Está en la página 1de 5

I PENDAHULUAN

1 Pengkajian Puisi Puisi sebagai salah sebuah karya seni sastra dapat dikaji dari bermacam-macam aspeknya, puisi dapat dikaji dari berbagai aspek sebagai berikut : a. Dikaji struktur dan unsur-unsurnya b. Dikaji jenis dan ragam c. Dikaji dari sudut sejarahny 2 Puisi dan Pengertiannya A. Di SMA, puisi biasa didefinisikan sebagai karangan yang terikat, sedangkan prosa adalah bentuk karangan bebas ( Wirjosoedarmo, 1984:51 ). Dikemukakan Wirjosoedarmo puisi terikat oleh: - Banyak baris dalam tiap bait (kuplet/strofa, suku karangan) - Banyak kata dalam tiap baris - Banyak suku kata dalam tiap baris B. Altenbernd (1970:2), puisi adalah pendramaan yang bersifat penafsiran (menafsirkan) dalam bahasa berirama (bermetrum) (as the interpretive dramatization of experience in metrical language). C. Samuel Taylor colerige, puisi adalah kata-kata terindah dalam susunan terindah. D. Auden, puisi lebih merupakan pernyataan perasaan yang bercampur baur. E. Dunton, puisi itu merupakan pemikiran manusia secara konkret dan artistik dalam bahasa emosional. F. Shelly, puisi adalah rekaman detik-detik paling indah dalam hidup kita.

Jadi dari definisi-definisi tersebut terlibat adanya perbedaan-perbedaan pikiran mengenai pengertian mengenai pengertian puisi. Namun seperti dikemukakan Shahnon Ahmad (1978:3-4) bahwa bila unsurunsur dari pendapat-pendapat itu dipadukan, maka akan didapat garis-garis besar tentang pengertian puisi sebenarnya. Unsur-unsur tersebut berupa: emosi, imajinasi, pemikiran, ide, nada, irama, kesan panca indra, susunan kata, kata-kata khiasan, kepadatan dan perasaan yang bercampur baur.

Perbedaan pokok antara prosa dan puisi. 1. Kesatuan-kesatuan korespondensi prosa yang pokok ialah kesatuan sintaksis; kesatuan 2. Di dalam korespondensi dari corak tertentu, yang terdiri dari kesatuan-kesatuan tertentu pula, meliputi dari seluruh puisi dari semula sampai akhir. Kesatuan ini disebut baris sajak.

3. Di dalam baris sajak ada periodisitas dari mula sampai akhir.

II ANALISIS PUISI BERDASARKAN STRTA NORMA

Analisis Sastra Norma Roman Ingarden Karya sastra itu tak hanya merupakan satu sistem norma, melainkan terdiri dari beberapa strata (lapis) norma. Masing-masing menimbulkan lapis norma di bawahnya. Rene Wellek (1968:151) mengemukakan analisis Roman Ingarden, seorang filsuf polandia, di dalam bukunya Das Literarische Kunstwerk (1931) ia menganalisis norma-norma itu sebagai berikukut. lapis pertama adalah lapis bunyi (sound stratum) bila yang terdengar itu ialah rangkaian bunyiyang dibatasi jeda pendek dan panjang. Suara sesuai dengan konvensi bahasa, disusun begitu rupa hingga menimbulkan arti. Lapis arti (units of meaning) berupa rangkaian fonem, suku kata, kata, frasa, dan kalimat. Semuanya itu merupakan satuan-satuan arti. Rangkaian kalimat menjadi alinea, bab, dan keseluruhan cerita ataupun keseluruhan sajak. Roman Ingarden masih menambahkan dua lapis norma lagi . a) Lapis dunia yang dipandang dari titik pandang tertentu yang tak perlu dinyatakan, tetapi terkandung dalamnya (implied). b) Lapis metafisis, berupa sifat-sifat metafisis (yang sublime, yang tragis, mengerikan atau menakutkan, dan yang suci), dengan sifat-sifat ini seni dapat memberikan renungan (kontemplasi) kepada pembaca. Lapis ketiga, lapis satuan arti menimbulkan berupa objek-objek yang dikemukakan, latar, pelaku, dan dunia pengarang.

III BUNYI

Dalam puisi bunyi bersifat estetik, merupakan unsur puisi untuk mendapatkan kaidah dan tenaga ekspresif. Karena pentingnya peranan bunyi ini dalam kesusastraan, maka bunyi ini pernah menjadi unsur kepuitisan yang utama dalam sastra romantik, yang timbul sejak abad ke-18, 19 di Eropa Barat (Slametmuljana, 1956:56). Lebih-lebih lagi aliran simbolisme yang dipelopori olej Charles Baudelaire

(1821-1867) salah seorang simbolis, Paul Verlaine (1844-1896) berkata bahwa musiklah yang paling utama dalam puisi ( De la musique avant tout chose)

Menurut teori simbolisme (Slametmuljana, 1956:57) tiap kata itu menimbulkan asosiasi dan menciptakan tanggapan di luar arti yang sebenarnya. Hal ini dapat diusahakan dengan gaya bahasa. Apa pun yang dapat ditangkap panca indra ini hanyalah lambing atau bayangan kenyataan yang sebenarnya. Kenyataan sebenarnya ini tidak dapat ditangkap panca indra.

IV IRAMA

Hal yang masih erat berhubungan dengan pembicaraan bunyi adalah irama. Bunyi-bunyi yang berulang, pergantian yang teratur, dan variasi-variasi bunyi menimbulkan suatu gerak yang hidup, seperti gercik air yang mengalir turun tak putus-putus. Gerak yang teratur itulah yang disebut irama. Irama dalam bahasa adalah pergantian turun naik, panjang pendek, keras lembut ucapan bunyi bahasa dengan teratur. Secara umum dapat disimpulkan bahwa irama itu pergantian berturut-turut secara teratur. Irama ini tidak terbatas hanya pada kesusastraan saja, melainkan juga dalam seni rupa: lukis, patung, bangunan, dan sebagainya. Lebih-lebih dalam seni music (nyanyian). Bahkan semua yang teratur itu disebut iraman atau berirama. Sesungguhnya, irama itu dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu metrum dan ritme. Metrum adalah irama yang tetap, artinya pergantiannya sudah tetap menurut pola tertentu. Hal ini disebabkan oleh jumlah suku katayang sudah tetap dan tekanannya yang tetap hingga alun suara yang menaik dan menurunitu tetap saja. Ritme adalah irama yang disebabkan pertentangan atau pergantian bunyi tinggi rendah secara teratur, tetapi tidak merupakan jumlah suku kata yang tetap, melainkan hanya menjadi gema dendang sukma penyairnya.

V KATA

Satuan arti yang menentukan struktur formal linguistic karya sastra adalah kata. Dalil seni sastra J. Elema menyatakan bahwa puisi mempunyai nilai seni, bila pengalaman jiwa yang menjadi dasarnyadapat dijilmakan ke dalam kata (Slametmuljana, 1956:25). Untuk mencapai ini pengarang mempergunakan berbagai cara. Terutama alatnya yang terpenting adalah kata.

Dalam pembicaraan ini akan ditinjau arti kata dan efek yang ditimbulkannya. Di antaranya arti denotative dan konotatif, perbendaharaan kata (kosa kata), pemilihan kata (diksi), bahasa kiasan, citraan, sarana retorika, factor ketatabahasaan, dan hal-hal yang berhubungan dengan struktur katakata atau kalimat puisi, yang semuanya itu dipergunakan oleh penyair untuk melahirkan pengalaman jiwanya dalam sajak-sajaknya. 1.kosa kata Alat untuk menyampaikan perasaan dan pikiran sastrawan adalah bahasa. Baik tidaknya tergantung pada kecakapan sastrawan dalam mempergunakan kata-kata. Dan segala kemungkinan di luar kata tak dapat dipergunakan (Slametmuljana, 1956:7), misalnya mimic, gerak, dan sebagainya. Kehalusan perasaan sastrawan dalam mempergunakan kata-kata sangat diperlukan. Juga perbedaan arti dan rasa sekecil-kecilnya pun harus dikuasai pemakainya. Sebab itu pengetahuan tentang leksikografi sastrawan syarat mutlak. 2.pemilihan kata Penyair hendak mencurahkan perasaan dan isi pikirannya dengan setepat-tepatnya seperti yang dialami batinnya. Selain itu, juga ia ingin mengekspresikannya dengan ekspresi yang dapat menjilmakan pengalaman jiwanya tersebut, untuk itu haruslah dipilih kata setepatnya. Pemilihan kata dalam sajak tersebut disebut diksi. Barfield mengemukakan bahwa bila kata-kata dipilih dan disusun dengan cara yang sedemikian rupa sehingga artinya menimbulkan atau dimaksudkan untuk menimbulkan imaginasi estetik, maka hasilnya disebut diksi puitis (1952:42). Jadi, diksi itu untuk mendapatkan kepuitisan, untuk mendapatkan nilai estetik. 3.Denotasi dan Konotasi Sebuah kata itu mempunyai dua aspek, yaitu denotasi, ialah artinya yang menunjuk, dan konotasi, yang artinya tambahannya. Denotasi sebuah kata adalah defines kamusnya, yaitui pengertian yang menunjuk benda atau hal yang diberi nama dengan kata itu, disebutkan, atau diceritakan (Altenbernd, 1970:9). Bahasa yang denotative adalah bahasa yang menuju kepada korespondensi satu lawan satu antara tanda (kata itu) dengan (hal) yang ditunjuk (wellek, 1968:22). Jadi, satu kata itu menunjukan satu hal saja. Yang seperti ini ialah ideal bahasa ilmiah. Dalam membaca sajak orang harus mengerti arti kamusnya, arti denotative , orang harus mengerti apa yang ditunjuk oleh tiap-tiap kata yang dipergunakan. Namun dalam puisi (karya sastra pada umumnya), sebuah kata tidak hanya mengandung aspek denotasinya saja. Bukan hanya berisi arti yang ditunjuk saja, masih ada arti tambahannya, yang ditimbulkan oleh asosiasi-asosiasi yang keluar dari denotasinya. 4.Bahasa Kiasan

