BAB I PENDAHULUAN

1. 1 LATAR BELAKANG Hipertensi merupakan penyakit kardiovaskular yang paling umum. Hipertensi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius, tetapi sebagian besar penyebabnya tidak diketahui. Hipertensi didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah sistolik dan/atau diastolik diatas 140/90 mmHg (Martuti, 2009). Hipertensi merupakan masalah penting dalam kedokteran dan kesehatan masyarakat yang terus meningkat. Penderita hipertensi di dunia sangat banyak. Hampir seperenam penduduk dunia atau sekitar satu milyar orang menderita hipertensi. Di Amerika, diperkirakan 30% penduduknya (± 50 juta jiwa) menderita tekanan darah tinggi (≥ 140/90 mmHg) dengan persentase biaya kesehatan cukup besar setiap tahunnya. Berdasarkan hasil penelitian The National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) menunjukkan bahwa 28,7% penduduk dewasa Amerika Serikat/ 58,4 juta penduduk menderita hipertensi (Lange dkk, 2009) Hipertensi emergensi merupakan spektrum klinis dari hipertensi dimana terjadi kondisi peningkatan tekanan darah yang tidak terkontrol yang berakibat pada kerusakan organ target yang progresif. Berbagai sistem organ yang menjadi organ target pada hipertensi emergensi ini adalah sistem saraf yang dapat mengakibatkan hipertensi ensefalopati, infark serebral, perdarahan subarakhnoid, perdarahan intrakranial; sistem kardiovaskular yang dapat mengakibatkan infark miokard, disfungsi ventrikel kiri akut, edema paru akut, diseksi aorta dan sistem organ lainnya seperti gagal ginjal akut, retinopati, eklamsia dan anemia hemolitik mikroangiopatik. Kondisi hipertensi emergensi, tekanan darah harus diturunkan secara agresif dalam hitungan waktu menit sampai jam (Houston, 2009) Gagal jantung adalah sindrom klinis yang disebabkan oleh suatu kelainan jantung dan dapat dikenali dari respon hemodinamik, renal, neural dan hormonal yang karakteristik (Prabowo, 1994).

Penyebab tersering dari gagal jantung adalah penyakit jantung iskemik tetapi penting mengidentifikasi penyebabnya pada pasien untuk menghindarkan luputnya kelainan yang sebenarnya dapat dikoreksi. Penyebab lain termasuk: penyakit katup jantung, hipertensi, aritmia, emboli paru, anemia, tirotoksikosis, miokarditis, endokarditis infektif, kardiomiopati dan defisiensi thiamin (Hayes & Mackay, 1997). 1.2 TUJUAN PENULISAN Penulisan laporan kasus ini bertujuan untuk mempelajari kasus hipertensi emergensi dengan gagal jantung, , sehingga dapat mengenali terjadinya gejala dan tanda yang muncul, penegakan diagnosis dan menentukan penatalaksanaan yang tepat.

badan lemas. keringat dingin malam hari.BAB II ILUSTRASI KASUS A.Riwayat sakit kuning .Riwayat penyakit gula . tidur harus dengan posisi agak duduk. sesak : Tn. Riwayat Penyakit Sekarang .3 hari SMRS : sakit kepala (+) terus-menerus. susah nafas. sering terbangun waktu tidur karena sesak nafas.HMRS : Pasien datang dengan keluhan sakit kepala hebat (+) lemas. Susah bernafas.P : 57 tahun : Laki-laki : Seliran 4/5 Jetis Sukoharjo : 185990 : 09 januari 2012 : 14 januari 2012 nafas (+) deg-degan. ANAMNESA a.Riwayat alergi obat . c. sulit tidur. Keluhan Utama Sakit kepala b. nyeri dada. kaki bengkak. IDENTITAS Nama Umur Jenis Kelamin Alamat No RM MRS Tanggal Pemeriksaan B. sesak nafas (+) terus menerus. Riwayat Penyakit Dahulu . lemas. sulit tidur dan nafsu makan menurun.Riwayat sesak nafas : (-) : (-) : (+) : (-) : (-) . kaki bengkak. batuk (+). sulit tidur. .2 Hari SMRS : sakit kepala (+). lemas. . deg-degan.Riwayat darah tinggi . gelisah. gelisah. keringat dingin malam hari. cepat lelah.

