KRISIS HIPERTENSI ASPEK KLINIS DAN PENGOBATAN ABDUL MAJID Bagian Fisiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

I. PENDAHULUAN Dari populasi Hipertensi (HT), ditaksir 70% menderita HT ringan, 20% HT sedang dan 10% HT berat. Pada setiap jenis HT ini dapat timbul krisis hipertensi dimana tekanan darah (TD) diastolik sangat meningkat sampai 120 – 130 mmHg yang merupakan suatu kegawatan medik dan memerlukan pengelolaan yang cepat dan tepat untuk menyelamatkan jiwa penderita (6,10,11,13). Angka kejadian krisis HT menurut laporan dari hasil penelitian dekade lalu di negara maju berkisar 2 – 7% dari populasi HT, terutama pada usia 40 – 60 tahun dengan pengobatan yang tidak teratur selama 2 – 10 tahun. Angka ini menjadi lebih rendah lagi dalam 10 tahun belakangan ini karena kemajuan dalam pengobatan HT, seperti di Amerika hanya lebih kurang 1% dari 60 juta penduduk yang menderita hipertensi (6,10). Di Indonesia belum ada laporan tentang angka kejadian ini. (Dikutip dari 19). Berbagai gambaran klinis dapat menunjukkan keadaan krisis HT dan secara garis besar, The Fifth Report of the Joint National Comitte on Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure (JNCV) membagi krisis HT ini menjadi 2 golongan yaitu : hipertensi emergensi (darurat) dan hipertensi urgensi (mendesak). (15). Membedakan kedua golongan krisis HT ini bukanlah dari tingginya TD, tapi dari kerusakan organ sasaran. Kenaikan TD yang sangat pada seorang penderita dipikirkan suatu keadaan emergensi bila terjadi kerusakan secara cepat dan progresif dari sistem syaraf sentral, miokardinal, dan ginjal. (6). HT emergensi dan urgensi perlu dibedakan karena cara penaggulangan keduanya berbeda. Gambaran kilnis krisis HT berupa TD yang sangat tinggi (umumnya TD diastolik > 120 mmHg) dan menetap pada nilai-nilai yang tinggidan terjadi dalam waktu yang singkat dan menimbulkan keadaan klinis yang gawat. (14). Seberapa besar TD yang dapat menyebabkan krisis HT tidak dapat dipastikan, sebab hal ini juga bisa terjadi pada penderita yang sebelumnya nomortensi atau HT ringan/sedang. (10,11,13). Walaupun telah banyak kemajuan dalam pengobatan HT, namu para kilinisi harus tetap waspada akan kejadian krisis HT, sebab penderita yang jatuh dalam keadaan ini dapat membahayakan jiwa/kematian bila tidak ditanggulangi dengan cepat dan tepat. Pengobatan yang cepat dan tepat serta intensif lebih diutamakan daripada prosesur diagnostik karena sebagian besar komplikasi krisis HT bersifat reversibel (6,7). Dalam menanggulangi krisis HT dengan obat anti hipertensi, diperlukan pemahaman mengenai autoregulasi TD dan aliran darah, pengobatan yang selektif dan terarah terhadap masalah medis, yang menyertai, pengetahuan mengenai obat parenteral dan oral anti hipertensi, variasi regimen pengobatan untuk mendapatkan hasil pengobatan yang memadai dan efek samping yang minimal. Dalam makalah ini akan dibahas klasifikasi, aspek klinik, prosedur diagnostik dan pengobatan krisis hipertensi.

©2004 Digitized by USU digital library

1

peniggian tekanan intrakranial kerusakan yang cepat dari vaskular. Bila tidak diobati dapat berlanjut ke fase maligna. Hipertensi ensefalopati : kenaikan TD dengan tiba-tiba disertai dengan keluhan sakit kepala yang sangat. Aorta diseksi akut. Hipertensi urgensi (mendesak). biasanya pada penderita dengan riwayat hipertensi essensial ataupun sekunder dan jarang terjadi pada penderita yang sebelumnya mempunyai TD normal. Sindroma kelebihan Katekholamin yang lain : . Insufisiensi ginjal akut. 2. Hipetensi akselerasi : TD meningkat (Diastolik) > 120 mmHg disertai dengan kelainan funduskopi KW III. Feokhromositoma. Tabel I : Hipertensi emergensi ( darurat ) TD Diastolik > 120 mmHg disertai dengan satu atau lebih kondisi akut. gagal ginjal akut. Infark miokard akut. Oedema paru akut. Dikenal beberapa istilah berkaitan dengan krisis hipertensi antara lain : 1.12. sebagai berikut : 1. Hipertensi ensefalopati. Hipertensi maligna : penderita hipertensi akselerasi dengan TD Diastolik > 120 – 130 mmHg dan kelainan funduskopi KW IV disertai papiledema. TD diastolik > 120 mmHg dan dengan tanpa kerusakan/komplikasi minimum dari organ sasaran. Pendarahan intra pranial.Cedera kepala. ombotik CVA atau pendarahan subarakhnoid. Keterlambatan pengobatan akanmenyebebabkan timbulnya sequele atau kematian. 3. perubahan kesadaran dan keadaan ini dapat menjadi reversible bila TD diturunkan. Hipertensi emergensi (darurat) ditandai dengan TD Diastolik > 120 mmHg. Hipertensi refrakter : respons pengobatan tidak memuaskan dan TD > 200/110 mmHg. angina unstable. Eklampsi.15) Secara praktis krisis hipertensi dapat diklasifikasikan berdasarkan perioritas pengobatan.Interaksi obat. ataupun kematian bila penderita tidak mendapat pengobatan. ©2004 Digitized by USU digital library 2 . disertai kerusakan berat dari organ sasaran yag disebabkan oleh satu atau lebih penyakit/kondisi akut (tabel I). 2. (tabel II). Penderita perlu dirawat di ruangan intensive care unit atau (ICU). TD harus diturunkan dalam 24 jam sampai batas yang aman memerlukan terapi parenteral. Hipertensi maligna. DEFENISI DAN KLASIFIKASI KRISIS HIPERTENSI (10. 4. .13. walaupun telah diberikan pengobatan yang efektif (triple drug) pada penderita dan kepatuhan pasien.Luka bakar.II. .Sindrome withdrawal obat anti hipertensi. TD harus diturunkan sampai batas tertentu dalam satu sampai beberapa jam. Funduskopi KW III atau IV. .

