Está en la página 1de 356
PERE a ae (RIWAYAT H DUP. POKOK PIKIRAN. DAN KARYA) LADISLAUS NAISABAN - ot 1. ABRAHAM (KARL ABRAHAM) Karl Abraham adalah seorang dokter dan psikolog. la lahir pada tanggal 3 Mei 1877 dari keluarga Yahudi di Bremen, Jerman dan meninggal pada tanggal 25 Desember 1925 di Berlin. Sebagai ahli psikoanalisis, ia memberi kontribusi dalam psikologi seksualitas, perkembangan karakter, kekacauan depresif, dan simbolisme. Dari tahun 1896 hingga tahun 1901, ia menekuni bidang medis di Wursburg, Berlin dan Feirburg. Minat utamanya adalah biologi dan karena itu judul disertasinya adalah The Anatomical Development of Parrots. Setelah menyelesaikan studi medis, ia mulai tertarik pada filologi dan bahasa- bahasa. la sendiri dapat berbicara secara aktif dalam lima bahasa, dapat membaca dalam beberapa bahasa lain lagi,dan bahkan dapat menganalisis beberapa pasiennya dalam bahasa Inggris dengan lancar. Minatnya pada Filologi tercermin dalam tulisan-tulisannya mengenai simbolisme, dongeng-dongeng dan dalam suatu paper yang berhubungan dengan konsep-konsep psikoanalitis demi kebangkitan monoteisme Mesir. Dari tahun 1901 hingga tahun 1904 Abraham bertugas sebagai asisten the Berlin Manucipal Asylum, di mana ia menyelidiki berbagai aspek yang berhubungan dengan aphasi, apraksia, paresis, dan pengaruh obat bius. Minatnya pada psikiatri semakin kuat ketika ia diberi kesempatan untuk menjadi asisten psikiater terkenal Eugen Bleuler di the Burgholzli Mental Hospital di Zurich pada tahun 1904. Di sini Abraham berjumpa dengan Carl Jung dan mulai mempelajari tulisan-tulisan Freud. Artikel psikoanalisisnya yang pertama yang terbit pada tahun 1907 adalah “Uber die Bedeutung sexueller Jugendtraumen fiir die Symptomatologie der Dementia Praecox” (On the Significance of sexual Trauma in Childhood for the Symptomatology of Dementia Praecox). Persahabatan antara Abraham dan Freud mulai tahun 1907 dan terus bertahan hingga kematian Abraham sendiri. Tahun 1907, Abraham meninggalkan Zurich untuk memulai dengan praktik psikoanalisis yang pertama di Berlin, kecuali tahun- 1 tahun perang. la mengemukakan pokok-pokok pikiran dalam pertemuan para dokter Jerman dan mendapat banyak tantangan, seperti yang terjadi dengan Freud di Vienna sebelumnya. Tahun 1909, ia bertemu dengan seorang teman kerja yaitu Max Eitingon dan tahun 1910 terdapat delapan orang yang bergabung dengan mereka. Dengan jumlah ini, Abraham mendirikan cabang perkumpulan Psikoanalisis yang pertama di Berlin dan Abraham adalah pemimpin pertama hingga kematiannya. Selama perang dunia pertama, dia menjadi pimpinan psikiatri pada rumah sakit tentara Jerman di Prussia. Pengalaman- pengalamannya ini membuka kesempatan bagi kerja sama pe- nerbitan mengenai neurosis perang bersama Freud, Ferenczi, Ernst Simmel, dan Jones. Selama perang, Abraham menderita penyakit disentri yang tidak pernah sembuh total setelah perang. Tahun 1925, ia jatuh sakit dan meninggal tujuh bulan kemudian. Analisis Abraham mengenai libido dan hubungannya dengan formasi karakter didasarkan pada hipotesa bahwa libido ber- kembang dalam enam tahap antara lain, kedua tahap pertama adalah oral, kedua tahap yang berikut adalah anal, dan kedua tahap terakhir adalah genital. Tahap oral yang pertama adalah tahap isap: di sini bayi belum membedakan dirinya dan objek yang diisapnya. Adapun tahap oral yang kedua adalah tahap gigit, tahap sadistis (kanibalisme), di mana bayi bekerja sama untuk merusak. Tahap anal termasuk anal yang meledak marah tiba-tiba yang diikuti dengan tahap anal retentif. lahap pertama genitalia ditandai dengan munculnya objek cinta dalam bentuk yang lebih jelas dibanding tahap anal. Akhirnya, tahap genital orang dewasa yang hanya bisa dicapai oleh orang yang dapat terhindar dari gangguan psikotis. Teori Abraham mengenai kekacauan depresif berpusat pada konsep kembar fiksasi libidinal dan perasaan ambivalensi cinta pada objek. Dalam artikel yang ditulis pada tahun 1911 dan dipublikasikan pada tahun 1912, ia menyatakan bahwa depresi atau melankolia adalah suatu reaksi terhadap kehilangan cinta pada objek. Seperti depresi pada kesedihan, demikian sama juga kekhawatiran pada ketakutan. Seperti kekhawatiran muncul ketika individu berjuang untuk memenuhi impuls kepuasan tetapi tak terpenuhi oleh represi, demikian juga depresi muncul ketika tujuan seksual terpaksa harus dibatalkan. Libido depresi sebenarnya kecintaan diri yang berasal dari dunia luar. la kehilangan kemampuan untuk mencintai dan karena itu balasannya adalah membenci. Perasaan hina memberi- kan dia suatu kepuasan menderita dan suatu pembalasan dendam bagi mereka yang memperhatikan dia. Abraham selanjutnya membuat hipotesa bahwa depresi orang dewasa bersumber pada depresi prima dalam tahap falik (falus). Depresi prima (depresi pertama) merupakan suatu respons pada pengulangan kekecewaan cinta terhadap orang tua keinginan cinta terhalang lagi. Depresi awal merupakan suatu regresi terhadap fungsi oral dan depresi berikutnya hanya merupakan pengulangan dari regresi ini. Abraham juga memperkaya psikologi mite-mite dan simbol- simbol dalam dua hal. Pertama, ia menambahkan berbagai pe- ngertian simbol yang sudah diterima secara luas dalam siklus analitis. Kedua, Abraham melihat hubungan yang erat sekali antara mite-mite dan mimpi-mimpi dan melihat kedua hal itu akan me- menuhi fantasi-fantasi yang berasal dari proses represi. Analisis Abraham yang asli mengenai mite-mite mungkin tidak diterima karena analisis itu didasarkan atas pembahasan Freud mengenai mite Oedipus dalam tulisan The Interpretation of Dreams. Tapi bagaimanapun pembahasan Abraham secara detail mengenai tema di atas merupakan karya asli Abraham. Menjelang akhir hidupnya, Abraham juga masih memberi kontribusi yang berarti dalam beberapa tema kecil walau tidak terlalu terkenal. Abraham turut berjasa dalam perkembangan kehidupan psikonalisis Freud. la adalah salah satu anggota tetap kelompok kerja Freud yang bertemu secara rutin sekali dalam seminggu. la juga seorang ahli psikoanalisis yang memberi kontribusi dalam psikologi seksualitas, perkembangan karakter, kekacauan depresif, dan simbolisme. Walaupun karya Abraham memiliki cakupan yang terbatas, pikiran-pikirannya mulai terkenal setelah kematiannya, karena beberapa alasan di antaranya, pada dekade sesudah kematiannya pasien neurotik, psikosis, gangguan kepribadian, dan hubungan inter personal yang kurang baik semakin meningkat. Jadi, kebutuh- an akan psikiater dan teknik analisis terapi yang baik pun ber- 3 tambah. Pembahasan Abraham mengenai perkembangan awal manusia sangat berguna untuk membantu para pasien di atas. Teori perkembangan Abraham juga sangat relevan untuk penelitian dan studi selanjutnya tentang perilaku manusia dan binatang. Teorinya tentang proses terjadinya depresi sudah diterima dan dikembangkan lebih luas. Karya tulis Abraham antara lain: 1. On the Significance of Sexual Trauma in Childhood for the Symptomatology of dementia Praecox (1907, 1955). 2. Selected Papers on Psychoanalysis (1907-1925; 1953-1955). 3. A Psycho-analytic Dialogue: The letters of Signund Freud and Karl Abraham (1097-1926; 1966) bersama Freud, dan Abraham. 4. Dreams and Myths: A Study in Folk-psychology (1909, 1955). 5. Notes on the Psycho-analytical Investigation and Treatment of Manic-Depressive Insanity and Allied Conditions (1912, 1953). 6. Manifestations of the Female Castraition Complex (1921, 1953). 7. A Short Study of the Development of the Libido, Viewed in the light of Mental Disorders (1924, 1953). 8. Character-formation on the Genital Level of Libido-development (1925, 1953). Referensi: Rosen, E. Abraham, Karl. (1968). International Encyclodia of the SOCIAL SCIENCES. Volume 1: 1-4. Gay, P , FREUD: A Life for Our Time, New York: First Anchor Books edition, 1989. The New Encyclopaedia Britannica (1973), Volume 1: 37 2. ADLER (ALFRED ADLER) Alfred Adler adalah seorang dokter penyakit dalam yang kemudian menjadi psikolog terkenal dengan teori psikologi individual. la adalah anak kedua dari enam bersaudara yang lahir di Wina pada tanggal 7 Februari 1870. Ayahnya adalah Leopold Adler dari Burgenland dan ibunya berasal dari Moravia. 4 Adler tamat sekolah kedokteran dari Universitas Viena pada tahun 1895. Tiga tahun kemudian, ia menulis buku yang per- tama tepatnya pada tahun 1898. Sekitar tahun 1900, Adler mempelajari simptom- simptom psikopatologi dalam kedokteran umum. la tertarik dengan teori-teori Sigmund Freud yang sedang dipolemikkan. Pada tahun 1902 ia bergabung dengan Lembaga psikoanalisis Wina yang didirikan Freud, menjadi anggota dan kemudian ketua Masyarakat Psikoanalisis Wina. Pikiran dan perumusan Adler mengenai perasaan-perasaan rendah diri (inferior) dan upaya kompensatoris untuk mendapatkan kekuasaan sebagai faktor dasar dalam perkembangan pribadi, mempercepat muncuinya keretakan secara terbuka dengan Freud pada tahun 1911. Pada suatu kesempatan, ia diminta menyajikan pandangan-pandangannya di hadapan masyarakat psikoanalisis, yang kemudian disusul dengan kritik dan celaan terhadap pandangannya itu. Akibatnya, Adler mengundurkan diri dari ketua dan beberapa bulan kemudian ia menarik diri dari keanggotaan sekaligus memutuskan hubungan dengan Psikoanalisis Freudian. Dengan kelompok besar pengikut yang setia, Adler membangun satu sistem teori baru yang terkenal dengan nama: Psikologi Indi- vidual. Selama perang dunia pertama, Adler bekerja sebagai dokter pada laskar tentara Austria dan sesudah perang ia tertarik pada bimbingan anak-anak. Dalam ceramah, kuliah dan buku-bukunya, dia tidak hanya mengarahkan diri kepada para ahli di bidangnya saja, tetapi memperhatikan juga orang awam yang cerdas, kaum pendidik dan mereka semua yang berminat pada kesejahteraan anak-anak. la juga mendirikan sejumlah klinik bimbingan bagi anak- anak. Pada tahun 1935, Adler menetap di Amerika Serikat tempat ia meneruskan paktiknya sebagai psikiater dan menjadi profesor dalam psikologi medis di Long Island College of Medicine. la meninggal di Aberdeen, Skotlandia pada tanggal 25 Mei 1937 ketika ia mengadakan perjalanan keliling untuk memberikan ceramah. Adler adalah seorang penulis yang paling produktif dan pen- ceramah yang tidak kenal lelah. Pengaruh Adler walau besar, waktu itu masih di bawah bayang-bayang Freud. Baru pada tahun-tahun terakhir ini karyanya semakin mendapat penghargaan, dan teori- teorinya dapat dianggap sebagai landasan dasar bagi perkembang- an teori kepribadian dan psikoterapi zaman sekarang. Teori Adler yang sangat terkenal adalah Individual Psychology (psikologi individual). Psikologi Individual adalah sebuah cabang ilmu psikologi yang khusus meneliti perbedaan antarindividu, yang sinonim dengan Differential Psychology. Psikologi Individu Adler merupakan suatu sistem psikologi yang bertujuan untuk memahami, mencegah dan mengobati penyakit-penyakit mental. Pada mulanya, Adler bekerja sama dengan Freud, tetapi ia kemudian tidak puas terhadap penekanan Freud yang berlebihan pada seksualitas dalam perkembangan kepribadian dan menorjol- kan gejala neorosis, menekankan kelemahan dan ketidakberdayaan anak-anak muda dalam perasaan-perasaan inferior mereka (minder dan rendah diri). Adler kemudian mengemukakan suatu ciri psikologi dengan dasar filosofis bahwa: (1) Tingkah laku manusia dimotivasikan oleh dorongan-dorong- an sosial, karena manusia pada dasarnya makhluk sosial. la meng- hubungkan diri dengan orang lain, ikut dalam kegiatan-kegiatan sosial, menempatkan kesejahteraan sosial di atas kepentingan diri- nya sendiri.Beda dengan Freud yang mengatakan manusia dikuasai oleh insting-insting yang dibawa sejak lahir, Jung berpandangan bahwa manusia dikuasai oleh arketipe-arketipe. Sementara Adler menekankan minat sosial. (2) Manusia memiliki diri yang kreatif. Konsep ini baru untuk mengimbangi objektivisme dari psikoanalisis klasik. Diri sebagai penyebab penting tingkah laku manusia. (3) Setiap orang merupakan konfigurasi unik dari motif-motif, sifat-sifat, minat-minat dan nilai-nilai. Beda dengan psikoanalisis klasik yang menekankan keunikan kepribadian. (4) Kesadaran sebagai pusat kepribadian. Dalam pemikiran Finalisme Fiktif, Adler mengambil alih ide filsafat positivisme yang mengatakan bahwa manusia hidup dengan banyak cita-cita yang semata-mata fiktif, dan hidup berdasarkan harapan-harapannya dan bukan masa lampaunya. la tidak percaya pada takdir, tapi hadir secara mental di sini dan sekarang, Tema-tema pokok dari teori psikologi Adler, antara lain: (1). Mengenai perasaan /nferioritas, Adler mengemukakan dua sember inferioritas yaitu inferioritas fisik dan inferioritas psikologis. (a) Inferioritas fisik adalah rasa tidak lengkap oleh adanya ke- kurangan dalam tubuh. Ada inferioritas organ tubuh dan kompensasi berlebihan. Dalam praktik kedokteran, Adler tertarik untuk menemu- kan jawaban: mengapa orang yang terserang penyakit tertentu akan berusaha untuk mengatasinya. la menemukan bahwa gangguan pada tubuh sebenarnya merupakan inferioritas dasar yang timbul karena hereditas atau kalainan dalam perkembangan. Contoh terkenal adalah Demosthenes, seorang yang gagap ketika kanak- kanak, namun berkat latihan yang keras kemudian menjadi seorang orator ulung yang terkenal; Theodore Roosevelt, yang lemah fisik pada masa mudanya, berkat latihan yang sistematik menjadi orang yang berfisik tegak. (b) Inferioritas psikologis: yaitu perasaan-perasaan inferioritas yang bersumber pada rasa tidak lengkap atau tidak sempurna dalam setiap bidang kehidupan. Contoh: anak yang dimotivasikan oleh perasaan inferior akan berjuang untuk mencapai taraf per- kembangan yang lebih tinggi. Setelah mencapai perkembangan yang diinginkan, muncul lagi perasaan inferiorias lalu ada perjuang- an lagi, demikian akan terjadi seterusnya. Perasaan inferioritas bukan suatu pertanda abnormallitas, melainkan justru penyebab segala bentuk penyempurnaan dalam kehidupan manusia. Dari sudut pandang kesehatan mental ada perasaan inferioritas nor- mal: seperti rasa tidak lengkap yang merupakan daya pendorong kuat bagi perkembangan manusia. Manusia didorong oleh kebutuhan untuk mengatasi inferioritasnya dan ditarik oleh hasrat untuk menjadi superior. Dan ada inferioritas abnormal yang adalah perasaan inferioritas yang dilebih-lebihkan oleh kondisi-kondisi tertentu dalam keluarga dan masyarakat. Misainya, karena pe- manjaan, penolakan anak, kritik berlebihan, yang akan menghasil- kan menifestasi perilaku yang abnormal pula. Perasaan inferior akan ditonjolkan secara kuat sekali apabila anak yang bersangkutan benar-benar memiliki inferioritas baik organis maupun inferioritas 7 bayangan (semu), bila ia termasuk dalam jenis kelamin perempuan, atau menjadi anggota suatu kelompok minoritas. (2). Kompensasi lebih muncul akibat perasaan inferior yang diberi penekanan berlebihan yang selanjutnya akan menuntun anak menuju suatu kegiatan kompensatoris dan satu gaya hidup dengan ciri usaha-usaha aktif untuk mengatasi situasi minus dariinferioritas- nya, dengan cara mencapai suatu situasi plus dari superioritas. Tingkah laku kompensatoris itu condong menuntun orang kepada “kompensasi-lebih” lewat usaha-usaha untuk mendominasi orang lain, membangkitkan rasa permusuhan terhadap saingan-saingan- nya, dan mengembangkan sikap-sikap asosial, seperti ciri-ciri yang dimiliki oleh orang-orang jahat, teror bom, kriminal atau individu yang suka mengasingkan diri. Individu yang menderita sebagai akibat perasaan inferior yang berlebihan, juga akan didorong oleh satu pikiran mengenai nilai diri yang dibesar-besarkan, arahan khayalan yang tidak masuk akal terhadap apa yang sedang di- perjuangkan. Pikiran ini mendominasi seluruh gaya hidupnya. Kesenjangan besar di antara realitas kehidupan individu dan khayal- an yang diidealkan, justru menimbulkan banyak kecemasan, usaha- usaha lebih keras lagi, dan*kompensasi-lebih” yang semakin parah. Dan hal ini akan menimbulkan suatu lingkaran setan yang tak ada ujung pangkalnya. Dalam perjuangan ke arah superioritas, agresi dianggap lebih penting untuk diperhatikan daripada seksualitas, lalu impuls agresi diganti dengan hasrat akan kekuasaan. Kekuasa- an disamakan dengan sifat maskulin dan kelemahan selalu di samankan dengan femininitas. Lalu tiga tahap pemikiran Adler tentang tujuan final manusia adalah: menjadi agresif, menjadi berkuasa, dan menjadi superior. Secara positif, superioritas bukan pengkotakan sosial, bukan pula kedudukan tinggi dalam masyarakat, tetapi perjuangan ke arah kesempurnaan, yang sama dengan konsep Jung tentang diri, atau aktualisasi diri menurut Golstain. Perjuangan menuju superioritas bersifat bawaan. Semua dorongan itu mendapat kekuatan/daya dorongnya dari dorongan ke arah kesempurnaan, dan dalam bentuk berbagai macam sesuai dengan tingkat umur dan situasi. (3).Adler juga punya minat kemasyarakatan. la adalah seorang pembela keadilan sosial dan pendukung domokrasi sosial. la memperluas konsepnya dengan memasukkan minat sosial dalam