PEMBAHASAN

Dari hasil praktikum diperoleh data masing-masing spesies tanaman sebagai berikut : 1. Gadung (Dioscorea hispida Denust.)  Klasifikasi ilmiah Kerajaan: Plantae Divisi: Kelas: Ordo: Famili: Genus: Magnoliophyta Liliopsida Dioscoreales Dioscoreaceae Dioscorea

Spesies: D. hispida Denust.

 Deskripsi tanaman : Pohon : perdu memanjat yang tingginya dapat mencapai 510 m. Batangnya bulat, berbulu dan berduri yang tersebar sepanjang batang dan tangkai daun. Tumbuh pada tanah datar hingga ketinggian 850 m dpl, tetapi dapat juga diketemukan pada ketinggian 1.200 m dpl. Umbi : Umbinya bulat diliputi rambut akar yang besar dan kaku. Kulit umbi berwarna gading atau coklat muda, daging umbinya berwarna putih gading atau kuning. Umbinya muncul dekat permukaan tanah. Umbinya sangat beracun karena mengandung alkohol yang menimbulkan rasa pusing-pusing. Bila umbinya dibiarkan tua warnanya akan berubah menjadi hijau dan kadar racunnya akan makin pekat. Daun : daun majemuk terdiri dari 3 helai daun. Bunga tersusun dalam ketiak daun, berbulit, berbulu dan jarang sekali dijumpai. Bunga : tanaman ini yang berwarna kuning sangat harum digunakan untuk mewangikan pakaian dan dapat pula dipakai sebagai hiasan rambut.

 Bagian yang digunakan : batang  Kandungan dan manfaat : parutan umbi gadung ini digunakan untuk mengobati penyakit kusta tahap awal, kutil, kapalan dan mata ikan. Bersama dengan gadung cina (Smilax china L.), umbi gadung dipakai untuk mengobati luka-luka akibat sifilis. Di Thailand, irisan dari umbi gadung dioleskan untuk mengurangi kejang perut dan kolik, dan untuk menghilangkan nanah dari luka-luka. Di Filipina dan Cina, umbi ini digunakan untuk meringankan arthritis dan rematik, dan untuk

membersihkan luka binatang yang dipenuhi belatung.

2. Jati (Tectona grandis)  Klasifikasi ilmiah Kerajaan: Plantae Divisi: Kelas: Ordo: Famili: Genus: Magnoliophyta Magnoliopsida Lamiales Lamiaceae Tectona

Spesies: Tectona grandis  Deskripsi : Pohon : pohon penghasil kayu bermutu tinggi. Pohon besar, berbatang lurus, dapat tumbuh mencapai tinggi 30-40 m. Berdaun besar, yang luruh di musim kemarau. Jati dapat tumbuh di daerah dengan curah hujan 1 500 – 2 000 mm/tahun dan suhu 27 – 36 °C baik di dataran rendah maupun dataran tinggi. Daun : berbentuk elips yang lebar dan dapat mencapai 30 – 60 cm saat dewasa.  Bagian yang digunakan : batang  Senyawa yang terkandung : antioksidan

 Manfaaat :  membantu menurunkan risiko penyakit jantung dan kanker  meningkatkan metabolisme lemak dalam tubuh. Hal ini menjadikannya sebagai pelangsing alami yang bisa membantu menurunkan berat badan, melancarkan sistem pencernaan dan buang air besar (BAB), mencegah obesitas (kegemukan), mengurangi selulit dan menurunkan kolesterol jahat. 3. Singkong (Manihot utilisima)  Klasifikasi ilmiah Kerajaan: Plantae Divisi: Kelas: Ordo: Famili: Magnoliophyta Magnoliopsida Malpighiales Euphorbiaceae

Upafamili: Crotonoideae Bangsa: Genus: Manihoteae Manihot

Spesies: M. utilisima  Deskripsi : Umbi atau akar pohon yang panjang dengan fisik rata-rata bergaris tengah 2-3 cm dan panjang 50-80 cm, tergantung dari jenis singkong yang ditanam. Daging umbinya berwarna putih atau kekuning-kuningan.  Bagian yang digunakan : kulit batang  Senyawa yang terkandung : mengandung tannin, enzim peroksidase, glikosida, dan kalsium oksalat.

 Manfaat : obat rematik, sakit kepala, demam, luka, diare, cacingan, disentri, rabun senja, beri-beri, dan bisa meningkatkan stamina.

4. Pinang (Areca catechu)  Klasifikasi ilmiah Kerajaan: Plantae Divisi: Kelas: Ordo: Famili: Genus: Magnoliophyta Liliopsida Arecales Arecaceae Areca

Spesies: A. catechu  Deskripsi : Pohon : Batang lurus langsing, dapat mencapai ketinggian 25 m dengan diameter lk 15 cm, meski ada pula yang lebih besar. Tajuk tidak rimbun. Daun : Pelepah daun berbentuk tabung dengan panjang 80 cm, tangkai daun pendek; helaian daun panjangnya sampai 80 cm, anak daun 85 x 5 cm, dengan ujung sobek dan bergerigi. Bunga : Tongkol bunga dengan seludang (spatha) yang panjang dan mudah rontok, muncul dibawah daun, panjang lebih kurang 75 cm, dengan tangkai pendek bercabang rangkap, sumbu ujung sampai panjang 35 cm, dengan 1 bunga betina pada pangkal, di atasnya dengan banyak bunga jantan tersusun dalam 2 baris yang tertancap dalam alur. Bunga jantan panjang 4 mm, putih kuning; benang sari 6. Bunga betina panjang lebih kurang 1,5 cm, hijau; bakal buah beruang 1. Buah : buni bulat telur terbalik memanjang, merah oranye, panjang 3,5 - 7 cm, dengan dinding buah yang berserabut. Biji 1 berbentuk telur, dan memiliki gambaran seperti jala.

 Bagian yang digunakan : batang  Senyawa yang terkandung : alkaloida, arecaidine, arecolidine, guracine (guacine), guvacoline dan beberapa unsur lainnya.  Manfaat : Secara tradisional, biji pinang digunakan dalam ramuan untuk mengobati sakit disentri, diare berdarah, kudisan, cacingan, mengatasi cacing pita. Biji ini juga dimanfaatkan sebagai merangsang otak penghasil zat pewarna merah dan bahan penyamak.

5. Ubi (Ipomoea batatas Poir )  Klasifikasi : Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledone Bangsa : Solanales Suku : Convolvulaceae Marga : Ipomoea Jenis : Ipomoea batatas Poir  Deskripsi : Habitus : herba, semusim, panjang ± 5 m. Batang : bulat, bercabang, lunak, bergetah, beruas, tiap buku bisa tumbuh akar, membentuk umbi, hijau pucat. Daun : tunggal, bertangkai, bulat, ujung runcing, tepi rata, pangkal ramping, pertulangan menyirip, panjang 4-14 cm, lebar 4-11 cm, hijau. Bunga : majemuk, bentuk terompet, di ketiak daun, kelopak bentuk lonceng, bertaju lima, hijau, mahkota bentuk corong, panjang 34,5 cm, putih, benang sari lima, melekat pada mahkota, putik bentuk benang, kepala putik kecil, putih. Buah : kotak, bulat telur, beruang 2-4, masih muda hijau setelah tua hitam. Biji  : kecil, diameter ± 1 mm, putih kotor. Akar : tunggang, putih

Bagian yang digunakan : batang

Senyawa yang terkandung : saponin, flavonoid, polifenol, vitamin C, vitamin E, betakaroten, vitamin B yaitu B6 dan asam folat, serat, karbohidrat kompleks,

Khasiat : obat bisul, obat penurun panas, obat luka bakar, jantung dan kanker, mengontrol kadar gula darah, dan menjaga daya ingat (anti pikun).