Teori “Breakthrough of Cerebral Autoregulation” bila TD mencapai threshold tertentu dapat mengakibtakan transudasi. Hipertensi post operasi. Penderita hipertensi kronis dapat mentolelir kenaikan TD yang lebih tinggi dibanding dengan normotensi. 2. 11 ) Ada 2 teori yang dianggap dapat menerangkan timbulnya hipertensi ensefalopati yaitu : 1. Meningginya permeabilitas kapiler akan menyebabkan pecahnya dinding kapiler. Teori “Over Autoregulation” Dengan kenaikan TD menyebabkan spasme yang berat pada arteriole mengurangi aliran darah ke otak (CDF) dan iskemi. pendarahan dan mikro infark. III. seks dan usia penderita. tapi juga dari tingginya TD sebelumnya. bangsa. Overautoregulation Spasme Arteriole CBF TD naik Mendadak Hipertensi Ensefalopati CBF Break Through Autoregulation Petekhias Hemorhage Mikro infark Nekrosis Vaskuler Odema otak Aliran darah ke otak pada penderita hipertensi kronis tidak mengalami perubahan bila Mean Arterial Pressure ( MAP ) 120 mmHg – 160 mmHg.Tabel II : Hipertensi urgensi ( mendesak ) Hipertensi berat dengan TD Diastolik > 120 mmHg. PATOFISIOLOGI ( 10. cepatnya kenaikan TD. gangguan ginjal dan kardiovaskular dan kejadian ini dijumpai bila TD Diastolik > 140 mmHg. petekhie. KW I atau II pada funduskopi. sedangkan pada penderita hipertensi baru dengan MAP diantara 60 – 120 mmHg. Tingginya TD yang dapat menyebabkan kerusakan organ sasaran tidak hany dari tingkatan TD aktual. dapat timbul hipertensi ensefalopati demikian juga pada eklampsi. sebagai contoh : pada penderita hipertensi kronis. autoregulasi menjadi lebih sempit dengan batas tertinggi 125 mmHg. mikoinfark dan oedema otak. sehingga perubahan yang sedikit saja dari TD menyebabkan asidosis otak akan mempercepat timbulnya oedema otak. petekhie. ©2004 Digitized by USU digital library 3 . Hipertensi tak terkontrol / tanpa diobati pada perioperatif. hemorhages. tetapi dengan minimal atau tanpa kerusakan organ sasaran dan tidak dijumpai keadaan pada tabel I. jarang terjadi hipertensi ensefalopati. Sebaliknya pada penderita normotensi ataupun pada penderita hipertensi baru dengan penghentian obat yang tiba-tiba. Pada keadaan hiper kapnia. udema di otak. fibrinoid dari arteriole. hipertensi ensefalopati dapat timbul walaupun TD 160/110 mmHg.