Unsur kepuitisannya yang lain, untuk mendapatkan kepuitisannya ialah bahasa kiasan (figurative language). Adanya bahasa kiasan inimenyebabkan sajak menjadi menarik perhatian, menimbulkan kesegaran, hidup, dan terutama menimbulkan kejelasa gambaran angan. Bahasa kiasan ini mengiaskan atau mempersamakan sesuatu hal dengan hal lain supaya gambaran menjadi jelas, lebih menarik, dan hidup. Jenis-jenis bahasa kiasan adalah a. b. c. d. e. f. g. Perbandingan (simile) Metafora Perumpamaan epos (epic simile) Personifikasi Metonimi Sinekdoki (synecdoche) Allegori

5.Citraan (Gambaran-gambaran Angan) Dalm puisi, untuk member gambaran yang jelas, untuk menimbulakan suasana yang khusus, untuk membuat (lebih) hidup gambaran dalam pemikiran dan pengindraan dan juga untuk menarik perhatian, penyair juga menggunakan gambaran-gambaran angan (pikiran), di samping alat kepuitisan yang lain. gambaran-gambaran angan dalam sejak itu disebut citraan (imagery). Citraan ini ialah gambar-gambar dalam pikiran dan bahasa yang menggambarkannya (Altenbernd, 1970:12), sedang setiap gambar pikiran disebut citra atau imaji (amage). Gambaran pikiran ini adalah sebuah efek dalam pikiran yang sangat menyerupai (gambaran) yang dihasilkan oleh penangkapan kita terhadap sebuah objek yang dapat dilihat oleh mata, saraf penglihatan, dan daerah-daerah otak yang berhubungan ( yang bersangkutan). Berhubung dengan hal ini, mungkin juga berate bahwa orang harus dapat mengingat sebuah pengalaman inderaan atas objek-objek yang disebutkan atau diterangkan (Altenbernd, 1970:12). Tanpa itu maka dikemukakan Coombes (1980:42), hendaknya jangan berada diluar tenggorokan srigala ! orang belum pernah mengalami berada di rongga atau bagian dalam tenggorokan srigala. Jadi, perumpamaan ini tidak dapat menghidupkan gambaran. Jens-Jenis Imageri Gambaran-gambaran angan itu ada bermacam-macam, dihasilkan oleh indra penglihatan, pendengaran, perabaan, pengecapan, dan penciuman. Bahkan juga diciptakan oleh pemikiran dan gerakan. Citraan yang ditimbulkan oleh penglihatan disebut citra penglihatan (visual imagery), yang ditimbulkan oleh pendengaran disebut citra pendengaran (auditory imagery) dan sebagainya. Gambaran-gambaran angan yang bermacam-macam itu tidak digunakan secara terpisah-pisah oleh penyair dalam sajaknya, melainkan dipergunakan bersama-sama, saling memperkuat dan saling menambah kepuitisanya.