6. Suplir (Adiantum cuneatum L. )  Klasifikasi : Divisi Kelas Bangsa Suku Marga Spesies  : Pteridophyta : Filicinae : Eufilicales : Polypodiaceae : Adiantum : Adiantum cuneatum Langs. & Fisch.

Deskripsi : Pohon Batang : Semak, semusim, tinggi ± 1,3 m. : Tegak, mudah retak, silindris, permukaan licin, percabangan tumbuh dari pangkal, hitam. Daun : Tunggal, di ujung cabang atau batang, lonjong, tepi berlekuk, ujung runcing, pangkal bertoreh, pada sisi bawah daun terdapat spora untuk berkembang biak, panjang 20 – 40 cm, lebar 15 – 25 cm, hijau. Bunga Akar : Tanaman berspora. : Serabut, bulat, putih.

  

Bagian tanaman yang digunakan : herba Senyawa yang terkandung : saponin, flavonoida, dan tanin Khasiat : pelancar air seni dan obat cacing

7. Alga coklat ( Phaeophyta )  Klasifikasi : Kingdom : Plantae Devisio : Phaeophyta Genus : Brown Algae Klas : Phaeophyceae  Deskripsi : Tubuhnya selalu berupa talus yang multiseluler yang berbentuk filamen, lembaran atau menyerupai semak/pohon yang dapat mencapai beberapa puluh meter, terutama jenis-jenis yang hidup didaerah beriklim dingin. Sel vegetatif mengandung kloroplas berbentuk bulat panjang, seperti pita, mengandung klofil serta xantofil.   Bagian yang digunakan : herba Senyawa yang terkandung : mengandung khlorofil a dan khlorofil c serta beberapa santofil misalnya fukosantin, laminarin, manitol, selulose dan asam alginat.  Khasiat : pencegah gondok, menurunkan kadar lemak dalam darah, menurunkan kadar kolesterol

8. Kalanjana (Pennisetum purpureum Schumacher )  Klasifikasi : Kingdom Subkingdom Super Divisi Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Spesies  : Plantae : Tracheobionta : Spermatophyta : Magnoliophyta : Liliopsida : Commelinidae : Poales : Poaceae : Pennisetum : Pennisetum purpureum Schumacher

Deskripsi : tanaman tahunan yang berdiri tegak, berakar dalam, dan tinggi dengan rimpang yang pendek. Tinggi batang dapat mencapai 2-4

meter (bahkan mencapai 6-7 meter), dengan diameter batang dapat mencapai lebih dari 3 cm dan terdiri sampai 20 ruas / buku. Tumbuh berbentuk rumpun dengan lebar rumpun hingga 1 meter. Pelepah daun gundul hingga berbulu pendek; helai daun bergaris dengan dasar yang lebar, ujungnya runcing.    Bagian yang digunakan : herba Senyawa yang terkandung : Khasiat : -

9. Bawang Putih (Allium sativum L.)  Klasifikasi : Kingdom Subkingdom Super Divisi Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Spesies  Deskripsi : Habitus : Herba annual (2-4 bulan), tegak, 30 – 60 cm. Batang : kecil (corpus), 0,5 – 1 cm. Daun : bangun garis, kompak, datar, lebar 0,4 – 1,2 cm, pangkal pelepah membentuk umbi, bulat telur melebar, anak umbi, bersudut, dibungkus oleh selaput putih, pelepah bagian atas membentuk batang semu. Bunga : susunan majemuk payung sederhana, muncul disetiap anak umbi, 1-3 daun pelindung, seperti selaput. Tenda bunga : enam : Plantae : Tracheobionta : Spermatophyta : Magnoliophyta : Liliopsida : Liliidae : Liliales : Liliaceae : Allium : Allium sativum L.

daun, bebas atau berlekatan di pangkal, bentuk memanjang, meruncing, putih-putih kehijauan-ungu. Umbi lapis : berupa umbi majemuk berbentuk hampir bundar, garis tengahnya 4 – 6 cm terdiri dari 8 – 20 siung seluruhnya diliputi 3 – 5 selaput tipis serupa kertas berwarna agak putih, tiap siung diselubungi oleh 2 selaput serupa kertas, selaput luar warna agak putih dan agak longgar, selaput dalam warna merah muda dan melekat pada bagian padat dari siung tetapi mudah dikupas; siung bentuk membulat dibagian punggung, bidang samping rata atau agak bersudut.  Bagian yaang digunakan : bulbus  Kandungan: Kandungan kimia dari Allium sativum L. yang memiliki

aktivitas biologi dan bermanfaat dalam pengobatan adalah senyawa organosulfur, antara lain: a) Senyawa S-ak(en)-il-L-Sistein sulfoksida (ACSOs), contohnya alliin dan γ-glutamilsistein, Alliin memiliki potensi sebagai antibakteri. b) Senyawa sulfur yang volatil seperti allicin. Senyawa sulfur yang larut dalam lemak seperti diallyl sulfide (DAS) dan diallyl disulfide (DADS). c) Senyawa sulfur larut air yang non volatil seperti S- allil sistein (SAC), yang terbentuk dari reaksi enzimatik γ-glutamilsisteine ketika bawang putih diekstraksi dengan air.  Khasiat : Umbi Allium sativum L. berkhasiat sebagai obat tekanan darah tinggi, meredakan rasa pening di kepala, menurunkan kolesterol, obat maag, ekspektoransia (pada bronkhitis kronis), karminativa (pada keadaan dispepsia dan meteorismus) dan antikanker.

10. Bawang Merah (Allium cepa L.)  Klasifikasi : Kingdom Subkingdom Superdivisio Divisio Klas Sub-klas Ordo Familia Genus Spesies :Plantae :Tracheobionta :Spermatophyta :Magnoliophyta :Liliopsida :Liliidae :Liliales :Liliaceae :Allium :Allium cepa L.

 Deskripsi :  Akar : Berakar serabut dengan sistem perakaran dangkal dan

bercabang terpencar, pada kedalaman antara 15 – 30 cm di dalam tanah.  Batang : Memiliki batang sejati atau disebut “diskus” yang berbentuk seperti cakram, tipis dan pendek sebagai tempat melekatnya akar dan mata tunas (titik tumbuh), diatas diskus terdapat batang semu yang tersusun dari pelepah-pelepah daun dan batang semu yang berada di dalam tanah berubah bentuk dan fungsi menjadi umbi lapis.  Daun : Berbentuk silindris kecil memanjang antara 50 – 70 cm,

berlubang dan bagian ujungnya runcing, bewarna hijau muda sampai tua, dan letak daun melekat pada tangkai yang ukurannya relatif pendek.

 Bunga : Tangkai bunga keluar dari ujung tanaman (titik tumbuh) yang panjangnya antara 30 – 90 cm, dan di ujungnya terdapat 50 – 200 kuntum bunga yang tersusun melingkar (bulat) seolah berbentuk payung. Tiap kuntum bunga terdiri atas 5 – 6 helai daun bunga yang berwarna putih, 6 benang sari berwarna hijau atau kekuning-kuningan, 1 putik dan bakal buah berbentuk hampir segitiga. Bunga bawang merupakan bunga sempurna (hermaprodit) dan dapat menyerbuk sendiri atau silang.  Buah dan Biji : Buah berbentuk bulat dengan ujungnya tumpul membungkus biji berjumlah 2 –3 butir, bentuk biji agak pipih saat muda berwarna bening atau putih setalah tua berwarna hitam. Biji bawang merah dapat digunkan sebagai bahan perbanyakan tanaman secara generatif.  Bagian yang digunakan : bulbus  Kandungan: Bawang merah mengandung kuersetin, antioksidan yang kuat yang bertindak sebagai agen untuk menghambat sel kanker. Kandungan lain dari bawang merah diantaranya protein, mineral, sulfur, antosianin, karbohidrat, dan serat.  Khasiat: Sebagai obat tradisional yang dapat menyembuhkan penyakit deman, kencing manis dan batuk, serta untuk pencegah kanker. 11. Wortel (Daucus carota L.)  Klasifikasi : Kingdom Subkingdom Super Divisi Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Plantae : Tracheobionta : Spermatophyta : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Rosidae : Apiales : Apiaceae : Daucus : Daucus carota L.