elektrolik. urine : Urinelisa dan kultur urine. Anamnesa : Sewaktu penderita masuk. CAT Scan. venumandelic Acid ( VMA ). Glomerulonefritis akut. IV. payah jantung kongestif. Pemeriksaan lanjutan ( tergantung dari keadaan klinis dan hasil pemeriksaan yang pertama ) : a. Gejala sistem syaraf ( sakit kepala. Hal yang penting ditanyakan : Riwayat hipertensi : lama dan beratnya. KGD. Foto dada : apakah ada oedema paru ( dapat ditunggu setelah pengobatan terlaksana ).3. pemeriksaan penunjang dapat dibedakan hipertensi emergensi urgensi dan faktor-faktor yang mempresipitasi krisis hipertensi. nyeri dada ). Obat anti hipertensi yang digunakan dan kepatuhannya. c. gangguan neurologi. IV. kongestif dan oedema paru. melihat tanda iskemi.11) Diagnosa krisis hipertensi harus ditegakkan sedini mungkin. sangkaan kelainan renal : IVP. creatirine. EKG : 12 Lead. c. Cedera kepala dan ruda paksa susunan syaraf pusat. altadiseksi ). Gejala sistem ginjal ( gross hematuri. menyingkirkan kemungkinan tindakan bedah neurologi : Spinal tab. Pemeriksaan yang segera seperti : a. 2. ©2004 Digitized by USU digital library 4 . karena hasil terapi tergantung kepada tindakan yang cepat dan tepat. Renald angiography ( kasus tertentu ). kongestif dan oedem paru.1. biopsi renald ( kasus tertentu ). Riwayat penyakit : glomerulonefrosis. darah : rutin. Faktor presifitasi pada krisis hipertensi Dari anamnese dan pemeriksaan fisik. pyelonefritis. Tidak perlu menunggu hasil pemeriksaan yang menyeluruh walaupun dengan data-data yang minimal kita sudah dapat mendiagnosa suatu krisis hipertensi. hoyong. Keadaan-keadaan klinis yang sering mempresipitasi timbulnya krisis hipertensi.7. Gejala sistem kardiovascular ( adanya payah jantung. dilakukan anamnesa singkat. Usia : sering pada usia 40 – 60 tahun. jumlah urine berkurang ).2.6. Renin-secretin tumors. IV. Pemeriksaan penunjang : Pemeriksaan penunjang dilakukan dua cara yaitu : 1. ansietas ). metamefrin.4. Riwayat kehamilan : tanda eklampsi. IV. Perlu dibedakan komplikasi krisis hipertensi dengan kegawatan neurologi ataupun payah jantung. b. d. Perlu dicari penyakit penyerta lain seperti penyakit jantung koroner. perubahan mental. DIAGNOSA (1. BUN. Bila disangsikan Feokhromositoma : urine 24 jam untuk Katekholamine. Hipertensi renovaskular. Sindroma withdrawal anti hypertensi. Pemeriksaan fisik : Pada pemeriksaan fisik dilakukan pengukuran TD ( baring dan berdiri ) mencari kerusakan organ sasaran ( retinopati. antara lain : Kenaikan TD tiba-tiba pada penderita hipertensi kronis essensial ( tersering ). b.IV.

Progresif sistematik sklerosis. simpatomimetik ( pil diet.Oedema paru dengan payah jantung kiri. jantung. jika TD naik timbul vasokonstriksi. Inhibitors. IV.I. MAO Inhibitor.5. 7. . aliran darah otak masih tetap pada fluktuasi Mean Arterial Pressure ( MAP ) 60 – 70 mmHg. sejenis Amphetamin ). PENGOBATAN KRISIS HIPERTENSI V. .Pemakaian prekusor katekholamine pada pasien yang mendapat MAO. Bila mekanisme ini gagal. maka dapat terjadi iskemi otak dengan manifestasi klinik seperti mual. anti depressant trisiklik. ©2004 Digitized by USU digital library 5 .Emergensi neurologi yang dapat dikoreksi dengan pembedahan. penurunan yang terlalu agresif juga dapat menimbulkan berkurangnya perfusi dan aliran darah ke organ vital terutama otak. Sampai sejauh mana tekanan darah diturunkan ?.Hipertensi berat . pingsan dan sinkope. Difrensial diagnosa Krisis hipertensi harus dibedakan dari keadaan yang menyerupai krisis hipertensi seperti : . terjadi vasodilatasi. NSAID.Ansietas dengan hipertensi labil. Bila TD turun. Penyakit parenkhim ginjal. Untuk menurunkan TD sampai ke tingkat yang diharapkan perlu diperhaikan berbagai faktor antara lain keadaan hipertensi sendiri ( TD segera diturunkan atau bertahap. Dengan pengetahuan autoregulasi dalam menurunkan TD secara mendadak dimaksudkan untuk melindungi organ vital dengan tidak terjadi iskemi. masih dapat ditolelir. 13 ) Tekanan darah yang sedemikian tinggi haruslah segera diturunkan karena penundaan akan memperburuk penyakit yang akan timbul baik cepat maupun lambat. kortikosteroid. Pada individu normotensi. 10. Pengaruh obat : kontrasepsi oral. ergot alk. V. Tetapi dipihak lain. Luka bakar. Pada cerebrovaskuler yang normal penurunan TD yang cepat sampai batas hipertensi. Mengganggap bahwa hipoksia mempunyai peranan dalam perubahan metabolisme di otak. Autoregulasi otak telah cukup luas diteliti dan diterangkan. SLE. Dasar-dasar penanggulangan krisis HT : ( 6. Autoregulasi otak ini kemungkinan disebabkan oleh mekanisme miogenic yang disebabkan oleh stretch receptors pada otot polos arteriol otak. AUTOREGULASI Yang dimaksud autoregulasi adalah penyesuaian fisiologis organ tubuh terhadap kebutuhan dan pasokan darah dengan mengadakan perubahan pada resistensi terhadap aliran darah dengan berbagai tingkatan perubahan kontriksi / dilatasi pembuluh darah. walaupun oleh Kontos dkk. maka otak akan mengeluarkan oksigen lebih banyak dari darah untuk kompensasi dari aliran darah yang berkurang. pengamatan problema yang menyertai krisis hipertensi perubahan dari aliran darah dan autoregulasi TD pada organ vital dan pemilihan obat anti hipertensi yang efektif untuk krisis hipertensi dan monitoring efek samping obat. menguap. Bila MAP turun dibawah batas autoregulasi. dan ginjal.