Riwayat sakit kuning : (-) : (-) : (+) : (-) : (-) e. PEMERIKSAAN FISIK Status Generalis - BAB sulit (-) Badan terasa lemas (+). Sianosis (-). Ikterik (-/-) Leher : KGB tidak teraba membesar . Lemah (+). atrofi otot (-) Perubahan warna (+). Pasien juga memiliki kebiasaan merokok sejak masih muda. degdegan (+) Batuk (+). Demam (-) Akral dingin (-). mual (-). nyeri saat BAK (-) Nyeri perut (-). namun setahun terahkir ini aktivitas pasien menjadi berkurang karena mudah lelah dan sesak nafas.Riwayat penyakit serupa . ANAMNESA SISTEM : Sistem Cerebrospinal Sistem Cardiovascular Sistem Respiratorius Sistem Genitourinarius Sistem Gastrointestinal Gelisah (+). muntah (-).Riwayat penyakit gula . gelisah Kesadaran : Compos mentis Vital Sign : 72 x/menit : 32 x/menit : 36°C • Tekanan Darah : 230/90 mmHg • Nadi • Respirasi • Suhu - Kepala : Mata  CA (-/-).Riwayat alergi obat . sikatriks (-) Keadaan Umum : Pasien tampak lemas.Riwayat penyakit darah tinggi . Sesak nafas (+) BAK sulit (-). Riwayat Lingkungan Sosial Pasien adalah seorang petani.d. Riwayat Penyakit Keluarga . anemis (-). Sistem Musculosceletal Sistem Integumentum C. Nafsu makan menurun (+). sedikit (-). makan dan minum sulit (+).

5 Satuan gr / dl Nilai Normal Lk : 13. Wheez (+/+) Thorax : Paru Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Jantung Inspeksi Palpasi Perkusi Hasil Pemeriksaan Iktus Cordis tidak terlihat Ictus Cordis di SIC VI Linea Midclavicularis Sinistra Batas atas jantung. Rhonki (+/+). Clubbing Finger (-) Akral hangat (+). PEMERIKSAAN PENUNJANG - Akral hangat (+).0 . Edema (-). pulsasi aorta (+). Suara Tambahan (-) Auskultasi - Abdomen : Inspeksi Kulit berwarna kuning (-). Rhonki (+/+).0 – 16. SIC III linea parasternalis sinistra Batas jantung bawah. Edema (+) Akral hangat (+). Edema (-) Pemeriksaan Laboratorium Tanggal 09 januari 2012 : Pemeriksaan Hemoglobin Tanggal 12. Clubbing Finger (-) Akral hangat (+). Dinding perut dan dinding dada sama rata. SIC VI linea midclavicularis sinistra Suara Jantung S1S2 reguler. Auskultasi Palpasi Perkusi Ascites (-) Peristaltik (+) Normal Hepatomegali (-) Timpani - Ekstremitas : Extremitas Superior Dextra Extremitas Superior Sinistra Extremitas Inferior Dextra Extremitas Inferior Sinistra D.- JVP : tidak ada peningkatan Posisi Depan Simetris Simetris KG (-) Sonor Vesikuler. Edema (-). Wheez (+/+) Belakang Simetris Simetris KG (-) Sonor Vesikuler. Sikatrik (-).

5 – 5.0 – 5.48 0.93 Nilai Rujukan 0 – 25 mg/dL 0 – 29 mg/dL Level High High Pemeriksaan Faal Ginjal (09 – 01 – 2012): Pemeriksaan Ureum Creatinin 7-02-2011 36.0 – 10.6 – 1.000 O 89 8 3 106ul % Pf Pg % 103ul 103ul % % % % % % Pr : 12. E.96 Nilai Rujukan 10 – 50 mg/dL 0. Darah Eosinofil Basofil Netrofil Batang Netrofil Segmen Limfosit Monosit - 4.40 Nilai Rujukan 70 – 120 mg/dl Level High - Pemeriksaan Faal Hati (09 – 01 – 2012) : Pemeriksaan SGOT SGPT 09-01-2012 53.0 150 – 400 1–3 0–1 2–6 50 – 70 20 – 40 2–8 Pemeriksaan Gula Darah (09 – 01 – 2012): Pemeriksaan Glucose Hasil 145.0 Lk : 40 – 48 Pr : 37 – 43 82 – 92 27 – 31 32 – 36 5.92 43.Eritrosit Hematokrit MCV MCH MCHC Leukosit Trombosit Gol. Left Ventriculer Hypertrophy.1 mg/dL Level Normal Normal Pemeriksaan Electrocardiogram (ECG) : Kesan : Hasil pemeriksaan EKG menunjukkan normal Sinus Rhythm.0 – 14.53 37 11. Left Axis Deviation.5 Pr : 4.0 Lk : 4.000 221. RESUME . Iskemik Anterior Ekstensif.