 Deskripsi : Tumbuhan sayur yang ditanam sepanjang tahun. Terutama di daerah pegunungan yang memiliki suhu udara dingin dan lembab, kurang lebih pada ketinggian 1200 ineter di atas permukaan laut. Tumbuhan wortel mernbutuhkan sinar matahari dan dapat turnbuh pada sernua musim. Wortel mempunyai batang daun basah yang berupa sekumpulan pelepah (tangkai daun) yang muncul dari pangkal buah bagian atas (umbi akar), mirip daun seledri. Wortel menyukai tanah yang gembur dan subur.  Bagian yang digunakan : fructus  Kandungan kimia : Wortel (Daucus carota) mempunyai nilai kandungan Vitamin A yang tinggi yaitu sebesar 12000 SI. Sementara komposisi kandungan unsur yang lain adalah kalori sebesar 42 kalori, protein 1,2 gram, lemak 0,3 gram, hidrat arang 9,3 gram, kalsium 39 miligram, fosfor 37 miligram, besi 0,8 miligram, vitamin B 1 0,06 miligram, dan vitamin C 6 miligram. Komposisi di atas diukur per 100 gram.  Khasiat:  Kejang Jantung  Eksim  Cacing Kremi  Mata Minus 12. Bunga Telang (Clitoria ternatea)  Klasifikasi : Kerajaan: Divisi: Kelas: Ordo: Plantae Magnoliophyta Magnoliopsida Fabales

Famili: Upafamili: Bangsa: Genus: Spesies:

Fabaceae Faboideae Cicereae Clitoria Clitoria ternatea

 Deskripsi : Akar Batang Daun : Tunggang, putih dan kotor. : Membelit, masif, hijau, permukaan beralur. : Majemuk, menyirip, lonjong, tepi rata, ujung tumpul, pangkal

meruncing, panjang 4-9 cm. Bunga : Majemuk, bentuk tandan di ketiak daun, tangkai silindris,

panjang 1,5 cm atau lebi9h, berwarna ungu.  Bagian yang digunakan : floss  Kandungan kimia: Saponin dan polifenol.  Khasiat: Obat bisul dan obat sakit mata, pewarna makanan alami. 13. Lidah Mertua (Sansevieria trifasciata Prain)  Klasifikasi: Kingdom Subkingdom Super Divisi Divisi Kelas Sub Kelas Ordo : Plantae : Tracheobionta : Spermatophyta : Magnoliophyta : Liliopsida : Liliidae : Liliales

Famili Genus Spesies

: Agavaceae : Sansevieria : Sansevieria trifasciata Prain

 Deskripsi : berdaun tunggal, dengan bentuknya yang kaku dan keras, permukaannya licin, tumbuh dan berkumpul sebagai roset akar maksudnya yaitu 2-6 helai daun tumbuh berkumpul dipangkal akar. Bentuk daunnya panjang menyempit dengan ujungnya yang runcing, pangkalnya

menyempit dan berbentuk talang, warnanya hijau dengan panjang antara 30 – 120 cm, sedangkan lebarnya sekitar 2,5 – 8 cm. Pada kedua permukaan daun terdapat garis-garis bergelombang berwarna hijau tua yang letaknya melintang, dengan tepi daun berwarna hijau tua. Serat daunnya dapat digunakan untuk membuat tali. Bunga Lidah Mertua berbentuk bunga majemuk, menempel dalam tandan yang panjangnya sekitar 30-80 cm, warnanya hijau muda, baunya harum, dan baru mekar menjelang malam. Buahnya adalah buah buni, sedangkan untuk perbanyakkan tanaman dapat dilakukan dengan memisahkan anak tanaman yang tumbuh didekat induk atau dengan stek daun.  Bagian yang digunakan : radix  Senyawa yang terkandung : Abamagenin  Khasiat: antibiotik, influenza, batuk, infeksi saluran pencernaan, borok, kesleo, luka terpukul, gigitan ular, penyubur rambut.

14. Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.)  Klasifikasi ilmiah Kingdom : Plantae Divisi Kelas : Magnoliophyta : Magnoliopsida

Sub kelas : Rosidae Ordo Famili : Geraniales : Oxalidaceae

Genus Spesies

: Averrhoa : Averrhoa bilimbi L

 Deskripsi tanaman: Tumbuhan berbatang keras, tinggi mencapi 11 meter, daun bersirip genap. Batang tidak bercabang. Bunga berbentuk bintang, berwarna merah muda sampai ungu. Buah beruang 5, bergantung pada batang atau dahan. Buah berair dan berasa asam.  Bagian tanaman yang digunakan: fructus  Senyawa yang terkandung : Kalium oksalat; Flavonoid; Pektin; Tanin; Asam galat; Asam ferulat  Khasiat: Antipiretik; Ekspektoran 15. Sereh (Cymbopogon citratus)  Klasifikasi ilmiah Kerajaan: Plantae Ordo: Famili: Genus: Poales Poaceae Cymbopogon

Spesies: Cymbopogon citratus

 Deskripsi tanaman: Semak tahunan, batang tidak berkayu, putih kotor. Daun tunggal, bentuk lanseet, berpelepah, pangkal pelepah memeluk batang, warna hijau. Perbungaan bentuk malai, karangan bunga berseludang, warna bunga kuning keputihan. Buah bulat panjang, pipih, warna putih kekuningan.  Bagian tanaman yang digunakan: folium  Senyawa yang terkandung : Minyak atsiri (geraniol, sitronelal, dan eugenolmetileter)  Khasiat: Antiinflamasi; Diaforetik; Stomakik; Emenagog; Analgesik

16. Semangka (Citrullus lanatus)  Klasifikasi ilmiah Kerajaan: Plantae Divisi: Kelas: Ordo: Famili: Genus: Spesies: Magnoliophyta Magnoliopsida Cucurbitales Cucurbitaceae Citrullus Citrullus lanatus

 Diskripsi tanaman: Terna semusim ini tumbuh manjalar diatas tanah atau memanjat dengan salur-salur atau alat pembelit. Batang lunak, bersegi dan berambut, panjangnya 1,5-5 m. Sulur tumbuh dari ketiak daun, bercabang 2-3. Daun letak berseling, bertangkai, helaian daun lebar dan berbulu, berbagi menjari, dengan ujung runcing, panajang 3-25 cm, lebar 1,5-15 cm, tepi bergelombang, kadang bergigi tidak teratur, permukaan bawah berambut rapat pada tulangnya.  Bagian tanaman yang digunakan: fructus  Senyawa yang terkandung : Kukurbositrin  Khasiat: Memacu kerja ginjal dan menjaga tekanan darah agar tetap normal.

17. Jagung (Zea mays)  Klasifikasi ilmiah Kerajaan: Plantae Ordo: Famili: Genus: Poales Poaceae Zea

Spesies: Zea mays

 Deskripsi tanaman: Tinggi tanaman jagung sangat bervariasi yaitu 1-3 m. Akar jagung tergolong akar serabut. Pada tanaman yang sudah cukup dewasa muncul akar adventif dari buku-buku batang bagian bawah yang membantu menyangga tegaknya tanaman. Batang jagung tegak dan beruas-ruas. Daun jagung adalah daun sempurna, bentuknya memanjang. Tulang daun sejajar dengan ibu tulang daun. Permukaan daun ada yang licin dan ada yang berambut. Jagung memiliki bunga jantan dan bunga betina yang terpisah (diklin) dalam satu tanaman (monoecious). Bunga jantan tumbuh di bagian puncak tanaman, berupa karangan bunga (inflorescence). Serbuk sari berwarna kuning dan beraroma khas. Bunga betina tersusun dalam tongkol. Tongkol tumbuh dari buku, di antara batang dan pelepah daun.  Bagian tanaman yang digunakan: cemen  Senyawa yang terkandung :  Khasiat: Batu empedu, batu ginjal, hepatitis, kencing manis, tekanan darah tinggi.