batas ambang autoregulasi ini akan berubah dan bergeser ke kanan pada kurva.O ) dan systemic vasculer resistance ( SVR ). Kurva bergeser ke kanan. Gbr. Aliran darah otak dipertahankan pada MAP antara 60 – 120 – 140 mmHg. Penderita hipertensi ensefalopati. II : Auto regulasi pada orang hipertensi aliran darah otak pada TH krinis dipertahankan pada MAP tinggi yaitu 120 – 160 – 180 mmHg. TD = SV CO HR >< PVR SVR RVR ©2004 Digitized by USU digital library 6 . Resistensi perifer terjadi akibat peripheral vascular resistensi ( PVRB) dan renal vascular resistence ( RVR ). pengurangan MAP sebanyak 20–25% dalam beberapa menit/jam. Dari penelitian didapatkan bahwa baik orang yang normotensi maupun hipertensi. GANGGUAN HEMODINAMIK PADA KRISIS HIPERTENSI ( 10 ) Tekanan darah ditentukan oleh 2 faktor utama yaitu : Cardiac output ( C. penurunan TD 25% dalam 2–3 jam. Penderita hipertensi denga pengobatan mempunyai nilai diantar group normotensi dan hipertensi tanpa pengobatan dan dianggap bahwa TD terkontrol cenderung menggeser autoregulasi kearah normal. penyakit cerebrovaskular dan usia tua. Oleh karena itu dalam pengobatan krisis hipertensi. ( gambar 1 dan 2 ).Pada penderita hipertensi kronis. Untuk pasien dengan infark cerebri akut ataupun pendarahan intrakranial. Gbr. Straagaard pada penelitiannya mendapatkan MAP rata-rata 113 mmHg pada 13 penderita hipertensi tanpa pengobatan dibandingkan dengan 73 mmHg pada orang normotensi. sehingga pengurangan aliran darah terjadi pada TD yang lebih tinggi. I : Auto regulasi Pada orang normotensi. Cardiac output ditentukan oleh Stroke Volume ( SV ) dan Hearth Rate ( HR ). pengurangan TD dilakukan lebih lambat (6 – 12 jam) dan harus dijaga agar TD tidak lebih rendah dari 170 – 180/100 mmHg. ditaksir bahwa batas terendah dari autoregulasi otak adalah kirakira 25% dibawah resting MAP. tergantung dari apakah emergensi atau urgensi penurunan TD pada penderita aorta diseksi akut ataupun oedema paru akibat payah jantung kiri dilakukan dalam tempo 15–30 menit dan bisa lebir rendah lagi dibandingkan hipertensi emergensi lainnya.

8. CO berkurang 25% dan VR bertambah 20 – 25%. 2 : PENANGGULANGAN HIPERTENSI EMERGENSI : ( 6.penurunan TD diastolik tidak kurang dari 100 mmHg. .tentukan penyebab krisis hipertensi .Penurunan TD secara akut ke TD normal / subnormal pada awal pengobatan dapat menyebabkan berkurangnya perfusike ke otak. 10 ) Umumnya kebanyakan penderita krisis hipertensi mempunyai intravaskuler volume depletion. Jika hipertensi emergensi dan disertai dengan kerusakan organ sasaran maka penderita dirawat diruangan intensive care unit. Penurunan TD tidak lebih dari 25% dari MAP ataupun TD yang didapat. TD sistolik tidak kurang dari 160 mmHg. 7. V. jantung dan ginjal dan hal ini harus dihindari pada beberapa hari permulaan. Pemberian diuretika dapat dilakukan bila setelah diberikan obat anti hipertensi non diuretikal beberapa hari dan telah terjadi reflex volume retention.tentukan adanya kerusakan organ sasaran Tentukan TD yang diinginkan didasari dari lamanya tingginya TD sebelumnya. kongestive dan oedem paru. Obat yang mengurangi SVR tanpa mengurangi CO lebih disukai oleh sebagian besar penderita krisis hipertensi dengan kekcualian bagi disecting aneurysma aorta.TD secara bertahap diusahakan mencapai normal dalam satu atau dua minggu. . Obat yang menambah SVR dan mengurangi CO seperti beta blocker tanpa intrinsic sympathomimetic activity ( ISA ) haruslah dihindari karena akan menyebabkan eksaserbasi gangguan hemodinanamik seperti payah jantung. pasang femoral intraarterial line dan pulmonari arterial catether (bila ada indikasi ). Anamnese singkat dan pemeriksaan fisik. . SVR bertambah akibat sekunder dari perubahan struktur hipertensi kronis dan perubahan perubahan vasekonstriksi akut. 10 ) Bila diagnosa hipertensi emergensi telah ditegakkan maka TD perlu segera diturunkan. ( ICU ) dan diberi salah satu dari obat anti hipertensi intravena ( IV ). 7. ©2004 Digitized by USU digital library 2 . Status volume cairan ( 6. 19 ) Obat anti hipertensi oral atau parenteral yang digunakan pada krisis hipertensi tergantung dari apakah pasien dengan hipertensi emergensi atau urgensi. . Secara logika disukai obat anti hipertensi yang dapat memperbaiki gangguan hemodinamik pada krisis hipertensi. Pada hipertensi maligna. misal : dissecting anneurysma aorta. cepatnya kenaikan dan keparahan hipertensi.singkirkan penyakit lain yang menyerupai krisis HT . kecuali pada keadaan tertentu. 10. Pemakaian obat-obat untuk krisis hipertensi ( 6. Langkah-langkah yang perlu diambil adalah : Rawat di ICU. ataupun MAP tidak kurang dari 120 mmHg selama 48 jam pertama. kecuali pada krisis hipertensi tertentu ( misal : disecting aortic aneurysm ). Perlu diketahui bahwa pembatasan cairan dan garam ( natrium ) serta diretika pada hipertensi maligna akan menyebabkan bertambahnya volume depletion sehingga bukannya menurunkan TD malah meningkatkan TD.Pada HT primer. masalah klinis yang menyertai dan usia pasien. oleh karena itu jangan diberi terapi diuretika. Untuk menentukan fungsi kordiopulmonair dan status volume intravaskuler. kecuali bila secara klinis dibuktikan adanya volume over load seperti payah jantung kongestif atau oedema paru.

meningkatkan stroke volume dan cardiac out put. 2. muntah. Enalapriat : merupakan vasodelator golongan ACE inhibitor. Secara i. mual. Dosis : 20 – 80 mg secara i.1. Onset of action 11 – 2 menit.v bolus : 10 – 40 mg i. Labetalol : termasuk golongan beta dan alpha blocking agent. hoyong. 4. aritmia. mual. i. Dosis : 250 – 500 mg secara infus i. ileus. distensi abdomen. Onset of action : 1 – 5 menit. keringat. Onset of action 5 – 10 menit Efek samping : hipotensi orthostatik. Dosis permulaan : 50 mg bolus.25 mg tiap 6 jam i.625 – 1. Onset of action : oral 0. sakit kepala. 9.5 – 1 jam.m. dll. Efeksamping : refleks takhikardi. secara infus i.v bolus atau i. muntah. ©2004 Digitized by USU digital library 3 . Onset of action 2 – 5 menit. Duration of action : 10 menit. Efek samping : opstipasi. Nitroglycerini : merupakan vasodilator vena pada dosis rendah tetapi bila dengan dosis tinggi sebagai vasodilator arteri dan vena. Efek samping : mual. somnolen. Methyldopa : termasuk golongan alpha agonist sentral dan menekan sistem syaraf simpatis. Efek samping : sakit kepala. duration of action 4 – 12 jam. 6. mulut kering. hipotensi. dapat diulang dengan 25 – 75 mg setiap 5 menit sampai TD yang diinginkan. Dosis 0. Dosis : 5 – 100 ug / menit. V mempunyai onsep of action yang cepat yaitu : 1 – 2 dosis 1 – 6 ug / kg / menit.v : 10 – 20 menit duration of action : 6 – 12 jam. V. Onset of action 1 – 2 menit. V bolus. hiperuricemia. duration of action 3 – 5 menit. Hydralazine : merupakan vasodilator direk arteri. Sodium Nitroprusside : merupakan vasodelator direkuat baik arterial maupun venous. bradikardi.v. respiratori arrest. 3. Efek samping : hipotensi dan shock. Dosis 5 – 20 mg secar i. glaukoma. foto sensitif. respons unpredictable dan komplikasi lebih sering dijumpai. hipotensi. Trimethaphan camsylate : termasuk ganglion blocking agent dan menginhibisi sistem simpatis dan parasimpatis. MCI akut dll. dll. Phentolamine ( regitine ) : termasuk golongan alpha andrenergic blockers. 7. Onsep on action 15 – 60 menit. Onset of action : 30 – 60 menit. Dosis : 1 – 4 mg / menit secara infus i. eksaserbasi angina.m Pemberiannya bersama dengan alpha agonist central ataupun Beta Blocker untuk mengurangi refleks takhikardi dan diuretik untuk mengurangi volume intravaskular. Dosis : 10 – 20 mg i. 5. duration of action 3 – 10 menit.v. retensia urine. muntah. duration of action kira-kira 12 jam. efek puncak pada 3 – 5 menit. duration of action 10 jam dan efek samping hipotensi. Juga tersedia dalam bentuk oral dengan onset of action 2 jam. 2 mg / menit secara infus i. 8.v. Diazolxide : merupakan vasodilator arteri direk yang kuat diberikan secara i. hipotensi. Terutama untuk mengatasi kelainan akibat kelebihan ketekholamin.v / 6 jam.v. bolus setiap 10 menit .

Bila terjadi penurunan TD berlebihan. Setiap 15 menit dosis dititrasi dengan menaikkan tetesan dengan 4 tetes setiap kalinya sampai TD yang diingini diperoleh. Clonidine : termasuk golongan alpha agonist sentral. 10.v pelan-pelan dalam 10 cc dekstrose 5% atau i. Walaupun akhir-akhir ini ada kecenderungan untuk memberikan obat-obat oral yang cara pemberiannya lebih mudah tetapi pemberian obat parenteral adalah lebih aman. sedasi. mulut kering. Trimethaphan TD dapat diturunkan baik secara perlahan maupun cepat sesuai keinginan dengan cara menatur tetesan infus.Efek samping : Coombs test ( + ) demam. Dosis : 0. dan TD naik kembali. penurunan TD yang berlebihan sulit untuk dinaikkan kembali.150 ug dalam 100 cc dekstrose dengan titrasi dosis.m. with drawal sindrome dll. Yang menjadi adalah kebanyakan obat-obat parenteral tidak dapat diperoleh secara komersil di Indonesia. sedangkan di Amerika bentuk injeksi clonidine tidak tersedia. *Pilihan obat-obatan pada hipertensi emergensi ( 6.05 mg dalam 500 ml Dekstrose dan disis ditittrasi. mengantuk dan depresi. Pada hipertensi dengan tand iskemi cerebral ataupun stroke. rasa sakit pada parotis. Pengguna clonidone untuk krisis hipertensi lebih banyak dipakai di Eropa. Hasil yang diperoleh yaitu TD diastolik dapat diturunkan <120mmHg dalam 1 jam dan respons yang baik pada 90. Efek samping : rasa ngantuk.10 ) : Dari berbagai jenis hipertensi emergensi. Nitroglycirine.15 mg dan bagi pasien yang tidak respons dengan satu kali injeksi. Bila dihentikan secara tiba-tiba dapat menimbulkan sindroma putus obat.9 – 1. 1973 ) menggunakan clonidine intra vena 0. ( 17 ) Penelitian lain di Australia ( 1974 ) menggunakan clonidine intra vena 150 mg atau 300 mg dalam 10ml NaCl 0. Hasil yang diperoleh cukup baik dan efek samping yang minimal. Bila TD yang diinginkan telah dicapai. obat ini akan memperberat gejala. Kerugian obat ini adalah efek samping yang sering timbul seperti mulut kering. ( 13 ) Obat parenteral yang tersedia adalah clonidine. Bila TD ini telah dicapai diawasi selama 4 jam dan selanjutnya dengan obat per oral. Perlu diingat bila digunakan obat parenteral yang long acting ataupun obat oral. obat ini kurang disukai untuk terapi awal.9% secara i.15 mg i. Onset of action 5 –10 menit dan mencapai maksimal setelah 1 jam atau beberapa jam.5% kasus. Dengan Sodium nitrotprusside. telah diteliti pemakaian clonidine pada krisis hipertensi dengan cara : ( 19 ) Dosis yang digunakan adalah 150mcg ( 1 ampul ) dalam 1000ml deksmenit 5% didalam mikrodrid dan dimulai dengan 12 tetes/menit. infus distop dan TD dapat naik kembali dalam beberapa menit.v 5 menit dan mendapat respons yang baik dan efek samping maksimum dalam 30-60 menit. obat pilihan yang dianjurkan maupun yang sebaiknya dihindari adalah sbb : ©2004 Digitized by USU digital library 4 . Karena onset of actionnya bisa takterduga dan kasiatnya tidak konsisten. gangguan gastrointestino. Dengan tetesan berkisar 12-104 tetes/menit dapat dicapai TD yang diingini dan penderita tidak mengalami penurunan TD yang berlebihan. hoyong. injeksi dapat di stop. ( 10 ) Van Der Hem ( Belanda. Hal yang kurang menguntungkan dengan obat parenteral adalah perlu pengawasan yang tepat bagi pasien di ICU. digunakan clonidine 0. ( 2 ) Di bagian penyakit Dalam FK USU Medan ( 1989 ). Demikian juga pemberian labetalol ataupun Diazoxide secara bolus intermitten intravena dapat menyebabkan TD turun bertahap.7.

Caantagonist.5. Diazoxide yang dapat memberikan bolus intravena. nitroprusside. Sodium nitroprusside merupakan drug of choice pada kebanyakan hipertensi emergensi. Aorta disseksi : Anjuran :Sodium nitroprussidedan B-antagonist. Methydopa. Labetalol. Minoxidil. Hipertensi ensenpalopati : Anjuran : Sodium nitroprusside. Perdarahan intacerebral. telah diteliti untuk kasus hipertensi emergensi (dalam jumlah kecil) dan tampaknya memberikan harapan yang baik. Sodium Nitroprusside dan loopdiuretuk. Methyldopa. Methydopa. Labetalol. Hindarkan : B-antagonist.16. Diuretik. Cerebral infark : Anjuran : Sodium nitropsside. Hindarkan : B-antagonist. Trimethaohaan dan B-antagonist. Diazoxide. Bertel dkk 1983 mengemukakan hal yang baik pada 25 penderita dengan dengan pemakaian dosis 10mg yang dapat ditambah 10mg lagi menit. labetalol. Diaozoxide. ©2004 Digitized by USU digital library 5 . Hindarkan : B-antagonist. Mikroaangiopati hemolitik anemia : Anjuran : Sodium nitroprosside. B-antagonist. miokrad infark : Anjuran : Nitroglycerine. Hindarkan : Hydralazine. Dedem paru akut : Anjuran : Sodium nitroroprusside dan loopdiuretik.. Yang menarik adalah bahwa 4 dari 5 penderita yang diperiksa. Ca – antagonist. diazoxide. 2. Miokard iskemi. 5. Labeta Lol. B-antagonist labetalol.4. 4. aliran darah cerebral meningkat. Phentolamine.1. Hindarkan : B-antagonist. Trimethaphan KW III-IV : Anjuran : Sodium nitroprusside. Hindarkan : Hydralacine. Labetalol. Labetalol. Caantagonist. perdarahan subarakhnoid : Anjuran : Sodiun nitroprusside Labetalol.20 ) Dari berbagai penelitian akhir-akhir ini ada kecenderungan untuk menggunakan obat oral seperti Nifedipine ( Ca antagonist ) Captopril dalam penanganan hipertensi emergensi. Clonidine. Methyidopa. Dari berbagai sediaan obat antu hipertensi parenteral yang tersedia. sodium Renal insufisiensi akut : anjuran : Sodium nitroprusside. Nicardipine suatu calsium channel antagonist merupakan obat baru yang diperukan secara intravena. Hindarkan: Trimethaphan. Ca-antagonist Hindarkan : B. 3. labetalol. Hindarkan : B-antagonist. Clonidine. Hindarkan : Hyralazine.cantagonist. Clonodine.antagonist. Nitroglycerine Hidralazine diindikasikanpada kondisi tertentu. Karena pemakaian obat ini haruslah dengan cara tetesan intravena dan harus dengan monitoring ketat. Clonidine. Alternatif obat lain yang cukup efektif adalah Labetalol. Labetalol. Minoxidil Eklampsi : anjuran : Hydralazine.9. penderita harus dirawat di ICU karena dapat menimbulkan hipotensi berat. Diazoxxide. Diazoxide. • Obat oral untuk hipertensi emergensi : ( 3.

maka dapat dimulai pengobatan.Efek samping : first dosyncope.l : Nifedipine : pemberian bisa secara sublingual (onset 5-10 menit). tetapi jelas terjadi perbaikan dari simptom dan sign dari organ sasaran. flushing. Sebaiknya penderita ditempatkan diruangan yang tenang. hipotensi. Di Medan dibagian penyakit dalam FK USU pada 1991.sedang dengan clonidine yang diselidiki menurun. Dosis 25mg dan dapat diulang setiap 30 menit sesuai kebutuhan.sick sinus syndrome. Dari hasil ini diharapkan kemungkinan penggunaan obat oral anti hipertensi untuk krisis hipertensi.2 mg. Demikian juga Captopril. tidak terang dan TD diukur kembali dalam 30 menit.1 mg setiap jam s/d 0. takhikardi. gagal ginjal akut pada penderita bilateral renal arteri sinosis. hiponsi orthostatik. Dosis : 0. Efek akut nifedipine dalam waktu 5-15 menit.7mg. Efek samping : angio neurotik oedema. brakardi.Over dosis dapat diobati dengan tolazoline. Bila TD tetap masih sangat meningkat. telah diteliti efek akut obat oral anti hipertensi terhadap hipertensi sedang dan berat pada 60 penderita. Penaggulangan hipertensi urgensi : (6. Prazosin : Pemberian secara oral dengan dosis 1-2mg dan diulang perjam bila perlu. Captoprial 25mg atau Nifedipine 10mg digerus dan diberikan secara sublingual kepada pasien.05mg-0. TD dan tanda Vital dicatat tiap lima menit sampai 60 menit dan juga dicatat tanda-tanda efek samping yang timbul. Respons bila TD diastolik mencapai <120mmHg atau MAP <150mmHg dan adanya perbaikan simptom dan sign dari gangguan organ sasaran yang dinilai secara klinis setelah 60 menit pemberian obat. Umumnya digunakan obat-obat oral anti hipertensi dalam menggulangi hipertensi urgensi ini dan hasilnya cukup memuaskan. heart block. Pada tahun 1993 telah diteliti penggunaan obat oral nifedipine sublingual dan captoprial pada penderita hipertensi krisis memberikan hasil yang cukup memuaskan setelah menit ke 20. Obat-obat oral anti hipertensi yang digunakan a. Efek samping : sedasi.10 ) Penderita dengan hipertensi urgensi tidak memerlukan rawat inap di rumah sakit. rash.1-0. Captoprial dan Nifedipine sublingual tidak berbeda bermakna dam Menurunkan TD. Prazosin terutama digunakan pada penderita hipertensi urgensi akibat dari peningkatan katekholamine.oral (onset 15-20 menit).mulut kering.Buccal (onset 5 –10 menit). hoyong. ©2004 Digitized by USU digital library 6 .Hindari pemakaian pada 2nd degree atau 3rd degree. takhikaro sakit kepala.7. palpitasi. Clondine : Pemberian secara oral dengan onset 30 – 60 menit Duration of Action 8-12 jam. Dengan pemberian Nifedipine ataupun Clonidine oral dicapai penurunan MAP sebanyak 20 % ataupun TD<120 mmHg.duration 5 – 15 menit secara sublingual/buccal). Inkomplit respons bila setelah 60 menit pemberian obat. Efek samping : sakit kepala. Inkomplit respons bila setelah 60 menit TD masih >120mmHg atau MAP masih >150mmHg.dijutkan 0. Demikian juga dengan clonidine dalam waktu 5-35 menit. Pasien digolongkan nonrespons bila penurunan TD diastolik <10mmHg setelah 20 menit pemberian obat. Captopril : pemberian secara oral/sublingual. walaupun tidak mencapai tahap bermakna secara statistik.

Dilaporkan bahwa reaksi hipotensi akibat pemberian oral Nifedifine dapat menyebabkan timbulnya infark miokard dan stroke. Pada kebanyakan penderita krisis hipertensi . payah jantung kongestif (13%). status volum dll.Untuk penderita ini dan pada penderita dengan riwayat penyakit cerebrovaskular dan koroner.payah jantung kongestif disertai uremia (48%). Faktor klinis lain : obat lain yan gdiberikan . Dalam memberikan terapi perlu diperhatikan beberapa faktor : Apakah penderita dengan hipertensi emergensi atau urgensi.Seluruh penderita diobservasi paling sedikit selama 6 jam setelah TD turun untuk mengetahui efek terapi dan juga kemungkinan timbulnya orthotatis. cerebro vascular accident (20%). Effek sqamping obat Besarnya penurunan TD umumnya kira-kira 25% dari MAP ataupun tidak lebih rendah dari 170-180/100mmHg.Serum creatine merupakan prognostik marker yang paling baik dan dalam studinya didapatkan bahwa 85% dari penderita dengan creatinite <300 umol/l memberikan hasil yang baik dibandingkan dengan penderita yang mempunyai fungsi ginjal yang jelek yaitu 9 % Kesimpulan Hipertensi urgensi perlu dibedakan dengan hipertensi emergensi agar dapat memilih pengobatan yang memadai bagi penderita. jantung. merupakan oral anti hipertensi yang terpilih untuk hipertensi urgensi. sedangkan hipertensi urgensi tanpa kerusakan organ sasaran /kerusakan minimal. Drug of choice untuk hipertensi emergensi adalah Sodium Nitroprusside. juga pada pasien umur tua dan pasien dengan volume depletion maka dosis obat Nifedipine dan Clonidine harus dikurangi.Perlu diingat bahwa pemberian obat anti hipertensi oral/sublingual dapat menyebabkan penurunan TD yang cepat dan berlebihan bahkan sampai kebatas hipotensi (walaupun hal ini jarang sekali terjadi). TD yang diinginkan dan lama kerja. diseksi aorta (1%). Prognose menjadi lebih baik berkat ditemukannya obat yang efektif dan penaggulangan penderita gagal ginjal dengan analysis dan transplanta ginjal. TD diastolik > 120 – mmHg. Dengan pengaturan titrasi dosis Nifedipine ataupun Clonidin biasanya TD dapat diturunkan bertahap dan mencapai batas aman dari MAP.Kematian sebabkan oleh uremia (19%). Autoguralsi dan perfusi dari vital oragan(otak. Bila ID penderita yang obati tidak berkurang maka sebaiknya penderita dirawat dirumah sakit. Dikenal adanya “first dose” effek dari Prozosin. infrak Mio Card (1%). Cepatnya TD diturunkan. Nifedipine. Pemakaian oabat parenteral untuk hipertensi emergensi lebih aman karena TD dapat diatur sesuai dengan keinginan. Penderita yang telah mendapat pengobatan anti hipertensi cenderung lebih sensitive terhadap penambahan terapi.Tidak dijumpai hasil perbedaan diantara retionopati KWIII dan IV. dan ginjal) bila TD diturunkan. ©2004 Digitized by USU digital library 7 .18) Sebelum ditemukannya obat anti hipertensi yang efektif survival penderita hanyalah 20% dalam 1 tahun. sedangkan dengan obat oral kemungkinan penurunan TD melebihi diingini sehingga dapat terjadi hipoperfusi organ. Mekanisme kerja dan efek hemodinamik obat. survival dalam 1 tahun berkisar 94% dan survival 5 tahun sebesar 75%. Hipertensi emergensi disertai dengan kerusakan organ sasaran. Clinidine. Prognose (10. Whitworth melaporkan dari penelitiannya sejak tahun 1980. dari obat.

Dari berbagai penelitian (dalam dan luar negri ) bahwa obat oral Nifedipine dan Captopril cukup efektif untuk mengatasi hipertensi emergensi. Mcgrath B .P. 1 :829-831.W. ACP Journal Clib. 151 : 678-82. Y . 193-5. 2273-89. 169-75..A. Intren. S. naskah lengkap KOPARDI VIII. Aust. Anwar C. Fadillah. Mc Leman & Petty Pty Limited. Rippe J. 32.S. Caregaro. 45. : Johns C. Calhoun D. 1990 : Refractory Hypertantion and Hypertensive Emergencies in Hypertention Management. 286.R. A . 1991 : Comparison of sublingual Captopril and Nifedipine in immediate Treatment of hypertensive Emergencies. Med.N. O. M. 1974 : Management of Acute Hipertensive Crissis with Clonidine (catapres ). William & Elkins. Kaplan N.SV. Bertel. 39-45. 99148. JAMA SEA. 323 : 1177-83. 1991 : Mamagement of Hypertensivi Crisis. I. Haynes R. Med. Langton D.G. New Engl J Med. Cheast.M . BrMmmed J. Gonzale D. KEPUSTAKAAN Alpert J. Radu EW. ©2004 Digitized by USU digital library 8 . 1980 : Hype tensive Crisis in manual of Cardiovascular Diagnosis and Therapy. and Nifedipine on Hipertensive Houston MC . 279-83. Pemberian Beta Blocker tidak dianjurkan pada krisis hipertensi kecuali pada aorta disekasi akut.et al. Lubis H. Gifford R. 19-21.M. Yogyakarta. Anavekar S. Asean Edition Little Brown and Coy Boston. Conen D. 1986 : Clinical Hypertention. Oparil .266. Chiese. 1988 : New Approaches for the treatment of Hypertensive Urgencies and Emergencies. 149-60. Klonodin Metoprolol ) pada penderita hipertensi sedang dan berat . Australia.B. 1991 : Sublingual Captopril Emergencies. 1990 : Treatmenet of Hypertensive Crisis. Muller J. J. 1991 : Efek akut obat anti hipertensi (Nifedipine. Arch. Angeli. 1989 : Pathoplysiology Clinical Aspects and tereatment Dis. . 4th Edition.I. Ram C. Baltimore. Lang C : 1983:Nifedipine in Hypertensive Emergencies. S . Pemberiaan diuretika pada hipertensi emergensi dimana dibuktikan adanya volume overload seperti payah jantung kongestif dan oedema paru. Nasution M.H.