peningkatan EKG Sinus SGOT. Vital Sign. dan ditemukan ronchi dan wheezing di kedua lapang paru. SDV kanan dan kiri. Suhu: 36°C. nyeri dada. tidak didapatkan bising jantung. timpani. TD: 230/90 mmHg. Dinding perut dan dinding dada sama rata. Nadi:72x/menit. DIAGNOSIS KERJA . • Hasil laboratorium menunjukkan adanya penurunan Hematokrit dan perubahan yaitu Hemoglobin. • Hasil pemeriksaan normal menunjukkan Rhythm. Respirasi: 32x /menit. gelisah. Left Axis Deviation. batuk (+). F. sering terbangun waktu tidur. Iskemik Anterior Ekstensif.• Dari hasil alloanamnesis didapatkan keluhan berupa sakit kepala (+) lemas. suara jantung S1-S2 regular. Left Ventriculer Hypertrophy. Kesadaran lemas dan gelisah. sesak nafas (+). akral hangat (+). SGPT dan Glucosa. badan lemas. degdegan. sulit tidur. nafsu makan menurun • Dari hasil pemeriksaan keadaan fisik umum didapatkan tampak buruk.

Gagal Jantung kiri G. N (60 tahun) .Hipertensi Emergensi.Nitrogliserin iv H. Ma’rufa Istiqomah Alamat : Jl. 22 No. I ∫ imm R/ Nitrogliserin infus Pro: Tn. PENATALAKSANAAN .RA 15 tpm . Mawar Indah 20 Telp : (0341) 430981 SIP : 123456 R/ Ringer Asetat Infus fl No. III Cum infuse set No. I IV catheter no. PENULISAN RESEP dr.

Faktor presipitasi krisis hipertensi 1. Keadaan klinis berupa ensefalopati hipertensif. Eklampsia . pedal edema. Dikelompokan dalam urgensi dan emergensi atas dasar adanya kerusakan organ target yang karakteristik pada hipertensi emergensi dan belum terdapat kerusakan organ target pada urgensi. epistaksis yang hebat. perdarahan intra-cranial. eklampsia. aneurisma aorta disekan. sakit kepala yang hebat (severe headache). Tabel 1 . sesak nafas. Glomerulonefritis akut 4.stroke. Hipertensi urgensi adalah peningkatan tekanan darah tanpa adanya kerusakan organ target dan dalam penaganannya memerlukan penurunan tekanan darah dalam beberapa jam. Peningkatan tekanan darah semata (asymptomatic chronic hypertension)tidak merupakan krisis hipertensi.BAB III PEMBAHASAN Krisis hipertensi merupakan keadaan klinis dimana tekanan darah meningkat secara progresif melebihi tekanan diastolik 120 mmHg dengan atau tanpa ancaman kerusakan organ target. angina pectoris tak stabil atau infark miokard akut. payah jantung kiri dengan edema paru. krisis adrenal. umumnya disebabkan oleh karena pengobatan hipertensi yang tidak adekuat. Hipertensi renovaskular 3. Definisi Hipertensi emergensi adalah peningkatan tekanan darah secara progresif yang disertai kerusakan organ target dan dalam penanganannya memerlukan penurunan tekanan darah dalam beberapa menit untuk mencegah berlanjutnya kerusakan organ target tersebut. Akselerasi tekanan darah secara tiba-tiba pada orang yang hipertensi esensial 2. Sebagian besar keadaan ini dapat dicegah. Keadaan klinis berupa edema papil akut.

Feokromositoma 6. Tumor yang mensekresikan renin 9. Trauma kepala berat 8.Keadaan klinis pada hipertensi emergensi Akselerasi tekanan darah disertai edema papil Kondisi serebrovaskular Infark otak dengan hipertensi berat Perdarahan intraserebri Perdarahan subaraknoid Trauma kepala Kondisi Cardiac Aorta diseksi akut Payah jantung kiri akut Infark / impending miokard akut Keadaan setelah operasi bypass koroner Kondisi Ginjal Glomerulonefritis akut Hipertensi renovaskular Krisis ginjal karena penyakit kolagen vaskular Hipertensi berat setelah cangkok ginjal Gangguan sirkulasi katekolamin Krisis Feokromositoma Makanan atau reaksi obat dengan MAO inhibitor Penggunaan obat simpathomimetik (cocaine) Reaksi penghentian obat antihipertensi Reflek automatisasi setelah trauma medula spinalis Eklampsia Kondisi Operatif Hipertensi berat pada pasien yang memerlukan tindakan operasi segera .5. Penggunaan katekolamin pada penderita yang menggunakan MAO inhibitor Tabel 2 . Sindroma putus obat antihipertensi 7.

vasopressin. telusuri riwayat penyakit sebelumnya. pemeriksaan funduskopi dapat membedakan keadaan urgensi bila tak ada kelainan pada pembuluh darah retina. pemeriksaan neurologist. adakah hipertensi serta pengobatannya. penyebab lain adalah hipertensi reno-vaskular. Patofisiologi Terjadinya akibat peningkatan secara mendadak resistensi perifer sistemik (systemic vascular resistance) yang disebabkan oleh terjadinya peningkatan hormone vasokonstriktor sistemik ( angiotensin II. tidak ada spasme maupun eksudat sedangkan pada hipertensi emergensi dijumpai papil edema dan eksudasi yang berat. pemeriksaan fisik tekanan darah dalam beberapa kali pengukuran. penyakit ginjal dan jantung serta kelainan neurology. norepinephrin ) Organ yang terlibat karena hipertensi : • • • • Susunan saraf pusat (memiliki peranan autoregulasi ) Ginjal ( punya peranan autoregulasi ) Jantung Pankreas dan usus Pendekatan Bedakan apakah hipertensi emergensi atau urgensi dengan menilai adanya kerusakan organ target.Hipertensi post operatif Perdarahan pembuluh darah yang dioperasi Luka bakar yang luas Epistaksis hebat Thrombotic thrombocytopenic purpura Etiologi Krisis hipertensi sering diperkirakan karena masalah sekunder dari keadaan lain. ternyata penyebab yang tersering adalah tidak adekuatnya pengobatan hipertensi sebelumnya. hipertensi reno-parenkim. feokromositoma. . pemeriksaan jantung dan aorta . hiperaldosteronisme primer .

Gejala klinis hipertensi emergensi Tipe hipertensi emergensi Stroke akut (trombosis atau emboli) Perdarahan subaraknoid Gejala khas Kelemahan.Tes laboratorium meliputi test terhadap proteinuria. mual muntah. delirium Gangguan mental. ekimosis. gangguan kemampuan sensorik dan motorik meningen Perdarahan terbuka. darah perifer. gangguan kemampuan motorik Sakit kepala. atau Sakit kepala. EKG untuk evaluasi kardiologi Tabel 4. tanda-tanda rangsang Trauma kepala akut Sakit kepala. hematuria. faal ginjal berupa elektrolit dan BUN/SC . gangguan mental Fungsi lumbar menunjukkan santokromia atau sel darah merah Computed tomographic (CT) scan dapat menolong penjelasan gangguan Encefalopati hipertensif Iskemik kardiak / infark Payah jantung kiri akut / edema paru akut Aorta diseksi Nyeri dada Pelebaran aorta knob pada foto Echocardiogram. gangguan mental Nyeri dada. Sesak berat EKG abnormal (gelombang. CT dada. Foto thorak diperlukan untuk mencari kardiomegali atau edema paru. Televasi) Ronkhi (+) Papilledema intrakranial Biasanya sebagai diagnosa per ekslusionem Tanda khas Defisis neurologist fokal Keterangan Hipertensi tidak selalu diobati .

nyeri dada. insufisiensi ginjal. tidak ada penyakit kardio vaskular secara Ada kerusakan organ target. palpiltasi Sakit kepala. uterus yang sensitif Edema. nyeri pada bekas operasi Perdarahan pada bekas operasi Feokromositoma Sakit kepala. penyakit kardiovaskular yang stabil kesadaran. hiperrefleksia Perlu petunjuk pengobatan / protocol Tabel 5. keringat dingin. kelemahan umum sampai dengan penurunan Pemeriksaan Tidak dijumpai kerusakan organ target. Encefalopati. flushing. disartria. Gejala klinis krisis hipertensi Tekanan darah Tekanan darah Gejala tinggi >180/110 Sakit kepala.polos dada angiogram kadangkadang diperlukan untuk konfirmasi Sering membutuhkan operasi perbaikan pembuluh darah Phentolamine sangat berguna Riwayat penggunaan obat Operasi pembuluh darah Perdarahan. edema pulmonum. iskemik . cerebrovascular accident. nokturia. kecemasan. palpiltasi Pucat. sering asimptomatik Urgensi >180/110 Sakit kepala berat. sesak nafas Emergensi >220/140 Sesak nafas. Fakomatosis Takikardia Obat yang berhubungan dengan katekolamin Preeklamsi / eklamsia Sakit kepala.

00 Seger µg/mnt/kg/mnt dalam a infus intravena Vasodilators Nitropruside (Nipride. tentukan pengobatan awal. berikan terapi penyesuaian Rencanakan pengawasan < 24 jam kardiak Pemeriksaan lab dasar. Perencanaan Rencanakan pengawasan < 72 jam. obati mencapai target tekanan darah. infus. Nitropress) 1-2 mnt IV) Nitroglycerin (Nitro-bid Fenoldopam 5-100 µg/mnt dalam infus intravena 0. hati-hati pada keadaan peningkatan tekanan intracranial atau azotemia 5-10 mnt Iskemia koroner 10-15 Insufisiensi ginjal. pengawasan tekanan darah. jika tidak ada indikasi dapat rawat jalan Pengobatan Pada hipertensi emergensi diperlukan penurunan tekanan darah dalam satuan menit akan tetapi tidak perlu mencapai batas normal dan akan tercapai apabila menggunakan obat parenteral dengan batas penurunan tekanan darah tidak melebihi 20% Mean arterial pressure. tingkatkan dosis yang sesuai Observasi 3-6 jam.25-10. investigasi penyakit lain.6 µg/kg/min 2-5 mnt 4-5 Kebanyakan pd hipertensi emergensi. turunkan tekanan darah dengan obat oral. mulai pengobatan awal di ruang emergensi Segera rawat di ICU. sedangkan pada hipertensi urgensi dapat digunakan obat oral.1-0. ulangi dan menit tingkatkan dosis pada insufisiensi ginjal 0. Obat yang biasa digunakan pada keadaan hipertensi emergensi Obat Diuretik Furosemide Dosis Onset Lama kerja 2-3 jam Indikasi khusus Biasanya diperlukan obat jenis lain untuk mencapai target tekanan darah 20-40 mg dalam 1-2 5-15 min.Terapi klinis Observasi 1-3 jam. Tabel 4. .

1-2 mnt 1-2 mnt 5-10 mnt mnt 1-4 jam 3-8 jam pasca operasi Kebanyakan hipertensi emergensi.8 mg 20-40 mg 100-200 mg 5-10 mg 20-40 mg Onset 15 min 0. Trandate 6 jam 3-10 mnt Ekses Katekolamin 10-20 Diseksi aorta pasca mnt operasi 3-6 jam Kebanyakan hipertensi emergensi kecuali payah jantung akut Tabel 5. Adalat) Propanolol (Inderal) Diuretik α. kemudian 50-300 µg/kg/mnt i. Trandate) Nifedipine (procardia.v) (Corlopam) Nicardipine (Cardiprin Hydralazine (Apresoline) dalam infus intravena mnt 5-15 mg/h i.0 h Lama kerja (jam) 4-6 6-8 Furosemide (Lasix) Labetalol (Normodyne.and βBlocker Calcium channel blocker β-Blocker 0.v. bolus setiap 10 mnt 2 mg/min infus i.25-5. naikkan sampai total 0. 20-80 mg i.5-2.v.0 h 5-15 min 15-30 min 6-8 8-12 3-5 3-6 .0 h 0. kemudian 0.v. 200-500 µg/kg/mnt utk 4 mnt.i.1 mg/h.5-1. Central αagonist Dosis 6. 10-20 mg IM 10-20 mnt 20-30 mnt 1. 5-10 mnt 10-20 mg i.0 mg 0. hati-hati dengan payah jantung akut Eklampsia.00 mg setiap 6 15 jam mnt 5-15 mg i.v.5-50. Obat yang biasa digunakan pada hipertensi urgensi Obat Captopril (Capoten) Clonidine (Catapres) Kelas Angiotensinconverting enzyme inhib.v. hati-hati dengan peningkatan tekanan intracranial Payah jantung kiri akut Enalaprilat (Vasotec IV) Adrenergic inhibitors Phentolamine Esmolol (Brevibloc) Labetalol (Normodyne.2 mg awal.v.2-2.

jantung dan ginjal dan hal ini harus dihindari pada beberapa hari permulaan. 1. pasang femoral intra arterial line dan pulmonari arterial catether (bila ada indikasi). misal : dissecting anneurysma aorta.Tekanan darah secara bertahap diusahakan mencapai normal dalam satu atau dua minggu (Fauci dkk.Penurunan tekanan darah diastolik tidak kurang dari 100 mmHg. Anamnesis singkat dan pemeriksaan fisik.Bila diagnosa hipertensi emergensi telah ditegakkan maka tekanan darah perlu segera diturunkan. terapi yang diberikan adalah nitrogliserin. . Langkah-langkah yang perlu diambil adalah rawat di ICU. Penurunan tekanan darah tidak lebih dari 25% dari Mean Arterial Pressure ataupun tekanan darah yang didapat. cepatnya kenaikan dan keparahan hipertensi.Tentukan penyebab krisis hipertensi . Tentukan tekanan darah yang diinginkan didasari dari lamanya tingginya tekanan darah sebelumnya. ataupun Mean Arterial Pressure tidak kurang dari 120 mmHg selama 48 jam pertama. kecuali pada krisis hipertensi tertentu (misal : disecting aortic aneurysm). tekanan darah sistolik tidak kurang dari 160 mmHg. kecuali pada keadaan tertentu. . hal ini mengacu pada literatur Harrison’s principles of Internal Medicine seperti tabel dibawah: . masalah klinis yang menyertai dan usia pasien. .Tentukan adanya kerusakan organ sasaran 2. Untuk menentukan fungsi kordiopulmonair dan status volume intravaskuler.Penurunan tekanan darah secara akut ke tekanan darah normal / subnormal pada awal pengobatan dapat menyebabkan berkurangnya perfusi ke ke otak. 2008). Pada kasus ini. .

.

BAB IV KESIMPULAN .

Trisnohadi. Merawat & Menyembuhkan Hipertensi Penyakit Tekanan Darah Tinggi: Kreasi Wacana. S. Tennessee: Wiley Blackwell. Penerbit Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. pp. 62.. A. A. pp. Jameson.. Papadakis. 61. Penerbit Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: halaman 67-71 Kaplan NM.. 160. Penerbit EGC.. 2009.: 434-437 Martuti. 159.376. Loscalzo. dalam : Sudoyo (editor) Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.L. Current Medical Diagnosis & Treatment: fourty-eighth edition. A... Edisi IV. Jilid II. New York: McGraw-Hill Companies Hayes. McPhee. S.. Erlangga Medical Series.. pp. Longo. Edisi 3. 168-175 Fauci. H. A. D. Wardhani. Karyadi. Syafiq. Jilid 1. I. 1997. Mansjoer (editor) Kapita Selekta Kedokteran..Rose& Black’s Clinical problem in Nephrology. 2009. 2006.L. E. H. 23: 44-48 Houston. Harrison’s: Principles of Internal Medicine. B. 1997. Edisi 6. D.. Kasper. Hauser.G. dalam : A. J. A. H. Hal.. Jakarta: EGC. Gagal Jantung dalam Buku Saku Diagnosis dan Terapi.. Gagal Jantung Akut. D. Jakarta.S. Baltimore: William & Wilkins 2002: 339354 Katzung. Subadri. Tadjoedin. Panduan Pelayanan Medik. S. 2008. M. Handbook of Hypertension. Mansjoer.. Editor Agoes. Jakarta. Hypertensive crisis.. H. Mackay T. 2007. Jakarta Hirschi MM.. Little Brown& Co 1996. Farmakologi Dasar dan Klinik.. 17th ed. M. Halaman : 42-43 Panggabean.L.J. H. 116-122... Penerbit Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Braunwald. Uyainah. Ismail...L. Clinical Hypertension. P. 82.. Alwi. Gagal Jantung. Lange.. Neal MJ. J. M. 2001. 2006. pp.. hal. M.DAFTAR PUSTAKA Black RM. At a Glance Farmakologi Medis.: 1503-1504 . Medical Progress 1996. Jakarta..Boston.. 2009. New York: The McGraw-Hill Companies. Soegondo.. Atmakusuma.A.A.

Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Penyakit Jantung.Philip I . At a Glance Sistem Kardiovaskuler. 2010. RSUD Dr Sutomo. Erlangga Medical Series. 1994. Penerbit Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. MIMS. 2008. Jakarta: halaman 86-87 Prabowo P. Bhuana Ilmu Populer: Jakarta . Jilid III. hal.14 Rahman. Jakarta. Surabaya: halaman 11 . dalam : Sudoyo (editor) Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Angina Pektoris Stabil. 2007. Edisi IV.: 1611-1614 Santoso A.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful