INTERNAL AUDITOR DAN DILEMA ETIKA

ABSTRACT The internal auditor serves an important and valuable role in organization by enhancing the reliability of its accounting, management and control system. However, because the internal auditor holds a dual allegiance to the internal auditing profession and to management of an organization, a critical issue facing the internal auditor is the ethical dilemma. This research reports on a survey that investigated the ethical decision making process of internal auditor. Trevino’s (1986) Person-Situation Interactionist Model is adapted and hypotheses are formulation based on theorizations from variables those unique to decision maker and those considered situational in nature. Related variables to an individual decision maker being examined in this research are ethical orientation, professional commitment and working experience. Situation of specific variables examined in this research are corporate ethical value using Hunt et.al. (1989) CEV Questionnaire. Differences in ethical ideology are thought to influence individual’s judgment about ethical dilemma. Ethical orientation were created based on two dimension of the Ethical Position Questionnaire (idealism and non-relativism), as posited by Forsyth (1992). The ethical decision making of internal auditor are hypothesized to be influenced by ethical orientation, professional commitment, working experience and corporate ethical value. For this study, a structural equation model has been developed which configures how the organizations’ ethical environment and personal traits affect ethical decision making. Structural Equation Model and path analysis results indicate that (1) ethical decision making are affected by personal values and by environmental variables (direct and indirect effects) of internal auditor (2) Three constructs (corporate ethical value, ethical orientation and professional commitment) are significant causal factors and affect internal auditors’ judgment and therefore directly or indirectly affect ethical decision making. (3) Years of employment as proxy of working experience found that no positive relationship with ethical decision making process. These research also found that the proposed model, overall, did not have enough of goodness-of-fit index. This results may indicate that the complexity of the ethical decision making process is not fully captured in theoretical models. Keywords: internal auditor, ethics, ethical dilemma, ethical decision making

Sasongko Budi | www.theAkuntan.Com | halaman 1

INTERNAL AUDITOR DAN DILEMA ETIKA 1. Latar belakang Tema tentang independensi dan etika dalam profesi akuntan memiliki pemahaman yang sangat penting dan mendalam. Sorotan masyarakat terhadap profesi akuntan sangatlah besar sebagai dampak beberapa skandal perusahaan besar dunia seperti Enron dan WorldCom yang melibatkan para akuntan (Largay III, 2002; Verrechia, 2003). Finn et.al. (1988) dan Bazerman et.al. (1997) menyatakan bahwa akuntan seringkali dihadapkan pada situasi adanya dilema yang menyebabkan dan memungkinkan akuntan tidak dapat independen. Akuntan diminta untuk tetap independen dari klien, tetapi pada saat yang sama kebutuhan mereka tergantung kepada klien karena fee yang diterimanya, sehingga seringkali akuntan berada dalam situasi dilematis. Hal ini akan berlanjut jika hasil temuan auditor tidak sesuai dengan harapan klien, sehingga menimbulkan konflik audit (Tsui, 1996; Tsui dan Gul, 1996). Konflik audit ini akan berkembang menjadi sebuah dilema etika ketika auditor diharuskan membuat keputusan yang bertentangan dengan independensi dan integritasnya dengan imbalan ekonomis yang mungkin terjadi atau tekanan di sisi lainnya (Windsor dan Askhanasy, 1995). Auditor secara sosial juga bertanggung jawab kepada masyarakat dan profesinya daripada

mengutamakan kepentingan dan pertimbangan pragmatis pribadi atau kepentingan ekonomis semata. Situasi seperti hal tersebut di atas sangat sering dihadapi oleh auditor. Auditor seringkali dihadapkan kepada situasi dilema etika dalam pengambilan keputusannya (Tsui, 1996; Tsui dan Gul, 1996; Larkin, 2000; Dillard dan Yuthas, 2002). Sasongko Budi | www.theAkuntan.Com | halaman 2

Auditing internal adalah sebuah fungsi penilaian independen yang dijalankan di dalam organisasi untuk menguji dan mengevaluasi sistem pengendalian internal organisasi. Kualitas auditing internal yang dijalankan akan berhubungan dengan kompetensi dan obyektivitas dari staf internal auditor organisasi tersebut (Adams, 1994; Bou-Raad, 2000). Sebagai pekerja, internal auditor mendapatkan penghasilan dari organisasi di mana dia bekerja, hal ini berarti internal auditor sangat bergantung kepada organisasinya sebagai pemberi kerja. Di lain pihak, internal auditor dituntut untuk tetap independen sebagai bentuk tanggungjawabnya kepada publik dan profesinya (Abdolmohammadi dan Owhoso, 2000; Windsor; 2002). Di sini konflik audit muncul ketika auditor internal menjalankan aktivitas auditing internal. Internal auditor sebagai pekerja di dalam organisasi yang diauditnya akan menjumpai masalah ketika harus melaporkan temuan-temuan yang mungkin tidak menguntungkan dalam penilaian kinerja manajemen atau obyek audit yang dilakukannya. Ketika manajemen atau subyek audit menawarkan sebuah imbalan atau tekanan kepada internal auditor untuk menghasilkan laporan audit yang diinginkan oleh manajemen maka menjadi dilema etika. Untuk itu auditor dihadapkan kepada pilihan-pilihan keputusan yang terkait dengan hal-hal keputusan etis dan tidak etis. Keputusan etis (ethical decision) per definisi adalah sebuah keputusan yang baik secara legal maupun moral dapat diterima oleh masyarakat luas (Trevino, 1986; Jones, 1991). Kemampuan dalam mengidentifikasi dan melakukan perilaku etis atau tidak etis adalah hal yang mendasar dalam profesi akuntan. Internal auditor juga tidak terlepas dari masalah bagaimana membuat keputusan etis. Internal auditor sebagai karyawan mempunyai tanggung jawab kepada organisasi Sasongko Budi | www.theAkuntan.Com | halaman 3

lingkungan kerja. Faktor determinan penting dalam perilaku pengambilan keputusan etis adalah faktor-faktor yang secara unik berhubungan dengan individu pembuat keputusan dan variabel-variabel yang merupakan hasil dari proses sosialisasi dan pengembangan masing-masing individu (Ford dan Richardson. karena keputusan yang diambil oleh internal auditor juga akan banyak berpengaruh kepada organisasi dan konstituen di mana dia berada (Arnold dan Ponemon.al. Larkin.theAkuntan. namun di lain pihak. 2000. Paolillo & Vitell. tetapi internal auditor juga terikat kepada etika profesi dan mempunyai tanggungjawab sosial. 2002). Loe et. maka auditor berada dalam situasi yang dilematis. kepada masyarakat dan dirinya sendiri untuk berkelakuan etis yang baik.di mana dia bekerja. Faktor-faktor individual tersebut meliputi variabel-variabel yang merupakan ciri pembawaan sejak lahir (gender. 1991). Sasongko Budi | www. Manajemen dapat mempengaruhi proses pemeriksaan yang dilakukan oleh internal auditor. tetapi sebagai seorang akuntan profesional dia harus bertanggunjawab kepada profesinya.. Kemampuan internal auditor untuk membuat keputusan yang akan diambil ketika menghadapi situasi dilema etika akan sangat bergantung kepada berbagai hal. umur. kebangsaan dan sebagainya). jika tidak memenuhi tuntutan tersebut kemungkinan dapat menghasilkan sanksi atas diri internal auditor. 2000. Manajemen dapat menekan internal auditor untuk melanggar standar pemeriksaan. 1994. Memenuhi tuntutan manajemen berarti melanggar standar dan etika profesi. sedangkan faktor-faktor lainnya adalah faktor organisasi.Com | halaman 4 . profesi dan sebagainya. Internal auditor secara terus menerus dihadapkan pada situasi dilema etika yang melibatkan pilihan-pilihan antara nilainilai yang saling bertentangan.