18. Talok/Kersen (Muntingia calabura L.)  Klasifikasi ilmiah Kerajaan: Plantae Divisi: Kelas: Ordo: Famili: Genus: Magnoliophyta Magnoliopsida Malvales Muntingiaceae Muntingia L.

Spesies: Muntingia calabura L.

 Deskripsi tanaman: Perdu atau pohon kecil, dapat tinggi sampai 12 m, meski umumnya hanya sekitar 3-6 m saja. Daun terletak mendatar, berseling; helaian daun tidak simetris, bundar telur lanset, tepinya bergerigi dan berujung runcing, sisi bawah berambut kelabu rapat; bertangkai pendek. Daun penumpu yang sebelah meruncing bentuk benang. Bunga dalam berkas, berisi 1-3(-5) kuntum, terletak di ketiak agak di sebelah atas tumbuhnya daun; bertangkai panjang; berkelamin dua dan berbilangan 5; kelopak berbagi dalam, taju meruncing bentuk benang, berambut halus; mahkota bertepi rata, bundar telur terbalik, putih tipis, gundul. Buah buni bertangkai panjang, bulat hampir sempurna, diameter 1-1,5 cm, hijau kuning dan akhirnya merah apabila masak.  Bagian tanaman yang digunakan: Fructus  Senyawa yang terkandung : Kalsium, tianin dan fosfor  Khasiat: Obat penetralisir asam urat, antiseptic

19. Kenikir (Cosmos caudatus Kunth.)  Klasifikasi Tanaman Divisi : Spermatophyta Sub divisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledonae Bangsa : Asterales Suku : Asteraceae Marga : Cosmos Jenis : Cosmos caudatus Kunth.  Deskripsi : Perdu dengan tinggi 75-100 cm dan berbau khas. Batang tegak, segi empat, beralur membujur, bercabang banyak, beruas berwarna hijau keunguan. Daunnya majemuk, bersilang berhadapan, berbagi menyirip, ujung runcing, tepi rata, panjang 15-25 cm, berwarna hijau. Bunga majemuk, bentuk bongkol, di ujung batang, tangkai panjang ± 25 cm, mahkota terdiri dari 8 daun mahkota, panjang ± 1 cm, merah, benang sari bentuk tabung, kepala sari coklat kehitaman, putik berambut, hijau kekuningan, merah. Buahnya keras, bentuk jarum, ujung berambut, masih muda berwarna hijau setelah tua coklat. Biji keras, kecil, bentuk jarum, panjang ± 1 cm, berwarna hitam. Akar tunggang dan berwarna putih.  Bagian yang digunakan : folium  Senyawa yang terkandung atsiri.  Manfaat : obat penambah nafsu makan, lemah lambung, penguat tulang dan pengusir serangga. : saponin, flavonoid polifenol dan minyak

20. Benalu Belimbing (Macrosolen cochinchinensis)  Klasifikasi tanaman Divisio : Spermatophyta Subdivisio : Angiospermae Kelas : Dicotyledoneae Bangsa : Loranthales Suku : Loranthaceae Marga : Macrosolen Jenis : Macrosolen cochinchinensis (Lour.) van Tiegh.

 Deskripsi : Pohon : Perdu yang bercabang banyak. Ranting dengan ruas yang

membesar. Daun : bertangkai pendek, eliptis sampai bentuk lanset, kadangkadang bulat telur, gundul 3,5-17 kali 1,5-7 dengan ujung yang agak meruncing, serupa kulit, mengkilat. Bunga : berbunga 5-7, kebanyakan berdiri sendiri, di ketiak, kadangkadang dalam berkas pada ruas yang tua. Tangkai bunga pendek. Tabung kelopak elipsoid, panjang lingkaran 3 mm, pinggiran mahkota sangat pendek. Mahkota sebagai tunas dewasa 1-1,5 cm panjangnya separo bagian bawah melebar, di tengah dengan 6 sayap, di atas menyempit menjadi buluh sempit, berakhir ke dalam gada tumpul, kuning atau hijau kekuningan, coklat tua di atas sayap, kuning sampai merah pada ujung. Taju mahkota pada akhirnya melengkung jauh kembali dan terpuntir. Bagian yang bebas dari benang sari panjangnya 3-5 mm. Kepala putik bentuk gada. Buah : bulat peluru, panjang 6 mm, akhirnya coklat violet tua. Tumbuh di atas berbagai jenis pohon.

 Bagian yang digunakan : folium dan caulis  Senyawa yang terkandung : Daun dan batang benalu mengandung alkaloida, saponin, flavonoid dan tanin  Manfaat : anti radang, anti bakteri dan anti bengkak, obat batuk, diuretik, pemeliharaan kesehatan ibu pasca persalinan, penghilang rasa nyeri, luka atau infeksi kapang. 21. Lidah buaya (Aloe vera L.)  Klasifikasi Kingdom: Plantae Subkingdom: Tracheobionta Super Divisi: Spermatophyta Divisi: Magnoliophyta Kelas: Liliopsida Ordo: Asparagales Famili: Asphodelaceae Genus: Aloe Spesies: Aloe vera L.  Deskripsi : Lidah Buaya tidak mempunyai atau hanya mempunyai batang pokok yang amat pendek, dan tumbuh sehingga 80-100 sentimeter tingginya. Daunnya yang berwarna hijau muda, berbentuk lembing dengan hujung yang tajam, dan dipenuhi dengan bintik-bintik bulat. Pangkalnya bersarung dan tepinya serat. Daun ini berisi lendir.  Bagian yang digunakan : folium  Senyawa yang terkandung : Anthrskinon(Aloin, barbaloin, isobarbaloin, aloe-emodin, aloenin, aloesin), saponin, enzim (oksidase, katalase, lipase,

aminase, amylase), vitamin (B1, B2, B6, B12, Vit C), kalsium, natrium, kalium, mangan, seng, polisakarida, karbohidrat, asam amino, lemak.  Manfaat : Anti radang, pencahar (laxative), parasitiside,antiseptic,antibiotik. Herba ini masuk ke meridian jantung, hati dan pankreas. Memperbaiki pankreas. 22. Tapak Dara (Catharanthus roseus L.)  Klasifikasi Kingdom: Plantae Subkingdom: Tracheobionta Super Divisi: Spermatophyta Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Sub Kelas: Asteridae Ordo: Gentianales Famili: Apocynaceae Genus: Catharanthus Spesies: Catharanthus roseus (L.) G. Don  Deskripsi : Pohon : Perdu kecil tahunan. Tinggi tanaman bisa mencapai 0,2-1 meter. Daun : berbentuk bulat telur, berwarna hijau, tersusun menyirip berselingan. Panjang daun sekitar 2-6 cm, lebar 1-3 cm, dan tangkai daunnya sangat pendek. Batang dan daunnya mengandung lateks berwarna putih. Bunga : aksial (muncul dari ketiak daun). Kelopak bunga kecil, berbentuk paku. Mahkota bunga berbentuk terompet, ujungnya melebar, berwarna putih, biru, merah jambu atau ungu tergantung kultivarnya.

Buah

: berbentuk gilig (silinder), ujung lancip, berambut, panjang sekitar 1,5 - 2,5 cm, dan memiliki banyak biji.

 Bagian yang digunakan : folium dan floss  Senyawa yang terkandung : vincristine, vinblastine, reserpine, ajmalicine, dan serpentine. Kandungan lainnya adalah catharanthine, leurosine, norharman, lochnerine, tetrahydroalstonine, vindoline, vindolinine,

akuammine, vincamine, vinleurosin, dan vinrosidin.  Manfaat :Bunga dan daunnya berpotensi menjadi sumber obat untuk leukemia dan penyakit Hodgkin. Kandungan bahan kimianya adalah Berbagai alkaloid ini beracun. Tanda-tanda keracunan tapak dara adalah demam, loyo, dan muntah-muntah dalam tempo 24 jam. Tanda-tanda yang lain adalah neuropati, kehilangan refleks tendon, berhalusinasi, koma, dan kematian. 23. Kenanga (Cananga odorata (Lamk.) Hook.)  Klasifikasi Kingdom: Plantae Subkingdom: Tracheobionta Super Divisi: Spermatophyta Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Sub Kelas: Magnoliidae Ordo: Magnoliales Famili: Annonaceae Genus: Cananga Spesies: Cananga odorata (Lamk.) Hook.  Deskripsi : Tumbuh dengan cepat hingga lebih dari 5 meter per tahun dan mampu mencapai tinggi rata-rata 12 meter. Batang pohon kenanga lurus, dengan kayu keras dan cocok untuk bahan peredam suara (akustik). Memerlukan sinar matahari penuh atau sebagian, dan lebih menyukai tanah yang memiliki kandungan asam di dalam habitat aslinya di dalam hutan tadah

hujan. Daunnya panjang, halus dan berkilau. Bunganya hijau kekuningan (ada juga yang bersemu dadu, tetapi jarang), menggelung seperti bentuk bintang laut.  Bagian yang digunakan : floss  Senyawa yang terkandung : minyak biang, cananga oil yang wangi.  Manfaat : merangsang dan memperkuat pertumbuhan rambut, penghasil minyak atsiri untuk pembuatan parfum, penyeimbang untuk kulit berminyak maupun kulit kering, mengatur aliran kelenjar adrenalin dalam sistem saraf

24. Jeruk nipis (Citrus aurantifolia)  Klasifikasi : Kerajaan : Plantae Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Sapindales : Rutaceae : Citrus : Citrus aurantifolia

 Deskripsi : Habitus Batang Daun : pohon yang berukuran kecil : memiliki duri tajam dan banyak cabang-cabang kecil : berbentuk bulat telur, agak kaku, panjangnya 4-6 cm, pada bagian tepi agak berlekuk ke atas, tangkai daunnya kecil dan sempit Bunga Buah : berwarna putih dan harum : berbetuk agak bulat, ujungnya sedikit menguncup, saat masih muda berwarna hijau muda, semakin tua semakin hijau muda atau kekuningan, rasanya asam segar  Bagian yang digunakan : fructus

 Senyawa yang terkandung : minyak terbang limonene dan linalool, juga flavonoid, seperti poncirin, hesperidine, rhoifolin dan naringin. Kandungan buahnya yang masak adalah synephrine dan N-methyltyramine, selain asam sitrat, kalsium, fosfor, besi dan vitamin A, B1, dan C.  Manfaat : Asam sitratnya mampu mencegah kekambuhan pada pasien pasca operasi batu ginjal, menghilangkan sumbatan vital energi, obat batuk, peluruh dahak (mukolitik), peluruh kencing (diuretik) dan keringat, serta membantu proses pencernaan.

25. Melati (Jasminum sambac)  Klasifikasi ilmiah Kerajaan : Plantae Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Lamiales : Oleaceae : Jasminum : Jasminum sambac

 Deskripsi : Habitus Batang Daun : semak : tegak, bulat, berkayu, sedikit berbulu halus : tangkai daun kecil, helaian daun oval menyirip pangkal

berbentuk setengah lingkaran, ujung meruncingtidak rata dan sedikit bergelombangtipislicin. Bunga Akar : majemuk : tunggang, berwarna putih kotor.

 Bagian yang digunakan : floss  Senyawa yang terkandung : indol, benzyl, livalylacetaat  Manfaat : Kelebihan ASI, Sakit mata, Demam, Sakit Kepala, Sesak Napas

26. Kamboja Jepang (Adenium obesum (Forssk.) )  Klasifikasi Kingdom Subkingdom Super Divisi Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Spesies  Deskripsi : Akar : Akar adenium yang membesar seperti umbi adalah tempat menyimpan air sebagai cadangan disaat kekeringan. Akar yang membesar ini bila dimunculkan diatas tanah akan membentuk kesan unik seperti bonsai. Batang : lunak tidak berkayu (disebut juga sebagai sukulen), namun dapat membesar. Tunas-tunas samping dapat tumbuh dari mata tunas pada batang atau bekas daun yang gugur. Mata tunas samping tersebut akan berfungsi (tumbuh) apabila pucuk atas tanaman dipotong. Hal inilah yang dilakukan orang pada saat memprunning atau memangkas, untuk mendapatkan daun baru dan agar bunga yang akan muncul nantinya lebih serempak. Daun : adenium ada berbagai ragam, bentuk lonjong, runcing, kecil dan besar, serta ada yang berbulu halus, ada pula yang tanpa bulu. : Plantae : Tracheobionta : Spermatophyta : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Asteridae : Gentianales : Apocynaceae : Adenium : Adenium obesum (Forssk.)

Bunga

: adenium berbentuk seperti terompet, berkelopak 5, dengan aneka ragam warna sesuai dengan jenis (varietasnya) masing-masing.

 Bagian yang dipakai : Floss  Senyawa aktif dan khasiat : Kamboja juga memiliki beberapa khasiat. Batangnya mengandung getah putih yang mengandung damar, kautscuk, senyawa sejenis karet, senyawa triterpenoid amytin dan lupeol. Tetapi, hati-hati, kulit batang kamboja mengandung senyawa plumeirid, atau sejenis senyawa glikosida beracun. Karena bersifat racun dan bisa mematikan kuman, getah kamboja dengan dosis tertentu berguna sebagai obat sakit gigi atau obat luka. Sementara kulit batangnya sangat efektif untuk mengurangi sakit karena memar dan pecah-pecah pada telapak kaki.

27. Pepaya (Carica papaya)  Klasifikasi Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta Super Divisi : Spermatophyta Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Spesies  Deskripsi : Pohon : umumnya tidak bercabang atau bercabang sedikit, tumbuh hingga setinggi 5-10 m dengan daun-daunan yang membentuk serupa spiral pada batang pohon bagian atas. : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Dilleniidae : Violales : Caricaceae : Carica : Carica papaya L.

Daun : menyirip lima dengan tangkai yang panjang dan berlubang di bagian tengah. Bentuknya dapat bercangap ataupun tidak. Pepaya kultivar biasanya bercangap dalam. Pepaya adalah monodioecious' (berumah tunggal sekaligus berumah dua) dengan tiga kelamin: tumbuhan jantan, betina, dan banci (hermafrodit). Tumbuhan jantan dikenal sebagai "pepaya gantung", yang walaupun jantan kadangkadang dapat menghasilkan buah pula secara "partenogenesis". Buah ini mandul (tidak menghasilkan biji subur), dan dijadikan bahan obat tradisional. Bunga : pepaya memiliki mahkota bunga berwarna kuning pucat dengan tangkai atau duduk pada batang. Bunga jantan pada tumbuhan jantan tumbuh pada tangkai panjang. Bunga biasanya ditemukan pada daerah sekitar pucuk. buah bulat hingga memanjang, dengan ujung biasanya meruncing. Warna buah ketika muda hijau gelap, dan setelah masak hijau muda hingga kuning. Buah : membulat bila berasal dari tanaman betina dan memanjang (oval) bila dihasilkan tanaman banci. Tanaman banci lebih disukai dalam budidaya karena dapat menghasilkan buah lebih banyak dan buahnya lebih besar. Daging buah berasal dari karpela yang menebal, berwarna kuning hingga merah, tergantung varietasnya. Bagian tengah buah berongga. Biji : berwarna hitam atau kehitaman dan terbungkus semacam

lapisan berlendir (pulp) untuk mencegahnya dari kekeringan. Dalam budidaya, biji-biji untuk ditanam kembali diambil dari bagian tengah buah.   Bagian yang diapakai : herba Senyawa aktif dan khasiat : 1. Memperlancar pencernaan, daun dari tumbuhan pepaya memiliki kandungan kimia senyawa karpain. Zat itu dapat membunuh mikroorganisme yang sering mengganggu fungsi pencernaan.

2. Menambah nafsu makan. 3. Nyeri haid.

28. Euphorbia (Euphorbia milii)  Klasifikasi : Kerajaan : Plantae Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies  Deskripsi : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Malpighiales : Euphorbiaceae : Euphorbia : Euphorbia milii : spesies yang asli diberi nama E. milii varietas

splendens/E.splendens. Tumbuh sedikit menjalar (scrambing), memiliki seludang bunga (cyathia) berwarna merah berukuran 1 cm dan berbunga sejati berwarna kuning. E. splendens dapat tumbuh mencapai 60-240 cm. selain E. splendens yang berbunga merah, ada juga yang berwarna kuning yaitu varietas lutea yang berukuran lebih pendek dari berbunga merah.  Bagian tanaman yang digunakan : Floss  Manfaat : pendarahan rahim, hepatitis, luka baker dan bisul,

Pada praktikum ini, praktikan akan mempelajari proses pembuatan simplisia. Proses ini terdiri dari beberapa tahap yakni : 1. Pencucian Proses ini bertujuan menghilangkan kotoran-kotoran dan mengurangi mikroba-mikroba yang melekat pada bahan. Pencucian harus segera dilakukan karena dapat mempengaruhi mutu bahan. Pencucian menggunakan air bersih karena penggunaan air kotor menyebabkan jumlah mikroba pada bahan tidak

akan berkurang bahkan akan bertambah. Pada saat pencucian perlu diperhatikan air cucian dan air bilasannya, jika masih terlihat kotor ulangi pencucian atau pembilasan sekali atau dua kali lagi. Perlu diperhatikan bahwa pencucian harus dilakukan dalam waktu yang sesingkat mungkin untuk menghindari larut dan terbuangnya zat yang terkandung dalam bahan. 2. Perajangan Pada bahan dilakukan perajangan untuk mempermudah proses selanjutnya seperti pengeringan, pengemasan, dan penyimpanan. Perajangan biasanya

hanya dilakukan pada bahan yang ukurannya agak besar dan tidak lunak seperti akar, rimpang, batang, buah dan lain-lain. Ukuran perajangan tergantung dari bahan yang digunakan dan ber-pengaruh terhadap kualitas simplisia yang dihasilkan. Perajangan terlalu tipis dapat mengurangi zat aktif yang terkandung dalam bahan. Sedangkan jika terlalu tebal, maka pengurangan kadar air dalam bahan agak sulit dan memerlukan waktu yang lama dalam penjemuran dan

kemungkinan besar bahan mudah ditumbuhi oleh jamur. Perajangan bahan dapat dilakukan secara manual dengan pisau yang tajam dan terbuat dari steinlees ataupun dengan mesin pemotong atau perajang. Bentuk irisan split atau slice tergantung tujuan pemakaian. Untuk tujuan ingin bahan lebih cepat kering bentuk irisan sebaiknya melintang (slice). 3. Pengeringan Adalah suatu cara pengawetan atau pengolahan pada bahan dengan cara mengurangi kadar air, sehingga proses pembusukan dapat terhambat. Dengan demikian dapat dihasilkan simplisia terstandar, tidak mudah rusak dan tahan disimpan dalam waktu yang lama. Dalam proses ini, kadar air dan reaksi-reaksi zat aktif dalam bahan akan berkurang, sehingga suhu dan waktu pengeringan perlu diperhati-kan. Suhu pengeringan tergantung pada jenis bahan yang dikeringkan. Pada umumnya suhu pengeringan adalah antara 60 oC dan hasil yang baik dari proses pengeringan adalah simplisia yang mengandung kadar air 10%. Demikian pula dengan waktu pengeringan juga bervariasi, tergantung pada jenis bahan yang dikeringkan seperti rimpang, daun, kayu ataupun bunga. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam proses pengeringan adalah kebersihan (khususnya pengeringan menggunakan sinar matahari) dan pengeringan secara diangin-anginkan sebaiknya memperhatikan kelembaban udara, aliran udara dan tebal bahan (tidak saling menumpuk). Penge-ringan bahan dapat dilakukan

secara tradisional dengan menggunakan sinar matahari ataupun secara modern dengan menggunakan alat pengering seperti oven. Pengeringan hasil rajangan dapat dilakukan dengan menggunakan sinar matahari, oven, dan dianginkan pada suhu ruang. Pengeringan pada suhu terlalu tinggi dapat merusak komponen aktif, sehingga mutunya dapat menurun. Kelebihan dari penggunaan oven adalah waktu penjemuran lebih singkat yaitu sekitar 24 jam, dibandingkan dengan sinar matahari dan angin-angin

membutuhkan waktu 1 minggu. Pengeringan dengan alat pengering (oven), tempatnya lebih tertutup dan lebih higienis. Kelemahan dari alat tersebut adalah simplisia dapat menjadi terlalu kering dan kehilangan zat aktifnya. Untuk pengeringan menggunakan sinar matahari dan kering anginkan dapat dilakukan dengan di dalam tampah yang ditutup dengan kain hitam, agar simplisia tetap bersih dan tidak terkena angin. Pengeringan menggunakan sinar matahari lebih cepat jika dibandingkan dengan dikering anginkan. Selain itu pengeringan menggunakan sinar matahari juga lebih efektif dalam pencegahan kontaminan seperti jamur. Akan tetapi simplisia yang dikering anginkan lebih bersih hasilnya daripada yang dijemur sinar matahari karena debu yang menempel lebih sedikit, namun kelembaban udara perlu diperhatikan karena jamur mudah tumbuh. Simplisia yang susah diberi perlakuan kering angin dan jemur matahari adalah semangka. Pada proses kering anginkan kemungkinan adalah kelembababn udara terlalu tinggi sehingga terjadi penyerapan air dan memacu pertumbuhan mikroorganisme sehingga menurunkan mutu bahan baik dalam bentuk segar maupun kering . Sedangkan pada proses jemur matahari rusak dikarenakan masuknya hewan, seperti serangga yang sering memakan simplisia yang disimpan harus dicegah. Pengeringan dapat menyebabkan perubahan-perubahan hidrolisa enzimatis, pencokelatan, fermentasi dan oksidasi. Ciri-ciri waktu pengeringan sudah

berakhir apabila daun atau-pun temu-temuan sudah dapat dipatahkan dengan mudah. Pada umumnya bahan (simplisia) yang sudah kering memiliki kadar air ± 8 - 10%. Dengan jumlah kadar air tersebut kerusakan bahan dapat ditekan baik dalam pengolahan maupun waktu penyimpanan. 4. Pengemasan Proses terakhir adalah pengemasan. Proses dapat dilakukan terhadap simplisia yang sudah dikeringkan. Jenis kemasan yang di-gunakan dapat berupa plastik

maupun kertas. Pada praktikum ini pengemasan dilakukan menggunakan plastik. Persyaratan jenis kemasan yaitu dapat menjamin mutu produk yang dikemas, mudah dipakai, tidak mempersulit penanganan, dapat melindungi isi pada waktu pengangkutan, tidak beracun dan tidak bereaksi dengan isi dan kalau boleh mempunyai bentuk dan rupa yang menarik. Pemberian label yang jelas pada tiap kemasan sangatlah penting, isinya menuliskan ; nama bahan, bagian dari tanaman bahan yang digunakan, tanggal pengemasan, nomor/kode produksi, nama/alamat penghasil, berat bersih, metode penyimpanan.

DASAR TEORI

Simplisia merupakan istilah yang dipakai untuk menyebut bahan-bahan obat alam yang berada dalam wujud aslinya atau belum mengalami perubahan bentuk. Pengertian simplisia menurut Departemen Kesehatan RI adalah bahan alami yang digunakan untuk obat dan belum mengalami perubahan proses apa pun, dan kecuali dinyatakan lain umumnya berupa bahan yang telah dikeringkan. Simplisia dibagi menjadi tiga golongan, yaitu : a. Simplisia nabati Simplisia nabati adalah simplisia yang dapat berupa tanaman utuh, bagian tanaman, eksudat tanaman, atau gabungan antara ketiganya, misalnya Datura Folium dan Piperis nigri Fructus. Eksudat tanaman adalah isi sel yang secara spontan keluar dari tanaman atau dengan cara tertentu sengaja dikeluarkan dari selnya. Eksudat tanaman dapat berupa zat-zat atau bahan-bahan nabati lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan/diisolasi dari tanamannya. b. Simplisia hewani Simplisia hewani adalah simplisia yang dapat berupa hewan utuh atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa bahan kimia murni, misalnya minyak ikan (Oleum iecoris asselli) dan madu (Mel depuratum). c. Simplisia pelikan atau mineral Simplisia pelikan atau mineral adalah simplisia berupa bahan pelikan atau mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa bahan kimia murni, contoh serbuk seng dan serbuk tembaga. (Anonim, 2011)

Keunggulan obat bahan alam antara lain : 1. Efek samping obat tradisional relatif lebih kecil bila digunakan secara benar dan tepat, baik tepat takaran, waktu penggunaan, cara penggunaan, ketepatan pemilihan bahan, dan ketepatan pemilihan obat tradisional atau ramuan tanaman obat untuk indikasi tertentu. 2. Adanya efek komplementer dan atau sinergisme dalam ramuan

obat/komponen bioaktif tanaman obat. Dalam suatu ramuan obat tradisional

umumnya terdiri dari beberapa jenis tanaman obat yang memiliki efek saling mendukung satu sama lain untuk mencapai efektivitas pengobatan. Formulasi dan komposisi ramuan tersebut dibuat setepat mungkin agar tidak menimbulkan efek kontradiksi, bahkan harus dipilih jenis ramuan yang saling menunjang terhadap suatu efek yang dikehendaki. 3. Pada satu tanaman bisa memiliki lebih dari satu efek farmakologi. Zat aktif pada tanaman obat umumnya dalam bentuk metabolit sekunder, sedangkan satu tanaman bisa menghasilkan beberapa metabolit sekunder, sehingga memungkinkan tanaman tersebut memiliki lebih dari satu efek farmakologi. 4. Obat tradisional lebih sesuai untuk penyakit-penyakit metabolik dan degeratif. Perubahaan pola konsumsi mengakibatkan gangguan metabolisme dan faal tubuh sejalan dengan proses degenerasi. Yang termasuk penyakit metabolik antara lain diabetes (kencing manis), hiperlipidemia (kolesterol tinggi), asam urat, batu ginjal, dan hepatitis. Sedangkan yang termasuk penyakit degeneratif antara lain rematik (radang persendian), asma (sesak nafas), ulser (tukak lambung), haemorrhoid (ambein/wasir) dan pikun (lost of memory). Untuk mengobati penyakit-penyakit tersebut diperlukan waktu lama sehingga penggunaan obat alam lebih tepat karena efek sampingnya relatif lebih kecil. Di samping keunggulannya, obat bahan alam juga memiliki beberapa kelemahan yang juga merupakan kendala dalam pengembangan obat tradisional antara lain : efek farmakologisnya lemah, bahan baku belum terstandar dan bersifat higroskopis serta volumines, belum dilakukan uji klinik dan mudah tercemar berbagai mikroorganisme. Dalam hal simplisia sebagai bahan baku (awal) dan produk siap dikonsumsi langsung, dapat dipertimbangkan tiga konsep untuk menyusun parameter standar mutu yaitu sebagai berikut : a. Bahwa simplisia sebagai bahan kefarmasian seharusnya mempunyai tiga parameter mutu umum suatu bahan (material), yaitu kebenaran jenis (identifikasi), kemurnian (bebas dari kontaminasi kimia dan biologis), serta aturan penstabilan (wadah, penyimpanan dan transportasi).

b. Bahwa simplisia sebagai bahan dan produk konsumsi manusia sebagai obat tetap diupayakan memiliki tiga paradigma seperti produk kefarmasian lainnya, yaitu Quality-Safety-Efficacy (mutu-aman-manfaat). c. Bahwa simplisia sebagai bahan dengan kandungan kimia yang bertanggung jawab terhadap respons biologis untuk mempunyai spesifikasi kimia, yaitu informasi komposisi (jenis dan kadar) senyawa kandungan. (Anonim,2000) Upaya-upaya pengembangan obat tradisional dapat ditempuh dengan berbagai cara dengan pendekatan-pendekatan tertentu, sehingga ditemukan bentuk obat tradisional yang telah teruji khasiat dan keamanannya, bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah serta memenuhi indikasi medis, yaitu kelompok obat fitoterapi atau fitofarmaka. Untuk mendapatkan produk fitofarmaka harus melalui beberapa tahap (uji farmakologi, toksisitas dan uji klinik) hingga bisa menjawab dan mengatasi kelemahan tersebut. Untuk mengetahui kebenaran dan mutu obat tradisional termasuk simplisia, maka dilakukan analisis yang meliputi analisis kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif terdiri atas pengujian organoleptik, pengujian makroskopik, pengujian mikroskopik, dan pengujian histokimia. a. Uji Organoleptik Uji organoleptik dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui khususnya bau dan rasa simplisia yang diuji. b. Uji Makroskopik Uji makroskopik dilakukan dengan menggunakan kaca pembesar atau tanpa menggunakan alat. Cara ini dilakukan untuk mencari khususnya morfologi, ukuran, dan warna simplisia yang diuji. c. Uji mikroskopik Uji mikroskopik dilakukan dengan menggunakan mikroskop yang derajat pembesarannya disesuaikan dengan keperluan. Simplisia yang diuji dapat berupa sayatan melintang, radial, paradermal maupun membujur atau berupa serbuk. Pada uji mikroskopik dicari unsur – unsur anatomi jaringan yang khas. Dari pengujian ini akan diketahui jenis simplisia berdasarkan fragmen pengenal yang spesifik bagi masing – masing simplisia.

d. Uji Histokimia Uji histokimia bertujuan untuk mengetahui berbagai macam zat kandungan yang terdapat dalam jaringan tanaman. Dengan pereaksi spesifik, zat – zat kandungan tersebut akan memberikan warna yang spesifik pula sehingga mudah dideteksi. (Anonim,1987) Pembuatan simplisia Sebagai sumber simplisia, tanaman obat dapat berupa tumbuhan liar atau berupa tumbuhan budidaya. Tumbuhan liar adalah tumbuhan yang tumbuh dengan sendirinya di hutan atau di tempat lain, atau tanaman yang sengaja ditanam dengan tujuan lain, misalnya sebagai tanaman hias, tanaman pagar, tetapi bukan dengan tujuan untuk memproduksi simplisia. Tanaman budidaya adalah tanaman tanaman yang sengaja ditanam untuk tujuan produksi simplisia. Salah satu cara pembuatan simplisia adalah dengan cara pengeringan. Proses ini dilakukan dengan cepat, tetapi pada suhu yang tidak terlalu tinggi. Pengeringan dengan waktu lama akan mengakibatkan simplisia yang diperoleh ditumbuhi kapang. Pengeringan yang dilakukan pada suhu terlalu tinggi akan mengakibatkan perubahan kimia pada kandungan senyawa aktifnya. Untuk mencegah hal tersebut, bahan simplisia yang memerlukan perajangan perlu diatur perajangannya sehingga diperoleh tebal irisan yang pada pengeringannya tidak mengalami kerusakan. (Anonim,2011)

DAFTAR PUSTAKA

http://www.plantamor.com/index.php?plant=1368 http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/search.php http://www.plantamor.com/index.php?plant=60 http://ccrcfarmasiugm.wordpress.com/ensiklopedia/ensiklopedia-tanaman-antikanker/b/allium-sativum/ http://ccrcfarmasiugm.wordpress.com/ensiklopedia/ensiklopedia-tanaman-antikanker/b/bawang-merah-allium-cepa-l/ http://www.bebas.vlsm.org/v12/artikel/ttg_tanaman_obat/depkes/buku2/2-068.pdf http://ccrcfarmasiugm.wordpress.com/ensiklopedia/ensiklopedia-tanaman-antikanker/b/benalu-belimbing/ http://kesehatan.kompasiana.com/alternatif/2010/11/28/lidah-buaya-aloe-vera/ http://www.anneahira.com/bunga/kenanga.htm Abas, F., Shaari, K., Lajis, N.H., Israf, D.A., dan Kalsom, Y.U., Antioxidative and radical scavenging properties of the constituents isolated from Cosmos caudatus Kunth., Nat. Prod. Sciences, 9(4), 245-248. http://tipsehat.net/manfaat-sereh/ http://id.shvoong.com/exact-sciences/agronomy-agriculture/1856111-sereh-wangicymbopogon-citrates/#ixzz1YxKTxqta

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM BIOFARMAKA PEMBUATAN SIMPLISIA

Nama : 1. Kuswanti 31091184

2. Lusiana Hermawati I 31091190 3. Hutri Catur Sad Winarni 4. Arta Puspita Sari 5. Pradito Haryo Yudanto Kelompok Asisten :3 : Clara Nurmalasita 31091198 31091206 31091215

FAKULTAS BIOTEKNOLOGI UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA YOGYAKARTA 2011

Dikering anginkan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Bagian yang digunakan Caulis Caulis Caulis Herba Tuber Caulis Herba Herba Tuber Floss Bulbus Bulbus Folium Folium Herba Caulis Folium Folium Floss Floss Nama spesies Dioscorea hispida Denust Manihot utilisima Tectona grandis Adiantum capillus-veneris L Ipomoea batatas Poir Areca catechu Phaeophyta sp Pennisetum purpureum Schumacher Daucus carota L Clitoria ternatea Allium cepa L. Allium sativum L Cympogon nardus Cosmos caudatus Kunth Carica papaya Macrosolen coachinchinensis Aloe vera L Macrosolen coachinchinensis Cananga odorata L Catharanthus roseus L Berat Basah 4,524 gr 4,568 gr 2,057 gr 1,985 gr 24,820 gr 2,272 gr 4,434 gr 8,074 gr 10,285 gr 1,167 gr 5,008 gr 3,764 gr 3,325 gr 5,161 gr 22,869 gr 5,932 gr 13,219 gr 1,071 gr 3,394 gr 0,877 gr Berat Kering 0,784 gr 1,720 gr 1,209 gr 0,478 gr 8,635 gr 0,829 gr 1,859 gr 0,878 gr 1,613 gr 0,163 gr 0,965 gr 1,698 gr 1,138 gr 1,149 gr 2,354 gr 3,382 gr 0,332 gr 0,717 gr 0,360 gr 0,486 gr

21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

Folium Fructus Floss Fructus Fructus Frucutus Fructus Floss Radix Herba

Catharanthus roseus L Muntingia calabura L Adenium obesum Citrus aurantifolia (christm)suringle Avverhoa bilimbi Zea mays Citrullus lanatus Jasminum sambac Sansevieria trifasciata Euphorbia milii

3,641 gr 15,992 gr 4,871 gr 20,878 gr 14,896 gr 10,210 gr 24,450 gr 3,401 gr 3,214 gr 3,776 gr

0,685 gr 4,321 gr 0,685 gr 4,852 gr 0,824 gr 2,204 gr 7,832 gr 0,299 gr 0,923 gr 0,782 gr

Dijemur No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Bagian yang digunakan Caulis Caulis Caulis Herba Tuber Caulis Herba Herba Tuber Nama spesies Dioscorea hispida Denust Manihot utilisima Tectona grandis Adiantum capillus-veneris L Ipomoea batatas Poir Areca catechu Phaeophyta sp Pennisetum purpureum Schumacher Daucus carota L Berat Basah 4,496 gr 5,351 gr 1,382 gr 1,852 gr 24,022 gr 2,303 gr 4,294 gr 8,004 gr 10,205 gr Berat Kering 1,001 gr 0,965 gr 1,225 gr 0,340 gr 8,215 gr 0,829 gr 1,767 gr 0,953 gr 1,338 gr

10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

Floss Bulbus Bulbus Folium Folium Herba Caulis Folium Folium Floss Floss Folium Fructus Floss Fructus Fructus Frucutus Fructus Floss Radix Herba

Clitoria ternatea Allium cepa L. Allium sativum L Cympogon nardus Cosmos caudatus Kunth Carica papaya Macrosolen coachinchinensis Aloe vera L Macrosolen coachinchinensis Cananga odorata L Catharanthus roseus L Catharanthus roseus L Muntingia calabura L Adenium obesum Citrus aurantifolia (christm)suringle Avverhoa bilimbi Zea mays Citrullus lanatus Jasminum sambac Sansevieria trifasciata Euphorbia milii

0,892 gr 5,000 gr 3,693 gr 3,583 gr 5,269 gr 23,870 1,976 gr 16,511 gr 4,217 gr 3,013 gr 0,936 gr 2,757 gr 14,656 gr 5,847 gr 21,391 gr 14,575 gr 10,045 gr 23,330 gr 3,559 gr 3,496 gr 4,654 gr

0,122 gr 0,982 gr 1,555 gr 1,060gr 1,149 gr 2,489 gr 1,216 gr 0,413 gr 1,832 gr 0,560 gr 0,486 gr 0,062 gr 4,297 gr 0,681 gr 7,537 gr 0,764 gr 1,541 gr 5,636 gr 0,127 gr 0,998 gr 0,972 gr

Dioven No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Bagian yang digunakan Caulis Caulis Caulis Herba Tuber Caulis Herba Herba Tuber Floss Bulbus Bulbus Folium Folium Herba Caulis Folium Folium Floss Floss Nama spesies Dioscorea hispida Denust Manihot utilisima Tectona grandis Adiantum capillus-veneris L Ipomoea batatas Poir Areca catechu Phaeophyta sp Pennisetum purpureum Schumacher Daucus carota L Clitoria ternatea Allium cepa L. Allium sativum L Cympogon nardus Cosmos caudatus Kunth Carica papaya Macrosolen coachinchinensis Aloe vera L Macrosolen coachinchinensis Cananga odorata L Catharanthus roseus L Berat Basah 5,843 gr 5,545 gr 1,141 gr 1,801 gr 25,304 gr 2,193 gr 4,299 gr 8,009 gr 10,300 gr 0,982 gr 5,111 gr 4,353 gr 3,551 gr 5,309 gr 23,611 1,141 gr 16,511 gr 3,964 gr 4,809 gr 1,136 gr Berat Kering 1,030 gr 0,899 gr 0,840 gr 0,447 gr 7,575 gr 0,760 gr 1,551 gr 0,843 gr 0,851 gr 0,135 gr 0,913 gr 1,785 gr 1,158 gr 1,112 gr 2,059 gr 0,903 gr 0,413 gr 1,940 gr 1,055 gr 0,177 gr

21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

Folium Fructus Floss Fructus Fructus Frucutus Fructus Floss Radix Herba

Catharanthus roseus L Muntingia calabura L Adenium obesum Citrus aurantifolia (christm)suringle Avverhoa bilimbi Zea mays Citrullus lanatus Jasminum sambac Sansevieria trifasciata Euphorbia milii

5,031 gr 16,665 gr 6,462 gr 24,930 gr 15,865 gr 10,006 gr 23,330 gr 3,970 gr 3,325 gr 5,064 gr

0,866 gr 4,719 gr 0,856 gr 0,888 gr 0,772 gr 1,570 gr 5,636 gr 0,495 gr 0,921 gr 0,713 gr

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful