholat hari raya. kembalilah tuntutan syara’ kepada hukum asalnya. selama tidak terdapat dalil yang mengecualikan atau mengubah berlakunya hukum asal. Yang dikecualikan dari keumuman nash itu adalah yang telah sholat hari raya. ~134~ . ajzaa-hu ‘anil jumu’ati (Maka barangsiapa yang berkehendak [sholat hari raya]. tidak wajib. Maka dari itu. Dengan kata lain. Padahal. Tetapi (rukhshah) itu khusus bagi orang yang menunaikan sholat Ied. Imam ash-Shan’ani ketika memberi syarh (penjelasan) terhadap hadits di atas berkata: “Hadits tersebut adalah dalil bahwa sholat Jum’at —setelah ditunaikannya sholat hari raya— menjadi rukhshah. ia tetap dituntut menjalankan sholat Jum’at. Jadi. wajibkah ia sholat zhuhur? Jawabannya. tidak mencakup orang yang tidak menjalankan sholat Ied. rukhshah untuk meninggalkan sholat Jum’at ini khusus untuk mereka yang sudah melaksanakan sholat hari raya. dia wajib sholat zhuhur. wajib atasnya sholat Jum’at. sedang sholat Jum’at adalah hukum pengganti (badal). cukuplah baginya sholat hari raya itu. hanya menggugurkan kewajiban sholat Jum’at. Keterangan Hukum Keempat Mereka yang pada pagi harinya tidak melaksanakan sholat hari raya. yaitu kaidah hukum untuk menetapkan berlakunya hukum asal. Keterangan Hukum Ketiga Jika orang yang sudah sholat hari raya memilih untuk meninggalkan sholat Jum’at. perbuatan Nabi itu sifatnya sunnah. jika seseorang sudah sholat hari raya lalu memilih untuk meninggalkan sholat Jum’at.

yang hukumhukumNya membawa rahmat bagi semesta alam. serta para pengikutnya yang tetap istiqamah berjuang untuk menegakkan dan menjalankan hukum-hukum Allah SWT. dan tahmid ini. sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah dalam FirmanNya: “Hai orang-orang yang beriman. al-Baqarah [2]: 183). seiring dengan berakhirnya bulan suci Ramadhan dan datangnya 1 Syawal 1426 H. Dialah al-Musyarri’. Kembali pada Syari’ah Kunci Kemenangan Umat Islam Ma’asyiral muslimin rahimakumullah Segala puji hanya milik Allah. dengan segala tantangan. sudah seharusnya dibuktikan secara nyata dengan bertambahnya ketaatan mereka kepada Allah. Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan dan teladan kita. Ketaatan yang tidak sebatas dalam urusan ibadah ritual semata. dan rintangannya. Yaitu. Dialah yang akan menimpakan azab yang pedih. diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. kaum Muslim wajib menjalankan urusan pemerintahan sesuai dengan aturan Allah.KUMPULAN KHUTHBAH IEDUL FITHRI Khuthbah 1: Kembali pada Fitrah. Maha Tinggi. Dzat yang Maha Pembuat hukum. akan tetapi ketaatan yang utuh dan menyeluruh. Nabi Besar Muhammad Saw. para shahabatnya. wa lillahil hamd Ma’asyiral muslimin rahimakumullah Lantunan takbir. Lantunan takbir. tahlil. terhadap segala perbuatan manusia di dunia. tahlil. kemenangan yang berhasil diraih kaum Muslim dalam menjalankan ibadah shaum Ramadhan kali ini. menjalankan urusan ~135~ . Dia pula yang akan memberikan balasan berupa kenikmatan jannah (surga) —yang luasnya seluas langit dan bumi— untuk siapa saja yang telah beramal sesuai dengan syari’atNya dan kepada orang-orang yang ikhlash memperjuangkan kemuliaan Islam dan umatnya. Dzat yang telah menciptakan dan mengatur alam semesta ini dengan seluruh aturanNya yang utuh dan sempurna. Ini berarti. ketaatan dengan menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya dalam seluruh aspek kehidupan.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam BAB XIX . halangan. KepadaNya segenap makhluk bergantung dan hanya kepadaNya segala sesuatu akan kembali. menjalankan urusan ekonomi sesuai dengan perintah Allah. Jadi. serta menyebarkan risalahNya ke seluruh penjuru dunia hingga di akhir masa. Dialah satu-satunya Dzat yang akan meminta pertanggungjawaban manusia pada yaumul hisab. Dialah al-Khaliq alMudabbir. dan Maha Mulia. Allahu Akbar (3x). neraka dengan api yang menyalaNyala. keluarganya. Dzat Yang Maha Agung.” (Qs. Kemenangan dalam meraih ketaatan dan ketakwaan yang lebih tinggi. sesungguhnya merupakan ungkapan kemenangan yang di raih kaum Muslim dalam menjalankan ibadah shaum Ramadhan. membakar siapa saja yang melanggar perintah dan laranganNya. dan tahmid bergema memenuhi cakrawala.

sementara kaum Muslim yang mengumandangkannya. terusmenerus. di tengah kesulitan masyarakat seperti ini. Kondisi ekonomi dalam negeri kita. sebelum kenaikan tersebut kondisi ekonomi mereka sudah sangat kritis. Lima perusahaan asing. 19 (sembilan belas) bulan setelah hijrah Rasulullah Saw. menjalankan urusan sosial dan budaya sesuai dengan perintah Allah. lantunan takbir sebagaimana yang kita kumandangkan saat ini. apa yang terjadi saat ini? Takbir itu kini dikumandangkan setiap tahun. saat kaum Muslim tengah menunaikan shaum Ramadhan yang pertama. pada 1 Oktober 2005 lalu. Problem yang membelenggu mereka begitu menumpuk. Disamping ketidakamanahan para pejabatnya. kenaikan harga BBM ini juga disebabkan oleh rusaknya sistem yang digunakan dalam menangani urusan migas. Kemenangan mereka dalam menegakkan kedaulatan hukum-hukum Allah di muka Bumi. Menurut BPS. ke Madinah. wujud ketaatan dan ketakwaan yang sebenar-benarnya. yang berhasil diraih oleh kaum Muslim dalam perjuangan mereka li i’lai kalimati-Llah (untuk menegakkan Agama Allah). 2 tahun 2001 yang membuka privatisasi migas. justru DPR akan mendapatkan tambahan tunjangan dana dari APBN sebesar Rp 10 juta perbulan tiap anggota. Namun. seolah tak kunjung usai. Keputusan kenaikan harga BBM yang sedemikian tinggi. Berbagai problematika pun membelit umat ini. misalnya. Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…. UU tersebut memberikan hak (kewenangan) kepada berbagai pihak termasuk perusahaan multinasional. atau bahkan setiap saat. dan kemenangan mereka dalam menundukkan kekufuran dalam segala bentuknya. sebesar 70 persen ladang minyak ~136~ . baik di dalam maupun di luar negeri. saat ini ada 52 juta orang miskin dan 40 juta orang yang tidak memiliki pekerjaan. wujud kemenangan nyata yang seharusnya kita raih. Ironisnya. Inilah takbir yang dikumandangkan pertama kali saat Perang Badar. kemunduran demi kemunduran. sebagai hasil dari ibadah shaum kita di bulan Ramadhan. kemerosotan demi kemerosotan.5 miliar perbulan untuk 550 anggota DPR. Shell. khususnya UU No. atau Rp 5. Ma’asyiral muslimin rahimakumullah Seperti itulah. Padahal. Persis. regional. sebagaimana kemenangan yang pernah diraih oleh baginda Rasulullah Saw. Lantunan takbir ini pula lah. Ketika kaum Muslim meraih kemenangan dalam peperangan melawan kaum Kafir Quraisy. dan Arco telah menguasai cadangan migas negara. Chevron. selalu dikumandangkan ketika kaum Muslim meraih kemenangan. makin melemahkan dan menyengsarakan rakyat. yang harus kita buktikan di hadapan Allah SWT. Jika kita melihat sejarah. dilantunkan sebagai ungkapan kemenangan yang nyata. yang dikumandangkan ketika kaum Muslim meraih kemenangan. benar-benar telah mendorong masyarakat masuk dalam jurang kesengsaraan yang semakin dalam. maupun lokal untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi kekayaan alam di negeri ini. Total Fina Elf. dan demikian seterusnya.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam politik dalam dan luar negeri sesuai dengan perintah Allah. saat melakukan pembebasan kota Makkah. nasional. dan para shahabatnya dalam menempuh perjuangannya. Kondisi ini akan terus memburuk seiring dengan naiknya harga-harga bahan pokok. Takbir kala itu. yang mayoritasnya adalah kaum Muslim. seperti Exxon Mobil. Dan seperti itu pulalah. senantiasa dibelenggu kekalahan demi kekalahan.

Di Asia Tengah. bahwa perjuangan penegakan syari’ah secara nyata telah mengancam hegemoni sistem Kapitalisme yang menjajah dunia. Ketika terjadi ledakan bom di Jimbaran dan Kuta Bali. bahwa kembalinya syariah dan Khilafah yang kedua di muka bumi ini tidak bisa dibendung lagi. khususnya dunia Islam. Mereka paham. tetapi juga ajaran politik yang agung. ~137~ . yang menjadi agen kaum kafir penjajah. bukan saja sebagai agama ritual. Padahal terdapat ribuan kemungkinan tentang siapa yang berperan sebagai otak pelakunya. Islam juga melarang membunuh warga sipil yang tidak ikut dalam peperangan. dengan motif apapun membunuh orang tanpa haq. beserta sekutunya. seperti Uzbekistan dan Kirgistan. bisa saja peledakan bom itu sengaja dilakukan oleh orang atau kelompok tertentu untuk mengacaukan masyarakat dan negeri ini demi kepentingan politik mereka. saat ini. Khasmir.” [HR. Ma’asyiral muslimin rahimakumullah Isu terorisme juga telah menjadi senjata ampuh bagi negara-negara imperialis Barat. seperti Australia. Karena mereka sadar. penderitaan kaum Muslim tidak kalah tragisnya. Karena Islam dengan tegas melarang siapapun. apalagi jika tindakan itu menimbulkan korban dan ketakutan yang meluas. banyak nash yang melarang kaum Muslim membunuh anak-anak. dan kemiskinan di tengah-tengah sumberdaya alam mereka yang melimpah ruah. Pattani dan Philipina. Nabi Saw pernah bersabda: “Rasulullah Saw melarang tindakan membunuh wanita dan anak-anak. Afganistan dan Irak. Misalnya. Dagestan. Ibn Umar menuturkan. kini AS dan Inggeris telah menjadikan perang melawan terorisme sebagai kedok untuk memerangi Islam.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam dan 80 persen sumber gas. pihak luar negeri. Umat Islam di berbagai negeri Muslim. hingga kini tetap diduduki kaum penjajah Kafir pimpinan AS. merusak milik pribadi dan fasilitas milik umum. pada 1 Oktober lalu. dan orang tua. yang dipimpin oleh AS dan Inggeris. dengan memerangi syariah dan Khilafah. hingga kini masih tetap dalam keterbelakangan. langsung melemparkan tuduhan bahwa peledakan bom itu dilakukan oleh Jamaah Islamiyah (JI). Atau bisa saja peristiwa itu didesain oleh jaringan intelijen internasional untuk mendiskreditkan kaum Muslim dengan cara melakukan rekayasa sistematis serta provokasi untuk terus menyudutkan Indonesia sebagai sarang terorisme. isu itu digunakan untuk menggiring opini publik dunia pada suatu perang global terhadap kaum Muslim yang memperjuangkan kembalinya supremasi Islam. di negeri-negeri Islam yang lain. mereka memaksa pemerintah untuk melakukan liberalisasi ekonomi termasuk sektor migas. Kaum Muslim di Palestina juga masih tetap menderita dalam cengkeraman Yahudi Israel. Maka. umat Islam pun masih tetap dalam belenggu kekejaman para rezim diktator. Pemerintah juga telah tunduk pada tekanan negara-negara imperialis. Bahkan. wanita. Allahu Akbar (3x). wa lillahil hamd Ma’asyiral muslimin rahimakumullah Sementara itu. Australia dan Singapura. kebodohan. Bukhâri]. Demikian juga yang terjadi Chechnya. Dalam peperangan saja. Melalui hutang luar negeri maupun IMF. untuk menguasai dan mencengkram negeri-negeri Islam. secara lebih spesifik.

Dengan kata lain. Saat ini mereka memang tengah merayakan Idul Fitri. Sebab fitrah manusia itu membutuhkan Dzat yang Maha Kuasa. untuk mengatur seluruh aspek kehidupan kita.…! Inilah. dalam urusan pemerintahan. bahwa kemenangan demi kemenangan yang berhasil diraih oleh Rasulullah Saw dan para shahabatnya.” (Qs. ketika manusia mencampakkan aturan-aturan Allah. adalah karena mereka menerapkan Islam secara kaffah dalam kehidupannya. saat ini kaum Muslim masih shalat dengan menggunakan aturan Islam. maka dia telah menyimpang dari fitrahnya. Sikap mengambil sebagian dari Islam dan mencampakkan sebagian yang lain.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. tetapi. kaum Muslim ingin kembali pada fitrahnya. Allahu Akbar (3x). Sikap seperti ini jelas menggambarkan sikap menerima sebagian Islam dan menolak sebagian yang lain. sesungguhnya penyebab utama dari keterpurukan kaum Muslim saat ini karena kehidupan mereka tidak diatur oleh Islam. dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. politik. ekonomi. Allah SWT berfirman: “Apakah kamu beriman kepada sebagian al-Kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu. Yang mampu melahirkan para pejuang Islam yang tangguh dalam mengemban misi-misi pembebasan di berbagai negeri. Negara Khilafah inilah yang mampu mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan hidup rakyatnya. sosial. dan inilah kunci kemenangan umat Islam. dan inilah yang menjadi sumber bencana baginya. Ini pulalah yang menjadikan generasi Islam terdahulu mampu membangun kekuatan “super power”. al-Baqarah [2]: 85). Ingatlah. Inilah fitrah manusia yang seutuhnya. melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia. budaya. berarti juga membutuhkan hukum dan aturan-aturan yang berasal dariNya. yaitu Allah SWT. Yang mampu menumbuh-suburkan perkembangan sains dan teknologi untuk kemaslahatan umat manusia. Yang mampu menjadikan negeri Islam sebagai ~138~ . menikah dengan aturan Islam. Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. beribadah haji dengan aturan Islam. maka semestinya kembali kepada fitrah ini juga harus dipahami dengan kembali kepada hukum dan aturan-aturan Allah dalam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. mengumandangkan takbir. mengurus jenazah dengan aturan Islam. jika dengan menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Mereka telah mencampakkan Islam dalam kehidupan mereka. sekilas potret keterpurukan kaum Muslim saat ini. Memang benar. Negara Khilafah. wa lillahil hamd Karena itu. serta para khalifah sesudahnya. juga merupakan sikap yang bertentangan dengan fitrah manusia. mengerjakan puasa dengan aturan Islam. kembali kepada fitrah adalah kembali kepada syariah Allah. karena manusia memang makhluk yang lemah dan terbatas. baik Muslim maupun Non-Muslim. Jadi. Membutuhkan kepada sesuatu Yang Maha Kuasa. tetapi takbir itu mereka kumandangkan di tengah situasi mereka yang tetap terbelenggu kekalahan dan ketertindasan. yang disegani kawan dan ditakuti lawan. yaitu syariah Islam. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. dan pidana mereka mencampakkan Islam. Padahal Allah SWT telah memperingatkan kita terhadap perbuatan tersebut. Mengapa semua ini masih terjadi? Apa sebenarnya yang menyebabkan semuanya itu? Jika kita meneliti dengan cermat.

” (Qs. pasti Allah SWT akan menolong saudara. di mana kemenangan. kondisi kaum Muslim ketika mereka menerapkan Islam secara kâffah dalam kehidupan mereka. anggota TNI/Polri. di saat bangsa Eropa masih tenggelam dalam kebodohan dan keterbelakangan. ulama. dan janji Allah pasti benar. Nenek moyang saudara adalah para Khulafa’ ar-Rasyidin. atau ketika mereka hidup tidak lagi sejalan dengan fitrahNya. sekali lagi umat yang terbaik. dan surgaNya. sambil menengadahkan tangan kita. dan kebangkitan umat ini benar-nenar akan terwujud kembali. Semua ini tidak hanya berlaku di akhirat. di hari yang mulia ini. Yang mampu menjaga dan melindungani rakyatnya dari ancaman musuh-musuh yang akan membinasakan mereka. serta para pemuda dan mahasiswa. cendekiawan. Selanjutnya. kami menyerukan kepada seluruh umat Islam. wartawan. bermasyarakat dan bernegara. untuk secara sungguh-sungguh mengamalkan Syari’at Islam dan berjuang bersama bagi tegaknya Syari’at Islam secara kâffah. tetapi juga untuk orang-orang Mukmin. Sesungguhnya. Ghafir [40]: 51). yang penuh rahmah dan maghfirah. Saudara adalah pengikut Rasulullah Saw. marilah kita tundukkan kepala kita dengan segala kerendahan hati. Yang mampu menjaga persatuan dan kesatuan negeri-negeri Islam. ridha. untuk memanjatkan doa ke hadirat Allah SWT. sebagaimana yang dikehendaki dalam ibadah shaum Ramadhan. Selama Islam yang saudara emban dan saudara perjuangkan. orpol. Bukan hanya untuk para Nabi. dan menempatkan perjuangan penegakan syariah sebagai agenda utama kaum Muslim. Kondisi ini jelas berbeda dan bertolak belakang dengan kondisi kaum Muslim saat ini. wakil rakyat. sehingga kehidupan mereka pun terpuruk. Inilah. Penerapan syariah ini pula merupakan wujud kembalinya umat ini pada fitrahNya. para panglima Mujahidin. Yang mampu merebut dan mempertahankan negeri Palestina dari tangan-tangan kotor tentara Salib.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam kiblat perkembangan sains dan teknologi. Yang mampu memaksa Amerika untuk membayar pajak tahunan dan menandatangani perjanjian yang tidak menggunakan bahasa mereka. dengan kesaksian. masihkah ada peluang dan harapan untuk mengatasi keterpurukan kaum Muslim saat ini? Allahu Akbar (3x). Jika demikian halnya. usahawan dan serikat-serikat pekerja. pejabat pemerintah. bahasa Negara Khilafah. Negara Khilafah ini pulalah yang ketika itu mampu membebaskan Andalusia dan Konstantinopel. melainkan dengan bahasa (Arab). Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat). ketika mereka mencampakkan Islam. dan Mahaperkasa: ~139~ . keberhasilan. tetapi juga berlaku di Dunia. penerapan syariah dalam kehidupan pribadi. Nabi terakhir dan pemimpin para Rasul. merupakan kewajiban setiap Muslim. Dzat Yang Mahakuasa. wa lillahil hamd Ma’asyiral muslimin rahimakumullah Saudara adalah umat yang terbaik. yang dilahirkan untuk seluruh umat manusia. sekaligus merupakan wujud keberhasilan kita dalam meraih ketakwaan. Allah berjanji menolong siapa saja yang menolongNya. para pimpinan ormas. Berbagai krisis pun menimpa mereka. Akhirnya. setelah sebulan penuh kita membangun dan meningkatkan ketakwaan kita selama Ramadhan.

kami memohon pertolonganMu. Amerika. kalahkanlah mereka. tolonglah kami. Dengan rahmatMu. Ya Allah. tolonglah siapasaja yang menolong kami. Sekali-kali kami tidak akan mengkufuriMu. dan Engkau hinadinakan siapa saja yang Engkau kehendaki. mendustakan para rasulMu. duhai Dzat yang Maha Pengasih. ~140~ . Engkau berikan kekuasaan kepada siapa saja yang Engkau kehendaki. hanya kepada-Mulah kami mengabdi. meminta ampunanMu. cerai-beraikanlah persatuan mereka. kami memohon kepada-Mu negara Khilafah Rasyidah yang mengikuti sunnah NabiMu. dan Khilafah Rasyidah yang mengikuti sunnah NabiMu. Jadikanlah rencana jahat mereka itu sebagai pembawa kehancuran mereka. dan Engkau hinakan kekufuran dan seluruh anteknya.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Ya Allah. Ya Allah. Inggeris dan sekutu mereka yang terlaknat. Maha Raja diraja. adzablah orang-orang Kafir yang telah menghalangi jalanMu. Ya Allah. duhai Sebaik-baik Penolong. Ya Allah. kalahkanlah pasukan kaum Kufar penjajah. Dengannya Engkau muliakan agama-Mu. Kami sepenuhnya iman kepadaMu. KepadaMu-lah kami berlari dan menuju. Ya Allah. Karena Engkaulah Dzat yang Maha Kuasa atas segalanya. Ya Allah. Sesungguhnya adzabMu yang sungguh-sungguh ditimpakan kepada kaum Kufar itu juga pasti akan ditimpakan kepada yang lain. tolonglah saudara-saudara kami. hancurkanlah mereka. dan berlepas diri dari siapapun yang durhaka kepadaMu. Jadikanlah kami dan mereka sebagai para pejuang yang ikhlas untuk menegakkan syariahMu. dan takut akan adzabMu. Engkau muliakan siapasaja yang Engkau kehendaki. Di dalam genggaman-Mulah seluruh kebaikan. Ya Allah. Engkau ambil kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Kami mendambakan rahmatMu. dan membunuhi para pembelaMu. beribadah dan sujud. dan porak-porandakanlah kesatuan mereka.

bulan yang penuh berkah. dalam bidang ekonomi. dalam bidang politik. Artinya. Program 15 hari yang sudah berjalan dari tenggat waktu 100 hari menunjukkan bahwa solusi terhadap berbagai persoalan di dalam negeri sama sekali mengesampingkan petunjuk al-Qur’an dan as-Sunnah. Mereka semua mengagungkan Allah SWT. Kedua.” (Qs. Padahal mereka dipilih oleh bangsa dan rakyat Indonesia yang mayoritas muslim ini bukan untuk itu! Ketiga. Janji keampunanan. Allahu Akbar. rahmat. at-Taubah [9]: 32). dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya. dan ampunan Allah SWT. walaupun orang-orang kafir tidak menyukainya. Di sisi lain kitapun bersedih. Pemerintahan baru yang terbentuk setelah rangkaian pemilu yang melelahkan dan menyedot sumber daya rakyat dan menghabiskan triliunan uang negara kemarin tampaknya masih akan tetap bertumpu pada rel sekularisme. Kemungkinan besar sistem perekonomian Indonesia akan tetap berkiblat kepada gembong kapitalis AS yang selama ini telah ‘berhasil’ meningkatkan kesengsaraan masyarakat. Para wakil rakyat di DPR yang terpolarisasi pada kutub Koalisi Kebangsaan dan Koalisi Kerakyatan lebih memprioritaskan perebutan kekuasaan dan kepentingan pribadi dan kelompok mereka. Rancangan yang dipelopori oleh suatu lembaga dari Depag ini sebenarnya hanya asap dari sebuah api besar sekularisasi yang berusaha menghanguskan aktivitas penegakan syari’at Islam. kembali suci seperti bayi yang baru lahir. dalam bidang agama. Bahagia karena hari ini adalah hari raya kaum muslimin seluruh dunia. Salah satunya yang cukup kontroversial adalah kasus rancangan Kodifikasi Hukum Islam yang isinya menolak syari’at Islam yang terkait dengan keluarga dan rumah tangga. Negara-negara kapitalis dibawah komando AS mengeluarkan dana yang tidak terbatas untuk menjerumuskan kaum Muslim ke dalam jurang sekularisme yang mereka jajakan. Perasaan bahagia bercampur kesedihan menjadi satu di hari ini. Gerakan sekularisasi berskala global sedang berupaya mengenyahkan syari’at Islam dari tengah-tengah umat. Mereka yang diserahi mengurus perekonomian khususnya perdagangan dan perencanaan pembangunan nasional dalam Kabinet Indonesia Bersatu adalah bagian dari mesin kapitalisme global IMF. “Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka. ~141~ . Pertama. Dialah yang memberikan banyak nikmat kepada makhluk-makhlukNya. penjajahan ekonomi kapitalisme global masih akan terus mencengkram kuat perekonomian Indonesia. Pada hari ini kaum muslim berkumpul bersama keluarga. Allahu Akbar.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Khuthbah 2: Meraih Kemenangan Iedul Fithri Dengan Taubat Allâhu Akbar 3X wa lillâhil hamd Hari ini gema takbir membahana saling bersahutan di seluruh penjuru bumi. Ya…bersedih karena belum banyak amal soleh yang kita lakukan di bulan Ramadhan yang baru saja berlalu. Juga kesedihan pun muncul saat kita menengok realitas kaum Muslim sekarang. Apalagi Allah SWT telah berjanji untuk memberikan ampunan kepada hamba-hambaNya yang telah menyelesaikan shaum. al-Khaliq yang menciptakan manusia. kerabat dekat dan para tetangga berulang-ulang mengucapkan takbir kepada Allah. Allahu Akbar.

serta memperbanyak melakukan amalan shaleh. Taubat yang sebenar-benarnya adalah menyesali perbuatan maksiat yang dilakukan dimasa lampau dan tidak mengulanginya lagi. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. Irak. kemiskinan dan kebodohan yang berkepanjangan. Selain kita melakukan dosa dan kemaksiatan yang sifatnya personal. zalim. mungkin kita pernah berdusta. penderitaan. Kapitalisme tidak hanya menjual sekularisme dalam bidang ekonomi dan politik tapi juga mengobral tatanan budaya hedonistik. Kasymir. Kita turut berdosa karena membiarkan mereka teraniaya. Oleh karena itu. tidak menegakkan hukum-hukum Allah —syari’at Islam— secara kâffah dan menyeluruh. Tidak diterapkannya hukum-hukum Allah. Padahal dosa besar ini berpengaruh besar terhadap masyarakat dan kaum muslimin secara keseluruhan. Firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman. tapi telah menjerumuskan kaum muslim pada kehinaan. Media tv dan media cetak secara rutin menemani generasi muda Muslim untuk mengajarkan budaya ‘alternatif’ (baca: maksiat). Tentu saja banyak dosa yang telah kita lakukan selama ini. atau anda gunjingkan. Dengan taubat inilah Allah akan menghapuskan dosa-dosa kita. Palestina. merendahkan orang lain. Jadi kunci turunnya ampunan Allah adalah Taubat. Meskipun dosa ini merupakan dosa besar.” (Qs. Dosa yang kita lakukan ini tidak hanya merugikan diri kita. Sebagian besar budaya yang dilegalkan di negeri ini mengusung berbagai bentuk kemaksiatan. sementara kita tetap berbuat maksiat selepas Ramadhan. dan kafir diberikan oleh Allah SWT kepada mereka yang tidak mau tunduk pada aturan Allah SWT. pada hari raya ini bersegeralah meminta maaflah kepada orang-orang yang pernah anda sakiti. at-Tahrim [66]: 8). Beberapa dosa besar dan kemaksiatan kita antara lain: Pertama. Allâhu Akbar 3X wa lillâhil hamd Ampunan Allah bagi orang-orang yang shaum tentunya harus disertai dengan upaya bertaubat kepada Allah SWT. Mindanao Philipina. Karenanya. Kondisi kaum Muslim di luar negeri. Hûd [11]: 114). anda rendahkan. dalam bidang budaya. tapi kita sering tidak merasa bersalah dan melupakannya. Mungkin sholat kita belum sempurna. Firman Allah SWT: “Sesungguhnya kebajikan itu melenyapkan dosa (kejahatan). Firman Allah SWT: ~142~ . selama ini kita juga melakukan dosa dan kemaksiatan yang sifatnya kolektif.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Keempat. Adalah mustahil kita mendapat ampunan Allah SWT. Pattani Thailand. ampunan Allah SWT semakin kita butuhkan. Hui China. Sebutan fasik. mereka semua mengalami penghinaan dan penindasan yang luar biasa. Sebab amalan shaleh inilah yang akan membantu menggugurkan dosa-dosanya. menggunjing. mudah-mudahan Tuhanmu menghapus kesalahan-kesalahanmu…” (Qs. taubatlah kamu kepada Allah dengan tobat yang tulus dan ikhlas. Keadaan menjadi dilematis karena pemerintah justru memberikan support meskipun dengan malu-malu. dan mungkin kita pernah menyakiti orang lain bahkan mungkin juga kita pernah menyakiti orang yang sangat mencintai kita yakni ayah dan ibu kita.

maka mereka itu adalah orang-orang zalim. Kedua. kalau tidak terwujud Rasulullah Saw mensifati mereka sebagai mati jahiliyah.” [HR. maka matinya seperti mati jahiliyah. dengan ringan perdana menteri Thailand mengatakan: mereka mati karena lemas akibat menjalankan puasa. Selain itu. Nyawa umat Islam.” (Qs. Siapa saja yang mati sedangkan di pundaknya tidak ada bai’at. 3/1478. Padahal Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Imam (Khalifah) itu adalah laksana perisai. orang-orang akan berperang di belakangnya dan menjadikannya sebagai pelindung (bagi dirinya).Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam “Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah. “Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah. maksudnya dalam keadaan dosa besar. Maha benar Allah SWT dengan firmanNya: “…lalu siapa saja yang mengikuti petunjukKu. 271 Nabi Saw telah mewajibkan kepada seluruh kaum muslim agar dipundak mereka terdapat bai’at kepada Khalifah. Sudah tidak terhitung berapa banyak rakyat Palestina yang dibunuh oleh Zionis Israel. al-Mâ’idah [5]: 45). yang dikatakan oleh Allah SWT sebagai umat terbaik. Muslim]. Saat bulan Ramadhan di Irak. Pembantaian dan pembunuhan terhadap kaum muslim terjadi di banyak tempat dan tidak berhenti hingga kini. Umat diserbu oleh musuh-musuh Allah bagaikan makanan yang diperebutkan oleh orang-orang yang lapar. tentara AS secara sistematis terus menerus membunuhi rakyat sipil disana. ketiadaan Daulah Khilafah Islam telah membawa penderitaan yang panjang dan dalam di tubuh-tubuh umat. tidak adanya Khalifah yang dibai’at oleh umat. niscaya ia akan berjumpa dengan Allah di hari kiamat tanpa memiliki hujjah.” (Qs. Maksiat terbesar kedua yang terjadi pada tubuh umat Islam sekarang ini adalah ketiadaan Khalifah di tengah-tengah kaum muslim. Padahal keberadaan Khalifah yang menjadi kepala negara sistem pemerintahan Daulah Khilafah adalah wajib bagi kaum muslim.” (Qs. Di awal Ramadhan tahun ini 84 saudara kita tewas mengenaskan dibantai tentara Thailand. Realitanya sekarang. hadis no. “Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah. al-Mâ’idah [5]: 47). maka mereka itu adalah orang-orang fasik. Nyawa kaum muslim 271 Shahîh Muslim. 1851. Muslim]. Thaha [20]: 123-124). demikian murah di mata para penjajah.” [HR. Siapa saja yang berpaling dari peringatanKu maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. tidak berhukumnya kita kepada hukum-hukum Allah inilah yang telah menyebabkan kaum muslim saat ini diliputi dengan berbagai penderitaan dan kesusahan hidup. al-Mâ’idah [5]: 44). Rasulullah Saw bersabda: “Siapa saja yang melepaskan tangannya dari ketaatan kepada Allah SWT.” (Qs. Saat umat tidak lagi memiliki pelindung. ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. ~143~ . maka mereka itu adalah orang-orang kafir.

” (Qs. kita juga harus taubat dari tiga dosa besar diatas. Sebab sulit kita meraih kemenangan di bulan Ramadan ini. Firman Allah SWT: “Bersegaralah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Kita bisa bayangkan betapa beratnya nanti saat kita berhadapan dengan Allah di hari pembalasan. dan memperjuangkan Khilafah. Dia menolong siapa yang dikehendakiNya. Saat itulah kita meraih kemenangan yang sejati. marilah kita jadikan hari yang fitrah ini. sebagaimana yang digambarkan dalam firman Allah SWT: “…dan di hari (kemenangan) itu bergembiralah orang-orang yang beriman. disamping meninggalkan perbuatan maksiat yang secara pribadi kita lakukan.” (Qs. karena pertolongan Allah. para khulafaur rasyidin yang memerintah dengan cara Nabi Saw. Dosa terbesar ketiga yang dilakukan oleh umat sekarang ini adalah berdiam diri. Padahal memperjuangkan Dinullah adalah wajib bagi kaum muslim. hingga dengan enteng mantan menteri luar negeri AS Madeline Albright saat diminta komentarnya tentang 800. Dosa-dosa kita terus-menerus menumpuk. Ali-‘Imran [3]: 133). menjawab: “itu harga yang pantas”. Bukankah Allah dan surgaNya yang sangat kita rindukan dan harapkan dalam hidup kita. Karena itu. Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. Ketiga. Dengan ampunan Allah-lah dosadosa kita dihapuskan olehNya. ~144~ .Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam demikian murah. pandangan hidup dan peraturan hidup kita? Allâhu Akbar 3X wa lillâhil hamd Kaum muslimin yang dirahmati Allah SWT Marilah kita benar-benar bertaubat. Iedul Fihtri. ar-Rûm [30]: 45). menjadi saat yang tepat bagi kita untuk tidak lagi bermaksiat kepada Allah SWT. tidak ambil perduli. Untuk itu wajib bagi kita untuk terlibat langsung dalam upaya memperjuangkan agama Allah ini. Marilah kita bersegera mengharapkan ampunan Allah SWT dan Syurganya. sementara kita tetap melakukan tiga dosa besar diatas. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. adalah dosa besar. tidak ikut serta dalam memperjuangkan Dinullah. yakni ajaran keyakinan dan cara hidup kita. menegakkan ‘aqidah dan syariahNya.000 rakyat Irak yang menderita karena kebijakan AS. mendapat ampunan dari Allah SWT. Khalifah Utsman bin Affan ra. Bukankah Islam ini adalah dinullah yang Dia ridloi untuk kita menjadi din kita. bila tanpa ampunan Allah SWT. Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. Kita harus meninggalkan kemaksiatan kita dengan kembali menegakkan Syari’at Islam dan sistem pemerintahan Khilafah serta mengangkat seorang penguasa yang memiliki karakteristik seperti Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq ra. Sementara berdiam diri terhadap berbagai persoalan umat. tidak turut serta dalam perjuangan menegakkan Dinullah.

apakah tahun depan kita masih bisa merasakan nikmat Ramadhan. ampunan. yang keAgungan dan ke-Mulyaannya tidak akan sirna meski seluruh manusia kafir dan durhaka kepadaNya. Ibn Mâjah. Rasulullah Saw telah mengingatkan perkara ini dalam haditsnya: “Betapa banyak orang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan betapa banyak orang yang menghidupkan malam tidak mendapatkan apa-apa kecuali begadangnya saja. kerabat dan shahabat beliau. Sebab bulan Ramadhan yang penuh barakah. Saat ini kaum muslimin berbahagia mengucapkan kalimat takbir. untuk mendapatkan pahala shaum yang sesungguhnya Allah SWT dan Rasulnya sering mengkaitkan dengan perkara yang lain seperti memperbanyak 272 HR. tentu saja tidak diberikan Allah SWT kepada sembarang orang. Bulan dimana Allah SWT menjanjikan kepada kita. Bulan dimana Allah SWT memberikan banyak kasih sayangNya kepada kaum muslim. meskipun orang tersebut kelihatan berpuasa. Ampunan Allah itu hanya diberikan kepada orang-orang yang shaum karena dorongan iman dan kesungguhan hati. Amin. Allâhu Akbar 3X wa lillâhil hamd Kaum muslim yang dirahmati Allah SWT. Shalawat dan salam semoga Allah limpahkan kepada beliau Saw. Kita bersaksi bahwa Nabi Muhammad Saw adalah utusan Allah. Kita bersaksi bahwa tiada Rabb yang patut disembah selain Allah SWT. Tentu saja ampunan Allah bukannya tanpa perjuangan. rahmat.” 272 Tidaklah mengherankan kalau kita melihat. kepada keluarga. Kita tidak tahu. al-Baihaqi dan al-Baghawi dalam Syarh as-Sunnah dengan sanad shahih. ~145~ . Bahkan Allah menghapus dosa kita hingga bersih seperti manusia yang baru dilahirkan. Ahmad]. Bulan Ramadhan baru saja berlalu. serta kaum Muslimin yang secara konsisten dan konsekuen menjalankan dan mendakwahkan ajarannya hingga hari kiamat. ampunan dari Allah baru saja berlalu. bagi orang-orang yang shaum. Namun ada juga rasa sedih di hati kita. menahan lapar dan dahaga. suri teladan bagi seluruh umat manusia. tahlil dan tahmid serentak sebagai ungkapan syukur kita kepada Allah SWT. Sebagaimana hadits Rasulullah Saw: “Siapa saja yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan landasan iman dan berniat ikhlas (bersungguh-sungguh mengharapkan ridla dan pahala Allah) akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Ahmad.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Khuthbath 3: Kembali Kepada Fitrah. Tidak cukup memang hanya sebatas menahan lapar dan dahaga. Ampunan Allah seperti itu. Ampunan terhadap dosadosa kita sebelumnya. Mencapai Taqwa yang Sebenarnya Allâhu Akbar 3X wa lillâhil hamd Segala puji bagi Allah SWT Dzat yang telah menunjuki kita dengan Islam. ad-Darimi. Bulan dimana Allah memberikan kesempatan pada kita untuk memperbaiki diri. Dzat yang Maha Agung dan Maha Mulya.” [HR.

Tidak hanya itu merekapun merampas kekayaan kaum muslim. Kemenangan Shalahuddin al-Ayyubi atas pasukan perang Salib. pencurian. Jadilah negeri Islam. Bahkan Rasulullah Saw dan sahabatsahabat berjihad di bulan Ramadhan. dan negeri Islam lainnya. Bahkan penguasa-penguasa negeri Islam lebih mementingkan keridhoan negara-negara imperialis. Kriminalitas seperti pemerkosaan. pelacuran. Islam adalah agama yang kâffah (menyeluruh). pembunuhan. Apakah shaum kita telah berhasil? Apa ukuran keberhasilannya? Apakah cukup dengan selesainya kita membaca al-Qur’an 30 Juz? Atau malam-malam kita yang kita isi dengan sholat tarawih dan memperbanyak doa? Apakah benar kita telah meraih kemenangan? Bisakah kita disebut berhasil dan meraih kemenangan padahal Ramadhan kita tidak banyak berpengaruh terhadap penyelesaian persoalan umat. Tidaklah cukup kesholehan didapat hanya dengan melaksanakan ibadah ritual seperti shaum atau sholat saja. meskipun harus memenjarakan. Hal yang sama terjadi pada partai politik yang lebih sibuk bertikai. dan lain-lain masih merupakan hal yang sering kita saksikan. Penguasa-penguasa di negeri-negeri Islam. shadaqah. Allâhu Akbar 3X wa lillâhil hamd Kaum muslim yang dimuliakan Allah SWT. masih saja membunuhi kaum muslimin. masih saja berjalan. tapi penduduknya hidup miskin menderita. membantu orang-orang miskin. meskipun dalam keadaan sulit. ribuan nyawa kaum muslimin terbunuh di Irak. ajaran Islam tidak bisa dipenggal-penggal. KKN dan berbagai penyimpangan pun masih merajelala. mengeksploitasinya. Israel dengan dukungan penuh dari AS hingga saat ini tidak berhenti menghancurkan rumah-rumah kaum muslim. bahkan membunuh rakyatnya sendiri. saling menipu demi kekuasaan dan kedudukan. juga demi harta. bahkan di bulan Ramadan sekalipun.Tapi kesholehan hanya didapat tatkala seorang muslim tunduk pada seluruh aturan-aturan Allah yang diturunkan kepada manusia secara totalitas dan menyeluruh. Apakah pantas kita disebut berhasil sementara umat tetap saja hidup menderita. Musuh-musuh Allah. saling berebut kursi. Ramadhan telah berlalu. Mereka juga tidak peduli apakah kebutuhan pokok rakyatnya terjamin atau tidak. dengan cara-cara licik. yang kaya dengan kekayaan alam. Bukankah perang Badar yang dimenangkan kaum muslim terjadi di bulan Ramadhan pada tahun kedua Hijriyah? Penaklukan Makkah (Fathu Makkah) juga terjadi di bulan Ramadhan. kaum kuffar. Belum lagi perjudian. Apa yang salah dari kita? Allâhu Akbar 3X wa lillâhil hamd ~146~ . Atas nama perang melawan terorisme. membunuhi pemuda-pemuda Islam yang berjuang untuk membebaskan negerinya. masih saja tidak melindungi rakyatnya. penaklukan Spanyol oleh Thariq bin Ziyad juga terjadi di bulan Ramadhan. pornografi. Afghanistan. Negara-negara Imperialis seperti Amerika dan Inggrispun bertindak semena-mena kepada kaum muslimin. Ada pertanyaan penting yang perlu kita tanyakan kepada diri kita. Tapi wajib diterima dan diamalkan secara utuh. Sebab.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam membaca al-Qur’an. menzalimi. Kenapa umat Islam masih diliputi oleh kemiskinan dan kebodohan.

Sebagaimana firman Allah SWT: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa.” (Qs. Berkaca kepada kehidupan Rasulullah. Ketakwaan kemudian diartikan sebatas pengamalan seorang Muslim dalam aspek-aspek individual dan ritual. pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Apakah kita benar-benar sudah mencapai derajat hamba Allah yang bertakwa. maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. Apa yang salah dari pemahaman dan wujud ketaqwaan kaum muslimin saat ini? Kata taqwa sendiri berasal dari kata ‘waqa’ yang artinya melindungi. Islam disempitkan sebatas agama yang mengatur ibadah mahdoh (ritual) seperti shaum. yakni hanya membahas moral dan nasihat tanpa ada aksi langsung yang secara praktis berupa penerapan hukum-hukum Islam secara kaffah yang akan menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan. Sementara sekarang.” (Qs. sholat atau haji. Aturan Islampun tidak diterapkan dalam aspek sosial kemasyarakatan. Taqwa berarti sikap hati-hati seorang muslim untuk menjaga dirinya dari setiap perbuataan yang dikerjakan atau dia ~147~ . al-Baqarah [2]: 183). Jadilah Islam kemudian tidak berperan dalam menyelesaikan berbagai persoalan umat dan warga negara secara umum. Agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. masalah pertahanan dan keamanan. wajar kalau umat Islam dahulu mendapat kemuliaan dan kejayaan di sisi Allah SWT. Rasulullah dan para Sahabat sangat memahami arti takwa yang sesungguhnya. Sebab Ramadhan mereka dijadikan ajang untuk mewujudkan Islam sebagai agama ideologis. sosial. sanksi-sanksi pelanggaran hukum. diwajibkan atas kalian shaum sebagaimana diwajibkan atas orangorang sebelum kalian agar kalian bertakwa. Negara dan para pejabatnya seolah terbebas dari kewajiban menerapkan hukum Syari’at Islam untuk seluruh warga negara. al-A’râf [7]: 96). tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu. menyelesaikan seluruh persoalan manusia mulai dari pribadi. Sudahkan kita telah sampai pada seruan Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman. Padahal etakwaan adalah kunci dimana Allah SWT akan menurunkan berkahNya dari langit dan bumi. keluarga.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam Kaum muslim yang dirahmati oleh Allah SWT Kenapa Ramadhan kita tidak banyak memberikan pengaruh terhadap rakyat? Jawabannya adalah kaum Muslimin telah meninggalkan aspek ideologis yang membangun ketakwaan yang sesungguhnya dalam Islam. Umat Islam telah menjadikan agamanya seperti agama lain. sangat disayangkan. pemerintahan. Ini berarti kita harus mengkoreksi pencapaian target Ramadhan kita. Sekarang. Allâhu Akbar 3X wa lillâhil hamd Kaum muslim yang dirahmati oleh Allah SWT Kata-kata taqwa. sering kali menjadi sekedar retorika ritual yang berulang-ulang tanpa kemudian dipahami secara utuh dan menyeluruh oleh kaum muslim. politik luar negeri. ekonomi. kita tidak lagi menjadi masyarakat yang bertakwa secara utuh. Taqwa yang sesungguhnya haruslah bisa melindungi seorang muslim dari amarah Allah SWT dan hukumanNya.

dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya. Dengan sikap takwa ini seorang muslim memiliki kesadaran untuk senantiasa mengingat Allah SWT bahwa apapun yang dia lakukan harus dia pertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT. Namun. Mereka menganggap memanfaatkan riba adalah hal yang biasa.” (Qs. hal. I. kaum muslim tidak tunduk pada aturan Allah. agar senantiasa mengingatNya dan tidak melupakanNya. Jadi wujud taqwa kepada Allah SWT adalah menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya. agar seorang mukmin bersyukur kepadaNya dan tidak mengkufurinya. agar bertaqwa dengan sebenar-benarnya taqwa. Wujud kesadaran itu adalah ketertundukannya kepada Allah SWT dengan menjalankan seluruh perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam tinggalkan yang bisa mengakibatkan murka Allah menimpanya. ketika berekonomi. Perhatikan saja. adalah saat kita melatih diri untuk senantiasa berhubungan dengan Allah SWT. Lapar dan haus yang kita rasakan seharusnya mengingatkan kita bahwa kita sedang menjalankan perintah Allah SWT. Ketakwaan kita tidak utuh. Di dalam Tafsîr Jalâlain dikatakan bahwa ayat itu menuntut agar Allah ditaati dan tidak didurhakai. maupun negara. 200. Allâhu Akbar 3X wa lillâhil hamd Kaum muslim yang berbahagia… Shaum sesungguhnya. jld. baik dalam urusan pribadi.” (Qs. Sebagian muslimpun lebih memilih mempraktekkan ekonomi kapitalis dibanding diatur dengan syari’at Islam. sebab itu melanggar perintah Allah SWT. kemaksiatan pun dipelihara dengan alasan ekonomi. dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Dia SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman. Namun kenapa kesadaran takut melanggar perintah Allah itu tidak terwujud saat mereka 273 Shafwât at-Tafâsîr. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. Allah SWT menuntut penyerahan jiwa dan raga orang-orang mukmin kepada Islam secara total. Sementara Syaikh Ali ash-Shabuni 273 mengatakan ‘haqqa tuqâtih’ maksudnya adalah dengan menjauhi segala bentuk kemaksiatan (kedurhakaan) kepadaNya. ~148~ . masyarakat. Ali-‘Imran [3]: 102). Inilah yang menyebabkan Ramadhan demi Ramadhan yang kita lewati tidak banyak memberikan pengaruh kepada umat. saat Ramadhan kaum muslim dengan sungguh-sungguh untuk menjalankan shaumnya. kaum muslim sekarang ini telah men-sekuler-kan ketaqwaannya kepada Allah SWT. bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepadaNya. Namun sayang. kâffah. Allah SWT meminta kepada setiap orang yang mengaku beriman kepadaNya. Di saat Ramadhan para penguasa menyerukan ditutupnya tempat-tempat maksiat. Saat Ramadhan para penguasa yang muslim berusaha memelihara shaumnya dengan tidak makan dan minum. Tapi setelah itu. menjaga agar tidak batal. keluarga. al-Baqarah [2]: 208). Dia SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman.

listrik. dan dia akan diminta pertanggungjawaban terhadap rakyatnya. Takwa juga harus dilakukan oleh partai politik dengan menjadikan Islam sebagai asas perjuangan mereka sekaligus memperjuangkan agar Syari’at Islam bisa diwujudkan ditengah-tengah masyarakat. apalagi mengkampanyekan ide-ide kufur yang bertentangan dengan Islam seperti nasionalisme. Para penguasa pun seakan tidak peduli beban rakyat yang semakin berat akibat kebijakan mereka menaikkan harga BBM. baik individu. adalah hal wajib bagi penguasa untuk memenuhi kebutuhan pokok rakyat (sandang. Bukankah Allah SWT telah memerintah para penguasa untuk menjalankan hukum-hukum Allah SWT. demokrasi. Ditambah lagi biaya kesehatan dan pendidikan yang semakin mahal. Karenanya. Ali-‘Imran [3]: 104). Padahal wujud takwa. Kalau penguasa itu merasa berdosa karena makan di siang hari tanpa ada alasan syar’i.” [HR. bukanlah sebatas menjalani perintah Allah dalam shaum. Bukhâri dan Muslim]. menyuruh kebaikan dan mencegah kemungkaran? Firman Allah SWT: “Hendaklah ada di antara kalian (kaum Muslim) segolongan umat yang menyerukan al-Khayr (Islam) serta melakukan amar makruf dan nahi mungkar. atau haji kita saja. sholat. kapitalisme. ataukah masih terkebiri oleh sistem demokrasi yang mereka patuhi?! Bukankah tugas partai politik dalam Islam adalah menyeru ke jalan Islam. keluarga. membiarkan rakyat hidup dalam kemiskinan dan penderitaan. Jadi adalah tidak patut sebuah partai politik dimana kaum muslimim terlibat di dalamnya diam terhadap kemungkaran yang ada ditengah-tengah rakyatnya. Takwa juga seharusnya juga diwujudkan oleh negara dengan menerapkan hukum-hukum Allah SWT. Rakyat juga seharusnya bisa menerima hak-hak kolektif mereka berupa ~149~ . tapi kenapa tidak merasa berdosa saat rakyatnya tidak makan akibat kemiskinan. Takwa harus terwujud dalam segala aspek kehidpan. dan air. fasik. Takwa harus terwujud saat orang tua yang diberikan amanah oleh Allah SWT mendidik anak-anak kita di rumah dengan taat kepada aturan Allah SWT. dan papanNya).” (Qs. Sebab Rasulullah bersabda: “Seorang Imam adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyatnya. Takwa harus muncul dalam diri para pemimpin parpol itu tatkala mereka membuat program kampanye pemilu: apakah materi kampanye mereka telah sesuai dengan syari’ah. Sebab semua bentuk kekufuran menjauhkan seorang muslim dari sikap jiwa taqwa kepada Allah SWT. kelompok. Kenapa tidak merasa berdosa menzalimi rakyatnya dengan kebijakannya yang tidak melindungi rakyatnya? Kenapa korupsi dan kolusi jalan terus? Inilah bukti bahwa ketakwaan kita adalah ketaqwaan yang tidak utuh. masyarakat atau negara. atau sekularisme. Bukankah Islam mencela tindakan yang tidak memutuskan perkara yang berdasarkan hukum Allah SWT sebagai perbuatan yang kafir. maupun sosialisme dan komunisme. dan zalim?! Ketaqwaan penguasa juga seharusnya tercermin dari tanggung jawab mereka untuk mengurusi urusanurusan rakyat. pangan.Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam melalaikan urusan rakyat. patriotisme.

Rakyat yang bertakwa seharusnya berani mengingatkan penguasa mereka yang tidak tunduk kepada aturan Allah SWT. Menyelesaikan persoalan umat dan jalan keluar dari persoalan kehidupan kita.” [HR. Muslim].Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam jaminan kesehatan. Allâhu Akbar 3X wa lillâhil hamd Kaum muslimin yang dimuliakan Allah SWT Inilah takwa yang sesungguhnya. Tidak hanya itu saja. bahkan nyawa sekalipun. Sebab ketiadaan Daulah Khilafah inilah yang menjadi pangkal utama tidak diterapkannya aturan-aturan Allah SWT yang akan memberikan kebaikan kepada seluruh manusia. Demikianlah tanggung jawab penguasa yang bertakwa dalam Islam. Sikap berdiam diri terhadap penerapan selain hukum syariah jelas adalah perkara yang diharamkan oleh Islam dan menyebabkan mereka berdosa. Sehingga membuat kaum muslim gampang dijajah oleh negara-negara imperialis yang rakus. Padahal Rasulullah Saw telah wewajibkan adanya satu orang Khalifah yang dibai'at di tengah kaum muslimin. dan keamanan secara gratis. Ini artinya. Ketaqwaan yang total dan menyeluruh inilah yang bisa memberikan pengaruh nyata di tengah-tengah umat. Rakyat juga tidak boleh diam saat di tengah-tengah mereka tidak ada Khalifah (pemimpin pelanjut pemerintahan Islam menurut metode Rasulullah Saw) yang menjadi pemimpin kaum muslimin. ketakwaan yang sesungguhnya inilah yang akan mengantarkan kaum muslim ke surga Allah SWT yang sangat dirindu-rindukan oleh setiap muslim. Demikian juga rakyat seharusnya bertakwa dengan tidak tinggal diam saat penguasa di negeri-negeri mereka menerapkan hukum-hukum kufur. Yakni menjalankan aturan Allah SWT dalam seluruh aspek kehidupan kita.” (Qs. at-Thalâq [65]: 2-3). ataupun negara. kesulitan. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Rakyat yang takwa juga seharusnya bersungguh-sungguhnya untuk berjuang agar Syari’at Islam kembali diwujudkan di muka bumi dengan jalan menegakkan Daulah Khilafah Islam. keberadaan Daulah Khilafah sangat dibutuhkan untuk mewujudkan ketakwaan yang hakiki. Tidak adanya Daulah Khilafah juga menyebabkan terpecah-belahnya kaum muslim di dunia ini. pendidikan. Penguasa yang bertakwa juga seharusnya menolak setiap campur tangan negara-negara kafir imperialis yang hendak menghancurkan kaum muslimin dengan alasan apapun. Penguasa yang bertakwa juga seharusnya menjaga keutuhan negeri-negeri Islam. Sebagaimna firman Allah SWT: “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. tidak tunduk kepada negera-negara Imperialis seperti AS yang ingin memecah-belah kesatuan negeri-negeri Islam. Inilah kewajiban negara yang diperintahkan oleh Islam. Dan merupakan tugas penguasa yang takwa melindungi rakyatnya. keluarga. baik per individu muslim maupun kaum muslimin secara kolektif. meskipun itu harus dibayar dengan penderitaan. Sabda Rasulullah: “Barang siapa yang mati dan di pundaknya tidak ada bai’at (kepada Khalifah) maka sungguh matinya seperti mati jahiliyah. Firman Allah SWT: ~150~ . Baik dalam persoalan individu.

sedang naungannya (demikian pula). sedang tempat kesudahan bagi orangorang kafir ialah neraka. Serta mengelompokkan kita ke dalam golongan pejuang-pejuang Islam. yang berupaya mewujudkan negara Khilafah Islamiyah. Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa. Marilah kita berdoa kepada Allah SWT agar amal ibadah kita selama bulan Ramadhan diterima di sisi Allah SWT. dan kita berhasil meraih derajat taqwa. ~151~ . mengalir sungai-sungai di dalamnya. yang mengikuti manhaj atau metode Nabi Saw.” (Qs. ar-Ra’d [13]: 35).Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam “Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman). buahnya tak henti-henti. Allâhu Akbar 3X wa lillâhil hamd Semoga Allah SWT memberikan kepada kita kekuatan iman dan semangat untuk menjalankan hukum-hukum Allah SWT.

You're Reading a Free Preview

Descarga
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->