orientasi etika dan nilai etika organisasi terhadap pengambilan keputusan etis internal auditor dalam situasi dilema etika. Permasalahan yang hendak diteliti adalah bagaimanakah pengaruh pengalaman audit.theAkuntan. tetapi meluas kepada investor dan kreditor serta calon investor dan calon kreditur. orientasi etika dan nilai etika organisasi berpengaruh terhadap pengambilan keputusan etis internal auditor dalam situasi dilema etika. komitmen profesional. Perumusan Masalah Penelitian ini ingin mengembangkan hasil penelitian Zeigenfuss dan Singhapakdi (1994) serta penelitian Douglas. Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk memberikan masukan mengenai implikasi pengalaman audit. 4. komitmen profesional. sehingga seringkali ada dua Sasongko Budi | www. Tujuan dan Manfaat Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empirik pengalaman audit. 3.1 Konflik Audit dan Dilema Etika Banyak pihak yang berkepentingan di dalam sebuah organisasi bisnis. Investor yang menanamkan dananya ke dalam perusahaan atau kreditur yang meminjamkan dananya. komitmen profesional.Com | halaman 5 . sehingga pihak-pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan perusahaan tidak terbatas kepada manajemen saja. Para pihak tersebut memerlukan informasi mengenai perusahaan. Davidson dan Schwartz (2001) tentang internal auditor dalam pengambilan keputusan etis (ethical decision making).2. orientasi etika dan nilai etika organisasi terhadap pengambilan keputusan etis internal auditor dalam situasi dilema etika. Kerangka Teori 4.

1996. manajemen perusahaan ingin menyampaikan informasi mengenai pertanggunjawaban pengelolaan dana yang berasal dari pihak luar. seorang auditor berada dalam konflik audit (Tsui. pihal eksternal ingin memperoleh informasi yang andal dari manajemen perusahaan.theAkuntan. 1995). Akuntan sebagai sebuah profesi juga tidak terlepas dari pertanggungjawaban kepada masyarakat. karena dalam diri auditor mewakili banyak kepentingan yang melekat dalam proses audit (built-in conflict of interest). 1996). sehingga seringkali auditor dihadapkan kepada masalah dilema etika dalam pengambilan keputusannya.pihak yang berlawanan dalam situasi ini. Konflik dalam sebuah audit akan berkembang pada saat auditor mengungkapkan informasi tetapi informasi tersebut oleh klien tidak ingin dipublikasikan kepada umum. Konflik ini akan menjadi sebuah dilema etika ketika auditor diharuskan membuat keputusan yang menyangkut independensi dan integritasnya dengan imbalan ekonomis yang mungkin terjadi di sisi lainnya (Windsor dan Askhanasy. Kode etik yang digunakan oleh para profesional beranjak dari bentuk pertanggunjawaban profesi kepada masyarakat. Di satu pihak. Tsui dan Gul. Seringkali dalam pelaksanaan aktivitas auditing. di lain pihak. Profesi akuntan timbul untuk memberikan informasi yang terpercaya bagi kedua belah pihak dalam situasi seperti ini. Sasongko Budi | www.Com | halaman 6 . Karena auditor seharusnya secara sosial juga bertanggung jawab kepada masyarakat dan profesinya daripada mengutamakan kepentingan dan pertimbangan pragmatis pribadi atau kepentingan ekonomis semata. Damman (2003) menyatakan bahwa sebenarnya akuntan di dalam aktivitas auditnya banyak hal yang harus dipertimbangkan.

1986. kebangsaan dan sebagainya). Beranjak Sasongko Budi | www. 1994. profesi dan sebagainya. Ponemon dan Radtke. but contradictory. 1997. Penelitian tentang pengambilan keputusan etis. telah banyak dilakukan dengan berbagai pendekatan mulai dari psikologi sosial dan ekonomi.2 Pengambilan Keputusan Etis (Ethical Decision Making) Keputusan etis (ethical decision) per definisi adalah sebuah keputusan yang baik secara legal maupun moral dapat diterima oleh masyarakat luas (Trevino. 4. ethical directives.theAkuntan.Com | halaman 7 . umur. or when every alternative results in an undesirable outcome for one or more persons” Dilema etika muncul sebagai konsekuensi konflik audit karena auditor berada dalam situasi pengambilan keputusan yang terkait dengan keputusannya yang etis atau tidak etis. Gunz dan McCutcheon (2002) adalah “situations in which professional must choose between two or more relevant. Situasi tersebut terbentuk karena dalam konflik audit ada pihak-pihak yang berkepentingan terhadap keputusan auditor sehingga auditor daihadapkan kepada pilihan keputusan etis dan tidak etis. Sedangkan faktor-faktor lainnya adalah faktor organisasi. Beberapa review tentang penelitian etika (Ford dan Richardson. 1991). 2002) mengungkapkan beberapa penelitian empirik tentang pengambilan keputusan etis. Faktor-faktor individual tersebut meliputi variabel-variabel yang merupakan ciri pembawaan sejak lahir (gender. Jones. Mereka menyatakan bahwa salah satu determinan penting perilaku pengambilan keputusan etis adalah faktor-faktor yang secara unik berhubungan dengan individu pembuat keputusan dan variabel-variabel yang merupakan hasil dari proses sosialisasi dan pengembangan masing-masing individu.al.. 2000. Louwers. lingkungan kerja. Loe et.Situasi dilema menurut Gunz. Paolillo & Vitell.

Alasannya adalah sebuah pengambilan keputusan akan memungkinkan menghasilkan keputusan yang etis dan keputusan yang tidak etis. hasil penelitian ini akan dapat membawa dan menjadi arahan dalam tema etika dan dampaknya pada profesi akuntan. 1986). dan memberikan label atau mendefinisikan apakah suatu keputusan tersebut etis atau tidak etis akan mungkin sangat menyesatkan (McMahon. Ponemon dan Radtke (1997) menyatakan pentingnya penelitian tentang pengambilan keputusan etis dari pemikiran dan perkembangan moral (moral reasoning and development) untuk profesi akuntan dengan 3 alasan. namun lebih kepada pengertian bagaimana proses pengambilan keputusan etis itu sendiri. Ketiga. penelitian dalam wilayah ini akan lebih menjelaskan problematika proses yang terjadi dalam menghadapi berbagai pengambilan keputusan etis auditor yang berbeda-beda dalam situasi dilema etika. yaitu pertama Sasongko Budi | www.Com | halaman 8 .dari berbagai hasil penelitian tersebut kemudian dikembangkan dalam paradigma ilmu akuntansi. penelitian dengan topik ini dapat digunakan untuk memahami tingkat kesadaran dan perkembangan moral auditor dan akan menambah pemahaman tentang bagaimana perilaku auditor dalam menghadapi konflik etika. Beberapa model penelitian etis seringkali hanya mendeskripsikan bagaimana proses seseorang mengambil keputusan yang terkait dengan etika dalam situasi dilema etika (Jones. 2002) menyatakan bahwa model pengambilan keputusan etis terdiri dari 4 (empat tahapan). yaitu pertama. Sebuah model pengambilan etis tidak berada kepada pemahaman bagaimana seharusnya seseorang membuat keputusan etis (ought to do). 1991. Louwers. Kedua. Rest (dalam dalam Zeigenfuss dan Martison. 2002). Trevino.theAkuntan.

moral issue. moral judgment. Dalam bahasa yang lain adalah bahwa suatu tindakan atau keputusan yang diambil akan mempunyai konsekuensi kepada orang lain. Sedangkan keempat adalah moral behavior. Ketiga adalah moral intention yaitu bagaimana seseorang bertujuan atau bermaksud untuk berkelakuan etis atau tidak etis. menyatakan seberapa jauh ketika seseorang melakukan tindakan. maka akan mengakibatkan kerugian (harm) atau keuntungan (benefit) bagi orang lain. Dengan Sasongko Budi | www. Jones (1991) menyatakan ada 3 unsur utama dalam pengambilan keputusan etis. merupakan faktor penentu yang melahirkan perilaku moral dalam pengambilan keputusan etis. Artinya.pemahaman tentang adanya isu moral dalam sebuah dilema etika (recognizing that moral issue exists). yaitu bagaimana seseorang bertindak atau berperilaku etis atau tidak etis. yaitu sebuah keputusan yang secara legal dan moral dapat diterima oleh masyarakat luas (Jones. Kedua adalah pengambilan keputusan etis (make a moral judgment). Dalam tahapan ini menggambarkan bagaimana tanggapan seseorang terhadap isu moral dalam sebuah dilema etika. yaitu pertama. moral thinking). sehingga untuk menemukan perilaku moral yang sebenarnya hanya dapat ditelusuri melalui penalarannya. pengukuran moral yang benar tidak sekedar mengamati perilaku moral yang tampak. Ketiga adalah keputusan etis (ethical decision) itu sendiri. yaitu seseorang yang membuat keputusan moral (moral decision). 1991) Perkembangan penalaran moral (cognitive moral development). tetapi harus melihat pada kesadaran moral yang mendasari keputusan perilaku moral tersebut. yaitu bagaimana seseorang membuat keputusan etis. sering disebut juga kesadaran moral (moral reasoning.theAkuntan. jika dia secara bebas melakukan tindakan itu.Com | halaman 9 . Kedua adalah moral agent.

Dia menyatakan bahwa pengambilan keputusan etis seseorang akan sangat tergantung kepada faktor-faktor individu (individual moderators) seperti ego strength. Pembentukan pemahaman tentang moral issue tersebut akan tergantung kepada faktor individual (pengalaman.Com | halaman 10 . 1997). Hal ini searah dengan pernyataan Jones (1991) tentang moral issue yang ada dalam dilema etika tersebut bahwa kesadaran kognitif moral seseorang akan sangat tergantung kepada level perkembangan moral menurut Kohlberg (dalam Arnold dan Sutton. Berdasarkan model dari Trevino (1986) tersebut maka dalam penelitian ini akan diuji sebuah person-situation interactionist model untuk internal auditor. organizational culture. Model yang diajukan Trevino (1986) dapat jelaskan yaitu.theAkuntan. Faktor yang dapat dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan etis internal auditor ketika menghadapi dilema etika adalah faktor individual yaitu pengalaman. komitmen profesional serta orientasi etika auditor dan faktor situasional yaitu nilai etika organisasi. 1991). and locus of control dan faktor situasional seperti immediate job context. and characteristics of the work. Trevino (1986) menyusun sebuah model pengambilan keputusan etis dengan menyatakan bahwa keputusan etis adalah merupakan sebuah interaksi antara faktor individu dengan faktor situasional (person-situation interactionist model).mengukur tingkat kesadaran moral akan dapat mengetahui tinggi rendahnya moral tersebut (Jones. field dependence. orientasi etika dan komitmen kepada profesi) dan faktor situasional (nilai etika organisasi). ketika seseorang dihadapkan pada sebuah dilema etika maka individu tersebut akan mempertimbangkannya secara kognitif dalam benaknya. Sasongko Budi | www.

Sasongko Budi | www. Kidwell.4.3 Pengalaman Kerja Auditor Pengalaman kerja telah dipandang sebagai suatu faktor penting dalam memprediksi kinerja auditor (Sularso dan Na’im. Davis.Com | halaman 11 . (2002) melakukan penelitian pada beberapa mahasiswa program bisnis dan menyatakan bahwa mahasiswa yang senior lebih berperilaku etis dibandingkan dengan yang lebih yunior. Larkin (2000) melakukan penelitian yang melibatkan internal auditor di lembaga keuangan dan menyatakan bahwa internal auditor yang berpengalaman cenderung lebih konservatif dalam menghadapi situasi dilema etika. Stevens dan Bethke (1987) melakukan penelitian tentang perilaku manajer dalam menghadapi situasi dilema etika. mengikuti program pelatihan dan penggunaan standar auditing. Glover et. 1999. alasan ini dimungkinkan karena untuk menguatkan komitmen profesional seorang auditor perlu waktu dalam keterlibatannya untuk menjadi bagian dan menerima manfaat sebagai bagian dari sebuah komunitas profesinya. Kalbers dan Fogarty (1995) dalam penelitiannya tentang internal auditor menyatakan ada hubungan antara pengalaman kerja dengan profesionalisme dan afiliasi terhadap komunitasnya (community affiliation).al. Meskipun hasil penelitian tersebut hanya menunjukkan bukti yang terbatas. Pengalaman auditor akan semakin berkembang dengan bertambahnya pengalaman audit. pengawasan dan review oleh akuntan senior. hasil penelitiannya adalah bahwa manajer dengan pengalaman kerja yang lebih lama mempunyai hubungan yang positif dengan pengambilan keputusan etis. diskusi mengenai audit dengan rekan sekerja.al. (2002). 1992). 1997. 1990. Hasil penelitian ini juga didukung oleh penelitian Larkin (2000) dan Glover et.theAkuntan. Bonner. Jeffrey.

Hasilnya menunjukkan bahwa akuntan dengan komitmen profesional yang kuat maka perilakunya lebih mengarah kepada ketaatan terhadap aturan dibandingkan dengan akuntan dengan komitmen profesional yang rendah. Identifikasi ini membutuhkan beberapa tingkat kesepakatan antara individu dengan tujuan dan nilai-nilai yang ada dalam profesi termasuk nilai moral dan etika.4. Definisi komitmen profesional banyak digunakan dalam literatur akuntansi adalah sebagai: 1) suatu keyakinan dan penerimaan tujuan dan nilai-nilai di dalam organisasi profesi 2) kemauan untuk memainkan peran tertentu atas nama organisasi profesi 3) gairah untuk mempertahankan keanggotaan pada organisasi profesi (Jeffrey dan Weatherholt. Namun riset ini belum menunjukkan bagaimana komitmen profesi dan orientasi etika berhubungan dengan perilaku akuntan dalam situsai dilema etika.4 Komitmen Profesional Komitmen profesional diartikan sebagai intensitas identifikasi dan keterlibatan individu dengan profesinya.Com | halaman 12 . 1996). Khomsiyah dan Indriantoro (1998) mengungkapkan juga bahwa komitmen profesional mempengaruhi sensitivitas etika auditor pemerintah yang menjadi sampel penelitiannya. Windsor dan Ashkanasy (1995) mengungkapkan bahwa asimilasi keyakinan dan nilai organisasi yang merupakan definisi komitmen profesi mempengaruhi integritas dan independensi auditor. pemahaman etika dan sikap ketaatan terhadap aturan. Jeffrey dan Weatherholt (1996) menguji hubungan antara komitmen profesional.theAkuntan.5 Orientasi Etika Sasongko Budi | www. 4.

(1995 dan 1996) dan Finegan (1994) menyatakan bahwa setiap orientasi etika individu. Kategori orientasi etika yang dibangun oleh Forsyth (1992) menyatakan bahwa manusia terdiri dari dua konsep yaitu idealisme versus pragmatisme. Di Sasongko Budi | www. Kebutuhan tersebut berinteraksi dengan pengalaman pribadi dan sistem nilai individu yang akan menentukan harapan atau tujuan dalam setiap perilakunya sehingga pada akhirnya individu tersebut menentukan tindakan apa yang akan diambilnya. 1994). Dimensi ini dideskripsikan sebagai sikap individu terhadap suatu tindakan dan bagaimana tindakan itu berakibat kepada orang lain. Cohen et. Orientasi etika menunjukkan pandangan yang diadopsi oleh masing-masing individu ketika menghadapi situasi masalah yang membutuhkan pemecahan dan penyelesaian etika atau dilema etika. pertama-tama ditentukan oleh kebutuhannya. dan relativisme versus nonrelativisme yang ortogonal dan bersama-sama menjadi sebuah ukuran dari orientasi etika individu. Bass dan Brown. Orientasi Etika menurut Forsyth (dalam Barnett. 1994) dioperasionalisasikan sebagai kemampuan individu untuk mengevaluasi dan mempertimbangkan nilai etika dalam suatu kejadian. Bass dan Brown.Orientasi etika (ethical orientation atau ethical ideology) berarti mengenai konsep diri dan perilaku pribadi yang berhubungan dengan individu dalam diri seseorang.Com | halaman 13 . Individu dengan idealisme yang tinggi percaya bahwa tindakan yang etis seharusnya mempunyai konsekuensi yang positif dan selalu tidak akan berdampak atau berakibat merugikan kepada orang lain sekecil apapun (Barnett. Idealisme menunjukkan keyakinan bahwa konsekuensi sebuah keputusan yang diinginkan dapat diperoleh tanpa melanggar nilai-nilai luhur moralitas. al.theAkuntan.

Dalam kaitan dengan ini maka internal auditor yang mempunyai idealisme yang tinggi akan selalu bekerja dengan cermat dan profesional dan ini berarti internal auditor dengan orientasi etika yang idealis akan berperilaku lebih etis dalam menghadapi dilema etika. Mereka menyatakan bahwa individu yang mempunyai idealisme secara otomatis akan memelihara tatacara pekerjaannya sesuai dengan standar profesional.Com | halaman 14 . sehingga standar profesional tersebut akan menjadi arahan dalam bekerja. orientasi etika non-relativisme (atau absolutisme) menunjukkan pengakuan adanya prinsipprinsip moral dengan kewajiban-kewajiban yang mutlak.lain pihak. Tujuan utama akuntan sebagai sebuah profesi audit adalah juga termasuk menghindari kerugian yang diterima oleh pengguna laporan keuangan. Finn dan Munter (1993) dalam penelitiannya tentang sensitivitas etika auditor. Relativisme menyatakan bahwa tidak ada sudut pandang suatu etika yang dapat diidentifikasi secara jelas merupakan ‘yang terbaik’. karena setiap individu mempunyai sudut pandang tentang etika dengan sangat beragam dan luas.theAkuntan. Konsep relativisme menunjukkan perilaku penolakan terhadap kemutlakan aturan-aturan moral yang mengatur perilaku individu yang ada. pragmatisme mengakui hasil keputusan adalah yang utama dan jika perlu mengabaikan nilai-nilai moralitas untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Hal ini akan searah dengan konsep non-relativisme yang menyatakan tingkat absolutisme yang tinggi. Shaub. sehingga seorang auditor yang memiliki Sasongko Budi | www. Kebalikannya. meneliti hubungan orientasi etika auditor dengan komitmen profesional auditor. Orientasi etika ini mengkritik penerapan prinsip-prinsip aturan moral yang universal.

4.orientasi etika idealis akan selalu merujuk kepada tujuan dan arahan yang ada pada standar profesionalnya. Ziegenfuss dan Singhapakdi (1994) melakukan penelitian tentang persepsi etis dan nilai-nilai individu terhadap anggota Institute of Internal Auditor. (1989) juga menyatakan bahwa nilai etika organisasi adalah sebuah derajat Sasongko Budi | www. atau lebih spesifik.Com | halaman 15 . lingkungan etika di dalam organisasi. Hunt et..6 Nilai Etika Organisasi Nilai etika organisasi (corporate ethical value) adalah sebuah sistem nilainilai etis yang ada di dalam organisasi. baik yang berasal dari di dalam maupun dari luar organisasi. Mereka menyatakan bahwa orientasi etika internal auditor mempunyai hubungan positif dengan perilaku pengambilan keputusan etis.al. Nilai etika organisasi dapat digunakan untuk menetapkan dan sebagai patokan dalam menggambarkan apa-apa yang dikerjakan merupakan hal yang ‘baik’ atau ‘etis’ dan hal yang ‘tidak baik’ atau ‘tidak etis’ dalam organisasi. Sistem nilai ini dihasilkan dari proses akulturisasi dari berbagai nilai-nilai yang ada. Internal auditor dengan skor idealisme yang tinggi akan cenderung membuat keputusan yang secara absolut lebih bermoral (favor moral absolute) dan sebaliknya. Nilai etika organisasi sebagai komponen utama kultur organisasi merupakan acuan yang mangarahkan anggota-anggota organisasi dalam menghadapi lingkungan internal maupun eksternalnya yang terbentuk dari nilai-nilai etika individual dari manajemen baik formal maupun informal terhadap situasi etika di dalam organisasi (Hunt et. Nilai etika organisasi. terbuat dari berbagai praktek yang dijalankan oleh manajemen beserta nilai-nilai yang menyertainya (espoused values).theAkuntan. 1989).al.

Davidson dan Schwartz (2001) menyatakan bahwa nilai etika organisasi mempunyai hubungan yang positif dengan nilai kepribadian individu. Dalam keadaan ini. Hal ini meliputi tingkat persepsi 1) bagaimana para pekerja menilai manajemen dalam bertindak menghadapi isu etika di dalam organisasinya 2) bagaimana para pekerja menilai bahwa manajemen memberi perhatian terhadap isu-isu etika di dalam organisasinya dan 3) bagaimana para pekerja menilai bahwa perilaku etis (atau tidak etis) akan diberikan imbalan (hukuman) di dalam organisasinya.Com | halaman 16 . namun dengan tidak memenuhi tuntutan auditee akan mendapatkan tekanan. maka auditor berada dalam sebuah dilema etika.pemahaman organisasi tentang bagaimana organisasi bersikap dan bertindak dalam menghadapi isu-isu etika. Untuk itu auditor dihadapkan kepada pilihan-pilihan keputusan yang saling berlawanan terkait dengan aktivitas pemeriksaannya. Model dan Hipotesis Penelitian Konflik audit muncul ketika auditor internal menjalankan aktivitas auditing internal. 5.theAkuntan. baik Sasongko Budi | www. Memenuhi tuntutan auditee berarti melanggar standar pemeriksaan dan kemungkinan mendapatkan imbalan manfaat. auditee dapat mempengaruhi proses audit yang dilakukan oleh auditor internal. Konflik terjadi ketika auditor dan auditee tidak sepakat terhadap beberapa aspek fungsi dan tujuan pemeriksaan. Karena auditor secara profesional dilandasi oleh kode etik profesi dan standar pemeriksaan. Auditee dapat menekan auditor internal untuk melakukan tindakan yang melanggar standar pemeriksaan. Internal auditor sebagai pekerja di dalam organisasi yang diauditnya akan menjumpai masalah ketika harus melaporkan temuan-temuan yang mungkin tidak menguntungkan dalam penilaian kinerja manajemen atau obyek audit yang dilakukannya. Douglas.

maka proses pengambilan etis dalam situasi dilema etika yang dialami oleh auditor internal dapat digambarkan dalam berikut. 1991). Jones.berupa penghentian penugasan. Internal auditor dihadapkan kepada pilihan pengambilan keputusan etis atau tidak etis.theAkuntan.Com | halaman 17 . pemecatan dan kemungkinan sanksi lainnya. Dengan mengadaptasi model yang diajukan oleh Trevino (1986). Keputusan etis (ethical decision) per definisi adalah sebuah keputusan yang baik secara legal maupun moral dapat diterima oleh masyarakat luas (Trevino. Sasongko Budi | www. 1986.

yaitu pengalaman. orientasi etika dan komitmen profesional serta faktor situasional yaitu nilai etika organisasi.Gambar 1 Model Konseptual Konflik Audit Situasi Dilema Etika Faktor Situasional Nilai Etika Organisasi Faktor Individual Pengalaman Kerja Orientasi Etika Komitmen Professional Pengambilan Keputusan Etis Konflik audit kemungkinan akan berkembang menjadi sebuah dilema etika ketika internal auditor diharuskan melakukan pilihan-pilihan pengambilan keputusan etis dan tidak etis. Dalam proses tersebut faktor determinan penting dalam perilaku pengambilan keputusan etis adalah faktor-faktor yang secara unik berhubungan dengan individu pembuat keputusan dan variabel-variabel yang merupakan hasil dari proses sosialisasi dan pengembangan masing-masing individu.theAkuntan.Com | halaman 18 . Dari kerangka teori dan model konseptual di atas maka dibuat model dan hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut pada Gambar 2 Sasongko Budi | www.

Finn & Munter (1993) Jeffrey & Weatherholt (1996) H2 Zeigenfuss & Singhapakdi (1994) H3 H4 Windsor & Ashkanasy (1995) Khomsiyah & Nurindriantoro (1998) Komitmen Profesional H6 Pengambilan Keputusan Etis Kalbers dan Fogarty (1995) H5 Golver et.Com | halaman 19 .theAkuntan.Gambar 2 Model dan Hipotesis Penelitian Nilai Etika Organisasi H1 Douglas. Davidson & Schwartz (2001) Orientasi Etika Shaub.al. Sasongko Budi | www. Stevens & Bethke (1987) Pengalaman Kerja Sedangkan hipotesis dari masing-masing kausalitas dalam model yang akan diuji dideskripsikan sebagai berikut: H1 : Nilai etika organisasi mempunyai pengaruh yang positif terhadap orientasi etika internal auditor. (2002) Larkin (2000) Kidwell. H2: Orientasi etika internal auditor mempunyai pengaruh yang positif terhadap pengambilan keputusan etis internal auditor H3: Orientasi etika internal auditor mempunyai pengaruh yang positif terhadap komitmen profesional internal auditor H4: Komitmen profesional internal auditor mempunyai pengaruh yang positif terhadap pengambilan keputusan etis internal auditor H5: Pengalaman kerja internal auditor mempunyai pengaruh yang positif terhadap pengambilan keputusan etis internal auditor.

Nilai etika organisasi diukur dengan menggunakan item pertanyaan Corporate Ethical Value (CEV) yang diadaptasi dari Hunt et.theAkuntan. yang merupakan 2 faktor dasar yang paling dari nilai etika individual seperti yang dibahas pada landasan teoritik di awal proposal. Orientasi Etika. Sasongko Budi | www. 6. Responden diminta menjawab tentang bagaimana persepsi mereka terhadap organisasi di mana responden itu berada tentang tanggapan organisasinya terhadap isu-isu etika. Sepuluh item kuesioner pertama tentang konstruk idealism versus pragmatism dan sepuluh kuesioner berikutnya tentang relativism versus absolutism. Responden diminta untuk memberikan tanggapan terhadap pernyataan dengan menjawab pada 5 skala Likert (1=Sangat Setuju sampai 5=Sangat Tidak Setuju). EPQ telah banyak digunakan untuk mengukur idealisme dan relativisme. Lima jawaban dengan skala Likert mulai dari sangat setuju sampai ke jawaban sangat tidak setuju (1=Sangat Setuju hingga 5=Sangat Tidak Setuju). Variabel orientasi etika dalam penelitian ini menggunakan instrumen yang disusun oleh Forsyth (1980) yaitu Ethics Position Questionaire (EPQ) yang terdiri dari 20 item kuesioner.al. Metode Penelitian 6. (1989).1 Kuesioner Nilai Etika Organisasi.Com | halaman 20 . yaitu bagaimana organisasi mempersepsikan dan memperhatikan terhadap isu-isu etika di lingkungan organisasi itu sendiri.H6: Pengalaman kerja internal auditor mempunyai pengaruh yang positif terhadap komitmen profesional internal auditor. CEV menggambarkan tingkat persepsi pekerja terhadap perilaku etis organisasinya.

Louwers. Variabel ini dioperasionalisasikan dengan tingkat identifikasi komitmen dan keterlibatan individu dalam profesi. Kemudian responden juga dimintai tanggapan mereka mengenai apakah mereka menyetujui dalam setiap skenario tersebut ada intensitas muatan etika. Penggunaan skenario dilema etika telah banyak digunakan dalam penelitian tentang pengambilan keputusan etis (Ford dan Richardson. Ponemon dan Radtke. 2000). Jawaban tanggapan tersebut dirancang dengan skala Likert mulai dari sangat setuju sampai dengan sangat tidak setuju (1=Sangat Setuju hingga 5=Sangat Tidak Sasongko Budi | www. Responden diminta untuk memberikan tanggapan terhadap pernyataan dengan menjawab pada 5 skala Likert (1=Sangat Setuju sampai 5=Sangat Tidak Setuju). 1997.theAkuntan. 1994.al. Pengalaman Kerja. Variabel pengalaman kerja auditor diukur dengan meminta subyek penelitian mengisi pengalaman kerja mereka berapa lama mereka bekerja sebagai internal auditor dalam satuan tahun dan bulan Pengambilan Keputusan Etis.Com | halaman 21 .. Loe et. Penggunaan skenario ini akan membantu untuk menstandarisasikan stimulus sosial dari responden dan pada saat bersamaan merupakan gambaran yang lebih nyata dalam proses pembuatan keputusan etis. Variabel ini di ukur dengan menggunakan 14 item pertanyaan yang di adopsi dari Jefrey dan Weaterholt (1996). Variabel pengambilan keputusan etis diukur dengan instrumen yang diadaptasi dari Sims (1999) dan disusun oleh peneliti sendiri.Komitmen Profesional. Instrumen pengambilan keputusan etis tersebut berupa skenario situasi dilema etika dan responden diminta untuk memilih satu dari lima skala Likert jawaban alternatif (yaitu mulai dari 1=Sangat Setuju hingga 5=Sangat Tidak Setuju).

pemahaman mengenai ada tidaknya muatan etika dan 2.3 Reliabilitas Pengukuran Reliabilitas masing-masing konstrak diukur dengan menggunakan kriteria Cronbach Alpha dengan koefisien 0. 1 tidak terjawab lengkap.4 Validitas Pengukuran Sasongko Budi | www.theAkuntan. Dari sejumlah 313 kuesioner yang disebarkan (3 kuesioner untuk kantor cabang dan 5 kuesioner untuk kantor pusat operasional) diperoleh 79 kuesioner yang kembali. 2 Subyek Penelitian Subyek penelitian ini adalah para internal auditor bank yang tergabung dalam Perhimpunan Bank Swasta Nasional (PERBANAS) Wilayah Jawa Timur. 6. Hal ini sesuai dengan 2 tahapan pertama pengambilan keputusan etis menurut Rest (dalam Zeigenfuss dan Martison.8283 untuk Orientasi Etika Nonrelativisme. 6. Kemudian dari 79 kuesioner.8826 untuk Pengambilan Keputusan Etis. sehingga yang diolah dalam penelitian ini hanya 78 kuesioner.6211 untuk Nilai Etika Organisasi.8326 untuk Orientasi Etika Idealisme. 0. 0. Ada sejumlah 105 bank (8 Kantor Pusat Operasional dan 97 Kantor Cabang) yang tergabung dalam PERBANAS Jawa Timur yang menjadi obyek penelitian.Com | halaman 22 . Setiap Kantor Pusat Operasional atau Kantor Cabang terdapat sejumlah 2 (dua) hingga 5 (lima) orang pejabat auditor internal bank yang akan dijadikan subyek penelitian. pengambilan keputusan etis itu sendiri.9187 untuk konstrak Komitmen Profesional dan 0. 0. 2002) yaitu 1. 6.Setuju).

orientasi etika – idealisme. coefficient). Uji ini dalam aplikasi AMOS versi 4 mirip dengan uji-t terhadap regression weights (atau loading factor.Com | halaman 23 . model nilai etika organisasi. Pengujian hipotesis tersebut dapat dilakukan dengan uji terhadap bobot dari masing-masing kausalitas. Nilai t-hitung dalam proses ini adalah Critical Ratio masingmasing kausalitas dan dibandingkan dengan nilai t-tabel dengan tingkat signifikan 0. Pengujian Hipotesis Untuk menguji hipotesis mengenai kausalitas yang dikembangkan dalam model penelitian ini. Indikator pengujian dalam penelitian ini adalah terpenuhinya kriteria goodness-of-fit dari model. yang selanjutnya dilihat signifikansi masing-masing item dalam konstrak. maka hipotesis nol Sasongko Budi | www. Pengujian ini berlandaskan dengan hipotesis nol yang menyatakan bahwa koefisien regresi antara hubungan antar konstruk adalah nol atau tidak ada hubungan kausalitas. Jika nilai Critical Ratio (atau t-hitung) lebih besar dengan t-tabel.05 dan degree of freedom masing-masing kausalitas.01.theAkuntan.Pengujian validitas data dalam penelitian ini dilakukan dengan melalui pengujian validitas konvergen dengan menggunakan confirmatory factor analysis dengan menggunakan perangkat lunak Amos versi 4. komitmen profesional dan pengambilan keputusan etis (Lihat Tabel 1-5) 7. diuji dengan melihat Standard Estimates koefisien regresi yang dibandingkan dengan Critical Rationya pada Regression Weight dalam aplikasi AMOS. orientasi etika – nonrelativisme. Pengujian validitas konvergen dalam penelitian ini dibagi menjadi empat bagian yaitu.

446 3.theAkuntan.313 0.225 0.175 -0.957 Probability 0.388 KP  PK 0.191 0.469 1.030 0.087 0.340 OER  NEO 0. Kriteria pengujian hipotesis tersebut dapat digambarkan dalam tabel sebagai berikut di bawah ini.198 PKE  KP Sumber: Lampiran 11 Dari hasil tersebut di atas diperoleh hasil untuk pengujian hipotesis yang diajukan dalam penelitian yang dapat dijelaskan sebagai berikut: Tabel 7 Hipotesis dan Kesimpulan Hipotesis H1 H2 H3 H4 H5 H6 H7 H8 H9 Kausalitas OEI  NEO OER  NEO KP  OEI KP  OER KP  PK PKE  OEI PKE  PK PKE  OER PKE  KP Kesimpulan Gagal ditolak (Failed to reject) Gagal ditolak Gagal ditolak Gagal ditolak Ditolak (Rejected) Gagal ditolak Ditolak Gagal ditolak Gagal ditolak Sasongko Budi | www.001 0.251 0.665 0.251 KP  OEI 0.080 0.827 0.101 0.546 KP  OER -0.423 0.395 PKE  OEI -0.750 -0.639 0.Com | halaman 24 .097 PKE  PK 0.363 0. Tabel 6 Kriteria Pengujian Hipotesis – Regression Weight Kausalitas Estimate Standardized Estimate 0.712 0.224 0.802 2.327 PKE  OER 0.339 OEI  NEO 0.001 0.207 Critical Ratio 3.099 0.338 0.(Ho) ditolak sehingga nilai -coefficient adalah signifikan yang berarti hipotesis penelitian yang menyatakan ada kausalitas antar konstruk gagal ditolak (failed to reject) dan sebaliknya.433 1.

90  0.8. Sasongko Budi | www.494.000 1.052. SEM dapat menguji sesuai (fit) atau tidaknya sebuah model.90). dan Goodness Fit Index (GFI). Uji kesesuaian (goodness-of-fit) model ditabulasikan beserta kriteria dan hasil model penelitian seperti Tabel 5.527 0. Uji Kesesuaian Model Dalam metode SEM selain dapat menguji hubungan antar masing-masing konstrak dalam penelitian.703 Keterangan Tidak baik Tidak baik Tidak baik Kurang baik Kurang baik Dari hasil penelitian yang diproses dengan perangkat lunak Amos versi 4.Com | halaman 25 .602 0.01 dan dibandingkan dengan kriteria pengujian model maka dalam penelitian ini model tersebut belum dapat menggambarkan sebuah model yang baik. 9.90 Hasil Model 979 1494.00  0. Hal tersebut terbukti dengan Chi-square sebesar 1.1. Pembahasan Hasil pengujian hipotesis yang menggambarkan hubungan yang terdapat dalam masing-masing konstrak dapat digambarkan kembali dalam Gambar 6.05 diharapkan adalah lebih kecil dari 1.67 0.5 tersebut di bawah ini. Beberapa kriteria pengujian dalam SEM yang lazim digunakan antara lain adalah Chi-square Statistic 2. Tabel 8 Kriteria Goodness-of-Fit Goodness of fit index Degree of freedom Chi-square Statistic 2 Significance Probability CMIN/DF GFI AGFI Nilai Kritis Diharapkan kecil  0.theAkuntan.05  2.67 (2 dengan Degree of freedom sebesar 979 dan Probability 0.

Com | halaman 26 . Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Douglas.theAkuntan. Temuan ini menunjukkan bahwa nilai etika organisasi pada sebuah organisasi secara positif mempunyai pengaruh terhadap orientasi etika seorang internal auditor. Hunt et. Davidson dan Schwartz (2001) yang menyatakan ada hubungan yang positif antara nilai etika organisasi dan orientasi etika.al (1989) menyatakan bahwa nilai etika organisasi merupakan komponen sangat penting dalam kultur organisasi dan secara interaktif merupakan pembentuk orientasi etika individu dalam organisasi. Gambar 3 Kausalitas Antar Konstrak dalam Model Sasongko Budi | www. tampak ditemukan hubungan yang positif.Untuk hubungan antara nilai etika organisasi dengan orientasi etika. Sebuah organisasi yang menjunjung tinggi nilai-nilai etika akan membawa seorang internal auditor kepada orientasi etika yang menjunjung tinggi pula nilai-nilai idealisme dan selalu memegang teguh sesuai dengan aturan yang berlaku (orientasi etika nonrelativisme)..

Temuan ini menunjukkan bahwa orientasi etika seorang internal auditor akan berpengaruh secara positif terhadap keputusan yang diambil dalam situasi dilema etika. Temuan ini mendukung hasil penelitian Windsor dan Ashkanasy (1995) serta penelitian Khomsiyah dan Nurindriantoro (1998) yang menyatakan bahwa komitmen profesional mempunyai pengaruh terhadap sensitivitas etika individu dalam situasi dilema etika. Sasongko Budi | www. Hal ini seiring dengan penelitian Jones (1991) dan Douglas et.theAkuntan.Com | halaman 27 . Dalam penelitian ini juga ditemukan adanya hubungan yang positif antara komitmen profesional internal auditor dengan pengambilan keputusan etis.al (2001) yang menyatakan orientasi etika seseorang akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan etis.Nilai Etika Organisasi + Orientasi Etika Idealisme + Orientasi Etika NonRelativisme + + + + Komitmen Profesional + Pengalaman Pengambilan Keputusan Etis - Untuk hubungan antara orientasi etika dengan pengambilan keputusan etis juga menunjukkan hasil yang positif.

Nilai etika organisasi. dan kemudian secara bersama-sama keduanya mempunyai hubungan positif dengan pengambilan keputusan etis internal auditor dalam situasi dilema etika. Nilai etika organisasi sebagai faktor situasional individu mempunyai pengaruh yang dignifikan terhadap orientasi etika internal auditor. Orientasi etika auditor mempunyai pengaruh yang positif terhadap komitmen profesi.Com | halaman 28 . Dalam penelitian ini tidak ditemukan pengaruh Sasongko Budi | www. 10. kecuali dalam penelitian yang dilakukan oleh Kidwell (1987) yang menyatakan bahwa individu dengan lebih banyak pengalaman kerja akan cenderung mempunyai tanggapan etis yang lebih baik. Namun dalam penelitian ini tidak ditemukan hubungan yang positif antara faktor individual pengalaman kerja dengan pengambilan keputusan etis. Faktor individual pengalaman kerja. Kesimpulan Berdasarkan pembuktian empiris terhadap model konseptual yang disusun di awal penelitian maka dapat diberikan kesimpulan umum bahwa nilai etika organisasi. orientasi etika secara dan komitmen profesional secara bersama mempunyai pengaruh terhadap keputusan etis individu dalam situasi dilema searah dengan model yang diajukan oleh Trevino (1986) tentang person-situation interactionist model dalam pengambilan keputusan etis. 1994). Model tersebut menjelaskan bahwa pengambilan sebuah keputusan etis di pengaruhi oleh faktor-faktor individual dan faktor-faktor situasional.theAkuntan. dalam beberapa penelitian memang seringkali tidak ditemukan pengaruhnya dalam sebuah pengambilan keputusan etis (Ford dan Richardson. orientasi etika dan komitmen profesional secara individu maupun simultan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pengambilan keputusan etis internal auditor dalam situasi dilema etika.

Untuk memperjelas hasil penelitian ini dan juga dalam rangka mencari benang merah dengan beberapa penelitian sebelumnya. hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi berbagai pihak yang terkait dengan internal auditor pada khususnya dan auditor pada umumnya terutama berkaitan dengan proses pengambilan keputusan dalam situasi dilema etika. Keterbatasan Penelitian dan Saran Dari sisi metodologi penelitian ini belum menunjukkan hasil yang memuaskan seperti yang disyaratkan untuk penggunaan uji kesesuaian model dengan menggunakan SEM. maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut yang mengeksplorasi hubungan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan etis seorang internal auditor dalam situasi dilema etika. 11. Terlepas dari berbagai keterbatasan yang ada dalam penelitian ini. seperti jumlah responden yang kurang memenuhi karena rendahnya tingkat pengembalian kuesioner. Sasongko Budi | www.theAkuntan.Com | halaman 29 .pengalaman kerja dalm hubungannya dengan komitnen profesional maupun pengambilan keputusan etis.

3. (2000). Sutton (1999). “An Exploratory Examination of Internal Differences in Auditors’ Ethical Perceptions”. Managerial Auditing Journal.. Pant dan D. K.DAFTAR PUSTAKA Abdolmohammadi. 37-64. 98-119. The International Journal of Accounting. Brown (1994).C. No. Sloan Management Review. Summer 1997. 9 No. Barnett. Vol. “ Auditors’ Ethical Sensitivity and the Assesment of the Likehood of Fraud”.F dan K. M. J. 65 No. Sharp (1995).. Corporate Board. hal.W. “A Metodological Note on Cross-Cultural Accounting Ethics Research”.. Arnold. J. 31 No. Bonner. 2. hal...W. The Accounting Review. G. 182-186.A. 1-15.F. Cohen. hal. J. Sharp (1996a). Cohen. M. Vol. “Understanding The Factors Underlying Etrhical Organizations: Enabling Continuous Ethical Improvement"” The Journal of Applied Business Research. “Internal auditors and value-added approach: the new business regime”. 1. hal. Journal of Business Ethics.H. 16-22 Davis.R. 8. hal. hal.W. (1994). hal. hal. D. 411-422. dan V. Behavioral Research in Accounting. Sharp (1996b). 26 No. “Ethical Audit Decisions: A Structural Perspective”. hal. S.J. 1-19. Supplement. Auditing: A Journal of Practice & Theory. 21-32. Bou-Raad.11. Damman. 8. M. 4. Pant dan D. Journal of Business Ethics 13. T. “Experience and the Organization of Auditors’ Knowledge”. 49-64. Vol. L. Owhoso (2000). Bass dan G. Morgan dan G. “Agency Theory and the Internal Audit”.J. T. Vol. hal. 72-92. Managerial Auditing Journal. 8. V.E. Loewenstein (1997). Dillard. 12 No. Sasongko Budi | www. hal. 55-66. Pant dan D. Yuthas (2002).G. Vol. J. Vol. 8-12. Vol.D.E. Lampe dan S. Vol. 469-480. 89-94. “Internal Auditors’ Perceptions of WhistleBlowing and the Influence of Moral Reasoning: An Experiment”.J. Ponemon (1991). B. C. Managerial Finance.R.F dan L. 10 No. hal. K. Bazerman. (1990).J. Cohen. L. hal. 15. Managerial Auditing Journal. 7..E. Vol. “Experience Effect in Auditing: The Role of Task-Specific Knowledge”. (2003).P. Vol. Adams. L.Com | halaman 30 . “Measuring the Ethical Awareness and Ethical Orientation of Canadian Auditors”.R. Vol 24 Issue 128. “Ethical Ideology and Ethical Judgment Regarding Ethical Issues in Business”. 36(1-2). 15 No. 1. J. (1997). “The Impossibility of Auditor Independence”. Arnold. hal. Behavioral Research in Accounting.theAkuntan. “Audit: A Build-in Conflict of Interest”.

P. Gunz.. 747-755.L. hal. Chonko (1989). hal 8-36. 79-90. et.E. L. 23-28. J. Stevens dan A. C. Badan Penerbit Universitas Diponegore. Journal of Business Ethics: 23. 461-470. hal.M. Behavioral Research in Accounting. dan T. Vol. J.. D.B. hal.E. “Judging the Morality of Business Practices: The Influence of Personal Moral Philosophies”. McCutcheon (2002). Larkin. A. hal. hal. Ford. “Ethical Decision Making: A Review of the Empirical Literature”. H.P. 64-86. Fogarty (1995). Kalbers. (2002). Ferdinand. 101-121. 8. (1991). “The Impact of Personal Values on Judgments of Ethical Behaviour in the Workplace”. “Professionalism and Its Consequences: A Study of Internal Auditors”. hal. “Organizational Influences on Approaches to Ethical Decisions by Professionals: The Case of Public Accountants”. Hunt (1988). Wood dan L. Vol. L. 5.D. 76-91. Professional Commitment. and Rule Observance Attitudes: A Study Case of CPAs and Corporate Accountants”. Finegan. Gunz dan J.C.M. (1994).P. 1. Kidwell. R. S. 14 No. 401-409. Jones. dan W.M. 6 (6). Weatherholt (1996). Canadian Journal of Administrative Sciences. Hal. (2000).. McCaslin (1994).Douglas.Com | halaman 31 . 16 No. Finn. Munter dan T.D. Journal of Business Ethics 11. Finn. Journal of Business Ethics 13. D. 53 (July). “The Ability of Internal Auditors to Identify Ethical Dilemmas”. 489-494. 17 No. R. Journal of Business Ethics. “Differences in Ethical Perceptions Between Male and Female Managers: Myth or Reality?”. No. “Ethical Problem in Public Accounting: The View from the Top”. 19 No.B. T. dan N. J. Semarang. D. 1. “The Effect of Organizational Culture and Ethical Orientation on Accountants’ Ethical Judgments”. Woman in Management Review. Vol. Academy of Management Review. (1992). hal. Davidson dan B. P. Hunt.C. 366-395. Structural Equation Modeling Dalam Penelitian Manajemen. Journal of Business Ethics 13.W. “Ethical Decision Making by Individuals in Organizations: An IssueContingent Model”. Jeffrey. hal. Journal of Business Ethics 7. Vol. Forsyth. hal. Richardson (1994). 205-221. P. “Gender differences in ethical decision making”.R. Journal of Business Ethics: 34(2) . 605-615. hal. “Ethical Perceptions of CPAs”. Chonko dan S.W. (2002). 9. Vol. Schwartz (2001)..H. Auditing: A Journal of Practice & Theory. hal.theAkuntan. Journal of Marketing.A. Bethke (1987).al. 1. C. Vol. 2. “Ethical Development. Sasongko Budi | www.. R. 217-227. “Corporate Ethical Values and Organizational Commitment in Marketing”. Managerial Auditing Journal.R. S.J.D.N. S. V. hal. Vol. Glover..

hal 124-157.E. D.K. “The development of six ethical business dilemma”. hal.W. Gul (1996).theAkuntan. Vol. “Auditors’ Behavior in an Audit Conflict Situation: A Research Note on the Role of Locus of Control and Ethical Reasoning”. Behavioral Research in Accounting. M. Organizations and Society.. hal. 601617. hal. L. (1999).S. 99-105. 31 No.Largay III.P dan S. Academy of Management Review. 189-197. 6 Issue 4. Radtke (1997). T. Mansfield (2000). Munter (1993). 145-170. Auditing & Accountability Journal. 121-133. 254-277. (2003).A.A. E. Vol. Accounting. Tsui. hal. 5. “An Empirical Investigation of the Influence of Selected Personal. “A Review of Empirical Studies Assesing Ethical Decision Making in Business”. 42-49. Behavioral Research in Accounting. (2002).L (1996). Ferrel dan P. Sutton. Journal of Business Ethics 25. and the Effects of Moral Intensity on Ethical Judgment”. 11. 16 No.R. “An Analysis of the Factor Structure of the Multidimensional Ethics Scale and a Perceived Moral Intensity Scale. hal. Vol. Vol. Accounting. Accounting Horizons. dan F. Lawrence (1996). Sasongko Budi | www. The International Journal of Accounting.. Terry. J. (2002).E. No. Shaub. L. 1. 3. “Ethics. 4. J. “The Effects of Auditors’ Ethical Orientation on Commitment and Ethical Sensitivity”. Journal of Accounting and Public Policy 22. Vol. Finn dan P. hal. L. Tsui. T. Disertasi Tak Dipublikasikan. “The Advantage of LISREL for Accounting Researchers”. Trevino.. J.. 188-221. Experience and Professional Skepticism: A Situational Analysis”. M. Vitell (2002). hal. G. J.J. Louwers. Vol. hal. Journal of Business Ethics 35. hal. 20 No. 1. hal. Vol 21 No. Sims.M. Paolillo. “Examining Accountants’ Ethical Behavior: A Review and Implications for Future Research” dalam Behavioral Accounting Research: Foundation and Frontiers. 41-51.A.W. 185-204. Accounting Horizons. J. “Auditors’ Ethical Reasoning: Some Audit Conflict and Cross Cultural Evidence”. R. Vol. 2. “Ethical Decision Making in Organizations: A Person-Situation Interactionist Model”. (1986). hal. Ketchand (2001). ”Effect of Personal Values on Auditors’ Ethical Decisions”.G.K. R.Com | halaman 32 .L. “Lessons from Enron”. Volume 8 Supplement. 65-74. Virginia Polytechnic Institute and State University. Editor Vicky Arnold dan Steve G. Shaub.S. R.A. W. 3. dan J. hal.J.K. McMahon. Morris dan A.E. Organizational and Moral Intensity Factors on Ethical Decision Making”. Ponemon dan R.L. The Leadership & Organization Development Journal. (1992). “Why all the hoopla about Enron?”. 153-156 Loe. Shafer. 14 No. Verrechia.

C. hal.theAkuntan. 1. Vol 20.A. 9 No. Sasongko Budi | www. Ashkanasy (1995). Windsor. AAA Annual Meeting. Seventh Annual Professionalism and Ethics Simposium.Com | halaman 33 . dan N. San Antonio. August 2002. Managerial Auditing Journal. 4. C. D. dan O. dan A. No. “The Effect Of Client Management Bargaining Power. D. Organizations and Society. Singhapakdi (1994). Vol. hal 701-720. “Professional Values and Ethical Perceptions of Internal Auditors”. Ziegenfuss. 7/8. (2002).A.Windsor.E. Martinson (2002). Vol.E.B. 34-44. 17 No. Accounting. Moral Reasoning Development. Ziegenfuss. 165-173. “Auditors’ Complex Decision Making: The Psychological Effect of Client Management Economic Power on Auditors’ Objectivity in And Independence Conflict”. “The IMA Code of Ethics and IMA Members’ Ethical Perception and Judgment”. Managerial Auditing Journal. Hal. and Belief in a Just World on Auditor Independence”.M.

00  0.888 0.218 0.00  0.614 0.985 1.618 0.90 Hasil Model 3.90  0.90  0.00  0.05  2.Com | halaman 34 .922 35 Keterangan Diharapkan kecil Baik Baik Cukup Baik Baik Sasongko Budi | www.DAFTAR TABEL Tabel 1 Confirmatory Factor Analysis – Nilai Etika Organisasi Goodness-of-fit index 2 Chi Square Significance Probability Relative 2 (CMIN/DF) GFI CFI Degree of freedom Cut-off Value  0.205 1.963 35 Keterangan Diharapkan kecil Baik Baik Baik Baik Tabel 3 Confirmatory Factor Analysis – Orientasi Etika – NonRelativisme Goodness-of-fit index 2 Chi Square Significance Probability Relative 2 (CMIN/DF) GFI CFI Degree of freedom Cut-off Value  0.402 0.90  0.189 0.935 0.05  2.000 9 Keterangan Diharapkan kecil Baik Baik Baik Baik Tabel 2 Confirmatory Factor Analysis – Orientasi Etika – Idealisme Goodness-of-fit index 2 Chi Square Significance Probability Relative 2 (CMIN/DF) GFI CFI Degree of freedom Cut-off Value  0.406 0.056 1.theAkuntan.902 0.90 Hasil Model 41.90 Hasil Model 49.05  2.

605 0.060 2.942 5 Keterangan Diharapkan kecil Baik Cukup Baik Baik Baik Sasongko Budi | www.094 1.90 Hasil Model 10.Com | halaman 35 .853 0.951 0.90  0.217 0.742 0.Tabel 4 Confirmatory Factor Analysis – Komitmen Profesional Goodness-of-fit index 2 Chi Square Significance Probability Relative 2 (CMIN/DF) GFI CFI Degree of freedom Cut-off Value  0.90  0.theAkuntan.00  0.00  0.90 Hasil Model 93.964 77 Keterangan Diharapkan kecil Baik Baik Baik Baik Tabel 5 Confirmatory Factor Analysis – Nilai Etika Organisasi Goodness-of-fit index 2 Chi Square Significance Probability Relative 2 (CMIN/DF) GFI CFI Degree of freedom Cut-off Value  0.05  2.05  2.121 0.

edu BASUKI Universitas Airlangga Surabaya HENDARYATNO Universitas Airlangga Surabaya Sasongko Budi | www.INTERNAL AUDITOR DAN DILEMA ETIKA Oleh SASONGKO BUDI STIE Perbanas Surabaya budi@perbanas.theAkuntan.Com | halaman 36 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful